Pengertian Produksi. Pada prinsipnya produksi melakukan kegiatan yang menghasilkan barang dana tau jasa. Produksi adalah kegiatan menciptakan (membuat) atau menambah nilai guna suatu barang atau jasa. Pelaku kegiatan produksi disebut produsen.
Contoh Produksi
Contohnya Produksi adalah bahan galian ditambang kemudian diolah menjadi logam setengah jadi, logam ini dibentuk menjadi peralatan rumah tangga seperti peralatan dapur berupa panci, sendok dan lainnya.
Tujuan Produksi
Kegiatan produksi ini akan mempunyai tujuan dan juga memengaruhi perilaku produsen yang di antaranya adalah:
Memenuhi Kebutuhan Manusia.
Kegiatan produksi dilakukan karena Manusia memiliki beragam kebutuhan terhadap barang dan jasa yang harus dipenuhi. Jadi aktivitas produksi dilakukan dalam rangka pemenuhan kebutuhan manusia.
Menghasilkan Barang Dan atau Jasa
Produsen melakukan Kegiatan produksi bertujuan untuk menghasilkan produk dengan menciptakan barang dan atau jasa baru yang mampu diolah melalui proses produksi. Ini artinya produksi menyediakan barang dan jasa yang dibutuhkan atau mengganti barang yang sudah tidak memiliki nilai guna lagi.
Meningkatkan Nilai Guna Barang atau Jasa
Sebuah perusahaan atau industri memproduksi suatu barang bertujuan untuk meningkatkan nilai guna barang itu sendiri, yang sebelumnya belum atau kurang berguna. Dengan proses produksi, nilai guna barang dapat menjadi lebih tinggi. Hal ini terkait dengan kepuasan dari konsumen sebagai pengguna atau pemakai.
Meningkatkan Kemakmuran Masyarakat
Tujuan dari proses produksi diharapkan mampu menghasilkan produk produk yang dapat menghasilkan keuntungan (profit oriented). Barang tersebut dapat memberikan keuntungan dan meningkatkan kemakmuran masyarakat. Ini artinya kegiatan produksi akan memberikan lapangan pekerjaan bagi masyarakat.
Meningkatkan Keuntungan dan Jumlah Produk
Dengan memproduksi barang dan jasa, maka pihak perusahaan dapat meningkatkan jumlah barang atau jasa dan sekaligus meningkatkan keuntungan yang diperolehnya.
Memperluas Lapangan Usaha
Perusahaan yang memiliki skala produksi yang besar dan produknya diminati oleh pelaku pasar maka perusahaan tersebut dapat mengembangkan usahanya dan dapat menciptakan lapangan usaha baru. Kegiatan produksi ini dapat menciptakan lapangan kerja yang sekaligus mengurangi pengangguran.
Menjaga Kesinambungan Usaha Perusahaan
Tujuan jangka panjangnya, kegiatan produksi dilakukan untuk menjaga kesinambungan usaha perusahaan. Dalam hal ini kegiatan produksi dilakukan untuk kelansungan hidup perudahaan. Dengan demikian perusahaan dapat terus beroperasi dengan baik untuk memperoleh faktor-faktor produksi, memproduksi barang dan jasa serta menjualnya ke pasar untuk mendapatkan keuntungan.
Contoh Soal Ujian Materi Tujuan Produksi
Soal 1. Yang bukan merupakan kegiatan produksi adalah . . . .
membuat boneka
menghias baju pengantin
menjahit sepatu
memakai sepatu
menanam padi
Soal 2. Pertanian dan perkebunan merupakan contoh bidang industri . . .
Putong, Iskandar. Andjaswati, N.D., 2008, “Pengantar Ekonomi Makro”, Edisi Pertama, Penerbit Mitra Wacana Media, Jakarta.
Firdaus, R., Ariyanti, M., 2011, ”Pengantar Teori Moneter serta Aplikasinya pada Sistem Ekonomi Konvensional dan Syariah”, Cetakan Kesatu, AlfaBeta, cv, Bandung.
Pengertian Inflasi, Inflasi adalah suatu keadaan perekonomian yang menunjukkan adanya kecenderungan kenaikan tingkat harga secara umum (price level).
Dikatakan tingkat harga umum karena barang dan jasa yang ada di pasaran mempunyai jumlah dan jenis yang sangat beragam, sebagian besar dari harga-harga barang tersebut selalu meningkat dan mengakibatkan terjadinya inflasi.
Sedangkan inflasi murni adalah inflasi yang terjadi sebelum ada campur tangan dari pemerintah, baik berupa kebijakan fiskal maupun kebijakan moneter. Adapun yang dimaksud laju inflasi adalah kenaikan atau penurunan inflasi dari periode ke periode atau dari tahun ke tahun.
Pengertian Pendapatan Perseorangan, Individu
Pendapatan perseorangan adalah semua jenis pendapatan yang diperoleh anggota masyarakat atau individu penduduk suatu negara. Pendapatan ini termasuk yang diperoleh dari bunga bank, dividen maupun subsidi atau pembayaran pindahan atau pembayaran dari pemerintah kepada masyarakat.
Pendapatan perseorangan atau biasa disebut pendapatan disposibel merupakan jumlah pendapatan yang diterima oleh setiap orang dalam masyarakat termasuk pendapatan yang diperoleh tanpa melakukan kegiatan apapun.
Disposible Income adalah Personal Income (PI) setelah dikurangi pajak langsung. Pajak langsung misalnya pajak bumi dan bangunan, pajak kendaraan bermotor dan sebagainya.
Disposible income merupakan pendapatan yang siap digunakan, baik untuk keperluan konsumsi maupun untuk ditabung.
Pengaruh Inflasi Terhadap Pendapatan Masyarakat,
Untuk masyarakat yang berpendapatan tetap, terjadinya inflasi sangat merugikan karena pendapatan riil menurun. Sedangkan bagi masyarakat yang berpendapatan tidak tetap, inflasi bisa sangat merugikan atau bisa juga tidak merugikan. Untuk masyarakat yang berpendapatan rendah dan tidak tetap, inflasi jelas sangat merugikan mereka.
Sedangkan untuk masyarakat yang berpendapatan cukup tinggi dan tidak tetap seperti para pengusaha besar, inflasi dianggap tidak terlalu merugikan. Terutama jika pendapatan pada masa inflasi mengalami kenaikan yang persentasenya lebih besar dibandingkan persentase kenaikan inflasi.
Contoh Soal Ujian Inflasi Pendapatan Perseorangan dan Hubungannya.
maaf soal soal lagi direvisi
Soal 1. lagi revisi
Soal 2. lagi revisi
Daftar Pustaka:
Mankiw, N. G., 2003, “Teori Makroekonomi”, Edisi Kelima, Erlanga, Jakarta.
Firdaus, R., Ariyanti, M., 2011,”Pengantar Teori Moneter serta Aplikasinya pada Sistem Ekonomi Konvensional dan Syariah”, Cetakan Kesatu, AlfaBeta, cv, Bandung.
Darmawi, H., 2006,”Pasar Finansial dan Lembaga-Lembaga Finansial” Cetakan Pertama, Bumi Aksara, Jakarta.
Ahman, E. H., Rohmana, Y., 2007,”Ilmu Ekonomi Dalam PIPS”, Edisi 2, Unversitas Terbuka, Jakarta.
Prasetyo, P. E., 2011,”Fundamental Makro Ekonomi” Beta Offset, Yogyakarta.
Pengertian Inflasi, Inflasi adalah suatu keadaan perekonomian yang menunjukkan adanya kecenderungan kenaikan tingkat harga secara umum (price level). Dikatakan tingkat harga umum karena barang dan jasa yang ada di pasaran mempunyai jumlah dan jenis yang sangat beragam, sebagian besar dari harga-harga barang tersebut selalu meningkat dan mengakibatkan terjadinya inflasi.
Sedangkan inflasi murni adalah inflasi yang terjadi sebelum ada campur tangan dari pemerintah, baik berupa kebijakan fiskal maupun kebijakan moneter. Adapun yang dimaksud laju inflasi adalah kenaikan atau penurunan inflasi dari periode ke periode atau dari tahun ke tahun.
Pengertian Perdagangan Internasional,
Perdagangan internasional merupakan segala kegiatan perdagangan yang melewati batas- batas wilayah suatu negara. Perdagangan internasional menjadi sarana perdaganan antara negara.
Pelaku kegiatan yang terlibat pada perdagangan internasional dapat perseorangan, perusahaan swasta atau pemerintah, atau campuran.
Kegiatan perdagangan atau bisnis internasinal dapat berupa kegiatan ekspor dan impor barang untuk bahan baku, barang setengan jadi, atau produk-produk akhir yang dibutuhkan oleh masyarakat, terutama yang tidak dimiliki atau tidak diproduksi di dalam negeri.
Kegiatan ekspor impor merupakan transkasi ekonomi yang sangat fundamental dan di sebagian negara menempati posisi sangat penting dan dominan.
Selain itu bisnis internasional dapat pula berupa perdagangan jasa, seperti asuransi, perbankan, hotel, konsultan, travel, dan transportasi. Pada kegiatan perdangan jasa ini, perorangan atau perusahaan dibayar atas pelayanan yang telah diberikan terhadap negara lain atau asing.
Pengaruh Inflasi Terhadap Bisnis Perdagangan Internasional.
Dalam jangka pendek, kenaikan tingkat inflasi menunjukkan pertumbuhan perekonomian, namun dalam jangka panjang, tingkat inflasi yang tinggi dapat memberikan dampak yang buruk. Tingginya tingkat inflasi menyebabkan harga barang domestik relatif lebih mahal dibanding dengan harga barang impor.
Jika di dalam negeri terjadi inflasi, ini artinya harga produk dalam negeri menjadi lebih mahal. Dan jika harga produk dalam negeri lebih mahal dibandingkan dengan produk – produk dari luar negeri, maka hal ini akan menyebabkan produk domestik menjadi lebih sulit bersaing dengan produk- produk impor.
Hal ini akan mengakibatkan, nilai ekspor akan lebih kecil daripada nilai impor, sehingga neraca perdagangan mengalami defisit, dan defisit ini dapat menghabiskan cadangan devisa negara.
Masyarakat termotivasi untuk membeli barang impor yang relatif lebih murah. Selain itu, Harga yang lebih mahal menyebabkan turunya daya saing barang domestik di pasar internasional. Hal ini berdampak pada nilai ekspor cenderung turun, sebaliknya nilai impor cenderung naik.
Kurang bersaingnya harga barang dan jasa domestik menyebabkan rendahnya permintaan terhadap produk dalam negeri. Kegiatan Produksi menjadi berkurang. Sejumlah pengusaha dan perusahaan akan mengurangi total produksi. Pada akhirnya Produksi berkurang, dampak selanjutnya akan menyebabkan sejumlah pekerja kehilangan pekerjaan.
Mankiw, N. G., 2003, “Teori Makroekonomi”, Edisi Kelima, Erlanga, Jakarta.
Ahman, E. H., Rohmana, Y., 2007,”Ilmu Ekonomi Dalam PIPS”, Edisi 2, Unversitas Terbuka, Jakarta.
Prasetyo, P. E., 2011,”Fundamental Makro Ekonomi” Beta Offset, Yogyakarta.
Firdaus, R., Ariyanti, M., 2011,”Pengantar Teori Moneter serta Aplikasinya pada Sistem Ekonomi Konvensional dan Syariah”, Cetakan Kesatu, AlfaBeta, cv, Bandung.
Darmawi, H., 2006,”Pasar Finansial dan Lembaga-Lembaga Finansial” Cetakan Pertama, Bumi Aksara, Jakarta.
Pengertian. Negara memperoleh pendapatan dari dalam negeri maupun luar negeri. Pendapatan atau penerimaan pemerintah tersebut sangat berpengaruh terhadap keberhasilan seluruh proses pembangunan nasional. Adapun sumber- sumber pendapatan pemerintah di antaranya adalah:
Penerimaan Dalam Negeri
Penerimaan pemerintah yang diperoleh dari dalam negeri berasal dari minyak bumi dan gas alam (migas) dan nonmigas. Penerimaan dari sector tersebut digunakan pemerintah untuk menutup pengeluaran rutin pemerintah. Penerimaan pemerintahan dari sektor nonmigas terdiri atas pajak dan nonpajak.
Penerimaan pajak berasal dari Pajak Penghasilan, Pajak Pertambahan Nilai, Pajak Penjualan atas Barang Mewah, Pajak Bumi dan Bangunan, Pajak Ekspor, Pajak Perdagangan Internasional, Bea Masuk dan Cukai.
Adapun penerimaan negara bukan pajak terdiri dari pengelolaan sumber daya alam, Keuntungan Badan Usaha Milik Negara, Pendapatan Badan Layanan Umum, barang sitaan, pinjaman, sumbangan ataupun dari percetakan uang. Sedangkan penerimaan dalam bentuk hibah meliputi pemberian barang atau jasa dari pihak lain.
Penerimaan Luar Negeri
Dalam melaksanakan pembangunan dan roda pemerintahan diperlukan dana yang sangat besar. Pemerintah tidak dapat mengandalkan pada hanya satu sumber pendapatan yaitu pendapatan dari dalam negeri saja. Namun demikian, membutuhkan bantuan dari masyarakat internasional. Untuk membiayai proses pembangunan nasional,
Dana Bantuan dari luar negeri ini dapat digunakan untuk pembiayaan belanja pembangunan. Penerimaan yang berasal dari luar negeri terdiri dari pinjaman program dan pinjaman proyek. Pinjaman tersebut dapat berasal dari negara donor atau lembaga keuangan internasional.
Lembaga keuangan atau negara donor yang telah memberi bantuan keuangan ke Indonesia antara lain adalah: ADB (Asean Development Bank), IMF (International Monetary Fund), dan Bank Dunia (World Bank).
Contoh Soal Ujian Sumber Dana APBN.
Sebutkan Sumber Sumber Penerimaan Negara Selain Pajak….
Jawaban:
Adapun penerimaan negara bukan pajak terdiri atas pengelolaan sumber daya alam, Minyak, gas, Keuntungan Badan Usaha Milik Negara BUMN, Pendapatan Badan Layanan Umum, barang sitaan, pinjaman, sumbangan ataupun dari percetakan uang. Sedangkan penerimaan dalam bentuk hibah meliputi pemberian barang atau jasa dari pihak lain.
Daftar Pustaka:
Bea Masuk dan Cukai danJenis- Jenis Pembelanjaan Negara dengan Pajak Ekspor. Penerimaan Dalam Negeri dan Penerimaan Luar Negeri serta Pengertian Pajak Bumi dan Bangunan. Pengertian Pajak Penghasilan dan Pengertian Pajak Penjualan atas Barang Mewah. Pengertian Pajak Pertambahan Nilai dan Sumber-Sumber Pendapatan Negara.
Pengertian Tujuan Fungsi APBN. Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara adalah daftar terinci yang memuat penerimaan dan pengeluaran negara dalam jangka satu tahun. APBN ditetapkan oleh undang – undang dan menjadi pedoman pelaksanaan perekonomian dan digunakan sebesar – besar untuk kemakmuran rakyat.
Sejak tahun 2000 pada Era Reformasi, APBN dirancang dan dilaksanakan untuk satu tahun mulai 1 Januari – 31 Desember tahun yang sama. Pada zaman Orde Baru (Orba), APBN dirancang dan dilaksanakan untuk satu tahun mulai 1 April – 31 Maret tahun berikutnya, misalnya mulai 1 April 1990 – 31 Maret 1991.
Landasan Hukum APBN
Landasan hukum yang digunakan dalam pembuatan APBN adalah:
Undang – undang Dasar UUD 1945 Pasal 23 (sesudah diamandemen) yang pada intinya berisi:
APBN ditetapkan setiap tahun dengan Undang-Undang.
Rancangan APBN dibahas oleh DPR dengan memperhatikan pendapat dari DPD, Dewan Perwakilan Daerah.
Apabila DPR tidak menyetujui rancangan anggaran yang diusulkan pemerintah, maka pemerintah memakai APBN tahun sebelumnya.
Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1994 tentang Pendapatan dan Belanja Negara.
Keppres Nomor 42 Tahun 2002 tentang Pedoman Pelaksanaan APBN.
Tujuan APBN
Adapun tujuan dari APBN adalah:
Memenuhi kebutuhan penyelenggaraan pemerintah negara dan kemampuan menghimpun pendapatan negara dalam rangka mewujudkan perekonomian nasional berdasarkan asas demokrasi ekonomi dengan prinsip kebersamaan, berkeadilan, efisiensi, berkelanjutan, berwawasan lingkungan, dan kemandirian guna mencapai Indonesia yang aman, adil, damai, dan demokratis, meningkatkan kesejahteraan rakyat, serta menjaga kemajuan dan kesatuan ekonomi nasional.
APBN disusun dengan tujuan sebagai pedoman pendapatan dan belanja dalam melaksanakan kegiatan-kegiatan negara.
Dengan APBN, pemerintah sudah mempunyai gambaran yang jelas mengenai apa saja yang akan diterima sebagai pendapatan dan pengeluaran apa saja yang harus dilakukan selama satu tahun.
Dengan APBN diharapkan kesalahan, pemborosan, dan penyelewengan yang merugikan dapat dihindari. APBN disusun untuk dilaksanakan sesuai aturan, sehingga mampu meningkatkan pertumbuhan ekonomi, kesempatan kerja, dan kemakmuran bangsa.
Penyusunan APBN juga memiliki tujuan sebagai berikut
Meningkatkan transparansi dan pertanggungjawaban pemerintah kepada DPR dan masyarakat luas;
Meningkatkan koordinasi antar bagian dalam lingkungan pemerintah;
Membantu pemerintah mencapai tujuan fiskal;
Memungkinan pemerintah memenuhi prioritas belanja;
Membantu menciptakan efisiensi dan keadilan dalam menyediakan barang dan jasa publik melalui proses yang diprioritaskan.
Fungsi APBN
Adapun Beberapa Fungsi APBN di antaranya adalah:
Fungsi Alokasi APBN
Fungsi alokasi adalah fungsi penyediaan barang publik (public good provision). Sumber anggaran biaya harus dikeluarkan oleh negara untuk melaksanakan pembangunan. Pemerintah dapat mengalokasikan atau membagikan pendapatan yang diterima sesuai dengan target atau sasaran yang diinginkan. Misalnya, menetapkan besarnya anggaran untuk belanja (atau gaji) pegawai, untuk belanja barang, dan besarnya anggaran untuk proyek.
Fungsi Distribusi APBN
Fungsi distribusi pendapatan adalah fungsi APBN dalam rangka memperbaiki distribusi pendapatan. Penerimaan pemerintah disalurkan kembali kepada masyarakat. Pemerintah dapat mendistribusikan pendapatan yang diterima secara adil dan merata. Fungsi distribusi dilaksanakan dengan tujuan agar dapat memperbaiki distribusi pendapatan di masyarakat. Dengan demikian masyarakat yang kurang mampu atau miskin dapat dibantu. Hal ini dapat dilakukan antara lain dengan melakukan kebijakan subsidi seperti subsidi BBM dan gas LPG.
Fungsi Stabilisasi APBN
Fungsi APBN ini bersifat kondisional artinya sesuai dengan kondisi perekonomian yang dihadapi. Sumber anggaran digunakan untuk memelihara dan mengupayakan keseimbangan fundamental perekonomian. Pemerintah dapat menstabilkan keadaan perekonomian agar terhindar dari hal-hal yang tidak diinginkan.
Misalnya, pada saat inflasi (yaitu harga barang dan jasa naik), pemerintah dapat menstabilkan perekonomian dengan cara menaikkan pajak. Dengan menaikkan pajak, jumlah uang yang beredar dapat dikurangi sehingga harga-harga dapat kembali turun.
Fungsi Otoritas APBN
Sebagai anggaran negara yang digunakan sebagai dasar pelaksanaan pendapatan dan belanja pada tahun berjalan.
Fungsi Perencanaan APBN
Sebagai anggaran pemerintah yang menjadi pedoman bagi manajemen dalam merencanakan kegiatan pada tahun berjalan.
Fungsi Pengawasan APBN
Sebagai anggaran pemerintah yang menjadi pedoman dalam menilai kesesuaian kegiatan penyelenggaraan pemerintahan.
Fungsi Pengorganisasian
Anggaran negara sebagai pedoman untuk menyeimbangkan berbagai pos yang ada agar semua kepentingan dapat dilaksanakan dengan baik.
Pengaruh APBN Terhadap Perekonomian
Pengaruh APBN terhadapa perekonomin negara diantaranya sebagai berikut;
1). Meningkatkan pertumbuhan ekonomi masyarakat yang ditinjau dari pertumbuhan besarnya GNP dari tahun ke tahun.
2). Menciptakan kesetabilan keuangan atau monoter nagara dengan mengatur jumlah uang beredar di dalam masyarakat.
3). Menumbuhkan sektor investasi masyarakat dengan mengembangkan industry industry di berbagai kalangan atau golongan masyarakat.
4). Meningkatkan dan memperlancar distribusi pendapatan dengan mengatur sumber penerimaan dan penggunaan belanja barang dan yang lainnya.
5). Memperluas atau membuka lapangan kerja baru agar dapat mengurangi pengangguran dengan membangun atau mengadakan proyek proyek negara dan investasi negara, sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Prinsip Penyusunan APBN
Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara disusun dengan memperhatikan prinsip- prinsip sebagai berikut.
Prinsip Anggaran Berimbang,
Prinsip Anggaran Berimbang yaitu sisi penerimaan sama dengan sisi pengeluaran, defisit anggaran ditutup bukan dengan mencetak uang baru, melainkan dengan pinjaman luar negeri.
Prinsip Dinamis
1). Anggaran Dinamis Absolut, yaitu peningkatan jumlah tabungan pemerintah dari tahun ke tahun sehingga kemampuan menggali sumber dalam negeri bagi pembiayaan pembangunan dapat tercapai.
2).Anggaran Dinamis Relatif, yaitu semakin kecilnya persentase ketergantungan pembiayaan terhadap pinjaman luar negeri.
Prinsip Fungsional,
Prinsip fungsional yaitu pinjaman luar negeri hanya untuk membiayai pengeluaran pembangunan, bukan untuk membiayai pengeluaran rutin. Semakin dinamis anggaran dalam pengertian relatif, semakin baik tingkat fungsionalitas terhadap pinjaman luar negeri.
Asas Penyusunan APBN
Asas penyusunan APBN adalah sebagai berikut:
1). Kemandirian, yang berarti pembiayaan negara didasarkan atas kemampuan negara, sedangkan pinjaman luar negeri hanya sebagai pelengkap.
2). Penghematan atau peningkatan efisiensi dan produktivitas.
3). Penajaman prioritas pembangunan, artinya pembelanjaan dalam APBN harus mengutamakan pembangunan di sektor -sektor yang lebih bermanfaat.
Mekanisme Penyusunan APBN
1). Tahap penyiapan dan penyusunan rencana APBN (atau RAPBN) oleh Pemerintah dalam bentuk nota keuangan melalui rapat dengan departemen dan lembaga teknis
2). Tahap pengajuan Rencana APBN oleh pemerintah kepada DPR
3). Tahap pembahasan RAPBN oleh DPR dalam masa sidang.
4). Tahap persetujuan RAPBN oleh DPR menjadi APBN melalui undang undang. Jika RAPBN tidak disetujui oleh DPR, maka pemerintah menggunakan APBN tahun sebelumnya.
5). Tahap Pelaksanaan APBN yang dikuatkan oleh Keputusan Presiden tentang pelaksanaan anggaran pendapatan dan belanja negara.
6). Tahap pengawasan pelaksanaan APBN oleh instansi yang berwenang antara lain Badan Pemeriksa Keuangan;
7). Tahap pertanggungjawaban pelaksanaan APBN.
Gambar berikut menjelasan mekanisme penyusunan APBN
Mekanisme Penyusunan APBN
Struktur Dasar APBN
Format APBN yang sekarang ini sudah disesuaikan dengan format I-Account GFS IMF Standard, yang terdiri dari tiga unsur pokok, yaitu
Sisi Penerimaan,
Sisi Pengeluaran,
Sisi Pembiayaan.
Gambar berikut menunjukkan format atau struktur APBN yang memuat komponen penerimaan, pengeluaran dan pembiayaan negara.
Struktur APBN
Penerimaan Negara
Penerimaan negara merupakan pendapatan dan hibah negara yang terdiri atas penerimaan dalam negeri (migas, pajak, dan bukan pajak), dan penerimaan luar negeri atau bantuan luar negeri yang disebut juga penerimaan pem bangunan meliputi bantuan program dan bantuan proyek.
Pengeluaran Negara
Pengeluaran negara merupakan belanja negara yang terdiri atas pengeluaran rutin (antara lain: belanja barang, belanja pegawai, dan subsidi daerah otonom), dan pengeluaran pembangunan yang merupakan biaya pelaksanaan proyek-proyek pemerintah. Penerimaan pembangunan dalam anggaran negara ditujukan untuk menutupi kekurangan penerimaan yang lebih keci
Pembiayaan Negara
Pembiayaan negara terdiri dari pembiayaan dalam negeri dan pembiayaan luar negeri.
Kebijakan Anggaran Negara
Karena Kondisi perekonomian negara setiap tahunnya mengalami perubahan, pemerintah perlu menyusun kebijakan anggaran yang sesuai dengan target dan tujuan pembangunan perekonomian yang ingin dicapai.
Pada dasarnya, terdapat tiga jenis kebijakan anggaran yang mungkin ditetapkan oleh pemerintah. Ketiga Kebijakan anggaran tersebut adalah anggaran surplus, anggaran berimbang dan dinamis serta anggaran defisit:
Anggaran Surplus
Anggaran surplus adalah anggaran di mana jumlah penerimaan lebih besar daripada pengeluarannya.
Anggaran Berimbang dan Dinamis
Anggaran berimbang dan dinamis adalah anggaran yang jumlah penerimaan sama dengan anggaran pengeluaran, dan diusahakan jumlahnya terus ditingkatkan dari tahun ke tahun melalui peningkatan tabungan pemerintah.
Anggaran Defisit
Anggaran defisit adalah anggaran yang jumlah penerimaan lebih kecil dari jumlah pengeluarannya.
Contoh Soal Ujian Materi APBN
Soal 1. Berikut ini merupakan fungsi dan tujuan APBN sebagai berikut:
Membangun sarana umum di daerah.
Sebagai pedoman pendapatan dan belanja negara.
Meningkatkan produksi barang dan jasa.
Meningkatkan pertumbuhan ekonomi secra nasional.
Pedoman distribusi/ pembagian anggaran untuk tiap daerah/ kementerian.
Yang merupakan fungsi APBN adalah:
A. (1), (2), dan (3). B. (1), (2), dan (4). C. (2), (3), dan (4). D. (2), (4), dan (5). E. (3), (4), dan (5)
Jawaban: C
Pembahasan:
Fungsi APBN yaitu:
Sebagai pedoman pendapatan dan belanja negara (2)
Meningkatkan produksi barang dan jasa (3)
Meningkatkan pertumbuhan ekonomi secara nasional (4)
Negara berkembang merupakan istilah yang umum diberikan kepada negara – negara yang memiliki tingkat kesejahteraan yang relative rendah. Pada umumnya pertumbuhan ekonomi di negara berkembang relative lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan ekonomi di negara maju.
Namun demikian, PDB (Produk Domestik Bruto) negara maju jauh lebih tinggi dibanding negara berkembang. Pada negara – negara maju perekonomiannya relative stabil dan hampir semua sumber daya sudah digunakan secara optimal.
Hal ini berbeda dengan negara berkembang, sesuai dengan namanya yaitu negara berkembang, negara-negara ini masih memiliki potensi untuk terus berkembang,. Negara berkembang memiliki banyak sumber daya yang masih belum dikelola secara optimal. sumber- sumber daya potensial tersebut bisa dikelola dengan baik agar bisa menambah peningkatan PDB dengan mencolok.
Dengan demikian, pertumbuhan ekonomi di negara berkembang dapat menjadi lebih tinggi dibanding negara-negara maju.
Ciri – Ciri Negara Berkembang.
Adapun ciri – ciri negara berkembang adalah sebagai berikut:
Laju pertumbuhan penduduk relative tinggi
Kegiatan ekonomi cenderung agraris
Sebagian besar penduduk tinggal di pedesaan
Angka harapan hidup relative rendah
Angka kematian bayi relative tinggi
Tingkat pendidikan penduduk rata – rata relative rendah
Pendapatan rata – rata penduduk relative rendah.
Contoh Negara Berkembang Anatara Lain Adalah:
Indonesia
Filipina
Thailand
Mesir
Brazil
Argentina
Contoh Soal Ujian Ciri – Ciri Negara Berkembang.
Mengapa pada umumnya pertumbuhan ekonomi di negara maju lebih rendah dibanding negara berkembang……?
Pengertian Pendapatan Perseorangan. Pendapatan Perseorangan atau Personal Income biasa dinotasikan dengan PI merupakan bagian pendapatan nasional.
Personal Income adalah pendapatan yang diterima oleh setiap lapisan masyarakat dalam satu tahun. Pendapatan perseorangan adalah hak individu – individu yang terlibat dalam perekonomian. Pendapatan ini merupakan balas jasa keikutsertaan mereka dalam proses produksi.
Namun demikian tidak semua pendapatan akan diterima oleh masyarakat. Hal ini disebabkan pendapatan harus dikurangi dengan laba yang ditahan, iuran asuransi, iuran jaminan sosial, dan ditambah dengan pembayaran pindahan atau transfer (transfer payment) dan pendapatan bunga yang diperoleh dari pemerintah dan konsumen. Secara aljabar Pendapatan perseorangan dapat ditulis dalam rumus berikut.
PI = NNI +TP+ PB – (LT + A + JS)
TP = transfer payment
PB = pendapatan bunga
LT = laba ditahan
A = iuran asuransi
JS = iuran jaminan sosial
NNI atau Net National Income adalah NNP (Net National Product) dikurangi pajak tidak langsung yang dipungut pemerintah, atau jika dihitung dari GNP (Gross National Product) dapat dirumuskan seperti berikut:
NNI = GNP – D – PTL.
D = Depresiasi
P = PTL
Pendapatan Perseorangan Siap Konsumsi
Pendapatan Perseorangan Siap Konsumsi biasa disebut dengan Personal Income Disposable atau Disposable Income biasa dinotasikan dengan DI.
Disposable Income DI adalah pendapatan perseorangan yang siap dipakai oleh individu untuk membiayai konsumsinya maupun untuk ditabung.
Besarnya pendapatan perseorangan siap konsumsi adalah pendapatan perseorangan dikurangi pajak langsung. Pajak langsung misalnya pajak bumi dan bangunan, pajak kendaraan bermotor dan sebagainya.
Pendapatan perseorangan siap konsumsi = Pendapatan perseorangan – Pajak Langsung
DI = PI – PL
PI = Pendapatan perseorangan
PL = Pajak Langsung
Pengertian Konsumsi
Konsumsi merupakan kegiatan yang sifatnya mengurangi atau menghabiskan nilai guna suatu barang atau jasa. Pengertian mengurangi atau menghabiskan adalah secara berangsur – angsur atau sekaligus.
Secara umum pengertian konsumsi dalam ilmu ekonomi adalah semua penggunaan barang dan jasa yang dilakukan oleh masyarakat untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Pengeluaran konsumsi terdiri dari konsumsi pemerintah dan konsumsi rumah tangga.
Konsumsi merupakan komponen yang dihitung dalam Gross Domestic Product, GDP, atau Produk Domestik Bruto, PDB. Dalam ekonomi makro, konsumsi disebut juga sebagai pengeluaran konsumsi, atau consumption expenditure.
Pengaruh pendapatan terhadap konsumsi dapat ditinjau dari persamaan fungsi konsumsi seperti berikut:
C = C0 + b.Y
C = pengeluaran untuk konsumsi
C0 = besar konsumsi saat pendapatan tidak ada, atau sama dengan nol (disebut konsumsi otonom)
b = besar tambahan konsumsi yang disebabkan oleh adanya tambahan pendapatan
Y = pendapatan nasional makro, jika C adalah pengeluaran agregat untuk konsumsi.
Dari persamaannya dapat dikatakan bahwa pendapatan berkorelasi positif terhadap nilai konsumsi.
Pertumbuhan Ekonomi Suatu Negara
Pertumbuhan ekonomi pada umumnya digunakan untuk menyatakan perkembangan ekonomi, kesejahteraan ekonomi, kemajuan ekonomi dan perubahan fundamental ekonomi jangka panjang suatu Negara.
Pertumbuhan ekonomi atau economic growth dapat diartikan sebagai pertambahan pendapatan nasional agregatif atau pertambahan output dalam periode tertentu, misal satu tahun. Dengan kata lain, pertumbuhan ekonomi menunjukkan peningkatan kapasitas produksi barang dan jasa secara fisik dalam kurun waktu tertentu.
Pengaruh Pendapatan Terhadap Pertumbuhan Ekonomi
Salah satu besaran penting yang dapat digunakan untuk melihat pengaruh pendapatan dengan pertumbuhan ekonomi suatu negara adalah pendapatan nasional atau Gross Domestic Product (GDP) atau produk domestik bruto (PDB). GDP merupakan nilai barang dan jasa akhir yang dihasilkan oleh berbagai unit produksi di wilayah suatu negara dalam jangka waktu setahun.
GDP yang dihitung berdasarkan pengeluaran terdiri dari empat komponen utama yaitu:
C = konsumsi,
I = investasi,
G = pembelian oleh pemerintah,
(X – M) = Ekspor neto, X = ekspor dan M = impor
(X – M) adalah Ekspor neto yang menunjukkan selisih antara nilai ekspor dan impor.
Bentuk aljabar dari GDP dapat ditulis sebagai berikut:
Y = C + I + G + (X – M)
Dimana Y = GDP
Sehingga pertumbuhan ekonomi dapat dinyatakan dalam persamaan sebagai berikut:
GDP = C + I + G + (X – M)
Untuk membahas pengaruh pendapatan terhadap pertumbuhan ekonomi dapat didekati dengan menggunakan dua persamaan yaitu persamaan fungsi konsumsi dan persamaan GDP.
Dari fungsi konsumsi diketahui bahwa pendapatan berkorelasi positif terhadap konsumsi, ini artinya, jika pendapatan naik, maka konsumsi cenderung naik. Begitu sebaliknya, jika pendapatan turun maka, konsumsi turun juga.
Persamaan aljabar GDP menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi berkorelasi positif dengan konsumsi. Artinya jika konsumsi naik maka, pertumbuhan ekonomi juga naik. Begitu sebaliknya, jika konsumsi turun, maka pertumbuhan ekonomi turun.
Dengan dua bahasan tersebut, dapat dikatakan secara sederhana, bahwa pertumbuhan ekonomi berkorelasi positif dengan pendapatan. Ini artinya, jika pendapatan masyarakat naik, maka pertumbuhan ekonomi akan naik. Sebaliknya jika pendapatan turun, maka pertumbuhan ekonomi juga turun.
Contoh Soal Ujian Pengaruh Pendapatan Terhadap Pertumbuhan Ekonomi
Suatu perekonomian masyarakat memliki fungsi konsumsi C = 200 + 0,75Yd, memiliki investasi sebesar I = 200 dan pengeluaran pemerintah sebesar G= 600, sedangkan ekspor impor pada kondisi balance. Pada tahun n pendapatan disposable sebesar Yd = 2200 dan pada tahun n + 1 pendapatan disposable masyarakat naik menjadi 2400.
Pertanyaan
Tentukan besar konsumsi dan tabungan pada tahun n dan n+1
Tentukan pendapatan nasional pada tahun n dan n+1. Dan hitung pertumbuhan perekonomian masyarakat tersebut. Satuan uang dalam triliun rupiah.
Jawab
Pengaruh Pendapatan Terhadap Konsumsi
Besar konsumsi pada tahun n dihitung dengan substitusi Yd 2200 ke fungsi konsumsi seperti berikut
C = 200 + 0,75(2200)
C = 1850
Besar konsumsi pada tahun n+1 dihitung dengan substitusi Yd 2400 ke fungsi konsumsi seperti berikut
C = 200 + 0,75(2400)
C = 2000
Dengan demikian, peningkatan pendapatan disposable dari 2200 menjadi 2400 dapat meningkatan konsumsi dari 1850 menjadi 2000 triliun rupiah.
Pengaruh Pendapatan Terhadap Tabungan
Besar konsumsi pada tahun n dihitung dengan substitusi Yd 2200 ke fungsi tabungan berikut
S = – 200+ 0,25.Yd
sehingg diperoleh
S = – 200+ 0,25(2200)
S = 350
Besar konsumsi pada tahun n + 1 dihitung dengan substitusi Yd 2400 ke fungsi tabungan seperti berikut
S = – 200+ 0,25(2400)
S = 400
Dengan demikian, peningkatan pendapatan disposable dari 2200 menjadi 2400 dapat meningkatan tabungan masyarakat dari 350 menjadi 400 triliun rupiah.
Penagruh Pendapatan Disposable Terhadap Pendapatan Nasional
Pendapatan nasional dapat ditentukan dengan mensubstitusikan fungsi konsumsi C, investasi I, pemerintah G, ekspor impor X – M dan Yd ke dalam persamaan berikut
Y = C + I + G + (X – M)
Sehingga diperoleh besar Y untuk tahun n adalah
Y = 200 + 0,75(2200) + 200 + 600 + 0
Y = 200 + 1650 + 200 + 600
Yn = 2650
Pada tahun n diperoleh pendapatan nasional sebesar 2650 triliun rupiah
Sedangan besar pendapatan nasional Y untuk tahun n + 1 adalah
Y = 200 + 0,75(2400) + 200 + 600 + 0
Y = 200 + 1800 + 200 + 600
Yn+1 = 2800
Pendapatan nasional pada tahun n + 1 naik menjadi 2800 triliun rupiah.
Pertumbuhan ekonomi suatu masyarakat atau negara dapat ditentukan dengan menggunakan rumus persamaan pertumbuhan ekonomi seperti berikut
YG = (Yn+1 – Yn)/Yn x 100%
YG = (2800 – 2650)/(2650) x 100%
YG = (150/2650) x 100%
YG = 5,66%
Jadi pertumbuhan ekonomi masyarakat dari tahun n ke tahun n+1 adalah 5,66 persen. Artinya pendapatan nasional pada tahun n + 1 tumbuh sebesar 5,66 persen dari tahun n. Adapun peningkatan pendapatan nasional pada tahun n+1 adalah
ΔY = 5,66 % x 2650
ΔY = 150
Atau dapat dihitung seperti berikut
ΔY = Yn+1 – Yn
ΔY = 2800 – 2650
ΔY = 150
Peningkatan pendapatan nasional pada tahun n+1 adaah 150 triliun rupiah.
Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa peningkatan pendapatan akan meningkatkan perkonomian suatu negara. Meningkatnya pendapatan disposable dapat meningkatan konsumsi C, tabungan S yang diikuti dengan naiknnya pendapatan nasional Y.
Untuk jelasnya, pengaruh pendapatan terhadap konsumsi dan tabungan dapat dilihat pada gambar berikut.
Pengaruh Pendapatan Terhadap Pertumbuhan Ekonomi Konsumsi Tabungan
Putong, Iskandar. Andjaswati, N.D., 2008, “Pengantar Ekonomi Makro”, Edisi Pertama, Penerbit Mitra Wacana Media, Jakarta.
Firdaus, R., Ariyanti, M., 2011, ”Pengantar Teori Moneter serta Aplikasinya pada Sistem Ekonomi Konvensional dan Syariah”, Cetakan Kesatu, AlfaBeta, cv, Bandung.
Pengertian Pendapatan Perseorangan dan Personal Income PI dan pembayaran pindahan atau transfer payment. Rumus Pendapatan Perseorangan dengan NNI atau Net National Income dan NNP Net National Product. Pendapatan bunga Perseorangan dan GNP Gross National Product atau Pendapatan Perseorangan Siap Konsumsi.
Personal Income Disposable dengan contoh pajak langsung dan Pengertian Konsumsi yang Hubungan Konsumsi dengan Gross Domestic Product GDP. Produk Domestik Bruto PDB dengan Konsumsi dan pengeluaran konsumsi atau consumption expenditure.
Pengaruh Pendapatan terhadap Fungsi Konsumsi dan konsumsi otonom atau Pertumbuhan ekonomi atau economic growth. Pertambahan output dengan Pengaruh Pendapatan Terhadap Pertumbuhan Ekonomi.
Pengertian Konsumsi. Konsumsi merupakan kegiatan yang sifatnya mengurangi atau menghabiskan nilai guna suatu barang atau jasa. Pengertian mengurangi atau menghabiskan adalah secara berangsur – angsur atau sekaligus.
Secara umum pengertian konsumsi dalam ilmu ekonomi adalah semua penggunaan barang dan jasa yang dilakukan oleh masyarakat untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Pengeluaran konsumsi terdiri dari konsumsi pemerintah dan konsumsi rumah tangga.
Konsumsi merupakan komponen yang dihitung dalam Gross Domestic Product, GDP, atau Produk Domestik Bruto, PDB. Dalam ekonomi makro, konsumsi disebut juga sebagai pengeluaran komsumsi, atau consumption expenditure.
Pertumbuhan Ekonomi Suatu Negara
Pertumbuhan ekonomi pada umumnya digunakan untuk menyatakan perkembangan ekonomi, kesejahteraan ekonomi, kemajuan ekonomi dan perubahan fundamental ekonomi jangka panjang suatu Negara.
Pertumbuhan ekonomi atau economic growth dapat diartikan sebagai pertambahan pendapatan nasional agregatif atau pertambahan output dalam periode tertentu, misal satu tahun. Dengan kata lain, pertumbuhan ekonomi menunjukkan peningkatan kapasitas produksi barang dan jasa secara fisik dalam kurun waktu tertentu.
Pengaruh Konsumsi Terhadap Pertumbuhan Ekonomi
Salah satu besaran penting yang dapat digunakan untuk melihat pengaruh konsumsi dengan pertumbuhan ekonomi suatu negara adalah pendapatan nasional atau Gross Domestic Product (GDP) atau produk domestik bruto (PDB). GDP merupakan nilai barang dan jasa akhir yang dihasilkan oleh berbagai unit produksi di wilayah suatu negara dalam jangka waktu setahun.
GDP yang dihitung berdasarkan pengeluaran terdiri dari empat komponen utama yaitu:
C = konsumsi,
I = investasi,
G = pembelian oleh pemerintah,
(X – M) = Ekspor neto, X = ekspor dan M = impor
(X – M) adalah Ekspor neto yang menunjukkan selisih antara nilai ekspor dan impor.
Bentuk aljabar dari GDP dapat ditulis sebagai berikut:
Y = C + I + G + (X – M)
Dimana Y = GDP
Jadi pertumbuhan ekonomi dapat dinyatakan dalam persamaan sebagai berikut:
GDP = C + I + G + (X – M)
Dari persamaan tersebut dapat dikatakan bahwa Pertumbuhan ekonomi (GDP) berbanding lurus dengan Konsumsi rumah tangga yang dinotasikan dengan huruf C (consumption atau konsumsi). Artinya jika C naik, maka GDP juga akan naik. Begitu sebaliknya, jika konsumsi menurun maka, pertumbuhan ekonomi juga cenderung menurun.
Nilai dari belanja atau pengeluaran yang dilakukan rumah tangga konsumen digunakan untuk membeli berbagai kebutuhan dalam satu tahun tertentu. Belanja atau pengeluaran ini disebut pengeluaran konsumsi rumah tangga.
Pendapatan yang diterima oleh rumah tangga akan digunakan untuk membeli kebutuhan seperti makanan, pakaian, membayar jasa angkutan, membiayai pendidikan anak, membeli kendaraan, dan sebagainya.
Namun tidak semua transaksi yang dilakukan oleh rumah tangga dikatagorikan sebagai konsumsi, seperti pengeluaran untuk membeli rumah dikatagorikan sebagai investasi (dinotasikan dengan I).
Konsumsi rumah tangga dipengaruhi oleh pendapatan masyarakatnya. Dengan demikian pertumbuhan ekonomi juga akan dipengaruhi oleh pendapatan masyarakatnya. Artikel lengkap yang membahas pengaruh pendapat terhadap konsumsi rumah tangga adalah:
Disposible income merupakan pendapatan yang siap digunakan, baik untuk keperluan konsumsi maupun untuk ditabung. Konsumsi merupakan fungsi dari pendapatan siap pakai atau disposible income yang menunjukkan hubungan antara tingkat pengeluaran konsumsi dengan tingkat pendapatan yang siap dibelanjakan….
Pengertian dan Contoh Konsumsi dengan kegiatan mengurangi atau menghabiskan nilai guna barang atau jasa. Konsumsi pemerintah dan konsumsi rumah tangga dengan pengeluaran komsumsi rumah tangga. Pengertian consumption expenditure dengan Konsumsi Rumah Tangga dalam Gross Domestic Product GDP. Konsumsi dalam Produk Domestik Bruto PDB dan Pengertian Pertumbuhan Ekonomi Suatu Negara.
Perubahan fundamental ekonomi jangka panjang suatu Negara dengan pengertian economic growth dan Pengaruh Konsumsi Terhadap Pertumbuhan Ekonomi. Contoh Pengeluaran Konsumsi rumah tangga dan pemerintah dan Pengaruh Konsumsi Rumah Tangga Terhadap Perekonomian.
Contoh Pengeluaran Konsumsi rumah tangga dan pemerintah dengan kegiatan mengurangi atau menghabiskan nilai guna barang atau jasa. Konsumsi dalam Produk Domestik Bruto PDB dan konsumsi pemerintah atau konsumsi rumah tangga. Konsumsi Rumah Tangga dalam Gross Domestic Product GDP dan Pengaruh Konsumsi Rumah Tangga Terhadap Perekonomian.
Pengaruh Konsumsi Terhadap Pertumbuhan Ekonomi atau Pengaruh Konsumsi Terhadap Pertumbuhan Ekonomi Negara Indonesia sebagai pengeluaran komsumsi rumah tangga. Pengertian consumption expenditure. Pengertian dan Contoh Konsumsi atau Pengertian economic growth. Pengertian Pertumbuhan Ekonomi Suatu Negara dan perubahan fundamental ekonomi jangka panjang suatu Negara.
Personal Income adalah pendapatan yang diterima oleh setiap lapisan masyarakat dalam satu tahun. Personal Income setelah dikurangi pajak langsung disebut disposible income. Pajak langsung misalnya pajak bumi dan bangunan, pajak kendaraan bermotor dan sebagainya. Disposible income merupakan pendapatan yang siap digunakan, baik untuk keperluan konsumsi maupun untuk ditabung.
Pengertian Konsumsi
Dalam ilmu ekonomi, konsumsi diartikan sebagai semua penggunaan barang dan jasa yang dilakukan oleh masyarakat untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Pengeluaran konsumsi terdiri dari konsumsi pemerintah dan konsumsi rumah tangga.
Konsumsi merupakan komponen yang dihitung dalam Gross Domestic Product, GDP, atau Produk Domestik Bruto, PDB. Dalam ekonomi makro, konsumsi disebut juga sebagai pengeluaran komsumsi, atau consumption expenditure.
Consumption Expenditure
Consumption Expenditure didefinisikan sebagai perilaku masyarakat dalam membelanjakan sebagian pendapatannya untuk membeli sesuatu.
Menurut Keynes, pengeluaran untuk konsumsi ditentukan atau dipengaruhi oleh pendapatan. Semakin tinggi tingkat pendapatan, semakin tinggi pula tingkat konsumsinya. Namun demikian, perubahan antara pendapatan dan konsumsi tidak bersifat proporsional.
Pengaruh Pendapatan Terhadap Konsumsi
Konsumsi merupakan fungsi dari pendapatan siap pakai atau disposible income yang menunjukkan hubungan antara tingkat pengeluaran konsumsi dengan tingkat pendapatan yang siap dibelanjakan.
Rumus Persamaan Fungsi Konsumsi
Hubungan fungsional antara konsumsi dan pendapatan Secara matematis dapat dinyatakan sebagai berikut:
C = f(Y)
C = tingkat konsumsi
Y = pendapatan siap pakai, disposible income.
Persamaan ini menjelaskan seberapa besar pengaruh pendapatkan terhadap konsumsi. Pengeluaran konsumsi akan meningkat ketika pendapatan masyarakat juga meningkat.
Apabila perubahan pendapatan Y selalu diikuti oleh perubahan konsumsi C secara proposional maka fungsi konsumsi menjadi:
C = bY.
Namun demikian, dalam jangka pendek, konsumsi dapat terjadi walaupun tidak ada pendapatan. Artinya, saat pendapatan nol, konsumsi selalu lebih besar daripada nol.
Dalam jangka pendek, masyarakat dapat berkonsumsi dengan menggunakan tabungan yang dimilikinya. Ketika seseorang mengeluarkan dana untuk konsumsi pada saat pendapatan nol disebut melakukan tabungan negatif atau dissaving.
Dengan demikian secara matematis fungsi konsumsi tersebut dapat ditulis sebagai berikut:
C = a + bY
C = pengeluaran untuk konsumsi
a = besar konsumsi saat pendapatan tidak ada, atau sama dengan nol (disebut konsumsi otonom)
b = besar tambahan konsumsi yang disebabkan oleh adanya tambahan pendapatan
Y = pendapatan nasional makro, jika C adalah pengeluaran agregat untuk konsumsi.
Nilai a merupakan pengeluaran konsumen otonom atau autonomous consumer expenditure yang menunjukkan pengeluaran konsumen yang bebas atau indenpenden dari pendapatan disposabel.
Persamaan ini menjelaskan seberapa besar masyarakat akan berbelanja untuk konsumsi apabila pendapatan disposabelnya adalah nol. Meskipun pendapatan disposabel nol, namun nilai konsumsi C tidak sama dengan nol. Masyarakat tetap harus mempunyai makanan, pakaian dan perlindungan. Besarnya nilai konsumsi pada saat masyarakat tidak memiliki pendapatan adalah sebesar a (yaitu konsumsi otonom).
Contoh Soal Ujian Pengaruh Pendapatan Terhadap Konsumsi Dalam Perekonomian
Daftar Pustaka:
Ahman, H., E., Rohmana, Y., 2007,”Ilmu Ekonomi Dalam PIPS”, Edisi Kedua, Cetakan Pertama, Penerbit Universitas Terbuka, Jakarta.
Prasetyo, P. E., 2011, “ Fundamental Makro Ekonomi”, Cetakan Kedua, Beta Offset, Jogyakarta.
Pengertian Jumlah Uang Beredar. Jumlah uang beredar dapat didefinisikan menjadi dua pengertian. Pertama, uang beredar didefinisikan dalam arti sempit (narrow money) yang dinotasikan dengan M1 dan kedua, uang beredar dalam arti luas (broad money) yang dinotasikan dengan M2.
Dalam arti sempit M1, jumlah uang beredar meliputi uang kartal yang dipegang masyarakat dan uang giral (uang dalam bentuk giro berdenominasi Rupiah), sedangkan dalam arti luas M2, jumlah uang beredar meliputi M1, uang kuasi (mencakup simpanan berjangka dalam rupiah dan valas, giro dalam valuta asing, serta tabungan), dan surat berharga yang diterbitkan atau dikeluarkan oleh sistem moneter yang dimiliki pihak swasta domestik dengan sisa jangka waktu sampai satu tahun.
Pengertian Inflasi
Inflasi adalah kenaikan harga-harga umum yang terjadi secara terus-menerus selama periode tertentu. Inflasi menunjukkan kecenderungan naiknya harga-harga umum barang dan jasa yang berlangsung secara terus menerus. Kenaikan harga tidak harus selalu dalam nilai atau persentasi yang sama. Kenaikan harga yang terjadi satu kali atau tidak terus menerus, atau hanya temporer, atau tidak berdampak luas, maka tidak dikatagorikan sebagai inflasi.
Pengaruh Uang Beredar Terhadap Inflasi
Pendekatan yang dapat dilakukan untuk melihat bagaimana dampak jumlah uang beredar tehadap inflasi dengan menggunakan teori David Ricardo dan teori Irving Fisher.
Teori David Ricardo
Teori ini menyatakan bahwa jumlah atau kuantitas uang yang beredar akan berpengaruh pada tingkat harga. Jika jumlah uang beredar meningkat, maka harga barang dan jasa akan naik pula. Begitu pula sebaliknya, jika jumlah uang beredar berkurang, maka harga barang dan jasa akan turun.
Secara matematis, jumlah uang beredar berbanding lurus dengan tingkat harga seperti ditunjukkan dengan persamaan yang diberikan oleh David Ricardo:
M = k x P
Keterangan:
M = jumlah uang beredar
k = konstanta
P = tingkat harga
Persamaan ini berasumsi bahwa uang hanya berfungsi sebagai alat atau media pertukaran. Oleh sebab itu, setiap pengurangan atau pertambahan uang beredar berhubungan langsung dengan tingkat harga.
Contoh Soal Teori David Ricardo
Diketahui kondisi awal
M = 10
k = ¼
P = M/k = 10 /(¼) = 40
Jika M naik dua kali menjadi 2 x 10 = 20 maka:
P = (2x 10)/( ¼) = 80
Jadi ketika M naik dua kali maka, P naik dua kali juga.
Dari persamaannya dapat disimpulkan bahwa, jika nilai M turun, maka P harus turun, dan sebaliknya jika nilai M naik maka, nilai P harus naik. Jika kenaikan harga P merupakan kenaikan harga – harga umum yang terjadi secara terus -menerus selama periode tertentu, maka kenaikan harga P ini adalah inflasi. Jadi peningkatan jumlah uang beredar akan menyebabkan inflasi.
Teori Irving Fisher (Kuantitas Uang)
Irving Fisher merumuskan teorinya dalam bentuk persamaan seperti berikut:
MV = PT
Keterangan:
M = jumlah uang beredar
V = tingkat perputaran uang, yakni berapa kali suatu mata uang berpindah tangan
P = harga barang
T = volume barang yang ditransaksikan
Menurut teori ini, perubahan jumlah uang beredar akan mengakibatkan perubahan harga secara proporsional. Artinya, kalau jumlah uang naik dua kali lipat maka tingkat harga naik dua kali. Jika kenaikan harga P terjadi secara umum dan secara terus menerus maka keadaan ini disebut sebagai inflasi.
Contoh Soal Teori Irving Fisher (Kuantitas Uang)
Hubungan proporsional antara jumlah uang beredar dengan harga dapat digambarkan dalam perhitungan berikut.
Diketahui:
M = 250
V = 40
T = 1000
Maka P dapat dihitung =
P = MV/T
P = (250 x 40)/1000
Maka P = 10
Jika M naik 2 kali menjadi 500, maka P juga akan naik 2 kali menjadi
(2 x 250) × 40 = (2 x 10) × 1000.
Pada Contoh tersebut, besaran V dan T adalah konstan. Jika V dan T konstan maka persamaan dari Teori David Ricardo dan dari Teori Irving Fisher menjadi sama.
Ketika V dan T konstan maka persamaan irving Fisher menjadi seperti berikut:
M x k1 = k2 x P atau
M = (k2/k1) x P sehingga
M = k x P
Jadi ketika M naik dua kali maka, P naik dua kali juga.
Jika kenaikan harga P merupakan kenaikan harga – harga umum yang terjadi secara terus -menerus selama periode tertentu, maka kenaikan harga P ini adalah inflasi. Jadi peningkatan jumlah uang beredar akan menyebabkan inflasi.
Putong, Iskandar. Andjaswati, N.D., 2008, “Pengantar Ekonomi Makro”, Edisi Pertama, Penerbit Mitra Wacana Media, Jakarta.
Firdaus, R., Ariyanti, M., 2011, ”Pengantar Teori Moneter serta Aplikasinya pada Sistem Ekonomi Konvensional dan Syariah”, Cetakan Kesatu, AlfaBeta, cv, Bandung
Ardra.Biz, 2019, “Contoh Soal Teori David Ricardo, Contoh Soal Teori Irving Fisher (Kuantitas Uang), Dampak Jumlah Uang Beredar Terhadap Inflasi, Pengaruh Jumlah Uang Beredar Terhadap Inflasi, Pengertian Inflasi, Pengertian Jumlah Uang Beredar, Teori David Ricardo, Teori Irving Fisher (Kuantitas Uang),
Ardra.Biz, 2019, Rumus Teori Irving Fisher, Rumus Kuantitas Uang, Tingkat Perputaran Uang, Jumlah uang beredar, Arti Sempit uang beredar, Pengertian narrow money, Arti luas uang beredar, Pengertian broad money, Asumsi Teori David Ricardo,