Investasi: Tujuan Jenis Contoh Risiko Instrumen Investasi Riil Finansial Direct Investing Indirect Investing

Pergertian Investasi: investasi adalah setiap tindakan menunda penggunaan dana untuk konsumsi pada saat ini ke masa yang akan datang dengan tujuan memperoleh peningkatan keuntungan dalam bentuk kesejahteraan dan/atau kekayaan dengan ukuran keuangan.

Pengertian Investasi Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia,

Menurut kamus besar Bahasa Indonesia, investasi adalah penanaman uang atau modal dalam suatu perusahaan atau proyek untuk tujuan memperoleh keuntungan.

Pengertian Investasi Menurut Jones,

Menurut  Jones, Investasi didefinisikan sebagai komitmen pendanaan ke dalam satu atau lebih aset yang dipegang untuk beberapa periode waktu mendatang.

Pengertian Investasi Menurut Jogiyanto,

Menurut Jogiyanto, investasi dapat didefinisikan sebagai penundaan konsumsi sekarang untuk digunakan dalam produksi yang efesien selam periode waktu tertentu.

Pengertian Investasi Menurut Hartono,

Menurut Hartono, investasi didefinisikan sebagai penundaan konsumsi sekarang untuk dimasukkan ke aset produktif selama periode waktu tertentu.

Pengertian Investasi Menurut Sumanto,


Menurut Sumanto, investasi merupakan komitmen sejumlah dana suatu periode untuk mendapatkan pendapatan yang diharapkan di masa yang akan datang sebagai kompensasi unit yang diinvestasikan.

Pengertian Investasi Menurut Myers,

Menurut Myers, invetasi adalah konsumsi yang ditunda dengan harapan konsumsi lebih besar di masa mendatang.

Pengertian Investasi Menurut Sutha,

Menurut Sutha, Investasi adalah penempatan sejumlah dana dengan harapan dapat memelihara, menaikkan nilai, atau memberikan return yang positif

Pengertian Investasi Menurut Webster,

Menurut Webster, Investasi adalah penanaman uang dengan harapan mendapat hasil dan nilai tambah.

Pengertian Investasi Menurut Mankiw,

Menurut Mankiw, Investasi didefinisikan sebagai barang-barang yang dibeli oleh individu ataupun perusahaan untuk menambah persediaan modal mereka

Pengertian Investor,

Pihak-pihak yang melakukan kegiatan investasi biasanya disebut investor.  Investor adalah orang perseorangan atau Lembaga baik doestik atau nondomestic yang melakukan suatu investasi baik dala jangka pendek atau jangka Panjang.

Jenis Jenis Investor,

Investor pada umumnya dapat dikelompokan menjadi investor individual – individual/ retail investors, investor institusional – institutional investors, Investor Risk Averse, Investor Risk Taker, dan Investor risk neutral,

Investor Individual,

Investor individual terdiri dari individu-individu yang melakukan aktivitas investasi.

Contoh Investor Individual,

Contoh investor individual adalah seseorang yang menginvestasikan dananya dalam bentuk saham akan disebut sebagai investor individual.

Investor Institusional,

Investor institusional adalah investor yang biasanya terdiri dari perusahaan- perusahaan asuransi, lembaga penyimpan dana.

Contoh Investor Institusional,

Contoh investor institusional misalanya bank dan lembaga simpan- pinjam, lembaga dana pensiun maupun perusahaan investasi.

Lembaga seperti ini biasanya mengumpulkan uang dari para anggotanya (nasabahnya) dan selanjutnya menggunakan uang tersebut sebagai modal untuk investasi pada reksadana tertentu ataupun bisa juga dibelikan saham atau obligasi.

Investor Risk Averse,

Investor risk averse adalah investor yang mengambil keputusan invesatasinya berdasarkan kriteria maximin. Investasi dengan risiko paling rendah dan imbal hasil yang terbaik namun rendah.

Investor Risk Taker,

Investor risk taker adalah investor yang mengambil keputusan investasinya berdasarkan kriteria maximax. Investasi dengan imbal hasil yang terbaik dan tinggi dengan risiko yang juga tinggi,

Investor Risk Neutral,

Investor risk neutral adalah investor yang mengambil keputusan investasi berdasarkan pada kriteria realsism. Investor risk neutral berada ditengah- tengah investor risk averse dengan risk taker

Investor bersedia menanggung sejumlah risiko pada tingkat tertentu dengan imbal hasil yang juga tertentu.

Tujuan Investasi

Secara khusus, tujuan investasi adalah untuk meningkatkan kesejahteraan (welfare) dalam bentuk kesejahteraan moneter (monetary welfare) untuk masa kini, maupun mendatang. Tujuan investasi yang lebih luas adalah untuk meningkatkan kesejahteraan investor

Adapun Beberapa tujuan investasi diantaranya adalah…

a). Mendapat Tingkat Kehidupan Yang Lebih Baik

Investasi dapat meningkatkan kehidupan yang lebih baik/sejahtera di masa yang akan datang. Nilai kekayaan saat ini dapat ditingkatkan atau sekurang-kurangnya dapat dipertahankan di masa mendatang.

b). Antisipasi Inflasi

Inflasi pada dasarnya merupakan penurunan terhadap nilai kekayaan di masa yang akan datang. Aktivitas investasi mampu mempertahankan nilai kekayaan akibat inflasi serta mampu pula meningkatkan kesejahteraan masyarakat pada masa yang akan datang,

c). Mengurangi Ketidakpastian – Uncertainty

Masa depan adalah masa yang tidak pasti. Dengan melakukan investasi maka investor berpeluang untuk mengurangi ketidakpastian atau perubahan arah yang dapat menurunkan kekayan/kesejahteraannya yang lebih besar. Sekurang-kurangnya risiko kerugian yang muncul dapat ditekan.

d). Peluang   Penghematan Pembayaran Pajak

Di Banyak negara ada sejumlah insentif dalam bentuk pengurangan atau penghematan pembayaran pajak yang diberikan kepada investor yang mau memberikan kekayaan atau dana yang dimilikinya pada bidang investasi tertentu. Khususnya pada sektor-sektor yang mampu menyerap jumlah tenaga kerja yang besar.

Manfaat Investasi

Manfaat yang ditimbulkan dengan dilakukannya investasi dapat dikelompokkan sebagai berikut

1). Investasi yang bermanfaat untuk umum (publik)

Investasi yang bermanfaat untuk umum (publik) seperti investasi di bidang infrastruktur (jalan, jembatan, pelabuhan, pasar dan seterusnya), investasi di bidang konversi alam, bidang pengelolaan sampah, bidang tekonogi, bidang penelitian dan pengembangan, bidang olahraga, pertahanan dan keamanan, dan investasi lainnya yang bermanfaat bagi masyarakat luas.

2). Investasi yang bermanfaat untuk kelompok tertentu

Investasi yang mendatangkan manfaat untuk kelompok masyarakat tertentu, dan lingkungan tertentu seperti investasi di bidang keagamaan, membangun sarana ibadah dan sarana keagamaan lainnya, bidang pendidikan dan sumberdaya manusia, bidang olehraga tertentu, bidang infrastruktur tertentu, bidang konversi alam/lingkungan tertentu, bidang pengelolaan sampah di lingkunga tertentu, dan investasi lainnya yang bermanfaat.

3). Investasi yang bermanfaat untuk pribadi dan rumah tangga

Investasi yang mendatangkan manfaat bagi pribadi atau rumah tangga, dalam rangka memenuhi kebutuhan dan keinginannya di mas mendatang, seperti investasi untuk perumahan pribadi maupun keluarga, investasi untuk pendidikan pribadi atau keluarga, investasi di bidang keagamaan, investas untuk usaha, serta investasi lainnya yang bermanfaat.

Instrumen Investasi,

Instrumen dapat dikelompokkan menjadu dua kelompok besar yaitu instrumen investasi riil dan instrumen investasi finansial.

Instrumen Investasi Riil

Investasi ini dilakukan pada aktiva yang bisa terlihat dan dapat diukur secara jelas. Instrumen investasi riil merupakan investasi kepada barang fisik seperti pembelian rumah, gudang, dan barang fisik tidak bergerak serta barang fisik bergerak lainnya.

Instrumen investasi dapat juga dikelompokkan menjadi instrumen berpendapatan tetap (Fixed Income Securities) dan tidak berpendapatan tetap.

Instrumen Investasi Berpendapaan Tetap

Instrumen berpendapatan tetap adalah instrumen yang memberikan penghasilan tetap selama periode instrumen tersebut, tetapi harga pokok instrumen tersebut dapat berubah- ubah.

Harga pokok dapat di atas atau di bawah harga nominal sesuai dengan perubahan tingkat bunga yang berlaku.

Contoh Investasi Riil,

Contoh investasi riil adalah membeli property seperti membeli tanah, membeli bangunan, rumah, ruko, apartemen, emas, perhiasan dan sebagainya

Instrumen Investasi Finansial,

Finacial Investment adalah investasi terhadap produk produk keuangan atau aktiva bersifat keuangan

Contoh Investasi Finansial,

Adapun contoh instrumen investasi aset finansial diantaranya adalah sebagai berikut…

1). Instrumen Investasi Finansial – Rekening Koran,

Rekening koran adalah sebuah rekening yang dimiliki investor di bank di mana digunakan investor untuk menyimpan dananya sementara. Investor mendapatkan keuntungan dari tingkat bunga.

2). Instrumen Investasi Finansial – Desposito,

Deposito dalah sebuah surat hutang yang hanya diterbitkan oleh bank untuk mendapatkan dana dengan jangka waktu tertentu dan tingkat bunga tertentu.

Investor yang melakukan investasi pada deposito akan mendapatkan dananya yaitu prinsipal dan pokoknya pada saat jatuh tempo.

3). Instrumen Investasi Finansial – Negotiable Certificate Deposits – NCD,

Negotiable Certificate Deposits – NCD adalah instrumen investasi yang diterbitkan oleh bank ketika tingkat bunga dan periode waktu dinegosiasikan antara bank dan investor.

Nilai investasi pada NCD dimulai dengan nilai yang tidak sama dengan deposito dan nilainya minimum Rp500 juta.

4). Instrumen Investasi Finansial – Promisorry Notes – PN,  

Promisorry Notes (PN) adalah surat hutang yang diterbitkan oleh perusahaan atau seseorang untuk mendapatkan dana dan mempunyai kewajiban yang harus dibayar ketika jatuh tempo.

Investor membeli Promisorry Notes PN pada harga diskon dan menerima pada saat jatuh tempo sebesar nilai prinsipalnya.

5). Instrumen Investasi Finansial – Commercial Papers – CP,

Commercial Papers – CP  adalah surat hutang yang diterbitkan oleh perusahaan atau seseorang untuk mendapatkan dana dan mempunyai kewajiban yang harus dibayar ketika jatuh tempo.

Penerbit surat hutang ini harus mengajukan rating (peringkat) kepada perusahaan pemeringkat ketika menerbitkan surat hutang ini.

6). Instrumen Investasi Finansial – Repurchases Agreement – REPOs,

Repurchases Agreement – REPOs  adalah instrumen investasi yang diterbitkan oleh penerbit untuk mendapatkan dana dari pihak pemilik dana manakala adanya jaminan instrumen keuangan dan dibeli kembali oleh penerbit pada jatuh tempo dan jika tidak dibeli kembali maka menjadi milik pembeli instrumen tersebut.

REPOs merupakan tindakan pihak tertentu yang menggadaikan instrumen aset finansialnya untuk mendapatkan dana.

Karena konsep menggadaikan maka pihak tersebut harus menebus aset finansial yang digadaikan pada saat jatuh tempo dan bila tidak ditebus maka menjadi milik dari pemegang barang gadai atau pembeli REPOs.

7). Instrumen Investasi Finansial – Medium Term Notes – MTN,

Medium Term Notes – MTN adalah surat utang yang diterbitkan oleh perusahaan uang periode di atas satu tahun sampai dengan kurang 5 tahun dan membayar bunga secara berkala.

Surat utang ini diterbitkan dalam rangka mengisi kekosongan instrumen ketika ada investor yang ingin melakukan investasi dalam periode yang disebutkan serta tidak memerlukan peringkat.

Surat utang ini sangat berisiko dibandingkan dengan obligasi karena tidak adanya peringkat tersebut. Akibatnya, surat utang ini sangat cocok bagi investor yang sudah mengenal perusahaan yang menerbitkan surat utang tersebut.

8). Instrumen Investasi Finansial – Obligasi,

Obligasi adalah surat utang yang diterbitkan oleh perusahaan atau pemerintah dalam rangka mendapatkan dana dan adanya pembayaran bunga secara berkala yang dikenal dengan kupon dan mempunyai umur manakala penerbit harus membayar prinsipalnya pada saat jatuh tempo.

Obligasi ini selalu ditawarkan secara publik dan Pemerintah mensyaratkan dilakukan peringkat oleh perusahaan pemeringkat. Adapun umur dari surat utang ini dimulai dari lebih satu tahun.

9). Instrumen Investasi Finansial – Obligasi Konversi – Convertible Bond,  

Obligasi konversi adalah obligasi yang pada periode tertentu dapat dikonversikan dengan saham dari penerbit obligasi tersebut.

Obligasi konversi sama dengan obligasi biasa, tetapi obligasi ini mempunyai opsi bagi pembelinya untuk mengonversikannya kepada saham penerbit dengan harga dan ketentuan yang telah disepakati pada awal sebelum obligasi diterbitkan.

10). Instrumen Investasi Finansial – Obligasi Tukar – Exchangeable Bond,

Obligasi tukar adalah sebuah obligasi konversi, tetapi konversi sahamnya bukan kepada penerbit obligasi melainkan kepada perusahaan afiliasi penerbit obligasi.

11). Instrumen Investasi Finansial –  Saham,

Saham adalah bukti kepemilikan atas perusahaan dan tidak mempunyai jatuh tempo serta tidak mempunyai hak mendapatkan pendapatan secara berkala.

Bila perusahaan dilikuidasi maka pemegang saham ini akan mendapatkan pembagian aset paling akhir dan bila tidak ada lagi yang tersisa maka pemegang saham ini tidak mendapatkan apa-apa.

12). Instrumen Investasi Finansial –  Reksa Dana,

Reksa dana adalah kumpulan dana dari investor yang diinvestasikan pada instrumen efek dan dikelola oleh Manajer Investasi.

Investor manaruh dana pada Reksa Dana kemudian Reksa Dana melakukan investasi pada instrumen efek.  

13). Instrumen Investasi Finansial –   Opsi ,

Opsi adalah hak yang dimiliki oleh pemegangnya untuk membeli atau menjual undelying aset pada harga tertentu untuk periode tertentu pula. Hak tersebut dapat dieksekusi dan juga tidak usaha dieksekusi oleh pemegang (pembeli) opsi tersebut.

14). Instrumen Investasi Finansial –  Warran,

Warran adalah instrumen investasi yang mempunyai keharusan membeli saham perusahaan pada periode tertentu dan memiliki jatuh tempo.

Warran ditukarkan kepada saham yang diterbitkan perusahaan dan diperdagangkan di Bursa di mana harga tergantung kepada harga saham.

Warran ini diterbitkan ketika perusahaan melakukan offering saham pada saat IPO dan penawaran obligasi secara cuma-cuma dengan maksud sebagai pemanis dari IPO saham dan obligasi tersebut.

15). Instrumen Investasi Finansial –  Rights,

Rights adalah hak yang harus dimiliki pemegang saham untuk membeli saham yang akan dikeluarkan perusahaan di mana perusahaan sedang melakukan right issue.

Right ini mempunyai periode perdagangan yang singkat dan tercantum nilai harga saham dibeli pada peridoe right issue tersebut.

16). Instrumen Investasi Finansial –  Futures ,

Futures adalah instrumen investasi yang diperdagangkan di Bursa ketika pembeli berhak membeli atau menjual instrumen aset finansial atau komoditi pada harga tertentu dan periode tertentu.

Pasar yang mentransaksikan futures ini adalah PT Bursa Berjangka Jakarta untuk komoditi dan PT Bursa Efek Jakarta untuk aset finansial.  

17). Instrumen Investasi Finansial – Forward,

Forward adalah instrumen investasi yang ditransaksikan di luar Bursa yang merupakan kesepakatan dua pihak di mana pembeli dan penjual sepakat melakukan transaksi jual beli instrumen aset finansial atau komoditi pada harga tertentu dan periode tertentu.

Transaksi forward dikenal juga dengan transaksi over-the-counter – OTC.

18). Instrumen Investasi Finansial –  SWAP,

Swap adalah kesepakatan antara dua pihak atau melalui bank untuk mempertukarkan arus kas yang dimiliki masing- masing sehingga masing-masing merasa diuntungkan dengan transaksi tersebut.

Transaksi yang dipertukarkan yaitu tingkat bunga dan valuta asing dan instrumen ini akan dijelaskan pada bab tersendiri.

Metoda Cara Investasi Intrumen Keuangan

Ada 2 cara dalam berinvestasi pada asset finansiil – financial assets yaitu investasi secara langsung dan investasi secara tidak langsung,

1). Investasi Secara Langsung,

Investasi langsung adalah invetasi yang dilakukan dengan membeli aktiva keuangan yang dapat diperjual belikan di pasar uang, pasar modal, atau pasar turunan. Investasi yang dilakukan tanpa bantuan prantara.

Investasi langsung juga dapat dilakukan dengan membeli aktiva yang tidak diperjual belikan, biasanya diperoleh dari bank komersial.

Contoh Investasi Langsung,

Contoh investasi langsung adalah membeli saham di bursa saham, deposito dan sertifikat deposito.

2). Investasi Secara Tidak Langsung,

Invetasi secara tidak langsung adalah investasi yang dilakukan dengan menggunakan prantara atau investasi yang dilakukan melalui perusahaan investasi.

Pada Investasi secara tidak langsung, pengelolaan surat berharga diwakilkan kepada suatu badan atau lembaga yang mengelola investasi para pemegang surat berharganya.

Contoh Investasi Secara Tidak Langsung,

Kepemilikan aset secara tidak langsung dilakukan melalui lembaga-lembaga keuangan yang terdaftar, yang bertindak sebagai perantara. Contohnya membeli Reksadana.

Proses Manajemen Keputusan Investasi,

Proses investasi merupakan manajemen seorang investor dalam melakukan investasi. Proses manajemen investasi adalah  Menetapkan sasaran investasi,  Membuat kebijakan investasi, Memilih strategi portofolio, Memilih aktiva atau asset, Mengukur dan mengevaluasi kinerja

a). Menetapkan Sasaran Tujuan Investasi,

Sasaran investasi yang paling umum adalh memperoleh pengembalian dari dana yang diinvestasikan yang jumlahnya lebih besar dari dana yang dikeluarkan.

b). Membuat Kebijakan Investasi,

Kebijakan investasi investor, yaitu bagaimana dana sebaiknya didistribusikan terhadap kelompok- kelompok aktiva utama yang ada. Kelompok aktiva umumnya meliputi saham, obligasi, real estat dan sekuritas-sekuritas lain.

c). Memilih Strategi Portofolio,

Strategi portofolio dibedakan menjadi strategi aktif dan pasif.

Strategi Portofolio Aktif,

Strategi portofolio aktif menggunakan informasi-informasi yang tersedia dan teknik-teknik peramalan untuk memperoleh kinerja terbaik.

Strategi Portofolio Pasif,

Strategi portofolio pasif adalah strategi yang mendasarkan kinerja pasar – strategi pasif mengasumsikan bahwa pasar akan merefleksikan seluruh informasi yang tersedia pada harga sekuritas.

d). Memilih Aktiva,

Dalam memilih aktiva meliputi usaha untuk mengidentifikasi kesalahan penetapan harga sekuritas, dimana pada tahap ini investor berusaha merancang portofolio yang efisien.

e). Mengukur dan Mengevaluasi Kinerja,

Dalam mengukur dan mengevaluasi kinerja mendasarkan pada patokan (benchmark) secara relatif dari portofolio sekuritas yang telah ditentukan dengan portofolio lain yang sesuai.

Dasar Keputusan Investasi,

Dasar keputusan investasi terdiri dari tingkat return yang diharapkan, tingkat risiko serta hubungan antara return dan risiko.

a). Return – Dasar Keputusan Investasi,

Tingkat keuntungan investasi disebut sebagai return. Investor akan menuntut tingkat return tertentu atas dana yang telah diinvestasikannya.

Return yang diharapkan investor dari investasi yang dilakukannya merupakan kompensasi atas biaya kesempatan (opportunity cost) dan risiko penurunan daya beli akibat adanya pengaruh inflasi.

b). Risiko – Dasar Keputusan Investasi,

Risiko dapat diartikan sebagai kemungkinan return aktual yang berbeda dengan return yang diharapkan.

Investor mengharapkan return yang setinggi tingginya dari investasi yang dilakukannya. Namun demikian investasi selalu memiliki risiko. Umumnya semakin besar risiko maka semakin besar pula tingkat return yang diharapkan.

c). Hubungan Tingkat Risiko dan Return Dasar Keputusan Investasi,

Hubungan antara risiko dan return yang diharapkan merupakan hubungan yang bersifat searah dan linear. Artinya, semakin besar risiko suatu aset, semakin besar pula return yang diharapkan atas aset tersebut, demikian sebaliknya.

Risiko Investasi,

Risiko adalah kejadian yang tidak diinginkan merupakan bagian dari kehidupan, yang dapat terjadi tetapi tidak dapat selalu dihindari (part of business which could be unavoidable).

1). Risiko Likuiditas – Marketability – Liquidity,

Risiko yang berkaitan dengan  tingkat kemudahan sebuah investasi untuk dapat dicairkan atau diuangkan kembali

2). Risiko Investasi – Investment Risk,

Risiko yang berhubungan dengan kemungkinan memperoleh hasil investasi yang rendah atau malah minus terhadap produk tanpa risiko (risk free asset)

3). Risiko Gagal – Wanprestasi – Default,

Risiko yang disebabkan peminjam/penerbit instrumen investasi tidak mampu memenuhi kewajiban pembayaran sesuai dengan yang dijanjikan/ disepakati pada waktunya. (Risiko yang membuat suatu investasi tidak ada harganya lagi)

4). Risiko Kredit – Credit,

Risiko yang berkaitan dengan kredibilitas dalam pelunasan utang. Risiko kredit tinggi berarti stabilitas keuangan investasi tsb menurun

5). Risiko pajak – Tax,

Risiko yang berkaitan dengan kewajiban perpajakan yang timbul dari aktivitas investasi yang dilakukan.

6). Risiko Inflasi – Inflation Risk,

Risikko yang berkaitan dengan adanya potensi penurunan riil nilai pokok investasi dan hasil investasi di masa depan.

7). Risiko Bunga – Interest Rate Risk,

Risiko yang berkaitan dengan tingkat suku bunga (Suku bunga menurun : tabungan dan deposito turun; suku bunga naik : harga obligasi turun)

8). Risiko Mata Uang – Currency,

Risiko yang berkaitan dengan nilai mata uang negara lain dalam hubungannya dengan mata uang dalam negeri (Indonesia)

9). Risiko Politik Politic Risk,

berkaitan dengan kondisi politik suatu negara (misalnya pemberontakan, kerusuhan, dll)

10). Risiko Pasar – Market,

Risiko yang berkaitan dengan mekanisme pasar dimana investasi kita berada.  Mis. jika permintaan atas US$ tinggi, maka nilai US$ akan meningkat

11). Risiko Karena Suatu Hal – Event Risk,

Risiko yang berkaitan dengan keadaan yang tidak dapat diperkirakan sebelumnya dari sudut pandang ekonomi. Contohnya peledakan bom di BEJ secara langsung mempengaruhi pasar saham. Atau contoh lain, adanya penemuan yang mengubah standar regulasi suatu produk

12). Risiko Investasi Dibayar Lebih Cepat – Prepayment Risk,

Risiko yang dihadapi investor dalam kemungkinan mendapatkan pengembalian pokok investasi lebih awal dari jangka jatuh tempo, sehingga nilai yang diterima lebih rendah

13). Risiko Investasi Dibayar Lebih Lambat

Risiko yang terjadi ketika investasi dikembalikan/ dibayar lebih lama dari jangka waktu yang ditetapkan sebelumnya

14). Risiko Kesempatan  – Opportunity Risk,

Risiko yang terjadi ketika suatu investasi pada satu jenis investasi tertentu dilakukan, maka kehilangan kesempatan untuk menginvestasikannya pada jenis investasi lainnya.

Reksa Dana: Jenis Reksa Dana Pasar Uang Pendapatan Tetap Reksa Dana Saham Campuran Reksa Dana Indeks

Reksa Dana adalah kumpulan dana yang diperoleh dari masyarakat dan diinvestasikan ke dalam instrumen efek serta dikelola oleh Manajer Investasi.

Reksa dana (mutual fund) adalah sertifikat yang menjelaskan bahwa pemiliknya menitipkan sejumlah dana kepada perusahaan reksadana, untuk digunakan sebagai modal berinvestasi baik di pasar modal maupun di pasar uang.

Pengertian Reksa Dana Menurut UU No 8 Tahun 1995 Tentang Pasae Modal,

Menurut UU No 8 Tahun 1995 Tentang Pasae Modal, Reksa dana adalah wadah yang dipergunakan untuk mengimpun dana dari masyarakat pemodal untuk selanjutnya diinvestasikan dalam portofolio Efek olhe manajer Investasi.

Pengertian Reksa Dana Menurut Sunariyah,

Menurut Sunariyah, reksa dana adalah kumpulan saham saham dan obligasi obligasi atau sekuritas lainnya yang dimiliki sekelompok pemodal dan dikelola perusahaan investasi professional.

Manfaat Reksa Dana,

Beberapa manfaat yang dapat diperoleh invetor jika melakukan investasi dalam reksa dana antara lain…

1). Investor walaupun tidak memiliki dana yang cukup besar dapat melakukan diversifikasi investasi dalam Efek, sehingga dapat memperkecil risiko.

2). Terkumpulnya dana dalam jumlah yang besar sehingga akan memudahkan diversifikasi baik untuk instrumen di pasar modal maupun pasar uang,


3). Reksa dana mempermudah investor untuk melakukan investasi di pasar modal.

4). Efisiensi waktu. investasi dikelola oleh manajer investasi profesional, maka investor tidak perlu membuang-buang waktu dan pikiran untuk memantau kinerja investasinya.

5). Diversifikasi yang terwujud dalam bentuk portofolio akan menurunkan tingkat resiko.

6). Transparansi informasi dalam perkembangan portofolio,

7). Likuiditas cukup tinggi, kemudahan dalam mencairkan saham atau unit penyertaannya setiap saat.

Jenis Risiko Reksa Dana,

Risiko yang terdapat dalam reksa dana meliputi tiga jenis risiko berikut

a). Risiko Berkurangnya Nilai Unit Penyertaan- Reksa Dana,

Turun naiknya nilai unit penyertaan tidak terlepas dari kenaikan atau penurunan

harga efek ekuitas dan/atau efek utang yang menjadi alat investasi reksa

dana tersebut.

b). Risiko Likuiditas – Reksa Dana,

Risiko likuiditas muncul jika sebagian besar pemegang unit melakukan penjualan kembali (redemption) atas unit-unit yang dipegangnya.

Risiko Wanprestasi – Reksa Dana,

Risiko wanprestasi merupakan risiko yang timbul ketika perusahaan asuransi yang mengasuransikan kekayaan reksa dana tidak segera membayar ganti rugi atau membayar lebih rendah dari nilai pertanggungan saat terjadi hal-hal yang tidak diinginkan

Jenis Reksa Dana,

Reksa Dana dapat dikelompokkan ke dalam dua jenis yaitu Reksa Dana Tertutup (Closed-end Fund) dan Reksa Dana Terbuka (Open-end Fund).

Reksa Dana Tertutup,

Reksa Dana Tertutup adalah Reksa Dana yang jumlah unit penyertaannya tetap dan pemegang unit hanya bisa membeli di Bursa sama seperti transaksi saham di Bursa.

Pada reksadana tertutup, setelah dana yang terhimpun mencapai jumlah tertentu maka reksadana tersebut akan ditutup. Dengan demikian, investor tidak dapat menarik kembali dana yang telah diinvestasikan.

Reksa Dana ini kurang terjamin likuiditasnya dan harganya selalu ditransaksikan di bawah NAV, dikarenakan Reksa Dana ketika membeli masih mempunyai biaya dan ketika dijual juga harus membayar biaya, akibatnya investor tidak mau rugi atas investasinya pada Reksa Dana ini.

Reksa Dana Terbuka,

Reksa Dana Terbuka adalah Reksa Dana yang pembelian dan penjualan unit penyertaannya dilakukan kepada Manajer Investasi sehingga likuiditasnya sangat terjamin.

Pada reksadana terbuka, investor dapat menginvestasikan dananya dan/ atau menarik dananya setiap saat dari reksadana tersebut selama reksadana tersebut masih aktif.

Dengan demikian, investor dapat menjual kembali reksadana yang telah dibeli atau perusahaan reksadana dapat membeli kembali reksadana yang telah dijual.

Investor membeli sesuai dengan Nilai Aktiva Bersih yang diumumkan pada hari itu juga sehingga investor tidak dapat melakukan arbitrase.

Reksa Dana dikelola profesional yang telah berpengalaman dan selalu mempunyai horizon waktu (time horizone) yang panjang karena investor menginvestasikan dananya untuk memperoleh hasil yang lebih tinggi.

Reksa Dana diregulasikan oleh Pemerintah sehingga Reksa Dana terdaftar di Lembaga Pengawas Pasar Modal dari negara yang bersangkutan.

Jenis Reksa Dana – Berdasarkan Investasi,

Berdasarkan investasinya, Reksa dana dapat dikelompokkan menjadi Reksa Dana Saham, Reksa Dana Campuran, Reksa Dana Pasar Uang, dan Reksa Dana Instrumen Berpendapatan Tetap

1). Reksa Dana Pasar Uang,

Reksa Dana Pasar Uang yaitu Reksa Dana yang hanya melakukan investasi pada Efek yang bersifat utang dengan jatuh tempo kurang dari 1 (satu ) tahun.

Reksa Dana yang Dana investasinya 100 persen diinvestasikan di produk Pasar Uang, yaitu Deposito Bank dan Surat Berharga yang masa jatuh temponya tidak lebih dari 1 tahun.

Ciri – Ciri Reksa Dana Pasar Uang,

– Tingkat risiko rendah

– Tingkat pengembaliannya dapat lebih tinggi dari deposito

– Sesuai untuk investor yang tingkat toleransi risikonya rendah dan jangka waktu investasinya pendek tidak dikenakan biaya pembelian (entry fee) dan biaya penjualan kembali (redemption fee)

Contoh Reksa Dana Pasar Uang,

Reksa Dana jenis ini biasanya menggunakan instrumen Pasar Uang seperti SBI dan Certificate Deposit yang tingkat risikonya dianggap rendah .

2). Reksa Dana Pendapatan Tetap,

Reksa Dana Pendapatan Tetap adalah Reksa Dana yang 80 persen dana investasinya dialokasikan pada produk investasi Obligasi atau Efek Utang yang jatuh temponya diatas 1 tahun.

Contoh Reksa Dana Pendapatan Tetap,

Secara umum obligasi yang beredar di Indonesai dan lazim digunakan oleh Manajer Investasi adalah Obligasi Pemerintah dan Obligasi Korporasi.

Ciri Ciri Reksa Dana Pendapatan Tetap,

Karakteristik dari Reksa Dana Pendapatan Tetap

– Tingkat risiko relatif rendah

– Memberikan tingkat pengembalian yang relatif pasti

– Cocok untuk investor jangka menengah dan menginginkan hasil investasi yang relatif stabil.

Reksa Dana Saham,

Reksa Dana Saham adalah Reksa Dana yang melakukan investasi sekurang-kurangnya 80 % dari aktivanya dalam bentuk Efek Bersifat Ekuitas.

Contoh Reksa Dana Saham,

Reksa Dana ini umumnya berisi sebagian besar saham-saham terpilih yang dianggap memberikan tingkat pengembalian yang tinggi dan likuid

Ciri Ciri Reksa Dana Saham,

Karakteristik dari Reksa Dana ini :

– Tingkat risiko cukup tinggi (tertinggi dari keempat jenis Reksadana)

– Bertujuan memberikan tingkat pengembalian yang tinggi

– Cocok untuk investor jangka panjang dan menginginkan pertumbuhan dana jangka panjang.

Reksa Dana Campuran,

Reksa Dana Campuran adalah Reksa Dana yang melakukan investasi dalam Efek bersifat Ekuitas dan Efek bersifat utang yang perbandingannya tidak termasuk pada yang disebutkan diatas.

Contoh Reksa Dana Campuran,

Reksa Dana ini merupakan campuran dari instrumen obligasi dan saham yang perbandingannya tertentu sesuai dengan kebijakan Manajer Investasi.

Ciri – Ciri Reksa Dana Campuran,

Adapun ciri ciri dari reksa dana Campuran adalah :

– Tingkat risikonya lebih moderat dibanding Reksa Dana Saham

– Tingkat pengembaliannya relatif lebih tinggi dari Reksa Dana Pendapatan Tetap

– Cocok untuk investor yang toleransi risikonya moderat tetapi menginginkan pertumbuhan juga pada investasinya.

Reksa Dana Indeks

Reksa Dana Indeks adalah Reksa Dana yang kinerjanya mengikuti indeks saham tertentu. Kemudahan Reksa Dana Indeks adalah performanya mengikuti indeks yang telah ditentukan, dapat diperjualbelikan selama jam perdagangan Bursa, Biaya lebih rendah, transparansi atas pilihan produk indeks tersebut.

Contoh Reksa dana Indeks

Contoh indeks SRI Kehati, LQ45,SMinfra18, MSCI Indonesia dan banyak lagi.

Pengelolaan Reksa Dana

Berdasarkan cara pengelolanya, reksadana dapat berbentuk Perseroan atau Kontrak Investasi Kolektif.

Reksa Dana Perseroaan,

Reksadana berbentuk Perseroan merupakan suatu Perseroan yang dibentuk untuk mengelola dana dan investor membeli saham dari Perseroan tersebut. Reksadana ini dapat berbentuk terbuka atau tertutup

Reksadana Kontrak Investasi Kolektif

Reksadana Kontrak Investasi Kolektif adalah Kontrak antara Manajer Investasi dengan Bank Kustodian yang mengikat Pemegang Unit Penyertaan, dimana manajer Investasi diberi wewenang untuk mengelola portofolio investasi kolektif dan Bank Kustodian diberi wewenang untuk melaksanakan Penitipan Kolektif.

Manajer Investasi Reksa Dana

Manajer Investasi adalah Perusahaan yang kegiatan usahanya mengelola Portofolio investasi kolektif untuk beberapa nasabah kecuali perusahaan asuransi, dana pensiun dan bank yang melakukan sendiri kegiatan usahanya berdasarkan peraturan- perundangan yang berlaku.

Bank Kustodian – Reksa Dana

Bank Kustodian adalah Bank yang melakukan jasa penitipan kolektif dari reksadana yang diterbitkan oleh Manajer Investasi.

Contoh Soal Perhitungan Laba Hasil Investasi Reksadana,

Perhitungan pendapatan atau laba investasi dari reksadana diperoleh dari prosentase perubahan NAB/unit pada saat membeli hingga  saat dijual kembali.

Nilai aktiva bersih NAB dihitung oleh bank kustodian didasarkan harga pasar harian dari portofolio reksadana  setelah dikurangi kewajiban.

Rumus Laba Investasi Reksa Dana,

Perhitungan laba hasil investasi dari satu kali pembelian dan satu  kali penjualan dapat dinyatakan dengan dengan menggunakan rumus seperti berikut:

L = (NJ – NB)/NB x 100%

L = Laba

NJ = NAB/unit saat jual

NB= NAB/unit saat beli

Investor membeli reksadana pada nilai NAB/unit = Rp. 5.000  dan menjualnya kembali  pada harga NAB/unit = Rp. 6000, hitung laba investasi yang diperoleh oleh investor:

L = (6.000 – 5000)/5000 x 100%

L = (1000/5000) x 100%

L = 20%

Jadi laba investasi reksadana yang diperoleh investor adalah 20%

Rumus Laba Bersih Investasi Reksa Dana,

Jika waktu membeli dikenakan biaya pembelian (BB), dan dikenakan biaya penjualan kembali (BJ) ketika menjual, hasil investasi bersihnya dihitung dengan rumus:

Jenis Reksa Dana: Reksa Dana Pasar Uang Reksa Dana Pendapatan Tetap Reksa Dana Saham Reksa Dana Campuran Reksa Dana Indeks, Jenis Risiko Reksa Dana: Risiko Berkurangnya Nilai Unit Penyertaan- Reksa Dana Risiko Likuiditas – Reksa Dana Risiko Wanprestasi – Reksa Dana, Pengelolaan Reksa Dana Reksa Dana Perseroaan Reksadana Kontrak Investasi Kolektif,
Jenis Reksa Dana: Closed-end Fund Open-end Fund Reksa Dana Tertutup Reksa Dana Terbuka, Fungsi Manajer Investasi Reksa Dana Fungsi Bank Kustodian – Reksa Dana, Reksa Dana: Jenis Reksa Dana Pasar Uang Pendapatan Tetap Reksa Dana Saham Campuran Reksa Dana Indeks

\mathrm{LB = \frac{N_{J}(1 - BJ) - N_{B}(1 + BB)}{N_{B}(1 + BB)} x 100%}

LB = laba bersih

BJ = biaya jual Kembali

BB = biaya beli

LB = [(NJ (1- BPK)– NB (1 + BP)/[NB (1 + BP)] x 100%

Jika biaya pembelian sebesar 1% dan biaya penjualan kembali sebesar 1%, maka laba bersih yang diperoleh investor adalah:

Jenis Reksa Dana: Reksa Dana Pasar Uang Reksa Dana Pendapatan Tetap Reksa Dana Saham Reksa Dana Campuran Reksa Dana Indeks, Jenis Risiko Reksa Dana: Risiko Berkurangnya Nilai Unit Penyertaan- Reksa Dana Risiko Likuiditas – Reksa Dana Risiko Wanprestasi – Reksa Dana, Pengelolaan Reksa Dana Reksa Dana Perseroaan Reksadana Kontrak Investasi Kolektif,
Jenis Reksa Dana: Closed-end Fund Open-end Fund Reksa Dana Tertutup Reksa Dana Terbuka, Fungsi Manajer Investasi Reksa Dana Fungsi Bank Kustodian – Reksa Dana, Reksa Dana: Jenis Reksa Dana Pasar Uang Pendapatan Tetap Reksa Dana Saham Campuran Reksa Dana Indeks

\mathrm{LB = \frac{6000(1 - 0,01) -  5000(1 + 0,01)}{5000(1 + 0,01} x 100%}

Jenis Reksa Dana: Reksa Dana Pasar Uang Reksa Dana Pendapatan Tetap Reksa Dana Saham Reksa Dana Campuran Reksa Dana Indeks, Jenis Risiko Reksa Dana: Risiko Berkurangnya Nilai Unit Penyertaan- Reksa Dana Risiko Likuiditas – Reksa Dana Risiko Wanprestasi – Reksa Dana, Pengelolaan Reksa Dana Reksa Dana Perseroaan Reksadana Kontrak Investasi Kolektif,
Jenis Reksa Dana: Closed-end Fund Open-end Fund Reksa Dana Tertutup Reksa Dana Terbuka, Fungsi Manajer Investasi Reksa Dana Fungsi Bank Kustodian – Reksa Dana, Reksa Dana: Jenis Reksa Dana Pasar Uang Pendapatan Tetap Reksa Dana Saham Campuran Reksa Dana Indeks

\mathrm{LB = \frac{5940 -  5050}{5050} x 100%}

LB = 17,62%

Jadi, laba bersih yang diterima oleh investor dari investasi di reksa dana  adalah 17,62%

Pegadaian: Tujuan Fungsi Peran Manfaat Ciri Prinsip Kerja Produk Jasa Layanan Usaha Gadai

Pengertian Pegadaian: Pegadaian adalah Lembaga keuangan bukan bank yang memberikan kredit kepada masyarakat yang berdasarkan hukum gadai.

Menurut hukum gadai, nasabah berkewajiban untuk menyerahkan hartanya sebagai jaminan kepada pihak pegadaian.

Selain itu, nasabah memberikan hak kepada Pihak pegadaian untuk melakukan penjualan atau lelang atas jaminan apabila batas waktu pemberian pinjaman sudah jatuh tempo dan nasabah tidak menebus jaminannya.

Dengan kata lain, usaha gadai adalah kegiatan menjaminkan barang- barang berharga kepada pihak tertentu, guna memperoleh sejumlah uang dan barang yang dijaminkan akan ditebus kembali sesuai dengan perjanjian antar nasabah dengan lembaga gadai.

Nasabah yang ingin mendapatkan uang pinjaman harus menggadaikan (menyerahkan) barang sebagai jaminan. Kemudian pihak pegadaian memberikan pinjaman uang sebanding dengan nilai jaminan barangnya.

Ciri – Ciri Usaha Gadai,

Dari pengertian gadai dan usaha gadai di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa usaha gadai memiliki ciri-ciri sebagai berikut:

1). Terdapat barang-barang berharga yang digadaikan.

2). Nilai jumlah pinjaman tergantung nilai barang yang digadaikan,

3). Barang yang digadaikan dapat ditebus kembali.


Tujuan Pegadaian,

Pegadaian mempunai tujuan sebagai berikut:

1). Turut melaksanakan dan menunjang pelaksanaan kebijakan dan program pemerintah dibidang ekonomi dan pembangunan nasional pada umumnya melalui penyaluran uang pinjaman atas dasar hukum gadai.

2). Mencegah terjadinya praktik praktik pinjaman yang bersifat ijon, pegadaian gelap, riba dan pinjaman tidak wajar lainnya.

Fungsi Pegadaian

Beberapa fungsi dari pegadaian adalah:

a).  Mengelola penyaluran uang pinjaman atas dasar hukum gadai dengan cara yang mudah, cepat, aman, dan hemat.

b). Menciptakan dan mengembangkan usaha- usaha lain yang memberikan keuntungan terhadap pegadaian maupun masyarakat pada umumnya.

c). Mengelola keuangan,- perlengkapan, kepegawaian, pendidikan, dan pelatihan pegadaian.

d). Mengelola organisasi, tata kerja, dan tata laksana pegadaian.

e). Melakukan penelitian dan pengembangan serta mengawasi pengelolaan pegadaian.

Peran Pegadaian

Beberapa peran yang diemban oleh Pegadaian adalah sebagai berikut.

a). Pegadaian sebagai usaha yang unik,  artinya sejak didirikannya hingga saat ini, pegadaian tetap setia rnelayani lapisan masyarakat yang paling bawah.

b). Pegadaian di antara lembaga perkreditan lain, artinya karakteristik penerima kredit yang disediakan pegadaian adalah calon peminjam harus mempunyai kebutuhan, agunan yang memenuhi syarat, harapan pendapatan yang akan datang, dan rasa sayang terhadap agunannya. Perbedaan karakteristik inilah yang membedakan pegadaian dengan lembaga keuangan yang lain.

c). Pegadaian sebagai jaring pengaman sosial, artinya kehadiran pegadaian dapat membantu golongan masyarakat yang kurang mampu dalam menghadapi persaingan pasar. Salah satu kelemahan utama masyarakat kecil adalah lemahnya kemampuan untuk mendapatkan pembiayaan perbankan.

d). Pegadaian menggalang ekonomi kerakyatan.

Visi – Pegadaian

Sebagai solusi bisnis terpadu terutama berbasis gadai yang selalu menjadi market leader dan mikro berbasis fidusia selalu menjadi yang terbaik untuk masyarakat menengah kebawah.

Misi Pegadaian

1). Memberikan pembiayaan yang tercepat, termudah, aman dan selalu memberikan pembinaan terhadap usaha golongan menengah kebawah untuk mendorong pertumbuhan ekonomi.

2). Memastikan pemerataan pelayanan dan infrastruktur yang memberikan kemudahan dan kenyamanan di seluruh Pegadaian dalam mempersiapkan diri menjadi pemain regional dan tetap menjadi pilihan utama masyarakat.

3). Membantu Pemerintah dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat golongan menengah kebawah dan melaksanakan usaha lain dalam rangka optimalisasi sumber daya perusahaan.

Macam- Jenis Barang yang Dapat Digadaikan,  

Barang-barang yang dapat digadaikan meliputi :

a). Barang Perhiasan – Digadaikan,

Barang perhiasan yang dapat digadaikan adalah perhiasan yang terbuat dari emas, perak, platina, intan, mutiara, dan batu mulia.

b). Kendaraan – Digadaikan ,

Kendaraaan yang dapat digadaikan diantaranya adalah Mobil, sepeda motor, sepedda, dan lain-lain

c). Barang Elektronik – Digadaikan,

Barang elektronik yang dapat digadaikan adalah Kamera, refrigerator, freezer, radio, tape recorder, video player, televisi, dan lain-lain.

d). Barang Rumah Tangga – Digadaikan,

Barang rimah tangga yang dapat digadaikan adalah Perlengkapan dapur, perlengkapan makan, dan lain-lain.

e). Mesin-mesin

f). Tekstil

g). Barang lain yang dianggap bernilai oleh Perum pegadaian.

Jenis Pegadaian

Secara garis besar, pegadaian mempunyai dua jenis yaitu pegadaian konvensional dan pagadaian Syariah,

a).   Pegadaian Konvensional

Pegadaian konvensional adalah suatu lembaga keuangan nonbank yang memberikan uang pinjaman kepada peminjam berdasarkan hukum gadai.

Jasa layanan pegadaian konvensional memberikan kemudahan kepada nasabah dalam  memenuhi kebutuhan secara mudah  dan cepat tanpa membuka rekening.

b).  Pegadaian Syariah

Pegadaian syariah adalah suatu lembaga keuangan nonbank yang memberikan pinjaman kepada peminjam berdasarkan pada prinsip- prinsip syariah Islam.

Gadai syariah disebut juga rahn, yaitu perjanjian penyerahan harta yang
oleh pemiliknya dijadikan jaminan utang yang nantinya dapat dijadikan  sebagai pembayar hak piutang tersebut.

Prinsip Kegiatan Usaha Pegadaian

Kegiatan yang dilakukan oleh Perum Pegadaian sebagai satu- satunya lembaga
pembiayaan berdasarkan hukum gadai adalah melakukan aktivitas pembiayaan dan menawarkan produk berupa sejumlah jasa nongadai.

Pembiayaan pada pegadaian adalah aktivitas penyaluran dana yang berasal dari modal perusahaan atau dana- dana yang berhasil dihimpun oleh Perum Pegadaian.

Pegadaian memiliki misi utama yang bersifat sosial, yaitu membantu masyarakat yang berpenghasilan menengah ke bawah, dengan bantuan  keuangan untuk tujuan yang mendesak.

Kegiatan Usaha Pegadaian

Kegiatan pegadaian meliputi 3 hal yaitu menghimpun dana, penggunaan dana, dan kegiatan usaha lainnya:

a). Penghimpunan Dana (Funding Product) Pegadaian

Pegadaian sebagai lembaga keuangan tidak diperkenankan menghimpun dana secara langsung dari masyarakat dalam bentuk simpanan misalnya giro, tabungan, dan deposito sebagaimana perbankan.

Untuk memenuhi kebutuhan dananya dalam melakukan kegiatan usahanya, maka pegadaian memiliki sumber-sumber dana, sebagai berikut:

1). Modal Sendiri

Modal sendiri yang dimiliki oleh perum pegadaian berasal dari modal awal, penyertaan dari pemerintah, dan laba ditahan yang berasal dari akumulasi laba sejak masa pemerintah Hindia Belanda

2). Pinjaman Jangka Pendek dari Perbankan

Pinjaman jangka pendek diperoleh dari perbankan. Pinjaman merupakan sumber dana yang paling dominan dibandingkan dengan sumber dana lainnya.

Pinjaman jangka pendek dari pihak lainnya seperti utang kepada rekan, utang kepada nasabah, utang pajak, biaya yang masih harus dibayar, pendapatan diterima dimuka, dan lain – lain.

3). Penerbitan Obligasi

Obligasi atau instrumen surat utang diterbitkan dengan tujuan menghimpun dana dari masyarakat. Masyarakat akan memperoleh imbalan bunga dari obligasi yang dibelinya.

b). Penggunaan Dana Pegadaian

Dana yang berhasil dihimpun akan digunakan untuk mendanai kegiatan perum pegadaian. Dana tersebut antara lain digunakan untuk hal-hal berikut:

– Uang Kas dan Dana Likuid Lain

Perum pegadaian memerlukan dana likuid yang siap digunakan untuk berbagai macam kebutuhan.

– Pendanaan Kegiatan Operasional

Kegiatan operasional perum pegadaian memerlukan dana yang tidak kecil.

– Pembelian dan Pengadaan Aktiva Tetap dan Inventaris

Aktiva tetap berupa tanah dan bangunan sedangkan inventaris ini tidak secara langsung dapat menghasilkan penerimaan perum pegadaian namun sangat penting agar kegiatannya dapat dijalankan dengan baik.

– Penyaluran Dana   

Penggunaan dana yang utama adalah untuk disalurkan dalam bentuk pembiayaan atas dasar hukum gadai.

Penyuluhan dana ini diharapkan akan dapat menghasilkan penerimaan dari bunga yang dibayarkan oleh nasabah.

Penerimaan inilah yang merupakan penerimaan utama bagi perum pegadaian dalam menghasilkan keuntungan.

– Investasi Lain

Kelebihan dana atau idle-fund, yang belum diperlukan untuk mendanai kegiatan operasional maupun belum dapat disalurkan kepada masyarakat, dapat ditanamkan dalam berbagai macam bentuk investasi jangka pendek dan menengah.

– Pinjaman Pegawai,

Pinjaman pegawai merpakan Kredit yang diberikan kepada pegawai yang berpenghasilan tetap.

c). Kegiatan Usaha Lainnya Pegadaian

Usaha lain yang dilakukan oleh Perum Pegadaian adalah:

1). Melayani Jasa Taksiran,

Melayani jasa taksiran adalah layansan yang diberikan pada masyarakat yang ingin mengetahui berapa nilai riil barang-barang berharga miliknya bisa dilakukan penaksiran di pegadaian seperti emas, intan, berlian, mobil, dan barang-barang lainnya.

Hal ini berguna bagi masyarakat yang ingin menjual barang tersebut atau hanya sekedar ingin mengetahui jumlah kekayaannya.

2). Melayani Jasa Penitipan Barang,

Melayani jasa titipan barang adalah layanan untuk masyarakat yang ingin menitipkan barang-barang berharganya bisa dilakukan di pegadaian.

Jasa penitipan ini diberikan untuk memberikan rasa aman kepada pemiliknya dari kehilangan, kebakaran, atau kecurian.

Produk Pegadaian

Secara umum produk- produk yang dikeluarkan oleh pegagaian diantaranya:

a).  Penyaluran Kredit

1). Gadai konvensional.

2). Kredit berbasis fidusia konvensional.

Sistem Fidusia

Sistem fidusia berarti agunan untuk pinjaman cukup dengan BPKB sehingga kendaraan masih bisa digunakan untuk usaha.

b). Penyaluran Pembiayaan

1). Gadai syariah.

2). Pembiayaan berbasis fidusia syariah.

c). Investasi Emas

1). Secara tunai.

2). Secara angsuran.

d). Aneka Jasa

1). Jasa taksiran.

2). Jasa titipan.

3). Jasa sertifikasi batu mulia (Gemology Lab Pegadaian).

4). Jasa lain-lain (multipayment online (MPO) dan jasa kiriman uang (remittance)).

Perum pegadaian memiliki produk dan layanan sebagai berikut :

a). Kredit Cepat Aman (KCA)

Kredit KCA adalah produk pegadaian berupa pinjaman yang didasarkan pada hukum gadai yang dapat dipeoleh dengan prosedur pelayanan secara mudah, aman dan cepat.

Dengan layanan prouk ini, Pemerintah dapat melindungi rakyat kecil yang tidak memiliki akses kedalam perbankan.

b). Kredit Angsuran Sistem Fidusia (KREASI)

Kredit Kreasi adalah kredit yang dimaksudkan untuk membantu mengembangkan Usaha Mikro Kecil dan Menengan (UMKM) serta menyejahterakan masyarakat merupakan suatu misi yang diemban Pegadaian sebagai sebuah BUMN.

c). Kredit Angsuran Sistem Gadai (KRASIDA)

Produk jasa KRASIDA merupakan pinjaman kepada yang ditujukan untuk pengusaha Mikro dan Kecil sebagai pendorong untuk pengembangan usahanya atas dasar gadai dengan pengembalian pinjaman dilakukan melalui mekanisme angsuran.

d). Gadai Syariah (AR-RAHN)

Produk RAHN adalah produk jasa gadai yang berlandaskan pada prinsi-prinsip Syariah, dimana nasabah hanya akan dipungut biaya administrasi dan Ijaroh (biaya jasa simpan dan pemeliharaan barang jaminan).

e). Jasa Taksiran

Jasa Taksiran adalah suatu layanan pegadaian terhadap masyarakat yang peduli akan harga atau nilai harta benda miliknya.

f). Jasa Titipan

Produk Layanan ini dikenal secara umum sebagai safe deposit box. Jasa titipan pegadaian digunakan untuk menyimpan Harta dan surat berharga agar terjamin keamanannya dari kerusakan dan hilang atau di salahgunakan orang lain.

g). Produk KRISTA

KRISTA adalah kredit Usaha Rumah Tangga, yang diberikan kepada Usaha Rumah Tangga agar dapat pengembangkan usahanya.

h). AR-RAHN Untuk Usaha Mikro Kecil (ARRUM)

Produk ARRUM ditujukan untuk para pengusaha mikro kecil, yang dapat digunakan untuk Pembiayaan dan pengembangan usaha yang berlandaskan atau berprinsip syariah.

Modal Bank: Pengertian Fungsi Kecukupan Modal Minimum Bank Contoh Perhitungan ATMR CAR Bank

Pengertian Modal:  Modal adalah sejumlah dana yang ditempatkan oleh pihak pemegang saham sebagai pendiri badan usaha yang dimaksudkan untuk membiayai kegiatan usaha bank dan untuk memenuhi kewajiban regulasi yang telah ditetapkan oleh otoritas monoter.

Modal juga merupakan investasi yang dilakukan oleh pemegang saham yang harus selalu berada dalam bank dan tidak ada kewajiban pengembalian atas penggunaannya.

Pengertian Modal Menurut Dahlan Siamat

Modal bank adalah dana yang diinvestasikan oleh pemilik dalam rangka pendirian badan usaha yang dimaksudkan untuk membiayai kegiatan usaha bank disamping memenuhi peraturan yang ditetapkan

Pada dasarnya modal bank merupakan dana yang diinvestasikan oleh pemilik untuk membiayai kegiatan usaha bank yang jumlahnya telah ditetapkan.

Pengertian Modal Menurut Komaruddin Sastradipoera

Modal bank sebagai sejumlah dana yang diinvestasikan dalam berbagai jenis usaha (ventura) perbankan yang relevan

Pengertian Modal Menurut N Lapoliwa

Modal bank merupakan modal awal pada saat pendirian bank yang jumlahnya telah ditetapkan dalam suatu ketentuan atau pendirian bank

Fungsi Modal Bank


Beberapa fungsi dari modal bank diantaranya adalah:

a). Fungsi Modal Bank Sebagai Pelindung Deposan

Modal bank akan melindungi para deposan dari segala kerugian usaha perbankan akibat salah satu atau kombinasi risiko usaha perbankan, misalnya terjadi likuidasi dan insolvency – pailit, terutama dana yang tidak dijamin oleh pemerintah

b). Fungsi Modal Bank Untuk Kepercayaan Masyarakat

Modal bank akan memastikan bahwa bank tetap beroperasi sehingga memperoleh pendapatan yang mampu menutup semua kerugian kerugian sehingga mampu meningkatkan kepercayaan para deposan dan pengawas bank yang cukup terhadap bank.

Modal bank berkemampuan untuk memenuhi kewajiban yang telah jatuh tempo dan memberikan keyakinan mengenai kelanjutan operasi bank meskipun terjadi kerugian.

c). Fungsi Modal Bank Untuk Operasi Bank

Modal bank secara operasional digunakan untuk membiayai kebutuhan aktiva tetap seperti penyediaan dana untuk pembelian tanah, Gedung, peralatan sebagai sarana terlakasananya kegiatan perbankan.

d). Fungsi Modal Bank Untuk Regulasi Permodalan

Modal bank berfungsi sebagai dana yang digunakan untuk memenuhi ketentuan atau regulasi permodalan yang sehat menurut otoritas moneter.

Modal bank berfungsi untuk memenuhi persyaratan minimum yang diperlukan agar tetap dapat izin beroperasi.

e). Fungsi Modal Bank Sebagai Representatif Kepemilikan

Modal bank menjadi representasi dari kepemilikan pribadi pada bank bank komersial. Adanya saham modal akan membedakan bank komersial dari bank tabungan bersama dan asosiasi kredit lainnya.

Komponen Modal Bank

Modal bank dapat digolongkan menjadi dua golongan besar yaitu modal inti dan modal pelengkap.

1). Modal Inti – Primary Capital – Tier 1,

Modal inti merupakan modal yang disetor para pemilik bank dan modal yang berasal dari cadangan yang dibentuk ditambah dengan laba yang ditahan.

Komponen terbesar dari modal inti adalah modal saham yang disetor. Sedangkan selebihnya tergantung pada laba yang diperoleh dan kebijakan rapat umum pemegang saham.

Komponen modal inti pada prinsipnya terdiri atas modal disetor dan cadangan – cadangan yang dibentuk dari laba setelah pajak dan goodwill.

a). Modal Disetor – Bank

Modal disetor adalah modal yang pertama kali disetor secara efektif oleh pemilik atau pemegang saham bank pada waktu pendirian bank tersebut.

b). Agio Saham – Bank

Agio saham adalah selisih kelebihan setoran modal yang diterima oleh bank sebagai akibat harga saham yang melebihi nilai nominalnya.

c). Cadangan Umum – Bank

Cadangan umum adalah cadangan yang dibentuk dari penyisihan laba yang ditahan atau dari laba bersih setelah dikurangi pajak yang disetujui oleh Rapat Umum Pemegang Saham.

d). Cadangan Tujuan – Bank

Cadangan tujuan adalah bagian laba setelah dikurangi pajak yang disisihkan untuk tujuan tertentu dan telah mendapat persetujuan pemilik – pemegang saham.

e). Laba Ditahan – Retained Earning  – Bank

Laba yang ditahan (retained earnings) adalah laba bersih setelah dikurangi pajak yang disetujui oleh pemilik pemegang saham untuk tidak dibagikan.

f). Laba Tahun Lalu – Bank

Laba tahun lalu adalah laba bersih tahun- tahun lalu setelah dikurangi pajak, dan belum ditetapkan penggunaannya oleh pemiliki -pemegang saham.

Jumlah laba tahun lalu yang diperhitungkan sebagai modal inti hanya sebesar 50 %. Jika bank mempunyai saldo rugi tahun-tahun lalu, maka seluruh kerugian tersebut menjadi faktor pengurang dari modal inti.

g). Laba Tahun Berjalan – Bank

Laba tahun berjalan adalah laba yang diperoleh dalam tahun buku berjalan setelah dikurangi taksiran utang pajak. Jumlah laba tahun buku berjalan yang diperhitungkan sebagai modal inti hanya sebesar 50%.

Jika pada tahun berjalan bank mengalami kerugian, maka seluruh kerugian tersebut menjadi faktor pengurang dari modal inti.

h). Rugi Tahun Bejalan – Bank

Rugi tahun berjalan, merupakan rugi yang telah diderita dalam tahun buku yang sedang berjalan.

2). Modal Pelengkap – Secondary Capital – Tier 2,

Modal pelengkap terdiri atas cadangan – cadangan yang dibentuk tidak dari laba setelah pajak serta pinjaman yang sifatnya dipersamakan dengan modal.

a). Cadangan Revaluasi Aktiva Tetap – Bank

Cadangan revaluasi aktiva tetap adalah cadangan yang dibentuk dari selisih penilaian kembali aktiva tetap yang telah medapat persetujuan Direktorat Jendral Pajak

b). Cadangan Penghapusan Aktiva Produktif – PPAP – Bank

Cadangan penghapusan aktiva yang diklasifikasikan adalah cadangan yang dibentuk dengan cara membebani laba rugi tahun berjalan, dengan tujuan agar dapat menanggung kerugian yang mungkin timbul sebagai akibat dari tidak diterimanya kembali sebagian atau seluruh aktiva produktif.

Cadangan ini termasuk cadangan piutang ragu- ragu dan cadangan penurunan nilai surat-surat berharga. Jumlah maksimum cadangan penghapusan aktiva yang diperhitungkan adalah sebesar 1,25% dari jumlah aktiva tertimbang menurut resiko.

c). Modal Pinjaman – Modal Kuasi – Bank

Modal Pinjaman adalah modal yang didukung oleh instrumen atau warkat yang memiliki sifat seperti modal atau utang dengan nilai maksimum pinjaman 50% dari jumlah modal inti.

Ciri – Ciri Modal Pinjaman Modal Kuasi – Bank

  • Bank tidak menjamin pengembalian dananya
  • Pelunasan dan penarikan bukan inisiatif pemiliki namun harus persetujuan Bank Indonesia
  • Modal pinjaman dapat digunakan oleh bank untuk menanggung kerugian yang melebihi retained earning dan cadangan lainnya yang termasuk modal inti.
  • Bank berhak menangguhkan pembayaran bunga, jika bank mengalami kerugian atau laba bank tidak cukup untuk membayar bunga tersebut.

d). Pinjaman Subordinasi – Bank

Pinjaman subordinasi adalah pinjaman yang memenuhi syarat syarat yang sudah ditentukan oleh otoritas monoter

Syarat – Syarat Pinjaman Subordinari – Bank

  • Adanya perjanjian tertulis antara bank dengan pemberi pinjaman.
  • Pinjaman subordinasi harus mendapat persetujuan terlebih dahulu dari Bank Indonesia.
  • Pinjaman subordiasi tidak dijamin oleh bank yang bersangkutan dan perjanjian lainnya
  • Bank harus menyampaikan program pembayaran kembali pinjaman subordinasi tesebut.
  • Pinjaman minimal berjangka waktu 5 (lima) tahun.
  • Pelunasan sebelum jatuh tempo harus mendapat persetujuan dari BI, dan pelunasan tersebut tidak mempengaruhi permodalan bank tersebut.

Modal Pelengkap Tambahan – Tier 3,- Bank

a). Bank dapat menggunakan modal pelengkap tambahan – tier 3 dengan tujuan untuk memenuhi Kebutuhan Penyediaan Modal Minimum (KPMM) atau Capital Adequcy Ratio (CAR) secara individual dan atau secara konsolidasi dengan anak perusahaan.

b). Modal pelengkap tambahan – tier 3 pada penentuan KPMM hanya digunakan ketika bank memperhitungan risiko pasar.

Kebutuha – Kecukupan Modal Bank – Bank

Kecukupan modal bank merupakan suatu ketentuan tentang pengelolaan modal yang berlaku pada sebuah bank berdasarkan pada standar yang ditetapkan oleh otoritas monoter.

Modal harus cukup untuk memenuhi fungsi dasar sebagai sebuah badan usaha perbankan. Setidaknya setiap bank harus mempunyai jumlah modal minumun yang harus dipenuhi.

a). Modal harus cukup untuk membiayai organisai dan operasi sebuah bank

b). Modal harus dapat memberikan rasa perlindungan pada penabung dan kreditor lainnya

c). Modal harus memberikan rasa percaya pada para penabung dan pihak berwenang.

Modal Minimum Bank (Sesuai Peraturan OJK)

Ketentuan modal minimum bank umum yang berlaku di Indonesia mengikuti standar Bank for International Settlements (BIS).

Ketentuan modal minimum ditetapkan dalam Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor 11 /POJK.03/2016 tentang kewjiban penyediaan modal minimum Babk Umum.

Bank wajib menyediakan modal minimum sesuai profil risiko seperti berikut:

a). 8% (delapan persen) dari Aset Tertimbang Menurut Risiko (ATMR) bagi Bank dengan profil risiko Peringkat 1;

b). 9% (sembilan persen) sampai dengan kurang dari 10% (sepuluh persen) dari ATMR bagi Bank dengan profil risiko Peringkat 2;

c). 10% (sepuluh persen) sampai dengan kurang dari 11% (sebelas persen) dari ATMR bagi Bank dengan profil risiko Peringkat 3; atau

d). 11% (sebelas persen) sampai dengan 14% (empat belas persen) dari ATMR bagi Bank dengan profil risiko Peringkat 4 atau Peringkat 5.

Rasio Kecukupan Modal Bank

Salah satu cara untuk mengetahui kecukupan modal sebuah bank adalah dengan melihat rasio modal terhadap barbagai asset bank yang bersangkutan.

Rasio modal dapat diketahui dengan membandingkan antara modal dengan berbagai rekening (komponen) necara seperti total deposit, total asset, total asset beresiko.

Indikator yang digunakan untuk mengukur kecukupan modal adalah dengan Capital Adequacy Ratio (CAR).

Capital Adequacy Ratio (CAR) adalah rasio yang menunjukkan seberapa besar jumlah seluruh aktiva bank yang mengandung unsur risiko seperti kredit, penyertaan, surat berharga, tagihan pada bank lain yang dibiayai oleh modal sendiri.

Rumus Capital Adequacy Ratio – CAR – Bank

Nilai capital adequacy ratio CAR suatu bank dapat dinyatakan dengan menggunakan persamaan berikut:

CAR = (Modal Sendiri)/(ATMR) x 100 %

ATMR = aktiva tertimbang menurut risiko

Dari rumusnya dapat diketahui bahwa Capital Adequacy Ratio CAR merupakan rasio yang membandingkan antara modal sendiri dengan aktiva berisiko.

Risiko kredit adalah risiko yang timbul akibat kegagalan pihak debitur atau pihak lain dalam memenuhi kewajiban kepada bank.

Rasio ini menunjukkan risiko atas modal yang diinvestasikan terhadap aktiva berisiko rendah maupun berisiko tinggi.

Aktiva Tertimbang Menurut Risiko merupakan penjumlahan dari nilai nominal komponen aktiva setelah dikalikan dengan masing- masing bobot risikonya.

Aktiva yang paling tidak berisiko diberi bobot 0% dan aktiva yang paling berisiko diberi bobot 100%.

 

Bobot risiko untuk tiap tiap komponen (pos) keuangan dalam neraca mengikuti standar yang ditetapakn dalam Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor 11 /POJK.03/2016 tentang kewajiban penyediaan modal minimum Babk Umum.

Bobot risiko yang digunakan untuk perhitungan nilai ATMR dapat dilihat pada table berikut:

Nilai Standar Bobot Risiko - Aktiva Tertimbang Menurut Risiko ATMR - Bank 1
Standar Bobot Risiko – Aktiva Tertimbang Menurut Risiko ATMR – Bank 1

Dengan demikian ATMR menunjukkan nilai aktiva berisiko yang memerlukan antisipasi modal dalam jumlah yang cukup.

Contoh Soal Perhitungan Capital Adequacy Ratio CAR Bank

Sebuah bank memiliki data keuangan seperti yang ditunjukkan dalam contoh laporan neraca (sisi aktiva) yang disederhanakan berikut:

Contoh Soal Perhitungan Capital Adequacy Ratio CAR Bank 2
Contoh Soal Perhitungan Capital Adequacy Ratio CAR Bank 2

Tentukanlah Aktiva Terimbang Menurut Risiko – ATMR bank, Modal minimum bank, nilai Capital Adequacy Ratio – CAR Bank tersebut.

Menghitung Aktiva Tertimbang Menurut Risiko ATMR  Bank

Komponen aktiva yang dihitung dalam ATMR adalah Kas dengan bobot 0%, Penempatan pada bank dengan bobot 20%, Kredit yang diberikan dengan bobot 50%, Aktiva tetap inventaris dan Aktiva lainnya diberi bobot 100%.

Secara keseluruhan, masing masing pos aktiva dikenversi menjadi ATMR dengan bobot risikonya seperti ditunjukkan pada tabel berikut

Menghitung Aktiva Tertimbang Menurut Risiko ATMR Bank 3
Menghitung Aktiva Tertimbang Menurut Risiko ATMR Bank 3

Nilai ATMR masing masing komponen (pos) aktiva dihitung dengan mengalikan kolom (a) dan kolom (b).

Total ATMR merupakan jumlah seluruh nilai ATMR pada kolom (a x b) dan total ATMR-nya adalah Rp 994 miliar rupiah. Ini artinya, bank memiliki aktiva senilai 994 miliar rupiah yang berisiko dengan bobot antara 20 – 100%.

Rumus Menghitung Kebutuhan – Kecupkupan Modal Minimum Bank

Kecukupan penyediaan modal minimum (KPMM) atau Modal minimum yang harus dimiliki oleh bank dapat dihitung dengan menggunakan persamaan berikut

Modal Minimum = ATMR x 8%

Modal Minimum = 994 x 8%

Modal Minimum = 79,52 miliar rupiah

Jadi, bank setidak tidaknya memiliki modal sebesar 79,52 miliar rupiah.

Menghitung Total – Kelebihan – Modal Bank Bank

Untuk dapat mengitung kebutuhan – kecukupan suatu bank, maka diperlukan data keuangan yang masuk dalam komponen modal bank yang terdiri dari modal inti dan modal pelengkap. Sebagai contoh modal bank ditunjukkan seperti berikut:

Menghitung Total – Kelebihan – Modal Bank Bank 4
Menghitung Total – Kelebihan – Modal Bank Bank 4

Rumus Menghitung Total Modal Bank

Dengan menggunakan data di atas maka total modal bank  dapat dihitung dengan menggunakan rumus berikut:

TM = MI + MP

TM = total modal bank

MI = modal inti = 392,7

MP = modal pelengkap = 12,4

TM = 405,1 miliar

Menghitung Capital Adequacy Ratio – CAR – Bank

Rasio kecukupan penyediaan modal minimum (KPMM) atau Capital adequacy rasio CAR suatu bank dapat dihitung dengan menggunakan persamaan berikut:

CAR = (Modal)/(ATMR) x 100%

CAR = (405,1)/(994) x 100%

CAR = 40,75 %

Dengan nilai CAR sebesar 40,75% maka modal bank akan mampu menanggung risiko dari aktiva sebesar 40,75 persen. Artinya setiap 100 rupiah aktiva berisiko yang disalurkan pada masyarakat dapat ditanggung dengan 40,75 rupiah dari modal bank.

Seandainya materi ini memberikan manfaat, dan anda ingin memberi dukungan Donasi pada ardra.biz, silakan kunjungi SociaBuzz Tribe milik ardra.biz di tautan berikuthttps://sociabuzz.com/ardra.biz/tribe

Uji Coba…Cukup dengan Intel UHD Graphic 620 bisa main game

Simak “Pieck hugged the panzer squad | Attack On Titan Final season episode 06 [ HD ]” Sangat Memukau

Daftar Pustaka:

  1. Ismail, 2010, “Manajemen Perbankan – Dari Teori Menuju Aplikasi” Edisi Pertama, Catakan 5, Prenadamedia Group, Jakarta
  2. Kasmir, 2000, “Manajemen Perbankan”, Edisi Revisi, Cetakan 13, PT Rajagrafindo Persada, Jakarta.
  3. Darmawi, Herman, 2011, “Manajemen Perbankan”, Cetakan 4, PT Bumi Aksara, Jakarta.
  4. Suhardjono, M.K., 2012, “Manajemen Perbankan – Teori dan Aplikasi”, Edisi Kedua, Cetakan 2, BPFE, Yogyakata.
  5. Taswan, 2010, “Manajemen Perbankan – Konsep Teknik dan Aplikasi”, Edisi Kedua, UPP STIM YKPN Yogyakarta.
  6. Kasmir, 2012, “Dasar Dasar Perbankan”, Edisi Revisi, Rajawali Pers, Jakarta.
  7. Djumhana, Muhamad, 2006, “Hukum Perbankan di Indonesia”, Cetakan Kelima, PT Citra Aditya Bakti, Bandung.
  8. Kasmir, 2015, “Bank dan Lembaga Keuangan Lainnya”, Edisi Revisi, Rajawali Pers, Jakarta.
  9. Mangani, Silvanita, Ktut, 2009, “Bank dan Lembaga Keuangan Lain”, Penerbit Erlangga, Jakarta.
  10. Mishkin, S., Frederic, 2008’ “Ekonomi Uang, Perbankan, dan Pasar Uang”, Edisi Kedelapan, Salemba Empat, Jakarta.
  11. Joesoef, Jose Rizal, 2008, “Pasar Uang dan Pasar Valuta Asing”, Salemba Empat, Jakarta.
  12. Djamil, Fathurrakman, 2012, “Penerapan Hukum Perjanjian dalam Transaksi di Lembaga Keuangan Syariah”, Cetakan Pertama, Sinae Grafika, Jakarta.
  13. Fuady, Munir, 2004, “Hukum Perbankan Modern”, Buku Kedua, Citra Aditya Bakti, Bandung.
  14. Machmud, A. Rukmana, H., 2010, “Bank Syariah, Teori, Kebijakan, dan Studi Empiris di Indonesia”, Penerbit Erlangga, Jakarta.

 

Mekanisme Inkaso: Pengertian Tujuan Fungsi Jenis Warkat Principal Remitting Presenting Drawee Collecting Bank

Pengertian Inkaso: Inkaso atau Collection adalah jasa perbankan yang melibatkan pihak ketiga dalam rangka penyelesaian tagihan berupa warkat- warkat atau surat berharga yang tidak dapat diambilalih atau dibayarkan segera kepada si pemberi amanat untuk kepentingannya.

Inkaso merupakan jasa bank yang dapat digunakan oleh nasabah untuk menagihkan warkat- warkat yang berasal dari luar kota atau luar negeri.

Contoh Penagihan Inkaso

Contohnya, selembar cek yang diterbitkan oleh Bank di Kota Bandung, maka cek tersebut dapat dicairkan di Semarang melalui jasa inkaso. Bank yang di Semarang yang menagihkannya ke bank di Bandung dan proses penagihan ini disebut inkaso dalam negeri.

Besar biaya penagihan tergantung pada bank yang bersangkutan dengan pertimbangan jarak dan pertimbangan lainnya. Proses penagihan lewat inkaso tergantung pada jarak lokasi penagihan dan biasanya memerlukan waktu antara satu minggu sampai satu bulan.

Manfaat – Keuntungan Inkaso  Bagi Nasabah,

Adapun beberapa Manfaat Inkaso diantaranya adalah:

a).  Nasabah yang mempunyai piutang tidak perlu menagih sendiri atau mendatangi sendiri pihak yang ditagih (yang punya utang). Nasabah cukup menyerahkan surat tagihannya kepada bank untuk inkaso.

b). Nasabah dapat menghemat biaya atas penarikan dan atau pembayaran

c). Nasabah mendapat keamanan dalam penarikan dan atau pembayaran


Keuntungan Inkaso Bagi Bank

a). Bank yang melakukan kegiatan inkaso keluar mendapat sumber peningkatan pendapatan bank dalam bentuk komisi dan pendepositan dana,

b). Meningkatkan pelayanan kepada masyarakat dan pangsa pasar.

c). Mendapat pengendapan (deposit) dana tanpa adan biaya

d). Dapat menarik nasabah dengan menawarkan produk lain, promosi.

Pelaku – Pelaku Inkaso (Collection)

a). Principal – Pelaku Inkaso

Principal adalah pihak yang memberikan amanat (kuasa) kepada bank untuk menagihkan warkat berharga yang dimilikinya kepada tertagih yang telah memberikan warkat ke principal.

b). Remitting Bank – Pelaku Inkaso

Remitting Bank adalah bank yang diberikan amanat oleh nasabah untuk mengirimkan/menagihkan warkat- warkat berharga yang akan diinkasokan.

c). Presenting Bank –  Pelaku Inkaso

Presenting bank yang menerima tagihan inkaso dari remitting bank. Presenting bank merupakan bank yang menerbitkan warkat berharga yang diinkasokan.

d). Drawee – Pelaku Inkaso

Drawee adalah pihak yang tertagih yang mengeluarkan warkat berharga kepada principal atas transaksi yang sudah mereka lakukan.

e). Collecting Bank – Pelaku Inkaso

Collecting Bank adalah bank- bank yang terlibat dalam proses penyelesaian inkaso

Warkat Warkat Inkaso

Warkat yang dapat diinkaso dibedakan atas Financial Documents (warkat inkaso tanpa dokumen) dan Commercial Documents (warkat inkaso berdokumen).

a). Financial Documents (Warkat – Warkat Keuangan).

Finansial Documen adalah warkat yang termasuk dalam warkat- warkat keuangan yang biasanya berupa warkat- warkat yang diterbitkan oleh suatu lembaga keuangan, khususnya perbankan.

Finansial Documen merupakan warkat-warkat yang dapat diinkasokan tanpa harus dilampiri (disertai) dengan dokumen- dokumen lain. Sehingga financial documents disebut sebagai warkat inkaso tanpa dokumen

Contoh Financial Dokumen Warkat Inkaso Tanpa Dokumen

Misalnya, cek, Bilyet Giro (hanya berlaku di Indonesia dan Belanda), wesel, surat-surat berharga lainnya.

b). Commercial Documents (Warkat – Warkat Perdagangan).

Commercial documents adalah warkat yang termasuk dalam warkat-warkat perdagangan biasanya berupa warkat -warkat yang diterbitkan oleh perusahaan/lembaga non keuangan.

Commercial documents merupakan adalah warkat- warkat yang dapat diinkasokan dengan dilampiri dokumen- dokumen lain yang yang mewakili barang dagangan, atau produk yang ditransaksikan. Sehingga commercial documents disebut sebagai warkat inkaso berdokumen.

Contoh Commercial Dokumen Warkat Inkaso Berdokumen

Misalnya Bill of Lading (diterbitkan perusahaan perkapalan), Delivery Order, polis asuransi, dan dokumen lainnya.

Objek – Warkat – Warkat Inkaso

Surat-surat berharga yang dapat diinkasokan (objek inkaso) dalam negeri adalah wesel, cek, bilyet giro, surat undian (yang menang), money order, surat aksep, kuitansi, dan nota tagihan lainnya.

a). Warkat Inkaso – Cek

Cek adalah salah satu sarana yang digunakan untuk menarik atau mengambil uang di rekening giro.

Cek merupakan surat perintah tanpa syarat dari nasabah kepada bank yang penyimpan rekening giro nasabah tersebut, untuk membayar sejumlah uang kepada pihak yang disebutkan di dalam cek atau kepada pemegang atau pembawa cek tersebut:

b). Warkat Inkaso – Bilyet Giro

Bilyet Giro adalah surat perintah dari nasabah kepada Bank penyimpan dana untuk memindahbukukan sejumlah dana dari rekening yang bersangkutan kepada rekening pemegang yang disebutkan Namanya, baik pada bank yang sama maupun pada bank yang lainnya.

c). Warkat Inkaso – Wesel

Wesel adalah surat perintah tanpa syarat untuk membayar sejumlah uang tertentu kepada seseorang yang disebut namanya atau kepada orang yang ditunjuknya pada tanggal tertentu sebagaimana disebutkan dalam surat wesel tersebut.

Jenis Jenis Inkaso

Inkaso dilihat dari kegiatannya, inkaso dapat dibagi menjadi dua jenis yaitu inkaso masuk dan inkaso keluar.

Baik inkaso masuk maupun inkaso keluar akan menciptakan hubungan antar kantor antara bank pemberi amanat dan cabang pemberi amanat. Untuk inkaso keluar, bank pemberi amanat akan mendebet bank penerima amanat. Sedangkan untuk inkaso masuk, bank penerima amanat akan mengkredit bank pemberi amanat

a). Inkaso Keluar

Inkaso keluar merupakan kegiatan bank pemrakarsa melaksanakan penagihan sesuai dengan amanat yang diterimanya, baik untuk keuntungan nasabah bank sendiri atau pihak lainnya. Kegiatan inkaso keluar yaitu:

  • Penerimaan amanat dan warkat inkaso dari pemberi amanat
  • Meneruskan amanat kepada kantor cabang bank sendiri di kota tempat pihak tertagih
  • Penerimaan hasil inkaso dari kantor cabang pelaksana inkaso
  • Penyerahan (pembayaran) hasil inkaso kepada pihak pemberi amanat.

b), Inkaso Masuk

Inkaso masuk adalah tagihan dari cabang bank sendiri atau bank lain atas warkat yang diterbitkan oleh nasabah sendiri. Kegiatan inkaso masuk meliputi:

  • Penerimaan tagihan masuk dari cabang bank sendiri di kota lain. Dalam hal ini, bank penerima tagihan masuk merupakan bank penerima inkaso.
  • Pelaksana (realisasi) penagihan. Jika pihak tertagih (tertarik) sebagai nasabah sendiri, bank pelaksana membebani rekening nasabah bank yang bersangkutan sejumlah minimal inkaso. Dalam hal pihak tertarik adalah nasabah bank lain, bank pelaksana melakukan penagihan kepada bank tempat rekening tertarik melalui kliring.
  • Pengiriman informasi mengenai hasil inkaso kepada kantor cabang pemrakarsa. Inkaso merupakan pemberian kuasa oleh perusahaan/ perseorangan untuk penagihan piutang maupun pembayaran kepada pihak lain (dalam dan luar negeri), baik dalam bentuk rupiah maupun mata uang asing. Atas jasa ini, bank mendapat jasa sebesar nota inkaso yang telah disepakati.

Mekanisme Transaksi Inkaso Dalam Negeri

Contoh mekanisme transaksi dengan inkaso ditunjukkan dalam flowchart berikut:

2 Contoh Mekanisme Transaksi Inkaso Dalam Negeri
2 Contoh Mekanisme Transaksi Inkaso Dalam Negeri

a). Tuan Ardra melakukan penjualan barang dagangan kepada Tuan Razen

b). Tuan Razen membayar kepada Tuan Ardra dengan bilyet giro dari Bank XYZ

1). Tuan Ardra (penagih/ principal) mengisi aplikasi permohonan inkaso pada Bank ABC Bandung untuk menagihkan warkat yang diterbitkan oleh Bank XYZ Jakarta kepada Tuan Razen (tertagih/drawee) di Jakarta.

2). Bank ABC Bandung membuat surat pengantar inkaso dan mengirimkan bersama warkat yang akan ditagihkan ke Bank ABC Jakarta melalui pos maupun jasa ekspedisi.

3). Bank ABC Jakarta menerima surat pengantar inkaso dan warkat inkaso dari Bank ABC Bandung. Kemudian menagihkan kepada Bank XYZ Jakarta melalui sarana kliring di Jakarta.

4). Bank XYZ Jakarta menerima tagihan kliring dari Bank ABC Jakarta dan mengecek rekening Razen (tertagih/ drawee) pada Bank XYZ Jakarta.

5). Bank XYZ mendebet rekening Tuan Razen atas tagihan inkaso dari Bank ABC Jakarta

6). Bank XYZ mengirimkan/ mengkreditkan dana kepada Bank ABC Jakarta melalui kliring di Jakarta.

7). Bank ABC Jakarta mengirimkan dana hasil inkaso ke Bank ABC Bandung

8). Bank ABC Bandung menyerakan dana kepada Tuan Ardra (penagih/ principal).

Pengertian Collection

Collection sama dengan inkaso, namun collection menggunakan jasa bank koresponden yang berlokasi di luar negeri untuk menagihkan warkat- warkat yang diterima oleh seksi inkaso untuk ditagihkan.

Collection hanya dapat dilaksanakan oleh bank devisa, hal ini karena Bank devisa memiliki jaringan ke luar negeri.

Jadi, Collection merupakan cara pembayaran dengan mempergunakan jasa bank untuk melakukan penagihan di dua negara berbeda.

Macam Macam Collection

Adapun collection dapat dibagi dalam tiga macam cara, yaitu:

a). Full Collection – Individual Collection

Suatu proses collection dimana setelah hasil collection dikredit oleh bank koresponden ke rekening bank penagih, bank koresponden tidak dapat mendebet kembali rekening bank penerbit tersebut.

b).  Cash Collection

Jumlah hasil collection dikredit ke rekening bank penagih oleh bank koresponden pada waktu bank koresponden menerima warkat dari bank penagih. Bank koresponden tidak dapat mendebet kembali jika jumlah yang dikredit sudah mengendap di rekening bank penagih selama 15 hari kerja.

c). Cash Letter

Cash letter hanya dapat diberikan kepada nasabah tertentu karena bank koresponden berhak mendebit kembali rekening bank penagih dalam waktu 6 tahun.

Objek – Warkat Warkat Collection, 

Sedangkan warkat -warkat yang merupakan objek inkaso collection luar negeri adalah:

a). Draft / Wesel,

Draft / Wesel, yaitu suatu perintah tanpa syarat dari bank penerbit kepada bank lain koresponden untuk melakukan pembayaran sejumlah uang kepada orang/perusahaan yang namanya tercantum di draft/wesel tersebut pada waktu diajukan.

b). Travelers Check,

Travelers Check yaitu sejenis kertas berharga yang dikenal dan dipergunakan oleh masyarakat internasional sebagai alat tukar/alat pembayaran yang sah.

c). Treasury check,

Treasury check yaitu sejenis cek yang dikeluarkan oleh duta besar negara tertentu.

Mekanisme Pembayaran Collection – Inkaso Luar Negeri

Dalam collection, penjual merupakan eksportir yang bertindak sebagai principal yang memberikan kepercayaan kepada bank untuk melakukan penagihan kepada importir yang bertindak sebagai pembeli.

Penagihan tersebut didasarkan pada dokumen- dokumen Bank yang menerima amanat untuk melakukan penagihan. Bank yang menerima amanat dari nasabah disebut remitting bank yang setelah menerima dokumen akan meneruskan collection.

Kemudian dokumen collection dikirim oleh Remitting bank ke collecting bank dengan menggunakan collection instruction. Collection bank adalah bank yang akan meneruskan dokumen kepada pihak yang harus membayar yaitu drawee yang tertagih.

Jika collection bank belum dapat langsung meneruskan dokumen kepada kepada drawee  yang tertagih, maka collection bank bisa meneruskan ke bank lain yang memungkinkan untuk berhubungan langsung dengan drawee. Bank lain yang dimaksud presenting bank.

Sehingga presenting bank yang menerima tagihan inkaso dari remitting bank. Presenting bank merupakan bank yang menerbitkan warkat berharga yang diinkasokan.

Setelah drawee melakukan pembayaran atau melaksanakan amanat kepada collection bank atau presenting bank maka collection bank akan meneruskan kembali kepada remitting bank. Remitting bank inilah yang akan melakukan pembayaran kepada principal.

International Chamber of Commerce (ICC)

Untuk menghindari kesalah pahaman mengenai tata cara pembayaran transaksi dengan mempergunakan collection, International Chamber of Commerce (ICC) menerbitkan Uniform Rules for Collection (URC), yang terakhir direvisi pada tahun 1995 tercatat dengan nomor publikasi 522 (URC 522).

Cara Pembayaran Collection

Berdasarkan URC 522 cara pembayaraan dengan collection dapat terjadi dengan dua kondisi, yaitu: document againt payment dan document againt acceptance.

Docoment Againt Payment

Dalam document againt payment, penjual (eksportir) menahan dokumen dokumen pemilikan barang dan hanya menyerahkan dokumen ekspor setelah adanya pembayaran dari pembeli (importir).

Document Againt Acceptance

Sedangkan dalam document againt acceptance eksportir (penjual) akan menyerahkan dokumen ekspor setelah pembeli (importir) telah melakukan akseptasi.

Daftar Pustaka

  1. Ismail, 2010, “Manajemen Perbankan – Dari Teori Menuju Aplikasi” Edisi Pertama, Catakan 5, Prenadamedia Group, Jakarta
  2. Kasmir, 2000, “Manajemen Perbankan”, Edisi Revisi, Cetakan 13, PT Rajagrafindo Persada, Jakarta.
  3. Darmawi, Herman, 2011, “Manajemen Perbankan”, Cetakan 4, PT Bumi Aksara, Jakarta.
  4. Suhardjono, M.K., 2012, “Manajemen Perbankan – Teori dan Aplikasi”, Edisi Kedua, Cetakan 2, BPFE, Yogyakata.
  5. Taswan, 2010, “Manajemen Perbankan – Konsep Teknik dan Aplikasi”, Edisi Kedua, UPP STIM YKPN Yogyakarta.
  6. Kasmir, 2012, “Dasar Dasar Perbankan”, Edisi Revisi, Rajawali Pers, Jakarta.
  7. Djumhana, Muhamad, 2006, “Hukum Perbankan di Indonesia”, Cetakan Kelima, PT Citra Aditya Bakti, Bandung.
  8. Kasmir, 2015, “Bank dan Lembaga Keuangan Lainnya”, Edisi Revisi, Rajawali Pers, Jakarta.
  9. Mangani, Silvanita, Ktut, 2009, “Bank dan Lembaga Keuangan Lain”, Penerbit Erlangga, Jakarta.
  10. Mishkin, S., Frederic, 2008’ “Ekonomi Uang, Perbankan, dan Pasar Uang”, Edisi Kedelapan, Salemba Empat, Jakarta.
  11. Joesoef, Jose Rizal, 2008, “Pasar Uang dan Pasar Valuta Asing”, Salemba Empat, Jakarta.
  12. Djamil, Fathurrakman,  2012, “Penerapan Hukum Perjanjian dalam Transaksi di Lembaga Keuangan Syariah”, Cetakan Pertama, Sinae Grafika, Jakarta.
  13. Fuady, Munir, 2004, “Hukum Perbankan Modern”, Buku Kedua, Citra Aditya Bakti, Bandung.
  14. Machmud, A. Rukmana, H., 2010, “Bank Syariah, Teori, Kebijakan, dan Studi Empiris di Indonesia”, Penerbit Erlangga, Jakarta.
  15. Mekanisme Inkaso: Pengertian Tujuan Fungsi Jenis Warkat Pelaku Inkaso Collection, Pelaku Inkaso: Principal Remitting Bank Presenting Bank Drawee Collecting Bank,
  16. Warkat Warkat Inkaso Financial Documents Warkat – Warkat Keuangan Commercial Documents Warkat – Warkat Perdagangan, Jenis Objek Warkat Inkaso Collection: Inkaso Keluar Masuk Cek Bilyet Giro Wesel Draft / Wesel Travelers Check, Mekanisme Transaksi Inkaso Dalam Luar Negeri,

Mekanisme Kliring: Pengertian Tujuan Fungsi Jenis Syarat Sistem Lembaga Kliring Cek Bilyet Giro

Pengertian Kliring: Kliring berasal kata bahasa inggris yaitu Clearing, istilah dalam perbankan dan keuangan yang menunjukkan aktivitas yang berjalan sejak saat terjadinya kesepakatan untuk suatu transaksi hingga selesainya pelaksanaan kesepakatan tersebut.

Kliring adalah pertukaran warkat atau Data Keuangan Elektronik (DKE) antar peserta kliring baik atas nama peserta maupun atas nama nasabah peserta yang perhitungannya diselesaikan pada waktu tertentu.

Kliring sebenarnya merupakan transaksi lalu lintas pembayaran yang bertujuan untuk memudahkan penyelesaian hitang piutang antar bank yang timbul dari transaksi giral.

Pengertian Kliring Menurut Veithzal.

Kliring adalah  sarana perhitungan utang piutang dalam bentuk surat-surat berharga dan surat dagang antara bank -bank peserta kliring yang dilaksanakan oleh Bank Indonesia selaku bank sentral yang mengatur memajukan, memperluas, dan memperlancar arus lalu lintas pembayaran giral serta terselenggara secara mudah, cepat dan aman

Pengertian Kliring Menurut Kasmir

Kliring adalah jasa penyelesaian hutang pihutang antar bank dengan cara saling menyerahkan warkat-warkat yang akan dikliringkan di lembaga kliring. Kliring juga dapat diartikan sebagai suatu proses penyelesaian pembukuan dan pembayaran antar bank dengan memindahkan saldo kepada pihak yang berhak.

Pengertian Kliring Menurut Irsyad

Kliring adalah penyelesaian hutang piutang antar Bank dengan cara saling menyerahkan warkat-warkat yang akan dikliringkan di lembaga kliring yang dikoordinir oleh Bank Indonesia.

Pengertian Kliring Menurut Muhammad dan Dwi Suwiknyo


Kliring adalah proses penyelesaian utang piutang antar bank yang diselenggarakan pada suatu tempat dan waktu tertentu.

Pengertian Kliring Menurut Totok Budisantoso dan Sigit Triandaru.

Kliring adalah pertukaran warkat atau data keuangan elektronik antarbank baik atas nama bank maupun nasabah yang hasil perhitungannya diselesaikan pada waktu tertentu.

Pengertian Kliring Menurut The New Glorier Webster International Dictionary of The English Language.

Kliring adalah the act exchanging draft and each other and settling the differences yang dapat diartikan sebagai kegiatan tukar menukar warkat dari bank satu dengan bank lainnya dan menetapkan perbedaan–perbedaannya.

Pengertian Kliring Menurut Peraturan Bank Indonesia

Menurut Peraturan Bank Indonesia No.1/3/PBI/1999 tanggal 13 Agustus 1999. Kliring adalah pertukaran warkat atau data keuangan elektronik antarbank (DKE), baik atas nama bank maupun nasabah yang hasil perhitungannya diselesaikan pada waktu tertentu.

Menurut Peraturan Bank Indonesia No.7/18/PBI/2005 tanggal 22 Juli 2005. Kliring adalah  pertukaran warkat atau data keuangan elektronik – DKE antar bank baik atas nama bank maupun nasabah yang hasil perhitungannya diselesaikan pada waktu tertentu”.

Menurut Peraturan bank Indonesia Nomor 12/5/PBI/2010. Kliring adalah pertukaran Data Keuangan Elektronik (DKE) dan/atau warkat antar peserta kliring baik atas nama peserta maupun atas nama nasabah yang perhitungannya diselesaikan pada waktu tertentu.

Dengan mengacu pada beberapa pengertian kliring seperti dijelaskan di atas, maka pengertian kliring dapat dirangkum menjadi seperti ini:

Kliring adalah jasa penyelesaian hutang piutang antar bank dengan cara saling menyerahkan warkat–warkat yang akan dikliringkan di lembaga kliring. Penyelesaian hutang pihutang yang dimaksud adalah penagihan cek atau bilyet giro melalui bank dengan menggunakan warkat (surat perintah pembayaran/penagihan).

Kliring adalah proses perhitungan, pelunasan, dan pertukaran warkat–warkat kliring antar bank anggota yang dikoordinasi Bank Indonesia.

Tujuan Dan Manfaat Kliring Clearing Antar Bank

Adapun beberapa tujuan utama dilakukannya kliring diantaranya adalah :

a). Mendorong dan memperlancar lalu lintas pembayaran giral antar bank.

b). Memperudah perhitungan penyelesaian hutang pihutang antar bank

c). Menjaga transaksi lalu lintas pembayaran lebih aman dan efisien.

d). Memberikan pelayanan kepada nasabah bank dengan keamanan dan biaya yang dikeluarkan lebih hemat.

e). Mempermudah penarikan bagi nasabah dan penyelesaian inkaso atau transfer bagi bank peserta kliring

Adapun manfaat yang diperoleh dengan diterapkannya kliring adalah sebagai berikut :

a). Efisiensi biaya operasional bank dalam pencetakan dan proses administrasi

b). Semakin luasnya jangkauan layanan bank kepada nasabah

Jenis Warkat / Nota Kliring Antar Bank

Warkat kliring adalah dokumen, surat berharga dan surat dagang yang diperhitungkan dan diselesaikan di lembaga kliring. Warkat kliring merupakan alat lalu lintas pembayaran giral yang diperhitungkan dalam kliring.

Warkat warkat yang dapat dikliringkan atau diselesaikan di Lembaga kliring adalah warkat yang berasal dari dalam kota seperti cek, bilyet giro BG, wesel bank, surat bukti penerimaan transfer dari luar kota dan Lalu Lintas Giral LLG.

a). Warkat Kliring – CekCheque Bank

Cek adalah salah satu sarana yang digunakan untuk menarik atau mengambil uang di rekening giro.

Pengertian cek adalah surat perintah tanpa syarat dari nasabah kepada bank yang penyimpan rekening giro nasabah tersebut, untuk membayar sejumlah uang kepada pihak yang disebutkan di dalam cek atau kepada pemegang atau pembawa cek tersebut

b). Warkat Kliring – Bilyet Giro (BG)

Bilyet Giro adalah surat perintah dari nasabah kepada Bank penyimpan dana untuk memindahbukukan sejumlah dana dari rekening yang bersangkutan kepada rekening pemegang yang disebutkan Namanya, baik pada bank yang sama maupun pada bank yang lainnya.

c). Warkat Kliring – Wesel Bank

Wesel adalah surat perintah tanpa syarat untuk membayar sejumlah uang tertentu kepada seseorang yang disebut namanya atau kepada orang yang ditunjuknya pada tanggal tertentu sebagaimana disebutkan dalam surat wesel tersebut.

d). Warkat Kliring – Surat Bukti Penerimaan dari Luar Kota

Surat bukti penerimaan transfer dari luar kota adalah  surat bukti yang menunjukkan perimaan transfer dari luar kota yang dapat ditagihkan kepada bank penerima dana transfer melalui kliring local.

e). Warkat Kliring – Lalu Lintas Giral (LLG) / Nota Kredit

LLG Nota Kredit adalah warkat atau sarana yang digunakan untuk mengirimkan dana dari suatu bank kepada bank lain dalam suatu wilayah kliring yang sama.

f). Warkat Kliring – Nota Debet

Nota Debet adalah warkat atau sarana yang digunakan oleh bank untuk menagih dana kepada bank lain atas permintaan nasabah atau bank itu sendiri. Nota debet harus dikonfirmasi dahulu ke bank yang menerima tagihan.

Syarat Warkat Kliring

Adapun syarat – syarat warkat yang dapat dikliringkan adalah :

  • Dinyatakan dalam mata uang rupiah.
  • Telah dapat ditagih pada saat dikliringkan.
  • Telah jatuh tempo pada saat dikliringkan.
  • Telah dibubuhi cap atau stempel kliring.

Jenis Warkat Kliring

Warkat Kliring terdiri dari dua jenis, yaitu:

a). Warkat Debet Kliring

Warkat debet adalah warkat – warkat penagihan piutang uang giral (cek, bilyet giro, wesel, draft L/C, Promes nota, dan lain – lain yang disetorkan nasabah kepada bank peserta kliring untuk ditagihkan kepada bank yang menerbitkannya.

Warkat debit kliring dibedakan menjadi 2 macam yaitu warkat debet masuk dan warkat debet keluar:

  • Warkat Debet Masuk (Incoming Clearing )

Wakat debet masuk adalah warkat uang giral dari bank bersangkutan yang diterima bank lain.

  • Warkat Debet Keluar (Outgoing Clearing )

Warkat debet keluar adalah warkat uang giral dari bank lainnya yang disetorkan pada bank untuk ditagih kepada bank penerbitnya.

b). Warkat Kredit Kliring

Warkat kredit yaitu warkat perintah pembayaran yang diberikan nasabahnya untuk membayar kewajibannya melalui kliring. Warkat kredit dibagi kedalam 2 macam yaitu warkat kredit masuk dan warkat krdit keluar.

  • Warkat Kredit Masuk (Incoming Clearing)

Warkat kredit masuk adalah warkat kredit yang diterima dari bank lain.

  • Warkat Kredit Keluar (Outgoing Clearing)

Warkat kredit keluar adalah warkat kredit yang diterima bank untuk dibayar kepada bank lain melalui kliring.

Jenis Jenis Sistem Kliring

Pelaksanaan dari kegiatan kliring dilakukan dengan menggunakan lima macam sistem kliring yaitu system manual, system semi otomatis, system otomatis, system elektronik, dan system kliring nasional Bank Indonesia.

a). Kliring Sistem Manual

Kliring sistem manual merupakan system penyelenggaraan kliring local yang perhitungan, pembuatan Bilyet Saldo Kliring serta pemilahan warkat dilakukan secara manual oleh setiap peserta kliring.

Kliring manual dilakukan dengan menghadirkan petugas kliring di suatu tempat yang disediakan oleh penyelenggara kliring dan melakukan pertukaran warkat-warkat kliring secara manual.

Kliring system manual dilakukan oleh non-BI yang lokasi wilayahnya jauh dari BI dengan jumlah bank peserta dan jumlah warkatnya sedikit.

b). Kliring Sistem Semi Otomasi

Kliring sistem semi otomatisasi merupakan system penyelenggaraan kliring local yang perhitungan dan pembuatan Bilyet Saldo Kliring dilakukan secara otomasi, sedangkan pemilahan warkat dilakukan secara manual oleh peserta kliring.

Perhitungan kliring pada proses Sistem Semi Otomasi mengacu pada DKE yang dibuat oleh peserta kliring sesuai dengan warkat yang dikliringkannya.

Kliring system semi otomasi umumnya dilakukan oleh BI dengan jumlah bank peserta dan jumlah warkat sedikit melalui system kliring Semi Otomasi Kliring Lokal (SOKL).

Informasi catatan kliring diberikan oleh bank dalam format softcopy (CD, Flash disk, dsb) ke penyelenggara kliring yaitu BI atau bank pemerintah yang ditunjuk.

c). Kliring Sistem Otomasi

Kliring sistem otomasi adalah system pelaksanaan kegiatan kliring lokal yang pelaksanaan perhitungan, pembuatan Bilyet Saldo Kliring dan pemilahan warkat dilakukan oleh penyelenggara secara otomasi.

Perhitungan kliring didasarkan pada warkat yang dibuat oleh peserta kliring sesuai dengan warkat yang dikliringkan oleh peserta kliring. Semua proses perhitungan, rekapitulasi, dan pembuatan laporan kliring dilakukan secara otomasi.

Sistem otomasi kliring dimulai dari penerimaan warkat kliring dari semua peserta kliring oleh KBI penyelenggara kliring sebagai input untuk mesin reader/sorter.

d). Kliring Sistem Elektronik

Kliring yang dilakukan oleh BI dengan jumlah bank peserta dan jumlah warkat sangat banyak dilakukan dengan system kliring elektronik.

Perhitungan, rekapitulasi, dan pembuatan laporan kliring (Bilyet Saldo Kliring) dilakukan secara elektronik melalui terminal elektronik di bank peserta kliring, sehingga tidak perlu datang ke tempat kliring untuk menyampaikan warkat kliring.

Untuk pertukaran warkat dan rekonsiliasi dilakukan secara otomasi melalui computer pusat kliring elektronik.

Dengan system ini, proses kliring dapat diselesaikan dengan lebih cepat, akurat, dan aman, serta mengurangi resiko tidak terprosesnya warkat kliring.  Perangkat yang digunakan dalam kliring elektronik adalah MICR Reader Sorter dan MICR Encoder.

Dalam pemrosesan data secara elektronik, mesin akan membaca Magnetic Ink Character Renognition atau MICR pada tiap lembar cek nasabah.

e). Sistem Kliring Nasional Bank Indonesia

Sistem Kliring Nasional Bank Indonesia, yang selanjutnya disebut SKNBI adalah sistem kliring Bank Indonesia yang meliputi kliring debet dan kliring kredit yang penyelesaian akhirnya dilakukan secara nasional.

Peserta Kliring

Kegiatan kliring melibatkan berbagai anggota dan peserta yang berupa bank. Adapun peserta dalam kliring dibedakan menjadi tiga macam yaitu :

a). Peserta Langsung Aktif (PLA)

Peserta Langsung Aktif (PLA) adalah bank- bank yang sudah tercatat sebagai peserta kliring dan dapat memperhitungkan warkat atau notanya secara langsung dengan Bank Indonesia selaku lembaga kliring atau dapat juga dengan PT. Trans Warkat yang berperan sebagai  perantara yang ditugasi oleh Bank Indonesia.

Peserta langsung aktif memiliki wewenang untuk mengirimkan DKE ke Sistem Pusat Komputer Kliring Elektronik (SPKE) dan menyampaikan warkat kepada penyelenggara.

Peserta langsung aktif (PLA) juga menerima hasil perhitungan kliring dan warkatnya dari penyelenggara dengan menggunakan identas peserta dan PLA wajib menyediakan sarana Terminal Peserta Kliring (TPK).

b). Peserta Langsung Pasif (PLP)

Peserta langsung pasif mempunyai wewenang mengirimkan DKE ke SPKE dan menyampaikan warkat kepada penyelenggara melalui dan menggunakan identitas PLA. Peserta langsung pasif tidak dapat menerima hasil perhitungan kliring dan warkat dari penyelenggara menggunakan identitasnya.

c). Peserta Tidak Langsung (PTL)

Peserta tidak langsung adalah peserta kliring yang mempunyai wewenang mengirimkan DKE ke SPKE dan menyampaikan warkat kepada penyelenggara melalui dan menggunakan identitas PLA.

Bank Indonesia sebagai lembaga kliring mempunyai kepentingan dan tugas untuk meningkatkan kelancaran sistem pembayaran. Salah satu cara untuk mencapai tujuan tersebut adalah memberikan berbagai fasilitas kepada para peserta kliring yang secara umum meliputi penyediaan akses informasi dan saran untuk dapat mengikuti proses kliring secara aman, lancar, efisien, dan handal.

Fasilitas Yang Diterima Peserta Kliring

Adapun fasilitas–fasilitas yang diterima oleh peserta kliring adalah :

a). Informasi Hasil Kliring

Informasi hasil kliring merupakan informasi untuk mengetahui posisi perhitungan kliring masing–masing peserta dan selanjutnyadapat digunakan sebagai dasar dalam melakukan manajemen kas (cash management) perbankan atau dalam rangka transaksi pasar uang.

b). Laporan Hasil Proses Kliring

Penyelenggara menerbitkan berbagai laporan hasil proses kliring yang diperlukan oleh peserta untuk mengetahui perhitungan hasil kliring maupun rincian warkat yang dikeluarkan dan diterima.

c). Rekaman Data Warkat Yang Diterima

Peserta kliring yang telah melakukan otomasi pada sistem akuntasinya akan mendapatkan informasi data warkat yang diterima dan terekam dalam disket.

d). Salinan Warkat dan Permintaan Ulang atas Laporan Hasil Proses Kliring

Salinan warkat adalah reproduksi dari warkat yang telah diproses dalam kliring dan direkam dalam bentuk image atau microfilm.

e). Investigasi Selisih Kliring

Investigasi selisih adalah fasilitas untuk melakukan penelitian terhadap ketidaksesuaian antara laporan hasil proses kliring dengan warkat yang diterima dan atau antara laporan hasil proses kliring dengan warkat yang diserahkan.

f). Pengujian Kualitas MICR Code Line

Peserta dapat meminta kepada penyelenggara kliring elektronik untuk menguji kualitas MICR code line apabila tingkat penolakan warkatnya dinilai tinggi menurut pandangan peserta kliring elektronik.

Penyelenggaraan / Pelaksanaan Kliring

Penyelenggaraan kliring terdiri dari 2 (dua) sub sistem, yaitu kliring debet dan kliring kredit

1). Kliring Debet

a). Meliputi kegiatan kliring penyerahan dan kliring pengembalian, digunakan untuk transfer debet antar Bank yang disertai dengan penyampaian fisik warkat debet (cek, bilyet giro, nota debet dan lain-lain).

b). Penyelenggaan kliring debet dilakukan secara lokal di setiap wilayah kliring oleh PKL (Penyelenggara Kliring Lokal).

c). PKL akan melakukan perhitungan kliring debet berdasarkan DKE (data keuangan elektonik) debet yang dikirim oleh peserta.

  1. d) . Hasil perhitungan kliring debet secara lokal tersebut selanjutnya dikirim ke Sistem Sentral Kliring (SSK) untuk diperhitungkan secara nasional oleh PKN (Penyelenggara Kliring Nasional.

2). Kliring Kredit

a). Digunakan untuk transfer kredit antar bank tanpa disertai penyampaian fisik warkat (paperless).

b). Penyelenggaraan kliring kredit dilakukan secara nasional oleh PKN.

c). Perhitungan kliring kredit dilakukan oleh PKN atas dasar DKE kredit yang dikirim peserta.

Contoh Mekanisme Transaksi Kliring

Setiap melaksanakan kegiatan kliring terdapat tahap transaksi kliring yaitu pelimpahan dana dari nasabah atau bank satu ke nasabah bank lainnya dan penagihan oleh bank satu terhadap bank lainnya.

Mekanisme kliring yang terbentuk dari transaksi jual beli dapat dilihat pada gambar beikut:

Contoh Mekanisme Transaksi Kliring
Contoh Mekanisme Transaksi Kliring

a). Tuan Ardra dan Tuan Razen melakukan transaksi jual beli. Tuan Razen menyerahkan barang beserta faktur penjualannya.

b). Tuan Ardra membayar dengan menyerahkan warkat berupa cek atau bilyet giro yang diterbitkan Bank ABC.

c). Tuan Razen sebagai nasabah giro bank XYZ menyerahkan warkat kepada Bank XYZ untuk dikliringkan.

d). Bank XYZ menyerahkan warkat untuk dikliringkan/ ditagihkan ke lembaga kliring (kliring keluar bagi Bank XYZ).

e). Lembaga kliring menyerahkan warkat yang diterima untuk ditagihkan ke Bank ABC (kliring masuk bagi Bank ABC).

f). Bank ABC memeriksa saldo Tuan Ardra.

g). Bank ABC mendebet rekening giro Tuan Ardra sejumlah nominal yang tercantum dalam warkat.

h). Setelah proses pengecekan dan warkat dinyatakan sah, maka diinformasikan kepada lembaga kliring untuk mendebet rekening Giro Bank ABC di Bank Indonesia.

i). Lembaga kliring menginformasikan kepada Bank XYZ bahwa kliring berhasil ditagihkan (kliring efektif). Kemudian lembaga kliring mengkredit rekening Giro Bank XYZ di Bank Indoneisa.

j). Karena kliring efektif maka Bank XYZ mengkredit saldo rekening giro Tuan Razen.

Dokumen Kliring

Dokumen kliring merupakan dokumen kontrol dan berfungsi sebagai alat bantu dalam proses perhitungan kliring yang terdiri dari

a). Bukti penyerahan warkat debet kliring penyerahan (BPWD).

b). Bukti penyerahan warkat kredit penyerahan (BPWK).

c). Kartu batch warkat untuk kliring debet dan kliring kredit.

  1. d) Lembar Subsitusi.

e). Bukti penyerahan rekaman warkat kliring pengembalian (BPRWKP).

Dokumen kliring dalam kliring elektronik, wajib memiliki Magnetic Ink Character Recognition (MICR) code line.

Dokumen kliring harus memenuhi spesifikasi teknis yang ditetapkan oleh Bank Indonesia, seperti ukuran dan kualitas dan rancang bangun, serta harus terlebih dahulu mendapat persetujuan dari Bank Indonesia.

Setiap percetakan dokumen kliring untuk pertama kali dan atau perubahannya oleh peserta wajib memperoleh persetujuan secara tertulis dari Bank Indonesia.

Tolakan Kliring

Beberapa alasan penolakan kliring pada saat penerimaan warkat-warkat kliring dalam kliring masuk diantaranya adalajh

a). Asal cek atau Bilyet Giro (BG) salah.

b). Tanggal cek atau Bilyet Giro (BG) belum jatuh tempo.

c). Materai tidak ada atau tidak cukup sesuai dengan peraturan yang berlaku.

d). Jumlah yang tertulis di angka dan huruf berbeda.

e). Tanda tangan dan atau cap perusahaan tidak sama dengan spicemen (Contoh tanda tangan) atau tidak lengkap.

f). Coretan atau perubahan tidak ditandatangani.

g). Cek atau Bilyet Giro (BG) sudah kadaluwarsa.

h). Resi belum kembali.

i). Endorsment cek tidak benar.

j). Rekening sudah ditutup.

k). Dibatalkan penarik.

l). Rekening diblokir oleh berwajib

m). Kondisi cek atau Bilyet Giro (BG) tidak sempurna

Jadwal Kliring

Penyelenggaraan kliring di masing-masing wilayah kliring dilaksanakan sesuai dengan dengan jadwal kliring yang berlaku di wilayah tersebut.

Jadwal kliring ditetapkan oleh masing-masing penyelenggara dengan menbacu pada ketentuan Bank Indonesia.

Jadwal kliring ditetapkan dengan memperhatikan kepentingan masyarakat pengguna uang giral, kondisi berbankan, kuantitas warkat yang akan dikliringkan dalam satu hari, kebijakan waktu penyelesaian akhir (same day settlement or next day settlement) dan kemampuan teknis penyelenggara dalam memproses warkat kliringsesuai dengan sistem kliring yang digunakan.

Dalam rangka memberikan keleluasaan kepada pelaku ekonomi di seluruh Indonesia yang terdiri dari 3 (tiga) zona waktu untuk dapat melakukan transfer kredit dengan lancar, maka kliring kredit dilaksanakan dalam 2 (dua) siklus kliring.

Pengiriman DKE kredit pada siklus pertama dilakukan mulai pukul 08.15 s.d. 11.30 WIB sedangkan pengiriman DKE kredit pada siklus kedua dilakukan mulai pukul 12.45 WIB s.d. 15.30 WIB.

Untuk kliring debet pengiriman DKE debet ditetapkan oleh masing-masing PKL dengan batas maksimal pengiriman hasil perhitungan kliring lokal ke SSK pada pukul 15.30 WIB

Biaya Kliring

Dalam penyelenggaraan SKNBI, Bank Indonesia mengenakan biaya proses kepada peserta yang besarnya adalah sebagai berikut :

1). Kliring Debet

a). Biaya proses kliring debet untuk wilayah kliring yang pemilahan warkat debetnya dilakukan secara otomasi sebesar Rp1.500,00 (seribu lima ratus rupiah) per transaksi dengan rincian Rp1.000,00 (seribu rupiah) untuk proses DKE debet dan Rp500,00 (lima ratus rupiah) untuk proses warkat debet.

b). Biaya proses kliring debet untuk wilayah kliring yang pemilahan warkat debetnya dilakukan secara manual sebesar Rp1.000,00 per transaksi yang merupakan biaya proses DKE Debet.

2). Kliring Kredit

Biaya proses kliring kredit sebesar Rp1.000,00 (seribu rupiah) per transaksi.

Istilah Penting Dalam Kliring,

Istilah-istilah yang digunakan dalam kliring antara lain:

a). Kliring

Kliring adalah pertukaran warkat atau Data Keuangan Elektronik (DKE) antar peserta kliring baik atas nama peserta maupun atas nama nasabah peserta yang perhitungannya diselesaikan pada waktu tertentu.

b). Data Keuangan Elektronik – DKE

Data Keuangan Elektronik (DKE) adalah data transfer dana dalam format elektronik yang digunakan sebagai dasar perhitungan dalam SKNBI.

c). Sistem Kliring Nasional Bank Indonesia – SKNBI

Sistem Kliring Nasional Bank Indonesia, yang selanjutnya disebut SKNBI adalah system kliring Bank Indonesia yang meliputi kliring debet dan kliring kredit yang penyelesaian akhirnya dilakukan secara nasional.

d). Wilayah Kliring

Wilayah kliring adalah suatu lingkungan tertentu yang memungkinkan kantor, kantor bank memperhitungkan warkat- warkatnya dalam jadwal kliring yang telah di tetapkan oleh Bank Indonesia

e). Lalu Lintas Pembayaran Giral

Lalu lintas pembayaran giral adalah kegiatan bayar membayar dengan warkat bank yang di perhitungkan atas beban dan untuk keuntungan rekening nasabah yang bersangkutan.

f). Kliring Pengembalian – Tolakan Kliring

Kliring pengembalian (tolakan kliring) adalah warkat kliring yang di kembalikan oleh bank tertarik karena dana tidak cukup atau disebabkan oleh hal-hal lain yang menyebabkan warkat tersebut tidak dapat di bayarkan kepada bank penarik.

g). Menang Kliring

Menang kliring adalah apabila dalam satu hari transaksi kliring, satu bank peserta kliring menerima dana lebih besar dari pada pengeluaran dana

h). Kalah Kliring

Kalah kliring adalah apabila dalam satu hari transaksi kliring menerima dana lebih kecil dari pada pengeluaran dana

 j). Cross Clearing

Cross Clearing adalah fasilitas kredit yang diberikan kepada nasabah dalam bentuk pembelian cek/bilyetgiro bank lain yang disetorkan oleh nasabah dengan maksimum sebesar nilai cek/bilyet giro setoran tersebut.

Hal ini terjadi karena warkat kliring yang disetorkan dananya masih belum efektif namun nasabah sudah melakukan penarikan atas dana tersebut sehingga timbul resiko overdraft (cerukan) atas rekening nasabah tersebut

k). Kliring Debet

Kliring debet adalah kegiatan dalam SKNBI untuk transfer debet.

l). Kliring Debet Pengembalian

Kliring debut pengembalian adalah kegiatan dalam SKNBI untuk menolak atau mnegembalikan transfer debet yang telah dilakukan melalui Kliring Debet

m). Kliring Kredit

Kliring kredit adalah kegiatan dalam SKNBI untuk transfer kredit.

n). Bank Peserta Kliring

Bank peserta kliring adalah kantor Bank yang terdaftar untuk mengikuti kegiatan SKNBI.

Daftar Pustaka

  1. Ismail, 2010, “Manajemen Perbankan – Dari Teori Menuju Aplikasi” Edisi Pertama, Catakan 5, Prenadamedia Group, Jakarta
  2. Kasmir, 2000, “Manajemen Perbankan”, Edisi Revisi, Cetakan 13, PT Rajagrafindo Persada, Jakarta.
  3. Darmawi, Herman, 2011, “Manajemen Perbankan”, Cetakan 4, PT Bumi Aksara, Jakarta.
  4. Suhardjono, M.K., 2012, “Manajemen Perbankan – Teori dan Aplikasi”, Edisi Kedua, Cetakan 2, BPFE, Yogyakata.
  5. Taswan, 2010, “Manajemen Perbankan – Konsep Teknik dan Aplikasi”, Edisi Kedua, UPP STIM YKPN Yogyakarta.
  6. Kasmir, 2012, “Dasar Dasar Perbankan”, Edisi Revisi, Rajawali Pers, Jakarta.
  7. Djumhana, Muhamad, 2006, “Hukum Perbankan di Indonesia”, Cetakan Kelima, PT Citra Aditya Bakti,
  8. Kasmir, 2015, “Bank dan Lembaga Keuangan Lainnya”, Edisi Revisi, Rajawali Pers, Jakarta.
  9. Mangani, Silvanita, Ktut, 2009, “Bank dan Lembaga Keuangan Lain”, Penerbit Erlangga, Jakarta.
  10. Mishkin, S., Frederic, 2008’ “Ekonomi Uang, Perbankan, dan Pasar Uang”, Edisi Kedelapan, Salemba Empat, Jakarta.
  11. Joesoef, Jose Rizal, 2008, “Pasar Uang dan Pasar Valuta Asing”, Salemba Empat, Jakarta.
  12. Djamil, Fathurrakman, 2012, “Penerapan Hukum Perjanjian dalam Transaksi di Lembaga Keuangan Syariah”, Cetakan Pertama, Sinae Grafika, Jakarta.
  13. Fuady, Munir, 2004, “Hukum Perbankan Modern”, Buku Kedua, Citra Aditya Bakti, Bandung.
  14. Machmud, A. Rukmana, H., 2010, “Bank Syariah, Teori, Kebijakan, dan Studi Empiris di Indonesia”, Penerbit Erlangga, Jakarta.
  15. Mekanisme Kliring: Pengertian Tujuan Fungsi Jenis Syarat Sistem Lembaga Kliring Dokumen Warkat Nota Kliring Cek Bilyet Giro Wesel Jadwal Biaya Kliring, Peserta Kliring Peserta Langsung Aktif (PLA) Peserta Langsung Pasif (PLP) Peserta Tidak Langsung (PTL),
  16. Fasilitas Yang Diterima Peserta Kliring Informasi Hasil Kliring Laporan Hasil Proses Kliring Rekaman Data Warkat Yang Diterima Salinan Warkat dan Permintaan Ulang atas Laporan Hasil Proses Kliring Investigasi Selisih Pengujian Kualitas MICR Code Line,
  17. Jenis Jenis Sistem Kliring: Kliring Sistem Manual Kliring Sistem Semi Otomasi Kliring Sistem Otomasi Kliring Sistem Elektronik Sistem Kliring Nasional Bank Indonesia, Warkat / Nota Kliring Cek Bilyet Giro Wesel Bank Surat Bukti Penerimaan dari Luar Kota Lalu Lintas Giral (LLG) / Nota Kredit Nota Debet,

Perhitungan Ratio Rentabilitas Bank: GPM – NPM – ROE – ROA – BOPO – Interest Margin on Earning Assets – Assets Utilization – Rate Return on Loans – Interest Margin on Loans

Pengertian Rentabilitas Bank: Rentabilitas merupakan ukuran kemampuan suatu bank dalam memperoleh laba dibandingkan dengan modal yang digunakan seperti aktiva. Dengan kata lain rentabilitas merupakan kemampuan suatu bank untuk menghasilkan laba selama periode tertentu

Pengertian Rasio Keuangan Bank

Pada dasarnya rasio keuangan merupakan indeks yang menghubungkan antara dua angka akuntansi atau lebih yang diperoleh dengan cara membagi satu atau lebih angka dengan angka lainnya. Nilai atau indek dari rasio keuangan digunakan untuk mengevaluasi kondisi keuangan dan kinerja perusahaan.

Pengertian Rasio Rentabilitas – Profitabilitas Bank

Rasio rentabilitas atau profitabilitas usaha adalah rasio yang menunjukkan kemampuan tingkat efisiensi usaha dan profitabilitas yang dicapai oleh suatu bank.

Rasio rentabilitas bank merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur kemampuan bank dalam menghasilkan laba selama periode waktu tertentu.

Tujuan Perhitungan Rasio Rentabilitas Bank

Adapun tujuan menghitung tingkat rentabilitas atau profitabilitas adalah

a). Mengetahui kemampuan bank dalam menghasilkan laba atau keuntungan selama kurun waktu tertentu.

b). Memberikan suatu gambaran tentang tingkat efektifitas manajemen dalam melaksanakan kegiatan operasinya.


Rasio keuangan bank yang sering digunakan untuk menghitung rentabilitas bank adalah sebagai berikut:

1). Gross Profit Margin – GPM – Bank

Gross Profit Margin digunakan untuk mengetahui presentase laba dari kegiatan usaha murni bank yang bersangkutan setelah dikurangi biaya operasi (operating expense).

Rumus Gross Profit Margin – GPM – Bank

Nilai gross profit margin dapat dinyatakan dengan menggunakan rumus dari persamaan berikut;

GPM = (OI – OE)/(OI) x 100%

GPM = Gross Profit Margin

OI = Operating Income

OE = Operating Expense

Gross Profit Margin (GPM) adalah rasio yang menunjukkan perbandingan antara pendapatan operasional dikurangi biaya operasional dengan pendapatan operasional.

Nilai Standar Gross Profit  Margin – Bank

GPM: > 1,22% = sangat baik

GPM: 0,99 – 1,21 % = baik

GPM: 0,77 – 0,98% = kurang baik

GPM: < 0,76% = tidak baik

Contoh Soal Perhitungan Rasio Rentabilitas – Profitabilitas Bank

Data data keuangan yang dipergunakan dalam perhitungan rasio likuiditas suatu bank adalah laporan keuangan neraca. Berikut contoh laporan laba rugi bank yang sudah disederhanakan untuk Latihan perhitungan rasio rentabilitas suatu bank.

Contoh Soal Perhitungan Rasio Rentabilitas – Profitabilitas Bank
Contoh Soal Perhitungan Rasio Rentabilitas – Profitabilitas Bank

1). Contoh Soal Perhitungan Gross Profit Margin – Bank

Dengan Menggunakan data dari contoh laporan keuangan Laba rugi bank di atas hitunglah gross profit margin bank tersebut.

Menentukan Data Gross Profit Margin – GPM – Bank

Data data keuangan bank yang dipergunakan dalam perhitungan gross profit margin adalah data yang termasuk komponen operating income dan operating expense.

Data keuangan yang termasuk  dalam komponen operating income adalah jumlah pendapatan bunga dan pendapatan operasional lainnya.

Sedangkan data keuangan yang termasuk dalam komponen operating expense adalah beban bunga dan beban operasional.

Data data keuangan dari contoh laporan laba rugi bank yang dibutuhkan untuk perhitungan gross profit margin ditunjukkan dalam table seperti berikut:

1). Contoh Soal Perhitungan Gross Profit Margin - Bank
Contoh Soal Perhitungan Gross Profit Margin – Bank

Menghitung Gross Profit Margin – GPM – Bank

Besarny nilai gross profit margin suatu bank dapat dinyatakan dengan persamaan berikut

GPM = (OI – OE)/(OI) x 100%

GPM = Gross Profit Margin

OI = Operating Income

OI = 825

OE = Operating Expense

OE = 625

GPM = (825 – 628)/(825) x 100%

GPM = 23,89 %

GPM 23,89 persen artinya bank mampu mendapatkan laba kotor sebesar 23,89 persen dari pendapatan operasionalnya.

Setiap 100 rupiah dari pendapatan operasional bank akan diperoleh laba kotor sebasar 23,89 rupiah. Atau setiap 100 rupiah dari pendapatan operasional bank digunakan untuk biaya (beban) operasional sebesar 76,11 rupiah.

2). Net Profit Margin – NPM – Bank

Net profit margin merupakan rasio yang menunjukkan kemampuan bank dalam menghasil net income dari kegiatan operasi pokoknya.

Rumus Net Profit Margin – NPM – Bank

NPM = (NI)/(OI) x 100%

NPM = Net Profit Income

NI = Net Income

OI = Operating Income

NPM (Net Profit Margin) merupakan perbandingan antara laba bersih dan pendapatan operasional. Rasio ini menunjukkan berapa besar persentase laba bersih yang bisa diperoleh bank dari setiap pendapatan operasionalnya.

2). Contoh Soal Perhitungan Net Profit  Margin – Bank

Dari data data keuangan dalam contoh laporan keuangan laba rugi di atas hitunglah net profit margin bank tersebut

Menentukan Data Net Profit Margin – Bank

Data data keuangan bank yang dipergunakan dalam perhitungan net profit margin adalah data yang termasuk komponen operating income dan net income

Data keuangan yang termasuk  dalam komponen operating income adalah jumlah pendapatan bunga dan pendapatan operasional lainnya. Sedangkan data keuangan yang termasuk dalam komponen net income adalah laba bersih tahun berjalan.

Data data keuangan dari contoh laporan laba rugi bank yang dibutuhkan untuk perhitungan net profit margin ditunjukkan dalam table seperti berikut:

2). Contoh Soal Perhitungan Net Profit Margin – Bank
Contoh Soal Perhitungan Net Profit Margin – Bank

Menghitung Net Profit Margin – NPM – Bank

Net profit margin dapat dihitung dengan menggunakan persamaan berikut:

NPM = (NI)/(OI) x 100%

NPM = Net Profit Income

NI = Net Income = 144

OI = Operating Income = 825

NPM = (144)/(825) x 100%

NPM = 17,45 %

Nilai NPM 17,45 persen artinya manajemen bank mampu mendapatkan laba bersih – net income sebesar 17,45 persen dari pendapatan operasionalnya.

Dari 100 rupiah pendapatan operasional bank akan diperoleh 17,45 rupiah laba bersih (net income). Atau dari 100 rupiah operating income bank digunakan untuk membiayai beban usaha bank sebesar 82,54 rupiah.

3). Return on Equity Capital – ROE – Bank

Return on equity capital merupakan rasio yang menunjukkan kemampuan bank dalam mengelola modal yang ada untuk mendapatkan laba bersih (net income).

Rumus Return on Equity Capital – ROE – Bank

Besarnya return on equity capital suatu bank dapat dirumuskan dengan menggunakan persamaan berikut

ROE = (NI)/(EC) x 100%

ROE = Return on equity capital

NI = Net income

EC = Equity capital

Return on equity capital ROE merupakan perbandigan antara laba bersih yang diperoleh bank dengan modal sendiri. Rasio ini menunjukkan kemampuan bank dalam memperoleh laba bersih dari pengelolaan equity capital yang dimilikinya.

Semakin tinggi nilai ROE maka, semakin baik kemampuan manajemen bank dalam mengelola modal untuk mendapatkan laba bersih.

Nilai Standar Return on Equity – ROE – Bank

ROE: > 1,215% = sangat baik

ROE: 0,999 – 1,215 % = baik

ROE: 0,765 – 0,999% = kurang baik

ROE: < 0,765% = tidak baik

3). Contoh Soal Perhitungan Return on Equity Capital – ROE – Bank

Dengan menggunakan data data keuangan yang terdapat dalam contoh laporan keuangan laba rugi bank di atas, hitunglah ROE bank tersebut

Menentukan Data Keuangan Return on Equity Capital – ROE – Bank

Adapun data data keuangan bank yang dipergunakan dalam perhitungan Return on Equity Capital – ROE adalah data yang termasuk komponen net income dan equity capital.

Data keuangan yang termasuk  dalam komponen net income  adalah laba rugi tahun berjalan.

Sedangkan data keuangan equity capital terdapat dalam Contoh Laporan Neraca Bank 

“Contoh Laporan Necara – Perhitungan Rasio Likuiditas dan Solvabilitas”

Data keuangan yang termasuk dalam komponen equity capital adalah modal disetor, dana setoran modal, cadangan umum, cadangan lainnya, sisa laba tahun lalu, laba tahun berjalan.

Data data keuangan dari contoh laporan laba rugi dan neraca bank yang dibutuhkan untuk perhitungan Return on Equity Capital – ROE ditunjukkan dalam table seperti berikut:

3). Contoh Soal Perhitungan Return on Equity Capital – ROE – Bank
Contoh Soal Perhitungan Return on Equity Capital – ROE – Bank

Menghitung Return on Equity Capital – ROE – Bank

Nilai return on equity capital – ROE suatu bank dapat dinyatakan dengan menggunakan rumus berikut:

ROE = (NI)/(EC) x 100%

ROE = Return on equity capital

NI = Net income = 144

EC = Equity capital = 536,5

ROE = (144)/(536,5) x 100%

ROE = 26,84 %

Bank memiliki Nilai ROE  26,84 persen. Artinya bank mampu mendapatkan laba bersih – net income sebesar 26,84 persen dari pendapatan operasionalnya.

Dari 100 rupiah pendapatan operasional bank akan diperoleh 26,84 rupiah laba bersih (net income). Sedangkan sisanya yaitu sebesar 73,16 rupiah (Rp 100 – Rp 26,84) digunakan untuk membiayai beban usaha bank.

3). Return on Assets – ROA – Bank

Return On Asset (ROA) merupakan alat yang digunakan untuk mengetahui tingkat efektifitas bank dalam mendapatkan laba atau keuntungan melalui pemanfaatan asset yang dimilikinya. ROA sering juga disebut dengan Net Income Total Assest.

Semakin besar ROA, maka semakin tinggi tingkat keuntungan yang diperoleh bank. Artinya, manajemen bank tersebut mampu menggunakan assetnya dengan baik.

Rumus Return on Assets –  ROA – Bank

Besaran return on assets dapat dirumuskan dengan menggunakan persamaan berikut

ROA = (Net Income)/(Total Assets) x 100%

Dari rumusnya dapat diketahui bahwa, ROA dihitung dengan membagi laba bersih (net income) dengan aset bank secara keseluruhan (total asset), sehingga disebut juga Net Income Total Assets.

Rumus ini berguna bagi manajemen bank, investor, ataupun analis untuk memberi gambaran seberapa mampu manajemen bank mengelola asset bank. Semakin tinggi nilai ROA suatu bank, semakin baik pengelolaan bank terhadap asset-nya.

Nilai Standar Return on Assets – ROA – Bank

ROA: > 1,215% = sangat baik

ROA: 0,999 – 1,215 % = baik

ROA: 0,765 – 0,999% = kurang baik

ROA: < 0,765% = tidak baik

4). Contoh Soal Perhitungan Rumus Return on Assets – ROA – Bank

Dengan menggunakan data data keuangan dalam contoh laporan laba rugi bank di atas dan laporan neraca pada link artikel ini…

“Contoh Laporan Necara – Perhitungan Rasio Likuiditas dan Solvabilitas”

Tentukanlah besar ROA bank tersebut:

Menentukan Data Keuangan Return on Assets – ROA – Bank

Data keuangan yang dibutuhkan untuk dapat menghitung ROA suatu bank adalah data net incame dan total assets.

Data keuangan yang masuk komponen net income adalah laba rugi tahun berjalan, sedangkan komponen total assets seluruh komponen keuangan yang ada dalam aktiva atau asset atau harta pada laporan neraca.

Data data keuangan dari contoh laporan laba rugi dan neraca bank yang dibutuhkan untuk perhitungan Return on Assets – ROA ditunjukkan dalam table seperti berikut:

4. Contoh Soal Perhitungan Rumus Return on Assets – ROA - Bank
4. Contoh Soal Perhitungan Rumus Return on Assets – ROA – Bank

Menghitung Return on Assets – ROA – Bank

Besar return on assets bank dapat dihitung dengan rumus berikut

ROA = (NI)/(TA) x 100%

NI = net income = 144

TA = total assets = 6680

ROA = (144)/(6680) x 100%

ROA = 2,2 %

Jadi bank memiliki nilai ROA = 2,2%. Ini artinya, Bank mampu mendapatkan laba bersih setelah pajak (net income) sebesar 2,2 persen dari pengelolan seluruh aktiva yang dimiliki oleh bank tersebut.

Setiap 100 rupiah dari assets yang digunakan untuk usaha bank akan menghasilkan laba bersih sebesar 2,2 rupiah.

5). Interest Margin on Earning Assets – NIM – Bank

Interest Margin on Earning Assets merupakan rasio yang menenjukkan kemampuan manajemen bank dalam mengendalikan biaya biaya yang dikeluarkan bank.

Rumus Interest Margin on Earning Assets – Bank

Besarnya Interest Margin on Earning Assets suatu bank dapat dihitung dengan menggunakan rumus seperti berikut

IMEA = (II – IE)/(EA) x 100%

IMEA = interest margin on earning assets

II = interest income

IE = interest expense

EA = earning assets

Dari rumusnya dapat diketahui bahwa interest margin on earning assets merupakan rasio yang dihitung dengan membagi pendapatan bunga bersih terhadap aset produktif (aktiva produktif) yang dimiliki bank.

Rasio ini biasa disebut juga “Net Interest Margin” – NIM dengan rumus sebagai berikut

NIM = (Net Interest Income)/(Earning Assets) x 100% atau

NIM = (Pendapatan bunga bersih)/(Aktiva Produktif) x 100%

Nilai yang tinggi dari rasio ini, menunjukkan semakin tingginya kemampuan manajemen bank dalam mengendalikan biaya biaya (biaya bunga) yang timbul akibat usahannya.

5). Contoh Soal Perhitungan Interest Margin on Earning Assets – Bank

Dengan menggunakan data data keuangan dalam contoh laporan laba rugi bank di atas dan laporan neraca bank pada link artikel ini…

“Contoh Laporan Necara – Perhitungan Rasio Likuiditas dan Solvabilitas”

Tentukanlah nilai Interest Margin on Earning Assets bank tersebut

Menentukan Data Perhitungan Interest Margin on Earning Assets – NIM – Bank

Untuk dapat menghitung besarnya interest margin on earning asset suatu bank diperlukan data keuangan Interest income, interest expense dan earning assets.

Interset income adalah jumlah pendapatan bunga yang terdiri atas penghasilan bunga, baik dalam rupiah maupun valuta asing dan penghasilan dari provisi beserta komisi kredit baik rupiah maupun valuta asing.

Interest expense adalah jumlah beban bunga yang terdiri atas beban bunga, baik dalam rupiah maupun dalam valuta asing serta beban lainnya.

Sedangkan data keuangan earning asset merupakan komponen dari aktiva dalam laporan neraca bank yang terdiri atas surat berharga (efek – efek), deposito, pinjaman yang disalurkan pada masyarakat baik dalam rupiah maupun dalam valuta asing, serta dana dalam penyertaan.

Data data keuangan yang diperlukan untuk menghitung interest margin on earning asset suatu bank ditunjukkan dalam table berikut

5. Contoh Soal Perhitungan Interest Margin on Earning Assets – Bank
5. Contoh Soal Perhitungan Interest Margin on Earning Assets – Bank

Menghitung Interest Margin on Earning Assets Bank

Besarnya nilai Interest Margin on Earning Assets Bank dapat dihitung dengan menggunakan rumus berikut

IMEA = (II – IE)/(EA) x 100%

IMEA = interest margin on earning assets

II = interest income = 336

IE = interest expense =184

EA = earning assets = 4050,5

IMEA = (336 – 184)/(4050,5) x 100%

IMEA = 3,75%

Jadi, bank memiliki nilai Interest Margin on Earning Assets sebesar 3,75%. Hal ini menunjukkan bahwa bank mampu mendapatkan bunga bersih sebesar 3,75 persen dari earning assets atau aset produktif yang dimiliki bank.

Bank akan memperoleh bunga bersih sebesar 3,75 rupiah dari 100 rupiah asset produktif yang dikelolanya.

6). Asset Utilization – Bank

Asset utilization merupakan rasio yang menunjukkan kemampuan manajemen bank dalam menggunakan asset untuk memperoleh pendapatan baik operating income maupun non operating income.

Rumus Asset Utilization – Bank

Besar rasio rentabilitas yang menunjukkan asset utilization dapat dinyatakan dengan persamaan berikut

Assets Utilization =(OI + NOI)/(TA) x 100%

OI = operating income

NOI = non operating income

TA = total assets

Dari rumusnya dapat diketahui, bahwa rasio ini menunjukkan perbandingan antara pendapatan operasi ditambah pendapatan non operasional terhadap total asset atau total aktiva yang dimiliki bank.

Semakin tinggi nilai Assets utilization suatu bank, semakin baik manajemen dalam menggunakan asset untuk memperoleh pendapatan.

6). Contoh Soal Perhitungan Asset Utilization – Bank

Dengan menggunakan data data keuangan dalam contoh laporan laba rugi bank di atas dan laporan neraca bank pada link artikel ini…

“Contoh Laporan Necara – Perhitungan Rasio Likuiditas dan Solvabilitas”

Tentukanlah nilai Assets utilization bank tersebut

Menentukan Data Keuangan Assets Utilization Bank

Data keuangan yang diperlukan untuk menghitung assets utilization adalah data data yang masuk dalam komponen operating income, non operating income, dan total assets yang ditunjukkan dalam table berikut:

6). Contoh Soal Perhitungan Asset Utilization – Bank
Contoh Soal Perhitungan Asset Utilization – Bank

Menghitung Assets Utilization – Bank

Besarnya assets utilization suatu bank dapat dirumuskan dengan menggunakan persamaan berikut:

Assets Utilization = (OI + NOI)/(TA) x 100%

OI = operating income = 825

NOI = non operating income = 25

TA = total assets = 6680

Assets Utilization = (825 + 25)/(6680) x 100%

Assets Utilization = 12,72%

Dengan nilai asset utilization sebesar 12,72%, maka bank mampu memperoleh pendapatan operasional dan non operasional sebesar 12,72 persen dari total aktiva yang dikelolanya.

Manajemen bank mampu mendapatkan 12,72 rupiah dari setiap 100 rupiah aktiva yang digunakan untuk usahanya.

7). Rate Return on Loans – Bank

Rate return on loan merupakan rasio yang menunjukkan kemampuan manajemen bank dalam mengelola perkreditan dalam rangka memperoleh keuntungan dari bunga.

Rumus Rate Return on Loans – Bank

Rate  Return on loans suatu bank dapat dihitung dengen menggunakan persamaan berikut

RRL = (II)/(TL) x 100%

RRL = Rate Return on Loans

II = Interest Income

TL = Total Loans

Rate return on loans merupakan rasio yang dibentuk dengan membandingkan pendapatan bank dari bunga (interest income) terhadap total dana yang disalurkan melalui kredit (total loans).

Rasio ini menunjukkan kontribusi kredit yang telah dipinjamkan kepada mesyarakat terhadap keuntungan pada bank. Semakin tinggi nilai rate return on loans, semakin besar kontribusi kredit terhadap keuntungan bank.

Besar kecilnya pendapatan bunga yang akan diperoleh bank sangat ditentukan oleh kemampuan manajemen bank dalam mengelola penyaluran kreditnya.

7). Contoh Soal Perhitungan Rate Return on Loans – Bank

Dengan menggunakan data keuangan dalam contoh laporan laba rugi bank di atas dan laporan neraca yang terdapat pada link artikel ini…

“Contoh Laporan Necara – Perhitungan Rasio Likuiditas dan Solvabilitas”

Tentukanlah nilai rate return on loans bank tersebut

Menentukan Data Keuangan Rate Return on Loans Bank

Data keuangan yang diperlukan untuk menghitung rate return on loans adalah data data yang masuk dalam komponen interest income, dan total loan yang ditunjukkan dalam table berikut:

7). Contoh Soal Perhitungan Rate Return on Loans – Bank
Contoh Soal Perhitungan Rate Return on Loans – Bank

Menghitung Rate Return on Loans Bank

Besaran rate return on loans dapat ditentukan dengan rumus berikut

RRL = (II)/(TL) x 100%

RRL = Rate Return on Loans

II = Interest Income = 336

TL = Total Loans = 3580

RRL = (336)/(3580) x 100%

RRL = 9,39%

Nilai rate return on loans bank adalah 9,39%. Hal ini menunjukkan bahwa kontribusi kredit yang disalurkan kepada masyarakat terhadap pendapatan bank dari bunga adalah 9,39 persen.

Manajemen bank memiliki kemampuan untuk mendapatkan 9,39 persen dari pengelolaan perkreditannya. Bank akan memperoleh 9,39 rupiah dari setiap 100 rupiah dana yang disalurkan melalui kredit.

8). Interest Margin on Loans – Bank

Interest margin on loans merupakan rasio yang menunjukkan sebarapa mampu bank mendapatkan keutungan bunga bersih dari pengelolaan perkreditan.

Rumus Interest Margin on Loans – Bank

Besaran interest margin on loans dapat dinyatakan dengan menggunakan rumus berikut

Interest margin on loans = (II – IE)/(TL) x 100%

II = interest income

IE = interest expense

TL = total loans

Berdasarkan pada rumus di atas dapat diketahui bahwa interest margin on loans merupakan rasio yang membandingkan pendapatan bersih terhadap total dana yang dipinjamkan pada masyarakat.

Rasio ini akan memberikan gambaran tentang kontribusi total loans terhadap keuntungan bank yang berupa pendapatan bunga bersih. Semakin tinggi nilai interest margin on loans, semakin tinggi pendapatan bunga bersih yang diperoleh bank tersebut.

8). Contoh Soal Perhitungan Interest Margin on Loans – Bank

Dengan menggunakan data keuangan dalam contoh laporan laba rugi bank di atas dan laporan neraca yang terdapat pada link artikel ini…

“Contoh Laporan Necara – Perhitungan Rasio Likuiditas dan Solvabilitas”

Tentukanlah nilai interest margin on loans bank tersebut

Menentukan Data Keuangan Interest Margin on Loans – Bank

Data yang dibutuhkan untuk menghitung rasio interest margin on loans adalah data yang masuk komponen interest income, interest expense, dan total loans seperti ditunjukkan pada table berikut:

8). Contoh Soal Perhitungan Interest Margin on Loans – Bank
8). Contoh Soal Perhitungan Interest Margin on Loans – Bank

Menghitung Interest Margin on Loans – Bank

Interest margin on loans dapat dihitung dengan menggunakan persamaan seperti berikut

IML = (II – IE)/(TL) x 100%

IML = Interest margin on loans

II = interest income

IE = interest expense

TL = total loans

IML = (336 – 184)/(3580) x 100%

IML = 4,25%

Jadi, nilai interest margin on loans adalah 4,25%, yang berarti total loans memberikan kontribusi terhadap pendapatan bunga bersih bank yaitu sebesar 4,25 persen.

Bank mampu mengambil keuntungan 4,25 rupiah dari setiap 100 rupiah dana yang dikelola melalui perkreditan.

9). Rasio Beban Operasi Pendapatan Operasi – BOPO – Bank

BOPO rasio rentabilitas atau profitabilitas memperlihatkan kemampuan suatu bank dalam mengelola beban operasional untuk memperoleh pendapatan operasionalnya.

Semakin besar nilai BOPO, semakin besar beban operasional yang harus ditanggung oleh pendapatan operasional bank.

Rumus Rasio Beban Operasi Pendapatan Operasi – BOPO – Bank

Besar rasio BOPO suatu bank dapat dinyatakan denga rumus berikut:

BOPO = (OE)/(OI) x 100%

OE = operating expense (beban operasional)

OI = operating income = pendapatan operasional

Dari rumusnya dapat diketahui bahwa BOPO merupakan perbandingan antara operating expense terhadap operating income.

Semakin tinggi nilai BOPO, maka semakin besar biaya operasional yang harus dikeluarkan oleh bank. Nilai BOPO yang tinggi, dapat juga menunjukkan semakin kecilnya pendapatan operasional bank.

9). Contoh Soal Perhitungan Rasio BOPO – Bank

Dengan menggunakan data keuangan dari contoh laporan laba rugi di atas, hitungan nilai BOPO bank tersebut:

Menentukan Data Keuangan Untuk BOPO Bank,

Data yang digunakan untuk perhitungan BOPO bank adalah data keuangan yang terasuk dalam kompoenen operating income dan operating expense.

Operarting income – pendapatan operasional terdiri dari pendapatan Bunga  dan pendapatan operasi lainya. Sedangkan operating expense terdiri dari biaya bunga dan biaya operasi lainnya.

Data yang dibutuhkan untuk perhitungan BOPO ban ditunjukkan dalam table berikut

9) Contoh Soal Menentukan Data Keuangan Untuk BOPO Bank,
9) Contoh Soal Menentukan Data Keuangan Untuk BOPO Bank,

Menghitung Rasio BOPO – Bank

Nilai BOPO suatu bank dapat dihitung dengan menggunakan persamaan berikut:

BOPO = (OE)/(OI) x 100%

OE = beban operasional = 628

OI = pendapatan operasional = 825

BOPO = (628/825) x 100%

BOPO = 76,12%

Nilai BOPO sebesar 76,12 persen ini menunjukkan bahwa 76,12 persen beban operasional bank dibiayai oleh pendapatan operasionalnya.

Setiap 100 rupiah pendapatan operasional yang diperoleh bank akan digunakan untuk membiayai operasinal bank sebesar 76,12 rupiah.

Daftar Pustaka:

  1. Ismail, 2010, “Manajemen Perbankan – Dari Teori Menuju Aplikasi” Edisi Pertama, Catakan 5, Prenadamedia Group, Jakarta
  2. Kasmir, 2000, “Manajemen Perbankan”, Edisi Revisi, Cetakan 13, PT Rajagrafindo Persada, Jakarta.
  3. Darmawi, Herman, 2011, “Manajemen Perbankan”, Cetakan 4, PT Bumi Aksara, Jakarta.
  4. Suhardjono, M.K., 2012, “Manajemen Perbankan – Teori dan Aplikasi”, Edisi Kedua, Cetakan 2, BPFE, Yogyakata.
  5. Taswan, 2010, “Manajemen Perbankan – Konsep Teknik dan Aplikasi”, Edisi Kedua, UPP STIM YKPN Yogyakarta.
  6. Kasmir, 2012, “Dasar Dasar Perbankan”, Edisi Revisi, Rajawali Pers, Jakarta.
  7. Djumhana, Muhamad, 2006, “Hukum Perbankan di Indonesia”, Cetakan Kelima, PT Citra Aditya Bakti, Bandung.
  8. Kasmir, 2015, “Bank dan Lembaga Keuangan Lainnya”, Edisi Revisi, Rajawali Pers, Jakarta.
  9. Mangani, Silvanita, Ktut, 2009, “Bank dan Lembaga Keuangan Lain”, Penerbit Erlangga, Jakarta.
  10. Mishkin, S., Frederic, 2008’ “Ekonomi Uang, Perbankan, dan Pasar Uang”, Edisi Kedelapan, Salemba Empat, Jakarta.
  11. Joesoef, Jose Rizal, 2008, “Pasar Uang dan Pasar Valuta Asing”, Salemba Empat, Jakarta.
  12. Djamil, Fathurrakman, 2012, “Penerapan Hukum Perjanjian dalam Transaksi di Lembaga Keuangan Syariah”, Cetakan Pertama, Sinae Grafika, Jakarta.
  13. Fuady, Munir, 2004, “Hukum Perbankan Modern”, Buku Kedua, Citra Aditya Bakti, Bandung.
  14. Machmud, A. Rukmana, H., 2010, “Bank Syariah, Teori, Kebijakan, dan Studi Empiris di Indonesia”, Penerbit Erlangga, Jakarta.
  15. Pengertian Contoh Soal Perhitungan Ratio Rentabilitas Bank: GPM – NPM – ROE – ROA – Interest Margin on Earning Assets – Assets Utilization – Rate Return on Loans – Interest Margin on Loans,

Perhitungan Solvabilitas Bank: Primary Ratio – Risk Asset Ratio – Secondary Risk Ratio – Capital Ratio – CAR – Bank

Pengertian Solvabilitas Bank: Solvabilitas merupakan ukuran kemampuan suatu bank untuk menanggung kerugian- kerugian yang tidak dapat dihindarkan dan sebagai alat ukur besar kecilnya kekayaan bank yang dimiliki oleh para pemegang sahamnya.

Pengertian Rasio Keuangan Bank

Pada dasarnya rasio keuangan merupakan indeks yang menghubungkan antara dua angka akuntansi atau lebih yang diperoleh dengan cara membagi satu atau lebih angka dengan angka lainnya. Nilai atau indek dari rasio keuangan digunakan untuk mengevaluasi kondisi keuangan dan kinerja perusahaan.

Pengertian Ratio Solvabilitas

Rasio solvalbilitas adalah rasio yang menunjukkan indek kemampuan suatu bank dalam mencari sumber dana untuk membiayai kegiatannya. Rasio ini merupakan alat ukur untuk melihat kekayaan bank untuk melihat efisiensi bagi pihak manajemen bank dalam menjalankan aktivitasnya.

Rasio solvabilitas dapat memberikan informasi apakah modal bank cukup untuk mendukung operasi bank dan mampu menanggung kerugian kerugian bank yang terjadi dalam penanaman dana atau penurunan aktiva.

Kemampuan perusahaan perbankan dalam mencari sumber dana dapat diukur dengan rasio primary ratio, capital ratio dan Capital Adequacy Ratio

1). Primary Ratio – PR – Bank

Primary ratio adalah rasio yang menunjukkan kemampuan modal bank dalam mempertahankan penurunan asset akibat kerugian yang tidak dapat terhindari atau diluar perhitungan estimasi.

Rumus Menghitung Primary Ration – PR – Bank


Besarnya primary ratio suatu bank dapat dinyatakan dengan menggunakan persamaan beikut:

PR = (EC)/(TA) x 100%

PR = primary ratio

EC = equity capital

TA = total asset

Primary ratio sebenarnya perbandingan antara  modal bank dalam equity capital terhadap total asset yang dimiliki oleh bank. Jadi primary ratio akan semakin tinggi, jika equity capital semakin besar. Atau primary ratio akan menjadi tinggi ketika total asset menurun.

Batas Standar Primary Ratio – PR – Bank

Nilai indikator rasio keuangan menurut Surat Edaran Bank Indonesia No.6/1/23/DPNP tanggal 31 Mei 2004 tentang penilaian tingkat kesehatan bank umum adalah sebagai berikut:

PR: >14,5% = sangat baik

PR: 12,6 – 14,5% = baik

PR: 10,35 – 12,60 = kurang baik

PR: < 10,35% = tidak baik

Contoh Soal Perhitungan Primary Ratio – PR – Bank

2). Risk Assets Ratio – RAR – Bank

Risk assets ratio adalah rasio yang digunakan untuk mengukur risiko kerugian akibat terjadinya penurunan nilai asset dan seberapa sejauh penurunan tersebut dapat ditanggung oleh modal bank.

Rumus Menghitung Risk Assets Ratio – RAR – Bank

Risk assets ratio dihitung dengan menggunakan persamaan berikut

RAR = (EC)/(TA – CA – S) x 100%

RAR = risk assets ratio (%)

EC = equity capital

TA = total asset

CA = cash asset

S = securities

Contoh Soal Perhitungan Risk Assets Ratio – RAR – Bank

3). Secondary Risk Ratio – SRR – Bank

Secondary risk ratio adalah rasio yang menunjukkan adanya kemungkinan penurunan asset yang memiliki risiko lebih tinggi.

Rumus Secondary Risk Ratio – SRR – Bank

Secondary risk rastio suatu bank dapat dihitung dengan menggunakan rumus berikut

SRR = (EC)/(SRA) x 100%

SRR = secondary risk ratio

EC = equity capital

SRA = secondary risk assets

SRA = TA – CA – S – Low risk assets

TA = total asset

CA = Cash asset

S = securities

Contoh Soal Perhitungan Secondary Risk Ratio SRR Bank

4). Capital Adequacy Ratio  – CAR – Bank

Capital Adequacy ratio menunjukkan kemampuan bank dalam mempertahankan modal yang cukup dan kemampuan manajemen dalam mengidentifikasi, mengawasi dan mengontrol timbulnya resiko- resiko yang dapat berpengaruh terhadap besar kecilnya modal bank.

Capital Adequacy Ratio (CAR) digunakan untuk mengukur kemampuan modal bank dalam menutupi kemungkinan terjadinya berbagai risiko kerugian akibat transaksi perkreditan dan transakasi surat- surat berharga yang dilakuknya.

Rumus Capital Adequacy Ratio 2 – CAR2 – Bank

Capital Adequacy Ratio 2 (CAR2) suatu bank dapat dinyatakan dengan rumus berikut:

CAR 2= (EC – FA)/(TL + S) x 100%

EC = Equity Capital

FA = Fixed Asset

TL = Total Loans

S = Securities

Capital Adequacy Ratio (CAR) merupakan rasio modal yang merepresentasikan kemampuan bank dalam menyediakan dana untuk keperluan pengembangan usaha serta menanggung kemungkinan risiko kerugian yang diakibatkan oleh operasional bank.

Semakin besar Capital Adequacy Ratio (CAR) yang dimiliki oleh bank, maka semakin baik posisi modal bank tersebut

Batas Standar Capital Adequacy Ratio – Bank

Adapun nilai indikator rasio keuangan menurut Surat Edaran Bank Indonesia No.6/1/23/DPNP tanggal 31 Mei 2004 tentang penilaian tingkat kesehatan bank umum sebagai berikut:

CAR: > 20% = sangat baik

CAR: 12% – 20% = bailk

CAR: 8% – 12% = kurang baik

CAR: < 8% tidak baik

Contoh Soal Perhitungan Capital Adequacy Ratio – Bank

5). Capital Ratio – CR – Bank

Capital ratio menunjukkan kemampuan modal equity dan cadangan untuk kerugian kredit dalam menanggung risiko kredit yang disalurkan pada masyarakat. Risiko yang dapat terjadi adalah bunga yang gagal ditagihkan atau penghapusan kredit.

Capital Ratio suatu bank dapat dinyatakan dengan menggunakan persamaan berikut:

CR = (EC + RL)/(TL) x 100%

CR = capital ratio

EC = equity capital

RL = reserve for loans losses

TL = total loans

Reserve for loan losses terdiri dari pencadangan kredit lancar, dalam perhatian khusus, kurang lancar, diragukan, dan macet.

Batas Standar Capital Ratio – CR – Bank

Adapun nilai indikator rasio keuangan menurut Surat Edaran Bank Indonesia No.6/1/23/DPNP tanggal 31 Mei 2004 tentang penilaian tingkat kesehatan bank umum sebagai berikut:

CR: > 81% = sangat baik

CR: 66% – 81% = bailk

CR: 51% – 66% = kurang baik

CR: < 51% tidak baik

Contoh Soal Perhitungan Rasio Solvabilitas Bank

Data data keuangan yang dipergunakan dalam perhitungan rasio solvabilitas suatu bank adalah laporan keuangan neraca. Berikut contoh laporan neraca bank yang sudah disederhanakan untuk Latihan perhitungan rasio solvabilitas suatu bank.

Contoh Soal Perhitungan Laporan Neraca Rasio Solvabilitas Bank
Contoh Soal Perhitungan Laporan Neraca Rasio Solvabilitas Bank

1). Contoh Soal Perhitungan Primary Ratio – PR – Bank

Dengan menggunakan data data keuangan dari contoh laporan neraca di atas, hitunglah primary ratio (PR) bank tersebut.

Menentukan Data Keuangan Untuk Primary Ratio

Data data keuangan bank yang dipergunakan dalam perhitungan primary ratio adalah data yang termasuk komponen equity capital dan total asset.

Data keuangan yang tergolong dalam pos equity adalah modal disetor, dana setoran modal, cadangan umum, cadangan lainnya, sisal laba tahun lalu, dan laba tahun berjalan,

Sedangkan data keuangan yang termasuk dalam komponen total asset adalah semua data keuangan yang terdapat dalam komponen aktiva (asset atau harta).

Data data keuangan dari contoh laporan neraca bank yang dibutuhkan untuk perhitungan primary ratio ditunjukkan dalam table seperti berikut:

1 Contoh Soal Perhitungan Primary Ratio – PR – Bank
1 Contoh Soal Perhitungan Primary Ratio – PR – Bank

Rumus Menghitung Primary Ratio – PR – Bank

Primary ratio suatu bank dapat dirumuskan dengan menggunakan persamaan berikut

PR = (EC)/(TA) x 100%

PR = primary ratio (%)

EC = 536,5

TA = 6680

PR = (536,5/6680) x 100%

PR = 8,03%

Bank memiliki nilai primary ratio PR 8,03 persen, ini artinya jumlah modal bank dalam pos equity capital adalah 8,03 persen dari total asset yang dimiliki bank. Dana dari equity capital hanya berkontribusi 8,03 persen dari total asset yang dimiliki oleh bank.

Jadi, setiap satu rupiah asset yang digunakan untuk kegiatan bank dibiayai atau ditanggung oleh 0,0803 rupiah dana equity capital.

2). Contoh Soal Perhitungan Risk Assets Ratio – RAR – Bank

Dengan menggunakan data data keuangan dari contoh laporan neraca bank di atas, hitunglan risk assets ratio bank tersebut

Menentukan Data Untuk Risk Assets Ratio – RAR – Bank

Data data keuangan bank yang dipergunakan dalam perhitungan risk assets ratio adalah data yang termasuk komponen equity capital, total asset, cash assets dan securities.

Data keuangan yang tergolong dalam pos equity adalah modal disetor, dana setoran modal, cadangan umum, cadangan lainnya, sisal laba tahun lalu, dan laba tahun berjalan,

Data keuangan yang termasuk dalam komponen total asset adalah seluruh data keuangan yang terdapat dalam komponen aktiva (asset atau harta). Sedangkan data yang termasuk dalam komponen securities adalah efek – efek dan deposito

Data data keuangan dari contoh laporan neraca bank yang dibutuhkan untuk perhitungan risk assets ratio ditunjukkan dalam table seperti berikut:

Contoh Soal Perhitungan Risk Assets Ratio – RAR - Bank
Contoh Soal Perhitungan Risk Assets Ratio – RAR – Bank

Rumus Menghitung Risk Assets Ratio – RAR – Bank

Risk assets ratio dari suatu bank dapat dinyatakan dengan menggunakan rumus rasio seperti berikut

RAR = (EC)/(TA – CA – S) x 100%

RAR = risk assets ratio (%)

EC = equity capital = 536,5

TA = total asset = 6680

CA = cash asset = 1612

S = securities = 460

RAR = (536,5)/(6680 – 1612 – 460) x 100%

RAR = 11,64 %

Nilai risk assets ratio bank adalah 11,64 persen, ini artinya dana dalam equity capital dapat menanggung risiko 11,64 persen dari dana yang disalurkan ke masyarakat.

3). Contoh Soal Perhitungan Secondary Risk Ratio SRR Bank

Dengan menggunaka data data keuangan dalam contoh laporan neraca bank di atas, hitunglan secondary risk ratio bank tersebut:

Menentukan Data Keuangan Untuk Perhitungan Secondary Risk Ratio

Data data keuangan bank yang dipergunakan dalam perhitungan secondary risk ratio adalah data yang termasuk komponen equity capital, total asset, cash assets, securities dan low risk assets

Data keuangan yang tergolong dalam pos equity adalah modal disetor, dana setoran modal, cadangan umum, cadangan lainnya, sisal laba tahun lalu, dan laba tahun berjalan,

Data keuangan yang termasuk dalam komponen total asset adalah seluruh data keuangan yang terdapat dalam komponen aktiva (asset atau harta). Sedangkan data yang termasuk dalam komponen securities adalah efek – efek dan deposito.

Data keuangan yang termasuk dalam low risk assets adalah harta tetap, inventoris dan lain – lain.

Data data keuangan dari contoh laporan neraca bank yang dibutuhkan untuk perhitungan secondary risk ratio ditunjukkan dalam table seperti berikut:

3). Contoh Soal Perhitungan Secondary Risk Ratio SRR Bank
3). Contoh Soal Perhitungan Secondary Risk Ratio SRR Bank

Rumus Menghitung Secondary Risk Ratio – SRR – Bank

Secondary risk ratio suatu bank dapat dinyatakan dengan menggunakan rumus berikut:

SRR = (EC)/(SRA) x 100%

SRR = secondary risk ratio

EC = equity capital = 536,5

SRA = secondary risk assets

SRA = TA – CA – S – Low risk assets

TA = total asset = 6680

CA = Cash asset =1612

S = securities = 460

Low risk assets = 208

SRA = 6680 – 1612 – 460 – 208

SRA = 4400

Sehingga SRR -nya adalah

SRR = (536,5)/(4400) x 100%

SRR = 12,19 %

Dengan nilai secondary risk ratio 12,19 persen, maka modal equity bank dapat menanggung 12,19 persen dari biaya asset yang memiliki risiko tinggi.

4). Contoh Soal Perhitungan Capital Adequacy Ratio 2 (CAR2) Bank

Dengan menggunakan data data keuangan dari contoh laporan neraca di atas hitunglah Capital Adequacy Ratio 2 (CAR2) bank tersebut.

Menentukan Data Keuangan Untuk Capital Adequacy Ratio 2 (CAR2) Bank

Data data keuangan bank yang dipergunakan dalam perhitungan capital adequacy ratio 2 adalah data yang termasuk komponen equity capital yaitu modal disetor, dana setoran modal, cadangan umum, cadangan lainnya, sisal laba tahun lalu, dan laba tahun berjalan, Data keuangan yang termasuk dalam komponen fixed asset adalah benda tetap / inventoris.

Sedangan data keuangan yang termasuk dalam komponen total loans adalah pinjaman yang disalurkan dalam mata uang rupiah dan pinjaman yang disalurkan dalam valuta asing. Data keuangan yang tergolong dalam securities adalah efek – efek dan deposito.

Data data keuangan dari contoh laporan neraca bank yang dibutuhkan untuk perhitungan capital adequacy ratio ditunjukkan dalam table seperti berikut:

4). Contoh Soal Perhitungan Capital Adequacy Ratio 2 (CAR2) Bank
4). Contoh Soal Perhitungan Capital Adequacy Ratio 2 (CAR2) Bank

Rumus Menghitung Capital Adequacy Ratio 2 – CAR2 – Bank

Besarnya capital adequacy ratio suatu bank dapat dihitung dengan menggunakan rumus seperti ini

CAR2 = (EC – FA)/(TL + S) x 100%

EC = Equity Capital = 536,5

FA = Fixed Asset = 88

TL = Total Loans = 3580

S = Securities = 460

CAR2 = (536,5 – 88)/(3580 + 460) x 100%

CAR2 = 11,10 %

Nilai capital adequacy ratio 2 CAR2 11,10 persen menunjukkan bahwa modal berupa equity capital setelah dikurangi fixed asset hanya mampu membiayai dana nasabah dan surat berharga sebesar 11,10 persen dari seluruh deposit nasabah dan surat berharga.

Setiap satu rupiah dana yang disimpan oleh nasabah dan surat berharga hanya dapat dibiayai atau ditanggung oleh modal bank sebesar 0,111 rupiah.

5). Contoh Soal Perhitugan Capital Ratio CR Bank

Bank ABC memiliki data keuangan seperti ditunjukkan pada table dibawah. Tentukanlah nilai capital ratio ank tersebut.

5 Contoh Soal Perhitugan Capital Ratio CR Bank
5 Contoh Soal Perhitugan Capital Ratio CR Bank

Menentukan Data Untuk Perhitungan Capital Ratio Bank

Data data keuangan bank yang dipergunakan dalam perhitungan capital ratio adalah data yang termasuk komponen equity capital yaitu modal disetor, dana setoran modal, cadangan umum, cadangan lainnya, sisal laba tahun lalu, dan laba tahun berjalan,

Sedangan data keuangan yang termasuk dalam komponen total loans adalah pinjaman yang disalurkan dalam mata uang rupiah dan pinjaman yang disalurkan dalam valuta asing.

Data data keuangan dari contoh laporan neraca bank yang dibutuhkan untuk perhitungan capital ratio ditunjukkan dalam table seperti berikut:

Menghitung Capital Ratio – CR – Bank

Nilai Capital Ratio suatu bank dapat dihitung dengan menggunakan persamaan berikut:

CR = (EC + RL)/(TL) x 100%

CR = (536,5 + 420)/(3580) x 100%

CR = 26,72%

Nilai capital ratio CR 26,72 persen menunjukkan bahwa modal berupa equity capital dan reserve for loan losses hanya mampu membiayai dana nasabah sebesar 26,72 persen dari seluruh deposit nasabah.

Setiap satu rupiah dana yang didepositkan oleh nasabah hanya dapat dibiayai atau ditanggung oleh modal bank sebesar 0,26,72 rupiah.

Daftar Pustaka:

  1. Kasmir, 2012, “Dasar Dasar Perbankan”, Edisi Revisi, Rajawali Pers, Jakarta.
  2. Kasmir, 2012, “Manajemen Perbankan”, Edisi Revisi, RajaGrafindo Persada, Jakarta.
  3. Kasmir, 2015, “Bank dan Lembaga Keuangan Lainnya”, Edisi Revisi 2014, Rajawali Pers, Jakarta.
  4. Ismail, 2018, “Manajemen Perbankan – Dari Teori Menuju Aplikasi”, Edisi Pertama, Prenadamedia Group, Jakarta.
  5. Suhardjono, M, K., 2012, “ Manajemen Perbankan – Teori Dan Aplikasi”, Edisi Kedua, BPFE – Yogyakarta.
  6. Djumhana, Muhamad, 2006, “Hukum Perbankan di Indonesia”, Cetakan Kelima, PT Citra Aditya Bakti,  Bandung.
  7. Mangani, Silvanita, Ktut, 2009, “Bank dan Lembaga Keuangan Lain”, Penerbit Erlangga, Jakarta.
  8. Mishkin, S., Frederic, 2008’ “Ekonomi Uang, Perbankan, dan Pasar Uang”, Edisi Kedelapan, Salemba Empat, Jakarta.
  9. Joesoef, Jose Rizal, 2008, “Pasar Uang dan Pasar Valuta Asing”, Salemba Empat, Jakarta.
  10. Djamil, Fathurrakman,  2012, “Penerapan Hukum Perjanjian dalam Transaksi di Lembaga Keuangan Syariah”, Cetakan Pertama, Sinae Grafika, Jakarta.
  11. Fuady, Munir, 2004, “Hukum Perbankan Modern”, Buku Kedua, Citra Aditya Bakti, Bandung.
  12. Machmud, A. Rukmana, H., 2010, “Bank Syariah, Teori, Kebijakan, dan Studi Empiris di Indonesia”, Penerbit Erlangga, Jakarta
  13. Solvabilitas Bank: Rumus Perhitungan Primary Ratio Risk Asset Ratio Secondary Risk Ratio Capital Ratio Capital Adequacy Ratio Contoh Soal, Rumus Primary Ratio Risk Asset Ratio Secondary Risk Ratio Capital Ratio Capital Adequacy Ratio Bank,
  14. Contoh Soal Perhitungan Dan Pembahasan Primary Ratio Risk Asset Ratio Secondary Risk Ratio Capital Ratio Capital Adequacy Ratio Bank, Fungsi Manfaat Perhitungan Primary Ratio Risk Asset Ratio Secondary Risk Ratio Capital Ratio Capital Adequacy Ratio Bank, Pengertian Manfaat Perhitungan Rasio Solvabilitas Bank,

Jenis Produktivitas: Perhitungan Single- Factor Productivity – Multifactor Productivity – Produktivitas Faktor Total – Rated Capacity – Rencana Produksi – Cycle Time Produksi- Contoh Soal Rumus

Pengertian Produktivitas:  Produktivitas merupakan rasio antara output (barang dan jasa) dibagi dengan input (sumber daya seperti modal dan tenaga kerja).

Produktivitas yang tinggi selalu menjadi target rutin yang diambil oleh seluruh perusahaan dalam mencapai keutungan yang tinggi.

Pengertian Produktivitas Menurut Organization for European Economic Coorporation

Produktivitas adalah hasil bagi yang diperoleh dengan membagi keluaran dengan satu dari faktor-faktor produksi, yaitu kapital, investasi dan bahan mentah.

Pengertian Produktivitas Menurut Organization for Economic Cooperation and Development (OECD)

Produktivitas merupakan output dibagi dengan elemen- elemen produksi yang dimanfaatkan untuk mendapatkan output.

Pengertian Produktivitas Menurut Drucker 

Produktivitas adalah keseimbangan antara seluruh faktor-faktor produksi yang memberikan keluaran yang lebih banyak melalui penggunaan sumber daya yang lebih sedikit.

Pengertian Produktivitas Menurut Greenberg

Produktivitas adalah perbandingan antara totalitas pengeluaran pada waktu tertentu dibagi totalitas masukan selama periode tersebut.


Pengertian Produktivitas Menurut Mali

Produktivitas merupakan kombinasi dari efektivitas dan efisiensi”. Efektivitas berkaitan dengan unjuk kerja dalam mencapai tujuan dan efisiensi berkaitan dengan penggunaan sumber daya.

Produktivitas dicapai dengan hasil yang sebesa mungkin, dengan memakai sumber daya yang sekecil mungkin.

Pengertian Produktivitas Menurut Simanjuntak

Produktivitas secara philosopi merupakan suatu usaha untuk meningkatkan kualitas kehidupan kerja, yakni hari ini lebih baik dari hari kemarin.

Pengertian Produktivitas Menurut Sinungan,

Produktivitas adalah suatu pendekatan interdisipliner untuk menentukan tujuan yang efektif, pembuatan rencana, aplikasi penggunaan cara yang produktif untuk menggunakan sumber-sumber secara efisien dan tetap menjaga adanya kualitas yang tinggi

Pengertian Produktivitas Menurut Tjutju Yuniarsih

Produktivitas kerja dapat diartikan sebagai hasil konkrit (produk) yang dihasilkan oleh individu atau kelompok, selama satuan waktu tertentu dalam suatu proses kerja.

Cara Meningkatkan Produktivitas

Meningkatkan produktivitas berarti meningkatkan efisiensi. Peningkatan efisiensi dapat dicapai dengan dua cara.

Pertama adalah mengurangi input dengan menjaga output tetap konstan. Kedua adalah menjaga input tetap konstan.

Kedua cara tersebut sama-sama menggambarkan peningkatan produktivitas. Secara ekonomi, input meliputi tenaga kerja, modal, dan manajemen yang diintegrasikan dengan sistem produksi.

Sistem produksi akan memfasilitasi konversi input menjadi output. Output berupa barang dan jasa, sedangkan produksi adalah pembuatan barang dan jasa tersebut.

Walaupun produksi yang tinggi dapat dicapai dengan penggunaan banyak tenaga kerja, namun hal ini tidak menggambarkan produktivitas yang sebenarnya.

Rumus Menghitung Produktivitas

Penghitungan produktivitas dilakukan dengan menghitung input yang dapat berupa modal (jumlah uang yang diinvestasikan), material (ton atau kilogram), energi (kilowatt listrik), dan satuan-satuan lainnya. Sedangkan output dapat berupa jumlah barang unit, ton atau kg atau satuan output lainnya.

Rumus produktivitas dapat dinyatakan dengan menggunkan persamaan sebagai berikut.

P = O/I

P = produktivitas

O = output = unit atau uang diproduksi – dihasilkan

I = input = unit atau uang yang digunakan

Metoda Pengukuran Produktivitas Aktual Normatif

Produktivitas sebenarnya mengukur sesuatu yang telah dicapai dan seberapa tinggi tingkat pencapaian yang telah dilakukan. Ada dua metode yang populer untuk mengukur produktivitas dalam sebuah perusahaan.

Cara pertama adalah membuat perbandingan antara output dan input-nya. Hasil perbandingan metoda ini yang disebut dengan produktivitas masing- masing input.

Cara kedua adalah membuat perbandingan antara kondisi aktual dan normatif.  Dengan metoda kedua ini akan diketahui seberapa tinggi tingkat keberhasilan yang telah dicapai dalam perusahaan tersebut.

1). Contoh Soal Perhitungan Produktivitas Aktual

Perusahaan PT Ardra.biz memproduksi 400 unit produk dari inputan usaha yang dimilikinya. Perusuhaan membutuhkan 400 unit bahan baku dengan waktu tenaga kerja TKL sebesar 400 jam dan waktu operasi peralatan / mesin (alat) 300 jam. Seperti ditunjukkan dalam dalam table berikut:

Contoh Soal Rumus Perhitungan Produktivitas Aktual
Contoh Soal Rumus Perhitungan Produktivitas Aktual

Menghitung Produktivitas Aktual Masing Masing Input Produksi

Produktivitas masing masing variable input produksi dapat dihitung dengan menggunakan rumus berikut:

P = O/I

O = produk

O = 400 unit produk

I = input =  Bahan baku, TKL, Alat,

Menghitung Produktivitas Bahab Baku

O = produk = 400 unit

I = bahan baku = 200 unit

P = 400/200 = 2,00

P = 2 unit produk/unit bahan baku

Mengitung Produktivitas Tenaga Kerja

O = produk = 400 unit

I = jam tenaga kerja TKL = 400 jam

P = 400/400

P = 1 unit produk/jam tenaga kerja

Menghitung Produktivita Peralatan (Mesin / Alat)

O = produk = 400 unit

I = Mesin (alat) = 300 jam

P = 400/300

P = 1,33 unit/jam mesin

Dari hasil perhitungan dapat diketahui, bahwa produktivitas tenaga kerja merupakan factor input produksi yang paling rendah nilainya.

Tabel Rumus Menghitung Produktivitas Aktual Masing Masing Input Produksi
Tabel Perhitungan Produktivitas Aktual Masing Masing Input Produksi

2). Contoh Soal Menghitung Produktivitas Normatif

Produktivitas normative merupakan produktivitas yang ditetapkan berdasarkan beberapa pertimbangan. Produktivitas dapat ditetapkan berdasarkan pada data historis produksi seperti rata – rata, atau operasi yang terbaik, atau bisa ditetapkan berdasar pada uji teoritis atau berdasarkan pada disain operasi pada tahap investasi, atau dapat juga didasarkan pada keuntungan yang ingin dicapai.

Produktivitas normative menjadi acuan atau standar yang digunakan untuk mengevaluasi produktivitas operasi yang sedang berjalan.

Berikut data data yang digunakan oleh PT Ardra.biz untuk penetapan produktivitas normative atau standar produksinya seperti ditunjukkan pada table berikut:

Contoh Soal Menghitung Produktivitas Normatif
Contoh Soal Menghitung Produktivitas Normatif

Perhitungan produktivitas normative sama seperti pada perhitungan produktivitas actual. Hasilnya seperti berikut:

Cara Perhitungan Produktivitas Normative
Cara Perhitungan Produktivitas Normative

Kedua nilai produktivitas yaitu actual dan normative dapat dibandingkan untuk melihat sejauh mana produktivitas actual yang sedang berjalan dapat memenuhi keadaan standarnya.

Berikut table yang menunjukkan data produktivitas actual dan normative dari PT Ardra.biz

Tabel Evaluasi Produktivitas Actual dan Normative
Tabel Evaluasi Produktivitas Actual dan Normative

Dari table di atas dapat diketahui bahwa produktivitas actual (A) dari bahan baku dan tenaga kerja memiliki produktivitas yang lebih rendah dari standar (normative, N) yang telah ditetapkan.

Hal ini menunjukkan bahwa, perusahaan masih dapat meningkat produktivitas dengan memperbaiki kinerja dari tenaga kerja dan bahan bakunya.

Jenis- Jenis Produktivitas

Pada dasarnya produktivitas dapat dikatagorikan menjadi single factor productivity, multifactor productivity dan produktivitas factor total.

a). Pengertian Single- Factor Productivity

Single- factor productivity atau factor produktivitas tunggal adalah produktivitas yang dihitung dengan menggunakan satu unit input.

Jadi Single-Factor Productivity atau biasa disebut juga Produktivitas Parsial adalah perbandingan antara keluaran dengan salah satu faktor masukan.

Sebagai contoh, produktivitas tenaga kerja (rasio dari keluaran dan masukan tenaga kerja), produktivitas modal (rasio keluaran dan masukan modal), produktivitas material (rasio dari keluaran dan masukan material).

b). Pengertian Multifactor Productivity

Multifactor productivity adalah produktivitas yang dihitung dengan menggunakan lebih dari satu unit input atau melibatkan semua factor unit produksi seperti modal, tenaga kerja, material, dan energi.

Jadi, multi-factor productivity atau Produktivitas Total merupakan perbandingan antara keluaran dengan seluruh faktor masukan, dengan demikian produktivitas total mencerminkan pengaruh bersama seluruh masukan dalam mengasilkan keluaran.

Rumus Multifactor Productivity

Besarnya multifactor productivity yang melibatkan lebih dari satu unit input dapat dinyatakan dengan menggunakan persamaan berikut:

P = O/(L + M + E + K + Il)

P = produktivitas

O = output = unit yang dihasilkan

L = tenga kerja

M = material (bahan baku)

E = energi

K = modal

Il = input lainnya jika masih ada

Contoh Soal Perhitungan Di Akhir Artikel

c). Pengertian Produktivitas Faktor Total

Produktivitas Faktor Total adalah rasio keluaran bersih terhadap jumlah masukan faktor tenaga kerja dan faktor modal. Keluaran bersih adalah keluaran total dikurangi dengan jumlah rasio barang atau jasa yang dibeli

Faktor- Faktor yang Mempengaruhi Produktivitas

Produktivitas merupakan kombinasi dari efektivitas dan efisiensi, karena efektivitas terkait dengan kinerja sedangkan efisiensi berhubungan dengan pemanfaatan berbagai sumber.

Produktivitas dari suatu perusahaan atau industry dapat dipengaruhi oleh beberapa factor, seperti berikut:

a). Pengaruh Faktor Investasi Pada Produktivitas

Besar kecilnya investasi akan menentukan modal usaha dan berpengaruh terhadap usaha untuk mempromosikan produk, market share atau penggunaan kapasitas.

b). Pengaruh Rasio Modal Buruh Pada Produktivitas

Bila rasio semakin tinggi, berarti perusahaan telah memakai teknologi canggih atau tinggi hingga jumlah produksi per unit waktu meningkat.

c). Pengaruh Penelitian dan Pengembangan Pada Produktivitas 

Penelitian dapat menghasilkan berbagai inovatif terhadap efisiensi, jenis produk, penghematan dan sebagainya.

d). Pengaruh Penggunaan Kapasitas

Besar kecilnya keluaran per jam ditentukan oleh presentase pemakaian kapasitas.

e). Pengaruh Pemerintah Pada Produktivitas

Mengatur keseimbangan pencapaian sasaran industri dan sosial yang selalu bertentangan.

f). Pengaruh Umur Pabrik dan Peralatan Pada Produktivitas

Tingkat rata-rata umur pabrik dan peralatan yang semakin tinggi menandakan masih adanya usaha modernisasi peralatan masih tetap diteruskan.

g). Pengaruh Ongkos Energi Pada Produktivitas

Produktivitas parsial meningkat pada tenaga kerja atau buruh, jika masukan energi meningkat cepat maka ongkos produksi keseluruhan meningkat.

h). Pengaruh Kelompok Kerja Pada Produktivitas

Dengan pergeseran struktur pekerja, semakin dibutuhkannya kerja sama, ketermpilan dan keahlian.

i). Pengaruh Etika Kerja Pada Produktivitas

Penghargaaan akan waktu akan semakkin tinggi sehingga pemanfaatan waktu harus seproduktif mungkin.

j). Pengaruh Kecemasan Pekerja Akan Kehilangan Pekerjannya Pada Produktivitas

Banyaknya orang berpendapat bahwa pengangguran akan meningkat karena peningkatan produktivitas dengan sistem kontrol komputer.

Bagaiamana mengetahui tanpa mengenal komputer dan microprocessor sistem kontrol, barangkali banyak orang tidak bekerja (menganggur).

k). Pengaruh Sertifikat Buruh Pada Produktivitas

Serikat buruh sangat kuat sehingga memerlukan adanya pengertian terutama demi tuntutan gaji dan upah. Kerja sama antar manajemen dan buruh merupakan penopang peningkatan produktivitas.

l). Pengaruh Manajemen Pada Produktivitas

Manajemen dianggap sebagai faktor dominan terutama dalam proses perencanaan dan penjadwalan, kejelasan instruksi pada tenaga kerja dan pengaturan beban kerja.

3). Contoh Soal Perhitungan Produktivitas Single Factor Productivity

Diketahui jumah produk yang diproduksi adalah 5.000 unit dan jam tenaga kerja yang digunakan adalah 500, hitunglah produktivitas terhadap produksi tersebut.

Diketahui

O = Ouput produksi = Jumlah Produk

O = 5000 unit

I = input produksi = waktu kerja = jam tenaga kerja

I = 500 jam

Menghitung Produktivitas Perusahaan

Besarnya produktivitas dapat dinyatakan dengan rumus berikut

P = O/I

P = 5000/500

P = 10 unit/jam tenaga kerja.

Jadi, produktivitasa perusahaan adalah 10 unit produk untuk tiap jam tenaga kerja.

4). Contoh Soal Perhitungan Multifactor Productivity

Perusahaan PT Ardra.biz. akan mengevaluasi tenaga kerja dan produktivitas multifaktor dengan penggunaan sistem mesin otomatis baru.

Pada bagian finishing, perusahaan memiliki tenaga kerja 5 orang, yang bekerja selama 8 jam per hari dan biaya tenaga kerja Rp 4 jt per hari sedangkan biaya overhead perharinya sebesar Rp 6 jt per hari.

Dengan system lama, perusahaan memproduksi produk 80 unit setiap harinya. Dengan sistem mesin otomatis baru, perusahaan mampu memproduksi 120 unit per hari.

Biaya tenaga kerja dan jam kerja tetap, namun biaya overhead-nya meningkat menjadi Rp 8 jt per hari. Hitunglah Produktivitas tenaga kerja dan multifactor pada system lama dan system mesin otomatis baru.

Menghitung Produktivitas Tenaga Kerja Sistem Mesin Lama

Besarnya produktivitas tenaga kerja pada system lama sebelum mesin otomatis dapat dinyatakan dengan menggunakan rumus single factor productivity seperti berikut:

P = O/I

P = produktivitas tenaga kerja system lama

O = jumlah produk output

O = 80 unit produk

I = jam tenaga kerja

I = 5 orang x 8 jam

I = 40 jam

P = 80/40

P = 2 unit/jam kerja

Menghitung Produktivitas Tenaga Kerja Sistem Mesin Otomatis

Besarnya produktivitas tenaga kerja setelah pemasangan system mesin otomatis dapat dinyatakan dengan persamaan single factor productivity berikut:

P = O/I

P = produktivitas tenaga kerja system mesin otomatis

O = jumlah unit produk

O = 120 unit

I = jam tenaga kerja

I = 5 orang x 8 jam

I = 40 jam

P = 120/40

P = 3 unit/jam kerja

Menghitung Multifactor Productivity Sistem Mesin Lama

Besarnya multifactor productivity dari system mesin lama dapat dihitung dengan persamaan dari rumus berikut:

MP = O/I

MP = O/(BT + BO)

MP = multifactor productivity

O = output = jumlah unit produk lama

O = 80 unit

I = BT + BO

BT = biaya tenaga kerja

BT = 4 jt Rupiah/Hari

BO = biaya overhead

BO = 6 jt Rupiah/hari

I = 4 + 6

I = 10 jt Rp/hari

Maka multifactor productivity system lamanya adalah

MP = O/I

MP = 80/10

MP = 8 unit produk/Satu Juta Rupiah

Menghitung Multifactor Productivity Sistem Mesin Otomatis Baru

Besarnya multifactor productivity system mesin otomatis dapat dinyatakan dengan persamaan berikut:

MP = O/I atau

MP = O/(BT + BO)

MP = Multifactor productivity system mesin otomatis

O = jumlah unit produk

O = 120 unit produk

BT = biaya tenaga kerja

BT = 4 jt Rupiah/Hari

BO = biaya overhead

BO = 8 jt Rupiah/hari

I = 4 + 8 = 12 jt Rp/hari

Maka multifactor productivity system barunya adalah

MP = O/I

MP = (120 unit)/(12 jt Rupiah/hari)

MP = 10 unit/ satu juta Rupiah

Menghitung Peningkatan Produktivitas Tenaga Kerja

Peningkatan produktivitas tenaga kerja akibat penerapan system mesin otomatis baru dapat dinyatakan dengan rumus berikut

ΔP = (PSB – PSL)/PSL

ΔP = Peningkatan produktivitas (%)

PSB = Produktivitas Sistem baru

PSB = 3 unit /jam kerja

PSL = Produktivitas Sistem lama

PSL = 2 unit / jam kerja

ΔP = (3 – 2)/2

ΔP = ½ = 0,5 atau

ΔP = 50 %

Menghitung Peningkatan Produktivitas Multifactor Productivity

Peningkatan Multifactor Productivity akibat penerapan system mesin otomatis baru dapat dinyatakan dengan rumus berikut

ΔMP = (MPSB – MPSL)/MPSL

ΔMP = Peningkatan Multifactor Productivity (%)

MPSB = Multifactor Productivity Sistem baru

MPSB = 10 unit /satu juta rupiah

MPSL = Multifactor Productivity Sistem lama

MPSL = 8 unit / satu juta rupian

ΔMP = (10 – 8)/8

ΔMP = 1/4 = 0,25 atau

ΔMP = 25 %

Dari hasil perhitugan di atas dapat diketahui bahwa dengan menggunakan perhitungan single-factor productivity maupun multifactor productivity menunjukkan adanya peningkatan produktivitas.

Namun demikian, perhitungan dengan menggunakan multifaktor mampu memberikan gambaran yang yang lebih baik, karena memperhitungkan semua biaya dikaitkan dengan peningkatan output.

Pengertian Kapasitas Produksi

Beberapa pengertian kapasitas produksi berdasarkan para ahli diantaranya adalah

a). Pengertian Kapasittas Produksi Menurut Render dan Heizer (2001: 186)

Kapasitas produksi  adalah hasil produksi (atau output atau keluaran) maksimal dari sistem pada suatu periode tertentu.

b). Pengertian Kapasittas Produksi Menurut Menurut Handoko (2001:297-298)

Kapasitas adalah suatu tingkat keluaran, suatu kuantitas keluaran dalam periode tertentu yang merupakan keluaran tertinggi yang mungkin diperoleh selama periode waktu tertentu.

c). Pengertian Kapasittas Produksi Menurut Menurut Yamit (2011: 67)

Kapasitas produksi adalah jumlah maksimum output atau keluaran yang dapat diproduksi dalam satuan waktu tertentu.

Jenis Jenis Kapasitas Produksi

a). Kapasitas Desain.

Kapasitas desain adalah output yang maksimum secara teori pada suatu sistem dalam suatu periode waktu tertentu pada kondisi idealnya sesuai dengan desain pembuatannya. Kapasitas desain juga bisa diartikan kapasitas yang mana suatu perusahaan mengharapkan untuk mencapai hambatan operasional yang tersedia saat ini.

b). Kapasitas Efektif (Utilization).

Kapasitas efektif menunjukan output maksimum pada tingkat operasi tertentu. Kapasitas efektif adalah kapasitas yang diperkirakan dapat dicapai oleh perusahaan dengan keterbatasan operasi yang ada.

Kapasitas efektif biasanya lebih rendah daripada kapasitas desain karena fasilitas yang ada mungkin telah lama dipakai atau dirancang untuk versi produk yang berbeda.

c). Kapasitas Efisien (Efficiency).

Kapasitas efisien adalah persentase kapasitas yang benar-benar tercapai disbanding dengan desainnya. Bergantung pada bagaimana fasilitas dipergunakan dan dikelola. Kapasitas efisien mengukur seberapa baik fasilitas atau mesin ketika digunakan.

d). Rated Capacity.

Rated capacity adalah tingkat keluaran per satuan yang menunjukkan bahwa fasilitas secara teoritik mempunyai kemampuan memproduksinya.

e). Standard Capacity.

Standar Capacity adalah tingkat keluaran per satuan waktu yang ditetapkan sebagai sasaran pengoperasian perusahaan yang dapat digunakan sebagai dasar bagi penyusunan anggaran.

f). Actual Operating Capacity

Actual operating capacity adalah tingkat keluaran rata-rata per satuan waktu selama periode-periode waktu tertentu.

g). Peak Capacity.

Peak capacity adalah jumlah keluaran puncak (tertinggi) per satuan waktu. Peak capacity mungkin lebih rendah daripada standard atau bisa lebih tinggi dari kapasitas standar yang sudah ditetapkan perusahaan.

Proses Perencanaan Kapasitas

Proses perencanaan kapasitas dapat dijelaskan secara sederhana sebagai berikut :

a). Memperkirakan permintaan di masa depan, termasuk dampak dari teknologi, persaingan dan lainnya.

b). Menjabarkan perkiraan itu dalam kebutuhan kapasitas fisik.

c). Menyusun piihan rencana kapasitas yang berhubungan dengan kebutuhan itu.

d). Menganalisis pengaruh ekonomi pada pilihan rencana.

e). Meninjau resiko dan pengaruh strategi pada pilihan rencana.

f). Memutuskan rencana pelaksanaan.

Pengertian Rated Capacity Produksi

Rated Capacity adalah tingkat output produksi persatuan waktu yang merepresentasikan bahwa secara teortis mempunyai kemampuan memproduksi.

Reted capacity menunjukkan kemampuan suatu industry untuk menghasilkan sejumlah produk dalam retang waktu tertentu. Rentang waktunya dapat persatuan jam, persatuan hari, persatuan bulan atau persatuan tahun, tergantung kebutuhannya.

Rumus Menghitung Rated Capacity

Besarnya kapasitas produksi dalam rentang waktu tertentu dapat dinyatakan dengan menggunakan persamaan berikut:

RC = JM x JKM x U x E

RC = rated capacity

JMA = Jumlah mesin/alat

JKM = jam kerja mesin

U = utilisasi = persentase penggunaan

E = efisiensi

Dari rumus rated capacity dapat diketahui bahwa jumlah produk yang dihasilkan dalam periode tertentu tergantung pada jumlah mesin atau peralatan, jam kerja dari mesin, utilisasi atau penggunaan mesin dan efisisnsi.

Pengertian Perencanaan Produksi

Perencaaan produksi merupakan suatu proses penetapan tingkat produksi output manufacturing secara keseluruhan untuk memenuhi tingkat penjualan yang direncanakan dan invebtori yang diinginkan.

Rumus Menghitung Perencanaan Produksi

Besarnya rencana produksi dapat dinyatakan dengan rumus persamaan berikut

RP = (PT – IA) + I

RP = rencana produksi

PT = permintaan total

Iaw = inventory awal

Iak = inventori akhir

Pengertian Cycle Time Produksi

Cycle time adalah waktu antara penyelesaian dua unit diskrit dari produksi. Cycle time mengacu pada waktu yang diperlukan material (bahan baku) dari mulai masuk ke fasilitas produksi sampai keluar menjadi produk.

Rumus Menghitung Cycle Time Produksi

Besarnya cycle time yang dibutuhkan untuk menghasilkan satu unit produk mulai dari awal proses hingga proses terakhir menjadi suatu produk dapat dinyatakan dengan persamaan berikut:

Cycle Time = (Waktu Produksi)/(Tingkat Produksi) atau

CT = (WP)/(TP)

CT = Cycle Time

WP = Waktu Produksi

TP = Tingkat Produksi)

5). Contoh Soal Perhitungan Rated Capacity

Perusahaan PT ardra.biz memiliki unit produksi uang beroperasi selama 7 hari perminggunya dengan system tiga shift, 8 jam per-shift-nya. Perusahaan memiliki 10 mesin dengan kemampuan yang sama. Mesin dipakai selama 90 % dari waktunya ketika tingkat efisien system 85 %. Hitunglah rated capacity dalam satu meninggu.

Menghitung Rated Capacity Produksi

Besarnya rated capacity dapat dinyatakan dengan menggunakan persamaan berikut

RC = JM x JKM x U x E

JM = 10 mesin

JKM = 3 x 8 jam/hari x 7 hari/minggu

JKM = 168 jam/minggu

U = 90%

E = 85%

RC = (10) x (168) x (90%) x (85%)

RC = 1285,2 dibulatkan

RC = 1285 jam perminggu

6). Contoh Soal Perhitungan Rencana Produksi

Perusahaan PT Ardra.biz sedang merencanakan produksi untuk permintaan total 1000 unit produk. Perusahaan memiliki inventori awal 200 dan inventori akhir 800, maka berdasarkan data ini, berapakah rencana produksinya.

Menghitung Rencana Produksi

Rencana produksi dapat dinyatakan dengan rumus seperti berikut:

RP = (PT – Iaw) + Iak

RP = rencana produksi

PT = permintaan total

PT = 1000 unit

Iaw = inventory awal

Iaw = 200 unit

Iak = inventori akhir

Iaw = 800 unit

Berdasarkan data data tersebut, maka rencana produksinya adalah

RP = (1000 – 200) + 800

RP = 1600 unit produk

7). Contoh Soal Perhitungan Cycle Time Produksi

PT Ardra.biz memiliki data data  produksi sebagai berikut waktu yang tersedia adalah 8 jam x 60 menit = 480 menit untuk waktu produktif perharinya. Perusahaan memiliki tingkat produksi perhari adalah 24 unit. Hitungkah cycle time produksi perusahaan tersebut.

Menghitung Cycle Time Produksi

CT = (WP)/(TP)

CT = Cycle Time

WP = Waktu Produksi

WP = 480 menit

TP = Tingkat Produksi)

TP = 24 unit

Dengan data data tersebut, maka cycle time produskinya adalah

CT = 480/24

CT = 20 menit per unit produk

Seandainya materi ini memberikan manfaat, dan anda ingin memberi dukungan motivasi pada ardra.biz, silakan kunjungi SociaBuzz Tribe milik ardra.biz di tautan berikuthttps://sociabuzz.com/ardra.biz/tribe

Daftar Pustaka:

  1. Sartono, Agus, R., “ 2001, “Manajemen Keuangan Teori dan Aplikasi”, Edisi Keempat, BPFE Yogyakarta, Yogyakarta.
  2. Jenis Produktivitas: Perhitungan Single- Factor Productivity – Multifactor Productivity – Produktivitas Faktor Total – Rated Capacity – Rencana Produksi – Cycle Time Produksi- Contoh Soal Rumus,
  3. Jenis Jenis Kapasitas Produksi – Kapasitas Desain- Kapasitas Efektif (Utilization) – Kapasitas Efisien (Efficiency) – Rated Capacity – Standard Capacity – Actual Operating Capacity Peak Capacity,
  4. Contoh Soal Perhitungan Produktivitas Aktual Normatif, Contoh Soal Perhitungan Produktivitas Single- Factor Productivity – Multifactor Productivity, Contoh Soal Perhitungan Rated Capacity – Rencana Produksi – Cycle Time Produksi,

Rasio Likuiditas Bank: Quick Ratio – Banking Ratio – Loan to Deposit Ratio – Cash Ratio – Loan to Asset Ratio Deposit Risk Ratio – Investing Policy Ratio

Pengertian Likuiditas: Likuiditas merupakan kesanggupan suatu bank dalam menyediakan dana untuk kebutuhan atau kewajiban saat ini atau kewajiban jangka pendek (short-term debt) yang bersifat lancar atau yang segera harus dibayar, baik kewajiban kepada pihak luat maupun kewajiban di dalam bank itu sendiri.

Kewajiban jangka pendek atau biasa disebut juga dengan utang lancar adalah utang yang akan dilunasi dalam waktu tiga bulan sampai satu tahun.

Menurut Bank Indonesia, penilaian aspek likuiditas mencerminkan kemampuan bank untuk mengelola tingkat likuiditas yang memadai guna memenuhi kewajibannya secara tepat waktu dan untuk memenuhi kebutuhan yang lain.

Pengertian Ratio Likuiditas Bank

Rasio likuiditas bank adalah rasio yang menunjukkan kemampuan suatu bank dalam memenuhi kewajiban jangka pendeknya pada saat ditagih nasabahnya.

Bank dianggap memiliki likuiditas yang baik ketika dapat membayar kembali pecairan dana deposannya pada saat ditagih dan mencukupi permintaan kredit yang telah diajukan dan disetujuinya.

1). Quick Ratio QR – Bank

Quick rasio adalah rasio adalah rasio yang menunjukkan ukuran kemampuan bank dalam memenuhi kewajibannya terhadap nasabahnya yang memiliki simpanan giro, tabungan dan deposito dengan harta atau aktiva yang paling likuid yang dimiliki suatu bank.

Jadi, quick ratio mengukur kemampuan bank membayar kembali kewajibannya dengan harta lancar (cash asset) ketika nasabahnya menarik dananya dari giro, tabungan dan deposito. Jadi, sumber likuiditasnya adalah dana dari harta lancar atau cash asset.

Rumus Menghitung Quick Ratio


Quick rasio suatu bank dapat dinyatakan dengan menggunakan persamaan berikut:

Quick Ratio = (Cash Assets)/(Total Deposit) x 100%

Quick ratio QR sebenarnya merupakan perbandingan antara dana yang paling likuid yaitu cash asset terhadap total dana yang didepositkan nasabahnya. Jadi, kemampuan bank untuk membayar Kembali dana nasabahnya akan semakin besar ketika bank memiliki nilai QR yang semakin besar.

Semakin besar nilai QR artinya likuiditas bank semakin tinggi. Nilai QR akan semakin tinggi jika cash asset semakin besar atau total deposit semakin rendah.

Rasio ini mencerminkan seberapa besar bank memberi jaminan terhadap dana yang telah diterimanya dengan dana dari cash asset yang dimilikinya. Quick Ratio yang ditetapkan oleh Bank Indonesia antara 15- 21%.

Contoh Soal Perhitungan Quick Ratio Di Akhir Artikel

2). Loan To Deposit Ratio – LDR Bank

Loan to deposit ratio adalah rasio yang menunjukkan jumlah dana yang disalurkan melalui kredit dibandingkan dengan jumlah dana dari masyarakat dan modal sendiri.

Rumus Menentukan Loan To Deposit Ratio – LDR Bank

Besarnya Loan to deposit ratio suatu bank dapat dinyatakan dengan persamaan berikut:

Loan to Deposit Ratio = (Total Loans)/(Total Deposit + Equity) x 100 %

Dari rumusnya dapat diketahui, bahwa LDR merupakan perbandingan nilai total loan terhadap total deposit ditambah equity. Jadi, nilai LDR bank akan semakin tinggi ketika bank mampu menyalurkan dananya semakin besar.

Namun demikian, semakin tinggi nilai LDR menyebabkan likuiditas bank semakin rendah. Sehingga kemampuan bank untuk mengembalikan dana kepada nasabahnya akan semakin rendah.

Nilai LDR akan semakin besar jika total loan semakin besar atau deposit ditambah equity semakin kecil.

Standar yang ditetapkan oleh Bank Indonesia untuk rasio LDR  ini adalah maksimum 110%. Jika suatu bank mendapatkan nilai loan to deposit ratio diangka 70%, hal ini menunjukkan bahwa bank tersebut hanya mampu menyalurkan 70% dari total dana yang dihimpun dari nasabahnya (atau masyarakat). Sedangkan 30% lainnya tidak dapat atau belum tersalurkan.

Contoh Soal Perhitungan Loan to Deposit Ratio Di Akhir Artikel

3). Banking Ratio – BR – Bank

Banking ratio adalah rasio yang menunjukkan tingkat likuiditas bank dengan membandingkan jumlah kredit yang disalurkan terhadap deposit milik bank yang diterima dari masyarakat.

Semakin tinggi nilai banking ratio, maka tingkat likuiditas bank semaking rendah. Artinya jumlah dana yang sudah dikeluarkan melalui fasilitas kredit sudah tinggi, sehingga jumlah dana yang dapat digunakan untuk membiayai kredit berikutnya menjadi semakin kecil.

Rumus Menghitung Banking Ratio – BR – Bank

Besarnya nilai Banking ratio suatu bank dapat dirumuskan dengan persamaan berikut

Banking Ratio = (Total Loan)/(Total Deposit) x 100%

Standar penilaian banking ratio untuk bank yang ditetapkan oleh Bank Indonesia sebesar 85-100%.

Dengan menggunakan banking ratio, dapat diketahui perbandingan seluruh kredit yang disalurkan bank dengan total dana yang diterima oleh bank.

Banking ratio menyatakan seberapa besar bank mampu untuk membayar kembali dana dari deposan dengan menarik kembali kredit kredit yang telah disalurkannya. Dalam hal ini, sebagai sumber likuiditasnya adalah seluruh kredit yang pernah disalurkan oleh bank.

Contoh Soal Perhitungan Banking Ratio Di Akhir Artikel

4). Loan To Asset Ratio – LAR – Bank

Loan to asset rasio bank adalah rasio yang menunjukkan besarnya jumlah kredit yang disalurkan ke masyarakat dari jumlah asset (harta) yang dimiliki bank. Semakin tinggi loan to asset rasio suatu bank, maka semakin rendah likuiditas bank tersebut.

Rumus Loan to Asset Ratio Bank

Besarnya loan to asset rasio dapat dinyatakan dengan menggunakan rumus berikut:

Loan To Asset Ratio = (Total Loan)/(Total Asset) x 100%

Sebenarnya rasio ini merupakan perbandingan antara besarnya  kredit yang disalurkan bank kepada masyarakat dibandingkan dengan besarnya total aset atau total aktiva yang dimiliki bank.

Semakin besar kredit yang disalurkan, maka semakin tinggi kredit yang dijamin oleh seluruh aset yang dimiliki bank.

Contoh Soal Perhitungan Loan to Asset  Ratio Di Akhir Artikel

5). Cash Ratio  CR– Rasio Kas Bank

Cash ratio adalah ratio yang menunjukkan kemampuan bank dalam memenuhi kewajiban yang harus segera dibayarkan dengan asset atau harta likuid yang dimiliki oleh bank.

Cash ratio mengukur kemampuan bank untuk membayar kembali seluruh kewajibannya yang sudah jatuh tempo dengan menggunakan dana dari harta lancar yang dimilikinya. Jadi, sumber llikuiditasnya adalah harta lancar atau cash asset.

Rumus Cash Ratio – Bank

Besarnya cash ratio suatu bank dapat dirumuskan dengan menggunakan persamaan berikut

Cash Ratio = (Liquid Asset)/(Short Term Borrowing) x 100%

Dari rumusnya dapat diketahui bahwa Cash ratio CR merupakan perbandingan Cash Asset atau liquid asset terhadap short term borrowing. Jadi, kemampuan bayar Kembali terhadap nasabahnya akan semakin besar ketika bank memiliki nilai CR yang semakin besar.

Semakin besar nilai CR artinya likuiditas bank semakin tinggi. Nilai CR akan semakin tinggi jika cash asset yang dilmiliki bank semakin besar atau short term borrowing semakin kecil.

Standar penilaian Cash Ratio bank menurut Bank Indonesia adalah 5%. Semakin tinggi Cash Ratio Suatu Bank berarti semakin baik posisi aktiva lancar untuk memenuhi kewajiban jangka pendeknya yang harus segera dipenuhi.

Contoh Soal Perhitungan Cash Ratio Di Akhir Artikel

6). Deposit Risk Ratio DRR- Bank

Deposit risk ratio adalah ratio yang menunjukkan ukuran risiko kegagalan bank membayar Kembali dana yang diterima dari pada nasabahnya.

Deposit risk ratio menyatakan besarnya kemampuan dana equity capital bank jika digunakan untuk membayar kembali seluruh dana nasabah yang tersimpan dalam rekening giro, tabungan dan deposito.

Rumus Menghitung Deposit Risk Ratio DRR – Bank

Nilai deposit risk ratio DRR suatu bank dapat ditentukan dengan menggunakan persamaan berikut:

Deposit Risk Ratio = (Equity Capital)/(Total Deposit) x 100%

Dari rumusnya dapat diketahui bahwa DRR merupakan perbandingan nilai equity terhadap total deposit. Jadi, risiko gagal bayar terhadap para nasabahnya akan semakin besar ketika bank memiliki nilai DRR yang semakin kecil.

Semakin kecil nilai DRR artinya likuiditas bank semakin rendah. Nilai DRR akan semakin kecil jika total deposit semakin besar atau equity semakin kecil.

Contoh Soal Perhitungan Deposit Risk Ratio Di Akhir Artikel

7). Investing Policy Ratio IPR – Bank

Investing policy ratio adalah rasio yang menunjukkan kemampuan bank dalam memenuhi kewajibannya terhadap nasabah dengan cara melikuidasi surat surat berharga yang dimilikinya

Dengan kata lain, Investing policy ratio menyatakan kemampuan surat – surat berharga jika digunakan bank untuk membayar kembali kewajiban ketika nasabah menarik dananya dari giro, tabungan dan deposito. Dalam hal ini, yang menjadi sumber likuiditasnya adalah dana dari penjualan surat surat berharga.

Rumus Mengitung Investing Policy Ratio IPR – Bank

Besar investing polity ratio suatu bank dapat dinyatakan dengan menggunakan rumus persamaan berikut:

Investing Policy Ratio = (Securities)/(Total Deposit) x 100%

Dari rumusnya dapat diketahui bahwa investing polity ratio IPR merupakan perbandingan nilai securities (nilai surat berharga) terhadap total deposit. Jadi, kemampuan bank untuk bayar kembali terhadap nasabahnya akan semakin besar ketika bank memiliki nilai IPR yang semakin besar.

Semakin besar nilai IPR artinya likuiditas bank semakin tinggi. Nilai IPR akan semakin tinggi jika nilai surat berharga yang dimiliki bank semakin besar atau total deposit semakin kecil.

Contoh Soal Perhitungan Rasio Likuiditas Bank

Data data keuangan yang dipergunakan dalam perhitungan rasio likuiditas suatu bank adalah laporan keuangan neraca. Berikut contoh laporan neraca bank yang sudah disederhanakan untuk Latihan perhitungan rasio likuiditas suatu bank.

Contoh Soal Perhitungan Rasio Likuiditas Bank
Contoh Soal Perhitungan Rasio Likuiditas Bank

1). Contoh Soal Perhitungan Quick Ratio QR – Bank

Dengan menggunakan beberapa data dalam contoh laporan keuangan neraca suatu bank di atas tentukanlah quick ratio bank tersebut

Menentukan Data Quick Ratio

Data data keuangan bank yang dipergunakan dalam perhitungan quick ratio adalah data yang termasuk komponen cash asset yaitu kas, giro yang disimpan di Bank Indonesia (BI), giro yang disimpan di bank lain serta dana likuid dalam satuan valuta asing.

Sedangkan data keuangan yang termasuk dalam komponen deposit adalah dana masyarakat yang dideposit dalam bentuk giro, tabungan dan deposito berjangka.

Data data keuangan dari contoh laporan neraca bank yang dibutuhkan untuk perhitungan quick ratio ditunjukkan dalam table seperti berikut:

Contoh Soal Perhitungan Quick Ratio QR - Bank
Contoh Soal Perhitungan Quick Ratio QR – Bank

Rumus Menghitung Quick Ratio – Bank

Besarnya quick ratio suatu bank dapat dihitung dengan menggunakan rumus seperti ini

Quick Ratio = (Cash Assets)/(Total Deposit) x 100%

Cash Assets = 1612

Total Deposit =2652,5

Quick Ratio = (1612)/(2652,5) x 100%

Quick Ratio = 60,77 %

Nilai quick ratio 60,77 persen menunjukkan bahwa dalam jangka pendek, dana paling likuid yang dimiliki bank hanya mampu untuk membayar kembali dana nasabah sebesar 60,77 persen dari seluruh deposit nasabahnya.

Dengan nilai quick ratio 60,77 persen, maka bank mampu menjamin setiap satu rupiah dari deposit milik nasabah dengan 0,6077 rupiah dari dana cash assets yang dimilikinya.

2). Contoh Perhitungan Loan To Deposit Ratio Bank

Dengan menggunakan beberapa data keuangan dalam contoh laporan neraca di atas, hitunglah besarnya Loan to deposit ratio bank tersebut.

Menentukan Data Loan to Deposit Ratio Bank

Data keuangan bank yang harus diketahui agar dapat menghitung loan to deposit ratio adalah data yang termasuk komponen loan yaitu pinjaman yang disalurkan ke masyarakat (rupiah) dan pinjaman yang disalurkan dalam valuta asing.

Sedangkan data keuangan yang termasuk komponen equity capital adalah modal yang disetor, dana seteron modal, cadangan umum, cadangan lainnya, sisa laba tahun lalu dan laba tahun berjalan.

Data data keuangan dari contoh laporan neraca bank yang akan diperguanakan dalam perhitungan loan to deposit ratio ditunjukkan dalam table berikut

Contoh Perhitungan Loan To Deposit Ratio LDR - Bank
Contoh Perhitungan Loan To Deposit Ratio LDR – Bank

Perhitungan Loan To Deposit Ratio Bank

Besarnya loan to deposit ratio suatu bak dapat dinyatakan dengan menggunakan persamaan berikut:

Loan to Deposit Ratio = (Total Loans)/(Total Deposit + Equity) x 100 %

Total Loans =3580

Total Deposit =2654,5

Equity = 536,5

Loan to Deposit Ratio = (3580)/(2654,5+ 536,5) x100%

LDR = (3580)/(3189) x 100%

LDR = 112%

Nilai loan to deposit ratio adalah 112%. Angka 112 persen merepresentasikan, bahwa kredit yang diberikan kepada nasabah adalah 1,12 kalinya dari total dana masyarakat dan modal sendiri. Artinya dana yang disalurkan kepada nasabah lebih besar dari total dana yang diterima dari nasabah dan modal sendiri.

3). Contoh Soal Perhitungan Banking Ratio BR – Bank

Dengan menggunakan data dari contoh laporan keuangan bank di atas, Tentukan nilai banking ratio Bank tersebut.

Cara Menentukan Data Keuangan Banking Ratio Bank

Data yang diperlukan untuk dapat menghitung banking ratio suatu bank adalah data keuangan yang termasuk dalam komponen loan yang terdiri dari pinjaman yang diberikan ke masyarakat dalam satuan rupiah dan pinjaman yang diberikan dalam satuan valuta asing.

Sedangkan data keuangan yang termasuk dalam komponen deposito adalah dana yang diterima dari masyarakat yang disimpan dalam giro, tabungan dan deposito berjangka.

Data data keuangan dalam contoh laporan neraca bank yang akan digunakan untuk menghitung banking ratio disajikan dalam table berikut:

Contoh Soal Perhitungan Banking Ratio BR - Bank
Contoh Soal Perhitungan Banking Ratio BR – Bank

Cara Menghitung Banking Ratio BR – Bank

Banking ratio suatu bank dapat dihitung dengan rumus berikut:

Banking Ratio = (Total Loan)/(Total Deposit) x 100%

Total Loan = 3580

Total Deposit = 2652,5

Banking Ratio = (3580)/( 2652,5) x 100%

Banking Ratio = 135 %

Nilai banking ratio BR 135 persen menunjukkan jumlah dana yang telah disalurkan ke masyarakat adalah 1,35 kali dari jumlah dana deposit yang diterima oleh bank. Artinya, dana yang disalurkan ke masyarakat 35 persen lebih besar dibandingkan dana yang diterima bank dari masyarakat. Dengan kata lain, dana yang diterima lebih kecil dari yang disalurkan.

Dengan banking ratio sebesar 1,35 berarti setiap satu rupiah yang dideposit oleh nasabah dijamin dengan 1,35 rupiah dari dana kredit yang disalurkannya.

4). Contoh Soal Perhitungan Loan To Asset Ratio – LAR – Bank

Dengen menggunakan data laporan neraca bank di atas, tentukanlah besarnya loan to asset ratio bank tersebut:

Menentukan Data Keuangan Loan To Asset Ratio – LAR

Untuk dapat menentukan loan to asset ratio diperlukan data yang termasuk komponen loan yaitu pinjaman yang disalurkan ke masyarakat dalam rupiah dan pinjaman disalurkan dalam valuta asing.

Sedangkan data keuangan yang termasuk komponen asset adalah semua komponen yang ada dalam aktiva pada neraca bank.

Data data keuangan dari laporan neraca yang diperlukan untuk perhitungan loan to asset ditunjukkan dalam table berikut:

 Contoh Soal Perhitungan Loan To Asset Ratio – LAR – Bank
Contoh Soal Perhitungan Loan To Asset Ratio – LAR – Bank

Menghitung Loan To Asset Ratio – LAR – Bank

Besar loan to asset bank dapat dihitung dengan menggunakan rumus berikut

Loan To Asset Ratio = (Total Loan)/(Total Asset) x 100%

Total Loan = 3580

Total Asset = 6680

Loan To Asset Ratio = (3580)/(6680) x 100%

Loan to Asset Ratio = 53,6 %

Nilai Loan to asset ratio LAR adalah 53,6 persen, hal ini menunjukkan bahwa besarnya dana bank yang telah disalurkan melalui kredit ke masyarakat adalah 53,6 persen dari total asset atau harta yang dimiliki oleh bank.

Dengan loan to asset ratio 53,6 persen, maka bank masih memiliki sisa asset sebesar 46,4 persen (100% – 53,6%).

5). Contoh Soal Perhitungan Cash Ratio CR – Bank

Dengan data data keuangan dari contoh laporan neraca bank di atas, tentukanlah cash ratio bank tersebut.

Menentukan Data Cash Ratio Bank

Data yang digunakan adalah data yang termasuk dalam komponen likuid asset yaitu kas, giro yang disimpan di Bank Indonesia, Giro yang disimpan di Bank lain dan aktiva berupa valuta asing yang likuid.

Sedangkan data keuangan yang termasuk dalam komponen shurt term borrowing adalah dana nasabah yang disimpan dalam rekening giro, kewajiban segera lainnya yang harus dibayar, kewajiban yang harus segera dibayar dalam valuta asing.

Data data keuangan yang bisa digunakan dalam perhitungan cash ratio ditunjukkan dalamm table berikut:

Contoh Soal Perhitungan Cash Ratio CR – Bank
Contoh Soal Perhitungan Cash Ratio CR – Bank

Menghitung Cash Ratio CR – Bank

Cash ratio suatu bank dapat dihitung dengan menggunakan persamaan berikut

Cash Ratio = (Liquid Asset)/(Short Term Borrowing) x 100%

Liquid Asset = 1612

Shirt Term Borrowing = 3202,5

Cash Ratio = (1612)/(3202,5) x 100%

Cash Ratio = 50,33%

Nilai cash ratio CR bank adalah 50,33 persen, ini artinya jumlah harta yang paling likuid yang dimiliki bank hanya cukup untuk membayar 50,33 persen dari total kewajiban yang harus segera dibayarkan.

Nilai Cash ratio 50,33% menunjukkan bahwa bank mampu menjamin tiap satu rupiah pinjaman yang harus segera dibayar dengan  0,5533 rupiah dari dana cash assets yang dimilikinya.

6). Contoh Soal Perhitungan Deposit Risk Ratio DRR – Suatu Bank

Dengan menggunakan data data keuangan dari contoh laporan neraca bank di atas,  hitunglah nilai deposit risk ratio bank tersebut:

Menentukan Data Keuangan Deposit Risk Ratio DRR – Suatu Bank

Data keuangan yang diperlukan untuk mengitung deposit risk ratio adalah data yang termasuk dalam komponen equity capital yaitu Modal disetor, dana setoran modal, cadangan umum, cadangan lainnya, sisa laba tahun lalu, dan laba tahun berjalan.

Sedangkan data keuangan yang termasuk komponen deposit adalah dana masyarakat yang disimpan dalam rekening giro, tabungan dan deposito berjangka.

Kedua data keuangan yang diperlukan untuk perhitungan deposit risk ratio ditunjukkan dalam table berikut:

Contoh Soal Perhitungan Deposit Risk Ratio DRR - Suatu Bank
Contoh Soal Perhitungan Deposit Risk Ratio DRR – Suatu Bank

Menghitung Deposit Risk Ratio DRR – Bank

Deposit Risk Ratio DRR suatu bank dapat dinyatakan dengan menggunakan rumus berikut

Deposit Risk Ratio = (Equity Capital)/(Total Deposit) x 100%

Equity Capital = 536,5

Total Deposit = 2652,5

Deposit Risk Ratio = (536,5)/(2652,5) x 100%

Deposit Risk Ratio = 20,23 %

Nilai deposit risk ratio bank adalah 20,23 persen, hal ini menunjukkan bahwa dana equity capital yang dimiliki bank hanya cukup untuk membayar sebesar 20,23 persen dari total dana nasabah yang diterima bank.

Jadi, bank memiliki risiko gagal bayar sebesar 79,67 persen (100% – 20,33) terhadap total yang harus dibayarkan jika pembaryaran menggunakan dana equity capital yang dimilikinya.

Dengan nilai deposit risk ratio 20,23 persen, maka bank hanya mampu menjamin setiap satu rupiah dana yang didepositkan nasabah dengan 0,2023 rupiah dari dana equity capital yang dimilikinya.

7). Contoh Soal Perhitungan Investing Policy Ratio IPR Bank

Dengan menggunakan data data keuangan dari contoh laporan neraca bank di atas,  hitunglah nilai Investing Policy Ratio Bank tersebut:

Menentukan Data Keuangan Investing Policy Ratio IPR Suatu Bank

Data keuangan yang diperlukan untuk mengitung Investing Policy Ratio adalah data yang termasuk dalam komponen securities atau surat berharga yaitu surat berharga (efek- efek) dan deposito berjangka.

Sedangkan data keuangan yang termasuk komponen deposit adalah dana masyarakat yang disimpan dalam rekening giro, tabungan dan deposito berjangka.

Kedua data keuangan yang diperlukan untuk perhitungan Investing Policy Ratio ditunjukkan dalam table berikut:

Contoh Soal Perhitungan Investing Policy Ratio IPR Bank
Contoh Soal Perhitungan Investing Policy Ratio IPR Bank

Menghitung Investing Policy Ratio IPR – Bank

Investing Policy Ratio IPR suatu bank dapat dinyatakan dengan menggunakan rumus berikut

Investing Policy Ratio = (Securities)/(Total Deposit) x 100%

Securities = 460

Total Deposit = 2652,5

IPR = (460)/(2652,5) x 100%

IPR = 17,34 %

Nilai Investing Policy Ratio IPR bank adalah 17,34 persen, hal ini menunjukkan bahwa dana hasil penjualan surat berharga hanya cukup untuk membayar sebesar 17,34 persen dari total dana nasabah yang harus dibayar oleh bank.

Dengan nilai Investing Policy Ratio IPR 17,3423 persen, maka bank hanya mampu menjamin setiap satu rupiah dana yang didepositkan nasabah dengan 0,17,34 rupiah dari dana hasil penjualan surat berharganya.

Daftar Pustaka:

  1. Kasmir, 2012, “Dasar Dasar Perbankan”, Edisi Revisi, Rajawali Pers, Jakarta.
  2. Kasmir, 2012, “Manajemen Perbankan”, Edisi Revisi, RajaGrafindo Persada, Jakarta.
  3. Kasmir, 2015, “Bank dan Lembaga Keuangan Lainnya”, Edisi Revisi 2014, Rajawali Pers, Jakarta.
  4. Ismail, 2018, “Manajemen Perbankan – Dari Teori Menuju Aplikasi”, Edisi Pertama, Prenadamedia Group, Jakarta.
  5. Suhardjono, M, K., 2012, “ Manajemen Perbankan – Teori Dan Aplikasi”, Edisi Kedua, BPFE – Yogyakarta.
  6. Djumhana, Muhamad, 2006, “Hukum Perbankan di Indonesia”, Cetakan Kelima, PT Citra Aditya Bakti,  Bandung.
  7. Mangani, Silvanita, Ktut, 2009, “Bank dan Lembaga Keuangan Lain”, Penerbit Erlangga, Jakarta.
  8. Mishkin, S., Frederic, 2008’ “Ekonomi Uang, Perbankan, dan Pasar Uang”, Edisi Kedelapan, Salemba Empat, Jakarta.
  9. Joesoef, Jose Rizal, 2008, “Pasar Uang dan Pasar Valuta Asing”, Salemba Empat, Jakarta.
  10. Djamil, Fathurrakman,  2012, “Penerapan Hukum Perjanjian dalam Transaksi di Lembaga Keuangan Syariah”, Cetakan Pertama, Sinae Grafika, Jakarta.
  11. Fuady, Munir, 2004, “Hukum Perbankan Modern”, Buku Kedua, Citra Aditya Bakti, Bandung.
  12. Machmud, A. Rukmana, H., 2010, “Bank Syariah, Teori, Kebijakan, dan Studi Empiris di Indonesia”, Penerbit Erlangga, Jakarta
  13. Jenis Rasio Likuiditas Bank: Pengertian -Tujuan – Fungsi Quick Ratio – Banking Ratio – Loan to Deposit Ratio – Cash Ratio – Loan to Asset Ratio Deposit Risk Ratio – Investing Policy Ratio, Pengertian Cash Asset Pengertin Total Deposit Pengertian Securities Pengertian Short Term Borrowing Pengertian Equity Capital,