Modal Bank: Pengertian Fungsi Kecukupan Modal Minimum Bank Contoh Perhitungan ATMR CAR Bank

Pengertian Modal:  Modal adalah sejumlah dana yang ditempatkan oleh pihak pemegang saham sebagai pendiri badan usaha yang dimaksudkan untuk membiayai kegiatan usaha bank dan untuk memenuhi kewajiban regulasi yang telah ditetapkan oleh otoritas monoter.

Modal juga merupakan investasi yang dilakukan oleh pemegang saham yang harus selalu berada dalam bank dan tidak ada kewajiban pengembalian atas penggunaannya.

Pengertian Modal Menurut Dahlan Siamat

Modal bank adalah dana yang diinvestasikan oleh pemilik dalam rangka pendirian badan usaha yang dimaksudkan untuk membiayai kegiatan usaha bank disamping memenuhi peraturan yang ditetapkan

Pada dasarnya modal bank merupakan dana yang diinvestasikan oleh pemilik untuk membiayai kegiatan usaha bank yang jumlahnya telah ditetapkan.


Pengertian Modal Menurut Komaruddin Sastradipoera

Modal bank sebagai sejumlah dana yang diinvestasikan dalam berbagai jenis usaha (ventura) perbankan yang relevan

Pengertian Modal Menurut N Lapoliwa

Modal bank merupakan modal awal pada saat pendirian bank yang jumlahnya telah ditetapkan dalam suatu ketentuan atau pendirian bank

Fungsi Modal Bank

Beberapa fungsi dari modal bank diantaranya adalah:

a). Fungsi Modal Bank Sebagai Pelindung Deposan

Modal bank akan melindungi para deposan dari segala kerugian usaha perbankan akibat salah satu atau kombinasi risiko usaha perbankan, misalnya terjadi likuidasi dan insolvency – pailit, terutama dana yang tidak dijamin oleh pemerintah

b). Fungsi Modal Bank Untuk Kepercayaan Masyarakat

Modal bank akan memastikan bahwa bank tetap beroperasi sehingga memperoleh pendapatan yang mampu menutup semua kerugian kerugian sehingga mampu meningkatkan kepercayaan para deposan dan pengawas bank yang cukup terhadap bank.

Modal bank berkemampuan untuk memenuhi kewajiban yang telah jatuh tempo dan memberikan keyakinan mengenai kelanjutan operasi bank meskipun terjadi kerugian.

c). Fungsi Modal Bank Untuk Operasi Bank

Modal bank secara operasional digunakan untuk membiayai kebutuhan aktiva tetap seperti penyediaan dana untuk pembelian tanah, Gedung, peralatan sebagai sarana terlakasananya kegiatan perbankan.

d). Fungsi Modal Bank Untuk Regulasi Permodalan

Modal bank berfungsi sebagai dana yang digunakan untuk memenuhi ketentuan atau regulasi permodalan yang sehat menurut otoritas moneter.

Modal bank berfungsi untuk memenuhi persyaratan minimum yang diperlukan agar tetap dapat izin beroperasi.

e). Fungsi Modal Bank Sebagai Representatif Kepemilikan

Modal bank menjadi representasi dari kepemilikan pribadi pada bank bank komersial. Adanya saham modal akan membedakan bank komersial dari bank tabungan bersama dan asosiasi kredit lainnya.

Komponen Modal Bank

Modal bank dapat digolongkan menjadi dua golongan besar yaitu modal inti dan modal pelengkap.

1). Modal Inti – Primary Capital – Tier 1,

Modal inti merupakan modal yang disetor para pemilik bank dan modal yang berasal dari cadangan yang dibentuk ditambah dengan laba yang ditahan.

Komponen terbesar dari modal inti adalah modal saham yang disetor. Sedangkan selebihnya tergantung pada laba yang diperoleh dan kebijakan rapat umum pemegang saham.

Komponen modal inti pada prinsipnya terdiri atas modal disetor dan cadangan – cadangan yang dibentuk dari laba setelah pajak dan goodwill.

a). Modal Disetor – Bank

Modal disetor adalah modal yang pertama kali disetor secara efektif oleh pemilik atau pemegang saham bank pada waktu pendirian bank tersebut.

b). Agio Saham – Bank

Agio saham adalah selisih kelebihan setoran modal yang diterima oleh bank sebagai akibat harga saham yang melebihi nilai nominalnya.

c). Cadangan Umum – Bank

Cadangan umum adalah cadangan yang dibentuk dari penyisihan laba yang ditahan atau dari laba bersih setelah dikurangi pajak yang disetujui oleh Rapat Umum Pemegang Saham.

d). Cadangan Tujuan – Bank

Cadangan tujuan adalah bagian laba setelah dikurangi pajak yang disisihkan untuk tujuan tertentu dan telah mendapat persetujuan pemilik – pemegang saham.

e). Laba Ditahan – Retained Earning  – Bank

Laba yang ditahan (retained earnings) adalah laba bersih setelah dikurangi pajak yang disetujui oleh pemilik pemegang saham untuk tidak dibagikan.

f). Laba Tahun Lalu – Bank

Laba tahun lalu adalah laba bersih tahun- tahun lalu setelah dikurangi pajak, dan belum ditetapkan penggunaannya oleh pemiliki -pemegang saham.

Jumlah laba tahun lalu yang diperhitungkan sebagai modal inti hanya sebesar 50 %. Jika bank mempunyai saldo rugi tahun-tahun lalu, maka seluruh kerugian tersebut menjadi faktor pengurang dari modal inti.

g). Laba Tahun Berjalan – Bank

Laba tahun berjalan adalah laba yang diperoleh dalam tahun buku berjalan setelah dikurangi taksiran utang pajak. Jumlah laba tahun buku berjalan yang diperhitungkan sebagai modal inti hanya sebesar 50%.

Jika pada tahun berjalan bank mengalami kerugian, maka seluruh kerugian tersebut menjadi faktor pengurang dari modal inti.

h). Rugi Tahun Bejalan – Bank

Rugi tahun berjalan, merupakan rugi yang telah diderita dalam tahun buku yang sedang berjalan.

2). Modal Pelengkap – Secondary Capital – Tier 2,

Modal pelengkap terdiri atas cadangan – cadangan yang dibentuk tidak dari laba setelah pajak serta pinjaman yang sifatnya dipersamakan dengan modal.

a). Cadangan Revaluasi Aktiva Tetap – Bank

Cadangan revaluasi aktiva tetap adalah cadangan yang dibentuk dari selisih penilaian kembali aktiva tetap yang telah medapat persetujuan Direktorat Jendral Pajak

b). Cadangan Penghapusan Aktiva Produktif – PPAP – Bank

Cadangan penghapusan aktiva yang diklasifikasikan adalah cadangan yang dibentuk dengan cara membebani laba rugi tahun berjalan, dengan tujuan agar dapat menanggung kerugian yang mungkin timbul sebagai akibat dari tidak diterimanya kembali sebagian atau seluruh aktiva produktif.

Cadangan ini termasuk cadangan piutang ragu- ragu dan cadangan penurunan nilai surat-surat berharga. Jumlah maksimum cadangan penghapusan aktiva yang diperhitungkan adalah sebesar 1,25% dari jumlah aktiva tertimbang menurut resiko.

c). Modal Pinjaman – Modal Kuasi – Bank

Modal Pinjaman adalah modal yang didukung oleh instrumen atau warkat yang memiliki sifat seperti modal atau utang dengan nilai maksimum pinjaman 50% dari jumlah modal inti.

Ciri – Ciri Modal Pinjaman Modal Kuasi – Bank

  • Bank tidak menjamin pengembalian dananya
  • Pelunasan dan penarikan bukan inisiatif pemiliki namun harus persetujuan Bank Indonesia
  • Modal pinjaman dapat digunakan oleh bank untuk menanggung kerugian yang melebihi retained earning dan cadangan lainnya yang termasuk modal inti.
  • Bank berhak menangguhkan pembayaran bunga, jika bank mengalami kerugian atau laba bank tidak cukup untuk membayar bunga tersebut.

d). Pinjaman Subordinasi – Bank

Pinjaman subordinasi adalah pinjaman yang memenuhi syarat syarat yang sudah ditentukan oleh otoritas monoter

Syarat – Syarat Pinjaman Subordinari – Bank

  • Adanya perjanjian tertulis antara bank dengan pemberi pinjaman.
  • Pinjaman subordinasi harus mendapat persetujuan terlebih dahulu dari Bank Indonesia.
  • Pinjaman subordiasi tidak dijamin oleh bank yang bersangkutan dan perjanjian lainnya
  • Bank harus menyampaikan program pembayaran kembali pinjaman subordinasi tesebut.
  • Pinjaman minimal berjangka waktu 5 (lima) tahun.
  • Pelunasan sebelum jatuh tempo harus mendapat persetujuan dari BI, dan pelunasan tersebut tidak mempengaruhi permodalan bank tersebut.

Modal Pelengkap Tambahan – Tier 3,- Bank

a). Bank dapat menggunakan modal pelengkap tambahan – tier 3 dengan tujuan untuk memenuhi Kebutuhan Penyediaan Modal Minimum (KPMM) atau Capital Adequcy Ratio (CAR) secara individual dan atau secara konsolidasi dengan anak perusahaan.

b). Modal pelengkap tambahan – tier 3 pada penentuan KPMM hanya digunakan ketika bank memperhitungan risiko pasar.

Kebutuha – Kecukupan Modal Bank – Bank

Kecukupan modal bank merupakan suatu ketentuan tentang pengelolaan modal yang berlaku pada sebuah bank berdasarkan pada standar yang ditetapkan oleh otoritas monoter.

Modal harus cukup untuk memenuhi fungsi dasar sebagai sebuah badan usaha perbankan. Setidaknya setiap bank harus mempunyai jumlah modal minumun yang harus dipenuhi.

a). Modal harus cukup untuk membiayai organisai dan operasi sebuah bank

b). Modal harus dapat memberikan rasa perlindungan pada penabung dan kreditor lainnya

c). Modal harus memberikan rasa percaya pada para penabung dan pihak berwenang.

Modal Minimum Bank (Sesuai Peraturan OJK)

Ketentuan modal minimum bank umum yang berlaku di Indonesia mengikuti standar Bank for International Settlements (BIS).

Ketentuan modal minimum ditetapkan dalam Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor 11 /POJK.03/2016 tentang kewjiban penyediaan modal minimum Babk Umum.

Bank wajib menyediakan modal minimum sesuai profil risiko seperti berikut:

a). 8% (delapan persen) dari Aset Tertimbang Menurut Risiko (ATMR) bagi Bank dengan profil risiko Peringkat 1;

b). 9% (sembilan persen) sampai dengan kurang dari 10% (sepuluh persen) dari ATMR bagi Bank dengan profil risiko Peringkat 2;

c). 10% (sepuluh persen) sampai dengan kurang dari 11% (sebelas persen) dari ATMR bagi Bank dengan profil risiko Peringkat 3; atau

d). 11% (sebelas persen) sampai dengan 14% (empat belas persen) dari ATMR bagi Bank dengan profil risiko Peringkat 4 atau Peringkat 5.

Rasio Kecukupan Modal Bank

Salah satu cara untuk mengetahui kecukupan modal sebuah bank adalah dengan melihat rasio modal terhadap barbagai asset bank yang bersangkutan.

Rasio modal dapat diketahui dengan membandingkan antara modal dengan berbagai rekening (komponen) necara seperti total deposit, total asset, total asset beresiko.

Indikator yang digunakan untuk mengukur kecukupan modal adalah dengan Capital Adequacy Ratio (CAR).

Capital Adequacy Ratio (CAR) adalah rasio yang menunjukkan seberapa besar jumlah seluruh aktiva bank yang mengandung unsur risiko seperti kredit, penyertaan, surat berharga, tagihan pada bank lain yang dibiayai oleh modal sendiri.

Rumus Capital Adequacy Ratio – CAR – Bank

Nilai capital adequacy ratio CAR suatu bank dapat dinyatakan dengan menggunakan persamaan berikut:

CAR = (Modal Sendiri)/(ATMR) x 100 %

ATMR = aktiva tertimbang menurut risiko

Dari rumusnya dapat diketahui bahwa Capital Adequacy Ratio CAR merupakan rasio yang membandingkan antara modal sendiri dengan aktiva berisiko.

Risiko kredit adalah risiko yang timbul akibat kegagalan pihak debitur atau pihak lain dalam memenuhi kewajiban kepada bank.

Rasio ini menunjukkan risiko atas modal yang diinvestasikan terhadap aktiva berisiko rendah maupun berisiko tinggi.

Aktiva Tertimbang Menurut Risiko merupakan penjumlahan dari nilai nominal komponen aktiva setelah dikalikan dengan masing- masing bobot risikonya.

Aktiva yang paling tidak berisiko diberi bobot 0% dan aktiva yang paling berisiko diberi bobot 100%.

 

Bobot risiko untuk tiap tiap komponen (pos) keuangan dalam neraca mengikuti standar yang ditetapakn dalam Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor 11 /POJK.03/2016 tentang kewajiban penyediaan modal minimum Babk Umum.

Bobot risiko yang digunakan untuk perhitungan nilai ATMR dapat dilihat pada table berikut:

Nilai Standar Bobot Risiko - Aktiva Tertimbang Menurut Risiko ATMR - Bank 1
Standar Bobot Risiko – Aktiva Tertimbang Menurut Risiko ATMR – Bank 1

Dengan demikian ATMR menunjukkan nilai aktiva berisiko yang memerlukan antisipasi modal dalam jumlah yang cukup.

Contoh Soal Perhitungan Capital Adequacy Ratio CAR Bank

Sebuah bank memiliki data keuangan seperti yang ditunjukkan dalam contoh laporan neraca (sisi aktiva) yang disederhanakan berikut:

Contoh Soal Perhitungan Capital Adequacy Ratio CAR Bank 2
Contoh Soal Perhitungan Capital Adequacy Ratio CAR Bank 2

Tentukanlah Aktiva Terimbang Menurut Risiko – ATMR bank, Modal minimum bank, nilai Capital Adequacy Ratio – CAR Bank tersebut.

Menghitung Aktiva Tertimbang Menurut Risiko ATMR  Bank

Komponen aktiva yang dihitung dalam ATMR adalah Kas dengan bobot 0%, Penempatan pada bank dengan bobot 20%, Kredit yang diberikan dengan bobot 50%, Aktiva tetap inventaris dan Aktiva lainnya diberi bobot 100%.

Secara keseluruhan, masing masing pos aktiva dikenversi menjadi ATMR dengan bobot risikonya seperti ditunjukkan pada tabel berikut

Menghitung Aktiva Tertimbang Menurut Risiko ATMR Bank 3
Menghitung Aktiva Tertimbang Menurut Risiko ATMR Bank 3

Nilai ATMR masing masing komponen (pos) aktiva dihitung dengan mengalikan kolom (a) dan kolom (b).

Total ATMR merupakan jumlah seluruh nilai ATMR pada kolom (a x b) dan total ATMR-nya adalah Rp 994 miliar rupiah. Ini artinya, bank memiliki aktiva senilai 994 miliar rupiah yang berisiko dengan bobot antara 20 – 100%.

Rumus Menghitung Kebutuhan – Kecupkupan Modal Minimum Bank

Kecukupan penyediaan modal minimum (KPMM) atau Modal minimum yang harus dimiliki oleh bank dapat dihitung dengan menggunakan persamaan berikut

Modal Minimum = ATMR x 8%

Modal Minimum = 994 x 8%

Modal Minimum = 79,52 miliar rupiah

Jadi, bank setidak tidaknya memiliki modal sebesar 79,52 miliar rupiah.

Menghitung Total – Kelebihan – Modal Bank Bank

Untuk dapat mengitung kebutuhan – kecukupan suatu bank, maka diperlukan data keuangan yang masuk dalam komponen modal bank yang terdiri dari modal inti dan modal pelengkap. Sebagai contoh modal bank ditunjukkan seperti berikut:

Menghitung Total – Kelebihan – Modal Bank Bank 4
Menghitung Total – Kelebihan – Modal Bank Bank 4

Rumus Menghitung Total Modal Bank

Dengan menggunakan data di atas maka total modal bank  dapat dihitung dengan menggunakan rumus berikut:

TM = MI + MP

TM = total modal bank

MI = modal inti = 392,7

MP = modal pelengkap = 12,4

TM = 405,1 miliar

Menghitung Capital Adequacy Ratio – CAR – Bank

Rasio kecukupan penyediaan modal minimum (KPMM) atau Capital adequacy rasio CAR suatu bank dapat dihitung dengan menggunakan persamaan berikut:

CAR = (Modal)/(ATMR) x 100%

CAR = (405,1)/(994) x 100%

CAR = 40,75 %

Dengan nilai CAR sebesar 40,75% maka modal bank akan mampu menanggung risiko dari aktiva sebesar 40,75 persen. Artinya setiap 100 rupiah aktiva berisiko yang disalurkan pada masyarakat dapat ditanggung dengan 40,75 rupiah dari modal bank.

Daftar Pustaka:

  1. Ismail, 2010, “Manajemen Perbankan – Dari Teori Menuju Aplikasi” Edisi Pertama, Catakan 5, Prenadamedia Group, Jakarta
  2. Kasmir, 2000, “Manajemen Perbankan”, Edisi Revisi, Cetakan 13, PT Rajagrafindo Persada, Jakarta.
  3. Darmawi, Herman, 2011, “Manajemen Perbankan”, Cetakan 4, PT Bumi Aksara, Jakarta.
  4. Suhardjono, M.K., 2012, “Manajemen Perbankan – Teori dan Aplikasi”, Edisi Kedua, Cetakan 2, BPFE, Yogyakata.
  5. Taswan, 2010, “Manajemen Perbankan – Konsep Teknik dan Aplikasi”, Edisi Kedua, UPP STIM YKPN Yogyakarta.
  6. Kasmir, 2012, “Dasar Dasar Perbankan”, Edisi Revisi, Rajawali Pers, Jakarta.
  7. Djumhana, Muhamad, 2006, “Hukum Perbankan di Indonesia”, Cetakan Kelima, PT Citra Aditya Bakti, Bandung.
  8. Kasmir, 2015, “Bank dan Lembaga Keuangan Lainnya”, Edisi Revisi, Rajawali Pers, Jakarta.
  9. Mangani, Silvanita, Ktut, 2009, “Bank dan Lembaga Keuangan Lain”, Penerbit Erlangga, Jakarta.
  10. Mishkin, S., Frederic, 2008’ “Ekonomi Uang, Perbankan, dan Pasar Uang”, Edisi Kedelapan, Salemba Empat, Jakarta.
  11. Joesoef, Jose Rizal, 2008, “Pasar Uang dan Pasar Valuta Asing”, Salemba Empat, Jakarta.
  12. Djamil, Fathurrakman, 2012, “Penerapan Hukum Perjanjian dalam Transaksi di Lembaga Keuangan Syariah”, Cetakan Pertama, Sinae Grafika, Jakarta.
  13. Fuady, Munir, 2004, “Hukum Perbankan Modern”, Buku Kedua, Citra Aditya Bakti, Bandung.
  14. Machmud, A. Rukmana, H., 2010, “Bank Syariah, Teori, Kebijakan, dan Studi Empiris di Indonesia”, Penerbit Erlangga, Jakarta.

 

Mekanisme Kliring: Pengertian Tujuan Fungsi Jenis Syarat Sistem Lembaga Kliring Cek Bilyet Giro

Pengertian Kliring: Kliring berasal kata bahasa inggris yaitu Clearing, istilah dalam perbankan dan keuangan yang menunjukkan aktivitas yang berjalan sejak saat terjadinya kesepakatan untuk suatu transaksi hingga selesainya pelaksanaan kesepakatan tersebut.

Kliring adalah pertukaran warkat atau Data Keuangan Elektronik (DKE) antar peserta kliring baik atas nama peserta maupun atas nama nasabah peserta yang perhitungannya diselesaikan pada waktu tertentu.

Kliring sebenarnya merupakan transaksi lalu lintas pembayaran yang bertujuan untuk memudahkan penyelesaian hitang piutang antar bank yang timbul dari transaksi giral.

Pengertian Kliring Menurut Veithzal.

Kliring adalah  sarana perhitungan utang piutang dalam bentuk surat-surat berharga dan surat dagang antara bank -bank peserta kliring yang dilaksanakan oleh Bank Indonesia selaku bank sentral yang mengatur memajukan, memperluas, dan memperlancar arus lalu lintas pembayaran giral serta terselenggara secara mudah, cepat dan aman


Pengertian Kliring Menurut Kasmir

Kliring adalah jasa penyelesaian hutang pihutang antar bank dengan cara saling menyerahkan warkat-warkat yang akan dikliringkan di lembaga kliring. Kliring juga dapat diartikan sebagai suatu proses penyelesaian pembukuan dan pembayaran antar bank dengan memindahkan saldo kepada pihak yang berhak.

Pengertian Kliring Menurut Irsyad

Kliring adalah penyelesaian hutang piutang antar Bank dengan cara saling menyerahkan warkat-warkat yang akan dikliringkan di lembaga kliring yang dikoordinir oleh Bank Indonesia.

Pengertian Kliring Menurut Muhammad dan Dwi Suwiknyo

Kliring adalah proses penyelesaian utang piutang antar bank yang diselenggarakan pada suatu tempat dan waktu tertentu.

Pengertian Kliring Menurut Totok Budisantoso dan Sigit Triandaru.

Kliring adalah pertukaran warkat atau data keuangan elektronik antarbank baik atas nama bank maupun nasabah yang hasil perhitungannya diselesaikan pada waktu tertentu.

Pengertian Kliring Menurut The New Glorier Webster International Dictionary of The English Language.

Kliring adalah the act exchanging draft and each other and settling the differences yang dapat diartikan sebagai kegiatan tukar menukar warkat dari bank satu dengan bank lainnya dan menetapkan perbedaan–perbedaannya.

Pengertian Kliring Menurut Peraturan Bank Indonesia

Menurut Peraturan Bank Indonesia No.1/3/PBI/1999 tanggal 13 Agustus 1999. Kliring adalah pertukaran warkat atau data keuangan elektronik antarbank (DKE), baik atas nama bank maupun nasabah yang hasil perhitungannya diselesaikan pada waktu tertentu.

Menurut Peraturan Bank Indonesia No.7/18/PBI/2005 tanggal 22 Juli 2005. Kliring adalah  pertukaran warkat atau data keuangan elektronik – DKE antar bank baik atas nama bank maupun nasabah yang hasil perhitungannya diselesaikan pada waktu tertentu”.

Menurut Peraturan bank Indonesia Nomor 12/5/PBI/2010. Kliring adalah pertukaran Data Keuangan Elektronik (DKE) dan/atau warkat antar peserta kliring baik atas nama peserta maupun atas nama nasabah yang perhitungannya diselesaikan pada waktu tertentu.

Dengan mengacu pada beberapa pengertian kliring seperti dijelaskan di atas, maka pengertian kliring dapat dirangkum menjadi seperti ini:

Kliring adalah jasa penyelesaian hutang piutang antar bank dengan cara saling menyerahkan warkat–warkat yang akan dikliringkan di lembaga kliring. Penyelesaian hutang pihutang yang dimaksud adalah penagihan cek atau bilyet giro melalui bank dengan menggunakan warkat (surat perintah pembayaran/penagihan).

Kliring adalah proses perhitungan, pelunasan, dan pertukaran warkat–warkat kliring antar bank anggota yang dikoordinasi Bank Indonesia.

Tujuan Dan Manfaat Kliring Clearing Antar Bank

Adapun beberapa tujuan utama dilakukannya kliring diantaranya adalah :

a). Mendorong dan memperlancar lalu lintas pembayaran giral antar bank.

b). Memperudah perhitungan penyelesaian hutang pihutang antar bank

c). Menjaga transaksi lalu lintas pembayaran lebih aman dan efisien.

d). Memberikan pelayanan kepada nasabah bank dengan keamanan dan biaya yang dikeluarkan lebih hemat.

e). Mempermudah penarikan bagi nasabah dan penyelesaian inkaso atau transfer bagi bank peserta kliring

Adapun manfaat yang diperoleh dengan diterapkannya kliring adalah sebagai berikut :

a). Efisiensi biaya operasional bank dalam pencetakan dan proses administrasi

b). Semakin luasnya jangkauan layanan bank kepada nasabah

Jenis Warkat / Nota Kliring Antar Bank

Warkat kliring adalah dokumen, surat berharga dan surat dagang yang diperhitungkan dan diselesaikan di lembaga kliring. Warkat kliring merupakan alat lalu lintas pembayaran giral yang diperhitungkan dalam kliring.

Warkat warkat yang dapat dikliringkan atau diselesaikan di Lembaga kliring adalah warkat yang berasal dari dalam kota seperti cek, bilyet giro BG, wesel bank, surat bukti penerimaan transfer dari luar kota dan Lalu Lintas Giral LLG.

a). Warkat Kliring – CekCheque Bank

Cek adalah salah satu sarana yang digunakan untuk menarik atau mengambil uang di rekening giro.

Pengertian cek adalah surat perintah tanpa syarat dari nasabah kepada bank yang penyimpan rekening giro nasabah tersebut, untuk membayar sejumlah uang kepada pihak yang disebutkan di dalam cek atau kepada pemegang atau pembawa cek tersebut

b). Warkat Kliring – Bilyet Giro (BG)

Bilyet Giro adalah surat perintah dari nasabah kepada Bank penyimpan dana untuk memindahbukukan sejumlah dana dari rekening yang bersangkutan kepada rekening pemegang yang disebutkan Namanya, baik pada bank yang sama maupun pada bank yang lainnya.

c). Warkat Kliring – Wesel Bank

Wesel adalah surat perintah tanpa syarat untuk membayar sejumlah uang tertentu kepada seseorang yang disebut namanya atau kepada orang yang ditunjuknya pada tanggal tertentu sebagaimana disebutkan dalam surat wesel tersebut.

d). Warkat Kliring – Surat Bukti Penerimaan dari Luar Kota

Surat bukti penerimaan transfer dari luar kota adalah  surat bukti yang menunjukkan perimaan transfer dari luar kota yang dapat ditagihkan kepada bank penerima dana transfer melalui kliring local.

e). Warkat Kliring – Lalu Lintas Giral (LLG) / Nota Kredit

LLG Nota Kredit adalah warkat atau sarana yang digunakan untuk mengirimkan dana dari suatu bank kepada bank lain dalam suatu wilayah kliring yang sama.

f). Warkat Kliring – Nota Debet

Nota Debet adalah warkat atau sarana yang digunakan oleh bank untuk menagih dana kepada bank lain atas permintaan nasabah atau bank itu sendiri. Nota debet harus dikonfirmasi dahulu ke bank yang menerima tagihan.

Syarat Warkat Kliring

Adapun syarat – syarat warkat yang dapat dikliringkan adalah :

  • Dinyatakan dalam mata uang rupiah.
  • Telah dapat ditagih pada saat dikliringkan.
  • Telah jatuh tempo pada saat dikliringkan.
  • Telah dibubuhi cap atau stempel kliring.

Jenis Warkat Kliring

Warkat Kliring terdiri dari dua jenis, yaitu:

a). Warkat Debet Kliring

Warkat debet adalah warkat – warkat penagihan piutang uang giral (cek, bilyet giro, wesel, draft L/C, Promes nota, dan lain – lain yang disetorkan nasabah kepada bank peserta kliring untuk ditagihkan kepada bank yang menerbitkannya.

Warkat debit kliring dibedakan menjadi 2 macam yaitu warkat debet masuk dan warkat debet keluar:

  • Warkat Debet Masuk (Incoming Clearing )

Wakat debet masuk adalah warkat uang giral dari bank bersangkutan yang diterima bank lain.

  • Warkat Debet Keluar (Outgoing Clearing )

Warkat debet keluar adalah warkat uang giral dari bank lainnya yang disetorkan pada bank untuk ditagih kepada bank penerbitnya.

b). Warkat Kredit Kliring

Warkat kredit yaitu warkat perintah pembayaran yang diberikan nasabahnya untuk membayar kewajibannya melalui kliring. Warkat kredit dibagi kedalam 2 macam yaitu warkat kredit masuk dan warkat krdit keluar.

  • Warkat Kredit Masuk (Incoming Clearing)

Warkat kredit masuk adalah warkat kredit yang diterima dari bank lain.

  • Warkat Kredit Keluar (Outgoing Clearing)

Warkat kredit keluar adalah warkat kredit yang diterima bank untuk dibayar kepada bank lain melalui kliring.

Jenis Jenis Sistem Kliring

Pelaksanaan dari kegiatan kliring dilakukan dengan menggunakan lima macam sistem kliring yaitu system manual, system semi otomatis, system otomatis, system elektronik, dan system kliring nasional Bank Indonesia.

a). Kliring Sistem Manual

Kliring sistem manual merupakan system penyelenggaraan kliring local yang perhitungan, pembuatan Bilyet Saldo Kliring serta pemilahan warkat dilakukan secara manual oleh setiap peserta kliring.

Kliring manual dilakukan dengan menghadirkan petugas kliring di suatu tempat yang disediakan oleh penyelenggara kliring dan melakukan pertukaran warkat-warkat kliring secara manual.

Kliring system manual dilakukan oleh non-BI yang lokasi wilayahnya jauh dari BI dengan jumlah bank peserta dan jumlah warkatnya sedikit.

b). Kliring Sistem Semi Otomasi

Kliring sistem semi otomatisasi merupakan system penyelenggaraan kliring local yang perhitungan dan pembuatan Bilyet Saldo Kliring dilakukan secara otomasi, sedangkan pemilahan warkat dilakukan secara manual oleh peserta kliring.

Perhitungan kliring pada proses Sistem Semi Otomasi mengacu pada DKE yang dibuat oleh peserta kliring sesuai dengan warkat yang dikliringkannya.

Kliring system semi otomasi umumnya dilakukan oleh BI dengan jumlah bank peserta dan jumlah warkat sedikit melalui system kliring Semi Otomasi Kliring Lokal (SOKL).

Informasi catatan kliring diberikan oleh bank dalam format softcopy (CD, Flash disk, dsb) ke penyelenggara kliring yaitu BI atau bank pemerintah yang ditunjuk.

c). Kliring Sistem Otomasi

Kliring sistem otomasi adalah system pelaksanaan kegiatan kliring lokal yang pelaksanaan perhitungan, pembuatan Bilyet Saldo Kliring dan pemilahan warkat dilakukan oleh penyelenggara secara otomasi.

Perhitungan kliring didasarkan pada warkat yang dibuat oleh peserta kliring sesuai dengan warkat yang dikliringkan oleh peserta kliring. Semua proses perhitungan, rekapitulasi, dan pembuatan laporan kliring dilakukan secara otomasi.

Sistem otomasi kliring dimulai dari penerimaan warkat kliring dari semua peserta kliring oleh KBI penyelenggara kliring sebagai input untuk mesin reader/sorter.

d). Kliring Sistem Elektronik

Kliring yang dilakukan oleh BI dengan jumlah bank peserta dan jumlah warkat sangat banyak dilakukan dengan system kliring elektronik.

Perhitungan, rekapitulasi, dan pembuatan laporan kliring (Bilyet Saldo Kliring) dilakukan secara elektronik melalui terminal elektronik di bank peserta kliring, sehingga tidak perlu datang ke tempat kliring untuk menyampaikan warkat kliring.

Untuk pertukaran warkat dan rekonsiliasi dilakukan secara otomasi melalui computer pusat kliring elektronik.

Dengan system ini, proses kliring dapat diselesaikan dengan lebih cepat, akurat, dan aman, serta mengurangi resiko tidak terprosesnya warkat kliring.  Perangkat yang digunakan dalam kliring elektronik adalah MICR Reader Sorter dan MICR Encoder.

Dalam pemrosesan data secara elektronik, mesin akan membaca Magnetic Ink Character Renognition atau MICR pada tiap lembar cek nasabah.

e). Sistem Kliring Nasional Bank Indonesia

Sistem Kliring Nasional Bank Indonesia, yang selanjutnya disebut SKNBI adalah sistem kliring Bank Indonesia yang meliputi kliring debet dan kliring kredit yang penyelesaian akhirnya dilakukan secara nasional.

Peserta Kliring

Kegiatan kliring melibatkan berbagai anggota dan peserta yang berupa bank. Adapun peserta dalam kliring dibedakan menjadi tiga macam yaitu :

a). Peserta Langsung Aktif (PLA)

Peserta Langsung Aktif (PLA) adalah bank- bank yang sudah tercatat sebagai peserta kliring dan dapat memperhitungkan warkat atau notanya secara langsung dengan Bank Indonesia selaku lembaga kliring atau dapat juga dengan PT. Trans Warkat yang berperan sebagai  perantara yang ditugasi oleh Bank Indonesia.

Peserta langsung aktif memiliki wewenang untuk mengirimkan DKE ke Sistem Pusat Komputer Kliring Elektronik (SPKE) dan menyampaikan warkat kepada penyelenggara.

Peserta langsung aktif (PLA) juga menerima hasil perhitungan kliring dan warkatnya dari penyelenggara dengan menggunakan identas peserta dan PLA wajib menyediakan sarana Terminal Peserta Kliring (TPK).

b). Peserta Langsung Pasif (PLP)

Peserta langsung pasif mempunyai wewenang mengirimkan DKE ke SPKE dan menyampaikan warkat kepada penyelenggara melalui dan menggunakan identitas PLA. Peserta langsung pasif tidak dapat menerima hasil perhitungan kliring dan warkat dari penyelenggara menggunakan identitasnya.

c). Peserta Tidak Langsung (PTL)

Peserta tidak langsung adalah peserta kliring yang mempunyai wewenang mengirimkan DKE ke SPKE dan menyampaikan warkat kepada penyelenggara melalui dan menggunakan identitas PLA.

Bank Indonesia sebagai lembaga kliring mempunyai kepentingan dan tugas untuk meningkatkan kelancaran sistem pembayaran. Salah satu cara untuk mencapai tujuan tersebut adalah memberikan berbagai fasilitas kepada para peserta kliring yang secara umum meliputi penyediaan akses informasi dan saran untuk dapat mengikuti proses kliring secara aman, lancar, efisien, dan handal.

Fasilitas Yang Diterima Peserta Kliring

Adapun fasilitas–fasilitas yang diterima oleh peserta kliring adalah :

a). Informasi Hasil Kliring

Informasi hasil kliring merupakan informasi untuk mengetahui posisi perhitungan kliring masing–masing peserta dan selanjutnyadapat digunakan sebagai dasar dalam melakukan manajemen kas (cash management) perbankan atau dalam rangka transaksi pasar uang.

b). Laporan Hasil Proses Kliring

Penyelenggara menerbitkan berbagai laporan hasil proses kliring yang diperlukan oleh peserta untuk mengetahui perhitungan hasil kliring maupun rincian warkat yang dikeluarkan dan diterima.

c). Rekaman Data Warkat Yang Diterima

Peserta kliring yang telah melakukan otomasi pada sistem akuntasinya akan mendapatkan informasi data warkat yang diterima dan terekam dalam disket.

d). Salinan Warkat dan Permintaan Ulang atas Laporan Hasil Proses Kliring

Salinan warkat adalah reproduksi dari warkat yang telah diproses dalam kliring dan direkam dalam bentuk image atau microfilm.

e). Investigasi Selisih Kliring

Investigasi selisih adalah fasilitas untuk melakukan penelitian terhadap ketidaksesuaian antara laporan hasil proses kliring dengan warkat yang diterima dan atau antara laporan hasil proses kliring dengan warkat yang diserahkan.

f). Pengujian Kualitas MICR Code Line

Peserta dapat meminta kepada penyelenggara kliring elektronik untuk menguji kualitas MICR code line apabila tingkat penolakan warkatnya dinilai tinggi menurut pandangan peserta kliring elektronik.

Penyelenggaraan / Pelaksanaan Kliring

Penyelenggaraan kliring terdiri dari 2 (dua) sub sistem, yaitu kliring debet dan kliring kredit

1). Kliring Debet

a). Meliputi kegiatan kliring penyerahan dan kliring pengembalian, digunakan untuk transfer debet antar Bank yang disertai dengan penyampaian fisik warkat debet (cek, bilyet giro, nota debet dan lain-lain).

b). Penyelenggaan kliring debet dilakukan secara lokal di setiap wilayah kliring oleh PKL (Penyelenggara Kliring Lokal).

c). PKL akan melakukan perhitungan kliring debet berdasarkan DKE (data keuangan elektonik) debet yang dikirim oleh peserta.

  1. d) . Hasil perhitungan kliring debet secara lokal tersebut selanjutnya dikirim ke Sistem Sentral Kliring (SSK) untuk diperhitungkan secara nasional oleh PKN (Penyelenggara Kliring Nasional.

2). Kliring Kredit

a). Digunakan untuk transfer kredit antar bank tanpa disertai penyampaian fisik warkat (paperless).

b). Penyelenggaraan kliring kredit dilakukan secara nasional oleh PKN.

c). Perhitungan kliring kredit dilakukan oleh PKN atas dasar DKE kredit yang dikirim peserta.

Contoh Mekanisme Transaksi Kliring

Setiap melaksanakan kegiatan kliring terdapat tahap transaksi kliring yaitu pelimpahan dana dari nasabah atau bank satu ke nasabah bank lainnya dan penagihan oleh bank satu terhadap bank lainnya.

Mekanisme kliring yang terbentuk dari transaksi jual beli dapat dilihat pada gambar beikut:

Contoh Mekanisme Transaksi Kliring
Contoh Mekanisme Transaksi Kliring

a). Tuan Ardra dan Tuan Razen melakukan transaksi jual beli. Tuan Razen menyerahkan barang beserta faktur penjualannya.

b). Tuan Ardra membayar dengan menyerahkan warkat berupa cek atau bilyet giro yang diterbitkan Bank ABC.

c). Tuan Razen sebagai nasabah giro bank XYZ menyerahkan warkat kepada Bank XYZ untuk dikliringkan.

d). Bank XYZ menyerahkan warkat untuk dikliringkan/ ditagihkan ke lembaga kliring (kliring keluar bagi Bank XYZ).

e). Lembaga kliring menyerahkan warkat yang diterima untuk ditagihkan ke Bank ABC (kliring masuk bagi Bank ABC).

f). Bank ABC memeriksa saldo Tuan Ardra.

g). Bank ABC mendebet rekening giro Tuan Ardra sejumlah nominal yang tercantum dalam warkat.

h). Setelah proses pengecekan dan warkat dinyatakan sah, maka diinformasikan kepada lembaga kliring untuk mendebet rekening Giro Bank ABC di Bank Indonesia.

i). Lembaga kliring menginformasikan kepada Bank XYZ bahwa kliring berhasil ditagihkan (kliring efektif). Kemudian lembaga kliring mengkredit rekening Giro Bank XYZ di Bank Indoneisa.

j). Karena kliring efektif maka Bank XYZ mengkredit saldo rekening giro Tuan Razen.

Dokumen Kliring

Dokumen kliring merupakan dokumen kontrol dan berfungsi sebagai alat bantu dalam proses perhitungan kliring yang terdiri dari

a). Bukti penyerahan warkat debet kliring penyerahan (BPWD).

b). Bukti penyerahan warkat kredit penyerahan (BPWK).

c). Kartu batch warkat untuk kliring debet dan kliring kredit.

  1. d) Lembar Subsitusi.

e). Bukti penyerahan rekaman warkat kliring pengembalian (BPRWKP).

Dokumen kliring dalam kliring elektronik, wajib memiliki Magnetic Ink Character Recognition (MICR) code line.

Dokumen kliring harus memenuhi spesifikasi teknis yang ditetapkan oleh Bank Indonesia, seperti ukuran dan kualitas dan rancang bangun, serta harus terlebih dahulu mendapat persetujuan dari Bank Indonesia.

Setiap percetakan dokumen kliring untuk pertama kali dan atau perubahannya oleh peserta wajib memperoleh persetujuan secara tertulis dari Bank Indonesia.

Tolakan Kliring

Beberapa alasan penolakan kliring pada saat penerimaan warkat-warkat kliring dalam kliring masuk diantaranya adalajh

a). Asal cek atau Bilyet Giro (BG) salah.

b). Tanggal cek atau Bilyet Giro (BG) belum jatuh tempo.

c). Materai tidak ada atau tidak cukup sesuai dengan peraturan yang berlaku.

d). Jumlah yang tertulis di angka dan huruf berbeda.

e). Tanda tangan dan atau cap perusahaan tidak sama dengan spicemen (Contoh tanda tangan) atau tidak lengkap.

f). Coretan atau perubahan tidak ditandatangani.

g). Cek atau Bilyet Giro (BG) sudah kadaluwarsa.

h). Resi belum kembali.

i). Endorsment cek tidak benar.

j). Rekening sudah ditutup.

k). Dibatalkan penarik.

l). Rekening diblokir oleh berwajib

m). Kondisi cek atau Bilyet Giro (BG) tidak sempurna

Jadwal Kliring

Penyelenggaraan kliring di masing-masing wilayah kliring dilaksanakan sesuai dengan dengan jadwal kliring yang berlaku di wilayah tersebut.

Jadwal kliring ditetapkan oleh masing-masing penyelenggara dengan menbacu pada ketentuan Bank Indonesia.

Jadwal kliring ditetapkan dengan memperhatikan kepentingan masyarakat pengguna uang giral, kondisi berbankan, kuantitas warkat yang akan dikliringkan dalam satu hari, kebijakan waktu penyelesaian akhir (same day settlement or next day settlement) dan kemampuan teknis penyelenggara dalam memproses warkat kliringsesuai dengan sistem kliring yang digunakan.

Dalam rangka memberikan keleluasaan kepada pelaku ekonomi di seluruh Indonesia yang terdiri dari 3 (tiga) zona waktu untuk dapat melakukan transfer kredit dengan lancar, maka kliring kredit dilaksanakan dalam 2 (dua) siklus kliring.

Pengiriman DKE kredit pada siklus pertama dilakukan mulai pukul 08.15 s.d. 11.30 WIB sedangkan pengiriman DKE kredit pada siklus kedua dilakukan mulai pukul 12.45 WIB s.d. 15.30 WIB.

Untuk kliring debet pengiriman DKE debet ditetapkan oleh masing-masing PKL dengan batas maksimal pengiriman hasil perhitungan kliring lokal ke SSK pada pukul 15.30 WIB

Biaya Kliring

Dalam penyelenggaraan SKNBI, Bank Indonesia mengenakan biaya proses kepada peserta yang besarnya adalah sebagai berikut :

1). Kliring Debet

a). Biaya proses kliring debet untuk wilayah kliring yang pemilahan warkat debetnya dilakukan secara otomasi sebesar Rp1.500,00 (seribu lima ratus rupiah) per transaksi dengan rincian Rp1.000,00 (seribu rupiah) untuk proses DKE debet dan Rp500,00 (lima ratus rupiah) untuk proses warkat debet.

b). Biaya proses kliring debet untuk wilayah kliring yang pemilahan warkat debetnya dilakukan secara manual sebesar Rp1.000,00 per transaksi yang merupakan biaya proses DKE Debet.

2). Kliring Kredit

Biaya proses kliring kredit sebesar Rp1.000,00 (seribu rupiah) per transaksi.

Istilah Penting Dalam Kliring,

Istilah-istilah yang digunakan dalam kliring antara lain:

a). Kliring

Kliring adalah pertukaran warkat atau Data Keuangan Elektronik (DKE) antar peserta kliring baik atas nama peserta maupun atas nama nasabah peserta yang perhitungannya diselesaikan pada waktu tertentu.

b). Data Keuangan Elektronik – DKE

Data Keuangan Elektronik (DKE) adalah data transfer dana dalam format elektronik yang digunakan sebagai dasar perhitungan dalam SKNBI.

c). Sistem Kliring Nasional Bank Indonesia – SKNBI

Sistem Kliring Nasional Bank Indonesia, yang selanjutnya disebut SKNBI adalah system kliring Bank Indonesia yang meliputi kliring debet dan kliring kredit yang penyelesaian akhirnya dilakukan secara nasional.

d). Wilayah Kliring

Wilayah kliring adalah suatu lingkungan tertentu yang memungkinkan kantor, kantor bank memperhitungkan warkat- warkatnya dalam jadwal kliring yang telah di tetapkan oleh Bank Indonesia

e). Lalu Lintas Pembayaran Giral

Lalu lintas pembayaran giral adalah kegiatan bayar membayar dengan warkat bank yang di perhitungkan atas beban dan untuk keuntungan rekening nasabah yang bersangkutan.

f). Kliring Pengembalian – Tolakan Kliring

Kliring pengembalian (tolakan kliring) adalah warkat kliring yang di kembalikan oleh bank tertarik karena dana tidak cukup atau disebabkan oleh hal-hal lain yang menyebabkan warkat tersebut tidak dapat di bayarkan kepada bank penarik.

g). Menang Kliring

Menang kliring adalah apabila dalam satu hari transaksi kliring, satu bank peserta kliring menerima dana lebih besar dari pada pengeluaran dana

h). Kalah Kliring

Kalah kliring adalah apabila dalam satu hari transaksi kliring menerima dana lebih kecil dari pada pengeluaran dana

 j). Cross Clearing

Cross Clearing adalah fasilitas kredit yang diberikan kepada nasabah dalam bentuk pembelian cek/bilyetgiro bank lain yang disetorkan oleh nasabah dengan maksimum sebesar nilai cek/bilyet giro setoran tersebut.

Hal ini terjadi karena warkat kliring yang disetorkan dananya masih belum efektif namun nasabah sudah melakukan penarikan atas dana tersebut sehingga timbul resiko overdraft (cerukan) atas rekening nasabah tersebut

k). Kliring Debet

Kliring debet adalah kegiatan dalam SKNBI untuk transfer debet.

l). Kliring Debet Pengembalian

Kliring debut pengembalian adalah kegiatan dalam SKNBI untuk menolak atau mnegembalikan transfer debet yang telah dilakukan melalui Kliring Debet

m). Kliring Kredit

Kliring kredit adalah kegiatan dalam SKNBI untuk transfer kredit.

n). Bank Peserta Kliring

Bank peserta kliring adalah kantor Bank yang terdaftar untuk mengikuti kegiatan SKNBI.

Daftar Pustaka

  1. Ismail, 2010, “Manajemen Perbankan – Dari Teori Menuju Aplikasi” Edisi Pertama, Catakan 5, Prenadamedia Group, Jakarta
  2. Kasmir, 2000, “Manajemen Perbankan”, Edisi Revisi, Cetakan 13, PT Rajagrafindo Persada, Jakarta.
  3. Darmawi, Herman, 2011, “Manajemen Perbankan”, Cetakan 4, PT Bumi Aksara, Jakarta.
  4. Suhardjono, M.K., 2012, “Manajemen Perbankan – Teori dan Aplikasi”, Edisi Kedua, Cetakan 2, BPFE, Yogyakata.
  5. Taswan, 2010, “Manajemen Perbankan – Konsep Teknik dan Aplikasi”, Edisi Kedua, UPP STIM YKPN Yogyakarta.
  6. Kasmir, 2012, “Dasar Dasar Perbankan”, Edisi Revisi, Rajawali Pers, Jakarta.
  7. Djumhana, Muhamad, 2006, “Hukum Perbankan di Indonesia”, Cetakan Kelima, PT Citra Aditya Bakti,
  8. Kasmir, 2015, “Bank dan Lembaga Keuangan Lainnya”, Edisi Revisi, Rajawali Pers, Jakarta.
  9. Mangani, Silvanita, Ktut, 2009, “Bank dan Lembaga Keuangan Lain”, Penerbit Erlangga, Jakarta.
  10. Mishkin, S., Frederic, 2008’ “Ekonomi Uang, Perbankan, dan Pasar Uang”, Edisi Kedelapan, Salemba Empat, Jakarta.
  11. Joesoef, Jose Rizal, 2008, “Pasar Uang dan Pasar Valuta Asing”, Salemba Empat, Jakarta.
  12. Djamil, Fathurrakman, 2012, “Penerapan Hukum Perjanjian dalam Transaksi di Lembaga Keuangan Syariah”, Cetakan Pertama, Sinae Grafika, Jakarta.
  13. Fuady, Munir, 2004, “Hukum Perbankan Modern”, Buku Kedua, Citra Aditya Bakti, Bandung.
  14. Machmud, A. Rukmana, H., 2010, “Bank Syariah, Teori, Kebijakan, dan Studi Empiris di Indonesia”, Penerbit Erlangga, Jakarta.
  15. Mekanisme Kliring: Pengertian Tujuan Fungsi Jenis Syarat Sistem Lembaga Kliring Dokumen Warkat Nota Kliring Cek Bilyet Giro Wesel Jadwal Biaya Kliring, Peserta Kliring Peserta Langsung Aktif (PLA) Peserta Langsung Pasif (PLP) Peserta Tidak Langsung (PTL),
  16. Fasilitas Yang Diterima Peserta Kliring Informasi Hasil Kliring Laporan Hasil Proses Kliring Rekaman Data Warkat Yang Diterima Salinan Warkat dan Permintaan Ulang atas Laporan Hasil Proses Kliring Investigasi Selisih Pengujian Kualitas MICR Code Line,
  17. Jenis Jenis Sistem Kliring: Kliring Sistem Manual Kliring Sistem Semi Otomasi Kliring Sistem Otomasi Kliring Sistem Elektronik Sistem Kliring Nasional Bank Indonesia, Warkat / Nota Kliring Cek Bilyet Giro Wesel Bank Surat Bukti Penerimaan dari Luar Kota Lalu Lintas Giral (LLG) / Nota Kredit Nota Debet,

Perhitungan Ratio Rentabilitas Bank: GPM – NPM – ROE – ROA – BOPO – Interest Margin on Earning Assets – Assets Utilization – Rate Return on Loans – Interest Margin on Loans

Pengertian Rentabilitas Bank: Rentabilitas merupakan ukuran kemampuan suatu bank dalam memperoleh laba dibandingkan dengan modal yang digunakan seperti aktiva. Dengan kata lain rentabilitas merupakan kemampuan suatu bank untuk menghasilkan laba selama periode tertentu

Pengertian Rasio Keuangan Bank

Pada dasarnya rasio keuangan merupakan indeks yang menghubungkan antara dua angka akuntansi atau lebih yang diperoleh dengan cara membagi satu atau lebih angka dengan angka lainnya. Nilai atau indek dari rasio keuangan digunakan untuk mengevaluasi kondisi keuangan dan kinerja perusahaan.

Pengertian Rasio Rentabilitas – Profitabilitas Bank

Rasio rentabilitas atau profitabilitas usaha adalah rasio yang menunjukkan kemampuan tingkat efisiensi usaha dan profitabilitas yang dicapai oleh suatu bank.


Rasio rentabilitas bank merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur kemampuan bank dalam menghasilkan laba selama periode waktu tertentu.

Tujuan Perhitungan Rasio Rentabilitas Bank

Adapun tujuan menghitung tingkat rentabilitas atau profitabilitas adalah

a). Mengetahui kemampuan bank dalam menghasilkan laba atau keuntungan selama kurun waktu tertentu.

b). Memberikan suatu gambaran tentang tingkat efektifitas manajemen dalam melaksanakan kegiatan operasinya.

Rasio keuangan bank yang sering digunakan untuk menghitung rentabilitas bank adalah sebagai berikut:

1). Gross Profit Margin – GPM – Bank

Gross Profit Margin digunakan untuk mengetahui presentase laba dari kegiatan usaha murni bank yang bersangkutan setelah dikurangi biaya operasi (operating expense).

Rumus Gross Profit Margin – GPM – Bank

Nilai gross profit margin dapat dinyatakan dengan menggunakan rumus dari persamaan berikut;

GPM = (OI – OE)/(OI) x 100%

GPM = Gross Profit Margin

OI = Operating Income

OE = Operating Expense

Gross Profit Margin (GPM) adalah rasio yang menunjukkan perbandingan antara pendapatan operasional dikurangi biaya operasional dengan pendapatan operasional.

Nilai Standar Gross Profit  Margin – Bank

GPM: > 1,22% = sangat baik

GPM: 0,99 – 1,21 % = baik

GPM: 0,77 – 0,98% = kurang baik

GPM: < 0,76% = tidak baik

Contoh Soal Perhitungan Rasio Rentabilitas – Profitabilitas Bank

Data data keuangan yang dipergunakan dalam perhitungan rasio likuiditas suatu bank adalah laporan keuangan neraca. Berikut contoh laporan laba rugi bank yang sudah disederhanakan untuk Latihan perhitungan rasio rentabilitas suatu bank.

Contoh Soal Perhitungan Rasio Rentabilitas – Profitabilitas Bank
Contoh Soal Perhitungan Rasio Rentabilitas – Profitabilitas Bank

1). Contoh Soal Perhitungan Gross Profit Margin – Bank

Dengan Menggunakan data dari contoh laporan keuangan Laba rugi bank di atas hitunglah gross profit margin bank tersebut.

Menentukan Data Gross Profit Margin – GPM – Bank

Data data keuangan bank yang dipergunakan dalam perhitungan gross profit margin adalah data yang termasuk komponen operating income dan operating expense.

Data keuangan yang termasuk  dalam komponen operating income adalah jumlah pendapatan bunga dan pendapatan operasional lainnya.

Sedangkan data keuangan yang termasuk dalam komponen operating expense adalah beban bunga dan beban operasional.

Data data keuangan dari contoh laporan laba rugi bank yang dibutuhkan untuk perhitungan gross profit margin ditunjukkan dalam table seperti berikut:

1). Contoh Soal Perhitungan Gross Profit Margin - Bank
Contoh Soal Perhitungan Gross Profit Margin – Bank

Menghitung Gross Profit Margin – GPM – Bank

Besarny nilai gross profit margin suatu bank dapat dinyatakan dengan persamaan berikut

GPM = (OI – OE)/(OI) x 100%

GPM = Gross Profit Margin

OI = Operating Income

OI = 825

OE = Operating Expense

OE = 625

GPM = (825 – 628)/(825) x 100%

GPM = 23,89 %

GPM 23,89 persen artinya bank mampu mendapatkan laba kotor sebesar 23,89 persen dari pendapatan operasionalnya.

Setiap 100 rupiah dari pendapatan operasional bank akan diperoleh laba kotor sebasar 23,89 rupiah. Atau setiap 100 rupiah dari pendapatan operasional bank digunakan untuk biaya (beban) operasional sebesar 76,11 rupiah.

2). Net Profit Margin – NPM – Bank

Net profit margin merupakan rasio yang menunjukkan kemampuan bank dalam menghasil net income dari kegiatan operasi pokoknya.

Rumus Net Profit Margin – NPM – Bank

NPM = (NI)/(OI) x 100%

NPM = Net Profit Income

NI = Net Income

OI = Operating Income

NPM (Net Profit Margin) merupakan perbandingan antara laba bersih dan pendapatan operasional. Rasio ini menunjukkan berapa besar persentase laba bersih yang bisa diperoleh bank dari setiap pendapatan operasionalnya.

2). Contoh Soal Perhitungan Net Profit  Margin – Bank

Dari data data keuangan dalam contoh laporan keuangan laba rugi di atas hitunglah net profit margin bank tersebut

Menentukan Data Net Profit Margin – Bank

Data data keuangan bank yang dipergunakan dalam perhitungan net profit margin adalah data yang termasuk komponen operating income dan net income

Data keuangan yang termasuk  dalam komponen operating income adalah jumlah pendapatan bunga dan pendapatan operasional lainnya. Sedangkan data keuangan yang termasuk dalam komponen net income adalah laba bersih tahun berjalan.

Data data keuangan dari contoh laporan laba rugi bank yang dibutuhkan untuk perhitungan net profit margin ditunjukkan dalam table seperti berikut:

2). Contoh Soal Perhitungan Net Profit Margin – Bank
Contoh Soal Perhitungan Net Profit Margin – Bank

Menghitung Net Profit Margin – NPM – Bank

Net profit margin dapat dihitung dengan menggunakan persamaan berikut:

NPM = (NI)/(OI) x 100%

NPM = Net Profit Income

NI = Net Income = 144

OI = Operating Income = 825

NPM = (144)/(825) x 100%

NPM = 17,45 %

Nilai NPM 17,45 persen artinya manajemen bank mampu mendapatkan laba bersih – net income sebesar 17,45 persen dari pendapatan operasionalnya.

Dari 100 rupiah pendapatan operasional bank akan diperoleh 17,45 rupiah laba bersih (net income). Atau dari 100 rupiah operating income bank digunakan untuk membiayai beban usaha bank sebesar 82,54 rupiah.

3). Return on Equity Capital – ROE – Bank

Return on equity capital merupakan rasio yang menunjukkan kemampuan bank dalam mengelola modal yang ada untuk mendapatkan laba bersih (net income).

Rumus Return on Equity Capital – ROE – Bank

Besarnya return on equity capital suatu bank dapat dirumuskan dengan menggunakan persamaan berikut

ROE = (NI)/(EC) x 100%

ROE = Return on equity capital

NI = Net income

EC = Equity capital

Return on equity capital ROE merupakan perbandigan antara laba bersih yang diperoleh bank dengan modal sendiri. Rasio ini menunjukkan kemampuan bank dalam memperoleh laba bersih dari pengelolaan equity capital yang dimilikinya.

Semakin tinggi nilai ROE maka, semakin baik kemampuan manajemen bank dalam mengelola modal untuk mendapatkan laba bersih.

Nilai Standar Return on Equity – ROE – Bank

ROE: > 1,215% = sangat baik

ROE: 0,999 – 1,215 % = baik

ROE: 0,765 – 0,999% = kurang baik

ROE: < 0,765% = tidak baik

3). Contoh Soal Perhitungan Return on Equity Capital – ROE – Bank

Dengan menggunakan data data keuangan yang terdapat dalam contoh laporan keuangan laba rugi bank di atas, hitunglah ROE bank tersebut

Menentukan Data Keuangan Return on Equity Capital – ROE – Bank

Adapun data data keuangan bank yang dipergunakan dalam perhitungan Return on Equity Capital – ROE adalah data yang termasuk komponen net income dan equity capital.

Data keuangan yang termasuk  dalam komponen net income  adalah laba rugi tahun berjalan.

Sedangkan data keuangan equity capital terdapat dalam Contoh Laporan Neraca Bank 

“Contoh Laporan Necara – Perhitungan Rasio Likuiditas dan Solvabilitas”

Data keuangan yang termasuk dalam komponen equity capital adalah modal disetor, dana setoran modal, cadangan umum, cadangan lainnya, sisa laba tahun lalu, laba tahun berjalan.

Data data keuangan dari contoh laporan laba rugi dan neraca bank yang dibutuhkan untuk perhitungan Return on Equity Capital – ROE ditunjukkan dalam table seperti berikut:

3). Contoh Soal Perhitungan Return on Equity Capital – ROE – Bank
Contoh Soal Perhitungan Return on Equity Capital – ROE – Bank

Menghitung Return on Equity Capital – ROE – Bank

Nilai return on equity capital – ROE suatu bank dapat dinyatakan dengan menggunakan rumus berikut:

ROE = (NI)/(EC) x 100%

ROE = Return on equity capital

NI = Net income = 144

EC = Equity capital = 536,5

ROE = (144)/(536,5) x 100%

ROE = 26,84 %

Bank memiliki Nilai ROE  26,84 persen. Artinya bank mampu mendapatkan laba bersih – net income sebesar 26,84 persen dari pendapatan operasionalnya.

Dari 100 rupiah pendapatan operasional bank akan diperoleh 26,84 rupiah laba bersih (net income). Sedangkan sisanya yaitu sebesar 73,16 rupiah (Rp 100 – Rp 26,84) digunakan untuk membiayai beban usaha bank.

3). Return on Assets – ROA – Bank

Return On Asset (ROA) merupakan alat yang digunakan untuk mengetahui tingkat efektifitas bank dalam mendapatkan laba atau keuntungan melalui pemanfaatan asset yang dimilikinya. ROA sering juga disebut dengan Net Income Total Assest.

Semakin besar ROA, maka semakin tinggi tingkat keuntungan yang diperoleh bank. Artinya, manajemen bank tersebut mampu menggunakan assetnya dengan baik.

Rumus Return on Assets –  ROA – Bank

Besaran return on assets dapat dirumuskan dengan menggunakan persamaan berikut

ROA = (Net Income)/(Total Assets) x 100%

Dari rumusnya dapat diketahui bahwa, ROA dihitung dengan membagi laba bersih (net income) dengan aset bank secara keseluruhan (total asset), sehingga disebut juga Net Income Total Assets.

Rumus ini berguna bagi manajemen bank, investor, ataupun analis untuk memberi gambaran seberapa mampu manajemen bank mengelola asset bank. Semakin tinggi nilai ROA suatu bank, semakin baik pengelolaan bank terhadap asset-nya.

Nilai Standar Return on Assets – ROA – Bank

ROA: > 1,215% = sangat baik

ROA: 0,999 – 1,215 % = baik

ROA: 0,765 – 0,999% = kurang baik

ROA: < 0,765% = tidak baik

4). Contoh Soal Perhitungan Rumus Return on Assets – ROA – Bank

Dengan menggunakan data data keuangan dalam contoh laporan laba rugi bank di atas dan laporan neraca pada link artikel ini…

“Contoh Laporan Necara – Perhitungan Rasio Likuiditas dan Solvabilitas”

Tentukanlah besar ROA bank tersebut:

Menentukan Data Keuangan Return on Assets – ROA – Bank

Data keuangan yang dibutuhkan untuk dapat menghitung ROA suatu bank adalah data net incame dan total assets.

Data keuangan yang masuk komponen net income adalah laba rugi tahun berjalan, sedangkan komponen total assets seluruh komponen keuangan yang ada dalam aktiva atau asset atau harta pada laporan neraca.

Data data keuangan dari contoh laporan laba rugi dan neraca bank yang dibutuhkan untuk perhitungan Return on Assets – ROA ditunjukkan dalam table seperti berikut:

4. Contoh Soal Perhitungan Rumus Return on Assets – ROA - Bank
4. Contoh Soal Perhitungan Rumus Return on Assets – ROA – Bank

Menghitung Return on Assets – ROA – Bank

Besar return on assets bank dapat dihitung dengan rumus berikut

ROA = (NI)/(TA) x 100%

NI = net income = 144

TA = total assets = 6680

ROA = (144)/(6680) x 100%

ROA = 2,2 %

Jadi bank memiliki nilai ROA = 2,2%. Ini artinya, Bank mampu mendapatkan laba bersih setelah pajak (net income) sebesar 2,2 persen dari pengelolan seluruh aktiva yang dimiliki oleh bank tersebut.

Setiap 100 rupiah dari assets yang digunakan untuk usaha bank akan menghasilkan laba bersih sebesar 2,2 rupiah.

5). Interest Margin on Earning Assets – NIM – Bank

Interest Margin on Earning Assets merupakan rasio yang menenjukkan kemampuan manajemen bank dalam mengendalikan biaya biaya yang dikeluarkan bank.

Rumus Interest Margin on Earning Assets – Bank

Besarnya Interest Margin on Earning Assets suatu bank dapat dihitung dengan menggunakan rumus seperti berikut

IMEA = (II – IE)/(EA) x 100%

IMEA = interest margin on earning assets

II = interest income

IE = interest expense

EA = earning assets

Dari rumusnya dapat diketahui bahwa interest margin on earning assets merupakan rasio yang dihitung dengan membagi pendapatan bunga bersih terhadap aset produktif (aktiva produktif) yang dimiliki bank.

Rasio ini biasa disebut juga “Net Interest Margin” – NIM dengan rumus sebagai berikut

NIM = (Net Interest Income)/(Earning Assets) x 100% atau

NIM = (Pendapatan bunga bersih)/(Aktiva Produktif) x 100%

Nilai yang tinggi dari rasio ini, menunjukkan semakin tingginya kemampuan manajemen bank dalam mengendalikan biaya biaya (biaya bunga) yang timbul akibat usahannya.

5). Contoh Soal Perhitungan Interest Margin on Earning Assets – Bank

Dengan menggunakan data data keuangan dalam contoh laporan laba rugi bank di atas dan laporan neraca bank pada link artikel ini…

“Contoh Laporan Necara – Perhitungan Rasio Likuiditas dan Solvabilitas”

Tentukanlah nilai Interest Margin on Earning Assets bank tersebut

Menentukan Data Perhitungan Interest Margin on Earning Assets – NIM – Bank

Untuk dapat menghitung besarnya interest margin on earning asset suatu bank diperlukan data keuangan Interest income, interest expense dan earning assets.

Interset income adalah jumlah pendapatan bunga yang terdiri atas penghasilan bunga, baik dalam rupiah maupun valuta asing dan penghasilan dari provisi beserta komisi kredit baik rupiah maupun valuta asing.

Interest expense adalah jumlah beban bunga yang terdiri atas beban bunga, baik dalam rupiah maupun dalam valuta asing serta beban lainnya.

Sedangkan data keuangan earning asset merupakan komponen dari aktiva dalam laporan neraca bank yang terdiri atas surat berharga (efek – efek), deposito, pinjaman yang disalurkan pada masyarakat baik dalam rupiah maupun dalam valuta asing, serta dana dalam penyertaan.

Data data keuangan yang diperlukan untuk menghitung interest margin on earning asset suatu bank ditunjukkan dalam table berikut

5. Contoh Soal Perhitungan Interest Margin on Earning Assets – Bank
5. Contoh Soal Perhitungan Interest Margin on Earning Assets – Bank

Menghitung Interest Margin on Earning Assets Bank

Besarnya nilai Interest Margin on Earning Assets Bank dapat dihitung dengan menggunakan rumus berikut

IMEA = (II – IE)/(EA) x 100%

IMEA = interest margin on earning assets

II = interest income = 336

IE = interest expense =184

EA = earning assets = 4050,5

IMEA = (336 – 184)/(4050,5) x 100%

IMEA = 3,75%

Jadi, bank memiliki nilai Interest Margin on Earning Assets sebesar 3,75%. Hal ini menunjukkan bahwa bank mampu mendapatkan bunga bersih sebesar 3,75 persen dari earning assets atau aset produktif yang dimiliki bank.

Bank akan memperoleh bunga bersih sebesar 3,75 rupiah dari 100 rupiah asset produktif yang dikelolanya.

6). Asset Utilization – Bank

Asset utilization merupakan rasio yang menunjukkan kemampuan manajemen bank dalam menggunakan asset untuk memperoleh pendapatan baik operating income maupun non operating income.

Rumus Asset Utilization – Bank

Besar rasio rentabilitas yang menunjukkan asset utilization dapat dinyatakan dengan persamaan berikut

Assets Utilization =(OI + NOI)/(TA) x 100%

OI = operating income

NOI = non operating income

TA = total assets

Dari rumusnya dapat diketahui, bahwa rasio ini menunjukkan perbandingan antara pendapatan operasi ditambah pendapatan non operasional terhadap total asset atau total aktiva yang dimiliki bank.

Semakin tinggi nilai Assets utilization suatu bank, semakin baik manajemen dalam menggunakan asset untuk memperoleh pendapatan.

6). Contoh Soal Perhitungan Asset Utilization – Bank

Dengan menggunakan data data keuangan dalam contoh laporan laba rugi bank di atas dan laporan neraca bank pada link artikel ini…

“Contoh Laporan Necara – Perhitungan Rasio Likuiditas dan Solvabilitas”

Tentukanlah nilai Assets utilization bank tersebut

Menentukan Data Keuangan Assets Utilization Bank

Data keuangan yang diperlukan untuk menghitung assets utilization adalah data data yang masuk dalam komponen operating income, non operating income, dan total assets yang ditunjukkan dalam table berikut:

6). Contoh Soal Perhitungan Asset Utilization – Bank
Contoh Soal Perhitungan Asset Utilization – Bank

Menghitung Assets Utilization – Bank

Besarnya assets utilization suatu bank dapat dirumuskan dengan menggunakan persamaan berikut:

Assets Utilization = (OI + NOI)/(TA) x 100%

OI = operating income = 825

NOI = non operating income = 25

TA = total assets = 6680

Assets Utilization = (825 + 25)/(6680) x 100%

Assets Utilization = 12,72%

Dengan nilai asset utilization sebesar 12,72%, maka bank mampu memperoleh pendapatan operasional dan non operasional sebesar 12,72 persen dari total aktiva yang dikelolanya.

Manajemen bank mampu mendapatkan 12,72 rupiah dari setiap 100 rupiah aktiva yang digunakan untuk usahanya.

7). Rate Return on Loans – Bank

Rate return on loan merupakan rasio yang menunjukkan kemampuan manajemen bank dalam mengelola perkreditan dalam rangka memperoleh keuntungan dari bunga.

Rumus Rate Return on Loans – Bank

Rate  Return on loans suatu bank dapat dihitung dengen menggunakan persamaan berikut

RRL = (II)/(TL) x 100%

RRL = Rate Return on Loans

II = Interest Income

TL = Total Loans

Rate return on loans merupakan rasio yang dibentuk dengan membandingkan pendapatan bank dari bunga (interest income) terhadap total dana yang disalurkan melalui kredit (total loans).

Rasio ini menunjukkan kontribusi kredit yang telah dipinjamkan kepada mesyarakat terhadap keuntungan pada bank. Semakin tinggi nilai rate return on loans, semakin besar kontribusi kredit terhadap keuntungan bank.

Besar kecilnya pendapatan bunga yang akan diperoleh bank sangat ditentukan oleh kemampuan manajemen bank dalam mengelola penyaluran kreditnya.

7). Contoh Soal Perhitungan Rate Return on Loans – Bank

Dengan menggunakan data keuangan dalam contoh laporan laba rugi bank di atas dan laporan neraca yang terdapat pada link artikel ini…

“Contoh Laporan Necara – Perhitungan Rasio Likuiditas dan Solvabilitas”

Tentukanlah nilai rate return on loans bank tersebut

Menentukan Data Keuangan Rate Return on Loans Bank

Data keuangan yang diperlukan untuk menghitung rate return on loans adalah data data yang masuk dalam komponen interest income, dan total loan yang ditunjukkan dalam table berikut:

7). Contoh Soal Perhitungan Rate Return on Loans – Bank
Contoh Soal Perhitungan Rate Return on Loans – Bank

Menghitung Rate Return on Loans Bank

Besaran rate return on loans dapat ditentukan dengan rumus berikut

RRL = (II)/(TL) x 100%

RRL = Rate Return on Loans

II = Interest Income = 336

TL = Total Loans = 3580

RRL = (336)/(3580) x 100%

RRL = 9,39%

Nilai rate return on loans bank adalah 9,39%. Hal ini menunjukkan bahwa kontribusi kredit yang disalurkan kepada masyarakat terhadap pendapatan bank dari bunga adalah 9,39 persen.

Manajemen bank memiliki kemampuan untuk mendapatkan 9,39 persen dari pengelolaan perkreditannya. Bank akan memperoleh 9,39 rupiah dari setiap 100 rupiah dana yang disalurkan melalui kredit.

8). Interest Margin on Loans – Bank

Interest margin on loans merupakan rasio yang menunjukkan sebarapa mampu bank mendapatkan keutungan bunga bersih dari pengelolaan perkreditan.

Rumus Interest Margin on Loans – Bank

Besaran interest margin on loans dapat dinyatakan dengan menggunakan rumus berikut

Interest margin on loans = (II – IE)/(TL) x 100%

II = interest income

IE = interest expense

TL = total loans

Berdasarkan pada rumus di atas dapat diketahui bahwa interest margin on loans merupakan rasio yang membandingkan pendapatan bersih terhadap total dana yang dipinjamkan pada masyarakat.

Rasio ini akan memberikan gambaran tentang kontribusi total loans terhadap keuntungan bank yang berupa pendapatan bunga bersih. Semakin tinggi nilai interest margin on loans, semakin tinggi pendapatan bunga bersih yang diperoleh bank tersebut.

8). Contoh Soal Perhitungan Interest Margin on Loans – Bank

Dengan menggunakan data keuangan dalam contoh laporan laba rugi bank di atas dan laporan neraca yang terdapat pada link artikel ini…

“Contoh Laporan Necara – Perhitungan Rasio Likuiditas dan Solvabilitas”

Tentukanlah nilai interest margin on loans bank tersebut

Menentukan Data Keuangan Interest Margin on Loans – Bank

Data yang dibutuhkan untuk menghitung rasio interest margin on loans adalah data yang masuk komponen interest income, interest expense, dan total loans seperti ditunjukkan pada table berikut:

8). Contoh Soal Perhitungan Interest Margin on Loans – Bank
8). Contoh Soal Perhitungan Interest Margin on Loans – Bank

Menghitung Interest Margin on Loans – Bank

Interest margin on loans dapat dihitung dengan menggunakan persamaan seperti berikut

IML = (II – IE)/(TL) x 100%

IML = Interest margin on loans

II = interest income

IE = interest expense

TL = total loans

IML = (336 – 184)/(3580) x 100%

IML = 4,25%

Jadi, nilai interest margin on loans adalah 4,25%, yang berarti total loans memberikan kontribusi terhadap pendapatan bunga bersih bank yaitu sebesar 4,25 persen.

Bank mampu mengambil keuntungan 4,25 rupiah dari setiap 100 rupiah dana yang dikelola melalui perkreditan.

9). Rasio Beban Operasi Pendapatan Operasi – BOPO – Bank

BOPO rasio rentabilitas atau profitabilitas memperlihatkan kemampuan suatu bank dalam mengelola beban operasional untuk memperoleh pendapatan operasionalnya.

Semakin besar nilai BOPO, semakin besar beban operasional yang harus ditanggung oleh pendapatan operasional bank.

Rumus Rasio Beban Operasi Pendapatan Operasi – BOPO – Bank

Besar rasio BOPO suatu bank dapat dinyatakan denga rumus berikut:

BOPO = (OE)/(OI) x 100%

OE = operating expense (beban operasional)

OI = operating income = pendapatan operasional

Dari rumusnya dapat diketahui bahwa BOPO merupakan perbandingan antara operating expense terhadap operating income.

Semakin tinggi nilai BOPO, maka semakin besar biaya operasional yang harus dikeluarkan oleh bank. Nilai BOPO yang tinggi, dapat juga menunjukkan semakin kecilnya pendapatan operasional bank.

9). Contoh Soal Perhitungan Rasio BOPO – Bank

Dengan menggunakan data keuangan dari contoh laporan laba rugi di atas, hitungan nilai BOPO bank tersebut:

Menentukan Data Keuangan Untuk BOPO Bank,

Data yang digunakan untuk perhitungan BOPO bank adalah data keuangan yang terasuk dalam kompoenen operating income dan operating expense.

Operarting income – pendapatan operasional terdiri dari pendapatan Bunga  dan pendapatan operasi lainya. Sedangkan operating expense terdiri dari biaya bunga dan biaya operasi lainnya.

Data yang dibutuhkan untuk perhitungan BOPO ban ditunjukkan dalam table berikut

9) Contoh Soal Menentukan Data Keuangan Untuk BOPO Bank,
9) Contoh Soal Menentukan Data Keuangan Untuk BOPO Bank,

Menghitung Rasio BOPO – Bank

Nilai BOPO suatu bank dapat dihitung dengan menggunakan persamaan berikut:

BOPO = (OE)/(OI) x 100%

OE = beban operasional = 628

OI = pendapatan operasional = 825

BOPO = (628/825) x 100%

BOPO = 76,12%

Nilai BOPO sebesar 76,12 persen ini menunjukkan bahwa 76,12 persen beban operasional bank dibiayai oleh pendapatan operasionalnya.

Setiap 100 rupiah pendapatan operasional yang diperoleh bank akan digunakan untuk membiayai operasinal bank sebesar 76,12 rupiah.

Daftar Pustaka:

  1. Ismail, 2010, “Manajemen Perbankan – Dari Teori Menuju Aplikasi” Edisi Pertama, Catakan 5, Prenadamedia Group, Jakarta
  2. Kasmir, 2000, “Manajemen Perbankan”, Edisi Revisi, Cetakan 13, PT Rajagrafindo Persada, Jakarta.
  3. Darmawi, Herman, 2011, “Manajemen Perbankan”, Cetakan 4, PT Bumi Aksara, Jakarta.
  4. Suhardjono, M.K., 2012, “Manajemen Perbankan – Teori dan Aplikasi”, Edisi Kedua, Cetakan 2, BPFE, Yogyakata.
  5. Taswan, 2010, “Manajemen Perbankan – Konsep Teknik dan Aplikasi”, Edisi Kedua, UPP STIM YKPN Yogyakarta.
  6. Kasmir, 2012, “Dasar Dasar Perbankan”, Edisi Revisi, Rajawali Pers, Jakarta.
  7. Djumhana, Muhamad, 2006, “Hukum Perbankan di Indonesia”, Cetakan Kelima, PT Citra Aditya Bakti, Bandung.
  8. Kasmir, 2015, “Bank dan Lembaga Keuangan Lainnya”, Edisi Revisi, Rajawali Pers, Jakarta.
  9. Mangani, Silvanita, Ktut, 2009, “Bank dan Lembaga Keuangan Lain”, Penerbit Erlangga, Jakarta.
  10. Mishkin, S., Frederic, 2008’ “Ekonomi Uang, Perbankan, dan Pasar Uang”, Edisi Kedelapan, Salemba Empat, Jakarta.
  11. Joesoef, Jose Rizal, 2008, “Pasar Uang dan Pasar Valuta Asing”, Salemba Empat, Jakarta.
  12. Djamil, Fathurrakman, 2012, “Penerapan Hukum Perjanjian dalam Transaksi di Lembaga Keuangan Syariah”, Cetakan Pertama, Sinae Grafika, Jakarta.
  13. Fuady, Munir, 2004, “Hukum Perbankan Modern”, Buku Kedua, Citra Aditya Bakti, Bandung.
  14. Machmud, A. Rukmana, H., 2010, “Bank Syariah, Teori, Kebijakan, dan Studi Empiris di Indonesia”, Penerbit Erlangga, Jakarta.
  15. Pengertian Contoh Soal Perhitungan Ratio Rentabilitas Bank: GPM – NPM – ROE – ROA – Interest Margin on Earning Assets – Assets Utilization – Rate Return on Loans – Interest Margin on Loans,

Perhitungan Solvabilitas Bank: Primary Ratio – Risk Asset Ratio – Secondary Risk Ratio – Capital Ratio – CAR – Bank

Pengertian Solvabilitas Bank: Solvabilitas merupakan ukuran kemampuan suatu bank untuk menanggung kerugian- kerugian yang tidak dapat dihindarkan dan sebagai alat ukur besar kecilnya kekayaan bank yang dimiliki oleh para pemegang sahamnya.

Pengertian Rasio Keuangan Bank

Pada dasarnya rasio keuangan merupakan indeks yang menghubungkan antara dua angka akuntansi atau lebih yang diperoleh dengan cara membagi satu atau lebih angka dengan angka lainnya. Nilai atau indek dari rasio keuangan digunakan untuk mengevaluasi kondisi keuangan dan kinerja perusahaan.

Pengertian Ratio Solvabilitas

Rasio solvalbilitas adalah rasio yang menunjukkan indek kemampuan suatu bank dalam mencari sumber dana untuk membiayai kegiatannya. Rasio ini merupakan alat ukur untuk melihat kekayaan bank untuk melihat efisiensi bagi pihak manajemen bank dalam menjalankan aktivitasnya.


Rasio solvabilitas dapat memberikan informasi apakah modal bank cukup untuk mendukung operasi bank dan mampu menanggung kerugian kerugian bank yang terjadi dalam penanaman dana atau penurunan aktiva.

Kemampuan perusahaan perbankan dalam mencari sumber dana dapat diukur dengan rasio primary ratio, capital ratio dan Capital Adequacy Ratio

1). Primary Ratio – PR – Bank

Primary ratio adalah rasio yang menunjukkan kemampuan modal bank dalam mempertahankan penurunan asset akibat kerugian yang tidak dapat terhindari atau diluar perhitungan estimasi.

Rumus Menghitung Primary Ration – PR – Bank

Besarnya primary ratio suatu bank dapat dinyatakan dengan menggunakan persamaan beikut:

PR = (EC)/(TA) x 100%

PR = primary ratio

EC = equity capital

TA = total asset

Primary ratio sebenarnya perbandingan antara  modal bank dalam equity capital terhadap total asset yang dimiliki oleh bank. Jadi primary ratio akan semakin tinggi, jika equity capital semakin besar. Atau primary ratio akan menjadi tinggi ketika total asset menurun.

Batas Standar Primary Ratio – PR – Bank

Nilai indikator rasio keuangan menurut Surat Edaran Bank Indonesia No.6/1/23/DPNP tanggal 31 Mei 2004 tentang penilaian tingkat kesehatan bank umum adalah sebagai berikut:

PR: >14,5% = sangat baik

PR: 12,6 – 14,5% = baik

PR: 10,35 – 12,60 = kurang baik

PR: < 10,35% = tidak baik

Contoh Soal Perhitungan Primary Ratio – PR – Bank

2). Risk Assets Ratio – RAR – Bank

Risk assets ratio adalah rasio yang digunakan untuk mengukur risiko kerugian akibat terjadinya penurunan nilai asset dan seberapa sejauh penurunan tersebut dapat ditanggung oleh modal bank.

Rumus Menghitung Risk Assets Ratio – RAR – Bank

Risk assets ratio dihitung dengan menggunakan persamaan berikut

RAR = (EC)/(TA – CA – S) x 100%

RAR = risk assets ratio (%)

EC = equity capital

TA = total asset

CA = cash asset

S = securities

Contoh Soal Perhitungan Risk Assets Ratio – RAR – Bank

3). Secondary Risk Ratio – SRR – Bank

Secondary risk ratio adalah rasio yang menunjukkan adanya kemungkinan penurunan asset yang memiliki risiko lebih tinggi.

Rumus Secondary Risk Ratio – SRR – Bank

Secondary risk rastio suatu bank dapat dihitung dengan menggunakan rumus berikut

SRR = (EC)/(SRA) x 100%

SRR = secondary risk ratio

EC = equity capital

SRA = secondary risk assets

SRA = TA – CA – S – Low risk assets

TA = total asset

CA = Cash asset

S = securities

Contoh Soal Perhitungan Secondary Risk Ratio SRR Bank

4). Capital Adequacy Ratio  – CAR – Bank

Capital Adequacy ratio menunjukkan kemampuan bank dalam mempertahankan modal yang cukup dan kemampuan manajemen dalam mengidentifikasi, mengawasi dan mengontrol timbulnya resiko- resiko yang dapat berpengaruh terhadap besar kecilnya modal bank.

Capital Adequacy Ratio (CAR) digunakan untuk mengukur kemampuan modal bank dalam menutupi kemungkinan terjadinya berbagai risiko kerugian akibat transaksi perkreditan dan transakasi surat- surat berharga yang dilakuknya.

Rumus Capital Adequacy Ratio 2 – CAR2 – Bank

Capital Adequacy Ratio 2 (CAR2) suatu bank dapat dinyatakan dengan rumus berikut:

CAR 2= (EC – FA)/(TL + S) x 100%

EC = Equity Capital

FA = Fixed Asset

TL = Total Loans

S = Securities

Capital Adequacy Ratio (CAR) merupakan rasio modal yang merepresentasikan kemampuan bank dalam menyediakan dana untuk keperluan pengembangan usaha serta menanggung kemungkinan risiko kerugian yang diakibatkan oleh operasional bank.

Semakin besar Capital Adequacy Ratio (CAR) yang dimiliki oleh bank, maka semakin baik posisi modal bank tersebut

Batas Standar Capital Adequacy Ratio – Bank

Adapun nilai indikator rasio keuangan menurut Surat Edaran Bank Indonesia No.6/1/23/DPNP tanggal 31 Mei 2004 tentang penilaian tingkat kesehatan bank umum sebagai berikut:

CAR: > 20% = sangat baik

CAR: 12% – 20% = bailk

CAR: 8% – 12% = kurang baik

CAR: < 8% tidak baik

Contoh Soal Perhitungan Capital Adequacy Ratio – Bank

5). Capital Ratio – CR – Bank

Capital ratio menunjukkan kemampuan modal equity dan cadangan untuk kerugian kredit dalam menanggung risiko kredit yang disalurkan pada masyarakat. Risiko yang dapat terjadi adalah bunga yang gagal ditagihkan atau penghapusan kredit.

Capital Ratio suatu bank dapat dinyatakan dengan menggunakan persamaan berikut:

CR = (EC + RL)/(TL) x 100%

CR = capital ratio

EC = equity capital

RL = reserve for loans losses

TL = total loans

Reserve for loan losses terdiri dari pencadangan kredit lancar, dalam perhatian khusus, kurang lancar, diragukan, dan macet.

Batas Standar Capital Ratio – CR – Bank

Adapun nilai indikator rasio keuangan menurut Surat Edaran Bank Indonesia No.6/1/23/DPNP tanggal 31 Mei 2004 tentang penilaian tingkat kesehatan bank umum sebagai berikut:

CR: > 81% = sangat baik

CR: 66% – 81% = bailk

CR: 51% – 66% = kurang baik

CR: < 51% tidak baik

Contoh Soal Perhitungan Rasio Solvabilitas Bank

Data data keuangan yang dipergunakan dalam perhitungan rasio solvabilitas suatu bank adalah laporan keuangan neraca. Berikut contoh laporan neraca bank yang sudah disederhanakan untuk Latihan perhitungan rasio solvabilitas suatu bank.

Contoh Soal Perhitungan Laporan Neraca Rasio Solvabilitas Bank
Contoh Soal Perhitungan Laporan Neraca Rasio Solvabilitas Bank

1). Contoh Soal Perhitungan Primary Ratio – PR – Bank

Dengan menggunakan data data keuangan dari contoh laporan neraca di atas, hitunglah primary ratio (PR) bank tersebut.

Menentukan Data Keuangan Untuk Primary Ratio

Data data keuangan bank yang dipergunakan dalam perhitungan primary ratio adalah data yang termasuk komponen equity capital dan total asset.

Data keuangan yang tergolong dalam pos equity adalah modal disetor, dana setoran modal, cadangan umum, cadangan lainnya, sisal laba tahun lalu, dan laba tahun berjalan,

Sedangkan data keuangan yang termasuk dalam komponen total asset adalah semua data keuangan yang terdapat dalam komponen aktiva (asset atau harta).

Data data keuangan dari contoh laporan neraca bank yang dibutuhkan untuk perhitungan primary ratio ditunjukkan dalam table seperti berikut:

1 Contoh Soal Perhitungan Primary Ratio – PR – Bank
1 Contoh Soal Perhitungan Primary Ratio – PR – Bank

Rumus Menghitung Primary Ratio – PR – Bank

Primary ratio suatu bank dapat dirumuskan dengan menggunakan persamaan berikut

PR = (EC)/(TA) x 100%

PR = primary ratio (%)

EC = 536,5

TA = 6680

PR = (536,5/6680) x 100%

PR = 8,03%

Bank memiliki nilai primary ratio PR 8,03 persen, ini artinya jumlah modal bank dalam pos equity capital adalah 8,03 persen dari total asset yang dimiliki bank. Dana dari equity capital hanya berkontribusi 8,03 persen dari total asset yang dimiliki oleh bank.

Jadi, setiap satu rupiah asset yang digunakan untuk kegiatan bank dibiayai atau ditanggung oleh 0,0803 rupiah dana equity capital.

2). Contoh Soal Perhitungan Risk Assets Ratio – RAR – Bank

Dengan menggunakan data data keuangan dari contoh laporan neraca bank di atas, hitunglan risk assets ratio bank tersebut

Menentukan Data Untuk Risk Assets Ratio – RAR – Bank

Data data keuangan bank yang dipergunakan dalam perhitungan risk assets ratio adalah data yang termasuk komponen equity capital, total asset, cash assets dan securities.

Data keuangan yang tergolong dalam pos equity adalah modal disetor, dana setoran modal, cadangan umum, cadangan lainnya, sisal laba tahun lalu, dan laba tahun berjalan,

Data keuangan yang termasuk dalam komponen total asset adalah seluruh data keuangan yang terdapat dalam komponen aktiva (asset atau harta). Sedangkan data yang termasuk dalam komponen securities adalah efek – efek dan deposito

Data data keuangan dari contoh laporan neraca bank yang dibutuhkan untuk perhitungan risk assets ratio ditunjukkan dalam table seperti berikut:

Contoh Soal Perhitungan Risk Assets Ratio – RAR - Bank
Contoh Soal Perhitungan Risk Assets Ratio – RAR – Bank

Rumus Menghitung Risk Assets Ratio – RAR – Bank

Risk assets ratio dari suatu bank dapat dinyatakan dengan menggunakan rumus rasio seperti berikut

RAR = (EC)/(TA – CA – S) x 100%

RAR = risk assets ratio (%)

EC = equity capital = 536,5

TA = total asset = 6680

CA = cash asset = 1612

S = securities = 460

RAR = (536,5)/(6680 – 1612 – 460) x 100%

RAR = 11,64 %

Nilai risk assets ratio bank adalah 11,64 persen, ini artinya dana dalam equity capital dapat menanggung risiko 11,64 persen dari dana yang disalurkan ke masyarakat.

3). Contoh Soal Perhitungan Secondary Risk Ratio SRR Bank

Dengan menggunaka data data keuangan dalam contoh laporan neraca bank di atas, hitunglan secondary risk ratio bank tersebut:

Menentukan Data Keuangan Untuk Perhitungan Secondary Risk Ratio

Data data keuangan bank yang dipergunakan dalam perhitungan secondary risk ratio adalah data yang termasuk komponen equity capital, total asset, cash assets, securities dan low risk assets

Data keuangan yang tergolong dalam pos equity adalah modal disetor, dana setoran modal, cadangan umum, cadangan lainnya, sisal laba tahun lalu, dan laba tahun berjalan,

Data keuangan yang termasuk dalam komponen total asset adalah seluruh data keuangan yang terdapat dalam komponen aktiva (asset atau harta). Sedangkan data yang termasuk dalam komponen securities adalah efek – efek dan deposito.

Data keuangan yang termasuk dalam low risk assets adalah harta tetap, inventoris dan lain – lain.

Data data keuangan dari contoh laporan neraca bank yang dibutuhkan untuk perhitungan secondary risk ratio ditunjukkan dalam table seperti berikut:

3). Contoh Soal Perhitungan Secondary Risk Ratio SRR Bank
3). Contoh Soal Perhitungan Secondary Risk Ratio SRR Bank

Rumus Menghitung Secondary Risk Ratio – SRR – Bank

Secondary risk ratio suatu bank dapat dinyatakan dengan menggunakan rumus berikut:

SRR = (EC)/(SRA) x 100%

SRR = secondary risk ratio

EC = equity capital = 536,5

SRA = secondary risk assets

SRA = TA – CA – S – Low risk assets

TA = total asset = 6680

CA = Cash asset =1612

S = securities = 460

Low risk assets = 208

SRA = 6680 – 1612 – 460 – 208

SRA = 4400

Sehingga SRR -nya adalah

SRR = (536,5)/(4400) x 100%

SRR = 12,19 %

Dengan nilai secondary risk ratio 12,19 persen, maka modal equity bank dapat menanggung 12,19 persen dari biaya asset yang memiliki risiko tinggi.

4). Contoh Soal Perhitungan Capital Adequacy Ratio 2 (CAR2) Bank

Dengan menggunakan data data keuangan dari contoh laporan neraca di atas hitunglah Capital Adequacy Ratio 2 (CAR2) bank tersebut.

Menentukan Data Keuangan Untuk Capital Adequacy Ratio 2 (CAR2) Bank

Data data keuangan bank yang dipergunakan dalam perhitungan capital adequacy ratio 2 adalah data yang termasuk komponen equity capital yaitu modal disetor, dana setoran modal, cadangan umum, cadangan lainnya, sisal laba tahun lalu, dan laba tahun berjalan, Data keuangan yang termasuk dalam komponen fixed asset adalah benda tetap / inventoris.

Sedangan data keuangan yang termasuk dalam komponen total loans adalah pinjaman yang disalurkan dalam mata uang rupiah dan pinjaman yang disalurkan dalam valuta asing. Data keuangan yang tergolong dalam securities adalah efek – efek dan deposito.

Data data keuangan dari contoh laporan neraca bank yang dibutuhkan untuk perhitungan capital adequacy ratio ditunjukkan dalam table seperti berikut:

4). Contoh Soal Perhitungan Capital Adequacy Ratio 2 (CAR2) Bank
4). Contoh Soal Perhitungan Capital Adequacy Ratio 2 (CAR2) Bank

Rumus Menghitung Capital Adequacy Ratio 2 – CAR2 – Bank

Besarnya capital adequacy ratio suatu bank dapat dihitung dengan menggunakan rumus seperti ini

CAR2 = (EC – FA)/(TL + S) x 100%

EC = Equity Capital = 536,5

FA = Fixed Asset = 88

TL = Total Loans = 3580

S = Securities = 460

CAR2 = (536,5 – 88)/(3580 + 460) x 100%

CAR2 = 11,10 %

Nilai capital adequacy ratio 2 CAR2 11,10 persen menunjukkan bahwa modal berupa equity capital setelah dikurangi fixed asset hanya mampu membiayai dana nasabah dan surat berharga sebesar 11,10 persen dari seluruh deposit nasabah dan surat berharga.

Setiap satu rupiah dana yang disimpan oleh nasabah dan surat berharga hanya dapat dibiayai atau ditanggung oleh modal bank sebesar 0,111 rupiah.

5). Contoh Soal Perhitugan Capital Ratio CR Bank

Bank ABC memiliki data keuangan seperti ditunjukkan pada table dibawah. Tentukanlah nilai capital ratio ank tersebut.

5 Contoh Soal Perhitugan Capital Ratio CR Bank
5 Contoh Soal Perhitugan Capital Ratio CR Bank

Menentukan Data Untuk Perhitungan Capital Ratio Bank

Data data keuangan bank yang dipergunakan dalam perhitungan capital ratio adalah data yang termasuk komponen equity capital yaitu modal disetor, dana setoran modal, cadangan umum, cadangan lainnya, sisal laba tahun lalu, dan laba tahun berjalan,

Sedangan data keuangan yang termasuk dalam komponen total loans adalah pinjaman yang disalurkan dalam mata uang rupiah dan pinjaman yang disalurkan dalam valuta asing.

Data data keuangan dari contoh laporan neraca bank yang dibutuhkan untuk perhitungan capital ratio ditunjukkan dalam table seperti berikut:

Menghitung Capital Ratio – CR – Bank

Nilai Capital Ratio suatu bank dapat dihitung dengan menggunakan persamaan berikut:

CR = (EC + RL)/(TL) x 100%

CR = (536,5 + 420)/(3580) x 100%

CR = 26,72%

Nilai capital ratio CR 26,72 persen menunjukkan bahwa modal berupa equity capital dan reserve for loan losses hanya mampu membiayai dana nasabah sebesar 26,72 persen dari seluruh deposit nasabah.

Setiap satu rupiah dana yang didepositkan oleh nasabah hanya dapat dibiayai atau ditanggung oleh modal bank sebesar 0,26,72 rupiah.

Daftar Pustaka:

  1. Kasmir, 2012, “Dasar Dasar Perbankan”, Edisi Revisi, Rajawali Pers, Jakarta.
  2. Kasmir, 2012, “Manajemen Perbankan”, Edisi Revisi, RajaGrafindo Persada, Jakarta.
  3. Kasmir, 2015, “Bank dan Lembaga Keuangan Lainnya”, Edisi Revisi 2014, Rajawali Pers, Jakarta.
  4. Ismail, 2018, “Manajemen Perbankan – Dari Teori Menuju Aplikasi”, Edisi Pertama, Prenadamedia Group, Jakarta.
  5. Suhardjono, M, K., 2012, “ Manajemen Perbankan – Teori Dan Aplikasi”, Edisi Kedua, BPFE – Yogyakarta.
  6. Djumhana, Muhamad, 2006, “Hukum Perbankan di Indonesia”, Cetakan Kelima, PT Citra Aditya Bakti,  Bandung.
  7. Mangani, Silvanita, Ktut, 2009, “Bank dan Lembaga Keuangan Lain”, Penerbit Erlangga, Jakarta.
  8. Mishkin, S., Frederic, 2008’ “Ekonomi Uang, Perbankan, dan Pasar Uang”, Edisi Kedelapan, Salemba Empat, Jakarta.
  9. Joesoef, Jose Rizal, 2008, “Pasar Uang dan Pasar Valuta Asing”, Salemba Empat, Jakarta.
  10. Djamil, Fathurrakman,  2012, “Penerapan Hukum Perjanjian dalam Transaksi di Lembaga Keuangan Syariah”, Cetakan Pertama, Sinae Grafika, Jakarta.
  11. Fuady, Munir, 2004, “Hukum Perbankan Modern”, Buku Kedua, Citra Aditya Bakti, Bandung.
  12. Machmud, A. Rukmana, H., 2010, “Bank Syariah, Teori, Kebijakan, dan Studi Empiris di Indonesia”, Penerbit Erlangga, Jakarta
  13. Solvabilitas Bank: Rumus Perhitungan Primary Ratio Risk Asset Ratio Secondary Risk Ratio Capital Ratio Capital Adequacy Ratio Contoh Soal, Rumus Primary Ratio Risk Asset Ratio Secondary Risk Ratio Capital Ratio Capital Adequacy Ratio Bank,
  14. Contoh Soal Perhitungan Dan Pembahasan Primary Ratio Risk Asset Ratio Secondary Risk Ratio Capital Ratio Capital Adequacy Ratio Bank, Fungsi Manfaat Perhitungan Primary Ratio Risk Asset Ratio Secondary Risk Ratio Capital Ratio Capital Adequacy Ratio Bank, Pengertian Manfaat Perhitungan Rasio Solvabilitas Bank,

Jenis Produktivitas: Perhitungan Single- Factor Productivity – Multifactor Productivity – Produktivitas Faktor Total – Rated Capacity – Rencana Produksi – Cycle Time Produksi- Contoh Soal Rumus

Pengertian Produktivitas:  Produktivitas merupakan rasio antara output (barang dan jasa) dibagi dengan input (sumber daya seperti modal dan tenaga kerja).

Produktivitas yang tinggi selalu menjadi target rutin yang diambil oleh seluruh perusahaan dalam mencapai keutungan yang tinggi.

Pengertian Produktivitas Menurut Organization for European Economic Coorporation

Produktivitas adalah hasil bagi yang diperoleh dengan membagi keluaran dengan satu dari faktor-faktor produksi, yaitu kapital, investasi dan bahan mentah.

Pengertian Produktivitas Menurut Organization for Economic Cooperation and Development (OECD)


Produktivitas merupakan output dibagi dengan elemen- elemen produksi yang dimanfaatkan untuk mendapatkan output.

Pengertian Produktivitas Menurut Drucker 

Produktivitas adalah keseimbangan antara seluruh faktor-faktor produksi yang memberikan keluaran yang lebih banyak melalui penggunaan sumber daya yang lebih sedikit.

Pengertian Produktivitas Menurut Greenberg

Produktivitas adalah perbandingan antara totalitas pengeluaran pada waktu tertentu dibagi totalitas masukan selama periode tersebut.

Pengertian Produktivitas Menurut Mali

Produktivitas merupakan kombinasi dari efektivitas dan efisiensi”. Efektivitas berkaitan dengan unjuk kerja dalam mencapai tujuan dan efisiensi berkaitan dengan penggunaan sumber daya.

Produktivitas dicapai dengan hasil yang sebesa mungkin, dengan memakai sumber daya yang sekecil mungkin.

Pengertian Produktivitas Menurut Simanjuntak

Produktivitas secara philosopi merupakan suatu usaha untuk meningkatkan kualitas kehidupan kerja, yakni hari ini lebih baik dari hari kemarin.

Pengertian Produktivitas Menurut Sinungan,

Produktivitas adalah suatu pendekatan interdisipliner untuk menentukan tujuan yang efektif, pembuatan rencana, aplikasi penggunaan cara yang produktif untuk menggunakan sumber-sumber secara efisien dan tetap menjaga adanya kualitas yang tinggi

Pengertian Produktivitas Menurut Tjutju Yuniarsih

Produktivitas kerja dapat diartikan sebagai hasil konkrit (produk) yang dihasilkan oleh individu atau kelompok, selama satuan waktu tertentu dalam suatu proses kerja.

Cara Meningkatkan Produktivitas

Meningkatkan produktivitas berarti meningkatkan efisiensi. Peningkatan efisiensi dapat dicapai dengan dua cara.

Pertama adalah mengurangi input dengan menjaga output tetap konstan. Kedua adalah menjaga input tetap konstan.

Kedua cara tersebut sama-sama menggambarkan peningkatan produktivitas. Secara ekonomi, input meliputi tenaga kerja, modal, dan manajemen yang diintegrasikan dengan sistem produksi.

Sistem produksi akan memfasilitasi konversi input menjadi output. Output berupa barang dan jasa, sedangkan produksi adalah pembuatan barang dan jasa tersebut.

Walaupun produksi yang tinggi dapat dicapai dengan penggunaan banyak tenaga kerja, namun hal ini tidak menggambarkan produktivitas yang sebenarnya.

Rumus Menghitung Produktivitas

Penghitungan produktivitas dilakukan dengan menghitung input yang dapat berupa modal (jumlah uang yang diinvestasikan), material (ton atau kilogram), energi (kilowatt listrik), dan satuan-satuan lainnya. Sedangkan output dapat berupa jumlah barang unit, ton atau kg atau satuan output lainnya.

Rumus produktivitas dapat dinyatakan dengan menggunkan persamaan sebagai berikut.

P = O/I

P = produktivitas

O = output = unit atau uang diproduksi – dihasilkan

I = input = unit atau uang yang digunakan

Metoda Pengukuran Produktivitas Aktual Normatif

Produktivitas sebenarnya mengukur sesuatu yang telah dicapai dan seberapa tinggi tingkat pencapaian yang telah dilakukan. Ada dua metode yang populer untuk mengukur produktivitas dalam sebuah perusahaan.

Cara pertama adalah membuat perbandingan antara output dan input-nya. Hasil perbandingan metoda ini yang disebut dengan produktivitas masing- masing input.

Cara kedua adalah membuat perbandingan antara kondisi aktual dan normatif.  Dengan metoda kedua ini akan diketahui seberapa tinggi tingkat keberhasilan yang telah dicapai dalam perusahaan tersebut.

1). Contoh Soal Perhitungan Produktivitas Aktual

Perusahaan PT Ardra.biz memproduksi 400 unit produk dari inputan usaha yang dimilikinya. Perusuhaan membutuhkan 400 unit bahan baku dengan waktu tenaga kerja TKL sebesar 400 jam dan waktu operasi peralatan / mesin (alat) 300 jam. Seperti ditunjukkan dalam dalam table berikut:

Contoh Soal Rumus Perhitungan Produktivitas Aktual
Contoh Soal Rumus Perhitungan Produktivitas Aktual

Menghitung Produktivitas Aktual Masing Masing Input Produksi

Produktivitas masing masing variable input produksi dapat dihitung dengan menggunakan rumus berikut:

P = O/I

O = produk

O = 400 unit produk

I = input =  Bahan baku, TKL, Alat,

Menghitung Produktivitas Bahab Baku

O = produk = 400 unit

I = bahan baku = 200 unit

P = 400/200 = 2,00

P = 2 unit produk/unit bahan baku

Mengitung Produktivitas Tenaga Kerja

O = produk = 400 unit

I = jam tenaga kerja TKL = 400 jam

P = 400/400

P = 1 unit produk/jam tenaga kerja

Menghitung Produktivita Peralatan (Mesin / Alat)

O = produk = 400 unit

I = Mesin (alat) = 300 jam

P = 400/300

P = 1,33 unit/jam mesin

Dari hasil perhitungan dapat diketahui, bahwa produktivitas tenaga kerja merupakan factor input produksi yang paling rendah nilainya.

Tabel Rumus Menghitung Produktivitas Aktual Masing Masing Input Produksi
Tabel Perhitungan Produktivitas Aktual Masing Masing Input Produksi

2). Contoh Soal Menghitung Produktivitas Normatif

Produktivitas normative merupakan produktivitas yang ditetapkan berdasarkan beberapa pertimbangan. Produktivitas dapat ditetapkan berdasarkan pada data historis produksi seperti rata – rata, atau operasi yang terbaik, atau bisa ditetapkan berdasar pada uji teoritis atau berdasarkan pada disain operasi pada tahap investasi, atau dapat juga didasarkan pada keuntungan yang ingin dicapai.

Produktivitas normative menjadi acuan atau standar yang digunakan untuk mengevaluasi produktivitas operasi yang sedang berjalan.

Berikut data data yang digunakan oleh PT Ardra.biz untuk penetapan produktivitas normative atau standar produksinya seperti ditunjukkan pada table berikut:

Contoh Soal Menghitung Produktivitas Normatif
Contoh Soal Menghitung Produktivitas Normatif

Perhitungan produktivitas normative sama seperti pada perhitungan produktivitas actual. Hasilnya seperti berikut:

Cara Perhitungan Produktivitas Normative
Cara Perhitungan Produktivitas Normative

Kedua nilai produktivitas yaitu actual dan normative dapat dibandingkan untuk melihat sejauh mana produktivitas actual yang sedang berjalan dapat memenuhi keadaan standarnya.

Berikut table yang menunjukkan data produktivitas actual dan normative dari PT Ardra.biz

Tabel Evaluasi Produktivitas Actual dan Normative
Tabel Evaluasi Produktivitas Actual dan Normative

Dari table di atas dapat diketahui bahwa produktivitas actual (A) dari bahan baku dan tenaga kerja memiliki produktivitas yang lebih rendah dari standar (normative, N) yang telah ditetapkan.

Hal ini menunjukkan bahwa, perusahaan masih dapat meningkat produktivitas dengan memperbaiki kinerja dari tenaga kerja dan bahan bakunya.

Jenis- Jenis Produktivitas

Pada dasarnya produktivitas dapat dikatagorikan menjadi single factor productivity, multifactor productivity dan produktivitas factor total.

a). Pengertian Single- Factor Productivity

Single- factor productivity atau factor produktivitas tunggal adalah produktivitas yang dihitung dengan menggunakan satu unit input.

Jadi Single-Factor Productivity atau biasa disebut juga Produktivitas Parsial adalah perbandingan antara keluaran dengan salah satu faktor masukan.

Sebagai contoh, produktivitas tenaga kerja (rasio dari keluaran dan masukan tenaga kerja), produktivitas modal (rasio keluaran dan masukan modal), produktivitas material (rasio dari keluaran dan masukan material).

b). Pengertian Multifactor Productivity

Multifactor productivity adalah produktivitas yang dihitung dengan menggunakan lebih dari satu unit input atau melibatkan semua factor unit produksi seperti modal, tenaga kerja, material, dan energi.

Jadi, multi-factor productivity atau Produktivitas Total merupakan perbandingan antara keluaran dengan seluruh faktor masukan, dengan demikian produktivitas total mencerminkan pengaruh bersama seluruh masukan dalam mengasilkan keluaran.

Rumus Multifactor Productivity

Besarnya multifactor productivity yang melibatkan lebih dari satu unit input dapat dinyatakan dengan menggunakan persamaan berikut:

P = O/(L + M + E + K + Il)

P = produktivitas

O = output = unit yang dihasilkan

L = tenga kerja

M = material (bahan baku)

E = energi

K = modal

Il = input lainnya jika masih ada

Contoh Soal Perhitungan Di Akhir Artikel

c). Pengertian Produktivitas Faktor Total

Produktivitas Faktor Total adalah rasio keluaran bersih terhadap jumlah masukan faktor tenaga kerja dan faktor modal. Keluaran bersih adalah keluaran total dikurangi dengan jumlah rasio barang atau jasa yang dibeli

Faktor- Faktor yang Mempengaruhi Produktivitas

Produktivitas merupakan kombinasi dari efektivitas dan efisiensi, karena efektivitas terkait dengan kinerja sedangkan efisiensi berhubungan dengan pemanfaatan berbagai sumber.

Produktivitas dari suatu perusahaan atau industry dapat dipengaruhi oleh beberapa factor, seperti berikut:

a). Pengaruh Faktor Investasi Pada Produktivitas

Besar kecilnya investasi akan menentukan modal usaha dan berpengaruh terhadap usaha untuk mempromosikan produk, market share atau penggunaan kapasitas.

b). Pengaruh Rasio Modal Buruh Pada Produktivitas

Bila rasio semakin tinggi, berarti perusahaan telah memakai teknologi canggih atau tinggi hingga jumlah produksi per unit waktu meningkat.

c). Pengaruh Penelitian dan Pengembangan Pada Produktivitas 

Penelitian dapat menghasilkan berbagai inovatif terhadap efisiensi, jenis produk, penghematan dan sebagainya.

d). Pengaruh Penggunaan Kapasitas

Besar kecilnya keluaran per jam ditentukan oleh presentase pemakaian kapasitas.

e). Pengaruh Pemerintah Pada Produktivitas

Mengatur keseimbangan pencapaian sasaran industri dan sosial yang selalu bertentangan.

f). Pengaruh Umur Pabrik dan Peralatan Pada Produktivitas

Tingkat rata-rata umur pabrik dan peralatan yang semakin tinggi menandakan masih adanya usaha modernisasi peralatan masih tetap diteruskan.

g). Pengaruh Ongkos Energi Pada Produktivitas

Produktivitas parsial meningkat pada tenaga kerja atau buruh, jika masukan energi meningkat cepat maka ongkos produksi keseluruhan meningkat.

h). Pengaruh Kelompok Kerja Pada Produktivitas

Dengan pergeseran struktur pekerja, semakin dibutuhkannya kerja sama, ketermpilan dan keahlian.

i). Pengaruh Etika Kerja Pada Produktivitas

Penghargaaan akan waktu akan semakkin tinggi sehingga pemanfaatan waktu harus seproduktif mungkin.

j). Pengaruh Kecemasan Pekerja Akan Kehilangan Pekerjannya Pada Produktivitas

Banyaknya orang berpendapat bahwa pengangguran akan meningkat karena peningkatan produktivitas dengan sistem kontrol komputer.

Bagaiamana mengetahui tanpa mengenal komputer dan microprocessor sistem kontrol, barangkali banyak orang tidak bekerja (menganggur).

k). Pengaruh Sertifikat Buruh Pada Produktivitas

Serikat buruh sangat kuat sehingga memerlukan adanya pengertian terutama demi tuntutan gaji dan upah. Kerja sama antar manajemen dan buruh merupakan penopang peningkatan produktivitas.

l). Pengaruh Manajemen Pada Produktivitas

Manajemen dianggap sebagai faktor dominan terutama dalam proses perencanaan dan penjadwalan, kejelasan instruksi pada tenaga kerja dan pengaturan beban kerja.

3). Contoh Soal Perhitungan Produktivitas Single Factor Productivity

Diketahui jumah produk yang diproduksi adalah 5.000 unit dan jam tenaga kerja yang digunakan adalah 500, hitunglah produktivitas terhadap produksi tersebut.

Diketahui

O = Ouput produksi = Jumlah Produk

O = 5000 unit

I = input produksi = waktu kerja = jam tenaga kerja

I = 500 jam

Menghitung Produktivitas Perusahaan

Besarnya produktivitas dapat dinyatakan dengan rumus berikut

P = O/I

P = 5000/500

P = 10 unit/jam tenaga kerja.

Jadi, produktivitasa perusahaan adalah 10 unit produk untuk tiap jam tenaga kerja.

4). Contoh Soal Perhitungan Multifactor Productivity

Perusahaan PT Ardra.biz. akan mengevaluasi tenaga kerja dan produktivitas multifaktor dengan penggunaan sistem mesin otomatis baru.

Pada bagian finishing, perusahaan memiliki tenaga kerja 5 orang, yang bekerja selama 8 jam per hari dan biaya tenaga kerja Rp 4 jt per hari sedangkan biaya overhead perharinya sebesar Rp 6 jt per hari.

Dengan system lama, perusahaan memproduksi produk 80 unit setiap harinya. Dengan sistem mesin otomatis baru, perusahaan mampu memproduksi 120 unit per hari.

Biaya tenaga kerja dan jam kerja tetap, namun biaya overhead-nya meningkat menjadi Rp 8 jt per hari. Hitunglah Produktivitas tenaga kerja dan multifactor pada system lama dan system mesin otomatis baru.

Menghitung Produktivitas Tenaga Kerja Sistem Mesin Lama

Besarnya produktivitas tenaga kerja pada system lama sebelum mesin otomatis dapat dinyatakan dengan menggunakan rumus single factor productivity seperti berikut:

P = O/I

P = produktivitas tenaga kerja system lama

O = jumlah produk output

O = 80 unit produk

I = jam tenaga kerja

I = 5 orang x 8 jam

I = 40 jam

P = 80/40

P = 2 unit/jam kerja

Menghitung Produktivitas Tenaga Kerja Sistem Mesin Otomatis

Besarnya produktivitas tenaga kerja setelah pemasangan system mesin otomatis dapat dinyatakan dengan persamaan single factor productivity berikut:

P = O/I

P = produktivitas tenaga kerja system mesin otomatis

O = jumlah unit produk

O = 120 unit

I = jam tenaga kerja

I = 5 orang x 8 jam

I = 40 jam

P = 120/40

P = 3 unit/jam kerja

Menghitung Multifactor Productivity Sistem Mesin Lama

Besarnya multifactor productivity dari system mesin lama dapat dihitung dengan persamaan dari rumus berikut:

MP = O/I

MP = O/(BT + BO)

MP = multifactor productivity

O = output = jumlah unit produk lama

O = 80 unit

I = BT + BO

BT = biaya tenaga kerja

BT = 4 jt Rupiah/Hari

BO = biaya overhead

BO = 6 jt Rupiah/hari

I = 4 + 6

I = 10 jt Rp/hari

Maka multifactor productivity system lamanya adalah

MP = O/I

MP = 80/10

MP = 8 unit produk/Satu Juta Rupiah

Menghitung Multifactor Productivity Sistem Mesin Otomatis Baru

Besarnya multifactor productivity system mesin otomatis dapat dinyatakan dengan persamaan berikut:

MP = O/I atau

MP = O/(BT + BO)

MP = Multifactor productivity system mesin otomatis

O = jumlah unit produk

O = 120 unit produk

BT = biaya tenaga kerja

BT = 4 jt Rupiah/Hari

BO = biaya overhead

BO = 8 jt Rupiah/hari

I = 4 + 8 = 12 jt Rp/hari

Maka multifactor productivity system barunya adalah

MP = O/I

MP = (120 unit)/(12 jt Rupiah/hari)

MP = 10 unit/ satu juta Rupiah

Menghitung Peningkatan Produktivitas Tenaga Kerja

Peningkatan produktivitas tenaga kerja akibat penerapan system mesin otomatis baru dapat dinyatakan dengan rumus berikut

ΔP = (PSB – PSL)/PSL

ΔP = Peningkatan produktivitas (%)

PSB = Produktivitas Sistem baru

PSB = 3 unit /jam kerja

PSL = Produktivitas Sistem lama

PSL = 2 unit / jam kerja

ΔP = (3 – 2)/2

ΔP = ½ = 0,5 atau

ΔP = 50 %

Menghitung Peningkatan Produktivitas Multifactor Productivity

Peningkatan Multifactor Productivity akibat penerapan system mesin otomatis baru dapat dinyatakan dengan rumus berikut

ΔMP = (MPSB – MPSL)/MPSL

ΔMP = Peningkatan Multifactor Productivity (%)

MPSB = Multifactor Productivity Sistem baru

MPSB = 10 unit /satu juta rupiah

MPSL = Multifactor Productivity Sistem lama

MPSL = 8 unit / satu juta rupian

ΔMP = (10 – 8)/8

ΔMP = 1/4 = 0,25 atau

ΔMP = 25 %

Dari hasil perhitugan di atas dapat diketahui bahwa dengan menggunakan perhitungan single-factor productivity maupun multifactor productivity menunjukkan adanya peningkatan produktivitas.

Namun demikian, perhitungan dengan menggunakan multifaktor mampu memberikan gambaran yang yang lebih baik, karena memperhitungkan semua biaya dikaitkan dengan peningkatan output.

Pengertian Kapasitas Produksi

Beberapa pengertian kapasitas produksi berdasarkan para ahli diantaranya adalah

a). Pengertian Kapasittas Produksi Menurut Render dan Heizer (2001: 186)

Kapasitas produksi  adalah hasil produksi (atau output atau keluaran) maksimal dari sistem pada suatu periode tertentu.

b). Pengertian Kapasittas Produksi Menurut Menurut Handoko (2001:297-298)

Kapasitas adalah suatu tingkat keluaran, suatu kuantitas keluaran dalam periode tertentu yang merupakan keluaran tertinggi yang mungkin diperoleh selama periode waktu tertentu.

c). Pengertian Kapasittas Produksi Menurut Menurut Yamit (2011: 67)

Kapasitas produksi adalah jumlah maksimum output atau keluaran yang dapat diproduksi dalam satuan waktu tertentu.

Jenis Jenis Kapasitas Produksi

a). Kapasitas Desain.

Kapasitas desain adalah output yang maksimum secara teori pada suatu sistem dalam suatu periode waktu tertentu pada kondisi idealnya sesuai dengan desain pembuatannya. Kapasitas desain juga bisa diartikan kapasitas yang mana suatu perusahaan mengharapkan untuk mencapai hambatan operasional yang tersedia saat ini.

b). Kapasitas Efektif (Utilization).

Kapasitas efektif menunjukan output maksimum pada tingkat operasi tertentu. Kapasitas efektif adalah kapasitas yang diperkirakan dapat dicapai oleh perusahaan dengan keterbatasan operasi yang ada.

Kapasitas efektif biasanya lebih rendah daripada kapasitas desain karena fasilitas yang ada mungkin telah lama dipakai atau dirancang untuk versi produk yang berbeda.

c). Kapasitas Efisien (Efficiency).

Kapasitas efisien adalah persentase kapasitas yang benar-benar tercapai disbanding dengan desainnya. Bergantung pada bagaimana fasilitas dipergunakan dan dikelola. Kapasitas efisien mengukur seberapa baik fasilitas atau mesin ketika digunakan.

d). Rated Capacity.

Rated capacity adalah tingkat keluaran per satuan yang menunjukkan bahwa fasilitas secara teoritik mempunyai kemampuan memproduksinya.

e). Standard Capacity.

Standar Capacity adalah tingkat keluaran per satuan waktu yang ditetapkan sebagai sasaran pengoperasian perusahaan yang dapat digunakan sebagai dasar bagi penyusunan anggaran.

f). Actual Operating Capacity

Actual operating capacity adalah tingkat keluaran rata-rata per satuan waktu selama periode-periode waktu tertentu.

g). Peak Capacity.

Peak capacity adalah jumlah keluaran puncak (tertinggi) per satuan waktu. Peak capacity mungkin lebih rendah daripada standard atau bisa lebih tinggi dari kapasitas standar yang sudah ditetapkan perusahaan.

Proses Perencanaan Kapasitas

Proses perencanaan kapasitas dapat dijelaskan secara sederhana sebagai berikut :

a). Memperkirakan permintaan di masa depan, termasuk dampak dari teknologi, persaingan dan lainnya.

b). Menjabarkan perkiraan itu dalam kebutuhan kapasitas fisik.

c). Menyusun piihan rencana kapasitas yang berhubungan dengan kebutuhan itu.

d). Menganalisis pengaruh ekonomi pada pilihan rencana.

e). Meninjau resiko dan pengaruh strategi pada pilihan rencana.

f). Memutuskan rencana pelaksanaan.

Pengertian Rated Capacity Produksi

Rated Capacity adalah tingkat output produksi persatuan waktu yang merepresentasikan bahwa secara teortis mempunyai kemampuan memproduksi.

Reted capacity menunjukkan kemampuan suatu industry untuk menghasilkan sejumlah produk dalam retang waktu tertentu. Rentang waktunya dapat persatuan jam, persatuan hari, persatuan bulan atau persatuan tahun, tergantung kebutuhannya.

Rumus Menghitung Rated Capacity

Besarnya kapasitas produksi dalam rentang waktu tertentu dapat dinyatakan dengan menggunakan persamaan berikut:

RC = JM x JKM x U x E

RC = rated capacity

JMA = Jumlah mesin/alat

JKM = jam kerja mesin

U = utilisasi = persentase penggunaan

E = efisiensi

Dari rumus rated capacity dapat diketahui bahwa jumlah produk yang dihasilkan dalam periode tertentu tergantung pada jumlah mesin atau peralatan, jam kerja dari mesin, utilisasi atau penggunaan mesin dan efisisnsi.

Pengertian Perencanaan Produksi

Perencaaan produksi merupakan suatu proses penetapan tingkat produksi output manufacturing secara keseluruhan untuk memenuhi tingkat penjualan yang direncanakan dan invebtori yang diinginkan.

Rumus Menghitung Perencanaan Produksi

Besarnya rencana produksi dapat dinyatakan dengan rumus persamaan berikut

RP = (PT – IA) + I

RP = rencana produksi

PT = permintaan total

Iaw = inventory awal

Iak = inventori akhir

Pengertian Cycle Time Produksi

Cycle time adalah waktu antara penyelesaian dua unit diskrit dari produksi. Cycle time mengacu pada waktu yang diperlukan material (bahan baku) dari mulai masuk ke fasilitas produksi sampai keluar menjadi produk.

Rumus Menghitung Cycle Time Produksi

Besarnya cycle time yang dibutuhkan untuk menghasilkan satu unit produk mulai dari awal proses hingga proses terakhir menjadi suatu produk dapat dinyatakan dengan persamaan berikut:

Cycle Time = (Waktu Produksi)/(Tingkat Produksi) atau

CT = (WP)/(TP)

CT = Cycle Time

WP = Waktu Produksi

TP = Tingkat Produksi)

5). Contoh Soal Perhitungan Rated Capacity

Perusahaan PT ardra.biz memiliki unit produksi uang beroperasi selama 7 hari perminggunya dengan system tiga shift, 8 jam per-shift-nya. Perusahaan memiliki 10 mesin dengan kemampuan yang sama. Mesin dipakai selama 90 % dari waktunya ketika tingkat efisien system 85 %. Hitunglah rated capacity dalam satu meninggu.

Menghitung Rated Capacity Produksi

Besarnya rated capacity dapat dinyatakan dengan menggunakan persamaan berikut

RC = JM x JKM x U x E

JM = 10 mesin

JKM = 3 x 8 jam/hari x 7 hari/minggu

JKM = 168 jam/minggu

U = 90%

E = 85%

RC = (10) x (168) x (90%) x (85%)

RC = 1285,2 dibulatkan

RC = 1285 jam perminggu

6). Contoh Soal Perhitungan Rencana Produksi

Perusahaan PT Ardra.biz sedang merencanakan produksi untuk permintaan total 1000 unit produk. Perusahaan memiliki inventori awal 200 dan inventori akhir 800, maka berdasarkan data ini, berapakah rencana produksinya.

Menghitung Rencana Produksi

Rencana produksi dapat dinyatakan dengan rumus seperti berikut:

RP = (PT – Iaw) + Iak

RP = rencana produksi

PT = permintaan total

PT = 1000 unit

Iaw = inventory awal

Iaw = 200 unit

Iak = inventori akhir

Iaw = 800 unit

Berdasarkan data data tersebut, maka rencana produksinya adalah

RP = (1000 – 200) + 800

RP = 1600 unit produk

7). Contoh Soal Perhitungan Cycle Time Produksi

PT Ardra.biz memiliki data data  produksi sebagai berikut waktu yang tersedia adalah 8 jam x 60 menit = 480 menit untuk waktu produktif perharinya. Perusahaan memiliki tingkat produksi perhari adalah 24 unit. Hitungkah cycle time produksi perusahaan tersebut.

Menghitung Cycle Time Produksi

CT = (WP)/(TP)

CT = Cycle Time

WP = Waktu Produksi

WP = 480 menit

TP = Tingkat Produksi)

TP = 24 unit

Dengan data data tersebut, maka cycle time produskinya adalah

CT = 480/24

CT = 20 menit per unit produk

Daftar Pustaka:

  1. Sartono, Agus, R., “ 2001, “Manajemen Keuangan Teori dan Aplikasi”, Edisi Keempat, BPFE Yogyakarta, Yogyakarta.
  2. Jenis Produktivitas: Perhitungan Single- Factor Productivity – Multifactor Productivity – Produktivitas Faktor Total – Rated Capacity – Rencana Produksi – Cycle Time Produksi- Contoh Soal Rumus,
  3. Jenis Jenis Kapasitas Produksi – Kapasitas Desain- Kapasitas Efektif (Utilization) – Kapasitas Efisien (Efficiency) – Rated Capacity – Standard Capacity – Actual Operating Capacity Peak Capacity,
  4. Contoh Soal Perhitungan Produktivitas Aktual Normatif, Contoh Soal Perhitungan Produktivitas Single- Factor Productivity – Multifactor Productivity, Contoh Soal Perhitungan Rated Capacity – Rencana Produksi – Cycle Time Produksi,

Rasio Likuiditas Bank: Quick Ratio – Banking Ratio – Loan to Deposit Ratio – Cash Ratio – Loan to Asset Ratio Deposit Risk Ratio – Investing Policy Ratio

Pengertian Likuiditas: Likuiditas merupakan kesanggupan suatu bank dalam menyediakan dana untuk kebutuhan atau kewajiban saat ini atau kewajiban jangka pendek (short-term debt) yang bersifat lancar atau yang segera harus dibayar, baik kewajiban kepada pihak luat maupun kewajiban di dalam bank itu sendiri.

Kewajiban jangka pendek atau biasa disebut juga dengan utang lancar adalah utang yang akan dilunasi dalam waktu tiga bulan sampai satu tahun.

Menurut Bank Indonesia, penilaian aspek likuiditas mencerminkan kemampuan bank untuk mengelola tingkat likuiditas yang memadai guna memenuhi kewajibannya secara tepat waktu dan untuk memenuhi kebutuhan yang lain.

Pengertian Ratio Likuiditas Bank

Rasio likuiditas bank adalah rasio yang menunjukkan kemampuan suatu bank dalam memenuhi kewajiban jangka pendeknya pada saat ditagih nasabahnya.


Bank dianggap memiliki likuiditas yang baik ketika dapat membayar kembali pecairan dana deposannya pada saat ditagih dan mencukupi permintaan kredit yang telah diajukan dan disetujuinya.

1). Quick Ratio QR – Bank

Quick rasio adalah rasio adalah rasio yang menunjukkan ukuran kemampuan bank dalam memenuhi kewajibannya terhadap nasabahnya yang memiliki simpanan giro, tabungan dan deposito dengan harta atau aktiva yang paling likuid yang dimiliki suatu bank.

Jadi, quick ratio mengukur kemampuan bank membayar kembali kewajibannya dengan harta lancar (cash asset) ketika nasabahnya menarik dananya dari giro, tabungan dan deposito. Jadi, sumber likuiditasnya adalah dana dari harta lancar atau cash asset.

Rumus Menghitung Quick Ratio

Quick rasio suatu bank dapat dinyatakan dengan menggunakan persamaan berikut:

Quick Ratio = (Cash Assets)/(Total Deposit) x 100%

Quick ratio QR sebenarnya merupakan perbandingan antara dana yang paling likuid yaitu cash asset terhadap total dana yang didepositkan nasabahnya. Jadi, kemampuan bank untuk membayar Kembali dana nasabahnya akan semakin besar ketika bank memiliki nilai QR yang semakin besar.

Semakin besar nilai QR artinya likuiditas bank semakin tinggi. Nilai QR akan semakin tinggi jika cash asset semakin besar atau total deposit semakin rendah.

Rasio ini mencerminkan seberapa besar bank memberi jaminan terhadap dana yang telah diterimanya dengan dana dari cash asset yang dimilikinya. Quick Ratio yang ditetapkan oleh Bank Indonesia antara 15- 21%.

Contoh Soal Perhitungan Quick Ratio Di Akhir Artikel

2). Loan To Deposit Ratio – LDR Bank

Loan to deposit ratio adalah rasio yang menunjukkan jumlah dana yang disalurkan melalui kredit dibandingkan dengan jumlah dana dari masyarakat dan modal sendiri.

Rumus Menentukan Loan To Deposit Ratio – LDR Bank

Besarnya Loan to deposit ratio suatu bank dapat dinyatakan dengan persamaan berikut:

Loan to Deposit Ratio = (Total Loans)/(Total Deposit + Equity) x 100 %

Dari rumusnya dapat diketahui, bahwa LDR merupakan perbandingan nilai total loan terhadap total deposit ditambah equity. Jadi, nilai LDR bank akan semakin tinggi ketika bank mampu menyalurkan dananya semakin besar.

Namun demikian, semakin tinggi nilai LDR menyebabkan likuiditas bank semakin rendah. Sehingga kemampuan bank untuk mengembalikan dana kepada nasabahnya akan semakin rendah.

Nilai LDR akan semakin besar jika total loan semakin besar atau deposit ditambah equity semakin kecil.

Standar yang ditetapkan oleh Bank Indonesia untuk rasio LDR  ini adalah maksimum 110%. Jika suatu bank mendapatkan nilai loan to deposit ratio diangka 70%, hal ini menunjukkan bahwa bank tersebut hanya mampu menyalurkan 70% dari total dana yang dihimpun dari nasabahnya (atau masyarakat). Sedangkan 30% lainnya tidak dapat atau belum tersalurkan.

Contoh Soal Perhitungan Loan to Deposit Ratio Di Akhir Artikel

3). Banking Ratio – BR – Bank

Banking ratio adalah rasio yang menunjukkan tingkat likuiditas bank dengan membandingkan jumlah kredit yang disalurkan terhadap deposit milik bank yang diterima dari masyarakat.

Semakin tinggi nilai banking ratio, maka tingkat likuiditas bank semaking rendah. Artinya jumlah dana yang sudah dikeluarkan melalui fasilitas kredit sudah tinggi, sehingga jumlah dana yang dapat digunakan untuk membiayai kredit berikutnya menjadi semakin kecil.

Rumus Menghitung Banking Ratio – BR – Bank

Besarnya nilai Banking ratio suatu bank dapat dirumuskan dengan persamaan berikut

Banking Ratio = (Total Loan)/(Total Deposit) x 100%

Standar penilaian banking ratio untuk bank yang ditetapkan oleh Bank Indonesia sebesar 85-100%.

Dengan menggunakan banking ratio, dapat diketahui perbandingan seluruh kredit yang disalurkan bank dengan total dana yang diterima oleh bank.

Banking ratio menyatakan seberapa besar bank mampu untuk membayar kembali dana dari deposan dengan menarik kembali kredit kredit yang telah disalurkannya. Dalam hal ini, sebagai sumber likuiditasnya adalah seluruh kredit yang pernah disalurkan oleh bank.

Contoh Soal Perhitungan Banking Ratio Di Akhir Artikel

4). Loan To Asset Ratio – LAR – Bank

Loan to asset rasio bank adalah rasio yang menunjukkan besarnya jumlah kredit yang disalurkan ke masyarakat dari jumlah asset (harta) yang dimiliki bank. Semakin tinggi loan to asset rasio suatu bank, maka semakin rendah likuiditas bank tersebut.

Rumus Loan to Asset Ratio Bank

Besarnya loan to asset rasio dapat dinyatakan dengan menggunakan rumus berikut:

Loan To Asset Ratio = (Total Loan)/(Total Asset) x 100%

Sebenarnya rasio ini merupakan perbandingan antara besarnya  kredit yang disalurkan bank kepada masyarakat dibandingkan dengan besarnya total aset atau total aktiva yang dimiliki bank.

Semakin besar kredit yang disalurkan, maka semakin tinggi kredit yang dijamin oleh seluruh aset yang dimiliki bank.

Contoh Soal Perhitungan Loan to Asset  Ratio Di Akhir Artikel

5). Cash Ratio  CR– Rasio Kas Bank

Cash ratio adalah ratio yang menunjukkan kemampuan bank dalam memenuhi kewajiban yang harus segera dibayarkan dengan asset atau harta likuid yang dimiliki oleh bank.

Cash ratio mengukur kemampuan bank untuk membayar kembali seluruh kewajibannya yang sudah jatuh tempo dengan menggunakan dana dari harta lancar yang dimilikinya. Jadi, sumber llikuiditasnya adalah harta lancar atau cash asset.

Rumus Cash Ratio – Bank

Besarnya cash ratio suatu bank dapat dirumuskan dengan menggunakan persamaan berikut

Cash Ratio = (Liquid Asset)/(Short Term Borrowing) x 100%

Dari rumusnya dapat diketahui bahwa Cash ratio CR merupakan perbandingan Cash Asset atau liquid asset terhadap short term borrowing. Jadi, kemampuan bayar Kembali terhadap nasabahnya akan semakin besar ketika bank memiliki nilai CR yang semakin besar.

Semakin besar nilai CR artinya likuiditas bank semakin tinggi. Nilai CR akan semakin tinggi jika cash asset yang dilmiliki bank semakin besar atau short term borrowing semakin kecil.

Standar penilaian Cash Ratio bank menurut Bank Indonesia adalah 5%. Semakin tinggi Cash Ratio Suatu Bank berarti semakin baik posisi aktiva lancar untuk memenuhi kewajiban jangka pendeknya yang harus segera dipenuhi.

Contoh Soal Perhitungan Cash Ratio Di Akhir Artikel

6). Deposit Risk Ratio DRR- Bank

Deposit risk ratio adalah ratio yang menunjukkan ukuran risiko kegagalan bank membayar Kembali dana yang diterima dari pada nasabahnya.

Deposit risk ratio menyatakan besarnya kemampuan dana equity capital bank jika digunakan untuk membayar kembali seluruh dana nasabah yang tersimpan dalam rekening giro, tabungan dan deposito.

Rumus Menghitung Deposit Risk Ratio DRR – Bank

Nilai deposit risk ratio DRR suatu bank dapat ditentukan dengan menggunakan persamaan berikut:

Deposit Risk Ratio = (Equity Capital)/(Total Deposit) x 100%

Dari rumusnya dapat diketahui bahwa DRR merupakan perbandingan nilai equity terhadap total deposit. Jadi, risiko gagal bayar terhadap para nasabahnya akan semakin besar ketika bank memiliki nilai DRR yang semakin kecil.

Semakin kecil nilai DRR artinya likuiditas bank semakin rendah. Nilai DRR akan semakin kecil jika total deposit semakin besar atau equity semakin kecil.

Contoh Soal Perhitungan Deposit Risk Ratio Di Akhir Artikel

7). Investing Policy Ratio IPR – Bank

Investing policy ratio adalah rasio yang menunjukkan kemampuan bank dalam memenuhi kewajibannya terhadap nasabah dengan cara melikuidasi surat surat berharga yang dimilikinya

Dengan kata lain, Investing policy ratio menyatakan kemampuan surat – surat berharga jika digunakan bank untuk membayar kembali kewajiban ketika nasabah menarik dananya dari giro, tabungan dan deposito. Dalam hal ini, yang menjadi sumber likuiditasnya adalah dana dari penjualan surat surat berharga.

Rumus Mengitung Investing Policy Ratio IPR – Bank

Besar investing polity ratio suatu bank dapat dinyatakan dengan menggunakan rumus persamaan berikut:

Investing Policy Ratio = (Securities)/(Total Deposit) x 100%

Dari rumusnya dapat diketahui bahwa investing polity ratio IPR merupakan perbandingan nilai securities (nilai surat berharga) terhadap total deposit. Jadi, kemampuan bank untuk bayar kembali terhadap nasabahnya akan semakin besar ketika bank memiliki nilai IPR yang semakin besar.

Semakin besar nilai IPR artinya likuiditas bank semakin tinggi. Nilai IPR akan semakin tinggi jika nilai surat berharga yang dimiliki bank semakin besar atau total deposit semakin kecil.

Contoh Soal Perhitungan Rasio Likuiditas Bank

Data data keuangan yang dipergunakan dalam perhitungan rasio likuiditas suatu bank adalah laporan keuangan neraca. Berikut contoh laporan neraca bank yang sudah disederhanakan untuk Latihan perhitungan rasio likuiditas suatu bank.

Contoh Soal Perhitungan Rasio Likuiditas Bank
Contoh Soal Perhitungan Rasio Likuiditas Bank

1). Contoh Soal Perhitungan Quick Ratio QR – Bank

Dengan menggunakan beberapa data dalam contoh laporan keuangan neraca suatu bank di atas tentukanlah quick ratio bank tersebut

Menentukan Data Quick Ratio

Data data keuangan bank yang dipergunakan dalam perhitungan quick ratio adalah data yang termasuk komponen cash asset yaitu kas, giro yang disimpan di Bank Indonesia (BI), giro yang disimpan di bank lain serta dana likuid dalam satuan valuta asing.

Sedangkan data keuangan yang termasuk dalam komponen deposit adalah dana masyarakat yang dideposit dalam bentuk giro, tabungan dan deposito berjangka.

Data data keuangan dari contoh laporan neraca bank yang dibutuhkan untuk perhitungan quick ratio ditunjukkan dalam table seperti berikut:

Contoh Soal Perhitungan Quick Ratio QR - Bank
Contoh Soal Perhitungan Quick Ratio QR – Bank

Rumus Menghitung Quick Ratio – Bank

Besarnya quick ratio suatu bank dapat dihitung dengan menggunakan rumus seperti ini

Quick Ratio = (Cash Assets)/(Total Deposit) x 100%

Cash Assets = 1612

Total Deposit =2652,5

Quick Ratio = (1612)/(2652,5) x 100%

Quick Ratio = 60,77 %

Nilai quick ratio 60,77 persen menunjukkan bahwa dalam jangka pendek, dana paling likuid yang dimiliki bank hanya mampu untuk membayar kembali dana nasabah sebesar 60,77 persen dari seluruh deposit nasabahnya.

Dengan nilai quick ratio 60,77 persen, maka bank mampu menjamin setiap satu rupiah dari deposit milik nasabah dengan 0,6077 rupiah dari dana cash assets yang dimilikinya.

2). Contoh Perhitungan Loan To Deposit Ratio Bank

Dengan menggunakan beberapa data keuangan dalam contoh laporan neraca di atas, hitunglah besarnya Loan to deposit ratio bank tersebut.

Menentukan Data Loan to Deposit Ratio Bank

Data keuangan bank yang harus diketahui agar dapat menghitung loan to deposit ratio adalah data yang termasuk komponen loan yaitu pinjaman yang disalurkan ke masyarakat (rupiah) dan pinjaman yang disalurkan dalam valuta asing.

Sedangkan data keuangan yang termasuk komponen equity capital adalah modal yang disetor, dana seteron modal, cadangan umum, cadangan lainnya, sisa laba tahun lalu dan laba tahun berjalan.

Data data keuangan dari contoh laporan neraca bank yang akan diperguanakan dalam perhitungan loan to deposit ratio ditunjukkan dalam table berikut

Contoh Perhitungan Loan To Deposit Ratio LDR - Bank
Contoh Perhitungan Loan To Deposit Ratio LDR – Bank

Perhitungan Loan To Deposit Ratio Bank

Besarnya loan to deposit ratio suatu bak dapat dinyatakan dengan menggunakan persamaan berikut:

Loan to Deposit Ratio = (Total Loans)/(Total Deposit + Equity) x 100 %

Total Loans =3580

Total Deposit =2654,5

Equity = 536,5

Loan to Deposit Ratio = (3580)/(2654,5+ 536,5) x100%

LDR = (3580)/(3189) x 100%

LDR = 112%

Nilai loan to deposit ratio adalah 112%. Angka 112 persen merepresentasikan, bahwa kredit yang diberikan kepada nasabah adalah 1,12 kalinya dari total dana masyarakat dan modal sendiri. Artinya dana yang disalurkan kepada nasabah lebih besar dari total dana yang diterima dari nasabah dan modal sendiri.

3). Contoh Soal Perhitungan Banking Ratio BR – Bank

Dengan menggunakan data dari contoh laporan keuangan bank di atas, Tentukan nilai banking ratio Bank tersebut.

Cara Menentukan Data Keuangan Banking Ratio Bank

Data yang diperlukan untuk dapat menghitung banking ratio suatu bank adalah data keuangan yang termasuk dalam komponen loan yang terdiri dari pinjaman yang diberikan ke masyarakat dalam satuan rupiah dan pinjaman yang diberikan dalam satuan valuta asing.

Sedangkan data keuangan yang termasuk dalam komponen deposito adalah dana yang diterima dari masyarakat yang disimpan dalam giro, tabungan dan deposito berjangka.

Data data keuangan dalam contoh laporan neraca bank yang akan digunakan untuk menghitung banking ratio disajikan dalam table berikut:

Contoh Soal Perhitungan Banking Ratio BR - Bank
Contoh Soal Perhitungan Banking Ratio BR – Bank

Cara Menghitung Banking Ratio BR – Bank

Banking ratio suatu bank dapat dihitung dengan rumus berikut:

Banking Ratio = (Total Loan)/(Total Deposit) x 100%

Total Loan = 3580

Total Deposit = 2652,5

Banking Ratio = (3580)/( 2652,5) x 100%

Banking Ratio = 135 %

Nilai banking ratio BR 135 persen menunjukkan jumlah dana yang telah disalurkan ke masyarakat adalah 1,35 kali dari jumlah dana deposit yang diterima oleh bank. Artinya, dana yang disalurkan ke masyarakat 35 persen lebih besar dibandingkan dana yang diterima bank dari masyarakat. Dengan kata lain, dana yang diterima lebih kecil dari yang disalurkan.

Dengan banking ratio sebesar 1,35 berarti setiap satu rupiah yang dideposit oleh nasabah dijamin dengan 1,35 rupiah dari dana kredit yang disalurkannya.

4). Contoh Soal Perhitungan Loan To Asset Ratio – LAR – Bank

Dengen menggunakan data laporan neraca bank di atas, tentukanlah besarnya loan to asset ratio bank tersebut:

Menentukan Data Keuangan Loan To Asset Ratio – LAR

Untuk dapat menentukan loan to asset ratio diperlukan data yang termasuk komponen loan yaitu pinjaman yang disalurkan ke masyarakat dalam rupiah dan pinjaman disalurkan dalam valuta asing.

Sedangkan data keuangan yang termasuk komponen asset adalah semua komponen yang ada dalam aktiva pada neraca bank.

Data data keuangan dari laporan neraca yang diperlukan untuk perhitungan loan to asset ditunjukkan dalam table berikut:

 Contoh Soal Perhitungan Loan To Asset Ratio – LAR – Bank
Contoh Soal Perhitungan Loan To Asset Ratio – LAR – Bank

Menghitung Loan To Asset Ratio – LAR – Bank

Besar loan to asset bank dapat dihitung dengan menggunakan rumus berikut

Loan To Asset Ratio = (Total Loan)/(Total Asset) x 100%

Total Loan = 3580

Total Asset = 6680

Loan To Asset Ratio = (3580)/(6680) x 100%

Loan to Asset Ratio = 53,6 %

Nilai Loan to asset ratio LAR adalah 53,6 persen, hal ini menunjukkan bahwa besarnya dana bank yang telah disalurkan melalui kredit ke masyarakat adalah 53,6 persen dari total asset atau harta yang dimiliki oleh bank.

Dengan loan to asset ratio 53,6 persen, maka bank masih memiliki sisa asset sebesar 46,4 persen (100% – 53,6%).

5). Contoh Soal Perhitungan Cash Ratio CR – Bank

Dengan data data keuangan dari contoh laporan neraca bank di atas, tentukanlah cash ratio bank tersebut.

Menentukan Data Cash Ratio Bank

Data yang digunakan adalah data yang termasuk dalam komponen likuid asset yaitu kas, giro yang disimpan di Bank Indonesia, Giro yang disimpan di Bank lain dan aktiva berupa valuta asing yang likuid.

Sedangkan data keuangan yang termasuk dalam komponen shurt term borrowing adalah dana nasabah yang disimpan dalam rekening giro, kewajiban segera lainnya yang harus dibayar, kewajiban yang harus segera dibayar dalam valuta asing.

Data data keuangan yang bisa digunakan dalam perhitungan cash ratio ditunjukkan dalamm table berikut:

Contoh Soal Perhitungan Cash Ratio CR – Bank
Contoh Soal Perhitungan Cash Ratio CR – Bank

Menghitung Cash Ratio CR – Bank

Cash ratio suatu bank dapat dihitung dengan menggunakan persamaan berikut

Cash Ratio = (Liquid Asset)/(Short Term Borrowing) x 100%

Liquid Asset = 1612

Shirt Term Borrowing = 3202,5

Cash Ratio = (1612)/(3202,5) x 100%

Cash Ratio = 50,33%

Nilai cash ratio CR bank adalah 50,33 persen, ini artinya jumlah harta yang paling likuid yang dimiliki bank hanya cukup untuk membayar 50,33 persen dari total kewajiban yang harus segera dibayarkan.

Nilai Cash ratio 50,33% menunjukkan bahwa bank mampu menjamin tiap satu rupiah pinjaman yang harus segera dibayar dengan  0,5533 rupiah dari dana cash assets yang dimilikinya.

6). Contoh Soal Perhitungan Deposit Risk Ratio DRR – Suatu Bank

Dengan menggunakan data data keuangan dari contoh laporan neraca bank di atas,  hitunglah nilai deposit risk ratio bank tersebut:

Menentukan Data Keuangan Deposit Risk Ratio DRR – Suatu Bank

Data keuangan yang diperlukan untuk mengitung deposit risk ratio adalah data yang termasuk dalam komponen equity capital yaitu Modal disetor, dana setoran modal, cadangan umum, cadangan lainnya, sisa laba tahun lalu, dan laba tahun berjalan.

Sedangkan data keuangan yang termasuk komponen deposit adalah dana masyarakat yang disimpan dalam rekening giro, tabungan dan deposito berjangka.

Kedua data keuangan yang diperlukan untuk perhitungan deposit risk ratio ditunjukkan dalam table berikut:

Contoh Soal Perhitungan Deposit Risk Ratio DRR - Suatu Bank
Contoh Soal Perhitungan Deposit Risk Ratio DRR – Suatu Bank

Menghitung Deposit Risk Ratio DRR – Bank

Deposit Risk Ratio DRR suatu bank dapat dinyatakan dengan menggunakan rumus berikut

Deposit Risk Ratio = (Equity Capital)/(Total Deposit) x 100%

Equity Capital = 536,5

Total Deposit = 2652,5

Deposit Risk Ratio = (536,5)/(2652,5) x 100%

Deposit Risk Ratio = 20,23 %

Nilai deposit risk ratio bank adalah 20,23 persen, hal ini menunjukkan bahwa dana equity capital yang dimiliki bank hanya cukup untuk membayar sebesar 20,23 persen dari total dana nasabah yang diterima bank.

Jadi, bank memiliki risiko gagal bayar sebesar 79,67 persen (100% – 20,33) terhadap total yang harus dibayarkan jika pembaryaran menggunakan dana equity capital yang dimilikinya.

Dengan nilai deposit risk ratio 20,23 persen, maka bank hanya mampu menjamin setiap satu rupiah dana yang didepositkan nasabah dengan 0,2023 rupiah dari dana equity capital yang dimilikinya.

7). Contoh Soal Perhitungan Investing Policy Ratio IPR Bank

Dengan menggunakan data data keuangan dari contoh laporan neraca bank di atas,  hitunglah nilai Investing Policy Ratio Bank tersebut:

Menentukan Data Keuangan Investing Policy Ratio IPR Suatu Bank

Data keuangan yang diperlukan untuk mengitung Investing Policy Ratio adalah data yang termasuk dalam komponen securities atau surat berharga yaitu surat berharga (efek- efek) dan deposito berjangka.

Sedangkan data keuangan yang termasuk komponen deposit adalah dana masyarakat yang disimpan dalam rekening giro, tabungan dan deposito berjangka.

Kedua data keuangan yang diperlukan untuk perhitungan Investing Policy Ratio ditunjukkan dalam table berikut:

Contoh Soal Perhitungan Investing Policy Ratio IPR Bank
Contoh Soal Perhitungan Investing Policy Ratio IPR Bank

Menghitung Investing Policy Ratio IPR – Bank

Investing Policy Ratio IPR suatu bank dapat dinyatakan dengan menggunakan rumus berikut

Investing Policy Ratio = (Securities)/(Total Deposit) x 100%

Securities = 460

Total Deposit = 2652,5

IPR = (460)/(2652,5) x 100%

IPR = 17,34 %

Nilai Investing Policy Ratio IPR bank adalah 17,34 persen, hal ini menunjukkan bahwa dana hasil penjualan surat berharga hanya cukup untuk membayar sebesar 17,34 persen dari total dana nasabah yang harus dibayar oleh bank.

Dengan nilai Investing Policy Ratio IPR 17,3423 persen, maka bank hanya mampu menjamin setiap satu rupiah dana yang didepositkan nasabah dengan 0,17,34 rupiah dari dana hasil penjualan surat berharganya.

Daftar Pustaka:

  1. Kasmir, 2012, “Dasar Dasar Perbankan”, Edisi Revisi, Rajawali Pers, Jakarta.
  2. Kasmir, 2012, “Manajemen Perbankan”, Edisi Revisi, RajaGrafindo Persada, Jakarta.
  3. Kasmir, 2015, “Bank dan Lembaga Keuangan Lainnya”, Edisi Revisi 2014, Rajawali Pers, Jakarta.
  4. Ismail, 2018, “Manajemen Perbankan – Dari Teori Menuju Aplikasi”, Edisi Pertama, Prenadamedia Group, Jakarta.
  5. Suhardjono, M, K., 2012, “ Manajemen Perbankan – Teori Dan Aplikasi”, Edisi Kedua, BPFE – Yogyakarta.
  6. Djumhana, Muhamad, 2006, “Hukum Perbankan di Indonesia”, Cetakan Kelima, PT Citra Aditya Bakti,  Bandung.
  7. Mangani, Silvanita, Ktut, 2009, “Bank dan Lembaga Keuangan Lain”, Penerbit Erlangga, Jakarta.
  8. Mishkin, S., Frederic, 2008’ “Ekonomi Uang, Perbankan, dan Pasar Uang”, Edisi Kedelapan, Salemba Empat, Jakarta.
  9. Joesoef, Jose Rizal, 2008, “Pasar Uang dan Pasar Valuta Asing”, Salemba Empat, Jakarta.
  10. Djamil, Fathurrakman,  2012, “Penerapan Hukum Perjanjian dalam Transaksi di Lembaga Keuangan Syariah”, Cetakan Pertama, Sinae Grafika, Jakarta.
  11. Fuady, Munir, 2004, “Hukum Perbankan Modern”, Buku Kedua, Citra Aditya Bakti, Bandung.
  12. Machmud, A. Rukmana, H., 2010, “Bank Syariah, Teori, Kebijakan, dan Studi Empiris di Indonesia”, Penerbit Erlangga, Jakarta
  13. Jenis Rasio Likuiditas Bank: Pengertian -Tujuan – Fungsi Quick Ratio – Banking Ratio – Loan to Deposit Ratio – Cash Ratio – Loan to Asset Ratio Deposit Risk Ratio – Investing Policy Ratio, Pengertian Cash Asset Pengertin Total Deposit Pengertian Securities Pengertian Short Term Borrowing Pengertian Equity Capital,

Perhitungan Eksposur Nilai Tukar Akuntansi Transaksi Operasi Pengertian Contoh Soal,

Pengertian Foreign Exchange Exposure. Eksposur Nilai Tukar (Foreign exchange exposure) dapat diartikan sebagai suatu risiko yang akan dihadapi oleh perusahaan yang timbul akibat dari fluktuasi kurs mata uang.

Risiko valuta asing memberikan pengaruh pada arus kas perusahaan dan pada akhirnya berpengaruh pada nilai perusahaan.

Jenis Eksposur Nilai Tukar

Pengaruh fluktuasi valuta asing terhadap perusahaan atau disebut foreign exchange exposure dapat dikelompokkan dalam 3 bentuk eksposur, yaitu transaction exposure, operating exposure, dan translation exposure.

Accounting Exposure, Eksposur Akuntansi


Accounting exposure biasa juga disebut dengan translation exposure yaitu eksposur yang terjadi karena adanya perubahan dalam laporan akuntansi yang disebabkan oleh perbeadaan nilai kurs.

Terjadinya eksposur translasi dikarenakan perusahaan multinasional melakukan perubahan laporan keuangan dari satu mata uang ke mata uang lainnya.

Artinya laporan keuangan yang beroperasi di negara local yang menggunakan mata uang local harus dikonversikan ke dalam mata uang negara dimana perusahaan induk berada.

Transaction Exposure, Eksposur Transaksi

Transaction exposure adalah mengukur perubahan nilai transaksi akibat adanya perbedaaan antara nilai kurs pada saat transaksi terjadi dengan saat transaksi diselesaikan. Jadi eksposur transaksi terkait dengan transaksi yang sudah dilakukan namun belum jatuh tempo seperti utang dan piutang,

Eksposur transaksi terjadi adanya  kontrak transaksi yang mengikat arus kas masuk dan keluar yang didenominasi oleh mata uang asing.

Jika terjadi perubahan nilai tukar antara saat penerimaan atau pengeluaran uang dengan saat transaksi terjadi, maka nilai uang yang diharapkan diterima atau dikeluarkan pada saat transaksi menjadi tidak sama dengan kenyataannya sehingga akan menimbulkan keuntungan dan kerugian.

Operating Exposure

Operating exposure atau disebut juga economic exposure, competitive exposure juga strategic exposure adalah mengukur seberapa besar perubahan present value perusahaan akibat perubahan arus kas operasional di masa datang akibat fluktuasi nilai tukar yang tidak diharapkan.

Artinya setiap adanya pergerakan kurs akan menyebabkan perubahan pendapatan dan pengeluaran dan berpengaruh langsung terhadap keuntungan aliran kas saat ini.

Setiap perusahaan yang memiliki pendapatan dan pengeluaran dalam mata uang asing akan memiliki operating exposure.

Pengukuran operating exposure dari perusahaan membutuhkan peramalan dan analisis seluruh transaction exposure perusahaan di masa yang akan datang bersamaan dengan seluruh eksposur yang timbul dari kompetitor dan potensi competitor.

Operating exposure tidak hanya merupakan tingkat sensitifitas arus kas perusahaan di masa depan terhadap perubahan nilai tukar, tetapi juga tingkat sensifitas terhadap variabel makroekonomi lain yang disebut dengan ketidakpastian makroekonomi.

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Economic Exposure

Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi economic exposure diantaranya adalah

a). Orientasi penjualan produk perusahaan, dalam negeri atau luar negeri.

b). Pesaing utama perusahaan, perusahaan dalam negeri atau luar negeri.

c). Elastisitas permintaan barang terhadap harga.

d). Lokasi produksi perusahaan, dalam negeri atau luar negeri.

e). Penggunaan bahan baku dan pembantunya apakah iimpor atau tidak.

f). Mata uang yang digunakan untuk penetapan harga input atau outputnya, harga pasar yang digunakan apakah harga dunia atau pasar domestik

g). Multi National Company MNC atau bukan MNC.

h). Mata uang yang digunakan dalam memenuhi kewajiban utang

i). Melakukan lindung nilai Hedging atau tidak.

j). Mata uang yang digunakan dalam pelaporan transakasi akuntansi

Lindung Nilai Hedging Instrumen Derivatif

Untuk mengantisipasi terjadinya risiko dari fluktuasi nilai tukar mata uang  terhadap aliran kas atau cash flow, maka perusahaan dapat menempuh strategi pemagaran risiko yang disebut hedging.

Hedging merupakan suatu Tindakan melindungi perusahaan untuk menghindari atau mengurangi risiko kerugian atas valuta asing sebagai akibat dari terjadinya transaksi bisnis. Prinsip hedging adalah menutupi kerugian posisi aset awal dengan keuntungan dari posisi instrument hedging.

Hedging merupakan salah satu fungsi ekonomi dari perdagangan berjangka, yaitu transfer of risk. Hedging merupakan suatu strategi untuk mengurangi risiko kerugian yang diakibatkan oleh turun-naiknya harga mata uang.

Lindung nilai Hedging untuk risiko valuta asing biasanya dilakukan dengan membentuk portofolio melalui instrumen derivatif.

Derivatif merupakan kontrak perjanjian dilakukan oleh dua pihak untuk menjual dan membeli sejumlah barang (baik komoditas, maupun sekuritas) pada tanggal tertentu di masa yang akan datang dengan harga yang telah disepakati pada saat ini.

Perusahaan dapat melakukan penjualan atau pembelian sejumlah mata uang, untuk menghindari risiko kerugian akibat selisih kurs yang terjadi karena adanya transaksi bisnis yang dilakukan perusahaan tersebut.

Instrumen Derivatif Valuta Asing Hedging

Perusahaan dapat melakukan hedging atau lindung niali dengan instrumen derivatif valuta asing yaitu melalui kontrak berjangka (futures contract), kontrak forward, opsi, dan swap.

1). Futures Valuta Asing

Kontrak Futures mata uang adalah perjanjian kontrak berstandar dimana dua pihak berjanji untuk menukar suatu mata uang dengan mata uang yang lain dengan rate terntentu dan jumlah tertentu pada tanggal yang sudah ditentukan di masa yang akan datang.

Kontrak futures memungkinkan perusahaan membeli dan menjual dengan standar dan kualitas tertentu, kualitas dan waktu penyerahan akan datang melalui agen perdagangan (trader) yang dapat ditukar kemudian (futures exchange).

Tujuan dari kontrak futures adalah untuk mengalihkan risiko dari satu pihak ke pihak lain di dalam kontrak tersebut.

2). Forward Valuta Asing

Kontrak forward adalah kontrak yang tidak berstandar yang dilakukan oleh dua atau lebih pihak dimana mereka berkewajiban untuk bertukar satu mata uang dengan mata uang yang lain pada rate tertentu dengan kuantitas tertentu yang akan di eksekusi pada tanggal tertentu di masa yang akan datang.

Beberapa kontrak forward diperdagangkan seperti kontrak future, tetapi perdagangan dengan cara ini lebih mengandung risiko karena tidak liquid dan tidak mendapat jaminan penuh dari agen perdagangan resmi.

Pada perdangan ini terjadi penyerahan secara fisik kendati harus melalui berbagai agen penjualan sebelum diterima pembeli akhir. Tanggal di mana kontrak forward jatuh tempo untuk di eksekusi disebut expiration date

3). Opsi (Option) Valuta Asing

Opsi valuta asing adalah kontrak yang memberi hak kepada pembeli opsi (buyer), namun bukan kewajiban untuk membeli atau menjual sejumlah valuta asing tertentu dengan harga per unit tertentu dalam periode waktu tertentu (sampai tanggal jatuh tempo).

Pada kontrak opsi, pemegang opsi (buyer) tidak memiliki kewajiban untuk mengeksekusi kontrak tersebut selama masa sebelum jatuh tempo, pemegang opsi dapat memilih untuk mengeksekusi kontrak tersebut atau tidak sama sekali.

Namun untuk mendapatkan hak untuk memilih tersebut pembeli opsi harus membayarkan sejumlah premium kepada pihak yang memiliki wewenang atas kontrak opsi tersebut (broker, perusahaan, atau individu).

Premium adalah biaya dimuka yang harus dibayarkan pemegang opsi untuk memiliki hak untuk memilih baik kontrak tersebut dieksekusi maupun tidak (Nguyen, 2012). Tetapi penjual opsi (writer) harus memenuhi kewajibannya apabila pemegang opsi memilih untuk mengeksekusi kontrak opsi sebelum masa jatuh tempo.

Kontrak opsi atau option memungkinkan perusahaan memastikan harga maksimal dan minimal dari penjualan untuk waktu yang akan datang.

Kontrak ini dapat dilaksanakan melalui agen perdagangan seperti dalam pasar future, yaitu hak untuk membeli kembali kontrak future dengan tingkat harga tertentu dan waktu penyerahan yang disepakati.

 Kontrak juga dapat dilaksanakan secara langsung tanpa agen perdagan antara pihak yang terlibat dalam pasar Over the Counter (OTC).

Jenis Jenis Opsi Valuta Asing Hedging

Ada dua jenis kontrak opsi utama, yaitu opsi call dan opsi put :

a). Opsi Beli (Call Option) adalah instrumen negosiasi yang berbentuk suatu kontrak opsi untuk membeli atau “call” selembar saham pada harga dan tanggal yang telah ditentukan.

Opsi beli (Call Option) adalah suatu instrumen negosiasi yang memungkinkan pemiliknya untuk membeli suatu efek tertentu pada harga tertentu dalam jangka waktu tertentu

b). Opsi Jual (Put Option) adalah instrumen negosiasi berupa suatu opsi yang memungkinkan pemiliknya untuk menjual suatu efek tertentu pada harga tertentu dalam jangka waktu tertentu.

4). Swap Valuta Asing

Kontrak swap merupakan instrumen keuangan yang digunakan untuk memindahkan risiko antara dua belah pihak. Secara sederhana dapat dikatakan pembeli swap akan menukarkan risiko yang berfluktuasi dengan yang pasti dijamin oleh pemberi swap.

Harga atau suku bunga yang ditetapkan dapat dinegosiasikan antara pembeli dan pemberi swap dengan memperhatikan kualitas komoditi yang diperdagangkan, di samping penerapan indeks harga atau suku bunga selama jangka waktu perdagangan.

Kontrak meliputi kuantitas yang diperdagangkan, namun tidak diperlukan penyerahan fisik dan kesepakatannya dapat berupa transaksi tunai.

Kontrak swap mata uang biasanya terjadi antara perusahan di satu negara dengan negara yang lainnya dan diperantarai oleh bank. Kontrak swap biasanya memiliki jangka waktu maksimal sampai 10 tahun.

Contoh Soal Perhitungan Hedging Forward Valuta Asing,

Contoh Soal Perhitungan Hedging Futures Valuta Asing,

Contoh Soal Perhitungan Hedging Opsi Valuta Asing,

Contoh Soal Perhitungan Hedging Swap Valuta Asing,

Daftar Pustaka:

  1. Amalia, Lia, 2007, “Ekonomi Internasional”, Edisi Pertma, Graha Ilmu, Yogyakarta.
  2. Hady, Hamdy, 2004, “Ekonomi Internasional”, Cetakan Kedua, Penerbit Ghalia Indonesia, Jakarta.
  3. Hanafi, M., Mamduh, 2004, “Manajemen Keuangan Internasionl”,Edisi 2003/2004, BPFE Yogyakarta, Yogyakarta.
  4. Hanafi, Mamduh, 2005, “Manajemen Keuangan Internasional”, Edisi Pertama, Cetakan Pertama, Penerbit Universitas Terbuka, Jakarta.
  5. Kuncoro, Mudrajad, 1996, “Manajemen Keuangan Internsional”, Edisi Pertama, BPFE Yogyakarta, Yogyakarta.
  6. Hady, Hamdy, 2008, “Manajemen Keuangan Internasional”, Cetakan Keempat, Penerbit Yayasan Adminitrasi Indonesia, Jakarta.
  7. Prasetyo, Handoyo. Yuliati, Handaru, Sri, 2005, “Dasar Dasar Manajemen Keuangan Internasional”, Edisi Kedua, Penerbit CV ANDI OFFSET, Yogyakarta.
  8. Jamli, Ajmad, 2001, “Dasar Dasar Keuangan Internasional, Edisi Pertama, BPFE-Yogyakarta, Yogyakarta.
  9. Krugman, R. Paul. Obstfeld, Maurice, 2005, “Ekonomi Internasionl, Teori dan Kebijakan”, Edisi Kelima, PT Indeks, Jakarta.
  10. Joesoef, Jose Rizal, 2008, “Pasar Uang dan Pasar Valuta Asing”, Salemba Empat, Jakarta.
  11. Darmawi, Herman, 2006, “Pasar Finansial dan Lembaga Lembaga Finansial”, Cetakan Pertama, PT Bumi Arta, Jakarta.
  12. Mishkin, S., Frederic, 2008’ “Ekonomi Uang, Perbankan, dan Pasar Uang”, Edisi Kedelapan, Salemba Empat, Jakarta.
  13. Berlianta, C. H.,2006, “Mengenal Valuta Asing”, Cetakan Ketiga, Gajah Maada University Press, Yogyakarta.
  14. Rangkuman Ringkasan:

Rumus Cara Menentukan Harga  Saham: Teoritis Wajar Intrinsik, Pengertian Contoh Soal Perhitungan,

Pengertian Saham. Saham sebagai surat yang menyatakan bukti kepemilikan perusahaan. Aaham juga dapat diartikan sebagai tanda bukti penyertaan modal yang dikeluarkan oleh badan usaha dalam bentuk surat berharga.

Jenis-jenis Saham

Ditinjau dari segi kemampuan dalam hak tagih atau klaim, maka saham terbagi atas:

1). Saham Biasa Common stocks

Merupakan saham yang menempatkan pemiliknya paling yunior terhadap pembagian dividen, dan hak atas harta kekayaan perusahaan apabila perusahaan tersebut dilikuidasi.


Wujud saham adalah selembar kertas yang menerangkan bahwa pemilik kertas tersebut adalah pemilik perusahaan yang menerbitkan kertas tersebut.

Imbalan yang akan diperoleh dengan kepemilikan saham adalah kemampuannya memberikan keuntungan. Bila perusahaan penerbit mampu menghasilkan laba yang besar maka ada kemungkinan para pemegang sahamnya akan menikmati keuntungan yang besar pula.

Secara normal risiko potensial yang akan dihadapi pemilik saham ada dua, yaitu tidak menerima pembayaran dividen dan menderita capital loss.

2). Saham Preferen (Preferred Stocks)

Merupakan saham yang memiliki karakteristik gabungan antara obligasi dan saham biasa, karena bisa menghasilkan pendapatan tetap (seperti bunga obligasi). Biasanya saham preferen memberikan pilihan tertentu atas hak pembagian dividen.

Ada pembeli saham preferen yang menghendaki penerimaan dividen yang besarnya tetap setiap tahun, ada pula yang menghendaki didahulukan dalam pembagian dividen, dan lain sebagainya.

Jenis Metoda Penentuan Nilai Saham.

Model valuasi penilaian saham terdapat tiga jenis nilai, yaitu: nilai buku, nilai pasar dan nilai intrinsik.

1). Nilai Buku Saham

Nilai buku adalah nilai yang dihitung berdasarkan pembukuan perusahaan penerbit saham (emiten).

Harga saham berdasar nilai dari buku tergambar dari Total Assets/ jumlah dari seluruh kekayaan perusahaan dikurang Total Liabilities/ jumlah dari seluruh hutang perusahaan dibagi dengan Number of Common Stock Outsatnding/ jumlah saham yang beredar.

2). Nilai Pasar Saham

Nilai pasar adalah nilai saham di dalam pasar modal yang ditunjukkan oleh harga saham tersebut dipasar modal.

Harga saham berdasar nilai dari pasar merupakan harga jual beli yang sedang berlaku di pasar efek yang ditentukan oleh kekuatan pasar dalam arti tergantung pada kekuatan permintaan dan penawaran.

Harga pasar saham juga menunjukkan nilai dari perusahaan itu sendiri. Semakin tinggi nilai dari harga pasar sahamsuatu perusahaan, hal itu merefleksikan penghargaan investor pada bagusnya kinerja perusahaan tersebut.

3). Nilai Intrinsik Saham

Nilai intrinsik atau dikenal sebagai nilai teoritis adalah nilai saham yang sebenarnya atau yang seharusnya terjadi. Nilai ini yang biasanya disebut sebagai nilai wajar suatu saham.

Harga saham berdasar nilai intrinsik atau teoritis, merupakan nilai saham yang sebenarnya atau seharusnya terjadi. Dalam hal ini investor dan analis sekuritas menghubungkan antara nilai intrinsik saham dan nilai pasar saham saat ini untuk menilai apakah harga saham yang ditawarkan emiten sesuai dengan harga yang wajar, murah/undervalued, atau mahal/overvalued.

Analisis Investasi Saham

Ada dua analisis investasi atas saham yang paling umum diketahui, yaitu analisis Teknikal (technical analysis) dan analisis Fundamental (fundamental analysis).

1). Analisis Teknikal Saham

Analisis teknikal “the use of spesific market-generated data for the technical analysis of both aggregate stock prices (market indices or industry average) and individual stocks”. Yang secara bebas dapat artinya “Analisis teknikal merupakan analisis yang didasarkan pada informasi berbasis pasar dalam memprediksi pergerakan harga saham individual atau pasar secara keseluruhan”.

2). Analisis Fundamental Saham

Analisis fundamental adalah suatu cara yang digunakan untuk menentukan nilai dari suatu sekurtitas seperti saham dengan menganalisis data keuangan yang secara khusus dianggap sebagai unsur fundamental perusahaan.

Analisis fundamental sering diidentikan dengan nilai intrinsik saham. Terdapat dua pendekatan yang dapat digunakan untuk menentukan nilai intrinsik saham berdasarkan analisis Fundamental. Kedua pendekatan tersebut adalah Pendekatan nilai sekarang (Present Value Approach) Saham dan Pendekatan Rasio Harga Terhadap Earning (Price Earning Ratio) PER Saham

Pendekatan nilai sekarang (Present Value Approach) Saham

a). Nilai suatu aset adalah nilai sekarang (present value) dari arus kas imbal- hasil yang diharapkan (expected cash flows). Artinya, suatu aset dapat memberikan aliran cash flows selama investor memiliki saham perusahaan tersebut.

Untuk mengkonversi aliran cash flows menjadi sebuah nilai saham, investor harus mendiskontokan aliran tersebut dengan tingkat bunga yang diinginkan investor (required rate of return).

b). Nilai intrinsik atau disebut juga nilai teoritis suatu saham nantinya akan sama dengan nilai diskonto semua aliran kas yang akan diterima investor di masa datang.

c). Tingkat return yang disyaratkan merupakan tingkat return minimum yang diharapkan atas pembelian suatu saham. Tingkat return yang diinginkan (required rate of return) atas sebuah investasi. Selain faktor inflasi, tingkat return yang diharapkan (required rate of return) yang akan menimbulkan ketidakpastian imbal-hasil (uncertainly of returns).

Pendekatan Rasio Harga Terhadap Earning (Price Earning Ratio) PER Saham

Pendekatan PER dalam penentuan nilai suatu saham dilakukan dengan menghitung berapa rupiah uang yang diinvestasikan kedalam suatu saham untuk memperoleh satu rupiah pendapatan (earning) dari saham tersebut.

PER menunjukkan rasio harga saham terhadap earning atau dengan kata lain menunjukkan berapa besar pemodal menilai harga saham terhadap kelipatan dari earnings, sehingga dapat disimpulkan bahwa PER menggambarkan apresiasi pasar terhadap kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba.

PER merupakan variabel yang digunakan dalam estimasi nilai intrinsik saham yaitu dengan mengalikannya dengan Earning Per Share (EPS) yang diharapkan. EPS atau laba per saham adalah rasio yang mengukur pendapatan bersih perusahaan pada suatu periode dibagi dengan jumlah saham yang beredar.

Nilai EPS dapat juga digunakan untuk menilai sebuah saham. Semakin tinggi nilai EPS Earning Per Share, maka semakin tinggi pula tingkat return yang diharapkan.

Tingkat keuntungan yang dihasilkan per lembar saham yang dimiliki oleh investor akan mempengaruhi penilaian investor terhadap suatu kinerja perusahan emiten.

Cara Membuat Keputusan Investasi Saham,

Nilai intrinsik ditentukan dengan mendiskontokan dividen dengan harga pasar sekarang. Adapun pedoman dalam pengambilan keputusan investasi dapat disimpulkan sebagai berikut:

1). Ketika nilai intrinsik NI lebih besar dari harga pasar sekarang saat ini NP (NI > NP),maka  aktiva atau saham dinyatakan undervalued (harga terlalu rendah) dan seharusnya dibeli dan ditahan kalau sudah memiliki.

2). Ketika nilai intrinsik NI lebih kecil dari harga pasar sekarang NP saat ini (NI < NP), maka aktiva atau saham dinyatakan overvalued (harga terlalu mahal) dan seharusnya dihindari membeli atau sebaiknya segera dijual atau ditahan tetapi dalam waktu yang sesingkat mungkin.

3). Ketika  nilai intrinsik NI sama dengan nilai pasar sekarang NP saat ini (NI = NP), maka aktiva atau saham tersebut dinilai secara benar (correctly valued).

Metoda Penentuan Valuasi Penilaian Saham,

Expected Return, ER Saham, Tingkat Keuntungan Yang Diharapkan Required Rate of Return

Tingkat keuntungan yang diprediksi investor dari investasi spesifik pada suatu periode waktu tertentu. Expected return seringkali disebut sebagai market capitalization rate atau required rate of return.

Rumus Expected Return Dari Tingkat Keuntungan Saham Diinginkan, Required Rate of Return.

Besarnya required rate of return atau tingkat keuntungan yang diinginkan dari sebuah saham yang dinyatakan oleh besaran expected return dapat dirumuskan seperti berikut:

\mathrm{ER=\frac{D}{NS_{0}}+\frac{NS - NS_{0}}{NS_{0}}} atau

ER = r = D/NS0 + (NS – NS0)/NS0

ER = r = Dividend Yield + Capital Appreciation

Dividend Yield = D/NS0

Capital Appreciation = (NS – NS0)/NS0

Contoh Soal Perhitungan Penilaian Harga Saham Biasa

Jika suatu saham dijual dengan harga 1000 rupiah per lembar hari ini dan diharapkan dapat dijual lagi seharga 1100 rupiah satu tahun ke depan, berapa tingkat expected return jika dividen  satu tahun kedepan diperkirakan sebesar 50 rupiah

ER = r = expected return

NS0 = harga saham beli (harga sekarang)

NS = harga saham jual (harga masa depan)

ER = (D + NS – NS0)/NS0

ER = (50 + 1100 – 1000)/1000

ER = 150/1000

ER = 15%

Dividend Discount Model Saham, Model Diskonto Dividen Saham,

Metode penentuan harga saham hari ini yang menunjukkan bahwa nilai saham adalah present value dari semua dividen yang diharapkan diterima dimasa datang.

Model ini untuk menentukan estimasi harga saham dengan mendiskontokan semua aliran dividen yang akan diterima di masa datang.

Rumus Dividend Discount Model Saham,

\mathrm{NS_{0}=\sum_{t=1}^{n}\frac{D_{t}}{(1+r)^{t}}+\frac{D_{n}+NS}{(1+r)^{n}}}.

NS0 = Nilai intrinsik saham dengan model diskonto dividen

D1, D2, …Dn = Dividen yang akan diterima di masa datang

r = tingkat return yang disyaratkan

NS = nilai jual saham pada tahun n. masa depan

t = 1, … n

Dt = dividen

r = expected return, persen

n = waktu dari investasi.

Contoh Soal Perhitungan Harga Saham Dividend Discount Model

Berikut ini data prediksi PT Ardra Biz yang akan membayar dividen sebesar 50, 60 dan 70 rupiah tiap tahun selama tiga tahun mendatang. Pada akhir tahun ketiga, diperkirakan dapat menjual saham pada harga 1000 rupiah. Berapa perkiraan harga saham sekarang bila diketahui expected return 10%

\mathrm{NS_{0}=\frac{50}{(1+0,10)^{1}}+\frac{60}{(1+0,10)^{2}}+\frac{70}{(1+0,10)^{3}}+\frac{1000}{(1+0,10)^{3}}}.

NS0 = 45,45 + 49,59 + 53,59 + 751,31

NS0 = 898,95 rupiah

Contoh Tabel Perhitungan Nilai Sekarang Present Value Saham

Hasil keseluruhan perhitungan present value dari soal di atas dapat dilihat pada table berikut

Contoh Tabel Perhitungan Nilai Sekarang Present Value Saham
Contoh Tabel Perhitungan Nilai Sekarang Present Value Saham

Kolom (a) menunjukkan periode dividen dibayarkan, t = tahun, mulai tahun ke satu sampai tahun ke tiga.

D1 sampai D3 merupakan dividen yang diterima oleh pemegang saham dari tahun ke satu sampai tahun ke tiga, NS merupakan harga jual saham, harga masa depan saham.

Kolom (b). Total dana yang diterima dari pembelian saham selama tiga tahun adalah 1180 rupiah, ini adalah dana yang akan diterima di masa depan selama tiga tahun, bukan hari ini atau sekarang.

DF = discounted factor yang dihitung dengan rumus seperti berikut

DF = 1/(1+r)t

t = periode pembayaran dividen tahunan

r = expected return = ER

DF merupakan factor yang mengkonversi nilai uang masa depan dari dividen D dan Harga Saham NS1 menjadi dana saat ini atau present value PV pada kolom e. Present Value dihitung dengan cara berikut

Tahun ke 1, t =1 nilai present value dividen adalah

PV = Dt x DFt

PV1 = 50 x 0,909

PV1 = 45,45 rupiah dan seterusnya sampai tahun ke tiga, t = 3.

Meskipun seorang pemodal bisa memiliki saham selama n tahun, tetapi sewaktu saham tersebut dijual, akhirnya periode kepemilikan akan menjadi tidak terhingga. Dengan demikian, Dalam persamaan tersebut n = ∞ menjadi tidak terhingga.

\mathrm{NS=\sum_{t=1}^{n}\frac{D_{t}}{(1+r)^{t}}}

Penilaian Saham Tanpa Pertumbuhan

Jika investor memperkirakan bahwa harga saham tidak memiliki pertumbuhan atau g = 0 dan investor berencana memegangnya sampai jangka waktu yang tidak terbatas, maka investor akan menilai harga sahamnya sebagai sebuah perpetuity yaitu perhitungan nilai saham untuk waktu yang tidak terbatas.

NS0 = D/r

NS0 = nilai sekarang saham.

D = dividen

r = rate of return,

Contoh Soal Perhitungan Penilaian Saham Perpetuity Tanpa Pertumbuhan

Bila diperkirakan dividen akan dibayarkan tahun depan sebesar 50 rupiah dan saham akan ditahan /dimiliki untuk jangka waktu tak terbatas maka dengan rate of return 10%, perkiraan harga saham sekarang.

NS0 = D/r

D = 50 rupiah

r = 10%

substitusikan ke dalam rumus seperti berikut

NS0 = 50/10%

NS0 = 500 rupiah

Contoh Soal Perhitungan Harga Saham Zero Growth, Dividen Tidak Tumbuh

Saham perusahaan PT Ardra Biz diprediksi memberikan dividen sebesar Rp 100 per lembar setahun mendatang. Calon pembeli saham tersebut mensyaratkan suatu tingkat keuntungan pada saham sebesar 10 % per tahun dan dividen diperkirakan tidak bertumbuh (g = 0) atau tetap sebesar Rp 100.  Berapa harga saham yang bersedia dibayar calon pembeli tersebut

Jawab

Menghitung Harga Sekarang  Saham Tanpa Pertumbuhan Dividen

Harga sekarang saham yang tidak memiliki pertumbuhan dividen dapat dinyatakan dengan menggunakan rumus berikut

NS0 = D/r

D = 100

r = 10 %

NS0 = 100/10%

NS0 = 1000

Penilaian Saham Dengan Tingkat Pertumbuhan  Konstan (Constant Growth Dividend Discount  Model )-

Model pertumbuhan dividen  dimana dividen tumbuh dengan tingkat yang  konstan (Gordon Growth Model).

Nilai saham sekarang dapat dinyatakan dengan menggunakan rumus peramaan berikut

NS0 = D/(r – g)

keteragan

D = dividen

r = rate of return

g = pertumbuhan dividen (dividend rate)

Contoh Soal Perhitungan Harga Saham Pada Pertumbuhan Dividen Konstan

Saham PT Ardra Biz diharapkan akan membagikan dividen sebesar 50 tahun depan. Dividen  diharapkan akan tumbuh sebesar 5% per tahun.

Bila investor mengharapkan tingkat pengembalian 10%, berapa perkiraan harga saham PT Ardra Biz?

Jawab

Menghitung Harga Saham Dengan Pertumbuhan Dividen Konstan

Harga sekarang saham yang memiliki pertumbuhan dividen dapat dinyatatakan dengan persamaan berikut

NS0 = D/(r – g)

D = 50 rupiah

g = 5%

r = 10 %

NS0 = 50/(10% – 5%)

NS0 = 50/(5%)

NS0 = 1000 rupiah

Contoh Soal Perhitungan Tingkat Pertumbuhan Saham

Investor berharap dividen yang akan dibayarkan tahun depan 50 rupiah, berapa tingkat pertumbuhan saham tersebut bila investor memperkirakan harga saham saat ini 1000 rupiah dengan tingkat pengembalian 10%

Jawab

Menghitung Tingkat Pertumbuhan Saham

Tingkat pertumbuhan tetap saham dapat dinyatatakan dengan persamaan berikut

g = [(NS0 x r) – D]/NS0

NS0 = 1000

D = 50 rupiah

r = 10 %

g = [(1000 x 10%) – 50]/1000

g = [100 – 50]/1000

g = 50/1000

g = 0,05

g = 5%

Penilaian (Valuasi) Saham Preferen

Harga wajar saham preferen dihitung dengan mendiskontokan (discounting) dividen ke nilai sekarang (present value) dengan required rate of return selama periode waktu yang tidak terhingga (infinite) atau selama memiliki saham preferen tersebut.

Pemiliki saham referen menerima dividen tetap atau g = 0. Pada umumnya saham preferen tidak memiliki waktu jatuh tempo

Harga Saham Preferen dapat dinyatakan dengan menggunakan rumus persamaan berikut

NS0 = D/r

Keterangan

NS0 = Nilai intrinsik (nilai wajar) saham saat ini

D = Dividen tetap saham preferen

r = required rate of return atau discount rate

Contoh Perhitungan Penilaian Harga Saham Preferen

Saham preferen PT Ardra Biz memberikan dividen tetap setiap periode sebesar 500 rupiah per lembar saham. Discount rate yang disyaratkan sebesar 10 persen. Hitung harga saat ini saham preferen tersebut

Jawab

Menghitung Harga Saham Preferent

Harga saham preferen dapat dinyatakan dengan menggunakan rumus sebagai berikut

NS0 = D/r

D = 500 rupiah

r = 10 %

NS0 = 500/10%

NS0 = 5000 rupiah per lembar

Daftar Pustaka:

  1. Kasmir, 2011, “Analisis Laporan Keuangan”, Edisi Pertama, Rajawli Pers, Jakarta.
  2. Kuswadi, “Analisis Keekonomian Projek”, Edisi Pertama, CV Andi Offset, Penerbit Andi, Yogyakarta.
  3. Sartono, Agus, R., “ 2001, “Manajemen Keuangan Teori dan Aplikasi”, Edisi Keempat, BPFE Yogyakarta, Yogyakarta.
  4. Joesoef, Jose Rizal, 2008, “Pasar Uang dan Pasar Valuta Asing”, Salemba Empat, Jakarta.
  5. Darmawi, Herman, 2006, “Pasar Finansial dan Lembaga Lembaga Finansial”, Cetakan Pertama, PT Bumi Arta, Jakarta.
  6. Mishkin, S., Frederic, 2008’ “Ekonomi Uang, Perbankan, dan Pasar Uang”, Edisi Kedelapan, Salemba Empat, Jakarta.

Rumus Cara Menghitung Harga Obligasi: Pengertian YTM YTC YTP Contoh Soal

Pengertian Obligasi. Obligasi perusahaan merupakan sekuritas yang diterbitkan oleh suatu perusahaan yang menjanjikan kepada pemegangnya pembayaran sejumlah uang tetap pada suatu tanggal jatuh tempo di masa mendatang disertai dengan pembayaran bunga secara periodic.

Jumlah tetap yang dibayar pada waktu jatuh tempo (maturity) merupakan pokok pinjaman (principal) obligasi, yang juga disebut nilai nominal atau nilai pari (par value atau face value). Sedangkan pembayaran bunga periodik disebut bunga kupon (coupon).

Jadi, Obligasi bisa disebutkan sebagai instrumen utang yang berisi janji pihak penerbit obligasi untuk membayarkan sejumlah dana kepada pemilik atau pembeli obligasi (investor).

Ciri Karateristik Obligasi

Adapun karakteristik Obligasi terdiri dari:


a). Nilai Intrinsik Obligasi

Nilai Intrinsik obligasi adalah nilai yang diestimasi dengan ‘mendiskonto’ semua aliran kas yang berasal dari pembayaran kupon, ditambah pelunasan obligasi sebesar nilai par, pada saat jatuh tempo.

Nilai intrinsik obligasi dipengaruhi oleh kupon, waktu jatuh tempo, nilai par sesuai dengan persamaan atau rumus yang digunakan untuk menghitungnya.

b). Nilai Pari, Nilai Nominal, Face Value Obligasi

Nilai Pari adalah Nilai Nominal atau Face Value adalah nilai pokok yang tertera pada lembar suatu obligasi yang akan diterima oleh pemegang obligasi pada saat obligasi tersebut jatuh tempo. Nilai pari tidak dinyatakan dalam jumlah, namun dalam persentase dari nilai nominalnya.

c). Tingkat Suku Bunga Kupon Obligasi

Pendapatan utama pemegang obligasi adalah bunga yang dibayar perusahaan kepada pemegang obligasi pada waktu-waktu yang telah ditentukan, misalnya dibayar setiap tiga bulan atau enam bulan sekali. Pada obligasi, istilah bunga lazim disebut kupon.

Suku bunga kupon pada obligasi menunjukkan besarnya persentase bunga terhadap nilai nominal obligasi yang akan dibayar setiap tahun.

Contoh: par value Rp 20.000, bayar kupon Rp 2000 per tahun. Artinya nilai kupon:

Kupon = (2000/20.000) x 100%

Kupon = 10%.

Kupon merupakan daya tarik utama bagi para investor untuk membeli obligasi karena kupon merupakan pendapatan pasti yang diterima pemegang obligasi selama masa berlaku obligasi tersebut.

Jenis Jenis Suku Bunga Kupon Obligasi

Kupon yang dibayar perusahaan penerbit obligasi dapat berupa:

-). Kupon dengan tingkat bunga tetap, misalnya sebesar 17% setiap tahun.

-). Kupon dengan tingkat bunga mengambang, tingkat bunga yang diberikan tidak tetap atau bergantung kepada tingkat suku bunga yang sedang berlaku.

-). Kupon dengan tingkat bunga kombinasi atau gabungan antara tetap dan mengambang

d). Jatuh Tempo, Batas Waktu, Maturity Obligasi

Jatuh Tempo atau Maturity adalah tanggal dimana nilai par harus dibayar, yaitu suatu tanggal yang ditetapkan dimana pada saat tersebut penerbit wajib untuk melunasi nilai nominal obligasi.

Periode jatuh tempo obligasi bervariasi mulai dari 365 hari sampai dengan diatas 5 tahun.  Secara umum, semakin panjang jatuh tempo suatu obligasi, semakin tinggi kupon / bunga nya.

e). Indenture Obligasi

Indenture merupakan kesepakatan hukum antara perusahaan penerbit obligasi dan perwalian obligasi yang mewakili pemegang obligasi. Surat perjanjian menyediakan term spesifik mengenai persetujuan pinjaman, yang mencakup uraian dari obligasi, hak pemegang obligasi, hak perusahaan penerbit obligasi, dan tanggung jawab perwalian.

f). Tingkat Penghasilan Lancar Obligasi

Tingkat penghasilan lancar obligasi mengacu pada keuntungan yang diperoleh oleh pihak yang membeli obligasi dari bunga yang telah ditetapkan terhadap harga obligasi di pasaran.

  1. Peringkat Obligasi

Peringkat obligasi mencakup penilaian tentang potensi risiko masa depan dari suatu obligasi.

Jenis Risiko Obligasi

Beberapa risiko pada obligasi adalah sebagai berikut:

1). Interest-Rate Risk Obligasi

Harga dari sebuah obligasi akan berubah berlawanan dengan perubahan tingkat bunga: Jika tingkat suku bunga naik, maka harga obligasi akan turun. Begitu pula sebaliknya, jika suku bunga turun maka harga obligasi akan naik.

Risiko jenis ini dikenal dengan interest-rate risk atau market risk. Risiko ini merupakan risiko yang pada umumnya dialami oleh investor pada pasar obligasi.

2). Reinvestment Risk Obligasi

Risiko reinvestasi merupakan risiko yang diakibatkan harus menginvestasikan kembali hasil return obligasi pada rate yang lebih rendah dari dana yang sebelumnya didapat.

Salah satu penyebab utama risiko ini adalah ketika suku bunga turun dari waktu ke waktu dan emiten melakukan opsi call terhadap obligasi yang telah diterbitkan sebelumnya.

3). Call Risk Obligasi

Sebagian perusahaan menetapkan untuk menarik atau membeli obligasi yang diterbitkannya pada harga dan waktu tertentu. Hal ini menyebabkan investor akan mengalami call risk dimana pada tanggal tertentu perusahaan penerbit obligasi akan menarik kembali obligasinya. Resiko ini terdapat pada obligasi yang bersifat callable.

4). Default Risk Obligasi

Default Risk adalah risiko yang berkaitan dengan risiko gagal bayar, artinya risiko penerbit obligasi yang mengalami kebangkrutan. Risiko ini timbul ketika emiten mengalami kesulitan dalam membayar kupon serta melunasi pokok pinjaman obligasi.

Obligasi yang memiliki Default Risk dalam perdagangan di pasar obligasi mempunyai harga yang rendah dibandingkan dengan Treasury securities. Dilain pihak, obligasi ini dalam perdagangan di pasar obligasi memiliki yield yang lebih besar dari treasury bond.

5). Inflation Risk Obligasi

Risiko inflasi adalah risiko obligasi akibat terjadinya inflasi yang terlalu tinggi. Peningkatan Inflation risk atau purchasing power risk disebabkan oleh bervariasinya nilai aliran kas yang diterima oleh investor akibat adanya security due inflation.

Ketika inflasi terus meningkat, maka daya beli investor akan menurun dan mungkin mendapatkan tingkat pengembalian lebih kecil dibandingkan dengan tingkat inflasi.

6). Exchange-Rate Risk Obligasi

Exchange-Rate Risk adalah risiko akibat adanya perubahan kurs atau nilai mata uang pada. obligasi yang diperdagangkan dengan denominasi valuta asing.

Obligasi dalam mata uang asing memiliki nilai yang tidak dapat diketahui dengan pasti. Sedangkan nilai obligasi dalam mata uang lokal baru dapat diketahui ketika pembayaran kupon atau nilai pokok pinjaman terjadi.

7). Liquidity Risk Obligasi

Liquidity risk adalah risiko yang terjadi akibat pemilik obligasi mendapatkan kesulitan dalam menjual obligasi pada harga wajar ketika terpaksa harus menjualnya.

Liquidity atau marketable risk  adalah risiko yang bergantung pada kemudahan suatu obligasi untuk dijual kembali sebesar nilai obligasinya.

8). Volatility Risk Obligasi

Volatility Risk adalah risiko yang diakibatkan fluktuasi fundamental ekonomi, seperti tingkat suku bunga dan faktor-faktor lainnya. Perubahan pada faktor-faktor tersebut berpengaruh pada harga obligasi. Risiko jenis ini dikenal dengan volatility risk.

9). Political Risk, Country Risk Obligasi

Risiko politik dapat timbul akibat adanya tindakan pemerintah seperti perubahan, penjadwalan, dan restrukturisasi hutang.

Valuasi Obligasi

Harga suatu obligasi adalah Present Value dari semua aliran kas yang dihasilkan dari obligasi tersebut (baik kupon maupun nilai par) yang di diskon pada tingkat return yang diminta.

Untuk mengetahui nilai dari sebuah obligasi pada saat titik waktu tertentu, investor perlu mengetahui jumlah periode yang masih tersisa hingga jatuh tempo, nilai nominal, kupon dan tingkat bunga pasar untuk obligasi dengan karakteristik yang serupa.

Tingkat bunga yang diminta pasar atas suatu obligasi disebut yield to maturity (YTM). Untuk singkatnya, tingkat bunga ini terkadang cukup disebut sebagai imbal hasil (yield) obligasi saja.

Jenis Metode Perhitunngan Yield Tingkat Keuntungan Obligasi

Terdapat beberapa metode dalam penghitungan yield, antara lain

Nominal Yield Obligasi

Nominal yield obligasi atau lebih dikenal dengan sebutan tingkat kupon (coupon rate) adalah penghasilan bunga kupon tahunan yang dibayarkan pada pemegang obligasi.

Kupon diterima terus menerus sampai jatuh tempo. Pada akhir jatuh tempo akan diterima jumlah investasi sebesar nilai nominalnya.

\mathrm{Nominal Yield = \frac{Penghasilan Bunga Tahunan}{Nilai Nominal}}

Current Yield Obligasi

Current yield obligasi adalah penghasilan bunga kupon tahunan dibagi dengan harga pasar obligasi.

Apabila modal yang diinvestasikan sebesar nilai nominal, maka current yield akan sama dengan nominal yield.

\mathrm{Nominal Yield = \frac{Penghasilan Bunga Tahunan}{Harga Pasar Obligasi}}

Yield To Call (YTC) dan Yield To Put (YTP) Obligasi

Yield To Call adalah tingkat imbal hasil atau pengembalian yang akan dicapai pada obligasi yang dapat ditebus (callable bond) bila obligasi itu ditebus oleh penerbit pada tanggal tebusnya.

Yield To Put adalah tingkat imbal hasil yang akan diterima oleh investor jika mereka memegang obligasi sampai tanggal permintaan pelunasan.

Yield To Maturity, YTM Obligasi

Yield To Maturity (YTM) adalah suku bunga atau tingkat keuntungan yang dinikmati investor pada obligasi jika obligasi tersebut  disimpan hingga tanggal jatuh tempo. YTM tidak lain adalah r atau suku bunga yang digunakan untuk mendiskonto semua cashflow yang  diterima  pemilik di masa mendatang dari sebuah obligasi sampai dengan jatuh temponya.

Dengan kata lain, YTM adalah tingkat bunga yang menyamakan harga obligasi (NO) dengan nilai sekarang dari semua aliran kas yang diperoleh dari obligasi sampai dengan waktu jatuh tempo.

Contoh Soal Perhitunga Nominal Yield Obligasi

Jika seorang investor membeli sebuah obligasi dengan nilai nominal Rp1 juta dan mempunyai tingkat kupon 10 persen. Hitung Nominal yield obligasi tersebut

Penghasilan bunga atau kupon per tahun dari obligasi ini adalah

Ct = K x N

Ct = Penghasilan Bunga tahunan, Bunga Kupon

K = tingkat kupon, persen

Ct = 10% x 1 juta= 100.000.

Menghtiung Nominal Yield

Besar nominal yield dihitung dengan rumus berikut

NY = Ct/N

NY = Nominal Yield

N = nilai nominal obligasi

NY = 100rb/1jt

NY = 0,1 = 10%

Contoh Soal Perhitunga Current Yield Obligasi

Sebuah obligasi mempunyai nilai nominal Rp100 juta dengan tingkat kupon 10 persen dibayar dua kali setahun. Seorang investor membelinya pada harga 90,00 (artinya 90 persen dari nilai nominal). Hitung berapa current yield obligasi tersebut

Jawab

Rumus Current Yield Obligasi

Besar current yield dapat dinyatakan dengan menggunakan rumus berikut

Bunga kupon = 10% x 100 jt

CY = (K x N)/(NO)

CY = current yield, persen

K = tingkat kupon, persen

N = nominal obligasi

NO = harga pasar obligasi

NO = 90% x 100 juta

CY = (10% x 100)/(90% x 100)

CY = 10/90

CY = 11,11 persen

Contoh Soal Perhitungan Nilai Obligasi Perpetual, Jatuh Tempo Tak Terbatas

Suatu obligasi yang tidak mempunyai tanggal jatuh tempo infinite memiliki nilai normal 20 juta dengan bunga 1 juta setiap tahunnya. Hitung nilai obligasi tersebut berdasarkan kondisi pasar saat ini dengan bunga 4 persen.

Jawab

Rumus Nilai Obligasi Perpertual Jatuh Tempo Tak Terbatas,

Besar nilai obligasi perpertual dapat dinyatakan dengan persamaan rumus berikut

NO = C/r

NO = nilai obligasi harga pasar

C = bunga komitmen tahunan (rupiah)

r = suku bunga berlaku (return yang diharapkan)

Suku bunga r yang berlaku di pasar adalah tingkat keuntungan yang disyaratkan investor sebagai pembeli obligasi dan biasa disebut juga yield obligasi.

Menghitung Nilai Obligasi Perpertual Jatuh Tempo Tak Terbatas

Sehingga nilai obligasi NO adalah

C = 1 juta

r = 4%

NO = 1/0,04

NO = 25 juta rupiah

Contoh Soal Perhtiungan Harga Obligasi Tanpa Jatuh Tempo

Tuan Ardra membeli sebuah obligasi nominal Rp 2.000 dengan bunga coupon 10%/tahun tanpa jatuh tempo. Bila bunga saat ini sebesar 12%. Berapa nilai obligasi tersebut?

Jawab

N = 2000 rupiah

C = bunga kupon x N

C = 10% x 2.000 = 200 rupiah

NO = 200/12%

NO = 1.666,7 rupiah

Contoh Soal Perhitungan Nilai Obligasi Jangka Pendek, Short Term Bond

Besar nilai obligasi jangka pendek tiga tahun dengan bunga kupon 10 persen dan nilai nominal 100 Juta rupiah. Hitung nilai obligasinya apabila suku bunga adalah 8 persen.

Jawab

Rumus Menghitung Nilai Obligasi Short Term

Besar nilai obligasi jangka pendek dapat dinyatakan dengan persamaan rumus berikut:

\mathrm{ NO=\sum_{t=1}^{n}\frac{C_{t}}{(1+r)^{t}}+\frac{N}{(1+r)^{n}}}.

NO = nilai pasar obligasi sekarang

Ct = 100 juta x 10%

Ct = 10 juta

N = 100 juta

r = 8%

t = 1, 2, 3

n = 3 tahun

atau

\mathrm{ NO=\frac{10}{(1+0,08)^{1}}+\frac{10}{(1+0,08)^{2}}+\frac{10}{(1+0,08)^{3}}+\frac{100}{(1+0,08)^{3}}} atau

\mathrm{ NO=\frac{10}{(1+0,08)^{1}}+\frac{10}{(1+0,08)^{2}}+\frac{10+100}{(1+0,08)^{3}}}.

NO = 9,259 + 8,573+7,938+79,383

NO = 105,154 juta rupiah

Menghitung Nilai Obligasi dengan Program / Aplikasi Excel

Secara keseluruhan hasil perhitungan menggunakan program aplikasi Excel dapat dilihat pada table berikut: satuan uang dalam juta rupiah

Contoh Soal Perhitungan Nilai Obligasi Jangka Pendek, Short Term Bond
Contoh Soal Perhitungan Nilai Obligasi Jangka Pendek, Short Term Bond

Catatan Tabel Perhitungan Nilai Obligasi

Kolom (a) menunjukkan periode (t) dimana bunga Ct diterima tiap tahunnya dan uang nominal obligasi N pada tahun ke tiga. Uang atau dana yang diterima oleh pemilik obligasi selama tiga tahun adalah 130 juta rupiah yang merupakan penjumlahan dari tiga tahun Kolom (b).

= 10 +10 + 10+ 100 juta

= 130 juta

PV = merupakan nilai Ct atau N yang dikonversi ke nilai sekarang. Uang pada kolom (b) dikonversi ke saat ini atau menjadi nilai sekarang (present value, PV).

DF = Discounted Factor = 1/(1+r)t berfungsi sebagai konverter yang merubah nilai masa depan dari Ct dan N menjadi nilai sekarang PV seperti pada kolom (e).

Pada tahun pertama t = 1, uang atau dana yang diterima sebagai bunga kupon adalah

C1 = 10 juta rupiah

Jika bunga kupon ini dikonversi ke hari ini, atau dijadikan nilai sekarang atau present value PV maka nilainya adalah

PV = Ct x DF

PV1 = 10 x 0,926

PV1 = 9,26 juta

Pada tahun kedua yaitu t = 2, dana dari kupon yang diterima adalah

C2 = 10 juta rupiah, uang ini akan diterima dua tahun yang akan datang, dan jika dikonversi ke saat ini, menjadi nilai sekarang atau present value maka

PV2 = 10 x 0,857

PV2 = 8,57 juta dan seterusnya sampai tahun ke tiga.

Nilai total PV merupakan penjumlahan seluruh nilai PV yang terdapat pada kolom (e). Total nilai PV adalah 105,15 juta rupiah, dan ini yang disebut sebagai nilai obligasi NO.

Uang yang akan diterima dari pembelian obligasi tersebut adalah 130 juta selama 3 tahun. Uang ini akan diterima nanti atau masa depan, bukan sekarang, atau hari ini. Jadi, dana yang akan diterima dari obligasi sebesar 130 juta rupiah selama tiga tahun sama dengan 105,15 juta rupiah saat ini,

Menghitung Keuntungan Investasi Obligasi

Nilai nominal obligasi adalah100 juta dan nilai sekarang obligasi (NO) adalah 105,15 juta rupiah, sehingga keuntungan dari pembelian obligasi tersebut adalah

=105,15 – 100

= 5,15 juta rupiah.

Contoh Soal Peritungan Nilai Obligasi Jatuh Tempo Dua Kali Setahun

Sebuah obligasi jangka pendek tiga tahun memiliki bunga kupon 10 persen yang dibayarkan setiap enam bulan. Nilai nominal obligasinya adalah 100 Juta rupiah. Hitung nilai obligasinya apabila suku bunga adalah 8 persen.

Jawab Dan Pembahasan

Karena dibayar dua kali dalam setahun maka perlu beberapa modifikasi besaran besaran berikut supaya bersesuaian dengan rumus standarnya.

N = 100 juta rupiah,

N = nilai tetap karena dibayar hanya pada saat jatuh tempo

t = disesuaikan menjadi seperti berikut

t = 2 x3, jadi total periode adalah 6 periode

t = 1 sampat dengan t = 6

n = disesuaikan menjadi seperti berikut

n = 2 x3 = 6

r = disesuaikan menjadi

r = 8%/2

r = 4%

Ct = nilai disesuaikan sehingga seperti berikut

Ct = dibayar dua kali setahun

Kupon = 10% sehingga

Ct = (10% x 100)/2

Ct = 5 juta rupiah

Rumus Menentukan Harga Obligasi Dengan Kupon Dibayar Dua Kali Setahun,

Besarnya nilai obligasi dengan bunga kupon dibayar dua kali dalam setahun dapat dinyatakan dengan rumus persamaan berikut.

\mathrm{ NO=\sum_{t=1}^{n}\frac{C_{t}}{(1+r)^{t}}+\frac{N}{(1+r)^{n}}}.

\mathrm{ NO=\frac{5}{(1+0,04)^{1}}+...+\frac{5}{(1+0,04)^{6}}+\frac{100}{(1+0,04)^{6}}}.

NO = 4,81+4,62+4,44+4,27+4,11+3,95+79,03

NO = 105,24 Juta rupiah

Menghitung Nilai Obligasi Dua Kali Setahun dengan Program / Aplikasi Excel

Hasil Perhitungan dalam table excel ditunjukkan seperti berikut. satuan uang dalam juta rupiah

Menghitung Nilai Obligasi Dua Kali Setahun dengan Program / Aplikasi Excel
Menghitung Nilai Obligasi Dua Kali Setahun dengan Program / Aplikasi Excel

Catatan Tabel Perhitungan Nilai Obligasi Dua Kali Setahun dengan Excel

Total dana yang akan diperoleh selama tiga tahun adalah 130 juta rupiah yang merupakan penjumlahan kolom b, atau dihitung cara berikut

= (6 x 5 juta) + 100

= 30 + 100

= 130 juta rupiah

PV = merupakan nilai Ct atau N yang dikonversi ke nilai sekarang

DF = Discounted Factor = 1/(1+r)t berfungsi sebagai konverter yang merubah nilai masa depan dari Ct dan N menjadi nilai sekarang.

Dengan  demikian, uang yang akan diterima dari pembelian obligasi tersebut adalah 130 juta selama 3 tahun. Uang ini baru akan diterima nanti, bukan sekarang, atau hari ini.

Jika uang 130 juta ini dikonversi ke saat ini atau menjadi nilai sekarang (present value, PV) maka nilainya adalah 105,24 juta rupiah. Jadi uang dengan nilai sekarang 105,24 juta rupiah ini yang disebut sebagai nilai obligasi NO.

Ini artinya , dana 130 juta rupiah yang akan diterima selama tiga tahun sama dengan 105,24 juta rupiah pada saat sekarang.

Menghitung Keuntungan Obligasi Dengan Bunga Kupon Dibayar Dua Kali Setahun.

Nilai nominal obligasi adalah100 juta dan nilai obligasi (NO) adalah 105,24 juta rupiah, sehingga keuntungan dari pembelian obligasi tersebut adalah

=105,24 – 100

= 5,24 juta rupiah.

Contoh Soal Perhitungan Yield To Maturity YTM Obligasi

Sebuah obligasi memiliki nilai nominal 500 juta rupiah dengan harga pasar 450 juta rupiah selama 5 tahun dan bunga kupon adalah 8 persen. Hitung Rate of Return atau yield to maturity YTM Obligasi tersebut:

Jawab

Rumus Menentukan Yield To Maturity YTM Obligasi

Besarnya nilai pasar obligasi NO dapat dinyatakan dengan menggunakan rumus persamaan berikut:

\mathrm{NO=\sum_{t=1}^{n}\frac{C_{t}}{(1+r)^{t}}+\frac{N}{(1+r)^{n}}}.

Bunga Kupon = 8%

Ct = 8% x 500 = 40 juta rupiah

N = Nilai nominal obligasi

N = 500 juta rupiah

NO = Nilai pasar obligasi

NO = 450 juta rupiah

n = 5 tahun

t = periode tahunan

r = Yield to Maturity YTM

Substitusikan ke dalam rumus seperti berikut

\mathrm{450=\frac{40}{(1+r)^{1}}+\frac{40}{(1+r)^{2}}+...+\frac{40+500}{(1+r)^{5}}}

Untuk mencari bunga pasar r yang menjadi yield to maturity YTM pada obligasi tersebut dapat dinyatakan dengan menggunakan rumus persamaan berikut

\mathrm{ NP=\sum_{t=1}^{n}\frac{C_{t}}{(1+r)^{t}}+\frac{N}{(1+r)^{n}}- NO}

Untuk mendapatkan nilai r yang menjadi nilai YTM, maka dengan menggunakan rumus tersebut dapat dihitung nilai present value PV dengan dua r yang berbeda yaitu r1 dan r2. Sehingga diperoleh NP1 dan NP2 seperti berikut

\mathrm{NP_{1}=\sum_{t=1}^{n}\frac{C_{t}}{(1+r_{1})^{t}}+\frac{N}{(1+r_{1})^{n}}- NO }.

\mathrm{ NP_{2}=\sum_{t=1}^{n}\frac{C_{t}}{(1+r_{2})^{t}}+\frac{N}{(1+r_{2})^{n}}- NO }

Dengan subsitusi nilai nilai variabelnya maka akan diperoleh nilai berikut

NP1 hasil dengan r1 dan

NP2 hasil dengan r2

Menghitung Yield To Maturity YTM Obligasi

Besarnya nilai yield to maturity YTM dapat dinyatakan dengan rumus persamaan berikut

\mathrm{ YTM=r_{1}-NP_{1}\left ( \frac{r_{2}-r_{1}}{NP_{2}-NP_{1}} \right )}

Menghitung Nilai Sekarang Present Value PV Dari Kupon dan Nominal Obligasi,

Untuk menyelesaikan soal tersebut diambil nilai r1 = 10% dan r2 = 11% dan nilai NP1 dan NP2 dihitung dengan menggunakan rumus seperti berikut.

\mathrm{ NP=\sum_{t=1}^{n}\frac{C_{t}}{(1+r)^{t}}+\frac{N}{(1+r)^{n}}- NO}.

Menghitung NP1 dengan r1 = 10%

\mathrm{NP_{1}=\frac{40}{(1+0,10)^{1}}+...+\frac{40}{(1+0,10)^{5}}+\frac{500}{(1+0,10)^{5}}-450}.

NP1 = 462,09 – 450

NP1 = 12,09 juta rupiah

Hasil Perhitungan Present Value terhadap Bunga Kupon dan nominal obligasi selama 5 tahun dengan bunga pasar 10% dapat dilihat pada table berikut. Cara perhitungan seperti pada soal sebelumnya. Satuan uang dalam juta rupiah.

Menghitung Nilai Sekarang Present Value PV Dari Kupon dan Nominal Obligasi,
Menghitung Nilai Sekarang Present Value PV Dari Kupon dan Nominal Obligasi,

Dari table diketahui

Total PV1 = 462,09 juta rupiah

r1 = 10 % dan NO dari soal

NO = 450 juta

NP1 = TPV1 – NO

TPV1 = total PV1

NO = nilai pasar obligasi

NP1 = 462,09 – 450

NP1 = 12,09 juta rupiah

Menghitung Nilai Sekarang Present Value PV Dari Kupon dan Nominal Obligasi dengan bunga r2 = 11%

\mathrm{NP_{2}=\frac{40}{(1+0,11)^{1}}+...+\frac{40}{(1+0,11)^{5}}+\frac{500}{(1+0,11)^{5}}-450}.

NP2 = 444,56 – 450

NP2 = -5,44 juta rupiah

Hasil Perhitungan Present Value terhadap Bunga Kupon dan nominal obligasi selama 5 tahun dengan bunga pasar 11% dapat dilihat pada table berikut. Cara perhitungan seperti pada soal sebelumnya. Satuan uang dalam juta rupiah.

Menghitung Nilai Sekarang Present Value PV Dari Kupon dan Nominal Obligasi dengan Excel
Menghitung Nilai Sekarang Present Value PV Dari Kupon dan Nominal Obligasi dengan Excel

Dari table diketahui

Total PV2 = 444,56 juta

r2 = 11%

NO = 450 juta

NP2 = TPV2 – NO

TPV2 = Total PV2

NP2 = 444,56 – 450

NP2 = -5,44 juta rupiah

Menghitung Yield to Maturity YTM

Dengan demikian yield to maturity YTM dapat dihitung seperti berikut

\mathrm{ YTM=r_{1}-NP_{1}\left ( \frac{r_{2}-r_{1}}{NP_{2}-NP_{1}} \right )}

Dengan keterangan

r1 = 10 %

NP1 = 12,09 juta rupiah

r2 = 11%

NP2 = -5,44 juta rupiah

Substitusikan semua variable ke rumus persamaan YTM

\mathrm{ YTM=0,10-12,09\left ( \frac{0,11-0,10}{-5,44-12,09} \right )}

YTM = 10% – 12,09 (1%/-17,53)

YTM = 0,10 – 12,09 (-0,00057)

YTM = 0,10 + 0,00689

YTM = 0,1069

YTM = 10,69%

Jadi yield to maturity YTM adalah 10,69%

Catatan

Jika nilai YTM ini dimasukan ke rumus berikut

\mathrm{ NO=\sum_{t=1}^{n}\frac{C_{t}}{(1+r)^{t}}+\frac{N}{(1+r)^{n}}} .

r = YTM = 10,69 %

N = 500

Ct = 40

n = 5

t = 1, 2, 3, 4, 5

Maka hasilnya

NO = 450 juta rupiah, yang merupakan harga pasar obligasi

Yield to Maturity Zero Coupon Bond

Tidak adanya pembayaran kupon menyebabkan satu-satunya aliran kas yang bisa diperoleh investor dari obligasi adalah pelunasan obligasi pada saat jatuh tempo.

Yield to maturity YTM ditentukan dengan menyamakan nilai sekarang dari nilai par dengan harga obligasi:

\mathrm{NO=\frac{N}{(1+r)^{2n}}}. atau

r = (N/NO)1/2n – 1

Contoh Soal Perhitungan Yield to Maturity Zero Coupon Bond

Sebuah zero coupon bond yang akan jatuh tempo dalam 5 tahun dengan nilai par Rp 2000. Pada saat ini obligasi tersebut dijual pada harga Rp 1500.

Jawab

Menghitung Yield to Maturity Zero Coupon Bond

Besarnya Yield to maturity zero coupon bond dapat dinyatakan dengan menggunakan rumus persamaan berikut

r = (N/NO)1/2n – 1

r = YTM (dalam 6 bulan)

N = 2000

NO = 1500

n = 5 tahun

r = (2000/1500)1/10 – 1

r = (1,333)1/10 – 1

r = 1,0292 – 1

r = 0,0292 = 2,92%

Yield to call YTC Obligasi

Yield to call (YTC) adalah yield yang diperoleh pada obligasi yang bisa dibeli kembali (callable).

Obligasi yang callable, berarti bahwa emiten bisa melunasi atau membeli kembali obligasi yang telah diterbitkannya dari tangan investor yang memegang obligasi tersebut, sebelum jatuh tempo.

Contoh Soal Perhitungan Yield to Call (YTC) Obligasi

Sebuah obligasi yang callable jatuh tempo 10 tahun lagi dan kupon yang diberikan adalah 12%. Nilai par obligasi tersebut adalah Rp1.000 dan saat ini dijual pada harga Rp 1500

Kemungkinan obligasi tersebut akan dilunasi oleh emiten 5 tahun lagi dengan call price sebesar Rp1.200. Berapakah YTC obligasi ini?

Daftar Pustaka:

  1. Kasmir, 2011, “Analisis Laporan Keuangan”, Edisi Pertama, Rajawli Pers, Jakarta.
  2. Kuswadi, “Analisis Keekonomian Projek”, Edisi Pertama, CV Andi Offset, Penerbit Andi, Yogyakarta.
  3. Sartono, Agus, R., “ 2001, “Manajemen Keuangan Teori dan Aplikasi”, Edisi Keempat, BPFE Yogyakarta, Yogyakarta.
  4. Joesoef, Jose Rizal, 2008, “Pasar Uang dan Pasar Valuta Asing”, Salemba Empat, Jakarta.
  5. Darmawi, Herman, 2006, “Pasar Finansial dan Lembaga Lembaga Finansial”, Cetakan Pertama, PT Bumi Arta, Jakarta.
  6. Mishkin, S., Frederic, 2008’ “Ekonomi Uang, Perbankan, dan Pasar Uang”, Edisi Kedelapan, Salemba Empat, Jakarta.

Pengendalian Sistem Pencatatan Dana Kas Kecil: Pengertian Imprest Fluctuating

Pengertian Kas. Kas adalah aktiva lancar yang paling likuid dalam sebuah perusahaan baik tunai maupun non tunai yang beraada di bank yang dapat digunakan setiap saat untuk kegiatan operasional perusahaan.

Kas terdiri atas saldo kas (cash on hand) dan rekening giro (demand deposits). Kas adalah aset yang paling likuid, perusahaan biasanya mengklasifikasikan kas sebagai aktiva lancar.

Kas merupakan alat pembayaran atau pertukaran yang digunakan sebagai dasar pengukuran dalam akuntansi.

Kas menurut pengertian akuntansi adalah alat pertukaran yang dapat diterima untuk membayar utang dan dapat diterima sebagai suatu setoran ke bank dengan jumlah sebesar nominalnya.

Agar dapat dilaporkan sebagai kas, maka kas bersangkutan harus siap untuk digunakan sebagai alat pembayaran kewajiban lancar dan harus bebas dari ikatan kontraktual yang membatasi penggunaannya.


Contoh Kas adalah uang kertas, uang logam, cek yang belum disetorkan, simpanan dalam bentuk giro atau bilyet, rekening tabungan, traveller’s checks, cek kasir (cashier’s cheks), wesel bank (bank draft), money order, kas kecil, uang kembalian, kas yang ada di cabang cabang tetap.

Setara Kas Cash Equivalent

Setara kas atau cash equivalent adalah investasi yang sifatnya sangat likuid, berjangka pendek, dan yang dengan cepat dapat dijadikan kas dalam jumlah yang dapat ditentukan dan memiliki risiko perubahan nilai yang tidak signifikan.

Contoh Setara Kas adalah commercial paper jangka pendek, money market, serta surat surat berharga lainnya.

Syarat Syarat Aset Setara Kas

Adapun syarat aset yang masuk kriteria setara kas adalah

a). Setiap saat dapat ditukar dengan kas

b). Tangga jatuh tempo sangat singkat tiga bulan atau kurang

c). Perubahan nilai ketiak ditukar kas sangat kecil atau tidak berarti

Jenis Aset Yang Tidak Termasuk Kas

Yang tidak termasuk kas meliputi:

1). Cek mundur (post dated checks), Cek mundur tetap dicatat sebagai piutang sampai tanggal di mana cek tadi dapat diuangkan.

2). Bon utang Bon,  utang diperlakukan sebagai piutang.

3). Uang muka perjalanan, Uang muka perjalanan diperlakukan sebagai piutang jika uang muka tersebut akan ditagih dari karyawan atau dikurangkan dari gajinya.

4). Perangko pos, Perangko pos diperlakukan sebagai persediaan perlengkapan (supplies) kantor atau toko atau sebagai beban dibayar dimuka.

5). Dana kas untuk tujuan khusus misalnya dana yang disisihkan untuk pembayaran utang obligasi.

Fungsi Atau Motif Kas Perusahaan

Beberapa motif (dorongan) yang menyebabkan perusahaan perlu memiliki sejumlah kas. Dorongan-dorongan inilah yang menentukan jumlah kas yang harus dimiliki perusahaan. Motif-motif tersebut sebagai berikut

a). Kas Untuk Motif Transaksi, artinya uang kas digunakan untuk melakukan pembelian dan pembayaran, Contoh motif transaksi kas adalah untuk transaksi pembelian barang atau jasa, pembayaran gaji, upah utang, dan pembayaran lainnya.

b). Kas Untuk Motif Berjaga-Jaga, artinya uang kas digunakan untuk antisipasi kalau sewaktu- waktu dibutuhkan uang kas untuk keperluan yang tidak kontinu dan tidak terduga. Contoh motif berjaga jaga kas adalah pada saat perusahaan mengalami kerugian tertentu dan harus menutupi kerugian tersebut sesegera mungkin.

c). Kas Untuk Motif Spekulatif, artinya uang kas digunakan untuk mengambil keuntungan dari kesempatan yang mungkin timbul di waktu yang akan datang, seperti turunnya harga bahan baku secara tiba-tiba akan menguntungkan perusahaan dan diperkirakan kemungkinan akan meningkat dalam waktu yang tidak terlalu lama.

d). Motif compensating balance sebenarnya lebih merupakan keterpaksaan perusahaan akibat meminjam sejumlah uang di bank. Apabila perusahaan meminjam uang di bank, biasanya bank menghendaki perusahaan tersebut agar meninggalkan sejumlah uang di dalamrekeningnya. Misalnya, suatu perusahaan meminjam dana dari bank sebesar Rp500 juta dan bank mengharuskan perusahaan memiliki simpanan di bank tersebut dengan saldo Rp50 juta. Jumlah inilah yang disebut sebagai compensating balance.

Faktor Yang Mempengaruhi Kas

Beberapa faktor yang nemengaruhi jumlah uang kas perusahaan diantaranya adalah:

a). Penerimaan dari hasil penjualan barang dan jasa. Artinya; perusahaan  melakukan penjualan barang, balk secara tunai maupun secara kredit, Bila dilakukan secara tunai, maka otoniatis langsung berpengaruh terhadap kas. Akan tetapi jika dilakukan secara angsuran, maka perubahan ini akan terjadi untuk beberapa saat ke depan. Perubahan tentunya akan menyebabkan uang kas bertambah.

b). Pembelian barang dan jasa, artinya perusahaan membeli sejumlah barang, balk bahan bake, bahan tambahan, atau barang keperluan lainnya, yang tentunya akan berakibat mengurangi jumlah uang kas.

c). Pembayaran biaya- biaya operasional. Dalam hal ini perusahaan mengeluarkan sejumlah biaya yang sudah menjadi kewajiban perusahaan untuk rnembiayai aktivitas perusahaan, seperti mernbayar gaji, upah, telepon, listrik, pajak, biaya pemeliharaan yang tentunya akan mengakibatkan uang kas akan berkurang.

d). Pengeluaran untuk membayar angsuran pinjaman. Artinya,  jika dalam memperoleh sumber dana perusahaan melakukan pinjaman  ke bank atau ke lembaga lain, maka perusahaan tentu akan akan  membayar angsuran (cicilan) pinjaman tersebut, selama beberapa  waktu, hal ini tentunya akan mengakibatkan berkurangnya uang  kas.

e). Pengeluaran untuk investasi. Hal ini dilakukan bila perusahaan hendak melakukan penambahan kapasitas produksi seperti pembelian mesin-mesin baru, atau pembangunan gedung atau pabrik baru..Hal lain dapat juga terjadi bila perusahaan hendak melakukan ekspansi ke bidang usaha lainnya.

f). Penerimaan dari pendapatan, artinya perusahaan memperoleh tambahan kas dart pendapatan, baik yang berkaitan langsung dengan kegiatan perusahaan maupun pendapatan yang tidak langsung. Jelas bahwa pendapatan ini akan nnemengaruhi jumlah uang kas.

g). Penerimaan dari pinjaman. Dalam hal ini perusahaan memperoleh sejumlah uang dari lembaga peminjam, seperti bank atau lembaga keuangan lainnya. Pinjaman ini akan menambah jumlah uang kas cialam periocle tersebut.

Sumber Sumber Penerimaan Kas

Beberapa sumber penerimaan kas yang dapat dipenuhi di luar dari pinjaman yang disediakan kreditor yaitu;

a). Penjualan barang secara tunai. Artinya perusahaan menjual produknya, baik berupa barang maupun jasa dengan pembayaran secara tunai, sehingga menghasilkan uang kas.

b). Pembayaran piutang oleh pelanggan. Dalam hal ini perusahaan harus berupaya untuk mengintensifkan pembayaran piu tang dari pelanggan. terutama piutang yang sudah jatuh tempo, jangan sampai petanggan rnenunggak, sehingga menghambat penerimaan kas.

c). Hasil penjualan aktiva tetap. Kondisi seperti ini jarang terjadi kecuali perusahaan sedang benar-benar mengalami kesulitan. Kalaupun terjadi biasanya aktiva tetap yang dijual diprioritaskan aktiva tetap yang kurang atau sudah tidak produktif lagi.

d). Penjualan saham dalam bentuk kas. Artinya perusahaan mengeluarkan saham yang belum dijual kemudian dilepas ke pemegang saham dengan syarat pembayarannya dilakukan secara tunai.

e). Pengeluaran surat utang jangka pendek, Dalam hal ini perusahaan yang menerbitkan surat utang jangka pendek seperti wesel yang jangka waktunya tidak lebih dari 1 tahun.

f). Pengeluaran surat utang jangka panjang. Artinya perusahaan menerbitkan surat utang yang memiliki jangka waktu icbi.h clari 1 tahun seperti obligasi,

g). Penerimaan dari sewa, sumber ini diperoleh perusahaan dart hasil sewa terhadap aktiva yang dimiliki kepada pihak lain dalani waktu tertentu.

h). Penerimaan dari sumbangan. Dalarn praktiknya untuk perusahaan komersial penerimaan sumbangan jarang tetlacli,, namun untuk usaha sosial hal seperti ini seeing terjadi.

i). Pengembalian kelebihan pajak. Artinya, adanya kelebihan pembayaran pajak pada masa lalu akibat salah perhitungan dan kemudian dikembalikan ke perusahaan.

Jenis Penggunaan Kas

Berikut ini hal-hal yang menyebabkan berkurangnya uang kas perusahaan, yaitu:

a). Pembelian barang secara tunai, artinya perusahaan membeli sejumlah barang baik barang dagangan untuk perusahaan dagang maupun bahan baku (bahan memah) untuk industri di mana pernbayarannya dilakukan secara tunai (cash).

b). Pembayaran biaya seperti gaji dan upah, merupakan pengeluaran untuk kegiatan rutin operasional perusahaan terhadap karyawannya, balk secara bulanan maupun secara mingguan.

c). Pembayaran sewa, hal ini dilakukan apabila perusahaan melakukan penyewaan baik terhadap tanah, gedung, kendaraan, mesin-mesin, atau peralatan lainnya.

d). Pcmbayaran asuransi, artinya perusahaan mengeluarkan sejumlah dana untuk perlindungan usphanya dalam bentuk premi asuransi.

e). Pembayaran pajak, yaitu banyak yang harus dibayar dan merupakan kewajiban perusahaan baik pajak balan matt pun pajak-pajak lainnya yang berkaitan dengan usaha perusahaan.

f). Pembayaran iklan atau promos; la innya, yaitu biaya ini dikeluarkan oleh perusahaan dalam rangka mempromosikan produk perusahaan agar masyarakat tertarik untuk membelinya.

g). Pembayaran persekot, artinya perusahaan membayar sejumlah uang sebagai uang muka baik terhadap pcmbelian barang atau pengerjaan suatu kegiatan perusahaan.

h). Pembayaran angsuran pinjaman berupa pokok dan bunga, hal ini dilakukan apabila perusahaan memiliki pinjaman terhadap pihak lain misalnya bank. Biasanya pembayaran angsuran pinjaman dilakukan setiap bulan.

i). Pembelian surat berharga jangka pendek (wesel): dalam hal ini perusahaan membeli surat bcrharga yang usianya tidak lebih dari 1 tahun seperti wesel atau sertifikat deposito.

j). Pembelian surat berharga jangka panjang, dalam hal ini surat befnarga yang dibeli usianya lebih dari 1 tahun, baik berbentuk obligasi maupun saham.

k). Penarikan kembali saham yang beredar, artinya perusahaan membeli saham mereka yang sudah dijual untiik maksud -maksuci tertentu.

l). Pengambilan kas oleh pernilik, dalam hal ini pemilik perusahaan mengambil sejumlah uang untuk keperluan tertentu.

Pengendaian Kas

Prinsip pengendalian internal terhadap kas menetapkan bahwa harus ada pemisahan fungsi-fungsi yang berhubungan dengan pengelolaan kas yaitu pemisahan antara fungsi penyimpanan, pelaksana dan pencatatan.

Jenis Pengendalian Kas

Ada beberapa macam pengendalian terhadap kas :

a).  Terdapat pemisahan tugas antara yang melakukan otorisasi  dengan pemegang kas, pencatat

b). Penggunaan tempat penyimpanan kas yang aman seperti brankas dan sejenisnya

c). Pengeluaran kas dengan cek sehingga terdapat pengendalian pencatatan oleh pihak lain

d). Penerimaan kas dilakukan dengan cek sehingga terdapat pengendalian pencatatan oleh pihak lain

e). Rekonsiliasi bank antara pencatatan perusahaan dengan rekening koran bank

f). Pencatatan kas keluar dan masuk menggunakan no urut

g). Menggunakan system voucer

Tujuan Pengendalian Kas :

a).  Mengamankan, mencegah pemorosan dan penyalahgunaan  kas

b). Menjamin ketelitian dan dapat dipercaya/tidaknya dana akuntansi tentang kas

c). Mendorong dicapainya efisiensi

d).  Dipatuhinya kebijakan manajemen tentang kas

Prinsip- Prinsip Pengendalian Kas

1). Pembentukan pertanggungjawaban

2). Adanya pemisahan tugas secara tegas

3). Prosedur dokumentasi harus dimiliki perusahaan

4). Pengendalian secara fisik, mekanik, dan elektronik

5). Verifikasi internal yang independen harus ada

Unsur unsur pengendalian kas :

a). Lingkungan   pengendalian:   menetapkan   corak   suatu organisasi, mempengaruhi kesadaran pengendalain orang- orangnya.

b). Penaksiran risiko: identifikasi entitas dan analisis terhadap risiko yang relevan untuk mencapai tujuannya, membentuk suatu dasar untuk menentukan bagaimana risiko harus dikelola.

c). Aktivitas  pengendalian:  kebijakan  dan  prosedur  yang membantu menjamin bahwa arahan manajemen dilaksanakan.

d). Informasi dan komunikasi: pengidentifikasian, penangkapan, dan pertukaran informasi dalam suatu bentuk dan waktu yang memungkinkan orang melaksanakan tanggung jawab mereka.

e). Pemantauan:  proses  yang  menentukan  kualitas  kinerja pengendalian intern sepanjang waktu.

Dana Kas Kecil

Kas kecil adalah uang kas yang disediakan untuk membayar pengeluaran pengeluaran yang jumlahnya relative kecil dan tidak ekonomis bila dibayar dengan cek. Pengelola kas kecil adalah kasir yang bertanggung jawab terhadap pembayaran- pembayaran melalui kas kecil.

Sistem Metoda Pencatatan Dana Kas Kecil

Terdapat dua jenis sistem pencatatan Dana Kas Kecil yaitu sistem Imprest dan  metode fluctuating system.

1). Kas Kecil Metoda Imprest System

Didalam metode sistem ini jumlah dalam rekening kas kecil selalu tetap, yaitu sebesar cek yang diserahkan kepada kasir kas kecil untuk membentuk dana kas kecil. Setiap  pengeluaran  kas terjadi, pemegang kas kecil tidak serta merta langsung mencatatnya, tetapi hanya sekedar mengumpulkan bukti transaksi pengeluarannya.

Oleh kasir kas kecil, cek tadi diuangkan ke dalam bank dan uangnya digunakan untuk membayar pengeluaran pengeluaran kecil.

Setiap kali melakukan pembayaran kasir kas kecil harus membuat bukti pengeluaran harus disimpan bersama dengan sisa uang yang ada dalam peti kas (cash box).

Apabila jumlah kas kecil tinggal sedikit dan juga pada akhir periode, kasir kas kecil akan minta pengisian kembali kas kecilnya sebesar jumlah yang sudah dibayar dari kas kecil. Dengan cara ini jumlah uang dalam kas kecil kembali lagi seperti semula.

2).  Kas Kecil Metoda Fluctuating system

Metode  pembukuan  kas  kecil  di  mana  rekening  kas kecil jumlah akan selalu berubah-ubah (sesuai dengan kebutuhan).  Artinya saldo awal setelah pembentukan akan berbeda diabndingkan dengan saldo setelah pengisian kembali. Hal inilah yang membedakannya dengan sitem imprest.

Sistem   ini   menghendaki   bahwa  jumlah nominal  kas  kecil tidak ditetapkan  akan tetapi sesuai dengan kebutuhan.

Penggunaan metode fluktuasi dan prosedur pencatatannya dijelaskan sebagai berikut:

a). Pada saat pembentukan dana kas kecil akan dilakukan pencatatan dengan mendebit akun kas kecil dan mengkredit akun kas

b). Setiap ada pengeluaran kas kecil langsung dilakukan pencatatan dengan mendebit akun biaya dan mengkredit akun kas kecil

c). Pengisian kembali dapat dilakukan sebesar jumlah yang sama, lebih besar ataupun lebih kecil seperti pada saat pembentukan tanpa memperhatikan berapa kas kecil yang sudah dikeluarkan.

Daftar Pustaka:

  1. Yusup, Al., Haryono, 2005, ”Dasar Dasar Akuntansi”, Jilid 1, Edisi Keempat, Bagian Penerbitan Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi YKPN, Yogyakarta.
  2. Kasmir, 2011, “Analisis Laporan Keuangan”, Edisi Pertama, Rajawli Pers, Jakarta.
  3. Kuswadi, “Analisis Keekonomian Projek”, Edisi Pertama, CV Andi Offset, Penerbit Andi, Yogyakarta.
  4. Sartono, Agus, R., “ 2001, “Manajemen Keuangan Teori dan Aplikasi”, Edisi Keempat, BPFE Yogyakarta, Yogyakarta.
  5. Joesoef, Jose Rizal, 2008, “Pasar Uang dan Pasar Valuta Asing”, Salemba Empat, Jakarta.
  6. Darmawi, Herman, 2006, “Pasar Finansial dan Lembaga Lembaga Finansial”, Cetakan Pertama, PT Bumi Arta, Jakarta.
  7. Mishkin, S., Frederic, 2008’ “Ekonomi Uang, Perbankan, dan Pasar Uang”, Edisi Kedelapan, Salemba Empat, Jakarta.