Multikultural Sosial: Ciri Faktor Dampak Masyarakat Indonesia

Multikulturalisme adalah istilah yang umum digunakan untuk menjelaskan cara pandang  seseorang terhadap keragaman dalam kehidupan di dunia. Multikulturalisme juga mencakup kebijakan kebudayaan dalam memahami bagaimana keberagaman budaya dapat diterima oleh masyarakat. Multikulturalisme menyangkut nilai-nilai atau norma, sistem, budaya, kebiasaan, dan politik yang dianut oleh masyarakat.

Pengertian Multikultural Sosial Menurut Para Ahli SosiologiBeberapa definisi multicultural menurut para ahli adalah

a). Multikultural Sosial Menurut J.S. Furnival

Masyarakat multikultural atau majemuk adalah masyarakat yang terdiri dari dua atau lebih komunitas atau struktur kelembagaan yang berbeda- beda satu sama lainnya.

b). Multikultural Sosial Menurut Nasikun

Masyarakat majemuk atau multikultural adalah suatu masyarakat yang menganut sistem nilai yang berbeda di antara berbagai kesatuan sosial yang menjadi anggotanya.

Masyarakat multicultural adalah masyarakat yang hidup dalam suatu lingkungan yang sama  terdiri dari beberapa struktur kebudayaan. Artinya dalam suatu lingkungan tertentu dihuni oleh masyarakat dengan latar belakang kebudayaan yang berbeda – beda.

Ciri- Ciri Masyarakat Multikultural

Salah satu ciri khas masyarakat multikultural adalah sifat yang sangat toleran terhadap keberagaman yang dimilikinya. Tentunya hal ini dapat dicapai jika masyarakatnya memiliki latar belakang sejarah yang sama.

pengaruh-terbentuknya-multikultural-terhadap-kehidupan-masyarakat-dampak-multikultural-pada-masyarakat
pengaruh-terbentuknya-multikultural-terhadap-kehidupan-masyarakat-dampak-multikultural-pada-masyarakat

Beberapa ciri masyarakat multikultural, di antaranya adalah sebagai berikut.

a). Terjadinya segmentasi ke dalam bentuk-bentuk kelompok yang seringkali memiliki subkebudayaan yang berbeda satu dengan yang lain.

b). Memiliki struktur sosial yang terbagi-bagi ke dalam lembagalembaga yang bersifat nonkomplementer.

c). Kurang mengembangkan konsensus di antara para anggota terhadap nilai-nilai yang bersifat dasar.

d). Secara relatif seringkali mengalami konflik antara kelompok yang satu dengan kelompok yang lainnya.

e). Secara relatif, integrasi sosial tumbuh di atas paksaan dan saling ketergantungan di dalam bidang ekonomi.

g). Adanya dominasi politik oleh suatu kelompok atas kelompok yang lain.

Faktor Penyebab Terbentuknya Masyarakat Multikultural

Latar belakang terbentuknya masyarakat multicultural dapat disebabkan oleh beberapa factor seperti: bentuk wilayah, keadaan geografis, perbedaan cuaca, struktur tanah, dan perbedaan iklim.

Keadaan multikultural dalam masyarakat Indonesia antara lain disebabkan oleh faktor letak wilayah Indonesia, letak dan keadaan geografis setiap wilayah berbeda, perkembangan dan kemampuan daerah yang tidak sama, dan perbedaan sikap dalam menyerap unsur budaya asing.

a). Topografi dan Pluralitas Regional

Iklim, curah hujan, struktur, dan kesuburan tanah yang berbeda di wilayah Indonesia merupakan faktor yang menciptakan pluralitas regional atau kemajemukan daerah.

b). Letak Wilayah Indonesia

Letak wilayah Indonesia dibagi menjadi letak astronomis dan letak geografis. Secara astronomis, Indonesia terletak antara 6o LU – 11o LS dan 95o BT – 141o BT. Secara geografis Indonesia merupakan negara kepulauan yang terletak di antara Benua Asia dan Benua Australia serta antara Samudra Indonesia dan Samudra Pasifik.

Kondisi tersebut menyebabkan pulau-pulau di Indonesia memiliki keragaman alam dan budaya.

c). Letak dan Keadaan Geografis Setiap Wilayah Berbeda

Wilayah-wilayah Indonesia berada di tempat yang berbeda- beda.  Sebagian di dataran rendah, pegunungan, pantai, dan di hutan pedalaman.

Perbedaan tersebut menyebabkan corak dan tradisi antarpenduduk atau suku bangsa di Indonesia dari daerah satu ke daerah lain berbeda.

d). Perkembangan dan Kemampuan Daerah yang Tidak Sama

Daerah dengan banyak kekayaan alam akan cenderung lebih cepat mengalami perubahan karena banyaknya penduduk pendatang yang mengeksplorasi kekayaan alam wilayah tersebut.

e). Perbedaan Sikap dalam Menyerap Unsur Budaya Asing

Masyarakat yang lebih maju akan lebih cepat menerima adanya perubahan dibandingkan dengan masyarakat tradisional. Adanya pengaruh kebudayaan asing menyebabkan mereka memiliki kebudayaan yang beragam.

f). Perbedaan Sistem Religi yang Dianut Masyarakat

Masyarakat Indonesia memiliki agama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa yang berbeda-beda. Tiap-tiap agama dan kepercayaan tersebut memiliki tata cara beribadah yang berbeda-beda pula.

Dampak Multikultural Terhadap Masyarakat.

Pengaruh terbentuknya masyarakat multicultural terhadap kehidupan masyarakat di antaranya adalah sebagai berikut:

  • Timbulnya kemajemukan masyarakat yang dapat dilihat dari agama yang berbeda, ras, suku, pekerjaan, dan budaya.
  • Timbulnya berbagai konflik yang muncul dari berbagai perbedaan yang dimiliki oleh masyarakat tersebut.
  • Timbulnya stereotip yaitu persepsi prasangka terhadap suatu hal berdasarkan subjektif yang belum tentu tepat.
  • Terbentuknya politik aliran yang ditunjukkan oleh perilaku suatu individu atau kelompok yang hanya mementingkan kelompoknya.
  • Adanya pluralisme yang ditunjukkan oleh sikap menghargai, menghormati, dan menoleransi berbagai perbedaan
  • Timbulnya rasa nasionalisme yaitu rasa cinta terhadap negaranya sendiri.
  • Munculnya primordialisme yang diperlihatkan dengan sikap loyalitas yang berlebihan terhadap sifat – sifat kedarahan, agama, suku, bangsa, dan keluarga.
  • Adanya Etnosentrisme yang menunjukkan cara pandang yang dianggap budaya tertentu memiliki kedudukan lebih tinggi dari budaya lain.
  • Timbulnya interaksi antara dua atau lebih orang.
  • Munculnya konsolidasi untuk proses penguatan keanggotaan individu atau kelompok.

Contoh Soal Ujian dan Pembahasan.

Kemajemukan masyarakat Indonesia antara lain ditandai dengan perbedaan jenis pekerjaan dalam sector pertanian. Di Pulau Jawa masyarakat mengembangkan system pertanian sawah. Di Sumatera dengan system pertanian, perkebunan, dan ladang. Kemajemukan tersebut disebabkan oleh….

A, Perbedaan struktur kondisi tanah.

B, Perbedaan penggunaan teknologi

C, Perbedaan pola system kekerabatan

D, Perbedaan keterampilan masyarakat

E, Kemampuan meningkatkan daya beli.

Jawaban: A

Pembahasan:

Kemajemukan pada soal di atas terjadi karena kondisi struktur tanah. Karena kedua tempat tersebut kondisi tanahnya berbeda. Jawaban B, C, D, dan E tidak tepat karena tidak memiliki pengaruh terhadap perbedaan jenis pekerjaan di sector pertanian.

Soal Ujian Nasional Kelompok Sosial dalam Masyarakat Multikultural

Soal 1. Suatu masyarakat yang di dalamnya terdapat keanekaragaman bentuk budaya disebut dengan masyarakat ….

a). multietnis

b). multiras

c). multikultural

d). multilevel

e). multinasional

Soal 2. Masyarakat yang beraneka ragam, dalam kajian sosiologis sering disebut pula dengan masyarakat ….

a). majemuk

b). heterogen

c). homogen

d). jamak

e). populatif

Daftar Pustaka:

Fungsi Pengendalian Sosial Masyarakat: Pengertian Ciri Tujuan Contoh

Pengertian Pengendalian Sosial. Pengendalian social sebenarnya merupakan gambaran dari langkah dan proses yang ditempuh oleh kelompok atau masyarakat agar para anggotanya mampu bertindak sesuai dengan nilai dan norma yang dianutnya.

Pengendalian sosial merupakan istilah yang sifatnya kolektif dan mengacu pada proses terrencana ataupun tidak, yang mengajarkan, mengajak, membujuk, atau bahkan memaksa setiap anggota masyarakat untuk beradaptasi dengan kebiasaan dan nilai dalam kehidupan berkelompok.

Pengertian Pengendalian Sosial Menurut Para Ahli

Beberapa definisi pengendalian sosial menurut ahli sosiologi, antara lain:

a). Pengendalian Sosial Menurut J.S. Roucek

Pengendalian sosial adalah segala proses pengawasan yang direncanakan ataupun tidak yang bersifat mendidik, mengajak, atau bahkan memaksa warga masyarakat agar mematuhi kaidah-kaidah dan nilai-nilai sosial yang berlaku.

b).  Pengendalian Sosial MenurutPeter L. Berger

Pengendalian sosial adalah berbagai cara yang digunakan masyarakat untuk menertibkan anggotanya yang menyimpang.

c). Pengendalian Sosial Menurut Bruce J. Cohen

Pengendalian sosial adalah cara-cara atau metode-metode yang digunakan untuk mendorong seseorang agar berperilaku selaras dengan kehendak kelompok atau masyarakat luas tertentu.

Berdasarkan pemahaman tersebut, dapat dikatakan bahwa pada prinsipnya pengendalian sosial merupakan usaha yang dilakukan dengan cara mendidik, mengajak, dan bahkan memaksa kepada setiap individu dari masyarakat untuk dapat mematuhi aturan permainan yang mengatur hubungan antara individu dengan individu, antara individu dengan kelompok, maupun antara kelompok dengan kelompok di dalam kehidupan bermasyarakat.

Ciri Ciri Pengendalian Sosial

Beberapa ciri pengendalian sosial adalah:

a). Suatu cara, metode, atau teknik tertentu terhadap masyarakat.

b). Bertujuan mencapai keserasian antara stabilitas dengan perubahan yang terus terjadi di dalam suatu masyarakat.

c). Dapat dilakukan oleh suatu kelompok terhadap kelompok lainnya atau oleh suatu kelompok terhadap individu.

Tujuan Pengendalian Sosial

Beberapa tujuan pengendalian sosial adalah

1). Menjaga dan memelihara pelaksanaan sistem nilai dan sistem norma yang diterapkan dalam kehidupan masyarakat,

2). Mencegah atau menghindari terjadinya penyimpangan terhadap sistem nilai dan sistem norma yang berlaku dalam kehidupan masyarakat.

3). Mengembalikan atau kemulihkan kondisi sebagai akibat dari terjadinya penyimpangan terhadap system nilai dan sistem norma yang berlaku dalam kehidupan masyarakat.

Fungsi Pengendalian Sosial Masyarakat

Adapun fungsi atau manfaat dari pengendalian sosial di antaranya adalah:

  1. Menjaga dan mengawasi pelaksanaan sistem nilai dan norma yang berlaku pada kehidupan masyarakat,
  2. Mencegah agar terhindar dari penyimpangan terhadap sistem nilai dan norma yang berlaku dalam kehidupan masyarakat
  3. Memulihkan keadaan yang disebabkan oleh adanya penyimpangan terhadap sistem nilai dan sistem norma yang berlaku di kehidupan masyarakat

Jenis Cara Alat Pengendalian Sosial

Beberapa alat yang digunakan masyarakat untuk tercapainya ketertiban sosial agar aktivitas hidupnya berlangsung dengan lancar adalah

a). Pengendalian Sosial Melalui Cemoohan atau Ejekan

Cemooh adalah ejekan, hinaan atau cela. Masyarakat akan mencemooh atau mengejek individu atau kelompok yang melakukan penyimpangan.

Cemoohan  merupakan hukuman yang sangat berat bagi si pelaku penyimpangan.

b). Pengendalian Sosial Melalui  Desas-Desus atau Gosip

Gosip adalah obrolan-obrolan tentang orang lain, cerita-cerita negatif seseorang atau penggunjingan. Gosip biasanya tidak berdasarkan data, kenyataan atau fakta.

Gosip biasanya terjadi karena kritik yang disampaikan tidak dapat dikomunikasikan. Gosip lebih mengarah pada kritik sosial terhadap tindakan individu atau masyarakat yang tidak sesuai dengan nilai dan norma.

Gosip dapat mempengaruhi seseorang menjadi sadar atas perbuatan menyimpangnya dan kembali kepada nilai-nilai serta norma yang berlaku.

c). Pengendalian Sosial Melalui Pendidikan

Melalui pendidikan, warga masyarakat dibimbing untuk mematuhi nilai dan norma masyarakat sehingga tidak melakukan perilaku menyimpang.

d).  Pengendalian Sosial Melalui Ostrasisme

Ostrasisme merujuk pada tindakan membiarkan seseorang hidup dan bekerja dalam kelompok itu, tetapi tidak seorang pun berbicara dengannya, bahkan ditegur pun tidak.

Dengan Ostrasisme diharapkan seseorang yang menyimpang sadar dan kembali mematuhi nilai-nilai serta norma-norma yang berlaku.

e). Pengendalian Sosial Melalui Fraudulens

Fraudulens merupakan bentuk pengendalian sosial yang umumnya terdapat pada anak kecil

Misalnya, jika dua orang anak kecil bertengkar, mereka akan saling mengancam bahwa ia mempunyai kakak yang dapat mengalahkan lawan bertengkarnya. Inilah yang di dalam masyarakat disebut sebagai beking.

f). Pengendalian Sosial Melalui Teguran

Teguran merupakan cara pengendalian sosial melalui perkataan atau tulisan secara langsung. Teguran dilakukan agar pelaku perilaku menyimpang segera menyadari kekeliruannya dan memperbaiki dirinya

g). Pengendalian Sosial Melalui Agama

Agama memberikan pedoman kepada para pemeluknya tentang perbuatan yang boleh dilakukan dan perbuatan yang dilarang untuk dilakukan. Dalam agama terdapat aturan dan sanksi yang mengikat pemeluknya.

h). Pengendalian Sosial Melalui Intimidasi

Intimidasi merupakan cara pengendalian sosial yang dilakukan dengan paksaan, biasanya dengan cara mengancam atau menakutnakuti.

i). Pengendalian Sosial Melalui Kekerasan Fisik

Kekerasan fisik yang digunakan untuk mengendalikan perilaku seseorang antara lain memukul, menampar, dan melukai. Kekerasan fisik mencerminkan ketidaksabaran seseorang dalam menangani suatu masalah, termasuk masalah perilaku menyimpang.

j). Pengendalian Sosial Melalui Hukum

Hukum merupakan alat pengendalian sosial yang secara nyata memberikan sanksi terhadap pelaku penyimpangan. Adanya aturan hukum yang jelas dengan sanksi yang tegas, dapat mengendalikan setiap anggota masyarakat terhadap pelanggaran nilai-nilai dan norma-norma yang berlaku.

Contoh Soal Ujian Pengendalian Sosial Masyarakat

Soal 1. Pengendalian sosial adalah satu cara yang digunakan masyarakat untuk menertibkan anggotanya yang membangkang. Pendapat tersebut diungkapkan oleh . . . .

a). Lapiere

b). Roucek

c). Lemert

d). Froman

e). Berger

Soal 2. Terciptanya suatu keadaan di mana anggota masyarakat bertindak sesuai dengan harapan kelompok atau masyarakat yang bersangkutan merupakan perwujudan . . . .

a). fungsi pengendalian sosial

b). cakupan pengendalian sosial

c). proses pengendalian sosial

d). tujuan pengendalian sosial

e). manfaat pengendalian sosial

Soal 3. Bentuk pengendalian sosial yang paling efektif dan bersifat formal adalah . . . .

a). hukum

b). adat istiadat

c). norma sosial

d). nilai sosial

e). kebiasaan

Soal 4. Pengendalian sosial secara represif adalah . . . .

a). memaksa orang agar mematuhi aturan dan kaidah yang berlaku

b). dilakukan pembinaan dan konseling setelah mendapatkan sanksi

c). penegakan hukum dengan cara memberi hukuman seberatberatnya

d). memberi penjelasan tentang hukum

e). memasang rambu-rambu lalu lintas

Glosarium

Apriori: beranggapan sebelum mengetahui keadaan yang sebenarnya.

Fraudulens: bentuk pengendalian sosial dengan beking atau penggunaan kekuatan lain (individu maupun kelompok) yang lebih kuat.

Ostrasisme: pengendalian sosial dengan cara mendiamkan para pelanggar norma. Tidak seorang pun berbicara dengannya, bahkan ditegur pun tidak. Dengan perlakuan itu diharapkan ia sadar kembali.

Pengendalian koersif: pengendalian sosial dengan cara paksaan. Biasanya dilakukan dalam masyarakat yang tengah mengalami perubahan, ditujukan agar terbentuk norma baru.

Pengendalian persuasif: pengendalian dengan cara ajakan atau persuasif. Biasanya ditujukan untuk menjaga nilai sosial dan norma sosial yang telah mapan dan dilakukan dalam masyarakat yang telah teratur.

Pengendalian preventif: pengendalian sosial bertujuan mencegah terjadinya penyimpangan sosial.

Pengendalian represif: pengendalian sosial dilakukan setelah penyimpangan sosial terjadi.

Propaganda: penerangan yang benar atau salah yang dikembangkan dengan tujuan meyakinkan orang agar menganut suatu aliran, sikap, atau arah tindakan.

Provokator: orang yang melakukan perbuatan untuk membangkitkan kemarahan.

Standardisasi: penyesuaian bentuk dengan pedoman yang ditetapkan.

Daftar Pustaka:

  1. Bouman, PJ., 1980, “Ilmu Masyarakat Umum”, Penerbit PT Pembangunan, Jakarta.
  2. Bouman, P.J., 1982, “Sosiologi Fundamental”, Terjemahan Ratmoko, Penerbit Djambatan,
  3. Ardra.Biz, 2019, “Pengertian Pengendaian Sosial, Contoh Pengendalian Sosial, Fungsi Pengendalian Sosial, Manfaat Pengendalian Sosial, Peran Pengendalian sosial masyarakat,
  4. Kamanto, Sunarto., 1990, “Pengantar Sosiologi”, Penerbit LPFE Universitas Indonesia, Jakarta.
  5. Horton, Paul B. dan Hunt, Chester L., 1999, “Sosiologi”, Jilid 1, Edisi Keenam, Penerbit Erlangga, Jakarta.
  6. Ardra.Biz, 2019, “Pengertian Pengendaian Sosial, Contoh Pengendalian Sosial, Fungsi Pengendalian Sosial, Manfaat Pengendalian Sosial, Peran Pengendalian sosial masyarakat, Cara Menjaga Sistem nilai dan norma masyarakat,
  7. Horton, Paul B. dan Hunt, Chester L., 1999,” Sosiologi”, Jilid 2., Edisi Keenam, Penerbit Erlangga, Jakarta.
  8. Johnson, Doyle Paul., 1994, “Teori Sosiologi: Klasik dan Modern “, Penerbit Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.
  9.  

Cara Sifat Pengendalian Sosial Masyarakat Indonesia: Pengertian Lembaga Contoh Soal

Pengertian Pengendalian social sebenarnya merupakan gambaran dari langkah dan proses yang ditempuh oleh kelompok atau masyarakat agar para anggotanya mampu bertindak sesuai dengan nilai dan norma yang dianutnya.

Pengendalian sosial sebagai sebuah proses sosial memerlukan teknik – teknik yang mampu mencapai tujuannya yaitu terwujudnya masyarakat yang tertib, aman dan teratur.

Cara Sifat-sifat Pengendalian Sosial

Beberapa sifat pengendalian sosial adalah

a). Pengendalian Sosial Bersifat Preventif

Pengendalian sosial bersifat preventif adalah semua bentuk usaha yang dilakukan sebelum terjadinya pelanggaran yang bertujuan untuk pencegahan.

b). Pengendalian Sosial Bersifat Represif

Pengendalian Sosial Bersifat Represif adalah Pengendalian sosial yang dilakukan setelah terjadinya pelanggaran, dan bertujuan untuk mengembalikan keserasian yang terganggu.

c). Pengendalian Sosial Bersifat Gabungan

Merupakan gabungan dari dua sifat preventif dan represif.

d). Pengendalian Sosial Bersifat Persuasif (Tanpa Paksaan)

Pengendalian sosial bersifat persuasive adalah Pengendalian sosial yang dilakukan tidak menggunakan kekerasan atau pemaksaan.

b). Pengendalian Sosial Bersifat Coercive (paksaan)

Pengendalian sosial yang dilakukan dengan kekerasan atau paksaan.

c). Pengendalian Sosial Bersifat Kompulsi (paksaan),

Pengendalian sosial kompulsi adalah pengendalian sosial yang sengaja diciptakan sehingga seseorang terpaksa menaati aturan dan menghasilkan kepatuhan yang sifatnya tidak langsung. Misalnya, adanya hukuman penjara atau hukuman mati diharapkan membuat orang tidak melakukan tindakan menyimpang.

d).  Pengendalian Sosial Pervasi (pengisian),

Pengendalian sosial dengan suatu cara pengenalan yang dilakukan secara terus menerus dan berulang-ulang dalam jangka waktu tertentu sehingga mampu mengubah kesadaran manusia untuk memperbaiki sikap dan perbuatannya menjadi lebih baik.

Cara-Cara Pengendalian Sosial

Ada beberapa cara yang dapat dilakukan oleh suatu kelompok atau masyarakat agar para anggotanya berperilaku sesuai dengan nilai dan norma yang dianutnya, di antaranya adalah sebagai berikut:

Pengendalian Sosial Melalui Sosialisasi

Sosialisasi mampu membentuk kebiasaan, keinginan dan adat istiadat yang sekarang berlaku. Tatanan nilai atau tata cara atau kebiasaan yang sama di antara anggota masyarakat akan menghasilkan perilaku yang sama pula pada anggota masyarakatnya.

Kebiasaan dan nilai yang sudah berlaku pada suatu masyarakat akan mengundang anggota masyarakat lainnya untuk menyesuaikan diri dengan kebiasaan dan nilai tersebut. Penyesuaian ini dilakukan oleh masyarakat lain tanpa mereka sadari bahwa mereka sedang melaksanakan penyesuaian.

Dengan melakukan sosialisasi seseorang akan mampu untuk memahami dan menghayati atau menginternalisasikan norma dan nilai yang dianggap penting dalam masyarakatnya. Dengan proses internalisasi ini secara pasti anggota masyarakat dapat berperilaku tanpa berfikir bahwa apa yang dilakukannya adalah dikendalikan.

Pengendalian Sosial Melalui Tekanan Sosial

Tiap – tiap individu merupakan bagian dari sebuah kelompok social. Hal ini merupakan konsekuensi bahwa dalam setiap individu memiliki kecenderungan untuk berkelompok dan berusaha untuk menyesuaikan atau beradaptasi dengan kelompoknya. Ini artinya, bahwa pengendalian sosial merupakan suatu proses yang datangnya dari kebutuhan individu untuk membentuk suatu kelompok.

Keberadaan suatu kelompok akan sangat berperan ketika para anggota kelompok itu senantiasa akrab dan selalu berusaha untuk mempertahankan keberadaan kelompoknya. Tekanan keinginan kelompok adalah suatu proses yang berkesinambungan dan berpengaruh terhadap perubahan perilaku seseorang.

Individu atau anggota masyarakat tidak akan menyadari bahwa dirinya dapat berubah setelah menjadi anggota sebuah kelompok. Hal ini dapat terjadi karena setiap individu cenderung mengekspresikan dirinya sesuai dengan sifat – sifat kelompoknya.

Pendatang atau anggota baru dari suatu kelompok masyarakat akan berusaha untuk menyesuaikan diri atau beradaptasi dengan kelompok barunya. Bahkan anggota baru akan cukup mampu mengidentifikasi diri dengan kelompoknya dan dapat pula menyatakan kesetiaannya terhadap kelompok barunya.

Pengendalian Sosial Melalui Kekuatan

Masyarakat dengan jumlah penduduk dan kebudayaannya masih sederhana dapat mengendalikan perilaku anggotanya dengan menggunakan nilai – nilai adat. Pengendaliannya ditunjang pula oleh pengendalian informal yang dilakukan oleh kelompok primer. Oleh karena itu pada masyarakat yang masih sederhana tidak diperlukan hukum formal dalam pelaksanaan hukumannya.

Namun pada masyarakat yang jumlah penduduknya sangat besar dengan kebudayaan yang lebih kompleks, untuk pengendalian sosialnya diperlukan hukum formal, peraturan hukum dan pelaksanaan hukum.

Masyarakat yang sangat kompleks dengan banyak kelompok memiliki potensi yang lebih besar untuk terjadinya pertentangan antar kelompok. Oleh karena itu, pada masyarakat yang kompleks diperlukan kekuatan dalam bentuk hukum formal dan peraturan hukum demi terciptanya masyarakat yang teratur, aman dan tertib.

Lembaga Pengendalian Sosial

Beberapa Lembaga yang berfungsi untuk pengendalian sosial adalah

a). Lembaga Pengendalian Sosial Kepolisian

Polisi merupakan aparat negara yang mempunyai tugas utama menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat. Lembaga kepolisian merupakan lembaga formal yang melaksanakan tugasnya berdasarkan hukum.

Polisi mempunyai wewenang untuk menangkap dan menahan seseorang yang melanggar hukum. Tugas-tugas kepolisian berkaitan erat dengan penertiban, pemeriksaan, penangkapan, penyidikan untuk kemudian mengajukan tersangka yang ke pengadilan.

b). Lembaga Pengendalian Sosial  Pengadilan

Pengadilan yaitu lembaga milik negara yang mempunyai wewenang untuk mengadili perkara dan menjatuhkan hukuman kepada warga masyarakat yang melanggar hukum.

Pengadilan merupakan lembaga formal yang melaksanakan tugasnya berdasarkan hukum yang berlaku. Pengadilan berfungsi untuk menjamin kepastian hukum.

Lembaga pengadilan yang ada di Indonesia, meliputi Pengadilan Negeri, Pengadilan Agama, Pengadilan Militer, Pengadilan Tata Usaha Negara, Pengadilan Tinggi, dan Mahkamah Agung.

Fungsi utama pengadilan adalah membuat putusan hukum terhadap warga masyarakat yang terbukti telah melakukan pelanggaran-pelanggaran terhadap norma hukum yang berlaku.

Keputusan tersebut diambil selain berdasarkan aturan-aturan hukum yang ada juga mempertimbangkan nilai-nilai kepatutan dan kesusilaan.

c). Lembaga Pengendalian Sosial Agama

Agama mengajarkan tentang hubungan yang harmonis, baik hubungan antara sesama manusia, hubungan antara manusia dengan makhluk lain, dan hubungan antara manusia dengan Tuhan Yang Maha Esa. Lembaga agama menerapkan aturan- aturan berdasarkan hukum agama

Hubungan yang harmonis diperkuat dengan ajarah bahwa perbuatan yang baik akan mendatangkan pahala, sedangkan perbuatan yang jahat akan mendatangkan dosa.

d). Lembaga Pengendalian Sosial Adat Istiadat

Adat istiadat merupakan sistem nilai dan sistem norma yang tumbuh, berkembang, dan sekaligus dijunjung tinggi oleh warga masyarakat di lingkungannya.

Adat menjadi pedoman bagi anggota masyarakatnya untuk bertingkah laku.

e). Lembaga Pengendalian Sosial Keluarga

 Keluarga merupakan kesatuan masyarakat yang terkecil yang terdiri dari bapak, ibu, anak, dan orang lain yang dianggap sebagai anggota. Salah satu fungsi utama adalah Pendidikan yang diselenggarakan oleh orang tua kepada anak-anak mereka.  Pendidikan di keluarga merupakan pendidikan yang pertama dan utama.

f). Lembaga Pengendalian Sosial  Sekolah

Sekolah merupakan lembaga pendidikan formal. Guru berkewajiban mendidik dan mengajar para siswa. Mendidik lebih intensif daripada mengajar.

g). Lembaga Pengendalian Sosial  Media Massa

Media massa efektif juga untuk mengendalikan kehidupan sosial masyarakat. Media massa memiliki cakupan luas, sehingga dapat mengontrol perilaku para pemimpin dan warga masyarakat.

Media massa dapat pula membentuk opini publik sehingga memengaruhi sikap dan pendapat warga masyarakat tentang sesuatu hal.

Contoh Soal Ujian Pengendalian Sosial Masyarakat

Soal 1. Pengendalian sosial adalah satu cara yang digunakan masyarakat untuk menertibkan anggotanya yang membangkang. Pendapat tersebut diungkapkan oleh . . . .

a). Lapiere

b). Roucek

c). Lemert

d). Froman

e). Berger

Soal 2. Terciptanya suatu keadaan di mana anggota masyarakat bertindak sesuai dengan harapan kelompok atau masyarakat yang bersangkutan merupakan perwujudan . . . .

a). fungsi pengendalian sosial

b). cakupan pengendalian sosial

c). proses pengendalian sosial

d). tujuan pengendalian sosial

e). manfaat pengendalian sosial

Soal 3. Bentuk pengendalian sosial yang paling efektif dan bersifat formal adalah . . . .

a). hukum

b). adat istiadat

c). norma sosial

d). nilai sosial

e). kebiasaan

Soal 4. Pengendalian sosial secara represif adalah . . . .

a). memaksa orang agar mematuhi aturan dan kaidah yang berlaku

b). dilakukan pembinaan dan konseling setelah mendapatkan sanksi

c). penegakan hukum dengan cara memberi hukuman seberatberatnya

d). memberi penjelasan tentang hukum

e). memasang rambu-rambu lalu lintas

Rangkuman Ringkasan Pengendalian Sosial Masyarakat Indonesia

Pengendalian sosial merupakan suatu istilah kolektif yang mengacu pada proses terencana ataupun tidak terencana, yang mengajarkan, membujuk, atau bahkan memaksa setiap individu untuk menyesuaikan diri dengan kebiasaan-kebiasaan dan nilai-nilai kehidupan kelompok.

Tujuan dari pengendalian sosial adalah:

1). Memelihara pelaksanaan sistem nilai dan sistem norma yang berlaku dalam kehidupan masyarakat,

2). Mencegah terjadinya penyimpangan terhadap sistem nilai dan sistem norma yang berlaku dalam kehidupan masyarakat, dan

3). Memulihkan keadaan sebagai akibat dari terjadinya penyimpangan terhadap system nilai dan sistem norma yang berlaku dalam kehidupan masyarakat.

Memelihara pelaksanaan sistem nilai dan sistem norma serta mencegah terjadinya penyimpangan terhadap sistem nilai dan sistem norma yang berlaku dalam kehidupan masyarakat sering disebut dengan pengendalian preventif.

Sedangkan memulihkan keadaan sebagai akibat dari terjadinya penyimpangan terhadap sistem nilai dan sistem norma yang berlaku dalam kehidupan masyarakat sering disebut dengan pengendalian represif.

Adapun cara-cara yang dapat ditempuh untuk melakukan pengendalian sosial adalah sebagai berikut:

1). Dilakukan sosialisasi tentang sistem nilai dan sistem norma yang telah disepakati bersama sehingga setiap anggota masyarakat akan memperoleh pengertian dan pemahaman.

2). Dilakukan tekanan sosial, baik secara perorangan maupun kelompok sehingga setiap anggota masyarakat segan dalam melakukan pelanggaran.

3). Jika langkah di atas tidak membuahkan hasil, maka diperlukan kekuatan dan kekuasaan yang dapat menegakkan pengendalian sosial secara resmi.

Pengendalian sosial yang bersifat preventif dilakukan sebelum terjadinya pelanggaran. Pengendalian sosial yang bersifat represif adalah pengendalian yang dilaksanakan setelah terjadi pelanggaran terhadap sistem nilai dan sistem norma yang disepakati bersama.

Pengendalian sosial yang merupakan perpaduan antara preventif dan represif dilakukan untuk mencegah agar tidak terjadi penyimpangan dan sekaligus untuk memulihkan kembali agar keadaan kembali normal.

Bentuk-bentuk pengendalian sosial diantaranya adalah gosip, teguran, sanksi/hukuman, pendidikan, dan agama.

Selain itu, pengendalian sosial juga dilakukan oleh lembaga sosial, antara lain kepolisian, pengadilan, agama, adat istiadat, dan keluarga.

 

Bentuk Interaksi Sosial Masyarakat: Pengertian Tujuan Fungsi Jenis Pola Contoh

Pengertian. Interaksi sosial adalah hubungan sosial yang dinamis menyangkut hubungan antara individu dengan individu, antara beberapa kelompok atau masyarakat, maupun antara individu dengan kelompok atau masyarakat. Interaksi sosial merupakan syarat utama terjadinya aktivitas sosial.

Tujuan Interaksi Sosial

Beberapa tujuan interaksi sosial adalah

a). Interaksi Sosial bertujuan untuk menjalin hubungan persahabatan.

b). Interaksi Sosial  untuk menjalin hubungan dalam bidang perdagangan.

c). Interaksi Sosial untuk melaksanakan kerja sama yang saling menguntungkan.

d). Interaksi Sosial untuk membicarakan dan merundingkan sesuatu masalah yang timbul.

e). Interaksi Sosial  untuk meniru kebudayaan orang lain yang lebih maju dan lain-lain.

Jenis Pola Interaksi Sosial

1). Pola Interaksi Sosial Antara Individu

Interaksi sosial antar individu ialah hubungan timbal balik yang terjadi antara orang perseorangan.

Interaksi sosial antara individu dengan individu dapat bersifat positif, yakni berupa hubungan antara dua orang yang menimbulkan hubungan yang harmonis, maupun bersifat negatif, yakni hubungan antara dua orang yang justru menimbulkan konflik.

Bentuk interaksi antar individu ini dapat berlangsung secara verbal seperti tersenyum atau mengedipkan mata. Dapat pula secara fisik terjadi kontak fisik, misalnya berjabat tangan.

2). Pola Interaksi Sosial Antara Individu Dengan Kelompok

interaksi sosial antara individu dengan kelompok merupakan proses hubungan timbal balik dan saling mempengaruhi yang terjadi antara seseorang dengan sekelompok orang dalam rangka mencapai tujuan bersama.

Sebagai contoh Kepala sekolah sedang memberikan pembinaan kepada siswa pada saat upacara bendera.

3). Pola Interaksi Antara Kelompok

Setiap individu yang memiliki kepentingan dan tujuan yang sama dengan individu lainnya akan tergabung dalam kelompok- kelompok sosial. Kepentingan inidvidu melebur menjadi kepentingan kelompok.

Perbedaan kepentingan dan tujuan antar kelompok ini akan melahirkan interaksi. Contoh peringatan tangga 17 Agustus di lingkungan kecamatan atau kota yang melibatkan kerja sama antar kelompok Karang Taruna, kelompok Posyandu dan kelompok Remaja Masjid.

Faktor Yang Mempengaruhi Interaksi Sosial

Berlangsungnya suatu proses interaksi didasari oleh faktor-faktor imitasi, sugesti, identifikasi, dan simpati. Faktor-faktor tersebut dapat bergerak sendiri-sendiri secara terpisah atau dalam keadaan yang bergabung.

a). Imitasi

Imitasi merupakan suatu proses sosial, yakni tindakan seseorang untuk meniru sikap, penampilan, gaya hidup, dan apa saja yang ada pada diri orang lain.

Misalnya, seorang anak meniru kebiasaan orang tuanya dalam hal cara berbicara dan berpakaian.

b). Identifikasi

Identifikasi merupakan kecenderungan pada diri seseorang untuk menjadi sama (identik) dengan individu lain yang menjadi idolanya. Proses indentifikasi dapat dimulai dari sugesti, kemudian simpati, imitasi dan indentifikasi.

Contoh, seorang anak biasanya akan menidentifikasikan gaya dan perilaku orang tuanya.

c). Motivasi

Motivasi adalah dorongan, rangsangan, pengaruh atau stimulus yang diberikan seorang individu kepada individu yang lain sedemikian rupa, sehingga orang yang diberi motivasi tersebut menuruti atau melaksanakan apa yang dimotivasikan secara kritis, rasional dan penuh tanggung jawab.

Misalnya, murid dipuji guru karena memenangkan lomba. Pujian itu memotivasi siswa  untuk lebih giat belajar. Pada

d). Sugesti

Sugesti merupakan pengaruh- pengaruh yang diberikan oleh seseorang atau sekelompok orang kepada seseorang atau sekelompok orang sedemikian rupa sehingga orang yang diberi sugesti tersebut akan menuruti apa yang menjadi keinginan dari si pemberi sugesti tanpa pertimbangan-pertimbangan yang bersifat rasional.

Contoh sugesti yang mudah ditemui berwujud iklan. Iklan mempunyai daya pengaruh besar sehingga mendorong konsumen membeli suatu barang, walau dia belum tentu membutuhkan barang tersebut.

e). Simpati

Simpati merupakan gejala kejiwan yang ditandai dengan adanya ketertarikan terhadap sikap dan perilaku yang ditunjukkan oleh seseorang atau sekelompok orang. Simpati biasanya ditandai dengan adanya rasa tertarik atau bahkan rasa cinta kepada seseorang atau sekelompom orang.

Contoh perasaan simpati adalah ungkapan selamat atas keberhasilan seseorang, atau ungkapan turut berduka cita atas musibah yang dialami oleh seseorang.

f). Empati

Empati adalah kemampuan mengambil atau memainkan peranan secara efektif dari seseorang atau orang lain dalam kondisi yang sebenarbenarnya, seolah-olah ikut merasakan apa yang dirasakan oleh orang lain tersebut, seperti rasa senang, sakit, susah dan bahagia.

Misalnya, kita ikut merasa iba sampai meneteskan air mata ketika menyaksikan peristiwa kecelakaan yang merenggut nyawa.

Syarat Terjadinya Interaksi Sosial

Interaksi sosial hanya mungkin terjadi bila dua syarat terpenuhi, yaitu adanya kontak sosial dan adanya komunikasi.

a). Kontak Sosial

Kontak merupakan tahap permulaan dari terjadinya interaksi sosial. Kontak sosial mengacu pada hubungan sosial antara individu satu dengan individu lain yang bersifat langsung, seperti sentuhan, percakapan, maupun tatap muka sebagai wujud aksi dan reaksi.

b). Komunikasi

Komunikasi merujuk pada proses penyampaian pesan dari seseorang kepada orang lain yang dilakukan secara langsung maupun melalui alat bantu agar orang lain memberikan tanggapan atau respons tertentu.

Bentuk- Bentuk Interaksi Sosial

Bentuk-bentuk interaksi sosial secara garis besar dapat kita bedakan menjadi dua yaitu interaksi sosial yang bersifat assosiatif dan interaksi sosial yang bersifat dissosiatif.

1). Interaksi Sosial Yang Bersifat Assosiatif

Interaksi sosial asosiatif dapat berupa kerja sama, akomodasi, asimilasi, akulturasi, dekulturasi, dominasi, paternalisme, diskriminasi, integrasi, dan pluralisme.

a). Kerja Sama Cooperation

Kerja sama adalah suatu usaha bersama antara orang perorangan atau kelompok untuk mencapai tujuan bersama. Kerja sama dilakukan sejak manusia mulai berinteraksi dengan sesamanya.

Kerja sama timbul apabila orang menyadari bahwa mereka mempunyai kepentingan kepentingan yang sama dan pada saat yang bersamaan mempunyai cukup pengetahuan dan pengendalian terhadap diri sendiri untuk memenuhi kepentingan tersebut.

b). Akomodasi

Akomodasi adalah suatu proses penyesuaian diri dari orang perorang atau kelompok-kelompok manusia yang semula saling bertentangan sebagai upaya untuk mengatasi ketegangan-ketegangan.

Akomodasi adalah keseimbangan interaksi sosial dalam kaitannya dengan norma dan nilai yang ada di masyarakat.  Akomodasi sering terjadi dalam situasi konflik sosial (pertentangan).

Akomodasi merupakan suatu cara untuk menyelesaikan pertentangan tanpa menghancurkan pihak lawan, sehingga pihak lawan tidak kehilangan kepribadiannya

c). Asimilasi

Asimilasi merupakan proses sosial yang ditandai dengan adanya usaha-usaha mengurangi perbedaan-perbedaan yang terdapat antara orang- perorangan atau kelompok -kelompok manusia yang meliputi usaha- usaha untuk mempertinggi kesatuan tindakan, sikap, dan proses mental dengan memperhatikan tujuan dan kepentingan bersama.

Asimilasi adalah proses sosial yang timbul apabila ada kelompok masyarakat dengan latar belakang kebudayaan yang berbeda, saling bergaul secara interaktif dalam jangka waktu yang lama.

d). Akulturasi

Akulturasi diartikan sebagai suatu proses sosial yang timbul apabila suatu kelompok manusia kebudayaan tertentu dihadapkan dengan unsur-unsur dari kebudayaan asing dengan sedemikian rupa sehingga unsur- unsurnya kebudayaan asing itu lambat laun diterima dan tanpa menyebabkan hilangnya kepribadian kebudayaan itu sendiri.

Akulturasi merupakan proses sosial yang timbul karena penerimaan dan pengolahan unsur-unsur kebudayaan asing tanpa menghilangkan unsur-unsur kebudayaan asli.

Akulturasi merupakan perpaduan dua unsur kebudayaan dalam kurun waktu yang lama.

2). Interaksi Sosial Yang Bersifat Dissosiatif

Interaksi sosial yang bersifat dissosiatif mengarah kepada bentuk pertentangan atau konflik yang berwujud persaingan, kontravensi, pertikaian, dan permusuhan. Interaksi sosial bersifat dissosiatif disebut pula proses oposisi.

a). Persaingan (Competition)

Persaingan adalah proses sosial yang melibatkan dua pihak atau lebih individu atau kelompok yang saling berlomba dan berbuat sesuatu untuk mencapai kemenangan tertentu.

Persaingan terjadi apabila beberapa pihak menginginkan sesuatu yang jumlahnya sangat terbatas atau sesuatu yang menjadi pusat perhatian umum.

b). Kontravensi

Kontravensi adalah proses sosial yang berada di antara persaingan dan pertentangan. Kontravensi ditandai dengan sikap ketidakpastian, keraguan, penolakan, dan penyangkalan yang tidak diungkapkan secara terbuka.

Penyebab kontravensi antara lain perbedaan pendirian kalangan tertentu dengan kalangan lain di masyarakat.

c). Pertikaian

Pertikaian adalah proses sosial yang terjadi apabila individu atau kelompok berusaha memenuhi kebutuhan atau tujuannya dengan jalan menentang pihak lain dengan cara ancaman atau kekerasan.

d). Permusuhan (Konflik)

Permusuhan (konflik) adalah keadaan yang membuat salah satu pihak merintangi atau menjadi penghalang bagi individu atau kelompok dalam melakukan kegiatankegiatan tertentu.

Permusuhan atau konflik diawali dengan adanya perbedaan atau persaingan yang serius sehingga sulit didamaikan atau ditemukan kesamaannya.

Bekerja sama (Cooperation)

Interaksi yang mendorong terbentuknya keteraturan sosial adalah interaksi yang bersifat asosiasif, yakni interaksi yang mengarah pada bentuk – bentuk asosiasi, seperti kerja sama, akomodasi, asimilasi, dan akulturasi.

Kerja sama muncul ketika masing-masing pihak memiliki kepentingan-kepentingan yang sama dan pada saat bersamaan mereka mempunyai kesadaran untuk bekerja sama dalam mencapai kepentingan-kepentingan tersebut.

Ada beberapa bentuk interaksi yang berupa kerja sama, yakni bargaining, cooptation, coalition, dan joint venture.

Bargaining

Merupakan suatu pelaksanaan perjanjian mengenai pertukaran barang dan jasa antara dua orang atau dua organisasi atau lebih.

Pengertian Co-optation Pada Interaksi Sosial

Merupakan suatu proses penerimaan unsur – unsur baru dalam kepemimpinan atau pelaksanaan politik dalam suatu organisasi, sebagai salah satu cara untuk menghindari terjadinya kegoncangan dalam organisasi yang bersangkutan.

Pengertian Coalition Pada Interaksi Sosial

Merupakan suatu kombinasi antara dua organisasi atau lebih yang mempunyai tujuan yang sama. Koalisi sifatnya kooperatif.

Pengertian Joint – Venture Pada Interaksi Sosial

Merupakan suatu kerja sama dalam pengusahaan proyek – proyek tertentu, dengan perjanjian proporsi keuntungan tertentu pula.

Contoh Soal Ujian Interaksi Sosial Masyarakat Indonesia.

Dalam acara penggalangan dana untuk bantuan bencana alam, banyak terkumpul sumbangan yang diberikan pada undangan sesuai kemampuan masing –masing. Suasana dalam acara tersebut menunjukkan bentuk interaksi social bersifat….

(A) Akomodatif.   (B) Disosiatif.   (C) Integratif.   (D) Asimilatif.   (E) Asosiatif.

Jawaban: E

Pembahasan:

Interasksi social asosiatif adalah bentuk interaksi yang menghasilkan kerja sama. Ada beberapa bentuk interaksi social asosiatif, yaitu

Bargaining merupakan pelaksanaan perjanjian dilakukan untuk pertukaran barang atau jasa antara dua organisasi atau lebih.

Cooptation (kooptasi) merupakan suatu proses penerimaan unsur – unsur baru dalam kepemimpinan atau pelaksanaan politik dalam suatu organisasi untuk menghindari goncangan yang terjadi pada organisasi tersebut.

Coalition (koalisi) merupakan kerja sama yang dilakukan oleh dua atau lebih organisasi (atau kelompok) yang memiliki tujuan yang sama.

Join Venture merupakan kerja sama dengan pengusaha proyek tertentu untuk menghasilkan keuntungan yang akan dibagi berdasarkan proporsi tertentu.

Jadi, penggalangan dana untuk bantuan bencana alam merupakan kegiatan interaksi social yang sifatnya asosiatif koalisi.

Contoh Soal Ujian Interaksi Sosial

Soal 1. Interaksi sosial ditandai oleh adanya ….

a). kerja sama antarkelompok

b). hubungan sosial yang dinamis di antara masyarakat

c). pertikaian antarkelompok

d). komunikasi antar-individu

e). tindakan sosial dengan tujuan tertentu

Soal 2. Dua orang bertemu, namun mereka tidak dapat menjalankan hubungan komunikasi dan kontak maka dalam hal ini ….

a). tidak terjadi saling pengertian

b). tidak terjadi hubungan sosial atau interaksi sosial

c). mereka bisu

d). tidak terjadi keinginan untuk bergaul

e). sudah terjadi hubungan atau interaksi sosial

soal 3.  Interaksi sosial merupakan bentuk pelaksanaan kedudukan manusia sebagai mahluk sosial, artinya …

a). manusia tidak dapat hidup sendirian

b). manusia senantiasa memilih teman untuk hidupnya

c). manusia senantiasa memerlukan kebersamaan dengan orang lain

d). manusia senantiasa berinteraksi untuk memenuhi kebutuhan hidupnya

e). manusia adalah mahluk yang senantiasa berkelompok

Rangkuman Ringkasan Interaksi Sosial

  1. Interaksi sosial adalah hubungan sosial yang dinamis yang menyangkut hubungan antara orang perseorangan, antara beberapa kelompok manusia, maupun antara perseorangan dengan kelompok. Interaksi sosial merupakan syarat utama terjadinya aktivitas sosial.
  2. Interaksi sosial pelakunya harus lebih dari satu orang, terjadi melalui adanya kontak dan komunikasi antar pelaku interaksi untuk mencapai tujuan, baik tujuan yang disepakati atau tidak disepakati.
  3. Interaksi sosial dapat dibedakan menjadi tiga macam yaitu; Interaksi antara individu. Interaksi sosial antar individu yaitu hubungan timbal balik yang terjadi antara orang perseorangan.
  4. Hubungan terjadi karena adanya pengaruh, reaksi atau tanggapan yang diberikan oleh salah satu individu. Bentuk interaksi antar individu ini dapat berlangsung secara verbal seperti tersenyum atau mengedipkan mata.  Dapat pula secara fisik terjadi kontak fisik, misalnya berjabat tangan.
  5. Interaksi antara individu dengan kelompok yaitu hubungan timbali balik yang terjadi antara orang perorangan dengan kelompok.
  6. Setiap individu yang memiliki kepentingan dan tujuan yang sama dengan individu lainnya akan tergabung dalam kelompok-kelompok sosial. Kepentingan inidvidu melebur menjadi kepentingan kelompok. Perbedaan kepentingan dan tujuan antar kelompok ini akan melahirkan interaksi.
  7. Syarat terjadinya interaksi adalah terjadinya kontak, yaitu yang secara harfiah berarti bersentuh. Komunikasi yang berarti menyampaikan pesan.
  8. Kontak dapat berlangsung secara primer yaitu kontak yang terjadi secara langsung dan kontak sekunder yaitu kontak dengan menggunakan media alat komunikasi dan orang lain atau secara tidak langsung.
  9. Faktor-faktor yang mendasari proses interaksi yang mendorong tejadinya interaksi ialah Imitasi yaitu tindakan atau usaha untuk meniru tindakan orang lain sebagai tokoh idealnya. Usaha meniru atau tindakan tiruannya tidak selalu persis sama.
  10. Sugesti artinya pengaruh karena emosional/ perasaan/kata hati tersentuh oleh pandangan, sikap, dan anjuran dari pihak lain.  Pengaruh ini sifatnya kualitatif, bukan kuantitatif yang selalu diukur dengan korelasi regresif atau sejenisnya.
  11. Identifikasi adalah kecenderungan atau keinginan dalam diri seseorang untuk menjadi sama dengan pihak lain.
  12. Simpati merupakan suatu proses seseorang yang merasa tertarik pada pihak lain.  Pada proses ini perasaan seseorang sangat didorong untuk memahami pihak lain.
  13. Empati adalah kemampuan mengambil atau memainkan peranan secara efektif dari seseorang atau orang lain dalam kondisi yang sebenar-benarnya, seolah-olah ikut merasakan apa yang dirasakan oleh orang lain tersebut, seperti rasa senang, sakit, susah dan bahagia.
  14. Motivasi adalah dorongan, rangsangan, pengaruh atau stimulus yang diberikan seorang individu kepada individu yang lain sedemikian rupa, sehingga orang yang diberi motivasi tersebut menuruti atau melaksanakan apa yang dimotivasikan secara kritis, rasional dan penuh tanggung jawab.
  15. Interaksi sosial yang hampir terjadi dalam kehidupan manusia, apabila berlangsung secara terus menerus dalam keadaan baik, maka akan menimbulkan keteraturan sosial.
  16. Keteraturan sosial merupakan hasil dari hubungan sosial atau interaksi sosial yang berlangsung secara berkesinambungan.
  17. Keteraturan sosial ialah sistem kemasyarakatan, hubungan dan kebiasaan yang berjalan secara lancar sehingga dapat mencapai tujuan bersama yang diinginkan.
  18. Adanya keselarasan antara kerja sama sebagai hasil interaksi dengan nilai dan norma sosial akan menciptakan hubungan sosial yang tertib, harmonis sesuai dengan nilai-nilai yang berlaku.

Konflik Sosial: Pengertian Bentuk Faktor Cara Mengatasi

Pengertian Konflik Sosial Masyarakat. Konflik berasal dari bahasa latin, yaitu configure yang berarti saling memukul. Secara sosiologis dapat diartikan sebagai proses sosial di mana terdapat gejala- gejala untuk menyingkirkan pihak lain dengan jalan menghancurkannya.

Konflik merupakan salah satu bagian dalam interaksi sosial yang bersifat disosiatif. Keadaan yang memiliki peluang besar untuk terjadinya sebuah konflik adalah perbedaan. Perbedaan yang dimaksud adalah perbedaan kepentingan.

Pengertian Konflik Sosial Menurut Para Ahli

Beberapa definisi konflik menurut ahli sosiologi diantaranya adalah

1). Konflik Sosial Menurut Berstein 

Konflik sosial adalah suatu pertentangan atau perbedaan yang tidak dapat dicegah. Konflik ini mempunyai potensi yang memberikan pengaruh positif dan negatif dalam interaksi manusia.

2). Konflik Sosial Menurut Robert M.Z. Lawang,

Konflik Sosial adalah sebuah perjuangan untuk memperoleh hal-hal yang langka, seperti nilai, status, kekuasaan, dan sebagainya, yang tujuan mereka berkonflik itu tidak hanya memperoleh keuntungan, tetapi juga untuk menundukkan pesaingnya.

3).  Konflik Sosial Menurut Lewis A. Coser

Konflik sosial  adalah sebuah perjuangan mengenai nilai atau tuntutan atas status, kekuasaan, bermaksud untuk menetralkan, mencederai, atau melenyapkan lawan.

4). Konflik Sosial Menurut Soejono Soekanto

Konflik adalah suatu proses sosial dimana individu atau kelompok berusaha untuk memenuhi tujuannya dengan jalan menentang pihak lawan yang disertai dengan ancaman dan kekerasan.

5). Konflik Sosial Menurut Ariyono Suyono

Konflik Sosial adalah proses atau keadaan di mana dua pihak berusaha menggagalkan tercapainya tujuan masing-masing disebabkan adanya perbedaan pendapat, nilai-nilai ataupun tuntutan dari masing-masing pihak.

6). Konflik Sosial Menurut James W. Vander Zanden

Konflik adalah suatu pertentangan mengenai nilai atau tuntutan hak atas kekayaan, kekuasaan, status atau wilayah tempat yang saling berhadapan, bertujuan untuk menetralkan, merugikan ataupun menyisihkan lawan mereka.

Bentuk Bentuk Konflik Sosial Masyarakat

1). Konflik Sosial Individu

Konflik pribadi adalah pertentangan yang terjadi antara orang per orang. Masalah yang menjadi dasar perlawanan atau konflik pribadi biasanya juga masalah pribadi.

Contoh Konflik Sosial Pribadi Individu misalnya individu yang terlibat utang, atau masalah pembagian warisan dalam keluarga.

2). Konflik Sosial Rasial

Konflik rasial adalah pertentangan kelompok ras yang berbeda karena kepentingan dan kebudayaan yang saling bertabrakan.  Konflik rasial umumnya terjadi karena salah satu ras merasa sebagai golongan yang paling unggul dan paling sempurna di antara ras lainnya.

Contoh Konflik Rasial misalnya yang terjadi di Afrika Selatan yang terkenal dengan politik apartheid. Contoh lainnya adalah konflik antara orang-orang kulit hitam dengan kulit putih akibat diskriminasi ras (rasialisme) di Amerika Serikat.

3). Konflik Sosial Politik

Konflik politik adalah konflik yang menyangkut golongan-golongan dalam masyarakat maupun di antara negara-negara yang berdaulat. Masalah politik sering mengakibatkan konflik antarmasyarakat.

Contoh Konflik Politik misalnya Misalnya bentrokan antarpartai politik pada saat kampanye. Konflik politik yang pernah terjadi antara Indonesia dan Malaysia pada tahun 1963.

4). Konflik Sosial Antarkelas Sosial

Konflik antarkelas sosial adalah pertentangan antara dua kelas sosial. Konflik itu terjadi umumnya dipicu oleh perbedaan kepentingan antara kedua golongan tersebut.

Contoh Koflik Antarkelas Sosial misalnya, antara karyawan pabrik dengan pemiliknya karena tuntutan kenaikan gaji dari karyawan akibat minimnya tingkat kesejahteraan.

5). Konflik Sosial Internasional

Konflik internasional adalah pertentangan yang melibatkan beberapa kelompok negara (blok) karena perbedaan kepentingan.

Contoh Konflik Internasional adalah Perang Dunia II. Konflik terjadi antara kelompok sekutu dan kelompok sentral. Contoh lainnya adalah konflik antara negara Irak dan Amerika Serikat yang melibatkan beberapa negara besar.

6). Konflik Sosial Antarkelompok

Konflik antarkelompok adalah konflik yang terjadi karena persaingan dalam mendapatkan mata pencaharian hidup yang sama atau karena pemaksaan unsur-unsur budaya asing.

Contoh Konflik Antarkelompok misalnya, hubungan antara golongan mayoritas dan minoritas. Koalisi golongan minoritas mungkin dalam bentuk sikap menerima, agresif, dan menghindari atau asimilasi.

Cara Mengatasi Konflik Sosial 

Konflik akan menyebabkan gagalnya pencapaian tujuan dari masing – masing pihak yang bersengketa. Konflik umumnya disebabkan adanya perbedaan pendapat, nilai-nilai ataupun tuntutan dari masing – masing pihak.

Adanya perbedaan kepentingan yang berlawanan antarkelompok membuat kelompok-kelompok tersebut senantiasa dalam situasi konflik.

Dengan demikian, yang dapat dilakukan adalah mengendalikan atau mengontrol atau mengatur konflik yang ada dalam masyarakat. Pengendalian ini bertujuan agar konflik tidak mengarah ke bentuk atau situasi yang lebih buruk bahkan kekerasan.

Salah satu faktor yang dapat mengurangi atau membatasi dampak negative dari suatu konflik adalah sikap toleran. Pada masyarakat yang anggotanya melakukan interaksi dengan frekuensi yang tinggi, konflik lebih mudah dikendalikan atau ditekan daripada dalam masyarakat yang kurang atau tidak saling berinteraksi.

Adapun cara – cara yang dapat dilakukan untuk pengendalian konflik di masyarakat, antara lain adalah:

Mengatasi Konflik Sosial Dengan (Conciliation)

Konsiliasi adalah cara untuk mempertemukan tujuan atau keinginan – keinginan dari pihak – pihak yang sedang mengalami konflik agar mencapai tujuan bersama. Konsiliasi akan berhasil dan terwujud jika disertai dukungan dan peran dari lembaga – lembaga tertentu dalam masyarakat.

Dukungan Lembaga tersebut harus benar – benar berfungsi secara efektif sebagai pengendali konflik. Untuk itu lembaga – lembaga tersebut harus memenuhi syarat – syarat sebagai berikut.

Lembaga harus otonom dalam kewenangannay. Lembaga kedudukannya harus monopolitis. Lembaga harus mampu menjadi pemersatu.  Lembaga harus demokratis.

Namun demikian, kehadiran lembaga tersebut tidak akan memiliki arti apa pun tanpa adanya niatan atau keinginan dari pihak – pihak untuk menyelesaikan konfliknya. Untuk itu, kelompok yang terlibat konflik harus berada dalam kondisi berikut:

Para pihak yang sedang konflik tahu benar bahwa mereka dalam kondisi konflik. Para pihak yang sedang konflik harus terorginisir dengan jelas. Para pihak yang terlibat dalam konflik harus mematuhi aturan – aturan permainan tertentu.

Mengatasi Konflik Sosial Dengan  Mediasi (Mediation)

Mediasi merupakan metoda pengendalian konflik dengan cara meminta bantuan pihak ketiga sebagai penasehat. Disini mediasi merupan usaha untuk kompromi yang tidak dilakukan sendiri secara langsung. Mediasi dilakukan dengan bantuan pihak ketiga yang independen tidak memihak.

Pihak ketiga atau mediator hanya mencoba mempertemukan dan mendamaikan par pihak yang sedang konflik atas dasar kompromi. Pihak ketiga dalam mediasi sifatnya harus netral. Tugas utama pihak ketiga adalah mengusahakan tercapainya penyelesaian secara damai.

Pihak ketiga hanya berperan sebagai penasihat atau pemberi saran dan tidak memiliki kewenangan untuk memberi keputusan terhadap penyelesaian konflik tersebut. Sekalipun saran atau nasihat dari pihak ketiga tersebut tidak mengikat pihak – pihak yang terlibat konflik. Namun demikian proses mediasi sering menghasilkan penyelesaian yang cukup efektif. Hal itu karena mediasi mampu mengurangi tindakan – tindakan irasional yang mungkin terjadi dalam sebuah konflik.

Mengatasi Konflik Sosial Dengan  Arbitrasi (Arbitration)

Arbitrasi merupakan teknik penyelesaian konflik yang menggunakan jasa penengah. Arbitrasi adalah suatu usaha penyelesaian konflik yang dilakukan dengan bantuan pihak ketiga. Seperti dalam mediasi, pihak ketiga yang digunakan dalam arbitrasi dipilih oleh para pihak yang terlibat konflik.

Perbedaannya adalah dalam mediasi pihak ketiga hanya mempertemukan pihak yang terlibat konflik. Sedangkan dalam proses arbitrasi, pihak ketiga berfungsi sebagai perantara yang mempertemukan keinginan yang kompromistis dari pihak yang terlibat konflik. Penyelesaian konflik dilakukan oleh penengah dengan mengambil dan membuat keputusan – keputusan penyelesaian atas dasar ketentuan yang berlaku.

Dampak Konflik Sosial Masyarakat.

Konflik akan membawa pengaruh positif atau negative terhadap masyarakat. Hal itu tergantung pada permasalahan yang diperselihkan dan struktur sosial masyarakatnya karena konflik menyangkut tujuan, nilai, atau kepentingan.

Konflik akan bersifat positif apabila konflik tersebut tidak berlawanan dengan pola – pola hubungan social dalam struktur social tertentu. Sebaliknya, konflik akan berakibat negatif ketika berlawanan dengan pola – pola hubungan social.

Dampak  Positif Konflik Sosial Masyarakat

1). Konflik dapat meningkatkan solidaritas di antara anggota kelompok, misalnya apabila terjadi pertikaian antarkelompok, anggota-anggota dari setiap kelompok tersebut akan bersatu untuk menghadapi lawan kelompoknya.

2). Konflik berfungsi sebagai alat perubahan sosial, misalnya anggota-anggota kelompok atau masyarakat yang berseteru akan menilai dirinya sendiri dan mungkin akan terjadi perubahan dalam dirinya.

3). Munculnya pribadi-pribadi atau mental-mental masyarakat yang tahan uji dalam menghadapi segala tantangan dan permasalahan yang dihadapi sehingga dapat lebih mendewasakan masyarakat.

4). Dalam diskusi ilmiah, biasanya perbedaan pendapat justru diharapkan untuk melihat kelemahan-kelemahan suatu pendapat sehingga dapat ditemukan pendapat atau pilihanpilihan yang lebih kuat sebagai jalan keluar atau pemecahan suatu masalah.

Dampak Negatif Konflik Sosial Masyarakat

1). Retaknya persatuan kelompok. Hal ini terjadi apabila terjadi pertentangan antaranggota dalam satu kelompok.

2). Perubahan kepribadian individu. Pertentangan di dalam kelompok atau antarkelompok dapat menyebabkan individu individu tertentu merasa tertekan sehingga mentalnya tersiksa.

3). Dominasi dan takluknya salah satu pihak. Hal ini terjadi jika kekuatan pihak-pihak yang bertikai tidak seimbang, akan terjadi dominasi oleh satu pihak terhadap pihak lainnya.

4). Banyaknya kerugian, baik harta benda maupun jiwa, akibat kekerasan yang ditonjolkan dalam penyelesaian suatu konflik.

Contoh Soal Ujian Konflik Sosial Masyarakat

Soal 1. Berikut yang merupakan keadaan-keadaan yang dapat memicu terjadinya konflik adalah ….

a). terjadi antara individu dengan individu lain

b). terjadi antara kelompok dengan kelompok lain

c). berusaha untuk memperebutkan sesuatu

d). mempunyai latar belakang masalah sosial

e). ingin menjatuhkan lawan atau penentangnya

Soal 2. Pada dasamya konflik adalah pertentangan yang terjadi baik pada individu atau kelompok sebagai akibat dari…

a). Adanya kelompok yang kuat menindas kelompok yang lemah

b). Ketidaksesuaian nilai-nilai dan norma-norma yang dianut

c). Adanya pengaruh budaya asing yang tidak sesuai

d). Adanya kesalahpahaman tentang persoalan hidup

e). Adanya pertikaian ideologi antar kelompok masyarakat

Soal 3. Konflik erat kaitannya dengan perubahan sosial, bukan tidak mungkin setiap perubahan sosial akan menimbulkan konflik, hubungan antara konflik dan hubungan sosial adalah …

a). Setiap perubahan sosial pasti akan berakhir dengan konflik

b). Setiap perubahan sosial diawali dengan konflik

c). Konflik merupakan konsekuensi dari perubahan sosial

d). Konflik akan terjadi bila masyarakat mengalami perubahan sosial

e). Perubahan sosial akan berjalan beriringan dengan konflik

Soal 4. Diantara hal-hal berikut yang mengawali konflik ialah…

a). Ketimpangan status sosial

b). Kecemburuan sosial ekonomi

c). Tidak ada komunikasi antara individu

d). Adanya prasangka

e). Adanya fanatisme yang sangat tinggi

Rangkuman Ringkasan Konflik Sosial Masyarakat

Konflik berasal dari bahasa latin, yaitu configure yang berarti saling memukul. Secara sosiologis, konflik diartikan sebagai proses sosial di mana terdapat gejala- gejala untuk menyingkirkan pihak lain dengan jalan menghancurkannya.

Adapun faktor- faktor penyebab terjadinya konflik dalam masyarakat adalah:

1). Perbedaan antarindividu, terkait adanya perbedaan pemikiran, pendirian, dan perasaan tiap-tiap individu.

2). Perbedaan kebudayaan, karena adanya perbedaan dalam hal nilai dan norma dari masing-masing kelompok kebudayaan yang disesuaikan dengan kebutuhan anggotanya.

3). Perubahan sosial, terkait dengan perubahan nilai dan norma sosial, pola perilaku organisasi, susunan Lembaga kemasyarakatan, lapisan- lapisan dalam masyarakat interaksi sosial, kekuasaan dan wewenang.

4). Perbedaan kepentingan, terkait dengan keinginan dan ideologi masing-masing individu atau kelompok dalam bidang politik, ekonomi, sosial, dan budaya.

Sedangkan bentuk-bentuk konflik yang ada di masyarakat sebagai akibat dari faktor-faktor di atas dan juga sebagai akibat adanya mobilitas sosial meliputi:

1). Konflik antarkelas adalah konflik yang terjadi adanya perbedaan ekonomi antara kelas atas dan kelas bawah dalam masyarakat.

2). Konflik antarkelompok adalah konflik yang melibatkan lebih dari satu kelompok dalam masyarakat yang terjadi secara massal.

3). Konflik antargenerasi adalah konflik yang terjadi antara generasi tua dengan generasi muda berkaitan dengan perbedaan pandangan mengenai suatu hal,

4). Konflik antaretnis, agama, dan golongan adalah konflik yang terjadi akibat semakin dipertajamnya perbedaan-perbedaan antaretnis, agama, dan golongan yang melibatkan para pengikut dari etnis, agama, dan golongan yang bersangkutan.

Daftar Pustaka:

Perilaku Penyimpangan Sosial: Pengertian, Ciri, Contoh Jenis dan Faktor

Pengertian Penyimpangan Sosial. Perilaku yang tidak sesuai dengan aturan (norma) yang berlaku disebut penyimpangan sosial (perilaku menyimpang).

Pengertian Pentimpangan Sosial Menurut Para Ahli

Berikut ini beberapa definisi penyimpangan sosial dari para ahli sosiologi.

a). Penyimpangan Sosial Menurut Bruce J. Cohen

Penyimpangan sosial adalah setiap perilaku yang tidak berhasil menyesuaikan diri dengan kehendak masyarakat atau kelompok tertentu dalam masyarakat.

b). Penyimpangan Sosial Menurut Robert M. Z. Lawang

Penyimpangan sosial adalah semua tindakan yang menyimpang dari norma- norma yang berlaku dalam suatu sistem sosial dan menimbulkan usaha dari mereka yang berwenang dalam sistem itu untuk memperbaiki perilaku tersebut.

c). Penyimpangan Sosial Menurut Paul B. Horton

Penyimpangan sosial adalah setiap perilaku yang dinyatakan sebagai pelanggaran terhadap norma -norma kelompok atau masyarakat.

d). Penyimpangan Sosial Menurut James W. Van der Zander

Penyimpangan sosial adalah perilaku yang oleh sejumlah besar orang dianggap sebagai hal yang tercela dan di luar batas toleransi.

Pengertian Deviation – Deviant

Penyimpangan terhadap norma-norma atau nilai-nilai masyarakat disebut deviasi (deviation), sedangkan pelaku atau individu yang melakukan penyimpangan disebut devian (deviant).

Pengertian Konformitas

Kebalikan dari perilaku menyimpang adalah perilaku yang tidak menyimpang yang sering disebut dengan konformitas. Konformitas adalah bentuk interaksi sosial yang di dalamnya seseorang berperilaku sesuai dengan harapan kelompok.

Pengertian Perilaku Menyimpang.

Perilaku menyimpang biasa disebut dengan nonkonformitas merupakan tindakan yang dilakukan oleh perorangan atau kelompok dengan menghidar dari nilai dan atau norma yang berlaku atau dianut dalam suatu masyarakat.

Perilaku menyimpang bukanlah kualitas yang dilakukan seseorang, melainkan konsekuensi atau akibat adanya peraturan dan penerapan sangsi yang dilakukan oleh pihak lain (atau masyarakat) terhadap pelaku tindakan tersebut.

Penyimpangan terjadi ketika tindakan yang dilakukan diluar batas norma – norma yang berlaku dalam suatu sistem social. Penyimpangan ini menyebabkan adanya usaha dari pihak berwenang untuk memperbaiki perilaku pelakunya.

Penyimpangan dianggap oleh sejumlah orang sebagai perilaku yang tercela dan di luar batas toleransi. Dengan demikian dapat disederhanakan bahwa penyimpangan adalah setiap perilaku yang dinyatakan sebagai suatu pelanggaran terhadap norma – norma kelompok atau masyarakat.

Ciri- Ciri Perilaku Menyimpang

a). Penyimpangan Harus Dapat Didefinisikan

Perbuatan dapat dikatakan menyimpang jika didefinisikan sebagai menyimpang. Perilaku menyimpang merupakan akibat dari adanya peraturan dan penerapan sanksi yang dilakukan oleh orang lain terhadap perilaku tersebut.

Dengan kata lain, menyimpang tidaknya suatu perilaku harus dinilai berdasarkan kriteria tertentu dan diketahui penyebabnya.

b). Penyimpangan Bisa Diterima Bisa Juga Ditolak

Tidak sumua perilaku menyimpang dinilai hal yang negatif. Ada beberapa penyimpangan yang dapat diterima bahkan dipuji dan dihormati. Contohnya, hasil penemuan para ahli tentang sesuatu kadang- kadang bertentangan dengan kebiasaan lama yang bersifat umum.

c). Penyimpangan Relatif dan Penyimpangan Mutlak

Semua orang pernah melakukan penyimpangan sosial, tetapi pada batas-batas tertentu yang bersifat relatif untuk semua orang. Dikatakan relatif karena perbedaannya hanya pada frekuensi dan kadar penyimpangan.

Jadi secara umum, penyimpangan yang dilakukan setiap orang cenderung relatif. Bahkan orang yang telah melakukan penyimpangan mutlak lambat laun harus berkompromi dengan lingkungannya.

d). Penyimpangan Terhadap Budaya Ideal

Budaya ideal adalah segenap peraturan hukum yang berlaku dalam suatu kelompok masyarakat. Akan tetapi pada kenyataannya tidak ada seorang pun yang patuh terhadap segenap peraturan resmi tersebut karena antara budaya nyata dengan budaya ideal selalu terjadi kesenjangan.

Artinya, peraturan yang telah menjadi pengetahuan umum dalam kenyataan kehidupan sehari-hari cenderung banyak dilanggar.

Contohnya, budaya antri dalam kenyataan kehidupan sehari-hari cenderung banyak dilanggar.

e.) Terdapat Norma- Norma Penghindaran

Apabila ada peraturan hukum yang melarang suatu perbuatan yang ingin sekali diperbuat banyak orang, biasanya muncul norma penghindaran.

Jadi, norma-norma penghindaran merupakan suatu bentuk penyimpangan perilaku yang bersifat setengah melembaga (semiinstitutionalized).

Contohnya adalah, mengendarai kendaraan di luar batas maksimum kecepatan yang berlaku, tidak menggunakan helm pada waktu bersepeda motor, pelanggaran marka jalan, pelanggaran batas beban berat truk yang melebihi, dan lain-lain.

f). Penyimpangan Sosial Bersifat Adaptif  Menyesuaikan

Penyimpangan sosial tidak selalu menjadi ancaman karena kadangkadang dapat dianggap sebagai alat pemelihara stabilitas sosial. Di satu pihak, masyarakat memerlukan keteraturan dan kepastian dalam kehidupan.  Di lain pihak, perilaku menyimpang merupakan salah satu cara untuk menyesuaikan kebudayaan dengan perubahan sosial.

Contohnya adalah Di dalam masyarakat Badui dilarang menggunakan alat-alat yang berbau teknologi, tetapi dengan semakin terdesaknya masyarakat tersebut dan hasil dari interaksi dengan penduduk sekitar maka pada malam hari karena listrik tidak boleh masuk banyak masyarakat Badui yang telah menggunakan lilin sebagai alat penerang. Lilin merupakan teknologi yang dibuat oleh manusia.

Faktor Penyebab Perilaku Menyimpang.

Terjadinya penyimpangan sosial dapat diakibatkan oleh beberapa faktor di antaranya adalah:

  1. Penyimpangan terjadi akibat adanya perubahan nilai dan norma dari suatu periode ke periode waktu lain.
  2. Penyimpangan terjadi karena tidak ada norma atau aturan yang bersifat mutlak yang bisa diberlakukan atau digunakan untuk menentukan benar tidaknya perilaku seseorang sepanjang waktu.
  3. Individu atau anggota masyarakat yang tidak mematuhi norma disebabkan karena mengamati pihak lain yang tidak mematuhi atau karena mereka tidak diajarkan untuk mentaatinya.
  4. Adanya individu atau anggota masyarakat yang belum memahami dan mendalami norma atau belum menyadari kenapa suatu norma itu harus dipatuhi. Hal ini dapat disebabkan karena proses sosialisasi yang belum sampai atau utuh pada seseorang.
  5. Adanya individu atau anggota masyarakat yang kurang atau tidak yakin dengan kebenaran atau kebaikan norma. Atau individu dihadapkan dengan situasi di mana terdapat norma – norma yang tidak sesuai.
  6. Penyimpangan terjadi akibat adanya konflik peran dalam seorang individu karena menjalankan beberapa peran dengan tuntutan perilaku yang berbeda.
  7. Penyimpangan terjadi akibat lemahnya ikatan dengan lembaga – lembaga sosial di masyarakat, seperti keluarga, sekolah dan pekerjaan.
  8. Penyimpangan terjadi akibat adanya masyarakat kompleks yang cenderung menjadi masyarakat tanpa norma. Pada masyarakat kompleks tidak ada pedoman atau aturan jelas yang dapat dipelajari dan dipatuhi.
  9. Penyimpangan dapat terjadi akibat ketidakmampuan individu atau anggota masyarakat dalam menyesuaikan diri secara psikologis.

Jenis-Jenis Perilaku Menyimpang

Terdapat dua konsep perilaku menyimpang, yaitu:

a). Penyimpangan Primer

Penyimpangan primer atau deviation primary adalah penyimpangan yang bersifat sementara (temporer) atau perbuatan menyimpang yang pertama kali dilakukan seseorang yang pada aspek kehidupan lainnya selalu berlaku konformis (mematuhi norma yang berlaku).

b). Penyimpangan Sekunder

Penyimpangan sekunder atau deviation secondary adalah penyimpangan sosial yang dilakukan secara terus-menerus, meskipun sanksi telah diberikan kepadanya.

Jenis Penyimpangan Berdasarkan Jumlah Individu Terlibat

Adapun berdasarkan jumlah individu yang terlibat, perilaku menyimpang dibedakan atas penyimpangan individu dan penyimpangan kelompok, yakni sebagai berikut.

a). Penyimpangan Individu

Penyimpangan individu adalah penyimpangan yang dilakukan sendiri tanpa ada campur tangan orang lain. Hanya satu individu yang melakukan sesuatu yang bertentangan dengan norma-norma umum yang berlaku.

  1. b) Penyimpangan Kelompok

Penyimpangan kelompok dilakukan oleh sekelompok orang yang patuh pada norma kelompoknya. Padahal norma tersebut jelas-jelas bertentangan dengan norma-norma umum yang berlaku dalam masyarakat.

Sifat-Sifat Penyimpangan

Sifat penyimpangan dibedakan sebagai berikut.

a). Penyimpangan Positif

Penyimpangan positif adalah perbuatan yang tidak sesuai dengan norma yang berlaku atau perilaku seseorang di luar kebiasaan masyarakat, namun pada akhirnya membawa dampak positif terhadap kehidupan masyarakat.

b). Penyimpangan Negatif

Penyimpangan ini adalah perbuatan yang memang tidak sesuai dengan norma yang berlaku dan berakibat buruk, serta mengganggu sistem sosial.

Contoh Bentuk Perilaku Menyimpang Sosial

Bentuk-bentuk penyimpangan yang umumnya terjadi dalam kehidupan masyarakat

a). Penyalahgunaan Narkotika

Narkotika adalah bahan atau zat pembius yang umumnya digunakan dalam bidang kedokteran, terutama digunakan untuk pasien yang akan dioperasi.

b). Perkelahian Pelajar

Perkelahian antarpelajar ini umumnya terjadi pada sekolah yang berbeda, kemudian ditunjang oleh solidaritas sosial yang salah.

c). Perilaku Seksual di Luar Nikah

Perilaku seksual di luar nikah terjadi sebagai akibat keinginan yang muncul dari setiap remaja yang belum masanya, akibat rangsangan dari buku bacaan porno, film yang tidak layak ditonton, atau kebebasan bergaul antara dua pemuda yang berlainan jenis.

d). Penggunaan Alkohol

Minuman yang mengandung alkohol dengan kadar tertentu dapat menyebabkan orang yang meminumnya mabuk.

Contoh Soal Ujian Penyimpangan Sosial

Soal 1. Berikut ini merupakan ciri-ciri perilaku menyimpang, kecuali . . . .

a). merupakan perilaku yang dianggap menyimpang

b). penyimpangan bisa terjadi terhadap budaya ideal dan real

c). perilaku menyimpang dapat diterima dan ditolak

d). penyimpangan terjadi sebagai konsekuensi dari adanya peraturan

e). penyimpangan timbul sebagai akibat peraturan yang dilanggar

Soal 2. Perilaku menyimpang yang sering dilakukan oleh sebagian besar remaja hanya karena rasa solidaritas kelompok adalah . . . .

a). pelecehan seksual

b). perjudian

c). korupsi

d). tawuran pelajar

e). pencurian

Soal 3. Perilaku menyimpang merupakan perbuatan yang ….

a). melarang nilai dan norma

b). mengabaikan nilai dan norma

c). mematuhi nilai dan mengabaikan norma

d). melanggar keinginan kita

e). memperhatikan dorongan hati

Soal 4. Contoh kelompok subkebudayaan menyimpang ialah ….

a). kelompok remaja

b). kelompok petani

c). masyarakat miskin

d). geng anak-anak nakal

e). perkampungan miskin

Soal 5. Semua tindakan individu atau kelompok individu yang menyimpang terhadap norma-norma sosial disebut . . . .

a). social order

b). norma sosial

c). deviasi sosial

d). pengendalian sosial

e). nilai sosial

Rangkuman Ringkasan Penyimpangan Sosial

1). Perilaku menyimpang adalah semua tindakan yang menyimpang dari norma yang berlaku dalam sistem sosial dan menimbulkan usaha dari mereka yang berwenang dalam sistem itu untuk memperbaiki perilaku menyimpang.

2). Ciri-ciri perilaku menyimpang:

a). Suatu perbuatan disebut menyimpang bilamana perbuatan itu dinyatakan sebagai menyimpang.

b). Penyimpangan terjadi sebagai konsekuensi dari adanya peraturan dan penerapan sanksi yang dilakukan oleh orang lain terhadap si pelaku menyimpang.

c). Ada perilaku menyimpang yang bisa diterima dan ada yang ditolak.

d). Mayoritas orang tidak sepenuhnya menaati peraturan sehingga sehingga ada bentuk penyimpangan yang tersamar dan ada yang ditolak.

e). Penyimpangan bisa terjadi terhadap budaya ideal dan budaya riil.

f). Apabila ada peraturan hukum yang melarang suatu perbuatan yang ingin sekali diperbuat banyak orang, biasanya muncul norma penghindaran.

3). Faktor penyebab perilaku menyimpang:

a). Seseorang mengamati perilaku menyimpang yang dilakukan orang lain.

b). Lingkungan sekitar telah mempertontonkan aneka perilaku yang tidak sesuai dengan nilai dan norma sosial yang berlaku.

c). Pengaruh media massa.

d). Adanya ikatan sosial yang berlainan sehingga individu terdorong untuk mengidentifikasi diri dengan kelompok yang paling dihargai.

e). Individu mengalami gangguan mental.

4). Bentuk-bentuk perilaku menyimpang:

a). penyimpangan individual,

b). penyimpangan kolektif,

c). penyimpangan primer,

d). penyimpangan sekunder,

e). penyimpangan sosial positif, dan

f). penyimpangan sosial negatif.

5). Kejahatan ialah perbuatan atau tingkah laku yang dapat menimbulkan penderitaan baik bagi si pelaku kejahatan sendiri maupun bagi masyarakat pada umumnya.

6). Jenis kejahatan di masyarakat:

a). kejahatan tanpa korban,

b). kejahatan terorganisasi,

c). kejahatan kerah putih,

d). kejahatan korporat,

e). governmental crime, dan

f). cybercrime.

7). Banyak ahli ilmu sosial yang mengajukan teori untuk menjelaskan penyimpangan sosial. Beberapa teori tentang penyimpangan sosial itu ialah teori biologis, teori pemberian cap, teori sosialisasi, teori transmisi budaya, teori anomi, teori konflik budaya, dan teori konflik kelas sosial.

Daftar Pustaka:

Pengaruh Sosialisasi Terhadap Pembentukan Kepribadian: Pengertian Jenis Media Cara Tahap

Pengertian Sosialisasi. Sosialisasi adalah proses mewariskan, menurunkan atau mentransfer nilai, norma, kebiasaan dan aturan dari satu generasi ke generasi berikutnya dalam sebuah kelompok atau masyarakat. Sosialisasi merujuk pada semua faktor dan proses yang membuat setiap manusia menjadi selaras dalam hidupnya di tengah-tengah masyarakat.

Pengertian Sosialisasi Menurut Para Ahli

Definisi sosialisasi menurut para ahli diantaranya adalah sebagai berikut.

a). Sosialisasi Menurut Koentjaraningrat

Proses sosialisasi adalah proses belajar yang dialami individu sejak masa kanak- kanak sampai masa tuanya. Individu belajar pola-pola tindakan dalam interaksi dengan segala macam individu sekeliling yang mengembangkan aneka peran sosial yang ada dalam kehidupan sehari-hari.

b). Sosialisasi Menurut Peter Berger

Proses sosialisasi adalah suatu proses di mana seorang anak belajar menjadi seseorang anggota yang berprestasi dalam masyarakat.

c). Sosialisasi Menurut Charlotte Buhler

Proses sosialisasi adalah proses yang membantu individu-individu belajar dan menyesuaikan diri, bagaimana cara hidup dan berfikir kelompoknya agar dia dapat berfungsi dalam kelompok.

d). Sosialisasi Menurut Bruce J. Cohen

Sosialisasi adalah proses-proses manusia mempelajari tata cara kehidupan dalam masyarakat untuk memperoleh kepribadian dan membangun kapasitasnya agar berfungsi dengan baik sebagai individu maupun sebagai anggota suatu kelompok.

e). Sosialisasi Menurut Sukandar Wiraatmaja

Sosialisasi adalah proses belajar mulai bayi untuk mengenal dan memperoleh sikap, pengertian, gagasan dan pola tingkah laku yang disetujui oleh masyarakat.

f). Sosialisasi Menurut Jack Levin dan James L. Spates

Sosialisasi adalah proses pewarisan dan pelembagaan kebudayaan ke dalam kepribadian individu.

Jenis Jenis  Sosialisasi

Di dalam masyarakat sosialisasi dapat dibedakan menjadi empat, yaitu:

a). Sosialisasi Primer

Sosialisasi primer adalah sosialisasi pertama yang dijalani individu semasa kecil, di mana ia menjadi anggota masyarakat. Umumnya sosialisasi primer pada usia 1 – 5 tahun, secara bertahap mulai mampu membedakan dirinya dengan orang lain di sekitar keluarganya.

b). Sosialisasi Sekunder

Sosialisasi sekunder adalah proses berikutnya yang memperkenalkan individu yang telah disosialisasikan ke dalam sektor baru dari dunia objektif masyarakatnya.

c). Sosialisasi Represif

Sosialisai represi adalah Sosialisasi yang menekankan pada pengawasan yang ketat dan pemberian hukuman kepada setiap orang yang melanggar peraturan atau norma yang berlaku. Misalnya di lingkungan pendidikan militer seperti kepolisian.

d). Sosialisasi Partisipasi

Sosialisasi pertisipasi adalah sosialisasi yang menekankan pada keikutsertaan seseorang dalam proses sosial. Anak-anak yang sudah menaati nilai dan norma diberi pujian, sedangkan yang belum mereka terus dibimbing, diarahkan dan diluruskan jika terjadi penyimpangan.

Jenis-jenis Media Sosialisasi dan Peranannya

a). Keluarga

Keluarga sebagai media sosialisasi yang merupakan kelompok sosial terkecil dalam masyarakat.

Keluarga mempunyai fungsi dan pengawasan sosial. Keluarga memberi pengertian kepada anak tentang peranannya, baik dalam keluarga maupun di luar keluarga atau dalam masyarakat. Karena

b). Teman Sebaya Sepermainan

Teman sebaya terdiri atas beberapa orang anak yang usianya hampir sama.  Interaksi di antara teman sepermainan bertujuan untuk memperoleh kesenangan (rekreatif).

Dalam kelompok teman sebaya seorang anak mulai menerapkan prinsip hidup bersama di luar lingkungan keluarganya.

c). Sekolah

Sekolah memperkenalkan aturan-aturan baru yang diperlukan bagi anggota masyarakat dan aturanaturan tersebut sering berbeda dan bahkan bertentangan dengan aturanaturan yang dipelajari selama sosialisasi berlangsung ketika anak di rumah.

Sekolah menjadi media transmisi kebudayaan. Kebudayaan yang diteruskan dapat berupa ilmu pengetahuan,

Di lingkungan sekolah para siswa dapat lebih berkembang ilmu pengetahuan dan keterampilannya melalui mata pelajaran berbagai bidang studi yang diajarkan oleh bapak/ ibu guru.

d). Lingkungan Kerja

Lingkungan kerja juga mempunyai pengaruh yang besar dalam pembentukan kepribadian seseorang. Di lingkungan kerja seseorang akan berinteraksi dengan teman sekerja, dengan pimpinan, dan dengan relasi bisnis.

e). Media Massa

Media massa merupakan sarana yang dapat dimanfaatkan oleh banyak orang (massa).

Media massa sebagai bentuk komunikasi masyarakat secara luas terdiri dari media cetak dan elektronik memberikan pengaruh yang cukup penting bagi masyarakat.

Tujuan Sosialisasi

a). Aktivitas sosialisasi dapat membantu individu – individu untuk mengenal, berinteraksi, atau beradaptasi dengan lingkungan dan masyarakat sekitar.

b). Proses sosialisasi ini akan memberikan pengetahuan yang berhubungan dengan nilai dan norma yang harus dipelajari, diinternalisasi, dan dilakukan oleh individu.

c). Melalui proses sosialisasi akan terjaga hubungan social yang ditunjukan dengan adanya integrasi  dalam masyarakat. Selain itu, melalui sosialisasi akan terhindar dari gangguan perilaku menyimpang. Sosialisasi dapat berperan sebagai pengendali social.

Cara-Cara Sosialisasi

Proses sosialisasi individu di masyarakat dapat ditempuh dengan berbagai cara yaitu:

a). Pelaziman (Conditioning)

Sebagian besar prilaku anak diperoleh dengan cara pelaziman. Anak mempertahankan suatu prilaku apabila dengan prilaku itu anak mendapatkan imbalan. Sebaliknya prilaku anak akan berhenti apabila prilaku itu mendapat hukuman. Dalam pelaziman hampir sebagian besar perilaku diperoleh anak secara positif. Dalam hal pelaziman ini peranan orang tua sangat besar.

b). Imitasi

Pada proses imitasi ini terjadi proses yang agak majemuk, anak akan melihat model yang akan ditiru perbuatannya.

c). Identifikasi

Identifikasi adalah proses peniruan secara mendalam. Anak tidak hanya meniru aspek luarnya saja tetapi ia ingin menjadikan dirinya identik (sama) dengan tokoh idealnya. Dalam perkembangan proses diri, identifikasi memegang peranan penting sebab melakukan identifikasi seseorang “mengkategorikan” dirinya dalam kategori tertentu.

d). Internalisasi

Pada internalisasi anak, anak mengikuti aturan bukan karena takut dihukum atau akan mendapatkan hadiah, bukan pula karena meniru tokoh idealnya. Ia mengikuti aturan karena merasa pasti bahwa norma itu telah menjadi bagian dari dirinya, ia menyadari bahwa perilaku tersebut diharapkan oleh masyarakat.

Faktor-Faktor yang Memengaruhi Proses Sosialisasi

Faktor- faktor yang memengaruhi proses sosialisasi dapat dibedakan menjadi dua, yaitu:

a). Faktor Internal

Faktor internal adalah faktor-faktor yang berasal dari dalam diri seseorang. Faktor intrinsik ini menyangkut motivasi, minat serta kemampuan yang dimiliki seseorang dalam rangka menyesuaikan diri dengan tata pergaulan yang ada dalam masyarakat.

b). Faktor Eksternal

Faktor eksternal adalah faktor yang berasal dari luar individu yang melakukan proses sosialisasi dalam masyarakat. Faktor ekstrinsik dapat berupa norma, nilai, struktur sosial, ekonomi, struktur budaya, dan lain-lain.

Pengertian Kepribadian

Kepribadian adalah keseluruhan perilaku dari seorang individu dengan sistem kecenderungan tertentu yang berinteraksi dengan serangkaian sistem. Istilah “sistem kecenderungan” menunjukkan bahwa setiap orang mempunyai cara berprilaku yang khas (mungkin berbeda dengan orang lain) dan bertindak sama setiap hari.

pembentukan-kepribadian-fungsi-sosialisasi-dalam-pembentukan-kepribadian-tujuan-sosialisasi-dalam-pembentukan-kepribadian
fungsi-sosialisasi-dalam-pembentukan-kepribadian-tujuan-sosialisasi-dalam-pembentukan-kepribadian

Pengertian Kepribadian Menurut Para Ahli

Beberapa pengertian kepribadian menurut para ahli adalah

a). Kepribadian Menurut Koentjaraningrat

Kepribadian adalah susunan unsur-unsur akal dan jiwa yang menentukan perbedaan tingkah laku tiap manusia, atau kepribadian adalah ciri-ciri watak seseorang yang konsisten sebagai identitas dirinya yang khusus.

b). Kepribadian Menurut Allport

Kepribadian adalah organisasi dinamis dari sistem psikofisis dalam diri individu yang menentukan keunikan penyesuaian diri terhadap lingkungan.

c). Kepribadian Menurut Yinger

Kepribadian keseluruhan perilaku seseorang dengan system kecenderungan tertentu yang berinteraksi dengan serangkaian situasi atau perpaduan yang utuh dari sikap, sifat, pola pikir, emosi, dan nilai-nilai yang memengaruhi seseorang agar berbuat sesuai dengan norma yang diharapkan.

d). Kepribadian Menurut M.A.W. Brower

Kepribadian adalah corak tingkah laku sosial yang meliputi corak kekuatan, dorongan, keinginan, opini dan sikap-sikap seseorang.

e). Kepribadian Menurut Theodore R. Newcombe

 Kepribadian adalah organisasi sikap-sikap (predispositions) yang dimiliki seseorang sebagai latar belakang terhadap perilaku.

f). Kepribadian Menurut Cuber

Kepribadian adalah gabungan keseluruhan dari sifat-sifat yang tampak dan dapat dilihat oleh seseorang.

Fungsi Sosialisasi Dalam Pembentukan Kepribadian

a). Secara individu sosialisasi merupakan sarana yang dapat digunakan untuk pengenalan, pengakuan, dan penyesuaian diri terhadap nilai – nalai, norma – norma, dan strukut social. Sedangkan secara umum masyarakat menilai bahwa sosialisasi merupakan sarana yang dapat digunakan untuk pelestarian, penyebarluasan, dan pewarisan nilai serta norma – norma social.

b). Dengan demikian, pembentukan kepribadian seseorang akan dipengaruhi oleh interaksi dari aktivitas social individu dengan masyarakat sejak lahir sampai tua. Dengan melakukan sosialisasi akan diperoleh proses pewarisan nilai dan norma kepada generasi berikutnya.

Unsur Unsur Kepribadian

Adapun unsur-unsur pembentuk kepribadian terdiri dari:

a). Pengetahuan

Pengetahuan mengisi akal pikiran manusia secara sadar. Pengetahuan individu terisi dengan fantasi, pemahaman, dan konsep lahir dari pengamatan dan pengalaman mengenai berbagai macam hal yang berbeda dengan lingkungan individu tersebut.

Setiap manusia berusaha untuk mengisi pemikirannya dengan berbagai macam pengetahuan yang ada di lingkungannya. Semua hal yang telah dipelajari sebagai pengetahuan direkam dalam otak dan dicerna atau direspon melalui bentuk-bentuk perilaku tertentu.

b). Perasaan

Perasaan adalah suatu keadaan dalam kesadaran manusia yang menghasilkan penilaian positif atau negative terhadap sesuatu yang dipengaruhi oleh pengetahuan.

Merupakan bentuk penilaian seseorang terhadap sesuatu hal yang berupa perasaan positif ataupun negatif sehingga penilaian ini akan memberikan respon yang positif maupun negatif. Setiap perilaku yang didasarkan pada perasaan mempunyai penilaian yang subjektif karena setiap manusia mempunyai penilaian terhadap seseorang itu berbeda-beda.

c). Dorongan Naluri

Dorongan naluri adalah merupakan kemampuan yakni kecenderungan pada setiap manusia untuk menanggapi suatu rangsangan dengan pola yang teratur.

Dorongan naluri merupakan keinginan yang ada pada diri seseorang bersumber dari panca indra sebagai aksi yang kemudian dicerna dan diwujudkan dalam bentuk reaksi. Setiap dorongan naluri sebagai perwujudan dari keinginan manusia untuk menanggapi rangsangan tersebut.

Tahapan Sosialisasi Untuk Pembentukan Kepribadian

Tahapan – tahapan sosialisasi yang dilalui seseorang dalam membentuk kepribadiannya semasa hidupnya adalah: preparatory stage, play stage, game stage, generalized other.

Tahapan Sosialisasi Preparatory Stage

Preparatory stage atau tahap persiapan adalah tahap awal yang dimulai sejak manusia dilahirkan di muka bumi. Tahap ini merupakan tahap dimana seorang anak mempersiapkan diri untuk mengenal dunia sosialnya,

Tahapan Sosialisasi Play Stage

Play Stage atau tahap meniru adalah tahap anak – anak mulai belajar meniru dan memainkan peran orang – orang yang berada di sekelilingnya. Pada tahap ini seorang anak semakin sempurna dalam menirukan peran-peran yang dilakukan oleh orang dewasa.

Tahapan Sosialisasi Game Stage

Game Stage atau tahap siap bertindak adalah tahap anak – anak yang telah mengetahui, memahami, dan menjalankan peranannya ketika berinteraksi dengan peran orang lain. Kemampuannya menempatkan diri pada posisi orang lain pun meningkat sehingga memungkinkan adanya kemampuan bermain secara bersama-sama.

Tahapan Sosialisasi Generalized Other

Generalized other atau tahap menerima norma kolektif adalah tahap manusia telah menjadi warga masyarakat yang sesungguhnya dalam menjalankan status dan perannya ketika berada dan berinteraksi dengan masyarakat. Pada tahap ini seseorang telah dianggap dewasa dan sudah dapat menempatkan dirinya pada posisi masyarakat secara luas.

Faktor-Faktor yang Memengaruhi Pembentukan Kepribadian

Faktor yang memengaruhi perkembangan kepribadian manusia sebagai hasil sosialisasi antara lain adalah

a). Sifat dasar,

Sifat dasar merupakan keseluruhan potensi yang diwarisi seseorang dari ayah dan ibunya. Sifat dasar ini berupa karakter, watak serta sifat emosional. Sifat dasar dalam diri seseorang terbentuk melalui proses pembuahan.

b). Lingkungan Prenatal,

Lingkungan prenatal, merupakan lingkungan dalam kandungan ibu. Seseorang mendapat pengaruh- pengaruh baik langsung maupun tidak langsung dari sang ibu.

c). Perbedaan Perorangan,

Perbedaan perorangan dimiliki setiap manusia, artinya satu orang dengan orang lainnya tidak ada yang sama, misalnya: ciri-ciri fisik (bentuk badan, warna kulit, warna mata, bentuk rambut, dan lainlain), ciri-ciri mental, emosional personal dan sosial.

d). Lingkungan

Lingkungan yang dimaksud yaitu kondisi di sekitar individu baik lingkungan alam, kebudayaan, dan masyarakat yang dapat memengaruhi proses sosialisasi. Kondisi lingkungan tidak menentukan dalam proses sosialisasi, namun dapat memengaruhi dan membatasi proses sosialisasi.

e). Motivasi.

Motivasi merupakan kekuatan-kekuatan dalam diri individu yang menggerakkan individu untuk berbuat sesuatu. Motivasi dapat dibedakan menjadi dua macam yaitu dorongan dan kebutuhan.

Dorongan adalah keadaan yang tidak seimbang bagi individu karena pengaruh baik dari dalam maupun dari luar, sehingga memengaruhi individu untuk bergerak mencapai keseimbangan kembali. Sedangkan kebutuhan adalah dorongan yang telah terpola baik secara personal, sosial, maupun kebudayaan.

Contoh Soal Ujian Dan Pembahasan.

Ketika seorang anak menginjak usia remaja, ia akan mencari sosok figure yang dijadikan patokan. Sosialisasi tersebut menunjukkan anak telah mampu mengambil peran orang lain dan menentukan sikap yang lebih luas, sehingga menjadi individu yang mandiri. Hal ini menempatkan sosialisasi anak berada pada tahapan….

(A).Play stage.   (B).Game stage.   (C).Significant stage.

(D).Preparatory stage.   (E).Generalizied other.

Jawaban: E

Pembahasan:

Generalized stage merupakan tahapan seorang anak yang telah mampu mengambil peran dalam masyarakat. Pada soal terdapat kata kunci telah mampu mengambil peran orang lain dan menentukan sikap yang lebih luas sehingga menjadi mandiri.

Contoh Soal Ujian Sosialisasi Pembentikan Kepribadian

Soal 1. Kepribadian seseorang dipengaruhi oleh adanya kelompok manusia lainnya. Hal itu disebabkan karena ….

a). manusia merupakan makhluk sosial

b). kebutuhan manusia sangatlah bervariasi

c). manusia terdiri atas jasmani dan rohani

d). manusia merupakan makhluk yang khas

e). manusia merupakan makhluk ciptaan Tuhan

Soal 2. Berikut ini yang tidak termasuk media sosialisasi adalah ….

a). teman sepermainan

b). keluarga

c). pasar

d). sekolah

e). media massa

Soal 3. Sosialisasi bertujuan untuk ….

a). membentuk sifat seseorang

b). membentuk ciri-ciri lahir

c). mengembangkan bakat

d). membentuk kepribadian

e). menanamkan nilai-nilai

Soal 4. Tujuan dari proses sosialisasi adalah …

a). lahir masyarakat yang tertib

b). adanya pergaulan antara anggota masyarakat.

c). adanya komunikasi di antara individu

d). individu akan mengetahui hak dan kewajiban

e). adanya proses penyesuaian diri

Rangkuman Ringkasan Sosialisasi Pembentukan Kepribadian

1). Proses sosialisasi adalah sebuah proses seumur hidup yang berkenaan dengan bagaimana individu mempelajari caracara hidup, norma dan nilai sosial yang terdapat dalam kelompoknya agar dapat berkembang menjadi pribadi yang bisa diterima masyarakat.

2). Tujuan sosialisasi sebagai berikut.

a). Memberikan keterampilan dan pengetahuan kepada individu.

b). Mengembangkan kemampuan seseorang untuk berkomunikasi secara efektif.

c). Membantu seseorang mengendalikan fungsi-fungsi organik melalui latihanlatihan mawas diri yang tepat.

d). Menanamkan kepada seseorang nilai-nilai dan kepercayaan pokok yang ada pada masyarakat.

3). Tahap tahap sosialisasi yang harus dilewati seseorang sebagai berikut.

a). Tahap persiapan (Prepatory Stage)

b). Tahap meniru (Play Stage)

c). Tahap siap bertindak (Game Stage)

d). Tahap penerimaan norma kolektif (Generalized Other)

4). Fungsi sosialisasi dalam lingkungan masyarakat ada dua, yaitu sebagai berikut.

a). Membedakan individu agar dapat mengenal, mengakui, dan menyesuaikan diri dengan nilai-nilai, normanorma, dan struktur sosial yang ada di dalamnya.

b). Sebagai alat pelestarian, penyebarluasan, dan pewarisan nilai-nilai norma-norma yang ada dalam masyarakat, supaya tetap ada dan terpelihara oleh anggota masyarakat.

5). Media sosialisasi atau agen sosialisasi, antara lain keluarga, teman sepermainan, sekolah, lingkungan kerja, dan media massa.

6). Kepribadian (personality) adalah ciri-ciri dan sifat khas yang mewakili sikap atau tabiat seseorang yang mencakup polapola  pemikiran dan perasaan, konsep diri, perangai, mentalitas yang umumnya sejalan dengan kebiasaan umum.

7). Unsur-unsur kepribadian terdiri atas pengetahuan, perasaan, dan dorongan naluri.

8). Faktor-faktor pembentukan kepribadian, terdiri atas:

a). faktor keturunan (heredity)/warisan biologis;

b). faktor lingkungan alam (natural environment);

c). faktor sosial (social heritage);

d). faktor kelompok manusia (group).

Daftar Pustaka:

Kata dalam artikel Fungsi Tujuan Sosialisasi Dalam Pembentukan Kepribadian. Membentuk Kepribadian Melalui Tahap Sosialisasi pengertian game stage. Pengertian generalized other dan pengertian play stage. Pengertian preparatory stage dan Tahapan Sosialisasi Pembentukan Kepribadian. Tujuan Sosialisasi Dalam Pembentukan Kepribadian.

Jenis Macam Lembaga Sosial, Pengertian Contoh Soal

Pengertian Lembaga Sosial. Lembaga sosial disebut juga sebagai pranata sosial atau institusi sosial. Lembaga sosial adalah seperangkat aturan tentang suatu kegiatan atau kebutuhan sosial tertentu. beragam kegiatan atau kebutuhan sosial menyebabkan timbulnya berbagai pranata di banyak bidang kehidupan.

Lembaga sosial merupakan suatu sistem nilai dan system norma yang secara khusus menata serangkaian pola perilaku untuk memenuhi kebutuhan manusia dalam kehidupan bersama.

Lembaga sosial mencakup cara- cara pemenuhan kebutuhan manusia dalam masyarakat yang diatur sedemikian rupa sesuai dengan orientasi nilai budaya, sehingga berlangsung secara tertib dan teratur.

Pengertian Lembaga Sosial Menurut Para Ahli

Beberapa definisi lembaga sosial menurut para ahli diantaranya adalah sebagai berikut

a). Lembaga Sosial Menurut Koentjaraningrat

Lembaga sosial adalah suatu sistem tata kelakuan dan hubungan yang berpusat kepada aktivitas untuk memenuhi kompleksitas kebutuhan khusus dalam kehidupan manusia.

b). Lembaga Sosial Menurut Soerjono Soekanto

Lembaga sosial adalah himpunan norma dari segala tingkatan yang berkisar pada suatu kebutuhan pokok dalam kehidupan masyarakat.

c). Selo Soemardjan dan Soelaeman Soemardi

Lembaga sosial adalah kumpulan dari berbagai cara berperilaku yang diakui oleh anggota masyarakat sebagai sarana untuk mengatur hubungan-hubungan sosial.

d). Lembaga Sosial Menurut W.G. Sumner

Lembaga sosial adalah perbuatan, cita- cita, sikap, dan perlengkapan kebudayaan yang mempunyai sikap kekal serta bertujuan untuk memenuhi kebutuhan- kebutuhan masyarakat.

Jenis Lembaga Sosial 

Agar dapat mengetahui dan memahami berbagai macam tipe dari lembaga sosial, maka dapat dipelajari Batasan batasan yang mengacu pada teori J.L.Gillin dan J.P.Gillin yang mengelompokkannya ke dalam beberapa tipe seperti yang akan dijelaskan berikut.

Tipe- tipe lembaga sosial, dapat diklasifikasikan menjadi beberapa jenis berdasarkan pada macam sudut pandang. Klasifikasi tipe- tipe lembaga sosial menyebabkan dalam setiap masyarakat akan dapat dijumpai bermacam- macam Lembaga sosial.

Hal ini dikarenakan setiap kelompok masyarakat memiliki sistem nilai yang menentukan lembaga sosial manakah yang dapat dipakai atau berlaku sebagai patokan dalam pergaulan kehidupan bermasyarakat. Dalam hal ini lembaga sosial dianggap berada di atas lembaga-lembaga sosial lainnya.

Jenis Lembaga Berdasarkan Fungsinya

Lembaga sosial mempunyai fungsi peran nyata dalam kehidupan bermasyarakat. Fungsi peran Lembaga sosial yang dapat diterapkan sebagai berikut:

  1. Operatif Institutions adalah lembaga sosial yang memiliki fungsi peran dalam menghimpun pola- pola atau tata cara yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan telah ditetapkan masyarakat yang bersangkutan. Misalnya lembaga industry, perusahaan, perseroan, klub olah raga, dan lain – lain.
  2. Regulative Institusions adalah lembaga sosial yang mempunyai tujuan untuk monitoring tata kelakuan yang berada dalam masyarakat. Contohnya, lembaga hukum seperti kejaksaan, pengadilan, perundangan – undangan, dan lain-lain. Jumlah lembaga yang ada dalam masyarakat sangat dipengaruhi oleh keadaan dari masyarakat itu sendiri.

Makin besar dan kompleks suatu masyarakat, maka semakin berkembang atau bertambah pula jumlah lembaga yang terdapat di dalamnya.

Jenis Lembaga Sosial Menurut Fungsi Regulatif

Adapun pembagian Lembaga sosial berdasarkan fungsi regulative adalah sebagai berikut.

  1. Lembaga yang memiliki peran dalam memenuhi keperluan kekerabatan (atau domestic institutions). Contohnya adalah perkawinan, tolong menolong, pengasuhan anak -anak, sopan- santun antar kerabat.
  2. Lembaga yang memiliki fungsi dalam memenuhi keperluan dalam mata pencarian hidup (atau economic institutions). Contohnya pertanian, perdagangan, perbankan.
  3. Lembaga yang memiliki fungsi dalam memenuhi keperluan penerangan dan Pendidikan manusia (atau educational institutions).
  4. Lembaga yang memiliki fungsi dalam memenuhi keperluan ilmiah manusia (atau scientific institutions), Contohnya adalah penelitian, pendidikan ilmiah, dan sebagainya.
  5. Lembaga yang mempunyai fungsi dalam memenuhi keperluan manusia untuk menyatakan rasa keindahannya (atau aesthetic and recreational institutions). Contohnya seperti seni rupa, seni suara, olah raga.
  6. Lembaga yang mempunyai peran dalam memenuhi keperluan manusia untuk hubungan dan berbakti kepada Tuhan (atau religious institutions).
  7. Lembaga yang memiliki peran dalam memenuhi keperluan mengatur dan memelihara wewenag dan kekuasaan (atau political institutions).
  8. Lembaga yang memiliki fungsi dalam memenuhi keperluan fisik dan kenyamanan hidup manusia (atau somestic institutions). Misalnya pemeliharaan kecantikan, kesehatan.

Lembaga Sosial Berdasarkan Sistem Nilai dan Norma

  1. Basic Institutions merupakan lembaga sosial yang berperan dalam memelihara dan mempertahankan tata tertib kehidupan Contoh dari Lembaga sosial ini adalah, keluarga. sekolah, kepolisian, peradilan, pemerintahan, dan lain sebagainya.
  2. Subsidiary Institutions merupakan lembaga sosial yang berhubungan dengan masalah- masalah sekunder (atau kurang penting atau bukan utama). Contoh dari Lembaga sosial ini adalah, kesenian, rekreasi, klub olah raga, paguyuban, patembayan dan lain sebagiya.

Lembaga Sosial Berdasarkan pada Penerimaan Masyarakat

  1. Aproved Institutions atau biasa disebut juga sanctioned institutions, merupakan lembaga sosial yang diterima keberadaannya oleh masyarakat. Lembaga sosial ini bahkan sangat diperlukan dalam menunjang kehidupan masyarakat. Contoh Lembaga sosial ini adalah, lembaga pendidikan seperti sekolah, lembaga agama, dan lain sebagainya.
  2. Unsactioned Institutions merupakan lembaga sosial yang ditolak keberadaannya oleh masyarakat. Lembaga sosial ini terkadang sulit untuk ditiadakan ataupun diberantas. Contoh Lembaga sosial ini Misalnya, kelompok preman, penodong, komplotan mafia peradilan, kelompok penjahat, geng- geng yang suka membuat keonaran,dan lain sebagainya.

Lembaga Sosial Berdasarkan Penyebaran

  1. General Institutions, merupakan lembaga sosial yang bersifat universal. Lembaga sosial ini dikenal secara luas oleh masyarakat, baik dalam skala nasional maupun internasional. Contoh dari Lembaga sosial ini adalah, lembaga agama, badan olah raga, dan lain sebagainya.
  2. Restricted Institutions, merupakan lembaga sosial yang hanya dikenal oleh sekelompok masyarakat tertentu saja. Lembaga sosial yang secara khusus dibentuk oleh kelompok masyarakat dengan tujuan tertentu. Contoh dari Lembaga sosial ini adalah, sekte dan sistem kepercayaan tertentu, perkumpulan kesenian daerah, aliranaliran kepercayaan, dan lain sebagainya.

Lembaga Sosial Berdasarkan Perkembangan

  1. Cresive Institutions, merupakan lembaga sosial yang keberadaannya tidak disengaja tumbuh dari adat- istiadat masyarakat. Lembaga sosial ini merupakan lembaga yang paling primer. Contoh Lembaga sosial ini adalah, Lembaga perkawinan dan kepemilikan atau hak milik dan lain sebagainya.
  2. Enacted Institutions, merupakan lembaga sosial yang dibentuk dengan sengaja dalam rangka mencapai tujuan tertentu dalam masyarakat. Contoh dari Lembaga sosial ini adalah, lembaga peradilan, lembaga perbankan, lembaga pendidikan, lembaga kemiliteran, dan lain sebagainya.

Contoh Soal Ujian Lembaga Sosial Masyarakat

Soal 1. Suatu sistem norma untuk mencapai suatu tujuan atau kegiatan yang oleh masyarakat dianggap penting merupakan hakikat dari ….

a). lembaga sosial

b). kelompok sosial

c). organisasi sosial

d). perubahan sosial

e). mobilitas sosial

Soal 2. Lembaga sosial yang sangat penting untuk memelihara dan mempertahankan tata tertib masyarakat menurut tipenya digolongkan dalam ….

a). basic institutions

b). crescive institutions

c). regulative institutions

d). subsidiary institutions

e). approved institutions

Soal 3. Pranata ekonomi dikatakan dapat berfungsi dengan baik, apabila mampu mewujudkan

a). kesejahteraan

b). kebahagiaan

c). kepedulian

d). kebebasan

e). kesengsaraan

 

Daftar Pustaka:

  1. Bouman, PJ., 1980, “Ilmu Masyarakat Umum”, Penerbit PT Pembangunan, Jakarta.
  2. Bouman, P.J., 1982, “Sosiologi Fundamental”, Terjemahan Ratmoko, Penerbit Djambatan,
  3. Kamanto, Sunarto., 1990, “Pengantar Sosiologi”, Penerbit LPFE Universitas Indonesia, Jakarta.
  4. Horton, Paul B. dan Hunt, Chester L., 1999, “Sosiologi”, Jilid 1, Edisi Keenam, Penerbit Erlangga, Jakarta.
  5. Horton, Paul B. dan Hunt, Chester L., 1999,” Sosiologi”, Jilid 2., Edisi Keenam, Penerbit Erlangga, Jakarta.
  6. Johnson, Doyle Paul., 1994, “Teori Sosiologi: Klasik dan Modern “, Penerbit Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.
  7. Ardra.Biz, 2019, “Tipe Lembaga Sosial, Contoh Lembaga Sosial, Lembaga sistem nilai dan system norma, Tipe Lembaga Berdasarkan Fungsinya, Operatif Institutions, Contoh Operatif Institutions, Regulative Institusions, Contoh Lembaga sosial Regulative Institusions,
  8. Ardra.Biz, 2019, 2019, “domestic institutions, Contoh domestic institutions, economic institutions, Contoh Lembaga economic institutions, educational institutions, Contoh Lembaga educational institutions, scientific institutions, contoh lembaga scientific institutions,
  9. Ardra.Biz, 2019, “aesthetic and recreational institutions, contoh aesthetic and recreational institutions, religious institutions, contoh religious institutions, political institutions, contoh political institutions, somestic institutions, contoh somestic institutions,
  10. Ardra,Biz, 2019, “Lembaga Sosial Berdasarkan Sistem Nilai dan Norma, Contoh Lembaga Sosial Berdasarkan Sistem Nilai dan Norma, Basic Institutions, contoh Lembaga Basic Institutions, Subsidiary Institutions, contoh Subsidiary Institutions, Lembaga Sosial Berdasarkan pada Penerimaan Masyarakat,
  11. Ardra,Biz, 2019, “Contoh Lembaga Sosial Berdasarkan pada Penerimaan Masyarakat, Aproved Institutions, contoh  Aproved Institutions, Unsactioned Institutions, contoh Unsactioned Institutions, Lembaga Sosial Berdasarkan Penyebaran, contoh Lembaga Sosial Berdasarkan Penyebaran,
  12. Ardra.Biz, 2019, “General Institutions, Contoh General Institutions, Restricted Institutions, Contoh Restricted Institutions, Lembaga Sosial Berdasarkan Perkembangan, Contoh Lembaga Sosial Berdasarkan Perkembangan, Cresive Institutions, Contoh Cresive Institutions, Enacted Institutions, Contoh Enacted Institutions, Contoh soal ujian Lembaga sosial,

Tujuan dan Ciri Lembaga Sosial

Pengertian Lembaga Sosial. Lembaga sosial disebut juga sebagai pranata sosial atau institusi sosial. Lembaga sosial adalah seperangkat aturan tentang suatu kegiatan atau kebutuhan sosial tertentu. beragam kegiatan atau kebutuhan sosial menyebabkan timbulnya berbagai pranata di banyak bidang kehidupan.

Beberapa Definisi lembaga sosial yang terdapat dalam ilmu sosiologi adalah sebagai berikut.

Lembaga sosial merupakan suatu sistem norma khusus yang menata serangkaian tindakan yang berpola untuk keperluan khusus manusia dalam kehidupan bermasyarakat.

Lembaga sosial adalah merupakan prosedur atau tata cara yang diciptakan untuk mengatur hubungan antar manusia yang bergabung dalam suatu kelompok masyarakat yang disebut asosiasi (oleh Robert Mac Iver dan C.H. Page).

Lembaga sosial merupakan suatu sistem yang mengatur hubungan sosial yang mengandung nilai- nilai dan prosedur tertentu dalam upaya memenuhi kebutuhan pokok masyarakat (oleh Harton).

Lembaga sosial merupkan suatu jaringan proses hubungan antar manusia dan antar kelompok sosial yang berperan sebagai pemelihara hubungan serta polanya sesuai dengan minat dan kepentingan manusia dalam kelompoknya (oleh Liopold Von Wilse dan Becher).

Ciri ciri Lembaga Sosial

Lembaga social secara khusus memiliki ciri ciri tersendiri dalam kehidupan masyarakat. Adapun Ciri ciri khusus yang melekat pada Lembaga sosial adalah sebagai berikut.

  1. Lembaga sosial merupakan suatu organisasi yang di dalamnya terdapat pola pemikiran dan pola perilaku yang terwujud dalam aktivitas hidup masyarakat yang berupa adat istiadat, tertib perilaku, kebiasaan, serta unsur-unsur kebudayaan yang secara langsung atau tidak langsung tergabung dalam suatu unit yang bersifat fungsional.
  2. Lembaga sosial merupakan organisasi yang bersifat tetap. Sifat tetap yang ada pada lembaga sosial lebih disebabkan oleh adanya kebutuhan-kebutuhan setiap orang dalam lembaga sosial yang bersangkutan juga bersifat relatif tetap.
  3. Terdapat kebiasaan-kebiasaan atau tradisi, baik yang tertulis maupun tidak tertulis, yang merupakan landasan bagi suatu lembaga sosial dalam upaya mencapai tujuan sekaligus menjalankan fungsinya.
  4. Keberadaan lembaga sosial berkaitan dengan kebutuhan utama manusia dalam kehidupan bermasyarakat. Adapun kebutuhan utama yang dimaksudkan dalam hal ini berkaitan dengan kebutuhan material, spiritual, sosial, ekonomi, dan lain sebagainya.
  5. Lembaga sosial mempunyai alat perlengkapan yang digunakan untuk mencapai tujuannya, misalnya pembangunan, mesin- mesin, dan peralatan lain. Penggunaan tiap- tiap alat tersebut berbeda antara masyarakat yang satu dengan lainnya.
  6. Tingkat kekekalan merupakan ciri semua pranata sosial. Sistem kepercayaan dan aneka macam tindakan menjadi bagian institusi setelah melalui waktu relatif lama. Lembaga sosial sebagai himpunan norma- norma yang terkait dengan kebutuhan pokok masyarakat.
  7. Lembaga sosial mempunyai berbagai tujuan tertentu. Tujuan – tujuan terebut tidak selalu sejalan dengan fungsi pranata itu sendiri.
  8. Lambang merupakan ciri khas dari pranata sosial. Lambang secara simbolis merepresentasikan misi, visi, tujuan dan fungsi pranata sosial.

Tujuan Lembaga Sosial

Lembaga sosial mempunyai beberapa tujuan agar dapat memenuhi kebutuhan kebutuhan pokok manusia. Adapun tujuan tujuan dari Lembaga social diantaranya adalah

  1. Memberikan pedoman atau landasan kepada anggota masyarakat tentang bertingkah laku atau bersikap dalam menghadapi masalah- masalah yang timbul dalam masyarakat, terutama yang menyangkut kebutuhan manusia.
  2. Menjaga atau mengamankan semua kebutuhan masyarakat.
  3. Memberikan pegangan atau patokan untuk masyarakat dalam mengadakan system pengendalian sosial terhadap tingkah laku anggota masyarakatnya.

Fungsi Lembaga Sosial.

Lembaga social memiliki beberpa fungsi dalam kehidupan masyarakat dalam melaksanakan kegiatannya, Adapun beberapa fungsi dari lembaga sosial antara lain adalah sebagai berikut:

  1. Lembaga sosial berperan dalam memberi arahan dan pedoman kepada warga masyarakat untuk dapat menyelaraskan diri dengan norma yang berlaku dalam masyarakat dalam mencapai atau memenuhi kebutuhan pokoknya.
  2. Memberikan pedoman kepada seluruh anggota masyarakat dalam berpikir, bersikap, dan berperilaku dalam menjalani kehidupan sehari-hari mereka,
  3. Lembaga sosial berfungsi sebagai stabilisator dan dinamisator dalam kehidupan bermasyarakat, dalam rangka untuk mengembangkan kualitas proses sosial.
  4. Memberikan patokan kepada seluruh anggota masyarakat dalam melaksanakan pengendalian sosial (Social control) dalam perilaku sehari-harinya
  5. Menjaga keutuhan dan keterpaduan sistem dalam kehidupan sosial pada masyarakat yang bersangkutan.

Contoh Soal Ujian Lembaga Sosial 1.

Di bawah ini yang dapat artikan sebagai pengertian lembaga sosial adalah ….

  1. lembaga sosial adalah cara bertindak yang mengikat dalam masyarakat
  2. lembaga sosial merupakan organisasi kemasyarakatan yang sistematis
  3. lembaga sosial adalah badan pendidikan yang bersifat formal
  4. lembaga sosial adalah norma-norma yang berlaku dalam masyarakat
  5. lembaga sosial merupakan perwujudan dari badan sosial

Contoh Soal Ujian Lembaga Sosial 2.

Lembaga sosial adalah sistem sosial yang tersusun secara rapi dan bersifat permanen, memuat perilaku tertentu yang kokoh dan terpadu dalam rangka memenuhi kebutuhan pokok manusia dalam kehidupannya. Pengertian lembaga sosial ini merupakan pendapat dari ….

  1. August Comte
  2. Bruce J. Cohen
  3. Soelaeman Soemardi
  4. P.B. Horton
  5. Soerjono Soekanto

Contoh Soal Ujian Lembaga Sosial 3.

Di bawah ini adalah contoh dari lembaga sosial, kecuali ….

  1. Lembaga Penelitian
  2. Pendidikan Agama
  3. Pendidikan Teknologi
  4. Pusat Studi Amerika
  5. Universitas Cenderawasih

Daftar Pustaka:

  1. Bouman, P.J. 1982, “Sosiologi Fundamental”, Terjemahan Ratmoko, Penerbit Djambatan,
  2. Kamanto, Sunarto., 1990, “ Pengantar Sosiologi”, Penerbit LPFE Universitas Indonesia, Jakarta.
  3. Horton, Paul B. dan Hunt, Chester L., 1999, “Sosiolog”,i Jilid 1, Edisi Keenam, Penerbit Erlangga, Jakarta.
  4. Horton, Paul B. dan Hunt, Chester L., 1999, ” Sosiologi”, Jilid 2., Edisi Keenam, Penerbit Erlangga, Jakarta.
  5. Johnson, Doyle Paul., 1994, “ Teori Sosiologi: Klasik dan Modern “, Penerbit Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.
  6. Biz, 2019, “Tujuan Lembaga Sosial, Ciri Lembaga Sosial, Fungsi Lembaga Sosial, Pengertian Lembaga Sosial, pranata sosial atau institusi social, Lembaga social dalam ilmu sosiologi, sistem norma khusus, sistem hubungan social, Ciri material Sosial,
  7. Biz, 2019, “Ciri Spiritual Sosial, ciri khas dari pranata sosial, misi visi pranata sosial, pedoman dan landasan sosial, Fungsi Fundamental Lembaga Masyarakat, Fungsi pemberi pedoman Lembaga social, Fungsi stabilisator dan dinamisator Lembaga social, Fungsi kontrol atau social control Lembaga social, Fungsi menjaga keutuhan persatuan masyarakat Lembaga social,