Kesetimbangan Derajat Ionisasai Asam Basa Lemah

Pengertian. Asam lemah akan mengalami ionisasi sebagian. Sehingga dalam pelarutan asam lemah terjadi kesetimbangan reaksi antara ion yang dihasilkan asam dengan molekul asam yang terlarut dalam air.

Pada reaksi kesetimbangan akan didapat suatu tetapan kesetimbangan ketika reaksi sudah dalam keadaan setimbang. Dengan kata lain, konsentrasi reaktan sudah berkurang ketika mengalami reaksi.

Pengertian Derajat Ionisasi,

Derajat ionisasi (α) adalah perbandingan antara jumlah molekul zat yang terionisasi dengan jumlah molekul zat mula -mula.

Banyaknya konsentrasi yang bereaksi atau menjadi ion tergantung pada derajat ionisasi (α), yang dirumuskan sebagai berikut.

α = (jumlah zat yang mengion)/(jumlah mula-mula zat yang dilarutkan)

Tetapan Setimbang Ionisasi Asam Lemah

Asam lemah yaitu senyawa asam yang dalam larutannya hanya sedikit terionisasi menjadi ion-ionnya. Reaksi ionisasi asam lemah merupakan reaksi kesetimbangan.

Jumlah zat yang mengion = α x jumlah mula-mula zat yang dilarutkan.  Secara umum persamaan reaksi ionisasi asam lemah dapat dituliskan sebagai berikut.

HnA(aq) = H+(aq) + A-n(aq)

[HA] mula- mula = M

derajat ionisasi HA = α  

HA yang terionisasi = α. M

HA sisa = M – M .α

Tetapan kesetimbangan ionisasi asam lemah diberi symbol Ka.

Tetapan kesetimbangan untuk reaksi ionisasi asam disebut tetapan ionisasi asam (Ka) sehingga tetapan kesetimbangan reaksi di atas dapat dinyatakan sebagai berikut.

Ka = [H+][A]/[HA] atau kalua ditulis dalam konsentrasi dari masing masing komponen reaksinya adalah:

Ka = (α M ×α M)/M (1 – α)

Keterangan  [H+] = [A] (ini karena koefisien sama), dan [HA] sisa = [HA] mula- mula (ini karena derajat ionisasi HA sangat kecil).

Ka = [H+]2/M

[H+]2 =  Ka . M

[H+] =  √(Ka . M)

HnA(aq) = H+(aq) + A-n(aq) atau kalau ditulis dalam konsentrasi masing masing komponen maka reaksinya adalah:

M = M. α + M. α

Dengan Keterangan

[H+] =  M.α dan

[HA] =M

Tulis kembali persamaan di atas

[H+] =  √(Ka . M) maka

M . α2 =  √(Ka . M)

M2 .a2 =  (Ka . M)

α2 =Ka/M atau

Dengan demikia derajat ionisasi larutan elektrolit asam lemah dapat dinyatakan dengan persamaan rumus berikut:

α = √(Ka/M)

Contoh Soal Rumus Hitungan Derajat Ionisasi Asam Lemah

Berapa konsentrasi ion H+ dalam larutan CH3COOH 0,01 M dalam air jika harga Ka = 1,75 x10–5…? Tentukan pula harga derajat ionisasi asam tersebut…!

Jawab:

CH3COOH(aq) –> H+(aq) + CH3COO(aq)

Konsentrasi [H+] adalah

[H+] =  √(Ka . M) maka

[H+] =  √(1,75×10-5 x 0,01) maka

[H+] =  √(1,75×10-7) maka

[H+] =  4,18×10-4

Derajat ionisasinya adalah

α =√(Ka/M)

α = √[(1,75×10-5)/0,01]

α = 0,0418

Kekuatan, Derajat Keasaman, pH Larutan Asam Lemah

Besarnya konsentrasi ion H+ sangat dipengaruhi oleh nilai derajat disosiasi ( a) dan tetapan kesetimbangan ionisasi (Ka). Keasaman atau pH laruatan elektrolit asam lemah dapat dinyatakan dengan persamaan berikut:

Konsentrasi ion H+ pada asam lemah dapat dinyatakan dengan digunakan persamaan rumus  berikut:

[H+] =  √Ka . M) atau

[H+] = M . α atau

[H+] = [HA] · α atau

[H+] = √(Ka x [HA])

Keasaman atau  pH asam lemah dapat dinyatakan dengan menggunakan persamaan rumus berikut:

pH=- log √(Ka x [HA])

pH = – log [H+]

Soal Derajat Keasaman pH Laruatan Asam Lemah

Tentukan pH 0,01 M asam format bila harga Ka asam format tersebut = 1,8x 10–4!

HCOOH(aq) = HCOO(aq) + H+(aq)

Jawab:

[H+] = √(Ka x M)

[H+] = √(1,8x 10-4x 0,01)

[H+] = √(1,8x 10-6)

[H+] = 1,34x 10-3

pH = -log 1,34x 10-3

Jadi, pH = 3 – log 1,34

pH= 3 – 0,127

pH= 2,873

Tetapan Ksetimbangan Ionisasi Basa Lemah

Basa lemah yaitu senyawa basa yang dalam larutannya hanya sedikit terionisasi menjadi ion-ionnya. Reaksi ionisasi basa lemah juga merupakan reaksi kesetimbangan.

Secara umum persamaan reaksi ionisasi basa lemah dapat dituliskan sebagai berikut.

LOH(aq) = L+(aq) + OH(aq)

[LOH] mula- mula = M

Derajat ionisasi LOH = α

LOH yang terionisasi = M.α

LOH sisa = M – M.α= M(1 – α)

Tetapan kesetimbangan Ionisasi Basa Lemah (Kb) dapat dinyatakan dengan menggunakan persamaan rumus berikut:

Kb = [L+] [OH]/[LOH]

Dengan keterangan

 [L+] = [OH] maka

[LOH]= M, maka

Kb = [OH]2/[M]

 [OH]2= Kb . M atau

[OH]= √(Kb . M)

Dengan menggunakan cara yang sama pda asam lemah, maka diperoleh derajat ionisasi basa lemah adalah:

α = √(Kb/M)

Contoh Soal Rumus Hitungan Derajat Ionisasi Basa Lemah

Tentukan harga konsentrasi ion OH yang terdapat dalam larutan dimetil amino (CH3)2NH 0,01 M jika harga Kb larutan tersebut = 5,1 x 10–4…! Tentukan pula harga derajat ionisasi dari larutan tersebut!

Jawab:

M (CH3)2NH = 0,01 M

Kb = 5,1 x 10–4

Konsentrasi OH dapat dihitung dengan persamaan berikut;

[OH]=√(Kb . M)

[OH]= √(5,1×10-4 . 0,01)

[OH]= √(5,1×10-6)

[OH]= 2,26 x 10-3

Derajat Ionisasi Basa Lemahnya dapat dihitung dengan persamaan berikut:

α= √(Kb/M)

α = √(Kb/M)

α = √(5,1×10-4/0,01)

α=√(5,1×10-2)

α = 0,226

Kekuatan, Derajat Kebasaan, pOH Larutan Basa Lemah

Konsentrasi ion OH pada basa lemah dapat dinyatakan dengan menggunakan perasamaan rumus berikut:

[OH]= √(Kb . M)

[OH]= α. M

[OH] = α . [LOH]

[OH]= √(Kb . [LOH])

Dengan keterangan:

Kb = tetapan ionisasi basa lemah

α = derajat ionisasi

M = konsentrasi basa

pOH = – log √(Kb x [LOH])

pOH = – log [OH]

Contoh Soal Derajat Keasaman, pOH Larutan Elektrolit Basa Lemah

Tentukan pH larutan amonia (NH3) 0,1 M dalam air bila derajat ionisasinya 0,014!

NH3(aq) + H2O(l) = NH+(aq) + OH(aq)

Jawab:

[OH] = α. M

[OH] = 0,014 x 0,1

[OH] = 0,0014

[OH] = 1,4 x 10–3

Derajat keasaman larutan basanya pOH adalah

pOH = –log 1,4 x 10–3

pOH = 3 – log 1,4

pOH = 2,85

Keasaman pH larutan adalah

pH = 14 – pOH

pH = 14 – 2,85

pH = 11,15

Daftar Pustaka:

  1. Sunarya, Yayan, 2014, “Kimia Dasar 1, Berdasarkan Prinsip Prinsip Kimia Terkini”, Cetakan Ketiga, Yrama Widya, Bandung.
  2. Sunarya, Yayan, 2013, “Kimia Dasar 2, Berdasarkan Prinsip Prinsip Kimia Terkini”, Cetakan Kedua, Yrama Widya, Bandung.
  3. Syukri, S., 1999, “Kimia Dasar 2”, Jillid 2, Penerbit ITB, Bandung
  4. Chang, Raymond, 2004, “Kimia Dasar, Konsep -konsep Inti”, Edisi Ketiga, Jilid Satu, Penerbit, Erlangga, Jakarta.
  5. Brady, James, E,1999, “Kimia Universitas Asas dan Struktur”, Edisi Kelima, Jilid Satu, Binarupa Aksara, Jakarta,
  6. Brady, James, E., 1999, “Kimia Universitas Asas dan Struktur”, Edisi Kelima, Jilid Dua, Binarupa Aksara, Jakarta.
  7. Ardra.Biz, 2019, “Derajat Ionisasai Asam Basa Lemah, Kesetimbangan Asam Basa Lemah, Pengertian Derajat Ionisasi, rumus derajat ionisasi, satuan lambang derajat ionisasi, Tetapan Kesetimbangan Ionisasi Asam Lemah, Pengertian asam lemah,
  8. Ardra.Biz, 2019, “Pengertian asam kuat, Contoh Asam Kuat Lemah, satuan konsentrasi asam lemah, symbol lambang tetapan kesetimbangan ionisasi asam lemah, rumus kesetimbangan ionisasi asam lemah, Tetapan ionisasi asam, Rumus tetapan ioniasi asam,
  9. Ardra.Biz, 2019, “Contoh Soal Rumus Hitungan Derajat Ionisasi Asam Lemah,  Kekuatan asam lemah, Derajat Keasaman asam lemah, pH Larutan Asam Lemah, rumus derajat keasaman larutan asam lemah,
  10. Ardra.Biz, 2019, “rumus pH larutan asam lemah,  Contoh Soal Derajat Keasaman pH Laruatan Asam Lemah, Tetapan Kesetimbangan Ionisasi Basa Lemah, Pengertian dan Contoh Basa Lemah, persamaan reaksi ionisasi basa lemah,
  11. Ardra.Biz, 2019, “persamaan reaksi ionisasi asam lemah, Rumus Tetapan kesetimbangan Ionisasi Basa Lemah, Contoh Soal Rumus Hitungan Derajat Ionisasi Basa Lemah, cara menuntukan pH larutan,
  12. Ardra.Biz, 2019, “cara menentukan keasaman larutan, cara menentukan derajat keasaman, cara menentukan derajat ionisasi basa lemah, Rumus Derajat Ionisasi Basa Lemah, Kekuatan basa lemah, Derajat Kebasaan basa lemah, pOH Larutan Basa Lemah,
  13. Ardra.Biz, 2019, “Rumus keasaman pOH Larutan Basa Lemah, rumus tetapan ionisasi basa lemah,  Contoh Soal Derajat Keasaman, Contoh Soal pOH Larutan Elektrolit Basa Lemah,

Elektrolisis Elektrokimia

Pengertian Elektrokimia. Elektrokimia mempelajari reaksi- reaksi yang disertai dengan perpindahan elektron atau reaksi redoks. Pada proses elektrokimia, energi kimia dapat diubah menjadi energi listrik atau sebaliknya.

Reaksi reduksi oksidasi tertentu dapat menghasilkan arus listrik. Adapun pada kondisi sebaliknya, arus listrik dialirkan ke dalam larutan atau cairan zat akan terjadi perpindahan elektron yang menghasilkan reaksi kimia.

Sel elektrokimia merupakan suatu sistem yang terdiri atas dua elektrode, yaitu katode dan anode, serta larutan elektrolit sebagai penghantar elektron. Pada katode terjadi reaksi reduksi dan pada anode terjadi reaksi oksidasi.

Jenis Sel Elektrokimia

Ada dua macam sel elektrokimia, yaitu sebagai berikut.

  1. Sel Volta (Sel Galvani)

Penemu sel ini adalah ahli kimia Italia yang bernama Alessandro Volta dan Luigi Galvani. Pada sel volta atau galvani, energi kimia diubah menjadi energi listrik. Reaksi dalam sel volta yatu reaksi reduksi dan oksidasinya akan  menghasilkan arus listrik. Pada sel volta reaksi redoks terjadi secara spontan.

Contoh Sel Volta pada kehidupan sekarang adalah batu baterai dan aki. Batu baterai dan aki merupakan rangkaian tertutup dan di dalamnya dapat terjadi reaksi redoks yang spontan sehingga terjadi perpindahan atau aliran elektron (arus listrik).

Cara Kerja Sel Volta/ Galvani Sistem Zn-Cu

Diagram rangkaian lengkap dari sebuah sel Volta atau Sel Galvani ditunjukkan pada gambar berikut:

Reaksi Katodik Anodik Elektrokimia Sel Galvani Sistem Zn Cu
Reaksi Katodik Anodik Elektrokimia Sel Galvani Sistem Zn Cu

Pada sel Volta digunakan dua elektoda yaitu anoda dan katoda. Anode adalah Elektroda negative terbuat dari batang zink (atau seng) yang dicelupkan dalam larutan ZnSO4. Sedangkan katoda adalah elektrode positif yang terbuat dari batang cuprum (atau tembaga) yang dicelupkan dalam larutan CuSO4. Kedua larutan dihubungkan dengan menggunakan jembatan garam atau dapat juga dipisahkan oleh dinding berpori.

Logam seng dan tembaga yang menjadi kutub- kutub pada rangkaian sel elektrokimia disebut elektrode. Elektrode tempat terjadinya oksidasi disebut anode, sedangkan elektrode tempat terjadinya reduksi disebut katode.

Oksidasi berarti pelepasan elektron, maka anode adalah kutub negatif, sedangkan katode merupakan kutub positif. Dalam sel  volta tersebut, anodenya adalah logam seng dan katodenya adalah logam tembaga.

Fungsi Jembatan Garam.

Jembatan garam terdiri atas pipa berbentuk U yang berisi agar agar yang mengandung garam kalium atau natrium klorida. Fungsi jembatan garam adalah untuk mempertahankan kenetralan medium elektrolit tempat batang elektrode berada.

Tahap Proses Kerja Sel Volta atau Sel Galvani

a). Elektrode seng (anode) teroksidasi berubah menjadi Zn2+, kemudian ion Zn2+ ini masuk ke larutan ZnSO4. Reaksi oksidasinya adalah sebagai berikut:

Zn(s) → Zn2+(aq) + 2 e

b). Elektron yang dibebaskan di anode akan mengalir melalui kawat penghantar menuju ke elektrode Cu.

c). Pada elektrode Cu (katoda) elektron- elektron dari elektroda seng akan mereduksi ion Cu2+ dari larutan menjadi Cu yang kemudian Cu ini mengendap atau menempel pada batang Cu. Reaksi reduksinya adalah sebagai berikut:

Cu2+(aq) + 2 e → Cu(s)

d). Zn teroksidasi dan Cu2+ tereduksi, pada anode ion Zn2+ lebih banyak dari ion SO42–, sedangkan pada katode ion SO42 lebih banyak dari ion Cu2+. Oleh sebab itu, ion SO42–  berpindah dari elektrode Cu ke elektrode Zn melalui jembatan garam.

e). Pada akhir reaksi sel, berat elektrode Zn akan berkurang, sedangkan berat elektrode Cu akan bertambah. Larutan CuSO4 semakin encer, sedangkan larutan ZnSO4 semakin pekat.

Reaksi pada Sel Volta

Reaksi reduksi oksidasi secara keseluruhan pada sel Volta adalah sebagai berikut:

Zn(s) + CuSO4(aq) → ZnSO4(aq) + Cu(s)

Rekasi Pada Anode

Reaksi yang terjadi pada anode adalah reaksi oksidasi seperti berikut

Zn(s) → Zn2+(aq) + 2 e

Reaksi Pada Katode

Reaksi yang terjadi pada katode adalah reaksi reduksi seperti berikut:

Cu2+(aq) + 2 e → Cu(s)

Potensial Elektroda Standar

Potensial elektrode standar adalah gaya dorong (atau gaya gerak listrik) dari reaksi redoks yang diukur pada keadaan standar (kemolaran 1 M pada tekanan 1 atm dan temperatur 250 C). Potensial sel standar disimbolkan dengan E°sel.

Notasi Sel Volta

Rangkaian sel volta dapat ditulis dalam bentuk notasi atau diagram sel. Dalam menuliskan diagram sel, anoda ditulis di sebelah kiri dan katoda di sebelah kanan yang dipisahkan oleh jembatan garam. Jembatan garam dilambangkan dengan dua garis sejajar vertikal (||).

Secara umum, notasi sel volta dapat dituliskan sebagai berikut:

Anoda || Katoda

Dengan demikian sel volta di atas dinyatakan dalam bentuk notasi sel seperti berikut :

Zn | Zn2+ || Cu2+ | Cu

Potensial Sel

Perbedaan potensial dari kedua elektroda (katoda dan anoda) disebut beda potensial atau potensial sel standar yang diberi lambar Esel.

Esel = E°katoda – E°anoda

Esel = E°reduksi – E°oksidasi

Esel = E°besar – E°kecil

Esel = E°(+) – E°(-)

Katoda merupakan tempat terjadi reaksi reduksi sehingga mempunyai E° lebih besar, sedangkan anoda merupakan tempat terjadi reaksi oksidasi sehingga mempunyai harga E° lebih kecil.

Contoh Soal Beda Potensial Sel Elektrokimia

Suatu sel volta tersusun dari elektroda magnesium dan tembaga. Bila diketahui:

Mg2+ (aq) + 2e → Mg(s) E° = -2,37 volt

Cu2+ (aq) + 2e → Cu(s) E° = + 0,34 volt

Tentukan

a). katoda dan anodanya,

b). reaksi yang terjadi pada elektroda dan reaksi selnya,

c). notasi sel, dan

d). potensial sel.

Jawab:

a). Katoda Anoda Sel Volta Mg-Cu

Katoda harus memiliki E° lebih besar yaitu tembaga (Cu), dan

Anoda harus memiliki E° lebih kecil, yaitu magnesium (Mg)

b). Reaksi Elektroda dan Sel  

Reaksi katoda (reduksi) : Cu2+ (aq) + 2e → Cu(s)

Reaksi anoda (oksidasi) : Mg(s) →Mg2+ (aq) + 2e

Reaksi sel (redoks) : Cu2+ (aq) + Mg(s) → Cu(s) + Mg2+ (aq)

  1. Notasi Sel

Anoda || Katoda

Mg | Mg2+ || Cu2+ | Cu

  1. Potensial Sel Sistem Mg-Cu

Esel = E° katoda – E°anoda

Esel = 0,34 – (-2,37)

Esel = 2,71 volt

Potensial sel dapat digunakan untuk memperkirakan spontan tidaknya suatu reaksi redoks. Reaksi redoks berlangsung spontan bila Esel > 0 (positif) dan tidak spontan bila Esel < 0 (negatif).

  1. Sel Elektrolisis

Elektrolisis merupakan peristiwa penguraian zat elektrolit oleh arus listrik searah. Dalam sel elektrolisis energi listrik akan menghasilkan reaksi kimia.

Pada sel elektrolisis, reaksi redoksnya tidak terjadi secara spontan. Sehingga untuk terjadi reaksi redoksnya harus diberi arus listrik.

Pada sel elektrolisis, energi listrik diubah menjadi energi kimia. Pada Sel Elektrolisis Arus listrik menghasilkan reaksi reduksi dan oksidasi.

Tempat berlangsungnya reaksi reduksi dan oksidasi dalam sel elektrolisis sama seperti pada sel volta, yaitu anode (reaksi oksidasi) dan katode (reaksi reduksi). Perbedaan sel elektrolisis dan sel volta terletak pada kutub elektrode.

Pada sel volta, anode (–) dan katode (+), sedangkan pada sel elektrolisis sebaliknya, anode (+) dan katode (–).

Pada sel elektrolisis anode dihubungkan dengan kutub positif sumber energi listrik, sedangkan katode dihubungkan dengan kutub negatif. Oleh karena itu pada sel elektrolisis di anode akan terjadi reaksi oksidasi dan dikatode akan terjadi reaksi reduksi.

Sel elektrolisis berfungsi sebagai pompa untuk menjalankan perpindahan elektron yang mengalir dari anode ke katode. Elektron dialirkan melalui electrode yang tidak bereaksi (inert).

Biasanya digunakan batang karbon atau platina. Dalam elektrolisis, pada anode terjadi oksidasi (melepaskan elektron) sedangkan pada katode terjadi reduksi.

Pada  sel elektrolisis reaksi mulai terjadi pada katode, yaitu tempat arus masuk (pada sel Volta reaksi dimulai pada anode, yaitu tempat arus keluar).

pemurnian-logam-tembaga-cara-elektrowinning
sel elektrolisis pada pemurnian-logam-tembaga-cara-elektrowinning

Reaksi pada Katode

Pada katode terjadi reaksi ion- ion positif (kation) mengikat electron electron yang berasal dari sumber arus. Zat yang terbentuk dari hasil reaksi ini akan nempel pada batang katode, kecuali jika zat yang dihasilkan berbentuk gas.

Apabila zat hasil reaksi berfase gas maka akan keluar sebagai gelembung- gelembung gas di sekitar batang katode yang selanjutnya akan bergerak ke permukaan sel elektrolisis. Dalam larutan, ion positif menuju ke katode dan ion negatif ke anode.

1). Ion Hidrogen (H+)

Ion hidrogen direduksi menjadi molekul gas hidrogen. Reaksi reduksi seperti berikut:

Reaksi: 2 H+(aq) + 2 e→ H2(g)

2). Ion- Ion Logam

a). Ion-ion logam alkali/alkali tanah, seperti Li+, K+, Na+, Ba2+, Sr2+, dan Ca2+ tidak akan mengalami reduksi karena E° logam < E° air. Maka sebagai penggantinya air yang akan mengalami reaksi reduksi sebagai berikut:

Reaksi: H2O(l) + 2 e → H2(g) + 2 OH(aq)

b). Ion- Ion Logam seperti Ni2+, Cu2+, dan Zn2+ akan mengalami reduksi menjadi logam. Reaksi oksidasinya adalah seperti berikut:

Mn+ + n e→ M

Contoh: Cu2+(aq) + 2 e → Cu(s)

Ni2+(aq) + 2 e → Ni(s)

Jika Leburan garam yang dielektrolisis, maka ion logam penyusun garam tersebut yang akan direduksi menjadi logam. Contohnya adalah garam NaCl(l), dimana Na+ akan direduksi menjadi Na.

Reaksi: Na+(aq) + e → Na(s)

Reaksi pada Anode

Pada anode terjadi reaksi oksidasi, ion- ion negatif akan ditarik oleh anode. Reaksi yang terjadi pada anode sangat dipengaruhi oleh jenis anion dan jenis elektrode yang digunakan.

Jika anode terbuat dari elektrode inert (elektrode yang tidak ikut bereaksi), seperti Pt, C, dan Au maka ion negative atau air akan teroksidasi.

1). Ion Hidroksida (OH) akan teroksidasi menjadi H2O dan O2.

Reaksinya: 4 OH(aq) → 2 H2O(l) + O2(g) + 4 e

2). Ion Sisa Asam

a). Ion Sisa Asam yang tidak mengandung oksigen, seperti Cl, Br, I akan teroksidasi menjadi gas Cl2, Br2, I2.

Contoh: 2 Cl(aq) → Cl2(g) + 2 e

2 X → X2 + 2 e

b). Ion Sisa Asam yang yang mengandung oksigen, seperti SO42–, NO3–, PO43– tidak teroksidasi. Sebagai gantinya air yang teroksidasi.

Reaksi: 2 H2O(l) → 4 H+(aq) + O2(g) + 4 e

Jika anodenya terbuat dari logam lain (bukan Pt, C, atau Au) maka anode akan mengalami oksidasi menjadi ionnya.

Contohnya, jika anode terbuat dari Ni atau Cu, maka Ni atau Cu akan teroksidasi menjadi ion Ni2+ atau ion Cu2+. Reaksi oksidasinya seperti berikut:

Reaksi: Ni(s) → Ni2+(aq) + 2 e

Reaksi: Cu(s) → Cu2+(aq) + 2 e

Logam Cu pada anode akan terlarut dan mengendap pada katode. Anode makin lama makin berkurang atau habis,  sedangkan katode makin tebal. Prinsip ini banyak digunakan pada pemurnian logam Cu.

Hukum Faraday Eletrokimia

Dalam elektrokimia baik sel volta maupun sel elektrolisis terdapat hubungan kuantitatif antara jumlah zat yang bereaksi dan muatan listrik yang terlibat dalam reaksi redoks. Pernyataan ini merupakan prinsip dasar Hukum Faraday.

Aliran listrik tiada lain adalah aliran elektron. Oleh karena itu, muatan listrik yang terlibat dalam sel elektrokimia dapat ditentukan berdasarkan muatan elektron yang terlibat dalam reaksi redoks pada sel elektrokimia.

Hukum Faraday I berbunyi:

“Massa zat yang dilepaskan selama elektrolisis berbanding lurus dengan jumlah listrik yang digunakan”

Hukum Faraday I dapat dinyatakan dengan menggunakan persamaan rumus berikut:

w = e.F

Dengan Keterangan:

w = massa zat hasil elektrolisis (gram)

e = massa ekuivalen zat hasil elektrolisis,

e = Ar/Valensi

F = jumlah arus listrik (Faraday)

Diketahui bahwa 1 Faraday setara dengan 96.500 coulomb, sedangkan 1 coulomb = 1 ampere detik. Dengan demikian Hukum Faraday dapat dinyatakan dengan menggunakan persamaan rumus berikut:

w = (e.i.t)/96.500

Dengan keterangan

i = kuat arus listrik (ampere)

t = lama elektrolisis atau waktu (detik)

Hukum Faraday II berbunyi:

“Massa zat yang dilepaskan pada elektrolisis berbanding lurus dengan massa ekuivalen zat itu”

Hukum Faraday II dapat dinyatakan dengan menggunakan persamaan rumus berikut:

w1 : w2 : … = e1 : e2 : … atau

w1/w2 = e1/e2

dengan keterangan

w1 = massa zat terendap 1

w2 = massa zat terendap 2

e1 = massa ekuivalen zat 1

e2 = massa ekuivalen zat 2

Contoh Soal Perhitungan Rumus Hukuk Faraday Sel Elektrolisis

Larutan AgNO3 (Ar Ag = 108) dialiri listrik 10 ampere selama 1 jam. Berapa gram logam perak yang dapat diendapkan?

Diketahui

Ar Ag = 108

e Ag = 108/1

i = 10 ampere

t = 1 x60x60 =3600 detik

Jawab:

w = (e.i.t)/96.500

w = (108x10x3.600)/96.500

w = 40,3

Contoh Soal Perhitugan Rumus Hukum Faraday II Sel Elektrolisis

Sejumlah arus listrik dialirkan melalui larutan AgNO3 dan larutan CuSO4. Bila logam perak yang diendapkan sebanyak 21,6 gram, berapa gram logam tembaga yang diendapkan?

Diketahui:

Ar Ag = 108, Cu = 63,5)

Jawab:

w Ag : w Cu = e Ag : e Cu

21,6 : w Cu = (108/1) : (63,5/2)

21,6 : w Cu = (108) : (31,75)

w Cu = (21,6 x31,75)/108

w Cu = 6,35 gram

Contoh Soal Hukum Faraday I Sel ELektrolisis

Berapakah massa tembaga yang diendapkan di katode pada elektrolisis larutan CuSO4 dengan menggunakan arus 2 A selama 20 menit. (Ar Cu = 63,5 g/mol)

Jawab

Di katode, terjadi reaksi reduksi Cu2+ menjadi Cu:

Cu2+(aq) + 2 e → Cu(s)

t = 20 menit = 1.200 s

e = 63,5/2

e = 31,75 g/mol

w = (e.i.t)/96.500

w = (31,75x2x1.200)/96.500

w = 0,789 gram

Jadi, massa tembaga yang diendapkan pada katode adalah 0,789 gram.

Daftar Pustaka:

  1. Sunarya, Yayan, 2014, “Kimia Dasar 1, Berdasarkan Prinsip Prinsip Kimia Terkini”, Cetakan Ketiga, Yrama Widya, Bandung.
  2. Sunarya, Yayan, 2013, “Kimia Dasar 2, Berdasarkan Prinsip Prinsip Kimia Terkini”, Cetakan Kedua, Yrama Widya, Bandung.
  3. Syukri, S., 1999, “Kimia Dasar 2”, Jillid 2, Penerbit ITB, Bandung
  4. Chang, Raymond, 2004, “Kimia Dasar, Konsep -konsep Inti”, Edisi Ketiga, Jilid Satu, Penerbit, Erlangga, Jakarta.
  5. Brady, James, E,1999, “Kimia Universitas Asas dan Struktur”, Edisi Kelima, Jilid Satu, Binarupa Aksara, Jakarta,
  6. Brady, James, E., 1999, “Kimia Universitas Asas dan Struktur”, Edisi Kelima, Jilid Dua, Binarupa Aksara, Jakarta.
  7. Ardra.Biz, 2019, “Pengertian Elektrokimia, Pengertian ELektrolisis, Reaksi reduksi oksidasi Elektrokimia, Jenis Sel Elektrokimia, Sel Volta (Sel Galvani), Contoh Sel Volta, cara kerja sel volta, reaksi pada sel volta,
  8. Ardra.Biz, 2019, “energi sel volta, Jenis elektroda pada sel volta, Reaksi Sel Volta Spontan, Cara Kerja Sel Volta/ Galvani Sistem Zn-Cu, Gambar rangkaian sel volta, anoda dan katoda sel volta, Contoh Elektroda Negative sel Galvani, Contoh Elektroda Positif,
  9. Ardra.Biz, 2019, “Pengertian elektroda negative positif, Reaksi reduksi katoda, reaksi okidasi anode, kutub positif katoda, kutub negative anoda, electrode oksidasi, elektrode reduksi, Fungsi Jembatan Garam, Pengertian dan contoh jembatan garam,
  10. Ardra.Biz, 2019, “Tahap Proses Kerja Sel Volta atau Sel Galvani, Reaksi pada Sel Volta Sel Galvani, Rekasi Pada Anode Sel Gavani, Contoh Reaksi Pada Katode, Pengertian Potensial Elektroda Standar, rumus potensial elektroda standar, contoh soal potensial sel, Notasi Sel Volta,
  11. Ardra.Biz, 2019, “Rumus Perhitungan Potensial Sel, Contoh Soal Beda Potensial Sel Elektrokimia, Katoda Anoda Sel Volta Mg-Cu,  Reaksi Elektroda dan Sel, Reaksi katoda (reduksi),  Reaksi anoda (oksidasi),  Reaksi sel (redoks),  Contoh Notasi Sel,
  12. Ardra.Biz, 2019, “Potensial Sel Sistem Mg-Cu, Reaksi redoks spontan Esel positf, Reaksi redoks tidak spontan Esel negative, Sel Elektrolisis, Pengertian Elektrolisis,  Contoh sel elektrolisis, reaksi redoks sel elektrolisis tidak spontan, reaksi redoks sel galvani spontan,
  13. Ardra.Biz, 2019, “kutub elektrode sel elektrolisis, anode katoda sel elektrolisis, reaksi katoda anoda sel eletrolisis, contoh elektroda sel elektrolisis, contoh anode katode sel elektrolisis, Reaksi pada Katode sel elektrolisis, reaksi berfase gas pada electrode, contoh reaksi pada Katode sel elektrolisis, Reaksi pada Anode, contoh reaksi anode sel elektrolisis,
  14. Ardra.Biz, 2019, “contoh electrode inert sel elektrolisis, pengertian electrode inert, Ion Sisa Asam sel selektrolisis, Hukum Faraday Eletrokimia, Bunyi pernyataan hukum Faraday, Rumus Hukum Faraday Eletrokimia, Contoh soal perhitungan rumus Hukum Faraday Eletrokimia, Satuan 1 Faraday setara 96.500 coulomb,
  15. Ardra.Biz, 2019, “satuan massa ekuivalen, rumus cara hitung massa reaksi sel elektrolisis, Bunyi Pernyataan Hukum Faraday II, Contoh Soal Perhitungan Rumus Hukuk Faraday Sel Elektrolisis, Contoh Soal Perhitugan Rumus Hukum Faraday II Sel Elektrolisis, Contoh Soal Hukum Faraday I Sel Elektrolisis,

Polimerisasi Pembuatan Produk Polimer

Pengertian Polimer. Istilah polimer diambil dari bahasa Yunani yaitu poly yang berarti banyak dan kata meros yang berarti unit. Dengan demikian, senyawa polimer dapat diartikan sebagai senyawa besar yang terbentuk dari penggabungan unit unit molekul kecil yang disebut monomer (mono = satu).

Jumlah monomer yang bergabung dapat mencapai puluhan ribu sehingga massa molekul relatifnya bisa mencapai ratusan ribu, bahkan jutaan. Itulah sebabnya mengapa polimer disebut juga sebagai makromolekul.

Plastik, karet, serat, kapas, protein, dan selulosa merupakan istilah umum dalam perbendaharaan kata modern yang digunakan untuk menyatakan bahan yang terbuat dari polimer.

Jenis Polimer

Berdasarkan asalnya, polimer dibedakan menjadi dua jenis, yaitu polimer alam dan polimer sintetis atau buatan.

1). Polimer Alam

Polimer alam mencakup protein (seperti sutera, serat otot, dan enzim), polisakarida (pati dan selulosa), karet, dan asam- asam nukleat. Beberapa contoh polimer alam yang lain adalah protein, amilum, dan glikogen.

Penggunaan polimer alam seringkali kurang memuaskan untuk penggunaan-penggunaan yang khas, seperti karet alam akan kehilangan kekenyalan setelah terlalu lama terkena bensin.

2). Polimer Sintesis Buatan

Karena polimer alam kurang memberikan sifat sifat yang dinginkan, kemudian para ilmuwan kimia mengembangkan polimer sintesis yang mempunyai sifat khas dan dapat dicetak sesuai dengan bentuk yang diinginkan. Jadi Polimer sintetis atau polimer buatan dibuat sebagai tiruan.

Polimer sintetis meliputi plastik, karet sintetis, dan serat sintetis. Contoh dari polimer sintesis adalah  plastik polietilena, PVC, polipropilena, teflon, karet neoprena, karet SBR, nilon, dan tetoron.

Homopolimer dan Kopolimer

Homopolimer adalah polimer yang tersusun dari monomer yang sama (tunggal).  Polietilen adalah contoh homopolimer, dibentuk hanya dari monomer etilena.

Kopolimer adalah polimer yang dibentuk oleh lebih dari satu jenis monomer. Jika etilena (CH2=CH2) dan propilena (CH2=CH–CH3) digabungkan membentuk polimer, akan terbentuk kopolimer.

Kopolimer dapat digolongkan kembali berdasarkan pada cara momoner disusun sepanjang rantai polimer. Ada kopolimer blok, ada juga kopolimer cangkok baik random maupun teratur.

Kopolimer random mengandung satuan berulang secara acak. Kopolimer teratur mengandung satuan berulang yang bergantian secara teratur. Kopolimer blok terjadi dalam blok- blok tertentu dengan Panjang berbeda. Kopolimer cangkok mempunyai rantai satu satuan berulang yang dicangkokkan pada rantai utama polimer lain.

Reaksi Pembentukan Polimer

Reaksi pembentukan polimer disebut dengan istilah reaksi polimerisasi. Reaksi polimerisasi adalah reaksi penggabungan molekul-molekul sederhana (monomer) menjadi polimer (makromolekul).

Reaksi pembentukan polimer dikelompokkan menjadi dua, yaitu polimerisasi adisi dan polimerisasi kondensasi.

Polimerisasi Adisi

Polimerisasi adisi adalah penggabungan molekul- molekul yang berikatan rangkap membentuk rantai molekul yang panjang (polimer).

Polimerisasi adisi terjadi pada monomer yang mempunyai ikatan rangkap, di mana dengan bantuan suatu katalisator (misalnya peroksida), maka ikatan rangkapnya terbuka dan monomer- monomer dapat langsung berikatan. Contoh Polimerisasi Adisi adalah pembentukan polietilena (polietena)

Polimer adisi dapat terbentuk apabila monomer rantai karbon berikatan rangkap (senyawa tak jenuh). Pada pembentukan ini, jumlah monomer yang bergabung membentuk polimer dengan jumlah atom tetap.

Polimerisasi adisi dapat berlangsung dengan bantuan katalisator. Contoh: Pembentukan polietilena dari etena.

Contoh Reaksi Pembentukan Polimer dari etena menjadi polietilena.

Etena –> Polietilena

CH2=CH2 –> —CH2-CH2

Contoh Reaksi Polimerisasi Pembentukan Teflon dari Terafluoroetilena.

Terafluoroetilena –> Teflon

nCF2=CF2 –> —CF2-CF2

Reaksi polimerisasi adisi banyak dimanfaatkan pada industry plastic dan karet. Polimer- polimer yang terbentuk melalui reaksi polimerisasi adisi antara lain polietena (PE), polivinil klorida (PVC), karet alam, teflon, dan polipropena.

Tahap Polimerisasi Adisi

Polimerisasi adisi terjadi dalam tiga tahap, yaitu pemicuan, perambatan, dan pengakhiran. Oleh karena pembawa rantai dapat berupa ion atau radikal bebas maka polimerisasi adisi digolongkan ke dalam polimerisasi radikal bebas dan polimerisasi ion.

1) Radikal Bebas

Radikal bebas biasanya dibentuk melalui penguraian zat kurang stabil dengan energi tertentu. Radikal bebas menjadi pemicu pada polimerisasi. Zat pemicu berupa senyawa peroksida, seperti dibenzoil peroksida dan azodiisobutironitril.

Jika radikal bebas dinyatakan dengan R• dan molekul monomer dinyatakan dengan CH2=CHX maka tahap pemicuan dapat digambarkan sebagai berikut.

R• + H2C = CHX → R – CH2 – CHX•

Tahap perambatan adalah perpanjangan (elongasi) radikal bebas yang terbentuk pada tahap pemicuan dengan monomer-monomer lain:

R – CH2 – CHX• + CH2=CHX → R – CH2 – CHX – CH2 – CHX•

Tahap pengakhiran dapat terjadi dengan cara berikut.

R —CH2 – CHX• + • XHC – H2C—R → R—CH2– CHX – XHC – H2C—R

atau melalui reaksi disproporsionasi:

R—CH2–CHX• + •XHC–H2C—R → R—CH2–CH2X + XHC=HC—R

2) Polimerisasi Ionik

Polimerisasi adisi dapat terjadi melalui mekanisme yang tidak melibatkan radikal bebas. Dalam hal ini, pembawa rantai dapat berupa ion karbonium (polimerisasi kation) atau ion karbanion (polimerisasi anion).

Dalam polimerisasi kation, monomer pembawa rantai adalah ion karbonium. Katalis untuk reaksi ini adalah asam Lewis, seperti AlCl3, BF3, TiCl4, SnCl4, H2SO4, dan asam kuat lainnya.

Polimerisasi radikal bebas memerlukan energi atau suhu tinggi, sebaliknya polimerisasi kation paling baik dilakukan pada suhu rendah. Misalnya, polimerisasi 2–metilpropena berlangsung optimum pada –100oC dengan adanya katalis BF3 atau AlCl3.

Polimerisasi kation terjadi pada monomer yang memiliki gugus yang mudah melepaskan elektron. Dalam polimerisasi yang dikatalis oleh asam, tahap pemicuan dapat digambarkan sebagai berikut.

Katalis Asam, Tahap Pemicuan Polimerisasi Kation
Katalis Asam, Tahap Pemicuan Polimerisasi Kation

HA adalah molekul asam, seperti HCl, H2SO4, dan HClO4. Pada tahap pemicuan, proton dialihkan dari asam ke monomer sehingga menghasilkan ion karbonium (C+).

Perambatan berupa adisi monomer terhadap ion karbonium, prosesnya hampir sama dengan perambatan pada radikal bebas.

Tahap Perambatan Polimerisasi Kation
Tahap Perambatan Polimerisasi Kation

Pengakhiran (berakhirnya Reakasi) rantai dapat terjadi melalui berbagai proses. Proses paling sederhana adalah penggabungan ion karbonium dan anion pasangannya (disebut ion lawan).

Tahap Pengakhiran polimerisasi kation
Tahap Pengakhiran polimerisasi kation

Dalam polimerisasi anion, monomer pembawa rantai adalah suatu karbanion (C). Dalam hal ini, monomer pembawa rantai adalah yang memiliki gugus dengan keelektronegatifan tinggi, seperti propenitril (akrilonitril), 2–metilpropenoat (metil metakrilat), dan feniletena (stirena).

Seperti polimerisasi kation, reaksi polimerisasi anion optimum pada suhu rendah. Katalis yang dapat dipakai adalah logam alkali, alkil, aril, dan amida logam alkali.

Contohnya adalah kalium amida (KNH2) yang dalam pelarut ammonia cair dapat mempercepat polimerisasi monomer CH2=CHX dalam amonia.

Kalium amida akan terionisasi kuat sehingga pemicuan dapat berlangsung seperti berikut.

Reaksi Tahap Pemicuan Polimerisasi Anion
Reaksi Tahap Pemicuan Polimerisasi Anion

Perambatan merupakan adisi monomer pada karbanion yang dihasilkan, yaitu

Reaksi Tahap Perambatan Polimerisasi Anion
Reaksi Tahap Perambatan Polimerisasi Anion

Proses pengakhiran (berakhirnya reakasi) pada polimerisasi anion tidak begitu jelas seperti pada polimerisasi kation. Hal ini disebabkan penggabungan rantai anion dengan ion lawan (K+) tidak terjadi. Namun demikian, jika terdapat sedikit air, karbon dioksida, atau alkohol akan mengakhiri pertumbuhan rantai.

  1. Polimerisasi Kondensasi

Pada polimerisasi kondensasi, monomer- monomer saling berkaitan dengan melepas molekul kecil, seperti H2O dan metanol. Polimerisasi ini terjadi pada monomer yang mempunyai gugus fungsi pada kedua ujung rantainya.

Jadi Polimer kondensasi disusun oleh monomer yang mempunyai gugus fungsional. Karena pembentukannya melepaskan molekul air, maka jumlah atom monomer tidak sama dengan jumlah atom yang terdapat dalam polimer. Pada polimer kondensasi monomer pembentuknya homopolymer dan dapat juga kopolimer.

Contoh Reaksi Polimerisasi Kondensasi adalah Pembentukan Polietilen glikol dari etilen glikol. Reaksinya adalah sebagai berikut

Etilen Glikol –> Polietilen Glikol + Air

HOCH2-CH2OH –> —OCH2-CH2— + H2O

Ciri khas dari reaksi polimerisasi kondensasi adalah monomernya mengandung gugus fungsi dan dihasilkannya produk samping, seperti H2O, HCl, NH3, dan CH3COOH. Produk samping ini merupakan gabungan dari gugus fungsi setiap monomer.

Senyawa yang diproduksi melalui reaksi polimerisasi kondensasi, di antaranya adalah protein, nilon, dan plastik polietilentereftalat (PET).

Pada polimerisasi kondensasi tidak terjadi pengakhiran. Polimerisasi berlangsung terus sampai tidak ada lagi gugus fungsi yang dapat membentuk polimer.

Namun demikian, reaksi polimerisasi dapat dikendalikan dengan mengubah temperatur. Misalnya, reaksi dapat dihentikan dengan cara pendinginan, namun reaksi polimerisasi dapat terjadi lagi ketika temperatur dinaikkan.

Industri Polimer

Konsumsi polimer sintesis dunia sekarang ini diperkirakan sebesar 70 juta metrik ton per tahun. Hampir 56 % diantaranya terdiri atas plastik, 18 % serat, dan 11 % karet sintesis. Ada tiga klasifikasi utama dari industri polimer, yaitu sebagai berikut.

1) Plastik Komoditi

Plastik komoditi jumlahnya relative tinggi, harganya murah, dan dipakai dalam bentuk barang yang bersifat pakai buang (disposable), seperti lapisan pengemas, barang mainan, perabotan, pipa, botol, dan karpet.

Contoh

􀂊 Polietilena untuk lapisan pengemas, botol, dan mainan.

􀂊 Polipropilena untuk tali, karpet, dan film.

􀂊 Polistirena untuk bahan pengemas, isolasi busa, dan perabotan rumah.

2) Plastik teknik

Plastik teknik lebih mahal harganya, jumlahnya relatif rendah, memiliki sifat mekanik yang unggul, dan memiliki daya tahan yang lebih baik. Plastik teknik banyak digunakan dalam bidang transportasi, perumahan, mesin bisnis, mesinmesin industri, dan instalasi pipa ledeng.

Contoh

􀂊 Asetal untuk bahan-bahan perumahan.

􀂊 Poliester untuk konstruksi, lambung kapal, pipa, dan tangki.

􀂊 Nilon 66 untuk serat dan obyek cetakan

3) Serat

Polimer serat dicirikan oleh modulus dan kekuatannya yang tinggi, daya rentang yang baik, stabilitas panas yang baik, dan spinabilitas (kemampuan untuk diubah menjadi filamen-filamen).

Contoh selulosa sintesis adalah, kapas, dan wol untuk bahan pakaian.

4) Karet

Karet adalah polimer yang memperlihatkan sifat elastiaitas tinggi atau daya pegas atau kemampuan meregang dan kembali ke keadaan semula dengan cepat. Karet banyak digunakan sebagai perekat, ban mobil, barang mainan, dan sebagainya. Contoh selain karet alam juga terdapat karet sintesis seperti nitril, silikon, dan polibutadiena.

Sifat Panas Polimer

Berdasarkan respon terhadap panas, polimer dapat dibedakan menjadi dua yaitu polimer termoseting dan polimer termoplas.

a). Polimer Termoseting

Polimer termoseting merupakan polimer yang hanya dapat dipanaskan satu kali yaitu pada saat pembuatannya. Apabila pecah tidak dapat disambung kembali dengan cara pemanasan atau dicetak ulang dengan pemanasan.

Polimer termoseting terbentuk dari ikatan silang antarrantai sehingga terbentuk bahan yang keras dan lebih kaku.

Contoh Polimer Termoseting adalah bakelit dan melamin.

b). Polimer Termoplastik

Polimer termoplastik adalah polimer yang dapat dipanaskan berulang- ulang karena polimer termoplas melunak bila dipanaskan dan mengeras bila didinginkan. Apabila pecah dapat disambung kembali dengan cara pemanasan atau dicetak ulang dengan pemanasan.

Polimer termoplas terbentuk dari molekul- molekul rantai lurus atau bercabang dan tidak ada ikatan silang antarrantai seperti pada polimer termoseting.

Contoh Polimer Termoplastik adalah  polietena, PVC, polistirena.

Daftar Pustaka:

  1. Sunarya, Yayan, 2014, “Kimia Dasar 1, Berdasarkan Prinsip Prinsip Kimia Terkini”, Cetakan Ketiga, Yrama Widya, Bandung.
  2. Sunarya, Yayan, 2013, “Kimia Dasar 2, Berdasarkan Prinsip Prinsip Kimia Terkini”, Cetakan Kedua, Yrama Widya, Bandung.
  3. Syukri, S., 1999, “Kimia Dasar 2”, Jillid 2, Penerbit ITB, Bandung
  4. Chang, Raymond, 2004, “Kimia Dasar, Konsep -konsep Inti”, Edisi Ketiga, Jilid Satu, Penerbit, Erlangga, Jakarta.
  5. Brady, James, E,1999, “Kimia Universitas Asas dan Struktur”, Edisi Kelima, Jilid Satu, Binarupa Aksara, Jakarta,
  6. Brady, James, E., 1999, “Kimia Universitas Asas dan Struktur”, Edisi Kelima, Jilid Dua, Binarupa Aksara, Jakarta.
  7. Ardra.Biz, 2019, “Pengertian Polimer, Pengertian dan contoh monomer,  Jumlah monomer dalam polimer, Contoh polimer, Jenis Polimer, Polimer Alam, contoh polimer alam, keterbatasan polimer alam, Polimer Sintesis Buatan,
  8. Ardra.Biz, 2019, “Contoh Polimer sintetis atau polimer buatan, Manfaat Polimer alam dan buatan sintetis, Pengertian Homopolimer dan Kopolimer, Pengertian Contoh Homopolimer, Pengertian Contoh Kopolimer,
  9. Ardra.Biz, 2019, “kopolimer blok, kopolimer cangkok random maupun teratur, Reaksi Pembentukan Polimer, Reaksi polimerisasi, contoh reaksi polimerisasi, Jenis Polimerisasi, Pengertian makromolekul, Pengertian polimerisasi adisi polimerisasi kondensasi,
  10. Ardra.Biz, 2019, “Contoh Reaksi Polimerisasi Adisi, katalisator Polimerisasi adisi, Contoh Reaksi Pembentukan Polimer polietilena, Contoh Reaksi Polimerisasi Pembentukan Teflon, Reaksi polimerisasi adisi pada industry plastic dan karet, Tahap Polimerisasi Adisi, tahap pemicuan polimerisasi,
  11. Ardra.Biz, 2019, :tahap perambatan polimerisasi, tahap pengakhiran polimerisasi,  jenis polimerisasi radikal bebas, jenis polimerisasi ion, pengertian cantoh polimerisasi  Radikal Bebas, Polimerisasi Ionik, polimerisasi kation, ion karbanion pada polimerisasi anion,
  12. Ardra.Biz, 2019, “katalis reaksi polimerisasi kation, jenis asam Lewis, contoh polimerisasi kation, Pengertian dan Contoh Rekasi polimerisasi anion, Temperatur reaksi polimerisasi kation anion, Proses pengakhiran polimerisasi, Pengertian dan Contoh Reaksi Polimerisasi Kondensasi,
  13. Ardra.Biz, 2019, “Monomer Pembentuk Polimerisasi Kondensasi, Polimer Kondensasai Pembentukan Polietilen glikol, Monomer penyusun polimer kondensasi, produk samping polimerisasi kondensasi, gugus fungsi monomer polimerisasi kondensasi,
  14. Ardra.Biz, 2019, “Contoh produk polimerisasi kondensasi, contoh produk polimerisasi kation anion, contoh produk polimerisasi adisi, Contoh Industri Polimer, konsumsi polimer sintetis dunia, Contoh Produk industry polimer, Industri Polimer Plastik Komoditi,
  15. Ardra.Biz, 2019, “Industri Polimer Plastik Teknik, Industri Polimer Serat, Contoh selulosa sintesis, Industri Polimer Karet, Sifat Panas Polimer, Pengertian Polimer Termoseting, Contoh Produk Polimer termoseting, pengertian Polimer Termoplastik, Contoh Polimer Termoplastik,

Sifat, Fungsi Benzena dan Turunannya

Pengertian Struktur Benzene. Senyawa benzena pertama kali disintesis oleh Michael Faraday pada tahun 1825, dari gas yang dipakai sebagai bahan bakar lampu penerang.

Sepuluh tahun kemudian diketahui bahwa benzena memiliki rumus molekul C6H6 sehingga disimpulkan bahwa benzena memiliki ikatan rangkap yang lebih banyak daripada alkena.

Benzena adalah senyawa organik siklik (berbentuk cincin) dengan enam atom karbon yang bergabung membentuk cincin segi enam.

Pada  tahun 1872 Friedrich August Kekule mengusulkan bahwa benzena mengandung tiga ikatan tunggal dan tiga ikatan rangkap yang berselang-seling.

Pengukuran spektroskopik menunjukkan bahwa molekul benzene adalah planar dan semua ikatan karbon-karbonnya sama panjang yaitu 1,39 À (Angstrom). Ikatan karbon-karbon pada benzena panjangnya di antara ikatan karbon-karbon tunggal (1,47 Á ) dan ikatan karbon-karbon rangkap (1,33 Â ).

Struktur Benzena dan Fungsinya
Struktur Benzena dan Fungsinya

Hal ini dapat dibenarkan karena ikatan karbon-karbon pada benzene mengalami resonansi (berpindah- pindah). Inilah sebabnya mengapa benzene sukar mengalami adisi.

Ikatan karbon-  pada benzena terdiri atas ikatan sigma (σ) dan ikatan phi ( π ). Menurut teori ini ikatan valensi orbital molekul terbentuk dari tumpang tindih orbital-orbital atom. Ikatan kovalen yang terbentuk dari tumpang tindih ujung dengan ujung disebut ikatan sigma (σ ), sedangkan ikatan kovalen yang terbentuk dari tumpang tindih sisi dengan sisi disebut ikatan phi ( π ).

Sifat dan Kegunaan Benzena

Sifat yang dimiliki senyawa turunan benzena sangat beragam bergantung pada jenis substituennya. Sifat-sifat khas ini dapat dimanfaatkan untuk berbagai hal. Senyawa benzena dan turunannya banyak digunakan di bidang kesehatan, industri, pertanian, dan sebagai bahan peledak.

Beberapa pabrik di Indonesia, seperti yang ada di kota Bekasi dan Surabaya telah memproduksi bahan kimia turunan benzena seperti alkil benzena sulfonat yang digunakan sebagai bahan baku pembuatan detergen.

Berikut ini beberapa sifat dan kegunaan atau manfaat dari senyawa benzena dan turunannya.

Benzena

Benzena merupakan zat kimia yang tidak berwarna, mudah terbakar, dan berwujud cair. Benzena digunakan sebagai bahan baku untuk pembuatan plastik dan bahan kimia lainnya, seperti detergen dan bahan bakar kendaraan.

Namun, benzena juga diketahui dapat menyebabkan kanker sel darah putih (leukimia) bagi manusia. Jika mengisap benzena dengan kadar yang cukup tinggi, dapat menyebabkan kematian.

Meminum atau memakan makanan yang mengandung benzena dalam jumlah cukup tinggi dapat menyebabkan berbagai masalah, mulai dari muntah-muntah, iritasi lambung, kepala pusing, hingga kematian.

Aspirin Senyawa Turunan Benzena

Aspirin atau asam asetilsalisilat memiliki sifat analgesik, antipiretik, antiradang, dan antikoagulan. Karena sifat-sifat itulah aspirin biasanya digunakan sebagai obat sakit gigi dan obat pusing. Senyawa ini memiliki titik didih 140 °C dan titik leleh 136 °C.

Mengonsumsi aspirin secara berlebihan dapat menyebabkan gangguan pada kesehatan. Di antaranya gangguan pencernaan pada lambung, seperti sakit maag dan pendarahan lambung.

Anilina Senyawa Turunan Benzena

Anilina memiliki rumus kimia C6H5NH2 dan biasa dikenal dengan nama fenilamina atau aminobenzena. Senyawa turunan benzena ini mengandung gugus amina. Berikut struktur molekul anilina.

Anilina memiliki wujud cair pada suhu kamar dan tidak berwarna (colorless). Titik didihnya 184 °C, sedangkan titik lelehnya –6 °C. Senyawa anilina mudah menguap dan menimbulkan bau tak sedap, seperti ikan yang membusuk.

Anilina banyak digunakan sebagai zat warna. Bukan hanya itu, anilina juga digunakan sebagai bahan baku pembuatan berbagai obat, seperti antipirina dan antifebrin.

Klorobenzena Senyawa Turunan Benzena

Klorobenzena adalah senyawa turunan benzena dengan rumus kimia C6H5Cl. Senyawa ini memiliki warna bening (colorless) dan mudah terbakar. Klorobenzena dapat diperoleh dengan cara mereaksikan fenol dan fosfor pentaklorida. Klorobenzena tidak larut di dalam air serta memiliki titik leleh –45 °C dan titik didih 131 °C.

Parasetamol Senyawa Turunan Benzena

Parasetamol atau asetaminofen merupakan zat analgesik dan antipiretik yang paling populer. Parasetamol sering digunakan untuk mengobati pusing dan sakit kepala.

Sifat dari parasetamol antara lain titik leleh 169 °C, kelarutan dalam air 1,4 g/100 mL (20 °C), serta larut di dalam etanol. Asal kata asetaminofen dan parasetamol tersebut berasal dari nama kimia kedua senyawa, yaitu N-acetyl-para-aminophenol dan para-acetyl-amino-phenol. Terlalu banyak mengonsumsi parasetamol dapat menyebabkan gangguan kesehatan.

TNT (Trinitrotoluene) Senyawa Turunan Benzena

TNT (Trinitrotoluene) merupakan senyawa turunan benzena yang bersifat mudah meledak. Senyawa TNT diperoleh melalui reaksi nitrasi toluena. TNT digunakan sebagai bahan peledak untuk kepentingan militer dan pertambangan.

Senyawa TNT (Trinitrotoluene) dibuat dengan cara mereaksikan toluene dan asam nitrat pekat, serta dibantu katalis asam sulfat pekat

Daftar Pustaka

Sifat Fungsi Senyawa Benzena dan Turunannya serta Pengertian Struktur Benzena dengan Struktur Benzena cincin segi enam. Rumus Molekul Benzena dan Rumus Kimia Senyawa Benzena dengan Panjang Ikatan antar karbon molekul Benzena. Faktor Penyebab sulitnya reaksi adisi benzena adalah Ikatan sigma dan phi Benzena.

Sifat sifat senyawa benzene beserta Kegunaan dan manfaat Benzena dan Contoh senyawa turunan benzene. Manfaat senyawa turunan benzene diantara Aspirin Turunan Senyawa benzene dengan Anilina Turunan senyawa benzene. Rumus kimia aspirin dan rumus kimia anilina serta manfaar aspirin. Manfaat anilina dan Senyawa turunan benzene Klorobenzena rumus kimia klorobenzena.

Manfaat klorobenzena dan Parasetamol turunan senyawa benzene serta manfaat parasetamol atau asetaminofen turunan senyawa benzene. Manfaat asetaminofen dengan TNT (Trinitrotoluene) senyawa turunan benzena atau  manfaat TNT (Trinitrotoluene).

Faktor yang Mempengaruhi Laju Reaksi Kimia

Pengertian Laju Reaksi Kimia. Laju reaksi didefinisikan sebagai perubahan konsentrasi pereaksi atau hasil reaksi persatuan waktu. Atau dapat juga didefinisikan sebagai banyaknya mol zat per liter (untuk gas atau larutan) yang berubah menjadi zat lain dalam satu satuan waktu.

r = Δc/ Δt

r = laju reaksi

Δc = perubahan konsentrasi

Δt = perubahan waktu

Contoh Soal Perhitungan Laju Reaksi

Pada reaksi A menjadi B diketahui bahwa konsentrasi A mula-mula 8 M, setelah 3 detik menjadi 2 M. Tentukan laju reaksinya!

Jawab: Δc = (8 – 2) M = 6 M

Δt = 3 detik

r = Δc/Δt

r = 6M/3detik

r = 2 M/detik

Faktor yang Memengaruhi Laju Reaksi

Proses berlangsungnya reaksi kimia dipengaruhi oleh beberapa faktor. Faktor-faktor ini akan memengaruhi jumlah tumbukan antarmolekul dari zat-zat yang bereaksi. Suatu reaksi akan berlangsung lebih cepat jika tumbukan antarpartikel dari zat-zat pereaksi lebih sering terjadi dan lebih banyak. Sebaliknya, reaksi akan berlangsung lebih lambat jika hanya sedikit partikel dari zat-zat pereaksi yang bertumbukan.

Beberapa faktor yang memengaruhi laju reaksi, antara lain:

  1. konsentrasi;
  2. luas permukaan sentuhan;
  3. temperatur;
  4. katalis.

Pengaruh Konsentrasi Terhadap Laju Reaksi

Laju reaksi dari berbagai reaksi biasanya berbedabeda, ada yang cepat dan ada yang lambat. Salah satu faktor yang memengaruhi laju reaksi di antaranya adalah konsentrasi pereaksi.

Pada umumnya, reaksi akan berlangsung lebih cepat jika konsentrasi pereaksi diperbesar. Zat yang konsentrasinya besar mengandung jumlah partikel yang lebih banyak, sehingga partikel-partikelnya tersusun lebih rapat disbanding zat yang konsentrasinya rendah.

Partikel yang susunannya lebih rapat, akan lebih sering bertumbukan dibanding dengan partikel yang susunannya renggang, sehingga kemungkinan terjadinya reaksi makin besar.

Pengaruh Luas Permukaan Pada Laju Reaksi

Luas permukaan sentuhan antara zat-zat yang bereaksi merupakan suatu faktor yang memengaruhi kecepatan reaksi bagi campuran pereaksi yang heterogen, misalnya antara zat padat dan gas, zat padat dengan larutan, dan dua macam zat cair yang tak dapat campur.

Salah satu syarat agar reaksi dapat berlangsung adalah zat- zat pereaksi harus bercampur atau bersentuhan. Pada campuran pereaksi yang heterogen, reaksi hanya terjadi pada bidang batas campuran.

Bidang batas campuran inilah yang dimaksud dengan bidang sentuh. Dengan memperbesar luas bidang sentuh, reaksi akan berlangsung lebih cepat.

Pengaruh Temperatur Terhadap Laju Reaksi

Pada umumnya reaksi akan berlangsung dengan semakin cepat jika dilakukan dengan pemanasan. Pemanasan berarti penambahan energi kinetic partikel sehingga partikel akan bergerak lebih cepat, akibatnya tumbukan yang terjadi akan semakin sering

Setiap partikel selalu bergerak. Dengan menaikkan temperatur, energi gerak atau energi kinetik partikel bertambah, sehingga tumbukan lebih sering terjadi. Dengan frekuensi tumbukan yang semakin besar, maka kemungkinan terjadinya tumbukan efektif yang mampu menghasilkan reaksi juga semakin besar.

Suhu atau temperatur ternyata juga memperbesar energi potensial suatu zat. Zat-zat yang energi potensialnya kecil, jika bertumbukan akan sukar menghasilkan tumbukan efektif. Hal ini terjadi karena zat-zat tersebut tidak mampu melampaui energi aktivasi. Dengan menaikkan suhu, maka hal ini akan memperbesar energi potensial, sehingga ketika bertumbukan akan menghasilkan reaksi.

Pengaruh Katalis Pada Laju Reaksi

Katalis dapat mempengaruhi laju reaksi. Umumnya katalis dapat meningkatkan laju reaksi tetapi tidak mengalami perubahan yang kekal dalam reaksi itu.

Katalis adalah suatu zat yang berfungsi mempercepat terjadinya reaksi, tetapi pada akhir reaksi dapat diperoleh kembali. Fungsi katalis adalah menurunkan energi aktivasi, sehingga jika ke dalam suatu reaksi ditambahkan katalis, maka reaksi akan lebih mudah terjadi. Hal ini disebabkan karena zat zat yang bereaksi akan lebih mudah melampaui energi aktivasi.

Daftar Pustaka

Pengertian Laju Reaksi Kimia dengan Contoh Soal Perhitungan Laju reaksi Kimia. Rumus Kimia Laju reaksi Kimia dan Faktor yang Mempengaruhi Laju Reaksi dengan perubahan konsentrasi persatuan waktu. Pengaruh Konsentrasi Terhadap Laju Reaksi dan Pengaruh Luas Permukaan Pada Laju Reaksi.

Pengaruh Temperatur Terhadap Laju Reaksi dengan Pengaruh Katalis Pada Laju Reaksi dan Pengertian Katalis. Contoh Katalis Reaksi Kimia dengan Fungsi Katalis pada reaksi kimia.

Kekuatan dan Derajat Keasaman Larutan

Pengertian Kekuatan Asam Basa. Berdasarkan banyaknya ion yang dihasilkan pada ionisasi asam dan basa dalam larutan, maka kekuatan asam dan basa dikelompokkan menjadi asam kuat dan asam lemah serta basa kuat dan basa lemah. Kekuatan asam dan basa tersebut dapat dinyatakan dengan derajat ionisasi.

Dalam larutan elektrolit kuat, zat- zat elektrolit terurai seluruhnya menjadi ion-ionnya (ionisasi sempurna) dan dalam larutan elektrolit lemah, zat- zat elektrolit hanya sebagian saja yang terurai menjadi ion- ionnya (ionisasi sebagian).  Sedangkan zat- zat nonelektrolit dalam larutan tidak terurai menjadi ion-ion.

Derajat ionisasi (α) adalah perbandingan antara jumlah molekul zat yang terionisasi dengan jumlah molekul zat mula-mula.

Seperti yang  telah diketahui, bahwa perbandingan molekul sama dengan perbandingan mol. Dengan demikian, derajat ionisasi (α) dapat diformulasikan dengan persamaan berikut.

α = (Jumlah mol zat yang terionisasi)/(jumlah mol zat mula – mula)

Larutan elektrolit kuat mengalami ionisasi sempurna, sehingga nilai α mendekati satu. Sementara itu, larutan elektrolit lemah hanya mengalami ionisasi sebagian, sehingga nilai α sangat kecil (α < 1).

Berdasarkan rumus di atas, maka nilai a untuk:

  1. Elektrolit kuat, α = 1
  2. Elektrolit lemah, 0 < α < 1
  3. Non-elektrolit, α = 0

Suatu asam atau basa yang merupakan suatu elektrolit kuat disebut asam atau basa kuat. Dengan demikian jika asam merupakan elektrolit lemah, maka ia merupakan asam lemah, karena hanya mengandung sedikit ion H+, demikian juga dengan basa lemah akan terdapat sedikit ion OH.

Asam Kuat dan Basa Kuat

Asam kuat adalah zat yang di dalam pelarut air mengalami ionisasi sempurna (α ≈ 100%). Di dalam larutan, molekul asam kuat hamper semuanya terurai membentuk ion H+ dan ion negatif sisa asam. Contoh asam kuat adalah HCl, HNO3, dan H2SO4.

Sama halnya dengan asam, zat yang di dalam larutan bersifat basa dapat digolongkan sebagai basa kuat dan basa lemah berdasarkan kesempurnaan ionisasinya. Basa kuat adalah zat yang di dalam air terionisasi sempurna (α ≈ 100%), sedangkan basa lemah terionisasi sebagian.

Asam dan Basa Lemah

Asam lemah adalah senyawa yang kelarutannya di dalam air terionisasi sebagian, sesuai derajat ionisasinya. Asam lemah terionisasi sebagian. Berdasarkan hasil penyelidikan diketahui bahwa zat- zat yang bersifat asam lemah, di dalam larutan membentuk kesetimbangan antara molekul-molekul asam lemah dengan ion- ionnya.

Derajat Keasaman pH

Ukuran keasaman atau kebasaan suatu larutan ditentukan oleh konsentrasi ion hydrogen. Untuk memudahkan pengukuran, maka konsentrasi ion hydrogen dinyataka dalam pH (pangkat hydrogen). Konsep pH pertama kali diajukan oleh seorang ahli biokimia dari Denmark yaitu S.P. Sorensen pada tahun 1909. Menurut Sorensen, pH merupakan logaritma negative dari konsentrasi ion hydrogen dan diformulasikan dengan rumus menurut persamaan berikut.

pH = -log[H+]

untuk mengukur konsentrasi OH dari suatu larutan basa dinyatakan dengan pOH, yang diformulasikan dengan rumus sebagai berikut

pOH = -log[OH]

hubungan antara pH dan pOH diturunkan dari persamaan tetapan ionisasi air (Kw) pada temperature 25 Celcius yaitu;

[H+][OH] = Kw

pH + pOH = 14

pH = 14 – pOH

Contoh Soal Perhitungan Kekuatan dan Derajat Keasaman

Berapakan Derajat keasaman air murni.

Jawab air murni merupakan larutan netral dimana konsentrasi ion hydrogen [H+] adalah sama dengan konsentrasi ion hidroksi [OH]

[H+] = [OH] = 10-7M

sehingga

pH = pOH

pH= -log 10-7

pH = 7

Contoh Soal Perhitungan Kekuatan dan Derajat Keasaman

Hitung pH larutan HCL 0,01M yang merupakan asam kuat dan terionisasi seleuruhnya menjadi ion H+ dan Cl.

Jawab .

[H+] = [HCl]=0,01M

pH = -log[H+]

pH = -log 10-2

pH = 2

pH + pOH = 14

pOH = 14 – pH

pOH = 12

Daftar Pustaka:

  1. Brady, James, E,1999, “Kimia Universitas Asas dan Struktur”, Edisi Kelima, Jilid Satu, Binarupa Aksara, Jakarta,
  2. Brady, James, E., 1999, “Kimia Universitas Asas dan Struktur”, Edisi Kelima, Jilid Dua, Binarupa Aksara, Jakarta.
  3. Sunarya, Yayan, 2014, “Kimia Dasar 1, Berdasarkan Prinsip Prinsip Kimia Terkini”, Cetakan Ketiga, Yrama Widya, Bandung.
  4. Sunarya, Yayan, 2013, “Kimia Dasar 2, Berdasarkan Prinsip Prinsip Kimia Terkini”, Cetakan Kedua, Yrama Widya, Bandung.
  5. Syukri, S., 1999, “Kimia Dasar 2”, Jillid 2, Penerbit ITB, Bandung
  6. Chang, Raymond, 2004, “Kimia Dasar, Konsep -konsep Inti”, Edisi Ketiga, Jilid Satu, Penerbit, Erlangga, Jakarta.
  7. Ardra.Biz, 2019, “Kekuatan Asam Basa dengan Pengertian Kekuatan asam basa dan pengertian derajat ionisasi beserta rumus persamaan derajat ionisasi.
  8. Ardra/Biz, 2019, “Cara menghitung derajat ionisasi dengan contoh soal derajat ionisasi dan derajat ionisasi larutan elektrolit.
  9. Ardra.Biz, 2019, “Contoh senyawa larutan ionisasi sempurna dan contoh senyawa ionisasi sebagian. Ionisasi asam dan basa lemah dengan derajat ionisasi asam dan basa lemah serta derajat ionisasi elektrolit kuat dan lemah.
  10. Ardra.Biz, 2019, “Derajat ionisasi nonelektrolit dengan contoh elektrolit kuat dan derajat keasaman pH larutan asam kuat. pH asam kuat dan asam lemah dan pH larutan basa kuat dan lemah.
  11. Ardra.Biz, 2019, “Contoh soal perhitungan pH larutan asam basa dan rumus mencari pH larutan asam basa dengan contoh soal perhitungan kekuatan dan derjata keasaman.

Teori Tumbukan Reaksi Kimia

Pengertian Teori Tumbukan Reaksi Kimia. Menurut teori tumbukan, reaksi kimia terjadi karena adanya partikel-partikel yang saling bertumbukan. Jumlah tumbukan antara molekul-molekul per satuan waktu disebut frekuensi tumbukan

Tumbukan terjadi jika dua molekul atau lebih permukaannya saling bersentuhan pada satu titik. Pengertian satu titik disini adalah jika dianggap bentuk molekul bulat seperti bola, maka pada pertemuan tersebut jarak antarpusat inti sama dengan diameternya untuk jenis molekul yang mempunyai ukuran sama.

Tumbukan Efektif

Tetapi, tidak semua tumbukan akan menghasilkan reaksi kimia. Tumbukan yang dapat menghasilkan reaksi kimia dikenal dengan istilah tumbukan efektif. Tumbukan efektif adalah tumbukan yang mempunyai energi yang cukup untuk memutuskan ikatan- ikatan pada zat yang bereaksi.

Orientasi Tumbukan

Agar terjadi tumbukan yang efektif diperlukan syarat, yaitu orientasi tumbukan molekul harus tepat. Orientasi merupakan arah atau posisi antarmolekul yang bertumbukan. Untuk molekul berbentuk bulat orientasi tidak begitu penting, karena semua posisi akan mengakibatkan tumbukan dengan orientasi sesuai. Tetapi, untuk molekul yang berbentuk dua bola terpilin orientasi sangatlah penting.

Energi Aktivasi

Sebelum suatu tumbukan terjadi, partikel -partikel memerlukan suatu energi minimum yang dikenal sebagai energi pengaktifan atau energi aktivasi (Ea). Energi pengaktifan atau energi aktivasi adalah energi minimum yang diperlukan untuk berlangsungnya suatu reaksi.

Faktor yang Mempengaruhi Terjadinya Tumbukan Reaksi Kimia

Pengaruh Luas Permukaan Sentuhan Pada Tumbukan

Semakin luas permukaan sentuhan antara zat- zat pereaksi, semakin banyak molekul- molekul pereaksi yang bertumbukan. Dengan demikian, kemungkinan terjadi reaksi semakin besar sehingga reaksi lebih cepat berlangsung.

Pengaruh Sifat Kimia Pereaksi Pada Tumbukan

Senyawa- senyawa ion lebih cepat bereaksi daripada senyawa- senyawa kovalen. Pada setiap tumbukan yang terjadi antara ion positif dan ion negatif selalu dihasilkan reaksi. Hal ini disebabkan tidak ada energi tumbukan yang diperlukan untuk memutuskan ikatan terlebih dahulu. Hal ini berbeda dengan reaksi antara senyawa- senyawa kovalen yang tidak setiap tumbukan dapat menghasilkan reaksi.

Pengaruh Konsentrasi Pada Tumbukan

Dalam konsentrasi yang relative besar, maka jumlah partikel per satuan volume juga besar. Sehingga kemungkinan terjadinya tumbukan antarpartikel di dalamnya menjadi lebih besar jika dibandingkan dengan yang terjadi pada konsentrasi yang lebih rendah.

Dengan demikian semakin besar konsentrasi zat yang bereaksi, semakin banyak partikel yang bereaksi per satuan waktu dan semakin besar laju reaksinya.

Pada beberapa jenis reaksi, peningkatan konsentrasi pereaksi tidak selalu mempercepat reaksi atau peningkatan konsentrasi tidak sebanding dengan peningkatan laju reaksinya.

Pengaruh Temperatur Pada Tumbukan

Kenaikkan temperature akan mempercepat reaksi, karena dengan kenaikkan temperatur gerakan partikel semakin cepat. Energi kinetik partikel- partikel semakin bertambah sehingga semakin banyak terjadi tumbukan yang efektif. Dengan demikian, semakin banyak partikel- partikel yang bereaksi.

Pengaruh Katalis Pada Tumbukan

Katalis adalah zat yang dapat meningkatkan laju reaksi tanpa mengakibatkan perubahan kimia yang kekal bagi zat itu sendiri. Setelah reaksi kimia berlangsung, katalis diperoleh kembali dalam keadaan dan jumlah yang sama seperti sebelum terjadi reaksi.

Agar terjadi suatu reaksi, maka partikel partikel zat harus memiliki energi minimum tertentu yang disebut energi pengaktifan. Dalam hal ini, katalis berfungsi untuk menurunkan sejumlah energi pengaktifan agar reaksi dapat berlangsung.

Pengaruh Jenis Katalis Pada Tumbukan

Katalis dapat digolongkan menjadi katalis homogen dan heterogen.

Pengaruh Katalis Homogen Pada Tumbukan

Katalis homogen adalah katalis yang memiliki fase yang sama dengan pereaksi dan bekerja melalui penggabungan dengan molekul atau ion pereaksi membentuk keadaan ‘antara’.

Keadaan antara ini bergabung dengan pereaksi lainnya membentuk produk dan setelah produk dihasilkan, katalis melakukan regenerasi sebagai zat semula.

Pengaruh Katalis Heterogen Pada Tumbukan

Katalis heterogen adalah katalis yang berbeda fase dengan pereaksi dan produk. Katalis ini biasanya padatan dalam pereaksi gas atau cairan, dan reaksi terjadi pada permukaan katalis heterogen. Untuk alasan ini, katalis biasanya dipecah- pecah menjadi butiran halus.

Daftar Pustaka

Teori Tumbukan Reaksi Kimia dan Pengertian Teori Tumbukan Reaksi Kimia dengan frekuensi tumbukan dan Pengertian satu titik tumbukan. Tumbukan Efektif dan Orientasi Tumbukan beserta posisi antarmolekul yang bertumbukan. Energi Aktivasi dan energi minimum untuk suatu reaksi serta Faktor Mempengaruhi Terjadinya Tumbukan Reaksi Kimia.

Pengaruh Luas Permukaan Sentuhan terhadap tumbukan dan Pengaruh Sifat Kimia Pereaksi terhadap tumbukan. Pengaruh Konsentrasi terhadap tumbukan dengan Pengaruh Temperatur terhadap tumbukan. Pengaruh Katalis terhadap tumbukan dan Pengaruh Jenis Katalis terhadap tumbukan. Katalis Homogen dan Katalis Heterogen.

Tata Nama Senyawa Kimia

Pengertian Tata Nama Senyawa Kimia. Penamaan senyawa diatur oleh Komisi Tata Nama IUPAC (International Union for Pure and Applied Chemistry), suatu badan di bawah UNESCO yang menyusun suatu aturan berdasarkan hasil kesepakatan para ilmuwan sedunia, hal ini dilakukan dangan tujuan agar nama senyawa di seluruh negara sama.

Tata nama senyawa yang digunakan secara seragam di seluruh dunia Terdapat dua kelompok besar senyawa, yaitu senyawa anorganik dan senyawa organik.

Tata Nama Senyawa Anorganik

Senyawa anorganik adalah golongan senyawa yang tersusun dari unsur-unsur yang tidak mengandung atom karbon organik. Umumnya senyawa anorganik relatif sederhana dan dikelompokkan ke dalam senyawa biner dan senyawa poliatom.

Senyawa anorganik terdiri dari senyawa biner dari logam dan non logam, senyawa biner dari non logam dan non logam, senyawa yang mengandung poliatom senyawa asam, basa dan garam.

Tata Nama Senyawa Biner

Senyawa biner adalah senyawa yang hanya terbentuk dari dua macam unsur yang berbeda.  Senyawa biner dibagi menjadi dua macam, yaitu senyawa logam dengan non-logam dan senyawa yang terdiri dari non-logam dengan non-logam.

Senyawa Biner dari Logam dan Non-logam

Senyawa biner dari logam dan non-logam umumnya merupakan senyawa ion sehingga biasa disebut dengan senyawa ionic. Unsur Logamnya membentuk ion positif (kation) sedangkan unsur non-logam membentuk ion negatif (anion).

Penamaan senyawa ini didasarkan pada nama unsur pembentuknya yang ditulis secara berurutan sesuai penulisan rumus kimia (lambang senyawa).

Unsur yang berada di depan disebut (ditulis dan dinyatakan) sesuai dengan nama unsur tersebut. Unsur yang berada di belakang disebut (ditulis dan dinyatakan) sesuai dengan nama unsur tersebut dengan menambahkan akhiran -ida. Jumlah atom unsur disebut (ditulis dan dinyatakan) dengan menggunakan angka Latin (jika diperlukan).

Contoh Nama Rumus Kimia Senyawa Biner Logam dan Non-logam

NO = nitrogen monoksida

NO2 = nitrogen dioksida

AlCl = aluminium klorida

FeCl3 = besi(III) klorida

SnO = timah(II) oksida

Pada senyawa biner tersebut, unsur logam menjadi kation (atau ion positif) sedangkan unsur nonlogamnya berlaku sebagai anion (atau ion negatif).

Jika ion positif dan ion negatif bergabung membentuk suatu senyawa, maka jumlah muatannya harus nol. Sebagai contoh:

Ion Fe3+ jika bergabung dengan ion S2– akan membentuk senyawa dengan rumus kimia Fe2S3, sebab untuk menjadikan netral setiap tiga ion S2– yang mempunyai muatan –2 memerlukan 2 buah ion Fe3+ yangbermuatan +3.

Ion Al3+ apabila bergabung dengan ion Cl akan membentuk senyawa dengan rumus kimia AlCl3 = Aluminium klorida, sebab untuk menjadikan netral setiap satu ion Al3+ yang bermuatan +3 memerlukan tiga ion Cl yang bermuatan –1.

Senyawa Biner Non-logam dan Non-logam

Senyawa biner yang dibentuk oleh unsur non-logam dan non logam merupakan senyawa yang tersusun atas molekul- molekul, bukan ion- ion.

Jika senyawa biner terdiri atas atom unsur nonlogam dan nonlogam, maka penamaan dimulai dari nonlogam pertama diikuti nonlogam kedua dengan diberi akhiran -ida.

HCl = Hidrogen klorida

ClF = Klorin fluorida

HBr = Hidrogen bromida

IBr = Iodin bromida

Apabila dua jenis unsur non-logam dapat membentuk lebih dari satu jenis senyawa, maka penamaannya digunakan awalan Yunani.

Awalan Angka Yunani

Mono = 1, Di = 2, Tri = 3, Tetra = 4,  Penta = 5, Heksa = 6, Hepta = 7, Okta = 8, Nona = 9, Deka = 10.

Contoh Senyawa Biner Non-logam dan Non-logam

CO = Karbon monoksida

CO2 = Karbon dioksida

N2O5 = Dinitrogen pentaoksida

PCl5 = Fosfor pentaklorida

SO3 = Belerang trioksida

Tata Nama Senyawa Anorganik Poliatomik

Senyawa anorganik poliatomik pada umumnya merupakan senyawa ion yang terbentuk dari kation monoatomic dengan anion poliatomik atau kation poliatomik dengan anion monoatomik/poliatomik. Penamaan dimulai dengan menyebut kation diikuti anionnya.

Untuk senyawa yang terdiri atas kation logam dan anion poliatom, maka penamaan dimulai dari nama kation logam diikuti nama anion poliatom.

Contoh Nama Senyawa Anorganik Poliatomik

NaOH dari Na+ dan OH nama senyawanya Natrium hidroksida;

KMnO4 dari K+ dan MnO4 nama senyawanya Kalium permanganat;

PbSO4 dari Pb2+ dan SO42- nama senyawanya Timbal (II) sulfat.

Untuk senyawa yang terdiri atas kation poliatom dan anion monoatom atau poliatom, penamaan dimulai dari nama kation poliatom diikuti nama anion monoatom atau poliatom.

Contoh:

NH4Cl = ammonium klorida

NH4CN = ammonium sianida

(NH4)2SO4 = ammonium sulfat

Tata nama senyawa poliatom yang mengandung oksigen didasarkan pada jumlah atom oksigen yang dikandungnya. Senyawa yang mengandung jumlah oksigen paling banyak diberi akhiran -at, sedangkan yang paling sedikit diberi akhiran -it.

Contoh:

Na2SO4 (natrium sulfat), Na2SO3 (natrium sulfit)

KClO3 (kalium klorat), KClO2 (kalium klorit).

Tata nama senyawa tersebut tidak memadai setelah ditemukan senyawa yang memiliki kandungan atom oksigen lebih banyak atau lebih sedikit dari senyawa senyawa tersebut. Untuk itu, senyawa yang mengandung atom oksigen lebih banyak lagi diberi awalan per-, sedangkan senyawa yang lebih sedikit dari contoh senyawa di atas diberi awalan hipo-.

Contoh:

KClO4 dinamakan kalium perklorat

KClO3 dinamakan kalium klorat

KClO2 dinamakan kalium klorit

KClO dinamakan kalium hipoklorit

Daftar Pustaka

Pengertian Tata Nama Senyawa Kimia dengan Komisi Tata Nama IUPAC. IUPAC International Union for Pure and Applied Chemistry untuk Tata Nama Senyawa Anorganik sebagai Tata Nama Senyawa Anorganik dengan Senyawa anorganik dan Tata Nama Senyawa Biner. Senyawa biner dan senyawa poliatom atau senyawa logam dan non logam.

Senyawa non logam dan non logam dengan Unsur Logam membentuk ion positif kation dan unsur non-logam membentuk ion negatif (anion).  Senyawa biner ionic sebagai Contoh Nama Rumus Kimia Senyawa Biner Logam dan Non-logam dengan jumlah muatan senyawa harus nol.

Senyawa Biner Non-logam dan Non-logam dengan Contoh Senyawa Biner Non-logam dan Non-logam. Tata Nama Senyawa Anorganik Poliatomik dengan Contoh Nama Senyawa Anorganik Poliatomik.

Teori Asam Basa Lewis

Pengertian Teori Asam Basa Lewis.  Pada tahun 1923 G.N. Lewis seorang ahli kimia dari Amerika Serikat, memperkenalkan teori asam dan basa yang tidak melibatkan transfer proton, tetapi melibatkan penyerahan dan penerimaan pasangan elektron bebas.

Lewis menyampaikan teori baru tentang asam basa sehingga partikel ion atau molekul yang tidak mempunyai atom hidrogen atau proton dapat diklasifikasikan ke dalam asam dan basa.

Pengertian Asam Basa Lewis

Berdasarkan perssamaan reaksi asam basa yang disampaikannya, Lewis menyatakan bahwa asam adalah suatu molekul atau ion yang dapat menerima pasangan elektron, sedangkan basa adalah suatu molekul atau ion yang dapat memberikan pasangan elektronnya.

Dengan demikian, Menurut G.N. Lewis, senyawa asam adalah senyawa yang dapat menerima pasangan elektron (atau akseptor pasangan elektron), sedangkan senyawa basa adalah suatu senyawa yang dapat memberikan pasangan elektron kepada senyawa lain (atau donor pasangan elektron),

Ion H+ merupakan asam Lewis, karena Ion H+ menerima pasangan elektron, sedangkan OH dan NH3 adalah basa Lewis, karena keduanya adalah penyumbang pasangan elektron.

Contoh Asam Basa Teori Lewis.

Teori asam basa Lewis dapat digambarkan pada reaksi berikut.

Boron Trifluorida dan Fluor

Contoh Asam Basa Teori Lewis
Contoh Asam Basa Teori Lewis

BF3 bertindak sebagai asam, dapat menerima pasangan elektron dari F. Fbertindak sebagai basa, dapat memberikan pasangan elektron kepada BF3.

Boron Trifluorida dengan Amonia

NH3 menyerahkan pasangan elektron bebasnya kepada molekul BF3. Menurut teori ini NH3 bertindak sebagai asam dan BF3 bertindak sebagai basa. Pada pembentukan senyawanya terjadi ikatan kovalen koordinasi.

Contoh Asam Basa Teori Lewis. Ikatan Kovalen
Contoh Asam Basa Teori Lewis. Ikatan Kovalen

Reaksi antara Na2O dan SO3

Reaksi ini melibatkan reaksi ion oksida O2– dari Na2O padat dan gas SO3.

Na2O(s) + SO3(g) = Na2SO4(s)

Atau O2– + SO3 –> [SO4]2–

Pada reaksi tersebut, SO3 menerima pasangan electron dari ion O2– dan pada waktu bersamaan, pasangan electron ikatan dari S = O bergerak ke arah atom O, jadi O2– merupakan basa Lewis dan SO3 adalah asam Lewis.

Yang cukup menarik definisi asam dari teori Lewis adalah terdapatnya senyawa yang tidak memiliki hidrogen dapat bertindak sebagai asam. Contohnya adalah molekul BF3.

Dengan menentukan struktur Lewis dari BF3, diketahui B kurang dari oktet dan dapat menerima pasangan elektron, sehingga dapat bertindak sebagai asam Lewis.

Dalam kenyataan molekul yang tidak mencapai oktet sering merupakan asam Lewis yang kuat karena molekul tersebut dapat mencapai konfigurasi oktet dengan menerima pasangan elektron tak berikatan.

Senyawa yang termasuk dalam perioda yang lebih bawah dari perioda dua pada system periodic unsur kimia dapat bertindak sebagai asam Lewis yang sangat baik, dengan memperbanyak susunan valensi terluarnya.

Keunggulan Teori  Asam Basa Lewis

Beberapa keunggulan dari teori asam basa Lewis adalah sebagai berikut.

Teori asam basa Lewis dapat menjelaskan sifat asam, basa dalam pelarut lain atau pun tidak mempunyai pelarut.

Teori asam basa Lewis dapat menjelaskan sifat asam basa molekul atau ion yang mempunyai pasangan elektron bebas atau yang dapat menerima pasangan elektron bebas. Contohnya pada pembentukan senyawa komplek.

Dapat menjelaskan sifat basa untuk zat- zat organic seperti DNA dan RNA yang mengandung atom nitrogen yang memiliki pasangan elektron bebas.

Daftar Pustaka:

  1. Brady, James, E,1999, “Kimia Universitas Asas dan Struktur”, Edisi Kelima, Jilid Satu, Binarupa Aksara, Jakarta,
  2. Brady, James, E., 1999, “Kimia Universitas Asas dan Struktur”, Edisi Kelima, Jilid Dua, Binarupa Aksara, Jakarta.
  3. Sunarya, Yayan, 2014, “Kimia Dasar 1, Berdasarkan Prinsip Prinsip Kimia Terkini”, Cetakan Ketiga, Yrama Widya, Bandung.
  4. Sunarya, Yayan, 2013, “Kimia Dasar 2, Berdasarkan Prinsip Prinsip Kimia Terkini”, Cetakan Kedua, Yrama Widya, Bandung.
  5. Syukri, S., 1999, “Kimia Dasar 2”, Jillid 2, Penerbit ITB, Bandung
  6. Chang, Raymond, 2004, “Kimia Dasar, Konsep -konsep Inti”, Edisi Ketiga, Jilid Satu, Penerbit, Erlangga, Jakarta.
  7. Ardra.Biz, 2019, “Teori Asam Basa Lewis dengan Pengertian Asam Basa Lewis dan Teori asam basa beradasarkan serah terima pasangan elektron bebas. Senyawa Asam Lewis menerima pasangan electron dan Senyawa Basa Lewis memberikan pasangan electron.
  8. Ardra.Biz, 2019, “Senyawa Asam sebagai akseptor pasangan electron sedangkan senyawa basa donor pasangan electron. Contoh Asam Basa Teori Lewis sebagai Contoh gambar teori asam basa Lewis.
  9. Ardra.Biz, 2019, “Konfigurasi oktet teori asam Lewis dengan Keunggulan Teori  Asam Basa Lewis dan sifat basa zat organic DNA dan RNA.

Teori Asam Basa Arrhenius

Pengertian Asam dan Basa. Senyawa asam dan basa banyak dijumpai dalam kehidupan sehari-hari. Secara umum zat- zat yang berasa masam mengandung asam, misalnya asam sitrat pada jeruk, asam cuka, asam tartrat pada anggur, asam laktat ditimbulkan dari air susu yang rusak.

Sedangkan basa umumnya mempunyai sifat yang licin dan berasa pahit, misalnya sabun, para penderita penyakit maag selalu meminum obat yang mengandung magnesium hidroksida

Konsep tentang asam dan basa sudah dikenal sejak abad 18-an. Untuk pertama kalinya, pada tahun 1884 seorang ilmuwan asal Swiss yang bernama Svante August Arrhenius, menyatakan suatu teori tentang asam basa.

Arrhenius berpendapat bahwa dalam air, larutan asam dan basa akan mengalami penguraian menjadi ion- ionnya.

Senyawa Asam

Pengertian Senyawa Asam. Menurut Arrhenius, larutan bersifat asam jika senyawa tersebut melepaskan ion hidronium (H3O+) saat dilarutkan dalam air. Sebagai contohnya, asam asetat (CH3COOH) yang dilarutkan dalam air melepaskan ion hidronium seperti reaksi berikut.

CH3COOH(aq) + H2O(l) –>H3O+(aq) + CH3COO(aq)

Untuk memudahkan dalam pembahasan, biasanya digunakan H+ sebagai pengganti dari ion hidronium (H3O+) dan penghilangan molekul air yang melarutkan senyawa tersebut sehingga reaksi di atas dapat ditulis seperti di bawah ini.

CH3COOH(aq) –> H+(aq) + CH3COO(aq)

Para ahli kimia berpendapat bahwa ion H+ hampir tidak bisa berdiri sendiri dalam larutan. Hal ini dikarenakan ion H+ merupakan ion dengan jari- jari ion yang sangat kecil. Oleh karena itu, ion H+ terikat dalam suatu molekul air dan sebagai ion oksonium (H3O+). Akan tetapi, ion H3O+ lebih sering ditulis ion H+.

Berdasarkan teori Arrhenius, yang menyebabkan asam suatu larutan adalah ion H+ yang dihasilkan saat proses ionisasi. Jumlah ion H+ dari ionisasi 1 mol asam disebut valensi asam, sedangkan anionnya yang bermuatan negative disebut sebagai ion sisa asam.

Ion H+ inilah yang sebenarnya pembawa sifat asam dan yang menyebabkan warna kertas lakmus biru menjadi merah. Dengan demikian, larutan asam adalah senyawa yang jika dilarutkan dalam air menghasilkan ion H+.

Menurut teori Arrhenius, hidrogen klorida adalah asam karena dapat mengionisasi ketika larut dalam air dan memberikan ion hidrogen (H+) dan klorida (Cl) seperti yang ditunjukkan pada reaksi berikut.

HCl(g) –> H+(aq) + Cl(aq)

Hidrogen klorida –> ion hydrogen + ion klor

Larutan Asam yang banyak menghasilkan ion hidrogen H+ disebut asam kuat, sedangkan asam yang menghasilkan sedikit ion H+ disebut asam lemah.

Sifat kuat atau lemah dari asam dapat diketahui dengan menggunakan alat uji elektrolit. Jumlah ion H+ yang dilepaskan oleh asam disebut valensi asam.

Jenis Jenis Senyawa Asam

Satu molekul asam yang dalam pelarut air dapat memberikan satu ion H+ disebut asam monoprotik dan yang dapat memberikan dua ion H+ dalam larutannya disebut asam diprotik, sedangkan yang dapat memberikan tiga ion H+ dalam larutannya disebut asam triprotik.

Berikut ini diberikan beberapa contoh asam monoprotik, diprotik, dan tripotik serta reaksi ionisasinya.

Asam Monoprotik.

Asam monoprotic adalah senyawa asam yang dapat melepaskan satu ion H+.

Contoh Asam monoprotic adalah Asam Fluorida HF, asam bromide HBr, asam sianida HCN, asam perklorat HClO4 dan asam nitrit HNO2

Asam Diprotik

Asam diprotik adalah senyawa asam yang dapat melepaskan dua ion H+.

Contoh asam diprotic adalah asam sulfida H2S, asam sulfit H2SO3, Asam karbonat H2CO3, asam oksalat H2C2O4, dan asam sulfat H2SO4.

Asam Triprotik

Asam triprotik adalah senyawa asam yang dapat melepaskan tiga ion H+.

Contoh asam tripotik adalah asam fosfit H3PO3, asam fosfat H3PO4, asam arsenit H3AsO3 dan asam arsenat H3PO4.

Senyawa Basa

Arrhenius juga berpendapat bahwa basa adalah senyawa yang mengionisasi dalam air untuk memberikan ion OH- dan ion positif.

Contoh Senyawa Basa

Natrium hidroksida dalam air.

NaOH(aq) –> Na+(aq) + OH(aq)

Gas amonia dalam air.

Gas amonia akan bereaksi dengan air dan setelah itu menghasilkan ion OH.

NH3(g) + H2O(l) = NH4+ (aq) + OH(aq)

Berdasarkan pada persamaan reaksi ionisasi basanya dapat diketahui bahwa senyawa basa dalam air akan terionisasi menghasilkan ion OH. Dengan demikian, sifat basa suatu senyawa atau larutan disebabkan oleh adanya ion OH .

Ion OH merupakan ion yang berkontribusi dan pembawa sifat basa yang menyebabkan warna kertas lakmus merah berubah menjadi biru.

Basa yang dalam larutan banyak menghasilkan ion OH disebut basa kuat, sedangkan yang sedikit menghasilkan ion OH disebut basa lemah.

Jenis Jenis Senyawa Basa

Senyawa basa dapat dikelompokan berdasarkan jumlah gugus OH yang dapat dilepas, yaitu basa monohidroksi dan polihidroksi.

Senyawa Basa Monohidroksi

Basa monohidroksi adalah senyawa basa yang dapat melepaskan satu ion OH.

Contoh Senyawa Basa Monohidroksi adalah NaOH, KOH, dan NH4OH.

Basa  Polihidroksi

Basa polihidroksi adalah senyawa basa yang dapat melepaskan lebih dari satu ion OH. Basa ini dapat dibagi menjadi

Basa Dihidroksi

Basa dihidroksi adalah senyawa basa yang dapat melepaskan dua ion OH.

Contoh Senyawa Basa Dihidroksi Mg(OH)2 dan Ba(OH)2.

Basa Trihidroksi

Basa trihidroksi adalah senyawa basa yang melepaskan tiga ion OH.

Contoh Senyawa Basa Trihidroksi Fe(OH)3 dan Al(OH)3.

Daftar Pustaka:

  1. Brady, James, E,1999, “Kimia Universitas Asas dan Struktur”, Edisi Kelima, Jilid Satu, Binarupa Aksara, Jakarta,
  2. Brady, James, E., 1999, “Kimia Universitas Asas dan Struktur”, Edisi Kelima, Jilid Dua, Binarupa Aksara, Jakarta.
  3. Sunarya, Yayan, 2014, “Kimia Dasar 1, Berdasarkan Prinsip Prinsip Kimia Terkini”, Cetakan Ketiga, Yrama Widya, Bandung.
  4. Sunarya, Yayan, 2013, “Kimia Dasar 2, Berdasarkan Prinsip Prinsip Kimia Terkini”, Cetakan Kedua, Yrama Widya, Bandung.
  5. Syukri, S., 1999, “Kimia Dasar 2”, Jillid 2, Penerbit ITB, Bandung
  6. Chang, Raymond, 2004, “Kimia Dasar, Konsep -konsep Inti”, Edisi Ketiga, Jilid Satu, Penerbit, Erlangga, Jakarta.
  7. Ardra.Biz, 2019, “Teori Asam Basa Arrhenius dengan Pengertian Senyawa asam dan basa sebagai contoh senyawa asam dan Contoh senyawa basa. Konsep teori asam basa Arrhenius dengan Pengertian Asam Kuat dan
  8. Ardra.Biz, 2019, “Pengertian asam lemah sebagai contoh asam kuat. Contoh asam lemah dengan Jumlah ion Hsebagai pengertian valensi asam. Pengaruh jumlah ion H terhadap keasaman larutan senyawa dan Jenis Jenis Senyawa Asam.
  9. Ardra.Biz, 2019, “Asam Monoprotik sebagai Contoh Asam monoprotic dan Asam Diprotik dengan Contoh asam diprotic. Asam Triprotik dengan Contoh asam tripotik dengan Senyawa Basa beserta Contoh Senyawa Basa.
  10. Ardra.Biz, 2019, “Pengaruh jumlah Ion OH terhadap keasaman senyawa dan senyawa basa lemah. Contoh basa lemah dengan Jenis Jenis Senyawa Basa dan Senyawa Basa Monohidroksi sebagai Contoh Senyawa Basa Monohidroksi.
  11. Ardra.Biz, 2019, “Basa  Polihidroksi dengan contoh Basa polihidroksi. Basa Dihidroksi dengan Contoh Senyawa Basa Dihidroksi dan Basa Trihidroksi sebagai Contoh Senyawa Basa Trihidroksi.