Rasio Indeks Gini Kurva Lorenz: Contoh Soal Rumus Perhitungan Membuat Grafik Kurva Lorenz

Beberapa indikator yang dapat digunakan untuk mengukur tingkat ketimpangan distribusi pendapatan diantaranya adalah sebagai berikut

Rasio Indeks Koefisien Gini

Indikator yang digunakan untuk mengetahui besarnya tingkat ketimpangan distribusi pendapatan nasional dalam suatu negara atau daerah adalah Indeks Gini (Gini Index).

Rasio Gini atau koefisien Gini atau indeks Gini adalah besaran yang digunakan untuk mengukur derajat ketidakmerataan atau ketimpangan distribusi pendapatan terhadap jumlah penduduk.

Konsep Rasio Gini


Konsep ini didasarkan pada sebuah kuva berbentuk garis lengkung yang disebut dengan Kurva Lorenz, yaitu sebuah kurva yang menyatakan hubungan tidak linear antara persentase kumulatif pendapatan dengan persentase kumulatif penduduk.

Contoh Gambar Kurva Lorenz

Gambar berikut akan memberikan penjelasan yang lebih sederhana.

Contoh Gambar Kurva Lorenz Ketimpangan Pendapatan
Contoh Gambar Kurva Lorenz Ketimpangan Pendapatan

Sumbu horisontal merepresentasikan persentase kumulatif penduduk, sedangkan sumbu vertikalnya menyatakan persentase kumulatif pendapatan.

Garis diagonal 0-G menunjukkan hubungan linear antara persentase kumulatif pendapatan dan persentase kumulatif penduduk. Garis lurus diagonal ini disebut sebagai “garis kemerataan sempurna”.

Sepanjang garis linear ini, perbandingan kumulatif antara pendapatan dengan penduduk nilainya adalah satu.

Nilai Persentase kumulatif pendapatan sama dengan persentase kumulatif penduduk. Titik -titik pada garis ini menunjukkan distribusi pendapatan yang merata pada semua penduduk.

Kurva Lorenz menunjukkan hubungan tidak linear antara  nilai pendapatan yang dimiliki oleh jumlah penduduk tertentu. Titi – titik pada kurva Lorenz menunjukkan ketimpangan distribusi pendapatan yang diterima oleh penduduk.

Rumus Gini Ratio = Indeks Gini

Luas A merupakan luas daerah yang dibatasi oleh kurva Lorenz (garis lengkung) dengan garis diagonal lurus 0 – G. Sedangkan Luas B merupakan luas daerah di bawah Kurva Lorenz.

Nilai Gini Rasio atau Koefesien Gini atai Indeks Gini dapat dinyatakan dengan menggunakan persamaan rumus berikut:

Gini Rasio = Luas A/(Luas A + Luas B)

Nilai Gini Rasio akan berkisar antara nol sampai dengan satu. Nilai Gini Rasio akan nol ketika luas A sama dengan Nol. Yaitu ketika kurva Lorent sama dengan garis lurus 0-G. Nilai Gini Rasio akan satu ketika luas A sama dengan Luas A + Luas B. Yaitu ketika Luas B sama dengan luas nol.

Jadi Koefisien Gini atau Gini Ratio digunakan untuk mengukur tingkat ketidakmerataan atau ketimpangan agregat (secara keseluruhan) memiliki nilai antara nol (pemerataan sempurna) hingga satu (ketimpangan yang sempurna).

Semakin jauh jarak kurva Lorenz dari garis diagonal, semakin tinggi tingkat ketimpangannya. Sebaliknya semakin dekat jarak kurva Lorenz dari garis diagonal, semakin tinggi tingkat pemerataan distribusi pendapatannya.

Nilai Gini Rasio sama dengan 0, ini artinya distribusi pendapatan merata sempurna. artinya setiap orang menerima pendapatan yang sama persis dengan yang lainnya.

Nilai Gini Rasio sama dengan 1 artinya distribusi pendapatan timpang sempurna atau pendapatan yang diterima oleh satu orang atau satu kelompok penduduk berbeda dengan satu orang atau kelompok lainnya..

Titik G1 berada pada garis linear yang menunjukkan distribusi pendapatan merata sempurna. Pada titik G1 dapat dikatakan bahwa 40% dari total pendapatan terdistribusi terhadap 40 % penduduk.

Dan sisanya 60 % dari total pendapatan terdistribusi terhadap 60% penduduknya. Ini artinya pendapatan yang diterima oleh 40% penduduk sama besar dengan pendapatan yang diterima oleh 60% penduduk yang lainnya.

Titik G3 berada pada Kurva Lorenz yang menunjukkan distribusi pendapatan timpang atau tidak merata. Pada titik G3 dapat dikatakan bahwa 20 % dari total pendapatan terdistribusi untuk 40% penduduk.

Dan sisanya 80% dari total pendapatan terdistribusi untuk 60% penduduk. Ini artinya 40% penduduk memiliki pendapatan yang lebih rendah dari 60% penduduk lainnya. Pada titik G3 terdapat ketimpangan distribusi pendapatan untuk kelompok penduduk 40% dengan kelompok penduduk yang 60% -nya.

Titik G2 berada pada kurva Lorenz, ini artinya distribusi pendapatan timpang. Pada titik G2 terlihat bahwa 40% dar total pendapatan terdistribusi untuk 62% jumlah penduduk.

Dan 60% dari total pendapatan terdistribuksi terhadap 38 % penduduk. Ada ketimpangan pendapatan antara kelompok 62% penduduk dengan 38% penduduknya.

Dimana 38% penduduk menerima 60% bagian dari total pendapatan. 38% penduduk memiliki pendapatan yang lebih tinggi dati 62% penduduk lainnya.

Tabel Indikator Ketimpanagn Distribusi Pendapatan Rasio Gini

Tabel berikut ini memperlihatkan patokan yang mengatagorikan ketimpangan distribusi berdasarkan nilai Rasio Gini.

Tabel Nilai Rasio Gini
Tabel Nilai Rasio Gini

Indikator Ketimpangan Pendapatan Menurut Bank Dunia

Bank Dunia mengukur ketimpangan distribusi pendapatan suatu negara dengan melihat besarnya kontribusi dari 40% kelompok penduduk termiskin terhadap total pengeluarannya.

Dalam hal ini, pendapatan yang diterima masyarakat didekati oleh pengeluaran yang dilakukan masyarakat. Argumennya bahwa pengeluaran menunjukkan pendapatan.

Kriterianya dapat dilihat pada table berikut:

Tabel Distribusi dan Tingkat Ketimpangan Pendapatan oleh Bank Dunia

Tabel Ketimpangan Pendapatan Bank Dunia
Tabel Ketimpangan Pendapatan Bank Dunia

Dari table diketahui, jika pengeluaran yang dilakukan oleh 40% penduduk kurang 12% dari total pengeluaran seluruh penduduknya, maka tingkat ketimpangannya dikatakan sangat tinggi.

Contoh Soal Perhitungan Rasio Indeks Gini Dan Membuat Kurva Lorenz

Pada sebuah kota diketahui jumlah penduduknya adalah 350.000 jiwa dengan distribusi pendapatan tiap bulannya seperti ditunjukkan dalam table berikut:

10 Contoh Soal Perhitungan Rasio Indeks Gini Dan Membuat Kurva Lorenz
Contoh Soal Perhitungan Rasio Indeks Gini Dan Membuat Kurva Lorenz

Pada table di atas dapat diketahui bahwa nilai pendapatan rata rata terkecil adalah 2 juta rupiah yang tiap bulannya diperoleh 150.000 jiwa penduduk kota.

Sedangkan nilai pendapatan rata rata tertinggi adalah 100 juta rupiah yang diperoleh 10.000 jiwa penduduk, yang merupakan Sebagian kecil dari penduduk kota. Seberapa besar ketimpangan pendapatan penduduk tersebut ?

Untuk menjawabnya, maka buatlah kurva Lorenz dari distribusi pendapatan penduduk kota tesebut dan hitung Rasio Gini penduduk kota tersebut.

Cara Membuat Kurva Lorenz ,

Kurva Lorenz dibangun oleh Sumbu horisontal yang merepresentasikan prosentase kumulatif penduduk dan sumbu vertical yang menyatakan persentase kumulatif pendapatan.

Tabel Membuat Persentase Kumulatif Penduduk Rasio Gino Kurva Lorenz,

Persentase kumulatif penduduk dapat dihitung dengan menggunakan excel atau manual dengan cara seperti berikut:

20. Membuat Persentase Kumulatif Penduduk Rasio Gino Kurva Lorenz,
 Tabel Membuat Persentase Kumulatif Penduduk Rasio Gino Kurva Lorenz,

Kolom (a) merupakan jumlah kelompok penduduk (kelas) berdasarkan pendapatan. Baris pertama ( i = 1) adalah jumlah penduduk yang memiliki pendapatan rata rata Rp 2 juta per bulan yaitu 150.000 jiwa.

Baris kedua ( i = 2) merupakan jumlah penduduk 100.000 jiwa dengan pendapatan peruan 5 juta rupiah, dan seterusnya sampai baris kelima (i = 5).

Notasi huruf (i) menunjukkan urutan berdasarkan pendapatan rata rata penduduk dari yang terendah sampai tertinggi.

Menghitung Persentase Penduduk Rasio Gini Kurva Lorenz,

Kolom (a) dijumlahkan dari baris pertama (i=1) hingga baris kelima (i=5), sehingga diperoleh total penduduk adalah 350.000 jiwa.

Kolom (b) merupakan persentasi kolompok penduduk (i) dari total penduduk yang dihitung seperti berikut.

Baris pertama (i=1), merupakan persentase kelompok penduduk berpengahasilan 2 juta rupiah dari total penduduk yaitu

(150.000/350.000)x100% = 42,86%

Baris kedua (i=2), merupakan persentase kelompok penduduk berpengahasilan 5 juta rupiah dari total penduduk yaitu

(100.000)/(350.000)x100% = 28,57%

Baris ketiga (i =3) merupakan persentase kelompok penduduk berpengahasilan 10 juta rupiah dari total penduduk yaitu.

(75.000/350.000)x100% = 21,43%

dan seterusnya sampai baris kelima (i=5), sehingga totalnya adalah 100%.

Menghitung Persentase Kumulatif Penduduk Rasio Gini Kurva Lorenz,

Kolom (c) merupakan persentase kumulatif jumlah penduduk yang dihitung dengan cara seperti berikut:

Baris pertama (i =1) merupakan persentase kumulatif kelompok penduduk berpengahasilan 2 juta rupiah yaitu

42,86%

Baris kedua (i =2) merupakan persentase kumulatif kelompok penduduk berpengahasilan 2 juta rupiah dan 5 juta rupiah yaitu

42,86% + 28,57% = 71,43%

Baris ketiga (i =3) merupakan persentase kumulatif kelompok penduduk berpengahasilan 2 juta rupiah, 5 juta rupiah dan 10 juta rupiah yaitu:

42,86% + 28,57% + 21,43% = 92,86%

dan seterusnya sampai baris kelima (i=5)

Menghitung Persentase Kumulatif Pendapatan Penduduk Rasio Gini Kurva Lorenz,

Persentase kumulatif pendapatan rata rata penduduk dapat dihitung dengan menggunakan excel atau manual dengan cara seperti berikut

30. Menghitung Persentase Kumulatif Pendapatan Penduduk Rasio Gini Kurva Lorenz,
Tabel Menghitung Persentase Kumulatif Pendapatan Penduduk Rasio Gini Kurva Lorenz,

Kolom (a) sama dengan penjelasan sebelumnya, merupakan jumlah kelompok penduduk (kelas i) berdasarkan pendapatan. Baris pertama ( i = 1) adalah jumlah penduduk yang memiliki pendapatan rata rata Rp 2 juta per bulan yaitu 150.000 jiwa, dan seterusnya.

Kolom (d) merupakan pendapatan rata rata untuk tiap kolompok penduduk (kelas, i) yang diterima tiap bulannya.

Menghitung Total Pendapatan Kelompok Penduduk Rasio Gini Kurva Lorenz,

Total pendapatan kelompok penduduk dihitung dengan cara berikut:

Kolom (a x d) merupakan total pendapat untuk tiap kolompok penduduk (kelas i) yang dihitung dengan cara mengkalikan kolom (a) dan kolom (d).

Baris pertama (i=1) merupakan pendapatan total kelompok penduduk yang pendapatannya 2 juta rupiah yaitu

150.000 x 2.000.000 = Rp 300. miliar

Baris kedua (i=2) meupakan pandapatan total kelompok penduduk yang pendapatannya 5 juta rupiah yaitu

100.000 x 5.000.000 = RP 500 miliar

dan seterusnya sampai baris kelima (i=5). kemudian dijumlahkan sehingga diperoleh total pendapata seluruh penduduk (350.000 jiwa) yaitu Rp 2.850 miliar atau 2,85 triliun rupiah.

Menghitung Persentase Pendapatan Penduduk Rasio Gini Kurva Lorenz,

Persentase pendapatan kelompok penduduk ditunjukkan pada kolom (e) yang dihitung dengan cara sebagi berikut:

Baris pertama (i=1), merupakan persentase pendapata total kelompok penduduk berpendapatan 2 juta rupiah dari seluruh pandapatan penduduk  yaitu

(300 M)/(2,850 T)x 100% = 10,53%

M = miliar rupiah

T = triliun rupiah

Baris kedua (i=2), merupakan persentasi pendapatan total kelompok penduduk yang berpendapatan 5 juta rupiah dari seluruh pendapatan penduduk yaitu

(100 M)/(2,850 T) x100% = 17,54 %

dan seterusnya sampai baris kelima (i=5)

Cara Menghitung Persentase Kumulatif Pendapatan Penduduk Rasio Gini Kurva Lorenz,

Persentase pendapatan kumulatif penduduk ditunjukkan dalam kolom (f) yang dihitung dengan cara sebagai berikut:

Baris pertama (i=1) merupakan persentase pendapatan kumulatif dari kelompok penduduk berpendapatan 2 juta rupiah yaitu

10,53 %

Baris kedua (i=2), merupakan persentase pendapatan kumulatif kelompok penduduk yang berpendapatan 2 juta dan 5 juta rupiah yaitu

10,53% + 17,54% = 28,07 %

Baris ketiga (1=3) merupakan persentase pendapatan kumulatif kelompok penduduk yang berpendapatan 2 juta, 5 juta dan 10 juta rupiah yaitu

10,53% + 17,54% + 26,32% = 54,39%

dan seterusnya sampai baris (i=5)                     

Cara Membuat Tabel Excel Kurva Lorenz – Tabel Excel Persentase Kumulatif Pendapatan Penduduk,

Sebagai sumbu horisotalnya adalah persentase kumulatif penduduk (kolom c) dan sumbu vertikalnya adalah persentase kumulaitf perdapatan penduduk (kolom f) yang disajikan dalam table berikut:

40. Cara Membuat Tabel Excel Kurva Lorenz – Tabel Excel Persentase Kumulatif Pendapatan Penduduk,
Cara Membuat Tabel Excel Kurva Lorenz – Tabel Excel Persentase Kumulatif Pendapatan Penduduk,

Cara Membuat Grafik Kurva Lorenz,

Data persentase kumulatif penduduk kolom (c) untuk sumbu horisotal dan persentase kumulatif pendapatan penduduk kolom (f) untuk sumbu vertical kemudian diplot pada sumbu sumbunya seperti berikut:

50. Cara Membuat Grafik Kurva Lorenz,
Cara Membuat Grafik Kurva Lorenz,

Dari gravik kurva Lorenz tersebut dapat dikatakan bahwa pendapatan penduduk sangat timpang. Perhatikan titik (3) pada kurva Lorenz tersebut…

Tampak, bahwa 92,86% dari total penduduk hanya memperoleh 54,39 persen dari seluruh pendapatan penduduk. Ini Artinya, 54,39% dari total pendapatan penduduk terditribusikan terhadap 92,86% penduduknya.

Sisanya, 7,14% penduduk memperoleh pendapatan 45,61 persen dari keseluruhan pendapatan penduduk. Artinya 45,61 persen pendapatan penduduk tersebut terdistribusi kepada 7,14% penduduk saja.

Rumus Menghitung Indeks Rasio Koefisien Gini,

Besarnya Rasio – Koefisien – Indeks Gini (GR) dapat dinyatakan dengan menggunakan persamaan rumus berikut

GR = 1 – ∑ PPi (PPKi + PPKi-1)

GR = Rasio Gini, Indeks Gini, Koefesien Gini

PPi = Persentase Kelompok Penduduk Kelas i

PPKi = Persentase Kumulatif Pendapatan Kelompok Penduduk Kelas i

PPKi-1 = Persentase Kumulatif Pendapatan Kelompok Penduduk Kelas i-1

Untuk mempermudah penyelesaian perhitungan maka dibuatkan table excel dari perhitungan sebelumnya kecuali kolom (g), kolom (f+g) dan kolom b x (f+g) yang dihitung seperti berikut:

60. Rumus Tabel Menghitung Indeks Rasio Koefisien Gini,
Rumus Tabel Menghitung Indeks Rasio Koefisien Gini,

Kolom (b) adalah persentase kelompok penduduk kelas i = PPi

Kolom (f) adalah Persentase Kumulatif Pendapatan Kelompok Penduduk Kelas i = PPKi

Kolom (g) adalah Persentase Kumulatif Pendapatan Kelompok Penduduk Kelas i-1 = PPKi-1

Perhitungannya dengan rumus GR seperti berikut

\mathrm{GR = 1- \sum_{i=1}^{n}PP_{i} x (PPK_{i}+ PPK_{i-1})}

yang disesuaikan dengan notasi yang ada dalam table, sehingga rumus Rasio Gini GR menjadi seperti ini:

\mathrm{GR = 1- \sum_{i=1}^{5} b \: x \: (f + g) }

Dari tabel diperoleh bahwa

\mathrm{ \sum_{i=1}^{5} b \: x \: (f + g)}= 0,43

Sehingga nilai GR adalah…

GR = 1 – 0,43

GR = 0,57

Nilai Gini Rasio dari penduduk  adalah 0,57 yang artinya terjadi ketimpangan pendapatan yang tinggi pada penduduk tersebut.

Contoh Soal Menghitung Rasio Indeks Koefesien Gini Dari Kurva Lorenz,

Suatu kota memiliki distribusi pendapatan yang dinyatakan dengan Kurva Lorenz seperti berikut..

70 Contoh Soal Menghitung Rasio Indeks Koefesien Gini Dari Kurva Lorenz,
Contoh Soal Menghitung Rasio Indeks Koefesien Gini Dari Kurva Lorenz,

Hitunglah Rasio – Indeks – Koefisien -Gini Kota Tersebut..

Rumus Menghitung Rasio Gini Dari Kurva Lorenz

Rumus yang digunakan untuk menghitung Rasio Gini dari kurva Lorenz adalah

\mathrm{GR = 1- \sum_{i=1}^{n}PP_{i} x (PPK_{i}+ PPK_{i-1})}

Dari persamaannya dapat diketahui, data yang diperlukan adalah persentase kelompok penduduk PPi dan persentase kumulatif pendapatan PPKi sedangkan PPKi-1  diambil dari data PPKi.

Untuk dapat menghitung Rasio Gini (GR) maka pada grafik Kurva Lorenz diberi indentitas titik titik seperti berikut:

80. Rumus Menghitung Rasio Gini Dari Kurva Lorenz
Rumus Menghitung Rasio Gini Dari Kurva Lorenz

Titik dinotasikan sebagai (i),  sehingga diperoleh i=0, i=2,  sampai i=6, semakin banyak titik yang diambil semakin baik perhitungannya.

Setiap titik (i) diurai menjadi komponen sumbu horisontal dan komponen sumbu vertical kemudian dibuatkan table seperti berikut:

90 Tabel Titik Persen Kumulatif Pendapatan Penduduk Dari Kurva Lorenz
Tabel Titik Persen Kumulatif Pendapatan Penduduk Dari Kurva Lorenz

Untuk dapat menghitung Gini Rasio GR, maka harus dihitung dulu nilai persentase kelompok penduduk dari total penduduk. Agar memudahkan perhitungannya, maka dibuat dalam table seperti berikut:

11 Tabel Titik Persen Jumlah Penduduk Persen Pendapatan Dari Kurva Lorenz
Tabel Titik Persen Jumlah Penduduk Persen Pendapatan Dari Kurva Lorenz

Kolom (a) merupakan persentase kelompok penduduk (PPi) yang dihitung dengan cara seperti berikut:

Baris kedua (i=1) merupakan persentase kelompok penduduk (kelas i=1) yaitu

(% Kum i=1 ) – (% Kum i=0)

20% – 0 = 20%

Baris ketiga (i=2) merupakan persentase kelompok penduduk (kelas i=2) yaitu

(% Kum i=2 ) – (% Kum i=2)

40% – 20% = 20% dan seterusnya sampai baris ketujuh (i=6)

Baris ketujuh (i=6) merupakan persentase kelompok penduduk (kelas i=6) yaitu

(% Kum i=6 ) – (% Kum i=5)

100% – 90% = 10%

Menentukan Nilai Persentase Kumulatif Pendapatan Penduduk,

Tahap berikutnya menentukan persentase kumulatif pendapatan kelompok penduduk kelas i-1 (PPKi-1) sedangkan PPKi adalah data pada kolom (c) yaitu persentase kumulatif pendapatan kelompok penduduk kelas i (% Kum i).

Untuk mempermudah perhitungannya maka disajikan dalam bentuk table seperti berikut:

22 Menentukan Nilai Persentase Kumulatif Pendapatan Penduduk,
Menentukan Nilai Persentase Kumulatif Pendapatan Penduduk,

Data persentase kumulatif pendapatan kelompok penduduk kelas i-1 (% kum i-1) atau (PPKi-1) ditempatkan pada kolom (d) yang ditentukan dengan menggunakan data kolom (c.) yaitu diambil dari baris di atasnya atau data i-1 seperti berikut:

Baris pertama i=0, nilia PPKi-1 adalah 0.  karena tidak ada nilai sebelum i=0 pada kolom (c)

Baris kedua (i=1),  nilai PPKi-1 adalah 0, yang merupakan nilai pada baris sebelumnya atau baris pertama kolom (c) atau baris i=0

Baris ketiga (i=2), nilai PPKi-1 adalah 10, yang merupakan nilai pada baris sebelumnya atau baris kedua kolom (c) atau baris i=1

dan seterusnya sampai baris ke 7 (i=6).

Baris ketujuh (i=6), nilai PPKi-1 adalah 80, yang merupakan nilai pada baris sebelumnya atau baris keenam kolom (c) atau baris i=5

Menghitung Rasio Gini Indeks Gini Koefisien Gini Dari Tabel Kurva Lorenz

Nilai Rasio Gini (GR) dihitung seperti contoh perhitungan sebelumnya dengan notasi disesuaikan seperti pada table berikut:

33 Menghitung Rasio Gini Indeks Gini Koefisien Gini Dari Tabel Kurva Lorenz
Menghitung Rasio Gini Indeks Gini Koefisien Gini Dari Tabel Kurva Lorenz

Kolom (c+d) merupakan penjumlahan kolom (c) dan kolom (d).

Kolom a x (c+d) merupakan perkalian kolom (a) dengan kolom (c+d)

PPi = kolom (a)

PPKi = kolom (c)

PPKi-1 = kolom (d)

Rumus yang digunakan untuk menghitung Rasio Gini dari kurva Lorenz adalah

\mathrm{GR = 1- \sum_{i=1}^{n}PP_{i} x (PPK_{i}+ PPK_{i-1})}

Rumus perhitungan Gini Ratio dapat disesuaikan dengan notasi yang ada pada table menjadi seperti ini..

\mathrm{GR = 1- \sum_{i=1}^{6} a \: x \: (c + d)}

Dari table dapat diketahui bahwa

\mathrm{ \sum_{i=1}^{6} a \: x \: (c + d)}= 0,72

sehingga Gini Rasio GR penduduk kota adalah

GR = 1 – 0,72

GR = 0,28

Nilai Gini Rasio dari penduduk  adalah 0,28 yang artinya terjadi ketimpangan pendapatan yang rendah pada penduduk tersebut.

Seandainya materi ini memberikan manfaat, dan anda ingin memberi dukungan motivasi pada ardra.biz, silakan kunjungi SociaBuzz Tribe milik ardra.biz di tautan berikut https://sociabuzz.com/ardra.biz/tribe

Daftar Pustaka:

  1. Mankiw, N., Gregory, 2003, “Teori Makroekonomi”, Edisi Kelima, Penerbit Erlangga, Jakarta.
  2. Jhingan, M.L., 2008, “Ekonomi Pembangunan Perencanaan”, Edisi Pertama, PT RajaGrafindo Persada, Jakarta.
  3. Samuelson, A., Paul. Nordhaus, D., William, 2004, “Ilmu Makro Ekonomi”, Edisi 17, PT Media Global Edukasi, Jakarta.
  4. Sukirno, Sadono, 2008, “Makroekonomi Teori Pengantar”, Edisi Ketiga, PT RajaGrafindo Persada, Jakarta.
  5. Prasetyo, P., Eko, 2011, “Fundamental Makro Ekonomi”, Edisi 1, Cetakan Kedua, Beta Offset, Yogyakarta.
  6. Putong, Iskandar. Andjaswati, N.D., 2008, “Pengantar Ekonomi Makro”, Edisi Pertama, Penerbit Mitra Wacana Media, Jakarta.
  7. Firdaus, R., Ariyanti, M., 2011, ”Pengantar Teori Moneter serta Aplikasinya pada Sistem Ekonomi Konvensional dan Syariah”, Cetakan Kesatu, AlfaBeta, cv, Bandung.

Perekonomian Empat Sektor: Pengertian Keseimbangan Contoh Soal Perhitungan

Pengertian   Perekonomian Empat Sektor. Perekonomian empat sektor disebut sebagai perekonomian bersifat terbuka atau open economy. Sifat terbuka ini, ditunjukkan oleh adanya hubungan internasional dengan negara negara asing dalam bentuk transaksi perdagangan ekspor impor.

Dengan adanya perdagangan internasional ini, maka ada dua komponen atau sektor ekonomi baru yang ikut dalam perhitungan pendapatan nasional suatu negara yaitu ekspor dan impor.

Ekspor adalah kegiatan suatu negara mengirim atau menjual produk nasionalnya ke luar negeri. Sedangkan impor adalah kegiatan negara menerima atau membeli produk dari negara lain.

Fungsi Ekspor

Funsgi ekspor dapat dinyatakan dengan menggunakan rumus berikut


X = X0

X = besar nilai ekspor

X0 = ekspor nilainya konstan tidak tergantung pada variabel apapun

Fungsi Impor

Impor otonom merupakan impor yang tidak dipengaruhi oleh variabel lain. Impor otonom dapat terjadi karena tidak semua negara mampu menghasilkan produk barang dan jasa yang dibutuhkan oleh masyarakatnya.

Fungsi impor yang didak dipengaruhi oleh variabel lain dinyatakan dengan persamaan berikut

M = M0

Impor dapat juga dipengaruhi pendapatan, sehingga jika pendapatan berubah, impor ikut berubah, Jika pendapatan naik, maka impor naik, dan jika pendapatan turun, maka impor juga turun.

Fungsi impor yang dipengaruhi oleh pendapatan nasional dapat dinyatakan dengan persamaan berikut

M = M0 + m.Y

M = besarnya impor

M0 = impor otonom (nilai impor pada pendapatan Y = nol

m = marginal propensity to impor

Y = pendapatan nasional

Keseimbangan Perekonomian Empat Sektor

Keseimbangan ekonomi akan tercapai jika Aggregate Demand AD sama dengan Aggregate Supply AS.  AD merupakan total pengeluaran masyarakat yang digunakan untuk mendapatkan produk nasional. Pengeluaran masyarakat terdiri dari pengeluaran rumah tangga C, pengeluaran rumah tangga produsen I, pengeluaran rumah tangga pemerintah G dan pengeluran rumah tangga luar negeri X – M.

Sedangkan, Aggregate supply AS merupakan total produk yang dihasilkan dalam suatu perekonomian untuk ditawarkan kepada masyarakat.

Keseimbangan perekonomian empat sektor dapat dinyatakan dengan menggunakan rumus berikut

Y = C + I + G + X – M

Y = Pendapatan nasional

C = konsumsi

I = Investasi

G = Pemerintah

X = ekspor

M = impor

Contoh Soal Perhitungan Pendapatan Nasional Keseimbangan Perekonomian Empat Sektor

Besar konsumsi masyarakat pada perekonomian suata negara dapat dinyatakan dengan C = 60 + 0,6Yd. Sedangkan besarnya pengeluaran pemerintah dinyatakan dengan G sebesar 40. Pengeluaran investasi I perusahaan adalah sebesar 20. Pada perekonomian empat sektor ini sudah ada kegiatan ekspor sebesar 30 dan sudah melakukan impor sebesar 80. Satuan uang dalam triliun rupiah.

Perhitungan Pendapatan Nasional Keseimbangan Sebelum ada Ekspor Impor

Diketahui

C = 60 + 0,6Yd

Yd = Y + Tr – Tx

Dalam kasus ini tidak ada pajak dan transfer payment

Tr = 0

Tx = 0

Fungsi konsumsinya menjadi

C = 60 + 0,6(Y + Tr – Tx)

C = 60 + 0,6(Y + 0 – 0)

C = 60 + 0,6Y

Diketahui

I = 20

G = 40

Sebelum ada ekspor impor

X = 0

M = 0

Substitusikan, C, I, G, X dan M pada persamaan keseimbangan pendapatan nasional berikut

Y = C + I + G + X – M

Besar pendapatan nasional keseimbangannya adalah

Y = 60 + 0,6Y + I + G + (X – M)

Y = 60 + 0,6Y + 20 + 40 + 0 – 0

Y = 60 + 06 Y + 60

Y = 120 + 0,6Y

Y = 120/0,4

YE = 300

Pendapatan nasional keseimbangan sebelum ada ekspor impor adalah YE = 300

Perhitungan Pendapatan Nasional Keseimbangan Setelah Ekspor Impor

Pendapatan nasional keseimbangan nasional setelah ekspor impor dapat dinyatakan dengan persamaan berikut

Y = C + I + G + (X – M)

diketahui Besar ekspor X, dan impor I adalah

X = 30

M = 80

dan sektor ekonomi lainnya adalah

C = 60 + 0,6Y

I = 20

G = 40

Substitusikan X, M, C, I, dan G pada persamaan

Y = C + I + G + (X – M)

Y = 60 + 0,6Y + 20 + 40 + (30 – 80)

Y = 120 + 0,6Y – 50

Y = 70 + 0,6 Y

Y = 70/0,4

YXE = 175

Pendapatan nasional keseimbangan setelah ada ekspor impor adalah YE = 175

Pengaruh Ekspor Impor Pendapatan Nasional Pada Perekonomian Empat Sektor

Kegiatan ekspor impor akan berpengaruh terhadap perekonomian empat sektor dan dapat dijelaskan seperti berikut

Sebelum ada kegiatan ekspor impor, pendapatan nasional keseimbangannya adalah

YE = 300

Setelah melakukan kegiatan ekspor impor, pendapatan nasional keseimbangannya adalah

YXE = 175

Selisih setelah dan sebelum ada ekspor impor

DY = YXE – YE

DY = 175 – 300

DY = – 125 trilun rupiah

Pada kasus ini, pengaruh ekspor impor adalah turunnya pendapatan nasional dari 300 menjadi 175 triliun rupiah. Pendapatan nasional berkurang 125 triliun rupiah. Hal ini, menunjukkan bahwa nilai impor lebih besar daripada nilai ekspor atau nilai net export adalah negative.

Marginal Propensity to Import

Marginal Propensity to Import merupakan besaran yang menunjukkan perubahan impor DM sebagai akibat terjadinya perubahan pendapatan nasional DY.

Besarnya perubahan impor sebagai akibat adanya perubahan pendapatan nasional dapat dinyatakan dengan  persamaan berikut

MPM = DM/DY

MPM = marginal propensity to import

DM = perubahan impor

DY = perubahan pendapatan nasional

Perhitungan Marginal Propensity to Import MPM Perekonomian Empat Sektor

Dari data sebelumya diketahui bahwa

DY = YXE – YE

YE = 300

YXE = 175

Perubahan pendapatan nasionalnya adalah

DY = 175 – 300

DY = – 125 trilun rupiah

Sedangkan perubahan impornya adalah

DM = M2 – M1

M2 = 80

M1 = 0 (sebelum ada ekspor impor)

DM = 80 – 0

DM = 80

Besar marginal propensity to import adalah

MPM = 80/-125

MPM = – 0,64

Membuat Grafik, Kurva Keseimbangan Perekonomian Empat Sektor

Grafik keseimbangan perekonomian empat sektor dibangun oleh sumbu datar yang menunjukkan pendapatan nasional Y dengan sumbu vertical yang merepresentasikan besaran konsumsi C, Insvestasi I, Pemeritah G, dan ekspor impor X – M.

Grafik yang menunjukkan keseimbangan pada perekonomian empat sektor sebelum dan setelah melakukan transaksi perdagangan internasional ditunjukkan pada gambar berikut.

Contoh Membuat Grafik, Kurva Keseimbangan Perekonomian Empat Sektor
Contoh Membuat Grafik, Kurva Keseimbangan Perekonomian Empat Sektor

Besarnya pendapatan nasional keseimbangan sebelum adanya kegiatan ekspor impor dinyatakan dengan YE dan titik keseimbangnya ditunjukkan oleh titik E1. Sedangkan setelah melakukan perdagangan internasional dalam bentuk ekspor impor, titik keseimbangannya ditunjukkan oleh titik E2 dengan besar pendapatan nasional keseimbangannya dinyatakan oleh YXE.

Kegiatan ekspor impor mengakibatkan turunnya pendapatan nasional keseimbangan dari 300 manjadi 175 triliun rupiah. Hal ini diperlihatkan oleh bergesernya titik E1 menjadi titik E2 yang posisinya lebih ke kiri.

Penurunan pendapatan nasioanal ini disebabkan nilai impor lebih besar daripada nilai ekspornya.

Pengaruh Ekspor Impor Terhadap Konsumsi

Fungsi konsumsi dalam contoh soal perekonomian empat sektor dapat dinyatakan dengan peramaan berikut;

C = 60 + 0,6Y

Pada kasus ini, tidak ada pajak dan transfer payment. Konsumsi sebelum dan Setelah Ekspor Impor fungsinya tidah berubah. (sudah dijelaskan di atas)

Perhitungan Konsumsi Sebelum ada Ekspor Impor

Dari perhitungan sebelumnya diketahui bahwa pandapatan nasional keseimbangan sebelum   ada ekspor impor adalah.

YE = 300

Besarnya konsumsi C sebelum ada impor ketika pendapatan nasional dalam kondisi keseimbangan adalah

CE = 60 + 0,6 YE

substitusikan nilai YE = 300

CE = 60 + 0,6(300)

CE = 60 + 180

CE = 240

Besarnya konsumsi C sebelum ekspor ketika pendapatan nasional dalam keseimbangan adalah CE = 240 triliun rupiah.

Perhitungan Konsumsi Setelah ada Ekspor Impor

Pandapatan nasional keseimbangan setelah ada ekspor impor adalah.

YXE = 175

Besarnya konsumsi C setelah ada ekspor impor ketika pendapatan nasional dalam kondisi keseimbangan adalah

CXE = 60 + 0,6YE

substitusikan nilai YE = 175

CXE = 60 + 0,6(175)

CXE = 60 + 105

CXE = 165

Besarnya konsumsi C setelah ada ekspor impor ketika pendapatan nasional dalam keseimbangan adalah CXE = 165 triliun rupiah.

Perhitungan Pengaruh Ekspor Impor Pada Konsumsi Perekonomian Empat Sektor

Besar konsumsi sebelum ada ekspor impor adalah

CE = 240

Besar konsumsi setelah ada ekspor impor adalah

CXE = 165

Perubahan konsumsi setelah ada ekspor impor dapat dinyatakan dengan rumus berikut

DC = CXE – CE

DC = 165 – 240

DC = -75 triliun rupiah

Membuat Grafik, Kurva Fungsi Konsumsi Perkonomian Empat Sektor

Sama dengan grafik sebelumnya, Grafik keseimbangan perekonomian empat sektor dibangun oleh sumbu datar yang menunjukkan pendapatan nasional Y dan sumbu vertical yang merepresentasikan besaran konsumsi C, Insvestasi I, Pemeritah G, dan ekspor impor X – M.

Grafik yang menunjukkan fungsi konsumsi C keseimbangan pada perekonomian empat sektor sebelum dan setelah melakukan transaksi perdagangan internasional ditunjukkan pada gambar berikut.

Contoh Membuat Grafik, Kurva Fungsi Konsumsi Perkonomian Empat Sektor
Contoh Membuat Grafik, Kurva Fungsi Konsumsi Perkonomian Empat Sektor

Besarnya konsumsi keseimbangan sebelum adanya kegiatan ekspor impor dinyatakan dengan CE dan titik keseimbangnya ditunjukkan oleh titik E1. Sedangkan setelah melakukan perdagangan internasional dalam bentuk ekspor impor, titik keseimbangannya ditunjukkan oleh titik E2 dengan besar konsumsi keseimbangannya dinyatakan oleh CXE.

Kegiatan ekspor impor mengakibatkan turunnya konsumsi keseimbangan dari 240 manjadi 165 triliun rupiah. Hal ini diperlihatkan oleh bergesernya titik E1 menjadi titik E2 yang posisinya lebih ke kiri.

Penurunan konsumsi ini disebabkan nilai impor lebih besar daripada nilai ekspornya.

Seandainya materi ini memberikan manfaat, dan anda ingin memberi dukungan Donasi pada ardra.biz, silakan kunjungi SociaBuzz Tribe milik ardra.biz di tautan berikuthttps://sociabuzz.com/ardra.biz/tribe

Perekonomian Tiga Sektor: Pengertian Keseimbangan Contoh Rumus Perhitungan Fungsi Multiplier Government Expenditure

Daftar Pustaka:

  1. Mankiw, N., Gregory, 2003, “Teori Makroekonomi”, Edisi Kelima, Penerbit Erlangga, Jakarta.
  2. Jhingan, M.L., 2008, “Ekonomi Pembangunan Perencanaan”, Edisi Pertama, PT RajaGrafindo Persada, Jakarta.
  3. Samuelson, A., Paul. Nordhaus, D., William, 2004, “Ilmu Makro Ekonomi”, Edisi 17, PT Media Global Edukasi, Jakarta.
  4. Sukirno, Sadono, 2008, “Makroekonomi Teori Pengantar”, Edisi Ketiga, PT RajaGrafindo Persada, Jakarta.
  5. Prasetyo, P., Eko, 2011, “Fundamental Makro Ekonomi”, Edisi 1, Cetakan Kedua, Beta Offset, Yogyakarta.
  6. Putong, Iskandar. Andjaswati, N.D., 2008, “Pengantar Ekonomi Makro”, Edisi Pertama, Penerbit Mitra Wacana Media, Jakarta.
  7. Firdaus, R., Ariyanti, M., 2011, ”Pengantar Teori Moneter serta Aplikasinya pada Sistem Ekonomi Konvensional dan Syariah”, Cetakan Kesatu, AlfaBeta, cv, Bandung

Perekonomian Tiga Sektor: Pengertian Keseimbangan Contoh Rumus Perhitungan Fungsi Multiplier Government Expenditure

Pengertian Perekonomian TIga Sektor: Perekonomian tiga sektor adalah perekonomian yang melibatkan tiga sektor ekonomi yang terdiri dari rumah tangga konsumen C, rumah tangga produsen I, dan rumah tangga pemerintah G. Perekonomian tiga sektor masih bersifat perekonomian tertutup.

Perekonomian Tertutup berarti tidak melakukan aktivitas transaksi perdagangan ekspor impor dengan negara asing.

Pendapatan nasional dalam perekonomian tiga sektor sudah melibatkan campur tangan pemerintah dalam aktivitas perekonomiannya. Peran pemerintah G diwujudkan dalam bentuk pengeluaran (Government Expenditure), Government Transfer dan penerimaan sebagai pajak.

Government Expenditure G

Government Expenditure G adalah pengeluran pemerintah dan dari pengeluaran terebut pemerintah mendapatkan hasil secara langsung dalam bentuk kinerja dari para pegawainya.


Pengeluaran pemeritah G merupakan variabel yang bersifat eksogen (exogeneus variable) dan dinyatakan dengan menggunakan persamaann rumus berikut

G = Go

Contoh Government Expenditure

Contoh Government Expenditure adalah pembayaran pegawai, belanja barang untuk peralatan kerja, belanja daerah untuk dana perimbangan dan dana otonomi khusus.

Government Transfer Tr

Government Transfer adalah pengeluaran pemerintah namun dari pengeluaran tersebut, pemerintah tidak mendapatkan hasil secara langsung pada tahun anggaran dikeluarkan.

Tranfer payment merupakan bentuk pengeluaran pemerintah yang diberikan pada masyarkat untuk tujuan tertentu. Masyarakat tidak memiliki kewajiban untuk mengembalikan dana yang telah diterimannya.

Transfer payment yang diterima masyarakat atau konsumen akan menaikkan pendapatan yang secara langsung juga menambah besarnya konsumsi.

Fungsi Transfer Payment

Transfer payment merupakan variable yang bersifat eksogen dan dapat dinyatakan dengan persamaan sebagai berikut

Tr = Tro

Contoh Government Transfer,

Contoh Government Transfer adalah pembayaran untuk beasiswa, pensiunan, dan sejumlah subsidi dan hibah.

Penerimaan Pajak, Tax, Tx

Pajak adalah pungutan wajib yang harus dibayarkan kepada negara oleh orang pribadi atau badan. Pajak sifatnya memaksa berdasarkan undang undang dengan tidak mendapat timbal balik secara langsung.

Pajak merupakan beban biaya yang harus dibayar oleh rumah tangga konsumen. Pajak pada dasarnya merupakan daya beli masyarakat berupa uang yang diserahkan kepada negara.

Berdasarkan tarifnya, pajak dapat dibedakan menjadi dua macam yaitu pajak tetap atau Lump-Sum Tax dan pajak proposional atau Built-in Stabilizer.

Lump Sum Tax Pajak Tetap,

Pajak tetap adalah pajak yang besarnya tidak tergangtung pada besarnya pendapatan. Sehingga, berapapun besarnya pendapatan masyarakat, baik kecil maupun besar, pajaknya selalu sama atau bersifat lump sum.

Contoh Pajak Lump Sum adalah bea materai yaitu sebesar 6000 atau 3000 rupiah.

Fungsi Pajak Tetap

Pajak tetap dapat dinyatakan dengan persamaan berikut

Tx = To

Pajak Proposional Built-in Stabilizer,

Pajak proposional atau Built-in Stabilizer adalah pajak denga proposi tertentu terhadap tingkat pendapatan. Semakin besar pendapatan, maka semakin besar proposi pendapatan yang dikenai pajaknya.

Fungsi Pajak Proposional

Pajak proposionl dapat dinyatakan dengan menggunakan persamaan berikut

Tx = To + t Y

Contoh Pajak Proposional adalah penerapan PPh pasal 21 yang dikenakan untuk pegawai dengan jumlah gaji di atas pendapatan tidak kena pajak atau PTKP.

Pengaruh Pengeluaran Pemerintah Terhadap Pendapatan Nasional

Pengeluaran yang dilakukan oleh pemerintah G dalam perekonomian tiga sektor akan mempengaruhi pengeluaran secara keseluruhan Aggregate Demand AD. Ketika pengeluaran pemerintah masih belum diikutkan dalam kegiatan ekonomi, besarnya aggregate demand AD hanya dipengaruhi oleh dua komponen yaitu konsumsi C dan investasti I, yaitu C + I

Kontribusi pemerintah dalam bentuk pengeluaran merubah aggregate demand menjadi tiga kompenen yaitu konsumsi C, investasi I dan pemerintah G, yaitu C + I + G.

Multiplier Government Expenditure

Perubahan pendapatan nasional ΔY akibat perubahan pengeluaran pemerintah ΔG dapat dinyatakan dengan multiplier government expenditure seperti berikut

kG = ΔY/ΔG

kG = 1/(1 – MPC)

kG = koefisien multiplier G

MPC = marginal propensity to consume

Substitusikan kedua persamaan menjadi

ΔY/ΔG = 1/(1 – MPC) atau

ΔY = 1/(1 – MPC) x ΔG atau

ΔY = kG x ΔG

Multiplier Tax

Multiplier tax adalah suatu proses terjadinya perubahan pendapatan nasional ΔY secara berlipat sebagai akibat adanya perubahan pajak ΔTx. Besaran yang menunjukkan Multiplier tax adalah koefisien multiplier tax.

Koefisien Multiplier Tax

Koefisien multiplier tax merupakan rasio perubahan pendapatan nasional terhadap perubahan pajak dan dinyatakan dengan persamaan berikut.

kTx = ΔY/ΔTx atau

kTx = -MPC/MPS atau

kTx = -b/(1 – b)

kTx bernilai negative karena penerapan pajak berdampak terhadap turunnya daya beli masyarakat.

Pengaruh Pajak Pada Pendapatan Nasional

Besar pengaruh pajak terhadap pedapatan nasional dapat dinyatakan dengan menggunakan persamaan rumus berikut

ΔY = -b/(1 – b) x ΔTx atau

ΔY = kTx x ΔTx

Pengaruh Pajak Pada Konsumsi dan Tabungan

Pajak secara langsung mempengaruhi fungsi konsumsi dan fungsi tabungan.

Pengaruh Pajak Pada Konsumsi

Pungutan pajak akan menurunkan daya beli masyarakat. Sebagai akibatnya, konsumsi masyarakat cenderung turun.

Pengaruh pajak menyebabkan kurva fungsi konsumsi bergeser ke bawah sebesar

-b x ΔTx

Pengaruh Pajak Pada Tabungan

Pajak mempunyai pengaruh terhadap kecenderungan masyarakat menahan diri untuk tidak membelanjakan pendapatannya. Sebagai akibatnya, tabungan masyarakat cenderung meningkat.

Pengaruh pajak menyebabkan kurva fugsi tabungan saving mengalami kenaikan dan bergeser ke atas sebesar

b x ΔTx

Multipiler Transfer Payment

Multiplier Transfer Payment adalah suatu proses yang menyebabkan terjadinya perubahan pendapatan nasional ΔY secara berlipat sebagai akibat adanya perubahan transfer payment ΔTr. Besaran yang menunjukkan Multiplier transfer payment adalah koefisien multiplier transfer payment.

kTr = ΔY/ΔTr atau

kTr = MPC/MPS atau

kTr = +b/(1 – b)

kTr bernilai positif karena penerimaan transfer payment berdampak terhadap naiknya daya beli masyarakat.

Pengaruh Transfer Payment Pada Pendapatan Nasional

Besar pengaruh transfer payment terhadap pedapatan nasional dapat dinyatakan dengan menggunakan persamaan rumus berikut

ΔY = +b/(1 – b) x ΔTr atau

ΔY = kTr x ΔTr

Pengaruh Transfer Payment Pada Konsumsi dan Tabungan

Selain pajak, Transfer payment juga mempengaruhi fungsi konsumsi dan fungsi tabungan.

Pengaruh Transfer Payment Pada Konsumsi

Pembayaran transfer payment akan menaikkan daya beli masyarakat. Sebagai akibatnya, konsumsi masyarakat cenderung naik.

Pengaruh transfer payment akan menyebabkan kurva fungsi konsumsi bergeser ke atas sebesar

b x ΔTr

Pengaruh Transfer Payment Pada Tabungan

Transfer payment mempunyai pengaruh terhadap kecenderungan masyarakat untuk membelanjakan pendapatannya. Sebagai akibatnya, tabungan masyarakat cenderung menurun.

Pengaruh transfer payment menyebabkan naiknya konsumsi dan menurunkan tabungan. Kurva fungsi tabungan saving mengalami penurunan dan bergeser ke bawah sebesar

-b x ΔTr

Keseimbangan Perekonomian Tiga Sektor

Perekonomian akan seimbang jika aggregate demand AD sama dengan aggregate supply AS. AD merupakan keseluruhan pengeluaran masyarakat perekonomian yang terdiri dari rumah tangga konsumen, rumah tangga produsen dan rumah tangga pemerinta untuk mendapatkan produk nasional. AS merupakan keseluruhan produk nasional ditawarkan kepada masyarakat.

Keseimbangan perekonomian tiga sektor akan tercapai apabila nilai produk nasional yang ditawarkan sama dengan jumlah permintaan masyarakat secara keseluruhan.

Keseimbangan ekonomi tiga sektor berdasarkan Income – Expediture Approach dapat dinyatakan dengan persamaan berikut

Y = C + I + G

Y = pendaatan nasional

C = konsumsi

G = pemerintah

Contoh Soal Perhitungan Pengaruh Pengeluaran Pemerintah Terhadap Pendapatan Nasional

Diketahui data perekonomian tiga sektor suatu negara adalah konsumsi memenuhi Fungsi Konsumsi C = 40 + 0,75Y, sedangkan besarnya pengeluaran perusahaan swasta dalam bentuk investasi I adalah sebasar 60. Pemerintah G melakukan pengeluaran sebesar 100.

Hitung pengaruh pengeluaran pemerintah dalam perekonomian tiga sektor tersebut. Satuan nilai uang dalam triliun rupiah.

Perhitungan Keseimbangan Pendapatan Nasional Sebelum Ada Pemerintah

Pendapatan nasional keseimbangan dapat dinyatakan dengan persamaan rumus berikut

Y = C + I

C = 40 + 0,75Y

I = 60

G = 0

Substitusikan C dan I, Sehingga nilai Y adalah

Y = 40 + 0,75Y + 60

Y = 100 +0,75 Y

Y – 0,75Y = 100

Y = 100/0,25

YI = 400

Jadi besar pendapatan nasional keseimbangan sebelum ada campur tangan pemerintah adalah YI = 400 triliun rupiah

Perhitungan Keseimbangan Pendapatan Nasional Setelah Ada Pemerintah G

Keseimbangan pendapatan nasional dapat dinyatakan dengan menggunakan persamaan rumus berikut

Y = C + I + G

diketahui

C = 40 + 0,75Y

I = 60

G = 100

Substitusikan C, I dan G, sehingga nilai pendapatan nasional keseimbangannya adalah

Y = 40 + 0,75Y + 60 + 100

Y = 200 + 0,75 Y

Y – 0,75Y = 200

Y = 200/0,25

YG = 800

Besar pendapatan nasional setelah ada keterlibatan pemerintah adalah YG = 800 triliun rupiah

Pengaruh Pengeluaran Pemerintah Terhadap Pendapatan Nasional

Pengaruh pengeluaran pemerintah terhadap perubahan pendapatan nasional ΔY adalah

ΔY = YG – YI

ΔY = 800 – 400

ΔY = 400

Pengeluaran pemerintah G sebasar 100 mampu meningkatkan pendapatan nasional keseimbangan dari 400 menjadi 800. Ini artinya pendapatan nasional bertambah 4 kali dari nilai pengeluaran pemerintah, seperti penjelasan berikut

ΔY = 400

G = 100

Kenaikan pendapatan nasional

400/100 = 4 kali dari nilai G

Perhitungan Koefisiensi Multiplier Government Expenditure kG

Nilai koefisien multiplier kG dapat dinyatakan dengan rumus berikut

kG = 1/(1 – MPC)

diketahui

MPC = 0,75 diperoleh dari fungsi konsumsi yaitu

Nilai koefisien multiplier kG adalah

kG = 1/(1 – 0,75)

kG = 4

Perhitungan Pengaruh Pengeluaran Pemerintah G Terhadap Pendapatan Nasional Y

Pengaruh perubahan pengerluaran pemerintah ΔG terhadap perubahan Pendapatan nasional ΔY dapat dinyatakan dengan menggunakan persamaan rumus berikut

ΔY = kG x ΔG

diketahui

kG = 4

ΔG = G1 – G2

G1 = 0 (sebelumnya tidak ada pemerintah G)

G2 = 100 (pengeluaran pemerintah G)

ΔG = 100 – 0

ΔG = 100

Perubahan pendapatan setelah adanya pengaruh pemerintah G adalah

ΔY = 4 x 100

ΔY = 400

Jadi pengaruh pengeluaran pemerintah G sebesar 100 triliun adalah terjadinya kenaikan pendapatan nasional sebesar 4 kali dari nilai pengeluaran pemerintahan.

Membuat Kurva Pengaruh Pengeluaran Pemerintah Terhadap Perekonomian Tiga Sektor

Grafik yang menjelaskan kurva hubungan antara konsumsi C, investasi I dan pemerintah G dengan pendapatan nasional dibangun oleh sumbu datar yang mewakili pendapatan nasional Y dan sumbu vertical yang mewakili konsumsi C, investasi I dan peeritah G.

Secara keseluruhan kurva kurva yang menunjukkan hubungan investasi I dan pemerintah G terhadap pendapatan nasional dalam perekonomian tiga sektor dapat dilihat pada gambar berikut

Contoh Gambar Grafik, Kurva Pengaruh Pengeluaran Pemerintah Terhadap Pendapatan Nasional
Gambar Contoh Grafik, Kurva Pengaruh Pengeluaran Pemerintah Terhadap Pendapatan Nasional

Dari gambar dapat diketahui hal hal berikut.

Keseimbangan pendapatan nasional sebelum adanya pengaruh dari pemerintah G adalah 400 triliun rupiah ditunjukkan oleh titik E1.

Setelah ada peran pemerintahan G, titik keseimbangan berubah naik, dari titik E1 menjadi titik E2.

Pendapatan nasional keseimbangan naik sebesar ΔY= 400 yaitu dari YI = 400 menjadi YG = 800 triliun rupiah.

Pendapatan Disposable, Perekonomian Tiga Sektor

Pada Perekonomian tiga sektor, pendapatan masyarakat yang benar benar siap dibelanjakan atau disposable income Yd akan mempengaruhi nilai konsumsi C dan tabungan S.

Dua komponen yang mempengaruhi disposable income Yd adalah pajak Tx dan transfer payment Tr, sehingga disposable income dapat dinyatakan dengan persamaan rumus berikut

Yd = Y + Tr + Tx

dengan keterangan

Yd = disposable income

Y = pendapatan nasional

Tr = transfer payment (subsidi)

Tx = pajak

Fungsi Konsumsi Perekonomian Tiga Sektor

Akibat adanya pajak Tx dan transfer payment Tr, maka konsumsi C dalam perekonomian tiga sektor dapat dinyatakan dengan persamaan rumus berikut

C = a + b.Yd

C = a + b (Y + Tr – Tx)

Substitusikan Yd ke fungsi konsumsi C

C = a + b (Y + Tr – Tx)

Fungsi Tabungan Perekonomian Tiga Sektor

Selain konsumsi, Tabungan dalam perekonomian tiga sektor juga dipengaruhi oleh pajak dan transfer payment, dan Fungsi tabungannya dapat dinyatakan dengan rumus berikut

Yd = C + S

S = Yd – C

Substitusikan fungsi C ke persamaan Tabungan S

S = Yd – (-a + b.Yd)

S = Yd + a – b Yd

S = Yd (1 – b) + a

S = a + (1 – b) (Y + Tr – Tx)

Dengan adanya komponen pajak Tx dan transfer payment Tr, maka besar pendapatan nasional akan berubah sesuai dengan perubahan pajak dan transfer payment melalui proses multiplier tax dan multiplier transfer payment.

Contoh Soal Perhitungan Perekonomian Tiga Sektor

Besar konsumsi masyarakat pada perekonomian suata negara dinyatakan dengan C = 60 + 0,6Yd. Sedangkan besarnya pengeluaran pemerintah dinyatakan dengan G sebesar 40. Pengeluaran investasi I perushaan adalah sebesar 20. Pada perekonomian tiga sektor ini sudah ada transfer payment Tr sebesar 30 dan sudah ada pungutan pajak Tx oleh pemerintah sebesar 80. Satuan uang dalam triliun rupiah.

Perhitungan Fungsi Konsumsi C Sebelum Pajak Tx Pada Perekonomian Tiga Sektor

Fungsi konsumsi sebelum pajak Tx dapat dinyatakan dengan persamaan rumus berikut

C = 60 + 0,6 Yd dan

Yd = Y + Tr– Tx

Sebelum ada pajak Tx dan transfer payment

Tx = 0

Tr = 0

Fungsi konsumsi sebelum pajak dan transfer payment pada perekonomian tiga sektor  adalah

C = 60 + 0,6 (Y + 0 – 0)

C = 60 + 0,6 Y

Pendapatan Nasional PN Keseimbangan Sebelum Ada Pajak Dan Transfer Payment pada Perekonomian Tiga Sektor,

Besarnya nilai Pendapatan nasional PN sebelum ada pajak dan transfer payment dalam keandaan keseimbangan dapat dinyatakan dengan persamaan rumus berikut

Y = C + I + G

Diketahui

C= 60 + 0,60 Y

I = 20

G = 40

Substitusikan C, I, dan G sehingga diperoleh Y seperti berikut

Y = 60 + 0,6 Y + 20 + 40

Y = 120 + 0,6 Y

Y – 0,6 Y = 120

Y = 120/0,4

YE = 300

Pendapatan nasional keseimbangan sebelum ada pajak dan transfer payment adalah YE = 300

Pengaruh Pajak Terhadap Pedapatan Nasional Perekonomian Tiga Sektor

Pajak yang dipungut oleh Pemerintah akan mempengaruhi konsumsi, tabungan dan pendapatan nasional. Sehingga fungsi konsumsi C, Tabungan S dan Pendapatan nasional Y juga berubah.

Perhitungan Fungsi Konsumsi C Setelah Pajak Pada Perekonomian Tiga Sektor

Fungsi konsumsi setelah Pajak Tx Namun belum ada transfer payment dapat dinyatakan dengan persamaan rumus berikut

C = 60 + 0,6 Yd dan

Yd = Y + Tr – Tx

Setelah ada Pajak Tx, namun belum ada Transfer Payment Tr

Tx = 80

Tr = 0

Fungsi konsumsi setelah pajak pada perekonomian tiga sektornya  adalah

CT = 60 + 0,60 (Y + Tr – 80)

CT = 60 + 0,60 (Y + 0 – 80)

CT = 60 + 0,60Y – 48

CT = 12 + 0,60Y

Pendapatan Nasional PN Keseimbangan Perekonomian Tiga Sektor Setelah Pajak Tidak Ada Transfer Payment

Besarnya pendapatan nasional PN dalam keandaan keseimbangan setelah adanya pajak namun belum ada transfer payment dapat dinyatakan dengan persamaan rumus berikut

Y = CT + I + G

CT = 12 + 0,6Y

I = 20

G = 40

Substitusikan I, G, Dan CT

Y = 12 + 0,6Y + 20 + 40

Y = 72 + 0,6Y

Y – 0,6 Y = 72

Y = 72/0,4

YTE = 180

 Pendapatan nasional keseimbangan setelah pajak dan sebelum transfer payment  adalah YTE = 180

Perhitungan Multiplier Tax Pada Perekonomian Tiga Sektor

Nilai koefisien multiplier tax kTx dapat dinyatakan dengan rumus berikut

kTx = -b/(1 – b)

diketahui

b = 0,6 diperoleh dari fungsi konsumsi

Nilai koefisien multiplier kTx adalah

kTx = -0,6/(1 – 0,6)

kTx = -1,5

Perhitungan Pengaruh Pajak Terhadap Pendapatan Nasional Y

Pengaruh pungutan pajak Tx terhadap Pendapatan nasional Y dapat dinyatakan dengan menggunakan persamaan rumus berikut

ΔY = kTx x ΔTx atau

ΔY = -b/(1 – b) x ΔTx

diketahui

b = 0,6

ΔTx = 80 – 0

ΔTx = 80

Perubahan pendapatan nasional keseimbangan perekonomian tiga sektor setelah ada pajak namun belum ada transfer payment adalah

ΔY = -0,6/(1 – 0,6) x 80

ΔY = -0,6/(0,4) x 80

ΔY = -1,5 x 80

ΔY = -120

Besarnya perubahan pendapatan nasional setalah ada pajak Tx = 80 triliun rupiah  adalah 120 triliun rupiah. Tanda negative menunjukkan perubahannya adalah penurunan. Jadi pendapatan nasional turun 120 triliun rupiah akibat masyarakat dipungut pajak 80 triliun.

Sebelum ada pajak pendapatan nasional keseimbanagan adalah

YE = 300

Setelah ada pajak, pendapatan nasional adalah

YTE = 180

Perubahan pendapatan nasionalnya

ΔY = YTE – YE

ΔY = 180 – 300

ΔY = -120

Dimana, pernurunan pendapatan nasionalnya sama dengan 1,5 kali dari nilai pajak yang dipungut.

Pengaruh Pajak dan Transfer Payment Terhadap Pendapatan Nasional Perekonomian Tiga Sektor.

Perhitungan Fungsi Konsumsi Setelah Pajak dan Transfer Payment

Fungsi konsumsi C sebelum ada pajak dan transfer payment

C = 60 + 0,60 Yd dan

Yd = Y + Tr – Tx

Besarnya pajak dan transfer payment adalah

Tx = 80

Tr = 30

Substitusikan Tx dan Tr ke fungsi Yd dan selanjutnya substitusikan Yd ke fungsi C

Dengan demikian, Fungsi Konsumsi C setelah ada pajak dan transfer payment adalah

C = 60 + 0,6 (Y + 30 – 80)

C = 60 + 0,6 Y – 50

CTT = 30 + 0,6 Y

Perhitungan Pendapatan Nasional Keseimbangan Setelah Pajak dan Transfer Payment

Keseimbangan Pendapatan Nasional setelah ada pungutan pajak dan penerimaan transfer payment dapat dinyatakan dengan persamaan berikut

Y = CTT + I + G

Diketahui

CTT = 30 + 0,6 Y

I = 20

G = 40

Substitusikan C, I dan G, sehingga diperoleh keseimbangan pendapatan nasional

Y = 30 + 0,6 Y + 20 + 40

Y = 90 + 0,6 Y

Y – 0,6 Y = 90

Y = 90/0,4

YTTE = 225 triliun rupiah

Besar pendapatan nasional keseimbangan setelah ada pungutan pajak dan transfer payment dari pemerintah adalah YTTE= 225 triliun rupiah

Membuat Grafik, Kurva Pengaruh Pajak Dan Transfer Payment Pada Perekonomian Tiga Sektor.

Grafik dibangun oleh sumbu datar yang merepresentasikan pendapatan nasional, dan sumbu tegak atau vertical yang menunjukkan besar komsumsi C, investasi I dan pemerintah G.

Secara keseluruhan kurva kurva yang menunjukkan fungsi pendapatan nasional Y baik sebelum atau setelah dipengaruhi oleh pajak dan transfert payment dapat dilihat pada gambar berikut.

Membuat Grafik, Kurva Pengaruh Pajak Dan Transfer Payment Pada Perekonomian Tiga Sektor.
Membuat Grafik, Kurva Pengaruh Pajak Dan Transfer Payment Pada Perekonomian Tiga Sektor.

Pendapatan nasional keseimbangan sebelum ada pajak dan transfer payment dinyatakan dengan YE. Titik keseimbangnya ditunjukkan oleh titik E1. Sebelum pajak diterapkan dan transfer payment dikeluarkan oleh pemerintah, nilai keseimbangan pendapatan nasionalnya adalah 300 triliun rupiah.

Ketika pungutan pajak diberlakukan, maka pendapatan nasional keseimbangan turun dari 300 menjadi 180 triliun rupiah. Titik keseimbangannya ditunjukkan oleh titik E2 dengan nilai kesimbangan pendapatan nasionalnya dinyatakan oleh YTE.

Pengaruh pajak secara nyata berdampak langsung terhadap penurunan pendapatan nasional kesimbangan.

Transfer payment yang dikeluarkan pemerintah berkorelasi terhadap pendapatan nasional kesimbangan setelah pajak. Keseimbangannya ditunjukkan oleh titik E3, sedangkan nilai pendapatan keseimbangannya dinyatakan dengan YTTE

Pendapatan nasional keseimbangan naik dari 180 menjadi 225 triliun rupiah setelah  pemerintah membuat kebijakan untuk mengeluarkan transfer payment kepada masyarakat.

Contoh Perhitungan Pengaruh Pajak dan Transfer Terhadap Konsumsi

Pada contoh perhitungan ini, semua data merupakan hasil dari perhitungan contoh soal di atas, jadi perlu usaha untuk mengingatnya.

Konsumsi Sebelum Pajak dan Transfer Payment Perekonomian Tiga Sektor

Dari data sebelumnya diketahui

Fungsi konsumsi sebelum pajak dan transfer payment adalah

C = 60 + 0,6Y

Pendapatan nasional keseimbangan sebeum pajak dan transfer payment adalah

YE = 300

Besar konsumsi keseimbangan sebelum pajak da tranfer payment adalah

CE = 60 + 0,6(300)

CE = 60 + 180

CE = 240

Fungsi konsumsi setelah pajak dan sebelum transfer payment adalah

CT = 12 + 0,6Y

Pendapatan nasional keseimbangan setelah pajak dan sebelum transfer payment adalah

YTE = 180

Besar konsumsi keseimbangannya adalah

CTE = 12 + 0,6(180)

CTE = 12 + 108

CTE = 120

Fungsi konsumsi setelah pajak dan setelah transfer payment adalah

CTT = 30 + 0,6Y

Pendapatan nasional keseimbangan setelah pajak dan setelah transfer payment adalah

YTTE = 225

Besar konsumsi keseimbangannya adalah

CTTE = 30 + 0,6(225)

CTTE = 30 + 135

CTTE = 165

Membuat Grafik, Kurva Pengaruh Pajak dan Transfer Payment Terhadap Konsumsi

Secara keseluruhan kurva kurva yang menunjukkan fungsi konsumsi C baik sebelum atau setelah dipengaruhi oleh pajak dan transfert payment dapat dilihat pada gambar berikut.

Membuat Grafik, Kurva Pengaruh Pajak dan Transfer Payment Terhadap Konsumsi
Membuat Grafik, Kurva Pengaruh Pajak dan Transfer Payment Terhadap Konsumsi

Besar konsumsi keseimbangan sebelum adanya pajak dan transfer payment adalah 240 triliun rupiah yang ditunjukkan dengan CE. Konsumsi keseimbangan ini diperoleh pada saat pendapatan nasional keseimbangan YE sebesar 300 triliun rupiah.

Besarnya konsumsi turun dari 240 menjadi 120 triliun rupiah setelah pemerintah memungut pajak yang ditunjukkan oleh CT.

Penurunan konsumsi merupakan dampak penurunan pendapatan nasional keseimbangan dari YE = 300 menjadi YTE = 180 triliun rupiah.

Namun, setelah pemerintah membayarkan transfer payment, besar konsumsi naik dari 120 triliun menjadi 165 triliun rupiah yang ditunjukkan oleh CTT. Kenaikkan ini, disebabkan adanya kenaikan pendapatan nasional keseimbangan dari YTE = 180 menjadi YTTE = 225 triliun rupiah.

Perhitungan Ekonomi Empat Sektor Dan Pengaruh Ekspor Impor Terhadap pendapatan nasional dapat dibaca pada artikel berikut

Keseimbangan Perekonomian Empat Sektor, Pengertian Contoh Soal dan Perhitungannya

Perekonomian Empat Sektor: Pengertian Keseimbangan Contoh Soal Perhitungan

Perekonomian Tertutup Sederhana Dua Sektor, Pengertian Contoh Soal

Daftar Pustaka:

  1. Mankiw, N., Gregory, 2003, “Teori Makroekonomi”, Edisi Kelima, Penerbit Erlangga, Jakarta.
  2. Jhingan, M.L., 2008, “Ekonomi Pembangunan Perencanaan”, Edisi Pertama, PT RajaGrafindo Persada, Jakarta.
  3. Samuelson, A., Paul. Nordhaus, D., William, 2004, “Ilmu Makro Ekonomi”, Edisi 17, PT Media Global Edukasi, Jakarta.
  4. Sukirno, Sadono, 2008, “Makroekonomi Teori Pengantar”, Edisi Ketiga, PT RajaGrafindo Persada, Jakarta.
  5. Prasetyo, P., Eko, 2011, “Fundamental Makro Ekonomi”, Edisi 1, Cetakan Kedua, Beta Offset, Yogyakarta.
  6. Putong, Iskandar. Andjaswati, N.D., 2008, “Pengantar Ekonomi Makro”, Edisi Pertama, Penerbit Mitra Wacana Media, Jakarta.
  7. Firdaus, R., Ariyanti, M., 2011, ”Pengantar Teori Moneter serta Aplikasinya pada Sistem Ekonomi Konvensional dan Syariah”, Cetakan Kesatu, AlfaBeta, cv, Bandung.

Keseimbangan Pasar Barang dan Uang: Analisis Kurva IS-LM, Rumus Cara Perhitungan Contoh Soal.

Pengertian Keseimbangan Pasar Barang dan Jasa.  Pasar barang dikatakan dalam keadaan keseimbangan apabila penawaran pada pasar barang sama dengan penerimaan pada pasar barang tersebut. Atau dengan kata lain pendapatan sama dengan pengeluaran, Keseimbangan pasar barang ditunjukkan oleh suatu kurva yang disebut Kurva I-S.

Kurva I-S adalah suatu kurva yang menjelaskan hubungan antara berbagai tingkat bunga r dengan pendapatan nasional keseimbangan Y di mana pasar barang pada posisi keseimbangan.  Dengan demikian kurva IS menunjukkan keseimbangan di pasar barang.

Suatu Perekonomian dikatakan dalam kondisi keseimbangan pasar barang dan jasa apabila pendapatan sama dengan konsumsi ditambah investasi Y = C + I atau  investasi I sama dengan tabungan S, atau S = I.

Fungsi Konsumsi

C = C0 + b.Y


dengan keterangan

C = konsumsi

C0 = Konsumsi otonom, saat Y = 0

b = MPC (marginal propensity to consume)

Y = Pendapatan nasional

Fungsi Investasi I

I = I0 + e.r

dengan keterangan

I0 = Investasi saat I = 0

e = marginal propensity to invest, MPI

e = Δl/ΔI, nilai e < 0

r = tingkat bunga

Fungsi Tabungan, Saving S adalah

S = – C0 + (1 – b) Y

dengan keterangan

S = tabungan

C0 = Tabungan S saat Y = 0

1 – b = nilai MPS (marginal propensity to save)

Y = pendapatan nasional

Pengaruh Pendapatan Nasional Terhadap Konsumsi dan Tabungan

Fungsi konsumsi dinyatakan sebagai C = f(Y) dan tabungan yang dinyatakan sebagai S=f(Y), hal ini menunjukkan bahwa konsumsi dan tabungan merupakan komponen atau besaran yang dipengaruhi oleh pendapatan nasional Y.

Berdasarkan persamaannya diketahui bahwa semakin tinggi pendapatan suatu masyarakat, maka semakin tinggi pula konsumsi dan tabungan masyarakat tersebut. Sebaliknya, semakin rendah pendapatan masyarakat, maka konsumsi dan tabungan masyarakat juga semakin rendah.

Pengaruh Tingat Bunga Terhadap Investasi

Fungsi investasi dinyatakan dengan I = f(r), hal ini menunjukkan bahwa investasi dipengaruhi oleh besar kecilnya tingkat suku bunga r.

Berdasarkan persamaannya diketahui investasi dengan tingkat suku bunga berkorelasi negative. Ini artinya, jika tingkat suku bunga tinggi, maka investasi akan rendah. Sebaliknya, jika tingkat suku bunga rendah, maka investasi akan tinggi.

Fungsi Keseimbangan Pasar Barang I-S

Keseimbangan pasar barang terjadi ketika kondisi pendapatan sama dengan nilai konsumsi ditambah investasi dan dinyatakan dengan persamaan keseimbangan berikut

Y = C + I

sehingga

Y = C0 + b.Y + I0 + e.r

Y – b.Y = C0 + I0 + e.r

(1 – b)Y = C0 + I0 + e.r atau

Y = 1/(1 – b) x (C0 + I0 + e.r)

Fungsi Keseimbangan pasar barang juga terjadi ketika kondisi tabungan sama dengan investasi yang dapat  dinyatakan dengan persamaan berikut

S = I

sehingga

– C0 + (1 – b) Y = I0 + e.r

(1 – b) Y = C0 + I0 + e.r

Y = 1/(1 – b) x ( C0 + I0 + e.r)

Dengan demikian fungsi I-S nya adalah

Fungsi I-S

Y = 1/(1 – b) x (C0 + I0 + e.r)

Pengaruh Tingkat Suku Bunga Terhadap Pendapatan Nasional

Berdasarkan pada persamaan fungsi I-S dapat diketahui bahwa pendapatan nasional dipengaruhi oleh tingkat suku bunga.

Pendapatan nasional dan suku bunga berkorelasi negative, artinya semakin tinggi tingkat suku bunga, maka semakin rendah pendapatan nasionalnya. Sebaliknya semakin rendah tingkat suku bunga, maka semakin tinggi pendapatan nasionalnya.

Contoh Soal Perhintungan Keseimbangan Pasar Barang Persamaan Fungsi I-S

Jika perekonomian suatu masyarakat  memiliki Fungsi konsumsi C = 400 + 0,5Y dan Fungsi investasinya adalah  I = 150 – 1000r, maka tentukanlah keseimbangan di pasar barang perkonomian tersebut, turunkan fungsi I-S dan gambarkan kurva fungsi I-S nya. Satuan uang dalam trillium rupiah.

Jawab

a). Keseimbangan pasar barang

Y = C + I

substitusikan fungsi konsumsi dan investasi berikut

C = 400 + 0,5Y dan

I = 150 – 1000r

sehingga diperoleh

Y = (400 + 0,5Y) + (150 – 1000r)

Y – 0,5Y = 400 + 150 – 1000r

0,5Y = 550 – 1000r

Y = 1100  – 2000r

b). Jadi Persamaan yang menggambarkan keseimbangan pasar barang adalah fungsi I-S, yaitu Y = 1100  – 2000r

Gambar berikut menunjukkan kurva I-S yang menjelaskan bagaimana tingkat suku bunga berpengaruh terhadap kesimbangan pendapatan nasional. Dari kurvanya diketahui, bahwa kenaikan tingkat bunga akan menyebabkan turunnya pendapatan nasional keseimbangan. Pendapatan nasional keseimbangan akan naik jika tingkat suku bunga diturunkan.

Gambar Kurva Grafik Keseimbangan Pasar Barang Persamaan Fungsi I-S
Gambar Kurva Grafik Keseimbangan Pasar Barang Persamaan Fungsi I-S

Pada tingkat suku Bunga 5 persen, pendapatan nasional keseimbangan adalah 1000 triliun rupiah.

Y = 1100 – (2000x 0,05)

Y = 1000

Ketika tingkat suku bunga 15 persen, maka pendapatan nasional keseimbangan adalah 800 triliun rupiah

Y = 1100 – (2000x 0,15)

Y = 800

Jadi, ketika tingkat suku bunga dinaikkan dari 5 persen menjadi 15 pesen, maka pendapatan nasional keseimbangan turun dari 1000 menjadi 800 triliun rupiah

Keseimbangan Pasar Uang

Keseimbangan pasar uang atau money market equilibrium adalah keseimbangan antara uang yang diminta oleh masyarakat untuk berbagai motif sama dengan jumlah uang beredar atau penawaran uang pada masyarakat tersebut. Keseimbangan pasar uang ditunjukkan oleh suatu kurva yang disebut Kurva L-M.

Kurva L-M adalah sebuah garis (kurva) yang menunjukkan berbagai hibungan antara tingkat suku bunga dengan pendapatan nasional dalam kondisi keseimbangan di pasar uang. Keseimbangan pasar uang terjadi pada kondisi fungsi permintaan uang sama dengan fungsi penawaran uang.

Permintaan Uang

Permintaan uang biasa disebut liquidity preference dinotasikan dengan huruf besar L adalah keseluruhan jumlah uang yang ingin dipegang oleh masayarakat. Permintaan uang oleh masyarakat didasarkan oleh tiga motif yaitu motif transaksi, motif berjaga jaga dan motif spekulasi.

Permintaan uang untuk motif transaksi dan berjaga jaga sangat dipengaruhi oleh besarnya pendapatan yang diterima masyarakat Y atau pendapatan nasional). Sedangkan permintaan uang untuk motif spekulasi sangat ditentukan oleh besarnya tingkat suku bunga.

Fungsi Permintaan Uang

Fungsi permintaan uang motif transaksi dan berjaga jaga dapat dinyatakan dengan persamaan berbentuk linear seperti berikut.

L1 = k . Y

Fungsi permintaan uang motif spekulasi dapat dinyatakan dengan persamaan berbentuk linear seperti berikut:

L2 = M0 + m.r

Berdasarkan dua fungsi uang tersebut, maka fungsi uang secara keseluruhan dapat dinyatakan dengan persamaan berikut:

L = L1 + L2

L = k. Y + M0 + m.r

Dengan keterangan

k = ΔL1/ΔY

m = ΔL2/Δr, m < 0

r = tingkat suku bunga

M0 = permintaan uang saat r = 0

Y = pendapatan nasional.

Penawaran Uang

Penawaran uang adalah jumlah uang yang tersedia dalam perekonomian dan dapat digunakan untuk membiayai semua transaksi yang dilakukan oleh masyarakat.  Penawaran uang disebut juga sebagai jumlah uang beredar dan dinotasikan dengan huruf Ms.

Dalam jangka waktu tertentu atau jangka pendek, jumlah uang beredar dapat diasumsikan tetap jumlahnya dan bersifat eksogen karena ditentukan oleh pemerintah dan system perbankan melalui kegiatan penciptaan uang.

Secara grafis, Ms merupakan kurva berbentuk garis lurus vertical ke atas. Hal ini berarti bahwa jumlah uang beredar akan tetap berapapun tingkat suku bunga yang ditawarkan. Dengan kata lain, jumlah uang beredar tidak dipengaruhi oleh tingkat suku bunga.

Fungsi Penawaran Uang

Ms = M1 + Near Money

Ms = Tetap

Fungsi Keseimbangan Pasar Uang L-M

Keseimbangan pasar uang terjadi ketika kondisi permintaan uang sama dengan penawaran uang dan dinyatakan dengan persamaan berikut

L = Ms sehingga

k.Y + M0 + m.r = Ms

k.Y = Ms –  M0  – m.r  atau

Y = (1/k) x (Ms –  M0  – m.r)

Dengan demikian fungsi L-M nya adalah

Fungsi Keseimbangan  L-M

Y = (1/k) x (Ms – M0 – m.r)

nilai m lebih kecil dari nol sehingga fungsi keseimbangan L-M menjadi

Y = (1/k) x (Ms – M0 – (-m).r))

Contoh Soal Perhitungan Persamaan Fungsi Keseimbangan Pasar Uang L-M

Permintaan uang untuk transaksi dan jaga jaga dalam perekonomian masyarakat memenuhi fungsi L1 = 0,25Y dan permintaan uang untuk berspekulasi adalah L2 = 400 – 500r. Sedangkan jumlah uang bersedar Ms tetap yaitu 600. Tentukanlah keseimbangan di pasar uang dan gambarkan kurva fungsi L-M nya. Satuan uang dalam trillium rupiah.

a). Keseimbangan pasar uang

L = L1 + L2

L = 0,25Y + 400 – 500r

L = Ms

sehingga

0,25Y + 400 – 500r = 600

0,25Y = 600 – 400 + 500r

0,25Y = 200 + 500r

Y = 800 + 2000r

b). jadi keseimbangan pasar uang ditunjukkan oleh fungsi keseimbangan L-M yaitu

Y = 800 + 2000r

Kurva Keseimbangan Pasar Uang L-M

Y = 800 + 2000r

Gambar berikut menunjukkan kurva L-M yang menjelaskan bagaimana tingkat suku bunga berpengaruh terhadap kesimbangan pendapatan nasional. Dari kurvanya diketahui, bahwa kenaikan tingkat bunga akan menyebabkan naiknya pendapatan nasional keseimbangan. Pendapatan nasional keseimbangan akan naik jika tingkat suku bunga dinaikkan.

Gambar Kurva Grafik Keseimbangan Pasar Uang Persamaan Fungsi L-M
Gambar Kurva Grafik Keseimbangan Pasar Uang Persamaan Fungsi L-M

Pada tingkat suku Bunga 5 persen, pendapatan nasional keseimbangan adalah 900 triliun rupiah.

Y = 800 + (2000x 0,05)

Y = 900

Ketika tingkat suku bunga 15 persen, maka pendapatan nasional keseimbangan adalah 1100 triliun rupiah.

Y = 800 + (2000x 0,15)

Y = 1100

Jadi, ketika tingkat suku bunga dinaikkan dari 5 persen menjadi 15 pesen, maka pendapatan nasional keseimbangan naik dari 900 menjadi 1100 triliun rupiah.

Keseimbangan Pasar Barang dan Pasar Uang.

Keseimbangan IS-LM merupakan keseimbangan antara pasar barang dan pasar uang. Keseimbangan IS-LM disebut juga sebagai keseimbangan perekonomian secara general antara sector riil dengan sector keuangan suatu negara.

Keseimbangan umum atau general equilibrium terjadi ketika besarnya pendapatan nasional Y dan tingkat suku bunga r mencerminkan keseimbangan yang berlaku di dua pasar yaitu keseimbangan di pasar barang dan di pasar uang.

Secara gtafis, keseimbangan umum akan tercapai ketika kurva fungsi I-S berpotongan dengan kurva fungsi L-M.

Contoh Soal Perhitungan keseimbangan Pasar Barang Dan Pasar Uang

Suatu perekonomian negara memenuhi fungsi keseimbangan pasar barang sesuai fungsi I-S yaitu Y = 1100 – 2000r dan memenuhi fungsi keseimbagan pasar uang sesuai fungsi L-M yaitu Y = 800 + 2000r. Tentukan keseimbangan umum IS-LM perekonomian negara tersebut.

Jawab.

Keseimbangan Umum Pasar barang dan pasar uang tercapai jika Fungsi I-S sama dengan Fungsu L-M yaitu:

Fungsi I-S yaitu

Y = 1100 – 2000r

fungsi L-M yaitu

Y = 800 + 2000r.

Syarat keseimbangan

1100 – 2000r = 800 + 2000r

1100 – 800 =2000r + 2000r

300 = 4000r

r = 300/4000=0,075

r = 7,5persen

jadi tingkat suku bunga keseimbangan umum adalah 7,5 persen

Pendapatan Keseimbangan Umum

substitusikan tingkat suku bunga keseimbangan 7,5 persen ke fungsi I-S berikut

Y = 1100 – 2000(0,075)

Y = 1100 – 150

Y = 950

jadi Pendapatan nasional keseimbangan umum nya pada tingkat suku bunga kesimbangan 7,5 persen adalah 950 triliun rupiah,

Kurva Keseimbangan Umum Pasar Barang Dan Pasar Uang.

Gambar berikut menunjukkan kurva IS dan kurva LM yang saling perpotongan membentuk keseimbangan umum pada titik E yaitu pada tingkat suku bunga 75 persen dan pendapatan nasional 950 triiun rupiah.

Gamabr Grafik Fungsi Keseimbangan Umum Pasar Barang Dan Pasar Uang Kurva IS-LM
Gamabr Grafik Fungsi Keseimbangan Umum Pasar Barang Dan Pasar Uang Kurva IS-LM

Dari gambar diketahui bahwa Tingkat suku bunga menunjukkan perilaku yang berbeda pada pendapatan nasional Y. Pendapatan nasional yang ditentukan dari konsumsi C dan investasi I akan turun ketika tingkat suku Bunga naik, sedangan pendapatan nasional yang ditentukan dari  permintaan uang masyarakat akan naik ketika tingkat suku Bunga naik.

Seandainya materi ini memberikan manfaat, dan anda ingin memberi dukungan Donasi pada ardra.biz, silakan kunjungi SociaBuzz Tribe milik ardra.biz di tautan berikuthttps://sociabuzz.com/ardra.biz/tribe

Daftar Pustaka:

  1. Mankiw, N., Gregory, 2003, “Teori Makroekonomi”, Edisi Kelima, Penerbit Erlangga, Jakarta.
  2. Jhingan, M.L., 2008, “Ekonomi Pembangunan Perencanaan”, Edisi Pertama, PT RajaGrafindo Persada, Jakarta.
  3. Samuelson, A., Paul. Nordhaus, D., William, 2004, “Ilmu Makro Ekonomi”, Edisi 17, PT Media Global Edukasi, Jakarta.
  4. Sukirno, Sadono, 2008, “Makroekonomi Teori Pengantar”, Edisi Ketiga, PT RajaGrafindo Persada, Jakarta.
  5. Prasetyo, P., Eko, 2011, “Fundamental Makro Ekonomi”, Edisi 1, Cetakan Kedua, Beta Offset, Yogyakarta.
  6. Putong, Iskandar. Andjaswati, N.D., 2008, “Pengantar Ekonomi Makro”, Edisi Pertama, Penerbit Mitra Wacana Media, Jakarta.
  7. Firdaus, R., Ariyanti, M., 2011, ”Pengantar Teori Moneter serta Aplikasinya pada Sistem Ekonomi Konvensional dan Syariah”, Cetakan Kesatu, AlfaBeta, CV, Bandung.
  8.  

Konsep Isoquant Isocost: Fungsi Produksi Dua Input Variabel, Pengertian, Contoh Soal Rumus Perhitungan

Teori Fungsi Produksi Dengan Dua Input Variabel. Jika factor produksi yang dapat berubah adalah jumlah tenaga kerja dan jumlah modal atau sarana yang digunakan, maka fungsi produksi dapat dinyatakan sebagai berikut:

Q = f(L, K)

Pada fungsi produksi ini diketahui, bahwa tingkat produksi dapat berubah dengan merubah factor tenaga kerja dan atau jumlah modal. Karena menggunakan dua factor produksi yang dapat diubah ubah, maka disebut fungsi produksi dua input variabel.

Pengaruh Faktor Produksi Terhadap Tingkat Output Produksi.

Perusahaan mempunyai dua alternative jika berkeinginan untuk menambah tingkat produksinya. Perusahaan dapat meningkatkan produksi dengan menambah tenaga kerja, atau menambah modal atau menambah tenaga kerja dan modal.


Konsep Isoquant.

Kurva isokuan adalah garis atau grafik yang menggambarkan atau menjelaskan barbagai kombinasi penggunaan dua input variabel factor produksi untuk mendapatkan tingkat output yang sama.

Konsep isoquant ditunjukkan dalam bentuk table dan kurva atau grafik yang menggambarkan hubungan berbagai titik kombinasi dua input factor produksi yang digunakan dalam proses produksi untuk menghasilkan jumlah output yang sama.

Asumsi Kurva Isoquant

Kurva isokuan mempunyai asumsi bahwa kedua input factor prduksi antara tenaga kerja dan modal K dapat saling dipertukarkan penggunaannya. Misal sejumlah tenaga kerja L dapat diganti oleh sejumlah modal K, demikian sebaliknya, K dapat diganti oleh L.

Marginal Rate of Technical Substitution (MRTS)

Marginal Rate of Technical Substitution (MRTS) merupakan perbandingan antara MPL dengan MPK. MRTS adalah suatu kondisi di mana perusahaan dapat mengganti satu unit tenaga kerja dengan sejumah unit input lainnya untuk mendapat tingkat output yang sama.

Penurunan ouput akibat penurunan penggunaan jumlah modal dapat dihitung dengan menggunakan persamaan rumus berikut

MPK = -ΔTP/ΔK atau

ΔTP = -ΔK x MPK

Peningkatan ouput akibat penambahan penggunaan jumlah tenaga kerja dapat dihitung dengan menggunakan persamaan rumus berikut

MPL = ΔTP/ΔL atau

ΔTP = ΔL x MPL

Supaya output selalu sama ketika ada penambahan tenaga kerja dan pengurangan jumlah modal, maka penurunan output akibat berkurangnya input modal ΔK, harus sama dengan peningkatan output akibat penambahan tenaga kerja ΔL.

Penurunan ouput (modal) = kenaikan output (tenaga kerja)

-ΔK x MPK = ΔL x MPL atau

-ΔK/DL = MPL/MPK

Marginal Rate of Technical Substitution (MRTS) dapat dinyatakan dengan menggunakan persamaan rumus berikut:

MRTSLK = -ΔK/ΔL

MRTSLK = MPL/MPK

Contoh Perhitungan Marginal Rate of Technical Substitution (MRTS)

Perusahaan yang bergerak pada bidang pertanian semula mempunyai enam tenaga kerja dan jumlah modal sebanyak 14. Kemudian perusahaan akan menambah dua tenaga kerja dengan mengurangi jumlah modal sebanyak 6, tanpa ada perubahan pada total produksi. Hitung Marginal Rate of Technical Substitution (MRTS) peruahaan tersebut.

Jawab

ΔL = 2

ΔK = – 6

MRTSLK = -ΔK/ΔL

MRTSLK = -(-6)/(2)

MRTSLK = 3

Jadi MRTSLK perusahaan tersebut adalah 3. Angka 3 menunjukkan laju pertukaran antara modal terhadap tenaga kerja. Artinya, perusahaan dapat mengganti atau menukar atau mengurangi 3 modal K dengan menambah satu tenaga kerja L.

Table Isokuan

Table berikut menunjukkan contoh gabungan atau kombinasi antara tenaga kerja L dan modal K untuk menghasilkan output Q 200 unit produk.

Tabel Fungsi Produksi Dua Input Variabel Faktor Produksi Konsep Isoquant
Tabel Fungsi Produksi Dua Input Variabel Faktor Produksi Konsep Isoquant

Pada table dapat dilihat penggantian atau pertukaran antara input tenaga kerja L dengan modal K untuk dapat menghasilkan output Q 200 unit produk.

Saat produksi menggunakan kombinasi B, output 200 unit produk dapat dihasilkan dengan menggunakan 6 tenaga kerja dan 14 modal. Namun demikian Produsen dapat mengurangi jumlah modal menjadi 10 dengan menambah 2 tenaga kerja menjadi 8 tenaga kerja (seperti kombinasi C).

MRTS kombinasi B lebih tinggi dari MRTS kombinasi C, ini artinya dengan kombinasi B, produsen dapat mengurangi modal lebih banyak setiap kali menambah satu tenaga kerja.

Pada kombinasi B, satu tenaga kerja dapat mengurangi 3 modal, sedangkan pada kombinasi C, satu tenaga kerja hanya mampu mengurangi 2 modal.

Kurva Grafik Isokuan

Gambar berikut menunjukkan kurva grafik isokuant yang merepresentasikan table di atas. Kurva grafik isokuan dibangun oleh sumbu horizontal sebagai tenaga kerja L dan oleh sumbu vertical sebagai modal K.

Kurva Grafik Fungsi Produksi Dua Input Faktor Variabel Konsep Isoquant
Kurva Grafik Fungsi Produksi Dua Input Faktor Variabel Konsep Isoquant

Pada gabungan atau kombinasi A, untuk menghasilkan output Q 200 unit diperlukan 4 tenaga kerja dengan 20 modal. Kombinasi B, untuk menghasilkan jumlah produk yang sama perusahaan dapat menambah dua tenaga kerja menjadi 6 tenaga kerja dengan mengurangi jumlah modal sebanyak 6 dari 20 menjadi 14 modal. Begitu seterusnya sesuai dengan grafiknya.

Dengan demikian, untuk mendapatkan output Q yang sama, perusahaan dapat menambah penggunaan tenaga kerja dengan mengurangi jumlah modal yang digunakan. Garis yang menghubungkan titik titik kombinasi A, B, C, D, E dan F disebut kurva atau grafik Isoquant atau Isokuan.

Konsep Isocost

Kurva Isocost atau garis batas biaya adalah suatu garis atau kurva yang menggambarkan atau menjelaskan gabungan atau kombinasi penggunaan input factor produksi dengan biaya yang dikeluarkan sama.

Biaya yang dikeluarkan oleh perusahaan adalah harga input dikalikan dengan unit input yang digunakan. Harga input terdiri dari  harga tenaga kerja PL dan harga modal PK.

Besarnya biaya input pada fungsi isocost dapat dinyatakan dengan menggunakan persamaan rumus berikut:

C = PL x L + PK x K

Dengan keterangan

C = biaya untuk mendapatkan input

PL = upah tenaga kerja

L = jumlah tenaga kerja

PK = harga modal

K = jumlah modal

Jumlah tenaga kerja yang digunakan dapat dinyatakan dengan rumus berikut

L = C/PL – (PK/PL) x K

Jumlah modal K yang digunakan dapat dinyatakan dengan rumus berikut

K = C/PK – (PL/PK) x L

Contoh Soal Perhitungan Fungsi Produksi Isocost

Upah tenaga kerja pada sebuah perusahaan adalah Rp 4 juta per tenaga kerja dan biaya modal sebesar Rp 8 juta per unit. Sedangkan jumlah dana uang yang tersedia adalah Rp 160 juta. Buatkan fungsi dan kurva isocost- nya.

Jawab.

Diketahui

C = 160 jt

PL = 4 jt

PK = 8 jt

Menentukan Fungsi Isocost

C = PL x L + PK x K

160 = 4 L + 8 K

Menentukan jumlah tenaga kerja L Fungsi Isocost

4 L = 160 – 8 K

L = (160/4) – 8/4) K

L = 40 – 2 K

Menentukan jumlah modal K Fungsi Isocost

160= 4 L + 8 K

8 K = 160 – 4 L

K = 160/8 – (4/8) L

K = 20 – (0,5) L

Membuat Kurva Fungsi Isocost

Cara membuat kurva isocost dengan menentukan titik akhir kurva (curve end point) untuk titik akhir 1 pada K = 0 dan titik akhir 2 pada L = 0

Buat titik 1 dengan K = 0

160= 4 L + 8 K

160= 4 L + 8(0)

L = 40

Jadi Titik akhir 1 adalah (40, 0)

Buat titik 2 dengan L = 0

160= 4 L + 8 K

160= 4(0) + 8 K

K = 20

Jadi titik akhir 2 adalah (0, 20)

Buat kurva garis dengan menghubungkan titik 1 (40, 0) dan titik 2 (0, 20)

Kurva Grafik Fungsi Produksi Dua Input Faktor Variabel Konsep Isocost
Kurva Grafik Fungsi Produksi Dua Input Faktor Variabel Konsep Isocost

Sepanjang kurva isocost yaitu dari titik A sampai titik E merupakan titik titik kemungkinan kombinasi antara tenaga kerja L dan modal K dengan biaya yang dikeluarkan produsen tetap sama yaitu Rp 160 juta.

Pada Kombinasi A, Produsen mengeluarkan biaya sebesar Rp 160 juta untuk penggunaan 40 tenaga kerja L dan 0 modal K.  Dengan biaya yang sama Rp 160 juta, produsen dapat mengurangi tenaga kerja menjadi 30 tenaga kerja dengan menambah modal  menjadi 5 modal K (seperti pada kombinasi titik B).

Kombinasi lainnya yaitu C, D, dan E merupakan alternatif penggunaan tenaga kerja dan modal yang berbeda dengan biaya yang sama.

Jika dana yang tersedia lebih besar dari Rp 160 juta, maka kurva bergesar ke kanan, dan jika dana yang tersedia lebih kecil dari Rp 160 juta, maka kurva bergeser ke kiri.

Contoh Soal Pergeseran Kurva Fungsi Isocost

Gunakan data soal di atas untuk soal berikut. Jika dana yang tersedia untuk tenaga kerja dan modal menjadi Rp 240 juta, buatkan kurva isocost-nya.

Jawab

Diketahui

C = 240 jt

PL = 4 jt

PK = 8 jt

Menentukan Fungsi Isocost

C = PL x L + PK x K

240= 4 L + 8 K

Menentukan jumlah tenaga kerja L Fungsi Isocost

4 L = 240 – 8 K

L = (240/4) – (8/4) K

L = 60 – 2 K

Menentukan jumlah modal K Fungsi Isocost

240 = 4 L + 8 K

8 K = 240 – 4 L

K = 240/8 – (4/8) L

K = 30 – (0,5) L

Membuat Kurva Fungsi Isocost

Cara membuat kurva isocost dengan menentukan titik akhir kurva (curve end point) untuk titik akhir 1 pada K = 0 dan titik akhir 2 pada L = 0

Buat titik 1 dengan K = 0

240 = 4 L + 8 K

240 = 4 L + 8 (0)

L = 60

Jadi Titik akhir 1 adalah (60, 0)

Buat titik 2 dengan L = 0

240 = 4 L + 8 K

240 = 4 (0) + 8 K

K = 30

Jadi titik akhir 2 adalah (0, 30)

Buat kurva garis dengan menghubungkan titik 1 (60, 0) dan titik 2 (0, 30)

Pergeseran Kurva Grafik Fungsi Produksi Dua Input Faktor Variabel Konsep Isocost
Pergeseran Kurva Grafik Fungsi Produksi Dua Input Faktor Variabel Konsep Isocost

Pada gambar dapat diketahui, bahwa jika biaya yang dikeluarkan untuk tenaga kerja dan modal dinaikan menjadi Rp 240 juta, maka kurva grafik fungsi isocost bergesar ke arah kanan, menjauh dari titik nol.

Dengan bergesernya kurva fungsi isocost, maka produsen memiliki kombinasi tenaga kerja dan modal yang baru yaitu titik titik pada kurva isocost C = Rp 240 jt

Keseimbangan Produsen

Keseimbangan produsen adalah suatu kondisi dimana produsen atau perusahaan dapat melakukan kegiatan produksinya secara efisien. Kondisi efisien dilakukan dengan mengoptimalkan jumlah produk pada biaya tertentu atau meminimalkan biaya produksi pada jumlah produksi tertentu.

Keseimbangan produsen dapat terjadi apabila produsen mampu mengkombinasikan penggunaan factor factor produksi yang menghasilkan produk maksimum pada biaya tertentu atau produksi pada biaya minimum untuk menghasilkan produk pada jumlah tertentu dan kondisi ini disebut Least Cost Combination (LCC).

Kurva Grafik Keseimbangan Produsen

Secara grafis, keseimbangan produsen atau least cost combination LLC tercapai ketika kuva fungsi produksi isocost bersinggungan dengan kurva fungsi produksi isoquant. Ini atinya kurva fungsi isokos dan kurva fungsi isokuan mempunyai slope atau kemiringan yang sama.

Contoh Perhitungan Keseimbangan Produsen, Keseimbangan Fungsi Produksi Isocost – Isoquant,

Suatu perusahaan memiliki data kombinasi factor produksi tenaga kerja L dan modal mesin K untuk menghasikan produk Q sebanyak 1000 unit seperti ditunjukkan dalam table di berikut.

Tabel Kombinasi Tenaga Kerja Dan Modal Fungsi Isoquant
Tabel Kombinasi Tenaga Kerja Dan Modal Fungsi Isoquant

Upah tenaga kerja per orang per jam adalah 200 ribu rupiah dan biaya mesin per jam adalah 300 ribu rupiah.

Tentukan jumlah tenaga kerja L dan mesin K yang harus digunakan agar perusahaan beroperasi pada kondisi optimum atau pada kondisi least cost combination LLC.

Menghitung Biaya Produksi Kombinasi Tenaga Kerja L dan Modal Mesin K,

Biaya produksi untuk menghasilkan produk 1000 unit dapat dinyatakan dengan menggunakan persamaan fungsi isocost sebagai berikut.

C = (PL x L) + ( PK x K)

C = biaya produksi

PL = upah tenaga kerja

PL = 200 ribu = 0,2 juta rupiah

L = jumah tenaga kerja

PK = biaya mesin

PK = 300 ribu = 0,3 juta rupiah

K = jumlah modal atau mesin

Pada kombinasi A diketahui

L = 20

K = 25

Maka besar biaya kombinasi A adalah

C = (0,2 x 20) + (0,3 x 25)

C = 9,5 juta rupiah

Pada  kombinasi B diketahui

L = 15

K = 14

Maka besar biaya kombinasi A adalah

C = (0,2 x 15) + ( 0,3 x 14)

C = 7,2 juta rupiah

Dan seterusnya sampai kombinasi E.

Tabel Hasil Perhitungan Biaya Produksi Kombinasi Tenaga Kerja dan Modal Mesin

Hasil perhitungan kemudian dibuat dalam table seperti berikut

Tabel Hasil Perhitungan Biaya Produksi Kombinasi Tenaga Kerja dan Modal Fungsi Isocost
Tabel Hasil Perhitungan Biaya Produksi Kombinasi Tenaga Kerja dan Modal Fungsi Isocost

Dari table hasil perhitungan diketahui bahwa biaya produksi paling rendah atau minimum adalah 7 juta rupiah yaitu pad saat preusahaan menggunakan 20 tenaga kerja L dan 10 mesin (modal).

Jadi biaya yang dikeluarkan untuk mencapai kondisi least cost combinastion LCC adalah 7 juta rupiah.

Menentukan Fungsi Produksi Isocost

Fungsi isocost ditentukan pada saat biaya produksi paling rendah yaitu pada kondisi least cost combinastion LCC seperti berikut

C = (PL x L) + ( PK x K)

Diketahui bahwa

C = 7 juta rupiah

PL = 0,2 juta

PK = 0,3 juta

Jadi fungsi isocost nya adalah sebagai berikut

7 = 0,2L + 0,3K

Membuat Kombinasi Tenaga Kerja L dan Modal Mesin

Untuk membuat kombinasi tenaga kerja L dan Modal Mesin K, dapat digunakan persamaan fungsi isocost dengan mengambil nilai tenaga kerja L yang ditentukan terlebih dahulu.

Fungsu isicost nya adalah

7 = 0,2L + 0,3K

Contoh nilai yang ditetapkan adalah L, maka nilai K dapat dihitung seperti berikut

K = (7 – 0,2L)/0,3

Untuk tenaga kerja L = 2

Maka jumlah modal mesin K adalah

K = (7 – 0,2(2))/0,3

K = (7 – 0,4)/0,3

K = 22

Untul tenaga kerja L = 20

Maka jumlah modal mesin K adalah

K = (7 – 0,2(20))/0,3

K = (7 – 4)/0,3

K = 10

Untuk tenaga kerja L =35

Maka jumlah modal mesin K adalah

K = (7 – 0,2(35))/0,3

K = (7 – 7)/0,3

K = 0 dan dan seterusnya

Tabel Hasil Perhitungan Kombinasi Tenaga Kerja L dan Modal Mesin K Fungsi Isocost

Hasil perhitungannya kemudian dibuat dalam table seperti berikut

Tabel Hasil Perhitungan Kombinasi Tenaga Kerja L dan Modal Mesin K Fungsi Isocost
Tabel Hasil Perhitungan Kombinasi Tenaga Kerja L dan Modal Mesin K Fungsi Isocost

Data pada table di atas menunjukkan berbagai kombinasi antara jumlah tenaga kerja L dengan jumlah  mesin K yang dapat digunakan oleh perusahaan dimana biaya produksinya tetap 7 juta rupiah.

Membuat Kurva Keseimbangan Produsen Fungsi Produksi Isoquant dan Isocost

Fungsi isocost dan fungsi isoquant dapat dibuatkan kurvanya seperti ditunjukkan pada gambar berikut.

Gambar Kurva Keseimbangan Produsen Fungsi Produksi Isoquant dan Isocost
Gambar Kurva Keseimbangan Produsen Fungsi Produksi Isoquant dan Isocost

Titik singgung antara kurva isocost (biru) dengan kurva isoquant (merah) mencerminkan suatu kombinasi penggunaan factor produksi (input) yang paling tepat. Dengan demikian perusahaan dapat meminimumkan biaya produksi maupun memaksimumkan jumlah produksi.

Titik keseimbangan kurva isokuan dengan isokos terjadi pada titik E. Titik Keseimbangan E merupakan kondisi Least Cost Combination LLC. Pada kondisi keseimbangan titik E produksi menjadi efisien ketika perusahaan menggunakan 20 tenaga kerja L dan 10 modal K.

Menghitung Biaya Keseimbangan Fungsi Isocost Isoquant

Pada titik keseimbangan E, nilai biaya produksinya dapat dihitung dengan persamaan berikut

C = (PL x L) + (PK x K)

Diketahui bahwa

PL = 0,2 juta

PK = 0,3 juta

L = 20

K = 10

Maka biaya C adalah

C = (0,2 x 20) + (0,3 x 10)

C = 4 + 3

C = 7 juta rupiah

Jadi biaya produksi perusahaan pada titik keseimbangan E adalah 7 juta rupiah.

Teori Fungsi Produksi Satu Input Variabel

Daftar Pustaka:

  1. Sukirno, S, 2011, “Mikroekonomi Teori Pengantar”, PT Raja Grafindo Persada, Edisi Ketiga, Cetatakan Ke 26, Jakarta.
  2. Joesron, Suharti, Tati. Fathorrrazi, M., 2012, “Teori Ekonomi Mikro”, Edisi Pertama, Graha Ilmu, Yogyakarta.
  3. Sartono, Agus, R., “ 2001, “Manajemen Keuangan Teori dan Aplikasi”, Edisi Keempat, BPFE Yogyakarta, Yogyakarta.
  4. Ahman H., Eeng. Rohmana, Yana, 2007, “Ilmu Ekonomi dalam PIPS”, Edisi Pertama, Penerbit Unuversitas Terbuka, Jakarta.
  5. Jhingan, M.L., 2008, “Ekonomi Pembangunan Perencanaan”, Edisi Pertama, PT RajaGrafindo Persada, Jakarta.
  6. Ahman, H., E., Rohmana, Y., 2007,”Ilmu Ekonomi Dalam PIPS”, Edisi Kedua, Cetakan Pertama, Penerbit Universitas Terbuka, Jakarta.

Circular Flow Diagram: Peran Fungsi Pelaku Ekonomi Rumah Tangga Konsumsi Produsen Pemerintah Luar Negeri.

Pengertian. Pelaku ekonomi adalah subjek baik perorangan maupun badan (organisasi) atau pemerintah yang melakukan kegiatan ekonomi (produksi, konsumsi, dan distribusi).

Pelaku kegiatan ekonomi terdiri dari empat kelompok atau komponen atau sector yaitu rumah tangga komsumsi biasa disebut konsumen, rumah tangga produksi disebut produsen, pemerintah dan masyarakat luar negeri.

Peran Fungsi Pelaku Ekonomi

Rumah Tangga Konsumsi sebagai Komsumen

Rumah tangga konsumsi merupakan konsumen yang terdiri dari perorangan (individu) atau kelompok.


Rumah tangga konsumsi akan melakukan kegiatan konsumsi terhadap barang dan jasa untuk memenuhi kebutuhan hidup diri sendiri atau keluarga atau kelompok.

Rumah tangga juga merupakan kelompok masyarakat sebagai pemilik faktor-faktor produksi (tanah, tenaga kerja, modal, dan wirausaha). Factor factor produksi yang dimiliki rumah tangga konsumsi merupakan sumber pendapatnya.

Jenis Pendapatan Rumah Tangga Konsumsi

Bentuk Pendapatan rumah tangga konsumsi diperoleh dari perusahaan adalah sewa, upah, bunga, dan laba.

1). Sewa (rent), merupakan balas jasa yang diterima rumah tangga konsumsi karena telah menyewakan tanahnya kepada pihak lain, misalnya perusahaan.

2). Upah (wage), merupakan balas jasa yang diterima rumah tangga konsumsi karena telah mengorbankan tenaganya untuk bekerja pada perusahaan dalam kegiatan produksi.

3). Bunga (interest), merupakan balas jasa yang diterima rumah tangga konsumsi dari perusahaan karena telah meminjamkan sejumlah dana untuk modal usaha perusahaan dalam kegiatan produksi.

4). Laba (profit), merupakan balas jasa yang diterima rumah tangga konsumsi dari rumah tangga produsen karena telah mengorbankan tenaga dan pikirannya dalam mengelola perusahaan sehingga perusahaan dapat memperoleh laba.

Peran Fungsi Pelaku Rumah Tangga Komsumsi

1). Sebagai penyediakan factor factor produksi yang digunakan olah produsen

2). Mendapatkan imbalan atau balas jasa atas factor factor produksi disediakannya.

3). Sebagai konsumen atau pengguna barang dan jasa yang dihasilkan oleh produsen

4). Membayar pajak kepada pemerintah

Rumah Tangga Produksi sebagai Produsen

Rumah tangga produksi merupakan produsen yang terdiri dari perusahaan perusahaan yang melakukan kegiatan produksi untuk menghasilkan barang dan jasa. Adapau tujuan produksi adalah untuk mendapatkan keuntungan atau laba.

Peran dan Fungsi Rumah Tangga Produksi atau Produsen

1). Sebagai pengguna factor factor produksi yang disediakan oleh rumah tangga konsumsi untuk menghasilkan barang dan jasa

2). Memberikan atau membayar balas jasa atas semua factor factor produksi yang telah digunakan untuk produksinya.

3). Mendistribusikan dan menjual barang dan jasa hasil produksinya ke pasar output baik rumah tangga konsumsi, pemerintah atau masyarakat luar negeri.

4). Mendapatkan atau menerima hasil penjualan atas barang dan jasa yang diproduksinya.

5). Sebagai agen pembangunan, perusahaan dapat meningkatkan produksi melalui penelitian dan pengembangan. Setiap perusahaan selalu berusaha supaya tidak ketinggalan ilmu dan teknologi serta dapat mengembangkan diri sesuai dengan kemajuan zaman.

Rumah Tangga Pemerintah.

Pemerintah  bertugas untuk mengatur, mengendalikan, serta mengadakan kontrol terhadap jalannya roda perekonomian agar negara dapat tumbuh dan berkembang sehingga rakyat dapat hidup layak dan damai.

Dalam kegiatan perekonomian suatu negara, pemerintah berperilaku sebagai produsen dan juga konsumen.

Rumah tangga pemerintah berperan sebagai produsen untuk menyediakan dasilitas fasilitas umum. Memonopoli sector sector produksi seperti air, naha bakar, dan makanan.

Rumah tangga pemerintah berperan sebagai konsumen dengan melakukan konsumsi dengan belanja rutin yang terdiri dari pembayaran  gaji pegawai pemerintah. Pemerintah penyediaan anggaran untuk pelaksanaan harian di instansi instansi peemerintah. Pemerintah juga melakukan konsumsi dengan belanja untuk infrastruktur berupa pembangunan fasilitas umum seperti jalan, sekolah, rumah sakit, pelabuhan, bendungan dan sebagainya.

Peran Fungsi Pemerintah

1). mengatur kegiatan ekonomi melalui peraturan dan perundang-undangan disertai berbagai tindakan nyata. Pemerintah dapat melaksanakannya sebab memiliki alat-alat untuk melaksanakannya baik alat pengendali, pengatur, maupun pemaksa.

2). mengontrol kegiatan ekonomi, pemerintah mempunyai bank sentral yang berfungsi mengawasi lalu lintas keuangan, antara lain jumlah uang yang beredar, tinggi rendahnya suku bunga, lalu lintas kredit, dan sebagainya.

Pemerintah juga satu-satunya yang mempunyai hak untuk mencetak uang serta mengedarkannya di masyarakat.

3). Pemerintah sebagai Penguasa yang memiliki alat pemaksa bagi terselenggaranya ketertiban di dalam masyarakat, yaitu polisi. Pemerintah juga memiliki alat peradilan bagi terselenggaranya keadilan bagi seluruh rakyat.

Masyarakat Luar Negeri

Masyarakat luar negeri merupakan pelaku ekonomi yang berhubungan dengan transaksi perekonomian internasional. Contoh transaksi ekonomi internasional adalah perdagangan ekspor impor, penaman modal, pertukaran tenaga kerja, dan sebagainya.

Masyarakat luar negeri menempati posisi yang cukup penting dalam pemenuhan kebutuhan yang tidak dapat disediakan atau dihasilkan di dalam negeri.

Peran Fungsi Masyarakat Luar Negeri

Adapun Peranan masyarakat luar negeri adalah sebagai berikut.

a). Masyarakat Luar Negeri sebagai Konsumen dari produk barang dan jasa yang dihasilkan dari dalam negeri. Masyarakat luar negeri dapat mengimpor barang jasa ke negara mereka.

b). Masyarakat Luar Negeri sebagai Produsen dapat menjual dengan mengekspor  produk barang dan jasa yang mereka hasilkan untuk digunakan di dalam negeri.

c). Masyarakat Luar Negeri sebagai Investor dapat menanamkan modalnya di dalam negeri untuk kebutuhan produksi dalam negeri.

d). Negara maju banyak memiliki tenaga ahli yang dibutuhkan di dalam negeri. Dengan demikian, masyarakat luar negeri sebagai tenaga ahli dapat memenuhi kekurangan tenaga kerja khusus di dalam negeri.

Circular Flow Diagram.

Kegiatan perekonomian suatu negara dan pelaku pelaku ekonomi yang terlibat dalam perekonomian dapat dilihat dalam circular flow diagram. Keterkaitan antara pelaku-pelaku ekonomi tersebut dapat digambarkan dalam siklus aliran atau arus uang dan arus barang atau circular flow diagram.

Siklus aliran uang adalah siklus yang menunjukan aliran uang yang dilakukan oleh para pelaku ekonomi dalam suatu perekonomian.

Siklus aliran barang dan jasa adalah siklus yang menunujukkan aliran barang dan jasa yang dilakukan oleh para pelaku ekonomi dalam suatu perekonomian.

Kegiatan Ekonomi Dua Sektor

Kegiatan ekonomi dua sector yang melibatkan dua pelaku ekonomi yaitu rumah tangga konsumen dan rumah tangga produsen.

Kegiatan ekonomi dua sector terdiri dari corak kegiatan ekonomi subsistem dan corak perekonomian modern.

Kegiatan Ekonomi Subsistem

Dalam kegiatan ekonomi subsistem, penerima pendapatan (yaitu rumah tangga konsumsi) tidak menabung dan para produen yaitu pengusaha atau perusahaan tidak menanamkan modal.

Sector produksi menggunakan seluruh faktor produksi yang ada dalam perekonomian. Pengeluaran sektor rumah tangga konsumsi akan sama dengan nilai barang dan jasa yang diproduksi dalam perekonomian.

Kegiatan ekonomi subsistem dapat digambarkan dengan circular flow diagram seperti berikut.

Kegiatan Ekonomi Dua Sektor Subsistem Circular Flow Diagram
Kegiatan Ekonomi Dua Sektor Subsistem Circular Flow Diagram

Sector rumah tangga konsumsi menjual faktor produksi kepada sektor perusahaan (rumah tangga produksi) agar memperoleh pendapatan berupa balas jasa.

Sector rumah tangga konsumsi memberikan faktor produksi seperti tanah, tenaga kerja, modal atau keahlian pada perusahaan (pada gambar ditunjukkan oleh garis a).

Garis a menunjukkan aliran factor factor produksi dari rumah tangga konsumsi sebagai penyedia kepada rumah tangga produksi sebagai pengguna.

Sebagai balas jasa atas faktor produksi yang telah diberikan oleh sektor rumah tangga konsumsi, maka produsen sebagai sektor perusahaan akan memberikan balas jasa berupa sewa untuk tanah, upah atau gaji bagi tenaga kerja, bunga atau sewa untuk modal dan keuntungan bagi keahlian (ditunjukkan garis b).

Garis b menunjukkan aliran uang dari rumah tangga produksi sebagai produsen ke rumah tangga konsumsi sebagai konsumen.

Kegiatan transaksi factor factor produksi antara rumah tangga konsumsi dan produksi terjadi di pasar factor produksi yang disebut pasar input.

Pasar Input adalah suatu pasar untuk transaksi jual beli terhadap factor factor produksi yang dimiliki oleh rumah tangga konsumsi.

Setelah sektor rumah tangga memperoleh balas jasa atas factor produksi yang mereka jual kepada perusahaan, maka sektor rumah tangga konsumsi memiliki pendapatan yang siap untuk dibelanjakan  pada sector perusahaan, berupa pembelian barang dan jasa (ditunjukkan garis c).

Garis c menunjukkan aliran uang dari rumah tangga konsumsi ke rumah tangga produksi atas segala transaksi barang dan jasa.

kemudian sektor rumah tangga produsi akan menyerahkan barang dan jasa tersebut kepada sektor rumah tangga konsumsi (ditunjukkan garis d).

Garis c menunjukkan aliran barang dan jasa dari rumah tangga produksi ke atas rumah tangga konsumsi. Kegiatan transaksi ekonomi ini terjadi di pasar barang dan jasa yang disebut pasar output.

Pasar output adalah suatu pasar untuk transaksi jual beli produk barang dan jasa sebagai hasil produksi perusahaan.

Kegiatan Ekonomi Modern

Pada kegiatan ekonomi modern, konsumen sebagai penerima pendapatan akan menyisihkan sebagian pendapatan yang diterimanya untuk ditabung. Tabungan para pemerima pendapatan ini akan dipinjam oleh para produsen untuk digunakan sebagai investasi seperti melakukan pembelian barang barang modal.

Kegiatan ekonomi modern dapat digambarkan dengan circular flow diagram seperti berikut.

Kegiatan Ekonomi Dua Sektor Modern Circular Flow Diagram
Kegiatan Ekonomi Dua Sektor Modern Circular Flow Diagram

Kegiatan Ekonomi Tiga Sektor

Dalam kegiatan ekonomi tiga sektor, pelaku-pelaku ekonomi yang terlibat selain dari rumah tangga dan perusahaan, diperlihatkan juga peranan dan pengaruh pemerintah atas kegiatan perekonomian.

Kegiatan Ekonomi Tiga Sektor Circular Flow Diagram
Kegiatan Ekonomi Tiga Sektor Circular Flow Diagram

Peran pemerintah pada kegiatan ekonomi tiga sektor adalah menarik pajak dari rumah tangga konsumsi dan produsen. Dan sebaliknya, konsumen dan produsen mendapat subsidi dari pemerintah.

Pemerintah membelajakan angggarannya untuk bertransaksi di pasar faktor produksi dan pasar barang jasa.

Kegiatan Ekonomi Empat Sektor

Kegiatan ekonomi empat sektor sering disebut perekonomian terbuka karena kegiatan ini tidak hanya melibatkan pelaku-pelaku ekonomi di dalam negeri, tetapi juga melibatkan masyarakat ekonomi di luar negeri.

Kegiatan Ekonomi Empat Sektor Circular Flow Diagram
Kegiatan Ekonomi Empat Sektor Circular Flow Diagram

Masyarakat luar negeri dapat bertransaksi ekspor impor terhadap pasar faktor produksi maupun pasar barang dan jasa yang ada di dalam negeri.

Contoh Soal Ujian Pelaku Ekonomi Circular Flow Diagram.

Soal 1. Di bawah ini yang bukan merupakan peran pemerintah dalam perekonomian adalah ….

  1. pengatur
  2. penguasa
  3. konsumen
  4. produsen
  5. distributor

Soal 2. Di bawah ini yang bukan merupakan pendapatan rumah tangga adalah ….

  1. bunga
  2. laba
  3. sewa
  4. upah
  5. pajak

Soal 3. Subjek yang melakukan kegiatan ekonomi disebut ….

  1. produsen
  2. konsumen
  3. distributor
  4. eksportir
  5. pelaku-pelaku ekonomi

Daftar Pustaka:

  1. Mankiw, N., Gregory, 2003, “Teori Makroekonomi”, Edisi Kelima, Penerbit Erlangga, Jakarta.
  2. Jhingan, M.L., 2008, “Ekonomi Pembangunan Perencanaan”, Edisi Pertama, PT RajaGrafindo Persada, Jakarta.
  3. Samuelson, A., Paul. Nordhaus, D., William, 2004, “Ilmu Makro Ekonomi”, Edisi 17, PT Media Global Edukasi, Jakarta.
  4. Sukirno, Sadono, 2008, “Makroekonomi Teori Pengantar”, Edisi Ketiga, PT RajaGrafindo Persada, Jakarta.
  5. Prasetyo, P., Eko, 2011, “Fundamental Makro Ekonomi”, Edisi 1, Cetakan Kedua, Beta Offset, Yogyakarta.
  6. Putong, Iskandar. Andjaswati, N.D., 2008, “Pengantar Ekonomi Makro”, Edisi Pertama, Penerbit Mitra Wacana Media, Jakarta.
  7. Firdaus, R., Ariyanti, M., 2011, ”Pengantar Teori Moneter serta Aplikasinya pada Sistem Ekonomi Konvensional dan Syariah”, Cetakan Kesatu, AlfaBeta, cv, Bandung.

Teori Nilai Barang, Teori Gossen: Nilai Biaya Tukar Subjektif Objektif

Pengertian Nilai Barang. Nilai  barang dapat diartikan sebagai kemampuan barang untuk memenuhi kebutuhan manusia. Ini artinya barang- barang yang memiliki nilai berarti barang itu mempunyai kemampuan untuk memenuhi kebutuhan manusia.

Jenis Nilai Barang

Nilai suatu barang dapat dibedakan menjadi dua, yaitu barang berdasarkan nilai pakai dan nilai tukar.

Nilai Pakai (Value in Use)

Suatu barang dikatakan mempunyai nilai pakai apabila barang tersebut mampu memenuhi kebutuhan pemiliknya secara langsung. Nilai pakai dapat dibedakan menjadi dua, yaitu sebagai berikut.


  • Nilai Pakai Subjektif,

Nilai pakai subjektif adalah nilai yang diberikan oleh seseorang terhadap suatu barang karena barang tersebut bisa digunakan untuk memenuhi kebutuhannya secara pribadi (untuk diri sendiri).

Contoh nilai pakai subjuktif adalah kursi roda bagi orang yang tidak dapat berjalan memiliki nilai pakai yang tinggi, tetapi bernilai pakai rendah bagi orang yang sehat. Kursi memiliki nilai subjektif terhadap perorangan. Hanya dibutuhkan oleh orang orang tertentu.

  • Nilai Pakai Objektif,

Nilai pakai objektif adalah kemampuan dari suatu barang untuk dapat memenuhi kebutuhan manusia pada umumnya.

Contoh nilai pakai objektif adalah air memiliki nilai pakai yang tinggi bagi setiap orang. Sebagai barang atau objek, air memiliki nilai pakai yang sangat tinggi, karena air merupakan sumber kehidupan dan dibutuhkan oleh setiap orang.

Nilai Tukar (Value in Exchange)

Suatu barang dapat dikatakan mempunyai nilai tukar apabila memiliki kemampuan untuk ditukarkan dengan barang lain.

Berdasarkan nilai tukarnya, suatu barang dapat dikatagorikan menjadi nilai tukar subjektif dan nilai tukar objektif.

  • Nilai Tukar Subjektif,

Nilai tukar subjektif adalah nilai yang diberikan oleh seseorang (secara pribadi)  terhadap suatu barang karena barang tersebut dapat ditukarkan dengan barang lain.

Contoh nilai tukar subjektif adalah bagi seseorang nilai tukar sebuah lukisan tertentu lebih tinggi dari nilai tukar sebuah mobil baru, tetapi tidak demikian bagi yang lain. Nilai tukar yang dinilai menurut perorangan. Tiap orang akan memberikan nilai tukar yang berbeda untuk barang yang akan ditukarnya.

  • Nilai Tukar Objektif,

Nilai tukar objektif adalah kemampuan dari suatu barang untuk dapat ditukarkan dengan barang yang lain.

Contoh nilai tukar objektif adalah semua orang mengakui bahwa berlian memiliki nilai tukar yang tinggi maka berlian akan memiliki harga yang tinggi di setiap tempat. Nilai yang secara umum diberikan pada barang akan sama.

Teori Nilai

Teori Nilai Objektif

Beberapa ahli ekonomi melakukan penelitian tentang bagaimana terjadinya nilai terhadap barang/ jasa melahirkan teori nilai objektif sebagai berikut.

Teori Nilai Biaya Produksi Adam Smith

Adam Smith menyatakan nilai suatu barang dan jasa ditentukan oleh biaya yang dikeluarkan produsen untuk memproduksi barang dan jasa tersebut. Semakin tinggi biaya produksi, maka semakin tinggi pula nilai dari barang tersebut.

Jika biaya produksi untuk suatu barang yang dikeluarkan oleh produsen adalah Rp 500.000, maka nilai dari barang tersebut juga sebesar Rp500.000 pula.

Teori Nilai Biaya Produksi Tenaga Kerja David Ricardo

Berdasrkan teori David Ricardo, nilai suatu barang ditentukan oleh biaya tenaga kerja yang digunakan untuk memproduksi barang tersebut.

Yang dimaksud Tenaga kerja adalah meliputi tenaga kerja manusia, mesin, dan peralatan lain yang digunakan.

Teori Nilai Lebih Karl Marx

Berdasarkan teori Karl Marx, barang dinilai berdasarkan pada biaya rata- rata tenaga kerja di masyarakat. Karl Marx juga berpendapat bahwa upah yang diberikan kepada buruh tidak sesuai dengan harga barang yang dijual sehingga timbul pemerasan terhadap buruh.

Laba yang diterima pengusaha didapat dari selisih nilai jual dengan biaya produksi yang rendah. Rendahnya biaya karena adanya pemerasan terhadap buruh disebut nilai lebih. Oleh karena itu, teori ini disebut dengan teori nilai lebih.

Teori Nilai Reproduksi Carey

Berdasarkan teori ini, nilai suatu barang ditentukan oleh biaya pembuatan kembali atau biaya saat barang tersebut direproduksi. Oleh karena itu, nilai barang ditentukan oleh harga- harga bahan pada saat barang tersebut akan dibuat kembali.

Teori Nilai Pasar Hummed and Locke

Berdasarkan teori ini, nilai suatu barang ditentukan oleh mekanisme permintaan dan penawaran yang ada di pasar atau nilai suatu barang ditentukan oleh harga pasar.

Teori Nilai Subjektif

Berdasarkan teori ini nilai suatu barang ditentukan oleh utilitas dari barang tersebut. Setiap orang akan mempunyai utilitas yang berbeda untuk suatu barang yang sama. Teori nilai subjektif yang terkenal berasal dari Herman Heinrich Gossen dan Carl Menger.

Hukum Gossen I

Hukum Gossen I ini menyatakan tentang gejala tambahan kepuasan yang tidak proporsional yang dikenal dengan The Law of Diminishing Marginal Utility (Hukum Tambahan Kepuasan yang Semakin Menurun).

Hukum Gossen I berbunyi sebagai berikut. ”Jika jumlah suatu barang yang dikonsumsi dalam jangka waktu tertentu terus ditambah maka kepuasan total yang diperolah juga bertambah, akan tetapi kepuasan marjinal (tambahan kepuasan yang diperoleh jika dikonsumi ditambah dengan satu unit) pada titik tertentu akan semakin berkurang.

Bahkan jika konsumsi terus dilakukan, pada akhirnya tambahan kepuasan yang diperoleh akan menjadi negatif dan kepuasan total menjadi berkurang.”

Hukum Gossen II

Uraian di atas mengemukakan perilaku konsumen terhadap satu macam barang saja. Pada kenyataannya, konsumen membutuhkan beraneka macam barang. Masalahnya adalah berapa pengorbanan yang harus dilakukan agar bermacam- macam kebutuhannya dapat terpenuhi dengan sebaik- baiknya dan tercapai kepuasan maksimal.

 Hal ini dikemukakan dalam Hukum Gossen II, yaitu sebagai berikut.

”Manusia akan berusaha memuaskan yang beraneka ragam sampai mencapai tingkat intensitas yang sama.”

Artinya manusia akan membagi- bagi pengeluaran uangnya sedemikian rupa sehingga kebutuhannya terpenuhi secara seimbang.

Teori Nilai Subjektif Carl Menger

Menurut Menger, nilai ditentukan oleh faktor subjektif dibandingkan faktor objektif. Nilai berasal dari kepuasan manusia.

Karena kebutuhan manusia lebih banyak daripada barang dan jasa yang tersedia maka untuk memuaskan kebutuhannya manusia akan memilih secara rasional di antara barang/jasa alternatif yang tersedia.

Dalam teori ini dikemukakan tentang prinsip- prinsip pengkatagorian barang/jasa menurut tingkat intensitasnya.

Katagori I adalah barang- barang untuk mempertahankan hidup, katagori II barang dan jasa untuk kesehatan, dan katagori III adalah barang/jasa untuk memberikan kesejahteraan individu. Semakin penting barang dan jasa tersebut bagi seorang individu maka nilai barang/jasa tersebut semakin tinggi.

Daftar Pustaka:

  1. Sukirno, S, 2011, “Mikroekonomi Teori Pengantar”, PT Raja Grafindo Persada, Edisi Ketiga, Cetatakan Ke 26, Jakarta.
  2. Joesron, Suharti, Tati. Fathorrrazi, M., 2012, “Teori Ekonomi Mikro”, Edisi Pertama, Graha Ilmu, Yogyakarta.
  3. Sartono, Agus, R., “ 2001, “Manajemen Keuangan Teori dan Aplikasi”, Edisi Keempat, BPFE Yogyakarta, Yogyakarta.
  4. Ahman H., Eeng. Rohmana, Yana, 2007, “Ilmu Ekonomi dalam PIPS”, Edisi Pertama, Penerbit Unuversitas Terbuka, Jakarta.
  5. Jhingan, M.L., 2008, “Ekonomi Pembangunan Perencanaan”, Edisi Pertama, PT RajaGrafindo Persada, Jakarta.
  6. Ahman, H., E., Rohmana, Y., 2007,”Ilmu Ekonomi Dalam PIPS”, Edisi Kedua, Cetakan Pertama, Penerbit Universitas Terbuka, Jakarta.
  7. Ardra.Biz, 2019, “==============

Metoda Perhitungan Pendapatan Nasional,

Pengertian Pendapatan Nasional. Secara sederhana Pendapatan nasional dapat diartikan sebagai pendapatan yang diterima oleh golongan -golongan masyarakat sebagai bentuk balas jasa sehubungan dengan produksi barang- barang dan jasa.

Setiap negara akan mengumpulkan berbagai informasi terkait dengan  kegiatan ekonominya agar secara rutin dapat mengetahui dan mengevaluasi setiap adanya perubahan perubahan pada tingkat dan corak kegiatan ekonomi yang sedang berjalan.

Salah satu informasi penting yang dikumpulkan adalah data mengenai pendapatan nasionalnya. Setiap negara akan mewujudkan suatu system penghitungan pendapatan nasional yang dinamakan national income accounting system atau sistem penghitungan pendapatan nasional.

Pada prinsipnya, sistem atau metoda tersebut adalah suatu cara pengumpulan informasi mengenai perhitungan terhadap :

1) nilai barang- barang dan jasa yang diproduksi dalam suatu negara;


2) nilai berbagai jenis pengeluaran atas produk nasional yang diciptakan;

3) jumlah pendapatan yang diterima oleh berbagai faktor produksi yang digunakan untuk menciptakan produksi nasional.

Berdasarkan arus kegiatan ekonomi negara, penghitungan pendapatan nasional dapat dilakukan dengan tiga (3) metode pendekatan, yaitu

Metode Pendekatan Pendapatan

Dalam metode ini cara yang dilakukan adalah dengan menjumlahkan seluruh pendapatan yang diterima masyarakat sebagai pemilik faktor produksi atas penyerahan faktor produksinya kepada perusahaan untuk  menghasilkan barang dan jasa selama satu tahun.

Penghitungan  pendapatan nasional dengan cara pendapatan pada umumnya menggolongkan pendapatan yang diterima faktor- faktor produksi sebagai berikut:

1) pendapatan para pekerja, yaitu gaji dan upah;

2) pendapatan dari usaha perorangan;

3) pendapatan dari sewa;

4) bunga netto; dan

5) keuntungan perusahaan.

Tabel di bawah menunjukkan factor produksi dan jenis pedapatan yang diperoleh oleh masyarakat dan atau perusahaan.

Cara Hitung Pendapatan Nasional Metode Pendekatan Pendapatan
Cara Hitung Pendapatan Nasional Metode Pendekatan Pendapatan

Besarnya  pendapatan nasional Pendekatan Pendapatan dapat dihitung dengan menggunakan persamaan rumus berikut:

Y = r + w + i + p

Dengan Keterangan:

Y = Yearly income (pendapatan nasional)

r = rent (sewa), yaitu balas jasa atas faktor produksi tanah

w = wages (upah), yaitu balas jasa atas faktor produksi tenaga kerja

i = interest (bunga) yaitu balas jasa atas faktor produksi modal

p = profit (laba) yaitu balas jasa atas faktor produksi skill

Contoh Soal Ujian Pendapatan Nasional Metoda Pendekatan Pendapatan

Diketahui data- data perekonomian suatu negara seperti ditunjukkan dalam tabel terlampir. Satuan uang triliun. Hitunglah pendapatan nasional dengan pendekatan penerimaan atau pendapatan

Contoh Tabel Perhitungan Pendapatan Nasional Metoda Pendekatan Pendapatan
Contoh Tabel Perhitungan Pendapatan Nasional Metoda Pendekatan Pendapatan

Menghitung Pendapatan Nasional Metoda Pendekatan Pendapatan

Besarnya pendapatan nasional suatu negara dapat dinyatakan dengan menggunakan rumus berikut

Y = r + w + i + p

r = 300

w= 2.500

i = 500

p = 400

Dengan demikian besar pendapatan nasional dengan pendekatan penerimaan atau pendapatan adalah

Y =300 + 2500 + 500 + 400

Y = 3.700

Jadi pendapatan nasional negara tersebut adalah 3.700 triliun rupiah

Metode Pendekatan Produksi

Perhitungan pendapatan nasional dengan metode produksi dilakukan dengan cara menjumlahkan secara keseluruhan nilai tambah (value added) yang diproduksi oleh berbagai sektor dalam perekonomian.

Penggunaan cara ini dalam menghitung pendapatan nasional mempunyai dua tujuan penting, yaitu:

1) untuk mengetahui besarnya sumbangan berbagai sektor ekonomi di dalam mewujudkan pendapatan nasional;

2) sebagai salah satu cara untuk menghindari penghitungan dua kali yaitu dengan hanya menghitung nilai produksi netto yang diwujudkan pada berbagai tahap proses produksi.

Sektor ekonomi di Indonesia dibedakan menjadi antara lain:

  1. Pertanian, peternakan, kehutanan dan perikanan
  2. Pertambangan dan penggalian
  3. industri pengolahan
  4. listrik, gas dan air bersih
  5. Bangunan
  6. Perdagangan, restoran dan hotel
  7. pengangkutan dan komunikasi
  8. Keuangan, persewaan bangunan dan jasa perusahaan serta
  9. Jasa-jasa

Nilai Tambah (value added)

Sebagai contoh, untuk memproduksi kemeja harus diproduksi terlebih dahulu kain, benang dan kapas. Jika menjumlahkan nilai akhir produksi  tiap- tiap komponen maka akan terjadi penghitungan ganda (double accounting).

Hal ini disebabkan karena dalam nilai akhir kemeja sudah terkandung nilai kain, dalam nilai akhir kain sudah terkandung nilai akhir benang dan seterusnya. Oleh karena itulah untuk memperoleh total produk yang dihasilkan suatu negara harus dilihat dari nilai tambahnya.

Perhatikan contoh Tabel di bawah yang menunjukkan perhitungan nilai tambah sebuah komoditas barang jadi dari bahan baku seperti berikut ini

Cara Hitung Nilai Tambah Pendapatan Nasional Metode Pendekatan Produksi
Cara Hitung Nilai Tambah Pendapatan Nasional Metode Pendekatan Produksi

Keterangan :

Untuk masing- masing komoditas penghitungan nilai tambahnya didasarkan pada selisih nilai produksi untuk tiap komoditas dari bahan baku pohon kayu jati sampai dengan barang atau produk jadi kursi kayu jati.

Misalkan:

1) Nilai tambah pohon kayu jati besarnya tetap Rp 500.000 (karena nilai produksinya belum mengalami perubahan menjadi komoditas lain)

2) Nilai tambah papan kayu jati Rp1.000.000 → merupakan selisih antara nilai produksi papan kayu jati dengan pohon kayu jati.

3) Nilai tambah kursi kayu jati Rp 1.000.000→ selisih antara nilai produksi kursi kayu jati dan papan kayu jati

Sehingga dapat disimpulkan bahwa nilai tambah yang diperoleh dari perubahan komoditas pohon kayu jati  menjadi kursi jati sebesar Rp 2.500.000. Dan Bukan jumlah nilai produksinya Rp 4.500.000

Dengan adanya perhitungan nilai tambah tersebut maka akan terhindar dari adanya perhitungan ganda.

Pendapatan Nasional Pendekatan Produksi dapat dihutung dengan menggunakan persamaan rumus berikut:

Y = NTB1 + NTB2 + NTB3 + ……… NTBn

Dengan Keterangan:

Y = Pendapatan nasional

NTB = Nilai tambah dari tiap- tiap sektor ekonomi

Metode Pendekatan Pengeluaran

Untuk mengetahui besarnya pendapatan nasional dengan metode ini maka dilakukan dengan cara menjumlahkan seluruh pengeluaran masyarakat dari tiaptiap rumah tangga yang ada. Adapun pengeluaran yang dihitung bukan berasal dari nilai transaksi barang jadi, hal ini dimaksudkan untuk menghindari perhitungan ganda.

Empat sektor Rumah tangga sebagai pelaku ekonomi yang digunakan sebagai acuan dalam menghitung pengeluaran adalah :

1) Rumah tangga konsumen

Pada sektor rumah tangga ini pengeluaran yang dilakukan berupa pembelian barang atau jasa yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan yang biasa di sebut dengan konsumsi (C)

2) Rumah tangga produsen atau perusahaan

Pengeluaran pada rumah tangga ini dilakukan sebagai pembentukan barang dan jasa yang digunakan untuk menghasilkan barang/jasa lebih lanjut atau yang diistilahkan dengan Investasi (I)

3) Rumah tangga pemerintah

Pengeluaran pemerintah ini terdiri dari:

– Pengeluaran konsumsi pemerintah, misalnya pembayaran gaji pegawai dan pembelian alat-alat kantor

– Pengeluaran pemerintah untuk investasi, misalnya pembuatan jalan, jembatan, saluran irigasi, pelabuhan dan lain-lain

Pengeluaran investasi oleh pemerintah maupun swasta nantinya oleh pemerintah dimasukkan dalam komponen pembentukan modal tetap domestik bruto dan komponen perubahan stok yang diistilahkan Goverment Expenditure (G)

4) Rumah tangga luar negeri / ekspor bersih (X-M).

Pengeluaran untuk rumah tangga ini merupakan selisih dari nilai ekspor terhadap nilai impor yang dilakukan oleh suatu negara dalam kegiatan perdagangan internasional.

Pengeluaran- pengeluaran dari keempat sektor perekonomian itulah yang merupakan komponen pendapatan nasional.

Data pendapatan nasional yang dihitung dengan cara pengeluaran ini akan dapat memberi gambaran tentang sampai di mana baiknya tingkat pertumbuhan yang dicapai dan tingkat kemakmuran yang sedang dinikmati.

Data pendapatan nasional juga memberikan informasi dan data yang dibutuhkan dalam analisis mikroekonomi.

Pendapatan nasional Pendekatan Pengeluaran dapat dihitung dengan menggunakan persamaan rumus berikut:

Y = C + I + G + ( X – M )

Keterangan:

Y = pendapatan nasional

C = konsumsi

I = Investasi

G = Pengeluaran pemerintah (Government Expenditure)

X = ekspor

M = impor

Tabel di bawah menunjukkan komponen komponen dalam PDB sebagai contoh saja.

Rumus Komponen Pendapatan Nasional Pendekatan Pengeluaran
Rumus Komponen Pendapatan Nasional Pendekatan Pengeluaran

1). Contoh Soal Perhitungan Pendapatan Nasional Pendekatan Pengeluaran

Diketahui data perekonomian suatu negara seperti ditunjukkan pada tabel. Satuan uang triliun. Hitunglah pendapatan nasional metoda pengeluaran.

Contoh Tabel Perhitungan Pendapatan Metoda Pengeluaran
Contoh Tabel Perhitungan Pendapatan Metoda Pengeluaran

Menghitung Pendapatan Nasional Metoda Pengeluaran

Besar pendapatan nasional suatu negara metoda pengeluaran dapat dinyatakan dengan menggunakn rumus seperti berikut

Y = C + I + G + (X – M)

C = Pengeluaran konsumsi =125

I  = tingkat invsetasi = 150

G = Pengeluaran pemerintah = 130

X = nilai ekspor  = 225

M = nilai impor =  170

Dengan demikian besar pendapatan nasional adalah

Y = 125 +150 + 130 + (225 – 170)

Y = 405 + 55

Y = 460

Jadi besarnya pendapatan nasional negara berdasarkan metoda pendekatan pengeluaran adalah 460 triliun rupiah

2). Contoh Soal Perhitungan Pendapatan Nasional

Diketahui data perekonomian suatu negara seperti ditunjukkan  pada table terlampir. Satuan uang triliun rupiah

ContohTabel Perhitungan Pendapatan Nasional Metoda Pendekatan Pengeluaran (Impor)
ContohTabel Perhitungan Pendapatan Nasional Metoda Pendekatan Pengeluaran (Impor)

Jika pendapatan nasional dengan pendekatan pengeluaran aadalah 8.000 triliun rupiah, maka besar nilai impor negara tersebut adalah…

Menghitung Besar Impor dari Pendapatan Nasional Pendekatan Pengeluaran

Pendapatan nasional dengan pendekatan pengeluaran dapat dinyatakan dengan menggunakan persamaan rumus berikut

Y = C + I + G + (X – M)

dengan keterangan

Y = Pendapatan nasional

C = konsumsi

I = Investasi

G = Pengeluaran pemerintah

X = ekspor

M = impor

Dengan demikian nilai impor negara tersebut  adalah

M = (C + I + G + X) – Y

M = (3000 + 1250 + 2750 + 1500) – 8000

M = 8500 – 8000

M = 500 triliun rupiah

Jadi nilai impor negara tersebut adalah 500 triliun rupiah

Indikator Ketimpangan Distribusi Pendapatan

Ada beberapa indikator yang dapat digunakan untuk mengukur tingkat ketimpangan distribusi pendapatan. Berikut beberapa diantaranya adalah:

Tingkat Ketimpangan Distribusi Pendapatan

Indikator yang digunakan untuk mengetahui besarnya tingkat ketimpangan distribusi pendapatan nasional dalam suatu negara atau daerah adalah Indeks Gini (Gini Index).

Rasio Gini atau koefisien Gini atau indeks Gini adalah besaran yang digunakan untuk mengukur derajat ketidakmerataan atau ketimpangan distribusi pendapatan terhadap jumlah penduduk.

Konsep ini didasarkan pada sebuah kuva berbentuk garis lengkung yang disebut dengan Kurva Lorenz, yaitu sebuah kurva yang menyatakan hubungan tidak linear antara persentase kumulatif pendapatan dengan persentase kumulatif penduduk.

Gambar berikut akan memberikan penjelasan yang lebih mudah.

Rasio Gini Tingkat Ketimpangan Distribusi Pendapatan Kurva Lorenz
Rasio Gini Tingkat Ketimpangan Distribusi Pendapatan Kurva Lorenz

Sumbu horisontal merepresentasikan prosentase kumulatif penduduk, sedangkan sumbu vertikalnya menyatakan persentase kumulatif pendapatan.

Garis diagonal 0-G menunjukkan hubungan linear antara persentase kumulatif pendapatan dan persentase kumulatif penduduk. Garis lurus diagonal ini disebut sebagai “garis kemerataan sempurna”.

Sepanjang garis linear ini, perbandingan kumulatif antara pendapatan dengan penduduk nilainya adalah satu. Nilai Persentase kumulatif pendapatan sama dengan persentase kumulatif penduduk. Titik -titik pada garis ini menunjukkan distribusi pendapatan yang merata pada semua penduduk.

Kurva Lorenz menunjukkan hubungan tidak linear antara  nilai pendapatan yang dimiliki oleh jumlah penduduk tertentu. Titi – titik pada kurva Lorenz menunjukkan ketimpangan distribusi pendapatan yang diterima oleh penduduk.

Luas A merupakan luas daerah yang dibatasi oleh kurva Lorenz (garis lengkung) dengan garis diagonal lurus 0 – G. Sedangkan Luas B merupakan luas daerah di bawah Kurva Lorenz.

Nilai Gini Rasio atau Koefesien Gini atai Indeks Gini dapat dinyatakan dengan menggunakan persamaan rumus berikut:

Gini Rasio = Luas A/(Luas A + Luas B)

Nilai Gini Rasio akan berkisar antara nol sampai dengan satu. Nilai Gini Rasio akan nol ketika luas A sama dengan Nol. Yaitu ketika kurva Lorent sama dengan garis lurus 0-G. Nilai Gini Rasio akan satu ketika luas A sama dengan Luas A + Luas B. Yaitu ketika Luas B sama dengan luas nol.

Jadi Koefisien Gini atau Gini Ratio digunakan untuk mengukur tingkat ketidakmerataan atau ketimpangan agregat (secara keseluruhan) memiliki nilai antara nol (pemerataan sempurna) hingga satu (ketimpangan yang sempurna).

Semakin jauh jarak kurva Lorenz dari garis diagonal, semakin tinggi tingkat ketimpangannya. Sebaliknya semakin dekat jarak kurva Lorenz dari garis diagonal, semakin tinggi tingkat pemerataan distribusi pendapatannya.

Nilai Gini Rasio sama dengan 0, ini artinya distribusi pendapatan merata sempurna. artinya setiap orang menerima pendapatan yang sama persis dengan yang lainnya.

Nilai Gini Rasio sama dengan 1 artinya distribusi pendapatan timpang sempurna atau pendapatan yang diterima oleh satu orang atau satu kelompok penduduk berbeda dengan satu orang atau kelompok lainnya..

Titik G1 berada pada garis linear yang menunjukkan distribusi pendapatan merata sempurna. Pada titik G1 dapat dikatakan bahwa 40% dari total pendapatan terdistribusi terhadap 40 % penduduk. Dan sisanya 60 % dari total pendapatan terdistribusi terhadap 60% penduduknya. Ini artinya pendapatan yang diterima oleh 40% penduduk sama besar dengan pendapatan yang diterima oleh 60% penduduk yang lainnya.

Titik G3 berada pada Kurva Lorenz yang menunjukkan distribusi pendapatan timpang atau tidak merata. Pada titik G3 dapat dikatakan bahwa 20 % dari total pendapatan terdistribusi untuk 40% penduduk. Dan sisanya 80% dari total pendapatan terdistribusi untuk 60% penduduk. Ini artinya 40% penduduk memiliki pendapatan yang lebih rendah dari 60% penduduk lainnya. Pada titik G3 terdapat ketimpangan distribusi pendapatan untuk kelompok penduduk 40% dengan kelompok penduduk yang 60% -nya.

Titik G2 berada pada kurva Lorenz, ini artinya distribusi pendapatan timpang. Pada titik G2 terlihat bahwa 40% dar total pendapatan terdistribusi untuk 62% jumlah penduduk. Dan 60% dari total pendapatan terdistribuksi terhadap 38 % penduduk. Ada ketimpangan pendapatan antara kelompok 62% penduduk dengan 38% penduduknya. Dimana 38% penduduk menerima 60% bagian dari total pendapatan. 38% penduduk memiliki pendapatan yang lebih tinggi dati 62% penduduk lainnya.

Tabel berikut ini memperlihatkan patokan yang mengatagorikan ketimpangan distribusi berdasarkan nilai Rasio Gini.

Tabel Ketimpangan Distribusi Pendapatan Nilai Rasio Gini
Tabel Ketimpangan Distribusi Pendapatan Nilai Rasio Gini

Indikator Ketimpangan Pendapatan Menurut Bank Dunia

Bank Dunia mengukur ketimpangan distribusi pendapatan suatu negara dengan melihat besarnya kontribusi dari 40% kelompok penduduk termiskin terhadap total pengeluarannya. Dalam hal ini, pendapatan yang diterima masyarakat didekati oleh pengeluaran yang dilakukan masyarakat. Argumennya bahwa pengeluaran menunjukkan pendapatan.

Kriterianya dapat dilihat pada table berikut:

Tabel Distribusi dan Tingkat Ketimpangan Pendapatan oleh Bank Dunia

Tabel Distribusi dan Tingkat Ketimpangan Pendapatan oleh Bank Dunia
Tabel Distribusi dan Tingkat Ketimpangan Pendapatan oleh Bank Dunia

Dari table diketahui, jika pengeluaran yang dilakukan oleh 40% penduduk kurang 12% dari total pengeluaran seluruh penduduknya, maka tingkat ketimpangannya dikatakan sangat tinggi.

Usaha Meningkatkan Pendapatan Nasional

Beberapa upaya yang dapat dilakukan oleh pemerintah untuk meningkatkan pendapatan nasional, yang dianggap cocok antara lain sebagai berikut :

1) Meningkatkan pembangunan nasional di segala bidang, khususnya sector ekonomi tanpa harus meninggalkan nilai nilai kepribadian bangsa.

2) Meningkatkan mutu sumber daya manusia melalui peningkatan mutu pendidikan nasional formal dan pemberian pelatihan- pelatihan formal dan non formal.

3) Memberikan kesempatan kepada perusahaan- perusahaan swasta untuk dapat  mengembangkan usahanya bagi terciptanya kemajuan ekonomi.

4) Mendorong dan meningkatkan perkembangan industri kecil dan rumah tangga sebagai penopang sekaligus mitra bagi pergerakan industri menengah dan industri besar.

5) Membuka dan meningkatkan kesempatan untuk melakukan investasi bagi para pemilik modal baik melalui jalur PMDN atau melalui jalur PMA.

Seandainya materi ini memberikan manfaat, dan anda ingin memberi dukungan Donasi pada ardra.biz, silakan kunjungi SociaBuzz Tribe milik ardra.biz di tautan berikuthttps://sociabuzz.com/ardra.biz/tribe

Uji Coba…Cukup dengan Intel UHD Graphic 620 bisa main game

Simak “Pieck hugged the panzer squad | Attack On Titan Final season episode 06 [ HD ]” Sangat Memukau

Daftar Pustaka:

  1. Mankiw, N., Gregory, 2003, “Teori Makroekonomi”, Edisi Kelima, Penerbit Erlangga, Jakarta.
  2. Jhingan, M.L., 2008, “Ekonomi Pembangunan Perencanaan”, Edisi Pertama, PT RajaGrafindo Persada, Jakarta.
  3. Samuelson, A., Paul. Nordhaus, D., William, 2004, “Ilmu Makro Ekonomi”, Edisi 17, PT Media Global Edukasi, Jakarta.
  4. Sukirno, Sadono, 2008, “Makroekonomi Teori Pengantar”, Edisi Ketiga, PT RajaGrafindo Persada, Jakarta.
  5. Prasetyo, P., Eko, 2011, “Fundamental Makro Ekonomi”, Edisi 1, Cetakan Kedua, Beta Offset, Yogyakarta.
  6. Putong, Iskandar. Andjaswati, N.D., 2008, “Pengantar Ekonomi Makro”, Edisi Pertama, Penerbit Mitra Wacana Media, Jakarta.
  7. Firdaus, R., Ariyanti, M., 2011, ”Pengantar Teori Moneter serta Aplikasinya pada Sistem Ekonomi Konvensional dan Syariah”, Cetakan Kesatu, AlfaBeta, cv, Bandung.
  8. Ardra.Biz, 2019, “Metoda Perhitungan Pendapatan Nasional, system penghitungan pendapatan nasional, national income accounting system, Perhitungan Pendapatan Nasional Metode Pendekatan Pendapatan, faktor produksi pendapatan nasional,
  9. Ardra.Biz, 2019, “jenis penggolongan pedapatan nasional, Rumus pendekatan pendapatan,  Contoh Soal Ujian Pendapatan Nasional Metoda Pendekatan Pendapatan, Pendapatan Nasional Metode Pendekatan Produksi, Rumus Cara Hitung Pendapatan Nasional Metode Pendekatan Produksi,
  10. Ardra.Biz, 2019, “Contoh Nilai Tambah, penghitungan ganda (double accounting) pendapatan nasional, Pendapatan Nasional Metode Pendekatan Pengeluaran, Rumus Cara Hitung pendapatan nasional Metode Pendekatan Pengeluaran,
  11. Ardra.Biz, 2019, “Empat sektor Rumah tangga pelaku ekonomi,  Pendapatan nasional Rumah tangga konsumen, Pendapatan nasional Rumah tangga pemerintah, Pendapatan nasional Rumah tangga produsen atau perusahaan, Rumah tangga luar negeri ekspor bersih,
  12. Ardra.Biz, 2019, “Goverment Expenditure pada pendapatan nasional, Rumus Pendapatan nasional Pendekatan Pengeluaran, Komponen pendapatan nasional metoda pengeluaran, Contoh soal perhitungan rumus Pendapatan nasional Pendekatan Pengeluaran,
  13. Ardra.Biz, 2019, “Indikator Ketimpangan Distribusi Pendapatan, Tingkat Ketimpangan Distribusi Pendapatan, Pengertian Ketimpangan Pendapatan, Indeks Gini (Gini Index), Pengertian Rasio Gini atau koefisien Gini, rumus koefesien indeks Gini, batas rasio Gini, Gambar Kurva Lorenz,
  14. Ardra.Biz, 2019, “Rumus Kurva Lorenz, Pengertian Kurva Lorenz, Konsep Kurva Lorenz,  Nilai Batas Rasio Gini, Indikator Ketimpangan Pendapatan Menurut Bank Dunia,
  15. Ardra.Biz, 2019, “Kriterianya Ketimpangan Pendapatan Nasional, Tabel Distribusi dan Tingkat Ketimpangan Pendapatan oleh Bank Dunia, Usaha Meningkatkan Pendapatan Nasional, Cara meningkatkan pendapatan nasiona,

Konsep Pendapatan Nasional, Pengertian Contoh Rumus Perhitungan

Pengertian Pendapatan Nasional. Secara sederhana Pendapatan nasional dapat diartikan sebagai pendapatan yang diterima oleh golongan -golongan masyarakat sebagai bentuk balas jasa sehubungan dengan produksi barang- barang dan jasa.

Faktor Yang Mempengaruhi Pendapatan Nasional

Besarnya pendapatan nasional akan sama dengan produk nasional. Dan Secara umum pendapatan nasional dipengaruhi oleh Tersedianya faktor produksi, Ketrampilan dan keahlian tenaga kerjanya, Kemajuan Teknologi produksi yang digunakan dan Stabilitas nasional

Beberapa Istilah terkait dengan pendapatan nasional antara lain adalah PDB, GNP dan NNI, dan PDRB.  Keempatnya merupakan istilah yang menunjukkan pendapatan nasional suatu negara, namun demikian instrumen yang digunakan untuk masing -masing negara berbeda sehingga akan memiliki arti yang berbeda pula untuk pengunaan istilah- istilah tersebut.

Gross Domestic Product (GDP) atau Product Domestik Bruto (PDB)


Pada metode ini, pendapatan nasional dihitung dengan menjumlahkan setiap nilai tambah (value added) proses produksi di dalam masyarakat suatu negara (termasuk warga negara asing) dari berbagai lapangan usaha suatu negara dalam kurun waktu satu periode (biasanya satu tahun).

Product Domestik Bruto (PDB) atau Gross Domestic Product GDP adalah jumlah dari seluruh produksi barang dan jasa yang dihasilkan oleh suatu Negara selama satu tahun termasuk di dalamnya barang dan jasa yang dihasilkan oleh orang asing dan perusahaan asing yang beroperasi di dalam negeri.

Contoh Perusahaan Asing Yang Dihitung Dalam GDP.

Contoh perusahaan asing yang masuk perhitungan PDB atau GDP Indonesia adalah Perusahaan Mac Donald, PT Freeport, PT Caltex, Carrefour, PT Nutrisia. Pendapatan perusahaan asing ini dihitung dalam GDP

Contoh Perusahaan Indonesia Yang Tidak Dihitung GDP

Sedangkan produk barang dan jasa yang dihasilkan oleh perusahaan atau warga masyarakat Indonesia yang bekerja di luar negeri tidak diperhitungkan.  Misal perusahaan milik warga Indonesia tapi beroperasi diluar negeri atau TKI atau TKW yang bekerja di Luar negeri tidak dihitung dalam PDB atau GDP.

Beberapa Bank BUMN seperti Mandiri, BNI, dan BRI beroperasi di luar negeri. Pendapatan Beberapa Bank Indonesia yang beroperasi di luar negeri ini tidak dihitung dalam GDP.

Produk Domestik Regional Bruto (PDRB)

Dengan demikian PDRB dapat diartikan sebagai jumlah produk berupa barang dan jasa yang dihasilkan oleh unit-unit produksi yang ada di daerah selama 1 (satu) tahun. Dalam perhitungan PDRB ini juga termasuk produk yang dihasilkan oleh perusahaan asing yang beroperasi di daerah tersebut

Jenis lapangan usaha yang masuk dalam perhitungan Product Domestic Bruto (PDB), antara lain: pertanian, pertambangan dan penggalian, industry, listrik, gas dan air bersih, bangunan atau konstruksi, perdagangan, hotel dan restoran, pengangkutan dan komunikasi, keuangan, persewaan dan jasa perusahaan, jasa- jasa lainnya seperti jasa konsultan, pengacara dll.

PDB dapat dihitung dengan tiga metoda berikut ini.

1) PDB dihitung berdasarkan unit- unit produksi yang terdiri atas sector sektor ekonomi.

2) PDB dihitung berdasarkan jumlah balas jasa yang diterima oleh factor faktor produksi yang turut serta dalam proses produksi.

3) PDB dihitung berdasarkan jumlah seluruh komponen permintaan akhir, yang terdiri atas pengeluaran konsumsi RT, pembentukan modal tetap domestik bruto dan perubahan stok, pengeluaran konsumsi pemerintah dan ekspor bersih.

Gross National Product (GNP) atau Produk Nasional Bruto (PNB)

Produksi Nasional Kotor (GNP) adalah jumlah seluruh barang dan jasa yang dihasilkan masyarakat suatu negara selama satu tahun termasuk di dalamnya jumlah barang dan jasa yang dihasilkan masyarakat Negara tersebut yang bekerja di luar negeri tetapi tidak diperhitungkan barang dan jasa yang dihasilkan masyarakat asing yang bekerja di dalam negeri.

Produksi Nasional Kotor (GNP) dapat dijabarkan dalam persamaan berikut

GNP = GDP – PNLN

PNLN = Pendapatan Neto terhadap luar negeri

Ada tingkat perbandingan yang bisa dilakukan pada GDP dan GNP untuk mengetahui kondisi perekonomian suatu negara yang diantaranya adalah:

1) GDP lebih besar dari GNP, artinya perekonomian Negara tersebut belum dapat dikatakan maju. Di Negara tersebut akan terjadinya Net Factor Income to Abroud (atau Pendapatan Neto ke luar negeri). Artinya, Investasi Negara tersebut di luar negeri lebih kecil dari pada investasi asing di dalam negeri.

2) GDP lebih kecil dari pada GNP, artinya perekonomian Negara tersebut dapat dikatakan sudah maju. Negara tersebut mampu menanamkan investasinya di luar negeri lebih besar dibandingkan investasi asing di dalam negeri.

Net National Product (NNP) atau Produk Nasional Netto

Produksi nasional neto (NNP) adalah produksi nasional kotor (GNP) dikurangi penyusutan barang-barang modal. NNP ini sama dengan Pendapatan Nasional (PN) atau National Income (NI).

NNP dan NI ini dihitung berdasarkan harga pasar dan dijabarkan dengan menggunakan persamaan berikut

NNP = GNP – D

D = Depresiasai = Penyusutan Barang – barang Modal

Net National Income (NNI) atau Pendapatan Nasional Netto

Pendapatan nasional Bersih (NNI) adalah produksi nasional neto dikurangi dengan pajak tidak langsung. Pajak tidak langsung merupakan unsur pembentuk harga pasar, tetapi tidak termasuk dalam biaya faktor produksi.

Pajak ini dapat dialihkan kepada pihak lain, yang termasuk dalam kategori pajak tidak langsung adalah pajak penjualan , PPN, Bea Masuk dan cukai.

Pendapatan nasional bersih atau net national income (NNI) dapat dilihat dari dua sisi.

1) Dari sisi pendapatan, yaitu pendapatan yang dihitung menurut jumlah balas jasa yang diterima oleh masyarakat sebagai pemilik faktor produksi.

2) Dari sisi produksi, yaitu sejumlah nilai bersih barang dan jasa yang dihasilkan oleh suatu negara.

Net National Income (NNI) dapat dijabarkan dengan menggunakan persamaan berikut

NNI = NNP – PTL

PTL = Pajak Tidak Langsung

Pajak Tidak Langsung adalah pajak yang pembebanannya dapat dilimpahkan kepada pihak lain, misalnya Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM).

Personal Income (PI)

Pendapatan perseorangan (PI) adalah Pendapatan yang berhak diterima oleh seseorang sebagai bentuk balas jasa atas keikutsertaannya dalam proses produksi.

Tidak semua pendapatan ini sampai ke tangan pemilik faktor produksi (perseorangan) , karena masih dikurangi laba yang tidak dibagikan, pajak perseorangan, asuransi, jaminan sosial dan ditambah dengan pindahan atau transfer (transfer payment) seperti dana pensiun, iuran sosial, tunjangan bekas pejuang, bantuan korban bencana, bea siswa, subsidi pemerintah atau bantuan pada panti asuhan dan sebagainya.

Besarnya Personal Income (PI) dapat dijabarkan dengan menggunakan persamaan berikut

PI = NNI + TP – (LT+ PP + A+ JS)

TP = Transfer Payment

LT = Laba yang tidak dibagikan

PP = Pajak Perseroan

A = Asuransi

JS = Jaminan Sosial 

Keterangan:

Laba Ditahan adalah keuntungan yang tidak dibagikan atau keuntungan yang ditujukan untuk:

1) cadangan perluasan perusahaan,

2) menjaga agar modal pokok besarnya tetap, dan

3) cadangan untuk membayar utang-utang.

Iuran Jaminan Sosial atau social security dari perusahaan. Misalnya tunjangan pendidikan, tunjangan kesehatan, dan lain-lain.

Transfer Payment adalah pembayaran-pembayaran dari negara yang dibayarkan kepada orang-orang tertentu, dan pembayaran tersebut bukan merupakan balas jasa atas keikutsertaannya dalam proses produksi tahun sekarang, melainkan sebagai balas jasa untuk tahun- tahunsebelumnya atau pembayaran pada seseorang yang sebenarnya berasaldari pendapatan orang lain.

Contoh Transfer Payment adalah: pembayaran kepada orang yang sudah pensiun, tunjangan para veteran, dan dana- dana sosial (pembayaran untuk para penganggur).

Disposable Income (DI)

Pendapatan Bebas (DI) adalah pendapatan dari seseorang yang siap digunakan baik untuk keperluan konsumsi maupun untuk ditabung Pendapatan bebas (DI) secara langsung akan mempengaruhi permintaan karena sebagian digunakan untuk konsumsi dan sebagian lagi digunakan untuk tabungan sebagai unsur pembentuk modal. Besarnya pendapatan bebas ini adalah pendapatan perseorangan dikurangi dengan pajak langsung.

Besarnya Pendapatan Bebas atau Disposable Income (DI) dapat dihitung dengan menggunakan persamaan berikut

DI = PI – PL

PL = Pajak Langsung

Pajak Langsung adalah pajak yang pembebanannya tidak dapat dilimpahkan kepada orang lain, misalnya pajak penghasilan (PPh)

Pendapatan Dibawa Pulang

Pendapatan dibawa pulang (Take Home Pay/ THP) adalah pendapatan yang dibawa pulang untuk membayar bermacam-macam kebutuhan.

Pendapatan ini memengaruhi permintaan efektif sebab menggambarkan daya beli masyarakat. THP diperoleh dari pendapatan bebas (Disposable Income) dikurangi kewajiban kepada pihak lain, seperti untuk membayar utang.

1). Contoh Soal Ujian Pendapatan Nasional

Diketahui data perekonomian suatu negara seperti ditunjukkan dalam tabel terlampir. Satuan uang miliar rupiah

Konsep Pendapatan Nasional Contoh Perhitungan
Konsep Pendapatan Nasional Contoh Perhitungan

Hitunglah:

  1. Personal Income
  2. Disposable Income

Konsep Pendapatan Nasional Contoh Soal Perhitungan
Konsep Pendapatan Nasional Contoh Soal Perhitungan

Jadi personal income PI dari negara tersebut adalah 1743 miliar rupiah, sedangan pendapatan disposabel DI adalah 1728 miliar rupiah.

2). Contoh Soal Ujian Nasional UN Perhitungan Personal Income

Perhatikan data data perekonomian suatu negara pada table terlampir. Hitunglah nilai personal income dari negara tersebut. Satuan uang triliun rupiah.

Contoh Tabel Perihtungan Personal Income
Contoh Tabel Perhitungan Personal Income

Menghitung Personal Income

Berdasarkan data perekonomian pada table tersebut, besarnya personal income PI dapat dinyatakan dengan menggunakan persamaan rumus berikut

PI = GNP – P – PTL – LT – IS – JS + TP

PI = Personal income

GNP = gross national product

P = D = penyusutan

PTL = pajak tidak langsung

LT = laba ditahan

IS = iuran sosial

JS = Jaminan sosial

TP =transfer payment

Dengan demikian besarnya personal income adalah

PI = 7500 – 500 – 1000 – 200 – 0 – 0 + 500

PI = 6300

Jadi personal income pada perekonomian nergara tersebut adalah 6300 triliun rupiah.

3). Contoh Soal Ujian Perhitungan Transfer Payment

Diketahui data data perekonomian suatu negara seperti ditunjukkan dalam table. Satuan uang dalam triliun. Hitunglah besar transfer payment pada perekonomian negara tersebut.

Contoh Tabel Perihtungan Transfer Payment
Contoh Tabel Perhitungan Transfer Payment

Menghitung Transfer Payment Negara

Berdasarkan data tersebut, besar transfer payment  dapat dinyatakan dengan menggunakan rumus seperti berikut

PI = PNB – P – PTL – PP – LT – IS + TP

PI = personal income

PNB = produk nasional bruto

P = D = Penyusutan

PTL = Pajak tidak langsung

PP = Pajak perseorangan

LT = laba ditahan

IS = Iuran sosial

TP = transfer payment

Dengan demikian nilai transfer payment nya adalah

TP = PI – PNB + P + PTL + PP + LT + IS

TP = 1700 – 2900 + 700 + 300 + 100 + 125 + 175

TP = 200

Jadi besar transfer payment TP adalah 200 triliun rupiah.

Transfer Payment adalah penerimaan penerimaan yang bukan merupakan balas jasa produksi tahun bersangkutan. Melainkan diambil dari sebagian pendapatan nasional satu tahun sebelumnya.

Pada table di atas, yang termasuk dalam kelompok transfer payment adalah: Pajak Perseorangan, laba ditahan dan iuran sosial.

4). Contoh Soal Ujian Pendapatan Nasional

Pendapatan perseorangan (Personal income) adalah ….

1) pendapatan nasional dikurangi pajak tidak langsung

2) sama dengan pendapatan sektor nasional

3) jumlah pendapatan sektor rumah tangga yang dibelanjakan dalam satu tahun

4) jumlah upah yang ditambah bunga yang diterima sektor rumah tangga dalam satu tahun

5) jumlah pendapatan yang diterima sektor rumah tangga dalam satu tahun

Seandainya materi ini memberikan manfaat, dan anda ingin memberi dukungan motivasi pada ardra.biz, silakan kunjungi SociaBuzz Tribe milik ardra.biz di tautan berikut https://sociabuzz.com/ardra.biz/tribe

Daftar Pustaka:

  1. Mankiw, N., Gregory, 2003, “Teori Makroekonomi”, Edisi Kelima, Penerbit Erlangga, Jakarta.
  2. Jhingan, M.L., 2008, “Ekonomi Pembangunan Perencanaan”, Edisi Pertama, PT RajaGrafindo Persada, Jakarta.
  3. Samuelson, A., Paul. Nordhaus, D., William, 2004, “Ilmu Makro Ekonomi”, Edisi 17, PT Media Global Edukasi, Jakarta.
  4. Sukirno, Sadono, 2008, “Makroekonomi Teori Pengantar”, Edisi Ketiga, PT RajaGrafindo Persada, Jakarta.
  5. Prasetyo, P., Eko, 2011, “Fundamental Makro Ekonomi”, Edisi 1, Cetakan Kedua, Beta Offset, Yogyakarta.
  6. Putong, Iskandar. Andjaswati, N.D., 2008, “Pengantar Ekonomi Makro”, Edisi Pertama, Penerbit Mitra Wacana Media, Jakarta.
  7. Firdaus, R., Ariyanti, M., 2011, ”Pengantar Teori Moneter serta Aplikasinya pada Sistem Ekonomi Konvensional dan Syariah”, Cetakan Kesatu, AlfaBeta, cv, Bandung.
  8. Ardra.Biz, 2019, “Konsep Pendapatan Nasional, Pengertian Jenis Pendapatan Nasional, Pengertian Pendapatan Nasional, produk nasional, Faktor yang mempengaruhi pendapatan nasional, Jenis Pendapatan Nasional, Pengertian Konsep Pendapatan Nasional, Rumus Pendapatan Nasional,
  9. Ardra.Biz, 2019, “Rumus menghitung PDB, Rumus GNP, Rumus NNI, Gross Domestic Product (GDP) atau Product Domestik Bruto (PDB), Cara Hitung Gross Domestic Product (GDP), Pengertian nilai tambah (value added), Contoh Hitung nilai tambah,
  10. Ardra.Biz, 2019, “Contoh Perusahaan Asing Yang Dihitung Dalam GDP, Contoh Perusahaan Indonesia Yang Tidak Dihitung GDP, Pengertian Produk Domestik Regional Bruto (PDRB), Cara Hitung Produk Domestik Broto, Rumus Produk Domestik Broto, Gross National Product (GNP),
  11. Ardra.Biz, 2019, “Produk Nasional Bruto (PNB), Produksi Nasional Kotor (GNP), Rumua menghitung Produksi Nasional Kotor (GNP), Net Factor Income to Abroud, Pendapatan Neto ke luar negeri, Net National Product (NNP) atau Produk Nasional Netto,
  12. Ardra.Biz, 2019, “Rumus menghitung Net National Product (NNP), Pengertian Produk Nasional Netto, Rumus hitung Net National Income (NNI), Pengertian Pendapatan Nasional Netto, Rumus Hitung Pendapatan nasional Bersih (NNI), Pengertian Pajak Tidak Langsung,  Contoh barang kena pajak tidak langsug, Personal Income (PI),
  13. Ardra.Biz, 2019, “Rumus Hitung Pendapatan perseorangan (PI), Pengertian transfer payment, Contoh transfer payment, Pengertian Laba Ditahan, Contoh Laba Ditahan,  Iuran Jaminan Sosial atau social security, Contoh Iuran Jaminan Sosial atau social security, Disposible Income (DI),
  14. Ardra.Biz, 2019, “Rumus Hitung Pendapatan Bebas (DI, Pengertian Pajak Langsung, Contoh Pajak Langsung, Pendapatan Dibawa Pulang, Take Home Pay /THP, Contoh Tabel Perhitungan Pendapatan Nasional, Contoh Soal Ujian Pendapatan Nasional,

Indifference Curve Budget Line Teori Perilaku Konsumen Pendekatan Ordinal, Contoh Perhitungan

Pengertian Indifference Curve dan Budget Line Teori Perilaku Konsumen Pendekatan Ordinal. Konsumen adalah masyarakat yang menerima pendapatan dalam bentuk uang dan kemudian mentransaksikannya dengan membeli barang dan jasa untuk memenuhi kebutuhan hidupya.

Selain itu, yang termasuk sebagai konsumen adalah anggota masyarkat yang dependen terhadap penerima penghasilan seperti anak yang masih sekolah namun ikut menentukan anggaran rumah tangga. Setiap konsumen menetapkan permintannya untuk setiap barang dan jasa yang tersedia di pasar. Jumlah seluruh permintaan masyarakat terhadap barang dan jasa dinyatakan sebagai permintaan pasar.

Konsumen berusaha mengalokasikan pendapatannya untuk membeli barang dan jasa yang tersedia di pasar dengan mengoptimalkan semua alternatifnya sehingga tingkat kepuasan yang diperolehnya menjadi maksimum.

Sedangkan Perusahaan sebagai produsen yang penawarkan barang dan jasa akan mengoptimalkan proses produksinya agar menghasilkan barang dan jasa yang dapat memberikan kepuasan terhadap pelanggannya. Produsen yang dapat mengorganisir produksi secara efisien akan memperoleh keuntungan.

Tujuan utama dari konsumen dalam mengonsumsi suatu produk atau barang dan jasa adalah untuk memaksimalkan kepuasan total (total utility). Kepuasan total dapat didefinisikan sebagai suatu keadaan yang mencerminkan kebutuhan, keinginan, dan harapan konsumen dapat terpenuhi melalui produk, barang dan jasa yang dikonsumsinya.


Kepuasan total konsumen dapat dioptimalkan jika barang tersebut memiliki nilai tukar dan nilai pakai yang tinggi. Ini artinya, jika suatu produk, barang dan jasa dapat memenuhi kebutuhan, keinginan, dan harapan mayarakat konsumen, maka konsumen akan bersedia membayar dengan harga yang lebih tinggi.

Untuk menjelaskan perilaku konsumen dalam memperoleh kepuasan terhadap barang dan jasa yang dikonsumsinya dapat dilakukan dengan dua pendekatan, yaitu pendekatan kardinal dan pendekatan ordinal. Berikut ini penjelasan tentang kedua pendekatan tersebut:

Perilaku Konsumen Pendekatan Ordinal, Pendekatan Indiferens.

Pendekatan ordinal menggunakan pengukuran ordinal (atau bertingkat atau skala) dalam menganalisis kepuasan konsumen. Ini artinya kepuasan konsumen tidak dapat diukur secara kuantitatif dengan angka tetapi hanya dapat diukur dengan peringkat yang sifatnya kualitatif, misalnya tidak puas, puas, lebih puas, sangat puas dan seterusnya.

Pendekatan ini juga sering disebut dengan pendekatan indiferens. Pendekatan ordinal berasumsi bahwa tingkat utilitas total yang dapat dicapai oleh konsumen merupakan fungsi dari kuantitas barang. Asumsi ini sama dengan pendekatan cardinal. Selain itu asumsi lain yang juga sama adalah konsumen akan berusaha untuk memaksimalkan kepuasannya sesuai dengan anggaran yang dimiliki atau dikeluarkannya.

Namun demikian pendekatan ini memiliki asumsi yang berbeda dengan pendekatan kardinal. Pendekatan ordinal tidak menganggap bahwa tingkat utilitas dapat diukur secara kuantitatif dengan angka tetapi konsumen hanya memiliki skala preferensi.

Skala preferensi adalah suatu kaidah dalam menentukan pilihan terhadap barang yang akan dikonsumsi. Skala preferensi tersebut memiliki ciri sebagai berikut:

  1. Konsumen mampu membuat peringkat kepuasan terhadap barang. Ini artinya konsumen mampu membedakan tingkat kepuasan dalam pemenuhan barang, misalnya minum kopi hangat lebih puas dibandingkan minum susu hangat.
  2. Peringkat kepuasan tersebut bersifat transitif artinya jika kopi hangat lebih disukai daripada susu hangat, sedangkan susu hangat lebih disukai daripada the hangat, maka kopi hangat lebih disukai daripada the hangat, bukan sebaliknya.
  3. Konsumen selalu ingin mengkonsumsi jumlah barang yang lebih banyak karena konsumen tidak pernah terpuaskan.

Indifference Curve Budget Line Teori Perilaku Konsumen Pendekatan Ordinal

Ada dua konsep yang digunakan untuk menganalisis perilaku konsumen melalui pendekatan ordinal yaitu kurva kepuasan sama atau indifference curve dan garis anggaran atau budget line.

Pendekatan indifference curva atau kepuasan sama merupakan pendekatan yang tidak dapat diukur atau dikuantifikasikan. Namun nilai guna dapat dibandingkan satu dengan lainnya. Yaitu Tinggi atau lebih tinggi, atau sebaliknya rendah atau lebih rendah tanpa menyatakan berapa lebih tinggi atau rendah kepuasannya, sehingga utility bersifat ordinal.

Asumsi Indifference Curve Pendekatan Ordinal

Adapun beberapa asumsi yang digunakan dalam indifference curve diantaranya adalah

a). Konsumen mempunyai pola preferensi terhadap barang konsumsi dalam bentuk indifference map atau kumpulan indiferen.

b). Konsumen memiliki sejumlah uang atau dana tertentu untuk memenuhi konsumsinya

c). Konsumen selalu berupaya untuk mendapatkan kepuasan yang maksimum.

d). Kurva indiferen diasumsikana hanya ada dua jenis barang yang dapat memberikan kepuasan kepada konsumen.

Ciri Ciri Indefference Curve Pendekatan Ordinal,

a). Kurva indifference bergerak turun dari kiri atas ke kanan bawah, atau memiliki kemiringan Slop negative.

b). Kurva berbentuk cembung ke arah titik nol origin

c). Jika lebih dari saru kurva, maka tidak ada kurva yang saling berpotongan

d). Jika lebih dari saru kurva, maka Kurva yang terletak paling kanan menunjukkan kepuasan yang paling tinggi

Kurva Indiferen, Indifference Curve Pendekatan Ordinal,

Indifference curve adalah suatu garis yang menggambarkan hubungan atau kombinasi dari dua jenis barang konsumsi yang memberikan kepuasan yang sama.

Tabel di bawah menunujukkan contoh kombinasi dua barang konsumsi yaitu barang konsumsi M dan barang konsumsi P yang memberikan kepuasan yang sama.

Tabel Kombinasi Barang Konsumis Pada Indifference Curve Pendekatan Ordinal,
Tabel Kombinasi Barang Konsumis Pada Indifference Curve Pendekatan Ordinal,

Seluruh Kombinasi yaitu A sampai kombinasi E akan memberikan nilai kepuasan yang sama. Mengkonsumsi barang dengan kombinasi A sama puasnya dengan mengkonsumsi barang kombinasi B , C, D, atau E.

Misalkan mengkonsumsi 24 barang M dan 4 barang P akan sama puasnya dengan mengkonsumsi 16 barang M dan 6 barang P. Dan seterusnya sampai kombinasi E.

Membuat Kurva Indifference Pada Perilaku Konsumen Pendekatan Ordinal

Kurva indifference dibangun oleh sumbu horisontal yang menunjukkan jumlah barang konsumsi P dan sumbu vertikal yang menunjukkan jumlah barang konsumsi M.

Jika data pada table di atas diplot pada grafik akan diperoleh suatu garis yang disebut indifference curve seperti ditunjukkan pada gambar berikut.

Membuat Kurva Indifference Pada Perilaku Konsumen Pendekatan Ordinal
Membuat Kurva Indifference Pada Perilaku Konsumen Pendekatan Ordinal

Pada kombinasi A (titik A), konsumen mengkonsumsi 24 barang konsumsi M dan 4 barang P. Jika konsumen mengurangi konsumsi barang M menjadi 16, maka konsumen harus menambah konsumsi barang P sebanyak 2 unit untuk membentuk kombinasi B (titik B), sehingga mendapat kepuasan yang sama dengan kombinasi sebelumnya yaitu kombinasi A.

Marginal Rate of Substitution MRS Pada Perilaku Konsumen Pendekatan Ordinal

Marginal Rate of Substitution MRS merupakan perbandingan antara perubahan (pengurangan) suatu barang konsumsi tertentu terhadap perubahan (penambahan) barang konsumsi yang lainnya agar mendapat kepuasan yang sama.

Perhatikan kembali table dan grafik di atas. Untuk menambah jumlah konsumsi barang P, maka harus mengurangi jumlah konsumsi barang M. Ini artinya, pengurangan jumlah barang M akan diikuti dengan penambahan barang P. Artinya juga, barang P merupakan substitusi atau pengganti dari barang M yang berkurang. Sehingga kepuasan konsumen tetap sama.

Nilai Marginal rate of substitution dapat dinyatakan dengan menggunakan persamaan rumus berikut

MRSMP = – ΔM/ΔP

MRSMP = – (Mn – Mn-1)/(Pn – Pn-1)

MRSMP = Marginal rate of substitution

ΔM= perubahan (pengurangan)  konsumsi barang M

ΔP = perubahan (penambahan) konsumsi barang P

Contoh Perhitungan Marginal Rate of Substitution Pada Perilaku Konsumen Pendekatan Ordinal

Nilai Marginal rate of substitution ketika konsumen merubah kombinasi konsumsi dari kombinasi A menjadi kombinasi B dapat dihitung seperti berikut

MRSMP = – ΔM/ΔP

MRSMP = – (MB – MA)/(PB – PA)

MRSMP = – (16 – 24)/(6 – 4)

MRSMP = – (- 8/2)

MRSMP = 4

Dan ketika konsumen merubah kombinasi dari B ke kombinasi C, maka Nilai Marginal rate of substitution adalah

MRSMP = – (MC – MB)/(PC – PB)

MRSMP = – (10 – 16)/(10 – 6)

MRSMP = – (- 6/4)

MRSMP = 1,5 dan seterusnya sampai kombinasi E

Tabel Contoh Hasil Perhitungan Nilai Marginal Rate of Substitution Pada Perilaku Konsumen Pendekatan Ordinal,

Hasil perhitungan secara keseluruhan Nilai Marginal rate of substitution dapat dilihat pada table berikut

Tabel Contoh Hasil Perhitungan Nilai Marginal Rate of Substitution Pada Perilaku Konsumen Pendekatan Ordinal,
Tabel Contoh Hasil Perhitungan Nilai Marginal Rate of Substitution Pada Perilaku Konsumen Pendekatan Ordinal,

Perubahan kombinasi barang konsumsi dari B ke kombinasi C diikuti dengan perubahan nilai MRS nya dari 4 menjadi 1,5. Hal ini menjelaskan bahwa kemampuan barang konsumsi P dalam mensubstitusi barang M juga turun.

Pada kombinasi B, satu barang P mampu mensubstitusi atau menggantikan 4 barang konsumsi M. Ketika kombinasi berubah menjadi C, maka kemampuan barang P mensubstitusi turun dari 4 menjadi 1,5. Artinya, pada kombinasi C, satu barang P hanya mampu mensubstitusi atau menggantikan 1,5 barang M.

Pergeseran Kurva Indiferen Perilaku Konsumen Pendekatan Ordinal

Kurva indiferen dapat bergeser ke kiri atau ke kanan. Pergeseran kurva indiferen ke kiri, misal dari kurva AA ke kurva CC, menunjukkan kepuasan yang diperoleh dalam mengkonsumsi kedua barang berkurang. Sebaliknya, pergeseran kurva indiferen ke kanan, misal kurva AA ke kurva BB,  meunjukkan kepuasan dalam mengkonsumsi kedua barang bertambah.

Gambar Pergeseran Kurva Indiferen Perilaku Konsumen Pendekatan Ordinal
Gambar Pergeseran Kurva Indiferen Perilaku Konsumen Pendekatan Ordinal

Semua kombinasi barang sepanjang titik titik Kurva indiferen BB memiliki kepuasan yang paling tinggi dibanding dengan kepuasan pada kombinasi sepanjang kurva AA atau kurva CC.

Jadi dapat dikatakan jika konsumen mengharapkan kepuasan yang setinggi tingginya dari dua barang konsumsi, maka konsumen harus menggeser kurva indiferen ke arah kanan.

Budget Line Garis Anggaran Perilaku Konsumen Pendekatan Ordinal

Budget line adalah suatu garis yang menunjukkan hubungan antara dua barang yang dapat dikonsumsi dengan dana atau anggaran yang tersedia.

Fungsi Budget Line Perilaku Konsumen Pendekatan Ordinal

Fungsi garis anggaran dapat dinyatakan dengan menggunakan persamaan rumus berikut:

I = X. PX + Y PY

Y PY = I – X PX

jika dinyatakan dalam besaran Y maka fungsi garis anggaran menjadi seperti berikut

Y = I/PY – (PX/PY) X

Dengan keterangan

I = besar dana, pendapatan yang tersedia

Y = jumlah barang Y

PY = harga satu unit barang Y

X = jumlah barang X

PX = harga satu unit barang X

Contoh Soal Perhitungan Fungsi Garis Anggaran Budget Line Perilaku Konsumen Pendekatan Ordinal

Jika dana yang dimiliki konsumen untuk konsumsi dua barang adalah 200.000 rupiah, sedangkan harga barang X adalah 20.000 rupiah dan harga barang Y adalah 8.000 rupiah, maka fungsi anggarannya adalah:

Perhitungan Fungsi Garis Anggaran Perilaku Konsumen Pendekatan Ordinal

Fungsi garis anggaran dapat dinyatakan dengan rumus berikut

Y = I/PY– (PX/PY) X

diketahui dari soal

I = 200 rb

PX = 20 rb

PY = 8 rb

sehingga fungsi garis anggarannya adalah

Y = 200/8 – (20/8) X

Y = 25 – 2,5 X

Perhitungan Kombinasi Komsumsi Budget Line Perilaku Konsumen Pendekatan Ordinal

Kombinasi barang X dan Y dapat dibuat dengan menggunakan fungsi budget line. Kombinasi dapat dimulai dengan menentukan nilai X terlebih dahulu. Misal X adalah 0, 2, 4, 6, 8, dan 10.

Maka nilai Y dapat ditentukan dengan mensubstitusikan nilai X ke fungsi budget line berikut

Y = 25 – 2,5 X

untuk X = 0 maka Y adalah

Y = 25 – 2,5 (0)

Y = 25

untuk X = 2 maka Y adalah

Y = 25 – 2,5 (2)

Y = 20 dan seterusnya

Tabel Hasil Perhitungan Kombinasi Barang Konsumsi Fungsi Garis Anggaran Perilaku Konsumen Pendekatan Ordinal

Hasil perhitung kombinasi barang konsumsi X dan barang Y dengan fungsi budget line dapat dilihat pada table berikut

Tabel Hasil Perhitungan Kombinasi Barang Konsumsi Fungsi Garis Anggaran Perilaku Konsumen Pendekatan Ordinal
Tabel Hasil Perhitungan Kombinasi Barang Konsumsi Fungsi Garis Anggaran Perilaku Konsumen Pendekatan Ordinal

Kombinasi A memperlihatkan bahwa seluruh anggaran konsumen digunakan untuk membeli barang Y. Sedangkan kombinasi F menunjukkan seluruh anggaran dihabiskan  untuk barang X. Kombinasi A sampai F merupakan alternative atau pilihan yang dapat diambil oleh konsumen dengan anggaran yang sama.

Membuat Kurva Budget Line Perilaku Konsumen Pendekatan Ordinal

Fungsi garis anggaran berbentuk linear sehingga untuk membuat Kurvanya cukup dengan menghubungkan dua titik akhir kurvanya (curve end point).

Untuk titik akhir 1 pada X = 0 dan titik akhir 2 pada Y = 0

Membuat titik akhir 1 dengan mensubstitusi X = 0 ke fungsi budget line berikut

Y = 25 – 2,5 X

Y = 25 – 2,5 (0)

Y = 25

Jadi Titik akhir 1 adalah (25, 0)

Membuat titik 2 dengan  mensubstitusikan Y = 0 ke fungsi budget line

Y = 25 – 2,5 X

0 = 25 – 2,5 X

X = 25/2,5

X = 10

Jadi titik akhir 2 adalah (0, 10)

Buat kurva garis dengan menghubungkan titik 1 (25, 0) dan titik 2 (0,10)

Kurva budget line dari fungsi Y = 25 – 2,5 X dapat dilihat pada gambar berikut

Gambar Membuat Kurva Budget Line Perilaku Konsumen Pendekatan Ordinal
Gambar Membuat Kurva Budget Line Perilaku Konsumen Pendekatan Ordinal

Titik A memperlihatkan bahwa konsumen menghabiskan anggarannya hanya untuk barang X sebanyak 25 unit. Sedangkan titik F menunjukkan anggaran yang tersedia hanya dibelanjakan untuk barang X.

Titik titik sepanjang kurva budget line mulai dari titik A sampai ke titik F merupakan kombinasi barang konsumsi yang diperoleh konsumen dengan anggaran yang sama yaitu 200 ribu rupiah.

Pergeseran Kurva Fungsi Garis Anggaran Perilaku Konsumen Pendekatan Ordinal

Kurva budget line dapat berubah apabila ada perubahan pada harga P dan pendapatan atau dana yang tersedia I.

Pengaruh Harga Barang Pada Fungsi Garis Anggaran Perilaku Konsumen Pendekatan Ordinal

Jika harga barang P turun, maka budget line bergeser ke kanan menjauh dari titik nol (origin).

Jika harga barang P naik, maka budget line bergeser ke kiri mendekati titik nol (origin)

Misalkan Harga barang P naik menjadi dua kalinya, maka

PX = 2 x 20 rb = 40 rb

PY = 2 x 8 rb = 16 rb

I = 200 rb

sehingga fungsi garis anggarannya setelah harga barang naik dua kali  adalah

Y = I/PY– (PX/PY) X

Y = 200/16 – (40/16) X

Y = 12,5 – 2,5 X

Pengaruh Pendapatan Pada Garis Anggaran Perilaku Konsumen Pendekatan Ordinal

Jika dana tersedia I turun, maka budget line bergeser sejajar ke kiri mendekati titik nol (origin).

Jika dana tersedia I naik, maka budget line bergeser sejajar ke kanan menjauhi titik nol (origin)

Misalkan anggaran naik menjadi dua kali, maka

I = 2 x 200 rb = 400 rb

PX = 20 rb

PY = 8 rb

sehingga fungsi budget line setelah anggaran naik dua kali adalah

Y = I/PY– (PX/PY) X

Y = (400/8)– (20/8) X

Y = 50 – 2,5 X

Pergeseran Kurva Budget line akibat perubahan harga barang dan pendapatan anggaran dapat dilihat pada gambar berikut

Gambar Pergeseran Kurva Fungsi Garis Anggaran Perilaku Konsumen Pendekatan Ordinal
Gambar Pergeseran Kurva Fungsi Garis Anggaran Perilaku Konsumen Pendekatan Ordinal

Dari gambar diketahui bahwa kurva fungsi budget line sebelum ada perubahan ditunjukkan oleh garis biru. Sedangkan kenaikan harga dua barang konsumsi mampu menggeser kurva budget line ke arah kiri mendekat titik nol origin yang ditunjukkan oleh garis merah. Konsekuensi bergeser ke kiri ini adalah jumlah barang yang dapat dikonsumsi menjadi berkurang.

Namun jika anggaran yang disediakan dinaikkan, maka kurva budget line bergerak ke arah kanan menjauh dari titik nol origin yang ditunjukkan oleh garis hijau. Akibat bergeser ke kanan ini, maka jumlah barang yang dapat dikonsumsi menjadi lebih banyak.

Keseimbangan Fungsi Indifference Curve dan Budget Line Perilaku Konsumen Pendekatan Ordinal

Misalkan konsumen berkeinginan untuk mengkonsumsi dua jenis barang yaitu barang X dan Barang dengan kombinasi seperti pada gambar berikut

Tabel Contoh Perhitungan Keseimbangan Fungsi Indifference Curve dan Budget Line Perilaku Konsumen Pendekatan Ordinal
Tabel Contoh Perhitungan Keseimbangan Fungsi Indifference Curve dan Budget Line Perilaku Konsumen Pendekatan Ordinal

Konsumen memiliki anggaran yang siap digunakan untuk konsumsi sebesar 200 ribu rupiah. Harga barang X adalah 20 ribu rupiah dan harga barang Y adalah 8 ribu rupiah. Tentukanlah kombinasi keseimbangan yang dapat memberikan kepuasan paling tinggi dengan anggaran yang tersedia.

Perhitungan Kebutuhan Anggaran Dan Kombinasi Konsumsi

Angaran yang dibutuhkan untuk tiap kombinasi dapat dihitung dengan rumus berikut

I = X. PX + Y PY

Substitusikan harga barang untuk tiap tiap kombinasi yang ada dalam table sepeti berikut

Anggara untuk kombinasi K1 dihitung dengan rumus berikut

 I1 = X1 PX + Y1 PY

X1 = 12

Y1 = 6

PX = 20 rb

PY = 8 rb

I1 = (12 x 20) + (6 x 8)

I1 = 240 + 48

I1 = 288 rb

jadi Anggaran yang dibutuhkan untuk mendapatkan kombinasi K1 adalah 288 ribu rupiah.

Anggaran untuk kombiasi K2 dihitung dengan rumus berikut

I2 = X2 PX + Y2 PY

X2 = 7

Y2 = 10

I2= (7 x 20) + (10 x 8)

I2 = 140 + 80

I2 = 220 rb

Jadi anggaran yang harus disediakan oleh konsumen agar dapat mengkonsumsi barang sesuai kombinasi K2 adalah 220 ribu rupiah.

Untuk anggaran K3 sampai K5 dapat dihitung dengan cara yang sama.

Tabel Hasil Perhitungan Kebutuhan Anggaran Konsumsi Kombinasi Perilaku Konsumen Pendekatan Ordinal

Hasil perhitung kebutuhan dana untuk kombinasi barang konsumsi X dan barang Y dapat dilihat pada table berikut

Tabel Hasil Perhitungan Kebutuhan Anggaran Konsumsi Kombinasi Perilaku Konsumen Pendekatan Ordinal
Tabel Hasil Perhitungan Kebutuhan Anggaran Konsumsi Kombinasi Perilaku Konsumen Pendekatan Ordinal

Dari table di atas diketahui bahwa kombinasi K3 membutuhan anggaran 200 ribu rupiah. Kebutuhan anggaran ini sama dengan anggaran atau dana yang disediakan oleh konsumen. Kombinasi K3 terdiri dari 4 barang X dan 15 barang Y. Arinya. anggaran 200 ribu rupiah digunakan untuk membeli 4 barang X dan membeli 15 barang Y.

Jadi K3 merupakan kombinasi yang memberikan kepuasan paling tinggi untuk anggaran yang dimiliki oleh konsumen.

Membuat Grafik Keseimbangan Indifference Curve dan Budget Line Perilaku Konsumen Pendekatan Ordinal

Grafik keseimbangan dibuat dengan meletakkan fungsi indifference curve dan fungsi budget line dalam satu grafik yang sama seperti ditunjukkan pada gambar di bawah

Membuat Grafik Keseimbangan Indifference Curve dan Budget Line Perilaku Konsumen Pendekatan Ordinal
Grafik Keseimbangan Indifference Curve dan Budget Line Perilaku Konsumen Pendekatan Ordinal

Keseimbangan konsumen terjadi ketika indiferen curve dan budget line saling bersinggungan. Titik singgungnya merupakan titik keseimbangan. Pada titik singgung ini.  jumlah barang X dan Y merupakan kombinasi yang membutuhkan anggaran sesuai dengan dana yang tersedia.

Dalam gambar di atas diketahui bahwa pada titik C terjadi singgungan antara Indifference Curve IC dan Budget Line BL. Titik C merupakan titik keseimbangan antara Indifference Curve IC dan Budget Line BL.

Titik C Terjadi ketika jumlah barang X adalah 4 unit dan barang Y adalah 15 unit. Titik C merupakan kombinasi yang memberikan kepuasan paling tinggi untuk anggaran 200 ribu rupiah.

Seandainya materi ini memberikan manfaat, dan anda ingin memberi dukungan Donasi pada ardra.biz, silakan kunjungi SociaBuzz Tribe milik ardra.biz di tautan berikuthttps://sociabuzz.com/ardra.biz/tribe

Faktor Yang Mempengaruhi Nilai Guna Marginal Barang Dan Jasa Pada Perilaku Konsumen Pendekatan Kardinal

Daftar Pustaka:

  1. Sukirno, S, 2011, “Mikroekonomi Teori Pengantar”, PT Raja Grafindo Persada, Edisi Ketiga, Cetatakan Ke 26, Jakarta.
  2. Ahman H., Eeng. Rohmana, Yana, 2007, “Ilmu Ekonomi dalam PIPS”, Edisi Pertama, Penerbit Unuversitas Terbuka, Jakarta.
  3. Jhingan, M.L., 2008, “Ekonomi Pembangunan Perencanaan”, Edisi Pertama, PT RajaGrafindo Persada, Jakarta.
  4. Joesron, Suharti, Tati. Fathorrrazi, M., 2012, “Teori Ekonomi Mikro”, Edisi Pertama, Graha Ilmu, Yogyakarta.
  5. Sartono, Agus, R., “ 2001, “Manajemen Keuangan Teori dan Aplikasi”, Edisi Keempat, BPFE Yogyakarta, Yogyakarta.
  6. Ardra.Bis, 2019, “Teori Perilaku Konsumen dan Pengertian Konsumen dengan Tujuan Konsumen. Pengertian total utility dan Pengertian kepuasan total konsumen beserta Perilaku konsumen Pendekatan Kardinal.
  7. Ardra.Biz, 2019, “Pendekatan Utilitas dan Perilaku kepuasan konsumen secara kuantitatif atau Kepuasan konsumen utility approach. Tingkat kepuasan Hukum Gossen sebagai Perilaku konsumen hukum Gossen atau Perilaku konsumen Pendekatan Ordinal dan Pendekatan Indiferens.
  8. Ardra.Biz, 2019, “Kepuasan konsumen secara bertingkat dengan Kepuasan konsumen secara kualitatif. Perilaku Kepuasan konsumen skala preferensi.
  9. Ardra.Biz, 2019, “Pengertian Skala preferensi, Ciri ciri skala preferensi dan Contoh perilaku Kepuasan sacara kuantittif dengan Contoh kepuasan secara kulitatif atau Contoh skala preferensi.
  10. Indifference Curve Budget Line Teori Perilaku Konsumen Pendekatan Ordinal,  Asumsi Indifference Curve Pendekatan Ordinal,  Ciri Ciri Indefference Curve Pendekatan Ordinal, Kurva Indiferen, Indifference Curve Pendekatan Ordinal, Membuat Kurva Indifference Pada Perilaku Konsumen Pendekatan Ordinal,
  11. Marginal Rate of Substitution MRS Pada Perilaku Konsumen Pendekatan Ordinal Rumus Marginal Rate of Substitution MRS,  Contoh Soal Perhitungan Marginal Rate of Substitution Pada Perilaku Konsumen Pendekatan Ordinal,  Contoh Soal Nilai Marginal rate of substitution,  Tabel Contoh Hasil Perhitungan Nilai Marginal Rate of Substitution Pada Perilaku Konsumen Pendekatan Ordinal,
  12. Pergeseran Kurva Indiferen Perilaku Konsumen Pendekatan Ordinal, Budget Line Garis Anggaran Perilaku Konsumen Pendekatan Ordinal,  Fungsi Budget Line Perilaku Konsumen Pendekatan Ordinal, Rumus Fungsi Budget Line,  Contoh Soal Perhitungan Fungsi Garis Anggaran Budget Line Perilaku Konsumen Pendekatan Ordinal, Perhitungan Fungsi Garis Anggaran Perilaku Konsumen Pendekatan Ordinal,
  13. Perhitungan Kombinasi Komsumsi Budget Line Perilaku Konsumen Pendekatan Ordinal,  Tabel Hasil Perhitungan Kombinasi Barang Konsumsi Fungsi Garis Anggaran Perilaku Konsumen Pendekatan Ordinal,  Membuat Kurva Budget Line Perilaku Konsumen Pendekatan Ordinal,  Pergeseran Kurva Fungsi Garis Anggaran Perilaku Konsumen Pendekatan Ordinal,
  14. Pengaruh Harga Barang Pada Fungsi Garis Anggaran Perilaku Konsumen Pendekatan Ordinal,    Pengaruh Pendapatan Pada Garis Anggaran Perilaku Konsumen Pendekatan Ordinal,   Keseimbangan Fungsi Indifference Curve dan Budget Line Perilaku Konsumen Pendekatan Ordinal,
  15. Perhitungan Kebutuhan Anggaran Dan Kombinasi Konsumsi,  Tabel Hasil Perhitungan Kebutuhan Anggaran Konsumsi Kombinasi Perilaku Konsumen Pendekatan Ordinal,  Grafik Keseimbangan Indifference Curve dan Budget Line Perilaku Konsumen Pendekatan Ordinal,