Teori Nilai Barang, Teori Gossen: Nilai Biaya Tukar Subjektif Objektif

Pengertian Nilai Barang. Nilai  barang dapat diartikan sebagai kemampuan barang untuk memenuhi kebutuhan manusia. Ini artinya barang- barang yang memiliki nilai berarti barang itu mempunyai kemampuan untuk memenuhi kebutuhan manusia.

Jenis Nilai Barang

Nilai suatu barang dapat dibedakan menjadi dua, yaitu barang berdasarkan nilai pakai dan nilai tukar.

Nilai Pakai (Value in Use)

Suatu barang dikatakan mempunyai nilai pakai apabila barang tersebut mampu memenuhi kebutuhan pemiliknya secara langsung. Nilai pakai dapat dibedakan menjadi dua, yaitu sebagai berikut.

  • Nilai Pakai Subjektif,

Nilai pakai subjektif adalah nilai yang diberikan oleh seseorang terhadap suatu barang karena barang tersebut bisa digunakan untuk memenuhi kebutuhannya secara pribadi (untuk diri sendiri).

Contoh nilai pakai subjuktif adalah kursi roda bagi orang yang tidak dapat berjalan memiliki nilai pakai yang tinggi, tetapi bernilai pakai rendah bagi orang yang sehat. Kursi memiliki nilai subjektif terhadap perorangan. Hanya dibutuhkan oleh orang orang tertentu.

  • Nilai Pakai Objektif,

Nilai pakai objektif adalah kemampuan dari suatu barang untuk dapat memenuhi kebutuhan manusia pada umumnya.

Contoh nilai pakai objektif adalah air memiliki nilai pakai yang tinggi bagi setiap orang. Sebagai barang atau objek, air memiliki nilai pakai yang sangat tinggi, karena air merupakan sumber kehidupan dan dibutuhkan oleh setiap orang.

Nilai Tukar (Value in Exchange)

Suatu barang dapat dikatakan mempunyai nilai tukar apabila memiliki kemampuan untuk ditukarkan dengan barang lain.

Berdasarkan nilai tukarnya, suatu barang dapat dikatagorikan menjadi nilai tukar subjektif dan nilai tukar objektif.

  • Nilai Tukar Subjektif,

Nilai tukar subjektif adalah nilai yang diberikan oleh seseorang (secara pribadi)  terhadap suatu barang karena barang tersebut dapat ditukarkan dengan barang lain.

Contoh nilai tukar subjektif adalah bagi seseorang nilai tukar sebuah lukisan tertentu lebih tinggi dari nilai tukar sebuah mobil baru, tetapi tidak demikian bagi yang lain. Nilai tukar yang dinilai menurut perorangan. Tiap orang akan memberikan nilai tukar yang berbeda untuk barang yang akan ditukarnya.

  • Nilai Tukar Objektif,

Nilai tukar objektif adalah kemampuan dari suatu barang untuk dapat ditukarkan dengan barang yang lain.

Contoh nilai tukar objektif adalah semua orang mengakui bahwa berlian memiliki nilai tukar yang tinggi maka berlian akan memiliki harga yang tinggi di setiap tempat. Nilai yang secara umum diberikan pada barang akan sama.

Teori Nilai

Teori Nilai Objektif

Beberapa ahli ekonomi melakukan penelitian tentang bagaimana terjadinya nilai terhadap barang/ jasa melahirkan teori nilai objektif sebagai berikut.

Teori Nilai Biaya Produksi Adam Smith

Adam Smith menyatakan nilai suatu barang dan jasa ditentukan oleh biaya yang dikeluarkan produsen untuk memproduksi barang dan jasa tersebut. Semakin tinggi biaya produksi, maka semakin tinggi pula nilai dari barang tersebut.

Jika biaya produksi untuk suatu barang yang dikeluarkan oleh produsen adalah Rp 500.000, maka nilai dari barang tersebut juga sebesar Rp500.000 pula.

Teori Nilai Biaya Produksi Tenaga Kerja David Ricardo

Berdasrkan teori David Ricardo, nilai suatu barang ditentukan oleh biaya tenaga kerja yang digunakan untuk memproduksi barang tersebut.

Yang dimaksud Tenaga kerja adalah meliputi tenaga kerja manusia, mesin, dan peralatan lain yang digunakan.

Teori Nilai Lebih Karl Marx

Berdasarkan teori Karl Marx, barang dinilai berdasarkan pada biaya rata- rata tenaga kerja di masyarakat. Karl Marx juga berpendapat bahwa upah yang diberikan kepada buruh tidak sesuai dengan harga barang yang dijual sehingga timbul pemerasan terhadap buruh.

Laba yang diterima pengusaha didapat dari selisih nilai jual dengan biaya produksi yang rendah. Rendahnya biaya karena adanya pemerasan terhadap buruh disebut nilai lebih. Oleh karena itu, teori ini disebut dengan teori nilai lebih.

Teori Nilai Reproduksi Carey

Berdasarkan teori ini, nilai suatu barang ditentukan oleh biaya pembuatan kembali atau biaya saat barang tersebut direproduksi. Oleh karena itu, nilai barang ditentukan oleh harga- harga bahan pada saat barang tersebut akan dibuat kembali.

Teori Nilai Pasar Hummed and Locke

Berdasarkan teori ini, nilai suatu barang ditentukan oleh mekanisme permintaan dan penawaran yang ada di pasar atau nilai suatu barang ditentukan oleh harga pasar.

Teori Nilai Subjektif

Berdasarkan teori ini nilai suatu barang ditentukan oleh utilitas dari barang tersebut. Setiap orang akan mempunyai utilitas yang berbeda untuk suatu barang yang sama. Teori nilai subjektif yang terkenal berasal dari Herman Heinrich Gossen dan Carl Menger.

Hukum Gossen I

Hukum Gossen I ini menyatakan tentang gejala tambahan kepuasan yang tidak proporsional yang dikenal dengan The Law of Diminishing Marginal Utility (Hukum Tambahan Kepuasan yang Semakin Menurun).

Hukum Gossen I berbunyi sebagai berikut. ”Jika jumlah suatu barang yang dikonsumsi dalam jangka waktu tertentu terus ditambah maka kepuasan total yang diperolah juga bertambah, akan tetapi kepuasan marjinal (tambahan kepuasan yang diperoleh jika dikonsumi ditambah dengan satu unit) pada titik tertentu akan semakin berkurang.

Bahkan jika konsumsi terus dilakukan, pada akhirnya tambahan kepuasan yang diperoleh akan menjadi negatif dan kepuasan total menjadi berkurang.”

Hukum Gossen II

Uraian di atas mengemukakan perilaku konsumen terhadap satu macam barang saja. Pada kenyataannya, konsumen membutuhkan beraneka macam barang. Masalahnya adalah berapa pengorbanan yang harus dilakukan agar bermacam- macam kebutuhannya dapat terpenuhi dengan sebaik- baiknya dan tercapai kepuasan maksimal.

 Hal ini dikemukakan dalam Hukum Gossen II, yaitu sebagai berikut.

”Manusia akan berusaha memuaskan yang beraneka ragam sampai mencapai tingkat intensitas yang sama.”

Artinya manusia akan membagi- bagi pengeluaran uangnya sedemikian rupa sehingga kebutuhannya terpenuhi secara seimbang.

Teori Nilai Subjektif Carl Menger

Menurut Menger, nilai ditentukan oleh faktor subjektif dibandingkan faktor objektif. Nilai berasal dari kepuasan manusia.

Karena kebutuhan manusia lebih banyak daripada barang dan jasa yang tersedia maka untuk memuaskan kebutuhannya manusia akan memilih secara rasional di antara barang/jasa alternatif yang tersedia.

Dalam teori ini dikemukakan tentang prinsip- prinsip pengkatagorian barang/jasa menurut tingkat intensitasnya.

Katagori I adalah barang- barang untuk mempertahankan hidup, katagori II barang dan jasa untuk kesehatan, dan katagori III adalah barang/jasa untuk memberikan kesejahteraan individu. Semakin penting barang dan jasa tersebut bagi seorang individu maka nilai barang/jasa tersebut semakin tinggi.

Daftar Pustaka:

  1. Sukirno, S, 2011, “Mikroekonomi Teori Pengantar”, PT Raja Grafindo Persada, Edisi Ketiga, Cetatakan Ke 26, Jakarta.
  2. Joesron, Suharti, Tati. Fathorrrazi, M., 2012, “Teori Ekonomi Mikro”, Edisi Pertama, Graha Ilmu, Yogyakarta.
  3. Sartono, Agus, R., “ 2001, “Manajemen Keuangan Teori dan Aplikasi”, Edisi Keempat, BPFE Yogyakarta, Yogyakarta.
  4. Ahman H., Eeng. Rohmana, Yana, 2007, “Ilmu Ekonomi dalam PIPS”, Edisi Pertama, Penerbit Unuversitas Terbuka, Jakarta.
  5. Jhingan, M.L., 2008, “Ekonomi Pembangunan Perencanaan”, Edisi Pertama, PT RajaGrafindo Persada, Jakarta.
  6. Ahman, H., E., Rohmana, Y., 2007,”Ilmu Ekonomi Dalam PIPS”, Edisi Kedua, Cetakan Pertama, Penerbit Universitas Terbuka, Jakarta.
  7. Ardra.Biz, 2019, “==============

Metoda Perhitungan Pendapatan Nasional,

Pengertian Pendapatan Nasional. Secara sederhana Pendapatan nasional dapat diartikan sebagai pendapatan yang diterima oleh golongan -golongan masyarakat sebagai bentuk balas jasa sehubungan dengan produksi barang- barang dan jasa.

Setiap negara akan mengumpulkan berbagai informasi terkait dengan  kegiatan ekonominya agar secara rutin dapat mengetahui dan mengevaluasi setiap adanya perubahan perubahan pada tingkat dan corak kegiatan ekonomi yang sedang berjalan.

Salah satu informasi penting yang dikumpulkan adalah data mengenai pendapatan nasionalnya. Setiap negara akan mewujudkan suatu system penghitungan pendapatan nasional yang dinamakan national income accounting system atau sistem penghitungan pendapatan nasional.

Pada prinsipnya, sistem atau metoda tersebut adalah suatu cara pengumpulan informasi mengenai perhitungan terhadap :

1) nilai barang- barang dan jasa yang diproduksi dalam suatu negara;

2) nilai berbagai jenis pengeluaran atas produk nasional yang diciptakan;

3) jumlah pendapatan yang diterima oleh berbagai faktor produksi yang digunakan untuk menciptakan produksi nasional.

Berdasarkan arus kegiatan ekonomi negara, penghitungan pendapatan nasional dapat dilakukan dengan tiga (3) metode pendekatan, yaitu

Metode Pendekatan Pendapatan

Dalam metode ini cara yang dilakukan adalah dengan menjumlahkan seluruh pendapatan yang diterima masyarakat sebagai pemilik faktor produksi atas penyerahan faktor produksinya kepada perusahaan untuk  menghasilkan barang dan jasa selama satu tahun.

Penghitungan  pendapatan nasional dengan cara pendapatan pada umumnya menggolongkan pendapatan yang diterima faktor- faktor produksi sebagai berikut:

1) pendapatan para pekerja, yaitu gaji dan upah;

2) pendapatan dari usaha perorangan;

3) pendapatan dari sewa;

4) bunga netto; dan

5) keuntungan perusahaan.

Tabel di bawah menunjukkan factor produksi dan jenis pedapatan yang diperoleh oleh masyarakat dan atau perusahaan.

Cara Hitung Pendapatan Nasional Metode Pendekatan Pendapatan
Cara Hitung Pendapatan Nasional Metode Pendekatan Pendapatan

Besarnya  pendapatan nasional Pendekatan Pendapatan dapat dihitung dengan menggunakan persamaan rumus berikut:

Y = r + w + i + p

Dengan Keterangan:

Y = Yearly income (pendapatan nasional)

r = rent (sewa), yaitu balas jasa atas faktor produksi tanah

w = wages (upah), yaitu balas jasa atas faktor produksi tenaga kerja

i = interest (bunga) yaitu balas jasa atas faktor produksi modal

p = profit (laba) yaitu balas jasa atas faktor produksi skill

Contoh Soal Ujian Pendapatan Nasional Metoda Pendekatan Pendapatan

Diketahui data- data perekonomian suatu negara seperti ditunjukkan dalam tabel terlampir. Satuan uang triliun. Hitunglah pendapatan nasional dengan pendekatan penerimaan atau pendapatan

Contoh Tabel Perhitungan Pendapatan Nasional Metoda Pendekatan Pendapatan
Contoh Tabel Perhitungan Pendapatan Nasional Metoda Pendekatan Pendapatan

Menghitung Pendapatan Nasional Metoda Pendekatan Pendapatan

Besarnya pendapatan nasional suatu negara dapat dinyatakan dengan menggunakan rumus berikut

Y = r + w + i + p

r = 300

w= 2.500

i = 500

p = 400

Dengan demikian besar pendapatan nasional dengan pendekatan penerimaan atau pendapatan adalah

Y =300 + 2500 + 500 + 400

Y = 3.700

Jadi pendapatan nasional negara tersebut adalah 3.700 triliun rupiah

Metode Pendekatan Produksi

Perhitungan pendapatan nasional dengan metode produksi dilakukan dengan cara menjumlahkan secara keseluruhan nilai tambah (value added) yang diproduksi oleh berbagai sektor dalam perekonomian.

Penggunaan cara ini dalam menghitung pendapatan nasional mempunyai dua tujuan penting, yaitu:

1) untuk mengetahui besarnya sumbangan berbagai sektor ekonomi di dalam mewujudkan pendapatan nasional;

2) sebagai salah satu cara untuk menghindari penghitungan dua kali yaitu dengan hanya menghitung nilai produksi netto yang diwujudkan pada berbagai tahap proses produksi.

Sektor ekonomi di Indonesia dibedakan menjadi antara lain:

  1. Pertanian, peternakan, kehutanan dan perikanan
  2. Pertambangan dan penggalian
  3. industri pengolahan
  4. listrik, gas dan air bersih
  5. Bangunan
  6. Perdagangan, restoran dan hotel
  7. pengangkutan dan komunikasi
  8. Keuangan, persewaan bangunan dan jasa perusahaan serta
  9. Jasa-jasa

Nilai Tambah (value added)

Sebagai contoh, untuk memproduksi kemeja harus diproduksi terlebih dahulu kain, benang dan kapas. Jika menjumlahkan nilai akhir produksi  tiap- tiap komponen maka akan terjadi penghitungan ganda (double accounting).

Hal ini disebabkan karena dalam nilai akhir kemeja sudah terkandung nilai kain, dalam nilai akhir kain sudah terkandung nilai akhir benang dan seterusnya. Oleh karena itulah untuk memperoleh total produk yang dihasilkan suatu negara harus dilihat dari nilai tambahnya.

Perhatikan contoh Tabel di bawah yang menunjukkan perhitungan nilai tambah sebuah komoditas barang jadi dari bahan baku seperti berikut ini

Cara Hitung Nilai Tambah Pendapatan Nasional Metode Pendekatan Produksi
Cara Hitung Nilai Tambah Pendapatan Nasional Metode Pendekatan Produksi

Keterangan :

Untuk masing- masing komoditas penghitungan nilai tambahnya didasarkan pada selisih nilai produksi untuk tiap komoditas dari bahan baku pohon kayu jati sampai dengan barang atau produk jadi kursi kayu jati.

Misalkan:

1) Nilai tambah pohon kayu jati besarnya tetap Rp 500.000 (karena nilai produksinya belum mengalami perubahan menjadi komoditas lain)

2) Nilai tambah papan kayu jati Rp1.000.000 → merupakan selisih antara nilai produksi papan kayu jati dengan pohon kayu jati.

3) Nilai tambah kursi kayu jati Rp 1.000.000→ selisih antara nilai produksi kursi kayu jati dan papan kayu jati

Sehingga dapat disimpulkan bahwa nilai tambah yang diperoleh dari perubahan komoditas pohon kayu jati  menjadi kursi jati sebesar Rp 2.500.000. Dan Bukan jumlah nilai produksinya Rp 4.500.000

Dengan adanya perhitungan nilai tambah tersebut maka akan terhindar dari adanya perhitungan ganda.

Pendapatan Nasional Pendekatan Produksi dapat dihutung dengan menggunakan persamaan rumus berikut:

Y = NTB1 + NTB2 + NTB3 + ……… NTBn

Dengan Keterangan:

Y = Pendapatan nasional

NTB = Nilai tambah dari tiap- tiap sektor ekonomi

Metode Pendekatan Pengeluaran

Untuk mengetahui besarnya pendapatan nasional dengan metode ini maka dilakukan dengan cara menjumlahkan seluruh pengeluaran masyarakat dari tiaptiap rumah tangga yang ada. Adapun pengeluaran yang dihitung bukan berasal dari nilai transaksi barang jadi, hal ini dimaksudkan untuk menghindari perhitungan ganda.

Empat sektor Rumah tangga sebagai pelaku ekonomi yang digunakan sebagai acuan dalam menghitung pengeluaran adalah :

1) Rumah tangga konsumen

Pada sektor rumah tangga ini pengeluaran yang dilakukan berupa pembelian barang atau jasa yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan yang biasa di sebut dengan konsumsi (C)

2) Rumah tangga produsen atau perusahaan

Pengeluaran pada rumah tangga ini dilakukan sebagai pembentukan barang dan jasa yang digunakan untuk menghasilkan barang/jasa lebih lanjut atau yang diistilahkan dengan Investasi (I)

3) Rumah tangga pemerintah

Pengeluaran pemerintah ini terdiri dari:

– Pengeluaran konsumsi pemerintah, misalnya pembayaran gaji pegawai dan pembelian alat-alat kantor

– Pengeluaran pemerintah untuk investasi, misalnya pembuatan jalan, jembatan, saluran irigasi, pelabuhan dan lain-lain

Pengeluaran investasi oleh pemerintah maupun swasta nantinya oleh pemerintah dimasukkan dalam komponen pembentukan modal tetap domestik bruto dan komponen perubahan stok yang diistilahkan Goverment Expenditure (G)

4) Rumah tangga luar negeri / ekspor bersih (X-M).

Pengeluaran untuk rumah tangga ini merupakan selisih dari nilai ekspor terhadap nilai impor yang dilakukan oleh suatu negara dalam kegiatan perdagangan internasional.

Pengeluaran- pengeluaran dari keempat sektor perekonomian itulah yang merupakan komponen pendapatan nasional.

Data pendapatan nasional yang dihitung dengan cara pengeluaran ini akan dapat memberi gambaran tentang sampai di mana baiknya tingkat pertumbuhan yang dicapai dan tingkat kemakmuran yang sedang dinikmati.

Data pendapatan nasional juga memberikan informasi dan data yang dibutuhkan dalam analisis mikroekonomi.

Pendapatan nasional Pendekatan Pengeluaran dapat dihitung dengan menggunakan persamaan rumus berikut:

Y = C + I + G + ( X – M )

Keterangan:

Y = pendapatan nasional

C = konsumsi

I = Investasi

G = Pengeluaran pemerintah (Government Expenditure)

X = ekspor

M = impor

Tabel di bawah menunjukkan komponen komponen dalam PDB sebagai contoh saja.

Rumus Komponen Pendapatan Nasional Pendekatan Pengeluaran
Rumus Komponen Pendapatan Nasional Pendekatan Pengeluaran

1). Contoh Soal Perhitungan Pendapatan Nasional Pendekatan Pengeluaran

Diketahui data perekonomian suatu negara seperti ditunjukkan pada tabel. Satuan uang triliun. Hitunglah pendapatan nasional metoda pengeluaran.

Contoh Tabel Perhitungan Pendapatan Metoda Pengeluaran
Contoh Tabel Perhitungan Pendapatan Metoda Pengeluaran

Menghitung Pendapatan Nasional Metoda Pengeluaran

Besar pendapatan nasional suatu negara metoda pengeluaran dapat dinyatakan dengan menggunakn rumus seperti berikut

Y = C + I + G + (X – M)

C = Pengeluaran konsumsi =125

I  = tingkat invsetasi = 150

G = Pengeluaran pemerintah = 130

X = nilai ekspor  = 225

M = nilai impor =  170

Dengan demikian besar pendapatan nasional adalah

Y = 125 +150 + 130 + (225 – 170)

Y = 405 + 55

Y = 460

Jadi besarnya pendapatan nasional negara berdasarkan metoda pendekatan pengeluaran adalah 460 triliun rupiah

2). Contoh Soal Perhitungan Pendapatan Nasional

Diketahui data perekonomian suatu negara seperti ditunjukkan  pada table terlampir. Satuan uang triliun rupiah

ContohTabel Perhitungan Pendapatan Nasional Metoda Pendekatan Pengeluaran (Impor)
ContohTabel Perhitungan Pendapatan Nasional Metoda Pendekatan Pengeluaran (Impor)

Jika pendapatan nasional dengan pendekatan pengeluaran aadalah 8.000 triliun rupiah, maka besar nilai impor negara tersebut adalah…

Menghitung Besar Impor dari Pendapatan Nasional Pendekatan Pengeluaran

Pendapatan nasional dengan pendekatan pengeluaran dapat dinyatakan dengan menggunakan persamaan rumus berikut

Y = C + I + G + (X – M)

dengan keterangan

Y = Pendapatan nasional

C = konsumsi

I = Investasi

G = Pengeluaran pemerintah

X = ekspor

M = impor

Dengan demikian nilai impor negara tersebut  adalah

M = (C + I + G + X) – Y

M = (3000 + 1250 + 2750 + 1500) – 8000

M = 8500 – 8000

M = 500 triliun rupiah

Jadi nilai impor negara tersebut adalah 500 triliun rupiah

Indikator Ketimpangan Distribusi Pendapatan

Ada beberapa indikator yang dapat digunakan untuk mengukur tingkat ketimpangan distribusi pendapatan. Berikut beberapa diantaranya adalah:

Tingkat Ketimpangan Distribusi Pendapatan

Indikator yang digunakan untuk mengetahui besarnya tingkat ketimpangan distribusi pendapatan nasional dalam suatu negara atau daerah adalah Indeks Gini (Gini Index).

Rasio Gini atau koefisien Gini atau indeks Gini adalah besaran yang digunakan untuk mengukur derajat ketidakmerataan atau ketimpangan distribusi pendapatan terhadap jumlah penduduk.

Konsep ini didasarkan pada sebuah kuva berbentuk garis lengkung yang disebut dengan Kurva Lorenz, yaitu sebuah kurva yang menyatakan hubungan tidak linear antara persentase kumulatif pendapatan dengan persentase kumulatif penduduk.

Gambar berikut akan memberikan penjelasan yang lebih mudah.

Rasio Gini Tingkat Ketimpangan Distribusi Pendapatan Kurva Lorenz
Rasio Gini Tingkat Ketimpangan Distribusi Pendapatan Kurva Lorenz

Sumbu horisontal merepresentasikan prosentase kumulatif penduduk, sedangkan sumbu vertikalnya menyatakan persentase kumulatif pendapatan.

Garis diagonal 0-G menunjukkan hubungan linear antara persentase kumulatif pendapatan dan persentase kumulatif penduduk. Garis lurus diagonal ini disebut sebagai “garis kemerataan sempurna”.

Sepanjang garis linear ini, perbandingan kumulatif antara pendapatan dengan penduduk nilainya adalah satu. Nilai Persentase kumulatif pendapatan sama dengan persentase kumulatif penduduk. Titik -titik pada garis ini menunjukkan distribusi pendapatan yang merata pada semua penduduk.

Kurva Lorenz menunjukkan hubungan tidak linear antara  nilai pendapatan yang dimiliki oleh jumlah penduduk tertentu. Titi – titik pada kurva Lorenz menunjukkan ketimpangan distribusi pendapatan yang diterima oleh penduduk.

Luas A merupakan luas daerah yang dibatasi oleh kurva Lorenz (garis lengkung) dengan garis diagonal lurus 0 – G. Sedangkan Luas B merupakan luas daerah di bawah Kurva Lorenz.

Nilai Gini Rasio atau Koefesien Gini atai Indeks Gini dapat dinyatakan dengan menggunakan persamaan rumus berikut:

Gini Rasio = Luas A/(Luas A + Luas B)

Nilai Gini Rasio akan berkisar antara nol sampai dengan satu. Nilai Gini Rasio akan nol ketika luas A sama dengan Nol. Yaitu ketika kurva Lorent sama dengan garis lurus 0-G. Nilai Gini Rasio akan satu ketika luas A sama dengan Luas A + Luas B. Yaitu ketika Luas B sama dengan luas nol.

Jadi Koefisien Gini atau Gini Ratio digunakan untuk mengukur tingkat ketidakmerataan atau ketimpangan agregat (secara keseluruhan) memiliki nilai antara nol (pemerataan sempurna) hingga satu (ketimpangan yang sempurna).

Semakin jauh jarak kurva Lorenz dari garis diagonal, semakin tinggi tingkat ketimpangannya. Sebaliknya semakin dekat jarak kurva Lorenz dari garis diagonal, semakin tinggi tingkat pemerataan distribusi pendapatannya.

Nilai Gini Rasio sama dengan 0, ini artinya distribusi pendapatan merata sempurna. artinya setiap orang menerima pendapatan yang sama persis dengan yang lainnya.

Nilai Gini Rasio sama dengan 1 artinya distribusi pendapatan timpang sempurna atau pendapatan yang diterima oleh satu orang atau satu kelompok penduduk berbeda dengan satu orang atau kelompok lainnya..

Titik G1 berada pada garis linear yang menunjukkan distribusi pendapatan merata sempurna. Pada titik G1 dapat dikatakan bahwa 40% dari total pendapatan terdistribusi terhadap 40 % penduduk. Dan sisanya 60 % dari total pendapatan terdistribusi terhadap 60% penduduknya. Ini artinya pendapatan yang diterima oleh 40% penduduk sama besar dengan pendapatan yang diterima oleh 60% penduduk yang lainnya.

Titik G3 berada pada Kurva Lorenz yang menunjukkan distribusi pendapatan timpang atau tidak merata. Pada titik G3 dapat dikatakan bahwa 20 % dari total pendapatan terdistribusi untuk 40% penduduk. Dan sisanya 80% dari total pendapatan terdistribusi untuk 60% penduduk. Ini artinya 40% penduduk memiliki pendapatan yang lebih rendah dari 60% penduduk lainnya. Pada titik G3 terdapat ketimpangan distribusi pendapatan untuk kelompok penduduk 40% dengan kelompok penduduk yang 60% -nya.

Titik G2 berada pada kurva Lorenz, ini artinya distribusi pendapatan timpang. Pada titik G2 terlihat bahwa 40% dar total pendapatan terdistribusi untuk 62% jumlah penduduk. Dan 60% dari total pendapatan terdistribuksi terhadap 38 % penduduk. Ada ketimpangan pendapatan antara kelompok 62% penduduk dengan 38% penduduknya. Dimana 38% penduduk menerima 60% bagian dari total pendapatan. 38% penduduk memiliki pendapatan yang lebih tinggi dati 62% penduduk lainnya.

Tabel berikut ini memperlihatkan patokan yang mengatagorikan ketimpangan distribusi berdasarkan nilai Rasio Gini.

Tabel Ketimpangan Distribusi Pendapatan Nilai Rasio Gini
Tabel Ketimpangan Distribusi Pendapatan Nilai Rasio Gini

Indikator Ketimpangan Pendapatan Menurut Bank Dunia

Bank Dunia mengukur ketimpangan distribusi pendapatan suatu negara dengan melihat besarnya kontribusi dari 40% kelompok penduduk termiskin terhadap total pengeluarannya. Dalam hal ini, pendapatan yang diterima masyarakat didekati oleh pengeluaran yang dilakukan masyarakat. Argumennya bahwa pengeluaran menunjukkan pendapatan.

Kriterianya dapat dilihat pada table berikut:

Tabel Distribusi dan Tingkat Ketimpangan Pendapatan oleh Bank Dunia

Tabel Distribusi dan Tingkat Ketimpangan Pendapatan oleh Bank Dunia
Tabel Distribusi dan Tingkat Ketimpangan Pendapatan oleh Bank Dunia

Dari table diketahui, jika pengeluaran yang dilakukan oleh 40% penduduk kurang 12% dari total pengeluaran seluruh penduduknya, maka tingkat ketimpangannya dikatakan sangat tinggi.

Usaha Meningkatkan Pendapatan Nasional

Beberapa upaya yang dapat dilakukan oleh pemerintah untuk meningkatkan pendapatan nasional, yang dianggap cocok antara lain sebagai berikut :

1) Meningkatkan pembangunan nasional di segala bidang, khususnya sector ekonomi tanpa harus meninggalkan nilai nilai kepribadian bangsa.

2) Meningkatkan mutu sumber daya manusia melalui peningkatan mutu pendidikan nasional formal dan pemberian pelatihan- pelatihan formal dan non formal.

3) Memberikan kesempatan kepada perusahaan- perusahaan swasta untuk dapat  mengembangkan usahanya bagi terciptanya kemajuan ekonomi.

4) Mendorong dan meningkatkan perkembangan industri kecil dan rumah tangga sebagai penopang sekaligus mitra bagi pergerakan industri menengah dan industri besar.

5) Membuka dan meningkatkan kesempatan untuk melakukan investasi bagi para pemilik modal baik melalui jalur PMDN atau melalui jalur PMA.

Seandainya materi ini memberikan manfaat, dan anda ingin memberi dukungan Donasi pada ardra.biz, silakan kunjungi SociaBuzz Tribe milik ardra.biz di tautan berikuthttps://sociabuzz.com/ardra.biz/tribe

Uji Coba…Cukup dengan Intel UHD Graphic 620 bisa main game

Simak “Pieck hugged the panzer squad | Attack On Titan Final season episode 06 [ HD ]” Sangat Memukau

Daftar Pustaka:

  1. Mankiw, N., Gregory, 2003, “Teori Makroekonomi”, Edisi Kelima, Penerbit Erlangga, Jakarta.
  2. Jhingan, M.L., 2008, “Ekonomi Pembangunan Perencanaan”, Edisi Pertama, PT RajaGrafindo Persada, Jakarta.
  3. Samuelson, A., Paul. Nordhaus, D., William, 2004, “Ilmu Makro Ekonomi”, Edisi 17, PT Media Global Edukasi, Jakarta.
  4. Sukirno, Sadono, 2008, “Makroekonomi Teori Pengantar”, Edisi Ketiga, PT RajaGrafindo Persada, Jakarta.
  5. Prasetyo, P., Eko, 2011, “Fundamental Makro Ekonomi”, Edisi 1, Cetakan Kedua, Beta Offset, Yogyakarta.
  6. Putong, Iskandar. Andjaswati, N.D., 2008, “Pengantar Ekonomi Makro”, Edisi Pertama, Penerbit Mitra Wacana Media, Jakarta.
  7. Firdaus, R., Ariyanti, M., 2011, ”Pengantar Teori Moneter serta Aplikasinya pada Sistem Ekonomi Konvensional dan Syariah”, Cetakan Kesatu, AlfaBeta, cv, Bandung.
  8. Ardra.Biz, 2019, “Metoda Perhitungan Pendapatan Nasional, system penghitungan pendapatan nasional, national income accounting system, Perhitungan Pendapatan Nasional Metode Pendekatan Pendapatan, faktor produksi pendapatan nasional,
  9. Ardra.Biz, 2019, “jenis penggolongan pedapatan nasional, Rumus pendekatan pendapatan,  Contoh Soal Ujian Pendapatan Nasional Metoda Pendekatan Pendapatan, Pendapatan Nasional Metode Pendekatan Produksi, Rumus Cara Hitung Pendapatan Nasional Metode Pendekatan Produksi,
  10. Ardra.Biz, 2019, “Contoh Nilai Tambah, penghitungan ganda (double accounting) pendapatan nasional, Pendapatan Nasional Metode Pendekatan Pengeluaran, Rumus Cara Hitung pendapatan nasional Metode Pendekatan Pengeluaran,
  11. Ardra.Biz, 2019, “Empat sektor Rumah tangga pelaku ekonomi,  Pendapatan nasional Rumah tangga konsumen, Pendapatan nasional Rumah tangga pemerintah, Pendapatan nasional Rumah tangga produsen atau perusahaan, Rumah tangga luar negeri ekspor bersih,
  12. Ardra.Biz, 2019, “Goverment Expenditure pada pendapatan nasional, Rumus Pendapatan nasional Pendekatan Pengeluaran, Komponen pendapatan nasional metoda pengeluaran, Contoh soal perhitungan rumus Pendapatan nasional Pendekatan Pengeluaran,
  13. Ardra.Biz, 2019, “Indikator Ketimpangan Distribusi Pendapatan, Tingkat Ketimpangan Distribusi Pendapatan, Pengertian Ketimpangan Pendapatan, Indeks Gini (Gini Index), Pengertian Rasio Gini atau koefisien Gini, rumus koefesien indeks Gini, batas rasio Gini, Gambar Kurva Lorenz,
  14. Ardra.Biz, 2019, “Rumus Kurva Lorenz, Pengertian Kurva Lorenz, Konsep Kurva Lorenz,  Nilai Batas Rasio Gini, Indikator Ketimpangan Pendapatan Menurut Bank Dunia,
  15. Ardra.Biz, 2019, “Kriterianya Ketimpangan Pendapatan Nasional, Tabel Distribusi dan Tingkat Ketimpangan Pendapatan oleh Bank Dunia, Usaha Meningkatkan Pendapatan Nasional, Cara meningkatkan pendapatan nasiona,

Konsep Pendapatan Nasional, Pengertian Contoh Rumus Perhitungan

Pengertian Pendapatan Nasional. Secara sederhana Pendapatan nasional dapat diartikan sebagai pendapatan yang diterima oleh golongan -golongan masyarakat sebagai bentuk balas jasa sehubungan dengan produksi barang- barang dan jasa.

Faktor Yang Mempengaruhi Pendapatan Nasional

Besarnya pendapatan nasional akan sama dengan produk nasional. Dan Secara umum pendapatan nasional dipengaruhi oleh Tersedianya faktor produksi, Ketrampilan dan keahlian tenaga kerjanya, Kemajuan Teknologi produksi yang digunakan dan Stabilitas nasional

Beberapa Istilah terkait dengan pendapatan nasional antara lain adalah PDB, GNP dan NNI, dan PDRB.  Keempatnya merupakan istilah yang menunjukkan pendapatan nasional suatu negara, namun demikian instrumen yang digunakan untuk masing -masing negara berbeda sehingga akan memiliki arti yang berbeda pula untuk pengunaan istilah- istilah tersebut.

Gross Domestic Product (GDP) atau Product Domestik Bruto (PDB)

Pada metode ini, pendapatan nasional dihitung dengan menjumlahkan setiap nilai tambah (value added) proses produksi di dalam masyarakat suatu negara (termasuk warga negara asing) dari berbagai lapangan usaha suatu negara dalam kurun waktu satu periode (biasanya satu tahun).

Product Domestik Bruto (PDB) atau Gross Domestic Product GDP adalah jumlah dari seluruh produksi barang dan jasa yang dihasilkan oleh suatu Negara selama satu tahun termasuk di dalamnya barang dan jasa yang dihasilkan oleh orang asing dan perusahaan asing yang beroperasi di dalam negeri.

Contoh Perusahaan Asing Yang Dihitung Dalam GDP.

Contoh perusahaan asing yang masuk perhitungan PDB atau GDP Indonesia adalah Perusahaan Mac Donald, PT Freeport, PT Caltex, Carrefour, PT Nutrisia. Pendapatan perusahaan asing ini dihitung dalam GDP

Contoh Perusahaan Indonesia Yang Tidak Dihitung GDP

Sedangkan produk barang dan jasa yang dihasilkan oleh perusahaan atau warga masyarakat Indonesia yang bekerja di luar negeri tidak diperhitungkan.  Misal perusahaan milik warga Indonesia tapi beroperasi diluar negeri atau TKI atau TKW yang bekerja di Luar negeri tidak dihitung dalam PDB atau GDP.

Beberapa Bank BUMN seperti Mandiri, BNI, dan BRI beroperasi di luar negeri. Pendapatan Beberapa Bank Indonesia yang beroperasi di luar negeri ini tidak dihitung dalam GDP.

Produk Domestik Regional Bruto (PDRB)

Dengan demikian PDRB dapat diartikan sebagai jumlah produk berupa barang dan jasa yang dihasilkan oleh unit-unit produksi yang ada di daerah selama 1 (satu) tahun. Dalam perhitungan PDRB ini juga termasuk produk yang dihasilkan oleh perusahaan asing yang beroperasi di daerah tersebut

Jenis lapangan usaha yang masuk dalam perhitungan Product Domestic Bruto (PDB), antara lain: pertanian, pertambangan dan penggalian, industry, listrik, gas dan air bersih, bangunan atau konstruksi, perdagangan, hotel dan restoran, pengangkutan dan komunikasi, keuangan, persewaan dan jasa perusahaan, jasa- jasa lainnya seperti jasa konsultan, pengacara dll.

PDB dapat dihitung dengan tiga metoda berikut ini.

1) PDB dihitung berdasarkan unit- unit produksi yang terdiri atas sector sektor ekonomi.

2) PDB dihitung berdasarkan jumlah balas jasa yang diterima oleh factor faktor produksi yang turut serta dalam proses produksi.

3) PDB dihitung berdasarkan jumlah seluruh komponen permintaan akhir, yang terdiri atas pengeluaran konsumsi RT, pembentukan modal tetap domestik bruto dan perubahan stok, pengeluaran konsumsi pemerintah dan ekspor bersih.

Gross National Product (GNP) atau Produk Nasional Bruto (PNB)

Produksi Nasional Kotor (GNP) adalah jumlah seluruh barang dan jasa yang dihasilkan masyarakat suatu negara selama satu tahun termasuk di dalamnya jumlah barang dan jasa yang dihasilkan masyarakat Negara tersebut yang bekerja di luar negeri tetapi tidak diperhitungkan barang dan jasa yang dihasilkan masyarakat asing yang bekerja di dalam negeri.

Produksi Nasional Kotor (GNP) dapat dijabarkan dalam persamaan berikut

GNP = GDP – PNLN

PNLN = Pendapatan Neto terhadap luar negeri

Ada tingkat perbandingan yang bisa dilakukan pada GDP dan GNP untuk mengetahui kondisi perekonomian suatu negara yang diantaranya adalah:

1) GDP lebih besar dari GNP, artinya perekonomian Negara tersebut belum dapat dikatakan maju. Di Negara tersebut akan terjadinya Net Factor Income to Abroud (atau Pendapatan Neto ke luar negeri). Artinya, Investasi Negara tersebut di luar negeri lebih kecil dari pada investasi asing di dalam negeri.

2) GDP lebih kecil dari pada GNP, artinya perekonomian Negara tersebut dapat dikatakan sudah maju. Negara tersebut mampu menanamkan investasinya di luar negeri lebih besar dibandingkan investasi asing di dalam negeri.

Net National Product (NNP) atau Produk Nasional Netto

Produksi nasional neto (NNP) adalah produksi nasional kotor (GNP) dikurangi penyusutan barang-barang modal. NNP ini sama dengan Pendapatan Nasional (PN) atau National Income (NI).

NNP dan NI ini dihitung berdasarkan harga pasar dan dijabarkan dengan menggunakan persamaan berikut

NNP = GNP – D

D = Depresiasai = Penyusutan Barang – barang Modal

Net National Income (NNI) atau Pendapatan Nasional Netto

Pendapatan nasional Bersih (NNI) adalah produksi nasional neto dikurangi dengan pajak tidak langsung. Pajak tidak langsung merupakan unsur pembentuk harga pasar, tetapi tidak termasuk dalam biaya faktor produksi.

Pajak ini dapat dialihkan kepada pihak lain, yang termasuk dalam kategori pajak tidak langsung adalah pajak penjualan , PPN, Bea Masuk dan cukai.

Pendapatan nasional bersih atau net national income (NNI) dapat dilihat dari dua sisi.

1) Dari sisi pendapatan, yaitu pendapatan yang dihitung menurut jumlah balas jasa yang diterima oleh masyarakat sebagai pemilik faktor produksi.

2) Dari sisi produksi, yaitu sejumlah nilai bersih barang dan jasa yang dihasilkan oleh suatu negara.

Net National Income (NNI) dapat dijabarkan dengan menggunakan persamaan berikut

NNI = NNP – PTL

PTL = Pajak Tidak Langsung

Pajak Tidak Langsung adalah pajak yang pembebanannya dapat dilimpahkan kepada pihak lain, misalnya Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM).

Personal Income (PI)

Pendapatan perseorangan (PI) adalah Pendapatan yang berhak diterima oleh seseorang sebagai bentuk balas jasa atas keikutsertaannya dalam proses produksi.

Tidak semua pendapatan ini sampai ke tangan pemilik faktor produksi (perseorangan) , karena masih dikurangi laba yang tidak dibagikan, pajak perseorangan, asuransi, jaminan sosial dan ditambah dengan pindahan atau transfer (transfer payment) seperti dana pensiun, iuran sosial, tunjangan bekas pejuang, bantuan korban bencana, bea siswa, subsidi pemerintah atau bantuan pada panti asuhan dan sebagainya.

Besarnya Personal Income (PI) dapat dijabarkan dengan menggunakan persamaan berikut

PI = NNI + TP – (LT+ PP + A+ JS)

TP = Transfer Payment

LT = Laba yang tidak dibagikan

PP = Pajak Perseroan

A = Asuransi

JS = Jaminan Sosial 

Keterangan:

Laba Ditahan adalah keuntungan yang tidak dibagikan atau keuntungan yang ditujukan untuk:

1) cadangan perluasan perusahaan,

2) menjaga agar modal pokok besarnya tetap, dan

3) cadangan untuk membayar utang-utang.

Iuran Jaminan Sosial atau social security dari perusahaan. Misalnya tunjangan pendidikan, tunjangan kesehatan, dan lain-lain.

Transfer Payment adalah pembayaran-pembayaran dari negara yang dibayarkan kepada orang-orang tertentu, dan pembayaran tersebut bukan merupakan balas jasa atas keikutsertaannya dalam proses produksi tahun sekarang, melainkan sebagai balas jasa untuk tahun- tahunsebelumnya atau pembayaran pada seseorang yang sebenarnya berasaldari pendapatan orang lain.

Contoh Transfer Payment adalah: pembayaran kepada orang yang sudah pensiun, tunjangan para veteran, dan dana- dana sosial (pembayaran untuk para penganggur).

Disposable Income (DI)

Pendapatan Bebas (DI) adalah pendapatan dari seseorang yang siap digunakan baik untuk keperluan konsumsi maupun untuk ditabung Pendapatan bebas (DI) secara langsung akan mempengaruhi permintaan karena sebagian digunakan untuk konsumsi dan sebagian lagi digunakan untuk tabungan sebagai unsur pembentuk modal. Besarnya pendapatan bebas ini adalah pendapatan perseorangan dikurangi dengan pajak langsung.

Besarnya Pendapatan Bebas atau Disposable Income (DI) dapat dihitung dengan menggunakan persamaan berikut

DI = PI – PL

PL = Pajak Langsung

Pajak Langsung adalah pajak yang pembebanannya tidak dapat dilimpahkan kepada orang lain, misalnya pajak penghasilan (PPh)

Pendapatan Dibawa Pulang

Pendapatan dibawa pulang (Take Home Pay/ THP) adalah pendapatan yang dibawa pulang untuk membayar bermacam-macam kebutuhan.

Pendapatan ini memengaruhi permintaan efektif sebab menggambarkan daya beli masyarakat. THP diperoleh dari pendapatan bebas (Disposable Income) dikurangi kewajiban kepada pihak lain, seperti untuk membayar utang.

1). Contoh Soal Ujian Pendapatan Nasional

Diketahui data perekonomian suatu negara seperti ditunjukkan dalam tabel terlampir. Satuan uang miliar rupiah

Konsep Pendapatan Nasional Contoh Perhitungan
Konsep Pendapatan Nasional Contoh Perhitungan

Hitunglah:

  1. Personal Income
  2. Disposable Income
Konsep Pendapatan Nasional Contoh Soal Perhitungan
Konsep Pendapatan Nasional Contoh Soal Perhitungan

Jadi personal income PI dari negara tersebut adalah 1743 miliar rupiah, sedangan pendapatan disposabel DI adalah 1728 miliar rupiah.

2). Contoh Soal Ujian Nasional UN Perhitungan Personal Income

Perhatikan data data perekonomian suatu negara pada table terlampir. Hitunglah nilai personal income dari negara tersebut. Satuan uang triliun rupiah.

Contoh Tabel Perihtungan Personal Income
Contoh Tabel Perhitungan Personal Income

Menghitung Personal Income

Berdasarkan data perekonomian pada table tersebut, besarnya personal income PI dapat dinyatakan dengan menggunakan persamaan rumus berikut

PI = GNP – P – PTL – LT – IS – JS + TP

PI = Personal income

GNP = gross national product

P = D = penyusutan

PTL = pajak tidak langsung

LT = laba ditahan

IS = iuran sosial

JS = Jaminan sosial

TP =transfer payment

Dengan demikian besarnya personal income adalah

PI = 7500 – 500 – 1000 – 200 – 0 – 0 + 500

PI = 6300

Jadi personal income pada perekonomian nergara tersebut adalah 6300 triliun rupiah.

3). Contoh Soal Ujian Perhitungan Transfer Payment

Diketahui data data perekonomian suatu negara seperti ditunjukkan dalam table. Satuan uang dalam triliun. Hitunglah besar transfer payment pada perekonomian negara tersebut.

Contoh Tabel Perihtungan Transfer Payment
Contoh Tabel Perhitungan Transfer Payment

Menghitung Transfer Payment Negara

Berdasarkan data tersebut, besar transfer payment  dapat dinyatakan dengan menggunakan rumus seperti berikut

PI = PNB – P – PTL – PP – LT – IS + TP

PI = personal income

PNB = produk nasional bruto

P = D = Penyusutan

PTL = Pajak tidak langsung

PP = Pajak perseorangan

LT = laba ditahan

IS = Iuran sosial

TP = transfer payment

Dengan demikian nilai transfer payment nya adalah

TP = PI – PNB + P + PTL + PP + LT + IS

TP = 1700 – 2900 + 700 + 300 + 100 + 125 + 175

TP = 200

Jadi besar transfer payment TP adalah 200 triliun rupiah.

Transfer Payment adalah penerimaan penerimaan yang bukan merupakan balas jasa produksi tahun bersangkutan. Melainkan diambil dari sebagian pendapatan nasional satu tahun sebelumnya.

Pada table di atas, yang termasuk dalam kelompok transfer payment adalah: Pajak Perseorangan, laba ditahan dan iuran sosial.

4). Contoh Soal Ujian Pendapatan Nasional

Pendapatan perseorangan (Personal income) adalah ….

1) pendapatan nasional dikurangi pajak tidak langsung

2) sama dengan pendapatan sektor nasional

3) jumlah pendapatan sektor rumah tangga yang dibelanjakan dalam satu tahun

4) jumlah upah yang ditambah bunga yang diterima sektor rumah tangga dalam satu tahun

5) jumlah pendapatan yang diterima sektor rumah tangga dalam satu tahun

Seandainya materi ini memberikan manfaat, dan anda ingin memberi dukungan motivasi pada ardra.biz, silakan kunjungi SociaBuzz Tribe milik ardra.biz di tautan berikut https://sociabuzz.com/ardra.biz/tribe

Daftar Pustaka:

  1. Mankiw, N., Gregory, 2003, “Teori Makroekonomi”, Edisi Kelima, Penerbit Erlangga, Jakarta.
  2. Jhingan, M.L., 2008, “Ekonomi Pembangunan Perencanaan”, Edisi Pertama, PT RajaGrafindo Persada, Jakarta.
  3. Samuelson, A., Paul. Nordhaus, D., William, 2004, “Ilmu Makro Ekonomi”, Edisi 17, PT Media Global Edukasi, Jakarta.
  4. Sukirno, Sadono, 2008, “Makroekonomi Teori Pengantar”, Edisi Ketiga, PT RajaGrafindo Persada, Jakarta.
  5. Prasetyo, P., Eko, 2011, “Fundamental Makro Ekonomi”, Edisi 1, Cetakan Kedua, Beta Offset, Yogyakarta.
  6. Putong, Iskandar. Andjaswati, N.D., 2008, “Pengantar Ekonomi Makro”, Edisi Pertama, Penerbit Mitra Wacana Media, Jakarta.
  7. Firdaus, R., Ariyanti, M., 2011, ”Pengantar Teori Moneter serta Aplikasinya pada Sistem Ekonomi Konvensional dan Syariah”, Cetakan Kesatu, AlfaBeta, cv, Bandung.
  8. Ardra.Biz, 2019, “Konsep Pendapatan Nasional, Pengertian Jenis Pendapatan Nasional, Pengertian Pendapatan Nasional, produk nasional, Faktor yang mempengaruhi pendapatan nasional, Jenis Pendapatan Nasional, Pengertian Konsep Pendapatan Nasional, Rumus Pendapatan Nasional,
  9. Ardra.Biz, 2019, “Rumus menghitung PDB, Rumus GNP, Rumus NNI, Gross Domestic Product (GDP) atau Product Domestik Bruto (PDB), Cara Hitung Gross Domestic Product (GDP), Pengertian nilai tambah (value added), Contoh Hitung nilai tambah,
  10. Ardra.Biz, 2019, “Contoh Perusahaan Asing Yang Dihitung Dalam GDP, Contoh Perusahaan Indonesia Yang Tidak Dihitung GDP, Pengertian Produk Domestik Regional Bruto (PDRB), Cara Hitung Produk Domestik Broto, Rumus Produk Domestik Broto, Gross National Product (GNP),
  11. Ardra.Biz, 2019, “Produk Nasional Bruto (PNB), Produksi Nasional Kotor (GNP), Rumua menghitung Produksi Nasional Kotor (GNP), Net Factor Income to Abroud, Pendapatan Neto ke luar negeri, Net National Product (NNP) atau Produk Nasional Netto,
  12. Ardra.Biz, 2019, “Rumus menghitung Net National Product (NNP), Pengertian Produk Nasional Netto, Rumus hitung Net National Income (NNI), Pengertian Pendapatan Nasional Netto, Rumus Hitung Pendapatan nasional Bersih (NNI), Pengertian Pajak Tidak Langsung,  Contoh barang kena pajak tidak langsug, Personal Income (PI),
  13. Ardra.Biz, 2019, “Rumus Hitung Pendapatan perseorangan (PI), Pengertian transfer payment, Contoh transfer payment, Pengertian Laba Ditahan, Contoh Laba Ditahan,  Iuran Jaminan Sosial atau social security, Contoh Iuran Jaminan Sosial atau social security, Disposible Income (DI),
  14. Ardra.Biz, 2019, “Rumus Hitung Pendapatan Bebas (DI, Pengertian Pajak Langsung, Contoh Pajak Langsung, Pendapatan Dibawa Pulang, Take Home Pay /THP, Contoh Tabel Perhitungan Pendapatan Nasional, Contoh Soal Ujian Pendapatan Nasional,

Indifference Curve Budget Line Teori Perilaku Konsumen Pendekatan Ordinal, Contoh Perhitungan

Pengertian Indifference Curve dan Budget Line Teori Perilaku Konsumen Pendekatan Ordinal. Konsumen adalah masyarakat yang menerima pendapatan dalam bentuk uang dan kemudian mentransaksikannya dengan membeli barang dan jasa untuk memenuhi kebutuhan hidupya.

Selain itu, yang termasuk sebagai konsumen adalah anggota masyarkat yang dependen terhadap penerima penghasilan seperti anak yang masih sekolah namun ikut menentukan anggaran rumah tangga. Setiap konsumen menetapkan permintannya untuk setiap barang dan jasa yang tersedia di pasar. Jumlah seluruh permintaan masyarakat terhadap barang dan jasa dinyatakan sebagai permintaan pasar.

Konsumen berusaha mengalokasikan pendapatannya untuk membeli barang dan jasa yang tersedia di pasar dengan mengoptimalkan semua alternatifnya sehingga tingkat kepuasan yang diperolehnya menjadi maksimum.

Sedangkan Perusahaan sebagai produsen yang penawarkan barang dan jasa akan mengoptimalkan proses produksinya agar menghasilkan barang dan jasa yang dapat memberikan kepuasan terhadap pelanggannya. Produsen yang dapat mengorganisir produksi secara efisien akan memperoleh keuntungan.

Tujuan utama dari konsumen dalam mengonsumsi suatu produk atau barang dan jasa adalah untuk memaksimalkan kepuasan total (total utility). Kepuasan total dapat didefinisikan sebagai suatu keadaan yang mencerminkan kebutuhan, keinginan, dan harapan konsumen dapat terpenuhi melalui produk, barang dan jasa yang dikonsumsinya.

Kepuasan total konsumen dapat dioptimalkan jika barang tersebut memiliki nilai tukar dan nilai pakai yang tinggi. Ini artinya, jika suatu produk, barang dan jasa dapat memenuhi kebutuhan, keinginan, dan harapan mayarakat konsumen, maka konsumen akan bersedia membayar dengan harga yang lebih tinggi.

Untuk menjelaskan perilaku konsumen dalam memperoleh kepuasan terhadap barang dan jasa yang dikonsumsinya dapat dilakukan dengan dua pendekatan, yaitu pendekatan kardinal dan pendekatan ordinal. Berikut ini penjelasan tentang kedua pendekatan tersebut:

Perilaku Konsumen Pendekatan Ordinal, Pendekatan Indiferens.

Pendekatan ordinal menggunakan pengukuran ordinal (atau bertingkat atau skala) dalam menganalisis kepuasan konsumen. Ini artinya kepuasan konsumen tidak dapat diukur secara kuantitatif dengan angka tetapi hanya dapat diukur dengan peringkat yang sifatnya kualitatif, misalnya tidak puas, puas, lebih puas, sangat puas dan seterusnya.

Pendekatan ini juga sering disebut dengan pendekatan indiferens. Pendekatan ordinal berasumsi bahwa tingkat utilitas total yang dapat dicapai oleh konsumen merupakan fungsi dari kuantitas barang. Asumsi ini sama dengan pendekatan cardinal. Selain itu asumsi lain yang juga sama adalah konsumen akan berusaha untuk memaksimalkan kepuasannya sesuai dengan anggaran yang dimiliki atau dikeluarkannya.

Namun demikian pendekatan ini memiliki asumsi yang berbeda dengan pendekatan kardinal. Pendekatan ordinal tidak menganggap bahwa tingkat utilitas dapat diukur secara kuantitatif dengan angka tetapi konsumen hanya memiliki skala preferensi.

Skala preferensi adalah suatu kaidah dalam menentukan pilihan terhadap barang yang akan dikonsumsi. Skala preferensi tersebut memiliki ciri sebagai berikut:

  1. Konsumen mampu membuat peringkat kepuasan terhadap barang. Ini artinya konsumen mampu membedakan tingkat kepuasan dalam pemenuhan barang, misalnya minum kopi hangat lebih puas dibandingkan minum susu hangat.
  2. Peringkat kepuasan tersebut bersifat transitif artinya jika kopi hangat lebih disukai daripada susu hangat, sedangkan susu hangat lebih disukai daripada the hangat, maka kopi hangat lebih disukai daripada the hangat, bukan sebaliknya.
  3. Konsumen selalu ingin mengkonsumsi jumlah barang yang lebih banyak karena konsumen tidak pernah terpuaskan.

Indifference Curve Budget Line Teori Perilaku Konsumen Pendekatan Ordinal

Ada dua konsep yang digunakan untuk menganalisis perilaku konsumen melalui pendekatan ordinal yaitu kurva kepuasan sama atau indifference curve dan garis anggaran atau budget line.

Pendekatan indifference curva atau kepuasan sama merupakan pendekatan yang tidak dapat diukur atau dikuantifikasikan. Namun nilai guna dapat dibandingkan satu dengan lainnya. Yaitu Tinggi atau lebih tinggi, atau sebaliknya rendah atau lebih rendah tanpa menyatakan berapa lebih tinggi atau rendah kepuasannya, sehingga utility bersifat ordinal.

Asumsi Indifference Curve Pendekatan Ordinal

Adapun beberapa asumsi yang digunakan dalam indifference curve diantaranya adalah

a). Konsumen mempunyai pola preferensi terhadap barang konsumsi dalam bentuk indifference map atau kumpulan indiferen.

b). Konsumen memiliki sejumlah uang atau dana tertentu untuk memenuhi konsumsinya

c). Konsumen selalu berupaya untuk mendapatkan kepuasan yang maksimum.

d). Kurva indiferen diasumsikana hanya ada dua jenis barang yang dapat memberikan kepuasan kepada konsumen.

Ciri Ciri Indefference Curve Pendekatan Ordinal,

a). Kurva indifference bergerak turun dari kiri atas ke kanan bawah, atau memiliki kemiringan Slop negative.

b). Kurva berbentuk cembung ke arah titik nol origin

c). Jika lebih dari saru kurva, maka tidak ada kurva yang saling berpotongan

d). Jika lebih dari saru kurva, maka Kurva yang terletak paling kanan menunjukkan kepuasan yang paling tinggi

Kurva Indiferen, Indifference Curve Pendekatan Ordinal,

Indifference curve adalah suatu garis yang menggambarkan hubungan atau kombinasi dari dua jenis barang konsumsi yang memberikan kepuasan yang sama.

Tabel di bawah menunujukkan contoh kombinasi dua barang konsumsi yaitu barang konsumsi M dan barang konsumsi P yang memberikan kepuasan yang sama.

Tabel Kombinasi Barang Konsumis Pada Indifference Curve Pendekatan Ordinal,
Tabel Kombinasi Barang Konsumis Pada Indifference Curve Pendekatan Ordinal,

Seluruh Kombinasi yaitu A sampai kombinasi E akan memberikan nilai kepuasan yang sama. Mengkonsumsi barang dengan kombinasi A sama puasnya dengan mengkonsumsi barang kombinasi B , C, D, atau E.

Misalkan mengkonsumsi 24 barang M dan 4 barang P akan sama puasnya dengan mengkonsumsi 16 barang M dan 6 barang P. Dan seterusnya sampai kombinasi E.

Membuat Kurva Indifference Pada Perilaku Konsumen Pendekatan Ordinal

Kurva indifference dibangun oleh sumbu horisontal yang menunjukkan jumlah barang konsumsi P dan sumbu vertikal yang menunjukkan jumlah barang konsumsi M.

Jika data pada table di atas diplot pada grafik akan diperoleh suatu garis yang disebut indifference curve seperti ditunjukkan pada gambar berikut.

Membuat Kurva Indifference Pada Perilaku Konsumen Pendekatan Ordinal
Membuat Kurva Indifference Pada Perilaku Konsumen Pendekatan Ordinal

Pada kombinasi A (titik A), konsumen mengkonsumsi 24 barang konsumsi M dan 4 barang P. Jika konsumen mengurangi konsumsi barang M menjadi 16, maka konsumen harus menambah konsumsi barang P sebanyak 2 unit untuk membentuk kombinasi B (titik B), sehingga mendapat kepuasan yang sama dengan kombinasi sebelumnya yaitu kombinasi A.

Marginal Rate of Substitution MRS Pada Perilaku Konsumen Pendekatan Ordinal

Marginal Rate of Substitution MRS merupakan perbandingan antara perubahan (pengurangan) suatu barang konsumsi tertentu terhadap perubahan (penambahan) barang konsumsi yang lainnya agar mendapat kepuasan yang sama.

Perhatikan kembali table dan grafik di atas. Untuk menambah jumlah konsumsi barang P, maka harus mengurangi jumlah konsumsi barang M. Ini artinya, pengurangan jumlah barang M akan diikuti dengan penambahan barang P. Artinya juga, barang P merupakan substitusi atau pengganti dari barang M yang berkurang. Sehingga kepuasan konsumen tetap sama.

Nilai Marginal rate of substitution dapat dinyatakan dengan menggunakan persamaan rumus berikut

MRSMP = – ΔM/ΔP

MRSMP = – (Mn – Mn-1)/(Pn – Pn-1)

MRSMP = Marginal rate of substitution

ΔM= perubahan (pengurangan)  konsumsi barang M

ΔP = perubahan (penambahan) konsumsi barang P

Contoh Perhitungan Marginal Rate of Substitution Pada Perilaku Konsumen Pendekatan Ordinal

Nilai Marginal rate of substitution ketika konsumen merubah kombinasi konsumsi dari kombinasi A menjadi kombinasi B dapat dihitung seperti berikut

MRSMP = – ΔM/ΔP

MRSMP = – (MB – MA)/(PB – PA)

MRSMP = – (16 – 24)/(6 – 4)

MRSMP = – (- 8/2)

MRSMP = 4

Dan ketika konsumen merubah kombinasi dari B ke kombinasi C, maka Nilai Marginal rate of substitution adalah

MRSMP = – (MC – MB)/(PC – PB)

MRSMP = – (10 – 16)/(10 – 6)

MRSMP = – (- 6/4)

MRSMP = 1,5 dan seterusnya sampai kombinasi E

Tabel Contoh Hasil Perhitungan Nilai Marginal Rate of Substitution Pada Perilaku Konsumen Pendekatan Ordinal,

Hasil perhitungan secara keseluruhan Nilai Marginal rate of substitution dapat dilihat pada table berikut

Tabel Contoh Hasil Perhitungan Nilai Marginal Rate of Substitution Pada Perilaku Konsumen Pendekatan Ordinal,
Tabel Contoh Hasil Perhitungan Nilai Marginal Rate of Substitution Pada Perilaku Konsumen Pendekatan Ordinal,

Perubahan kombinasi barang konsumsi dari B ke kombinasi C diikuti dengan perubahan nilai MRS nya dari 4 menjadi 1,5. Hal ini menjelaskan bahwa kemampuan barang konsumsi P dalam mensubstitusi barang M juga turun.

Pada kombinasi B, satu barang P mampu mensubstitusi atau menggantikan 4 barang konsumsi M. Ketika kombinasi berubah menjadi C, maka kemampuan barang P mensubstitusi turun dari 4 menjadi 1,5. Artinya, pada kombinasi C, satu barang P hanya mampu mensubstitusi atau menggantikan 1,5 barang M.

Pergeseran Kurva Indiferen Perilaku Konsumen Pendekatan Ordinal

Kurva indiferen dapat bergeser ke kiri atau ke kanan. Pergeseran kurva indiferen ke kiri, misal dari kurva AA ke kurva CC, menunjukkan kepuasan yang diperoleh dalam mengkonsumsi kedua barang berkurang. Sebaliknya, pergeseran kurva indiferen ke kanan, misal kurva AA ke kurva BB,  meunjukkan kepuasan dalam mengkonsumsi kedua barang bertambah.

Gambar Pergeseran Kurva Indiferen Perilaku Konsumen Pendekatan Ordinal
Gambar Pergeseran Kurva Indiferen Perilaku Konsumen Pendekatan Ordinal

Semua kombinasi barang sepanjang titik titik Kurva indiferen BB memiliki kepuasan yang paling tinggi dibanding dengan kepuasan pada kombinasi sepanjang kurva AA atau kurva CC.

Jadi dapat dikatakan jika konsumen mengharapkan kepuasan yang setinggi tingginya dari dua barang konsumsi, maka konsumen harus menggeser kurva indiferen ke arah kanan.

Budget Line Garis Anggaran Perilaku Konsumen Pendekatan Ordinal

Budget line adalah suatu garis yang menunjukkan hubungan antara dua barang yang dapat dikonsumsi dengan dana atau anggaran yang tersedia.

Fungsi Budget Line Perilaku Konsumen Pendekatan Ordinal

Fungsi garis anggaran dapat dinyatakan dengan menggunakan persamaan rumus berikut:

I = X. PX + Y PY

Y PY = I – X PX

jika dinyatakan dalam besaran Y maka fungsi garis anggaran menjadi seperti berikut

Y = I/PY – (PX/PY) X

Dengan keterangan

I = besar dana, pendapatan yang tersedia

Y = jumlah barang Y

PY = harga satu unit barang Y

X = jumlah barang X

PX = harga satu unit barang X

Contoh Soal Perhitungan Fungsi Garis Anggaran Budget Line Perilaku Konsumen Pendekatan Ordinal

Jika dana yang dimiliki konsumen untuk konsumsi dua barang adalah 200.000 rupiah, sedangkan harga barang X adalah 20.000 rupiah dan harga barang Y adalah 8.000 rupiah, maka fungsi anggarannya adalah:

Perhitungan Fungsi Garis Anggaran Perilaku Konsumen Pendekatan Ordinal

Fungsi garis anggaran dapat dinyatakan dengan rumus berikut

Y = I/PY– (PX/PY) X

diketahui dari soal

I = 200 rb

PX = 20 rb

PY = 8 rb

sehingga fungsi garis anggarannya adalah

Y = 200/8 – (20/8) X

Y = 25 – 2,5 X

Perhitungan Kombinasi Komsumsi Budget Line Perilaku Konsumen Pendekatan Ordinal

Kombinasi barang X dan Y dapat dibuat dengan menggunakan fungsi budget line. Kombinasi dapat dimulai dengan menentukan nilai X terlebih dahulu. Misal X adalah 0, 2, 4, 6, 8, dan 10.

Maka nilai Y dapat ditentukan dengan mensubstitusikan nilai X ke fungsi budget line berikut

Y = 25 – 2,5 X

untuk X = 0 maka Y adalah

Y = 25 – 2,5 (0)

Y = 25

untuk X = 2 maka Y adalah

Y = 25 – 2,5 (2)

Y = 20 dan seterusnya

Tabel Hasil Perhitungan Kombinasi Barang Konsumsi Fungsi Garis Anggaran Perilaku Konsumen Pendekatan Ordinal

Hasil perhitung kombinasi barang konsumsi X dan barang Y dengan fungsi budget line dapat dilihat pada table berikut

Tabel Hasil Perhitungan Kombinasi Barang Konsumsi Fungsi Garis Anggaran Perilaku Konsumen Pendekatan Ordinal
Tabel Hasil Perhitungan Kombinasi Barang Konsumsi Fungsi Garis Anggaran Perilaku Konsumen Pendekatan Ordinal

Kombinasi A memperlihatkan bahwa seluruh anggaran konsumen digunakan untuk membeli barang Y. Sedangkan kombinasi F menunjukkan seluruh anggaran dihabiskan  untuk barang X. Kombinasi A sampai F merupakan alternative atau pilihan yang dapat diambil oleh konsumen dengan anggaran yang sama.

Membuat Kurva Budget Line Perilaku Konsumen Pendekatan Ordinal

Fungsi garis anggaran berbentuk linear sehingga untuk membuat Kurvanya cukup dengan menghubungkan dua titik akhir kurvanya (curve end point).

Untuk titik akhir 1 pada X = 0 dan titik akhir 2 pada Y = 0

Membuat titik akhir 1 dengan mensubstitusi X = 0 ke fungsi budget line berikut

Y = 25 – 2,5 X

Y = 25 – 2,5 (0)

Y = 25

Jadi Titik akhir 1 adalah (25, 0)

Membuat titik 2 dengan  mensubstitusikan Y = 0 ke fungsi budget line

Y = 25 – 2,5 X

0 = 25 – 2,5 X

X = 25/2,5

X = 10

Jadi titik akhir 2 adalah (0, 10)

Buat kurva garis dengan menghubungkan titik 1 (25, 0) dan titik 2 (0,10)

Kurva budget line dari fungsi Y = 25 – 2,5 X dapat dilihat pada gambar berikut

Gambar Membuat Kurva Budget Line Perilaku Konsumen Pendekatan Ordinal
Gambar Membuat Kurva Budget Line Perilaku Konsumen Pendekatan Ordinal

Titik A memperlihatkan bahwa konsumen menghabiskan anggarannya hanya untuk barang X sebanyak 25 unit. Sedangkan titik F menunjukkan anggaran yang tersedia hanya dibelanjakan untuk barang X.

Titik titik sepanjang kurva budget line mulai dari titik A sampai ke titik F merupakan kombinasi barang konsumsi yang diperoleh konsumen dengan anggaran yang sama yaitu 200 ribu rupiah.

Pergeseran Kurva Fungsi Garis Anggaran Perilaku Konsumen Pendekatan Ordinal

Kurva budget line dapat berubah apabila ada perubahan pada harga P dan pendapatan atau dana yang tersedia I.

Pengaruh Harga Barang Pada Fungsi Garis Anggaran Perilaku Konsumen Pendekatan Ordinal

Jika harga barang P turun, maka budget line bergeser ke kanan menjauh dari titik nol (origin).

Jika harga barang P naik, maka budget line bergeser ke kiri mendekati titik nol (origin)

Misalkan Harga barang P naik menjadi dua kalinya, maka

PX = 2 x 20 rb = 40 rb

PY = 2 x 8 rb = 16 rb

I = 200 rb

sehingga fungsi garis anggarannya setelah harga barang naik dua kali  adalah

Y = I/PY– (PX/PY) X

Y = 200/16 – (40/16) X

Y = 12,5 – 2,5 X

Pengaruh Pendapatan Pada Garis Anggaran Perilaku Konsumen Pendekatan Ordinal

Jika dana tersedia I turun, maka budget line bergeser sejajar ke kiri mendekati titik nol (origin).

Jika dana tersedia I naik, maka budget line bergeser sejajar ke kanan menjauhi titik nol (origin)

Misalkan anggaran naik menjadi dua kali, maka

I = 2 x 200 rb = 400 rb

PX = 20 rb

PY = 8 rb

sehingga fungsi budget line setelah anggaran naik dua kali adalah

Y = I/PY– (PX/PY) X

Y = (400/8)– (20/8) X

Y = 50 – 2,5 X

Pergeseran Kurva Budget line akibat perubahan harga barang dan pendapatan anggaran dapat dilihat pada gambar berikut

Gambar Pergeseran Kurva Fungsi Garis Anggaran Perilaku Konsumen Pendekatan Ordinal
Gambar Pergeseran Kurva Fungsi Garis Anggaran Perilaku Konsumen Pendekatan Ordinal

Dari gambar diketahui bahwa kurva fungsi budget line sebelum ada perubahan ditunjukkan oleh garis biru. Sedangkan kenaikan harga dua barang konsumsi mampu menggeser kurva budget line ke arah kiri mendekat titik nol origin yang ditunjukkan oleh garis merah. Konsekuensi bergeser ke kiri ini adalah jumlah barang yang dapat dikonsumsi menjadi berkurang.

Namun jika anggaran yang disediakan dinaikkan, maka kurva budget line bergerak ke arah kanan menjauh dari titik nol origin yang ditunjukkan oleh garis hijau. Akibat bergeser ke kanan ini, maka jumlah barang yang dapat dikonsumsi menjadi lebih banyak.

Keseimbangan Fungsi Indifference Curve dan Budget Line Perilaku Konsumen Pendekatan Ordinal

Misalkan konsumen berkeinginan untuk mengkonsumsi dua jenis barang yaitu barang X dan Barang dengan kombinasi seperti pada gambar berikut

Tabel Contoh Perhitungan Keseimbangan Fungsi Indifference Curve dan Budget Line Perilaku Konsumen Pendekatan Ordinal
Tabel Contoh Perhitungan Keseimbangan Fungsi Indifference Curve dan Budget Line Perilaku Konsumen Pendekatan Ordinal

Konsumen memiliki anggaran yang siap digunakan untuk konsumsi sebesar 200 ribu rupiah. Harga barang X adalah 20 ribu rupiah dan harga barang Y adalah 8 ribu rupiah. Tentukanlah kombinasi keseimbangan yang dapat memberikan kepuasan paling tinggi dengan anggaran yang tersedia.

Perhitungan Kebutuhan Anggaran Dan Kombinasi Konsumsi

Angaran yang dibutuhkan untuk tiap kombinasi dapat dihitung dengan rumus berikut

I = X. PX + Y PY

Substitusikan harga barang untuk tiap tiap kombinasi yang ada dalam table sepeti berikut

Anggara untuk kombinasi K1 dihitung dengan rumus berikut

 I1 = X1 PX + Y1 PY

X1 = 12

Y1 = 6

PX = 20 rb

PY = 8 rb

I1 = (12 x 20) + (6 x 8)

I1 = 240 + 48

I1 = 288 rb

jadi Anggaran yang dibutuhkan untuk mendapatkan kombinasi K1 adalah 288 ribu rupiah.

Anggaran untuk kombiasi K2 dihitung dengan rumus berikut

I2 = X2 PX + Y2 PY

X2 = 7

Y2 = 10

I2= (7 x 20) + (10 x 8)

I2 = 140 + 80

I2 = 220 rb

Jadi anggaran yang harus disediakan oleh konsumen agar dapat mengkonsumsi barang sesuai kombinasi K2 adalah 220 ribu rupiah.

Untuk anggaran K3 sampai K5 dapat dihitung dengan cara yang sama.

Tabel Hasil Perhitungan Kebutuhan Anggaran Konsumsi Kombinasi Perilaku Konsumen Pendekatan Ordinal

Hasil perhitung kebutuhan dana untuk kombinasi barang konsumsi X dan barang Y dapat dilihat pada table berikut

Tabel Hasil Perhitungan Kebutuhan Anggaran Konsumsi Kombinasi Perilaku Konsumen Pendekatan Ordinal
Tabel Hasil Perhitungan Kebutuhan Anggaran Konsumsi Kombinasi Perilaku Konsumen Pendekatan Ordinal

Dari table di atas diketahui bahwa kombinasi K3 membutuhan anggaran 200 ribu rupiah. Kebutuhan anggaran ini sama dengan anggaran atau dana yang disediakan oleh konsumen. Kombinasi K3 terdiri dari 4 barang X dan 15 barang Y. Arinya. anggaran 200 ribu rupiah digunakan untuk membeli 4 barang X dan membeli 15 barang Y.

Jadi K3 merupakan kombinasi yang memberikan kepuasan paling tinggi untuk anggaran yang dimiliki oleh konsumen.

Membuat Grafik Keseimbangan Indifference Curve dan Budget Line Perilaku Konsumen Pendekatan Ordinal

Grafik keseimbangan dibuat dengan meletakkan fungsi indifference curve dan fungsi budget line dalam satu grafik yang sama seperti ditunjukkan pada gambar di bawah

Membuat Grafik Keseimbangan Indifference Curve dan Budget Line Perilaku Konsumen Pendekatan Ordinal
Grafik Keseimbangan Indifference Curve dan Budget Line Perilaku Konsumen Pendekatan Ordinal

Keseimbangan konsumen terjadi ketika indiferen curve dan budget line saling bersinggungan. Titik singgungnya merupakan titik keseimbangan. Pada titik singgung ini.  jumlah barang X dan Y merupakan kombinasi yang membutuhkan anggaran sesuai dengan dana yang tersedia.

Dalam gambar di atas diketahui bahwa pada titik C terjadi singgungan antara Indifference Curve IC dan Budget Line BL. Titik C merupakan titik keseimbangan antara Indifference Curve IC dan Budget Line BL.

Titik C Terjadi ketika jumlah barang X adalah 4 unit dan barang Y adalah 15 unit. Titik C merupakan kombinasi yang memberikan kepuasan paling tinggi untuk anggaran 200 ribu rupiah.

Seandainya materi ini memberikan manfaat, dan anda ingin memberi dukungan Donasi pada ardra.biz, silakan kunjungi SociaBuzz Tribe milik ardra.biz di tautan berikuthttps://sociabuzz.com/ardra.biz/tribe

Faktor Yang Mempengaruhi Nilai Guna Marginal Barang Dan Jasa Pada Perilaku Konsumen Pendekatan Kardinal

Daftar Pustaka:

  1. Sukirno, S, 2011, “Mikroekonomi Teori Pengantar”, PT Raja Grafindo Persada, Edisi Ketiga, Cetatakan Ke 26, Jakarta.
  2. Ahman H., Eeng. Rohmana, Yana, 2007, “Ilmu Ekonomi dalam PIPS”, Edisi Pertama, Penerbit Unuversitas Terbuka, Jakarta.
  3. Jhingan, M.L., 2008, “Ekonomi Pembangunan Perencanaan”, Edisi Pertama, PT RajaGrafindo Persada, Jakarta.
  4. Joesron, Suharti, Tati. Fathorrrazi, M., 2012, “Teori Ekonomi Mikro”, Edisi Pertama, Graha Ilmu, Yogyakarta.
  5. Sartono, Agus, R., “ 2001, “Manajemen Keuangan Teori dan Aplikasi”, Edisi Keempat, BPFE Yogyakarta, Yogyakarta.
  6. Ardra.Bis, 2019, “Teori Perilaku Konsumen dan Pengertian Konsumen dengan Tujuan Konsumen. Pengertian total utility dan Pengertian kepuasan total konsumen beserta Perilaku konsumen Pendekatan Kardinal.
  7. Ardra.Biz, 2019, “Pendekatan Utilitas dan Perilaku kepuasan konsumen secara kuantitatif atau Kepuasan konsumen utility approach. Tingkat kepuasan Hukum Gossen sebagai Perilaku konsumen hukum Gossen atau Perilaku konsumen Pendekatan Ordinal dan Pendekatan Indiferens.
  8. Ardra.Biz, 2019, “Kepuasan konsumen secara bertingkat dengan Kepuasan konsumen secara kualitatif. Perilaku Kepuasan konsumen skala preferensi.
  9. Ardra.Biz, 2019, “Pengertian Skala preferensi, Ciri ciri skala preferensi dan Contoh perilaku Kepuasan sacara kuantittif dengan Contoh kepuasan secara kulitatif atau Contoh skala preferensi.
  10. Indifference Curve Budget Line Teori Perilaku Konsumen Pendekatan Ordinal,  Asumsi Indifference Curve Pendekatan Ordinal,  Ciri Ciri Indefference Curve Pendekatan Ordinal, Kurva Indiferen, Indifference Curve Pendekatan Ordinal, Membuat Kurva Indifference Pada Perilaku Konsumen Pendekatan Ordinal,
  11. Marginal Rate of Substitution MRS Pada Perilaku Konsumen Pendekatan Ordinal Rumus Marginal Rate of Substitution MRS,  Contoh Soal Perhitungan Marginal Rate of Substitution Pada Perilaku Konsumen Pendekatan Ordinal,  Contoh Soal Nilai Marginal rate of substitution,  Tabel Contoh Hasil Perhitungan Nilai Marginal Rate of Substitution Pada Perilaku Konsumen Pendekatan Ordinal,
  12. Pergeseran Kurva Indiferen Perilaku Konsumen Pendekatan Ordinal, Budget Line Garis Anggaran Perilaku Konsumen Pendekatan Ordinal,  Fungsi Budget Line Perilaku Konsumen Pendekatan Ordinal, Rumus Fungsi Budget Line,  Contoh Soal Perhitungan Fungsi Garis Anggaran Budget Line Perilaku Konsumen Pendekatan Ordinal, Perhitungan Fungsi Garis Anggaran Perilaku Konsumen Pendekatan Ordinal,
  13. Perhitungan Kombinasi Komsumsi Budget Line Perilaku Konsumen Pendekatan Ordinal,  Tabel Hasil Perhitungan Kombinasi Barang Konsumsi Fungsi Garis Anggaran Perilaku Konsumen Pendekatan Ordinal,  Membuat Kurva Budget Line Perilaku Konsumen Pendekatan Ordinal,  Pergeseran Kurva Fungsi Garis Anggaran Perilaku Konsumen Pendekatan Ordinal,
  14. Pengaruh Harga Barang Pada Fungsi Garis Anggaran Perilaku Konsumen Pendekatan Ordinal,    Pengaruh Pendapatan Pada Garis Anggaran Perilaku Konsumen Pendekatan Ordinal,   Keseimbangan Fungsi Indifference Curve dan Budget Line Perilaku Konsumen Pendekatan Ordinal,
  15. Perhitungan Kebutuhan Anggaran Dan Kombinasi Konsumsi,  Tabel Hasil Perhitungan Kebutuhan Anggaran Konsumsi Kombinasi Perilaku Konsumen Pendekatan Ordinal,  Grafik Keseimbangan Indifference Curve dan Budget Line Perilaku Konsumen Pendekatan Ordinal,

Jenis Barang Pemuas Kebutuhan Manusia. Pengertian dan Contoh,

Pengertian Kebutuhan. Kebutuhan timbul akibat adanya tuntutan fisik secara biologis dan atau psikis agar dapat hidup layak sebagai manusia sehingga kebutuhan manusia sangat beragam dan sering tidak sesuai dengan kepuasan yang diharapkan, Keadaan ini menyebabkan kebutuhan menjadi tidak terbatas.

Dalam menjalani kehidupannya, manusia memiliki keinginan dan kebutuhan yang beragam. Keinginan adalah hasrat dalam diri manusia yang jika tidak terpenuhi tidak berpengaruh terhadap kelangsungan hidupnya, sedangkan kebutuhan adalah hasrat yang timbul dalam diri manusia yang jika tidak terpenuhi dapat berpengaruh terhadap  kelangsungan hidupnya.

Dalam pembahasan ini  digunakan istilah kebutuhan untuk menyatakan segala hasrat manusia terhadap sesuatu baik itu hanya berupa keinginan maupun kebutuhan itu sendiri.

Jenis Barang Produk Pemuas Kebutuhan Manusia

Alat atau Barang pemuas kebutuhan manusia lazimnya disebut produk, yang berupa barang (goods) dan jasa (service).

Jenis- jenis Barang

Beberapa jenis barang yang dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan manusia adalah.

Jenis Barang Menurut Perolehan

Pemuas kebutuhan dapat dibedakan menurut besarnya pengorbanan yang lakukan untuk memperolehnya. barag ekonomi, barang bebas dan barang illith

a). Barang Ekonomi

Barang ekonomi adalah barang yang untuk memperolehnya memerlukan sejumlah pengorbanan sumber daya ekonomi tertentu yang pada umumnya berupa uang.

Contoh Barang Ekonomi adalah untuk memperoleh makanan pakaian bahan bakar harus mengeluarkan sejumlah uang. Uang tersebut adalah sebuah pengorbanan.

b). Barang Bebas

Barang bebas adalah sarana pemuas kebutuhan yang untuk memperolehnya tidak diperlukan pengorbanan sumber daya ekonomi.

Barang bebas merupakan barang pemuas kebutuhan manusia yang tersedia di alam dan hampir tidak terbatas. Untuk memperolehnya Barang bebas tidak memerlukan  pengorbanan dan dapat mengambilnya begitu saja di alam.

Contoh Barang Bebas adalah, udara untuk bernapas, pasir di padang pasir, dan es di kutub,

c). Barang Illith

Barang illith adalah barang yang dibutuhkan tapi jika barang ini melebihi dari yang dibutuhkan justru akan merugikan dan berbahaya.

Contoh Barang Illith adalah, air dan api.

Jenis barang menurut kegunaannya

Berdasarkan kegunaannya, barang atau alat pemuas kebutuhan dapat

dikelompokan menjadi dua.

a). Barang Konsumsi

Barang konsumsi adalah barang siap pakai karena manfaatnya langsung dapat dirasakan.

Contoh Barang Konsumsi adalah, makanan, minuman, dan pakaian.

b). Barang Produksi

Barang produksi adalah barang yang berguna untuk menghasilkan barang yang lain. Barang produksi merupakan istilah lain dari barang modal.

Contoh Barang Produksi adalah, mesin jahit dan mesin pembuat gula dll.

Jenis Barang Menurut Produksinya

Menurut proses produksinya, barang dapat dibedakan sebagai berikut.

a). Barang Mentah (Bahan Baku)

Barang mentah atau bahan baku adalah bahan dasar yang digunakan untuk membuat barang lain jadi sehinggi bisa digunakan. Barang mentah belum mengalami proses pengolahan.

Contoh Bahan Baku adalah, kapas, kayu, dan hasil tambang.

b). Barang Setengah Jadi

Barang setengah jadi adalah barang yang telah melalui proses pengolahan, namun belum dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan. Barang setengah jadi belum menjadi produk akhir.

Contoh Barang Setengah Jadi adalah, kain untuk membuat pakaian, besi untuk untuk membuat pisau, dan terigu untuk membuat kue.

c). Barang Jadi

Barang jadi merupakan produk akhir yang telah melalui proses pengolahan dari bahan baku menjadi barang yang siap pakai untuk memenuhi kebutuhan manusia.

Contoh Barang Jadi adalah handphone, televisi, baju, kue dll

Jenis Barang Menurut Hubungannya Dengan Barang Lain

Beberapa hubungan barang dengan barang lainnya sesuai dengan fungsi dan peranannya, yaitu sebagai berikut.

a). Barang Substitusi

Barang substitusi adalah barang yang fungsinya dapat menggantikan barang lain atau dapat saling menggantikan.

Contoh Barang Substitusi adalah, gas dapat menggantikan minyak tanah sebagai bahan bakar. sepeda dengan sepeda motor. Bus dengan kereta api.

b). Barang Komplementer

Barang komplementer adalah barang bermanfaat apabila dipakai bersama -sama dengan benda yang lain.

Contoh Barang Komplementer adalah, bensin dengan mobil, jarum dengan benang, dan kopi gula dan air.

Kebutuhan Menurut Intensitas Kegunaan

a). Kebutuhan Primer

Kebutuhan primer adalah kebutuhan yang jika tidak terpenuhi akan mempengaruhi atau mengganggu kelangsungan hidup manusia.

Jadi kebutuhan primer ini harus terpenuhi terlebih dadulu agar dapat menjalani kehidupan yang layak. Manusia harus makan dan minum agar dapat bertahan hidup. Kemudian harus memiliki tempat tinggal dan mengguanakan pakaian agar bisa hidup seperti kebanyakan orang. Keberlangsung hidupnya akan sangat layak ketika kesehatan tubuhnya sangat baik.

Contoh Kebutuhan Primer adalah makan, minum, pakaian, rumah, dan kesehatan.

Kebutuhan primer disebut juga sebagai kebutuhan pokok atau dasar, yaitu kebutuhan yang harus dipenuhi untuk keberlangsungan hidup manusia. Jika kebutuhan primer tidak terpenuhi, maka manusia sulit untuk melangsungkan dan mewujudkan kehidupannya sesuai dengan kodratnya.

b). Kebutuhan Sekunder

Kebutuhan sekunder adalah kebutuhan yang sangat penting, tetapi jika tidak terpenuhi tidak mengganggu kelangsungan hidup.

Kebutuhan sekunder muncul setelah kebutuhan primer terpenuhi secara terus menerus. Ketika kebutuhan tempat tinggal seperti rumah sudah terpenuhi, maka muncul kebutuhan untuk mengisi peralatan rumah seperti alat dapur, kursi meja dan sebagainya.

Contoh Kebutuhan Sekunder diantaranya adalah telepon dan sarana angkutan.

Setelah kebutuhan primernya terpenuhi masyarakat cenderung berusaha untuk dapat memenuhi kebutuhan sekundernya, hal ini bertujuan agar dapat hidup lebih baik dan nyaman.

c). Kebutuhan Tertier

Kebutuhan tertier adalah kebutuhan yang tidak termasuk dalam kebutuhan primer dan tertier. Kebutuhan ini lebih bersifat pada pemenuhan rasa keinginan. Terkadang Kebutuhan ini lebih cenderung ditujukan untuk menunjukkan status social atau prestise seseorang di mata masyarakat.

Contoh Kebutuhan Tertier adalah rekreasi termasuk berolah raga, memiliki barang mewah dan sebagainya.

Kebutuhan tertier muncul setelah terpenuhinya kebutuhan primer dan sekunder. Sebagian masyarakat menganggap kebutuhan tertier sebagai kebutuhan untuk kemewahan.

Tafsir terhadap batas kebutuhan menurut intensitas ini dapat saja berbeda untuk tiap orang. Bagi yang berpenghasilan tinggi, kendaraan seperti mobil pribadi adalah kebutuhan sekunder, namun bagi yang berpenghasilan rendah mobil tersebut menjadi kebutuhan tertier.

Pendidikan merupakan salah satu contoh kebutuhan primer, namun untuk sebagian masyarakat menjadi kebutuhan sekunder. Hal ini terjadi akibat tuntutan untuk pemenuhan kebutuhan lainnya sangat tergantung pada biaya.

Kebutuhan Menurut Sifatnya

a). Kebutuhan Jasmani

Kebutuhan jasmaniah adalah kebutuhan yang berhubungan dengan jasmani atau fisik.

Sesuai namanya, kebutuhan ini terkait dengan badan atau fisik manusia. Untuk menjaga kelangsungan hidup, manusia perlu memperhatikan kebutuhan badan atau fisik seperti: makanan dan minuman yang bergizi, pakaian, istirahat yang cukup.

Contoh Kebutuhan Jasmani adalah makan, olahraga, dan istirahat.

Itu semua agar kesehatan jasmani terjaga dan layak dalam menjalani kehidupan bermasyarakat. Saat ini khususnya di daerah perkotaan sudah banyak tersedia pusat- pusat kebugaran, salon perawatan tubuh, dan sebagainya. Fenomena ini menunjukkan bahwa kebutuhan jasmani bagian yang tidak terpisah dari kehidupan.

b). Kebutuhan Rohani.

Kebutuhan rohaniah merupakan kebutuhan yang bersifat rohani, berhubungan dengan jiwa manusia.

Terpenuhinya kebutuhan jasmani tidak  menjamin seseorang akan menjadi lebih nyaman atau bahagia. Sebagian masyarakat mengalami tekanan dalam kehidupannya walaupun secara jasmani sudah terpenuhi.

Contoh Kebutuhan Rohani adalah beribadah, bersosialisasi, rekreasi, dan hiburan.

Hal ini menunjukan bahwa pemenuhan kebutuhan jasmani saja tidak menjamin seseorang akan memperoleh kenyamanan atau kebahagiaan, namun kebutuhan lain yaitu kebutuhan rohani juga sangat penting untuk dipenuhi.

Kebutuhan Menurut Subjek

a). Kebutuhan Individual

Kebutuhan individual adalah kebutuhan perseorangan atau individu. Kebutuhan ini merupakan kebutuhan yang diperuntukkan bagi individu yang sifatnya menjadi pribadi, sehingga orang yang satu dengan yang lain akan berbeda. Contoh ekstrimnya adalah Kebutuhan seorang petani dengan seorang dokter.

Contoh Kebutuhan Individual adalah seseorang membutuhkan alat bantu dengar atau kacamata.

Dalam kehidupannya, seorang Petani membutuhkan peralatan seperti traktor, benih tanaman pupuk, cangkul, dan pestisida, sedangkan seorang dokter memerlukan perangkat seperti stetoskop, infuse, jarum suntik, dan obat-obatan.

b). Kebutuhan Kolektif

Kebutuhan kolektif adalah kebutuhan bersama dalam suatu masyarakat dan dimanfaatkan untuk kepentingan bersama.

Kebutuhan kolektif muncul karena manusia harus berinteraksi dalam rangka pemenuhan kebutuhan hidup yang lainnya. Orang yang sakit mesti pergi ke rumah sakit menggunaka jalan raya. Seseorang harus sekolah dan menyelesaikan kuliahnya sebelum mendapat izin menjadi dokter.

Contoh Kebutuhan Kolektif adalah jalan raya, rumah sakit, dan sekolah.

Kebutuhan Menurut Waktu,

a). Kebutuhan Sekarang,

Kebutuhan Sekarang adalah kebutuhan yang harus dipenuhi sekarang juga dan tidak dapat ditunda.

Contoh Kebutuhan Sekarang adalah, obat bagi orang yang sakit.

b). Kebutuhan Masa Depan,

Kebutuhan Masa Depan adalah kebutuhan yang pemenuhannya dapat dilakukan di kemudian hari dan dapat ditunda karena sifatnya tidak mendesak.

Contoh Kebutuhan Masa Depan adalah tabungan dan jas hujan pada musim panas.

Contoh Soal Ujian Jenis Barang Produk Pemuas Kebutuhan Manusia,

Soal 1. Kebutuhan menurut intensitasnya, di antaranya adalah ….

a). kebutuhan jasmani

b). kebutuhan sekarang

c). kebutuhan psikologis

d). kebutuhan primer

e). kebutuhan individual

Soal 2. Yang dimaksud dengan barang substitusi, contohnya adalah ….

a). gas dengan kompor gas

b). jarum dengan benang

c). sepatu dengan kaos kaki

d). kopi dengan teh

e). nasi dengan sayuran

Soal 3. Alat pemuas kebutuhan dapat dibedakan menurut pengorbanan untuk memperolehnya. Perbedaan ini dibuat berdasarkan ….

a). kegunaan barang

b). jumlah barang yang tersedia di alam

c). ekonomis atau tidaknya barang

d). murah mahalnya barang

e). proses pembuatan barang

Daftar Pustaka:

  1. Mankiw, N., Gregory, 2003, “Teori Makroekonomi”, Edisi Kelima, Penerbit Erlangga, Jakarta.
  2. Jhingan, M.L., 2008, “Ekonomi Pembangunan Perencanaan”, Edisi Pertama, PT RajaGrafindo Persada, Jakarta.
  3. Samuelson, A., Paul. Nordhaus, D., William, 2004, “Ilmu Makro Ekonomi”, Edisi 17, PT Media Global Edukasi, Jakarta.
  4. Sukirno, Sadono, 2008, “Makroekonomi Teori Pengantar”, Edisi Ketiga, PT RajaGrafindo Persada, Jakarta.
  5. Prasetyo, P., Eko, 2011, “Fundamental Makro Ekonomi”, Edisi 1, Cetakan Kedua, Beta Offset, Yogyakarta.
  6. Putong, Iskandar. Andjaswati, N.D., 2008, “Pengantar Ekonomi Makro”, Edisi Pertama, Penerbit Mitra Wacana Media, Jakarta.
  7. Firdaus, R., Ariyanti, M., 2011, ”Pengantar Teori Moneter serta Aplikasinya pada Sistem Ekonomi Konvensional dan Syariah”, Cetakan Kesatu, AlfaBeta, cv, Bandung.
  8. Pengertian Kebutuhan dan Penyebab timbulnya kebutuhan tidak terbatas dengan Jenis macam kebutuhan hidup. Kebutuhan Menurut Intensitas Kegunaan dengan Kebutuhan Primer dan Contoh kebutuhan primer. Kebutuhan Sekunder dan Contoh Kebutuhan Sekunder dan Kebutuhan Tertier beserta Contoh kebutuhan tertier.
  9. Kebutuhan Menurut Sifatnya adalah Kebutuhan Jasmani dan Contoh kebutuhan jasmani disertai Kebutuhan Rohani dan Contoh kebutuhan rohani. Kebutuhan Menurut Subjek dengan Kebutuhan Individual dan Contoh kebutuhan individual.  Kebutuhan Kolektif dan Contoh Kebutuhan kolektif.

Permintaan Penawaran Uang, Pengertian Faktor Yang Mempengaruhi

Pengertian Uang. Pada kenyataannya definisi uang selalu berubah sesuai dengan dinamika perkembangan masyarakat dalam perekonomian. Namun demikian, para ahli ekonomi umumnya sepakat bahwa definisi paling universal tentang uang adalah sesuatu (berbentuk benda) yang dapat diterima secara umum dalam proses transaksi ekonomi atau pertukaran barang dan jasa.

Para ahli ekonomi mendefinisikan uang secara lengkap, yaitu suatu benda dengan satuan hitung tertentu yang digunakan sebagai alat pembayaran yang sah dan berlaku secara umum di wilayah tertentu dan keberadaannya diatur dalam undang-undang.

Berdasarkan penjelasan tersebut, dapat dikatakan bahwa uang dapat berbentuk dari segala sesuatu (berbentuk benda), tetapi tidak semua benda menjadi uang. Sehingga, dalam suatu perekonomian modern, definisi uang tidak hanya memiliki pengertian secara ekonomi yaitu uang merupakan barang langka yang berharga, tetapi memiliki pengertian secara hukum dan politis.

Permintaan Uang

Konsep permintaan uang pada dasarnya mengandung makna sebagai suatu keinginan masyarakat agar dapat mewujudkan sebagian dari pendapatannya dalam bentuk uang kas. Kemampuan uang sebagai alat tukar terhadap suatu barang dapat memberikan gambaran terkait laju peredaran uang dalam masyarakat. Sedangkan laju peredaran uang merupakan bagian penting dari kelancaran suatu kegiatan ekonomi.

Permintaan uang merupakan topik yang cukup banyak dibicarakan dan menjadi perhatian dalam ekonomi moneter.

Permintaan uang adalah jumlah uang yang ingin dipegang oleh masyarakat dan perusahaan secara ke seluruhan. Permintaan uang merupakan total permintaan uang dari seluruh rumah tangga dan perusahaan dalam sebuah perekonomian.

Menurut pandangan ekonom klasik, uang hanya befungsi sebagai alat tukar. Oleh karena itu, jumlah uang yang diminta berbanding secara proporsional dengan tingkat pendapatan masyarakat dalam suatu perekonomian.

Ini artinya, Jika tingkat pendapatan masyarakat meningkat, maka permintaan uang juga meningkat, begitu juga sebaliknya. Semakin tinggi tingkat pendapatan, maka semakin tinggi pula permintaan terhadap uang.

Jumlah uang yang dipegang oleh masyarakat tidak semata-mata menunjukkan nilai nominalnya, tetapi juga mencerminkan nilai daya belinya. Daya beli adalah nilai nominal dibandingkan dengan tingkat harga atau real money balances.

Karena uang hanya berfungsi sebagai alat tukar, maka uang bersifat netral (money neutrality). Ini artinya uang hanya berpengaruh terhadap tingkat harga. Pernyataan ini dikemukakan oleh ekonom bernama Irving Fisher.

Pendapat Irving Fisher dikenal dengan teori kuantitas uang klasik atau classical quality of money. Persamaan teori kuantititas uang klasik dapat diformulasikan dengan persamaan sebagai berikut.

M × V = P × T

Keterangan:

M = jumlah uang beredar

V = velositas (kecepatan peredaran uang)

P = tingkat harga

T = nilai transaksi yang diukur berdasarkan pendapatan nasional

Contoh Soal Perhitungan Rumus Irving Fisher.

Dalam sebuah perekonomian yang hanya memproduksi mobil, dalam setahun dihasilkan 1000 unit mobil. Harga per unit mobil adalah Rp 90 juta, sedangkan velositas uang adalah 10 kali dalam setahun. Hitung Berapa jumlah uang yang dibutuhkan.

Jawab

M x V = P x T

M × 10 = 1.000 × 100 juta

M = (1.000 × 100 juta)/10

M= Rp 10.000 juta atau Rp 10 miliar

Dalam perkembangannya, uang ternyata tidak hanya berfungsi sebagai alat tukar atau untuk menyimpan kekayaan, namun juga berfungsi sebagai komoditas atau barang dagangan yang ditransaksikan atau diperdagangkan atau Tradable Goods.

Faktor Yang Mempengaruhi Permintaan Uang

Ekonom Inggris bernama John Maynard Keynes (1883–1946), dengan cukup jelas menyatakan bahwa permintaan terhadap uang atau demand for money atau yang disebut sebagai preferensi likuiditas, dipengaruhi oleh tiga motif. Ketiga Motif tersebut adalah sebagai berikut.

1. Motif Transaksi

Salah satu motif masyarakat untuk memegang uang adalah agar dapat melakukan transaksi untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Kebutuhan tersebut berjalan secara terus-menerus, sedangkan penerimaan pendapatannya terjadi secara berkala, misalnya seminggu sekali, atau sebulan sekali.

Terdapatnya perbedaan waktu antara penerimaan dan pengeluaran merupakan alasan atau pertimbangan masyarakat untuk meminta atau memegang atau memiliki uang setiap saat.

Motif transaksi yaitu motif untuk melakukan kegiatan transaksi perdagangan seperti tukar menukar barang atau membeli barang kebutuhan pokok. Besarnya permintaan uang dengan motif transaksi sangat tergantung pada tingkat pendapatan seseorang.

Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa kebutuhan uang yang menjadi sebuah permintaan uang untuk motif transaksi merupakan suatu proporsi konstan dari tingkat pendapatan. Hal ini dapat diformulasikan dengan persamaan sebagai berikut.

Mt = kY,

Dengan keterangan

Mt = kebutuhan transaksi,

k = proporsi konstan, 0 < k <1,

Y = tingkat pendapatan nasional

2. Motif Berjaga-jaga

Motif berjaga- jaga yaitu motif menyimpan uang untuk kegiatan berjaga- jaga atau untuk membiayai sesuatu yang tidak terencana atau terduga. Misalnya untuk biaya berobat pada saat sakit atau biaya kebutuhan sekolah anak yang secara mendadak seperti kegiatan studi lapangan.

Motif tersebut terjadi akibat terdapatnya ketidakpastian di waktu yang akan datang. Ketidakpastian ini dapat dianggap sebagai suatu kondisi darurat atau munculnya kesempatan- kesempatan lain yang tidak dapat diperkirakan sebelumnya.

Masyarakat menjadi perlu memegang sejumlah uang agar selalu dapat menghadapi ketidakpastian tersebut. Kebutuhan uang untuk berjaga – jaga ini cenderung meningkat dengan meningkatnya pendapatan.

Dengan tingkat pendapatan yang lebih tinggi, masyarakat dapat menghadapi kemungkinan timbulnya kesempatan- kesempatan lain yang lebih besar, walaupun dengan risiko yang lebih besar juga. Oleh sebab itu, bagi masyarakat yang memiliki pendapatan tinggi, kebutuhan memegang uang untuk memenuhi motif berjaga-jaga cenderung lebih tinggi.

Dengan demikian dapat dikatakan, bahwa permintaan untuk motif transaksi maupun untuk berjaga-jaga merupakan fungsi yang berkorelasi positif terhadap pendapatan, yaitu bahwa jumlahnya tergantung kepada tingkat pendapatan masyarakat. Jadi Secara singkat dapat diformulasikan dengan persamaan sebagai berikut.

M1 = Mt + Mp = f (Y)

Dengan keterangan

M1 = permintaan uang untuk motif transaksi dan berjaga-jaga.

Mt = permintaan uang dengan motif transaksi

Mp = permintaan uang dengan motif berjaga-jaga

f(Y) = fungsi pendapatan

3. Motif Spekulasi

Motif spekulasi merupakan motif memegang uang dengan cara menyimpannya dalam bentuk surat- surat berharga, seperti saham dan obligasi. Hal ini Berbeda dengan dua motif sebelumnya, yang dipengaruhi oleh tingkat pendapatan, motif spekulasi dipengaruhi oleh tingkat suku bunga yang berlaku.

Tingkat suku bunga merupakan faktor yang sangat berpengaruh terhadap penentuan motif spekulasi. Pada tingkat suku bunga yang relative tinggi, masyarakat akan memilih menyimpan uangnya dalam bentuk surat berharga dibandingkan dengan memegang uang tunai.  Bunga yang relative tinggi akan memberikan pendapatan lebih kepada masyarakat.

Penawaran Uang

Penawaran uang didefinisikan sebagai jumlah uang yang tersedia dalam perekonomian untuk membiayai transaksi- transaksi yang dilakukan dalam masyarakat.

Penawaran uang (money supply) dibedakan menjadi mata uang dalam peredaran dan uang yang beredar. Mata uang dalam peredaran adalah mata uang yang telah dikeluarkan dan diedarkan oleh Bank Sentral. Mata uang tersebut terdiri atas uang kertas dan uang logam. Dengan demikian, mata uang dalam peredaran sama dengan uang kartal.

Adapun uang beredar adalah semua jenis uang yang berada di dalam perekonomian yaitu mata uang dalam peredaran ditambah dengan uang giral pada bank-bank umum.

Penawaran Uang Arti Sempit

Penawaran uang dalam arti sempit merupakan uang dalam peredaran yang berbentuk uang kartal dan uang giral, dan disebut M1.

M1 = Uang Kartal + Uang Giral

Uang kartal atau uang tunai merupakan uang yang biasa digunakan setiap hari untuk membeli barang dan jasa. Uang kartal terdiri atas uang logam dan uang kertas. Uang kartal diterbitkan oleh bank sentral, yang dalam hal ini adalah Bank Indonesia.

Uang giral adalah alat pembayaran berupa surat- surat berharga yang dikeluarkan oleh bank umum.

Contoh uang giral adalah cek dan bilyet giro. Cek merupakan surat perintah dari pemilik rekening di bank untuk membayar sejumlah uang kepada pihak lain.

Sedangkan bilyet giro adalah surat perintah dari nasabah kepada bank untuk memindahbukukan sejumlah uang kepada pihak lain.

Penawaran Uang Arti Luas

Adapun penawaran uang dalam arti luas disebut juga M2 yang terdiri atas uang kartal, uang giral, dan uang kuasi. Uang kuasi terdiri atas deposito berjangka, tabungan, rekening, dan valuta asing milik swasta domestik.

M2 = M1 + Uang Kuasi

Uang kuasi juga disebut near money atau uang dekat, yaitu bentuk kekayaan finansial yang dapat segera diuangkan. Meskipun secara langsung ia tidak berfungsi sebagai media tukar atau alat pembayaran, tetapi dapat diubah dengan cepat menjadi uang kartal maupun uang giral.

Contoh uang kuasi adalah deposito berjangka pendek (jatuh temponya kurang dari 1 tahun) dan rekening simpanan atau tabungan di bank umum.

Penawaran Uang Arti Lebih Luas

Penawaran uang arti lebih luas disimbolkan dengan M3 adalah uang kartal ditambanh uang giral ditambah uang kuasi ditambah yang disimpan dalam bank umum dan bank perkreditan rakyat BPR.

M3 = M2 + Deposito Berjangka Panjang

M3 merupakan penggabungan dari uang kartal, uang giral, uang kuasi, dan deposito berjangka panjang (lebih dari satu tahun). Apabila perekonomian suatu negara semakin maju, porsi penggunaan uang kartal (kertas dan logam) semakin sedikit, digantikan uang giral dan uang kuasi.

Faktor Yang Memengaruhi Penawaran Uang

Pada prinsipnya, jumlah uang yang beredar dalam suatu perekonomian ditetapkan oleh bank sentral melalui pengaturan kredit perbankan.

Perkembangan jumlah uang yang beredar mencerminkan perkembangan ekonomi suatu negara. Jika perekonomian suatu negara tumbuh dan berkembang, maka jumlah uang yang beredar juga berubah sesuai dengan pertumbuahan ekonomi negara.

Beberapa faktor yang memengaruhi penawaran uang, di antaranya adalah

a). Bank Sentral

Bank sentral sebagai lembaga yang memiliki otoritas moneter melalui hak otoritasnya untuk mencetak dan mengedarkan uang untul mempengaruhi jumlah uang yang beredar di masyarakat.

Selain itu kebijakan- kebijakan moneter yang dikeluarkan bank sentral juga memberikan pengaruh  yang cukup besar, seperti Politik diskonto, Politik pasar terbuka, Politik cash ratio dan Politik kredit selektif

b). Pemerintah

Pemerintah melalui menteri keuangan dengan persetujuan dari Gubernur Bank Indonesia dapat meminta untuk mencetak uang uang kartal baik uang kertas maupun uang logam.

c). Bank Umum

Bank umum dapat melakukan penciptaan uang giral (uang bank) melalui pembelian surat surat berharga dari masyarakat.

d). Tingkat Suku Bunga

Tingkat suku bunga merupakan faktor yang menentukan jumlah uang beredar dalam perekonomian suatu negara. Ketika tingkat bunga relative tinggi, maka permintaan uang tunai cenderung turun. Hal ini disebabkan masyarakat menganggap jika uang disimpan atau tidak dibelanjakan akan lebih menguntungkan.

Sebagai akibatnya, permintaan terhadap barang dan jasapun mengalami penurunan serta kegiatan perekonomian menjadi rendah. Oleh karena itu, Bank Indonesia akan menambah jumlah uang beredar melalui kebijakan moneter melalui mekanisme penurunan tingkat suku bunga.

e). Tingkat Inflasi atau Deflasi

Pada kondisi inflasi, bank sentral akan cenderung mengurangi penawaran uang. Tujuannya adalah untuk mengurangi atau menahan agar inflasi tidak semakin tinggi.

Sementara Deflasi membawa dampak negatif bagi perekonomian. Karena penurunan harga barang dan jasa secara terus- menerus cenderung menurunkan kegiatan produksi dan investasi.

f). Tingkat Produksi atau Pendapatan Nasional

Pada tingkat produksi atau pendapatan nasional yang rendah, pemerintah cenderung akan memperbanyak jumlah uang yang beredar. Hal ini berujuan agar dapat meningkatkan permintaan agregat, sehingga kegiatan produksi dan dapat meningkatkan kegiatan perekonomia secara keseluruhan.

g). Pendapatan

Jika pendapatan masyarakat semakin tinggi, maka semakin tinggi pula jumlah uang yang beredar. Sebaliknya, jika pendapatan masyarakat yang rendah, maka pendapatan nasional juga ikut rendah, akibatnya jumlah uang yang beredar juga akan berkurang. Dengan demikian, pemerintah tidak perlu memperbanyak jumlah uang beredar.

h). Kekayaan Masyarakat

Jika variasi atau bentuk kekayaan yang dimiliki oleh masyarakat relative rendah, jumlah uang yang beredar dalam masyarakat semakin besar. Sebaliknya, jika masyarakat memiliki banyak bentuk kekayaan seperti tanah, tabungan, saham, dan lain-lain, maka jumlah uang yang beredar dalam masyarakat akan rendah.

i). Nilai Tukar Rupiah

Pemerintah akan mengurangi jumlah uang yang beredar jika nilai tukar rupiah menurun. Dengan demikian, sesuai hukum keseimbangan permintaan dan penawaran, tingkat bunga akan naik sehingga nilai tukar rupiah juga ikut naik.

j). Fasilitas Kredit

Fasilitas kredit dapat memengaruhi jumlah uang yang beredar. Bila masyarakat lebih tertarik penggunaan kredit, dengan sendirinya penggunaan uang tunai akan berkurang, sehingga jumlah uang yang beredar di masyarakat juga berkurang.

k). Struktur Perekonomian Negara

Dalam masyarakat industri, perputaran uang akan lebih cepat karena dalam suatu proses produksi membutuhkan waktu yang lebih cepat daripada pada masyarakat agraris. Masyarakat agraris harus menunggu waktu yang lebih lama untuk memanen hasilnya, sehingga uang yang beredar akan cenderung lebih lama.

Daftar Pustaka:

  1. Mankiw, N., Gregory, 2003, “Teori Makroekonomi”, Edisi Kelima, Penerbit Erlangga, Jakarta.
  2. Jhingan, M.L., 2008, “Ekonomi Pembangunan Perencanaan”, Edisi Pertama, PT RajaGrafindo Persada, Jakarta.
  3. Samuelson, A., Paul. Nordhaus, D., William, 2004, “Ilmu Makro Ekonomi”, Edisi 17, PT Media Global Edukasi, Jakarta.
  4. Sukirno, Sadono, 2008, “Makroekonomi Teori Pengantar”, Edisi Ketiga, PT RajaGrafindo Persada, Jakarta.
  5. Prasetyo, P., Eko, 2011, “Fundamental Makro Ekonomi”, Edisi 1, Cetakan Kedua, Beta Offset, Yogyakarta.
  6. Putong, Iskandar. Andjaswati, N.D., 2008, “Pengantar Ekonomi Makro”, Edisi Pertama, Penerbit Mitra Wacana Media, Jakarta.
  7. Firdaus, R., Ariyanti, M., 2011, ”Pengantar Teori Moneter serta Aplikasinya pada Sistem Ekonomi Konvensional dan Syariah”, Cetakan Kesatu, AlfaBeta, cv, Bandung.
  8. Pengertian Uang atau Pengertian uang secara hukum dan politis berserta Permintaan Uang dan Fungsi Permintaan uang. Persamaan permintaan uang Irving Fisher dengan Contoh perhitungan permintaan uang dan Contoh Perhintungan Permintaan unga Rumus Irving Fisher. Uang Berfungsi alat tukar dan pengaruh pendapatan terhadap permintaan uang atau Pengaruh daya beli terhadap Permintaan uang.
  9. Penegrtian Daya beli uang dan Pengertian Real money balances dan Uang bersifat netral. Pengertian money neutrality dan classical quality of money serta Pengaruh permintaan uang terhadap tingkat harga dengan Contoh Soal Perhitungan Rumus Irving Fisher. Faktor Yang Mempengaruhi Permintaan Uang dan demand for money.
  10. Preferensi likuiditas Keynes dan Pengaruh Motif Transaksi terhadap permintaan uang beserta Rumus Permintaan uang motif transaksi. Pengaruh Motif Berjaga-jaga terhadap permintaan uang dan pengaruh spekulasi terhadap permintaan uang dengan Contoh soal permintaan uang motif berjaga – jaga.

Nilai Uang, Nominal Intrinsik, Internal dan Eksternal.

Pengertian Nilai Uang. Nilai uang adalah jumlah barang dan jasa yang akan diterima sebagai pengganti satu kesatuan uang yang diserahkan. Sederhananya Nilai Uang sama dengan  jumlah barang dan jasa.

Uang memiliki sifat seperti barang yang nilai atau harganya ditentukan oleh permintaan demand dan penawaran supply uang.

Permintaan dan penawaran uang dipengaruhi oleh beberapa factor seperti laju edar uang atau velocity of circulation, ketersediaan barang dan jasa yang diperdagangkan dan sebagainya.

Contoh Nilai Uang

Jika Uang 25.000 rupiah dapat digantikan dengan satu kilo gram gula, maka nilai uang 25.000 rupiah tersebut adalah satu kilo gram gula. Atau Rp 25.000 = 1 kg gula.

Dengan perkataan lain, nilai uang menunjukkan kemampuan beli uang atau purchasing power of money. Dengan demikian yang dimaksud nilai uang 25 ribu rupiah adalah  jumlah barang yang dapat diterima dari penjual sebagai pengganti dari uang 25 ribu rupiah.

Istilah lain yang dapat digunakan untuk Nilai uang adalah nilai tukar. Nilai tukar merupakan Jumlah barang dan jasa yang dapat ditukar dengan satu kesatuan uang yang diserahkan.

Untuk contoh di atas. Nilai Tukar 25.000 rupiah adalah satu kilo gram gula. Ini artinya 25 ribu rupiah dapat ditukar dengan satu kilo gram gula.

Nilai Nominal Uang

Nilai nominal adalah nilai uang yang tertulis atau tertera pada mata uang baik uang kertas atau logam. Nilai ini yang paling mudah diketahui oleh masyarakat. Hanya dengan melihat angka yang tercetak pada mata uang tersebut sudah bisa mengetahui nilainya.

Contoh Nilai Nominal Uang

Pada sebuah uang kertas tertulis Rp100.000 Maka nilai nominal uang tersebut adalah 100.000 rupiah. Nilai uangnya sama persis dengan yang tertulis atau tercetak.

Nilai Intrinsik Uang

Nilai intrinsik adalah nilai atau harga dari bahan yang digunakan untuk membuat uang itu sendiri ditambah dengan biaya percetakan dan transpotasi.

Contoh Nilai Intrinsik Uang.

Untuk membuat satu lembar Uang kertas yang bertuliskan Rp 100.000 membutuhkan bahan kertas, biaya cetak dan biaya transport sebesar 25.000 rupiah. Maka Nilai nominal uang tersebut adalah 100.000 rupiah dan nilai intrinsic nya adalah 25.000 rupiah. Nilai yang berlaku untuk transaksi dalam perekonomian adalah nilai nominalnya.

Nilai Uang Internal

Nilai uang internal adalah daya beli uang yang dinyatakan dalam jumlah barang dan jasa yang dihasilkan oleh negara itu sendiri atau domestic product. Jadi nilai uang ditentukan oleh kemampuan daya beli uang terhadap barang dan jasa yang dihasilkan di dalam negeri.

Nilai uang internal dipengaruhi oleh ketersedian barang dan jasa yang diperdagangkan. Ketika ketersediaannya berkurang atau terbatas, maka harga barang menjadi naik. Harga barang naik, artinya sama dengan turunya nilai uang. Ketika barang dan jasa yang tersedia melimpah, maka harga barang akan turun. Turunnya harga barang sama artinya dengan naiknya nilai uang.

Contoh Nilai Uang Internal

Jika Uang 15.000 rupiah dapat digunakan untuk membeli satu kilo gram beras hasil panen petani, maka nilai uang internal 15.000 rupiah tersebut adalah satu kilo gram beras. Atau Rp 15.000 = 1 kg beras.

Nilai Uang Eksternal

Nilai Uang Eksternal adalah harga mata uang suatu negara yang dinyatakan dalam mata uang negara lainnya atau valuta asing atau devisa. Nilai uang eksternal ini dikenal dengan istilah lain yaitu kurs mata uang asing atau foreign exchange rate.

Contoh Nilai Uang Eksternal.

Misal, Nilai kurs Rupiah Indonesia terhadap Dollar Amerika dinotasikan dengan USD/IDR 15.000. Ini artinya nilai uang eksternal Rupiah Indonesia adalah 15.000 rupiah untuk tiap satu Dollar Amerika. Atau daya beli rupiah terhadap Dollar Amerika adalah 15.000 rupiah untuk tiap satu Dollar Amerika.

Tinggi rendahnya kurs mata uang asing tersebut di tentukan antara lain oleh permintaan dan penawaran terhadap mata uang asing tersebut. Permintaan terhadap mata uang asing disebabkan adaya keinginan untuk membeli barang dari luar negeri atau impor.

Namun demikian tidak semua mata uang disukai oleh pengekspor barang atau jasa, namun hanya mata uang kuat atau hard currency yang dapat diterima oleh hampir setiap negara di dunia.

Dewasa ini, mata uang yang banyak diterima dan tergolong dalam hard currency atau devisa convertible antara lain adalah Dollar Amerika, Euro Eropa, Pound sterling Inggris, Yen Jepang dan Dollar Australia.

Daftar Pustaka

Pengertian Nilai Internal dan Eksternal Uang dengan Pengertian Nilai Uang dan Contoh nilai uang, Pengertian Nilai uang internal. Pengertian nilai uang eksternal namun Contoh Nilai uang internal beserta Contoh nilai uang eksternal. Contoh Hard Currency ketika Pengertian Devisa Convertible.

 

Biaya Peluang, Opportunity Cost. Pengertian Contoh Perhitungan

Pengertian Biaya Peluang Opportunity Cost. Biaya peluang muncul, karena adanya pilihan yang dilakukan individu- individu, perusahaan, dan masyarakat akibat  kelangkaan sumber daya yang dihadapi.

Karena adanya keterbatasan atau kelangkaan sumber daya, maka sebuah perusahaan harus membuat pilihan. Akibat dari pilihannya, perusahaan tersebut akan kehilangan kesempatan untuk memperoleh barang yang lain. Hal itulah yang dimaksud dengan biaya peluang. Biaya peluang atau kesempatan adalah biaya yang harus dikorbankan untuk memperoleh kebutuhan barang atau jasa yang lain.

Jadi, biaya peluang (Opportunity Cost) adalah biaya karena hilangnya kesempatan akibat dari pemenuhan suatu kebutuhan yang lain.

Biaya peluang merupakan biaya yang timbul akibat memilih sebuah peluang terbaik dari beberapa alternatif yang tersedia. Ketika perusahaan dihadapkan pada beberapa alternatif pilihan dan harus memilih salah satu di antaranya, maka alternatif yang tidak dipilihnya menjadi biaya peluang.

Batas kemungkinan produksi menunjukkan jumlah maksimum alternatif kombinasi barang dan jasa yang dapat diproduksi oleh sebuah perusahaan atau masyarakat pada suatu waktu ketika sumber- sumber daya ekonomi dan teknologi didayagunakan sepenuhnya.

Kurva batas kemungkinan produksi tidak hanya menggambarkan kapabilitas produksi yang terbatas dan masalah kelangkaan. Namun, kurva batas kemungkinan produksi juga mencerminkan konsep biaya kesempatan (opportunity cost).

Konsep Opportunity Cost dapat direpresentsikan dengan menggunakan batas kemungkinan produksi (atau production possibility frontier– dan disingkat menjadi PPF). Batas kemungkinan produksi (atau production possibility frontier – PPF) adalah jumlah produksi yang dapat dicapai oleh suatu perusahaan atau perekonomian, dengan menggunakan sumber daya yang terbaik melalui pengetahuan teknologi dan jumlah input yang tersedia. PPF merepresentasikan daftar barang dan jasa yang tersedia untuk masyarakat.

Batas kemungkinan produksi yang direpresentasikan dalam bentuk grafik disebut kurva batas kemungkinan produksi (atau production possibility frontier curve). Efesiensi sumber daya dalam memproduksi dua komoditas atau produk tidaklah sama. Sehingga Setiap tambahan satuan komoditas atau produk pertama yang diproduksi menyebabkan sejumlah komoditas kedua harus dikorbankan.

Biaya Peluang, Kesempatan Opportunity Cost

Pada Tabel ditunjukkan suatu perusahaan “X” yang mampu memproduksi 15 ribu unit pakaian tanpa memproduksi sepatu. Kondisi ini ditunjukkan oleh kemungkinan A. Pada saat perusahaan memprodusi satu ribu unit sepatu dan 14 ribu unit pakaian ditunjukkan oleh kemungkinan B. Jika Kondisi tersebut berlanjut sampai mendapatkan kombinasi kemungkinan F yang memproduksi lima ribu unit sepatu namun tanpa memproduksi pakaian.

Pergerakan kemunggkinan A ke B menunjukkan adanya pengurangan produksi jumlah produksi pakaian, yaitu dari 15 ribu ke 14 ribu. Pada kondisi Ini faktor-faktor produksi yang dikorbankan sudah cukup untuk memproduksi satu ribu unit sepatu yang pertama. Begitu seterusnya hingga sampai pada titik F. Pada kondisi kemungkinan F, seluruh factor factor produksi dikorbankan untuk memproduksi lima ribu sepatu.

Jadi produksi sepatu dapat terus ditingkatkan jika produksi pakaian terus dikurangi atau dikorbankan, sehingga biaya- biaya yang digunakan untuk faktor-faktor produksi pakaian dapat digunakan untuk membiayai produksi sepatu.

Tabel di atas, bisa digunakan untuk mempelajari kurva batas kemungkinan produksi dalam kurva production possibility frontier PPF.

Kurva Production Possibility Frontier - PPF

Kurva batas kemungkinan produksi (production possibility frontier-PPF) ditunjukkan pada garis yang dibentuk dari titik A hingga F. Garis lengkung A-F menjadi batas produksi dari kombinasi pakaian dan sepatu sekaligus merupakan produksi tertinggi yang dapat dicapai oleh perusahaan “X”.

Perhatikan bahwa titik yang ada di luar kurva, yaitu pada titik G, pada kondisi kombinasi tersebut tidak dapat dicapai oleh sumber daya dan teknologi yang tersedia. Sedangkan pada titik H, menunjukkan kegiatan ekonomi tidak memanfaatkan seluruh sumber daya yang tersedia.

Jika perusahaan dalam perekonomian memproduksi kedua barang tersebut selalu berada pada posisi garis batas kemungkinan produksi, maka dapat dikatakan bahwa perusahaan atau perekonomian berjalan secara efisien. Efisiensi diartikan sebagai penggunaan sumber daya ekonomi secara efektif untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan masyarakat atau konsumen.

Efisiensi produksi terjadi jika produksi barang tertentu tidak dapat ditingkatkan lagi tanpa mengurangi mengorbankan produksi barang lain, yaitu selama perekonomian masih berada pada garis batas kemungkinan produksi.

Seperti yang telah dijelaskan, bahwa setiap tambahan satuan komoditas pertama akan menyebabkan sejumlah komoditas kedua harus dikorbankan atau dikurangi. Sesuai konsep opportunity cost, biaya dari setiap satuan bahan yang digunakan untuk membuat  komoditas pertama sama dengan kesempatan atau peluang yang hilang atau sama dengan jumlah komoditas kedua yang harus dikorbankan.

Hal ini akan mengakibatkan perusahaan dapat berpindah usaha atau berproduksi di bidang lain atau komoditas lain. Hal ini akan terjadi ketika perusahaan memandang bahwa memproduksi barang komoditas lainnya lebih menguntungkan, sehingga perusahaan terpaksa harus melakukan PHK pemutusan hubungan kerja kepada karyawannya. PHK dilakukan perusahaan kepada karyawan diakibatkan karena perusahaan tidak lagi memerlukan tenaga atau keahlian dari karyawan tersebut.

Pada akhirnya dapat disimpulkan, bahwa batas kemungkinan produksi mengungkapkan tiga konsep, yaitu keterbatasan (limited), pilihan (choice) dan biaya kesempatan (opportunity cost).

Contoh Soal Ujian Biaya Peluang Opportunity Cost.

Soal 1. Tuan Gemilang ditawari untuk menjadi seorang konsultan pada perusahaan multiasional dengan gaji 30 juta rupiah perbulan. Tuan Gemilang baru saja diminta temannya untuk menjadi manager pada salah satu perusahaan temannya tersebut dengan pendapatan 35 juta ru[iah per bulan. Selain itu tuan Gemilang ditawari juga pada sebuah perusahaan swasta dengan gaji 32 juta rupiah per bulan.

Ternyata tuan Gemilang memilih menjadi wiraswata dangan modal sendiri sebesar 25 juta rupiah, maka biaya peluang yang dikorbankan oleh tuan Gemilang adalah.

a). 30 Juta rupiah

b). 35 jata rupiah

c). 32 juta rupiah

d). 25 juta rupiah

e). 97 juta rupiah.

Jawab.

Biaya peluang opportunity cost adalah biaya yang sementinya diperoleh seseorang, namun tidak jadi karena memilih alternative yang lain. Sedangkan cara menentukan biaya peluangnya adalah dengan memilih biaya dalam hal ini tawaran (atau peluang yang memiliki nilai tertinggi).

Karena tuan Gemilang memilih menjadi wiraswasta dengan modal sendiri, maka ada peluang yang hilang atau dikorbankan. Dan peluang yang tertinggi adalah 35 juta rupiah. Maka biaya peluang yang dikorbankan adalah sebesar 35 juta rupiah.

Jawaban benar adalah b

Soal 2. Sekarang tuan Gemilang bekerja pada sebuah perusahaan sebagai staf ahli informasi teknologi dengan gaji 20 juta ditambah uang tunjangan transport dan makan sebesar 5 juta rupiah. Tuan Gemilang memutuskan untuk berhenti bekerja dan melanjutkan Pendidikan ke tingkat strata 2 (S2) di pergurua tinggi  di luar negeri.

Akibat keputusan yang diambilnya, maka besar biaya peluang tuan Gemilang adalah.

a). Setelah lulus, tuan Gemilang akan mendapatkan penghasil lebih dari 25 juta rupiah.

b). Tuan Gemilang akan kehilangan penghasilan 25 juta rupiah per bulan akibat melepas pekerjaannya.

c). Pekerjaan yang ditunggalkannya akan diganti oleh orang lain.

d). Pendidikan yang dipilih tuan Gemilang menyebabkan dia kehilangan kesempatan bekerja selamannya.

e). Biaya Pendidikan tuan Gemilang akan tersendat dan selalu berkurang 25 juta tiap bulannya.

Jawab.

Biaya peluang merupakan biaya akibat mengambil keputusan untuk memilih alternative tertentu dengan meninggalkan atau mengorbankan alternatif lainnya.

Tuan Gemilang telah memutuskan untuk malanjutkan pendidikannya dengan mengorbankan pekerjaannya sehingga kehilangan penghasilan sebesar 20 juta per bulan ditambah tunjangan 5 juta rupiah.

Jadi, biaya peluang yang dibuang atau hilang atau dikorbankan oleh tuang Gemilang adalah kehilangan peghasilannya sebesar 25juta per bulan yang merupakan gaji, uang transport dan uang makan.

Jawaban Benar adalah a

Daftar Pustaka:

  1. Yusup, Al., Haryono, 2005, ”Dasar Dasar Akuntansi”, Jilid 1, Edisi Keempat, Bagian Penerbitan Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi YKPN, Yogyakarta.
  2. Kasmir, 2011, “Analisis Laporan Keuangan”, Edisi Pertama, Rajawli Pers, Jakarta.
  3. Kuswadi, “Analisis Keekonomian Projek”, Edisi Pertama, CV Andi Offset, Penerbit Andi, Yogyakarta.
  4. Sartono, Agus, R., “ 2001, “Manajemen Keuangan Teori dan Aplikasi”, Edisi Keempat, BPFE Yogyakarta, Yogyakarta.
  5. Joesoef, Jose Rizal, 2008, “Pasar Uang dan Pasar Valuta Asing”, Salemba Empat, Jakarta.
  6. Darmawi, Herman, 2006, “Pasar Finansial dan Lembaga Lembaga Finansial”, Cetakan Pertama, PT Bumi Arta, Jakarta.
  7. Mishkin, S., Frederic, 2008’ “Ekonomi Uang, Perbankan, dan Pasar Uang”, Edisi Kedelapan, Salemba Empat, Jakarta.
  8. Pengertian Biaya Peluang dengan Biaya Kesempatan dan Opportunity Cost. Biaya kelangkaan sumber daya serta biaya akibat pilihan. Batas kemungkinan produksi dan Faktor Penyebab timbulnya biaya peluang. yang mempengaruhi biaya peluang dan ciri biaya peluang, Konsep Biaya Peluang.
  9. Kurva batas kemungkinan produksi dengan pengaruh biaya peluang terhadap jumlah jenis produksi dan Pengertian production possibility frontier PPF. Cara membuat kurva kemungkinan produksi dan Contoh table biaya peluang serta Gambar Kurva Kemungkinan produksi. Pengaruh Faktor Produksi terhadap biaya peluang dengan efisiensi biaya peluang.

Faktor Yang Mempengaruhi Penawaran.

Pengertian Penawaran. Dalam ilmu ekonomi, penawaran (atau supply) didefinisikan sebagai jumlah keseluruhan barang dan jasa yang akan dijual atau ditawarkan oleh produsen pada berbagai macam tingkat harga.

Hukum Penawaran

Hukum penawaran menyatakan bahwa jumlah barang dan jasa yang ditawarkan selalu berbanding lurus dengan harganya. Ini artinya, jika harga barang dan jasa naik, maka jumlah barang dan jasa yang ditawarkan akan bertambah, dan sebaliknya jika harga turun, maka jumlah barang dan jasa yang ditawarkan berkurang. Dalam hukum penawaran berlaku kondisi ceteris paribus yaitu faktor- faktor lainnya diasumsikan tetap.

Faktor-Faktor yang Memengaruhi Penawaran

Konsep penawaran menunjukkan berbagai jumlah (kuantitas) barang yang akan dijual di pasar oleh seseorang atau beberapa orang penjual atau perusahaan. Ketersediaan produsen atau perusahaan memproduksi dan menawarkan berbagai jenis barang dipengaruhi oleh sejumlah faktor, yang diantaranya adalah sebagai berikut.

Harga Barang Yang Dijual

Produsen atau perusahaan akan menawarkan atau menjual barang lebih banyak jika harga harga barng tersebut naik. Begitupun sebaliknya, jika harga turun, jumlah barang yang ditawarkan akan berkurang. Hal ini sesuai dengan hukum penawaran yang menyatakan hubungan antara harga suatu barang dan jumlah barang yang ditawarkan.

Biaya Produksi

Perusahaan atau Produsen membutuhkan berbagai faktor produksi untuk dapat menghasilkan suatu barang dan jasa. Faktor- faktor produksi tersebut harus  dibeli oleh perusahaan atau produsen dari para pemilik faktor produksi tersebut.

Oleh karena itu, semakin murah harga faktor produksi, maka biaya produksi akan semakin rendah,  sehingga perusahaan atau produsen dapat lebih banyak memproduksi barang yang akan ditawarkan.  Sebaliknya, jika harga faktor produksi menjadi tinggi, maka barang yang ditawarkan perusahaan atau produsen akan semakin turun untuk setiap tingkat harganya.

Tingkat Teknologi

Teknologi yang digunakan memiliki peranan yang sangat penting dan menentukan dalam kegiatan Produksi suatu barang dan jasa. Perusahaan yang menggunakan teknologi lebih maju dapat meningkatkan hasil produksinya dengan lebih efisien, seperti lebih cepat, lebih banyak, lebih murah, lebih berkualitas. Sehingga biaya produksi yang digunakan secara keseluruhan  menjadi semakin murah.

Peningkatan hasil produksi dan biaya produksi yang semakin murah akan menyebabkan jumlah barang yang ditawarkan semakin banyak pada tingkat harga tertentu.

Kebijakan Pemerintah

Pemerintah mengeluarkan kebijakan kebijakan dengan tujuan untuk menjaga kondisi perekonomian berjalan sesuai rencana dan target yang telah ditetapkan. Kebijakan pemerintah di antaranya adalah pajak dan subsidi.

Semakin besar pajak yang harus dibayarkan oleh para produsen, jumlah barang yang ditawarkan akan semakin menurun, begitu pula sebaliknya. Pajak yang harus dibayarkan oleh perusahaan akan dibebankan pada barang produksi. Sehingga harga barang menjadi lebih mahal.

Adapun subsidi yang diberikan pada produsen akan mengurangi biaya produksi. Sehingga harga barang akan lebih murah. Jika harga barang lebih murah, maka jumlah barang yang ditawarkan akan lebih banyak.

Kondisi Alam atau Cuaca atau Iklim

Pengaruh alam terutama akan memengaruhi penawaran produk pertanian dan perikanan. Misalnya, bagi para petani, iklim yang tidak menentu dapat menyebabkan gagal panen sehingga jumlah barang yang ditawarkan (contohnya beras) akan berkurang.

Secara umum, barang yang selama produksinya dipengaruhi oleh keadaan alam, maka ketika keadaan alam berubah, produksi barangpun juga bisa berubah. Misalnya Produksi garam memerlukan sinar matahari. Jadi Ketika musin hujan, jumlah produksi akan berkurang.

Ekspektasi atau Harapan Produsen

Harapan produsen di masa yang akan datang menjadi bagian dari rencana produksinya. Sehingga jumlah barang yang akan diproduksi dan kemudian ditawarkan akan dipengaruhi oleh  harapan para produsen dimasa yang akan datang. Dalam hal ini, harapan menjadi sebuah prediksi perekonomian di masa yang akan datang.

Jika produsen memperkirakan harga barang dan jasa akan turun dikemudian hari, missal pada akhir tahun, dengan sendirinya para produsen akan mengurangi produksinya sehingga mengurangi penawaran. Dan ketika para produsen menilai bahwa kondisi perekonomian akan membaik dikemudian hari, maka para produsen akan memprodusi barang atau jasa lebih banyak.

Daftar Pustaka

Faktor Yang Mempengaruhi Penawaran barang dan jasa dengan Pengertian Penawaran atau supply sedangkan Hukum Penawaran. Ceteris paribus yaitu faktor- faktor lainnya diasumsikan tetap dengan Faktor yang Memengaruhi Penawaran dan  Pengaruh Harga Barang Yang Dijual terhadap pemawaran.

Pengaruh Biaya Produksi terhadap penawaran dan Pengaruh Tingkat Teknologi pada penawaran meskipun Pengaruh Kebijakan Pemerintah terhadap penawaran dan Pengaruh pajak terhadap penawaran. Pengaruh subsidi terhadap penawaran dan Pengaruh Kondisi Alam atau Cuaca atau Iklim terhadap penawaran. Pengaruh Ekspektasi atau Harapan Produsen pada penawaran.

Faktor Yang Mempengaruhi Permintaan.

Pengertian Permintaan. Permintaan adalah jumlah barang atau jasa yang rela dan mampu dibeli oleh konsumen atau pelanggan pada berbagai kemungkinan harga selama periode tertentu dengan asumsi faktor-faktor lainnya dianggap tetap atau ceteris paribus. Yang dimaksud periode tertentu adalah bisa hanya satu jam, satu hari, bisa juga satu tahun atau periode lainnya.

Hukum Permintaan.

Hukum permintaan menyatakan: Jika harga suatu barang dan jasa naik (dalam keadaan ceteris paribus, dengan faktor-faktor lain dianggap tetap), kuantitas barang yang diminta akan berkurang. Demikian juga sebaliknya, jika harga- harga barang dan jasa turun, kuantitas yang diminta akan bertambah.

Jenis atau Macam Permintaan.

Jenis atau Macam Permintaan dapat digolongkan menjadi tiga, yaitu sebagai berikut.

Permintaan absolut

Permintaan absolut adalah permintaan yang tidak didukung oleh daya beli, tetapi lebih merupakan keinginan saja yang sifatnya angan- angan. Setiap orang dapat dipastikan mempunyai permintaan absolut.

Permintaan potensial

Permintaan potensial adalah permintaan yang akan diwujudkan dengan sejumlah uang yang dimiliki. Artinya, permintaan ini didukung dengan daya beli yang memadai, tetapi masih belum dilaksanakan, punya rencana membeli barang dan jasa dengan anggaran terrencana. Misalnya, dengan uang sebesar Rp200.000,00 di tabungan, seseorang berniat membeli baju, dan sedang memikirkan baju merk apa yang akan dibelinya. Orang-orang yang memiliki permintaan potensial ini yang umumnya menjadi target iklan dan berbagai bentuk promosi lainnya.

Permintaan efektif

Permintaan efektif adalah permintaan terhadap barang atau jasa yang dilakukan sesuai dengan daya beli yang dimiliki. Misalnya, sesorang memiliki tabungan Rp 200.000,00. Orang terebut pada akhirnya membeli baju dengan merk B seharga Rp175.000,00 sesuai dengan jumlah uang yang dimilikinya. Artinya membeli barang dan jasa sesuai dengan kemampuan belinya.

Faktor yang Mempengaruhi Permintaan Terhadap Barang dan Jasa.

Harga barang atau jasa merupakan salah satu factor yang mempengaruhi tingkat permintaan. Selain itu, ada beberapa faktor lain yang juga dapat mempengaruhi permintaan terhadap suatu barang atau jasa. Factor factor tersebut diantranya  ketersediaan barang yang berkaitan (bisa barang substitusi dan barang komplementer), pendapatan konsumen, dan selera atau preferensi konsumen terhadap barang tersebut.

Harga Barang dan Jasa.

Harga barang merupakan faktor penting atau utama yang memengaruhi permintaan seorang konsumen  atau pasar. Sutau produk atau jasa yang dijual dengan Harga yang murah dengan mutu yang baik akan menyebabkan permintaan menjadi tinggi. Namun sebaliknya, harga yang tinggi atau mahal cenderung menurunkan permintaan. Kondisi lainnya adalah harga murah dengan kualitas produk rendah akan mengakibatkan permintaan menjadi turun.

Dalam hal ini, harga menjadi penentu apakah suatu barang atau jasa akan jadi dibeli atau tidak, ketika barang dan jasa tersebut sudah diketahui mutunya secara jelas.

Pendapatan Masyarakat.

Pendapatan yang diperoleh masyarakat menunjukkan memampuan beli masyarakat terhadap barang dan jasa. Dengan Kata lainnya, pendapatan adalah daya beli. Sehingga pendapatan akan berpengaruh terhadap tinggi rendahnya permintaan. Semakin tinggi pendapatan seseorang, maka permintaan terhadap barang dan jasa cenderung meningkat. Begitupun sebaliknya semakin rendah pendapatan, maka akan semakin rendah pula permintaan terhadap barang dan jasa.

Perubahan Harga Barang yang Berkaitan

Barang yang berkaitan terdiri dari barang substitusi dan barang komplementer. Baik harga barang substitusi maupun harga barang komplementer dapat merubah tingkat permintaan barang dan jasa.

Barang Substitusi atau barang yang berkaitan erat merupakan barang yang dalam penggunaannya bisa saling menggantikan atau bisa ditukar. Sebagai contoh: barang yang bisa saling ganti, Jika kompor gas disubstitusikan dengan kompor minyak tanah maka ketika harga gas mengalami kenaikan, maka permintaan terhadap kompor minyak tanah akan naik sebagai barang pengganti karena dianggap lebih murah.

Barang Komplementer atau melengkapi adalah barang yang dalam penggunaannya harus saling melengkapi, atau harus ada keduannya saat digunakan. Contohny adalah barang yang harus saling melengkapi, jika gas adalah barang komplementer dari kompor gas, maka ketika harga gas naik akan menyebabkan permintaan kompor gas menjadi turun.

Dengan demikian, Jumlah permintaan suatu barang dipegaruhi oleh harga barang yang berkaitan. Artinya harga barang berubah ketika harga barang substitusi atau komplementer berubah.

Selera/Taste Masyarakat Konsumen Terhadap Barang atau Produk.

Selera atau cita rasa konsumen terhadap suatu barang dapat mempengaruhi permintaan terhadap barang tersebut. Jika selera konsumen terhadap suatu barang meningkat maka permintaan terhadap barang tersebut juga akan meningkat dan sebaliknya jika selera konsumen terhadap suatu barang menurun maka permintaan terhadap barang tersebut menurun.

Contoh, selera konsumen terhadap suatu barang yang berhubungan dengan mode. Model pakaian/celana panjang yang sedang trend saat ini adalah celana yang relatif ketat, maka jumlah permintaan model celana ini cenderung meningkat. Sebaliknya model pakaian yang sudah ketinggalan (out of date) seperti model rok mini atau model longgar, jumlah permintaannya cenderung menurun atau berkurang.

Contoh lainnya, Misalnya, setelah ditemukan alat komunikasi berupa telepon selular, selera masyarakat beralih dari telepon rumah ke telepon selular sehingga permintaan akan jenis telepon tersebut semakin meningkat.

Jumlah Penduduk.

Pertambahan jumlah penduduk cenderung menyebabkan meningkatnya permintaan, walaupun tidak selalu demikian. Jumlah penduduk yang besar secara potensial akan mampu menambah permintaan. Jika jumlah penduduk yang besar disertai dengan kesempatan kerja yang luas maka pada akhrnya akan lebih banyak orang yang menerima pendapatan. Penerimaan pendapatan akan menambah daya beli yang pada akhirnya akan menambah permintaan.

Dengan kata lain, Semakin banyak jumlah penduduk suatu daerah maka semakin besar pula permintaan barang di daerah tersebut.

Tingkat Kebutuhan Terhadap Suatu Barang (Intensitas Kebutuhan)

Mendesak tidaknya kebutuhan seseorang terhadap suatu barang dan jasa yang diinginkan akan mempengaruhi permintaan terhadap barang dan jasa tersebut. Jika suatu barang masuk kategori kebutuhan primer maka konsumen tidak akan menunda permintaan terhadap barang tersebut, tetapi jika barang tersebut masuk kategori kebutuhan sekunder, maka konsumen cenderung menunda permintaan terhadap barang tersebut.

Kebutuhan barang pokok, seperti pangan, papan, dan sandang di daerah bencana sangat mendesak sehingga tingkat permintaan terhadap kebutuhan pangan, papan, dan sandang sangat tinggi dibandingkan di daerah lainnya.

Mode (Trend) atau Model

Mode atau Model atau tipe termasuk spesifiksi teknis akan mendorong orang untuk menyesuaikan diri sesuai dengan tuntutan zamannya. Dengan demikian Mode atau model sangat memengaruhi permintaan akan barang karena jika tidak membeli barang sesuai dengan mode atau trendnya saat itu, akan cenderung ketinggalan zaman.

Dafrar Pustaka

Faktor Yang Mempengaruhi Permintaan barang dan jasa. Pengertian Permintaan dengan pengertian ceteris paribus dan Hukum Permintaan atau Jenis atau Macam Permintaan. Permintaan absolut atau permintaan tidak didukung daya beli dan Permintaan potensial atau permintaan didukung daya beli. Permintaan efektif atau permintaan sesuai daya beli dengan Faktor yang Mempengaruhi Permintaan Barang dan Jasa termasuk barang substitusi.

Barang komplementer atau Pengaruh Harga Barang dan Jasa terhadap permintaan dan Pengaruh Pendapatan Masyarakat terhadap permintaan. Pengaruh Perubahan Harga Barang yang Berkaitan terhadap permintaan dan Pengaruh Barang Substitusi terhadap permintaan dengab Pengaruh Barang Komplementer terhadap Permintaan.

Pengaruh Selera Konsumen Terhadap permintaan Barang termasuk Pengaruh Jumlah Penduduk terhadap permintaan. Pengaruh Tingkat Kebutuhan Terhadap permintaan dan  Pengaruh Intensitas Kebutuhan pada permintaan atau Pengaruh Mode Trend pada permintaan,

error: Content is protected !!