Faktor Yang Mempengaruhi Nilai Guna Marginal Barang Dan Jasa Pada Perilaku Konsumen Pendekatan Kardinal

Pengertian Nilai Guna Pada Perilaku Konsumen Pendekatan Kardinal. Nilai guna (atau utility) atau manfaat barang atau jasa adalah kemampuan barang atau jasa dalam memenuhi kebutuhan manusia. Nilai guna merujuk pada kepuasan seseorang dari mengkonsumsi barang – barang atau menikmati jasa.

Kalau kepuasan konsumen semakin tinggi, maka semakin tinggi pula nilai guna atau manfaat dari barang tersebut. Suatu barang dapat dikatakan berguna apabila dapat memberikan kepuasan atau dapat memenuhi kebutuhan.

faktor-nilai-guna-barang-dan-jasa-contoh
faktor-nilai-guna-barang-dan-jasa-contoh

Perilaku Konsumen Pendekatan Kardinal, Pendekatan Utilitas

Pendekatan kardinal berasumsi bahwa kepuasan konsumen yang diperoleh dari kegiatan konsumsi barang dan atau jasa dapat diukur dan dinyatakan secara kuantitatif. Hal ini Artinya kepuasan konsumen dapat diukur dan dinyatakan dengan angka sebagaimana mengukur berat benda, tinggi benda dan seterusnya.

Kepuasan konsumen yang didapat dari hasil kegiatan konsumsi barang dan jasa disebut dengan istilah utilitas (atau utility). Pendekatan kardinal dikenal juga dengan istilah lain yaitu pendekatan utilitas (atau utility approach).

Adapun asumsi dari Pendekatan ini adalah:

  1. Tingkat utilitas total yang dicapai konsumen merupakan fungsi dari kuantitas barang yang dikonsumsi. Artinya tingkat kepuasan total konsumen dipengaruhi oleh jumlah berbagai barang. Hal ini sesuai dengan hukum Gossen bahwa tingkat kepuasan konsumen dipengaruhi oleh jumlah dan variasi barang yang dikonsumsinya
  2. Konsumen akan cenderung berusaha untuk mendapatkan kepuasannya yang maksimal sesuai dengan anggaran yang dimiliki atau dikeluarkannya. Hal ini mencerminkan bahwa anggaran yang dimiliki konsumen merupakan faktor penentu bagi pencapaian tingkat kepuasannya.
  3. Konsumen tidak mudah untuk mendapat tingkat kepuasan yang setinggi-tingginya sesuai dengan yang diinginkan namun tergantung dari jumlah anggaran yang dimilikinya. Konsumen akan berusaha untuk mengalokasikan jumlah anggaran yang dimiliki tersebut untuk membeli berbagai jumlah barang yang memang mampu menghasilkan kepuasan yang maksimal.
  4. Tingkat kepuasan konsumen dapat diukur secara kuantitatif.
  5. Tambahan kepuasan dari setiap unit tambahan barang yang dikonsumsi akan menurun.

Ada dua pengertian terkait dengan nilai guna dari suatu barang atau jasa yaitu nilai guna total dan nilia guna marginal.

Nilai Guna Total, Total Utility TU

Nilai guna total adalah jumlah seluruh kepuasan yang diperoleh dari mengkonsumsi sejumlah barang tertentu.

Hukum Increasing Total Utility Pada Periliku Konsumen Pendekatan Kardinal

Semakin banyak barang yang dikonsumsi persatuan waktu, semakin tinggi nilai guna total atau total utility TU yang dapat dinikmati, sampai pada satu titik tertentu yaitu titik kepuasan maksimum. Setelah titik maksimum tercapai, maka penambahan barang yang dikonsumsi tidak lagi meningkatkan nilai guna total, namun akan menyebabkan nilai guna total TU berkurang.

Nilai Guna Marginal, Marginal Utility

Nilai guna marginal adalah pertambahan (atau pengurangan) kepuasan sebagai akibat dan pertambahan (atau pengurangan) penggunaan satu unit barang tertentu.

Hukum Law of Diminishing Marginal Utility Pada Perilaku Konsumen Pedekatan Kardinal 

Semakin banyak barang yang dikonsumsi, maka pertambahan nilai guna atau kepuasan yang diperoleh dari setiap penambahan satu unit barang yang dikonsumsi akan bekurang.

Contoh Nilai Guna Total dan Marginal Barang.

Nilai guna total dari lima buah jeruk meliputi seluruh kepuasan yang diperoleh dari memakan semua (lima) jeruk tersebut. Sedangkan nilai guna marginal dari jeruk yang kelima adalah pertambahan kepuasan yang diperoleh dari memakan buah jeruk yang kelima.

Nilai Marginal Utility dapat dinyatakan dengan menggunakan persamaan rumus berikut

MU = ΔTU/ΔQ

MU = (TUn – TUn-1)/(Qn – Qn-1)

MU = Marginal utility, nilai guna marginal

ΔTU = perubahan total utility, nilai guna total

ΔQ = perubahan jumlah unit barang yang dikonsumsi

Faktor Yang Mempengaruhi Nilai Guna Barang Pada Perilaku Konsumen Pendekatan Kardinal 

Adapun Factor – factor yang mempengaruhi tinggi rendahnya nilai suatu barang atau jasa di antaranya adalah:

  • Tingkat kegunaan barang dan jasa tersebut bagi konsumen. Hal ini biasa disebut dengan tingkat utility
  • Ada atau tidaknya suku cadang serta jangka waktu pemakaiannya, hal ini disebut scarcity in supply. Barang harus dapat diperbaiki, atau diganti suku cadangnya dan tahan lama.
  • Selalu mengikuti perkembangan dan nilainya tidak mudah berkurang atau menurun (susut) biasa disebut dengan appropriable.

Jenis – Jenis Nilai Guna Barang dan Jasa Pada Perilaku Konsumen Pendekatan Kardinal.

Adapun Jenis Nilai Guna barang dan Jasa  diantaranya adalah

1). Kegunaan Wakru (Time Utility)

Suatu barang akan berguna apabila telah datang waktu yang tepat untuk menggunakannya. Konsumen tidak menggunakan barang yang dimilikinya setiap saat. Artinya Barang hanya berguna pada saat saat tertentu atau pada waktu tertentu.

Contoh Time Utility

Contoh Time Utility adalah payung dan jas hujan akan berguna ketika waktu musim hujan. Contoh lainnya adalah piring dan sendok akan berguna ketika digunakan saat makan.

2). Kegunaan Tempat (Place Utility)

Suatu barang akan berguna apabila telah dipindahkan tempatnya, atau berguna pada tempat tertentu.

Contoh Place Utility

Contoh Place Utility adalah pasir dan batu akan berguna ketika dipindahkan dari sungai ke darat untuk dijadikan landasan jalan atau bagunan dan gedung lainnya.

3). Kegunaan Bentuk (Form Utility)

Suatu barang akan berguna apabila telah diubah menjadi bentuk lain atau bentuk tertentu.

Contoh Form Utility

Contoh Form Utilityadalah tanah liat akan berguna ketika sudah menjadi bata merah untuk bangunan. Kayu baru berguna setelah dibentuk menjadi lemari atau meja.

4). Kegunaan Hak Milik (Ownership Utility)

Suatu barang akan menjadi berguna apabila telah dipindah tangankan hak kepemilikannya. Atau menjadi berguna ketika menjadi hak milik.

Contoh Ownership Utility

Contoh Ownership Utility adalah telephon genggam baru dapat berguna ketika sudah menjadi milik sendiri.

5). Kegunaan Pelayanan (Service Utility)

Suatu barang akan menjadi berguna apabila ada jasa yang melayaninya.

Contoh Service Utility

Contoh Service Utility adalah telivisi baru akan berguna apabila ada program yang ditayangkan oleh stasiun televise. Ketika tidak ada tayangan apapun, maka televise menjadi tidak berguna.

Contoh Soal Perhitungan Pada Perilaku Konsumen Pendekatan Nilai Guna Kardinal,

Pada table di bawah ditunjukkan nilai guna total TU (total utility) dari barang yang dikonsumsi pada jumlah barang Q unit tertentu. Lengkapilah nilai guna marginal MU (marginal utility) dari jumlah barang yang dikonsumsi tersebut. Berapa jumlah barang yang dikonsumsi agar dicapai kepuasan maksimum dan buatkan Kurva TU dan MU nya.

Contoh Soal Perhitungan Perilaku Konsumen Pendekatan Nilai Guna Kardinal,
Contoh Soal Perhitungan Perilaku Konsumen Pendekatan Nilai Guna Kardinal,

Contoh Perhitungan Marginal Utility MU Pada Perilaku Konsumen Pendekatan Kardinal

Dari table diketahui, ketika jumlah barang yang dikonsumsi Q adalah satu unit, maka nilai guna total TU yang diperoleh adalah 10. Dan ketika konsumen menambah jumlah barang yang dikonsumsi sebanyak satu unit, maka nilai marginal utility MU dapat dicari dengan cara berikut

Diketahui

Q1 = 1

TU1 = 10

Q2 = 2

Dari table diketahui, bahwa nilai guna total TU yang diperoleh ketika mengkonsumsi dua unit barang adalah

TU2 = 18

Sehingga, Nilai Marginal Utility MU dapat dihitung dengan rumus berikut

MU = ΔTU/ΔQ

MU2 = (TU2 – TU1)/(Q2 – Q1)

MU2 = (18 – 10)/(2 – 1)

MU2 = 8/1

MU2 = 8

Jadi nilai guna marginal MU akibat penambahan barang yang dikonsumsi dari satu unit menjadi dua unit adalah MU = 8.

Nilai guna marginal MU akibat penambahan barang konsumsi satu unit berikutnya dapat dihitung dengan cara yang sama, seperti berikut

Q2= 2

Q3 = 3

TU2 = 18

TU3 = 24

Nilai Marginal Utility dapat dihitung dengan rumus berikut

MU3 = (TU3 – TU2)/(Q3 – Q2)

MU3 = (24 – 18)/(3 – 2)

MU3 = 6/1

MU3 = 6

Jadi nilai guna marginal MU yang diperoleh dengan mengkonsumsi tiga unit barang adalah MU = 6.

Untuk penambahan satu barang konsumsi sehingga barang yang dikonsumsi menjad1 empat unit barang, maka nilai guna marginalnya adalah

Q3= 3

Q4 = 4

TU3 = 24

TU4 = 88

Nilai Marginal Utility pada Q4 = 4 dihitung dengan rumus berikut

MU4 = (TU4 – TU2)/(Q4 – Q3)

MU4 = (28 – 24)/(4 – 3)

MU4 = 4/1

MU4 = 4

Jadi nilai guna marginal MU yang diperoleh dengan mengkonsumsi empat unit barang adalah MU = 4.

Tabel Hasil Perhitungan Marginal Utility MU Pada Perilaku Konsumen Pendekatan Kardinal

Hasil perhitung nilai guna marginal MU pendekatan kardinal secara keseluruhan ditunjukkan pada table berikut

Tabel Hasil Perhitungan Nilai Guna Marginal, Marginal Utility MU Pada Perilaku Konsumen Pendekatan Kardinal
Tabel Hasil Perhitungan Nilai Guna Marginal, Marginal Utility MU Pada Perilaku Konsumen Pendekatan Kardinal

Dari table dapat dikatakan, bahwa penambahan jumlah barang yang dikonsumsi menyebabkan peningkatan kepuasan yang ditunjukkan dengan nilai guna total naik. Pada saat belum mengkonsumsi apapun yaitu pada Q = 0, tentunya belum mendapatkan kepuasan dengan nilai guna total TU sama dengan nol.

Kepuasan pertama diperoleh ketika mengkonsumsi barang Q satu unit yang direpresentasikan dengan total utility TU sebesar 10. Hal ini berarti dengan mengkonsumsi satu barang mendapat kepuasan dengan nilai guna marginal MU sebesar 10.

Penambahan satu barang yang dikonsumsi dapat meningkatkan nilai guna total yang semula 10 menjadi 18. Peningkatan kepuasan ini terus naik seiring dengan penambahan barang yang dikonsumsi. Namun demikian Nilai guna marginal MU akibat penambahan satu unit barang ini turun yang semula 10 menjadi 8.

Setiap peningkatan barang yang dikonsumsi akan meningkatkan nilai guna total yang diikuti dengan menurunnya nilai guna marginalnya, sampai akhirnya nilai guna total tidak dapat naik lagi dan setelah itu nilai guna total akan turun akibat penambahan barang yang dikonsumsinya.

Pengertian Niai Guna Total Maksimum

Ketika barang yang dikonsumsi sudah mencapai enam barang, maka penambahan barang berikutnya tidak lagi meningkatkan kepuasan yang ditunjukkan dengan nilai guna TU yang turun. Nilai guna total TU mencapai maksimum pada jumlah barang Q sama dengan 6 unit.

Pada table terlihat, Ketika Q = 6, nilai guna marginal MU adalah nol, MU = 0. Ini artinya syarat kepuasan maksimum atau nilai guna total TU maksimum tercapai ketika nilai guna marginal MU sama dengan nol.

Membuat Grafik Kurva Nilai Guna Total TU  dan Nilai Guna Marginal MU Pada Pendekatan Kardinal

Grafik total utility TU dan marginal utility MU dibangun oleh sumbu horisontal yang menunjukkan jumlah barang Q yang dikonsumsi, dan sumbu vertikal yang menujukkan nilai guna total TU dan nilai guna marginal MU.

Dengan memplot data data dari table di atas, akan diperoleh grafik yang menunjukkan kurva TU dan MU seperti gambar berikut

Membuat Grafik Kurva Nilai Guna Total TU dan Nilai Guna Marginal MU Pada Perilaku Konsumen Pendekatan Kardinal
Membuat Grafik Kurva Nilai Guna Total TU dan Nilai Guna Marginal MU Pada Perilaku Konsumen Pendekatan Kardinal

Dari gambar di atas dapat diketahui bahwa, kurva nilai guna total TU meningkat dengan meningkatnya barang yang dikonsumsi sampai pada jumlah barang Q = 6. dan setelah itu kurva TU turun.

Sedangkan kurva nilai guna marginal MU menurun dengan penambahan barang yang dikonsumsi, dan nilai guna marginal menjadi nol saat nilai guna total TU mencapai maksimumnya. Nilai TU maksimum merupakan kepuasan maksimum yang diperoleh dari mengkonsumsi barang Q.

Nilai guna marginal MU menjadi negative jika barang yang dikonsumsi lebih dari enam unit yang diiringi dengan penurunan nilai guna totalnya.

Indifference Curve Budget Line Teori Perilaku Konsumen Pendekatan Ordinal, Contoh Perhitungan

Daftar Pustaka:

  1. Sartono, Agus, R., “ 2001, “Manajemen Keuangan Teori dan Aplikasi”, Edisi Keempat, BPFE Yogyakarta, Yogyakarta.
  2. Ahman H., Eeng. Rohmana, Yana, 2007, “Ilmu Ekonomi dalam PIPS”, Edisi Pertama, Penerbit Unuversitas Terbuka, Jakarta.
  3. Sukirno, S, 2011, “Mikroekonomi Teori Pengantar”, PT Raja Grafindo Persada, Edisi Ketiga, Cetatakan Ke 26, Jakarta.
  4. Joesron, Suharti, Tati. Fathorrrazi, M., 2012, “Teori Ekonomi Mikro”, Edisi Pertama, Graha Ilmu, Yogyakarta.
  5. Jhingan, M.L., 2008, “Ekonomi Pembangunan Perencanaan”, Edisi Pertama, PT RajaGrafindo Persada, Jakarta.
  6. Ahman, H., E., Rohmana, Y., 2007,”Ilmu Ekonomi Dalam PIPS”, Edisi Kedua, Cetakan Pertama, Penerbit Universitas Terbuka, Jakarta.
  7. Ardra.Biz, 2019, “Contoh Soal Nilai Guna Total dan Marginal Barang atauFaktor Yang Mempengaruhi Nilai Guna Barang dan Faktor Yang Mempengaruhi Nilai Guna Barang Dan Jasa.
  8. Ardra.Biz, 2019, “Jenis Nilai Guna Barang dan Jasa dengan Nilai Kegunaan Wakru (time utility) atau Nilai Kegunaan Tempat (place utility) dan Kegunaan Bentuk (form utility).
  9. Ardra.Biz 2019, “Nilai Kegunaan Hak Milik (Ownership Utility) dan Kegunaan Pelayanan (service utility) dengan Contoh Nilai guna barang dan jasa. Nilai Guna Total dan Nilai Guna Marginal dengan Contoh nilai guna total dan Contoh nilai guna marginal.
  10. Hukum Increasing Total Utility Pada Perilaku Konsumen Pendekatan Kaedinal, Hukum Law of Diminishing Marginal Utility Pada Perilaku Konsumen Pendekatan Kaedinal, Rumus Perhitungan Nilai Marginal Utility, Rumus Cara menghitung Nilai Guna Marginal, Contoh Soal Perhitungan Perilaku Konsumen Pendekatan Nilai Guna Kardinal, Contoh Perhitungan Marginal Utility MU Pada Perilaku Konsumen Pendekatan Kaedinal,
  11. Tabel Hasil Perhitungan Nilai Guna Marginal, Marginal Utility MU Pada Perilaku Konsumen Pendekatan Kaedinal, Membuat Grafik Kurva Nilai Guna Total TU dan Nilai Guna Marginal MU Pada Perilaku Konsumen Pendekatan Kaedinal, Gambar Grafik total utility TU dan marginal utility MU, Nilai Guna Total Maksimum, Cara Mengnitung Nilai Guna Total Maksimum, Syarat Nilai Guna Total Maksimum,

Nilai Pakai Dan Nilai Tukar Barang Jasa

Pengertian Nilai Pakai dan Tukar Barang/Jasa. Barang – barang hasil produksi dan jasa akan memiliki nilai apabila barang tersebut dapat digunakan untuk memenuhi berbagai kebutuhan hidup, baik jasmani maupun rohani. Setiap orang mungkin memberikan nilai yang berbeda terhadap suatu barang, karena memiliki tujuan yang berbeda terhadap penggunaannya.

Sebagian orang memberikan nilai terhadap barang karena barang tersebut digunakannya, namun sebagian lagi memberikan nilai untuk barang yang akan ditukar dengan barang lain atau dijualnya kembali.

Nilai Pakai

Nilai pakai adalah kemampuan suatu barang atau jasa untuk digunakan dalam memenuhi kebutuhan manusia. Nilai pakai dapat dikelompokkan menjadi  dua macam yaitu.

  • Nilai Pakai Objektif.

Nilai pakai objektif adalah nilai yang diberikan terhadap suatu barang atau benda atau suatu jasa yang ditinjau dari penggunaannya secara umum.

Contohnya adalah pakaian, kendaraan, perhiasan dan pakaian.

  • Nilai Pakai Subjektif

Nilai pakai subjektif adalah nilai yang diberikan pada suatu barang/ benda atau jasa yang ditinjau dari orang dan individu yang memanfaatkan atau memakai barang atau jasa tersebut.

Contohnya adalah computer bagi para pegawai dan pelajar, buku pelajaran bagi pelajar dan mahasiswa, kamera untuk para wartawan atau fotografer dan sebagainya.

Nilai Tukar

Nilai tukar adalah kemampuan suatu barang atau jasa untuk dapat dipertukarkan dengan barang dan jasa lain. Nilai tukar dapat dikelompokkan menjadi dua yaitu nilai tukar objektif dan nilai tukar subjektif.

  • Nilai Tukar Objektif

Nilai tukar objektif adalah kemampuan suatu barang atau jasa untuk dapat dipertukarkan dengan barang dan jasa lain.

Contohnya adalah emas, berlian, computer, kursi, dan meja.

  • Nilai Tukar Subjektif

Nilai tukar subjektif adalah kemampuan barang dan jasa bagi orang atau individu bila dipertukarkan dengan barang dan jasa lain.

nilai-pakai-dan-nilai-tukar-barang dan Jasa
nilai-pakai-dan-nilai-tukar-barang dan Jasa

Contohnya Ardra dapat menukarkan computer laptop dengan telephon genggam. Sedangkan Temannya Ardra dapat menukarkan laptop dengan sejumlah Compact Disc berisi lagu. Ini artinya, Nilai tukar barang sangat tergantung pada kemampuan orang yang menukarkan barang tersebut.

Daftar Pustaka:

  1. Jhingan, M.L., 2008, “Ekonomi Pembangunan Perencanaan”, Edisi Pertama, PT RajaGrafindo Persada, Jakarta.
  2. Ahman, H., E., Rohmana, Y., 2007,”Ilmu Ekonomi Dalam PIPS”, Edisi Kedua, Cetakan Pertama, Penerbit Universitas Terbuka, Jakarta.
  3. Sukirno, S, 2011, “Mikroekonomi Teori Pengantar”, PT Raja Grafindo Persada, Edisi Ketiga, Cetatakan Ke 26, Jakarta.
  4. Joesron, Suharti, Tati. Fathorrrazi, M., 2012, “Teori Ekonomi Mikro”, Edisi Pertama, Graha Ilmu, Yogyakarta.
  5. Sartono, Agus, R., “ 2001, “Manajemen Keuangan Teori dan Aplikasi”, Edisi Keempat, BPFE Yogyakarta, Yogyakarta.
  6. Ahman H., Eeng. Rohmana, Yana, 2007, “Ilmu Ekonomi dalam PIPS”, Edisi Pertama, Penerbit Unuversitas Terbuka, Jakarta.
  7. Ardra.Biz, 2019, “Kata dalam artikel Pengertian Nilai Pakai dan Tukar Barang/Jasa Pengertian Nilai Pakai barang  jasa. Nilai Pakai Objektif dan Nilai Pakai Subjektif dengan contoh nilai pakai barang jasa.
  8. Ardra.Biz, 2019, “Contoh nilai tukar barang jasa atau contoh nilai pakai subjektif dan objektif barang jasa. Nilai Tukar barang jasa yang Nilai Tukar Objektif barang jasa.
  9. Ardra.Biz, 2019, “Nilai Tukar Subjektif barang jasa tapi Contoh nilai tukar objektif dan subjektif barang jasa. Contoh Soal Ujian Nilai Pakai dan Tukar Barang Jasa

Faktor Yang Mempengaruhi Konsumsi Rumah Tangga

Pengertian Konsumsi. Secara umum pengertian konsumsi dalam ilmu ekonomi adalah kegiatan yang sifatnya mengurangi atau menghabiskan nilai guna suatu barang atau jasa. Pengertian mengurangi atau menghabiskan adalah secara berangsur – angsur atau sekaligus.

Konsumsi rumah tangga dipengaruhi dua factor utama yaitu factor dari dalam konsumsi rumah tangga (atau factor intern) dan factor dari luar konsumsi rumah tangga (atau factor ekstern).

faktor-yang-mempengeruhi-konsumsi-rumah-tangga
faktor-yang-mempengeruhi-konsumsi-rumah-tangga

Factor Internal

Factor intern merupakan factor- factor yang mempengaruhi kegiatan konsumsi rumah tangga yang berasal dari dalam individu yang bersangkutan. Factor – factor tersebut adalah:

  • Motivasi

Motivasi merupakan dorongan untuk mengatur atau mengelola pembelanjaan rumah tangga agar dapat memenuhi kebutuhan hidup sehari – hari. Motivasi bersifat alamiah, dan kegiatannya bisa berdasarkan perencanaan atau sifatnya kebulan atau tanpa rencana,

  • Kepribadian

Kepribadian merupakan sifat dasar manusia yang langsung atau tidak langsung ikut bertanggung jawab atas pola konsumsi masyarakat, seperti sikap hemat atau boros.

  • Sikap Hidup.

Sikap hidup merupakan kebiasaan atau perilaku yang berkembang di lingkungan keluarga yang merupakan hasil didikan sejak dini, seperti kebiasaan memasak atau membeli makanan siap saji.

Factor Ekstern

Factor ekstern merupakan factor – factor yang mempengaruhi kegiatan transaksi konsumsi rumah tangga yang berasal dari luar rumah tangga atau datang dari lingkungan tempat rumah tangga berada atau lingkungan lainnya. Factor – factor tersebut adalah:

  • Pendapatan

konsumsi memerlukan pengorbanan berupa uang yang diperoleh dari penghasilan atau pendapatan. Besarnya pendapatan berpengaruh terhadap besarnya nilai konsumsi yang dilakukan. Secara umum, semakin tinggi pendapatan, maka semakin banyak pula barang dan jasa yang dapat dikonsumsi. Sebaliknya, konsumen dengan pendapatan rendah atau daya belinya rendah biasanya tidak bisa melakukan banyak kegiatan konsumsi.

  • Tingkat Harga

Jika  harga barang dan jasa kebutuhan hidup meningkat, maka konsumen harus mengeluarkan uang lebih banyak. Sebagian konsumen dapat secara cermat mengantisipasinya dengan mengurangi jumlah pembelian. Hal ini dilakukan jika kenaikan harga tersebut tidak diikuti oleh kenaikan pendapatan. Dengan kata lain, kenaikan harga barang cenderung menurunkan tingkat konsumsi masyarakat. Dan apabila harga barang menurun, maka tingkat konsumsi masayarakat akan naik.

  • Keterangan Barang dan Jasa

Masyarakat sebagai konsumen tidak selalu dapat mengkonsumsi barang dan jasa yang diinginkan. Hal ini disebabkan barang dan jasa tidak selalu tersedia di pasar. Jadi, meskipun konsumen memiliki banyak uang untuk membeli, konsumen tidak dapat mengkonsumsi barang yang diinginkan. Misalnya, ketika pasokan gas elpiji terhambat, jumlah gas elpiji yang tersedia di pasaran berkurang sehingga banyak konsumen yang tidak dapat mengkonsumsinya.

  • Prakiraan Harga di Masa Datang

Prakiraan harga barang di masa datang akan memengaruhi keputusan untuk pengeluaran konsumsi saat ini atau tidak. Jika konsumen memprakirakan bahwa harga barang akan naik di masa yang akan datang, maka konsumen akan cenderung membeli saat ini sebelum harganya benar-benar naik.

Misalnya, ketika pemerintah mengumumkan rencana kenaikan harga BBM, maka masyarakat akan membeli bahkan menimbun BBM sebelum harganya benar-benar naik. Sebaliknya, apabila konsumen memprakirakan harga akan turun, ia akan menunda konsumsi sampai harga benar-benar turun.

  • Kebudayaan

Kebudayaan adalah adat istiadat dan kebiasaan atau tata nilai yang berlaku atau dianut oleh lingkungan masyarakat tertentu, seperti upacara adat, pernikahan, atau perayaan atas kesuksesan hasil panen dan sebagainya.

  • Kondisi Sosial Masyarakat

Kondisi social masyarakat adalah sikap dan perilaku konsumsi masyarakat yang berada di sekitar lingkungan rumah tangga.

Contoh Soal Ujian Faktor Yang Mempengaruhi Konsumsi Rumah Tangga

1. Seseorang melakukan konsumsi bertujuan untuk . . . .
a. mengganti barang yang rusak
b. memenuhi kebutuhan hidup
c. menghasilkan barang dan jasa
d. menambah nilai guna suatu barang
e. memperoleh keuntungan

2. Andi membeli buku di toko buku. Dalam hal ini, buku memiliki kegunaan . . . .
a. bentuk
b. tempat
c. waktu
d. dasar
e. kepemilikan

Daftar Pustaka:

  1. Sukirno, Sadono, 2008, “Makroekonomi Teori Pengantar”, Edisi Ketiga, PT RajaGrafindo Persada, Jakarta.
  2. Prasetyo, P., Eko, 2011, “Fundamental Makro Ekonomi”, Edisi 1, Cetakan Kedua, Beta Offset, Yogyakarta.
  3. Mankiw, N., Gregory, 2003, “Teori Makroekonomi”, Edisi Kelima, Penerbit Erlangga, Jakarta.
  4. Putong, Iskandar. Andjaswati, N.D., 2008, “Pengantar Ekonomi Makro”, Edisi Pertama, Penerbit Mitra Wacana Media, Jakarta.
  5. Firdaus, R., Ariyanti, M., 2011, ”Pengantar Teori Moneter serta Aplikasinya pada Sistem Ekonomi Konvensional dan Syariah”, Cetakan Kesatu, AlfaBeta, cv, Bandung.
  6. Jhingan, M.L., 2008, “Ekonomi Pembangunan Perencanaan”, Edisi Pertama, PT RajaGrafindo Persada, Jakarta.
  7. Samuelson, A., Paul. Nordhaus, D., William, 2004, “Ilmu Makro Ekonomi”, Edisi 17, PT Media Global Edukasi, Jakarta.
  8. Ardra.Biz, 2019, “Contoh Soal Ujian Faktor Yang Mempengaruhi Konsumsi Rumah Tangga dengan Factor Ekstern dan Faktor Ekstern. Kebudayaan Kondisi Sosial Masyrakat sebagai Faktor Internal Kepribadian Sikap Hidup.
  9. Ardra.Biz, 2019, “Faktor Yang Mempengaruhi Konsumsi Rumah Tangga dengan Keterangan Barang dan Jasa. Kondisi Sosial Mayarakat dan Pengertian Motivasi atau Prakiraan Harga di Masa Datang.
  10. Ardra.Biz, 2019, “Faktor motivasi konsumsi rumah tangga dan Faktor budaya terhadap konsumsi rumah tangga. Sedangkan Faktor harga pada konsumsi rumah tangga dan Faktor pendapatan pada konsumsi atau Faktor sikap hidup pada konsumsi.

Teori Sistem Pemberian Upah, Penjelasan Kebijakan Upah Minimum dan Contoh Soal

Pengertian Upah.  Pada prinsipnya upah merupakan hak harus diterima bagi pekerja atau karyawan yang dinyatakan dalam bentuk uang sebagai imbalan dari pengusaha atau pemberi kerja yang ditetapkan dan dibayarkan menurut suatu perjanjian kerja, kesepakatan atau peraturan perundang-undangan, termasuk tunjangan bagi pekerja dan keluarganya atas suatu pekerjaan dan atau jasa yang telah atau akan dilakukan.

Pengertian Upah Menurut Padar Ahli

Beberapa Pengertian Upah Menurut Para Ahli diantaranya adalah:

Upah Menurut Edwin B. Flippo

Edwin B. Flippo dalam Principles of Personal Management menyatakan, bahwa upah adalah Harga untuk jasa yang telah diterima atau diberikan oleh orang lain bagi kepentingan seseorang atau badan hukum.

Upah Menurut Iman Soepomo

Iman Soepomo mendefinisikan, bahwa upah adalah Pembayaran yang diterima buruh selama ini melakukan pekerjaan atau dipandang melakukan pekerjaan.

Upah Menurut Gunawi Kartasapoetra

Gunawi Kartasapoetra menyatakan bahwa upah adalah Pembayaran atau imbalan yang wujudnya dapat bermacam-macam yang dilakukan atau diberikan oleh seseorang/suatu kelembagaan atau instansi terhadap orang lain atas usaha, kerja dan prestasi kerja atau pelayanan (servicing) yang telah dilakukannya.

Upah Menurut Siswanto Sastrohadiwiryo

Siswanto Sastrohadiwiryo, menyatakan bahwa upah adalah imbalan jasa atau balas jasa yang diberikan oleh perusahaan kepada para tenaga kerja, karena tenaga kerja tersebut telah memberikan sumbangan tenaga dan pikiran demi kemajuan perusahaan guna mencapai tujuan yang telah ditetapkan.

Upah Menurut Konvesni ILO

Pasal 1 Konvensi ILO Nomor 100 yang telah diratifikasi oleh Undang-Undang Nomor 80 Tahun 1957 tentang Ratifikasi Konvensi ILO Nomor 100.

Menurut konvensi ILO, pengupahan meliputi upah atau gaji biasa, pokok atau minimum dan pendapatan-pendapatan tambahan apapun juga yang secara tunai atau dengan barang oleh pengusaha kepada pekerja berhubungan dengan pekerjaan pekerja

Upah Menurut UU No 13 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan

Pasal 1 angka 30 Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 disebutkan bahwa upah adalah hak pekerja/buruh yang diterima dan dinyatakan dalam bentuk uang sebagai imbalan dari pengusaha atau pemberi kerja kepada pekerja/ buruh yang ditetapkan dan dibayarkan menurut suatu perjanjian kerja, kesepakatan, atau peraturan perundang-undangan, termasuk bagi pekerja/ buruh dan keluarganya atas suatu pekerjaan dan/atau jasa yang telah atau akan dilakukan.

Upah Menurut PP RI No 8 Tahun 1981 Tentang Perlindungan Upah

Berdasarkan Peraturan Permirintah Tentang Perlindungan Upah, dinyatakan bahwa upah adalah suatu penerimaan sebagai imbalan dari pengusaha kepada pekerja/ buruh untuk suatu pekerjaan atau jasa yang telah atau akan dilakukan dinyatakan atau dinilai dalam bentuk uang yang ditetapkan menurut suatu persetujuan, atau peraturan perundang-undangan dan dibayarkan atas dasar suatu perjanjian kerja antara pengusaha dengan pekerja/buruh termasuk tunjangan, baik untuk sendiri maupun keluarga.

Pengertian Teori Upah Normal. 

Teori ini disebut juga teori upah alami atau natural wages. Pada teori ini dinyatakan bahwa besarnya tingkat upah yang diberikan kepada pekerja didasarkan pada biaya yang dikeluarkan untuk kelangsungan hidup pekerja beserta keluarganya dan tentu saja tingkat upah ini akan disesuaikan dengan kemampuan perusahaan.

Teori upah ini merepresentasikan bahwa besarnya tingkat upah akan selalu mengalami perubahan, baik naik maupun turun. Perubahan upah ini dipengaruhi oleh jumlah penawaran tenaga kerja.

teori-sistem-pemberian-upah
teori-sistem-pemberian-upah

Jika upah rendah, maka kesejahteraan pegawai dan keluarganya menjadi kurang terjamin. Kondisi ini akan menimbulkan pertambahan penduduk rendah. Pengaruh selanjutnya adalah jumlah penawaran tenaga kerja menjadi kurang. Sehingga mengakibatkan upah cenderung naik.

Demikian puka sebaliknya, jika upah tinggi, maka kesejahteraan pegawai dan keluarganya akan terjamin. Pertambuahan penduduk meningkat. Pengaruh selanjutnya, penawaran tenaga kerja ikut naik. Akibatnya melimpahnya tenaga kerja maka, upah cenderung turun. Teori ini dikemukakan oleh ilmuwan David Ricardo.

Teori Upah Besi

Teori upah ini menjelaskan adanya tingkat upah yang ditetapkan oleh perusahaan. Penetapan bertujuan agar tingkat upah menjadi rendah. Hal ini dilakukan agar perusahaan memperoleh keuntungan yang lebih besar.

Pada tingkat upah yang rendah, pekerja hanya dapat menerima kenyataan dan tidak dapat mempengaruhi tingkat upah. Konsekuensinya adalah para pekerja hanya dapat memenuhi hidupnya pada tingkat yang sangat minimal.

Pekerja terpaksa menerima pekerjaan dengan tingkat upah yang rendah karena kedudukan pekerja di mata perusahaan sangat lemah. Teori ini disampaikan oleh Ferdinand Lasalle.

Teori Upah Etika.

Teori upah ini menjelaskan tentang tingginya upah yang diterima para pekerja agar dapat menjamin kehidupan pekerja yang bersangkutan beserta keluarganya secara layak atau baik.

Tingkat upah ini merupakan upah yang seharusnya diterima olah para pekerja. Teori ini tidak semata – mata hanya memperhatikan pekerja saja, namun juga memperhatikan keluarganya.

Teori Upah Produktivitas Batas Kerja           

Teori upah ini termasuk sebagai teori upah modern. Tinggi rendahnya tingkat upah tergantung dari kemampuan atau produktivitas tenaga kerja itu sendiri. Untuk membatasi agar  produktivitas tenaga kerja tidak berlebihan, maka ditetapkan batas produktivitas tenaga kerja yang biasa disebut dengan marginal productivity.

Teori upah ini awalnya dikemukakan oleh Von Thunen dan disempurnakan oleh J.B Clark

Sistem Pemberian Upah

Pada dasarnya upah dapat dibedakan menjadi upah nominal dan upah riil.

Upah Nominal

Upah nominal adalah besarnya uang yang diterima para pekerja sebagai balas jasa atas faktor produksi tenaga kerja yang mereka serahkan.

Upah nominal adalah sejumlah uang yang dibayarkan kepada karyawan atau pekerja yang berhak secara tunai sebagai imbalan atas pengerahan jasa- jasa atau pelayanannya sesuai dengan ketentuan- ketentuan yang terdapat dalam perjanjian kerja dengan perusahaan atau suatu organisasi kerja.

Dalam upah nominal tidak ada tambahan atau keuntungan yang lain yang diberikan kepadanya.

Upah nominal ini sering disebut sebagai upah uang (money woges) karena dibayarkan uang uang secara keseluruhannya.

Upah Riil (riil wage)

Upah rill adalah besarnya barang dan jasa yang dapat diperoleh atau dibeli dengan jumlah upah yang mereka terima.

Upah nyata atau riil adalah upah uang yang nyata yang benar- benar harus diterima oleh pekerja karyawan yang berhak. Upah riil atau nyata ini ditentukan oleh daya beli upah tersebut yang akan banyak tergantung pada besar atau kecilnya jumlah uang yang diterima dan besar atau kecilnya biaya hidup yang diperlukan.

Upah riil dapat diterima dalam bentuk uang dan fasilitas atau lainnya, sehingga upah nyata riil yang diterimanya merupakan jumlah upah uang dan nilai rupiah dari fasilitas tersebut.

 Jenis Jenis Sistem Pemberian Upah

Beberapa sistem pemberian upah dapat dibagi sebagai berikut:

Sistem Upah Jangka Waktu.

Sistem Pemberian upah Menurut waktu, berdasarkan lamanya waktu bekerja.

Menurut sistem pengupahan ini upah ditetapkan menurut jangka waktu buruh melakukan pekerjaan. Untuk tiap jam diberi upah jam-jaman, untuk bekerja harian diberi upah harian, untuk seminggu bekerja diberi upah mingguan, untuk sebulan bekerja dibari upah bulanan dan sebagainya.

Cara ini memungkinkan mutu pekerjaan yang baik karena karyawan tidak tergesaa-gesa, tetapi perlu pengawasan dan regulasi untuk memastikan karyawan benar-benar bekerja selama jam kerja.

Sistem Upah Borongan

System Pemberian upah Borongan, berdasarkan pada prestasi kerja sampai dengan selesainya pekerjaan yang diserahkan.

Sistem upah borongan adalah balas jasa yang dibayar untuk suatu pekerjaan yang diborongkan. Cara memperhitungkan upah ini kerap kali dipakai pada suatu pekerjaan yang diselesaikan oleh suatu kelompok pekerja.

Untuk seluruh pekerjaan ditentukan suatu balas jasa, yang kemudian dibagi-bagi antara para pelaksanan. Misalnya untuk peembangunan gedung, pembuatan sumur dan lainnya.

Sistem Upah Prestasi, Potongan

Sistem upah prestasi, pemberian upah per satuan, berdasarkan banyaknya, jumlah satuan hasil pekerjaan

Sistem upah potongan atau prestasi sering digunakan untuk mengganti sistem upah jangka waktu, ketika hasil pekerjaan tidak memuaskan. Karena upah ini hanya dapat ditetapkan jika hasil pekerjaan dapat diukur menurut ukuran tertentu, misalnya jumlah banyaknya, jumlah beratnya, jumlah luasnya dari apa yang dikerjakan, maka sistem pengupahan ini tidak dapat digunakan di semua perusahaan.

Sistem  Upah Premi Atau Bonus

System pemberian upah Bonus, berdasarkan perpaduan antara upah menurut waktu dan upah per satuan.

 Upah dasar untuk prestasi normal berdasarkan waktu atau jumlah hasil. Apabila seorang karyawan mencapai prestasi yang lebih dari itu, ia diberi premi.

Premi dapat juga diberikan misalnya untuk penghematan waktu dan bahan baku, kualitas produk yang baik dan lain sebagainya.

Sistem Upah Bagi Hasil

Sistem ini banyak dipakai di bidang pertanian dan dalam usaha keluarga, namun juga di kenal di luar kalangan itu, yang mana karyawan ikut menerima bagian dari keuntungan bersih perusahaan, bahkan diberi saham perusahaan tempat mereka bekerja sehingga ikut menjadi pemilik dan mendapat bagi hasil.

Sistem Upah Permupakatan

Sistem pengupahan ini pada dasarnya adalah upah potongan, yaitu upah untuk hasil pekerjaan tertentu, misalnya pada pembuatan jalan, pekerjaan memuat, membongkar dan mengangkut barang dan sebagainya, tetapi upah itu bukanlah diberikan kepada buruh masing-masing, melainkan kepada sekumpulan buruh yang bersama-sama melakukan pekerjaan.

Sistem Pemberian Upah Indeks

System pemberian upah Indeks, berdasarkan indeks harga kebutuhan pokok sehari – hari.

Sistem Pemberian Upaj Mitra Kerja

System pemberian upah mitra kerja atau mitra usaha, pekerja mendapat upah dan bagian laba usaha dari perusahaan tempat pekerja bekerja.

Sistem Pemberian Upah Skala

System pemberian upah skala, berdasarkan pada perhitungan skala hasil penjualan perusahaan

Sistem Pemberian Upah Partisipatif

System pemberian upah secara partisipasi (profit sharing), berdasarkan ketentuan perusahaan yang berlaku dan ditambah dengan bagian keuntungan perusahaan.

Faktor Yang Mempengaruhi Besarnya Nilai Upah

Ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi tinggi rendahnya upah diantaranya adalah

1). Penawaran dan Permintaan

Suatu penawaran dari tenaga kerja tinggi karena mempunyai keahlian/ skill, sedang permintaan untuk rekrutannya sedikit maka upah yang ditawarkan cenderung tinggi, tetapi apabila penawaran rendah/under skill sedang permintaan banyak upah cenderung rendah.

2). Organisasi Serikat Pekerja

Lemah dan kuatnya serikat pekerja di dalam melakukan bargaining akan mempengaruhi tinggi rendahnya upah.

3). Kemampuan Membayar

Meskipun ada tuntutan dari pekerja kalau tidak ada kemampuan membayar maka upah belum tentu naik, hal ini dikarenakan upah merupakan salah satu komponen harga produksi yang sangat diperhitungkan oleh seorang pengusaha.

4). Produktivitas

Upah sebenarnya merupakan imbalan atas prestasi kerja, semakin tinggi prestasi yang diberikan upah cenderung naik.

5). Biaya Hidup

Lingkungan tempat tinggal akan mempengaruhi kebutuhan hidup seseorang, dengan biaya hidup tinggi seperti yang terjadi di kota-kota besar upah cenderung tinggi, tetapi apabila di daerah terpencil upah cenderung rendah.

6). Pemerintah

Kebijakan pemerintah dalam mengeluarkan peraturan ketenagakerjaan juga dapat mempengaruhi tinggi rendahnya upah. Misalnya dengan penetapan upah minimum provinsi.

Kebijaksanaan Pemerintah Tentang Upah

Kebijakan pemerintah tentang upah yang bertujuan untuk melindungi para pekerja atau buruh dituangkan dalam Undang Undang Ketenagakerjaan Pasal 88 ayat 3 yang meliputi:

a). Upah minimum;

b). Upah kerja lembur;

c). Upah tidak masuk kerja karena berhalangan;

d). Upah tidak masuk kerja melakukan kegiatan lain di luar pekerjaannya;

e). Upah karena menjalankan hak waktu istirahat kerjanya;

f). Bentuk dan cara pembayaran upah;

g). Hal-hal yang dapat diperhitungkan dengan upah;

h). Struktur dan skala pengupahan yang proposional;

i). Upah untuk pembayaran pesangon;

j). Upah untuk perlindungan pajak penghasilan

Kebijakan Upah Minimum

Upah minimum bisa ditetapkan jika pihak pemerintah menetapkan upah paling rendah yang mungkin bisa dibayar kepada seorang pekerja untuk satu jangka waktu tertentu.

Hal ini dilakukan pemerintah untuk mengontrol para majikan yang memperalat pekerja untuk mendapatkan keuntungan maksimum dengan cara menyeimbangkan antara upah dan hasil produksi.

Ketentuan mengenai upah minimum diatur dalam pasal Pasal 88 sampai dengan 92 Undang-undang Ketenagakerjaan dan Peraturan Menteri Tenaga kerja dan Transmigrasi No 7 Tahun 2013 tentang Upah minimum.

Upah minimum menurut Pasal 1 angka 1 Permenakertrans No 7 Tahun 2013 adalah upah terendah yang terdiri dari upah pokok termasuk tunjangan tetap oleh Gubernur sebagai jarring pengaman.

Tujuan Penentuan Upah Minimum

Tujuan utama penentuan upah minimum adalah untuk mengontrol kesewenang-wenangan majikan dalam menentukan upah. Oleh sebab itu, majikan tidak dapat membayar upah pekerja kurang dari upah yang telah ditentukan kadar minimumnya.

Upah minimum telah digunakan untuk melindungi dan menjamin jerih payah serta keringat para buruh dibayar sesuai dengan ketentuan. Aturan tersebut merupakan tinjauan moral bukan tinjauan ekonomi.

Contoh Soal Ujian Teori Sistem Pemberian Upah, Penjelasan Contoh Soal.

Soal 1. revisi

Daftar Pustaka:

  1. Sukirno, S, 2011, “Mikroekonomi Teori Pengantar”, PT Raja Grafindo Persada, Edisi Ketiga, Cetatakan Ke 26, Jakarta.
  2. Joesron, Suharti, Tati. Fathorrrazi, M., 2012, “Teori Ekonomi Mikro”, Edisi Pertama, Graha Ilmu, Yogyakarta.
  3. Sartono, Agus, R., “ 2001, “Manajemen Keuangan Teori dan Aplikasi”, Edisi Keempat, BPFE Yogyakarta, Yogyakarta.
  4. Ahman, H., E., Rohmana, Y., 2007,”Ilmu Ekonomi Dalam PIPS”, Edisi Kedua, Cetakan Pertama, Penerbit Universitas Terbuka, Jakarta.
  5. Ahman H., Eeng. Rohmana, Yana, 2007, “Ilmu Ekonomi dalam PIPS”, Edisi Pertama, Penerbit Unuversitas Terbuka, Jakarta.
  6. Jhingan, M.L., 2008, “Ekonomi Pembangunan Perencanaan”, Edisi Pertama, PT RajaGrafindo Persada, Jakarta.
  7. Ardra.Biz, 2019, “Sistem Pemberian Upah, Teori Sistem Pemberian Upah dan Teori Upah Besi atau Teori Upah Etika. Teori Upah Produktivitas Batas Kerja dengan Contoh Upah Besi. 
  8. Ardra.Buz, 2019, “Teori Upah Besi Ferdinand Lasalle dengan Contoh Teori Upah Etika dan Contoh Teori Upah Produktivitas Batas Kerja. Teori upah modern dan Teori upah Von Thunen serta Teori Upah JB Clark dengan Contoh Sistem Pemberian Upah.
  9. Ardra.Biz, 2019, “Pengertian upah nominal dan upah riil dengan Contoh upah nominal dan upah riil. Jenis sistem pemberian upah dengan Sistem Pemberian upah Menurut waktu dan berdasarkan lamanya waktu bekerja
  10. Ardra.Biz, 2019, “Sistem Pemberian upah per satuan dengan System Pemberian upah Borongan dan System pemberian upah Bonus.
  11. Ardra.Biz, 2019, “System pemberian upah Indeks dengan System pemberian upah mitra kerja atau mitra usaha atau System pemberian upah skala. System pemberian upah secara partisipasi (profit sharing).

Konsep Persamaan Laju Reaksi Kimia.

Pengertian Kecepatan Reaksi. Laju reaksi merupakan laju berkurangnya jumlah reaktan atau laju bertambahnya jumlah produk dalam satuan waktu. Laju reaksi ditentukan melalui percobaan dengan cara mengukur banyaknya pereaksi yang dihabiskan atau dengan mengukur banyaknya produk yang dihasilkan pada selang waktu tertentu.

Pada system homogen, laju reaksi umumnya dinyatakan sebagai laju pengurangan konsentrasi molar pereaksi atau laju pertambahan konsentrasi molar produk dalam waktu tertentu.

Jumlah suatu zat yang dihabiskan dalam reaksi maupun yang dihasilkan dalam reaksi dapat dinyatakan dengan berbagai macam satuan, misalnya gram, mol, atau konsentrasi, sedangkan satuan waktu dapat berupa detik, menit, jam, hari ataupun tahun.

konsep-laju-reaksi-kimia-persamaan
konsep-laju-reaksi-kimia-persamaan

Apabila reaksi seperti berikut

R → P, maka laju reaksinya adalah

vR = – ∆[R]/∆t = laju pengurangan konsentrasi molar reaktan dalam waktu tertentu

vP = +∆[P]/∆t = laju pertambahan konsentrasi molar produk dalam waktu tertentu

Contoh Soal Perhitungan Laju Reaksi

Pada reaksi zat A menjadi zat B diketahui bahwa konsentrasi zat A mula-mula 8 M, setelah 3 detik menjadi 2 M. Tentukan laju reaksinya?

Jawab:

Perubahan konsentrasi=  c = (8 – 2) M = 6 M

Perubahan waktu = ∆t = 3 detik

Dengan demikian, laju reaksi dari zat A menjadi Zat B adalah:

v=∆c/t

v= 6/3

v = 2 M/detik

Untuk system reaksi yang lebih kompleks, maka laju reaksi akan sama dengan berkurangnya konsentrasi masing – masing reaktan atau bertambahnya konsentrasi setiap produknya.

Apabila reaksi seperti berikut:

aA + bB → cC + dD

Maka Laju reaksinya adalah:

vA = – ∆[A]/∆t

vB = – ∆[B]/∆t

vD = + ∆[C]/∆t

vD = + ∆[D]/∆t.

Perbandingan laju reaksi zat – zat dalam reaksi sama dengan perhitungan koefiensi reaksinya

vA : vB : vc : vD = a : b : c : d

Persamaan Laju Reaksi Kimia.

Persamaan laju reaksi kimia menyatakan hubungan antara konsentrasi reaktan dengan laju reaksi. Secara umum, persamaan laju reaksi dituliskan sebagai berikut:

aA + bB → cC + dD

Persamaan laju reaksi kimianya adalah:

v = k [A]m [B]n

Dengan

v = laju reaksi

[A] = konsentrasi zat A

[B] = konsentrasi zat B

m = order reaksi zat A

n = order reaksi zat B

k = konstanta laju reaksi

Persamaan laju reaksi di atas disebut persamaan laju reaksi atau hukum laju reaksi. Persamaan laju reaksi seperti itu menyatakan hubungan antara konsentrasi pereaksi dengan laju reaksi. Bilangan pangkat pada persamaan di atas disebut sebagai orde reaksi atau tingkat reaksi pada reaksi yang bersangkutan.

Nilai Orde reaksi hanya dapat ditentukan dari percobaan atau eksperimen. Orde reaksi pada reaksi secara keseluruhan disebut seaagai orde reaksi total. Besarnya orde reaksi total adalah jumlah semua orde reaksi pereaksi. Sehingga, orde reaksi total (orde reaksi) pada reaksi tersebut di atas adalah m + n.

Contoh Soal Penentuan Orde Reaksi

Perhatikan Contoh  reaksi berikut

2H2(g) + 2NO(g) → H2O(g) + N2(g)

Maka persamaan laju reaksinya dapat ditulis sebagai berikut:

v = k . [H2] [NO2]2,

Reaksi tersebut mempunyai tingkat (atau orde) pertama terhadap H2 dan tingkat (atau orde) kedua terhadap NO. Sehingga secara keseluruhan reaksi tersebut merupakan tingkat (atau orde) ketiga.

    Daftar Pustaka:

    1. Sunarya, Yayan, 2014, “Kimia Dasar 1, Berdasarkan Prinsip Prinsip Kimia Terkini”, Cetakan Ketiga, Yrama Widya, Bandung.
    2. Brady, James, E,1999, “Kimia Universitas Asas dan Struktur”, Edisi Kelima, Jilid Satu, Binarupa Aksara, Jakarta,
    3. Brady, James, E., 1999, “Kimia Universitas Asas dan Struktur”, Edisi Kelima, Jilid Dua, Binarupa Aksara, Jakarta.
    4. Sunarya, Yayan, 2013, “Kimia Dasar 2, Berdasarkan Prinsip Prinsip Kimia Terkini”, Cetakan Kedua, Yrama Widya, Bandung.
    5. Syukri, S., 1999, “Kimia Dasar 2”, Jillid 2, Penerbit ITB, Bandung
    6. Chang, Raymond, 2004, “Kimia Dasar, Konsep -konsep Inti”, Edisi Ketiga, Jilid Satu, Penerbit, Erlangga, Jakarta.
    7. Ardra.Biz, 2019, “Pengertian Kecepatan Reaksi dengan Pengertian Laju reaksi dan Cara menentukan laju reaksi.  Laju reaksi system homogen atau laju pengurangan konsentrasi molar pereaksi atau laju pertambahan konsentrasi molar produk.
    8. Ardra.Biz, 2019, “Satuan Laju reaksi kimia dengan Contoh laju reaksi kimia dan Rumus laju pengurangan konsentrasi. Rumus laju pertambahan konsentrasi dan Contoh Soal Perhitungan Laju Reaksi.
    9. Ardra.Biz, 2019, “Rumus Perubahan konsentrasi atau Laju  system reaksi kompleks dengan Persamaan Laju Reaksi Kimia. Hukum laju reaksi beserta Pengertian orde reaksi atau tingkat reaksi dan Contoh Soal Penentuan Orde Reaksi,

    Persamaan Tetapan Kesetimbangan Reaksi Kimia

    Pengertian Persamaan Tetapan Kesetimbangan Reaksi Kimia. Pada tahun 1864 Cato Gulberg dan Peter Wage menemukan adanya suatu hubungan yang tetap antara konsentrasi komponen dalam kesetimbangan, hubungan yang tetap ini disebut dengan hukum kesetimbangan atau hukum massa.

    Pada dasarnya Tetapan kesetimbangan menunjukkan komposisi pereaksi dan hasil reaksi dalam keadaan setimbang pada temperature tertentu. Hukum kesetimbangan menyatakan bahwa:

    “Hasil kali konsentrasi setimbang zat di ruas kanan dibagi dengan hasil kali konsentrasi setimbang zat ruas kiri, masing – masing dipangkatkan dengan koefisien reaksinya, mempunyai nilai tetap pada temperature tetap”

    Hukum kesetimbangan tersebut merupakan persamaan tetapan kesetimbangan sesuai stoikiometri reaksinya.

    Tetapan kesetimbangan kimia dapat dinyatakan dengan notasi sebagai berikut.

    Kc = tetapan kesetimbangan kimia yang dinayatakan dalam konsentrasi molar. Tetapan ini hanya berlaku untuk zat- zat dengan fase gas dan larutan (aqueous), sedangkan zat yang berfase padat (atau solid) dan cair (atau liquid) tidak disertakan dalam persamaan tetapan kesetimbangannya.

    Kp = tetapan kesetimbangan yang dinyatakan dalam tekanan parsial dan hanya berlaku untuk fase gas.

    Kx = tetapan kesetimbangan yang dinyatakan dalam fraksi mol

    Secara umum untuk reaksi seperti ditunjukkan berikut,

    Aa + Bb = Cc + Dd

    maka nilai tetapan kesetimbangan adalah:

    tetapan-kesetimbangan-reaksi-kimia-contoh

    Hubungan Kc dengan Kp

    Tetapan parsial gas bergantung pada konsentrasi gas dalam ruangan, maka tetapan kesetimbangan parsial Kp dari gas dapat dihubungkan dengan tetapan kesetimbangan konentrasi Kc dari gas tersebut.

    Hal ini sesuai dengan persamaan gas ideal, yaitu

    1. V = n. R. T

    Karena n/V = C

    Maka P = C.R.T, sehingga persamaan menjadi

    Kp = Kc (RT)∆n

    Dengan

    ∆n = jumlah koefisien kanan – jumlah koefisien kiri

    R = tetapan gas = 0,0826 L,atm.mol-1.K-1

    T = temperature (K) = (Celcius + 273)

    Contoh Soal Tetapan Kesetimbangan Kc

    Perhatikan reaksi berikut yang hanya berfase gas dan tetapan kesetimbangan Kc dihitung berdasarkan konsentrasinya.

    2SO2(g) + O2(g) = 2SO3(g)

    Tetapan Kesetimbangan reaksi kimianya dapat dituliskan sebagai berikut:

    tetapan-kesetimbangan-reaksi-kimia-kc-contoh

    Contoh Soal Tetapan Kesetimbangan Kc

    Berikut contoh reaksi dengan Senyawa atau zat yang terlibat berfase aqueous dan solid, sedangkan yang ikut dihitung hanya yang berfase aqueous saja.

    AgNO3(aq) + NaCl(aq) = AgCl(s) + NaNO3(aq)

    Dengan demikian, maka tetapan kesetimbangan Kc adalah:

    tetapan-kesetimbangan-reaksi-kimia-kc2-contoh

    Konsentrasi senyawa AgCl tidak ikut dihitung karena berfase padat / solid

    Contoh Soal Untuk Tetapan Kesetimbangan Kp

    Perhatikan reaksi di bawah yang hanya melibatkan zat berfase gas, baik reaktan maupun produk reaksi. Tetapan kesetimbangan Kp dihitung dari tekanannya seperti berikut:

    P = (mol gas tersebut/mol total) x Ptotal

    2SO2(g) + O2(g) = 2SO3(g)

    tetapan-kesetimbangan-reaksi-kimia-kp-contoh

      Daftar Pustaka:

      1. Sunarya, Yayan, 2014, “Kimia Dasar 1, Berdasarkan Prinsip Prinsip Kimia Terkini”, Cetakan Ketiga, Yrama Widya, Bandung.
      2. Sunarya, Yayan, 2013, “Kimia Dasar 2, Berdasarkan Prinsip Prinsip Kimia Terkini”, Cetakan Kedua, Yrama Widya, Bandung.
      3. Syukri, S., 1999, “Kimia Dasar 2”, Jillid 2, Penerbit ITB, Bandung
      4. Chang, Raymond, 2004, “Kimia Dasar, Konsep -konsep Inti”, Edisi Ketiga, Jilid Satu, Penerbit, Erlangga, Jakarta.
      5. Brady, James, E,1999, “Kimia Universitas Asas dan Struktur”, Edisi Kelima, Jilid Satu, Binarupa Aksara, Jakarta,
      6. Brady, James, E., 1999, “Kimia Universitas Asas dan Struktur”, Edisi Kelima, Jilid Dua, Binarupa Aksara, Jakarta.
      7. Ardra.Biz, 2019, “Tetapan Kesetimbangan Reaksi dengan Persamaan Kesetimbangan Reaksi juga Pengertian Kesetimbangan Reaksi Kimia atau Pengertian Tetapan Kesetimbangan Reaksi.
      8. Ardra.Biz, 2019, “Hukum kesetimbangan reaksi adalah hukum massa reaksi kimia dengan Persamaan Tetapan kesetimbangan kimia yang Nilai tetapan kesetimbangan kimia.
      9. Ardra.Biz, 2019, “Kc tetapan konsentrasi molar, Kp tetapan kesetimbangan, Kx = tetapan kesetimbangan fraksi mol merupakan Rumus kesetimbangan reaksi kimia. Hubungan Kc dengan Kp dengan Tetapan parsial gas. 
      10. Ardra.Biz, 2019, “Contoh Soal Tetapan Kesetimbangan Kdengan Contoh soal ujian nasional dan Contoh soal dan pembahasan atau Contoh perhitungan tetapan kesetimbangan reaksi.

      Manfaat Keanekaragaman Hayati, Pengertian Penjelasan Contoh Soal

      Pengertian

      Sumber daya alam merupakan kekayaan yang dapat dikelola dan dimanfaatkan untuk mencapai kesejahteraan umat manusia. Sumber daya alam dapat berupa biotik maupun abiotik. Tumbuhan, hewan, manusia, dan mikroba merupakan sumber daya alam hayati, sedangkan faktor abiotik lainnya merupakan sumber daya alam nonhayati.

      Sumber daya alam adalah semua kekayaan bumi, baik biotik maupun abiotik yang dapat dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan dan kesejahteraan manusia. Pemanfaatan sumber daya alam harus dilakukan dengan pengelolaan yang baik dengan pemeliharaan dan pelestarian. Pengelolaan ini menjadi sangat perlu mengingat sumber daya alam bersifat terbatas. Keanekaragaman hayati yang dimiliki oleh Indonesia sangat bermanfaat bagi kesejahteraan manusia dan kelangsungan kehidupan. Beberapa manfaat keanekaragaman hayati adalah sebagai berikut.

      manfaat-keanekaragaman-hayati
      manfaat-keanekaragaman-hayati

      1. Manfaat Ekonomi

      Secara ekonomi keanekaragaman hayati menjadi sumber pendapatan bagi masyarakat dan devisa negara. Misalnya untuk bahan baku industri, mebel dan peralatan rumah tangga, bahan obat, bahan makanan, rempah-rempah, tanaman hias, dan perkebunan. Bahan-bahan tersebut dapat diperdagangkan baik di dalam negeri maupun untuk ekspor sebagai bentuk kegiatan ekonomi.

      1. Manfaat Biologis

      Secara biologis, keanekaragaman hayati memiliki manfaat sebagai penunjang kelangsungan kehidupan semua makhluk hidup. Tumbuhan menghasilkan gas oksigen pada proses fotosintesisnya. Gas oksigen kemudian digunakan oleh hewan dan manusia untuk bernapas. Tumbuhan merupakan produsen yang menghasilkan bahan organik seperti biji, buah, umbi, dan dedaunan sebagai bahan makanan makhluk hidup lain.

      Hewan dapat dikelola dan dimanfaatkan sebagai bahan makanan, sandang, dan hiburan oleh manusia. Jasad renik dapat berperan sebagai dekompser yang mengubah bahan organik menjadi bahan anorganik. Nilai biologis yang lain adalah sebagai sumber plasma nutfah untuk keperluan pemuliaan guna memperoleh jenis-jenis unggul.

      1. Manfaat Ekologis

      Keanekaragaman hayati merupakan komponen ekosistem yang sangat penting dalam menjaga keseimbangan kehidupan alam. Setiap komponen ekosistem saling berinteraksi secara harmonis, sehingga gangguan terhadap salah satu komponen dapat menyebabkan perubahan ekosistem. Indonesia mempunyai hutan hujan tropis yang memiliki nilai ekologis yang penting bagi bumi.  Hutan hujan tropis berfungsi sebagai paru-paru bumi, menjaga kestabilan iklim global, dan membantu menurunkan tingkat pencemaran udara, serta mengurangi efek rumah kaca.

      1. Manfaat Sosial

      Keanekaragaman hayati secara alami merupakan bagian sistem sosial dan budaya masyarakat setempat. Kegiatan masyarakat sangat terkait dengan keanekaragaman hayati dilingkungannya. Hal itu dapat diamati dari pola hidup suku-suku di pedalaman yang lebih mengandalkan potensi alam dibandingkan dengan masyarakat yang tinggal di perkotaan atau kawasan industri. Keanekaragaman hayati juga berpotensi untuk dikembangkan sebagai tempat rekreasi, olah raga, hiburan, dan pendidikan.

      Daftar Pustaka:

      1. Starr, Cecie. Taggart, Ralph. Evers, Christine. Starr, Lisa, 2012, “Biologi Kesatuan dan Keragaman Makhluk Hidup”, Edisi 12, Buku 1, Penerbit Salemba Teknika, Jakarta.
      2. Arumingtyas, Laras, Estri. Widyarti, Sri. Rahayu, Sri, 2011, “Biologi Molekular, Prinsip Dasar Analisis”, PT Penerbit Erlangga Jakarta.
      3. Kimballl, J.W., Siti Soetarmi Tjitro dan Nawangsari Sugiri,1983, “Biologi”, Jilid 1, Edisi Kelima, Penerbit Erlangga, Jakarta.
      4. Kimballl, J.W., Siti Soetarmi Tjitro dan Nawangsari Sugiri. 1983, “Biologi”, Jilid 2, Edisi Kelima, Erlangga, Jakarta.
      5. Schlegel, H.G., 1994, “Mikrobiologi Umum”, Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.
      6. Hartanto, L.N., 2004, “Biologi Dasar”, Edisi Ketiga, Penerbit Penebar Swadaya, Yogyakarta.
      7. Ardra.Biz, 2019, “Pengertian Sumber Daya Alam dan Jenis Sumber daya alam beserta Pengertian Sumber daya alam dan Contoh sumber daya alam biotik dan abiotic. Pengertian Biotik dan Abiotik dan Contoh sumber alam hayati serta Contoh sumber alam nonhayati.
      8. Ardra.Biz, 2019, “Adapun  Pengertian sumber alam hayati dan nonhayati dan Manfaat Sumber alam secara Ekonomis dan Manfaat sumber alam secara Biologis.
      9. Ardra.Biz, 2019, “Manfaat sumber alam secara Ekologis dan Manfaat sumber alam secara Sosial beserta Contoh soal dan pembahasan sumber daya alam. Contoh soal ujian nasional sumber daya alam.

      Hukum Mendel Dasar Pewarisan

      Dasar – dasar Pewarisan Mendel.  Gregor Johann Mendel merupakan seorang peneliti yang cukup popular yang melakukan penelitian di bidang hereditas. Pada tahun 1842, Mendel melakukan penelitian dan menetapkan dasar- dasar hereditas.

      Setiap sel gamet akan memperoleh satu gen dari pasangan tersebut. Selanjutnya Mendel membuat kesimpulan seperti berikut.

      Hukum Dasar Dasar Pewarisan Mendel
      Hukum Dasar Dasar Pewarisan Mendel

      – Setiap sifat suatu organisme dikendalikan oleh satu pasang faktor keturunan yang dinamakan gen (pada saat itu Mendel masih belum mengenal tentang gen); yaitu satu faktor dari induk jantan dan satu faktor dari induk betina.

      – Setiap pasangan faktor keturunan menunjukkan bentuk alternatif sesamanya, misalnya bulat atau kisut. Kedua bentuk alternatif ini disebut alel.

      – Apabila pasangan faktor keturunan terdapat bersama-sama dalam satu tanaman, faktor dominan akan menutup faktor resesif.

      – Pada saat pembentukan gamet, yaitu pada proses meiosis, pasangan faktor atau masing-masing alel akan memisahkan diri secara bebas.

      – Individu galur murni mempunyai pasangan sifat (alel) yang sama, yaitu dominan atau resesif saja.

      Mendel melakukan penelitian  mengenai penurunan sifat dengan menyilangkan tanaman ercis (Pisum sativum). Beberapa alasan penggunaan kacang ercis sebagai bahan penelitiannya adalah:

      • Ercis tanaman berumur pendek dan dengan cepat dapat menghasilkan anakan
      • Tanaman ercis mempunyai bunga yang sempurna sehingga dapat melakukan penyerbukan sendiri
      • Tanaman ercis mempunyai perbedaan sifat yang cukup mencolok
      • Ercis merupakan tanaman yang mudah dalam pemeliharaannya.

      Sifat Tanaman Ercis

      Beberapa sifat yang dimiliki oleh tanaman ercis adalah bentuk biji bulat dan keriput. Warna biji kuning dan hijau. Bentuk buah Mengembung dan keriput. Warna buah hijau dan kuning.

      Hukum Mendel 1.

      Hukum Mendel 1 dikenal juga sebagai hukum segregasi. Hukum Mendel 1 menyatakan bahwa pasangan alel pada proses pembentukan gamet dapat memisah secara bebas.

      Mendel melakukan pembuktian dengan melakukan persilangan monohybrid dengan satu sifat yang berbeda. Tujuan yang ingin dicapai adalah untuk mengetahui pola pewarisan sifat dari tetua kepada generasi berikutnya.

      Contoh Persilangan Tanaman Ercis Mendel 1.

      • Persilangan dengan menggunakan tanaman ercis berbiji bulat dan tanaman ercis berbiji kisut menghasilkan keturunan pertama yaitu F1 berbiji bulat semua (100% bulat)
      • Biji F1 disilangkan dengan sesamanya menghasilkan biji bulat dan kisut dengan perbandingan 3:1
      • Percobaan yang sama dengan perbedaan sifat yang lain, dan F2 tetap menunjukkan perbandingan 3:1

      Hukum Mendel 2.

      Hukum mendel 2 biasa disebut sebagai hukum asortasi atau Hukum Pengelompokan Gen Secara Bebas (The Law Independent Assortment of Genes). Hukum  Mendel 2 menyatakan  bahwa “Bila individu berbeda satu dengan yang lain dalam dua pasang sifat atau lebih, maka akan diturunkan sifat yang sepasang tak tergantung dari pasangan sifat yang lain”.

      Mendel melakukan persialangan dihybrid atau persilangan dengan dua sifat yang berbeda untuk membuktikan hukum ini.

      Contoh Persilangan Mendel 2.

      • Persilangan dengan menggunakan tanaman ercis dengan biji bulat berwarna kuning dengan tanaman ercis berbiji keriput warna hijau akan menghasilkan keturunan F1 100% berbiji bulat berwarna kuning. Dari percobaan ini disimpulkan bahwa warna kuning dominan terhadap keriput dan hijau.
      • F1 disilangkan dengan sesamanya menghasilkan tanaman dengan biji bulat kuning, bulat hijau, keriput kunig dan keriput hijau dengan perbandingan 9:3:3:1.
      • Percobaan yang sama dengan perbedaa sifat lainnya, dan F2 tetap menunjukkan perbandingan 9:3:3:1

      Daftar Pustaka:

      1. Kimballl, J.W., Siti Soetarmi Tjitro dan Nawangsari Sugiri,1983, “Biologi”, Jilid 1, Edisi Kelima, Penerbit Erlangga, Jakarta.
      2. Kimballl, J.W., Siti Soetarmi Tjitro dan Nawangsari Sugiri. 1983, “Biologi”, Jilid 2, Edisi Kelima, Erlangga, Jakarta.
      3. Starr, Cecie. Taggart, Ralph. Evers, Christine. Starr, Lisa, 2012, “Biologi Kesatuan dan Keragaman Makhluk Hidup”, Edisi 12, Buku 1, Penerbit Salemba Teknika, Jakarta.
      4. Arumingtyas, Laras, Estri. Widyarti, Sri. Rahayu, Sri, 2011, “Biologi Molekular, Prinsip Dasar Analisis”, PT Penerbit Erlangga Jakarta.
      5. Schlegel, H.G., 1994, “Mikrobiologi Umum”, Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.
      6. Hartanto, L.N., 2004, “Biologi Dasar”, Edisi Ketiga, Penerbit Penebar Swadaya, Yogyakarta.
      7. Ardra.Biz, 2019, ” Dasar Pewarisan Mendel atau Dasar Hereditas Gregor Johann Mendel dengan Satu sel gamet satu gen. Alel faktor keturunan bentuk alternative dengan Faktor dominan menutup faktor resesif.
      8. Ardra.Biz, 2019, ” Pembentukan gamet pada proses meiosis dan Individu galur murni.  Pasangan sifat (alel) yang sama dengan Beberapa alasan penggunaan kacang ercis. Penyilangan tanaman ercis Pisum sativum dengan Sifat Tanaman Ercis dan Hukum Mendel 1 dengan Persilangan monohybrid.
      9. Ardra.Biz, 2019, ” Contoh Persilangan Tanaman Ercis Mendel 1 dengan Hukum Mendel 2 atau Hukum asortasi. Hukum Pengelompokan Gen Secara Bebas atau The Law Independent Assortment of Genes dengan Contoh Persilangan Mendel 2.
      10. Ardra.Biz, 2019, ” Contoh Soal dan Pembahasan Persilangan dan Contoh Soal dan Pembahasan dasar pewarisan mendel.

      Osmosis, Difusi Mekanisme Transpor Zat Melalui Membran Plasma

      Pengertian Difusi dan Osmosis, Gerakan atau mekanisme transpor zat melalui membrane dibedakan menjadi dua jenis, yaitu gerakan  pasif yang tidak memerlukan energy dan gerakan aktif yang melibatkan energy. Gerakan pasif meliputi difusi dan osmosis, sedangkan yang termasuk katagori gerakan aktif adalah transport aktif, endositosis dan eksositosis.

      Pengertian Difusi.

      Difusi adalah proses perpindahan zat dari lauratan berkonsentrasi tinggi (atau hipertonis) ke larutan yang berkonsestrasi rendah (atau hipotonis) baik melalui selaput pemisah maupun tidak. Perbedaan konsentrasi dalam suatu larutan disebut dengan gradien konsentrasi

      Perpindahan zat dengan cara Difusi tidak melibatkan energy.  Dengan demikian difusi akan menghasilkan konsentrasi molekul menjadi sama pada semua bagian. Konsentrasi larutan menjadi homogeny.

      proses-perpindahan-zat-dari-konsentrasi-tinggi-ke-konsestrasi-rendah
      proses-perpindahan-zat-dari-konsentrasi-tinggi-ke-konsestrasi-rendah

      Contoh Peristiwa Difusi

      • Maksudnya gas CO2 ke dalam tubuh tumbuhan dan keluarnya gas O2 dari tubuh tumbuhan.
      • Maksudnya air ke dalam akar, kemudian bergerak dari sel ke se, dan akhirnya meninggalkan tubuh tumbuhan dalam bentuk uap air.

      Pengertian Osmosis

      Osmosis adalah perpindahan molekul atau zat dari larutan yang memiliki konsentrasi rendah (hipotonis) ke larutan yang berkonsentrasi tinggi (hipertonis) melalui suatu membran selektif permeable (semipermeable). Larutan berkonsentrasi rendah biasa disebut larutan encer dan larutan berkonsentrasi tinggi disebut larutan pekat.

      Contoh Peristiwa Osmosis

      Membrane selektif permeable adalah selaput pemisah yang hanya dilewati oleh air dan molekul tertentu yang terlarut di dalamnya. Molekul – molekul yang mampu melewati membrane semipermeable adalah molekul – molekul gliserol, asam lemak, asam amino, gula sederhana, zat – zat tertentu yang larut dalam lemak, dan air.

      Molekul yang memiliki ukuran cukup besar, misalnya polisakarida atau pati dan protein tidak mampu melewati membrane semipermeable. Larutan yang memiliki konsentrasi tinggi memiliki tekanan osmosis yang tinggi, dan sebaliknya. Setiap sel hidup merupakan system osmosis yang mengatur keseimbangan air di dalamnya.

      Daftar Pustaka.

      1. Starr, Cecie. Taggart, Ralph. Evers, Christine. Starr, Lisa, 2012, “Biologi Kesatuan dan Keragaman Makhluk Hidup”, Edisi 12, Buku 1, Penerbit Salemba Teknika, Jakarta.
      2. Kimballl, J.W., Siti Soetarmi Tjitro dan Nawangsari Sugiri. 1983, “Biologi”, Jilid 2, Edisi Kelima, Erlangga, Jakarta.
      3. Schlegel, H.G., 1994, “Mikrobiologi Umum”, Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.
      4. Hartanto, L.N., 2004, “Biologi Dasar”, Edisi Ketiga, Penerbit Penebar Swadaya, Yogyakarta.
      5. Arumingtyas, Laras, Estri. Widyarti, Sri. Rahayu, Sri, 2011, “Biologi Molekular, Prinsip Dasar Analisis”, PT Penerbit Erlangga Jakarta.
      6. Kimballl, J.W., Siti Soetarmi Tjitro dan Nawangsari Sugiri,1983, “Biologi”, Jilid 1, Edisi Kelima, Penerbit Erlangga, Jakarta.
      7.  Pengertian Difusi dan Osmosis dengan gerakan  pasif tidak memerlukan energy dan gerakan aktif yang melibatkan energy. Gerakan pasif difusi dan osmosis dengan gerakan aktif endositosis dan eksositosis.
      8. Ardra.Biz, 2019, ” Pengertian dan comtoh Difusi dengan proses perpindahan zat berkonsentrasi tinggi (atau hipertonis) ke berkonsestrasi rendah dan Difusi perbedaan kosentarsi zat.
      9. Ardra.Biz, 2019, ” Difusi tidak perlu energi dengan Proses perpindahan zat dari konsentrasi tinggi ke konsestrasi rendah dan Contoh Peristiwa Difusi. Difusi gas CO2 ke dalam tumbuhan dan Difusi gas O2 keluar tumbuhan atau Difusi air ke dalam akar.
      10. Ardra.Biz, 2019, ” Pengertian dan Contoh Osmosis dengan perpindahan zat konsentrasi rendah ke konsentrasi tinggi. Membrane selektif permeable dengan contoh molekul yang mampu lewat membrane semipermeable dan selaput pemisah. Membrane semipermeable dan contoh peristiwa osmosis.

      Pemurnian Logam Cara Listrik, Electrowinning.

      Pengertian. Prinsip pemurnian logam cara listrik adalah dengan mengunakan dua elektroda dalam suatu larutan elektrolit. Elektrodanya adalah katoda dan anoda. Anoda adalah logam yang masih kotor yang akan dimurnikan.

      Sedangkan Katoda adalah logam murni. Larutan elektrolit yang digunakan adalah larutan yang mengandung kation logam yang akan dimurnikan, dalam hal ini larutan yang mengandung kation logam.

      MIsal pemurnian logam tembaga, maka larutan yang digunakan adalah tembaga sulfat CuSO4.

      Proses pemurnian logam atau refining cara listrik atau elecktrowinning banyak diaplikasikan dalam industri- industri logam, misal pada industri pengolahan logam tembaga. Beberapa aplikasi yang menggunakan bahan dasar logam tembaga mensyaratkan kemurnian tinggi.

      Beberapa unsur pengotor yang umum terdapat pada logam tembaga sebelum dimurnikan adalah, besi, seng, timbal, silikon, alumunium, perak, platina dan emas. Unsur –unsur ini merupakan pengotor yang terdapat dalam bijih tembaga.

      Kabel listrik merupakan salah satu contoh aplikasi tembaga sebagai konduktor yang mensyaratkan kemurnian yang tinggi. Argumennya adalah, semakin tinggi kemurnian logamnya, maka logam tersebut semakin konduktor.

      Contoh Reaksi Proses Pemurnian Logam Tembaga

      Reaksi yang terjadi selama proses pemurniannya pada katoda dan anoda adalah sebagai berikut:

      CuSO4 (l) → Cu2+ (l) + SO42- (l)

      Katoda : Cu2+ (l) + 2e → Cu (s)

      Anoda : Cu(s) → Cu2+ (l) + 2 e

      Skematika proses pemurnian logam tembaga dapat dilihat pada gambar di bawah.

      pemurnian-logam-tembaga-cara-elektrowinning
      pemurnian-logam-tembaga-cara-elektrowinning

      Logam tembaga kotor pada anoda mengalami reaksi oksidasi. Tembaga Cu larut menjadi ion Cu2+   kemudian masuk ke dalam larutan elektrolit CuSO4 (tembaga sulfat). Pada katoda terjadi reaksi reduksi ion tembaga dari larutan menjadi tembaga solid   yang terendapkan di permukaan katoda.

      Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam proses ini adalah pengaturan tegangan dan arus yang tepat selama proses sehingga pengotor – pengotor tidak ikut terlarut menjadi ion, melainkan mengendap di landasan bak. Atau kalaupun secara kimia pasti terlarut, maka ion- ion pengotor harus diusahakan tidak ikut terendapkan di permukaan katoda.

        Daftar Pustaka

        1. Syukri, S., 1999, “Kimia Dasar 2”, Jillid 2, Penerbit ITB, Bandung
        2. Chang, Raymond, 2004, “Kimia Dasar, Konsep -konsep Inti”, Edisi Ketiga, Jilid Satu, Penerbit, Erlangga, Jakarta.
        3. Brady, James, E,1999, “Kimia Universitas Asas dan Struktur”, Edisi Kelima, Jilid Satu, Binarupa Aksara, Jakarta,
        4. Sunarya, Yayan, 2014, “Kimia Dasar 1, Berdasarkan Prinsip Prinsip Kimia Terkini”, Cetakan Ketiga, Yrama Widya, Bandung.
        5. Sunarya, Yayan, 2013, “Kimia Dasar 2, Berdasarkan Prinsip Prinsip Kimia Terkini”, Cetakan Kedua, Yrama Widya, Bandung.
        6. Brady, James, E., 1999, “Kimia Universitas Asas dan Struktur”, Edisi Kelima, Jilid Dua, Binarupa Aksara, Jakarta.
        7. Ardra.Biz, 2019, “Pengertian pemurnian logam cara listrik dan Prinsip pemurnian logam cara listrik. Pengertian electrowinning dengan Contoh pemurnian cara listril serta Contoh Reaksi pada pemurnian logam cara listrik.
        8. Ardra.Biz, 2019, ” Contoh reaksi pemurnian logam dan Katoda yang digunakan pada pemurnian logam dengan Larutan elektrolit pada pemurnian logam cara listrik.Tujuan proses electrowinning dan Contoh produk dari pemurnian logam cara listrik
        9. Ardra.Biz, 2019, ” Reaksi Proses Pemurnian Logam Tembaga cara Electrowinning. Pemurnian Logam Cara Listrik dan refining cara listrik atau elecktrowinning.
        10. Ardra.Biz, 2019, ” Reaksi pada katoda pemurnian logam dan Reaksi pada anoda serta Contoh larutan elektrolit pemurnian logam. Contoh Soal Ujian Pemurnian logam.