Heriditas: Pengertian Penyimpangan Hukum Mendel Fenotip Genotip

Pengertian Heriditas: Hereditas adalah penurunan sifat dari induk kepada keturunannya. Keturunan yang dihasilkan dari perkawinan antar individu mempunyai perbandingan fenotip maupun genotip yang mengikuti aturan tertentu. Aturan- aturan dalam pewarisan sifat ini disebut pola-pola hereditas.


Hibrid – Persilangan – Perkawinan

Hibrid merupakan perkawinan dua individu yang mempunyai sifat beda. Berdasarkan banyaknya sifat beda individu yang melakukan perkawinan, hibrid dibedakan sebagai Monohibrid, Dihibrid, Trihibrid

  • Monohibrid

Persilangan monohibrid merupakan persilangan yang hanya menggunakan satu macam gen yang berbeda atau menggunakan satu tanda beda (Aa).

–  Contoh Monohibrid

  • Parental: tanaman berbiji hijau disilangkan dengan tanaman berbiji kuning
  • Genotip: HH(hijau) hh (kuning)
  • Gamet  : H               h
  • Filial F1: Hh (hijau)

Dalam hal ini, biji warna hijau dianggap dominan. Bila F1 disilangkan dengan sesamaF1,  maka:

  • Parental: Biji hijau biji hijau
  • Genotip: Hh Hh
  • Gamet : H                H
  •                h                 h
  • F2     :HH (hijau)
  •          :Hh (hijau)
  •          :Hh (hijau)
  •          :hh (kuning

Rasio Genotip = HH : 2Hh : hh

Rasio Fenotip = 3 Hijau : 1 Kuning

–  Dihibrid

Persilangan dihibrid merupakan persilangan yang menggunakan dua tanda beda atau dua pasangan kromosom yang berbeda (AaBb).

  • Contoh Dihibrid

Kacang kapri berbiji bulat warna hijau (BBHH) disilangkan dengan kacang kapri berbijij lonjong warna kuning (bbhh)

Parental: bulat hijau x lonjong kuning

genotip:  BBHH          bbhh

Gamet:   BH              bh

F1       : BbHh (bulat hijau)

Kalau F1 disilangkan dengan F1 maka

Parental: bulat hijau      x bulat hijau

genotip: BbHh                    BbHh

Gamet:  BH, Bh, bH, bh   x BH, Bh, bH, bh

Rasio Fenotip = bulat hijau : bulat kuning : lonjong hijau : lonjong kuning

Rasio fenotip = 9 : 3 : 3 : 1

a).Backcross – Perkawinan Balik

Backcross adalah mengawinan individu F1 dengan salah satu induknya, baik induk dominan maupun induk resesif.

  • Tujuan Backcross:

Tujuan backcross adalah untuk mengetahui genotif induknya

  • Contoh Backcross

Marmot mempunyai gen B yang menunjukkan pembawa sifat warna bulu hitam dan gen b yang menunjukkan pembawa sifat warna bulu putih.

Induk jantan mempunyai bulu berwarna hitam homozigot disilangkan dengan induk betina mempunyai bulu berwarna putih homozigot kemudian dilanjutkan dengan perkawinan balik.

b). Testcross (Uji Silang)

Testcross atau uji silang adalah uji yang dilakukan dengan menyilangkan individu yang akan dicek dengan induknya yang bersifat homozigot resesif.

  • Tujuan Testcross

Tujuan testcross untuk mengetahui keadaan genotip F1 apakah bersifat homozigot atau heterozigot.

  • Contoh Testcross

Jika bunga merah disilangkan dengan induknya yang putih menghasilkan keturunan 50% merah dan 50% putih. Berarti individu tersebut herezigot (Mm). Namun jika 100% berbunga merah, maka genotip individu yang dites adalah homozigot (MM)

c). Intermediate

Intermediate atau kodominan adalah persilangan dengan satu sifat beda, namum sifat domoian tidak mampu menutupi sifat resesif seingga muncul sifat antara keduannya.

  • Contoh Intermediate

Contoh intermediate adalah persilangan antara bunga Hisbiscus rosa- sinensis merah (MM) dengan putih (mm), menghasilkan bunga berwarna merah muda (Mm)

d). Persilangan Resiprokal

Persilangan resiprok mempunyai pengertian bahwa dalam suatu persilangan berlaku sama pada jenis kelamin jantan dan betina, yang berarti baik jantan maupun betina mendapatkan kesempatan sama dalam pewarisan sifat.

  • Contoh Persilangan Resiprokal

Contoh Persilangan Resiprok Misalnya, persilangan antara bunga kuning dan bunga merah akan menghasilkan keturunan yang sama meskipun serbuk sari diambil dari bunga kuning atau merah.

Penyimpangan Hukum Mendel

Perubahan atau penyimpangan hukum Mendel meliputi penyimpangan semu, pautan gen, pautan seks, pindah silang, determinasi seks, gen letal, dan gagal berpisah (nondisjunction).

Penyimpangan Semu

Beberapa peristiwa yang menunjukkan penyimpangan semu di antaranya epistasis dan hipostasis, kriptomeri, interaksi beberapa pasangan alel, polimeri, serta gen komplementer.

a). Epistasis dan Hipostasis

Epistasis dan hipostasis merupakan salah satu bentuk interaksi gen dalam hal ini gen dominan mengalahkan gen dominan lainnya yang bukan sealel.

Gen dominan yang menutup ekspresi gen dominan lainnya disebut epistasis, sedangkan gen dominan yang tertutup itu disebut hipostasis.

Peristiwa epistasis dan hipostasis terjadi pada warna umbi lapis pada bawang (Allium sp.), warna kulit gandum, warna bulu ayam, warna rambut mencit, dan warna mata pada manusia.

Peristiwa epistasis dapat dibedakan menjadi tiga, yaitu epistasis dominan, epistasis resesif, serta epistasis dominan dan resesif.

Epistasis Dominan

Pada epistasis dominan terdapat satu gen dominan yang bersifat epistasis.

  • Contoh Epistasis Dominan

Misalnya warna umbi lapis pada bawang (Allium sp.).

Epistasis Resesif

Pada peristiwa epistasis resesif terdapat suatu gen resesif yang bersifat epistasis terhadap gen dominan yang bukan alelnya (pasangannya). Gen resesif tersebut harus dalam keadaan homozigot,

Epistasis Resesif

contohnya pada pewarisan warna rambut tikus

Epistasis Dominan dan Resesif

Epistasis dominan dan resesif (inhibiting gen) merupakan penyimpangan semu yang terjadi karena terdapat dua gen dominan yang jika dalam keadaan bersama akan menghambat pengaruh salah satu gen dominan tersebut.

Peristiwa ini mengakibatkan perbandingan fenotip F2 = 13 : 3.

  • Contoh Epistasis Dominan dan Resesif

Contohnya ayam leghorn putih mempunyai fenotip IICC dikawinkan dengan ayam white silkre berwarna putih yang mempunyai genotip iicc.

b). Kriptomeri

Kriptomeri adalah hilangnya pengaruh faktor dominan dan baru kelihatan pengaruhnya apabila bersama-sama dengan faktor dominan lainnya.

Kriptomeri merupakan interaksi komplementasi yang terjadi, karena munculnya hasil ekspresi suatu gen yang memerlukan kehadiran alel tertentu pada lokus lain.

  • Contoh Percobaan Kriptomeri

Percobaan kriptomeri dilakukan oleh Correns (1912) terhadap bunga Linaria maroccana yang berbunga merah dengan berbunga putih. Warna bunga ditentukan oleh kandungan antosianin dan keadaan pH sel.

Seluruh F1 berbunga ungu, tetapi F2 terdiri atas tiga macam fenotipe, yaitu ungu, merah, dan putih dengan perbandingan 9 : 3: 4.

c). Atavisme – Interaksi Beberapa Pasangan Alel – Gen

Atavisme atau interaksi gen adalah interaksi dua bua gen yang berbeda alel akan salaing mempengaruhi pada bagian tubuh yang sama.

  • Contoh Atavisme – Interaksi Gen

Contoh atavisme adalah persilangan ayam jengger rose (R) dengan jengger pea (P) akan menghasilkan 100 % jengger walnut (RP). Jika jengger walnut (RP) disilangkan dengan sesamanya akan menghasilkan perbandingan seperti berikut jengger walnut : rose : pea : bilah = 9 : 3 : 3 : 1

d). Polimeri

Polimeri adalah pembastaran heterozigot dengan banyak sifat beda yang berdiri sendiri-sendiri, tetapi mempengaruhi bagian yang sama pada suatu organisme.

  • Contoh Percobaan Polimeri

Pada percobaan Nelson Ehle terhadap gandum biji merah dan biji putih, seolah-olah terjadi sifat-sifat intermediat F2 yang diperoleh dengan rasio fenotipe = 15 merah : 1 putih.

e). Gen Komplementer

Gen komplementer adalah gen-gen yang berinteraksi dan saling melengkapi. Kehadiran gen-gen tersebut secara bersama-sama akan memunculkan karakter (fenotip) tertentu. Sebaliknya, jika salah satu gen tidak hadir maka pemunculan karakter (fenotip) tersebut akan terhalang atau tidak sempurna.

  • Contoh Gen Komplementer

Contoh gen komplementer adalah persilangan antara kacang ungu dengan kacang putih dengan masing masing homozigot.

Persilangan akan menghasilkan F1 yang semuanya berfenotip ungu. Jika F1 disilangkan Kembali akan dihasilkan F2 yang bervariasi dengan warna ungu : putih = 9 : 7

Gen- Gen Rangkap yang Mempunyai Pengaruh Kumulatif

Miyake dan Imai (Jepang) menemukan bahwa pada tanaman gandum (Hordeum vulgare) terdapat biji yang kulitnya berwarna ungu tua, ungu, dan putih.

Jika gen dominan A dan B terdapat bersama-sama dalam genotip, kulit buah akan berwarna ungu tua.

Bila terdapat salah satu gen dominan saja (A atau B), kulit buah berwarna ungu. Absennya gen dominan menyebabkan kulit buah berwarna putih.

a). Pautan Gen (Gen Linkage)

Pautan gen merupakan salah satu penyimpangan terhadap hukum Mendel. Pada peristiwa ini, dua gen atau lebih terletak pada satu kromosom dan tidak dapat memisahkan diri secara bebas.

Hal ini terjadi karena gen-gen yang mengendalikan dua sifat beda terletak pada kromosom yang sama dengan letak lokus yang berdekatan.

  • Contoh Pautan Gen (Gen Linkage)

Contoh peristiwa pautan terdapat pada Drosophila melanogaster, yang dilaporkan pertama kali oleh T.H. Morgan.

Drosophila melanogaster memiliki empat pasang kromosom dalam inti selnya dan memiliki banyak gen yang semua berada pada kromosom sehingga tiap kromosom mengandung banyak gen.

b). Pindah Silang (Crossing Over)

Pindah silang terjadi apabila ada pertukaran sebagian gengen suatu kromatid dengan gen-gen dari kromatid pasangan homolognya.

Pada peristiwa meiosis, kromatid yang berdekatan dengan kromosom homolog tidak selalu berjajar, berpasangan, dan beraturan, tetapi kadang-kadang saling melilit yang satu dengan yang lainnya.

Hal ini sering mengakibatkan Sebagian gen-gen suatu kromatid bertukar dengan gen-gen kromatid homolognya. Peristiwa ini disebut pindah silang atau crossing over.

Akibat peristiwa pindah silang ini, jumlah macam fenotip hasil uji silang (test cross) tidak 1 : 1. Macam gamet yang dihasilkan F1 tidak dua macam, tetapi empat macam.

Dua gamet memiliki gen-gen yang seperti pada induknya, disebut gamet tipe parental. Dua gamet lainnya berbeda dengan induknya dan merupakan hasil pindah silang, disebut gamet tipe rekombinasi.

  • Contoh Pindah Silang – Crossing Over

Jika ada genotif Aa Bb dimana gen A dan B berpautan dengn crossing over (CO) sebesar 30%, maka gamet Aa dan aB sebesar 30% (RK) dan gamet AB dan aB sebesar 70% (KP)

c). Pautan Seks (Rangkai Kelamin)

Pada beberapa hewan dan manusia mempunyai suatu sifat keturunan yang pewarisannya ditentukan oleh kromosom kelamin. Hal ini terjadi karena gen tersebut terpaut pada kromosom kelamin.

Peristiwa itu disebut pautan seks atau rangkai kelamin. Pautan seks menunjukkan adanya pewarisan sifat didasarkan pada gen yang terdapat pada kromosom seks.

  • Pautan Seks (Rangkai Kelamin) pada Drosophila

Pautan seks atau rangkai kelamin mula-mula ditemukan oleh Morgan melalui penyilangan lalat buah betina bermata merah dan lalat jantan bermata putih. Perkawinan tersebut menghasilkan keturunan (F1) bermata merah.

Sementara itu, keturunannya (F2) memperlihatkan perbandingan 3 lalat bermata merah : 1 lalat bermata putih. Anehnya yang bermata putih selalu jantan. Hal ini menunjukkan adanya sifat dominan bermata merah terhadap warna mata putih.

  • Pautan Seks pada Manusia

Pada manusia, pautan seks dapat dibedakan pada gen resesif dengan gen dominan. Pautan seks pada gen resesif misalnya buta warna, hemofilia, anadontia.

Sementara itu, pautan seks pada gen dominan misalnya gigi cokelat dan hypertrichosis.  Hal ini akan dibahas dalam subbab hereditas pada manusia.

  • Pautan Seks pada Mammalia

Pautan seks pada Mammalia, misalnya terjadi pada gen yang menentukan rambut kucing. Warna rambut kucing ditentukan oleh gen-gen berikut.

B = gen yang menentukan warna hitam.

b = gen yang menentukan warna kuning.

Bb = gen yang menentukan warna rambut belang tiga (hitam – kuning – putih) atau disebut kaliko.

  • Pautan Seks pada Ayam

Pautan seks pada ayam dengan penentuan jenis kelamin tipe ZO untuk ayam betina dan jantan ZZ. Warna bulu ayam ditentukan oleh gen-gen yang terpaut pada kromosom seks.

Misalnya B = gen untuk bulu bergaris (blorok), b = gen untuk bulu polos.

Gen Letal – Gen Kematian

Gen letal adalah gen yang mengakibatkan kematian suatu individu yang memilikinya, jika dalam keadaan homozigot. Gen letal dapat berupa homozigot dominan maupun resesif.

Gen letal dapat menunjukkan pengaruhnya pada awal pertumbuhan sehingga dapat mengakibatkan kematian sebelum lahir (pada masa embrio).

Gen letal mengakibatkan keturunan menyimpang dari hukum Mendel, karena pada perkawinan monohibrid menghasilkan perbandingan fenotip 2 : 1, bukan 3 : 1.

Dalam konsep gen letal, dikenal istilah individu carrier, yakni individu yang berpotensi untuk menurunkan sifat gen letal tersebut atau berpotensi untuk membawa gen yang mengakibatkan kelainan.

a). Gen Letal Dominan

Gen letal dominan merupakan suatu keadaan apabila suatu individu memiliki gen homozigot dominan, individu tersebut akan mati.

  • Contoh Gen Letal Dominan

Contohnya, pada tikus gen Ay mengekspresikan rambut warna kuning yang dominan terhadap gen a yang mengekspresikan warna rambut hitam. Gen Ay ini dalam keadaan homozigot mengakibatkan kematian pada tikus.

b). Gen Letal Resesif

Pada gen letal resesif, individu akan mati jika memiliki gen homozigot resesif.

  • Contoh Gen Letal Resesif

Salah satu contoh efek dari gen letal resesif yang menyebabkan kematian adalah pada tanaman jagung.

Hadirnya klorofil diatur oleh suatu gen dalam keadaan dominan dan jika gen tersebut berada dalam keadaan resesif maka klorofil tidak dapat diekspresikan dan menyebabkan kematian.

Tanaan jagung homozigot berwarna hijau tua, sedangkan jagung heterezigot berwarna hijau muda. Jagung homozigot resesif tidak berwarna (albino). Jagung albino tidak memiliki klorofil, sehingga akan mati.

Cacat atau Kelainan – Penyakit Turunan Tidak Terpaut Kromosom Seks

Penyakit turunan dapat diwariskan melalui autosom atau kromosom sel tubuh.

Beberapa cacat dan kelainan turunan yang tidak terpaut kromosom seks atau bersifat autosomal, antara lain albinisma, polidaktili, fenilketonuria, diabetes melitus, thalassemia, dentinogenesis imperfecta, retinal aplasial, katarak, dan botak.

a). Albinisma

Albinisma menyebabkan kelainan kulit tubuh penderitanya yang disebut dengan albino. Penderita albino tidak memiliki kemampuan untuk memproduksi pigmen kulit (warna kulit).

Albino adalah kelainan genetika yang ditandai dengan abnormalitas pigmentasi kulit dan organ tubuh lainnya. Albino juga menyebabkan penglihatan menjadi sangat peka terhadap cahaya.

Abnormalitas pigmentasi disebabkan tubuh tidak mampu mensintesis enzim untuk mengubah asam amino tirosin menjadi 3,4 dihidro fenilalanin agar menjadi pigmen melanin.

Albino menyebabkan rambut dan kulitnya berwarna putih atau bule. Gen albino dikendalikan oleh gen resesif a dan gen A menentukan sifat kulit normal. Penderita albino mempunyai genotip aa, sedangkan orang normal mempunyai fenotip AA atau Aa.

b). Brakidaktili

Penyakit ini dapat diamati dari bentuk jari-jari tangan yang pendek. Gen yang menyebabkan penyakit ini adalah gen dominan (B) yang bersifat letal.

Oleh karena itu, individu yang memiliki genotipe homozigot dominan (BB) akan mengalami kematian. Adapun penyakit brakidaktili disebabkan oleh genotipe heterozigot (Bb). Keadaan genotipe homozigot resesif (bb) merupakan individu normal.

c). Polidaktili

Polidaktili adalah kelainan genetika yang ditandai jumlah jari tangan atau jari kaki melebihi normal.

Contoh polidaktili adalah jari tangan atau jari kaki berjumlah enam buah. Polidaktili dapat terjadi pada kedua jari tangan (kanan dan kiri) atau salah satu saja.

Polidaktili disebabkan oleh gen autosom dominan P sehingga penderita polidaktili mempunyai genotip PP atau Pp. Genotip orang berjari normal yaitu pp.

d). Fenilketonuria (FKU)

Fenilketonuria adalah kelainan genetika karena tubuh tidak mampu melakukan metabolisme fenilalanin. Sehingga fenilalanin tertimbun dalam darah dan dibuang bersama urine.

Penderita fenilketonuria mengalami keterbelakangan mental dan ber-IQ rendah. Secara fisik penderita fenilketonuria bermata biru, berambut putih, dan kulitnya mirip albino.

Fenilketonuria disebabkan oleh gen resesif ph, sedangkan gen Ph menentukan sifat normal.

e). Phenylthiocarbamida (PTC) Kemampuan Mengecap

Phenylthiocarbamida (PTC) yaitu suatu senyawa kimia yang rasanya pahit.

Kebanyakan orang dapat merasakan rasa pahit PTC disebut pengecap atau taster, sedangkan sebagian lainnya yang tidak dapat merasakan pahit disebut nontaster.

Gen T menentukan sifat perasa PTC dan alelnya gen t yang bersifat resesif menentukan seseorang tidak dapat merasakan PTC atau disebut buta kecap.

f). Thalassemia

Thalassemia adalah kelainan genetika yang disebabkan rendahnya pembentukan hemoglobin. Sehingga kemampuan eritrosit untuk mengikat oksigen menjadi rendah.

Thalassemia timbul akibat kesalahan transkripsi mRNA dalam menerjemahkan kodon untuk asam amino globin.

Thalassemia disebabkan oleh gen dominan Th, sedangkan alelnya menentukan sifat normal.

Penderita thalassemia bergenotip ThTh (thalassemia mayor) atau Thth (thalassemia minor).

Penderita thalassemia mayor keadaannya lebih parah daripada thalassemia minor. Penderita thalassemia mayor biasanya bersifat letal (mati).

g). Dentinogenesis Imperfecta

Dentinogenesis imperfecta adalah  kelainan pada gigi, yaitu keadaan tulang gigi berwarna putih seperti air susu.

Kelainan gigi ini disebabkan oleh gen Dt, sedangkan gigi normal ditentukan oleh gen resesif dt.

h). Katarak

Katarak merupakan kerusakan pada kornea mata. Katarak dapat mengakibatkan kebutaan. Kelainan katarak disebabkan oleh gen dominan K, sedangkan alel resesif k menentukan sifat mata normal.

i). Diabetes Mellitus

Diabetes mellitus adalah terbuangnya glukosa bersama urine karena terjadi gangguan fungsi insulin yang dihasilkan oleh pulau Langerhans pada pankreas.

Seperempat dari penderita diabetes mellitus ternyata diakibatkan faktor genetis dan tiga perempat yang lainnya karena faktor makanan. Penyakit ini dikendalikan oleh gen resesif homozigot (dd).

Cacat dan Penyakit Turunan Terpaut Kromosom Seks

Cacat bawaan dapat pula bersifat gonosom, yakni terpaut pada kromosom seks. Gen-gen yang terangkai pada kromosom kelamin disebut juga gen terangkai kelamin (sex lingkagegenes).

Cacat dan penyakit yang diakibatkan oleh gen terangkai kelamin oleh gen resesif, yaitu buta warna, hemofilia, anodontia, dan hypertrichosis.

Sementara itu, cacat dan penyakit yang diakibatkan oleh gen dominan terangkai kelamin, yaitu gigi cokelat.

Rangkai Kelamin oleh Gen Resesif

a). Buta Warna

Buta warna disebabkan oleh gen resesif c (dari kata colour blind) yang terpaut kromosom-X. Dengan demikian, wanita dapat normal homozigotik (XCXC) atau normal heterozigotik (XCXc) atau normal karier.  Namun demikian wanita buta warna (XcXc) jarang dijumpai

Buta warna dibedakan menjadi dua macam yaitu buta warna merah-hijau dan buta warna total.

Pada buta warna total, penderita hanya mampu membedakan warna hitam dan putih. Sementara itu, buta warna merah-hijau dibagi menjadi dua yaitu buta warna deutan, jika yang rusak bagian mata yang peka terhadap warna hijau dan buta warna protan jika yang rusak adalah bagian mata yang peka terhadap warna merah.

b). Hemofilia

Hemofilia merupakan suatu kelainan yang menyebabkan terhambatnya proses pembekuan darah.

Seorang penderita hemofilia yang mengalami luka, darahnya sukar membeku. Pada orang normal, pembekuan darah memerlukan waktu ± 5–7 menit.

Sementara itu, pada penderita hemofilia darah akan membeku dalam waktu 50 menit sampai 2 jam. Hal ini mengakibatkan penderita akan meninggal karena kehabisan darah.

Hemofilia disebabkan oleh gen resesif h yang terpaut pada kromosom-X. Gen H mengakibatkan sifat normal pada darah dan gen h merupakan penyebab hemofilia

Wanita hemofilia tidak pernah dijumpai karena bersifat letal. Semua wanita normal dan beberapa di antaranya membawa sifat hemofilia

c). Anodontia

Penderita anodontia tidak memiliki benih gigi dalam tulang rahangnya sehingga gigi tidak akan tumbuh.

Anodontia disebabkan oleh gen resesif a yang terpaut pada kromosom-X, dan lebih sering dijumpai pada pria.

Gen A menentukan pertumbuhan gigi normal dan alel resesif a menentukan anodontia.

d). Hypertrichosis

Hypertrichosis merupakan kelainan berupa tumbuhnya rambut pada bagian belakang telinga yang biasa dijumpai pada orang-orang Pakistan dan India.

Kelainan ini disebabkan oleh gen resesif h yang terpaut pada kromosom Y sehingga faktor ini hanya diwariskan kepada anak laki-laki saja.

Rangkai Kelamin oleh Gen Dominan

Penderita gigi cokelat, mempunyai gigi berwarna cokelat dan mudah rusak karena kurang email.

Penyakit ini disebabkan oleh gen dominan B yang terpaut kromosom-X. Alelnya yang bersifat resesif b menentukan gigi normal.

Cara Mengatasi Kelainan Genetika Manusia

Ada dua cara mengatasi kelainan genetika pada manusia, yaitu melalui aplikasi eugenetika dan aplikasi eutenika.

1). Aplikasi eugenetika ini menyangkut perbaikan sosial melalui penggunaan hukum-hukum hereditas.

Beberapa contoh saran yang diberikan oleh para ahli genetika, antara lain adalah sebagai berikut.

a). Semua warga masyarakat terutama generasi muda, sebaiknya memahami hukum- hukum hereditas dan cara bekerjanya dalam kehidupan.

b). Tidak kawin dengan orang yang mempunyai sakit jiwa, lemah ingatan seperti idiot, imbisil, atau penjahat berbakat.

c). Dianjurkan tetap memelihara kesehatan badan dan mental melalui latihan badan dan pendidikan.

d). Melakukan pemeriksaan terhadap kesehatan dan asal usul calon sebelum melakukan pernikahan.

2). Aplikasi Eutenika, menyangkut perbaikan sosial melalui pengubahan lingkungan yang lebih positif.

Contoh: perbaikan mutu pendidikan; perbaikan tempat tinggal; perbaikan menu makanan, misalnya harus memenuhi kriteria 4 sehat 5 sempurna; dan perbaikan lingkungan.

40+ Contoh Soal Ujian Dan Jawaban: Pola Dasar Sifat Hereditas Pewarisan Mendel

Berikut Beberapa Contoh Soal Ujian Pola Dasar Sifat Hereditas Pewarisan Mendel yang merupakan soal soal yang diujikan pada ujian nasional dan ujian masuk peguruan tinggi negeri.

40+ Contoh Soal Ujian Dan Jawaban: Pola Dasar Sifat Hereditas Pewarisan Mendel

Daftar Pustaka:

  1. Starr, Cecie. Taggart, Ralph. Evers, Christine. Starr, Lisa, 2012, “Biologi Kesatuan dan Keragaman Makhluk Hidup”, Edisi 12, Buku 1, Penerbit Salemba Teknika, Jakarta.
  2. Arumingtyas, Laras, Estri. Widyarti, Sri. Rahayu, Sri, 2011, “Biologi Molekular, Prinsip Dasar Analisis”, PT Penerbit Erlangga Jakarta.
  3. Kimballl, J.W., Siti Soetarmi Tjitro dan Nawangsari Sugiri,1983, “Biologi”, Jilid 1, Edisi Kelima, Penerbit Erlangga, Jakarta.
  4. Kimballl, J.W., Siti Soetarmi Tjitro dan Nawangsari Sugiri. 1983, “Biologi”, Jilid 2, Edisi Kelima, Erlangga, Jakarta.
  5. Schlegel, H.G., 1994, “Mikrobiologi Umum”, Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.
  6. Hartanto, L.N., 2004, “Biologi Dasar”, Edisi Ketiga, Penerbit Penebar Swadaya, Yogyakarta.