Perhitungan Solvabilitas Bank: Primary Ratio – Risk Asset Ratio – Secondary Risk Ratio – Capital Ratio – CAR – Bank

Pengertian Solvabilitas Bank: Solvabilitas merupakan ukuran kemampuan suatu bank untuk menanggung kerugian- kerugian yang tidak dapat dihindarkan dan sebagai alat ukur besar kecilnya kekayaan bank yang dimiliki oleh para pemegang sahamnya.

Pengertian Rasio Keuangan Bank

Pada dasarnya rasio keuangan merupakan indeks yang menghubungkan antara dua angka akuntansi atau lebih yang diperoleh dengan cara membagi satu atau lebih angka dengan angka lainnya. Nilai atau indek dari rasio keuangan digunakan untuk mengevaluasi kondisi keuangan dan kinerja perusahaan.

Pengertian Ratio Solvabilitas

Rasio solvalbilitas adalah rasio yang menunjukkan indek kemampuan suatu bank dalam mencari sumber dana untuk membiayai kegiatannya. Rasio ini merupakan alat ukur untuk melihat kekayaan bank untuk melihat efisiensi bagi pihak manajemen bank dalam menjalankan aktivitasnya.

Rasio solvabilitas dapat memberikan informasi apakah modal bank cukup untuk mendukung operasi bank dan mampu menanggung kerugian kerugian bank yang terjadi dalam penanaman dana atau penurunan aktiva.

Kemampuan perusahaan perbankan dalam mencari sumber dana dapat diukur dengan rasio primary ratio, capital ratio dan Capital Adequacy Ratio

1). Primary Ratio – PR – Bank

Primary ratio adalah rasio yang menunjukkan kemampuan modal bank dalam mempertahankan penurunan asset akibat kerugian yang tidak dapat terhindari atau diluar perhitungan estimasi.

Rumus Menghitung Primary Ration – PR – Bank

Besarnya primary ratio suatu bank dapat dinyatakan dengan menggunakan persamaan beikut:

PR = (EC)/(TA) x 100%

PR = primary ratio

EC = equity capital

TA = total asset

Primary ratio sebenarnya perbandingan antara  modal bank dalam equity capital terhadap total asset yang dimiliki oleh bank. Jadi primary ratio akan semakin tinggi, jika equity capital semakin besar. Atau primary ratio akan menjadi tinggi ketika total asset menurun.

Batas Standar Primary Ratio – PR – Bank

Nilai indikator rasio keuangan menurut Surat Edaran Bank Indonesia No.6/1/23/DPNP tanggal 31 Mei 2004 tentang penilaian tingkat kesehatan bank umum adalah sebagai berikut:

PR: >14,5% = sangat baik

PR: 12,6 – 14,5% = baik

PR: 10,35 – 12,60 = kurang baik

PR: < 10,35% = tidak baik

Contoh Soal Perhitungan Primary Ratio – PR – Bank

2). Risk Assets Ratio – RAR – Bank

Risk assets ratio adalah rasio yang digunakan untuk mengukur risiko kerugian akibat terjadinya penurunan nilai asset dan seberapa sejauh penurunan tersebut dapat ditanggung oleh modal bank.

Rumus Menghitung Risk Assets Ratio – RAR – Bank

Risk assets ratio dihitung dengan menggunakan persamaan berikut

RAR = (EC)/(TA – CA – S) x 100%

RAR = risk assets ratio (%)

EC = equity capital

TA = total asset

CA = cash asset

S = securities

Contoh Soal Perhitungan Risk Assets Ratio – RAR – Bank

3). Secondary Risk Ratio – SRR – Bank

Secondary risk ratio adalah rasio yang menunjukkan adanya kemungkinan penurunan asset yang memiliki risiko lebih tinggi.

Rumus Secondary Risk Ratio – SRR – Bank

Secondary risk rastio suatu bank dapat dihitung dengan menggunakan rumus berikut

SRR = (EC)/(SRA) x 100%

SRR = secondary risk ratio

EC = equity capital

SRA = secondary risk assets

SRA = TA – CA – S – Low risk assets

TA = total asset

CA = Cash asset

S = securities

Contoh Soal Perhitungan Secondary Risk Ratio SRR Bank

4). Capital Adequacy Ratio  – CAR – Bank

Capital Adequacy ratio menunjukkan kemampuan bank dalam mempertahankan modal yang cukup dan kemampuan manajemen dalam mengidentifikasi, mengawasi dan mengontrol timbulnya resiko- resiko yang dapat berpengaruh terhadap besar kecilnya modal bank.

Capital Adequacy Ratio (CAR) digunakan untuk mengukur kemampuan modal bank dalam menutupi kemungkinan terjadinya berbagai risiko kerugian akibat transaksi perkreditan dan transakasi surat- surat berharga yang dilakuknya.

Rumus Capital Adequacy Ratio 2 – CAR2 – Bank

Capital Adequacy Ratio 2 (CAR2) suatu bank dapat dinyatakan dengan rumus berikut:

CAR 2= (EC – FA)/(TL + S) x 100%

EC = Equity Capital

FA = Fixed Asset

TL = Total Loans

S = Securities

Capital Adequacy Ratio (CAR) merupakan rasio modal yang merepresentasikan kemampuan bank dalam menyediakan dana untuk keperluan pengembangan usaha serta menanggung kemungkinan risiko kerugian yang diakibatkan oleh operasional bank.

Semakin besar Capital Adequacy Ratio (CAR) yang dimiliki oleh bank, maka semakin baik posisi modal bank tersebut

Batas Standar Capital Adequacy Ratio – Bank

Adapun nilai indikator rasio keuangan menurut Surat Edaran Bank Indonesia No.6/1/23/DPNP tanggal 31 Mei 2004 tentang penilaian tingkat kesehatan bank umum sebagai berikut:

CAR: > 20% = sangat baik

CAR: 12% – 20% = bailk

CAR: 8% – 12% = kurang baik

CAR: < 8% tidak baik

Contoh Soal Perhitungan Capital Adequacy Ratio – Bank

5). Capital Ratio – CR – Bank

Capital ratio menunjukkan kemampuan modal equity dan cadangan untuk kerugian kredit dalam menanggung risiko kredit yang disalurkan pada masyarakat. Risiko yang dapat terjadi adalah bunga yang gagal ditagihkan atau penghapusan kredit.

Capital Ratio suatu bank dapat dinyatakan dengan menggunakan persamaan berikut:

CR = (EC + RL)/(TL) x 100%

CR = capital ratio

EC = equity capital

RL = reserve for loans losses

TL = total loans

Reserve for loan losses terdiri dari pencadangan kredit lancar, dalam perhatian khusus, kurang lancar, diragukan, dan macet.

Batas Standar Capital Ratio – CR – Bank

Adapun nilai indikator rasio keuangan menurut Surat Edaran Bank Indonesia No.6/1/23/DPNP tanggal 31 Mei 2004 tentang penilaian tingkat kesehatan bank umum sebagai berikut:

CR: > 81% = sangat baik

CR: 66% – 81% = bailk

CR: 51% – 66% = kurang baik

CR: < 51% tidak baik

Contoh Soal Perhitungan Rasio Solvabilitas Bank

Data data keuangan yang dipergunakan dalam perhitungan rasio solvabilitas suatu bank adalah laporan keuangan neraca. Berikut contoh laporan neraca bank yang sudah disederhanakan untuk Latihan perhitungan rasio solvabilitas suatu bank.

Contoh Soal Perhitungan Laporan Neraca Rasio Solvabilitas Bank
Contoh Soal Perhitungan Laporan Neraca Rasio Solvabilitas Bank

1). Contoh Soal Perhitungan Primary Ratio – PR – Bank

Dengan menggunakan data data keuangan dari contoh laporan neraca di atas, hitunglah primary ratio (PR) bank tersebut.

Menentukan Data Keuangan Untuk Primary Ratio

Data data keuangan bank yang dipergunakan dalam perhitungan primary ratio adalah data yang termasuk komponen equity capital dan total asset.

Data keuangan yang tergolong dalam pos equity adalah modal disetor, dana setoran modal, cadangan umum, cadangan lainnya, sisal laba tahun lalu, dan laba tahun berjalan,

Sedangkan data keuangan yang termasuk dalam komponen total asset adalah semua data keuangan yang terdapat dalam komponen aktiva (asset atau harta).

Data data keuangan dari contoh laporan neraca bank yang dibutuhkan untuk perhitungan primary ratio ditunjukkan dalam table seperti berikut:

1 Contoh Soal Perhitungan Primary Ratio – PR – Bank
1 Contoh Soal Perhitungan Primary Ratio – PR – Bank

Rumus Menghitung Primary Ratio – PR – Bank

Primary ratio suatu bank dapat dirumuskan dengan menggunakan persamaan berikut

PR = (EC)/(TA) x 100%

PR = primary ratio (%)

EC = 536,5

TA = 6680

PR = (536,5/6680) x 100%

PR = 8,03%

Bank memiliki nilai primary ratio PR 8,03 persen, ini artinya jumlah modal bank dalam pos equity capital adalah 8,03 persen dari total asset yang dimiliki bank. Dana dari equity capital hanya berkontribusi 8,03 persen dari total asset yang dimiliki oleh bank.

Jadi, setiap satu rupiah asset yang digunakan untuk kegiatan bank dibiayai atau ditanggung oleh 0,0803 rupiah dana equity capital.

2). Contoh Soal Perhitungan Risk Assets Ratio – RAR – Bank

Dengan menggunakan data data keuangan dari contoh laporan neraca bank di atas, hitunglan risk assets ratio bank tersebut

Menentukan Data Untuk Risk Assets Ratio – RAR – Bank

Data data keuangan bank yang dipergunakan dalam perhitungan risk assets ratio adalah data yang termasuk komponen equity capital, total asset, cash assets dan securities.

Data keuangan yang tergolong dalam pos equity adalah modal disetor, dana setoran modal, cadangan umum, cadangan lainnya, sisal laba tahun lalu, dan laba tahun berjalan,

Data keuangan yang termasuk dalam komponen total asset adalah seluruh data keuangan yang terdapat dalam komponen aktiva (asset atau harta). Sedangkan data yang termasuk dalam komponen securities adalah efek – efek dan deposito

Data data keuangan dari contoh laporan neraca bank yang dibutuhkan untuk perhitungan risk assets ratio ditunjukkan dalam table seperti berikut:

Contoh Soal Perhitungan Risk Assets Ratio – RAR - Bank
Contoh Soal Perhitungan Risk Assets Ratio – RAR – Bank

Rumus Menghitung Risk Assets Ratio – RAR – Bank

Risk assets ratio dari suatu bank dapat dinyatakan dengan menggunakan rumus rasio seperti berikut

RAR = (EC)/(TA – CA – S) x 100%

RAR = risk assets ratio (%)

EC = equity capital = 536,5

TA = total asset = 6680

CA = cash asset = 1612

S = securities = 460

RAR = (536,5)/(6680 – 1612 – 460) x 100%

RAR = 11,64 %

Nilai risk assets ratio bank adalah 11,64 persen, ini artinya dana dalam equity capital dapat menanggung risiko 11,64 persen dari dana yang disalurkan ke masyarakat.

3). Contoh Soal Perhitungan Secondary Risk Ratio SRR Bank

Dengan menggunaka data data keuangan dalam contoh laporan neraca bank di atas, hitunglan secondary risk ratio bank tersebut:

Menentukan Data Keuangan Untuk Perhitungan Secondary Risk Ratio

Data data keuangan bank yang dipergunakan dalam perhitungan secondary risk ratio adalah data yang termasuk komponen equity capital, total asset, cash assets, securities dan low risk assets

Data keuangan yang tergolong dalam pos equity adalah modal disetor, dana setoran modal, cadangan umum, cadangan lainnya, sisal laba tahun lalu, dan laba tahun berjalan,

Data keuangan yang termasuk dalam komponen total asset adalah seluruh data keuangan yang terdapat dalam komponen aktiva (asset atau harta). Sedangkan data yang termasuk dalam komponen securities adalah efek – efek dan deposito.

Data keuangan yang termasuk dalam low risk assets adalah harta tetap, inventoris dan lain – lain.

Data data keuangan dari contoh laporan neraca bank yang dibutuhkan untuk perhitungan secondary risk ratio ditunjukkan dalam table seperti berikut:

3). Contoh Soal Perhitungan Secondary Risk Ratio SRR Bank
3). Contoh Soal Perhitungan Secondary Risk Ratio SRR Bank

Rumus Menghitung Secondary Risk Ratio – SRR – Bank

Secondary risk ratio suatu bank dapat dinyatakan dengan menggunakan rumus berikut:

SRR = (EC)/(SRA) x 100%

SRR = secondary risk ratio

EC = equity capital = 536,5

SRA = secondary risk assets

SRA = TA – CA – S – Low risk assets

TA = total asset = 6680

CA = Cash asset =1612

S = securities = 460

Low risk assets = 208

SRA = 6680 – 1612 – 460 – 208

SRA = 4400

Sehingga SRR -nya adalah

SRR = (536,5)/(4400) x 100%

SRR = 12,19 %

Dengan nilai secondary risk ratio 12,19 persen, maka modal equity bank dapat menanggung 12,19 persen dari biaya asset yang memiliki risiko tinggi.

4). Contoh Soal Perhitungan Capital Adequacy Ratio 2 (CAR2) Bank

Dengan menggunakan data data keuangan dari contoh laporan neraca di atas hitunglah Capital Adequacy Ratio 2 (CAR2) bank tersebut.

Menentukan Data Keuangan Untuk Capital Adequacy Ratio 2 (CAR2) Bank

Data data keuangan bank yang dipergunakan dalam perhitungan capital adequacy ratio 2 adalah data yang termasuk komponen equity capital yaitu modal disetor, dana setoran modal, cadangan umum, cadangan lainnya, sisal laba tahun lalu, dan laba tahun berjalan, Data keuangan yang termasuk dalam komponen fixed asset adalah benda tetap / inventoris.

Sedangan data keuangan yang termasuk dalam komponen total loans adalah pinjaman yang disalurkan dalam mata uang rupiah dan pinjaman yang disalurkan dalam valuta asing. Data keuangan yang tergolong dalam securities adalah efek – efek dan deposito.

Data data keuangan dari contoh laporan neraca bank yang dibutuhkan untuk perhitungan capital adequacy ratio ditunjukkan dalam table seperti berikut:

4). Contoh Soal Perhitungan Capital Adequacy Ratio 2 (CAR2) Bank
4). Contoh Soal Perhitungan Capital Adequacy Ratio 2 (CAR2) Bank

Rumus Menghitung Capital Adequacy Ratio 2 – CAR2 – Bank

Besarnya capital adequacy ratio suatu bank dapat dihitung dengan menggunakan rumus seperti ini

CAR2 = (EC – FA)/(TL + S) x 100%

EC = Equity Capital = 536,5

FA = Fixed Asset = 88

TL = Total Loans = 3580

S = Securities = 460

CAR2 = (536,5 – 88)/(3580 + 460) x 100%

CAR2 = 11,10 %

Nilai capital adequacy ratio 2 CAR2 11,10 persen menunjukkan bahwa modal berupa equity capital setelah dikurangi fixed asset hanya mampu membiayai dana nasabah dan surat berharga sebesar 11,10 persen dari seluruh deposit nasabah dan surat berharga.

Setiap satu rupiah dana yang disimpan oleh nasabah dan surat berharga hanya dapat dibiayai atau ditanggung oleh modal bank sebesar 0,111 rupiah.

5). Contoh Soal Perhitugan Capital Ratio CR Bank

Bank ABC memiliki data keuangan seperti ditunjukkan pada table dibawah. Tentukanlah nilai capital ratio ank tersebut.

5 Contoh Soal Perhitugan Capital Ratio CR Bank
5 Contoh Soal Perhitugan Capital Ratio CR Bank

Menentukan Data Untuk Perhitungan Capital Ratio Bank

Data data keuangan bank yang dipergunakan dalam perhitungan capital ratio adalah data yang termasuk komponen equity capital yaitu modal disetor, dana setoran modal, cadangan umum, cadangan lainnya, sisal laba tahun lalu, dan laba tahun berjalan,

Sedangan data keuangan yang termasuk dalam komponen total loans adalah pinjaman yang disalurkan dalam mata uang rupiah dan pinjaman yang disalurkan dalam valuta asing.

Data data keuangan dari contoh laporan neraca bank yang dibutuhkan untuk perhitungan capital ratio ditunjukkan dalam table seperti berikut:

Menghitung Capital Ratio – CR – Bank

Nilai Capital Ratio suatu bank dapat dihitung dengan menggunakan persamaan berikut:

CR = (EC + RL)/(TL) x 100%

CR = (536,5 + 420)/(3580) x 100%

CR = 26,72%

Nilai capital ratio CR 26,72 persen menunjukkan bahwa modal berupa equity capital dan reserve for loan losses hanya mampu membiayai dana nasabah sebesar 26,72 persen dari seluruh deposit nasabah.

Setiap satu rupiah dana yang didepositkan oleh nasabah hanya dapat dibiayai atau ditanggung oleh modal bank sebesar 0,26,72 rupiah.

    Daftar Pustaka:

    1. Kasmir, 2012, “Dasar Dasar Perbankan”, Edisi Revisi, Rajawali Pers, Jakarta.
    2. Kasmir, 2012, “Manajemen Perbankan”, Edisi Revisi, RajaGrafindo Persada, Jakarta.
    3. Kasmir, 2015, “Bank dan Lembaga Keuangan Lainnya”, Edisi Revisi 2014, Rajawali Pers, Jakarta.
    4. Ismail, 2018, “Manajemen Perbankan – Dari Teori Menuju Aplikasi”, Edisi Pertama, Prenadamedia Group, Jakarta.
    5. Suhardjono, M, K., 2012, “ Manajemen Perbankan – Teori Dan Aplikasi”, Edisi Kedua, BPFE – Yogyakarta.
    6. Djumhana, Muhamad, 2006, “Hukum Perbankan di Indonesia”, Cetakan Kelima, PT Citra Aditya Bakti,  Bandung.
    7. Mangani, Silvanita, Ktut, 2009, “Bank dan Lembaga Keuangan Lain”, Penerbit Erlangga, Jakarta.
    8. Mishkin, S., Frederic, 2008’ “Ekonomi Uang, Perbankan, dan Pasar Uang”, Edisi Kedelapan, Salemba Empat, Jakarta.
    9. Joesoef, Jose Rizal, 2008, “Pasar Uang dan Pasar Valuta Asing”, Salemba Empat, Jakarta.
    10. Djamil, Fathurrakman,  2012, “Penerapan Hukum Perjanjian dalam Transaksi di Lembaga Keuangan Syariah”, Cetakan Pertama, Sinae Grafika, Jakarta.
    11. Fuady, Munir, 2004, “Hukum Perbankan Modern”, Buku Kedua, Citra Aditya Bakti, Bandung.
    12. Machmud, A. Rukmana, H., 2010, “Bank Syariah, Teori, Kebijakan, dan Studi Empiris di Indonesia”, Penerbit Erlangga, Jakarta
    13. Solvabilitas Bank: Rumus Perhitungan Primary Ratio Risk Asset Ratio Secondary Risk Ratio Capital Ratio Capital Adequacy Ratio Contoh Soal, Rumus Primary Ratio Risk Asset Ratio Secondary Risk Ratio Capital Ratio Capital Adequacy Ratio Bank,
    14. Contoh Soal Perhitungan Dan Pembahasan Primary Ratio Risk Asset Ratio Secondary Risk Ratio Capital Ratio Capital Adequacy Ratio Bank, Fungsi Manfaat Perhitungan Primary Ratio Risk Asset Ratio Secondary Risk Ratio Capital Ratio Capital Adequacy Ratio Bank, Pengertian Manfaat Perhitungan Rasio Solvabilitas Bank,

    Jenis Produktivitas: Perhitungan Single- Factor Productivity – Multifactor Productivity – Produktivitas Faktor Total – Rated Capacity – Rencana Produksi – Cycle Time Produksi- Contoh Soal Rumus

    Pengertian Produktivitas:  Produktivitas merupakan rasio antara output (barang dan jasa) dibagi dengan input (sumber daya seperti modal dan tenaga kerja).

    Produktivitas yang tinggi selalu menjadi target rutin yang diambil oleh seluruh perusahaan dalam mencapai keutungan yang tinggi.

    Pengertian Produktivitas Menurut Organization for European Economic Coorporation

    Produktivitas adalah hasil bagi yang diperoleh dengan membagi keluaran dengan satu dari faktor-faktor produksi, yaitu kapital, investasi dan bahan mentah.

    Pengertian Produktivitas Menurut Organization for Economic Cooperation and Development (OECD)

    Produktivitas merupakan output dibagi dengan elemen- elemen produksi yang dimanfaatkan untuk mendapatkan output.

    Pengertian Produktivitas Menurut Drucker 

    Produktivitas adalah keseimbangan antara seluruh faktor-faktor produksi yang memberikan keluaran yang lebih banyak melalui penggunaan sumber daya yang lebih sedikit.

    Pengertian Produktivitas Menurut Greenberg

    Produktivitas adalah perbandingan antara totalitas pengeluaran pada waktu tertentu dibagi totalitas masukan selama periode tersebut.

    Pengertian Produktivitas Menurut Mali

    Produktivitas merupakan kombinasi dari efektivitas dan efisiensi”. Efektivitas berkaitan dengan unjuk kerja dalam mencapai tujuan dan efisiensi berkaitan dengan penggunaan sumber daya.

    Produktivitas dicapai dengan hasil yang sebesa mungkin, dengan memakai sumber daya yang sekecil mungkin.

    Pengertian Produktivitas Menurut Simanjuntak

    Produktivitas secara philosopi merupakan suatu usaha untuk meningkatkan kualitas kehidupan kerja, yakni hari ini lebih baik dari hari kemarin.

    Pengertian Produktivitas Menurut Sinungan,

    Produktivitas adalah suatu pendekatan interdisipliner untuk menentukan tujuan yang efektif, pembuatan rencana, aplikasi penggunaan cara yang produktif untuk menggunakan sumber-sumber secara efisien dan tetap menjaga adanya kualitas yang tinggi

    Pengertian Produktivitas Menurut Tjutju Yuniarsih

    Produktivitas kerja dapat diartikan sebagai hasil konkrit (produk) yang dihasilkan oleh individu atau kelompok, selama satuan waktu tertentu dalam suatu proses kerja.

    Cara Meningkatkan Produktivitas

    Meningkatkan produktivitas berarti meningkatkan efisiensi. Peningkatan efisiensi dapat dicapai dengan dua cara.

    Pertama adalah mengurangi input dengan menjaga output tetap konstan. Kedua adalah menjaga input tetap konstan.

    Kedua cara tersebut sama-sama menggambarkan peningkatan produktivitas. Secara ekonomi, input meliputi tenaga kerja, modal, dan manajemen yang diintegrasikan dengan sistem produksi.

    Sistem produksi akan memfasilitasi konversi input menjadi output. Output berupa barang dan jasa, sedangkan produksi adalah pembuatan barang dan jasa tersebut.

    Walaupun produksi yang tinggi dapat dicapai dengan penggunaan banyak tenaga kerja, namun hal ini tidak menggambarkan produktivitas yang sebenarnya.

    Rumus Menghitung Produktivitas

    Penghitungan produktivitas dilakukan dengan menghitung input yang dapat berupa modal (jumlah uang yang diinvestasikan), material (ton atau kilogram), energi (kilowatt listrik), dan satuan-satuan lainnya. Sedangkan output dapat berupa jumlah barang unit, ton atau kg atau satuan output lainnya.

    Rumus produktivitas dapat dinyatakan dengan menggunkan persamaan sebagai berikut.

    P = O/I

    P = produktivitas

    O = output = unit atau uang diproduksi – dihasilkan

    I = input = unit atau uang yang digunakan

    Metoda Pengukuran Produktivitas Aktual Normatif

    Produktivitas sebenarnya mengukur sesuatu yang telah dicapai dan seberapa tinggi tingkat pencapaian yang telah dilakukan. Ada dua metode yang populer untuk mengukur produktivitas dalam sebuah perusahaan.

    Cara pertama adalah membuat perbandingan antara output dan input-nya. Hasil perbandingan metoda ini yang disebut dengan produktivitas masing- masing input.

    Cara kedua adalah membuat perbandingan antara kondisi aktual dan normatif.  Dengan metoda kedua ini akan diketahui seberapa tinggi tingkat keberhasilan yang telah dicapai dalam perusahaan tersebut.

    1). Contoh Soal Perhitungan Produktivitas Aktual

    Perusahaan PT Ardra.biz memproduksi 400 unit produk dari inputan usaha yang dimilikinya. Perusuhaan membutuhkan 400 unit bahan baku dengan waktu tenaga kerja TKL sebesar 400 jam dan waktu operasi peralatan / mesin (alat) 300 jam. Seperti ditunjukkan dalam dalam table berikut:

    Contoh Soal Rumus Perhitungan Produktivitas Aktual
    Contoh Soal Rumus Perhitungan Produktivitas Aktual

    Menghitung Produktivitas Aktual Masing Masing Input Produksi

    Produktivitas masing masing variable input produksi dapat dihitung dengan menggunakan rumus berikut:

    P = O/I

    O = produk

    O = 400 unit produk

    I = input =  Bahan baku, TKL, Alat,

    Menghitung Produktivitas Bahab Baku

    O = produk = 400 unit

    I = bahan baku = 200 unit

    P = 400/200 = 2,00

    P = 2 unit produk/unit bahan baku

    Mengitung Produktivitas Tenaga Kerja

    O = produk = 400 unit

    I = jam tenaga kerja TKL = 400 jam

    P = 400/400

    P = 1 unit produk/jam tenaga kerja

    Menghitung Produktivita Peralatan (Mesin / Alat)

    O = produk = 400 unit

    I = Mesin (alat) = 300 jam

    P = 400/300

    P = 1,33 unit/jam mesin

    Dari hasil perhitungan dapat diketahui, bahwa produktivitas tenaga kerja merupakan factor input produksi yang paling rendah nilainya.

    Tabel Rumus Menghitung Produktivitas Aktual Masing Masing Input Produksi
    Tabel Perhitungan Produktivitas Aktual Masing Masing Input Produksi

    2). Contoh Soal Menghitung Produktivitas Normatif

    Produktivitas normative merupakan produktivitas yang ditetapkan berdasarkan beberapa pertimbangan. Produktivitas dapat ditetapkan berdasarkan pada data historis produksi seperti rata – rata, atau operasi yang terbaik, atau bisa ditetapkan berdasar pada uji teoritis atau berdasarkan pada disain operasi pada tahap investasi, atau dapat juga didasarkan pada keuntungan yang ingin dicapai.

    Produktivitas normative menjadi acuan atau standar yang digunakan untuk mengevaluasi produktivitas operasi yang sedang berjalan.

    Berikut data data yang digunakan oleh PT Ardra.biz untuk penetapan produktivitas normative atau standar produksinya seperti ditunjukkan pada table berikut:

    Contoh Soal Menghitung Produktivitas Normatif
    Contoh Soal Menghitung Produktivitas Normatif

    Perhitungan produktivitas normative sama seperti pada perhitungan produktivitas actual. Hasilnya seperti berikut:

    Cara Perhitungan Produktivitas Normative
    Cara Perhitungan Produktivitas Normative

    Kedua nilai produktivitas yaitu actual dan normative dapat dibandingkan untuk melihat sejauh mana produktivitas actual yang sedang berjalan dapat memenuhi keadaan standarnya.

    Berikut table yang menunjukkan data produktivitas actual dan normative dari PT Ardra.biz

    Tabel Evaluasi Produktivitas Actual dan Normative
    Tabel Evaluasi Produktivitas Actual dan Normative

    Dari table di atas dapat diketahui bahwa produktivitas actual (A) dari bahan baku dan tenaga kerja memiliki produktivitas yang lebih rendah dari standar (normative, N) yang telah ditetapkan.

    Hal ini menunjukkan bahwa, perusahaan masih dapat meningkat produktivitas dengan memperbaiki kinerja dari tenaga kerja dan bahan bakunya.

    Jenis- Jenis Produktivitas

    Pada dasarnya produktivitas dapat dikatagorikan menjadi single factor productivity, multifactor productivity dan produktivitas factor total.

    a). Pengertian Single- Factor Productivity

    Single- factor productivity atau factor produktivitas tunggal adalah produktivitas yang dihitung dengan menggunakan satu unit input.

    Jadi Single-Factor Productivity atau biasa disebut juga Produktivitas Parsial adalah perbandingan antara keluaran dengan salah satu faktor masukan.

    Sebagai contoh, produktivitas tenaga kerja (rasio dari keluaran dan masukan tenaga kerja), produktivitas modal (rasio keluaran dan masukan modal), produktivitas material (rasio dari keluaran dan masukan material).

    b). Pengertian Multifactor Productivity

    Multifactor productivity adalah produktivitas yang dihitung dengan menggunakan lebih dari satu unit input atau melibatkan semua factor unit produksi seperti modal, tenaga kerja, material, dan energi.

    Jadi, multi-factor productivity atau Produktivitas Total merupakan perbandingan antara keluaran dengan seluruh faktor masukan, dengan demikian produktivitas total mencerminkan pengaruh bersama seluruh masukan dalam mengasilkan keluaran.

    Rumus Multifactor Productivity

    Besarnya multifactor productivity yang melibatkan lebih dari satu unit input dapat dinyatakan dengan menggunakan persamaan berikut:

    P = O/(L + M + E + K + Il)

    P = produktivitas

    O = output = unit yang dihasilkan

    L = tenga kerja

    M = material (bahan baku)

    E = energi

    K = modal

    Il = input lainnya jika masih ada

    Contoh Soal Perhitungan Di Akhir Artikel

    c). Pengertian Produktivitas Faktor Total

    Produktivitas Faktor Total adalah rasio keluaran bersih terhadap jumlah masukan faktor tenaga kerja dan faktor modal. Keluaran bersih adalah keluaran total dikurangi dengan jumlah rasio barang atau jasa yang dibeli

    Faktor- Faktor yang Mempengaruhi Produktivitas

    Produktivitas merupakan kombinasi dari efektivitas dan efisiensi, karena efektivitas terkait dengan kinerja sedangkan efisiensi berhubungan dengan pemanfaatan berbagai sumber.

    Produktivitas dari suatu perusahaan atau industry dapat dipengaruhi oleh beberapa factor, seperti berikut:

    a). Pengaruh Faktor Investasi Pada Produktivitas

    Besar kecilnya investasi akan menentukan modal usaha dan berpengaruh terhadap usaha untuk mempromosikan produk, market share atau penggunaan kapasitas.

    b). Pengaruh Rasio Modal Buruh Pada Produktivitas

    Bila rasio semakin tinggi, berarti perusahaan telah memakai teknologi canggih atau tinggi hingga jumlah produksi per unit waktu meningkat.

    c). Pengaruh Penelitian dan Pengembangan Pada Produktivitas 

    Penelitian dapat menghasilkan berbagai inovatif terhadap efisiensi, jenis produk, penghematan dan sebagainya.

    d). Pengaruh Penggunaan Kapasitas

    Besar kecilnya keluaran per jam ditentukan oleh presentase pemakaian kapasitas.

    e). Pengaruh Pemerintah Pada Produktivitas

    Mengatur keseimbangan pencapaian sasaran industri dan sosial yang selalu bertentangan.

    f). Pengaruh Umur Pabrik dan Peralatan Pada Produktivitas

    Tingkat rata-rata umur pabrik dan peralatan yang semakin tinggi menandakan masih adanya usaha modernisasi peralatan masih tetap diteruskan.

    g). Pengaruh Ongkos Energi Pada Produktivitas

    Produktivitas parsial meningkat pada tenaga kerja atau buruh, jika masukan energi meningkat cepat maka ongkos produksi keseluruhan meningkat.

    h). Pengaruh Kelompok Kerja Pada Produktivitas

    Dengan pergeseran struktur pekerja, semakin dibutuhkannya kerja sama, ketermpilan dan keahlian.

    i). Pengaruh Etika Kerja Pada Produktivitas

    Penghargaaan akan waktu akan semakkin tinggi sehingga pemanfaatan waktu harus seproduktif mungkin.

    j). Pengaruh Kecemasan Pekerja Akan Kehilangan Pekerjannya Pada Produktivitas

    Banyaknya orang berpendapat bahwa pengangguran akan meningkat karena peningkatan produktivitas dengan sistem kontrol komputer.

    Bagaiamana mengetahui tanpa mengenal komputer dan microprocessor sistem kontrol, barangkali banyak orang tidak bekerja (menganggur).

    k). Pengaruh Sertifikat Buruh Pada Produktivitas

    Serikat buruh sangat kuat sehingga memerlukan adanya pengertian terutama demi tuntutan gaji dan upah. Kerja sama antar manajemen dan buruh merupakan penopang peningkatan produktivitas.

    l). Pengaruh Manajemen Pada Produktivitas

    Manajemen dianggap sebagai faktor dominan terutama dalam proses perencanaan dan penjadwalan, kejelasan instruksi pada tenaga kerja dan pengaturan beban kerja.

    3). Contoh Soal Perhitungan Produktivitas Single Factor Productivity

    Diketahui jumah produk yang diproduksi adalah 5.000 unit dan jam tenaga kerja yang digunakan adalah 500, hitunglah produktivitas terhadap produksi tersebut.

    Diketahui

    O = Ouput produksi = Jumlah Produk

    O = 5000 unit

    I = input produksi = waktu kerja = jam tenaga kerja

    I = 500 jam

    Menghitung Produktivitas Perusahaan

    Besarnya produktivitas dapat dinyatakan dengan rumus berikut

    P = O/I

    P = 5000/500

    P = 10 unit/jam tenaga kerja.

    Jadi, produktivitasa perusahaan adalah 10 unit produk untuk tiap jam tenaga kerja.

    4). Contoh Soal Perhitungan Multifactor Productivity

    Perusahaan PT Ardra.biz. akan mengevaluasi tenaga kerja dan produktivitas multifaktor dengan penggunaan sistem mesin otomatis baru.

    Pada bagian finishing, perusahaan memiliki tenaga kerja 5 orang, yang bekerja selama 8 jam per hari dan biaya tenaga kerja Rp 4 jt per hari sedangkan biaya overhead perharinya sebesar Rp 6 jt per hari.

    Dengan system lama, perusahaan memproduksi produk 80 unit setiap harinya. Dengan sistem mesin otomatis baru, perusahaan mampu memproduksi 120 unit per hari.

    Biaya tenaga kerja dan jam kerja tetap, namun biaya overhead-nya meningkat menjadi Rp 8 jt per hari. Hitunglah Produktivitas tenaga kerja dan multifactor pada system lama dan system mesin otomatis baru.

    Menghitung Produktivitas Tenaga Kerja Sistem Mesin Lama

    Besarnya produktivitas tenaga kerja pada system lama sebelum mesin otomatis dapat dinyatakan dengan menggunakan rumus single factor productivity seperti berikut:

    P = O/I

    P = produktivitas tenaga kerja system lama

    O = jumlah produk output

    O = 80 unit produk

    I = jam tenaga kerja

    I = 5 orang x 8 jam

    I = 40 jam

    P = 80/40

    P = 2 unit/jam kerja

    Menghitung Produktivitas Tenaga Kerja Sistem Mesin Otomatis

    Besarnya produktivitas tenaga kerja setelah pemasangan system mesin otomatis dapat dinyatakan dengan persamaan single factor productivity berikut:

    P = O/I

    P = produktivitas tenaga kerja system mesin otomatis

    O = jumlah unit produk

    O = 120 unit

    I = jam tenaga kerja

    I = 5 orang x 8 jam

    I = 40 jam

    P = 120/40

    P = 3 unit/jam kerja

    Menghitung Multifactor Productivity Sistem Mesin Lama

    Besarnya multifactor productivity dari system mesin lama dapat dihitung dengan persamaan dari rumus berikut:

    MP = O/I

    MP = O/(BT + BO)

    MP = multifactor productivity

    O = output = jumlah unit produk lama

    O = 80 unit

    I = BT + BO

    BT = biaya tenaga kerja

    BT = 4 jt Rupiah/Hari

    BO = biaya overhead

    BO = 6 jt Rupiah/hari

    I = 4 + 6

    I = 10 jt Rp/hari

    Maka multifactor productivity system lamanya adalah

    MP = O/I

    MP = 80/10

    MP = 8 unit produk/Satu Juta Rupiah

    Menghitung Multifactor Productivity Sistem Mesin Otomatis Baru

    Besarnya multifactor productivity system mesin otomatis dapat dinyatakan dengan persamaan berikut:

    MP = O/I atau

    MP = O/(BT + BO)

    MP = Multifactor productivity system mesin otomatis

    O = jumlah unit produk

    O = 120 unit produk

    BT = biaya tenaga kerja

    BT = 4 jt Rupiah/Hari

    BO = biaya overhead

    BO = 8 jt Rupiah/hari

    I = 4 + 8 = 12 jt Rp/hari

    Maka multifactor productivity system barunya adalah

    MP = O/I

    MP = (120 unit)/(12 jt Rupiah/hari)

    MP = 10 unit/ satu juta Rupiah

    Menghitung Peningkatan Produktivitas Tenaga Kerja

    Peningkatan produktivitas tenaga kerja akibat penerapan system mesin otomatis baru dapat dinyatakan dengan rumus berikut

    ΔP = (PSB – PSL)/PSL

    ΔP = Peningkatan produktivitas (%)

    PSB = Produktivitas Sistem baru

    PSB = 3 unit /jam kerja

    PSL = Produktivitas Sistem lama

    PSL = 2 unit / jam kerja

    ΔP = (3 – 2)/2

    ΔP = ½ = 0,5 atau

    ΔP = 50 %

    Menghitung Peningkatan Produktivitas Multifactor Productivity

    Peningkatan Multifactor Productivity akibat penerapan system mesin otomatis baru dapat dinyatakan dengan rumus berikut

    ΔMP = (MPSB – MPSL)/MPSL

    ΔMP = Peningkatan Multifactor Productivity (%)

    MPSB = Multifactor Productivity Sistem baru

    MPSB = 10 unit /satu juta rupiah

    MPSL = Multifactor Productivity Sistem lama

    MPSL = 8 unit / satu juta rupian

    ΔMP = (10 – 8)/8

    ΔMP = 1/4 = 0,25 atau

    ΔMP = 25 %

    Dari hasil perhitugan di atas dapat diketahui bahwa dengan menggunakan perhitungan single-factor productivity maupun multifactor productivity menunjukkan adanya peningkatan produktivitas.

    Namun demikian, perhitungan dengan menggunakan multifaktor mampu memberikan gambaran yang yang lebih baik, karena memperhitungkan semua biaya dikaitkan dengan peningkatan output.

    Pengertian Kapasitas Produksi

    Beberapa pengertian kapasitas produksi berdasarkan para ahli diantaranya adalah

    a). Pengertian Kapasittas Produksi Menurut Render dan Heizer (2001: 186)

    Kapasitas produksi  adalah hasil produksi (atau output atau keluaran) maksimal dari sistem pada suatu periode tertentu.

    b). Pengertian Kapasittas Produksi Menurut Menurut Handoko (2001:297-298)

    Kapasitas adalah suatu tingkat keluaran, suatu kuantitas keluaran dalam periode tertentu yang merupakan keluaran tertinggi yang mungkin diperoleh selama periode waktu tertentu.

    c). Pengertian Kapasittas Produksi Menurut Menurut Yamit (2011: 67)

    Kapasitas produksi adalah jumlah maksimum output atau keluaran yang dapat diproduksi dalam satuan waktu tertentu.

    Jenis Jenis Kapasitas Produksi

    a). Kapasitas Desain.

    Kapasitas desain adalah output yang maksimum secara teori pada suatu sistem dalam suatu periode waktu tertentu pada kondisi idealnya sesuai dengan desain pembuatannya. Kapasitas desain juga bisa diartikan kapasitas yang mana suatu perusahaan mengharapkan untuk mencapai hambatan operasional yang tersedia saat ini.

    b). Kapasitas Efektif (Utilization).

    Kapasitas efektif menunjukan output maksimum pada tingkat operasi tertentu. Kapasitas efektif adalah kapasitas yang diperkirakan dapat dicapai oleh perusahaan dengan keterbatasan operasi yang ada.

    Kapasitas efektif biasanya lebih rendah daripada kapasitas desain karena fasilitas yang ada mungkin telah lama dipakai atau dirancang untuk versi produk yang berbeda.

    c). Kapasitas Efisien (Efficiency).

    Kapasitas efisien adalah persentase kapasitas yang benar-benar tercapai disbanding dengan desainnya. Bergantung pada bagaimana fasilitas dipergunakan dan dikelola. Kapasitas efisien mengukur seberapa baik fasilitas atau mesin ketika digunakan.

    d). Rated Capacity.

    Rated capacity adalah tingkat keluaran per satuan yang menunjukkan bahwa fasilitas secara teoritik mempunyai kemampuan memproduksinya.

    e). Standard Capacity.

    Standar Capacity adalah tingkat keluaran per satuan waktu yang ditetapkan sebagai sasaran pengoperasian perusahaan yang dapat digunakan sebagai dasar bagi penyusunan anggaran.

    f). Actual Operating Capacity

    Actual operating capacity adalah tingkat keluaran rata-rata per satuan waktu selama periode-periode waktu tertentu.

    g). Peak Capacity.

    Peak capacity adalah jumlah keluaran puncak (tertinggi) per satuan waktu. Peak capacity mungkin lebih rendah daripada standard atau bisa lebih tinggi dari kapasitas standar yang sudah ditetapkan perusahaan.

    Proses Perencanaan Kapasitas

    Proses perencanaan kapasitas dapat dijelaskan secara sederhana sebagai berikut :

    a). Memperkirakan permintaan di masa depan, termasuk dampak dari teknologi, persaingan dan lainnya.

    b). Menjabarkan perkiraan itu dalam kebutuhan kapasitas fisik.

    c). Menyusun piihan rencana kapasitas yang berhubungan dengan kebutuhan itu.

    d). Menganalisis pengaruh ekonomi pada pilihan rencana.

    e). Meninjau resiko dan pengaruh strategi pada pilihan rencana.

    f). Memutuskan rencana pelaksanaan.

    Pengertian Rated Capacity Produksi

    Rated Capacity adalah tingkat output produksi persatuan waktu yang merepresentasikan bahwa secara teortis mempunyai kemampuan memproduksi.

    Reted capacity menunjukkan kemampuan suatu industry untuk menghasilkan sejumlah produk dalam retang waktu tertentu. Rentang waktunya dapat persatuan jam, persatuan hari, persatuan bulan atau persatuan tahun, tergantung kebutuhannya.

    Rumus Menghitung Rated Capacity

    Besarnya kapasitas produksi dalam rentang waktu tertentu dapat dinyatakan dengan menggunakan persamaan berikut:

    RC = JM x JKM x U x E

    RC = rated capacity

    JMA = Jumlah mesin/alat

    JKM = jam kerja mesin

    U = utilisasi = persentase penggunaan

    E = efisiensi

    Dari rumus rated capacity dapat diketahui bahwa jumlah produk yang dihasilkan dalam periode tertentu tergantung pada jumlah mesin atau peralatan, jam kerja dari mesin, utilisasi atau penggunaan mesin dan efisisnsi.

    Pengertian Perencanaan Produksi

    Perencaaan produksi merupakan suatu proses penetapan tingkat produksi output manufacturing secara keseluruhan untuk memenuhi tingkat penjualan yang direncanakan dan invebtori yang diinginkan.

    Rumus Menghitung Perencanaan Produksi

    Besarnya rencana produksi dapat dinyatakan dengan rumus persamaan berikut

    RP = (PT – IA) + I

    RP = rencana produksi

    PT = permintaan total

    Iaw = inventory awal

    Iak = inventori akhir

    Pengertian Cycle Time Produksi

    Cycle time adalah waktu antara penyelesaian dua unit diskrit dari produksi. Cycle time mengacu pada waktu yang diperlukan material (bahan baku) dari mulai masuk ke fasilitas produksi sampai keluar menjadi produk.

    Rumus Menghitung Cycle Time Produksi

    Besarnya cycle time yang dibutuhkan untuk menghasilkan satu unit produk mulai dari awal proses hingga proses terakhir menjadi suatu produk dapat dinyatakan dengan persamaan berikut:

    Cycle Time = (Waktu Produksi)/(Tingkat Produksi) atau

    CT = (WP)/(TP)

    CT = Cycle Time

    WP = Waktu Produksi

    TP = Tingkat Produksi)

    5). Contoh Soal Perhitungan Rated Capacity

    Perusahaan PT ardra.biz memiliki unit produksi uang beroperasi selama 7 hari perminggunya dengan system tiga shift, 8 jam per-shift-nya. Perusahaan memiliki 10 mesin dengan kemampuan yang sama. Mesin dipakai selama 90 % dari waktunya ketika tingkat efisien system 85 %. Hitunglah rated capacity dalam satu meninggu.

    Menghitung Rated Capacity Produksi

    Besarnya rated capacity dapat dinyatakan dengan menggunakan persamaan berikut

    RC = JM x JKM x U x E

    JM = 10 mesin

    JKM = 3 x 8 jam/hari x 7 hari/minggu

    JKM = 168 jam/minggu

    U = 90%

    E = 85%

    RC = (10) x (168) x (90%) x (85%)

    RC = 1285,2 dibulatkan

    RC = 1285 jam perminggu

    6). Contoh Soal Perhitungan Rencana Produksi

    Perusahaan PT Ardra.biz sedang merencanakan produksi untuk permintaan total 1000 unit produk. Perusahaan memiliki inventori awal 200 dan inventori akhir 800, maka berdasarkan data ini, berapakah rencana produksinya.

    Menghitung Rencana Produksi

    Rencana produksi dapat dinyatakan dengan rumus seperti berikut:

    RP = (PT – Iaw) + Iak

    RP = rencana produksi

    PT = permintaan total

    PT = 1000 unit

    Iaw = inventory awal

    Iaw = 200 unit

    Iak = inventori akhir

    Iaw = 800 unit

    Berdasarkan data data tersebut, maka rencana produksinya adalah

    RP = (1000 – 200) + 800

    RP = 1600 unit produk

    7). Contoh Soal Perhitungan Cycle Time Produksi

    PT Ardra.biz memiliki data data  produksi sebagai berikut waktu yang tersedia adalah 8 jam x 60 menit = 480 menit untuk waktu produktif perharinya. Perusahaan memiliki tingkat produksi perhari adalah 24 unit. Hitungkah cycle time produksi perusahaan tersebut.

    Menghitung Cycle Time Produksi

    CT = (WP)/(TP)

    CT = Cycle Time

    WP = Waktu Produksi

    WP = 480 menit

    TP = Tingkat Produksi)

    TP = 24 unit

    Dengan data data tersebut, maka cycle time produskinya adalah

    CT = 480/24

    CT = 20 menit per unit produk

    Seandainya materi ini memberikan manfaat, dan anda ingin memberi dukungan motivasi pada ardra.biz, silakan kunjungi SociaBuzz Tribe milik ardra.biz di tautan berikuthttps://sociabuzz.com/ardra.biz/tribe

      Daftar Pustaka:

      1. Sartono, Agus, R., “ 2001, “Manajemen Keuangan Teori dan Aplikasi”, Edisi Keempat, BPFE Yogyakarta, Yogyakarta.
      2. Jenis Produktivitas: Perhitungan Single- Factor Productivity – Multifactor Productivity – Produktivitas Faktor Total – Rated Capacity – Rencana Produksi – Cycle Time Produksi- Contoh Soal Rumus,
      3. Jenis Jenis Kapasitas Produksi – Kapasitas Desain- Kapasitas Efektif (Utilization) – Kapasitas Efisien (Efficiency) – Rated Capacity – Standard Capacity – Actual Operating Capacity Peak Capacity,
      4. Contoh Soal Perhitungan Produktivitas Aktual Normatif, Contoh Soal Perhitungan Produktivitas Single- Factor Productivity – Multifactor Productivity, Contoh Soal Perhitungan Rated Capacity – Rencana Produksi – Cycle Time Produksi,

      Rasio Likuiditas Bank: Quick Ratio – Banking Ratio – Loan to Deposit Ratio – Cash Ratio – Loan to Asset Ratio Deposit Risk Ratio – Investing Policy Ratio

      Pengertian Likuiditas: Likuiditas merupakan kesanggupan suatu bank dalam menyediakan dana untuk kebutuhan atau kewajiban saat ini atau kewajiban jangka pendek (short-term debt) yang bersifat lancar atau yang segera harus dibayar, baik kewajiban kepada pihak luat maupun kewajiban di dalam bank itu sendiri.

      Kewajiban jangka pendek atau biasa disebut juga dengan utang lancar adalah utang yang akan dilunasi dalam waktu tiga bulan sampai satu tahun.

      Menurut Bank Indonesia, penilaian aspek likuiditas mencerminkan kemampuan bank untuk mengelola tingkat likuiditas yang memadai guna memenuhi kewajibannya secara tepat waktu dan untuk memenuhi kebutuhan yang lain.

      Pengertian Ratio Likuiditas Bank

      Rasio likuiditas bank adalah rasio yang menunjukkan kemampuan suatu bank dalam memenuhi kewajiban jangka pendeknya pada saat ditagih nasabahnya.

      Bank dianggap memiliki likuiditas yang baik ketika dapat membayar kembali pecairan dana deposannya pada saat ditagih dan mencukupi permintaan kredit yang telah diajukan dan disetujuinya.

      1). Quick Ratio QR – Bank

      Quick rasio adalah rasio adalah rasio yang menunjukkan ukuran kemampuan bank dalam memenuhi kewajibannya terhadap nasabahnya yang memiliki simpanan giro, tabungan dan deposito dengan harta atau aktiva yang paling likuid yang dimiliki suatu bank.

      Jadi, quick ratio mengukur kemampuan bank membayar kembali kewajibannya dengan harta lancar (cash asset) ketika nasabahnya menarik dananya dari giro, tabungan dan deposito. Jadi, sumber likuiditasnya adalah dana dari harta lancar atau cash asset.

      Rumus Menghitung Quick Ratio

      Quick rasio suatu bank dapat dinyatakan dengan menggunakan persamaan berikut:

      Quick Ratio = (Cash Assets)/(Total Deposit) x 100%

      Quick ratio QR sebenarnya merupakan perbandingan antara dana yang paling likuid yaitu cash asset terhadap total dana yang didepositkan nasabahnya. Jadi, kemampuan bank untuk membayar Kembali dana nasabahnya akan semakin besar ketika bank memiliki nilai QR yang semakin besar.

      Semakin besar nilai QR artinya likuiditas bank semakin tinggi. Nilai QR akan semakin tinggi jika cash asset semakin besar atau total deposit semakin rendah.

      Rasio ini mencerminkan seberapa besar bank memberi jaminan terhadap dana yang telah diterimanya dengan dana dari cash asset yang dimilikinya. Quick Ratio yang ditetapkan oleh Bank Indonesia antara 15- 21%.

      Contoh Soal Perhitungan Quick Ratio Di Akhir Artikel

      2). Loan To Deposit Ratio – LDR Bank

      Loan to deposit ratio adalah rasio yang menunjukkan jumlah dana yang disalurkan melalui kredit dibandingkan dengan jumlah dana dari masyarakat dan modal sendiri.

      Rumus Menentukan Loan To Deposit Ratio – LDR Bank

      Besarnya Loan to deposit ratio suatu bank dapat dinyatakan dengan persamaan berikut:

      Loan to Deposit Ratio = (Total Loans)/(Total Deposit + Equity) x 100 %

      Dari rumusnya dapat diketahui, bahwa LDR merupakan perbandingan nilai total loan terhadap total deposit ditambah equity. Jadi, nilai LDR bank akan semakin tinggi ketika bank mampu menyalurkan dananya semakin besar.

      Namun demikian, semakin tinggi nilai LDR menyebabkan likuiditas bank semakin rendah. Sehingga kemampuan bank untuk mengembalikan dana kepada nasabahnya akan semakin rendah.

      Nilai LDR akan semakin besar jika total loan semakin besar atau deposit ditambah equity semakin kecil.

      Standar yang ditetapkan oleh Bank Indonesia untuk rasio LDR  ini adalah maksimum 110%. Jika suatu bank mendapatkan nilai loan to deposit ratio diangka 70%, hal ini menunjukkan bahwa bank tersebut hanya mampu menyalurkan 70% dari total dana yang dihimpun dari nasabahnya (atau masyarakat). Sedangkan 30% lainnya tidak dapat atau belum tersalurkan.

      Contoh Soal Perhitungan Loan to Deposit Ratio Di Akhir Artikel

      3). Banking Ratio – BR – Bank

      Banking ratio adalah rasio yang menunjukkan tingkat likuiditas bank dengan membandingkan jumlah kredit yang disalurkan terhadap deposit milik bank yang diterima dari masyarakat.

      Semakin tinggi nilai banking ratio, maka tingkat likuiditas bank semaking rendah. Artinya jumlah dana yang sudah dikeluarkan melalui fasilitas kredit sudah tinggi, sehingga jumlah dana yang dapat digunakan untuk membiayai kredit berikutnya menjadi semakin kecil.

      Rumus Menghitung Banking Ratio – BR – Bank

      Besarnya nilai Banking ratio suatu bank dapat dirumuskan dengan persamaan berikut

      Banking Ratio = (Total Loan)/(Total Deposit) x 100%

      Standar penilaian banking ratio untuk bank yang ditetapkan oleh Bank Indonesia sebesar 85-100%.

      Dengan menggunakan banking ratio, dapat diketahui perbandingan seluruh kredit yang disalurkan bank dengan total dana yang diterima oleh bank.

      Banking ratio menyatakan seberapa besar bank mampu untuk membayar kembali dana dari deposan dengan menarik kembali kredit kredit yang telah disalurkannya. Dalam hal ini, sebagai sumber likuiditasnya adalah seluruh kredit yang pernah disalurkan oleh bank.

      Contoh Soal Perhitungan Banking Ratio Di Akhir Artikel

      4). Loan To Asset Ratio – LAR – Bank

      Loan to asset rasio bank adalah rasio yang menunjukkan besarnya jumlah kredit yang disalurkan ke masyarakat dari jumlah asset (harta) yang dimiliki bank. Semakin tinggi loan to asset rasio suatu bank, maka semakin rendah likuiditas bank tersebut.

      Rumus Loan to Asset Ratio Bank

      Besarnya loan to asset rasio dapat dinyatakan dengan menggunakan rumus berikut:

      Loan To Asset Ratio = (Total Loan)/(Total Asset) x 100%

      Sebenarnya rasio ini merupakan perbandingan antara besarnya  kredit yang disalurkan bank kepada masyarakat dibandingkan dengan besarnya total aset atau total aktiva yang dimiliki bank.

      Semakin besar kredit yang disalurkan, maka semakin tinggi kredit yang dijamin oleh seluruh aset yang dimiliki bank.

      Contoh Soal Perhitungan Loan to Asset  Ratio Di Akhir Artikel

      5). Cash Ratio  CR– Rasio Kas Bank

      Cash ratio adalah ratio yang menunjukkan kemampuan bank dalam memenuhi kewajiban yang harus segera dibayarkan dengan asset atau harta likuid yang dimiliki oleh bank.

      Cash ratio mengukur kemampuan bank untuk membayar kembali seluruh kewajibannya yang sudah jatuh tempo dengan menggunakan dana dari harta lancar yang dimilikinya. Jadi, sumber llikuiditasnya adalah harta lancar atau cash asset.

      Rumus Cash Ratio – Bank

      Besarnya cash ratio suatu bank dapat dirumuskan dengan menggunakan persamaan berikut

      Cash Ratio = (Liquid Asset)/(Short Term Borrowing) x 100%

      Dari rumusnya dapat diketahui bahwa Cash ratio CR merupakan perbandingan Cash Asset atau liquid asset terhadap short term borrowing. Jadi, kemampuan bayar Kembali terhadap nasabahnya akan semakin besar ketika bank memiliki nilai CR yang semakin besar.

      Semakin besar nilai CR artinya likuiditas bank semakin tinggi. Nilai CR akan semakin tinggi jika cash asset yang dilmiliki bank semakin besar atau short term borrowing semakin kecil.

      Standar penilaian Cash Ratio bank menurut Bank Indonesia adalah 5%. Semakin tinggi Cash Ratio Suatu Bank berarti semakin baik posisi aktiva lancar untuk memenuhi kewajiban jangka pendeknya yang harus segera dipenuhi.

      Contoh Soal Perhitungan Cash Ratio Di Akhir Artikel

      6). Deposit Risk Ratio DRR- Bank

      Deposit risk ratio adalah ratio yang menunjukkan ukuran risiko kegagalan bank membayar Kembali dana yang diterima dari pada nasabahnya.

      Deposit risk ratio menyatakan besarnya kemampuan dana equity capital bank jika digunakan untuk membayar kembali seluruh dana nasabah yang tersimpan dalam rekening giro, tabungan dan deposito.

      Rumus Menghitung Deposit Risk Ratio DRR – Bank

      Nilai deposit risk ratio DRR suatu bank dapat ditentukan dengan menggunakan persamaan berikut:

      Deposit Risk Ratio = (Equity Capital)/(Total Deposit) x 100%

      Dari rumusnya dapat diketahui bahwa DRR merupakan perbandingan nilai equity terhadap total deposit. Jadi, risiko gagal bayar terhadap para nasabahnya akan semakin besar ketika bank memiliki nilai DRR yang semakin kecil.

      Semakin kecil nilai DRR artinya likuiditas bank semakin rendah. Nilai DRR akan semakin kecil jika total deposit semakin besar atau equity semakin kecil.

      Contoh Soal Perhitungan Deposit Risk Ratio Di Akhir Artikel

      7). Investing Policy Ratio IPR – Bank

      Investing policy ratio adalah rasio yang menunjukkan kemampuan bank dalam memenuhi kewajibannya terhadap nasabah dengan cara melikuidasi surat surat berharga yang dimilikinya

      Dengan kata lain, Investing policy ratio menyatakan kemampuan surat – surat berharga jika digunakan bank untuk membayar kembali kewajiban ketika nasabah menarik dananya dari giro, tabungan dan deposito. Dalam hal ini, yang menjadi sumber likuiditasnya adalah dana dari penjualan surat surat berharga.

      Rumus Mengitung Investing Policy Ratio IPR – Bank

      Besar investing polity ratio suatu bank dapat dinyatakan dengan menggunakan rumus persamaan berikut:

      Investing Policy Ratio = (Securities)/(Total Deposit) x 100%

      Dari rumusnya dapat diketahui bahwa investing polity ratio IPR merupakan perbandingan nilai securities (nilai surat berharga) terhadap total deposit. Jadi, kemampuan bank untuk bayar kembali terhadap nasabahnya akan semakin besar ketika bank memiliki nilai IPR yang semakin besar.

      Semakin besar nilai IPR artinya likuiditas bank semakin tinggi. Nilai IPR akan semakin tinggi jika nilai surat berharga yang dimiliki bank semakin besar atau total deposit semakin kecil.

      Contoh Soal Perhitungan Rasio Likuiditas Bank

      Data data keuangan yang dipergunakan dalam perhitungan rasio likuiditas suatu bank adalah laporan keuangan neraca. Berikut contoh laporan neraca bank yang sudah disederhanakan untuk Latihan perhitungan rasio likuiditas suatu bank.

      Contoh Soal Perhitungan Rasio Likuiditas Bank
      Contoh Soal Perhitungan Rasio Likuiditas Bank

      1). Contoh Soal Perhitungan Quick Ratio QR – Bank

      Dengan menggunakan beberapa data dalam contoh laporan keuangan neraca suatu bank di atas tentukanlah quick ratio bank tersebut

      Menentukan Data Quick Ratio

      Data data keuangan bank yang dipergunakan dalam perhitungan quick ratio adalah data yang termasuk komponen cash asset yaitu kas, giro yang disimpan di Bank Indonesia (BI), giro yang disimpan di bank lain serta dana likuid dalam satuan valuta asing.

      Sedangkan data keuangan yang termasuk dalam komponen deposit adalah dana masyarakat yang dideposit dalam bentuk giro, tabungan dan deposito berjangka.

      Data data keuangan dari contoh laporan neraca bank yang dibutuhkan untuk perhitungan quick ratio ditunjukkan dalam table seperti berikut:

      Contoh Soal Perhitungan Quick Ratio QR - Bank
      Contoh Soal Perhitungan Quick Ratio QR – Bank

      Rumus Menghitung Quick Ratio – Bank

      Besarnya quick ratio suatu bank dapat dihitung dengan menggunakan rumus seperti ini

      Quick Ratio = (Cash Assets)/(Total Deposit) x 100%

      Cash Assets = 1612

      Total Deposit =2652,5

      Quick Ratio = (1612)/(2652,5) x 100%

      Quick Ratio = 60,77 %

      Nilai quick ratio 60,77 persen menunjukkan bahwa dalam jangka pendek, dana paling likuid yang dimiliki bank hanya mampu untuk membayar kembali dana nasabah sebesar 60,77 persen dari seluruh deposit nasabahnya.

      Dengan nilai quick ratio 60,77 persen, maka bank mampu menjamin setiap satu rupiah dari deposit milik nasabah dengan 0,6077 rupiah dari dana cash assets yang dimilikinya.

      2). Contoh Perhitungan Loan To Deposit Ratio Bank

      Dengan menggunakan beberapa data keuangan dalam contoh laporan neraca di atas, hitunglah besarnya Loan to deposit ratio bank tersebut.

      Menentukan Data Loan to Deposit Ratio Bank

      Data keuangan bank yang harus diketahui agar dapat menghitung loan to deposit ratio adalah data yang termasuk komponen loan yaitu pinjaman yang disalurkan ke masyarakat (rupiah) dan pinjaman yang disalurkan dalam valuta asing.

      Sedangkan data keuangan yang termasuk komponen equity capital adalah modal yang disetor, dana seteron modal, cadangan umum, cadangan lainnya, sisa laba tahun lalu dan laba tahun berjalan.

      Data data keuangan dari contoh laporan neraca bank yang akan diperguanakan dalam perhitungan loan to deposit ratio ditunjukkan dalam table berikut

      Contoh Perhitungan Loan To Deposit Ratio LDR - Bank
      Contoh Perhitungan Loan To Deposit Ratio LDR – Bank

      Perhitungan Loan To Deposit Ratio Bank

      Besarnya loan to deposit ratio suatu bak dapat dinyatakan dengan menggunakan persamaan berikut:

      Loan to Deposit Ratio = (Total Loans)/(Total Deposit + Equity) x 100 %

      Total Loans =3580

      Total Deposit =2654,5

      Equity = 536,5

      Loan to Deposit Ratio = (3580)/(2654,5+ 536,5) x100%

      LDR = (3580)/(3189) x 100%

      LDR = 112%

      Nilai loan to deposit ratio adalah 112%. Angka 112 persen merepresentasikan, bahwa kredit yang diberikan kepada nasabah adalah 1,12 kalinya dari total dana masyarakat dan modal sendiri. Artinya dana yang disalurkan kepada nasabah lebih besar dari total dana yang diterima dari nasabah dan modal sendiri.

      3). Contoh Soal Perhitungan Banking Ratio BR – Bank

      Dengan menggunakan data dari contoh laporan keuangan bank di atas, Tentukan nilai banking ratio Bank tersebut.

      Cara Menentukan Data Keuangan Banking Ratio Bank

      Data yang diperlukan untuk dapat menghitung banking ratio suatu bank adalah data keuangan yang termasuk dalam komponen loan yang terdiri dari pinjaman yang diberikan ke masyarakat dalam satuan rupiah dan pinjaman yang diberikan dalam satuan valuta asing.

      Sedangkan data keuangan yang termasuk dalam komponen deposito adalah dana yang diterima dari masyarakat yang disimpan dalam giro, tabungan dan deposito berjangka.

      Data data keuangan dalam contoh laporan neraca bank yang akan digunakan untuk menghitung banking ratio disajikan dalam table berikut:

      Contoh Soal Perhitungan Banking Ratio BR - Bank
      Contoh Soal Perhitungan Banking Ratio BR – Bank

      Cara Menghitung Banking Ratio BR – Bank

      Banking ratio suatu bank dapat dihitung dengan rumus berikut:

      Banking Ratio = (Total Loan)/(Total Deposit) x 100%

      Total Loan = 3580

      Total Deposit = 2652,5

      Banking Ratio = (3580)/( 2652,5) x 100%

      Banking Ratio = 135 %

      Nilai banking ratio BR 135 persen menunjukkan jumlah dana yang telah disalurkan ke masyarakat adalah 1,35 kali dari jumlah dana deposit yang diterima oleh bank. Artinya, dana yang disalurkan ke masyarakat 35 persen lebih besar dibandingkan dana yang diterima bank dari masyarakat. Dengan kata lain, dana yang diterima lebih kecil dari yang disalurkan.

      Dengan banking ratio sebesar 1,35 berarti setiap satu rupiah yang dideposit oleh nasabah dijamin dengan 1,35 rupiah dari dana kredit yang disalurkannya.

      4). Contoh Soal Perhitungan Loan To Asset Ratio – LAR – Bank

      Dengen menggunakan data laporan neraca bank di atas, tentukanlah besarnya loan to asset ratio bank tersebut:

      Menentukan Data Keuangan Loan To Asset Ratio – LAR

      Untuk dapat menentukan loan to asset ratio diperlukan data yang termasuk komponen loan yaitu pinjaman yang disalurkan ke masyarakat dalam rupiah dan pinjaman disalurkan dalam valuta asing.

      Sedangkan data keuangan yang termasuk komponen asset adalah semua komponen yang ada dalam aktiva pada neraca bank.

      Data data keuangan dari laporan neraca yang diperlukan untuk perhitungan loan to asset ditunjukkan dalam table berikut:

       Contoh Soal Perhitungan Loan To Asset Ratio – LAR – Bank
      Contoh Soal Perhitungan Loan To Asset Ratio – LAR – Bank

      Menghitung Loan To Asset Ratio – LAR – Bank

      Besar loan to asset bank dapat dihitung dengan menggunakan rumus berikut

      Loan To Asset Ratio = (Total Loan)/(Total Asset) x 100%

      Total Loan = 3580

      Total Asset = 6680

      Loan To Asset Ratio = (3580)/(6680) x 100%

      Loan to Asset Ratio = 53,6 %

      Nilai Loan to asset ratio LAR adalah 53,6 persen, hal ini menunjukkan bahwa besarnya dana bank yang telah disalurkan melalui kredit ke masyarakat adalah 53,6 persen dari total asset atau harta yang dimiliki oleh bank.

      Dengan loan to asset ratio 53,6 persen, maka bank masih memiliki sisa asset sebesar 46,4 persen (100% – 53,6%).

      5). Contoh Soal Perhitungan Cash Ratio CR – Bank

      Dengan data data keuangan dari contoh laporan neraca bank di atas, tentukanlah cash ratio bank tersebut.

      Menentukan Data Cash Ratio Bank

      Data yang digunakan adalah data yang termasuk dalam komponen likuid asset yaitu kas, giro yang disimpan di Bank Indonesia, Giro yang disimpan di Bank lain dan aktiva berupa valuta asing yang likuid.

      Sedangkan data keuangan yang termasuk dalam komponen shurt term borrowing adalah dana nasabah yang disimpan dalam rekening giro, kewajiban segera lainnya yang harus dibayar, kewajiban yang harus segera dibayar dalam valuta asing.

      Data data keuangan yang bisa digunakan dalam perhitungan cash ratio ditunjukkan dalamm table berikut:

      Contoh Soal Perhitungan Cash Ratio CR – Bank
      Contoh Soal Perhitungan Cash Ratio CR – Bank

      Menghitung Cash Ratio CR – Bank

      Cash ratio suatu bank dapat dihitung dengan menggunakan persamaan berikut

      Cash Ratio = (Liquid Asset)/(Short Term Borrowing) x 100%

      Liquid Asset = 1612

      Shirt Term Borrowing = 3202,5

      Cash Ratio = (1612)/(3202,5) x 100%

      Cash Ratio = 50,33%

      Nilai cash ratio CR bank adalah 50,33 persen, ini artinya jumlah harta yang paling likuid yang dimiliki bank hanya cukup untuk membayar 50,33 persen dari total kewajiban yang harus segera dibayarkan.

      Nilai Cash ratio 50,33% menunjukkan bahwa bank mampu menjamin tiap satu rupiah pinjaman yang harus segera dibayar dengan  0,5533 rupiah dari dana cash assets yang dimilikinya.

      6). Contoh Soal Perhitungan Deposit Risk Ratio DRR – Suatu Bank

      Dengan menggunakan data data keuangan dari contoh laporan neraca bank di atas,  hitunglah nilai deposit risk ratio bank tersebut:

      Menentukan Data Keuangan Deposit Risk Ratio DRR – Suatu Bank

      Data keuangan yang diperlukan untuk mengitung deposit risk ratio adalah data yang termasuk dalam komponen equity capital yaitu Modal disetor, dana setoran modal, cadangan umum, cadangan lainnya, sisa laba tahun lalu, dan laba tahun berjalan.

      Sedangkan data keuangan yang termasuk komponen deposit adalah dana masyarakat yang disimpan dalam rekening giro, tabungan dan deposito berjangka.

      Kedua data keuangan yang diperlukan untuk perhitungan deposit risk ratio ditunjukkan dalam table berikut:

      Contoh Soal Perhitungan Deposit Risk Ratio DRR - Suatu Bank
      Contoh Soal Perhitungan Deposit Risk Ratio DRR – Suatu Bank

      Menghitung Deposit Risk Ratio DRR – Bank

      Deposit Risk Ratio DRR suatu bank dapat dinyatakan dengan menggunakan rumus berikut

      Deposit Risk Ratio = (Equity Capital)/(Total Deposit) x 100%

      Equity Capital = 536,5

      Total Deposit = 2652,5

      Deposit Risk Ratio = (536,5)/(2652,5) x 100%

      Deposit Risk Ratio = 20,23 %

      Nilai deposit risk ratio bank adalah 20,23 persen, hal ini menunjukkan bahwa dana equity capital yang dimiliki bank hanya cukup untuk membayar sebesar 20,23 persen dari total dana nasabah yang diterima bank.

      Jadi, bank memiliki risiko gagal bayar sebesar 79,67 persen (100% – 20,33) terhadap total yang harus dibayarkan jika pembaryaran menggunakan dana equity capital yang dimilikinya.

      Dengan nilai deposit risk ratio 20,23 persen, maka bank hanya mampu menjamin setiap satu rupiah dana yang didepositkan nasabah dengan 0,2023 rupiah dari dana equity capital yang dimilikinya.

      7). Contoh Soal Perhitungan Investing Policy Ratio IPR Bank

      Dengan menggunakan data data keuangan dari contoh laporan neraca bank di atas,  hitunglah nilai Investing Policy Ratio Bank tersebut:

      Menentukan Data Keuangan Investing Policy Ratio IPR Suatu Bank

      Data keuangan yang diperlukan untuk mengitung Investing Policy Ratio adalah data yang termasuk dalam komponen securities atau surat berharga yaitu surat berharga (efek- efek) dan deposito berjangka.

      Sedangkan data keuangan yang termasuk komponen deposit adalah dana masyarakat yang disimpan dalam rekening giro, tabungan dan deposito berjangka.

      Kedua data keuangan yang diperlukan untuk perhitungan Investing Policy Ratio ditunjukkan dalam table berikut:

      Contoh Soal Perhitungan Investing Policy Ratio IPR Bank
      Contoh Soal Perhitungan Investing Policy Ratio IPR Bank

      Menghitung Investing Policy Ratio IPR – Bank

      Investing Policy Ratio IPR suatu bank dapat dinyatakan dengan menggunakan rumus berikut

      Investing Policy Ratio = (Securities)/(Total Deposit) x 100%

      Securities = 460

      Total Deposit = 2652,5

      IPR = (460)/(2652,5) x 100%

      IPR = 17,34 %

      Nilai Investing Policy Ratio IPR bank adalah 17,34 persen, hal ini menunjukkan bahwa dana hasil penjualan surat berharga hanya cukup untuk membayar sebesar 17,34 persen dari total dana nasabah yang harus dibayar oleh bank.

      Dengan nilai Investing Policy Ratio IPR 17,3423 persen, maka bank hanya mampu menjamin setiap satu rupiah dana yang didepositkan nasabah dengan 0,17,34 rupiah dari dana hasil penjualan surat berharganya.

        Daftar Pustaka:

        1. Kasmir, 2012, “Dasar Dasar Perbankan”, Edisi Revisi, Rajawali Pers, Jakarta.
        2. Kasmir, 2012, “Manajemen Perbankan”, Edisi Revisi, RajaGrafindo Persada, Jakarta.
        3. Kasmir, 2015, “Bank dan Lembaga Keuangan Lainnya”, Edisi Revisi 2014, Rajawali Pers, Jakarta.
        4. Ismail, 2018, “Manajemen Perbankan – Dari Teori Menuju Aplikasi”, Edisi Pertama, Prenadamedia Group, Jakarta.
        5. Suhardjono, M, K., 2012, “ Manajemen Perbankan – Teori Dan Aplikasi”, Edisi Kedua, BPFE – Yogyakarta.
        6. Djumhana, Muhamad, 2006, “Hukum Perbankan di Indonesia”, Cetakan Kelima, PT Citra Aditya Bakti,  Bandung.
        7. Mangani, Silvanita, Ktut, 2009, “Bank dan Lembaga Keuangan Lain”, Penerbit Erlangga, Jakarta.
        8. Mishkin, S., Frederic, 2008’ “Ekonomi Uang, Perbankan, dan Pasar Uang”, Edisi Kedelapan, Salemba Empat, Jakarta.
        9. Joesoef, Jose Rizal, 2008, “Pasar Uang dan Pasar Valuta Asing”, Salemba Empat, Jakarta.
        10. Djamil, Fathurrakman,  2012, “Penerapan Hukum Perjanjian dalam Transaksi di Lembaga Keuangan Syariah”, Cetakan Pertama, Sinae Grafika, Jakarta.
        11. Fuady, Munir, 2004, “Hukum Perbankan Modern”, Buku Kedua, Citra Aditya Bakti, Bandung.
        12. Machmud, A. Rukmana, H., 2010, “Bank Syariah, Teori, Kebijakan, dan Studi Empiris di Indonesia”, Penerbit Erlangga, Jakarta
        13. Jenis Rasio Likuiditas Bank: Pengertian -Tujuan – Fungsi Quick Ratio – Banking Ratio – Loan to Deposit Ratio – Cash Ratio – Loan to Asset Ratio Deposit Risk Ratio – Investing Policy Ratio, Pengertian Cash Asset Pengertin Total Deposit Pengertian Securities Pengertian Short Term Borrowing Pengertian Equity Capital,

        Alkuna: Pengertian Sifat Fisis Kimia Rumus Struktur Isomer Posisi Ikatan Rangkap Reaksi Pembuatan Kegunaan Contoh Soal

        Pengertian Alkuna:   Alkuna adalah hidrokarbon alifatik tidak jenuh yang mengandung ikatan rangkap tiga karbon -karbon (C≡C) pada rantai karbonnya. Alkuna memiliki setidaknya satu ikatan rangkap tiga sehingga jumlah hydrogen yang terikat oleh karbon tidak maksimum seperti pada alkana.

        Rumus Umum Senyawa Alkuna

        Alkuna tersusun dari karbon dan hydrogen yang mempunyai rumus umum CnH2n-2. Alkuna paling sederhana yaitu etuna, C2H2 dengan rumus strukturnya seperti berikut:

        H–CC–H

        Deret Homolog Senyawa Alkuna

        Deret homolog adalah suatu kelompok senyawa karbon dengan rumus umumnya sama dan mempunyai sifat yang mirip. Antar suku-sukunya mempunyai beda jumlah karbon hydrogen sebesar CH2.

        Senyawa karbon pada deret homolog merupakan rantai terbuka tanpa cabang atau dengan cabang dengan nomor cabangnya sama.

        Adapun Deret homolog alkuna mulai dari karbon 2 sampai karbon 10 adalah sebagai berikut.

        Etuna         = C2H2   = CH≡CH

        Propuna     = C3H4   = CH≡C-CH3

        1-Butuna   = C4H6   = CH≡C-CH2-CH3

        1-Pentuna  = C5H8   =  CH≡C-(CH2)2-CH3

        1-Heksena = C6H10  = CH≡C-(CH2)3-CH3

        1-Heptuna = C7H12  = CH≡C-(CH2)4-CH3

        1-Oktuna   = C8H14  = CH≡C-(CH2)5-CH3

        1-Nonuna  = C9H16  = CH≡C-(CH2)6-CH3

        1-Dekuna  = C10H18 = CH≡C-(CH2)7-CH3

        Pada deret homolog alkuna dapat diketahui bahwa selisih antara rumus suku (senyawa) di bawah dengan di atasnya adalah CH2. Etuna dengan propane memiliki selisih Karbon – Hidrogen sebesar CH2. Begitu juga antara 1-butuna dengan 1-pentuna memiliki selisih CH2.

        Sifat Sifat Deret Homolog Alkuna

        a). Rumus umum deret homolog alkuna adalah CnH2n-2

        b). Semakin panjang rantai atom karbonnya, semakin tinggi titik leburnya

        c). Selisih massa suku yang satu ke suku berikutnya adalah14

        Tata Nama IUPAC Senyawa Alkuna

        Aturan tata nama alkuna menurut aturan IUPAC sama seperti pada alkana atau alkena. Rantai induk ditentukan oleh rantai terpanjang yang mengandung ikatan rangkap tiga karbon- karbon (C≡C) dan akhiran untuk nama induk adalah -una sebagai pengganti -ana pada alkana.

        Tata Nama Senyawa Alkuna Rantai Lurus Tak Bercabang

        a). Tuliskan awalan berdasarkan jumlah atom C-nya dan diakhiri dengan akhiran -una.

        b).. Jika jumlah atom C senyawa alkuna lebih dari 3, beri nomor setiap atom sedemikian rupa sehingga C yang berikatan rangkap tiga mendapat nomor kecil.

        c). Penamaan senyawa diawali oleh nomor atom C pertama yang berikatan rangkap 3, diikuti tanda (-) dan nama rantai induk.

        1). Contoh  Soal Tata Nama Senyawa Alkuna Tak Bercabang

        Tentukan nama senyawa alkuna yang memiliki rumus C3H4 dan rumus strukturnya seperti berikut:

        CH≡C-CH3

        Cara Menentukan Nama Senyawa Alkuna Rantai Tak Bercabang,

        Nama alkuna yang dibangun dengan rumus struktur lurus tak bercabang dapat ditentukan dari jumlah atom karbonya.

        Dari rumus strukturnya dapat diketahui bahwa senyawa alkuna yang memiliki rumus C3H4 tersusun dari rangka karbon lurus tak bercabang dengan jumlah atom karbon 3. Senyawa alkuna dengan rantai induknya mengandung 3 karbon adalah propuna.

        2). Contoh Soal Menentukan Nama Senyawa Alkuna C4H6 Rantai Tak Bercabang,

        Tentukan nama senyawa alkuna yang memiliki rumus C4H6   dan rumus strukturnya seperti berikut:

        CH≡C-CH2-CH3

        Cara Menentukan Rantai Induk Senyawa Alkuna C4H6   

        Rumus struktur alkuna C4H6 dibentuk oleh rantai induk berupa rangka karbon lurus tak bercabang, dan jumlah atom karbon adalah 4. Nama senyawa alkuna yang rantai induknya terdiri dari 4 atom karbon adalah butuna.

        Penomoran Atom Karbon Rantai Induk Senyawa Alkuna

        Penomoran karbon dimulai dari salah satu sisi rantai, sehingga karbon ikatan rangkap mendapat nomor kecil.

        Dari rumus strukturnya dapat diketahui bahwa ikatan rangkap terletak pada karbon nomor 1 jika penomoran dimulai dari sisi kiri. Nomor 1 merupakan nomor terkecil untuk karbon berikatan rangkap. Kalau peomoran dimulai dari sisi kanan maka ikatan rangkap terletak pada karbon nomor 3.

        Cara Penamaan Senyawa Alkuna

        Tata nama alkuna rantai lurus mengikuti ketentuan berikut:

        “Nomor-Nama alkuna”

        Nomor = 1 (ikatan rangkap terletak pada kabon nomor 1)

        Nama alkuna = butuna (rantai induk alkuna dengan 4 atom karbon)

        Jadi, nama alkuna C4H6 adalah “1-butuna”

        3). Contoh Soal Menentukan Nama Rumus Struktur 4-Metil-2-Pentuna

        Tentukan nama senyawa alkuna yang memiliki rumus C6H10 dan struktur seperti berikut

        Contoh Soal Menentukan Nama Rumus Struktur 4-Metil-2-Pentuna
        Contoh Soal Menentukan Nama Rumus Struktur 4-Metil-2-Pentuna

        Rumus struktur senyawa alkuna tersebut dibangun oleh rangka bercabang dengan jumlah cabang satu. Jadi, rumus struktur tersebut memiliki rantai induk dan rantai cabang.

        Menentukan Rantai Induk Dan Rantai Cabang Rumus Struktur C6H10

        Rantai induk adalah rantai karbon terpanjang yang mengandung ikatan rangkap 3. Dari rumus strukurnya dapat diketahui bahwa rantai induk senyawa alkuna tersebut mengandung 5 atom karbon. Senyawa alkuna yang memiliki 5 atom karbon adalah pentuna.

        Penomoran Rantai Induk Pentuna

        Penomoran karbon pada rantai induk pentuna dimulai dari salah satu sisi, sehingga karbon ikatan rangkap 3 mendapat nomor kecil. Agar karbon berikatan rangkap 3 (C≡C) bernomor kecil, maka penomoran dimulai dari sisi kiri.

        Cara Penomoran Rantai Induk 4-Metil-2-Pentuna
        Cara Penomoran Rantai Induk 4-Metil-2-Pentuna

        Dari rumus struktur telah dinomor diketahui bahwa karbon ikatan rangkap 3 (C≡C) terletak pada karbon nomor dua, Sehingga dinamakan “2-pentuna”

        Cabang berupa gugus alkil terikat pada karbon nomor 4 dan memiliki satu karbon. Gugus alkil yang mengandung 1 karbon adalah metil. Sehingga gugus ini dinamakan “4-metil”

        Penamaan Senyawa Alkuna C6H10

        Nama senyawa alkuna mengikuti ketentuan seperti berikut:

        Cabang-Alkuna” atau

        Nomor-Nama cabang-Nomor-Nama alkuna

        Dari penjelasan di atas diperoleh data berikut

        Nomor = 4 (gugus alkil terikat pada karbon nomor 4)

        Nama cabang = metil (gugus alkil dengan 1 karbon)

        Nomor = 2 (ikatan rangkap 3 terletak pada karbon nomor 2)

        Nama alkuna = pentuna (rantai induk pentuna yang mengandung 5 atom karbon)

        Jadi, nama alkuna rumus C6H10 adalah “4-metil-2-pentuna”

        4). Contoh Soal Menentukan Rumus Struktur Alkuna 3-Metil-1-Pentuna

        Buatlah rumus struktur dari senyawa alkuna dengan nama “3-metil-1-pentuna

        Menentukan Rantai Induk Dan Rantai Cabang 3-Metil-1-Pentuna

        Tata nama senyawa alkuna adalah sebagai berikut:

        Rantai cabang-Rantai Induk” atau

        Nomor-Nama cabang-Nomor-Nama alkuna

        Berdasarkan pada ketentuan tata nama alkuna, maka 3-Metil-1-Pentuna dapat dijelaskan sebagai berikut:

        Rantai cabang = 3-metil

        Nomor = 3 (gugus cabang alkil (metil) terikat pada karbon karbon nomor 3)

        Nama cabang = metil (gugus alkil dengan 1 karbon sebagai cabang)

        Rantai induk = 1-pentuna

        Nomor = 1 (ikatan rangkap 3 karbon- karbon (C≡C) terletak pada karbon nomor 1)

        Nama alkuna = pentuna (rantai induk yang mengandung 5 atom karbon)

        Cara Membuat Rumus Struktur Dari Nama Alkuna

        Tahap pertama membuat rantai induk yaitu 1-pentuna tersusun dari 5 atom dengan ikatan rangkap 3 (C≡C)  pada karbon nomor 1. Gambarnya seperti berikut:

        Cara Membuat Rumus Struktur Dari Nama Alkuna 1-pentuna
        Cara Membuat Rumus Struktur Dari Nama Alkuna 1-pentuna

        Rumus struktur 1-pentuna ini tersusun dari rumus C5H8 tanpa cabang. Ikatan rangkap 3 terletak pada karbon nomor 1. Perhatikan, karbon nomor 3 pada rantai induk 1-pentuna, mengikat 2 atom hydrogen.

        Tahap kedua mengikatkan gugus 3-metil sebagai cabang pada rantai induk 1-pentuna di karbon nomor 3 seperti gambar ini

        Cara Menentukan Rumus Struktur Alkuna 3-Metil-1-Pentuna
        Cara Menentukan Rumus Struktur Alkuna 3-Metil-1-Pentuna

        Ketika karbon nomor tiga mengikat gugus metil, maka karbon nomor 3 melepas 1 atom hidrogennya, agar lengan karbon (valensi) tetap 4 dan total atom hydrogen tetap sesuai rumus C6H10.

        Isomer Senyawa Alkuna

        Isomer yang terjadi pada alkuna adalah isomer struktur yang terdiri isomer posisi ikatan rangkap dan isomer struktur untuk gugus alkil, sedangkan isomer geometri pada alkuna tidak terjadi.

        Alkuna paling rendah yang memiliki isomer yaitu butuna, C4H6. Akibat pengaruh ikatan rangkap, isomer posisi alkuna mengalami dua jenis pergeseran penataan atom, yaitu:

        a). Isomer posisi di mana perubahan posisi dialami oleh ikatan rangkap,

        b). Isomer posisi di mana perubahan posisi dialami oleh rantai cabang.

        3). Contoh Soal Menentukan Isomer Struktur Posisi Ikatan Rangkap Alkuna Rumus C5H8

        Tentukan isomer posisi ikatan rangkap dari senyawa alkuna yang memiliki rumus C5H8

        Menentukan Rumus Struktur Alkuna C5H8

        Rumus struktur dari senyawa alkuna C5H8 dapat dinyatakan dengan rantai karbon yang mengandung 5 atom karbon. Rantai alkuna yang memiliki 5 karbon adalah pentuna.

        Rumus struktur dari isomer posisi pentuna terjadi karena pergeseran posisi atau letak ikatan rankap tiga karbon – karbon (C≡C) seperti berikut:

        Cara Menentukan Isomer Struktur Posisi Ikatan Rangkap Alkuna Rumus C5H8
        Cara Menentukan Isomer Struktur Posisi Ikatan Rangkap Alkuna Rumus C5H8

        Rumus struktur 1-pentuna dan 2-pentuna, sama sama dibangun oleh rangka karbon lurus tanpa cabang. Kedua isomer ini dibedakan oleh posisi atau letak ikatan rangkap 3 pada karbon – karbon (C≡C).

        Pada struktur 1-pentuna, ikatan rankap 3 terletak pada karbon nomor 1, sedangkan pada 2-pentuna, ikatan rangkapnya berada pada posisi karbon nomor 2.

        Jadi, isomer posisi ikatan rangkap dari pentuna C5H8 adalah 1-pentuna dan 2-pentuna.

        3). Contoh Soal Menentukan Isomer Struktur Posisi Rantai Cabang Alkuna Rumus C5H8

        Tentukan isomer posisi rantai cabang dari senyawa alkuna yang memiliki rumus C5H8

        Cara Menentukan Rantai Induk Isomer Posisi Cabang Rumus Struktur C5H8

        Rantai induk adalah rantai terpanjang yang mengandung ikatan rankap 3 karbon – karbon(C≡C). Isomer posisi cabang berarti ada cabang gugus alkil yang terikat pada rantai induk, Sehingga karbon pada rantai induk harus dikurangi.

        Jika gugus alkil pada cabang adalah gugus metil (gugus dengan 1 atom karbon), maka atom karbon pada rantai induk harus dikurangi satu atom. Sehingga atom karbon pada rantai induk menjadi 4 atom karbon.

        Rantai karbon alkuna yang mengandung 4 karbon adalah butuna. Struktur rantai induknya menjadi seperti ini:

        Menentukan Isomer Struktur Posisi Rantai Cabang Alkuna Rumus C5H8
        Menentukan Isomer Struktur Posisi Rantai Cabang Alkuna Rumus C5H8

        Penomoran Dan Pengikatan Gugus Metil Pada Rantai Induk 1-Butuna

        Cabang untuk gugus metil pada rantai butuna hanya dapat diikatkan pada karbon nomor 3, tidak ada karbon lain yang bisa ditempati oleh gugus metil ini. Rumus strukturnya menjadi seperti ini.

        Penomoran Dan Pengikatan Gugus Metil Pada Rantai Induk 1-Butuna
        Penomoran Dan Pengikatan Gugus Metil Pada Rantai Induk 1-Butuna

        Perhatikan pada karbon nomor 3, sebelumnya mengikat 2 hidrogen. Namun ketika mengikat gugus metil sebagai cabangnya, maka satu hydrogen harus lepas. Hal ini karena lengan  karbon (valensi) adalah 4. Jika karbon nomor 3 tetap mengikat 2 hidrogen, maka lengan karbon menjadi 5 (bervalensi 5).

        Jadi, isomer posisi cabang Alkuna Rumus C5H8 adalah “3-metil-1-butuna

        Sifat Fisis Senyawa Alkuna

        a). Alkuna bersifat non-polar, mempunyai gaya antar-molekul yang lemah dan memiliki massa molekul yang hampir sama dengan alkana dan alkena.

        b). Semakin bertambah jumlah atom C harga Massa molekul relatifnya, maka makin besar maka titik didihnya makin tinggi.

        c). Alkuna sedikit atau sulit larut dalam air

        Sifat Reaksi Kimia Senyawa Alkuna

        Beberapa reaksi yang dapat terjadi pada senyawa alkuna diantaranya adalah:

        a). Reaksi Oksidasi Senyawa Alkuna

        Sebagaimana hidrokarbon pada umumnya, alkuna jika dibakar secara oksidasi sempurna akan menghasilkan CO2 dan H2O.

        Contoh Reaksi Oksidasi Senyawa Alkuna Propuna

        Pembakaran propuna dengan oksigen akan menghasil gas karbon dioksida dan air  seperti ditunjukkan pada reaksi berikut.:

        C3H4 + 4 O2 → 3CO2 + 2H2O

        b). Reaksi Adisi Alkuna Oleh Hidrogen H2

        Alkuna mengalami dua kali adisi oleh H2 untuk menghasilkan alkana. Alkuna memiliki ikatan rangkap tiga sehingga reaksi adisinya dapat berlangsung dalam 2 tahap.

        Adisi pertama alkuna oleh hydrogen menghasilkan alkena dan reaksi adisi kedua menghasilkan alkana.

        Contoh Reaksi Adisi Alkuna Etuna Oleh Hidrogen

        Tahap Pertama Reaksi Adisi Etuna Oleh Hidrogen adalah seperti berikut

        CH≡CH + H2 → CH2=CH2

        Reaksi adisi pertama oleh hydrogen mengakibatkan putusnya ikatan rangkap 3 etuna dan membentuk etena yang memiliki rantai ikatan rangkap 2. Putusnya satu ikatan rangkap ini diikuti dengan terikatnya atom hydrogen pada atom karbon yang ikatanya putus.

        Tahap Kedua reaksi Adisi Etena Oleh Hidrogen adalah seperti berikut

        CH2=CH2 + H2 → CH3-CH3

        Adisi oleh hydrogen pada tahap 2 memutus ikatan rangkap 2 etena membentuk rantai ikatan tunggal etana. Putusnya ikatan rangkap ini diikuti dengan pengikatan atom hydrogen oleh kedua karbon yang ikatannya putus sehingga membentuk etana.

        c). Reaksi Adisi Senyawa Alkuna Oleh Halida

        Adisi alkuna oleh halide terjadi melalui dua tahapan. Tahap pertama senyawa alkuna berubah menjadi halide alkena. Pada adisi kedua, halide alkena berubah menjadi halide alkana.

        Contoh Reaksi Adisi Alkuna Oleh Halida

        Reaksi antara senyawa 1-propuna dan klor akan menghasilkan 1,2-dikloro-propena seperti persamaan berikut:

        Contoh Reaksi Adisi Alkuna 1-Propuna Oleh Halida Cl2
        Contoh Reaksi Adisi Alkuna 1-Propuna Oleh Halida Cl2

        Adisi klor terhadap 1-propuna mengakibatkan terlepasnya ikatan rangkap 3 pada propuna membentuk rantai ikatan rangkap 2. Putusnya satu ikatan pada karbon – karbon ini, disertai dengan pengikatan klor oleh masing – masing karbon yang ikatannya putus sehingga terbentuk 1,2-dikloro-propena.

        Reaksi adisi klor terhadap 1,2-dikloro-propena sesuai persamaan berikut.

        Contoh Reaksi Adisi Alkuna 1,2-dikloro-propena Oleh Halida Cl2
        Contoh Reaksi Adisi Alkuna 1,2-dikloro-propena Oleh Halida Cl2

        Adisi klor ini melepas ikatan rangkap 2 pada 1,2-dikloro-propena membentuk rantai ikatan tunggal yang disertai terjadinya pengikatan klor pada kedua karbon sehingga menghasilkan 1,1,2,2-tetrakloro-propana.

        c). Reaksi Adisi Senyawa Alkuna Oleh Asam Halida

        Adisi alkuna oleh asam halida mengikuti aturan Markovnikov sebagaimana pada reaksi adisi pada alkena.

        Aturan Markovnikov

        Aturan Markovnikov yaitu atom H dari asam halida akan terikat pada atom C berikatan rangkap yang telah memiliki atom H lebih banyak. Jika kedua atom C yang berikatan rangkap mengikat jumlah atom H yang sama, maka atom halida akan terikat oleh atom C pada rantai karbon yang lebih panjang.

        Contoh Reaksi Adisi Senyawa Propuna Oleh Hidrogen Bromida HBr (Asam Bromida)

        Reaksi adisi seyawaa 1-propuna oleh HBr terjadi dalam dua tahap, yaitu

        Tahap Adisi 1-propuna menjadi 2-bromo-propena seperti persamaan reaksi adisi berikut

        Adisi Hidrogen Bromida HBr 1-propuna menjadi 2-bromo-propena
        Adisi Hidrogen Bromida HBr 1-propuna menjadi 2-bromo-propena

        Adisi oleh HBr menyebabkan ikatan rangkap 3 rantai propuna terputus dan membentuk rantai propena berikatan rangkap 2. Pemutusan ikatan ini disertai dengan pengikatan Hidrogen dan Brom oleh karbon yang ikatannya putus.

        Sesuai dengan aturan Markovnikov, maka hydrogen terikat pada karbon yang mengadung hydrogen lebih banyak yaitu karbon nomor 1. Sedangkan atom Br terikat pada karbon nomor 2.

        Tahap Adisi 2-bromo-propena oleh Hidrogen Iodida HI (Asam Iodida)

        Adisi tahap dua terjadi pada 2-bromo-propena dan membentuk 2-bromo-2-iodo-propana seperti persamaan reaksi berikut

        Adisi 2-bromo-propena oleh Hidrogen Iodida HI (Asam Iodida)
        Adisi 2-bromo-propena oleh Hidrogen Iodida HI (Asam Iodida)

        Adisi 2-bromo-propena oleh asam iodide HI memutus ikatan rangkap 2 rantai propena membentuk rantai propane berikatan tunggal. Adisi ini disertai dengan terikatnya atom hydrogen dan iodium pada atom karbon yang ikatannya putus.

        Sesuai dengan aturan Markovnikov, maka hydrogen terikat pada karbon yang mengadung hydrogen lebih banyak yaitu karbon nomor 1. Sedangkan atom iodium terikat pada karbon nomor 2.

        Kegunaan Alkuna

        Salah satu senyawa alkuna yang banyak digunakan dalam kehidupa sehari hari adalah etuna.

        Etuna (asetilena) biasa dikenal dengan nama gas karbit. Senyawa etuna dihasilkan dari batu karbit yang direaksikan dengan air. Reaksinya seperti ini:

        CaC2 + 2H2O → Ca(OH)2 + C2H2

        Gas karbit jika dibakar akan menghasilkan suhu yang tinggi, sehingga dapat digunakan untuk mengelas dan memotong logam. Gas karbit sering pula digunakan untuk mempercepat pematangan buah buahan.

          Daftar Pustaka:

          1. Sunarya, Yayan, 2014, “Kimia Dasar 1, Berdasarkan Prinsip Prinsip Kimia Terkini”, Cetakan Ketiga, Yrama Widya, Bandung.
          2. Hiskia Achmad,  1996, “Kimia Larutan”, Citra Aditya Bakti,  Bandung.
          3. Sunarya, Yayan, 2013, “Kimia Dasar 2, Berdasarkan Prinsip Prinsip Kimia Terkini”, Cetakan Kedua, Yrama Widya, Bandung.
          4. Syukri, S., 1999, “Kimia Dasar 2”, Jillid 2, Penerbit ITB, Bandung
          5. Chang, Raymond, 2004, “Kimia Dasar, Konsep -konsep Inti”, Edisi Ketiga, Jilid Satu, Penerbit, Erlangga, Jakarta.
          6. Brady, James, E,1999, “Kimia Universitas Asas dan Struktur”, Edisi Kelima, Jilid Satu, Binarupa Aksara, Jakarta,
          7. Brady, James, E., 1999, “Kimia Universitas Asas dan Struktur”, Edisi Kelima, Jilid Dua, Binarupa Aksara, Jakarta.
          8. Rangkuman Ringkasan: Senyawa hidrokarbon dibedakan dari jenis ikatannya terdiri atas ikatan tunggal dan ikatan rangkap.
          9. Alkana memiliki ikatan tunggal, sedangkan alkena dan alkuna berikatan rangkap. Alkena memiliki ikatan rangkap dua, sedangkan alkuna memiliki ikatan rangkap tiga.
          10. Senyawa hidrokarbon memiliki empat jenis isomer, yaitu asomer rangka, posisi, fungsional, dan geometri.
          11. Alkana merupakan hidrokarbon alifatik jenuh yang memiliki ikatan tunggal (C – C). Alkena merupakan hidrokarbon alifatik tak jenuh yang memiliki ikatan rangkap dua (C = C). Alkuna merupakan hidrokarbon tak jenuh dengan ikatan rangkap tiga (C ≡ C).
          12. Titik didih senyawa hidrokarbon dipengaruhi massa molar relatifnya dan struktur molekulnya. Semakin banyak jumlah atom karbon maka jumlah massa molekul relatif juga semakin besar dan titik didih dari senyawa karbon tersebut semakin besar pula.
          13. Senyawa hidrokarbon dapat mengalami reaksi oksidasi, substitusi, adisi, dan eliminasi.
          14. Alkuna: Pengertian Sifat Fisis Kimia Rumus Struktur Isomer Posisi Ikatan Rangkap Reaksi Pembuatan Kegunaan Contoh Soal Contoh Rumus Struktur Isomer Posisi Ikatan Rangkap Alkuna,
          15. Contoh Rumus Struktur Reaksi Adisi Oksidasi Hidrogen Halida Asam Halida Alkuna, Sifat Fisis Kimia Non Polar Titik Didih Kelarutan Alkuna, Contoh Soal Tata Nama Senyawa Alkuna Rantai Lurus Bercabang Tak Bercabang,

          Alkena: Pengertian Sifat Fisis Kimia Rumus Struktur Isomer Geometri Reaksi Adisi Hidrogen Halogen Asam Halida

          Pengertian Alkena: Alkena adalah hidrokarbon alifatik tak jenuh yang mengandung ikatan rangkap dua C=C. Adanya ikatan rangkap menyebabkan jumlah atom H pada alkena tidak maksimum seperti pada alkana. Artinya jumlah atom hydrogen terikat pada karbon lebih sedikit dari alkana. Sehingga alkena termasuk hidrokarbon tidak jenuh.

          Hidrokarbon tidak jenuh adalah hidrokarbon dengan satu atau lebih atom karbon mengikat atom hidrogen tidak maksimal atau memiliki ikatan rangkap.

          Alkadiena Alkatriena

          Senyawa yang mempunyai dua ikatan rangkap disebut alkadiena, yang mempunyai tiga ikatan rangkap disebut alkatriena, dan seterusnya.

          Rumus Umum Alkena

          Senyawa alkena dibangun oleh atom karbon dan hydrogen dengan rumus umumnya adalah CnH2n. Alkena paling sederhana yaitu etena yang memiliki rumus molekull C2H4.  Etena memiliki rumus mampat CH2=CH2.

          Karbon (12C6 ) memliki konfigurasi elektron = 2, 4, ini berarti atom karbon memiliki 4 elektron valensi.

          Dengan 4 elektron valensi yang dimilikinya, maka atom karbon C dapat membentuk 4 ikatan kovalen dengan sesama atom karbon C atau atom lain. Ikatan atom karbon C dapat berupa ikatan kovalen tunggal, rangkap dua, atau rangkap tiga.

          Deret Holomog Senyawa Alkena

          Sama halnya dengan alkana, senyawa- senyawa dalam golongan alkena membentuk deret homolog, dengan selisih antar senyawa yang berurutan sebanyak –CH2–.

          C2H4 = etena

          C3H6 = propena

          C4H8 = butena

          C5H10 = pentena

          C6H12 = heksena

          C7H14 = heptena

          C8H16 = oktena

          C9H18 = nonena

          C10H20 = dekena

          Tata Nama Senyawa Alkena

          Tata nama alkena didasarkan pada rantai terpanjang yang mengandung ikatan rangkap dua karbon-karbon. Seperti pada alkana, rantai terpanjang ini merupakan rantai induk. Nama rantai induk berasal dari nama alkana, dengan akhiran –ana diganti menjadi –ena.

          Jika dalam molekul alkena terdapat lebih dari satu ikatan rangkap dua maka namanya ditambah di- …-ena, misalnya 1,3-butadiena dan 1,3,5- dekatriena.

          Tatanama alkena dibagi menjadi dua penamaan yaitu tata nama untuk alkena rantai lurus dan tata nama untuk alkena rantai bercabang.

          A). Tata Nama Alkena Rantai Lurus

          Nama alkena rantai lurus sesuai dengan nama–nama alkana, tetapi dengan mengganti akhiran –ana menjadi –ena.

          Contoh Tata Nama Alkena Rantai Lurus,

          Tiga contoh senyawa alkena yang  memiliki rantai karbon lurus adalah etena, propena dan butena seperti berikut:

          C2H4 = etena

          C3H6 = propena

          C4H8 = butena

          C5H10 = pentena

          Aturan Penamaan Senyawa Alkena Rantai Lurus,

          Atom karbon yang berikatan rangkap karbon – karbon (C=C) diberi nomor yang menunjukkan ikatan rangkap tersebut. Penomoran dimulai dari ujung rantai yang paling dekat dengan ikatan rangkap.

          1). Contoh Soal Penamaan Alkena Pentana C5H10,

          Tentukan nama alkena yang memiliki  rumus molekul C5H10 dan rumus struktur seperti berikut:

          H3C–CH2–CH=CH–CH3

          Cara Menentukan Rantai Induk Senyawa Alkena C5H10,

          Rantai induk merupakan rantai karbon terpanjang yang mengandung ikatan rangkap dua. Rumus struktur alkena tersebut dibangun oleh rantai induk berupa rangka karbon lurus dengan 5 atom karbon. Rantai alkena yang memiliki 5 atom karbon adalah pentena.

          Cara Penomoran Atom Karbon Senyawa Alkena C5H10,

          Setiap atom karbon diberi nomor sedemikian rupa sehingga atom karbon C yang memiliki ikatan rangkap dua bernomor kecil. Karbon yang berikatan rangkap hanya akan mendapat nomor kecil, jika penomoran dimulai dari sisi kanan, seperti berikut:

          Cara Penomoran Atom Karbon Senyawa Alkena C5H10,
          Cara Penomoran Atom Karbon Senyawa Alkena C5H10,

          Jika, penomoran dimulai dari sisi kiri, maka ikatan rangkap terletak pada karbon nomor 3. Aturan penamaan alkena, atom karbon ikatan rangkap harus mendapat nomor kecil.

          Pada rantai karbon pentena tersebut diketahui bahwa ikatan rangka karbon – karbon (C=C) terletak pada karbon nomor 2.

          Cara Penamaan Senyawa Alkena Pentena,

          Penamaan senyawa diawali oleh nomor karbon pertama yang memiliki ikatan rangkap, diikuti tanda (-) dan nama rantai induk.

          “Nomor – Nama Alkena”

          Nomor = menunjukkan nomor karbon pada rantai induk yang memiliki ikatan rangkap

          Nama alkana = rantai induk

          Dari penjelasan di atas diketahui

          Nomor = 2 (ikatan rangkap terjadi pada karbon nomor 2)

          Nama alkana = pentena (rantai alkena dengan 5 atom karbon)

          Jadi, Sesuai aturan tata nama alkena, maka nama pentena tersebut adalah “2-pentena”.

          2). Contoh Soal Menentukan Tata Nama Alkena Butena C4H8,

          Tentukan nama alkena yang memiliki rumus C4H8 dan rumus struktur berikut:

          CH3–CH2–CH=CH2

          Cara Mencari  Rantai Induk Senyawa Alkena Butena C4H8,

          Rantai induk pada alkena C4H8 adalah rantai karbon yang mengandung ikatan rangkap. Dari rumus strukturnya dapat diketahui bahwa alkena tersebut dibangun oleh rangka karbon lurus yang mengandung 4 atom karbon.

          Rantai karbon alkena yang memiliki 4 atom karbon adalah butena.

          Cara Memberi Nomor Pada Karbon Senyawa Alkena C4H8,

          Penomoran dimulai dari sisi yang akan memberikan nomor kecil pada karbon yang berikatan rangkap. Dari rumus strukturnya diketahui, agar karbon ikatan rangkap mendapat nomor keci, maka penomoran dimulai dari sisi kanan seperti berikut:

          Cara Memberi Nomor Pada Karbon Senyawa Alkena C4H8,
          Cara Memberi Nomor Pada Karbon Senyawa Alkena C4H8,

          Karbon yang berikatan rangkap hanya akan mendapat nomor kecil, jika penomoran dimulai dari sisi kanan. Ikatan rangkap terletak pada karbon nomor 1

          Cara Penamaan Senyawa Alkena Butena C4H8,

          Ketentuan penamaan senyawa alkena adalah

          “Nomor – Nama Alkena”

          Dari penjelasan di atas diketahui bahwa:

          Nomor = 1 (ikatan rangkap pada karbon nomor 1)

          Nama alkena = butena (rantai karbon alkena dengan 4 atom karbon)

          Jadi, nama alkena nya adalah “1-butena

          B). Tata Nama Senyawa Alkena Rantai Bercabang,

          Adapun aturan penamaan senyawa alkena yang rantai rercabang adalah sebagai berikut

          a). Menentukan rantai induk dan rantai cabangnya. Rantai induk ditentukan dari rantai atom karbon C terpanjang yang mengandung ikatan rangkap dua.

          b). Memberikan nomor pada setiap atom karbon sedemikian rupa sehingga nomor paling atom C yang berikatan rangkap dua mendapat nomor kecil.

          c). Rantai induk diberi nama sesuai aturan penamaan senyawa alkena rantai lurus.

          d). Rantai cabang diberi nama sesuai jumlah atom karbon C dan struktur gugus alkil.

          e). Urutan penulisan nama senyawa sama dengan urutan penulisan nama senyawa alkana.

          3). Contoh Soal Menentukan Nama Senyawa Alkena Dari Rumus Struktur 2-Metil-1-Butena,

          Tentukan nama senyawa alkena yang memiliki rumus struktur Berikut:

          Contoh Soal Menentukan Nama Senyawa Alkena Dari Rumus Struktur 2-Metil-1-Butena,
           Menentukan Nama Alkena Rumus Struktur 2-Metil-1-Butena,

          Cara Menentukan Rantai Induk Dari Rumus Struktur Senyawa Alkena C5H10,

          Dari rumus strukturnya dapat diketahui bahwa alkena tersebut dibangun oleh rangka karbon bercabang yang mengikat satu gugus alkil.

          Rantai induk atau terpanjang adalah rantai karbon yang memiliki ikatan rangkap karbon karbon (C=C) dengan jumlah atom karbon terbanyak. Rantai karbon induknya mengandung 4 atom karbon. Senyawa alkena yang mengandung 4 atom karbon adalah ‘butena.

          Cara Penomoran Atom Karbon Rantai Induk Bercabang Alkena C5H10,

          Pemberian nomor pada atom karbon dimulai dari ujung rantai, sehingga karbon yang berikatan rangkap mendapat nomor kecil, Perhatikan rumus struktur berikut:

          Cara Penomoran Atom Karbon Rantai Induk Senyawa Alkena C5H10,
          Cara Penomoran Atom Karbon Rantai Induk Senyawa Alkena C5H10,

          Pemberian nomor dimulai dari karbon sisi kiri, sehingga ikatan rangkap terletak pada karbon nomor 1. Dengan demikian, gugus cabang terikat pada karbon nomor 2. Gugus alkil yang terikat pada cabang mengandung satu atom karbon. Gugus alkil dengan 1 karbon adalah metil.

          Dari penjelasan di atas diketahui data data berikut

          Nomor cabang = 2 (gugus cabang metil  terikat pada karbon nomor 2)

          Nama cabang = metil (gugus alkil dengan 1 atom karbon)

          Nomor alkena = 1 (ikatan rangkap pada karbon nomor 1)

          Nama alkena = butena (rantai induk dengan 4 atom karbon)

          Cara Penamaan Senyawa Alkena

          Penamaan senyawa alkena mengikuti ketentuan berikut;

          “Nomor-Nama Cabang-Nomor-Nama Alkena”

          Jadi, nama alkenanya adalah “2-metil-1-butena

          4). Contoh Soal Menentukan Rumus Struktur Dari Nama 3-Metil-1-Butena

          Tentukan rumus struktur senyawa alkena yang memiliki nama 3-metil-1-butena.

          Isomer Senyawa Alkena

          Isomer adalah dua senyawa atau lebih yang mempunyai rumus kimia sama namun mempunyai struktur yang berbeda.

          Alkena mempunyai dua keisomeran yaitu isomer struktur dan isomer geometri

          Isomer Struktur Senyawa Alkena

          Isomer struktur alkena, yaitu isomeran yang terjadi senyawa alkena pada rumus molekul sama, tetapi rumus struktur berbeda. Keisomeran pada alkena mulai ditemukan pada rumus molekul C4H8 terus ke suku yang lebih tinggi.

          Contoh Soal Isomer Senyawa Alkena Rumus C4H8

          Tentukan isomer senyawa alkena yang memiliki rumus molekul C4H8

          Cara Menentukan Isomer Senyawa Alkena Rumus C4H8

          Untuk dapat menentukan isomer alkena dengan rumus C4H8, maka harus dibuatkan rumus strukturnya satu per satu. Isomer struktur alkena dapat berupa isomer rangka karbon atau isomer posisi ikatan rangkap.

          Rumus Struktur Isomer Senyawa Alkena C4H8

          a). Isomer rumus struktur C4H8 sebagai sebagai senyawa alkena 1-butena

          CH2= CH—CH2—CH3

          b). Isomer rumus struktur C4H8 sebagai sebagai senyawa alkena 2-butena

          CH3—CH=CH—CH3

          b). Isomer rumus struktur C4H8 sebagai senyawa alkena 2-metil-1-propena

          Isomer rumus struktur C4H8 sebagai alkena 2-metil-1-propena
          Isomer rumus struktur C4H8 sebagai alkena 2-metil-1-propena

          Isomer Geometri Senyawa Alkena

          Isomeri geometri dikenal juga dengan nama isomer cis- trans. Isomer geometri adalah senyawa- senyawa yang mempunyai rumus molekul sama namun memiliki struktur ruang yang berbeda. Perbedaan geometrisnya terletak pada cara penataan atom atau gugus yang terikat pada ikatan rangkap, tetapi urutan penggabungan atom atau gugusnya tidak berbeda.

          Contoh Isomer Geometri Senyawa Alkena Butena C4H8  2-Butena

          Senyawa alkena mempunyai 2 isomer geometri yaitu cis dan trans. Sebagai contoh adalah 2–butena memiliki rumus kimia C4H8 dan memiliki rumus struktur  CH3 – CH = CH – CH3.

          Senyawa alkena 2-butena mempunyai dua isomer geometri yaitu cis–2–butena dan trans–2–butena.

          Rumus struktur dari cis–2–butena dan trans–2–butena dapat digambarkan seperti berikut

          Contoh Isomer Geometri Senyawa Alkena Butena C4H8 2-Butena
          Contoh Isomer Geometri Senyawa Alkena Butena C4H8 2-Butena

          Syarat terjadinya isomer geometri adalah apabila masing-masing atom karbon yang berikatan rangkap mengikat 2 atom atau 2 gugus yang berbeda, sehingga jika atom atau gugus yang diikat tersebut bertukar tempat, maka struktur ruangnya akan menjadi berbeda.

          Kedua gugus metil pada cis-2-butena terikat oleh karbon dan berada dalam satu sisi (ruang geometris). Sedangkan pada trans-2-butena, gugus metil diikat oleh atom karbon pada sisi (ruang geometris) yang berbeda, yaitu saling berseberangan.

          Perbadaan sisi (ruang geometris) tempat dimana gugus metil diikat menjadikan kedua butena ini menjadi memiliki struktur geometris yang berbeda sehingga diberi nama yang beda pula.

          Sifat Fisis Senyawa Alkena

          1). Alkena tidak larut dalam air atau sedikit larut dalam air. Hal ini disebabkan oleh adanya ikatan rangkap yang membentuk ikatan phi. Ikatan phi tersebut akan ditarik oleh hidrogen dari air yang bermuatan positif sebagian.

          2). Alkena dengan massa molekul rendah berwujud gas pada suhu ruang, sedangkan alkena yang lain berbentuk cair atau padatan.

          3). Alkena mudah larut dalam pelarut organik

          4). Alkena mengambang di atas air.

          5). Alkena dapat bereaksi adisi dengan H2 dan halogen F2, Cl2, Br2, I2.

          Sifat Kimia Dan Reaksi Senyawa Alkena

          Alkena bersifat lebih reaktif daripada alkana. Berikut ini reaksi -reaksi yang dapat terjadi pada alkena:

          1). Reaksi Oksidasi – Pembakaran Senyawa Alkena

          Pembakaran alkena adalah reaksi oksidasi alkena dengan gas oksigen O2.

          Contoh Reaksi Oksidasi – Pembakaran Senyawa Alkena – Etena

          Reaksi pembakaran etena oleh oksigen memenuhi persamaan resaksi berikut:

          CH2=CH2 (g) + 3 O2 (g) → 2 CO2 (g) +2 H2O (g)

          Reaksi pembakaran sempuran dari etena dengan oksigen akan menghasilkan gas karbon dioksida dan gas air.

          2). Reaksi Adisi Senyawa Alkena

          Reaksi adisi adalah reaksi pemutusan atau perubahan ikatan tidak jenuh (ikatan rangkap) menjadi ikatan jenuh (ikatan tunggal) dengan cara menangkap atom lain

          • Contoh Reaksi Adisi Alkena Etena Dengan Hidrogen (Hidrogenasi)

          Reaksi adisi elkena dengan hidrogen pada suhu sekitar 150 – 200 oC akan menghasilkan alkana. Reaksi adisi hidrogen dibantu dengan penambahan katalis logam. Reaksinya seperti berikut:

          CH2=CH2 (g) + H2 (g) → CH3 – CH3 (g)

          Reaksi etena dengan gas oksigen menghasilkan gas etana. Pada reaksi adisi ini, ikatan rangkap (C=C) pada etena terlepas membentuk ikatan tunggal. Kedua karbon yang ikatan rangkapnya lepas, kemudian mengikat atom hydrogen. Karena ada penambahan dua atom hidrogen, maka etena berubah menjadi etana.

          • Contoh Reaksi Hidrasi Senyawa Alkena

          Alkena bereaksi dengan air membentuk alcohol seperti persamaan reaksi berikut:

          CH2 = CH2 (g) + H2O → CH3 – CH2 – OH (l)

          Reaski hidrasi ini dilakukan pada temperature 300 0C, tekanan 70 atm dengan bantuan katalis asam sulfat.

          Ketika senyawa etena direaksikan dengan air, maka ikatan rangkap2  karbon – karbon (C=C) terputus dan membentuk etana berikatan tunggal. Kemudian, satu karbon berikatan dengan hidroksi OH membentuk gugus alcohol, dan karbon yang satunya mengikat atom hydrogen.

          Pemutusan ikatan rangkap etena disertai dengan pengikatan gugus OH dan atom H menghasilkan senyawa alcohol yaitu etanol.

          • Contoh Reaksi Adisi Halogen Alkena

          Reaksi adisi oleh halogen (F2, Cl2, Br2, I2) akan memutus rantai ikatan rangkap alkena membentuk alkana dengan rantai ikatan tunggal. Selanjutnya halogen tersebut akan terikat menjadi cabang substituen pada alkana yang terbentuk. Persamaan reaksinya seperti berikut:

          Contoh Reaksi Adisi Halogen Alkena
          Contoh Reaksi Adisi Halogen Alkena 1-Propena

          Reaksi adisi oleh klor akan memutus ikatan rangkap 2 karbon – karbon (C=C) pada propena dan membentuk rantai propana yang berikatan tunggal. Kedua karbon yang telah melepas ikatan rangkapnya akan mengikat atom klor sehingga menghasilkan 1,2-dikloro propane.

          • Contoh Reaksi Adisi Alkena Oleh Asam Halida Markovnikov

          Adisi dengan asam halida akan memutus ikatan rangkap pada alkena menjadi alkana dengan mengikuti aturan Markovnikov.

          Bunyi Aturan Markovnikov Pada Alkena

          Atom H dari asam halida akan terikat pada atom karbon dari alkena tidak simetris yang memiliki atom H paling banyak. Jika kedua atom C yang berikatan rangkap mengikat jumlah atom H yang sama, maka atom halida akan terikat oleh atom C pada rantai karbon yang lebih panjang.

          Contoh Reaksi Propena Dengan Asam Halida Sesuai Aturan Markovnikov

          Reaksi adisi propena oleh asam halida HCl akan menghasilkan 2-kloro-propana sesuai persamaan reaksi berikut:

          Contoh Reaksi Propena Dengan Asam Halida Sesuai Aturan Markovnikov
          Contoh Reaksi Propena Dengan Asam Halida Sesuai Aturan Markovnikov

          Ikatan rangkap pada senyawa 1-propena terjadi pada karbon nomor 1 dan nomor 2.  Perhatikam rumus struktur 1-propena tersebut, karbon nomor 1 mengikat hydrogen lebih banyak dari karbon nomor 2. Karbon nomor 1 mengikat 2 atom hydrogen, sedangkan karbon nomor 2 mengikat 1 atom hydrogen.

          Reaksi adisi propena oleh asam klorida HCl akan memutus ikatan rangkap 2 karbon – karbon (C=C) menjadi rantai propana yang berikatan tunggal (C-C). Satu karbon akan mengikat Hidorgen dan satu karbon lainnya akan mengikat atom klor.

          Sesuai dengan aturan Markovnikov yaitu atom H dari asam halida akan terikat pada atom C berikatan rangkap yang telah memiliki atom H lebih banyak. Oleh karena itu, atom hydrogen dari HCl akan terikat pada karbon nomor 1, sedangkan atom klor terikat pada karbon nomor 2.

          Contoh Soal Reaksi Adisi Pentena C5H10 Oleh Asam Halida HCL (Aturan Markovnikov)

          Tentukan persamaan reaksi antara pentena dan asam klorida (HCl) dan buatkan rumus strukturnya.

          Reaksi adisi pentena oleh asam klorida manghasilkan 3-kloro-pentana sesuai reaksi berikut

          Contoh Soal Reaksi Adisi Pentena C5H10 Oleh Asam Halida HCL (Aturan Markovnikov)
          Contoh Soal Reaksi Adisi Pentena C5H10 Oleh Asam Halida HCL (Aturan Markovnikov)

          Ikatan rangkap karbon – karbon (C=C) pada pentena ini terjadi pada karbon nomor 2 dan 3. Atom karbon nomor 3 memiliki rantai karbon yang lebih panjang (rantai dengan 3 atom karbon) daripada atom karbon nomor 2 (rantai dengan 2 atom karbon).

          Sesuai dengan aturan Markovnikov, maka atom Cl harus terikat pada atom karbon C nomor 3 dan atom H terikat pada atom karbor nomor 2. Sehingga reaksi adisi HCl pada 2-pentena akan menghasilkan 3-kloro-pentana.

          Contoh Soal Reaksi Adisi 2-Metil-2-Butena Oleh HCl

          Tentukan persamaan reaksi antara 2-metil-2-butena dan HCl dan gambarkan rumus strukturnya.

          Contoh Soal Reaksi Adisi 2-Metil-2-Butena Oleh HCl
          Contoh Soal Reaksi Adisi 2-Metil-2-Butena Oleh HCl

          Ikatan rangkap karbon – karbon (C=C) terjadi pada karbon nomor 2 dan 3. Reaksi adisi 2-Metil-2-Butena oleh HCl memutus ikatan rangkap 2 karbon – karbon (C=C) rantai butena menjadi butana yang berikatan tunggal (C-C).

          Sesuai dengan aturan Markovnikov, maka karbon nomor 3 mengikat atom hydrogen dari HCl dan karbon nomor 2 mengikat atom klor.

          Reaksi Polimerisasi Senyawa Alkena

          Polimerisasi adalah penggabungan molekul-molekul kecil – sederhana (monomer) menjadi molekul besar (polimer).

          Contoh Reaksi Polimerisasi Senyawa Alkena – Etena

          Contoh polimerisasi yang penting ialah polimerisasi etena, dalam hal ini ribuan molekul etena membentuk polietena.

          n CH2 = CH2 → [–CH2 – CH2–]n

          Kegunaan Senyawa Alkena

          1). Senyawa etena banyak digunakan sebagai bahan baku untuk pembuatan plastik polietena (PE).

          2). Senyawa Propena banyak digunakan sebagai bahan untuk membuat plastik polipropilena (PP), yaitu polimer untuk membuat serat sintesis dan peralatan memasak.

          Seandainya materi ini memberikan manfaat, dan anda ingin memberi dukungan motivasi pada ardra.biz, silakan kunjungi SociaBuzz Tribe milik ardra.biz di tautan berikut https://sociabuzz.com/ardra.biz/tribe

            Daftar Pustaka:

            1. Sunarya, Yayan, 2014, “Kimia Dasar 1, Berdasarkan Prinsip Prinsip Kimia Terkini”, Cetakan Ketiga, Yrama Widya, Bandung.
            2. Hiskia Achmad,  1996, “Kimia Larutan”, Citra Aditya Bakti,  Bandung.
            3. Sunarya, Yayan, 2013, “Kimia Dasar 2, Berdasarkan Prinsip Prinsip Kimia Terkini”, Cetakan Kedua, Yrama Widya, Bandung.
            4. Syukri, S., 1999, “Kimia Dasar 2”, Jillid 2, Penerbit ITB, Bandung
            5. Chang, Raymond, 2004, “Kimia Dasar, Konsep -konsep Inti”, Edisi Ketiga, Jilid Satu, Penerbit, Erlangga, Jakarta.
            6. Brady, James, E,1999, “Kimia Universitas Asas dan Struktur”, Edisi Kelima, Jilid Satu, Binarupa Aksara, Jakarta,
            7. Brady, James, E., 1999, “Kimia Universitas Asas dan Struktur”, Edisi Kelima, Jilid Dua, Binarupa Aksara, Jakarta.

            Eter: Pengertian Sifat Fisis Reaksi Kimia Rumus Struktur Isomer Posisi Gugus Fungsi Karbonil

            Pengertian Eter: Senyawa eter adalah senyawa turunan alkana di mana satu atom H pada alkana diganti oleh gugus alkoksi (OR).

            Rumus Umus Senyawa Eter

            Eter memiliki rumus umum RO–R, dengan R adalah alkil. Alkil-alkil pada eter dapat sama dan dapat pula berbeda. Jadi senyawa eter adalah senyawa dengan gugus fungsi –O– yang terikat pada dua gugus alkil. Rumus umum molekulnya dari eter adalah CnH2n+2 O.

            Tata Nama Senyawa Eter

            Ada dua cara pemberian nama eter, yaitu nama IUPAC dan nama lazim atau biasa disebut nama trivial.

            Tata Nama Trivial Senyawa Eter

            Menurut trivial tata nama eter didasarkan pada nama gugus alkil atau aril yang terikat pada atom oksigen. Urutan namanya sesuai dengan abjad dan diakhiri dengan kata –eter.

            Contoh Nama Trivial Senyawa Eter

            Tiga contoh senyawa eter berdasarkan tatanama trivial adalah sebagai berikut

            CH3-O-CH2-CH3 = etil metil eter

            CH3-CH2-O-CH2-CH2 = etil – etil atau dietileter

            CH3-O-CH2-CH2-CH3 = metil propil eter

            Tata Nama IUPAC Senyawa Eter

            Pada sistem IUPAC, gugus –OR disebut sebagai gugus alkoksi, sehingga penulisan nama senyawa eter dimulai dari nama gugus alkoksi diikuti oleh nama rantai induknya.  Gugus alkoksi dianggap sebagai cabang yang terikat pada rantai induk.

            Adapun tata cara memberi nama eter secara IUPAC adalah sebagai berikut:

            a). Gugus alkoksi diberi nama dengan cara mengganti akhiran -ana pada alkana menjadi akhiran -oksi, sedangkan rantai induk diberi nama seperti nama alkana berdasarkan jumlah atom karbon C-nya.

            b). Jika gugus alkilnya berbeda, alkil yang dianggap sebagai alkoksi adalah alkil yang rantai karbon-nya lebih pendek, sedangkan alkil yang rantainya lebih Panjang dianggap sebagai alkana (rantai induk atau pokok).

            c). Penomoran dimulai dari atom karbon ujung yang terdekat terhadap posisi gugus fungsi sehingga karbon C yang mengandung gugus fungsi mendapat nomor terkecil.

            d). Jika jumlah atom karbon C lebih dari 4, beri nomor pada rantai induk sedemikian rupa sehingga gugus –OR menempel pada atom C yang paling kecil. Kemudian, tuliskan nomor, diikuti nama gugus alkoksi berdasarkan jumlah atom C-nya, dan diakhiri dengan nama rantai induk.

            Contoh Tatanama Trivial dan IUPAC Beberapa Senyawa Eter

            Beberapa nama senyawa eter baik trivial maupun menurut IUPAC dapat dilihat dalam table berikut:

            Empat contoh senyawa eter berdasarkan tatanama IUPAC adalah sebagai berikut

            CH3-O-CH3 = metoksi metana

            CH3-O-CH2-CH3 = metoksi etana

            CH3-CH2-O-CH2-CH3 = etoksi etana

            CH3-O-CH2-CH2-CH3 = metoksi propana

            Nama trivial senyawa eter rumus CH3OCH3 adalah dimetil eter sedangkan nama IUPAC-nya adalah metoksi metana.

            Dimetil eter (DME) sebagai bahan bakar adalah suatu senyawa organik dengan rumus CH3OCH3 yang dapat dihasilkan dari pengolahan gas bumi, hasil olahan dan hidrokarbon lain yang pemanfaatannya untuk bahan bakar.

            Nama trivial senyawa eter yang memiliki rumus CH3OC2H5 adalah etil metil eter sedangkan nama IUPAC-nya adalah metoksi etena.

            Contoh Soal Menentukan Tatanama Senyawa Eter Dari Rumus Strukturnya

            Tentukan nama IUPAC dari senyawa eter yang memiliki rumus  seperti berikut

            CH3OCH2CH3

            Menentukan Rantai Pendek dan Rantai Panjang Rumus Struktur Eter

            Untuk dapat membuat nama eter, maka harus dimulai dengan rumus umumnya yaitu R–O–R. Rumus struktur eter CH3OCH2CH3 dapat dituliskan menjadi seperti ini

             CH3–O–CH2–CH3

            Rantai panjang (R-panjang) dan rantai pendek (R-pendek) senyawa eter dapat diketahui dari batas antara dua alkil yang membentuk eter tersebut yaitu  atom oksigen atau gugus (—O—). Jadi, alkil yang membentuk eter terletak di sisi kiri dan kanan atom oksigen. Seperti penjelasan pada gambar rumus struktur berikut

            Contoh Soal Menentukan Tatanama Senyawa Eter Dari Rumus Strukturnya
            Menentukan Nama Eter Dari Rumus Struktur

            Dari rumus strukturnya dapat diketahui bahwa senyawa eter tersebut dibangun oleh rantai pendek berupa alkil berkarbon satu, CH3 dan rantai panjangnya berupa alkil berkarbon dua, CH2—CH3.

            Cara Penomoran Karbon Pada Rantai Induk Senyawa Eter

            Penomoran karbon rantai induk (rantai Panjang) dimulai dari karbon di ujung rantai yang paling dekat dengan posisi gugus fungsi (-OR), sehingga karbon C yang dalam gugus fungsi tersebut mendapat nomor terkecil. Contoh pernomornya seperti berikut

            Cara Penomoran Karbon Pada Rantai Induk Senyawa Eter
            Cara Penomoran Karbon  Rantai Induk Eter

            Dari rumus struktur senyawa eter yang atom karbonnya sudah dinomori tersebut dapat diketahui bahwa gugus fungsi CH3—O— terikat pada rantai Panjang yang menjadi rantai induknya di karbon nomor 1.

            Cara Memberi Nama Senyawa Eter Dari Rumus Struktur

            Berdasarkan rumus strukturnya, penulisan nama senyawa eter menurut IUPAC dapat mengikuti ketentuan berikut:

            “Nomor-Nama alkil rantai pendek – Nama alkil rantai panjang” atau

            “Nomor-Nama Alkoksi – Nama Alkana”

            Nomor = menunjukkan nomor karbon pada rantai induk yang mengikat gugus alkoksi –OR

            Dari rumus struktur senyawa eter yang sudah dijelaskan diperoleh data berikut:

            Rantai pendek = CH3—O—

            Nama alkoksinya = metoksi

            Nomor = 1 (gugus alkoksi (CH3—O—) terikat pada karbon nomor 1 pada rantai induk atau etana).

            Rantai Panjang = —CH2—CH3

            Nama alkannya = etana

            Jadi, nama senyawanya adalah “1-Metoksi Etana

            2). Contoh Soal Menentukan Nama IUPAC Senyawa Eter Dari Rumus Struktur 2-Metoksi Propana,

            Tentukan nama IUPAC senyawa eter yang memiliki rumus struktur berikut

            Contoh Soal Menentukan Nama IUPAC Senyawa Eter Dari Rumus Struktur 2-Metoksi Propana,
            Rumus Struktur 2-Metoksi Propana,

            Cara Menentukan Rantai Pendek Panjang Rumus Struktur Senyawa Eter

            Rantai panjang (R-panjang) dan rantai pendek (R-pendek) senyawa eter dapat diketahui dari batas antara dua alkil yang membentuk eter tersebut yaitu  atom oksigen atau gugus fungsi (—O—). Jadi, alkil yang membentuk eter terletak di sisi kiri dan kanan atom oksigen.

            Cara Menentukan Rantai Pendek Panjang Rumus Struktur Senyawa Eter
            Cara Menentukan Rantai Pendek Panjang Rumus Struktur Senyawa Eter

            Dari rumus struktur eter tersebut dapat diketahui bahwa alkil rantai pendek adalah CH3 dan alkil rantai pajangnya CH3-CH-CH3.

            Cara Penomoran Karbon Pada Rantai Induk Senyawa Eter

            Penomoran karbon rantai induk (rantai Panjang) dimulai dari karbon pada ujung rantai yang terdekat terhadap posisi gugus fungsi, sehingga karbon C yang mengandung gugus fungsi tersebut mendapat nomor terkecil. Contoh pernomornya seperti berikut

            Cara Penomoran Karbon Pada Rantai Induk Senyawa Eter 2-metoksi propane
            Penomoran Karbon Rantai Eter 2-metoksi propane

            Dari Rumus struktur yang telah diberi nomor dapat diketahui, bahwa gugus alkoksi CH3—O— terikat pada karbon nomor 2 di rantai induknya.

            Cara Penamaan Senyawa Eter

            Nama eter menurut IUPAC adalah sebagai berikut

            Nomor-Nama alkoksi-Nama alkana

            Nomor = 2 (gugus alkoksi terikat pada karbon nomor 2)

            Nama alkoksi = Metoksi (nama rantai pendek dengan 1 atom karbon)

            Nama alkana = propana (nama rantai panjang dengan 3 atom karbon)

            Jadi, nama senyawa eter tersebut adalah “2-metoksi propane”

            3). Contoh Soal Menentukan Nama Senyawa Eter Dari Rumus Struktur 2-Etoksi-4-Metil Pentana,

            Tentukan nama eter yang memiliki rumus struktur berikut ini

            Contoh Soal Menentukan Nama Senyawa Eter Dari Rumus Struktur 2-Etoksi-4-Metil Pentana,
            Contoh Soal Menentukan Nama Senyawa Eter Dari Rumus Struktur 2-Etoksi-4-Metil Pentana,

            Cara Mencari Rantai Pendak Dan Panjang Senyawa Eter 2-Etoksi-4-Metil Pentana,

            Rantai panjang (R-panjang) dan rantai pendek (R-pendek) senyawa eter dapat diketahui dari alkil yang terletak di sisi kiri dan kanan atom oksigen senyawa eter tersebut. Seperti dijelaskan pada gambar berikut

            Cara Mencari Rantai Pendak Dan Panjang Senyawa Eter 2-Etoksi-4-Metil Pentana,
            Cara Mencari Rantai Pendak Dan Panjang Senyawa Eter 2-Etoksi-4-Metil Pentana,

            Berdasarkan pada rumus struktur tersebut dapat disimpulkan bahwa senyewa eter tersebut dibangun oleh rantai pendek (R-pendek) berupa CH2–CH3 dan rantai Panjang (R-panjang) berupa CH3–CH–CH2–CH–CH3

            Rantai pedek terdiri dari 2 atom karbon dan rantai Panjang terdiri dari 4 atom karbon. Rantai Panjang merupakan rantai induk atau rantai pokok atau rantai utama dari senyawa eter. Pada rantai induk terdapat satu cabang yang mengikat gugus alkil barupa metil.

            Cara Memberi Nomor Karbon Pada Rantai Induk Eter 2-Etoksi-4-Metil Pentana,

            Penomoran karbon rantai induk (rantai Panjang) dimulai dari karbon pada ujung rantai yang terdekat dengan posisi gugus fungsi (—OR)  atau  gugus —O— , sehingga karbon C yang mengandung gugus fungsi tersebut mendapat nomor terkecil. Contoh pernomornya seperti berikut

            Cara Memberi Nomor Karbon Pada Rantai Induk Eter 2-Etoksi-4-Metil Pentana,
            Cara Memberi Nomor Karbon Pada Rantai Induk Eter 2-Etoksi-4-Metil Pentana,

            Setelah diberi nomor pada karbon rantai induknya, diketahui bahwa gugus alkoksi (–O–CH2–CH3) terikat pada karbon nomor 2. Nomor 2 ini merupakan nomor terkecil untuk karbon yang dihitung dari gugus alkoksinya.

            Rantai induk memiliki cabang pada karbon nomor 4. Gugus yang terikat pada cabang ini adalah gugus alkil berkarbon 1 yaitu CH3.

            Cara Memberi Menuliskan Dari Rumus Struktur Eter 2-Etoksi-4-Metil Pentana,

            Nama eter yang mengandung cabang dituliskan dengan ketentuan sebagai berikut:

            “Nomor-Nama alkoksi-Nomor-Nama cabang-Nama alkana”

            Nomor = 2 (gugus alkoksi terikat pada karbon nomor 2)

            Nama alkoksi = etoksi (nama rantai pendek dengan 2 atom karbon)

            Nomor cabang = 4 (gugus alkil terikat pada karbon nomor 4)

            Nama cabang = metil (gugus alkil dengan 1 karbon, CH3)

            Nama alkana = pentana (nama rantai panjang dengan 5 atom karbon)

            Jadi, nama senyawa eter tersebut adalah “2-etoksi-4-metil-pentana”

            4). Contoh Soal Menentukan Rumus Struktur Senyawa Eter 1-Etoksi Etana

            Tentukanlah rumus struktur senyawa eter yang memiliki nama 1-etoksi etana.

            Menentukan Gugus Alkoksi Dan Alkana Senyawa Eter

            Gugus alkoksi dan gugus alkil alkana pada nama senyawa eter dapat diketahui dari ketentuan tatanama IUPAC sebagai berikut

            “Nama rantai pendek-Nama rantai Panjang atau

            “Nomor-Nama alkoksi-Nomor-Nama cabang-Nama alkana”

            Jadi, dari nama eter 1-Etoksi Etana dapat diketahui bahwa

            Angka 1 = nomor karbon pada rantai etana dimana etoksi terikat

            Etoksi = nama gugus alkoksi dengan 2 atom karbon sebagai rantai pendek

            Etoksi = –O–CH2–CH3

            Etana = nama rantai induk rantai panjang (gugus alkil dengan 2 atom karbon)

            Etana = CH3 – CH2

            Dari penjelasan ini, dapat disimpulkan bahwa eter 1-Etoksi Etana tidak memiliki cabang pada rantai induknya. Rantai pendek atau Gugus alkoksi (etoksi) terikat pada karbon nomor 1 di rantai induk atau rantai Panjang (etana)

            Cara Membuat Rumus Struktur Dari Nama Senyawa Eter 1-etoksi etana

            Sesuai dengan rumus umum eter yaitu R-O-R atau R-OR maka dapat dibuat rumus strukturnya berdasarkan ketentuan berikut

            “Rantai Panjang –O– Rantai Pendek “ atau

            “Alkana – Akoksi “ atau

            “Etana-Etoksi

            Jadi rumus struktur 1-etoksi etana adalah sebagai berikut:

            CH3 – CH2–O–CH2–CH3

            Cara Membuat Rumus Struktur Dari Nama Senyawa Eter 1-etoksi etana
            Cara Membuat Rumus Struktur Dari Nama Senyawa Eter 1-etoksi etana

            Isomer Senyawa Eter

            Isomer adalah senyawa karbon yang mempunyai rumus molekul sama, tetapi memiliki rumus struktur berbeda.

            Eter mempunyai isomer rangka karena letak gugus cabang dan gugus fungsi dapat berbeda. Eter selain berisomer dengan sesamanya, juga berisomer dengan alkohol berupa isomer gugus fungsi yang rumusnya sama yaitu CnH2n+2O.

            5). Contoh Soal Isomer Struktur Senyawa Eter Rumus C4H10O

            Tentukan isomer struktur senyawa eter dengan rumus C4H10O

            Menentukan Isomer Senyawa Eter

            Untuk dapat mengetahui isomer yang dimiliki oleh senyawa eter dengan rumus C4H10O, maka harus dibuatkan rumus strukturnya satu satu, baik isomer struktur maupun isomer fungsi.

            Karena rumus umum eter adalah R-O-R, maka jumlah karbon harus dibagi ke dalam dua R. Setiap bagian R mendapat atom karbon, bisa sama atau berbeda.

            Menentukan Rumus Struktur Isomer Senyawa Eter C4H10O

            Rumus struktur eter dengan rumus C4H10O dapat dibuatkan menjadi rantai pendek dan Panjang dengan membagi atom karbon kepada dua rantai tersebut: misal eter dengan rumus CH3–O–C3H7 miliki isomer 1-metoksi propane, 1-etoksi etana dan 2-metoksi propane.

            Rumus Struktur Isomer Senyawa Eter 1-Metoksi Propana CH3–O–C3H7

            Rantai pendek = 1 atom karbon (metoksi)

            Metoksi = CH3–O–

            Rantau Panjang = 3 atom karbon (propane)

            Propana = CH3 – CH2CH3

            Jadi, rumus stuktur isomernya adalah sebagai berikut.

            Rumus Struktur Isomer Senyawa Eter 1-Metoksi Propana CH3–O–C3H7
            Rumus Struktur Isomer Senyawa Eter 1-Metoksi Propana CH3–O–C3H7

            Gugus metoksi terikat pada karbon nomor 1 di rantai induk propane, sehingga diberi nama menjadi 1-metoksi. Rumus struktur 1-metoksi propane dibangun oleh rangka karbon tanpa cabang.

            Rumus Struktur Isomer Senyawa Eter 1-Etoksi Etana C2H3–O–C2H5

            Pada rumus Struktur Senyawa Eter 1-Etoksi Etana C2H3–O–C2H5, jumlah karbon pada rantai pendek dan Panjang adalah sama yaitu 2 atom karbon.

            Rantai pendek = 2 atom karbon (etoksi)

            Etoksi = C2H5–O–

            Rantau Panjang = 2 atom karbon (etana)

            Etana = –CH2CH3

            Jadi, rumus stuktur isomernya adalah sebagai berikut.

            Rumus Struktur Isomer Senyawa Eter 1-Etoksi Etana C2H3–O–C2H5
            Rumus Struktur Isomer Senyawa Eter 1-Etoksi Etana C2H3–O–C2H5

            Pada rumus struktur ini, rantai pendek (Gugus etoksi) dan rantai Panjang atau induk adalah sama. Gugus etoksi terikat pada karbon nomor 1 di rantai induk etana, sehingga diberi nama menjadi 1-etoksi. Rumus struktur 1-etoksi etana dibangun oleh rangka karbon lurus tanpa cabang.

            Rumus Struktur Isomer Senyawa Eter 2-Metoksi Propane

            Rumus struktur isomer senyawa eter 2-metoksi propane adalah sebagai berikut:

            Rantai pendek = 1 atom karbon (metoksi)

            Metoksi = CH3–O–

            Nomor alkoksi = 2 (terikat pada karbon nomor 2 di rantai Panjang)

            Rantau Panjang = 3 atom karbon (propana)

            Propana = CH3–CHCH3

            Jadi, rumus struktur 2-metoksi propane adalah

            Rumus Struktur Isomer Senyawa Eter 2-Metoksi Propane
            Rumus Struktur Isomer Senyawa Eter 2-Metoksi Propane

            Gugus metoksi terikat pada karbon nomor 2 di rantai karbon propane. Rumus struktur 2-metoksi propane menjadi isomer karena posisi gugus metoksi yang terikat pada karbon nomor 2.

            Contoh Isomer Gugus Fungsi Senyawa Eter Rumus C4H10O

            Senyawa eter dan alkohol mempunyai rumus molekul sama tetapi gugus fungsinya berbeda. Oleh karena itu, alkohol dan eter disebut sebagai berisomer fungsi. Berikut dapat dilihat contoh isomer ari rumus molekul eter C4H10O yang berisomer dengan alcohol.

            Rumus Struktur Isomer Gugus Fungsi Dari C4H10O Sebagai Senyawa Eter

            Isomer dari Rumus C4H10O sebagai senyawa eter adalah 1-etoksi etana

            C2H5-O-C2H5

            Rumus Struktur Isomer Gugus Fungsi Dari C4H10O Sebagai Senyawa Alkohol

            Isomer dari Rumus C4H10O sebagai senyawa alcohol  adalah n-butanol atau 1-butanol, 2-butanol, 2-metil-1-propanol dan 2-metil-2-propanol

            Isomer Gugus Fungsi Rumus Struktur 1-Butanol

            CH3–CH2–CH2–CH2–OH

            Isomer Gugus Fungsi Rumus Struktur 1-Butanol
            Isomer Gugus Fungsi Rumus Struktur 1-Butanol

            Isomer Gugus Fungsi Rumus Struktur 2-Butanol

            Isomer Gugus Fungsi Rumus Struktur 2-Butanol
            Isomer Gugus Fungsi Rumus Struktur 2-Butanol

            Isomer Gugus Fungsi Rumus Struktur 2-Metil-1-Propanol

            Isomer Gugus Fungsi Rumus Struktur 2-Metil-1-Propanol
            Isomer Gugus Fungsi Rumus Struktur 2-Metil-1-Propanol

            Isomer Gugus Fungsi Rumus Struktur 2-Metil-2-Propanol

            Isomer Gugus Fungsi Rumus Struktur 2-Metil-2-Propanol
            Isomer Gugus Fungsi Rumus Struktur 2-Metil-2-Propanol

            Sifat Fisis Senyawa Eter

            1.) Berupa zat cair (kecuali metil eter) berbau harum dan mudah menguap. Pada suhu kamar metal eter berwujud gas, sedangkan eter sederhana lainnya berupa zat cair yang mudah menguap.

            2). Dengan jumlah atom karbon yang sama, titik didih eter lebih rendah dari titik didih alkohol. Hal itu disebabkan tidak adanya ikatan hidrogen dalam eter, sedangkan akohol mempunyai ikatan hidrogen

            3). Senyawa eter sulit larut dalam air. Hal ini disebabkan eter memiliki kepolaran rendah. Kelarutan eter dalam air jauh lebih kecil daripada kelarutan alkohol, sehingga umumnya eter tidak bercampur dengan air. Makin tinggi rantai alkil dalam eter makin kurang kelarutannya di dalam air.

            Sifat Kimia Eter

            Beberapa sifat kimia yang dimiliki senyawa eter diantaranya adalah

            1). Senyawa eter relative kurang reaktif dibandingkan dengan senyawa alkohol, kecuali dalam hal pembakaran.

            2). Senyawa eter tidak bereaksi dengan hampir semua oksidator maupun reduktor. Demikian juga dalam asam dan basa, eter cenderung stabil, kecuali pada suhu tinggi. Karena itu, eter sering digunakan sebagai pelarut untuk reaksi-reaksi organik.

            3). Pada umumnya eter bersifat racun, tetapi jauh lebih aman jika dibandingkan kloroform untuk keperluan obat bius. Dalam menggunakan eter harus hati-hati karena mudah terbakar.

            4). Senyawa eter tidak bereaksi dengan logam natrium (logam aktif) sehingga sifat ini dimanfaatkan untuk membedakan senyawa eter dengan alcohol,

            5). Senyawa eter bereaksi dengan PCl5 tetapi tidak membebaskan HCl, sehingga sifat ini dapat dimanfaat untuk mengidentifikasi perbedaan senyawa eter dengan alkohol.

            Reaksi Reaksi Senyawa Eter

            Beberapa reaksi senyawa eter diantaranya adalah:

            1). Reaksi Eter dengan PCl5, menghasilkan R-Cl

            R–O–R’ + PCl5 → R–Cl + R’Cl + POCl3

            2). Senyawa Eter Bereaksi dengan HX (X = F, Cl, Br, I).

            R–O–R + HX → R–OH + RX

            3). Dengan HI berlebih dan pemanasan menghasilkan R – I dan H2O.

            R–O–R’ + Hl → R–I + R’–I +H2O

            4). Senyawa Eter mudah terbakar membentuk gas CO2 dan uap air.

            CH3–O–CH3 + O2 → 2CO2 + 3H2O

            Pembuatan Senyawa Eter

            Umumnya eter dibuat dari dehidrasi alkohol.

            1). Pembuatan Eter Dengan Eliminasi Alkohol

            Senyawa eter dapat dibuat dengan jalan mereaksikan alkohol primer dengan asam sulfat pada suhu 140 °C.

            Secara umum reaksi pembuatan eter dengan eliminasi alcohol adalah seperti berikut

            R–OH → R–OR + H2O

            Contoh Reaksi Eliminasi Alkohol Membuat Dietil Eter

            2 CH3–CH2–OH → CH3–CH2–O–CH2–CH3 + H2O

            Pembuatan senyawa dietil eter dilakukan melalui pemanasan etanol dengan asam sulfat pekat pada temperatur sekitar 140°C sampai reaksi dehidrasi sempurna.

            2). Pembuatan Eter Dengan Sintesis Williamson.

            Secara umum sintesis senyawa eter dapat dinyatakan sebagai berikut

            R–X + R–ONa → R–O–R + NaX

            Contoh Reaksi Sintesis Williamson Pembuatan Etil Metil Eter

            CH3–CH2–Cl + CH3–ONa → CH3–CH2–O–CH3 + NaCl

            CH3–CH2–Cl = etil klorida

            CH3–ONa = natrium metanoat

            CH3–CH2–O–CH3 = etil metil eter

            Pembuatan etil metil eter menurut sintesis Williamson dilaksanakan dengan mereaksikan etil klorida dan natrium metanoat.

            Kegunaan Senyawa Eter

            1). Dalam kehidupan sehari-hari eter yang paling banyak digunakan adalah dietil eter, yaitu sebagai obat bius dan pelarut senyawa nonpolar.

            2). Eter dalam laboratorium digunakan sebagai pelarut yang baik untuk senyawa kovalen dan sedikit larut dalam air.

            3). Dalam bidang kesehatan, eter banyak digunakan untuk obat pembius atau anestetik.

            4). Dietil eter secara luas dipakai sebagai pelarut untuk lemak, lilin, atau zat-zat lain yang kurang larut dalam air.

            1). Contoh Soal Senyawa Karbon Eter Ester Keton

            Senyawa berikut CH3OCH3, CH3COOCH3, dan CH3COCH3 berturut-turut termasuk golongan…..

            a). eter, ester, keton
            b). keton, eter, ester
            c). ester, eter, keton
            d). ester, keton, eter
            e). eter, keton, ester​

            2). Contoh Soal Menentukan Bukan Senyawa Organik – Karbon

            Senyawa di bawah ini tergolong senyawa organik, kecuali….

            a). CH3COOH

            b). H2C2O4

            c). H2CO3

            d). CO(NH2)2

            e). CH3OCH3

              Daftar Pustaka:

              1. Sunarya, Yayan, 2014, “Kimia Dasar 1, Berdasarkan Prinsip Prinsip Kimia Terkini”, Cetakan Ketiga, Yrama Widya, Bandung.
              2. Hiskia Achmad,  1996, “Kimia Larutan”, Citra Aditya Bakti,  Bandung.
              3. Sunarya, Yayan, 2013, “Kimia Dasar 2, Berdasarkan Prinsip Prinsip Kimia Terkini”, Cetakan Kedua, Yrama Widya, Bandung.
              4. Syukri, S., 1999, “Kimia Dasar 2”, Jillid 2, Penerbit ITB, Bandung
              5. Chang, Raymond, 2004, “Kimia Dasar, Konsep -konsep Inti”, Edisi Ketiga, Jilid Satu, Penerbit, Erlangga, Jakarta.
              6. Brady, James, E,1999, “Kimia Universitas Asas dan Struktur”, Edisi Kelima, Jilid Satu, Binarupa Aksara, Jakarta,
              7. Brady, James, E., 1999, “Kimia Universitas Asas dan Struktur”, Edisi Kelima, Jilid Dua, Binarupa Aksara, Jakarta.
              8. Eter: Pengertian Sifat Fisis Reaksi Kimia Tatanama Rumus Struktur Isomer Posisi Gugus Fungsi Karbonil, Cara Menentukan Nama Dari Rumus Struktur Eter, Contoh Soal Menentukan Jenis Isomer Struktur Posisi Gugus Fungsi Eter, Contoh Rumus Struktur Deret Homolog Eter, Sifat Fisis Kimia Reaksi Pembuatan Kegunaan Eter,

              Keton: Pengertian Sifat Fisis Kimia Tata Nama Rumus Struktur Reaksi Isomer Posisi Rangka Gugus Fungsi Pembuatan Kegunaan

              Pengertian Keton: Keton merupakan suatu senyawa organic yang memiliki sebuah gugus fungsional karbonil C=O, yang terikat pada dua gugus alkil (R) atau gugus aril (Ar) atau alkil dan aril. Pada senyawa keton yang mengikat dua gugus alkil adaah atom karbon.

              Sifat Sifat Gugus Karbonil (C=O)

              Gugus karbonil bersifat polar yang disebabkan oleh oksigen yang lebih elektronegatif dibandingkan atom karbon. Ikatan rangkap karbon – oksigen (C=O) dalam gugus karbonil mengandung iakatan sigma dan ikatan phi .

              Ikatan rangkap karbon – oksigen (C=O) dalam gugus karbonil elektronya lebih polar daripada ikatan tunggal karbon oksigen (C-O) dalam alcohol. Elektron phi yang berasal dari ikatan phi karbonil lebih jauh dari inti, sehingga ikatannya lebi lemah dan lebih mudah dipolarsasikan.

              Atom oksigen pada gugus karbonil mempunyai sepasang electron valensi yang dapat bereaksi dengan sebuah proton untuk menambah muatan positif dari karbon karbonil. Penambahan proton ini memiliki peran panting dalam berbagai reaksi yang terjadi pada gugus karbonil.

              Rumus Umum Senyawa Keton – Alkanon

              Keton memiliki rumus umum yang sama dengan aldehid yaitu CnH2nO. Sedangkan rumus struktur keton hampir sama dengan aldehid hanya dengan mengganti satu atom H yang terikat pada gugus karbonil dengan gugus alkil.

              Berdasarkan rumus strukturnya keton memiliki rumus umum R-CO-R’ dengan R dan R’ adalah gugus alkil atau aril yang dapat sama atau berbeda.

              Rumus Umum Struktur Gugus Karbonil Keton - Alkanon
              Rumus Umum Struktur Gugus Karbonil Keton – Alkanon

              Tata Nama Senyawa Keton

              Ada dua cara pemberian nama alkanon (keton), yaitu cara trivial dan sistem IUPAC.

              Tata Nama Trivial Lazim Umum Senyawa Keton

              Menuliskan terlebih dulu nama gugus alkilnya baik gugus alkil dari R maupun gugus alkil dari R, kemudian diikuti kata keton. Penulisan gugus alkil menurut urutan abjad.

              Contoh Tata Nama Trivial Keton

              Beberapa contoh senyawa keton diantaranya adalah dimetil keton (aseton), atil metil keton, dietil keton, dan sebagainya. Rumus struktur dari beberapa senyawa keton adalah seperti berikut:

              Contoh Tata Nama Trivial Keton
              Contoh Tata Nama Trivial Keton

              Perhatikan rumus struktur senyawa keton ‘etil metil keton’ dapat dibuat seperti pada nomor 2 atau no 3. Sesuai dengan aturan penulisan menurut trivial, bahwa penulisan nama keton untuk nama gugus alkil berdasarkan urutan abjad, jadi penulisannya, etil lebih dulu baru kemudian metil. Penulisan gugus alkil ini tanpa memperhatikan posisi etil atau metil dalam rumus strukturnya.

              Tata Nama IUPAC Senyawa Keton

              Tata nama keton menurut sistem IUPAC diturunkan dari nama alkana dengan mengganti akhiran –a dengan –on. Oleh karena itu, keton secara umum disebut golongan alkanon. Suku terendah dari alkanon adalah propanon.

              Untuk alkanon yang mempunyai isomer pemberian nama senyawanya mengikuti ketentuan berikut:

              1). Rantai induk atau pokok adalah rantai karbon terpanjang yang mengandung gugus fungsi karbonil C=O dan diberi nama alkanon.

              2). Penomoran dimulai dari atom karbon yang terdekat dengan posisi gugus fungsi sehingga karbon yang mengikat gugus fungsi mendapat nomor terkecil.

              3). Pemberian nama sama seperti alkanol. Cabang cabang disebut lebih dulu, disusun menurut abjad dan diberi awalan yang menyatakan jumlah cabang tersebut. Letak gugus fungsi dinyatakan dengan awalan angka pada nama rantai pokok.

              Urutan Penamaan Nama Senyawa Keton

              Urutan penamaan adalah sebagai berikut

              – Nomor cabang

              – Nama cabang

              – Nomor atom karbon dalam gugus karbonil

              – Nama rantai induk (alkanon)

              Contoh Soal Menentukan Nama IUPAC Senyawa Keton 4-Metil-2-Pentanon

              Tentukan nama senyawa keton yang memiliki rumus struktur seperti berikut

              Contoh Soal Menentukan Nama IUPAC Senyawa Keton 4-Metil-2-Pentanon
              Contoh Soal Menentukan Nama IUPAC Keton 4-Metil-2-Pentanon

              Cara Menentukan Rantai Induk Terpanjang Senyawa Keton

              Rumus struktur senyawa keton tersebut dibangun oleh rangka karbon bercabang. Jumlah cabangnya ada satu yang mengikat gugus alkil metil (CH3).

              Rantai induk atau terpanjang adalah rantai karbon yang mengikat gugus fungsi (gugus karbonil C=O) dengan atom karbon terbanyak. Rantai karbon induknya mengandung 5 atom karbon. Senyawa keton yang mengandung 5 atom karbon adalah ‘pentanon’.

              Cara Penomoran Atom Karbon Senyawa Keton

              Berilah nomor pada atom karbon yang dimulai dari ujung rantai dimana karbon yang terdekat dengan karbon gugus alkil sehingga karbon yang mengikat oksigen mendapat nomor kecil, Perhatikan rumus struktur berikut:

              Cara Penomoran Atom Karbon Senyawa Keton
              Cara Penomoran Atom Karbon Senyawa Keton

              Setelah dinomori, diketahui bahwa atom karbon yang mengikat oksigen (karbon gugus fungsi karbonil) mendapat nomor 2. Jadi, penomoran dari sebelah kiri akan menyebabkan atom karbon gugus karbonil mendapat nomor terkecil yaitu nomor dua. Kalau penomoran mulai dari sisi kanan, maka karbon tersebut mendapat nomor 4.

              Dari rumus struktur yang sudah diberi nomor tersebut dapat diketahui, bahwa cabang terdapat pada karbon nomor 4 dan atom karbon gugus karbonil pada atom karbon nomor 2.

              Dengan demikian tata nama senyawa keton tersebut adalah

              Nomor karbon cabang = 4

              Nama gugus alkil cabang CH3 = metil

              Nomor karbon gugus karbonil = 2

              Nama Rantai induk alkanon (5 karbon ) = pentanon

              Cara Penamaan Senyawa Keton

              Penamaan senyawa keton mengikuti ketentuan berikut;

              Nomor-Nama Cabang-Nomor-Nama Alkanon

              Jadi, nama ketonnya adalah “4-metil-2-pentanon”.

              Contoh Soal Pembahasan Penamaan Senyawa Keton 4,5-Metil-2-Heksanon,

              Buatkanlah nama IUPAC untuk senyawa keton yang memiliki rumus struktur berikut:

              Contoh Soal Pembahasan Penamaan Senyawa Keton 4,5-Metil-2-Heksanon,
              Contoh Soal Pembahasan Penamaan Senyawa Keton 4,5-Metil-2-Heksanon,

              Langkap pertama adalah menentukan rantai induk terpanjang yang mengadung gugus fungsi kabonil (C=O).

              Cara Menentukan Rantai Induk Senyawa Keton,

              Dari rumus strukturnya dapat diketahui bahwa keton tersebut dibangun oleh rangka atau rantai karbon bercabang. Jumlah cabang ada dua dengan rumus struktur yang sama yaitu gugus alkil yang mengandung satu atom karbon yaitu metil CH3.

              Rantai induk atau rantai terpanjang yang mengandung gugus karbonil pada keton tersebut tersusun dari 6 atom karbon. Rantai alkanon yang mengikat 6 atom karbon adalah ‘heksanon’.

              Cara Pemberian Nomor Karbon Rantai Terpanjang Senyawa Keton,

              Penomoran dilakukan pada karbon terdekat gugus fungsi karbonil (C=O), sehingga karbon dalam gugus fungsi mendapat nomor terkecil. Dari rumus strukturnya dapat diketahui bahwa untuk mendapat nomor terkecil, maka penomoran dimulai dari sisi kanan, seperti berikut:

              Cara Pemberian Nomor Karbon Rantai Terpanjang Senyawa Keton,
              Cara Pemberian Nomor Karbon Rantai Terpanjang Senyawa Keton,

              Karbon pada gugus karbonil mendapat nomor 3 dan ini digunakan untuk nomor alkanonnya.

              Cabang yang mengikat senyawa metil terdapat pada karbon nomor 4 dan 5. Kedua gugus alkil ini memiliki jumlah atom karbon yang sama yaitu satu karbon dan nama gugusnya adalah metil CH3.

              Karena kedua gugus alkil ini sama, maka penulisannya digabung menjadi “dimetil”, dan nomor karbonnya disusun menjadi ‘4,5’ (empat koma lima).

              Dengan demikian tata nama senyawa keton tersebut adalah

              Nomor karbon cabang = 4,5

              Nama gugus alkil cabang CH3 = metil

              Nomor karbon gugus karbonil = 3

              Nama Rantai induk alkanon (6 karbon) = heksanon

              Cara Penamaan Senyawa Keton

              Penamaan senyawa keton mengikuti ketentuan berikut;

              Nomor-Nama Cabang-Nomor-Nama Alkanon

              Jadi, nama ketonnya adalah “4,5-metil-2-heksanon”.

              Contoh Soal Membuat Rumus Struktur 2-Metil-3-Pentanon

              Tuliskan rumus struktur IUPAC dari senyawa keton 2-metil-3-pentanon

              Pengertian Tata Nama IUPAC Senyawa  Keton 2-Metil-3-Pentanon

              Untuk dapat membuat rumus struktur senyawa keton, maka harus mengetahui tata nama penulisan senyawa keton. Adapun tata nama IUPAC untuk senyawa keton adalah sebagai berikut:

              Cabang- Alkanon” lengkapnya adalah

              Nomor-Nama Cabang-Nomor-Nama Alkanon

              dengan keterangan sebagai berikut:

              Nomor = nomor karbon dimana cabang terikat

              Nama Cabang = nama gugus alkil pada cabang

              Nomor = nomor karbon dimana gugus karbonil terikat

              Alkanon = nama IUPAC rantai induk keton

              Dengan demikian dapat diketahui untuk senyawa keton dengan nama IUPAC “2-Metil-3-Pentanon” diperoleh:

              Cabang = 2-metil

              Alkanon = 3-pentanon

              Arti lengkapnya adalah

              Nomor Cabang = 2 (gugus metil CH2 terikat pada karbon nomor 2)

              Nama cabang = metil (gugus alkil pada cabang)

              Nomor = 3 (gugus karbonil (C=O) terikat pada karbon nomor 3)

              Alkanon = Pentanon (rantai induk dengan 5 atom karbon)

              Cara Menuliskan Rumus Struktur 2-Metil-3-Pentanon”,

              1). Membuat rantai induknya yaitu 3-pentanon yang tersusun dari 5 atom karbon dengan atom ketiga adalah karbinol sepeti berikut:

              Cara Menuliskan Rumus Struktur 2-Metil-3-Pentanon
              Cara Menuliskan Rumus Struktur 2-Metil-3-Pentanon

              Rantai induk 3-pentanon adalah rantai tanpa cabang sehingga pada karbon nomor 2 terikat 2 hidrogen.

              2). Membuat cabang gugus 2-metil yaitu metil yang terikat di karbon nomor 2 pada rantai induknya seperti berikut:

              Pengertian Tata Nama IUPAC Senyawa  Keton 2-Metil-3-Pentanon
              Pengertian Tata Nama IUPAC Senyawa Keton 2-Metil-3-Pentanon

              Ketika gugus metil diikatkan pada karbon nomor 2, maka satu atom hydrogen harus dilepas, agar lengan karbon tetap empat.

              Senyawa keton dengan nama 2-Metil-3-Pentanon dibangun oleh rangka karbon bercabang. Rantai induk tersusun dari 5 atom karbon dengan gugus karbonil terikat pada karbon nomor 2. Jumlah cabangnya adalah satu yaitu metil yang terikat pada karbon nomor 2.

              Isomer Senyawa Keton

              Isomer adalah senyawa karbon yang mempunyai rumus molekul sama, tetapi memiliki rumus struktur berbeda.

              Keton mempunyai isomer rangka, posisi, karena letak gugus cabang dan gugus fungsi dapat berbeda. Isomer posisi mulai terdapat pada pentanon. Selain itu, keton mempunyai rumus molekul sama dengan adehida tetapi gugus fungsinya berbeda, sehingga keton memiliki isomer fungsi dengan aldehid.

              Isomer Rangka Senyawa Keton

              Isomer rangka adalah senyawa- senyawa yang mempunyai rumus molekul sama namun memiliki struktur rangka karbonnya yang berbeda. Keton mempunyai isomer karena rangka rantai karbon dapat berbeda.

              Contoh Isomer Struktur – Rangka Pada Senyawa Keton – Alkanon

              Contoh rumus struktur senyawa keton yang memiliki rumus molekul C6H12O diantaranya dapat berbentuk 2-heksanon dan 4-metil-2pentanon seperti berikut:

              Contoh Isomer Struktur - Rangka Pada Senyawa Keton - Alkanon
              Contoh Isomer Struktur – Rangka Pada Senyawa Keton – Alkanon

              Kedua isomer keton tersebut memiliki rumus molekul sama C6H12O, namun memiliki rangka rantai karbon yang berbeda.

              Senyawa keton 2-heksanon dibangun oleh rangka karbon lurus tanpa cabang dan gugus fungsinya (C=O) terikat pada karbon nomor 2.

              Sedangkan, keton 4-metil-2-pentanon dibangun oleh rangka karbon bercabang. Gugus fungsi karbonil (C=O) terikat pada atom karbon nomor 2, dan gugus cabang metil terikat pada karbon nomor 4.

              Isomer Posisi Senyawa Keton

              Isomer posisi senyawa keton adalah senyawa- senyawa keton dengan rumus molekul sama, namun memiliki posisi gugus fungsi yang berbeda.

              Contoh Isomer Posisi Senyawa Keton – Alkanon

              Contoh isomer posisi pada senyawa keton yang memiliki rumus molekul C6H12O diantaranya berbentuk 2-heksanon dan 3-heksanon seperti berikut:

              Contoh Isomer Posisi Senyawa Keton - Alkanon C6H12O
              Contoh Isomer Posisi Senyawa Keton – Alkanon C6H12O

              Kedua isomer keton tersebut memiliki rumus molekul sama C6H12O. Kedua isomer keton ini tersusun dari rangka karbon lurus tanpa cabang. Namun kedua isomer ini memiliki posisi gugus fungsi karbonil (C=O) berbeda

              Senyawa keton 2-heksanon memiliki gugus fungsi karbonil yang terikat pada karbon nomor 2. Ini artinya, posisi gugus fungsi karbonil pada 2-heksanon terletak pada karbon nomor 2.

              Sedangkan pada keton 3-heksanon, posisi gugus fungsi karbonil-nya terikat pada atom karbon nomor 3.

              Isomer Gugus Fungsi Senyawa Keton

              Isomer gugus fungsi keton adalah senyawa- senyawa yang mempunyai rumus molekul sama namun gugus fungsinya berbeda. Senyawa keton memiliki isomer fungsi dengan aldehid.

              Contoh Isomer Gugus Fungsi Senyawa Keton

              Contoh isomer gugus fungsi pada senyawa keton yang memiliki rumus molekul C6H12O diantaranya adalah senyawa keton 2-heksanon berisomer dengan senyawa aldehida heksanal seperti berikut;

              Contoh Isomer Gugus Fungsi Senyawa Keton C4H8O
              Contoh Isomer Gugus Fungsi Senyawa Keton C6H12O

              Senyawa keton memiliki gugus fungsi dengan rumus C=O sedangkan senyawa aldehida memiliki rumus gugus fungsi COOH. Kedua gugus fungsi ini berada pada rantai induk yaitu  rangka karbon lurus yang memiliki jumlah karbon 6 atom.

              Rantai induk keton yang memiliki 6 atom karbon adalah heksanon, sedangkan pada aldehid adalah heksanal. Dalam senyawa heksanon, posisi atau letak gugus fungsinya terikat di karbon nomor dua, maka diberi nama 2-heksanon.

              Dalam senyawa aldehid heksanal, posisi gugus fungsi terikat di karbon normor 1. Namun tidak ditulis menjadi 1-heksanal, karena gugus fungsi aldehid selalu pada karbon nomor 1.

              Sifat Fisis Senyawa Keton

              Beberapa sifat yang dimiliki oleh senyawa keton diantaranya adalah: Titik Didih 0C

              1). Keton merupakan senyawa yang bersifat polar. Adanya kepolaran menimbulkan antaraksi antarmolekul keton sehingga senyawa keton umumnya memiliki titik didih relatif tinggi dibandingkan dengan senyawa nonpolar yang massa molekulnya relatif sama.

              2). Keton dengan jumlah atom C rendah (C1 – C5) berwujud cair pada suhu kamar.

              3). Oleh karena keton memiliki gugus karbonil yang polar maka senyawa keton larut dalam pelarut air maupun alkohol. Kelarutan senyawa keton berkurang dengan bertambahnya rantai alkil.

              4). Secara terbatas, keton dapat mensolvasi ion. Contoh NaI dapat larut dalam aseton.

              Titik didih beberapa senyawa keton dapat dilihat pada table berikut

              Sifat Fisis Senyawa Keton Titik Didih Aseton Metil Etil Keton Dietil Keton
              Sifat Fisis Senyawa Keton Titik Didih

              Sifat Kimia Senyawa Keton

              Senyawa keton dapat mengalami reaksi- reaksi kimia sebagai berikut.

              1). Reaksi Adisi Senyawa Keton Oleh Hidrogen

              Adisi dengan hydrogen pada senyawa keton akan menghasilkan alkohol sekunder. Alkohol sekunder adalah alcohol yang gugus OH-nya terikat pada atom karbon C sekunder. Atom karbon sekunder adalah atom karbon C yang telah terikat pada dua buah atom karbon C lain.

              Reaksi adisi hidrogen merupakan reaksi reduksi seperti persamaan reaksi berikut:

              Reaksi Adisi Senyawa Keton Oleh Hidrogen
              Reaksi Adisi Senyawa Keton Oleh Hidrogen

              Reaksi antara propanon dengan gas hydrogen akan mengahasilkan 2-propanol. Reaksi adisi oleh hydrogen ini akan memecah ikatan rangkap karbon – oksigen C=O yang terdapat pada gugus karbonil keton.

              Pembentukan gugus alcohol terjadi ketika oksigen mengikat satu atom hidrogen yang diikuti dengan terjadinya pengikatan atom hydrogen yang satunya oleh atom karbon pada gugus karbonil.

              2). Reaksi Adisi Senyawa Keton Oleh Natrium Bisulfit (NaHSO3)

              Senyawa keton yang bereaksi dengan Natrium Bisulfit akan menghasilkan senyawa berupa Natrium Keton Bisulfit.

              Reaksi Adisi senyawa aseton oleh natrium bisulfit akan menghasilkan natrium aseton bisulfit melalui persamaan reaksi berikut:

              CH3COCH3 + NaHSO3 →   (CH3)2C(OH)SO3–Na+

              Reaksi adisi ini memecah ikatan rangkap karbon – oksigen (C=O) pada gugus karbonil. Pemecahan ikatan rangkap disertai dengan pengikatan natrium bisulfit oleh karbon gugus fungsi dan terjadinya ikatan hydrogen membentuk gugus hidroksi (OH)

              3). Reaksi Adisi Senyawa Keton Dengan HCN

              Reaksi adisi senyawa keton oleh hydrogen sianida adalah sebagai berikut:

              Reaksi Adisi Senyawa Keton Dengan HCN
              Reaksi Adisi Senyawa Keton Dengan HCN

              Reaksi adisi dengan hydrogen sianda menyebabkan ikatan rangkap karbon – oksigen (C=O) pada gugus fungsi karbonil terlepas. Adisi disertai dengan pengikatan gugus siano oleh karbon gugus karbonil dan terbentuknya gugus hidroksi yang terikat pada karbon gugus karbonil.

              Reaksi Cara Membedakan Senyawa Aldehid dan Keton

              Untuk membedakan aldehid dan keton dapat dilakukan dengan cara oksidasi. Aldehid mudah dioksidasi menghasilkan asam karboksilat, sedangkan keton tahan terhadap oksidasi.

              Penyebab Keton Tidak Dapat Dioksidasi

              Aldehid (R-COH) memiliki atom hidrogen (H) yang berikatan dengan gugus karbonil (C=O) sehingga jika dioksidasi akan membentuk “hydrate formation” yang sangat mudah teroksidasi membentuk asam karboksilat dalam larutan, sedangkan keton tidak memiliki atom hidrogen tersebut sehingga tidak mudah teroksidasi.

              Uji Aldehid Keton

              Tes Tollen (larutan AgNO3 dalam amonia berlebih) merupakan metode yang digunakan untuk membedakan aldehid dan keton di laboratorium.

              Prinsip dasarnya adalah kemudahan untuk dioksidasi dari kedua golongan senyawa ini. Perak (I) mudah direduksi menjadi logam perak oleh aldehid, tetapi tidak oleh keton.

              Cara lain untuk membedakan aldehid dan keton adalah dengan pereaksi ehling (larutan Cu2+ dalam Basa kuat seperti KOH). Aldehid dapat mereduksi larutan Fehling membentuk endapan merah Cu2O, sedangkan keton tidak terjadi reaksi.

              Jadi, aldehid dan keton dapat dibedakan dengan cara mereaksikannya dengan oksidator seperti pereaksi Fehling dan pereaksi Tollens.

              Senyawa Aldehid bereaksi positif dengan kedua pereaksi itu. Aldehid bereaksi dengan Fehling menghasilkan endapan merah bata. Aldehide bereaksi dengan Tollens menghasilkan cermin perak.

              Sedangkan keton tidak dapat dioksidasi atau reaksi negatif.. Keton tidak bereaksi dengan larutan Fehling maupun Tollens.

              Aldehid + Fehling → endapan merah bata

              Aldehid + Tollens → cermin perak

              Keton + Fehling → tidak bereaksi

              Keton +Tollens → tidak bereaksi

              Pembuatan Senyawa Keton

              Senyawa keton dapat dibuat dengan cara mengoksidasi alkohol sekunder. Ketika alkohol sekunder direaksikan dengan KMnO4 maka akan menghasilkan senyawa keton. Pada reaksi pembuatan keton,  KMnO4 bertindak sebagai oksidator. Oksidator yang biasa digunakan dalam pembuatan keton adalah larutan KMnO4 atau larutan K2Cr2O7.

              1). Contoh Reaksi Pembuatan Keton Dari Alkohol Sekunder,

              Dalam skala industri senyawa keton seperti propanon dibuat dari reaksi oksidasi alkohol sekunder dengan udara (oksigen), sebagai katalisnya digunakan tembaga. Reaksi pembuatan propanon dari alcohol sekunder seperti berikut:

              Contoh Reaksi Pembuatan Keton Dari Alkohol Sekunder
              Contoh Reaksi Pembuatan Keton Dari Alkohol Sekunder

              2). Pembuatan Senyawa Keton Okidasi Oppenauer

              Oksidasi Oppenauer, yaitu dengan cara mereaksikan alcohol sekunder dengan aluminium–t–butoksida dan aseton yang berlebih sehingga akan menghasilkan keton dan dehidrogenasi alcohol.

              R–CH(OH)–R′ + CH3COCH3 → R–CO–R′ + (CH3)2CHOH

              3). Pembuatan Metil Etil Keton Dari Alkohol

              Persamaan reaksi pembuatan metil etil keton dengan cara oksidasi alkohol sekunder dalah sebagai berikut

              CH3-CH2-CH(OH)-CH3 → CH3-CH2-CO-CH3

              Kegunaan Senyawa Keton – Aseton

              Senyawa keton yang paling dikenal dalam kehidupan sehari- hari adalah aseton (propanon).

              Manfaat Kegunaan Aseton

              Kegunaan aseton yaitu sebagai berikut.

              1). Aseton deigunakan sebagi pelarut senyawa karbon, misalnya untuk membersihkan cat kuku (kutek), melarutkan lilin, dan plastik.

              2). Aseton dapat digunakan untuk membuat kloroform (obat bius), iodoform, dan isopren.

              3). Pelarut untuk selulosa dalam produksi rayon.

              4). Sebagai bahan pengering alat-alat laboratorium.

              5). Beberapa keton siklik yang beraroma harum digunakan untuk membuat parfum.

                Daftar Pustaka:

                1. Sunarya, Yayan, 2014, “Kimia Dasar 1, Berdasarkan Prinsip Prinsip Kimia Terkini”, Cetakan Ketiga, Yrama Widya, Bandung.
                2. Hiskia Achmad,  1996, “Kimia Larutan”, Citra Aditya Bakti,  Bandung.
                3. Sunarya, Yayan, 2013, “Kimia Dasar 2, Berdasarkan Prinsip Prinsip Kimia Terkini”, Cetakan Kedua, Yrama Widya, Bandung.
                4. Syukri, S., 1999, “Kimia Dasar 2”, Jillid 2, Penerbit ITB, Bandung
                5. Chang, Raymond, 2004, “Kimia Dasar, Konsep -konsep Inti”, Edisi Ketiga, Jilid Satu, Penerbit, Erlangga, Jakarta.
                6. Brady, James, E,1999, “Kimia Universitas Asas dan Struktur”, Edisi Kelima, Jilid Satu, Binarupa Aksara, Jakarta,
                7. Brady, James, E., 1999, “Kimia Universitas Asas dan Struktur”, Edisi Kelima, Jilid Dua, Binarupa Aksara, Jakarta.
                8. Keton: Pengertian Sifat Fisis Kimia Tata Nama Rumus Struktur Reaksi Isomer Posisi Rangka Gugus Fungsi Pembuatan Kegunaan, Contoh Isomer Struktur Rangka Posisi Gugus Fungsi Keton, Sifat Fisis Kimia Reaksi Adisi Keton Hidrogen Natrium Bisulfit HCN, Contoh Reaksi Pembuatan Keton Alkohol Sekunder Okidasi Oppenauer Rumus Struktur, Kegunaan Keton Aseton Sehari Hari Industri,

                Aldehid: Pengertian Sifat Fisis Kimia Rumus Struktur Gugus Fungsi Isomer Reaksi Pembuatan Kegunaan Aldehida

                Pengertian Aldehid: Aldehid merupakan salah satu kelompok senyawa karbon yang memiliki gugus karbonil. Gugus karbonil (C=O) tersebut terletak di ujung rantai karbon induk yang diakhiri dengan atom hydrogen.

                Gugus Fungsi Senyawa Aldehida

                Aldehid atau alkanal dapat dianggap sebagai turunan alkana dengan mengganti 1 atom H dari alkana dengan gugus fungsi (–COH) yang disebut gugus formil. Gugus formil adalah gugus karbonil (C=O) dengan penambahan satu atom hydrogen menjadi (–COH).

                Rumus Struktur Umum Gugus Fungsi Senyawa Aldehida
                Rumus Struktur Umum Gugus Fungsi Aldehida

                Sifat Kepolaran Gugus Karbonil Aldehida

                Gugus karbonil pada aldehid menunjukkan gugus yang bersifat polar. Hal ini disebabkan oleh atom oksigen dan karbon mempunyai perbedaan keelektronegatifan cukup besar.

                Kepolaran gugus karbonil ditunjukkan melalui sifat fisika yang dimiliki oleh aldehid, seperti titik didih lebih tinggi (50 – 80 °C) dibandingkan senyawa hidrokarbon dengan masa molekul relatif sama.

                Rumus Umum Molekul Senyawa Aldehid

                Rumus umum aldehid adalah R–COH dimana R adalah alkil (alkana kehilangan satu hydrogen) atau atom H atau aril. Adapun rumus molekul aldehid adalah CnH2nO.

                Jadi, aldehida memiliki sekurang kurangnya satu atom hidrogen yang terikat pada karbon karbonilnya. Gugus lain yang membentuk aldehida adalah R, bisa berupa alkil, H atau aril. Rumus struktur aldehid adalah sebagai berikut:

                Rumus Umum Struktur Molekul Senyawa Aldehid
                Rumus Umum Struktur Aldehida

                Tata Nama Senyawa Aldehid

                Aldehid sudah dikenal sejak lama sehingga penataan nama menggunakan nama trivial atau lazim atau umum sering digunakan. Sedangkan tata nama IUPAC aldehyde diturunkan dari nama senyawa alkana.

                Tata Nama Trivial Nama Lazim – Umum Senyawa Aldehid

                Nama lazim aldehid diturunkan dari nama lazim asam karboksilat dengan menggantikan akhiran “at” menjadi “aldehid” dan membuang kata asam. Contoh asam format nama aldehidnya menjadi formaldehid dan asam asetat menjadi asetaldehid.

                Contoh Tata Nama Trivial Nama Lazim Senyawa Aldehid

                Beberapa contoh nama trivial aldehid ditunjukkan pada tebel untuk rantai dengan jumlah atom karbon satu sampai lima.

                Contoh Tata Nama Trivial Nama Lazim Senyawa Aldehid
                Contoh Tata Nama Trivial Nama Lazim Senyawa Aldehid

                Senyawa aldehida yang paling sederhana adalah formaldehid dengan rumus HCOH yang hanya memiliki satu atom karbon. Gugus aldehida (R-) dari formaldehid hanya terisi oleh atom hydrogen.

                Tata Nama IUPAC Senyawa Aldehid

                Tata nama menurut sistem IUPAC, nama aldehid diturunkan dari nama alkana dengan mengganti akhiran “a’’ menjadi “al”. Oleh karena itu, aldehid disebut juga sebagai alkanal.

                Tata Nama IUPAC Senyawa Aldehid
                Tata Nama IUPAC Senyawa Aldehid

                Untuk alkanal yang mempunyai isomer pemberian Namanya adalah sebagai berikut.

                1). Rantai pokok atau induk adalah rantai terpanjang yang mengandung gugus fungsi formil atau gugus aldehid (–COH)

                2). Nama aldehid sesuai nama rantai pokok atau rantai induk alkana, diberi akhiran al.

                3). Pemberian nomor pada rantai induk dimulai dari  atom karbon yang terikat pada gugus fungsi aldehida atau formil  (–COH).

                4). Pemberian nama dimulai dengan nama cabang cabang yang disusun menurut abjad, kemudian nama rantai induk atau pokok.

                5). Letak atau posisi gugus fungsi tidak perlu disebutkan karena selalu pada atom C nomor satu.

                6). Jika terdapat dua atau lebih cabang yang bebeda, penulisanya diurut berdasarkan uratan abjad.

                Contoh Tata Nama IUPAC Senyawa Aldehid Atau Alkanal

                Beberapa contoh nama IUPAC senyawa aldehid ditunjukkan pada tebel untuk rantai dengan jumlah atom karbon satu sampai lima.

                Contoh Tata Nama IUPAC Senyawa Aldehid Atau Alkanal
                Contoh Tata Nama IUPAC Senyawa Aldehid Atau Alkanal

                1). Contoh Soal Tata Nama UIPAC Menentukan Nama Senyawa Aldehyde Alkanal

                Tentukan nama IUPAC Senyawa aldehida yang memiliki rumus molekul C4H8O dan rumus struktur seperti berikut:

                Contoh Soal Tata Nama UIPAC Menentukan Nama Senyawa Aldehyde Alkanal
                Contoh Soal Menentukan Nama Senyawa Aldehyde Alkanal

                Dari rumus strukturnya dapat diketahui bahwa rantai karbon senyawa aldehida tersebut merupakan rantai lurus tanpa ada cabang. Pada ujung rantai induknya terikat gugus aldehyde yaitu  –COH.

                Rantai induknya memiliki 4 atom karbon. Nama IUPAC senyawa alkanal atau aldehid yang memiliki 4 atom karbon adalah “butanal”.

                Diketahui:

                Nama gugus cabang (alkil) = tidak ada cabang

                Nama rantai induk aldehida = butanal

                Jadi nama senyawa aldehyde-nya adalah “butanal

                2). Contoh Soal Menentukan Nama Aldehid Rumus Kimia C4H8O Menurut Tata Nama IUPAC,

                Tuliskan nama senyawa aldehid atau alkanal yang memiliki rumus struktur berikut menurut IUPAC,

                Contoh Soal Menentukan Nama Aldehid Rumus Kimia C4H8O Menurut Tata Nama IUPAC,
                Contoh Soal Menentukan  Aldehid Rumus 2-metil-propanal Menurut IUPAC,

                Rumus struktur senyawa aldehyde di atas dibangun oleh rangka karbon bercabang dan jumlah cabang hanya satu. Rantai induk terpanjang yang mengikat gugus aldehyde -COH memiliki 3 atom karbon. Nama IUPAC rantai karbon aldehyde yang memiliki 3 atom adalah propanal.

                Penomoran atom karbon dimulai dari atom karbon pada gugus aldehid -COH yaitu pada karbon yang mengikat atom oksigen. Cabang terjadi pada atom karbon nomor 2 dengan mengikat gugus alkil yang memiliki satu karbon yaitu metil.

                Diketahui

                Nama gugus cabang (alkil) = 2-metil

                Nama rantai induk aldehida = propanal

                Jadi, nama IUPAC dari senyawa aldehida adalah “2-metil-propanal

                3). Contoh Soal Tata Nama UIPAC Senyawa Aldehyde Alkanal C6H12O

                Tentukan nama IUPAC senyawa aldehida yang memiliki rumus molekul C6H12O dengan rumus strukturnya seperti berikut:

                Contoh Soal Tata Nama UIPAC Senyawa Aldehyde Alkanal C6H12O 3-Metil-Pentanal
                Contoh Soal Tata Nama UIPAC  Aldehyde 3-Metil-Pentanal

                Dari rumus strukturnya dapat diketahui bahwa senyawa aldehid tersebut dibangun oleh rangka karbon bercabang. Rantai induk terpanjangnya memiliki 5 atom karbon. Senyawa alkanal yang memiliki 5 atom karbon adalah ‘pentanal’.

                Rantai induk merupakan rantai karbon yang mengikat gugus aldehyde (formil) yaitu gugus (–COH). Sedangkan atom karbon nomor 1 adalah karbon dalam gugus (–COH) yang mengikat atom oksigen.

                Cabang terbentuk akibat adanya gugus alkil yang terikat pada rantai induk. Gugus alkil yang terikat pada rantai induk ini memiliki 1 atom karbon yaitu ‘metil. Gugus alkil terikat pada rantai induk di atom karbon nomor ‘3’.

                Diketahui

                Nama gugus cabang (alkil) = 3-metil

                Nama rantai induk aldehida = pentanal

                Jadi nama UIPAC dari senyawa aldehid dengan rumus kimia C6H12O adalah 3-metil-pentanal

                4). Contoh Soal Menentukan Nama IUPAC Rumus Struktur 2-4-Dimetil-Heksanal C8H16O,

                Tuliskan nama IUPAC senyawa aldehid yang memiliki rumus kimia C8H16O dengan rumus struktur seperti berikut:

                Contoh Soal Menentukan Nama IUPAC Rumus Struktur 2-4-Dimetil-Heksanal C8H16O,
                Contoh Soal Menentukan Rumus Struktur 2-4-Dimetil-Heksanal C8H16O,

                Menentukan Rantai Induk Rumus Struktur Senyawa Aldehid 2-4-Dimetil-Heksanal C8H16O,

                Rumus struktur senyawa aldehid di atas merupakan struktur yang tersusun oleh rangka karbon bercabang. Pada rantai induknya terdapat dua cabang.

                Dari strukturnya diketahui, bahwa rantai terpanjang yang mengikat gugus -COH mengandung 6 atom karbon. Nama IUPAC dari rantai karbon aldehida yang memiliki 6 atom karbon adalah “heksanal”.

                Penomoran karbon dimulai dari atom karbon pada gugus -COH yaitu pada atom karbon yang berikatan dengan oksigen.

                Pada rantai induk terdapat dua cabang yang mengikat gugus fungsi alkil yang sama yaitu gugus dengan satu atom karbon (atau metil). Satu metil terikat pada atom karbon nomor 2 dan satunya pada atom karbon nomor 4.

                Karena gugus alkinya sama yaitu metil maka penulisannya menjadi “2,4 dimetil” (bukan 2-metil-4-metil).

                Diketahui:

                Nama gugus cabang (alkil) = 2,4-dimetil

                Nama rantai Induk aldehida = heksanal

                Jadi, nama IUPAC senyawa aldeida-nya adalah 2,4-dimetil-heksanal

                5). Contoh Soal Membuat Rumus Struktur 2,3-Dimetil-Butanal

                Buatkanlah rumus struktur dari senyawa aldehid yang memiliki nama 2,3-dimetil-bunatal.

                Cara Membuat Rumus Struktur Dari Nama Senyawa.

                Agar dapat membuat rumus strukturnya, maka harus diketahui terlebih dahulu Tata Nama Trivial atau IUPAC dari senyawa tersebut. Dari penulisannya, nama 2,3-dimetil-butanal dapat diketahui, bahwa nama ini adalah berdasarkan IUPAC. Artinya menggunakan nama alkanal bukan nama trivial aldehid.

                Arti Notasi (Angka) Dan Nama Pada Senyawa Aldehid Alkana.

                Pengertian dari penulisan dengan nama 2,3-dimetil-butanal adalah:

                Angka 2,3 = menunjukkan posisi cabang (gugus alkil) pada rantai alkanal. Angka 2 koma 3 artinya ada dua cabang dengan gugus yang sama (ada dua gugus alkil).

                Angka 2 = cabang (gugus alkil) terikat pada atom karbon nomor 2

                Angka 3 = cabang (gugus alkil) terikat pada atom karbon nomor 3

                Dimetil = gugus alkil pada cabang. Ada dua gugus metil dengan rumus CH3. Metil pertama terikat pada karbon nomor 2, dan metil kedua terikat pada karbon nomor 3. Karena gugusnya sama sama metil, maka penulisan dari kedua metil ini disatukan menjadi “dimetil

                Butanal = rantai induk, merupakan rantai karbon dari senyawa alkanal yang mengikat gugus fungsi aldehid (–COH). Butanal memiliki 4 atom karbon dengan rumus kimia C4H8O dan rumus strukturnya CH3CH2CH2COH atau CH3–CH2–CH2 –COH.

                Cara Memberi Nomor Karbon Pada Senyawa Aldehid – Alkanal

                Penomoran pada atom karbon dimulai dari karbon yang terikat pada gugus fungsi aldehid –COH seperti berikut:

                Cara Memberi Nomor Karbon Pada Senyawa Aldehid - Alkanal
                Cara Memberi Nomor Karbon Rumus Struktur Aldehid Alkanal

                Perhatikan, pada rantai butanal ini, atom karbon nomor 2 dan 3 mengikat 2 atom hydrogen. Rantai butanal ini merupakan rantai karbon tanpa cabang (belum mengikat gugus alkil metil).

                Cara Mengikatkan Gugus Alkil Pada Senyawa Aldehid – Alkanal

                Sebelum mengikatkan gugus metil, atom hydrogen yang terikat pada atom nomor 2 dan 3 harus dikurangi satu, sehingga rumusnya berubah dari CH3 menjadi CH2 agar lengan karbon tetap empat.  Karena, kalau tetap CH3 dan gugus metil diikatkan, maka lengan karbon menjadi 5.

                Kemudian, satu gugus metil CH3 diikatkan pada atom karbon nomor 2 dan satunya di atom karbon nomor 3 seperti berikut hasilnya.

                Cara Pemasangan Gugus Alkil Pada Senyawa Aldehid – Alkanal
                Cara Pemasangan Gugus Alkil Pada Senyawa Aldehid – Alkanal

                Isomer Senyawa Aldehid

                Aldehid tidak mempunyai isomer posisi karena gugus fungsi dari aldehid terletak di ujung rantai C. Isomer pada aldehid terjadi karena adanya cabang dan letak cabang, jadi isomer aldehid merupakan isomer struktur.

                Isomer aldehid mulai ditemukan pada suku ke-4 (rantai dengan jumlah atom karbon 4) yaitu butanal.

                Contoh Isomer Struktur Senyawa Alkanal Butanal C4H8O

                Keisomeran pada butanal sebagai senyawa alkanal mempunyai dua isomer, yaitu butanal dan 2–metil–propanal (isobutanal).

                Rumus Struktur Isomer senyawa butanal dan 2–metil–propanal (isobutanal) dapat dinyatakan seperti berikut:

                Contoh Isomer Struktur Senyawa Alkanal Butanal C4H8O
                Contoh Isomer Struktur Senyawa Alkanal Butanal C4H8O

                Kedua isomer butanal ini sama sama memiliki rumus molekul C4H8O namun kedua strukturnya berbeda. Perbedaannya pada butanal dibangun oleh rangka karbon lurus sedangkan 2-metil propanal dibangun oleh rangka karbon bercabang

                Rumus struktur butanal dibangun oleh rantai induk lurus dengan 4 karbon atom. Rantai induk dengan 4 karbon pada alkanal adalah butanal.

                Rumus struktur 2-metil-propanal tersusun dari rantai induk bercabang yang mengikat gugus alkil. Rantai induk memiliki atom karbon sebanyak 3 atom, dan nama alkanalnya adalah propanal.

                Cabang terletak pada karbon nomor 2 dengan mengikat gugus alkil yang mengandung satu karbon yaitu metil.

                Contoh Isomer Gugus Fungsi Senyawa Butanal C4H8O

                Isomer gugus fungsi adalah senyawa- senyawa yang mempunyai rumus molekul sama namun gugus fungsinya berbeda.

                Senyawa aldehid butanal memiliki isomer dengan senyawa keton yaitu butanon. Keduanya memiliki rumus molekul yang sama yaitu C4H8O.

                Isomer butanal sebagai keton adalah butanon yang memiliki rumus struktur sebagai berikut:

                Contoh Isomer Gugus Fungsi Senyawa Butanal C4H8O Butanon
                Contoh Isomer Gugus Fungsi Senyawa Butanal C4H8O Butanon

                Rumus struktur butanon dibangun oleh rangka karbon lurus yang memiliki 4 atom karbon yaitu butanon.

                Jadi, pada isomer gugus fungsi terjadi pergantian gugus fungsi (–COH) dari aldehid menjadi gugus fungsi (–CO–) dari keton. Sehingga rumus strukturnya menjadi berbeda, berubah dari R–COH (aldehid) menjadi R–CO–R’(keton)

                Sifat Fisis Senyawa Aldehid

                Aldehid merupakan senyawa polar dan mendidih pada suhu yang lebih tinggi daripada senyawa nonpolar dengan bobot molekul yang sama.

                Adanya kemampuan membentuk ikatan hidrogen, maka aldehid dengan bobot molekul rendah dapat larut dalam air.

                Titik didih dan kelarutan dalam air beberapa senyawa aldehid ditunjukkan dalam table berikut:

                Sifat Fisis Senyawa Aldehid Titik Didih Kelarutan Dalam Air
                Sifat Fisis Senyawa Aldehid Titik Didih Kelarutan Dalam Air

                Reaksi Reaksi Senyawa Aldehida

                Beberapa reaksi yang dapat dilakukan pada senyawa aldehid diantaranya adalah:

                1). Reaksi Oksidasi Senyawa Aldehid

                Aldehid merupakan reduktor kuat, sehingga dapat mereduksi oksidator-oksidator lemah. Aldehid dapat diketahui dengan pereaksi Tollens dan pereaksi Fehling yang merupakan oksidator lemah.

                Contoh Oksidator Senyawa Aldehida

                Oksidasi aldehid menghasilkan asam karboksilat.  Oksidator yang digunakan adalah KMnO4, K2Cr2O7, larutan Fehling, dan larutan Tollens.

                Contoh Reaksi Oksidasi Aldehid Oleh Kalium Permanganat KMnO4

                Reaksi oksidasi aldehid dengan oksidator KMnO4 dalam suasana asam menghasilkan asam karboksilat (R-COOH). Reaksi oksidasi propanal menghasilkan asam propanoat akan memenuhi persamaan reaksi berikut

                Contoh Reaksi Oksidasi Aldehid Propanal Oleh Kalium Permanganat KMnO4
                Contoh Reaksi Oksidasi Aldehid Propanal Oleh Kalium Permanganat KMnO4

                Pada reaksi ini senyawa propanal dioksidasi oleh kalium permanganate dalam suasana asam dan membentuk asam propanoate.

                Resksi Oksidasi Aldehida Dengan Pereaksi Tollens (Reaksi Cermin Perak),

                Aldehid dapat mereduksi pereaksi Tollens (laturan mengandung ion Ag+) dan menghasilkan cermin perak, yaitu endapan perak membentuk cermin pada dinding tabung reaksi. Reaksi ini sering dikenal dengan sebutan reaksi cermin perak.

                Pembuatan Pereaksi Ammonia Nitrat (Pereaksi Tollens)

                Pereaksi Tollens adalah larutan basa dari perat nitat. Larutan ini jernih dan tak berwarna. Nama larutan diambil dari penemunya yaitu kimiawan Jerman bernama Bernhard Tollens.

                Reagen Tollens terdiri dari larutan perak nitrat, amonia dan beberapa natrium hidroksida (untuk menjaga pH dasar larutan reagen).

                Pereaksi Tollens dibuat dari perak nitrat AgNO3 yang di larutkan dalam aquades dengan menambahkan larutan NaOH dan ammonia pekat. Pereaksi Tollens memiliki rumus kimia Ag(NH3)2OH.

                Dalam penulisan persamaan reaksinya, pereaksi Tollens sering dianggap sebagai Ag2O atau hanya ditulis sebagai ion perak Ag+ dengan ion OH.

                Jika aldehyde direaksikan dengan pereaksi Tollens, maka akan terbentuk asam karboksilat. Pada reaksi ini, ion perak dalam larutan Tollens akan tereduksi menjadi ion logam menjadi logam perak.

                Contoh Reaksi Senyawa Adehida Etanal (Asetaldehida) Dengan Pereaksi Tollens

                Reaksi oksidasi etanal atau asetaldehid oleh pereaksi Tollens akan menjadi asam esatat atau asam etanoat. Pada reaksi ini, terjadi reduksi ion perak menjadi logam perak yang akan mengendap seperti cermin pada tabung reaksi.

                Persamaa reaksi ketika etanal dioksidasi menjadi asam etanoat adalah seperti berikut:

                Contoh Reaksi Senyawa Adehida Etanal (Asetaldehida) Dengan Pereaksi Tollens
                Contoh Reaksi Senyawa Adehida Etanal (Asetaldehida) Dengan Pereaksi Tollens

                Dalam persamaan reaksi tersebut, pereaksi Tollens diwakili oleh ion perak Ag+ yang mengalami reduksi menjadi logam atau unsur perak Ag.

                Pada reaksi tersebut senyawa etanal (asetadehida) teroksidasi menjadi asam asetat atau asam etanoat. Dalam reaksi ini asam etanoat bertindak sebagai pereduksi (atau reduktor).

                Reaksi Oksidai Aldehid Dengan Larutan Benedict – Fehling

                Pereaksi Fehling adalah campuran CuSO4(aq) dengan kalium natrium tartrat dalam suasana basa.

                Pereaksi Benedict – Fehling dapat dianggap sebagai larutan CuO atau larutan yang mengandung ion Cu2+. Reaksi oksidasi aldehid dengan larutan Fehling menghasilkan asam karbokslat dan endapan Cu2O yang berwarna merah cerah.

                Contoh Reaksi Oksidasi Etanal (Asetaldehida) Dengan Pereaksi Benedict – Fehling

                Reaksi oksidasi etanal atau asetaldehid oleh pereaksi Benedict – Fehling akan menghasilkan asam esatat atau asam etanoat. Produk reaksinya sama seperti dengan larutan Tollens. Pada reaksi ini, terbentuk endapan Cu2O yang memiliki warna merah cerah.

                Persamaan reaksi ketika etanal dioksidasi oleh larutan Benedict – Fehling menjadi asam etanoat adalah seperti berikut:

                Contoh Reaksi Oksidasi Etanal (Asetaldehida) Dengan Pereaksi Benedict - Fehling Endapan Tembaga
                Contoh Reaksi Oksidasi Etanal (Asetaldehida) Dengan Pereaksi Benedict – Fehling

                Pada reaksi oksidasi ini, senyawa asetaldehid (etanal) akan teroksidasi menjadi asam asetat (asam asetat), dan pada saat yang bersamaan, ion Cu2+ akan tereduksi menjadi Cu+ dalam bentuk endapan tembaga oksida Cu2O.

                2). Reaksi Adisi Senyawa Aldehid

                Reaksi adisi adalah reaksi pemutusan ikatan rangkap (reaksi penjenuhan). Jika pereaksi yang mengadisi bersifat polar, maka gugus yang lebih positif terikat pada atom oksigen dan gugus negatif terikat pada atom karbon.

                Jadi, reaksi adisi akan mengubah senyawa karbon tidak jenuh (mempunyai ikatan rangkap) menjadi senyawa karbon jenuh (tidak mempunyai ikatan rangkap). Karena aldehid memiliki ikatan rangkap antara C dengan O, maka aldehid dapat diadisi.

                • Reaksi Adisi Senyawa Aldehid Dengan Hidrogen

                Reaksi Adisi aldehid dengan hidrogen (H2) akan menghasilkan alcohol primer dengan bantuan katalis Ni/Pt. Reaksi adisi aldehid dengan hidrogen ini bersifat reduktif. Artinya aldehid akan tereduksi. Reaksi adisi propanal oleh hydrogen akan menghasilkan propanol.

                Reaksi Adisi Senyawa Aldehid Dengan Hidrogen
                Reaksi Adisi Senyawa Aldehid Dengan Hidrogen

                Reaksi adisi propanal oleh hydrogen menyebabkan ikatan rangkap pada gugus aldehid (-COH) pecah dengan terikatnya atom hydrogen oleh atom oksigen dan terikatnya atom hydrogen yang satunya oleh atom karbon pada gugus aldehid tersebut.

                • Reaksi Adisi Aldehid Dengan Hidrogen Sianida

                Reaksi adisi aldehid dengan HCN (hidrogen sianida) akan menghasilkan senyawa hidroksi karbonitril dengan menggunakan katalis basa. Persamaan reaksi adisinya seperti berikut

                Reaksi Adisi Aldehid Dengan Hidrogen Sianida
                Reaksi Adisi Aldehid Dengan Hidrogen Sianida

                Reaksi propanal dengan hydrogen sianida akan menghasilkan 1-hidroksi-propana-1-karbonitril. Reaksi adisi dengan HCN menyebabkan ikatan rangkap pada gugus aldehid -COH lepas dengan terikatnya atom hydrogen oleh atom oksigen dan terikatnya karbonitril CN oleh atom karbon pada gugus aldehid.

                Gugus -OH dan gugus CN terikat pada atom karbon yang sama yaitu pada atom karbon yang terdapat pada gugus aldehid.

                Pembuatan Aldehid – Alkanal

                Cara yang paling lazim untuk membuat suatu aldehida sederhana adalah dengan oksidasi suatu alcohol primer.

                Aldehid dapat dibuat dengan cara mengoksidasi alkohol primer dengan menggunakan oksidator seperti KMnO4 atau K2Cr2O7 atau udara panas.

                Contoh Reaksi Pembuatan Formaldehida

                Secara komersial, formaldehid dibuat dengan mereaksikan uap alcohol (metanol) dengan katalis tembaga dan udara panas. Beberapa katalis yang umum digunakan adalah logam perak (Ag) atau campuran besi (Fe) dan molibdenum (Mo) atau vanadium oksida (VO2).

                Proses pembentukan formaldehida dengan katalis tembaga didasarkan pada reaksi oksidasi. Reaksinya adalah sebagai berikut:

                CH3OH (g) + ½ O2 (g) → HCOH (g) + H2O (g)

                Reaksi diatas berlangsung di dalam reaktor fixed bed multitube pada temperatur 590o -650oC dan tekanan atmospheris dengan perbandingan mol antara metanol dan udara adalah 2 : 1.

                Contoh Reaksi Pembuatan Asetaldehida (Etanal)

                Pembuatan asetaldehide dari alcohol merupakan reaksi oksidasi dengan udara pada temperature tinggi. Adapun persamaan reaksinya adalah sebagai berikut.

                C2H5OH + ½ O2 → CH3COH + H2O

                Proses pembutannya dilakukan dalam reactor fixed bed. Campuran uap etanol dan udara dimasukkan ke dalam reaktor fixed bed dengan bantuan katalis Ag pada suhu 350 – 500˚C tekanan 1 – 3 atm.

                Reaksi Pembuatan Asetaldehide Dengan Ozonolisis Alkena Butena

                Reaksi ozonolysis alkena sering disebut sebagai reaksi pemutusan ikatan rangkap karbon karbon (C=C) dengan menggunakan ozon. Reaksi ozonolysis dapat berlangsung pada temperature kamar.

                Jika ozon mengadisi alkena maka akan terbentuk zat dengan struktur siklik, yaitu intermediet molozonida (ozon primer) yang tidak stabil, dan segera berubah menjadi ozonida. Apabila ozonida dihidrolisis maka akan terjadi reaksi pemaksapisahan (cleavage). Reaksi hidrolisis akan memecah atau memutus ikatan rangkap dan menghasilkan molekul molekul yg lebih kecil.

                Reaksi ozonolysis berlangsung dalam dua tahap yaitu: reaksi adisi ozon pada ikatan rangkap membentuk ozonida, dan hidrolisis ozonide menghasilkan produk pemaksapisahan yaitu aldehid  atau keton.

                Contoh Reaksi Ozonolisis Pembentukan Asetaldehida

                Pembentukan Asetaldehid dengan cara ozonolysis dapat dibuat dari 2-butena melalui dua tahapan berikut

                Reaksi Adisi Ozon Pada Senyawa Alkena 2-Butena

                Reaksi Adisi 2-butena oleh ozon (O3) akan menghasilkan butena ozonide seperti reaksi berikut:

                Reaksi Adisi Ozonolisis Pada Senyawa Alkena 2-Butena
                Reaksi Adisi Ozonolisis Pada Senyawa Alkena 2-Butena

                Pada reaksi ini, ikatan rangkap karbon – karbon (C=C) yang dimiliki 2-butena terlepas dan diikuti oleh pengikatan atom oksigen oleh kedua atom karbon tersebut. Reaksi adisi oleh ozon ini menghasilkan butena ozonide.

                Reaksi Hidrolisis Butena Ozonida

                Tahap berikutnya adalah reaksi hidrolisis butena ozonide dengan bantuan reduktor Zn sesuai persamaan reaksi berikut:

                Reaksi Hidrolisis Butena Ozonida
                Reaksi Hidrolisis Butena Ozonida

                Dalam reaksi hidrolisis ini terjadi pemutusan ikatan antar atom oksigen – oksigen (O–O)  dan pelepasan oksigen yang terikat oleh dua atom karbon (C–O–C) sehingga membentuk dua senyawa asetaldehid.

                Kegunaan Senyawa Aldehid – Alkanal

                Aldehid yang paling banyak digunakan dalam kehidupan sehari hari adalah formaldehid. Kegunaan formaldehid sebagai berikut.

                1). Aldehid digunakan dalam membuat formalin. Formalin  adalah larutan 40 % formaldehid dalam air. Formalin digunakan sebagai pengawet preparat biologi dan mayat. Namun formalin merupakan zat kimia yang berbahaya sehingga tidak boleh digunakan untuk mengawetkan makanan.

                2). Untuk membuat berbagai jenis plastik termoset (plastik yang tidak meleleh pada pemanasan).

                3). Asetaldehida merupakan produk yang banyak digunakan untuk memproduksi produk turunannya yaitu antara lain: sebagai bahan baku pembuatan asam asetat, n- butanol, 2- hexyl ethanol, pentaerythrytol, trimethylolpropane, pyridine, pericetic acid, crotonaldehide, asetat anhidrid, chloral, 1,3 butylene, dan bahan baku pembuatan asam lactid.

                  Daftar Pustaka:

                  1. Sunarya, Yayan, 2014, “Kimia Dasar 1, Berdasarkan Prinsip Prinsip Kimia Terkini”, Cetakan Ketiga, Yrama Widya, Bandung.
                  2. Hiskia Achmad,  1996, “Kimia Larutan”, Citra Aditya Bakti,  Bandung.
                  3. Sunarya, Yayan, 2013, “Kimia Dasar 2, Berdasarkan Prinsip Prinsip Kimia Terkini”, Cetakan Kedua, Yrama Widya, Bandung.
                  4. Syukri, S., 1999, “Kimia Dasar 2”, Jillid 2, Penerbit ITB, Bandung
                  5. Chang, Raymond, 2004, “Kimia Dasar, Konsep -konsep Inti”, Edisi Ketiga, Jilid Satu, Penerbit, Erlangga, Jakarta.
                  6. Brady, James, E,1999, “Kimia Universitas Asas dan Struktur”, Edisi Kelima, Jilid Satu, Binarupa Aksara, Jakarta,
                  7. Brady, James, E., 1999, “Kimia Universitas Asas dan Struktur”, Edisi Kelima, Jilid Dua, Binarupa Aksara, Jakarta.
                  8. Aldehid: Pengertian Sifat Fisis Kimia Rumus Struktur Gugus Fungsi Isomer Reaksi Pembuatan Kegunaan Aldehida, Pengetian Contoh Soal Pembahasan Menentukan Isomer Strukutr Gugus Fungsi Aldehide Alkanal,
                  9. Contoh Soal Pembahasan Cara Menentukan Rumus Struktur Tata Nama IUPAC Aldehida Alkanal, Pengertian Contoh Reaksi Pembuatan Aldehida, Sifat Fisis Kimia Aldehida Alkanal,

                  Ester: Pengertian Sifat Fisik Kimia Tata Nama IUPAC Rumus Struktur Isomer Reaksi Pembuatan Kegunaan

                  Pengertian Ester: Ester adalah suatu senyawa karbon yang terbentuk melalui penggantian satu atau lebih atom hidrogen pada gugus karboksil dengan suatu gugus alkil yang biasa dilambangkan dengan R’. Gugus karboksil adalah gugus fungsi yang membentuk senyawa asam karboksilat dengan rumusnya (–COOH)

                  Rumus Umum Struktur Senyawa Ester

                  Ester merupakan senyawa karbon turunan asam karboksilat dan disebut dengan alkil alkanoat. Ester memiliki rumus umum R–COOR’ dan rumus struktur umumnya seperti berikut:

                  Rumus Umum Kimia Molekul Struktur Senyawa Ester
                  Rumus Umum Struktur Senyawa Ester

                  Jadi ester adalah senyawa yang dibentuk dari asam karboksilat dengan mengganti ion hidrogen pada gugus hidroksil –OH atau pada gugus karboksil (–COOH) oleh radikal hidrokarbon atau alkil R’. Pada senyawa ester, R dan R’ dapat sama atau berbeda.

                  Rumus Kimia Senyawa Ester

                  Senyawa ester tersusun dari atom karbon, hydrogen dan oksigen dengan rumus kimia secara umum adalah sebagai berikut

                  CnH2nO2

                  n = bilangan bulat

                  Tata Nama IUPAC Senyawa Ester

                  Tata nama ester hampir sama dengan tata nama pada asam karboksilat. Ester mempunyai nama IUPAC alkil alkanoat.

                  Penataan nama ester dimulai dengan menyebutkan gugus alkil diikuti gugus asam karboksilat yang menyusun ester dengan menghilangkan kata –asam. Kata asam diganti dengan nama alkil dari R′ karena atom H dari gugus –OH diganti dengan gugus alkil dengan ketentuan berikut:

                  “Nama Alkil-Nama Alkanoat”

                  Tata Nama IUPAC Senyawa Ester Alkil Alkanoat
                  Tata Nama IUPAC Senyawa Ester Alkil Alkanoat

                  Contoh Soal Tata Nama Rumus Struktur Senyawa Ester Etil Propanoat C5H10O2

                  Tentukan nama senyawa ester yang memiliki rumus kimia / molekul C5H10O2 dan  rumus strukturnya CH3CH2COOCH2CH3 seperti berikut:

                  Contoh Soal Tata Nama Rumus Struktur Senyawa Ester Etil Propanoat C5H10O2
                  Contoh Soal Tata Nama Rumus Struktur Ester Etil Propanoat

                  Langkah pertama adalah membagi atau menentukan batas dimana gugus alkanoat dan gugus alkil yang terdapat pada rumus struktur senyawanya. Seperti ditunjukkan pada rumus struktur di atas. Batas gugus alkanoat ditentukan pada karbon yang mengikat dua atom oksigen.

                  Perhatikan struktur rantai karbon dari sisi kanan, karbon kedua hanya mengikat satu atom oksigen, ini berarti gugus alkil. Sedangkan jika dimulai dari sebelah kiri, karbon ketiga mengikat dua atom oksigen, jadi ini merupakan gugus alkanoat.

                  Dari rumus strukturnya dapat diketahui bahwa senyawa ester tersebut dibangun oleh senyawa alkanoat dengan rantai yang terdiri dari 3 atom karbon yaitu propanoate. Sedangakan gugus alkilnya tersusun dari rantai dengan 2 atom karbon yaitu etil.

                  Dari penjelasan di atas diketahui bahwa:

                  Nama gugus alkil = etil

                  Nama gugus alkanoat = propanoat

                  Jadi, nama esternya adalah “etil propanoate”

                  Contoh Soal Tata Nama dari Rumus Struktur Senyawa Ester Metil Butanoat C5H10O2

                  Tentukan nama senyawa ester yang memiliki rumus C5H10O2 dan rumus CH3CH2CH2COOCH3 dengan rumus strukturnya seperti berikut:

                  Contoh Soal Tata Nama dari Rumus Struktur Senyawa Ester Metil Butanoat C5H10O2
                  Contoh Soal Tata Nama Rumus Struktur  Ester Metil Butanoat

                  Rumus struktur senyawa ester ini dibangun oleh rantai alkanoat yang mengandungn 4 atom karbon yaitu butanoate dan gugus alkil yang memiliki satu karbon yaitu metil.

                  Sehingga nama senyawa ester ini adalah “metil butanoate”

                  Contoh Soal Menentukan Nama Senyawa Ester Dari Rumus Kimia

                  Tentukan nama senyawa ester yang memiliki rumus CH3(CH2)2COOCH3.

                  Untuk dapat membuat nama senyawa ester dari rumus kimia atau molekul harus ditentukan dahulu gugus alkanoat dan gugus alkinya.

                  Cara Menentukan Gugus Alkonoat dan Gugus Alkil Senyawa Ester

                  Menentukan gugus alkanoat dan alkil dari rumus CH3(CH2)2COOCH3 adalah dengan ketentuan berikut

                  Rumus umum ester adalah R–COOR’ atau R–COO–R’

                  Perhatikan rumus strukturnya, rantai karbon gugus alkanoat dimulai dari (R) sampai COO- sedangkan gugus alkil dimulai setelah COO- sampai (-R’). Batasnya adalah atom oksigen kedua dari kiri.

                  Dengan demikian diperoleh seperti berikut:

                  Gugus alkanoatnya adalah (R–COO–) dan

                  Gugus alkil adalah (–R’).

                  Jadi untuk rumus CH3(CH2)2COOCH3 adalah:

                  Gugus Alkanoat = CH3(CH2)2COO –

                  CH3(CH2)2COO – = jumlah karbon 4 = butanoat

                  Gugus Alkil =  –CH3

                  –CH3 = jumlah karbon 1 = metil

                  Cara Menentukan Nama Senyawa Ester

                  Tata nama ester dinayatakan dengan ketentuan berikut:

                  “Nama Gugus Alkil – Nama Gugus Alkanoat”

                  Diketahui dari data di atas bahwa rumus CH3(CH2)2COOCH3 memiliki

                  Nama gugus alkil = metil

                  Nama gugus alkanoat = butanoat

                  Jadi nama senyawa ester dengan rumus CH3(CH2)2COOCH3 adalah “metil butanoate

                  Contoh Soal Tata Nama Dan Rumus Struktur Senyawa Ester C5H10O2

                  Tentukan nama senyawa ester yang memiliki rumus C5H10O2 dan memiliki rumus struktur CHCOOCH2CH2CH3

                  Agar dapat membuat nama dari senyawa ester dengan rumus CH3COOCH2CH2CH3 maka harus menentukan dulu gugus alkanoat dan gugus alkil yang terlibat dalam rumus tersebut.

                  Cara Menentukan Gugus Alkanoat dan Gugus Alkil Senyawa Ester

                  Adapun cara menentukan gugus alkanoat dan alkil pada senyawa ester adalah sebagai berikut

                  Rumus umum ester adalah R–COO–R’

                  Gugus alkanoatnya adalah (R–COO–)

                  Gugus alkil adalah (–R’).

                  Jadi untuk rumus CH3COOCH2CH2CH3 adalah:

                  Gugus Alkanoat = CH3COO –

                  CH3COO – = jumlah karbon 2 = etanoat

                  Gugus Alkil = –CH2CH2CH3

                  – CH2CH2CH3 = jumlah karbon 3 = propil

                  Cara Menentukan Nama Senyawa Ester

                  Tata nama ester dinayatakan dengan ketentuan berikut:

                  “Nama Gugus Alkil – Nama Gugus Alkanoat”

                  Dari data di atas diketaui bahwa rumus CH3COOCH2CH2CH3 memiliki

                  Nama alkil = propil

                  Nama alkanoat = etanoat

                  Jadi nama senyawa ester dengan rumus CH3COOCH2CH2CH3 adalah “propil etanoat’

                  Contoh Soal Menentukan Nama Senyawa Dari Rumus Struktur Propil Metanoat

                  Tentukan nama senyawa ester yang memiliki rumus struktur seperti berikut:

                  Contoh Soal Menentukan Nama Senyawa Dari Rumus Struktur Propil Metanoat
                  Contoh Soal Menentukan Nama Dari Rumus Struktur Propil Metanoat

                  Langkah pertama adalah menentukan batas dimana gugus alkanoat dan gugus alkil yang terdapat pada rumus struktur senyawa ester tersebut. Pada rumus struktur di atas dapat diketahui bahwa batas gugus alkanoat ditentukan pada karbon yang mengikat dua atom oksigen.

                  Jadi, gugus alkanoat berada pada sisi kiri sampai pada karbon yang mengikat dua atom oksigen. Sedangkan gugus alkilnya dimulai dari sebelah kanan sampai karbon yang mengikat satu atom oksigen.

                  Dari rumus strukturnya dapat diketahui bahwa senyawa ester tersebut dibangun oleh senyawa alkanoat dengan rantai yang memiliki 1 atom karbon yang disebut metanoat. Sedangakan gugus alkilnya yang terikat pada ester adalah gugus yang terbentuk dari rantai dengan 3 atom karbon yaitu propil.

                  Jadi nama senyawa ester-nya adalah “propil metanoat”.

                  Isomer Senyawa Ester

                  Isomer adalah dua senyawa atau lebih yang mempunyai rumus kimia sama namun mempunyai struktur yang berbeda.

                  Senyawa ester yang mengandung atom karbon C lebih dari dua dapat mempunyai isomer. Karena untuk satu rumus molekul ester memiliki 2 alkil di antara gugus karbonil dapat berbeda. Ester memiliki isomer struktural dan isomer fungsional dengan asam karboksilat.

                  Isomer Struktur Senyawa Ester

                  Isomer struktur adalah isomer yang terjadi jika rumus molekul sama, tetapi rumus strukturnya berbeda. Perbedaan strukturnya terletak pada urutan penggabungan atom- atom yang menyusun molekul.

                  Contoh Isomer Struktur Senyawa Ester C4H8O2

                  Isomer struktur senyawa ester dengan rumus kimia C4H8O2 yaitu etil etanoat dan metil propanoate.

                  Rumus Struktur Isomer Senyawa Ester C4H8O2

                  Isomer ester dengan rumus kimia C4H8O2 adalah Etil Etanoat CH3COOC2H5 dan Metil Propanoat C2H5COOCH3 seperti berikut

                  Rumus Struktur Isomer Senyawa Ester C4H8O2
                  Rumus Struktur Isomer Senyawa Ester C4H8O2

                  Rumus struktur CH3COOC2H5 dibangun oleh alkonoat yang rantainya mengandung 2 atom karbon yaitu etanoat dan gugus fungsi alkilnya adalah etil C2H5 yang terikat pada atom karbon pertama.

                  Cara menentukan nama alkil dan jumlah karbonnya adalah seperti berikut:

                  Rumus umum ester adalah R–COO–R’, dan yang menjadi alkanoat adalah (R–COO–) sedangkan yang menjadi gugus alkil adalah (–R’).

                  Jadi untuk rumus struktur CH3COOC2H5 adalah:

                  Alkanoat = CH3COO–

                  CH3COO– = jumlah karbon 2 = etanoat

                  Alkil =  –C2H5

                  –C2H5 = jumlah karbon 2 = etil

                  Sedangkan rumus struktur C2H5COOCH3 dibanggun oleh senyawa alkanoat yang rantainya mengandung 3 karbon yaitu propanoat dengan gugus fungsi metil yang terikat pada atom karbon pertama propanoat.

                  Rumus struktur ester  C2H5COOCH3

                  Alkanoat = C2H5COO–

                  C2H5COO– = jumlah karbon 3 = propanoate

                  Alkil = –CH3

                  –CH3 = jumah karbon 1 = metil

                  Isomer Gusus Fungsi Senyawa Ester

                  Isomer gugus fungsi adalah senyawa- senyawa yang mempunyai rumus molekul sama namun gugus fungsinya berbeda.

                  Isomer Gugus Fungsi Senyawa Ester

                  Ester dan Asam karboksilat merupakan isomer gugus fungsi karena keduanya memiliki rumus molekul yang sama, yaitu CnH2nO2 namun gugus fungsinya berbeda.

                  Rumus Struktur Isomer Gugus Fungsi Senyawa Asam Karboksilat C4H8O2

                  Contoh isomer senyawa ester yang memiliki rumus kimia C4H8O2 dengan isomernya sebagai asam karboksilat adalah n-butanoat dan 2 metil propanoate adalah seperti berikut

                  Rumus Struktur Isomer Gugus Fungsi Senyawa Asam Karboksilat C4H8O2
                  Rumus Struktur Isomer Gugus Fungsi Asam Karboksilat C4H8O2

                  Kedua senyawa Isomer dari rumus kimia C4H8O2 adalah sama sama memiliki rumus C4H8O2 atau C3H7COOH. Namun kedua senyawa tersebut memiliki rumus struktur yang berbeda.

                  Rumus struktur senyawa n-butanoat membentuk struktur rantai induk karbon lurus dengan 4 atom karbon (butanoate).

                  Sedangkan 2-metil-propanoat memiliki struktur bercabang dengan rantai induk memiliki 3 atom karbon. Asam karboksilat dengan 3 atom karbon adalah propanoate.

                  Satu atom karbon membentuk gugus metil sebagai cabang. Cabang gugus metil ini terikat pada rantai induk di atom karbon nomor 2.

                  Contoh Soal Menentukan Rumus Struktur Dari Rumus Kimia Senyawa Ester

                  Tentukan rumus struktur senyawa ester yang memiliki rumus C3H6O2

                  Langkap pertama adalah menentukan gugus alkanoat dan gugus alkil pada rumus kimia ester tersebut

                  Menentukan Gugus Alkanoat dan Gugus Alkil Senyawa Ester

                  Rumus umum struktur ester adalah R–COO–R’, jadi ada dua gugus, sehingga harus membagi atom karbon menjadi dua bagian:

                  Gugus alkanoat = R–COO–

                  Gugus alkil = –R’

                  Rumus kimia C3H6O2 memiliki tiga atom karbon, maka gugus alkanoat dapat menerima dua atom karbon dan gugus alkil merima satu atom atau sebaliknya.

                  Menentukan Rumus Struktur Gugus Alkanoat Gugus Alkil

                  Gugus alkanoat yang memiliki dua karbon adalah etanoat dan rumus strukturnya adalah:

                  Gugus alkanoat = CH3–COO– = etanoat atau

                  Gugus etanoat = CH3–COO–

                  Gugus alkil yang memiliki satu karbon adalah metil dan rumus strukturnya adalah

                  Gugus alkil = –CH3 = metil atau

                  Gugus metil = –CH3

                  Menentukan Rumus Struktur Senyawa Ester

                  Rumus struktur senyawa dapat  dinyatakan dengan ketentuan berikut

                  Alkanoat-Alkil atau

                  Etanoat-metil

                  (CH3COO–)(–CH3) atau

                  CH3COO–CH3 atau

                  CH3COOCH3

                  Rumus struktur dari CH3COOCH3 adalah seperti berikut:

                  Cara Menentukan Rumus Struktur Senyawa Ester CH3COOCH3
                  Cara Menentukan Rumus Struktur  Ester CH3COOCH3

                  Sedangan nama senyawanya sesuai dengan ketentuan berikut

                  ‘Nama alkil-Nama alkanoat’

                  Dari penjelasan di atas diketahui bahwa senyawa CH3COOCH3 memiliki

                  Nama alkil = metil

                  Nama alkanoat = etanoat

                  Jadi, nama senyawa ester dengan rumus CH3COOCH3 adalah “metil-etanoat

                  Sifat-Sifat Fisis Ester

                  Adapun  sifat sifat Fisis ester di antaranya adalah

                  a). Ester mempunyai titik didih dan titik beku yang lebih rendah dari titik didih dan titik beku asam karboksilat asalnya.

                  b).  Ester suku rendah berwujud zat cair yang berbau harum dengan aroma buah- buahan.

                  Sifat Sifat Kimia Ester 

                  a). Ester bersifat netral dan tidak bereaksi dengan logam natrium maupun PCl3.

                  b). Hidrolisis Ester Menjadi Asam Karboksilat Dan Alkohol

                  Ester dapat mengalami hidrolisis menjadi asam karboksilat dan alcohol sesuai persamaan reaksi hidrolisis berikut

                  RCOOR’ + H2O → RCOOH + ROH

                  RCOOH = asam karboksilat

                  ROH = alkohol

                  c). Hidrolisis Ester Dengan Basa Kuat NaOH Atau KOH

                  Ester mudah terhidrolisis oleh basa kuat NaOH dan KOH akan menghasilkan garam karboksilat dan alcohol seperti persamaan reaksi berikut:

                  RCOOR’ + NaOH → RCOONa + R’OH

                  RCOONa = natrium karboksilat

                  R’OH = alkohol

                  d). Reduksi Ester Menjadi Alkohol.

                  Metil etanoat dapat direduksi dengan gas hydrogen menjadi etanol dan methanol seperti dinyatakan persamaan reaksi berikut:

                  CH3-COOCH3 + 2 H2 → CH3-CH2OH + CH3OH

                  CH3-CH2OH = etanol

                  CH3OH = metanol

                  e). Reduksi Ester Tak Jenuh Menjadi Mentega

                  Reduksi terhadap ester tak jenuh suku tinggi seperti minyak atau lemak cair akan menghasilkan mentega seperti persamaan reaksi berikut

                  Reduksi Ester Tak Jenuh Menjadi Mentega
                  Reduksi Ester Tak Jenuh Menjadi Mentega

                  Reaksi Pembuatan Senyawa Ester

                  Ester dapat dibuat dengan beberapa cara diantaranya adalah

                  1). Pembuatan Ester Dari Asam Karboksilat

                  Ester dibuat dengan cara mereaksikan asam karboksilat dan alkohol dalam suanana asam (dalam asam sulfat pekat). Adapun reaksi pembuatan ester dari asam karboksilat memenuhi reaksi berikut:

                  R–COOH + R’–OH  → R–COOR’ + H2O

                  R–COOH = Asam karboksilat

                  R’–OH  = alcohol

                  2). Pembuatan Ester Dari Perak Karboksilat

                  Ester dapat dibuat dengan cara mereaksikan perak karboksilat dan alkil halide seperti persamaan reaksi berikut

                  R–COOAg + R’–X → R–COOR’ + AgX

                  R–COOAg = perak karboksilat

                  R’–X = alkil halide

                  3). Pembuatan Ester Dari Halogen Alkanoat

                  Reaksi pembuatan ester dari halogen alkanoat dapat dinyatakan dengan persamaan reaksi berikut:

                  R–COOCl + R’–OH → R–COOR’ + HCl

                  R–COOCl = halogen alkanoat

                  R’–OH = alkohol

                  Pada reaksi halogen alkanoat dengan alcohol akan menghasilkan ester dan asam kuat HCl.

                  Kegunaan Ester Sehari Hari

                  Kegunaan ester dapat dijumpai dalam kehidupan sehari-hari. Untuk lebih memahaminya dapat kalian pelajari uraian berikut.

                  a). Ester Buah- Buahan

                  Ester yang memiliki sepuluh atom karbon atau kurang (yaitu ester dari asam karboksilat rantai pendek dengan alcohol rantai pendek) pada suhu kamar berupa zat cair yang mudah menguap dan mempunyai aroma yang sedap.

                  Kebanyakan ester tersebut pada bunga dan buah, sehingga disebut ester buah-buahan. Ester ini berbau sedap sehingga digunakan sebagai penyedap atau esens.

                  b). Etil Asetat (CH3 – COOC2H5)

                  Ester ini digunakan sebagai pelarut. Misalnya untuk cat, cat kuku, atau perekat. Ester ini mudah menguap sehingga cat atau perekat cepat mengering.

                  c). Lilin Wax

                  Ester dari alkohol suku tinggi dan asam karboksilat suku tinggi. Ester ini disebut lilin (wax), lilin ini berbeda dengan lilin hidrokarbon (lilin parafin). Kegunaannya ialah untuk pemoles mobil dan lantai.

                  Kebanyakan bahan pembuat lilin adalah campuran dari dua jenis atau lebih ester dengan zat-zat lain dan merupakan zat padat dengan titik leleh yang rendah. Jika lilin dicampur dengan pelarut tertentu dapat dengan mudah dioleskan untuk salutan pelindung, misalnya untuk membatik.

                  d).  Ester yang berasal dari gliserol dengan asam karboksilat suku rendah atau tinggi (minyak dan lemak). Digunakan sebagai bahan baku untuk pembuatan sabun dan mentega (margarin).

                    Daftar Pustaka:

                    1. Sunarya, Yayan, 2014, “Kimia Dasar 1, Berdasarkan Prinsip Prinsip Kimia Terkini”, Cetakan Ketiga, Yrama Widya, Bandung.
                    2. Hiskia Achmad,  1996, “Kimia Larutan”, Citra Aditya Bakti,  Bandung.
                    3. Sunarya, Yayan, 2013, “Kimia Dasar 2, Berdasarkan Prinsip Prinsip Kimia Terkini”, Cetakan Kedua, Yrama Widya, Bandung.
                    4. Syukri, S., 1999, “Kimia Dasar 2”, Jillid 2, Penerbit ITB, Bandung
                    5. Chang, Raymond, 2004, “Kimia Dasar, Konsep -konsep Inti”, Edisi Ketiga, Jilid Satu, Penerbit, Erlangga, Jakarta.
                    6. Brady, James, E,1999, “Kimia Universitas Asas dan Struktur”, Edisi Kelima, Jilid Satu, Binarupa Aksara, Jakarta,
                    7. Brady, James, E., 1999, “Kimia Universitas Asas dan Struktur”, Edisi Kelima, Jilid Dua, Binarupa Aksara, Jakarta.
                    8. Ester: Pengertian Sifat Fisik Kimia Tata Nama IUPAC Rumus Struktur Isomer Struktur Gugus Fungsi Contoh Soal Reaksi Pembuatan Kegunaan, Pengertian Contoh Rumus Struktur Isomer Struktur Gugus Fungsi Ester,
                    9. Contoh Sifat Fisis Ester Dan Sifat Kimia Ester, Contoh Reaksi Ester: Reaksi Hidrolisis Reduksi Ester, Contoh Soal Pembahasan Tata Nama IUPAC Rumus Struktur Ester,

                    Asam Karboksilat: Pengertian Sifat Fisis Kimia Tata Nama Isomer Rumus Struktur Reaksi Pembuatan Kegunaan Sehari Indistri

                    Pengertian Asam Karboksilat: Asam karboksilat adalah senyawa karbon alkana yang memiliki gugus fungsi (–COOH) yang disebut gugus karboksil. Dengan demikian asam karboksilat atau alkanoat dapat dianggap sebagai turunan alkana dengan mengganti 1 atom H dari alkana dengan gugus karboksil (–COOH).

                    Gugus Fungsi Karboksil, Gugus Karbonil, Gugus Hidroksil

                    Gugus karboksil merupakan gabungan gugus karbonil (–COH) dan gugus hidroksil (–OH). Atom H pada gugus karbonil diganti oleh gugus hidroksil. Adapun rumus gugus karbonil dan gugus  hidroksil yang membentuk gugus karboksil adalah seperti berikut

                    Gugus Fungsi Karboksil, Gugus Karbonil, Gugus Hidroksil
                    Gugus Fungsi Karboksil, Gugus Karbonil, Gugus Hidroksil

                    Rumus Umum Asam Karboksilat (R–COOH)

                    Rumus umum asam karboksilat adalah R–COOH, dengan R merupakan  senyawa alkil yaitu senyawa alkana yang kehilangan satu atom hydrogen H. Rumus umum strukturnya adalah seperti berikut:

                    Rumus Umum Asam Karboksilat (R–COOH)
                    Rumus Umum Asam Karboksilat (R–COOH)

                    Sumber Alam Asam Karboksilat

                    Asam karboksilat banyak terdapat di alam, misalnya pada semut, cuka, apel, dan jeruk. Sehingga nama lazim asam karboksilat umumnya diambil dari bahasa Latin berdasarkan nama sumber alami asam yang bersangkutan.

                    Misal asam butanoat disebut asam butirat karena terdapat dalam santan kelapa (butyrum) atau mentega (butter). Asam format dengan nama IUPAC-nya asam metanoat banyak ditemukan pada semut dan diperoleh dengan cara distilasi semut, dalam Bahasa Latin semut adalah formica.

                    Asam asetat atau acetum yang artinya cuka diperoleh dari hasil distilasi cuka. Sedangka asam kaproat atau caper yang artinya domba diperoleh dari lemak domba.

                    Tata Nama Asam Karboksilat Trivial IUPAC

                    Ada dua cara pemberian nama pada asam karboksilat, yaitu nama Trivial (nama lazim) dan nama IUPAC.

                    Tata Nama Asam Karboksilat Trivial IUPAC
                    Tata Nama Asam Karboksilat Trivial IUPAC

                    Tata Nama Trivial Asam Karboksilat

                    Nama trivial asam karboksilat biasanya didasarkan pada nama sumber atau bahan asam tersebit di alam. Nama trivial atau lazim bukan berdasarkan pada strukturnya. Hal ini dikarenakan banyaknya asam karboksilat yang telah dikenal orang sejak lama.

                    Contoh Nama Trivial Asam Karboksilat

                    Beberapa nama trivial yang lazim dari senyawa asam karboksilat berdasarkan pada sumber alaminya.

                    a). Asam Format HCOOH

                    Asam format merupakan nama lazim atau trivial untuk asam karboksilat dengan rumus HCOOH.  Dinamai dengan asam format atau asam formiat atau asam semut atau karena ditemukan pada semut (arti kata formika adalah semut).

                    b). Asam Asetat CH3COOH

                    Asam Asetet atau asam cuka  merupakan nama trivial untuk asam karboksilat yang memiliki rumus kimia CH3COOH.  Disebut asam cuka atau asam asetat karena asam ini ditemukan dalam cuka. Kata asetat berasal dari asetum yang artinya  cuka.

                    c). Asam Protopion C2H5COOH

                     Nama trivila dari rumus kimia C2H5COOH adalah asam propionat yang berasal dari kata protopion yang artinya  lemak awal atau pertama.

                    d). Asam Butirat C3H7COOH

                     Asam butirat memiliki rumus C3H7COOH dan memiliki nama trivial asam butirat. Kata butirat berasal dari butyrum yang artinya mentega.

                    e). Asam Valerat C4H9COOH

                    Asam valerat memiliki rumus molekul C4H9COOH dan disebut asam valerat. Kata valerat berasal dari kata valere yang merupakan nama sejenis tanaman dan ditemukan pada bagian akarnya.

                    Tata Nama IUPAC Asam Karboksilat

                    Menurut sistem IUPAC, penataan nama asam karboksilat diturunkan dari nama alkana, di mana akhiran -a diganti -oat dan ditambah kata asam sehingga asam karboksilat digolongkan sebagai alkanoat.

                    Untuk senyawa yang mempunyai isomer, tata Namanya sama seperti pada aldehid karena gugus fungsinya sama-sama berada pada ujung rantai karbon.

                    Cara Penamaan Asam Karboksilat Menurut IUPAC

                    Adapun cara peberian nama pada asam karboksilat adalah sebagai berikut

                    a). Menentukan rantai induk atau rantai pokok. Rantai induk adalah rantai yang paling panjang yang mengandung gugus fungsi karboksil (— COOH). Nama karboksilat sesuai nama rantai pokok (panjang) diberi akhiran oat.

                    b). Penomoran atom karbon pada rantai pokok (panjang) dimulai dari gugus fungsinya.

                    c). Penulisan nama dimulai dengan nama cabang cabang atau gugus lain yang disusun menurut abjad kemudian diikuti dengan nama rantai pokok. Karena gugus fungsi pasti nomor satu, jadi nomor gugus fungsi tidak perlu disebutkan.

                    d). Urutan Pemberian Nama Asam Karboksilat

                    Adapun urutan pemberian nama asam karboksilat adalah sebagai berikut

                    Asam (nomor cabang)-(nama cabang)-(alkanoat)

                    Contoh Penamaan Asam Karboksilat Propanoat,

                    Tentukan nama IUPAC Asam karboksilat yang diyatakan dengan rumus struktur berikut

                    Contoh Penamaan Rumus Struktur Asam Karboksilat Propanoat,
                    Contoh Penamaan Rumus Struktur Asam Karboksilat Propanoat,

                    Pada rantai induk karbon nomor satu selalu milik gugus karboksil, jadi penomoran selalu dari atom karbon gugus fungsinya. Rantai induk terpanjang mengandung 3 atom karbon, Senyawa asam karboksilat dengan tiga atom karbon adalah propanoate.

                    Pada rumus struktur tidak ada cabang, sehingga asam korboksilat tersebut diberi nama sebagai: “Asam Propanoat”

                    Contoh Penamaan Rumus Struktur Asam 3-Metil-Butanoat

                    Tentukan nama IUPAC untuk rumus struktur asam karboksilat yang dinyatakan dengan struktur berikut;

                    Contoh Penamaan Rumus Struktur Asam 3-Metil-Butanoat
                    Contoh Penamaan Rumus Struktur Asam 3-Metil-Butanoat

                    Rantai induk atau rantai terpanjang pada rumus struktur tersebut mengandung 4 atom karbon. Senyawa karboksilat yang mengandung  4 karbon adalah butanoate. Cabang yang mengikat gugus alkil terdapat pada atom karbon nomor 3. Rumus gugus alkil yang diikat adalah CH3 yaitu metil

                    Dengan demikian nama rumus struktur asam karboksilat tersebut adalah: “Asam 3-metil-butanoat”

                    Sifat Fisis Asam Karboksilat

                    Beberapa Sifat fisis asam karboksilat diantranya adalah

                    a). Wujud Asam Karboksilat

                    Suku-suku rendah berupa zat cair, sedangkan suku-suku yang lebih tinggi berupa zat padat.

                    b). Sifat Fisis Kelarutan Asam Karboksilat Dalam Air

                    Suku- suku rendah yaitu senyawa yang memiliki karbon C1–C4 lebih mudah larut dalam air, namun makin banyak atom karbon dalam molekul, maka  kelarutan dalam air semakin berkurang, dan senyawa yang berwujud padat tidak dapat larut.

                    c). Sifat Fisis Titik Didih dan Titik Lelehnya

                    Asam karboksilat memiliki titik didih dan leleh yang tinggi dikarenakan molekulnya terdapat ikatan hidrogen.

                    d). Sifat Keasaman Asam Karboksilat

                    Semua asam karboksilat merupakan asam lemah. Semakin panjang rantai karbonnya semakin lemah kekuatan asamnya. Jadi ssam alkanoat yang paling kuat adalah asam metanoat.

                    Sifat Kimia Asam Karboksilat

                    Asam karboksilat dapat mengalami reaksi- reaksi sebagai berikut.

                    a). Reaksi Asam Karboksilat Dengan Basa

                    Asam karboksilat dapat bereaksi dengan basa dan membentuk garam sesuai dengan persamaan reaksi berikut:

                    Reaksi Asam Karboksilat Dengan Basa NaOH
                    Reaksi Asam Karboksilat Dengan Basa NaOH

                    Garam natrium dan garam kalium dari asam alkanoat rantai panjang disebut sabun. Wujud garam natrium lebih keras daripada garam kalium. Garam natrium disebut sabun keras, sedangkan garam kalium disebut sabun lunak.

                    Larutan garam-garam alkanoat bersifat basa karena mengalami hidrolisis seperti reaksi berikut

                    R–COONa+ H2O → R–COOH + Na+ + OH

                    b). Reaksi Esterifikasi Dari Asam Karboksilat Dengan Alkohol

                    Asam karboksilat dapat bereaksi dengan alkohol untuk menghasilkan ester. Reaksi ini dikenal dengan nama reaksi esterifikasi, dan reaksinya mengikuti persamaan reaksi berikut

                    Reaksi Esterifikasi Dari Asam Karboksilat Asam Asetat Dengan Alkohol Metanol
                    Reaksi Esterifikasi Dari Asam Asetat Dengan Metanol

                    c). Dapat membentuk ikatan hidrogen dengan air sehingga pada umumnya mempunyai titik didih tinggi.

                    d). Mulai dari rantai dengan jumlah satu karbon  sampai dengan empat karbon mudah larut dalam air. Makin panjang rantai karbonnya makin sukar larut dalam air.

                    e). Adanya cabang akan mempengaruhi derajat keasaman. Cabang alkil akan mengurangi keasaman, sedangkan jika cabangnya atom -atom halogen akan menambah keasaman.

                    Isomer Struktur Asam Karboksilat

                    Isomer asam karboksilat terjadi akibat adanya cabang, letak atau posisi cabang dan asam karboksilat juga berisomer gugus fungsi dengan senyawa ester.

                    Contoh Isomer Asam Karboksilat Asam Butanoat C3H7COOH

                    Contoh Isomer dari senyawa Asam Karboksilat yang memiliki rumus kimia C4H8O2 diantaranya adalah:

                    Isomer struktur dari butanoate adalah n-butanoat dan 2-metil-propanoat
                    Isomer struktur dari butanoate adalah n-butanoat dan 2-metil-propanoat

                    Isomer struktur dari butanoate adalah n-butanoat dan 2-metil-propanoat. Kedua senyawa Isomer butanoate tersebut sama sama memiliki rumus C4H8O2 atau C3H7COOH. Namun kedua senyawa tersebut memiliki rumus struktur yang berbeda.

                    Senyawa n-butanoat membentuk struktur rantai induk karbon lurus dengan 4 atom karbon (butanoate).

                    Sedangkan 2-metil-propanoat memiliki struktur bercabang dengan rantai induk memiliki 3 atom karbon. Asam karboksilat dengan 3 atom karbon adalah propanoate.

                    Satu atom karbon membentuk gugus metil sebagai cabang. Cabang gugus metil ini terikat pada rantai induk di atom karbon nomor 2.

                    Isomer Gugus Fungsi Asam Karboksilat C4H8O2

                    Asam karboksilat dan Ester merupakan isomer gugus fungsi karena keduanya memiliki rumus molekul yang sama, yaitu CnH2nO2.

                    Contoh Isomer Gugus Fungsi Asam Karboksilat C4H8O2

                    Isomer gugus fungsi asam karboksilat yang mempunyai rumus kimia C4H8O2 diantaranya:

                    Contoh Isomer Gugus Fungsi Asam Karboksilat C4H8O2
                    Contoh Isomer Gugus Fungsi Asam Karboksilat C4H8O2

                    Rumus struktur etil etanoat dibangun oleh rantai induk etanoat (yaitu rantai dengan 2 atom karbon) dan gugus fungsi etil C2H5 yang terikat pada atom karbon pertama.

                    Sedangkan rumus struktur metil propanoate dibangun oleh rantai induk yang memiliki 3 atom karbon yaitu propanat dengan gugus fungsi metil yang terikat pada atom karbon pertama.

                    Cara Pembuatan Asam Karboksilat

                    Asam karboksilat dapat dibuat dengan beberapa cara, diantaranya dengan oksidasi alkohol atau aldehida dan hidrolisis alkana nitril.

                    1). Oksidasi Alkohol Primer Dengan Oksidator Natrium Dikromat

                    Asam karboksilat biasanya diperoleh melalui oksidasi alkohol primer dengan suatu oksidator yang kuat, seperti natrium dikromat dalam asam sulfat pekat. Reaksi okiadasi alcohol oleh oksidator natrium dikromat memenuhi persamaan reaksi berikut

                    3R–CH2OH + 2Cr2O72– + 16H+ → 3R–COOH + 4Cr3+ + 11H2O

                    2). Oksidasi Alkohol Primer Dengan Gas Oksigen

                    Asam karboksilat dapat juga dibuat melalui oksidasi alkohol primer dengan gas okisgen dengan dua tahapan reaksi.

                    Reaksi tahap pertama adalah mengoksidasi alcohol primer dengan gas oksigen menghasilkan senyawa aldehid dan air seperti berikut

                    R–CH2OH + 1/2 O2 → R–COH + 11 H2O

                    Reaksi tahap kedua adalah mengoksidasi aldehid hasil reaksi pertama dengan gas oksigen menghasilkan asam karboksilat dengan reaksi kimianya seperti berikut:

                    R–COH + ½ O2 → R–COOH

                    2). Hidrolisis Senyawa Alkana Nitril (Sianida Organik)

                    Pembuatan asam karboksilat dengan hidrolisis senyawa alkana nitril dilakukan pada suhu tinggi dan asam kuat.

                    Apabila alkil sianida (nitril) dididihkan dengan katalis asam atau basa akan terbentuk asam karboksilat. Pada reaksi hidrolisis nitril ini terbentuk ammonia seperti persamaan reaksi berikut

                    R–CN + 2H2O + HCl → R–COOH + NH3 + HCl

                    3). Pembuatan Asam Format (Asam Semut – Asam Metanoat)

                    Asam formiat dibuat dengan mereaksikan gas karbon monoksida dengan uap air, dengan katalisator oksida logam pada suhu sekitar 200°C dan tekanan tinggi. Pembuatan asam format mengikuti persamaan reaksi berikut:

                    CO + H2O → H–COOH

                    Kegunaan Manfaat Asam Karboksilat Sehari Hari Industri

                    Asam karboksilat banyak dipergunakan dalam kehidupan sehari hari baik untuk keperluaan masyarakat umum maupun untuk industry yang di antaranya sebagai berikut:

                    1). Kegunaan Dan Sifat Asam Format (Asam Semut – Asam Metanoat)

                    Asam formiat  atau asam semut banyak digunakan dalam industri tekstil, penyamakan kulit, dan di perkebunan karet untuk menggumpalkan lateks atau getah pohon karet.

                    Asam format adalah cairan tak berwarna , berbau tajam, mudah larut dalam air, alkohol, dan eter.

                    Dalam jumlah sedikit terdapat dalam keringat, oleh karena itu keringat baunya asam. Asam ini juga menyebabkan lecet atau lepuh pada kulit.

                    Sifat khusus yang dimiliki asam formiat yaitu dapat mereduksi, karena mempunyai gugus aldehid. Asam format mereduksi perak nitrat dalam suasana larutan netral, larutan KMnO4 dalam suasana basa, dan mereduksi H2SO4 pekat.

                    2). Kegunaan Manfaat Sifat Asam Asetat (Asam Cuka – Asam Etanoat)

                    Asam asetat mempunyai banyak kesamaan sifat dengan asam formiat yaitu: berwujud cair, tidak berwarna, mudah larut dalam air, dan berbau tajam.

                    Asam asetat murni disebut asam asetat glasial merupakan cairan bening tak berwarna, berbau sangat tajam, membeku pada 16,6 oC, dan membentuk kristal yang menyerupai es atau gelas. Asam asetat murni digunakan untuk membuat selulosa asetat dalam industri rayon.

                    Asam asetat yang lebih umum disebut asam cuka sering digunakan sebagai pemberi rasa asam dan sebagai pengawet makanan.

                    Larutan cuka yang digunakan sebagai bahan makanan yang umum digunakan sehari-hari mempunyai kadar 20 – 25% volume asam asetat.

                    3). Kegunaan Asam Karboksilat

                    Asam karboksilat sering digunakan sebagai bahan pembuatan ester dengan cara mereaksikannya dengan alkohol.

                    4). Kegunaan Asam Karboksilat Suku Tinggi

                    Asam karboksilat suku tinggi dipergunakan untuk pembuatan sabun jika direaksikan dengan basa, misalnya asam stearat, asam palmitat, dan lain-lain.

                      Daftar Pustaka:

                      1. Sunarya, Yayan, 2014, “Kimia Dasar 1, Berdasarkan Prinsip Prinsip Kimia Terkini”, Cetakan Ketiga, Yrama Widya, Bandung.
                      2. Hiskia Achmad,  1996, “Kimia Larutan”, Citra Aditya Bakti,  Bandung.
                      3. Sunarya, Yayan, 2013, “Kimia Dasar 2, Berdasarkan Prinsip Prinsip Kimia Terkini”, Cetakan Kedua, Yrama Widya, Bandung.
                      4. Syukri, S., 1999, “Kimia Dasar 2”, Jillid 2, Penerbit ITB, Bandung
                      5. Chang, Raymond, 2004, “Kimia Dasar, Konsep -konsep Inti”, Edisi Ketiga, Jilid Satu, Penerbit, Erlangga, Jakarta.
                      6. Brady, James, E,1999, “Kimia Universitas Asas dan Struktur”, Edisi Kelima, Jilid Satu, Binarupa Aksara, Jakarta,
                      7. Brady, James, E., 1999, “Kimia Universitas Asas dan Struktur”, Edisi Kelima, Jilid Dua, Binarupa Aksara, Jakarta.
                      8. Asam Karboksilat: Pengertian Sifat Fisis Kimia Tata Nama Isomer Rumus Struktur Reaksi Pembuatan Kegunaan Sehari Indistri, Contoh Tata Nama Trivial IUPAC Asam Karboksilat,
                      9. Sumber Alam Asam Karboksilat Asam Format Asam Asetat Asam Protopion Asam Butirat Asam Valerat , Contoh Isomer Struktur Gugus Fungsi Asam Karboksilat, Contoh Reaksi Pembuatan Asam Karboksilat,
                      error: Content is protected !!