Usus Halus (Intestinum Tenue) Usus Besar (Kolon)

Pengertian. Usus halus atau usus kecil adalah bagian dari saluran pencernaan yang terletak di antara lambung dan usus besar.

Usus halus berfungsi sebagai alat pencernaan secara enzimatik dan penyerapan sari- sari makanan ke dalam sel darah.

Pencernaan di dalam usus halus berlangsung secara kimiawi atau enzimatis. Usus halus terletak di atas pinggang.

Usus halus membentuk struktur yang disebut dengan vili  atau jonjot dan mikrovili usus. Struktur vili berfungsi untuk memperluas permukaan dalam usus halus sehingga dapat meningkatkan penyerapan.

Enzim- enzim yang bekerja di usus halus berasal dari hati, pankreas, dan sel- sel pada dinding usus halus tersebut. Enzim- enzim tersebut memecah molekul -molekul kompleks yang terkandung dalam makanan menjadi molekul yang lebih sederhana dan mengabsorpsinya dalam aliran darah.

Pada ujung usus halus terdapat katup yang disebut katup bauhini (atau katup ileosekal).  Katup ileosekal berfungsi mencegah makanan masuk kembali ke dalam usus halus.

Usus halus terdiri dari tiga bagian, yaitu duodenum (usus dua belas jari), jejunum (usus kosong), dan ileum (usus penyerapan).

Gambar Anatomi Fungsi Usus Halus Intestinum Tenue, Duodenum, Jejunum, Ileum
Gambar Anatomi Fungsi Usus Halus Intestinum Tenue, Duodenum, Jejunum, Ileum

Duodenum (Usus Dua Belas 12 Jari)

Duodenum disebut usus duabelas jari karena memiliki panjang sekitar 12 jari orang dewasa atau kira kira 30 cm..

Usus duodenum (dua belas jari) bentuknya melengkung seperti ladam. Duodenum memliki dua saluran, yaitu saluran empedu (duktus koledukus) dan saluran pankreas (ductus pankreatikus).

Saluran Empedu

Pada saat proses pencernaan berlangsung, kantung empedu akan melepaskan cairan atau getah empedu menuju duodenum melalui saluran empedu. Hormon yang berfungsi untuk merangsang empedu adalah hormon kolesistokinin

Getah Empedu dihasilkan oleh hati. Getah empedu mengandung zat warna empedu yang disebut dengan bilirubin dan garam empedu, yaitu natrium glukolat.

Empedu tidak mengandung enzim, namun berperan dalam proses pengurangai lemak. Empedu berfungsi membantu memecah lemak agar mudah dicerna dan berfungsi untuk mengemulsi lemak. Selain itu cairan empedu memberi warna kuning pada feses.

Saluran Pankreas

Pada saat proses pencernaan berlangsung, pankreas akan melepaskan getah pancreas yang disebut dengan Pancreatic juice menuju duodenum melalui saluran pancreas atau saluran pankreatik. Pancreatic juice adalah sekresi pankreas yang bercampur dengan air.  Hormon yang berfungsi untuk merangsang getah pankreas adalah Hormon sekretin.

Pankreas memiliki dua fungsi utama, yaitu menghasilkan hormon yang mengatur glukosa darah dan menghasilkan pancreatic juice.

Pancreatic juice berfungsi untuk menetralkan kandungan asam pada makanan sebelum masuk ke usus halus. Pancreatic juice mengandung beberapa enzim pencernaan, yaitu lipase, amilase, tripsin, kemotripsin dan karbo peptidase.

Dinding Usus Halus

Dinding bagian dalam usus memiliki lapisan mukosa yang banyak mengandung kelenjar-kelenjar bunner yang mensekresikan getah intestinum berupa musin dan enzim proteolisis (pemecah protein).

Jejunum

Jejunum disebut usus kosong karena pada orang yang telah meninggal dunia, bagian usus ini kosong. Jejunum (usus kosong) memiliki panjang kurang lebih 7 meter,

Dinding usus jejenum ini memiliki kelenjar liberkuhn yang dapat mengeluarkan getah usus. Getah usus mengandung sejumlah enzim yang diantaranya adalah sebagai berikut.

Tabel Jenis Enzim Pencernaan Usus Halus Dan Besar
Tabel Jenis Enzim Pencernaan Usus Halus Dan Besar

1) Erepsinogen yang diaktifkan oleh enterokinase menjadi erepsin atau dipeptidase yang berfungsi untuk mengubah dipeptida menjadi asam amino.

2) Maltase befungsi untuk mengubah maltosa menjadi glukosa.

3) Sakarase berfungsi untuk mengubah sakarosa menjadi glukosa dan fruktosa.

4) Laktase berfungsi untuk laktosa menjadi glukosa dan galaktosa.

5) Lipase berfungsi untuk mengubah lemak menjadi asam lemak dan gliserol.

6). Disakarase berfungsi mengubah disakarida menjadi monosakarida.

7). Peptidase berfungsi mengubah polipeptida menjadi asam amino.

8). Sukrase berfungsi mengubah sukrosa menjadi glukosa dan fruktosa.

Zat Makanan yang masuk ke dalam usus jejenum akan berinterakasi dengan enzim enzim dari getah usus. Enzim akan bekerja sesuai dengan fungsinya masing masing. Enzim akan mecah senyawa amilum, protein, dan lemak sehingga dihasilkan komponen- komponen yang kecil sederhana.

Ileum

Ileum disebut usus penyerapan karena pada bagian tersebut zat-zat makanan diserap oleh tubuh. Ileum (usus penyerapan) memiliki panjang sekitar 1 meter. Permukaan dinding dalam ileum terdapat vili yang dapat memperluas daerah penyerapan zat makanan sehingga proses menjadi lebih sempurna.

Zat- zat makanan di usus halus di absorpsi oleh pembuluh darah kapiler dan saluran limfa yang terdapat dalam permukaan vili. Zat atau molekul seperti Glukosa, asam amino, vitanium, air, dan mineral, diabsorpsi oleh pembuluh darah kapier. Kemudian zat zat ini dibawa menuju hati melalui vena porta hepatika. Fungsi vena porta hepatica adalah menyalurkan zat makanan yang telah diabsorpsi oleh pembuluh darah kapiler ke hati. Di dalam hati, sebagian mengalami perubahan bentuk dan sebagian lagi diditribusikan ke seluruh tubuh melalui vena hepatika.

Fungsi Vena Porta Hepatika Pencernaan Usus Halus
Fungsi Vena Porta Hepatika Pencernaan Usus Halus

Asam lemak dan gliserol bersama dengan empedu membentuk senyawa berupa larutan yang disebut misel. Selanjutnya asam lemak dan gliserol dibawa oleh pembuluh getah bening (atau pembuluh kil) masuk ke dalam peredaran darah. Garam empedu yang masuk ke darah menuju ke hati dibuat empedu kembali.

Vitamin yang larut dalam lemak seperti vitamin A, D, E, dan vitamin K diserap oleh usus halus dan disalurkan melalui pembuluh getah bening. Kemudian vitamin – vitamin tersebut masuk ke peredaran darah.

Selain pencernaan secara kimia, usus halus melakukan pencernaan secara mekanik, yaitu dengan gerakan peristaltik. Gerakan peristaltik menyebabkan kim dapat bergerak dan meningkatkan absorpsi zat-zat makanan. Kim adalah makanan yang telah dicerna di dalam lambung yang memiliki tekstur halus.

Sari zat makanan diserap ketika sampai di akhir usus halus. Sedangkan sisa zat makanan yang tidak diserap, secara perlahan akan bergerak ke usus besar.

Usus halus memiliki ujung yang bermuara ke dalam sisi usus besar sehingga terbentuk usus buntu, yaitu suatu bagian pendek usus besar yang buntu.

Usus halus mempunyai otot-otot polos yang letaknya bertumpuk dan bersilangan. Ketika otot-otot ini berkontraksi, kim teraduk dan bersentuhan dengan dinding usus sehingga terdorong melewati usus halus. Sebagian zat diserap, sedangkan zat yang tidak dapat diserap terdorong menuju usus besar akibat gerakan otot-otot usus halus.

Usus Besar (Kolon)

Usus besar merupakan alat pencernaan setelah usus halus. Usus besar disebut kolon. Kolon mempunyai panjang antara 1,5 sampai dengan 1,7 meter.

Usus besar terdiri dari usus besar ascending (menaik), transvers (melintang), descending (menurun), dan berakhir pada rektum,

Gambar Anatomi Fungsi Usus Besar Kolon, Rectum Sekum Ascending, transvers, Descending
Gambar Anatomi Fungsi Usus Besar Kolon, Rectum Sekum Ascending, transvers, Descending

Usus besar tidak memiliki vili, sehingga tidak terjadi penyerapan sari-sari makanan, tetapi terjadi penyerapan air sehingga feses menjadi lebih padat.

Zat Makanan yang tidak dapat dicerna dan tidak dapat diserap oleh usus halus, seperti serat sayuran, serat buah- buahan atau lemak dan protein yang tidak dapat diurai, semuanya bercampur dengan air dan akan masuk ke dalam usus besar kolon.

Fungsi utama usus besar adalah menyerap air yang masih tersisa pada makanan. Sisa makanan yang siap dikeluarkan dari tubuh disebut feses.

Pada usus besar kolon terjadi proses pembusukan sisa pencernaan zat makanan yang tidak dapat diserap usus halus. Pembusukan terjadi oleh bakteri Escherichia coli. Bakteri E.coli menyekresikan beberapa zat seperti thiamin (vitamin B1), riboflavin (vitamin B3), vitamin B12, biotin (vitamin H), dan vitamin K. Zat-zat tersebut kemudian diserap oleh dinding usus besar kolon.

Antara usus besar dan usus halus terdapat katub yang berfungsi mencegah sisa zat makanan yang sudah masuk ke dalam usus besar tidak kembali ke usus halus, Katup tersebut disebut katup ileosekal. Feses akan dikeluarkan oleh usus besar melalui rektum.

Pangkal usus besar disebut sekum dan memiliki bagian memanjang yang disebut rumbai cacing (atau apendiks).

Sekum berfungsi menyimpan makanan agak lama sehingga dalam sekum terjadi pencernaan makanan oleh bakteri, terutama pencernaan selulosa. Bakteri bakteri ini mengasilkan enzim selulosa untuk memecahkan selulosa menjadi glukosa.

Feses dalam usus besar kolon akan terdorong sedikit demi sedikit oleh gerakan peristaltik sehingga mendekati poros usus (rektum). Di dalam rektum terjadi penyerapan air dan mineral yang masih dikandung feses semisolid tersebut. Hasilnya adalah feses yang solid.

Ketika rektum penuh, akan timbul rangsangan ingin buang air besar (defekasi) sebagai mekanisme untuk membuang sisa makanan yang tidak dapat dicerna. Rangsangan itu disebut gastrokolik. Feses akhirnya dikeluarkan dri tubuh melalui anus.

Contoh Soal Ujian Saluran Pencernaan Usus Halus atau Kecil dan Besar

Soal 1. Enzim yang berfungsi mengubah zat tepung menjadi maltosa adalah ….

  1. lipase
  2. peptin
  3. amilase
  4. renin
  5. pepsin

Soal 2. Di dalam duodenum terjadi absorpsi ….

  1. lemak
  2. protein
  3. asam amino
  4. air
  5. elektrolit

Soal 3. Zat-zat makanan yang diserap oleh pembuluh darah kapiler di dalam usus halus seperti berikut, kecuali .…

  1. air
  2. asam amino
  3. gliserol
  4. vitamin
  5. glukosa

Soal 4. Pembuluh kil menyerap zat makanan berupa .…

  1. mineral
  2. vitamin
  3. glukosa
  4. asam amino
  5. asam lemak

Soal 5. Bakteri Escherchia coli di dalam kolon membantu proses .…

  1. penyerapan elektrolit
  2. penyerapan air
  3. penyerapan mineral
  4. pembentukan feses
  5. pembusukan sisa-sisa makanan

Daftar Pustaka:

  1. Starr, Cecie. Taggart, Ralph. Evers, Christine. Starr, Lisa, 2012, “Biologi Kesatuan dan Keragaman Makhluk Hidup”, Edisi 12, Buku 1, Penerbit Salemba Teknika, Jakarta.
  2. Fatehiyah. Arumingtyas, Laras, Estri. Widyarti, Sri. Rahayu, Sri, 2011, “Biologi Molekular, Prinsip Dasar Analisis”, PT Penerbit Erlangga Jakarta.
  3. Kimballl, J.W., Siti Soetarmi Tjitro dan Nawangsari Sugiri,1983, “Biologi”, Jilid 1, Edisi Kelima, Penerbit Erlangga, Jakarta.
  4. Kimballl, J.W., Siti Soetarmi Tjitro dan Nawangsari Sugiri. 1983, “Biologi”, Jilid 2, Edisi Kelima, Erlangga, Jakarta.
  5. Schlegel, H.G., 1994, “Mikrobiologi Umum”, Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.
  6. Hartanto, L.N., 2004, “Biologi Dasar”, Edisi Ketiga, Penerbit Penebar Swadaya, Yogyakarta.
  7. Ardra.Biz, 2019, “=================

Peredaran Darah Kecil Pulmonalis dan Besar Sistemik

Pengertian. Pada prinsipnya, sistem peredaran darah memiliki empat komponen utama sebagai berikut.

  1. Darah berfungsi sebagai medium pengangkut untuk nutrisi, udara, dan zat buangan.
  2. Jantung berfungsi memompa darah sehingga dapat beredar ke seluruh tubuh.
  3. Pembuluh darah merupakan saluran tempat darah beredar ke seluruh tubuh.
  4. Sistem lainnya yang berfungsi menambah atau mengurangi kandungan darah. Contoh system lain sebagai pendukung adalah usus halus dalam sistem pencernaan tempat darah mendapatkan nutrisi yang akan dibawa ke seluruh tubuh, atau ginjal tempat darah mengurangi konsentrasi urea yang dikandungnya.

Fungsi Sistem Peredaran Darah Manusia

Beberapa fungsi yang dimiliki oleh sistem peredaran darah adalah sebagai berikut

1). Mengangkut zat makanan dan zat sisa hasil metabolisme.

2). Mengangkut zat buangan dan substansi beracun menuju hati untuk didetoksifikasi (atau dinetralkan) atau ke ginjal untuk dibuang.

3). Mendistribusikan hormon dari kelenjar dan organ yang memproduksinya ke sel-sel tubuh yang membutuhkannya.

4). Mengatur suhu tubuh melalui aliran darah.

5). Mencegah hilangnya darah melalui mekanisme pembekuan darah.

6). Melindungi tubuh dari bakteri dan virus dengan mensirkulasikan antibodi dan sel darah putih.

Organ Peredaran Darah Manusia

Organ peredaran darah pada manusia terdiri dari jantung dan pembuluh darah. Fungsi utama jantung sebagai pemompa darah, sedangkan pembuluh darah berfungsi mengedarkan darah ke seluruh tubuh.

Struktur Jaringan Penyusun Jantung

Jantung memiliki empat ruangan, yaitu atrium sinister atau serambi kiri, atrium dexter atau serambi kanan, ventrikel sinister atau bilik kiri, dan ventrikel dexter atau bilik kanan.

Jantung bagian kiri dan kanan dipisahkan oleh sekat berupa otot padat yang disebut septum cordi. Sekat yang memisahkan serambi dan bilik disebut Septum atrio ventriculorum.

Sekat antara serambi kiri dan serambi kanan pada fetus masih terdapat lubang yang disebut foramen ovale dan akan tertutup dengan sendirinya setelah kelahiran.

Serambi berfungsi sebagai tempat masuknya aliran darah sebelum darah masuk ke bilik dan dipompa ke seluruh tubuh atau ke paru-paru. Serambi akan berkontraksi agar darah mengalir menuju bilik.

Struktur Jantung dan Peredaran Darah Kecil Pulmonalis, arteri pulmonalis
Struktur Jantung dan Peredaran Darah Kecil Pulmonalis, arteri pulmonalis

Antara serambi kanan dengan bilik kanan terdapat katup atrioventrikuler, yang berfungsi mencegah aliran balik dari bilik kanan ke serambi kanan saat bilik berkontraksi. Katup atrioventrikuler kanan memiliki tiga lembar (daun) katup yang disebut katup valvula trikuspidal.

Sedangkan, antara serambi kiri dan bilik kiri terdapat dua lember katup yang disebut katup valvula bikuspidal. Katup ini berfungsi mencegah darah dalam bilik kiri agar tidak mengalir kembali ke serambi kiri saat jantung berkontraksi.

Pada pangkal aorta dan pangkal arteri pulmonalis (pembuluh nadi paruparu) terdapat katup berbentuk bulan sabit yang disebut katup valvula semilunaris. Fungsi katup valvula semilunaris adalah untuk mencegah aliran darah tidak kembali ke jantung.

Dinding jantung tersusun dari otot otot jantung yang disebut miokardium. Otot jantung memiliki kemampuan berkontraksi sehingga menjadikan jantung dapat berdenyut.

Jantung bagian luar dilapisi oleh selaput jantung yang disebut perikardium. Perikardium tersusun dari 2 lapisan yaitu lapisan luar disebut lamina panistalis dan lapisan dalam yang menempel pada dinding jantung disebut lamina viseralis.

Di antara kedua lapisan tersebut terdapat cairan yang berfungsi untuk mencegah gesekan permukaan luar jantung dengan organ-organ lainnya karena gerak jantung yang terus-menerus sebagai pemompa darah

Otot jantung mendapatkan zat-zat makanan dan oksigen dari darah melalui arteri koroner yang bercabang ke seluruh bagian jantung. Jika arteri koroner mengalami penyumbatan, maka kerja otot jantung menjadi terganggu atau bahkan terhenti. Peristiwa penyumbatan pada arteri coroner disebut koronariasis. Kondisi terhentinya aliran darah dari arteri koroner  disebut infark miokardium.

Otot jantung memiliki saraf tak sadar yang menempel ke jantung bagian tengah di antara dua bilik sebagai berkas yang menyebar. Berkas saraf ini disebut berkas Hiss.

Otot jantung memiliki satu siklus kontraksi – relaksasi yang disebut siklus jantung. Periode relaksasi disebut diastol, yaitu ketika serambi jantung menguncup dan bilik jantung mengembang (otot bilik relaksasi). Adapun periode kontraksi disebut sistol, terjadi ketika otot bilik berkontraksi (ruang bilik menguncup) dan darah terdorong keluar.

Selama satu denyut jantung terjadi perubahan tekanan darah pada dinding aorta. Pada orang dewasa dalam keadaan normal tekanan yang tertinggi, yaitu tekanan sistol sekitar 120 mm Hg. Tekanan darah ini dapat diukur dengan menggunaka tensimeter atau sphygmomanometer dan hasilnya biasa dituliskan sistol/diastol = 120/80 mm Hg.

Jenis Peredaran Darah Manusia

Darah mengalir melewati jantung dua kali sehingga disebut pembuhuh darah ganda. Peredaran darah terdiri atas peredaran darah besar atau peredaran darah sistemik dan sistem peredaran darah kecil atau peredaran darah paru.

Peredaran Darah Kecil (Peredaran Darah Pulmonalis)

Peredaran dimulai ketika Ventrikel atau bilik kanan memompa darah agar mengalir ke paru- paru. Aliran darah ini akan melewati arteri pulmonalis. Ketika darah masuk ke dalam paru-paru melewati kapiler, terjadi pertukaran antara CO2 dengan O2 di dalam darah.

Pertukaran antara CO2 dengan O2 ini akan membuat darah yang masuk ke atrium kiri menjadi kaya dengan kandungan O2. Darah mengair dari paru- paru ke atrium atau serambi kiri melalui vena pulmonalis. Kemudian darah yang kaya dengan O2 akan masuk ke ventrikel kiri.

Ventrikel kiri memiliki dinding yang lebih tebal dibandingkan dengan dinding ventrikel kanan. Hal ini sesuai dengan fungsi dari ventrikel kiri yaitu untuk memompa darah ke seluruh tubuh.

Peredaran Darah Besar (Peredaran Darah Sistemik)

Peredaran darah besar adalah peredaran darah dari jantung ke seluruh tubuh, kecuali paru paru. Peredaran darah besar dimulai dari bilik kiri jantung menuju ke tubuh bagian atas dan bagian bawah dengan membawa oksigen ke seluruh sel- sel tubuh. Selanjutnya, darah masuk kembali ke jantung melalui serambi kanan dengan membawa karbon dioksida.

Peredaran Darah Besar Sistemik, Aorta, Vena, Arteri
Peredaran Darah Besar Sistemik, Aorta, Vena, Arteri

Peredaran darah besar dimulai ketika vertikel kiri memompa darah agar mengalir ke seluruh tubuh.  Darah yang kaya O2 akan meninggalkan ventrikel kiri melalui aorta. Aorta adalah pembuluh darah terbesar yang bercabang tiga. Cabang pertama aorta adalah arteri koronaria yang akan membawa aliran darah menuju otot -otot jantung.

Cabang kedua aorta adalah arteri yang menuju ke anggota tubuh bagian atas yaitu kepala, dada, dan lengan. Adapun cabang ketiga aorta adalah arteri yang menuju ke anggota tubuh bagian bawah yaitu perut dan kaki.

Pada setiap organ tubuh, memiliki jaringan jaringan kapiler yang berhubungan dengan venula yang akan mengembalikan darah menuju jantung melalui vena.

Darah yang kaya dengan kandungan CO2 yang berasal dari anggota tubuh bagian atas akan masuk ke jantung melalui vena cava superior. Sedangan darah yang kaya dengan kandungan CO2 yang berasal dari anggota tubuh bagian bawah akan masuk ke jantung melalui vena cava inferior. Kedua vena cava tersebut mengalirkan darah menuju atrium kanan. Dari atrium kanan, darah akan kembali ke ventrikel kanan.

Pada sistem peredaran darah besar, ada suatu sistem peredaran darah yang disebut sistem porta hepatica. Dalam sistem porta ini, sebelum darah kembali ke jantung darah terlebih dahulu masuk ke dalam hati untuk dibersihkan dari racun-racun yang diserap oleh usus halus. Selanjutnya, darah kembali ke jantung melalui pembuluh balik (vena).

Contoh Soal Ujian Sistem Peradaran Manusia

Daftar Pustaka:

  1. Starr, Cecie. Taggart, Ralph. Evers, Christine. Starr, Lisa, 2012, “Biologi Kesatuan dan Keragaman Makhluk Hidup”, Edisi 12, Buku 1, Penerbit Salemba Teknika, Jakarta.
  2. Fatehiyah. Arumingtyas, Laras, Estri. Widyarti, Sri. Rahayu, Sri, 2011, “Biologi Molekular, Prinsip Dasar Analisis”, PT Penerbit Erlangga Jakarta.
  3. Kimballl, J.W., Siti Soetarmi Tjitro dan Nawangsari Sugiri,1983, “Biologi”, Jilid 1, Edisi Kelima, Penerbit Erlangga, Jakarta.
  4. Kimballl, J.W., Siti Soetarmi Tjitro dan Nawangsari Sugiri. 1983, “Biologi”, Jilid 2, Edisi Kelima, Erlangga, Jakarta.
  5. Schlegel, H.G., 1994, “Mikrobiologi Umum”, Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.
  6. Hartanto, L.N., 2004, “Biologi Dasar”, Edisi Ketiga, Penerbit Penebar Swadaya, Yogyakarta.
  7. Ardra.Biz, 2019, “================

Sistem Pertahanan Tubuh Nonspesifik: Eksternal, Internal Mukosa, Sel Fagosit,

Pengertian. Secara garis besar, sistem pertahanan tubuh dibedakan menjadi system pertahanan tubuh nonspesifik dan system pertahanan tubuh spesifik.

Sistem pertahanan tubuh nonspesifik tidak membedakan mikroorganisme patogen satu dengan pathogen yang lainnya. Sistem ini merupakan pertahanan pertama tubuh dalam melawan sumber penyakit atau infeksi. Pathogen adalah mikroorganisme yang dapat menimbulkan penyakit.

System pertahanan tubuh spesifik bekerja hanya jika patogen tertentu memasuki tubuh dan telah melewati sistem pertahanan tubuh nonspesifik internal.

Sistem Pertahanan Tubuh Nonspesifik

Sistem pertahanan tubuh nonspesifik merupakan sistem pertahanan tubuh yang tidak membedakan mikroorganisme pathogen satu dengan yang lainnya.

Tubuh dapat melindungi diri tanpa harus terlebih dulu mengenali atau menentukan identitas organisme penyerang. Artinya, system pertahanan tubuh nonspesifik langsung bekerja dengan memberi perlawanan ketika ada benda asing (atau antigen) yang akan masuk tubuh.

Antigen (antibody generating) adalah zat yang dapat memicu dibentuknya antibodi. Patogen memiliki antigen yang berbeda-beda. Antigen dapat berupa karbohidrat, lemak, atau protein.

Sistem pertahanan tubuh nonspesifik terdiri dari dua jenis, yaitu eksternal dan internal.

Sistem Pertahanan Tubuh Nonspesifik Eksternal

Sistem pertahanan tubuh nonspesifik eksternal meliputi jaringan epitel, mukosa, dan sekresi jaringan tersebut.

Pertahan Nonspesifik Kulit

Pertahanan tubuh terbesar yang dimiliki manusia untuk menjaga tubuh dari infeksi adalah kulit. Permukaan kulit mampu mencegah mikroorganisme patogen untuk tidak memasuki tubuh.

Kulit merupakan garis pertahanan pertama tubuh terhadap serangan patogen. Kulit yang utuh terdiri atas epidermis yang tersusun atas sel-sel epitel yang sangat rapat. Dengan demikian kulit menjadi sulit ditembus oleh bakteri dan virus atai pathogen lainnya.

Namun demikian, adanya kerusakan pada kulit walaupun berukuran kecil dapat menjadi jalan masuk bakteri dan virus ke dalam tubuh.

lapisan sel-sel yang mati membuat permukaan kulit selalu berganti sehingga bakteri yang berada di permukaan kulit tersebut juga selalu terbuang dengan sel yang mati.

Pertahan Nonspesifik Mukosa

Membran mukosa terdapat pada saluran pencernaan, pernapasan, dan saluran kelamin. Membran mukosa ini berfungsi sebagai penghalang mikroorganisme agar tidak dapat memasuki tubuh.

Membran mukosa tidak dapat ditembus oleh bakteri dan virus karena antara satu membran dan membran lain sangat rapat.

Pertahan Nonspesifik Sekresi Jaringan Kulit dan Mukosa

Selain sebagai penghalang secara fisik, jaringan epitel kulit dan jaringan mukosa menghalangi mikroorganisme patogen dengan pertahanan kimiawi. Sekresi yang dilakukan oleh kelenjar lemak dan kelenjar keringat pada kulit akan menghasil keasaman (pH) permukaan kulit sekitar 3 – 5. Dengan kondisi yang cukup asam ini, kulit akan mampu mencegah banyak mikroorganisme untuk tidak hidup di kulit.

Jaringan epitel dapat mensekresikan air liur dan air mata, sedangkan mukosa dapat mensekresikan mucus. Hasil sekresi ini digunakan untuk melawan dan membunuh bibit penyakit yang berbahaya.

Kulit mampu mensekresikan protein anti mikroba seperti lisosim. Lisozim merupakan suatu enzim yang dapat menguraikan dinding sel bakteri.

Membran mukosa menghasilkan mukus yang merupakan cairan kental untuk mengikat dan menggumpalkan bakteri. Gumpalan ini kemudian akan dibuang oleh tubuh dalam bentuk cairan kental.

Sistem Pertahanan Tubuh Nonspesifik Internal

Sistem Pertahanan kedua dilakukan oleh System pertahanan nonspesifik internal meliputi pertahanan tubuh yang dipicu oleh sinyal kimia (kemotaksis) dan menggunakan protein antimikroba serta sel fagosit.

Sistem pertahanan tubuh nonspesifik internal ini menyerang semua mikroba atau zat asing atau pathogen yang dapat melewati pertahanan terluar tubuh.

Sistem Pertahanan Tubuh Nonspesifik Internal Sel Fagosit

Sel-sel fagositosit selalu beredar dalam jaringan, pembuluh darah dan sistem limfa. Setelah beredar ke jaringan, sel-sel fagositosit tidak kembali ke pembuluh darah, tetapi ke sistem limfa.

Sel-sel fagosit menelan dan mencerna (fagositosis) benda asing yang masuk ke dalam tubuh.

Fagositosis dilakukan oleh sel darah putih. Jenis-jenis sel darah putih yang dapat melakukan fagositosis adalah neutrofil, monosit, eosinofil, dan sel pembuluh alami (natural killer, NK).

Sel Neutrofil

Sel neutrifil memiliki plasma yang bersifat netral, inti selnya berjumlah banyak dengan bentuk yang beragam. Neutrofil merupakan fagositosis terhadap patogen, dan jaringan mati.

Jumlah Neutrofil dalam darah putih antara 60 sampai dengan 70 persen. Sel neutrofil akan mendekati sel yang diserang mikroba atau pathogen setelah ada sinyal kimiawi (atau kemotaksis).

Neutrofil akan meninggalkan peredaran darah menuju jaringan yang terinfeksi dan membunuh mikroba penyebab infeksi. Sel neutrofil akan ikut mati setelah mampu menghancurkan mikroba atau pathogen.

Sel Monosit

Monosit dapat bergerak seperti Amoeba dan mempunyai inti yang bulat/ bulat panjang. Monosit diproduksi pada jaringan limfa dan bersifat fagosit.

Jumlah Sel monosit hanya sekitar 5 persen dari seluruh sel darah putih. Sel monosit akan memberikan pertahanan fagosit yang cukup efektif.

Sel monosit yang sudah matang akan bersirkulasi dalam darah untuk beberapa jam. Kemudian, Sel monosit bergerak menuju jaringan dan berubah menjadi makrofag yaitu sel fagositosis yang besar.

Makrofaga melakukan fungsinya dengan memperpanjang kaki pseudopodia untuk menarik mikroba dan menelannya. Di dalam sel makrofaga, mikroba kemudian akan dicerna oleh enzim lisosom.

Sel Eosinophil

Plasmanya bersifat asam dan bersifat fagosit. jumlahnya akan meningkat ketika tubuh terkena infeksi.

Jumlah Eosinofil  dalam sel darah putih hanya sekitar 1,5 persen. Eosinofil memiliki aktivitas fagositosit yang terbatas, namun mengandung enzim penghancur di dalam granul sitoplasmanya.

Eosinofil berperan dalam pertahanan tubuh terhadap cacing parasit. Eosinofil memposisikan diri di permukaan cacing dan menyekresikan enzim dari granul untuk membunuh cacing tersebut.

Sistem Pertahanan Tubuh Imunitas Nonspesifik Internal Protein Antimikroba

Protein yang berperan dalam sistem pertahanan tubuh nonspesifik disebut dengan sistem komplemen. Protein komplemen dapat secara langsung membunuh mikroorganisme ataupun mencegah reproduksinya.

Terdapat sekitar 20 jenis protein yang termasuk dalam sistem komplemen protein ini. Contoh jenis protein komplemen adalah Histamin dan interleukin..

Protein komplemen beredar bersama aliran darah dalam bentuk tidak aktif. Jika beberapa molekul dari satu jenis protein komplemen aktif, maka akan memicu terjadinya reaksi dari protein lain yang tidak aktif

Protein komplemen aktif akan mengaktifkan banyak molekul komplemen lainnya. Setiap molekul yang teraktifkan, akan mengaktifkan jenis protein komplemen lain dan begitu seterusnya.

Aktivasi protein komplemen terjadi jika protein komplemen tersebut berikatan dengan protein yang disebut antigen. Antigen telah dimiliki oleh patogen. Aktivasi dapat terjadi ketika protein komplemen berikatan langsung dengan permukaan bakteri.

Beberapa protein komplemen dapat bersatu membentuk pori kompleks yang menginduksi lisis (kematian sel) pada patogen.

Beberapa protein komplemen yang teraktifkan akan menyebabkan terjadinya respons dari system pertahanan tubuh nonspesifik yang disebut peradangan (atau inflamasi). Selain itu, protein komplomen ini akan menarik sel sel fagosit menuju sel atau jaringan yang rusak.

Peradangan

Ketika mikroba mampu merusak jaringan tubuh, maka sel-sel jaringan yang telah rusak tersebut akan mengirimkan sinyal. Sinyal pertama adalah histamin yang mengakibatkan terjadinya peradangan, sedangkan sinyal yang kedua adalah interferon yang akan menyiapkan sel-sel lain.

Histamin

Sinyal yang dikirim oleh sel yang rusak atau terinfeksi akan diterima oleh sel darah putih jenis basophil. Kemudian Basophil akan melepaskan histamin ke jaringan.

Histamin ini akan menyebabkan pembuluh darah prakapilker sekitar jaringan menjadi besar, sedangkan pembuluh vena menjadi kecil. Keadaann ini, menyebabkan jaringan mengalami pembengkakan atau peradangan.

Peradangan ini mengakibatkan terjadinya demam pada tubuh. Deman terjadi karena sel sel leukosit melepaskan senyawa pirogen. Senyawa pirogen akan merangsang tubuh untuk menaikkan suhu dengan tujuan untuk meningkatkan pertahanan tubuh, menghambat pertumbuhan beberapa jenis mikroba, memudahkan fagositosis, mempercepat reaksi tubuh, dan mempercepat perbaikan jaringan.

Interferon

Interferon merupakan senyawa kimia spesifik yang dimiliki setiap spesies dan diproduksi oleh sel yang terkena serangan virus. Interferon berfungsi mengaktifkan sel-sel yang dekat dengan sel yang telah terkena serangan virus agar dapat menghadapi serangan virus patogen. Dengan adanya sinyal interferon ini sel tersebut  akan melawan serangan virus.

Respons Tubuh pada Sistem Pertahanan Tubuh Nonspesifik

Infeksi yang disebabkan oleh mikroba patogen akan direspons oleh tubuh dengan membentuk peradangan (inflamasi) yang disertai dengan demam. Radang merupakan reaksi tubuh terhadap kerusakan sel-sel tubuh yang disebabkan oleh infeksi, zat-zat kimia, ataupun gangguan fisik lainnya, seperti benturan dan panas.

Gejala yang timbul saat radang dapat berupa sakit, panas bengkak, kulit memerah dan gangguan fungsinya pada daerah yang terkena radang. Contoh bentuk peradangan adalah Bisul, bengkak, dan gatal.

Demam merupakan salah satu respons tubuh akibat terjadinya  peradangan. Ketika demam, suhu tubuh akan naik sampai melebihi suhu tubuh normal. Bakteri, virus, sel- sel kanker, dan sel- sel yang mati akan menghasilkan zat yang disebut pyrogenexogen.

Zat pyrogenexogen merangsang makrofag dan monosit mengeluarkan zat pyrogen-endogen yang merangsang hipotalamus menaikkan suhu tubuh sehingga timbul perasaan dingin, menggigil, dan suhu tubuh yang meningkat.

Suhu tubuh yang tinggi menguntungkan karena bakteri dan virus akan lemah sehingga mati pada suhu tinggi. Metabolisme, reaksi kimia, dan sel-sel darah putih akan lebih aktif dan cepat sehingga mempercepat penyembuhan.

Namun, terdapat efek lain dari naiknya suhu tubuh ini. Sakit kepala, pusing, lesu, kejang, dan kerusakan otak permanen yang membahayakan tubuh dapat terjadi akibat naiknya suhu tubuh.

Contoh Soal Ujian Sistem Pertahanan Tubuh Nonspesifik

Berikut ini yang termasuk pertahanan pada permukaan tubuh adalah ….

  1. kulit dan membran mukosa
  2. air mata dan air liur
  3. bakteri flora normal tubuh
  4. urine
  5. semua jawaban benar

Bakteri yang masuk ke dalam tubuh dihancurkan oleh ….

  1. IgA
  2. Sel T pembantu
  3. Antibiotik
  4. Fagosit
  5. Histamin

Naiknya suhu tubuh saat demam bertujuan ….

  1. mempercepat perkembangbiakan bakteri
  2. mempercepat metabolisme
  3. mempercepat kerja sel fagosit
  4. jawaban b dan c benar
  5. jawaban a, b, dan c benar

Demam yang terlalu tinggi membahayakan tubuh karena ….

  1. metabolisme terlalu cepat
  2. melemahkan virus dan bakteri
  3. melemahkan sel fagosit
  4. merusak jaringan saraf
  5. merusak sel otot

Daftar Pustaka:

  1. Starr, Cecie. Taggart, Ralph. Evers, Christine. Starr, Lisa, 2012, “Biologi Kesatuan dan Keragaman Makhluk Hidup”, Edisi 12, Buku 1, Penerbit Salemba Teknika, Jakarta.
  2. Fatehiyah. Arumingtyas, Laras, Estri. Widyarti, Sri. Rahayu, Sri, 2011, “Biologi Molekular, Prinsip Dasar Analisis”, PT Penerbit Erlangga Jakarta.
  3. Kimballl, J.W., Siti Soetarmi Tjitro dan Nawangsari Sugiri,1983, “Biologi”, Jilid 1, Edisi Kelima, Penerbit Erlangga, Jakarta.
  4. Kimballl, J.W., Siti Soetarmi Tjitro dan Nawangsari Sugiri. 1983, “Biologi”, Jilid 2, Edisi Kelima, Erlangga, Jakarta.
  5. Schlegel, H.G., 1994, “Mikrobiologi Umum”, Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.
  6. Hartanto, L.N., 2004, “Biologi Dasar”, Edisi Ketiga, Penerbit Penebar Swadaya, Yogyakarta.
  7. Ardra.Biz, 2019, “ ==================

Saraf Somatik Otonom Simpatetik dan Parasimpatetik

Pengertian. Tubuh manusia memiliki dua sistem susunan saraf, yaitu system saraf pusat dan sistem saraf tepi. Sistem saraf pusat terdiri dari otak dan sumsum tulang belakang. Sedanglakn Sistem saraf tepi berfungsi menghubungkan sistem saraf pusat dengan organ yang terdapat dalam tubuh.  Di dalam sistem saraf tepi inilah, neuron sensorik dan motorik bekerja.

Sistem saraf tepi berfungsi menyampaikan informasi ke dan dari pusat pengatur. Sistem saraf tepi pada dasarnya terdiri dari lanjutan sel saraf. Sel-sel saraf ini berfungsi membawa impuls saraf atau rangsang saraf menuju dan dari sistem saraf pusat.

Berdasarkan fungsi dan impuls saraf yang dibawanya, sistem saraf tepi dibagi menjadi dua, yaitu sistem saraf aferen (sistem saraf sensoris) dan sistem saraf eferen (system saraf motoris).

a) Sistem saraf aferen,

Sistem saraf aferen tersusun atas neuron yang membawa implus dari reseptor menuju sistem saraf pusat.

b) Sistem saraf eferen,

sistem saraf eferen tersusun atas neuron yang membawa impuls dari sistem saraf pusat menuju efektor.

System saraf tepi dibentuk oleh dua tipe sel saraf, yaitu sel saraf somatik dan sel saraf otonom. Baik sel saraf somatik maupun sel saraf otonom dibentuk oleh sistem saraf sensorik dan motoric. Sel saraf tepi merupakan perantara impuls antartubuh dengan sistem saraf pusat.

Sistem Saraf Sadar Somatik

Sistem saraf somatik membawa impuls pesan dari organ reseptor tubuh menuju sistem saraf pusat. Sistem saraf somatis bekerja secara sadar.

Sistem saraf sadar disebut juga system saraf somatic tersusun atas saraf kranial (menuju atau berasal dari otak) dan saraf spinal (menuju atau berasal dari sumsum tulang).

Saraf Kranial

Sistem saraf kranial dibangun oleh 12 pasang saraf yang keluar dari otak. Saraf kranial berhubungan dengan reseptor dan efektor untuk daerah kepala, di antaranya mata, telinga, hidung, lidah, dan wajah.

Meskipun saraf kranial tampaknya hanya merespons rangsang di sekitar kepala, ada beberapa pasang saraf yang merespons kotak suara, pangkal tenggorokan, detak jantung, paru-paru, dan saluran pencernaan.

Saraf Spinal

Sumsum tulang belakang membentuk banyak pasangan saraf. Setiap pasang saraf ini merespons rangsang kegiatan tubuh, di luar daerah kepala. Seluruh saraf spinal merupakan gabungan saraf sensorik (aferen) dan motoric (eferen). Saraf spinal berhubungan dengan sistem kerja saraf otonom

System saraf spinal dibangun oleh 31 pasang saraf yang keluar dari sumsum tulang belakang. Saraf spinal menangani reseptor dan efektor lainnya yang berada dalam tubuh.

Saraf spinal merupakan gabungan neuron sensorik dan motorik. Semua saraf sensorik masuk ke sumsum tulang belakang melalui akar dorsal, dan semua dendritnya berasal dari reseptor.

Sedangkan semua saraf motorik keluar dari sumsum tulang belakang, melalui akar ventral dan semua neuritnya menuju ke efektor.

Sistem Saraf Tidak Sadar (Otonom)

Saraf yang mengendalikan gerakan organ dalam (visceral) tubuh secara otomatis dan tidak di bawah kehendak saraf pusat disebut saraf otonom. Sistem saraf otonom biasanya disebut sebagai sistem motor.

System saraf otonom bekerja di luar kesadaran dan memengaruhi kerja otot organ dalam, seperti usus halus, keringat, pencernaan, dan sekresi hormon dan enzim oleh kelenjar dan denyut jantung . Sistem saraf otonom dibentuk oleh saraf sensorik dan saraf motorik.

Sistem saraf otonom dibangun oleh sistem saraf simpatetik dan sistem saraf parasimpatetik.

1). Saraf Simpatetik

Saraf simpatetik adalah saraf yang berpangkal pada sumsum tulang belakang (medula spinalis) di daerah dada dan pinggang. Fungsi Saraf simpatetik umumnya bekerja untuk memacu atau mempercepat kerja organ-organ tubuh.

Saraf simpatetik memiliki ganglion yang terletak di sepanjang tulang punggung dan menempel pada sumsum tulang belakang. Saraf simpatetik memiliki serabut praganglion yang pendek dan serabut pascaganglion yang panjang.

2) Saraf Parasimpatetik

Saraf parasimpatetik adalah saraf yang berpangkal pada sumsum lanjutan (atau medula oblongata) dan dari sakrum yang merupakan saraf pre-ganglion dan post-ganglion. Fungsi saraf parasimpatetik umumnya bekerja untuk memperlambat atau menurunkan kerja organ-organ tubuh.

Susunan saraf parasimpatetik berupa susunan saraf yang berhubungan dengan ganglion-ganglion yang tersebar di seluruh tubuh.

Dari sini dapat dikatakan bahwa Sistem saraf simpatetik dan parasimpatetik bersifat antagonis. Bekerja pada organ target yang sama namun dengan hasik saling bertolak belakang.

Jika saraf simpatetik menyebabkan kontraksi pada suatu efektor, saraf parasimpatetik menyebabkan relaksasi pada efektor tersebut. Mekanisme kerja seperti itu bertujuan agar proses-proses di dalam tubuh berjalan dengan normal.

Sistem saraf parasimpatetik mengatur banyak sistem kerja tubuh, seperti mengendurkan laju detak jantung, penyempitan pupil, dan kontraksi kandung kemih.

Sementara itu, saraf simpatetik bekerja sebaliknya, seperti mempercepat detak jantung, pelebaran pupil, dan relaksasi kandung kemih.

Contoh pengaruh saraf simpatetik dan parasimpatetik terhadap efektor adalah saraf simpatetik menyebabkan kecepatan dan volume kecepatan jantung bertambah, sedangkan saraf parasimpatetik menyebabkan kecepatan volume kecepatan jantung berkurang.

Efek yang berbeda ini disebabkan neurotransmiter yang dihasilkan juga berbeda. Neurotransmiter saraf simpatetik adalah noradrenalin, sedangkan neurotransmiter saraf parasimpatetik adalah asetilkolin.

Jenis dan Fungsi Saraf Kranial

1 Saraf Olfaktori berfungsi dalam Penciuman

2 Saraf Optik berfungsi dalam Penglihatan

3 Saraf Okulomotor berfungsi untuk Pergerakan otot bola mata dan kelopak mata

4 Saraf Troklear berfungsi dalam Pergerakan otot bola mata

5 Saraf Trigeminal berfungsi dalam Sensoris: sensasi di wajah dan mulut; Motoris: mengunyah

6 Saraf Abdusena berfungsi dalam Pergerakan bola mata

7 Saraf Fasial berfungsi sebagai Sensoris: rasa (kecap), motorik: pergerakan di wajah dan kelenjar pencernaan

8 Saraf Auditori berfungsi dalam Pendengaran dan keseimbangan tubuh

9 Saraf Glosofaring berfungsi sebagai Sensoris: rasa (kecap), motorik: menelan

10 Saraf Vagus berfungsi untuk Pengontrol otot dan kelenjar di organ-organ dalam

11 Saraf Aksesoris berfungsi dalam proses Menelan dan pergerakan leher

12 Saraf Hipoglosal berfungsi dalam Pergerakan lidah

Contoh Soal Ujian Sel Saraf Somatik Otonom Simpatetik dan Parasimpatetik

Soal 1. Neuron yang berfungsi untuk menghantarkan impuls saraf dari alat indra menuju ke otak atau sumsum tulang belakang adalah ….

  1. neuron sensorik
  2. neuron motorik
  3. neuron bipolar
  4. neuron unipolar
  5. neuron konektor

Soal 2. Di bawah ini adalah organ-organ yang memiliki saraf otonom, kecuali ….

  1. jantung
  2. anggota gerak
  3. ginjal
  4. alat pernapasan
  5. sistem pencernaan

Soal 3. Susunan saraf otonom erat kaitannya dengan ….

  1. berpikir
  2. pencernaan
  3. mendengar
  4. melihat
  5. aktivitas di luar kesadaran

Soal 4. Saraf motorik membawa rangsangan dari ….

  1. alat-alat panca indra ke sarat parasimpatetik
  2. otot-otot ke susunan saraf simpatetik
  3. pusat saraf ke otot-otot
  4. alat-alat panca indra ke pusat saraf
  5. alat-alat indra ke saraf parasimpatetik

Soal 5. Bagian mata yang merupakan resptor cahaya adalah ….

  1. sklera
  2. retina
  3. vitreous humor
  4. kornea
  5. fovea

Daftar Pustaka:

  1. Starr, Cecie. Taggart, Ralph. Evers, Christine. Starr, Lisa, 2012, “Biologi Kesatuan dan Keragaman Makhluk Hidup”, Edisi 12, Buku 1, Penerbit Salemba Teknika, Jakarta.
  2. Fatehiyah. Arumingtyas, Laras, Estri. Widyarti, Sri. Rahayu, Sri, 2011, “Biologi Molekular, Prinsip Dasar Analisis”, PT Penerbit Erlangga Jakarta.
  3. Kimballl, J.W., Siti Soetarmi Tjitro dan Nawangsari Sugiri,1983, “Biologi”, Jilid 1, Edisi Kelima, Penerbit Erlangga, Jakarta.
  4. Kimballl, J.W., Siti Soetarmi Tjitro dan Nawangsari Sugiri. 1983, “Biologi”, Jilid 2, Edisi Kelima, Erlangga, Jakarta.
  5. Schlegel, H.G., 1994, “Mikrobiologi Umum”, Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.
  6. Hartanto, L.N., 2004, “Biologi Dasar”, Edisi Ketiga, Penerbit Penebar Swadaya, Yogyakarta.
  7. Ardra.Biz, 2019, “==============

Sel Saraf Sensorik Motorik Multipolar Bipolar: Jenis Fungsi Strukur

Pengertian. Sistem saraf merupakan sistem yang menyebabkan manusia dapat melakukan berbagai aktivitas seperti bekerja, berkomuniksi, makan, tertawa, berlari, duduk, dan melakukan sejumlah kegiatan lainnya yang berlangsung secara harmonis.

Bahkan ketika sedang tidur pun, sistem saraf tetap bekerja agar denyut jantung terus berdetak, dan paru-paru terus bernapas.

Fungsi Sistem Saraf Manusia

Beberapa fungsi sistem saraf pada manusia adalah sebagai berikut:

  1. Mengatur organ-organ atau alat-alat tubuh agar terjadi keserasian kerja.
  2. Menerima rangsangan sehingga dapat mengetahui dengan cepat keadaan dan perubahan yang terjadi di lingkungan sekitar.
  3. Mengendalikan dan memberikan reaksi terhadap rangsangan yang terjadi pada tubuh.

Sistem saraf tersusun atas berjuta-juta sel saraf yang mempunyai bentuk bervariasi. Sistem saraf menerima berjuta-juta informasi yang berasal dari berbagai organ. Semua rangsangan tersebut akan bersatu untuk memberikan respon.

Rangsangan dapat berasal dari dalam tubuh dan dari luar tubuh. Rangsang yang berasal dari luar tubuh dapat berupa bau, rasa (pahit, manis), sentuhan, cahaya, suhu, tekanan atau gaya berat. Sedangkan rangsang dari dalam tubuh berupa rasa lapar, kenyang, sakit, dan lelah.

Untuk bereaksi terhadap rangsangan, tubuh manusia memerlukan reseptor, system saraf, dan efektor. Dalam kegiatannya, saraf mempunyai hubungan kerja seperti mata rantai (berurutan) antara reseptor, sistem saraf, dan efektor.

Reseptor adalah satu atau sekelompok sel saraf dan sel lainnya yang berfungsi mengenali rangsangan tertentu yang berasal dari luar atau dari dalam tubuh. Sistem saraf berperan menerima, mengolah, dan meneruskan hasil olahan rangsangan ke efektor.

Efektor adalah sel atau organ yang menghasilkan tanggapan terhadap rangsangan. Efektor yang berperan penting dalam sistem regulasi adalah otot dan kelenjar.

Reseptor (penerima rangsang) dibagai menjadi dua yaitu

  1. Reseptor luar/eksoreseptor, berfungsi menerima rangsang bau, rasa, sentuhan, cahaya, suhu, dan lain-lain.
  2. Reseptor dalam/ interoreseptor, berfungsi menerima rangsang rasa lapar, kenyang, nyeri, kelelahan, dan lain-lain.

Struktur Sel Saraf (Neuron)

Sistem saraf tersusun atas sel-sel saraf yang disebut neuron. Sel-sel neuron terdiri dari   beberapa bagian yaitu badan sel (cell body), dendrit, dan neurit (akson).

Sel Saraf Neuron Badan Sel (cell body), Dendrit, dan Neurit (akson). Mielin, Sel Schwann,
Gambar Struktur Sel Saraf Neuron Badan Sel (cell body), Dendrit, dan Neurit (akson). Mielin, Sel Schwann,

a). Badan Sel

Badan sel atau cell body berwarna kelabu, dan terdiri dari membran sel, sitoplasma (neuroplasma), nukleus, nukleolus, dan reticulum endoplasma. Retikulum endoplasma yang mengelompok pada sel saraf disebut badan nissl. Nissl merupakan modifikasi dari retikum endoplasma kasar.

Pada badan sel terdpat dua jenis serabut saraf, yaitu serabut dendrit dan akson (atau neurit).

b). Dendrit

Dendrit merupakan kelanjutan atau percabangan atau penjuluran dari badan sel saraf. Fungsi Dendrit adalah menerima impuls yang datang dari ujung akson lain, selanjutnya membawa impuls tersebut ke dalam badan sel saraf. Dendrit disebut juga serabut pendek neuron.

c). Neurit atau Akson

Neurit (akson) disebut juga sebagai serabut panjang neuron. Fungsi Neurit adalah meneruskan impuls yang berasal dari badan sel saraf ke sel-sel saraf yang lain.

Bagian badan sel saraf yang berhubungan dengan akson berbentuk segitiga dinamakan akson hillcok.

Akson memiliki bagian- bagian yang spesifik, yaitu sebagai berikut.

1) Neurofibril

Neurofibril merupakan bagian terdalam dari akson yang berupa serabut serabut halus. Bagian bagian Neurofibril inilah yang memiliki fungsi utama atau pokok untuk meneruskan implus.

2) Selubung Mielin

Selubung Mielin terbentuk dari sel-sel pipih yang disebut sel Schwann. Selubung mielin merupakan bagian paling luar dari akson yang berfungsi untuk melindungi akson.

Mielin juga berfungsi memberikan nutrisi dan bahan-bahan yang diperlukan untuk mempertahankan kegiatan dari akson.

3) Nodus Ranvier

Nodus ranvier merupakan bagian akson yang menyempit dan tidak dilapisi selubung mielin. Nodus Ranvier terbentuk dari sel-sel pipih. Dengan adanya Nodus Ranvier ini, bagian akson tampak menjadi berbuku-buku. Fungsi Nodus ranvier adalah  mempercepat jalannya impuls.

Ujung neurit disebut terminal akson atau terminal percabangan yang akan bertemu dengan ujung dendrit sel neuron yang lain. Pertemuan kedua ujung sel neuron yang berbeda disebut dengan sinapsis.

Jenis Sel Saraf (Neuron)

Berdasarkan struktur dan fungsinya, sel saraf (neuron) dibagi menjadi tiga kelompok, yaitu sel saraf sensori, sel saraf motorik, dan sel saraf intermediet (asosiasi).

Sel Saraf Sensorik (neuron aferen)

Sel saraf sensorik berfungsi menerima rangsang dari luar untuk dihantarkan menuju sel saraf berikutnya, kemudian meneruskan impuls sarat ke pusat saraf, yaitu otak atau sumsum tulang belakang.

Badan sel dari neuron sensori ini bergerombol membentuk ganglia. Bagian dendrit berhubungan langsung dengan alat indera (reseptor). Sel saraf ini sangat berhubungan erat dengan alat indra, sehingga disebut juga saraf indra.

Sedangkan bagian aksonnya berhubungan dengan sel saraf yang lain. Akson akan berakhir di interneuron atau saraf asosiasi ( intermediet).

Sel Saraf Motoric (neuron efektor)

Sel saraf motoric berfungsi untuk menerima rangsang atau pesan dari pusat saraf yaitu otak (ensefalon) dan sumsum tulang belakang (medula spinalis) dan meneruskan impulsnya ke efektor.

Efektor adalah bagian tubuh yang melakukan kontraksi misalnya ke otot atau kelenjar sebagai respons terhadap rangsang. Sel saraf motorik memiliki badan sel yang terletak di dalam pusat saraf.  Dendritnya berukuran pendek, sedangkan neuritnya berukuran relative panjang.

Sel Saraf Intermediet atau neuron internunsial atau intercalated atau Interneuron

Sel saraf intermediet atau penghubung, terletak di pusat saraf.  Sel saraf intermediet berfungsi untuk  menghubungkan sel-sel saraf tepi (sensorik ataupun motorik) atau mengghubungkan ke sel saraf lainnya yang ada di dalam system saraf pusat.

Sel saraf penghubung memiliki bentuk berukuran pendek. Neurit dan dendrit ukurannya sama. Dendritnya terhubung dengan ujung saraf sensorik, dan terhubung dengan dendrit saraf motorik.

Saraf penghubung atau intermediet menerima impuls saraf dari saraf sensorik, kemudian meneruskan impuls tersebut ke pusat saraf. Setelah pusat saraf menerjemahkan impuls saraf menjadi sebuah pesan, selanjutnya pesan tersebut diteruskan oleh saraf penghubung melalui aksonnya kepada saraf motoric

Berdasarkan tempatnya, neuron penghubung atau asosiasi dibedakan menjadi dua, yaitu :

1) Neuron konektor

Merupakan penghubung antara neuron yang satu dan neuron yang lain.

2) Neuron ajustor

Merupakan penghubung antara neuron sensorik dan neuron motoric yang terdapat di dalam otak dan sumsum tulang belakang.

Berdasarkan struktur dendrit dan akson, neuron dapat dibagi menjadi Neuron multipolar, Neuron bipolar, Neuron unipolar

Jenis Sel Saraf Neuron Multipolar Bipolar Unipolar,
Jenis Sel Saraf Neuron Multipolar Bipolar Unipolar,

Neuron Multipolar

Neuron multipolar adalah sel saraf (neuron) yang mempunyai beberapa dendrit tetapi hanya memiliki satu akson. Contoh neuron multipolar adalah Sebagian besar neuron- neuron otak dan sumsum belakang.

Multi artinya banyak, dan polar artinya kutub. Pengetian kutub pada multipolar adalah bagian yang keluar atau menjulur dari badan sel). Pada multipolar yang keluar atau menjulur dari badan sel adalah beberapa dendrit dan satu akson.

Jadi neuron multipolar adalah sel saraf yang memiliki banyak kutub yaitu kutub berupa beberapa dendrit  dan satu kutub berupa akson.

Neuron Bipolar

Neuron bipolar adalah sel saraf (neuron) yang hanya memiliki satu dendrit dan memiliki satu akson. Contoh neuron bipolar adalah yang ditemukan di dalam retina mata, hidung dan ganglion spiralis dari telinga dalam.

Bi artinya dua, sedangkan polar adalah kutub. Yang menjadi kutub pada neuron bipolar adalah satu dendrit dan satu akson. Jadi neuron bipolar adalah sel saraf yang memiliki dua kutub yaitu satu kutub berupa dendrit dan satu kutub berupa akson

Neuron Unipolar

Neuron unipolar adalah sel saraf (neuron) yang hanya memiliki satu penjuluran, yaitu satu akson, Sel saraf neuron jenis ini sangat langka, dan hanya ditemukan pada embrio.

Uni artinya satu. Jadi neuron unipolar adalah sel saraf yang mempunyai satu kutub. Hanya ada satu yang keluar menjulur dari badan sel. Satu kutub ini kemudian bercabang menjadi dua akson yaitu akson sentral dan akson peripheral.

Mekanisme Penghantar Impuls

Impuls dapat ditransmisikan melalui beberapa cara, di antaranya adalah melalui sel saraf dan sinapsis.

Penghantaran Impuls Melalui Sel Saraf

Impuls saraf atau rangsang saraf adalah pesan saraf yang dialirkan sepajang akson dalam bentuk gelombang listrik. Jika sebuah saraf tidak menghantarkan impuls, maka serabut saraf terebut dalam keadaan istirahat.

Sifat sel saraf adalah pada permukaan bagian luar sel bermuatan positif dan bagian dalam bermuata negative. Jika sel saraf mendapat rangsangan, maka akan terjadi perubahan muatan pada kedua permuakaan sel saraf tersebut. Permukaan bagian luar sel bermuatan negative, sedangkan bagian dalam sel bermuata positif, keadaan ini disebut depolarisasi.

Potensial Listrik Permukaan Membran Sel Saraf, Perambatan Impuls Akson
Potensial Listrik Permukaan Membran Sel Saraf, Perambatan Impuls Akson

Pengiriman atau penghantaran impuls baik rangsangan ataupun tanggapan yang melalui serabut saraf (akson) dapat terjadi karena adanya perbedaan potensial listrik antara bagian luar dan bagian dalam sel.

Pada saat sel saraf beristirahat, kutub positif terdapat di bagian luar dan kutub negatif terdapat di bagian dalam sel saraf. Potensial listrik ketika sel saraf dalam kondisi istirahat disebut potensial istirahat. Dan ketika sedang aktif, kutub positif berada di bagian dalam dan kutub negative berada di bagian luar. Potensial listrik ketika sel saraf sedang aktif disebut potensial aktif.

Rangsangan (atau stimulus) pada indra menyebabkan terjadinya perubahan kutub potensial listrik sesaat. Perubahan potensial (disebut depolarisasi) terjadi berurutan sepanjang serabut saraf.

Depolarisasi menyebabkan bagian luar sel bermuatan negative, sedangkan bagian dalam sel bermuatan positif.

Antara daerah yang mengalami depolarisasi dengan daerah yang mengalami polarisasi timbul aliran listrik. Aliran listrik ini disebut arus local. Adanya arus lokal ini mengakibatkan depolarosasi di daerah sebelahnya. Kemudian diikuti arus local dan depolarisasi di daerah sebelahnya lagi, demikian seterusnya.

Depolarisasi akan menjalar atau merambat sepanjang serabut saraf, hal ini disebut impul ssaraf.

Kecepatan perjalanan gelombang menyebabkan perbedaan potensial bervariasi antara 1 sampai dengan 120 m per detik. Kecepatan hantaran ini tergantung pada diameter akson dan ada atau tidaknya selubung mielin.

Ketika impuls telah lewat, maka untuk sementara serabut saraf tidak dapat dilalui oleh impuls. Hal ini dikarenakan terjadinya perubahan potensial yang kembali seperti potensial semula yaitu potensial istirahat.

Agar dapat berfungsi kembali maka dibutuhkan waktu antara 1/500 sampai  dengan1/1000 detik. Energi yang digunakan dalam proses pengiriman rangsang berasal dari hasil pernapasan sel yang dilakukan oleh mitokondria dalam sel saraf.

Rangsangan atau Stimulasi yang kurang kuat atau di bawah ambang batas (threshold) tidak akan menghasilkan impuls yang dapat merubah potensial listrik. Namun jika kekuatan impuls di atas ambang, maka impuls akan dilewatkan atau sampai ke ujung akson.

Rangsangan atau stimulasi yang kuat dapat menghasilkan jumlah impuls yang lebih besar pada periode waktu tertentu daripada stimulasi yang lemah.

Penghantaran Impuls Melalui Sinapsis

Sinapsis adalah Titik temu antara terminal akson dari salah satu sel saraf (neuron) dengan neuron lainnya.

Setiap terminal akson membengkak membentuk tonjolan sinapsis. Di dalam sitoplasma, tonjolan sinapsis memiliki struktur yang merupakan kumpulan membran kecil yang berisi neurotransmiter dan disebut dengan vesikula sinapsis.

Neuron yang berakhir pada tonjolan sinapsis disebut neuron prasinapsis. Membran ujung dendrit dari sel berikutnya yang membentuk sinapsis disebut postsinapsis.

Setelah impuls sampai pada ujung neuron, maka vesikula bergerak dan melebur dengan membran prasinapsis. Vesikula akan melepaskan neurotransmiter berupa asetilkolin.

Neurotransmiter adalah suatu zat kimia yang dapat melewatkan impuls dari neuron prasinapsis ke postsinapsis.

Neurotransmiter terdiri dari beberapa jenis, misalnya asetilkolin yang terdapat di seluruh tubuh, noradrenalin terdapat di sistem saraf simpatik, dan dopamine serta serotonin yang terdapat di otak.

Kemudian Asetilkolin akan berdifusi melewati celah sinapsis dan menempel pada reseptor di membran postsinapsis. Akibat menempelnya asetilkolin pada reseptor akan menimbulkan impuls pada sel saraf berikutnya.

Ketika asetilkolin sudah menyelesaikan fungsinya, maka akan diurai oleh enzim asetilkolinesterase yang dihasilkan oleh membran postsinapsis Pada Sel otot.

Enzim ini menyebabkan asetilkolin tidak aktif dan sel otot relaksasi. Sel otot akan berinteraksi kembali jika asetilkolin dilepaskan kembali oleh akson.

Jenis Jenis Neurotransmitter

Beberapa jensi neurotransmitter adalah sebagai berikut.

Asetilkolin

Asetilkolin banyak ditemukan di otak. Asetilkolin adalah satu- satunya neurotransmitter yang ditemukan di sinapsis dan otot.

Dopamin

Neurotransmitter merupakan neurotransmitter dikeluarkan oleh bagian neuron yang mengalami kerusakan. Dopamin banyak ditemukan pada sinapsis penderita penyakit Parkinson.

Penyakit Parkinson adalah jenis penyakit dengan ciri-ciri susah mengendalikan pergerakan dan goncangan pada tangan (tremor). Penyakit yang diderita oleh petinju legendaris Mohammad Ali,

Serotonin

Serotonin merupakan jenis neurotransmitter yang terletak di otak dan sumsum tulang belakang. Serotonin berfungsi dalam penghambatan impuls rasa sakit. Serotonin juga dapat  memengaruhi tidur dan perasaan manusia (mood).

Norepinefrin

Norepinefrin merupakan jeis neurotransmitter yang banyak dikeluarkan pada sinapsis yang berhubungan dengan alat kerja organ dalam, seperti jantung, hati, paru-paru, serta alat pencernaan. Struktur kimia Norepinefrin mirip dengan hormon adrenalin yang bekerja pada saat kondisi tubuh tertekan (stress).

Neuropeptida

Neuropeptida merupakan neurotransmitter yang banyak berpengaruh dalam pengaturan kondisi tubuh, seperti rasa lapar, temperatur tubuh, rasa marah, dan perasaan-perasaan lain yang ditimbulkan secara emosional. Contoh dari neuropeptida adalah opioid.

Faktor yang Mempengaruhi Kecepatan Rambat Impuls

Kecepatan rambat impuls dipengaruhi oleh beberapa factor yang di antaranya adalah sebagai berikut.

Diameter Serabut Saraf

Sel saraf yang memiliki diameter besar akan lebih cepat merambatkan impuls dibandingkan dengan sel saraf yang memiliki diameter kecil.

Selubung Mielin

Daerah akson yang tertutup mielin akan menghantarkan impuls lebih cepat dibandingkan dengan akson yag tidak tertutup mielin.

Temperatur

Hingga ambang batas tertentu, temperature yang lebih tinggi akan mempercepat pengiriman impuls dibandingkan ketika temperature rendah. Hal tersebut dibuktikan dengan lebih cepatnya perambatan impuls pada hewan homoioterm, seperti Mammalia dibandingkan hewan berdarah dingin poikiloterm, seperti Reptilia atau Amphibia.

Contoh Soal Ujian Sistem Jenis Fungsi Sel Saraf Sensorik Motorik Multipolar dan Bipolar

Soal 1. Sel-sel saraf akan saling berhubungan melalui ….

  1. neuron
  2. sinapsis
  3. akson
  4. dendrit
  5. sel Schwann

Soal 2. Prinsip dasar perambatan impuls pada sel saraf adalah karena ….

  1. perbedaan tekanan parsial
  2. perbedaan konsentrasi oksigen
  3. perbedaan konsentrasi ion pada membran sel
  4. neurotransmiter dari sel saraf
  5. hubungan antar sel saraf

Soal 3. Sel saraf yang sifatnya membawa rangsang dari pusat saraf menuju alat-alat panca indra disebut ….

  1. neuron
  2. motorik
  3. sensorik
  4. ganglion
  5. sensibel

Daftar Pustaka:

  1. Starr, Cecie. Taggart, Ralph. Evers, Christine. Starr, Lisa, 2012, “Biologi Kesatuan dan Keragaman Makhluk Hidup”, Edisi 12, Buku 1, Penerbit Salemba Teknika, Jakarta.
  2. Fatehiyah. Arumingtyas, Laras, Estri. Widyarti, Sri. Rahayu, Sri, 2011, “Biologi Molekular, Prinsip Dasar Analisis”, PT Penerbit Erlangga Jakarta.
  3. Kimballl, J.W., Siti Soetarmi Tjitro dan Nawangsari Sugiri,1983, “Biologi”, Jilid 1, Edisi Kelima, Penerbit Erlangga, Jakarta.
  4. Kimballl, J.W., Siti Soetarmi Tjitro dan Nawangsari Sugiri. 1983, “Biologi”, Jilid 2, Edisi Kelima, Erlangga, Jakarta.
  5. Schlegel, H.G., 1994, “Mikrobiologi Umum”, Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.
  6. Hartanto, L.N., 2004, “Biologi Dasar”, Edisi Ketiga, Penerbit Penebar Swadaya, Yogyakarta.
  7. Ardra.Biz, 2019, “==================

Indra Pengecap Rasa Lidah Manusia: Fungsi Jenis Struktur Papila Otot

Pengertian. Lidah berperan dalam pencernaan makanan secara mekanik. Lidah membantu dalam proses mengunyah, menelan, mengenali rasa, dan mengenali tekstur makanan. Lidah memiliki saraf yang sensitif terhadap panas, dingin, dan tekanan.

Struktur Lidah

Permukaan lidah dilapisi dengan lapisan epitelium yang banyak mengandung kelenjar lender dan reseptor pengecap (reseptor rasa) berupa tunas atau kuncup pengecap.

Kuncup atau tunas rasa merupakan reseptor yang sangat peka terhadap adanya rangsang yang berbentuk zat zat kimia. Reseptor untuk zat kimia disebut kemoreseptor.

Kuncup atau Tunas pengecap terdiri atas sekelompok sel sensori yang mempunyai tonjolan seperti rambut. Kuncup pengecap yang terdapat pada celah-celah tonjolan lidah disebut papila.

Ketika makanan masuk ke dalam kuncup pengecap, sel- sel reseptor rasa akan aktif dan mengirimkan impuls saraf.

Impuls saraf dikirim ke otak melalui neuron. Kemudian organ otak mengolah impuls menjadi bentuk rasa.

Setiap sensasi rasa yang diberikan akan diterima oleh reseptor di dalam kuncup pengecap yang akan membuat perbedaan potensial sehingga impuls saraf dapat dialirkan ke sistem saraf pusat.

Bagian otak yang menerima rangsangan ini adalah saraf kranial VII (fasial) dan saraf kranial IX (atau glosofaringeal).

Sensasi rasa yang diterima dari sistem saraf pengecap, biasanya berhubungan dengan kerja dari sistem saraf penciuman di hidung. Oleh karenanya, pada saat pilek dan indra penciuman tersumbat, makanan yang dimakan seakan tidak memiliki rasa.

Fungsi Lidah:

Beberapa fungsi yang dimiliki oleh indra pengecap lidah diantaranya adalah:

  1. Sebagai indra pengecap untuk merasakan makanan dan minuman manis, asin, asam, dan pahit.
  2. Membantu mengunyah makanan dan menggerakkannya ke seluruh rongga mulut.
  3. Membersihkan gigi-gigi dari makanan yang terselip di antara gigi.
  4. Membentuk suara pada waktu berbicara.
  5. Membantu menelan makanan
  6. Mencerna makanan dengan bantuan enzim lipase

Lidah berakar di rahang bawah, pada otot-otot geniohioid dan milohioid, dan pada tulang hioid di bagian atas leher. Indra pengecap hanya mampu mengecap 4 citarasa, yaitu manis, asin, asam, dan pahit.

Jenis Jenis Papila Lidah

Permukaan lidah bersifat kasar, karena memiliki tonjolan yang disebut papila. Menurut bentuknya papila dibedakan menjadi empat jenis, yaitu:

Funsgi Struktur Jenis Otot Indra Pengecap Lidah Manusia, Papila
Funsgi Struktur Jenis Otot Indra Pengecap Lidah Manusia, Papila

Papila Filiformis atau Papila Benang

Papila filiformis merupakan papilla berbentuk benang yang banyak dan menyebar pada seluruh permukaan lidah yang berfungsi untuk menerima rasa sentuh dari rasa pengecapan.

Papila Fungiformis atau Papila Jamur

Papila fungiformis merupakan papilla berbentuk tonjolan seperti kepala jamur, banyak terdapat pada bagian permukaan depan lidah dan bagian sisi lidah.

Papila Circumvalata atau Papila Melingkar

Papila sirkumvalata merpakan papilla yang dilingkari saluran dan memiliki bentuk V serta terdapat 8 –12 jenis yang terletak di bagian dasar lidah. Papila ini berukuran paling besar dibandingkan dengan papila yang lain.

Papila Foliata

Papila foliata merupakan papila yang jumlahnya sedikit dan terletak pada tepi samping kiri kanan lidah bagian dalam, Papila ini berbentuk seperti tonjolan daun.

Di dalam satu papila terdapat banyak reseptor pengecap yand disebut tastebud. Setiap tasebud terdiri dari  dua jenis sel, yaitu sel penyokong dan sel pengecap.

1) Sel penyokong berfungsi untuk menopang.

2) Sel pengecap atau sel rambut sebagai reseptor yang memiliki tonjolan, seperti rambut yang menonjol keluar dari reseptor pengecap.

Lidah dapat merasakan empat macam rasa, yaitu, manis, asin, asam, dan pahit. Setiap makanan yang masuk akan merangsang beberapa tipe reseptor.

Kuncup pengecap untuk masing-masing citarasa terletak pada daerah lidah yang berbeda, yaitu:

  • Reseptor untuk rasa pahit, terutama terletak pada pangkal lidah.
  • Arean rasa manis berada pada tepi depan lidah
  • Asin banyak terdapat sisi kiri kanan depan agak ke dalam lidah setelah area manis,
  • Area rasa asam terdapat di sisi samping lidah bagian dalam setelah area rasa asin.

Jenis Jenis Pengecap Rasa

Berdasarkan pada zat kimia atau senyawa yang menimbulkan rasa pada lidah, indra pengecap dapat dibedakan menjadi beberapa jenis, yaitu:

1) Rasa pahit ditimbulkan oleh senyawa alkaloid tumbuhan, seperti kina, zat ini banyak yang bersifat racun.

2) Rasa asin ditimbulkan oleh kation pembentuk senyawa garam seperti ion Na+ , K+, dan Ca+.

3) Rasa manis ditimbulkan oleh gugus OH yang banyak terdapat pada senyawa gula, keton dan asam amino tertentu.

4) Rasa ssam ditimbulkan oleh ion hydrogen H+ yang merupakan pembentuk senyawa asam.

Funsgi Letak Rasa Asin Asam Manis Pahit Lidah
Funsgi Letak Rasa Asin Asam Manis Pahit Lidah

Jenis Otot Indra Pengecap Lidah

Otot yang menyusun lidah adalah otot rangka yang terdiri dari dua kelompok otot yaitu otot intrinsic dan otot ekstrinsik.

Otot Intrinsik Lidah

Otot intrinsik berfungsi untuk melakukan semua gerakan lidah. Otot instrinsik juga berperan dalam proses berbicara, menelan dan makan.

Musculus Longitudinal Superior

Otot lingitudinal superior merupakan otot yang melintang di permukaan superior lidah, dibawah membran mukus. Meningkatkan kemampuan untuk menarik lidah serta membelokkan ujung lidah.

Musculus Longitudinal Inferior

Otot longitudinal inferior merupakan otot yang  melintang dibagian sisi lidah dan bergabung dengan otot styloglossis

Kedua otot ini berfungsi untuk aktivitas seperti, melebarkan, mengangkat, dan menurunkan ujung lidah.

Musculus Tranversus Linguae

Otot transversi  merupakan otot yang melintang di tengah lidah dan melekat pada selaput lendir yang ada disepanjang sisi lidah

Musculus Tranversus Linguae  berfungsi untuk memanjangkan dan melebarkan lidah bersama dengan musculus verticalis Linguae.

Musculus Verticalis Linguae

Otot vertikal merupakan otot yang terletak di bagian tengah lidah dan bergabung dengan otot longitudinal superior dan otot longitudinal inferior

Musculus Verticalis Linguae berfungsi untuk melebarkan lidah bersama dengan musculus tranversus linguae.

Otot Ekstrinsik Lidah

Otot ekstrinsik berfungsi mengaitkan lidah pada bagian- bagian sekitarnya serta melakukan gerakan- gerakan kasar yang sangat menekannya pada langit- langit dan gigi, kemudian mendorongnya masuk ke faring.

Otot Ekstrinsik dapat merubah posisi lidah sehingga mampu menjulur, melakukan gerak dari sisi ke sisi dan melakukan gerakan retraksi.

Otot ekstrinsik lidah terdiri dari Musculus Genioglosus, Musculus Hypoglosus, Musculus Styloglosus, dan Musculus Palatoglosus

Musculus Genioglosus berfungsi untuk menjulurkan lidah. Otot ini merupakan otot lidah yang dapat menggerakkan lidah ke depan.

Musculus Hypoglosus berfungsi untuk menekan dan meretraksikan lidah sehingga punggung lidah lebih cekung.

Musculus Styloglosus berfungsi dalam system pencernaan yaitu untuk memanjangkan dan menarik lidah ke belakang sehingga membentuk cekungan lidah yang dapat membantu menelan makanan dengan mudah.

Musculus Palatoglosus berfungsi untuk mengankat bagian posterior (belakang lidah) dan membantu proses inisiasi menelan. Otot berfungsi juga untuk mencegah mengalirnya air liur dari ruang depan orofaring dengan membentuk lengkungan palatoglossal.

Proses Pengecapan Lidah

Zat makanan atau minuman bila masuk ke dalam mulut akan terlarut dalam ludah, mengadakan kontak dengan reseptor rasa, merangsang sel rambut, timbul impuls pada sel rambut yang akan dijalarkan sepanjang saraf otak VII dan IX bagian sensoris menuju otak.

Impuls ini akan diinterpretasikan sebagai rasa pada korteks orak dilobus parientalis daerah kecap primer dan memulai terjadinya refleks pengeluaran air ludah melalui saraf otak VII dan IX bagian motoris.

Contoh Soal Ujian Fungsi Struktur Indra Pengecap Lidah Manusia,

Soal 1. Makanan yang dapat dirasakan bagian-bagian lidah pada ujung, pinggir (tepi) depan, dan pangkal berturut-turut adalah ….

  1. pahit, asam, manis
  2. asam, manis, pahit
  3. manis, asin, asam
  4. manis, asin, asam
  5. manis, asam, pahit

Daftar Pustaka:

  1. Starr, Cecie. Taggart, Ralph. Evers, Christine. Starr, Lisa, 2012, “Biologi Kesatuan dan Keragaman Makhluk Hidup”, Edisi 12, Buku 1, Penerbit Salemba Teknika, Jakarta.
  2. Fatehiyah. Arumingtyas, Laras, Estri. Widyarti, Sri. Rahayu, Sri, 2011, “Biologi Molekular, Prinsip Dasar Analisis”, PT Penerbit Erlangga Jakarta.
  3. Kimballl, J.W., Siti Soetarmi Tjitro dan Nawangsari Sugiri,1983, “Biologi”, Jilid 1, Edisi Kelima, Penerbit Erlangga, Jakarta.
  4. Kimballl, J.W., Siti Soetarmi Tjitro dan Nawangsari Sugiri. 1983, “Biologi”, Jilid 2, Edisi Kelima, Erlangga, Jakarta.
  5. Schlegel, H.G., 1994, “Mikrobiologi Umum”, Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.
  6. Hartanto, L.N., 2004, “Biologi Dasar”, Edisi Ketiga, Penerbit Penebar Swadaya, Yogyakarta.
  7. Ardra.Biz, 2019, “ ==============”,

Struktur Gigi Susu Permanen Seri Taring Geraham Manusia: Fungsi Jenis Rumus Susunan

Penegrtian. Gigi merupakan organ utama pada mulut yang berperan dalam pencernaan secara mekanik. Makanan akan dipotong- potong dan dirobek oleh gigi menjadi ukuran yang lebih kecil.

Makanan dipotong oleh gigi seri, dan dirobek gigi oleh gigi taring kemudian dikunyah oleh gigi geraham. Makanan dengan ukuran lebih kecil akan lebih mudah dicerna.

Jenis dan Fungsi Gigi

Terdapat empat macam gigi, yaitu gigi seri (insisor diberi symbol huruf besar I), gigi taring (caninus diberi symbol huruf besar C), geraham depan (premolar diberi simbol huruf Pm), dan geraham belakang (molar diberi huruf besar M).

a). Fungsi Gigi  Seri

Gigi seri berbentuk pipih dan tajam seperti pahat yang berfungsi untuk mengiris atau memotong makanan.

b).Fungsi Gigi Taring

Gigi taring bentuk ujungnya runcing berfungsi untuk mencabik dan menyobek makanan.

c) Fungsi Gigi Premolar (Geraham Depan) 

Gigi premolar (geraham depan) bentuknya berlekuk- lekuk berfungsi untuk menguyah atau menggerus dan melembutkan makanan.

d) Fungsi Gigi Molar (Geraham Belakang)

Gigi molar (geraham belakang) bentuknya berlekuk-lekuk berfungsi untuk menguyah atau menggerus dan melembutkan makanan.

Struktur Penyusun Gigi

Struktur luar gigi terdiri atas beberapa bagian yaitu mahkota, leher gigi, dan akar gigi.

Struktur Gigi Mahkota Leher Akar,
Struktur Gigi Mahkota Leher Akar,

Mahkota Gigi Corona

Mahkota Gigi atau biasa disebut Corona merupakan bagian yang dapat terlihat berada di dalam rongga mulut, berfungsi untuk menghancurkan makanan. Untuk masingmasing gigi, yaitu gigi seri, taring, dan geraham memiliki bentuk mahkota yang berbeda-beda.

Gigi seri berbentuk persegi seperti pahat, gigi taring berbentuk seperti kerucut dan geraham berbentuk agak silindris, permukaan tengahnya melekuk dan mendatar.

Lapisan paling luar dari mahkota gigi yang berwarna putih dan bersifat sangat keras disebut email.

Lapisan Email mengandung kalsium sekitar 97 persen dan bahan organic lainnya sekitar 3 persen. Email biasa disebut juga dengan glazur atau enamel.

Lapisan email tidak memiliki saraf sehingga tidak terasa sakit walaupun tertekan. Bagian yang lebih dalam dari email adalah tulang gigi atau dentin.

Dentin berwarna kuning dan mengandung 70% zat mineral. Lapisan dentin ini juga masih keras, lebih keras daripada tulang manusia, karena tulang hanya mengandung 40% zat mineral.

Di bagian lebih dalam dari dentin terdapat rongga gigi yang disebut pulpa.  Pulpa sering disebut juga sumsum gigi. Di bagian pulpa terdapat kapiler, arteri, vena, dan serabut saraf.

Jaringan pulpa inilah yang memberikan kehidupan pada gigi. Bila pulpa mati atau rusak maka gigi juga menjadi mati dan mati rasa. Bagian dentin dan pulpa terhubung sampai ke akar gigi.

Seseorang yang giginya berlubang, jika lubang tersebut sampai pada bagian pulpa ini, maka akan merasakan sangat sakit jika terkena rangsangan mekanik dari luar.

b) Leher Gigi Colum

Leher gigi atau colum merupakan batas antara mahkota gigi dengan akar gigi dan terlindung oleh gusi.

Akar Gigi Radix

Akar gigi radix merupakan bagian gigi yang tertanam di dalam rahang. Pada bagian ujungnya mengandung banyak serabut saraf dan pembuluh darah.

Bagian luar dari akar gigi merupakan pelapis dentin yang masuk ke rahang dan disebut semen atau sementum. Sementum memiliki ribuan serat yang mengikat gigi pada tulang rahang.

Serat- serat pengikat ini bersama dengan jaringan ikat lainnya membentuk jaringan periodontal. Jaringan periodontal berfungsi sebagai bantalan gigi yang dapat meredam tekanan ketika sedang mengunyah.

Seiring dengan pertumbuhan dan perkembangan manusia, maka susunan gigi pada manusia mengalami dua tahap, yaitu tahap pada masa bayi dan masa dewasa.

Susunan gigi masa bayi adalah gigi sulung (biasa disebut gigi susu). Gigi susu mulai tumbuh saat anak berumur 6 – 8 bulan. Gigi pertama ini disebut gigi susu (dens lakteus). Gigi anak akan lengkap menjadi 20 buah saat berusia 2,5 tahun.

Gambar berikut menjelaskan posisi, jenis dan jumlah gigi susu atau gigi sulung pada anak di bawah usia 2,5 tahun

Fungsi Susunan Gigi Susu Sulung Pada Anak
Fungsi Susunan Gigi Susu Sulung Pada Anak

Susunan gigi susu adalah 8 gigi seri (dens insisivus), 4 gigi taring (dens caninus), dan 8 gigi geraham depan (dens premolare). Ketika usia anak berkisar antara 6 tahun hingga 14 tahun, gigi susu mulai tanggal dan kemudian digantikan oleh gigi permanen .

Susunan gigi masa dewasa disebut gigi permanen (biasa disebut dengan gigi tetap). Gigi permanen mulai tumbuh pada usia 6 sampai 8 tahun. Jumlah gigi permanen yang lengkap adalah 32 buah.

Susunan gigi permanen adalah 8 gigi seri, 4 gigi taring, 8 gigi geraham depan premolar, dan 12 gigi geraham belakang molar. Apabila gigi molar tanggal, maka tidak akan tumbuh gigi baru lagi.

Gambar berikut menjelaskan posisi, susunan,  jenis dan jumlah gigi permanen atau gigi tetap setelah usia dewasa.

Fungsi Susunan Gigi Permanen Tetap Pada Orang Dewasa, Gambar
Fungsi Susunan Gigi Permanen Tetap Pada Orang Dewasa, Gambar

Rumus Susunan Dan Jenis Gigi Susu dan Gigi Permanen

Tabel berikut menunjukkan rumus susunan gigi susu atau gigi sulung anak dan susunan gigi permanen pada orang dewasa.

Rumus Susunan Gigi Susu Permanen Anak Dewasa
Rumus Susunan Gigi Susu Permanen Anak Dewasa

Contoh Soal Ujian Fungsi Struktur Jenis Gigi Manusia

Soal 1. Gigi yang berfungsi untuk memotong makanan adalah..

a. gigi susu

b. gigi permanen

c. gigi sulung

d. gigi seri

e. gigi taring

Soal 2. Jumlah gigi pada anak usia 20 tahun adalah…

a. gigi taring 8 dan geraham 8

b. gigi taring 8 dan geraham 20

c. gigi seri 8 dan  geraham 8

d. gigi taring 8 dan  gerahan 16

Daftar Pustaka:

  1. Starr, Cecie. Taggart, Ralph. Evers, Christine. Starr, Lisa, 2012, “Biologi Kesatuan dan Keragaman Makhluk Hidup”, Edisi 12, Buku 1, Penerbit Salemba Teknika, Jakarta.
  2. Fatehiyah. Arumingtyas, Laras, Estri. Widyarti, Sri. Rahayu, Sri, 2011, “Biologi Molekular, Prinsip Dasar Analisis”, PT Penerbit Erlangga Jakarta.
  3. Kimballl, J.W., Siti Soetarmi Tjitro dan Nawangsari Sugiri,1983, “Biologi”, Jilid 1, Edisi Kelima, Penerbit Erlangga, Jakarta.
  4. Kimballl, J.W., Siti Soetarmi Tjitro dan Nawangsari Sugiri. 1983, “Biologi”, Jilid 2, Edisi Kelima, Erlangga, Jakarta.
  5. Schlegel, H.G., 1994, “Mikrobiologi Umum”, Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.
  6. Hartanto, L.N., 2004, “Biologi Dasar”, Edisi Ketiga, Penerbit Penebar Swadaya, Yogyakarta.
  7. Ardra.Biz, 2019, “ ==============”

Indra Pendengaran Telinga: Rongga Timpani Labirin Kanalis Semisirkularis Koklea

Pengertian. Telinga adalah organ manusia yang dikhususkan untuk menerima rangsangan berupa getaran. Getaran atau Bunyi yang didengar oleh manusia adalan bunyi yang mempunyai frekuensi 20 – 20000 getaran/detik (Hz).

Reseptor Bunyi Fonoreseptor

Kemampuan untuk mendengar merupakan kemampuan mendeteksi vibrasi atau getaran mekanis bunyi. Getaran bunyi yang dihasilkan oleh sumber bunyi ditangkap oleh reseptor telinga yang disebut fonoreseptor.

Struktur Telinga

Secara struktural, telinga manusia terdiri dari tiga bagian, yaitu bagian telinga luar, telinga tengah, dan telinga dalam.

Fungsi Indra Pendengaran, Pengertian Bagian Telinga Luar Tengah Dalam.
Fungsi Indra Pendengaran, Pengertian Bagian Telinga Luar Tengah Dalam.

Telinga Bagian Luar

Telinga bagian luar terdiri dari daun telinga dan saluran pendengaran atau saluran telinga luar. Telinga luar dibatasi oleh gendang telinga atau membran timpani.

Telinga bagian luar terdiri dari beberapa bagian, yaitu daun telinga (pinnae) dan saluran telinga luar (atau liang telinga).

1) Fungsi Daun Telinga

Daun telinga berfungsi menangkap dan mengumpulkan getaran suara. Kemudian getaran disalurkan ke dalam telinga melalui saluran telinga luar.

Daun telinga atau pinnae merupakan bagian terluar telinga yang bentuknya seperti corong. Daun telinga tersusun oleh tulang- tulang rawan yang bersifat elastis atau lentur.

2) Lubang dan Saluran Telinga Luar

Saluran pendengaran atau saluran telinga luar merupakan bagian lubang telinga yang berfungsi meneruskan getaran dari daun telinga ke bagian tengah telinga.

Telinga bagian ini memiliki ukuran saluran yang pendek. Permukaan lubang telinga memiliki rambut atau bulu. Bulu rambut tersebut berfungsi untuk menghalangi masuknya serangga atau benda asing lainnya.

Fungsi Zat Saluran Telinga Luar

Sepanjang saluran telinga luar dihasilkan semacam kelenjar yaitu zat lilin yang berfungsi   untuk menjaga agar permukaan saluran luar dan gendang telinga tidak kering.

Zat lilin merupakan zat pelindung telinga yang dapat mencegah serangan benda asing. Zat lilin merupakan racun bagi organisme hewan yang berusaha masuk ke dalam telinga.

Ketika ada benda asing yang masuk ke dalam saluran telinga, maka lapisan lilin menggumpalnya menjadi kotoran telinga yang disebut dengan serumen.

Telinga Bagian Tengah (Rongga Timpani)

Telinga tengah berupa rongga kecil yang berisi udara yang terletak di dalam tulang temporal, dan dindingnya dilapisi sel epitel.

Fungsi Telinga Tengah

Telinga tengah berfungsi sebagai alat pengatur keseimbangan tubuh, seperti mengatur keseimbangan tekanan udara luar dan tekanan udara yang terdapat di dalam telinga.

Telinga Tengah Telinga tengah terdiri atas tiga bagian yaitu membran timpani, tulang pendengaran, dan saluran eustachius.

a) Fungsi Membran Timpani atau Gendang Telinga

Membran timpani ini berupa selaput tipis yang berfungsi untuk menerima getaran suara dari telinga bagian luar. Apabila ada rangsang suara mengenai bagian ini, maka gendang telinga akan bervibrasi  atau bergetar.

b) Tulang Pendengaran

Getaran yang berasal dari gendang telinga, selanjutnya disalurkan melalui telinga bagian tengah melalui tulang pendengaran (atau osikula).

Tulang pendengaran terdiri atas tulang martil (maleus), tulang landasan (inkus) dan tulang sanggurdi (stapes). Ketiga tulang ini saling berhubungan melalui sendi yang bergerak.

Tulang martil melekat pada gendang telinga, tulang landasan di tengah dan sanggurdi melekat pada lubang yang disebut tingkap oval pada telinga dalam.

Tiga tulang pendengaran tersusun seperti rantai yang menghubungkan gendang telinga dengan jendela oval.

Fungsi Tiga Tulang Pendengaran

Fungsi rangkaian tulang pendengaran adalah untuk mengirimkan getaran suara dari gendang telinga (membran timpani) menyeberangi rongga telinga tengah ke jendela oval.

Dari membran timpani, getaran suara dirambatkan ke tulang martil, lalu ke tulang landasan, dan akhirnya ke tulang sanggurdi yang posisinya melekat dengan sebuah tingkap oval.

Tingkap oval atau jendela oval, atau tingkap jorong merupakan sebuah membran tipis di dalam telinga. Tingkap oval merupakan membran pembatas antara telinga tengah dan telinga dalam

c) Saluran Eustachius

Saluran eustachius menghubungkan antara telinga dengan faring. Jadi saluran Eustachius menghubungkan saluran telinga tengah dengan saluran pencernaan di rongga mulut.

Fungsi Saluran Eustachius

Saluran eustachius berfungsi untuk menjaga keseimbangan tekanan udara antara udara luar dan dalam telinga. Tujuannya adalah agar membran timpani tidak terganggu (rusak atau pecah).

Ketika seseorang menderita menderita influenza, maka pendengarannya terganggu, karena saluran eustachius tersumbat oleh lendir

Telinga Bagian Dalam (Labirin)

Telinga dalam terdiri dari bagian- bagian berikut.

a) Saluran Gelung (Kanalis Semisirkularis)

Kanalis semisirkulis merupakan saluran setengah lingkaran yang berjumlah Tiga buah. Saluran ini tersusun saling tegak lurus pada sudutnya, dan terdapat pada tulang pelipis.

Fungsi Kanalis Semisirkularis

Kanalis semisirkularis berfungsi sebagai reseptor gravitasi. Kanalis semisirkularis mempunyai dasar yang menggembung disebut ampula.

b) Vestibulum

Membran vestibulum terdiri atas sakula dan utrikula yang berupa kantong dan dilapisi oleh sel- sel rambut dan silia.

Di dalam sakula dan utrikula terdapat cairan limfa dan di dalam dindingnya masing-masing memiliki sel reseptor yang disebut dengan makula. Kristal kapur tersebar di antara rambut rambut dalam makula yang disebut dengan otolith.  Otolith di-pengaruhi oleh gravitasi.

c) Rumah Siput (Koklea)

Di bawah tingkap oval, terdapat membran lainnya, yaitu tingkap bundar atau jendela bundar. Dari tingkap bundar, getaran dirambatkan ke bagian telinga dalam yang dimulai dari bagian rumah siput (cochlea).

Struktur Kohlea

Koklea merupakan alat pendengar berbentuk seperti rumah siput yang berisi cairan perilimfe..  Koklea  memiliki tiga saluran, yaitu skala vestibuli, skala media, dan skala timpani.

Fungsi Bagian Koklea, Gambar Struktur Letak Organ Korti
Fungsi Bagian Koklea, Gambar Struktur Letak Organ Korti

Skala vestibuli merupakan saluran yang berhubungan dengan jendela oval.  Saluran tengah, dan saluran timpani yang berhubungan dengan jendela bundar, serta saluran (kanal) yang dipisahkan satu dengan lainnya oleh membran.

Di antara saluran vestibulum dengan saluran tengah terdapat membran Reissner, sedangkan di antara saluran tengah dengan saluran timpani terdapat membran basiler.

Dalam saluran tengah terdapat suatu tonjolan yang dikenal sebagai membran tektorial yang paralel dengan membran basiler dan ada di sepanjang koklea.

Sel sensori untuk mendengar tersebar di permukaan membran basiler dan ujungnya berhadapan dengan membran tektorial.

Dasar dari sel pendengar terletak pada membran basiler dan berhubungan dengan serabut saraf yang bergabung membentuk saraf pendengar. Bagian yang peka terhadap rangsang bunyi ini disebut organ Korti

Fungsi Organ Korti

Organ Korti berfungsi untuk menyampaikan getaran bunyi ke otak agar diolah menjadi suara.

Proses Pendengaran Pada Indra Telinga

Urutan Proses mendengar dapat dijelaskan sebagai berikut:

  • Daun telinga berfungsi seperti corong yang mengumpulkan getaran gelombang suara, kemudian disalurkan ke saluran telinga luar.
  • Telinga luar membantu memusatkan getaran gelombang suara masuk ke saluran telinga dan menggetarkan gendang telinga;
  • Kemudian gendang telinga meneruskan getaran suara ke tulang- tulang pendengaran di telinga tengah yang terdiri atas tulang martil (maleus), tulang landasan (inkus), dan tulang sanggurdi (stapes);
  • Selanjutnya getaran suara masuk ke telinga bagian dalam melalui selaput tingkap oval dan menggetarkan cairan limfe yang terdapat dalam skala vestibuli.
  • Tekanan yang timbul akibat getaran pada skala vestibuli ditahan oleh selaput tingkap bundar yang lentur. Hal ini dapat terjadi karena antara skala vestibuli dan skala timpani dihubungkan dengan lubang kecil yang disebut helikotrema.
  • Tahap terakhir adalah getaran diterima oleh sel-sel reseptor pada organ korti. Rangsang getaran diubah menjadi impuls listrik dan diteruskan ke otak.

Susunan dan Cara Kerja Alat Keseimbangan Indra Pendengaran

Bagian alat vestibulum atau alat keseimbangan adalah tiga saluran setengah lingkaran yang dilengkapi dengan organ ampula (kristal) dan organ keseimbangan yang ada di dalam utrikulus dan sakulus.

Ujung dari setiap saluran setengah lingkaran membesar dan disebut ampula yang berisi reseptor. Pangkalnya berhubungan dengan utrikulus yang menuju ke sakulus.

Utrikulus maupun sakulus berisi reseptor keseimbangan. Alat keseimbangan yang ada di dalam ampula terdiri dari kelompok sel saraf sensori yang mempunyai rambut dalam tudung gelatin yang berbentuk kubah. Alat ini disebut kupula.

Saluran semisirkuler (saluran setengah lingkaran) peka terhadap gerakan kepala. Alat keseimbangan di dalam utrikulus dan sakulus terdiri dari sekelompok sel saraf yang ujungnya berupa rambut bebas yang melekat pada otolith, yaitu butiran kalsium karbonat.

Posisi kepala mengakibatkan desakan otolith pada rambut yang menimbulkan impuls yang akan dikirim ke otak.

Contoh Soal Ujian Indra Pendengaran Telinga

1). Contoh Soa: Letak Organ Korti di Koklea

Organ korti yang berfungsi sebagai organ pendengaran terdapat pada bagian ….

  1. cerebrum
  2. membran timpani
  3. daun telinga
  4. tulang pendengaran
  5. koklea

2). Contoh Soal Jawaban: Membran Timpani Telinga Bagian Luar

Membran timpani merupakan bagian telinga yang berada di dalam ….

  1. telinga dalam
  2. telinga luar
  3. telinga tengah
  4. eustachius
  5. koklea

3). Cotoh Soal Ujian: Urutan Proses Pendengan Telinga

 Urutan yang benar bagian telinga yang dilewati oleh suara adalah . . . .

  1. martil – labirin – koklea – organ korti
  2. sanggurdi – koklea – organ korti – labirin
  3. martil – sanggurdi – organ korti – koklea
  4. gendang telinga – koklea – tingkap oval
  5. martil – gendang telinga – koklea – organ korti

4). Contoh Soal Jawaban: Fungsi Saluran Eustachius

Fungsi saluran Eustachius pada telinga adalah ….

  1. menghubungkan membran timpani dnegan koklea
  2. menghubungkan tulang-tulang pendengaran dengan selaputpendengaran
  3. menghubungkan bagian telinga tengah dengan rongga faring
  4. menghubungkan alat korti dengan perilimfa
  5. menghubungkan jendela lonjong dengan jendela bulat

Contoh Soal Dan Jawaban Lainnya: Indera Pendengaran Telinga

Berikut contoh contoh soal dan jawaban Indera Pendengaran Telinga sebagai Latihan. Soal merupakan modifikasi dari bentuk soal soal ujian agar lebih mudah dipahami dan tentu mudah untuk dihafalkan.

Contoh Soal Dan Jawaban Lainnya: Indera Pendengaran Telinga

Daftar Pustaka:

  1. Starr, Cecie. Taggart, Ralph. Evers, Christine. Starr, Lisa, 2012, “Biologi Kesatuan dan Keragaman Makhluk Hidup”, Edisi 12, Buku 1, Penerbit Salemba Teknika, Jakarta.
  2. Fatehiyah. Arumingtyas, Laras, Estri. Widyarti, Sri. Rahayu, Sri, 2011, “Biologi Molekular, Prinsip Dasar Analisis”, PT Penerbit Erlangga Jakarta.
  3. Kimballl, J.W., Siti Soetarmi Tjitro dan Nawangsari Sugiri,1983, “Biologi”, Jilid 1, Edisi Kelima, Penerbit Erlangga, Jakarta.
  4. Kimballl, J.W., Siti Soetarmi Tjitro dan Nawangsari Sugiri. 1983, “Biologi”, Jilid 2, Edisi Kelima, Erlangga, Jakarta.
  5. Schlegel, H.G., 1994, “Mikrobiologi Umum”, Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.
  6. Hartanto, L.N., 2004, “Biologi Dasar”, Edisi Ketiga, Penerbit Penebar Swadaya, Yogyakarta.
  7. Ardra.Biz, 2019, “ ==============”,

Jaringan Organ Akar Tumbuhan: Pengertian Fungsi Struktur Contoh Soal

Pengertian. Pada umumnya, akar terletak di bawah permukaan tanah. Salah satu ciri yang menarik dari akar tumbuhan adalah akar tersebut akan tumbuh terus menerus.

Pada tumbuhan dikotil, akar Lembaga terus tumbuh sehingga membentuk akar tunggang. Pada monokotil, akar lembaga mati, kemudian pada pangkal batang akan tumbuh akar-akar yang memiliki ukuran hampir sama sehingga membentuk akar serabut.

Fungsi Akar

Beberapa fungsi akar tumbuhan secara umum adalah sebagai berikut.

  • Akar berfungsi sebagai alat perekat atau mengikat tumbuhan pada media tanah. hal ini dilakukan karena akar memiliki kemampuan untuk menembus lapisan- lapisan tanah yang lebih dalam.
  • Akar berfungsi untuk menyerap zat hara, garam mineral dan air melalui bulu- bulu (rambut rambut halus) akar.
  • Pada beberapa jenis tanaman, akar befungsi sebagai tempat penyimpanan makanan cadangan, contohnya adalah wortel dan ketela pohon.
  • Pada tanaman tertentu, seperti jenis tumbuhan bakau (atau Rhizopora sp.) akar berfungsi sebagai alat pernapasan.
  • Akar berfungsi sebagai alat perkembangbiakan vegetatif.
  • Akar berfungsi untuk memperkokoh atau memperkuat berdirinya batang tumbuhan

Jaringan Penyusun Struktur Akar

Akar tumbuh dan berkembang dari sel meristem apikal yang terletak pada ujung akar.  Ujung akar dilindungi oleh kaliptra (atau tudung akar).

Di atas daerah tudung akar atau bagian meristem apikal, terdapat daerah pembelahan yang bersifat meristematic, pembelahan sel ini terjadi terus menerus.

Sel-sel di daerah tudung akar aktif melakukan pembelahan untuk menghasilkan sel- sel baru. Adanya daerah meristematis ini menyebabkan akar bertambah panjang.

Pembelahan meristem apikal akan membentuk daerah pemanjangan yang disebut dengan zona perpanjangan sel. Di belakangnya terbentuk zona diferensiasi sel dan zona pendewasaan sel.

Pada zona diferensiasi sel, sel-sel akar berkembang membentuk beberapa sel permanen. Beberapa sel terdiferensiasi menjadi xilem, floem, parenkim, dan sklerenkim.

Struktur Akar

Secara umum struktur akar dibedakan menjadi struktur bagian luar (morfologi) dan struktur bagian dalam (anatomi).

Jaringan Organ Akar Tumbuhan, Pengertian Fungsi Struktur Jaringan Contoh Soal
Jaringan Organ Akar Tumbuhan, Pengertian Fungsi Struktur Jaringan Contoh Soal

Struktur Luar Akar (Morfologi Akar)

a) Leher atai Pangkal Akar

Leher atau pangkal akar adalah bagian akar yang menyambung dengan pangkal batang.

b) Ujung Akar

Ujung akar adalah titik tumbuh akar yang dilindungi oleh tudung akar ( kaliptra).

c) Batang Akar

Batang akar adalah bagian akar yang terletak antara leher akar dan ujung akar.

d) Cabang Akar

Cabang-cabang akar adalah bagian yang tidak langsung tersambungkan dengan pangkal batang tetapi keluar dari akar pokok.

e) Serabut Akar

Serabut akar adalah cabang- cabang akar halus yang berbentuk serabut.

f) Rambut Akar Atau Bulu Bulu Akar

Rambut akar atau bulu-bulu akar merupakan penonjolan sel- sel kulit luar (epidermis) yang akan memperluas daerah penyerapan air dan mineral. Rambut akar hanya tumbuh dekat ujung akar dan umumnya relatif pendek.

g) Tudung Akar Kaliptra

Tudung akar ( kaliptra) adalah bagian akar yang  terletak paling ujung. Kaliptra terbentuk dari sel-sel parenkim hidup yang kadang mengandung pati.

Kaliptra berfungsi untuk melindungi meristem dan melumasi akar sehingga dapat mengurangi kerusakan mekanis akibat gesekan antara ujung akar dan butir- butir tanah ketika akar menembus tanah.

Struktur Bagian Dalam Akar (Anatomi Akar)

a) Epidermis

Susunan sel- sel epidermis rapat dan setebal satu lapis sel, dinding selnya mudah dilewati air. Sebagian sel epidermis berdiferensiasi membentuk rambut atau bulu akar dengan pemanjangan ke arah lateral dari dinding luarnya.

Bulu akar merupakan bentuk modifiksi atau diferensiasi dari sel epidermis akar. Rambut ata Bulu akar berfungsi untuk menyerap air dan garam- garam mineral yang terdapat dalam tanah. Dengan adanya Bulu akar ini, maka permukaan akar menjadi lebih luas sehingga penyerapannya menjadi lebih efisien.

Epidermis akar biasanya dijumpai saat akar masih muda. Apabila akar sudah dewasa, epidermisnya telah mengalami kerusakan dan fungsinya digantikan oleh lapisan terluar dari korteks yang disebut eksodermis.

b) Korteks

Letak korteks langsung di bawah lapisan epidermis. Sebagian besar korteks dibangun oleh jaringan parenkim. Kortek memiliki sel- sel yag tidak tersusun rapat sehingga banyak memiliki ruang antarsel yang berperan dalam pertukaran zat atau gas. Korteks berfungsi sebagai tempat menyimpan cadangan makanan.

Jaringan jaringan yang terdapat pada korteks antara lain: parenkim, kolenkim, dan sklerenkim.

c) Endodermis

Endodermis terletak di sebelah dalam korteks. Endodermis merupakan lapisan pemisah antara korteks dengan silinder pusat.

Sebagian besar sel endodermis memiliki bagian yang mengandung gabus (zat suberin) atau zat lignin yang disebut pita kaspari.

Endodermis dapat mengalami penebalan zat gabus dan membentuk titik- titik yang disebut dengan titik kaspari.

Pertumbuhan penebalan zat gabus pada dinding sel yang menghadap silinder pusat berbentuk seperti huruf U dan disebut sel U. Sel U ini menyebabkan air tidak dapat menuju ke silinder pusat.

Tetapi tidak semua sel-sel endodermis mengalami penebalan, sehingga memungkinkan air dapat masuk ke silinder pusat. Sel- sel tersebut disebut sel penerus atau sel peresap.

Dengan kondisi ini, endodermis dapat berfungsi sebagai pengatur jalannya zat larutan yang diserap dari tanah masuk ke silinder pusat.

d) Silinder Pusat atau Stele

Silinder pusat atau stele merupakan bagian terdalam dari akar yang berada pada pusat lingkaran akar. Terdiri atas berbagai macam jaringan, yaitu:

(1) Perisikel atau Perikambium

Merupakan lapisan terluar dari stele yang tersusun atas satu atau beberapa lapis sel. Sel-sel perisikel yang berhadapan dengan xilem bersifat meristematis (aktif membelah) dan mampu membentuk akar cabang.

Akar cabang yang terbentuk akan tumbuh ke arah luar. Perisikel berfungsi dalam pertumbuhan sekunder dan pembentukan akar ke samping.

Oleh karena itu, perisikel disebut juga perikambium xilem dan floem dalam silinder pusat letaknya teratur bergantian menurut arah jari- jari (radial).

 (2) Berkas Pembuluh Angkut

Berkas pembuluh angkut terdapat di sebelah dalam perisikel. Berkas pembuluh angkut akar terdiri dari xilem dan floem yang tersusun bergantian menurut arah jari- jari.

Pada tumbuhan dikotil di antara xilem dan floem terdapat jaringan cambium atau cambium Vasikuler, sebuah jaringan meristematic.

Kedudukan xilem dan floem yang bergantian menyebabkan lapisan kambium berlekuk-lekuk seperti bintang.

Cambium tumbuh ke arah dalam membentuk xilem dan ke arah luar membentuk floem. Bentuk bintang lambat laun berubah menjadi lingkaran.

Xilem pada akar merupakan awal pembuluh angkut yang membentang dari akar sampai ke daun.

 (3) Empulur

Letaknya paling dalam atau di antara berkas pembuluh angkut. Lapisan jari- jari empulur tersusun dari jaringan parenkim. Empulur hanya terdapat pada akar tumbuhan dikotil.

Contoh Soal Ujian Penyusun Struktur Jaringan Akar Tumbuhan,

Soal 1. Jaringan yang tersusun atas sel-sel yang rapat serta berfungsi melindungi bagian dalam tumbuhan adalah ….

  1. jaringan epidermis
  2. jaringan penguat
  3. jaringan dasar
  4. jaringan meristem
  5. jaringan pengangkut

Soal 2. Stomata berfungsi sebagai ….

  1. tempat mengurangi penguapan
  2. tempat penyerapan air
  3. tempat meneruskan rangsang
  4. tempat cadangan air
  5. tempat pertukaran gas

Soal 3. Yang bukan jaringan penyusun akar tanaman monokotil adalah . . . .

  1. epidermis
  2. kambium ikatan pembuluh
  3. korteks
  4. perisikel
  5. endodermis

Daftar Pustaka:

  1. Starr, Cecie. Taggart, Ralph. Evers, Christine. Starr, Lisa, 2012, “Biologi Kesatuan dan Keragaman Makhluk Hidup”, Edisi 12, Buku 1, Penerbit Salemba Teknika, Jakarta.
  2. Fatehiyah. Arumingtyas, Laras, Estri. Widyarti, Sri. Rahayu, Sri, 2011, “Biologi Molekular, Prinsip Dasar Analisis”, PT Penerbit Erlangga Jakarta.
  3. Kimballl, J.W., Siti Soetarmi Tjitro dan Nawangsari Sugiri,1983, “Biologi”, Jilid 1, Edisi Kelima, Penerbit Erlangga, Jakarta.
  4. Kimballl, J.W., Siti Soetarmi Tjitro dan Nawangsari Sugiri. 1983, “Biologi”, Jilid 2, Edisi Kelima, Erlangga, Jakarta.
  5. Schlegel, H.G., 1994, “Mikrobiologi Umum”, Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.
  6. Hartanto, L.N., 2004, “Biologi Dasar”, Edisi Ketiga, Penerbit Penebar Swadaya, Yogyakarta.
  7. Ardra.Biz, 2019, “ ==============”,

===========================

Jaringan Organ Akar Tumbuhan, Pengertian Jaringan Organ Akar Tumbuhan, Jaringan meristem membelah terus, Fungsi Akar, peran akar tumbuhan tanaman, Contoh akar sebagai cadangan makanan, contoh akar sebagai alat pernapasan, contoh akar sebabai alat berkembang biak vegetative, Jaringan Penyusun Struktur Akar, Gambar struktur akar tanaman, akar bersifat meristematic, Pembelahan meristem apical, zona perpanjangan, zona diferensiasi,zona pendewasaan, zona diferensiasi, epiedermis terdiferensiasi menjadi,  Struktur Akar, struktur morfologi akar, gambar morfologi akar, struktur anatomi akar, Pengertian Struktur Luar Akar (Morfologi Akar), contog morfologi akar, Fungsi Leher atau Pangkal Akar, Fungsi Ujung Akar, Ujung akar, Fungsi Batang Akar, Batang akar, Fungsi Cabang Akar, Cabang-cabang akar, Fungsi Serabut Akar, Serabut akar, Fungsi  Rambut Akar Atau Bulu Bulu Akar, Rambut akar atau bulu-bulu akar, Fungsi Tudung Akar Kaliptra, Tudung akar ( kaliptra), Pengertian Kaliptra, gambar kaliptr,  Struktur Bagian Dalam Akar (Anatomi Akar), Fungsi Lapisan Epidermis akar, Contoh diferensiasi akar, Susunan sel epidermis, contoh modifikasi akar, contoh derivat akar, Fungsi eksodermis pada akar tanaman, Fungsi Korteks akar tumbuhan, letak lapisan korteks akar, susunan sel korteks akar, susunan epidermis akar, jaringan penyusun korteks, Endodermis akar, letak endodermis akar, fungsi endodermis, Fungsi zat suberin pada akar, fungsi lignin pada akar, pengertian dan fungsi pita kaspari, endodermis yang menebal, bentuk penebalan endodermis,  pengertian dan fungsi  titik kaspari, Bentuk peertumbuhan penebalan zat gabus, Pengertian sel U, fungsi Sel U pada akar, Fungsi sel penerus atau sel peresap pada akar, Silinder Pusat atau Stele, Fungsi Silinder pusat atau stele, Penyusun Silinder Pusat atau Stele, Perisikel atau Perikambium, Fungsi Perisikel atau Perikambium, Pengertian Perisikel atau Perikambium, Sel  Penyusun Perisikel atau Perikambium, perikambium xylem, perikambium floem, fungsi perikambium xylem, fungsi perikambium floem, Berkas Pembuluh Angkut Akar, Fungsi berkas pembuluh angkut akar, Fungsi jaringan cambium atau cambium Vasikuler akar, Arah pertumbuhan cambium, Pertumbuhan Cambium ke arah dalam, Pertumbuhan Cambium ke arah luar, Fungsi  Empulur akar, letak empulur akar, Contoh Soal Ujian Penyusun Struktur Jaringan Akar Tumbuhan, Penjelasan jaringan akar tumbuhan beserta fungsinya,

Jaringan Epidermis Tumbuhan

Pengertian. Epidermis berasal dari kata epi yang artinya luar atau tepi dan dari kata dermis yang artinya kulit atau lapisan. Sehingga Epidermis dapat diartikan sebagai kulit terluar. Epidermis menutupi permukaan organ daun, batang, dan akar muda.

Jaringan epidermis merupakan jaringan terluar tumbuhan yang berasal dari jaringan protoderma dan menutupi seluruh tubuh tumbuhan.

Fungsi Jaringan Tumbuhan Parenkim,
Struktur Penyusun Fungsi Jaringan Tumbuhan,

Jaringan epidermis tumbuhan merupakan jaringan yang terdiri atas sel-sel berbentuk empat persegi panjang dan terdiri atas satu lapis sel. Epidermis memiliki vakuola yang besar dan terdapat di bagian tengah. Vacuole ini berisi cairan sel yang berwarna (antosianin), namun terkadang tidak berwarna.

Lapisan epidermis tumbuhan terletak pada bagian luar organ yang dilapisinya. Pada dinding sel epidermis tidak terjadi fotosintesis, karena tidak memiliki kloroplas.

Lapisan sel epidermis tersusun rapat sehingga tidak membentuk ruang antarsel (tidak berongga).

Diferensiasi, Derivat, Turunan Epidermis

Pada jenis jenis tumbuhan tertentu, sel-sel epidermis dapat bermodifikasi atau terdiferensiasi membentuk rambut, kelenjar, duri, atau serat.

Epidermis pada beberapa jenis tumbuhan juga menyekresikan lapisan lilin untuk mencegah penguapan air yang berlebihan. Lapisan lilin disebut dengan kutikula yang berfungsi untuk mengurangi penguapan tanaman.

Fungsi utama jaringan epidermis adalah melingdungi jaringan jaringan lain yang berada di bawahnya. Sebagian sel-sel epidermis dapat berkembang menjadi alat-alat tambahan lain yang disebut derivat epidermis, misalnya stomata dan trikomata.

Jaringan Penyusun Tumbuhan, Derivat Diferensiasi Epidermis Mesofil Palisade, Guard Cell Xylem Floem
Jaringan Penyusun Tumbuhan, Derivat Diferensiasi Epidermis Mesofil Palisade, Guard Cell Xylem Floem

1). Stomata Mulut Daun

Modifikasi Jaringan Epidermis Membentuk Stomata Pada Permukaan Daun.

Stomata merupakan turunan (hasil modifikasi) dari jaringan epidermis yang terdapat pada daun. Stomata berbentuk lubang- lubang yang masing -masing dibatasi oleh sel penutup (sel penjaga atau guard cell), yaitu sel sel epidermis yang telah mengalami perubahan bentuk dan fungsi.  Stomata berfungsi untuk proses respirasi atau  pertukaran gas dan fotosintesis.

Sel Penutup disebut juga sel penjaga atau Guard Cell. Sel penutup terdiri dari sepasang sel yang bentuknya terlihat simetris dan umumnya berbentuk ginjal. Sel- sel penutup merupakan sel- sel aktif (atau sel hidup). Sel – sel penutup mengandung sejumlah kloroplas.

Sel Tetangga atau Subsidiary Cell merupakan sel-sel yang berdampingan atau yang berada di sekitar sel- sel penutup. Sel- sel tetangga dapat terdiri dari dua buah atau lebih yang secara khusus melangsungkan fungsinya secara berasosiasi dengan sel sel penutup.

Ruang Udara Dalam atau Substomata Chamber   merupakan suatu ruang antarsel yang besar dan berfungsi ganda dalam fotosintesis, transpirasi, dan juga respirasi.

Berdasarkan pada letak sel penutupnya, stomata dapat dibedakan menjadi dua jenis yaitu Stomata fanerofor Stomata kriptofor.

Stomata Fanerofor

Stomata fanerofor adalah stomata yang sel- sel penutupnya terletak pada permukaan daun (stomata yang menonjol) sehingga memudahkan pengeluaran air. Contoh stomata fanerofor adalah pada tumbuhan hidrofit.

Stomata Kriptofor

Stomata Kriptofor adalah stomata yang sel- sel penutupnya berada jauh di bawah permukaan daun (stomata yang tersembunyi), fungsinya untuk mengurangi penguapan yang berlebihan. Contoh stomata kriptofor adalah pada tumbuhan xerofit.

2). Trikomata

Trikomata merupakan turunan (hasil modifikasi atau diferensiasi) dari sel epidermis yang membentuk struktur seperti rambut, sisik, rambut kelenjar, tonjolan, dan lain-lain. Trikomata terdapat hampir pada semua organ tumbuhan. Pada gambar terlihat epidermis batang tumbuhan terdiferensiasi menjadi rambut rambut halus.

Terkadang trikomata berbentuk pendek yang tampak berupa penonjolan-penonjolan (seperti bukit-bukit kecil) pada permukaan epidermis.

Lentisel

Modifikasi jaringan epidermis membentuk lentisel, yaitu daerah pada lapisan gabus dengan susunan sel yang cukup longgar. Lentisel berfungsi dalam pertukaran gas di batang.

Lentisel Batang Tumbuhan Derivat Jaringan Epidermis
Lentisel Batang Tumbuhan Derivat Modifikasi Diferensiasi Jaringan Epidermis

Rambut Akar

Modifikasi jaringan epidermis membentuk rambut akar. Rambut akar adalah perluasan sel epidermis yang berfungsi untuk mengoptimalkan penyerapan air dan mineral unsur hara dari dalam tanah agar lebih efisien.

Bulu dan Duri

Modifikasi jaringan epidermis pada bunga mawar membentuk bulu bulu, duri atau spina. Hasil Modifikasi dari epidermis ini berfungsi sebagai alat pelindung tumbuhan.

Trikomata Rambut Batang Tumbuhan Diferensiasi Epidermis
Trikomata Rambut Batang Tumbuhan Diferensiasi Epidermis

Rambut Daun

Modifikasi jaringan epidermis membentuk Rambut rambut daun yang berfungsi untuk mencegah hilangnya air yang berlebihan dari tubuh tumbuhan.

Jenis Jenis Trikomata

Trikomata memiliki jenis papilla dan papillae.

Papilla merupakan alat sekresi yang mengeluarkan zat berupa lendir. Sedangan papillae adalah Papilla yang tidak mengeluarkan zat sepert lendir, namun hanya mengeluarkan air.

Fungsi Trikomata

Beberapa Fungsi Trikomata adalah seperti berikut.

– Memperbesar fungsi sel epidermis sebagai jaringan pelindung yaitu mencegah penguapan yang berlebihan. Contohnya trikomata pada daun, tulang daun, dan batang.

– berfungsi sebagai alat pengisap air dan garam-garam tanah, contohnya trikomata pada bulu akar.

– berfungsi dalam penyebaran biji dan memungkinkan biji- biji tersebut menjadi tumbuh.

– berfungsi sebagai pelindung  tumbuhan dari gangguan luar. Contohnya trikomata rambut-rambut penyengat (pneumatokist).

– berfungsi sebagai alat penerus rangsang yang datang dari luar. Contohnya trikomata pada daun tembikar.

– berfungsi sebagai alat sekresi tumbuhan.

Ciri- Ciri Jaringan Epidermis

  • Bentuk sel seperti balok memanjang,
  • Umumnya terdiri dari satu lapisan sel.
  • terletak pada lapisan paling luar,
  • tidak berklorofil kecuali pada sel penjaga (guard cell)
  • Menghasilkan lapisan lilin kutikula
  • Dapat bermodifiaksi menjadi stomata, lentisel, rambut akar, duri spina bunga
  • Terdiri atas sel-sel hidup.
  • Sel- selnya rapat dan tidak memiliki ruang antarsel.
  • Dinding sel jaringan epidermis bagian luar mengalami penebalan, namun dinding sel epidermis bagian dalam tetap tipis.

Fungsi Jaringan Epidermis

Selain memiliki fungsi utama, jaringan epidermis memiliki fungsi lain akibat termodifikasinya jaringan menjadi jaringan lain.

  • Fungsi utama epidermis adalah untuk melindungi jaringan lainnya.
  • Fungsi turunan adalah respirasi pertukaran gas, fotositesis (pada stomata)
  • Mencegah penguapan air berlebihan pada rambut daun
  • Penyerapan air pada rambut akar dan trikomata
  • Penyebaran biji pada trikomata
  • Pertukaran gas pada lentisel
  • Sebagai pelindung terhadap kerusakan mekanik

Contoh Soal Ujian Ciri Sistem dan Fungsi Jaringan Epidermis Tumbuhan

Soal 1.Pernyataan mana yang merupakan fungsi lapisan kutikula?

  1. Membantu proses fotosintesis
  2. Membantu mengalirkan air
  3. Mencegah penguapan
  4. Melindungi daun yang masih muda
  5. Membantu penyerapan air

Soal 2. Jaringan yang tersusun atas sel-sel yang rapat serta berfungsi melindungi bagian dalam tumbuhan adalah ….

  1. jaringan epidermis
  2. jaringan penguat
  3. jaringan dasar
  4. jaringan meristem
  5. jaringan pengangkut

Soal 3. Stomata berfungsi sebagai ….

  1. tempat mengurangi penguapan
  2. tempat penyerapan air
  3. tempat meneruskan rangsang
  4. tempat cadangan air
  5. tempat pertukaran gas

Daftar Pustaka:

  1. Starr, Cecie. Taggart, Ralph. Evers, Christine. Starr, Lisa, 2012, “Biologi Kesatuan dan Keragaman Makhluk Hidup”, Edisi 12, Buku 1, Penerbit Salemba Teknika, Jakarta.
  2. Fatehiyah. Arumingtyas, Laras, Estri. Widyarti, Sri. Rahayu, Sri, 2011, “Biologi Molekular, Prinsip Dasar Analisis”, PT Penerbit Erlangga Jakarta.
  3. Kimballl, J.W., Siti Soetarmi Tjitro dan Nawangsari Sugiri,1983, “Biologi”, Jilid 1, Edisi Kelima, Penerbit Erlangga, Jakarta.
  4. Kimballl, J.W., Siti Soetarmi Tjitro dan Nawangsari Sugiri. 1983, “Biologi”, Jilid 2, Edisi Kelima, Erlangga, Jakarta.
  5. Schlegel, H.G., 1994, “Mikrobiologi Umum”, Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.
  6. Hartanto, L.N., 2004, “Biologi Dasar”, Edisi Ketiga, Penerbit Penebar Swadaya, Yogyakarta.
  7. Ardra.Biz, 2019, “ ==============”,
  8. Ardra.Biz, 2019, “Sistem Jaringan Epidermis Tumbuhan, Pengertian Fungsi Ciri Contoh Soal Ujian Epidermis Tumbuhan, Kulit terluar tumbuhan adalah, Yang menutupi permukaan organ tumbuhan daun batang akar muda,
  9. Ardra.Biz, 2019, “Asal jaringan epidermis, Pengertian protoderma, Fungsi protoderma, Vakuola epidermis, Cairan pada vakuola eprdermis, Pengertian antosiain, Fungsi antosianin, Lapisan epidermis tidak berronga, Epidermis tidak berklorofil, Derivat atau Diferensiasi Epidermis, modifikasi jaringan epidermis,
  10. Ardra.Biz, 2019, “Pengertian Derivat Epidermis, Pengertian modifikasi jaringan epidermis, Contoh Derivat Epidermis, Contoh modifikasi jaringan epidermis, Contoh turunan epidermis tumbuhan,  Fungsi lapisan lilin, Fungsi kutikula, Pengertian kutikula,
  11. Ardra.Biz, 2019, “Penjelasan jaringan epidermis, kutikula, Fungsi utama jaringan epidermis,  Diferensiasi jaringan epidermis, Contoh Diferensiasi jaringan epidermis,  Stomata Mulut Daun, Stomata Mulut Daun Diferensiasi Epidermis, Stomata modifikasi dari epidermis, stomata turunan dari epidermis, Pengertian stomata,
  12. Ardra.Biz, 2019, “fungsi stomata, penjelasan stomata, fungsi sel penutup atau sel penjaga stomata, pengertian dan fungsi guard cell stomata, Pengertian stomata, Fungsi stomata, Fungsi mulut daun, Pengertian Sel Tetangga atau Subsidiary Cell, Fungsi  Sel Tetangga atau Subsidiary Cell, Fungsi Ruang Udara Dalam atau Substomata Chamber,
  13. Ardra.Biz, 2019, “Pengertian Ruang Udara Dalam atau Substomata Chamber, Jenis stomata, Pengertian Stomata fanerofor, Pengertian Stomata kriptofor, Fungsi Stomata Fanerofor, Contoh Stomata fanerofor, Fungsi Stomata Kriptofor, Contoh stomata kriptofor, Lentisel turunan epidermis, Fungsi lentisel, Pengertian lentisel,
  14. Ardra.Biz, 2019, “lentisel difeernsiasi epidermis, Rambut Akar derivate epidermis, Fungsi Rambut akar, Bulu dan Duri modifikasi epidermis, fungsi bulu duri bunga mawar, Rambut Daun derivate epidermis, Fungsi rambut daun, Trikomata derivate epidermis, pengertian trikomata,
  15. Ardra.Biz, 2019, “fungsi trikomata, Trikomata diferensiasi epidermis, Jenis Trikomata,  Pengertian dan fungsi papilla, Pengertian dan Fungsi papillae, Fungsi Trikomata, Fungsi trikomata pada tulang daun dan batang, Fungsi trikomata pada bulu akar, Fungsi trikomata pada penyebaran biji,
  16. Ardra.Biz, 2019, “Fungsi trikomata rambut- rambut penyengat (pneumatokist), fungsi pneumatokist, Fungsi trikomata pada daun tembikar, Ciri- Ciri Epidermis, Fungsi Jaringan Epidermis, Fungsi turunan epidermis, Fungsi derivative epidermis, Fungsi diferensiasi epidermis,  Contoh Soal Ujian Ciri Sistem dan Fungsi Jaringan Epidermis Tumbuhan,
error: Content is protected !!