Contoh Soal Ujian Nasional Biologi Materi Metabolisme

Pengertian Metabolisme. Metabolisme adalah semua proses kimiawi yang terjadi dalam tubuh makhluk hidup. Metabolisme berasal dari bahasa Yunani yaitu dari kata metabole yang artinya berubah. Berubah di sini memiliki dua pengertian, Yaitu Anabolisme dan Katabolisme.

Pertama, berubah menjadi senyawa yang lebih kompleks disebut anabolisme, asimilasi, atau sintesis. Kedua, berubah menjadi senyawa yang lebih sederhana disebut katabolisme atau disimilasi. Dengan demikian metabolisme meliputi dua macam reaksi, yaitu anabolisme dan katabolisme.

Proses metabolisme ini melibatkan berbagai reaksi kimia dengan sejumlah energi yang menyertainya. Metabolisme dalam makhluk hidup dapat dibedakan menjadi dua yaitu katabolisme dan anabolisme.

Contoh Soal dan Pembahasan Metabolisme

Contoh Soal Ujian 1

Proses penyusunan energy kimia melalui sintesis senyawa – senyawa organic disebut ….

A.Fotosintesis

B.Anabolisma

C.Katabolisma

D.Metabolism

E.Kemosintesis

Jawaban: B

Pembahasan:

Proses penyusunan energy kimia melalui sintesis senyawa – senyawa organic disebut proses anabolisme.

Contoh Soal Ujian 2.

contoh-soal-ujian-nasional-biologi-materi-metabolisme
contoh-soal-ujian-nasional-biologi-materi-metabolisme

Tumbuhan akan menyimpan energy dalam bentuk …

A.energi kimia

B.energi radiasi

C.energi cahaya

D.energi potensial

E.energi panas

Jawaban: A

Pembahasan:

Energy yang berasal dari cahaya matahari akan disimpan oleh tumbuhan dalam bentuk energy kimia.

Contoh Soal Ujian 3.

Enzim lengkap atau holoenzim tersusun atas ….

A.koenzim dan apoenzim

B.apoenzim dan kofaktor

C.gugus prostetik dan inhibitor

D.apoenzim dan gugus prostetik

E.gugus prostetik dan kofaktor

Jawaban: D

Pembahasan:

Holoenzim tersusun dari apoenzim bagian protein yang bersifat labil atau mudah berubah, dan gugus prostetik bagian bukan protein yang merupakan gugusan yang aktif.

Contoh Soal Ujian 4.

Pernyataan berikut yang sesuai untuk glikolisis adalah ….

A.berlangsung di sitisol secara aerob

B.berlangsung di sitisol secara anaerob

C.berlangsung di mitokondria secara aerob

D.berlangsung di mitokondria secara anaerob

E.berlangsung dalam sitoplasma secara anaerob

Jawaban: E

Pembahasan:

Glikolisis terjadi di sitoplasma secara anaerob

25+ Contoh Soal Ujian Dan Jawaban Metabolisme: Anabolisme Katabolisme Fotosintesis

Berikut Beberapa Contoh Soal Ujian dan Jawaban Metabolisme: Anabolisme – Katabolisme – Fotosintesis yang merupakan soal soal yang diujikan pada ujian nasional dan ujian masuk perguruan tinggi negeri.

25+ Contoh Soal Ujian Dan Jawaban Metabolisme: Anabolisme Katabolisme Fotosintesis

Daftar Pustaka:

  1. Arumingtyas, Laras, Estri. Widyarti, Sri. Rahayu, Sri, 2011, “Biologi Molekular, Prinsip Dasar Analisis”, PT Penerbit Erlangga Jakarta.
  2. Kimballl, J.W., Siti Soetarmi Tjitro dan Nawangsari Sugiri,1983, “Biologi”, Jilid 1, Edisi Kelima, Penerbit Erlangga, Jakarta.
  3. Starr, Cecie. Taggart, Ralph. Evers, Christine. Starr, Lisa, 2012, “Biologi Kesatuan dan Keragaman Makhluk Hidup”, Edisi 12, Buku 1, Penerbit Salemba Teknika, Jakarta.
  4. Hartanto, L.N., 2004, “Biologi Dasar”, Edisi Ketiga, Penerbit Penebar Swadaya, Yogyakarta.
  5. Kimballl, J.W., Siti Soetarmi Tjitro dan Nawangsari Sugiri. 1983, “Biologi”, Jilid 2, Edisi Kelima, Erlangga, Jakarta.
  6. Schlegel, H.G., 1994, “Mikrobiologi Umum”, Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.

Kata dalam artikel.

25+ Contoh Soal Dan Jawaban: Indera Pendengaran Telinga Membran Timpani Eustachius Korti Kanalis Semisirkulis

Berikut contoh contoh soal dan jawaban Indera Pendengaran Telinga sebagai Latihan. Soal merupakan modifikasi dari bentuk soal soal ujian agar lebih mudah dipahami dan tentu mudah untuk dihafalkan.

1). Contoh Soal Ujian: Fungsi Gendang Telinga Menerima Getaran Dari Lubang Telinga,

Suara yang dikumpulkan oleh daun telinga kemudian masuk ke lubang telinga dan menggetarkan bagian…

a). saluran telinga

b). gendang telinga.

c). saluran eustachius

d). tulang martil

e). tulang landasan

Jawab: b

2). Contoh Soal Jawaban: Fungsi Daun Telinga Kumpulkan Suara,

Bagian telinga yang berfungsi mengumpulkan suara dan menyalurkannya ke dalam telinga melalui saluran telinga luar adalah…

a). lubang telinga

b). telinga tengah

c). daun telinga

d). tulang pendengaran

e). gendang telinga

Jawab: c

3). Contoh Soal Ujian: Gendang Telinga Batas Telinga Luar Dan Tengah,

Antara telinga bagian luar dan telinga bagian tengah dibatasi oleh sebuah membran yang disebut….

a). inkus

b). jendela oval

c). maleus

d). membran pendengaran

e). gendang telinga

Jawab: e

4). Contoh Soal Jawaban: Saluran Eustachius Penghubung Telinga Tengah – Faring,

Telinga bagian tengah berhubungan dengan faring melalui…

a). tulang sanggurdi

b). jendela oval

c). kupula

d). saluran eustachius

e). saluran tengah telinga

Jawab: d

5). Contoh Soal Jawaban: Fungsi Membran Timpani Menerima Getar Dari Saluran Telinga Luar,

Selaput tipis yang berfungsi untuk menerima getaran suara dari saluran telinga luar adalah…

a). inkus

b). jendela oval

c). maleus

d). membran pendengaran

e). membran tipani

Jawab: e

6). Contoh Soal Ujian: Fungsi Saluran Eustachius Mengurangi Tekanan Udara Di Rongga Telinga Tengah,

Bagian telinga yang dapat mengurangi tekanan udara yang ada di rongga telinga tengah adalah…

 a). tulang sanggurdi

b). jendela oval

c). kupula

d). saluran eustachius

e). saluran tengah telinga

Jawab: d

7). Contoh Soal Ujian: Cara Membuka Saluran Eustachius,

Untuk membuka saluran Eustachius dapat dilakukan dengan cara…

a). menutup mulut

b). membuka mulut dan menelan.

c). meludah

d). menggerakan lidah

e). berkurmur kumur

Jawab: b

8). Contoh Soal  Ujian: Saluran Telinga Yang Menghasilan Zat Racun Benda Asing,

Saluran yang menghasilkan semacam zat yang berfungsi untuk mencegah masuknya benda asing, seperti debu atau hewan. Zat tersebut dapat menjadi racun bagi hewan-hewan yang mencoba masuk ke dalam telinga. Saluran tersebut adalah…

a). saluran eustachius

b). saluran tengah telinga

c). saluran telinga luar

d). saluran telinga dalam

e). saluran kanalis

Jawab: c

9). Contoh Soal Ujian: Fungsi Bulu Dan Tahi Kuping Dalam Saluran Telinga,

Bulu-bulu tersebut berfungsi untuk penghalang masuknya serangga dan debu. Jika ada serangga atau debu yang berhasil masuk, maka tahi kuping akan menjeratnya. Tahi kuping juga berfungsi mencegah terjadinya infeksi telinga terutama jika kita berenang di air yang kurang bersih. Bulu bulu tersebut berada di…

a). saluran eustachius

b). saluran tengah telinga

c). saluran telinga luar

d). saluran telinga dalam

e). saluran gelung

Jawab: c

10). Contoh Soal Ujian: Penyusun Telinga Bagian Tengah,

Tulang-tulang pendengaran terdapat pada…

a). telinga bagian lura

b). telinga bagian tengah

c). telinga bagian dalam

d). daun telinga

e). saluran telinga luar

Jawab: b

11). Contoh Soal Ujian: Tulang Pendengaran Tulang Martil Tulang Landasan dan Tulang Sanggurdi,

Tulang yang yang berfungsi memancarkan getaran bunyi dari gendang telinga menuju ke jendela oval yang menjadi pintu masuk ke telinga dalam. Tulang tersebut adalah…

a). tulang martil, tulang stapes, dan tulang sanggurdi

b). tulang martil, tulang incus, dan tulang landasan

c). tulang martil, tulang landasan, dan tulang malleus

d). tulang martil, tulang landasan, dan tulang sanggurdi

e). tulang dalam, tulang tengah, dan tulang telinga luar

Jawab: d

12). Contoh Soal Jawaban: Saluran Eustachius Menjaga Keseimbagan Tekanan Udara Luar Dalam Telinga,

Saluran yang berfungsi untuk menjaga keseimbangan tekanan udara antara udara luar dan dalam telinga adalah…

a). saluran eustachius

b). saluran tengah telinga

c). saluran telinga luar

d). saluran telinga dalam

e). saluran kanalis

Jawab: a

13). Contoh Soal Ujian: Saluran Eustachius Penghubung Telinga Dengan Rongga Mulut,

Di dalam telinga bagian tengah terdapat saluran berisi udara yang berfungsi untuk menghubungkan telinga dengan rongga mulut. Saluran penghubung tersebut adalah…

a). saluran eustachius

b). saluran tengah telinga

c). saluran teliang luar

d). saluran telingan dalam

e). saluran gelung

Jawab: a

14). Contoh Soal Ujian: Jendela Oval Bagian Telinga Dalam Menerima Getaran Dari Tulamg Sanggurdi,

Getaran dari telinga tengah akan diteruskan oleh tulang sanggurdi ke telinga bagian dalam yang disebut..

a). inkus

b). jendela oval

c). maleus

d). membran pendengaran

e). membran tipani

Jawab: b

15). Contoh Soal Jawaban: Organ Corti Mengandung Sel Sensorik,

Organ yang mengandung sel-sel sensoris untuk menyampaikan getaran bunyi ke otak agar diolah menjadi suara adalah…

a). limfe

b). jendela oval

c). kupula

d). resptor

e). corti

Jawab: e

16). Contoh Soal Ujian: Cairan Limfe Dalam Saluran Kohlea,

Semua saluran dalam kohlea dipenuhi oleh cairan yang sama komposisinya dengan cairan sel. Cairan tersebut adalah…

a). cairan saliva

b). cairan limfe

c). cairan mucus

d). cairan telinga

e). cairan kupula

Jawab: b

17). Contoh Soal Ujian: Fungsi Cairan Limfe Dalam Kohlea,

Cairan yang berfungsi sebagai medium untuk merambatnya bunyi dalam kohlea adalah…

a). cairan saliva

b). cairan limfe

c). cairan mucus

d). cairan telinga

e). cairan kupula

Jawab: b

18). Contoh Soal Jawaban: Helikotrema Penguhubung Skala Vestibuli Skala Timpani,

Antara skala vestibuli dan skala timpani dihubungkan dengan lubang kecil yang disebut…

a). jendela oval

b). helikotrema.

c). saluran gelung

d). kanalis semisirkularis

e). saluran eustachius

Jawab: b

19). Contoh Soal Jawaban: Fungsi Kanalis Semisirkulis Sebagai Reseptor Gravitasi,

Saluran setengah lingkaran yang berjumlah 3 buah dan tersusun saling tegak lurus pada sudutnya, dan terdapat pada tulang pelipis serta memiliki fungsi sebagai reseptor gravitasi. Saluran tersebut adalah…

a). jendela oval

b). helikotrema.

c). saluran  tengah

d). kanalis semisirkularis

e). saluran eustachius

Jawab: d

20). Contoh Soal Jawaban:  2 Otot Pendengaran Tensor Timpani dan Stapedius,

Pada bagian telinga tengah terdapat dua otot pendengaran. Kedua otot pendengaran tersebut adalah

a). tensor timpani dan kanalis

b). tensor timpani dan stapedius

c). eustachius dan stapedius

d). polos dan lurik

e). malleus dan incus

Jawab: b

21). Contoh Soal Jawaban: Fungsi Otot Tensor Timpani dan Stapedius,

Otot yang meredam atau mengurangi gerakan gendang telinga untuk mencegah getaran getaran yang terlalu kuat yang dapat merusak telinga dalam…

a). tensor timpani dan kanalis

b). tensor timpani dan stapedius

c). eustachius dan stapedius

d). polos dan lurik

e). malleus dan incus

Jawab: b

22). Contoh Soal Jawaban; Makula Reseptor Kesimbangan Kepala,

Sakulus dan utrikulus berisi reseptor untuk mengetahui kedudukan atau keseimbangan kepala. Reseptor tersebut adalah..

a). ampula

b). kupula

c). makula.

d). malleus

e). incus

Jawab: c

23). Contoh Soal Ujian:  Radang Telinga – Otitas Media,

Penyakit yang disebabkan karena virus atau bakteri dan sering menyerang pada anak-anak. Gejalanya adalah sakit pada telinga, demam, dan pendengaran berkurang. Telinga akan mengeluarkan nanah dan kelainan ini dapat memecahkan gendang telinga. Penyakit tersebut adalah…

a). otitis media

b). labirintitis

c). mabuk perjalanan

d). vertigo

e). vestibulum

Jawab: a

24). Contoh Soal Jawaban: Penyakit Telingan Labirintitis,

Gangguan pada labirin dalam telinga yang disebabkan oleh infeksi, gegar otak, dan alergi. Gejalanya antara lain telinga berdengung, mual, muntah, vertigo, dan berkurang pendengaran. Gangguan tersebut adalah…

a). otitis media

b). labirintitis

c). mabuk perjalanan

d). vertigo

e). vestibulum

Jawab: b

25). Contoh Soal Jawaban:  Mabuk Perjalanan Gangguan Keseimbangan Vestibulum,

Dalam perjalanan di laut, udara maupun darat kadang-kadang terjadi semacam rasa mual, pusing, dan muntah-muntah. Orang sering mengatakan ini sebagai mabuk perjalanan. Keadaan ini terjadi karena gangguan pada fungsi keseimbangan yang terjadi karena gerakan atau getaran kendaraan. Bagian telinga yang memiliki fungsi keseimbangan adalah…

a). vertigo

b). vestibulum

c). telingan bagian luat,

d). membran timpani

e). tingkap oval

Jawab: b

26). Contoh Soal Ujian: Kanalis Semisirkularis Statoresptor Perubahan Tubuh,

Bagian telinga dalam yang memiliki organ otolith atau makula dan berfungsi sebagai statoreseptor sehingga dapat merespons terhadap perubahan kedudukan tubuh adalah…

a). jendela oval

b). kanalis semisirkularis.

c). saluran  tengah

d). helikotrema

e). saluran eustachius

Jawab: b

27). Contoh Soal Jawaban: Tulang Pendengaran Penghubung Gendang Telinga Dengan Jendela Oval,

Tiga tulang pendengaran yang tersusun seperti rantai menghubungkan gendang telinga dengan…

a). jendela oval

b). kanalis semisirkularis.

c). saluran  tengah

d).  helikotrema

e). saluran eustachius

Jawab: a

28). Contoh Soa Jawaban: Gangguan Konduktif Penurunan Pendengaran,

Gangguan Pendengaran yang ditandai dengan  penurunan pendengaran yang diakibatkan oleh adanya hambatan pada hantaran gelombang suara di telinga luar atau telinga tengah. Gangguan tersebut adalah…

a). sensorineural

b). konduktif

c). otitis media

d). vertigo

e). labirintitis

Jawab: b

29). Contoh Soal Ujian: Penurunan Pendengaran Konduktif Akibat Adanya Benda Asing  Infeksi Pada Telinga Tengah,

Gangguan pendengaran  yang terjadi karena adanya benda asing, penimbunan kotoran telinga, atau infeksi pada telinga tengah. Gangguan tersebut adalah….

a). sensorineural

b). konduktif

c). otitis media

d). labirintitis

e). vertigo

Jawab: b

30). Contoh Soal Jawaban: Gangguan Pendengaran Sensorineural Akibat Dsfungsi Organ Korti Saraf Auditorius Otak,

Gangguan pendengaran yang ditandai dengan penurunan pendengaran akibat disfungsi dari organ korti, saraf auditorius atau otak.

a). konduktif

b). sensorineural

c). labirintitis

d). vertigo

e). otitis media

Jawab: b

31). Contoh Soal Ujian: Penurunan Pendengaran Sensorineural Akibat Suara Bising Terus Menerus

Gangguan pendengaran yang terjadi karena selalu terpajan pada suara bising secara terus menerus, setelah mendapatkan pengobatan yang bersifat ototoksik, atau karena pengaruh penyakit sistemik.

a). konduktif

b). sensorineural

c). vertigo

d). labirintitis

e). otitis media

Jawab: b

32). Contoh Soal dan Pembahasan Proses Pendengaran

1.. Proses Pendengaran dimulai dengan adanya gelombang bunyi yang masuk melalui lubang telinga dan menggetarkan membrane timpani, selanjutnya getaran akan dilanjutkan ke nervus auditorius melalui ….

A. inkus – malleus – koklea – stapes

B. malleus – Inkus – stapes – koklea

C. stapes – malleus – Inkus – koklea

D. koklea – Inkus – malleus – stapes

E. malleus – stapes – Inkus – koklea

Jawaban adalah: B

Pembahasan:

Urutan jalannya getaran melelui tulang – tulang pendengaran:  malleus – inkus – stapes – koklea

33).Contoh Soal Pembahasan Fungsi Koklea

Perhatikan tanda X yang terdapat pada gambar bagian telinga manusia, sebutkan fungsi dari bagian X tersebut ….

soal-ujian-nasional-indra-pendengaran-telinga
soal-ujian-nasional-indra-pendengaran-telinga

A. Meneruskan geteran ke jendela oval

B. Menerusakan getaran ke osikula

C. Keseimbangan tekanan udara

D. Reseptor gravitasi

E. Reseptor suara

Jawaban: B

Pembahasan:

Koklea atau biasa disebut sebagai rumah siput berfungsi untuk meneruskan getaran menuju osikula sebelum dibawa ke otak.

34). Contoh Soal Pembahasan Peyeimbang Tekanan Udara Luar Telinga

Yang berfungsi menyeimbangkan udara pada telinga luar dan telinga tengah adalah ….

A. Koklea

B. Gendang telinga

C. Maleus

D. Saluran eustachius

E. Daun telinga

Jawaban: D

Pembahasan:

Bagian dari indra pendengaran yang berfungsi menyeimbangkan udara antara telinga bagian luar dan bagian dalam adalah saluran eustachius.

Daftar Pustaka.

Reaksi Terang Gelap Fotosintesis: Pengertian Fotosistem Transfer Elektron Siklus Calvin Benson Contoh Soal

Pengertian Fotosintesis. Fotosintesis merupakan proses penyusunan atau pembentuk senyawa organic karbohidrat dengan bantuan energi cahaya atau matahari. 

Dengan adanya energi cahaya atau matahari tumbuhan hijau dapat membuat makanannya sendiri. Pembuatan makanan ini hanya terjadi pada bagian tumbuhan yang mengandung klorofil.

Pada tumbuhan tingkat tinggi seperti tumbuhan paku dan tumbuhan biji,  klorofil terdapat pada sel batang muda, buah yang belum matang, dan pada daun.

Organ- organ tumbuhan tersebut merupakan tempat terjadinya proses fotosintesis. Karena tumbuhan mampu membuat makanan sendiri, maka tumbuhan disebut sebagai organisme autotrof.

Komponen Proses Fotosintesis

Komponen – komponen yang terlibat selama proses fotosintesis berlangsung adalah cahaya matahari, gas karbondioksida, molekul air, dan pigmen fotosintesis.

Tempat Reaksi Fotosintesis

Fotosintesis terjadi pada sel yang mempunyai klorofil atau pigmen hijau. Klorofil terdapat pada kloroplas. Kloroplas merupakan organel utama dalam proses fotosintesis.

Bentuk kloroplas berlembar- lembar dan dibungkus oleh membran. Bagian di sebelah dalam membran dinamakan stroma, yang berisi enzim-enzim yang diperlukan untuk proses fotosintesis.

Di dalam kloroplas terdapat lembaran- lembaran datar yang saling berhubungan, disebut tilakoid. Beberapa tilakoid bergabung membentuk suatu tumpukan yang disebut grana.

Reaksi total yang terjadi selama proses fotosintesis adalah:

6 CO2 + 6H2O → C6H12O6 + 6O2

Reaksi Terang Dan Gelap Fotosintesis
Fotosintesis yang dilakukan oleh tumbuhan, berlangsung melalui dua tahap reaksi, yaitu reaksi terang dan reaksi gelap. Gambar berikut dapat memberikan penjelasan yang lebih sederhana.

Reaksi Terang Gelap Fotosintesis, Siklus Calvin Benson
Reaksi Terang Gelap Fotosintesis, Siklus Calvin Benson

Reaksi Terang Pada Fotosintesis

Reaksi terang adalah reaksi fotosintesis yang memerlukan cahaya. Reaksi terang merupakan reaksi ketika energy matahari digunakan oleh pigmen fotosintesis dan terjadi di grana atau tumpukan tilakoid. Jadi reaksi ini bergantung pada cahaya matahari.

Pada reaksi gelap terjadi pemecahan molekul- molekul air menjadi hidrogen, oksigen, dan sejumlah energi. Pada reaksi terang, terjadi  pengubahan energi cahaya matahari menjadi energi kimia.

Energi yang terbentuk kemudian disimpan dan dimanfaatkan sebagai sumber energi untuk reaksi gelap.

Reaksi terang merupakan tahap awal serangkaian reaksi yang mengubah energi cahaya menjadi energi kimia dalam bentuk ATP (Adenosin Tri Phosphat) dan NADPH (Nicotinamida Adenin Dinucleotid Phosphat).

Jadi Reaksi terang menghasilkan ATP dan NADPH. Untuk menangkap sinar matahari (foton), tumbuhan menggunakan seperangkat alat yaitu fotosistem. Fotosistem merupakan molekul protein yang tertanam pada membrane tilakoid.

Ada dua macam fotosistem yaitu fotosistem I dan fotosistem II.

Fotosistem I.

Di  dalam fotosistem I terdapat molekul klorofil yang terletak pada pusat reaksi dari fotosistem I dan dinamakan P700. Disebut dengan P700 karena sangat baik dalam menyerap energy cahaya matahari dengan panjang gelombang 700 nanometer.

Fotosistem II

Di dalam fotosistem II terdapat molekul klorofil yang terletak pada pusat reaksi fotosistem II dan dinamakan P680. Disebut P680 karena sangat baik dalam menyerap energy cahaya dengan panjang gelombang 680 nanometer.

Tehapan Reaksi Terang

  • Penangkapan cahaya matahari oleh fotosistem. Ketika sinar foton mengenai fotosistem, salah satu elektronnya tereksitasi keluar. Dan ketika electron kembali pada kedudukan semula, electron tersebut mangeluarkan energy.
  • Setelah fotosistem menyerap energy matahari, energy ini digunakan untuk fotolisis yaitu memecah molekul air.
  • Air akan pecah menjadi ion hydrogen (2H+), gas oksigen (O2) dan electron (e).
  • Ion hydrogen 2H+ ditangkap NADP+ menjadi NADPH.
  • Gas Oksigen O2 dilepas ke udara
  • Elektron bebas yang terbentuk akan mengalami pemindahan atau transfer electron melalui fosforilasi siklik dan fosforilasi nonsiklik

Foton dari Cahaya matahari yang mengenai fososistem akan menyebabkan elektron tereksitasi dan keluar dari fotosistem.

Elektron yang dihasilkan ini akan keluar dan masuk ke sistem transfer elektron. Reaksi transfer elektron ini dapat dibedakan menjadi reaksi nonsiklik dan reaksi siklik

Jalur Reaksi Transfer Elektron Siklik

Pada jalur transfer electron siklik hanya dihasilkan ATP. Electron bergerak berputar dalam siklus dari fotosistem I ke system transfer electron dan kembali ke fotosistem I.

Gambar berikut dapat menjelaskan perputaran electron dalam siklus dan pembentukan energi ATP dengan lebih sederhana. Istilah Tranfer electron terkadang disebut juga transport electron.  Istilah system kadang diganti dengan istilah rantai. Yang sebenarnya digunakan untuk pengertian yang sama.

Rantai Transpor Elektron Siklik Reaksi Terang Fotosintesis
Rantai Transpor Elektron Siklik Reaksi Terang Fotosintesis

Jalur elektron siklik dimulai setelah kompleks pigmen fotosistem I menyerap energi matahari. Energi foton menyebabkan electron tereksitasi. Electron tereksitasi memiliki energi yang tinggi

Pada jalur ini, elektron berenergi tinggi (e) meninggalkan pusat reaksi fotosistem I, tetapi akhirnya elektron itu kembali lagi.

Elektron berenergi (e) meninggalkan fotosistem I (dari pusat reaksi klorofil a) dan ditangkap oleh akseptor elektron kemudian meneruskannya ke system transfer elektron dan akhirnya kembali ke fotosistem I.  Electron yang kembali ini akan segera menggantikan electron yang tereksitasi akibat foton sinar matahari.

Pada sistem transferr elektron, pembawa electron (electron carrier) mengalirkan atau memindahkan elektron dari satu pembawa electron ke pembawa electron berikutnya, yaitu dari Feredoksin (Fd), Plastoquinon (Pq), Komplek Sitokrom (Cty), dan terakhir ke  Plastosianin (Pc).

Ketika bergerak dalam system transfer electron tersebut, electron akan melepaskan energi yang kemudian energi akan digunakan untuk pembentukan ATP.

ATP terbentuk karena adanya penambahan gugus fosfat P pada senyawa ADP ( Adenosin Di Phosphat) seperti reaksi berikut.

ADP + P –>ATP

Pembentukan ATP yang terjadi melalui rute transfer electron siklis disebut dengan Fotofosforilasi Siklis. Fotosistem I ini umumnya ditemukan pada bakteri dan mikroorganisme autotrof lainnya.

Jalur Reaksi Transfer Elektron Nonsiklik

Pada jalur transfer electron nonsiklik dihasilkan ATP dan NADPH. Electron yang tereksitasi bergerak dari fotosistem II ke system transfer electron kemudian ke fotosistem I lalu ke sistem transfer electron baru dan berakhir pada reaksi pembentukan NADPH. Disini electron tidak kembali ke fotosistem II.

Gambar berikut menjelaskan pergerakan electron dalam jalur nonsiklus yang disertai pembentukan energi ATP dn NADPH dengan cara yang lebih sederhana.

Rantai Transpor Elektron Nonsiklik Reaksi Terang Fotosintesis
Rantai Transpor Elektron Nonsiklik Reaksi Terang Fotosintesis

Reaksi ini dimulai ketika kompleks pigmen fotosistem II (P 680) menyerap energi cahaya dan menyebabkan terksitasinya electron. Electron yang dihasikan memiliki energi yang tinggi. Kemudian elektron berenergi tinggi ini meninggalkan molekul pusat reaksi (klorofil a) sehingga Fotosistem II kehilangan electron.

Selanjutnya, Fotosistem II mengambil elektron dari hasil penguraian air (fotolisis) melalui reaksi berikut.

H2O –> 2H+ + 2e + 1/2 O2

Sedangkan Oksigen hasil fotolisis dilepas oleh kloroplas sebagai gas oksigen meninggalkan sel. Sementara itu, ion hidrogen (H+) untuk sementara waktu tinggal di ruang tilakoid.

Elektron- elektron berenergi tinggi meninggalkan fotosistem II dan ditangkap oleh akseptor elektron dan kemudian dikirim ke sistem transfer elektron. Pada system transfer electron, electron ini dibawa oleh pembawa electron plastoquinone (pq), Komplek sitokrom (Cty ), dan plastosianin (pc).

Selama proses transfer electron tersebut, electron melepaskan energi yang kemudian ditangkap oleh ADP menjadi ATP. Selanjutnya elektron mencapai fotosistem I.

Pada reaksi ini, elektron yang dilepas fotosistem II tidak kembali lagi ke fotosistem II. Pembentukan ATP dari reaksi nonsiklik ini disebut juga Fotofosforilasi Nonsiklik.

Ketika fotosistem I menyerap energi cahaya, elektron- elektron berenergi tinggi meninggalkan pusat reaksi (klorofil a) dan ditangkap oleh akseptor elektron. Elektron yang terlepas dari fotosistem I segera digantikan oleh elektron dari fotosistem II.

System transfer electron memindah elektron- elektron ini melalui pembawa electron Feredoksin (Fd). Selanjutnya Electron ditransfer ke NADP+. Tahap berikutnya NADP+ mengikat ion H+ membentuk NADPH2, seperti reaksi berikut.

NADP+ + 2e + 2H+ –> NADPH + H+

Electron tersebut digunakan untuk mereduksi NADP+ (Nicotinamide Adenine Dinucleotide Phosphate) menjadi NADPH.

Dengan demikian jalur elektron nonsiklis menghasilkan ATP, dan NADPH. Energi ATP  dan NAPDH yang dihasilkan dalam elektron nonsiklik akan digunakan dalam reaksi tahap kedua proses sintesis karbohidrat yaitu pada tahap reaksi gelap.

Catatan: Ion ion hydrogen H+ yang berada dalam kompartemen tilakoid bergerak melalui bagian interior ATP sintase. Gerakan aliran ini disebabkan oleh adanya gradien kosentarasi dari ion hydrogen tersebut.

Aliran ion H+ menyebabkan ATP sintase mengikatkan gugus fosfat P ke ADP sehingga terbentuk ATP.

Reaksi Gelap Pada Fotosintesis.

Reaksi gelap disebut juga reaksi Siklus Calvin Benson. Reaksi gelap adalah reaksi yang tidak tergantung atau memerlukan cahaya secara langsung. Dalam reaksi gelap berlangsung serangkaian reaksi pembentukan gula dengan menggunakan gas karbondioksida CO2 dan hidrogen dari air.

Reaksi ini berlangsung dengan bantuan ATP dan NADPH yang dihasilkan dari reaksi terang. Hasil dari reaksi gelap adalah molekul karbon berenergi tinggi seperti glukosa, fruktosa, dan amilum.

Siklus Calvin Benson

Proses pembentukan glokosa dari CO2 melalui Siklus Calvin berlangsung dalam tiga tahap, yaitu tahap fiksasi, tahap reduksi, dan tahap regenerasi.

Gambar berikut menjelaskan reaksi reaksi yang terjadi pada pembentukan Glukosa melalui siklus Calvin- Benson dengan cara yang lebih sederhana.

Reaksi Pembentukan Glukosa Melalui Siklus Calvin Benson Fotosintesis
Reaksi Pembentukan Glukosa Melalui Siklus Calvin Benson Fotosintesis

Tahapan Reaksi Gelap.

  • Tahap Fiksasi Karbondioksida.

Gas CO2 dari lingkungan akan berdifusi ke dalam daun dan akan difiksasi (bergabung untuk bereaksi) oleh RuBP (ribulose Biphosphat), suatu molekul yang mengandung atom 5-C hingga terbentuk molekul fosfogliserat (PGA = 3-fosfogliserat atau 3-phosphoglycerate). PGA ini memiliki tiga karbon.

Penambatan enam CO2 oleh enam RuBP akan menghasilkan dua belas PGA. Reaksi ini dikatalisis oleh enzim ribulose bifosfat karboksilase (Rubisco). Adapun Reaksinya adalah sebagai berikut:

6 CO2 +6  RuBP –> 12 PGA

  • Tahap Reduksi PGA

Pada tahap ini, tiap molekul PGA menerima gugus fosfat dari ATP serta ion hydrogen H+ dan electron dari NADPH. ATP yang digunakan pada reaksi ini adalah ATP dari reaksi terang.

Reaksi reduksi PGA oleh NADPH ini akan membentuk dua belas PGAL (glyceraldehyde-3-phosphat atau glukosa 3-fosfat, G3P).

Dua PGAL diantaranya bergabung dan membentuk satu molekul glukosa enam karbon. Kemudian Glukosa masuk ke reaksi untuk membentuk karbohidrat lain seperti sukrosa dan kanji.

  • Tahap Regenerasi

Tahap regenerasi adalah tahap pembentukan kembali RuBP. Sepuluh PGAL yang tersisa dari tahap reduksi akan menerima gugus fosfat dari ATP dan membentuk RuBP.

Dengan terbentuknya RuBP, maka reaksi penambatan CO2 dapat berlangsung lagi, sehingga siklus Calvin berjalan kembali.

Fungsi Klorofil Pada Tumbuhan.

Warna hijau klorofil yang tergabung dalam membrane akan memberi warna hijau pada kloroplas dan sel serta jaringan tumbuhan yang terkena cahaya. Baca Selanjutnya …..

Kemosintesis Pada Anabolisme

Kemosintesis dapat diartikan sebagai salah satu bentuk asimilasi karbon di mana reduksi CO2 berlangsung dalam kondisi gelap (yaitu reaksi tanpa cahaya), reaksinya menggunakan energi murni hasil oksidasi.  Baca Selanjutnya …..

Tahap Reaksi Katabolisme Protein 

Pembongkaran protein menjadi asam amino memerlukan bantuan dari enzim protease dan air untuk melakukan proses hidrolisis pada ikatan- ikatan peptida.    Baca Selanjutnya ….

Tahap Reaksi Katabolisme Lemak

Lemak juga dapat digunakan sebagai sumber energi. Namun Sebelum digunakan, sel akan menghidrolisis lemak menjadi asam lemak dan gliserol, kemudian gliserol diubah menjadi 3 fosfogliseraldehid dan memasuki jalur glikolisis.  Baca Selanjutnya ….

25+ Contoh Soal Ujian Dan Jawaban Metabolisme: Anabolisme Katabolisme Fotosintesis

Berikut Beberapa Contoh Soal Ujian dan Jawaban Metabolisme: Anabolisme – Katabolisme – Fotosintesis yang merupakan soal soal yang diujikan pada ujian nasional dan ujian masuk perguruan tinggi negeri.

25+ Contoh Soal Ujian Dan Jawaban Metabolisme: Anabolisme Katabolisme Fotosintesis

Daftar Pustaka:

  1. Starr, Cecie. Taggart, Ralph. Evers, Christine. Starr, Lisa, 2012, “Biologi Kesatuan dan Keragaman Makhluk Hidup”, Edisi 12, Buku 1, Penerbit Salemba Teknika, Jakarta.
  2. Ardra.Biz, 2019, “Kata dalam artikel. Contoh Soal Ujian Fotosintesis Pada Tumbuhan dengan Pengertian Fotosintesis. Pengertian Fotosistem atau Pengertian Reaksi Terang dan Gelap.
  3. Arumingtyas, Laras, Estri. Widyarti, Sri. Rahayu, Sri, 2011, “Biologi Molekular, Prinsip Dasar Analisis”, PT Penerbit Erlangga Jakarta.
  4. Kimballl, J.W., Siti Soetarmi Tjitro dan Nawangsari Sugiri,1983, “Biologi”, Jilid 1, Edisi Kelima, Penerbit Erlangga, Jakarta.
  5. Ardra.Biz, 2019, “Tahapan siklus reaksi terang secara singkat. Pengertian Fotosistem I dan II dengan  Contoh Reaksi terang dan gelap Fotosintesis.  
  6. Kimballl, J.W., Siti Soetarmi Tjitro dan Nawangsari Sugiri. 1983, “Biologi”, Jilid 2, Edisi Kelima, Erlangga, Jakarta.
  7. Schlegel, H.G., 1994, “Mikrobiologi Umum”, Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.
  8. Hartanto, L.N., 2004, “Biologi Dasar”, Edisi Ketiga, Penerbit Penebar Swadaya, Yogyakarta.
  9. Ardra.Biz, 2019, “Kata dalam artikel. Contoh Soal Ujian Fotosintesis Pada Tumbuhan dengan Pengertian Fotosintesis. Pengertian Fotosistem atau Pengertian Reaksi Terang dan Gelap.
  10. Ardra.biz, 2019, “Pengertian Tahap Regenerasi Pada Fotosintesis dengan Tahap Reduksi PGA. Tahapan Reaksi Terang dan Gelap pada Proses Fotosintesis Tumbuhan.
  11. Ardra.Biz, 2019, “Tahapan siklus reaksi terang secara singkat. Pengertian Fotosistem I dan II dengan  Contoh Reaksi terang dan gelap Fotosintesis.  Tahap Fiksasi Karbondioksida dengan  tempat terjadinya reaksi gelap terang fotosintesis.
  12. Ardra.Biz, 2019, “Jalur Reaksi Transfer Elektron Siklik Fotosintesis, Produk Transpor Elektron Siklik, Gambar Sistem Rantai Transfer Elektron Siklik, Pengertian Fungsi Fotosistem, Beda Fotosistem I dan II, Fungsi Energi Foton Fotosintesis, Fungsi Akseptor Elektron, Fungsi Rantai Transpor Elektron,
  13. Ardra.Biz, 2019, “Jenis Pembawa Elektron Fotosintesis, Electron Carrier Feredoksin (Fd), Electron Carrier Plastoquinon (Pq), Electron Carrier Komplek Sitokrom (Cty), Electron Carrier Plastosianin (Pc), Fungsi Electron Carrier Fotosintesis, Fungsi Gugus Fosfat Fotosintesis, Pengertian Fotofosforilasi Siklis, Contoh Tumbuhan dangan Fotosistem I,
  14. Ardra.Biz, 2019, “Jalur Reaksi Transfer Elektron Nonsiklik, Produk dari system transfer electron nonsiklik, Fungsi air pada reaksi nonsiklik, Fungsi NADPH, Gambar Rantai Transpor Elektron Nonsiklik, Fungsi Pusat Reaksi Fotosistem, Pengertian P680 dan P700, Pengertian fotolisis,
  15. Ardra.Biz, 2019, “reaksi fotolisis fotosintesis, Reaksi Pembentukan ATP adenosin trifosfat, Tempat reaksi fotosintesis, fungsi tilakoid, fungsi grana, Fungsi ADP pada rantai transfer electron, Pengertian Fotofosforilasi Nonsiklik,
  16. Ardra.Biz, 2019, “Fungsi pembawa electron Feredoksin (Fd), Reaksi reduksi pembentukan NADPH, Fungsi ATP sintase pada fotosintesis,
  17. Ardra.Biz, 2019, “Gambar Siklus Calvin, Reaksi Siklus Calvin, Fungsi Enzim ribulose bifosfat karboksilase (Rubisco), Reaksi Tahap Fiksasi Karbon Dioksida, Tahap Reduksi Siklus Calvin, Fungsi NADPH pada siklus Calvin, Reaksi reduksi Siklus Calvin, Reaksi Tahap Regenerasi Siklus Calvin,

Fungsi Gen dan Alel. Pengertian, Contoh Soal dan Pembahasan

Pengertian Gen. Gen adalah substansi hereditas yang merupakan persenyawaan kimiawi dan penentu sifat individu.

Sifat -Sifat Gen

Adapun beberapa sifat yang dimiliki oleh gen diantaranya adalah sebagai berikut:

  • Gen Mengandung informasi genetika
  • Gen Dapat menduplikasi diri pada peristiwa pembelahan sel
  • Setiap gen mempunyai tugas dan fungsi tertentu
  • Sifat gen ditentukan oleh kombinasi basa nitrogennya

Gen tersimpan pada kedudukan tertentu dalam kromosom yang disebut lokus. Manusia setidaknya memiliki 100.000 gen. Secara skematika, lokus merupakan simpul berbentuk bulat yang berderet dengan jarak yang diukur oleh satuan milimorgan, mM.

pengertian fungsi -gen-dan-alel-materi-laporan
pengertian fungsi -gen-dan-alel-materi-laporan

Pengertian Alel.

Alel adalah gen – gen yang terletak pada lokus yang bersesuaian pada kromosom homolog.

Gen terdiri dari sepasang alel yang sejenis atau berlainan. Gen pengendali sifat tertentu biasa diberi symbol dengan huruf pertama dari sifat tersebut. Lambang huruf besar merupakan karakter dominan, sedangkan huruf kecil merupakan karakter resesif.

Karakter dominan dan resesif yang dimiliki oleh gen menyebabkan penampakan organisme tidak selalu mengungkapkan komposisi genetiknya.

Contoh Soal Pembahasan dan Penjelasan :

Gen B (huruf besar) adalah symbol untuk sifat bijih bulat, sedangkan gen b (huruf kecil) untuk sifat biji keriput. Istilah dominan digunakan karena gen ini dapat mengalahkan ekspresi gen alelnya.

Jadi gen B mengalahkan ekspresi gen b, sehingga ekspresi tanaman yang bergenotip Bb adalah tanaman biji bulat. Walaupun dalam tanaman tersebut mengandung gen untuk sifat keriput.

Gen b menimbulkan karakter resesif, yang artinya ekspresi gen b ditutupi (tidak memiliki efek yang jelas pada penampakan organisme bila bersama – sama dengan gen B. Pengertian resesif adalah sifat yang ditutup oleh sifat lain sehingga tidak terlihat, tidak tampil, atau tidak tampak.

Gen B menimbulkan karakter dominan terhadap gen b karena geb B diekspresikan sepenuhnya pada penampakan fisik organisme. Dominan adalah sifat yang menutupi sifat lain.

Homozigot.

Homozigot adalah individu yang kromosom – kromosomnya memiliki gen – gen identic dari sepasang atau suatu seri alel. Individu homozigot BB hanya membentuk gamet B saja. Oleh karenanya individu homozigot selalu berkembang biak secara murni.

Heterezigot

Heterezigot adalah individu yang kromosom – kromosomnya memiliki gen – gen berlainan dari sepasang ata suati seri alel tertentu.

Misalnya individu dengan genotip Aa, Bb, AaBb adalah heterezigot. Individu heterezogot membentuk lebih dari satu macam gamet. Contohnya individu Aa membentuk gamet – gamet A dan a.

Fungsi Gen

Adapun beberapa fungsi gen diantaranya adalah sebagai berikut:

  • Gen berfungsi sebagai pengatur pertumbuhan atau perkembangan dan metabolism individu.
  • Gen berperan dalam Menyampaikan informasi genetic dari generasi ke generasi berikutnya
  • Gen juga berfungsi Sebagai penentu sifat yang diturunkan ke generasi berikutnya

Daftar Pustaka:

  1. Kimballl, J.W., Siti Soetarmi Tjitro dan Nawangsari Sugiri. 1983, “Biologi”, Jilid 2, Edisi Kelima, Erlangga, Jakarta.
  2. Schlegel, H.G., 1994, “Mikrobiologi Umum”, Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.
  3. Starr, Cecie. Taggart, Ralph. Evers, Christine. Starr, Lisa, 2012, “Biologi Kesatuan dan Keragaman Makhluk Hidup”, Edisi 12, Buku 1, Penerbit Salemba Teknika, Jakarta.
  4. Hartanto, L.N., 2004, “Biologi Dasar”, Edisi Ketiga, Penerbit Penebar Swadaya, Yogyakarta.
  5. Arumingtyas, Laras, Estri. Widyarti, Sri. Rahayu, Sri, 2011, “Biologi Molekular, Prinsip Dasar Analisis”, PT Penerbit Erlangga Jakarta.
  6. Kimballl, J.W., Siti Soetarmi Tjitro dan Nawangsari Sugiri,1983, “Biologi”, Jilid 1, Edisi Kelima, Penerbit Erlangga, Jakarta.
  7. Ardra.Biz, 2019, “Kata dalam artikel Pengertian Gen substansi hereditas dan penentu sifat individu. Sifat -Sifat Gen yang Mengandung informasi genetika dengan  Letak Posisi Gen. Jumlah gen manusia dan Fungsi lokus pada kromoson.
  8. Ardra.Biz, 2019, “Pengertian Alel dan Letak posisi alel pada Kromosom Homolog. Karakter dominan dan resesif pada gen. Lambang huruf pada karakter gen pada Contoh soal ujian Gen dan Alel. Homozigot kromosom gen – gen identic dengan Cara berkembang biak Homozigot.
  9. Ardra,Biz, 2019, “Heterezigot dan Kromosom gen – gen berlainan dengan Jumlah gamet heterezigot. Jumlah gamet homozigot dengan Fungsi Gen. Pembawa informasi genetic dan Gen pengatur pertumbuhan dan perkembangan.

 

Campur Tangan Cara Pemerintah Menentukan Harga Pasar.

Pengertian. Pengendalian harga barang dan jasa di pasar dapat dikendalikan dengan campur tangan pemerintah secara langsung maupun tidak. Campur tangan ini dimaksudkan untuk melindungi konsumen dan produsen.

Harga yang ditetapkan merujuk pada daya beli masyarakat sebagai konsumen dan harga pokok produksi dari produsen.  Produsen mampu menjual barang dan masyarakat masih mampu membelinya.

cara-campur-tangan-pemerintah-dalam-menentukan-harga-pasar
cara-campur-tangan-pemerintah-dalam-menentukan-harga-pasar

Campur Tangan Pemerintah Secara Langsung

Penetapan Harga Minimum

Penetapan harga minimum atau floor price yang diambil oleh pemerintah dimaksudkan untuk melindungi produsen. Penentuan ini untuk memastikan bahwa harga jual produsen selalu lebih tinggi dari harga pokok produksi. Sehingga produsen masih dapat untung dan mampu memproduksi barang secara kontinyu.

Kebijakan Penetapan harga minimum diambil ketika harga pasar sudah lebih rendah dari harga pokok produksi. Produsen akan merugi jika harus menjual hasil produksi sesuai dengan harga pasar. Produsen tidak akan mampu memproduksi dan pada akhirnya stop produksi.

Namun demikian, mekanisme harga pasar tidak selalu berjalan dengan baik karena dapat menimbulkan pasar gelap, yaitu pasar yang pembentukan harganya di luar ketetapan harga minimum oleh pemerintah.

Penetapan Harga Maksimum

Penetapan harga maksimum atau ceiling price yang diambil oleh pemerintah dimaksudkan untuk melindungi masyarakat konsumen. Penentuan ini untuk memastikan bahwa harga jual produsen tidak terlalu tinggi melebihi daya beli masyarakat konsumen. Sehingga masyarakat masih dapat atau mampu membeli barang dan jasa kebutuhannya.

Penetapan harga maksimum yang lebih rendah daripada harga pasar akan menimbulkan pasar gelap yang memberikan harga barang lebih tinggi.

Operasi Pasar.

Operasi pasar dilakukan oleh pemerintah dalam rangka melindungi konsumen karena harga barang yang berlaku di pasar dirasakan sangat tinggi. Ketika harga bahan pokok di pasar terlalu tinggi, maka pemerintah melalui lembaga terkait menambah jumlah penawaran atau pasokan bahan pokok, sehingga harga bahan pokok dapat normal kembali.

Campur Tangan Pemerintah Secara Tidak Langsung

Campur tangan pemerintah dilakukan dengan mengeluarkan atau membuat beberapa kebijakan yang dapat mempengaruhi atau berdampak pada tingkat harga barang yang berlaku. Kebijakan – kebijakan yang berdampak terhadap pembentukan harga di antaranya adalah:

Subsidi

Subsudi adalah bantuan pemerintah yang diberikan kepada produsen dengan tujuan melindungi, baik produsen maupun konsumen. Subsidi yang diberikan dapat berupa subsidi keuangan dan kemudahan pada suatu urusan agar dapat menekan biaya produksi.

Karena yang disubsidi adalah produsen untuk mempengaruhi biaya produksi menjadi lebih rendah. Maka Subsidi dapat pula meningkatkan daya saing barang local terhadap barang – barang import yang cenderung lebih murah.

Kebijakan subsidi dapat pula digunakan untuk mengendalikan peningkatan harga secara umum. Dengan demikian, subsidi digunakan agar dapat menahan laju inflasi.

Pajak.

Kebijakan pajak dapat diterapkan untuk mengendali harga barang – barang impor yang terlalu menekan barang – barang produksi local. Harga barang impor yang terlalu murah akan berdampak buruk terhadap produksi barang local.

Penerapan pajak pada barang impor dapat meningkatkan harga jual barang sehingga harga barang impor tidak terlalu rendah. Kebijakan pajak diupayakan  dapat meningkatkan daya saing barang produksi local terhadap barang impor.

Kebijakan Moneter.

Kebijakan moneter mengacu pada tindakan atau langkah yang diambil oleh otoritas moneter suatu Negara yang berkaitan dengan masalah moneter.

Kebijakan moneter bertujuan untuk mengatur jumlah uang beredar baik secara langsung maupun tidak langsung. Walaupun jumlah uang beredar tidak sepenuhnya ditentukan oleh pemerintah, namun pemerintah baik secara langsung maupun tidak, tetap merupakan pelaku yang paling bertanggung jawab.

Jumlah uang beredar harus disesuaikan dengan jumlah uang yang dibutuhkan oleh masyarakat. Disesuaikan dengan tingkat peredaran atau transaksi barang dan jasa. Kebijakan ini dapat mengendalikan jumlah uang beredar, sehingga harga barang dan jasa dapat terkendali atau tidak naik terlalu tinggi dan inflasi.

    Daftar Pustaka

    Kata dalam artikel Pengendalian harga barang dan jasa di pasar dan campur tangan pemerintah secara langsung. Tujuan Campur Tangan Pemerintah dalam Penentuan harga Pasar dengan Penetapan Harga Minimum dan Penetapan Harga Maksimum. Campur Tangan dengan Kebijakan Operasi Pasar dan Campur tangan Subsidi. Campur tangan kebijakan pajak atau campur tangan kebijakan moneter.

    Pengertian floor price tujuan penetapan harga minimum dan maksimum, adalah mekanisme harga pasar. Pengertian ceiling price yang Campur Tangan Pemerintah Secara Tidak Langsung. Tujuan subsidi dalam penetapan harga pasar dengan tujuan campur tangan pemerintah dalam penetapan harga pasar. Contoh campur tangan pemerintah dalam penetapan harg pasar.

    Hidrolisis Garam: Pengertian Sifat Rumus Tetapan Reaksi Hidrolisis Garam Basa Kuat Asam Lemah Contoh Soal Perhitungan 7

    Pengertian Hidrolisis Garam.  Hidrolisis berasal dari kata hidro yang berarti air dan lisis yang berarti pernguraian.  Hidrolisis adalah istilah umum untuk reaksi zat dengan air. Hidrolisis garam merupakan reaksi antara air dengan ion- ion yang berasal dari asam lemah atau basa lemah dari suatu garam.

    Pengertian Garam.

    Garam adalah senyawa elektrolit yang dihasilkan dari reaksi netralisasi antara asam dengan basa. Sebagai elektrolit, garam akan terionisasi dalam larutannya menghasilkan kation dan anion.

    Kation yang dimiliki garam adalah kation dari basa asalnya, sedangkan anion yang dimiliki oleh garam adalah anion yang berasal dari asam pembentuknya. Kedua ion inilah yang nantinya akan menentukan sifat dari suatu garam jika dilarutkan dalam air.

    Komponen Larutan Garam

    Komponen garam terdiri dari kation atau anion yang berasal dari asam lemah atau basa lemah bereaksi dengan air (terhidrolisis) membentuk ion H3O+ (biasa ditulis H+) ion OH.

    Jika hidrolisis menghasilkan ion H3O+ maka larutan bersifat asam, tetapi jika hidrolisis menghasilkan ion OH maka larutan bersifat basa.

    Syarat Hidrolisis Garam.

    Hidrolisis garam hanya terjadi jika salah satu komponen penyusun garam tersebut berupa asam lemah dan atau basa lemah. Jika garam terbentuk berasal dari asam kuat dan basa kuat, maka garam tersebut bersifat netral sehingga tidak akan terhidrolisis.

    Garam – Garam yang Mengalami Hidrolisis

    Adapun garam yang akan terhidrolisis adalah garam garam yang berasal dari

    • garam dari asam kuat dan basa lemah,
    • garam dari asam lemah dan basa kuat,
    • garam dari asam lemah dan basa lemah,

    Anion dan kation penyusun garam yang berasal dari asam lemah atau basa lemah dapat bereaksi dengan air. Kation dari basa lemah akan menghasilkan ion H+ dan anion dari asam lemah akan menghasilkan ion OH .

    Hidrolisis garam hanya terjadi jika salah satu komponen penyusun garam tersebut berupa asam lemah dan atau basa lemah. Jika garam yang terbentuk berasal asam kuat dan basa kuat, maka garam tersebut bersifat netral sehingga tidak akan terhidrolisis.

    Sifat Sifat Garam

    Adapun sifat sifat garam adalah sebagai berikut

    1). Sifat garam sangat tergantung pada kuat lemahnya asam dan basa yang membentuknya.

    2).Sifat garam yang terbentuk dari hasil reaksi asam kuat dan basa kuat adalah netral seperti air yang ber pH = 7

    3). Garam yang dihasilkan dari asam kuat dengan basa lemah akan memiliki sifat asam yang ber pH kurang dari 7.

    4). Garam yang dihasilkan dari reaksi basa kuat dengan asam lemah akan menghasilkan sifat basa yang ber pH lebih dari 7

    konsep-hidrolisis-garam-dari-asam-dan-basa
    konsep-hidrolisis-garam-dari-asam-dan-basa

    Hidrolisis Garam Dari Asam Kuat Dan Basa Kuat

    Jika garam jenis ini dilarutkan ke dalam air, baik kation maupun anionnya tidak akan bereaksi dengan air karena ion- ion yang dilepaskan akan segera terionisasi kembali secara sempurna.

    Sehingga perbandingan konsentrasi ion H+ atau H3O+ dan ion OH akan tetap sama. Kondisi ini menghasilkan larutan yang bersifat netral.

    Contoh Garam Dari Asam Kuat Dan Basa Kuat

    Contoh garam yang terbuat dari asam kuat dan basa kuat diantaranya adalah: NaCl, K2SO4, Ba(NO3)2

    Sebagai contoh adalah garam NaCl yang terdiri dari kation Na+ dan anion Cl.

    Ion Na+ berasal dari basa kuat

    Ion  Cl berasal dari larutan asam kuat.

    Reaksi Ionisasi Garam Dari Asam Kuat Dan Basa Kuat

    Di dalam air, NaCl terionisasi sempurna membentuk ion Na+ dan Cl menurut reaksi berikut:

    NaCl (aq) → Na+ (aq) + Cl (aq)

    Baik ion Na+ maupun ion Cl tidak bereaksi dengan air.

    Na+(aq) + H2O (l) ≠ tidak ada reaksi

    Cl(aq) + H2O (l) ≠ tidak ada reaksi

    Pelarutan garam NaCl tidak mengubah jumlah [H+] dan [OH] dalam air, sehingga larutannya bersifat netral yaitu ber pH=7.

    Dengan demikian, dapat diketahui bahwa garam yang berasal dari asam kuat dan basa kuat tidak mengalami hidrolisis dalam air.

    Hidrolisis Garam Dari Asam Kuat dan Basa Lemah

    Pada hidrolisis garam ini, kation dari basa lemah akan terhidrolisis, sedangkan anion dari asam kuat tidak mengalami hidtrolisis.

    Garam jenis ini bersifat asam dalam air karena kationnya terhidrolisis yaitu memberikan proton kepada air, sedangkan anionnya tidak.

    Contoh Garam Dari Asam Kuat dan Basa Lemah

    Beberapa contoh garam yang dibentuk dari asam kuat dan basa lemah diantaranya adalah Al2(SO4)3, AgNO3, CuSO4, NH4Cl, AlCl3.

    Sebagai contoh adalah garam ammonium klorida NH4C

    Amonium klorida, NH4Cl terdiri dari kation NH4+  dan anion Cl

    Ion NH4+ berasal dari basa lemah yaitu NH3

    Ion Cl berasal dari asam kuat HCl

    Reaksi Ionisasi Garam Dari Asam Kuat dan Basa Lemah

    NH4Cl (aq) → NH4+ (aq) + Cl (aq)

    Ion NH4+ bereaksi dengan air membentuk kesetimbangan sebagai berikut:

    NH4+ (aq) + H2O (l) → NH4OH (aq) + H+ (aq)

    Pada Reaksi ini terjadi hidrolisis dan menghasilkan ion H+ atau  H3O+, sehingga sifat larutan menjadi asam.

    Sedangkan ion Cl tidak berreaksi

    Cl(aq) + H2O (l) ≠ tidak terjadi reaksi.

    Adanya Ion H+ yang dihasilkan dari reaksi kesetimbangan tersebut menyebabkan konsentrasi ion H+ di dalam air lebih banyak daripada konsentrasi ion OH. Hal ini mengakibatkan larutan akan bersifat asam dengan nilai pH kurang dari  tujuh (atau pH < ).

    Dengan demikian, garam yang berasal dari asam kuat dan basa lemah mengalami hidrolisis sebagian atau mengalami hidrolisis parsial di dalam air dan larutannya bersifat asam.

    Tetapan Hidrolisis Garam Asam Kuat Basa Lemah

    Tetapan hidrolisis garam asam kuat basa lemah dapat dinyatakan dengan persamaan berikut

    Kh = Kw/Kb

    Kh = Tetapan hidrolisis

    Kw = tetapan kesetimbangan air

    Kb = tetapan ionisasi basa lemah

    Konsentrasi Ion H+ Larutan Garam  Asam Kuat Basa Lemah

    Konsentrasi ion H+ larutan garam dapat dinyatakan dengan rumus berikut

    [H+] = √(Kh x [G])

    [G] = konsentrasi ion garam yang terhidrolosis

    Garam Dari Asam Lemah dan Basa Kuat

    Jika suatu garam dari asam lemah dan basa kuat dilarutkan dalam air, maka kation dari basa kuat tidak terhidrolisis sedangkan anion dari asam lemah akan mengalami hidrolisis.

    Garam yang berasal dari asam lemah dan basa kuat akan menghasilkan anion yang berasal dari asam lemah jika dilarutkan dalam air.  Anion inilah yang menghasilkan ion OH bila bereaksi dengan air.

    Contoh Garam Dari Asam Lemah dan Basa Kuat

    Beberapa contoh Garam yang berasal dari asam lemah dan basa kuat adalah: CH3COONa, NaF, Na2CO3, KCN, CaS.

    Sebagai contoh garam Natrium asetat CH3COONa

    Natrium asetat CH3COONa terdiri dari kation Na+ dan anion CH3COO

    Ion Na+ berasal dari basa kuat NaOH,

    Ion CH3COO berasal dari asam lemah CH3COOH

    Reaksi Ionisasi Garam Dari Asam Lemah dan Basa Kuat

    CH3COONa (aq) → CH3COO(aq) + Na+ (aq)

    Reaksi Kesetimbangan Ion Garam Dalam Air

    Ion CH3COO  bereaksi dengan air membentuk kesetimbangan sebagai berikut:

    CH3COO (aq) + H2O (l) → CH3COOH (aq) + OH (aq)

    Pada reaksi ini terjadi hidrolisis dan menghasilkan ion OH, sehingga sifat larutan menjadi basa.

    Sedangan ion natrium Na+ tidak terjadi reaksi

    Na+ + H2O (l) ≠ tidak terjadi reaksi.

    Reaksi kesetimbangan tersebut menghasilkan ion OH sehingga konsentrasi ion H+ dalam air menjadi lebih sedikit. Jadi, garam yang berasal dari asam kuat dan basa lemah mengalami hidrolisis sebagian (parsial) di dalam air dan larutannya bersifat basa.

    Tetapan Hidrolisis Garam dari Asam Lemah dan Basa Kuat

    Tetapan Hidrolisis garam dari asam lemah dan basa kuat dirumuskan seperti persamaan berikut

    Kh = Tetapan hidrolisis

    Kw = tetapan kesetimbangan air

    Ka = tetapan ionisasi asam lemah

    Konsentrasi Ion [OH] Larutan Garam  Asam Lemah Basa Kuat

    Konsentrasi ion OH larutan garam dapat dinyatakan dengan rumus berikut

    [G] = konsentrasi ion garam terhidrolisis

    Rumus pH Larutan Garam Asam Lemah Basa Kuat

    Hidrolisis Garam dari Asam Lemah dan Basa Lemah

    Jika garam jenis ini dilarutkan ke dalam air, maka kation dan anionnya akan mengalami hidrolisis.

    Contoh Garam dari Asam Lemah dan Basa Lemah

    Contoh garam yang berasal dari asam lemah dan basa lemah diantaranya adalah NH4CN, (NH4)2CO3, CH3COONH4.

    Reaksi Ionisasi Garam dari Asam Lemah dan Basa Lemah

    NH4CN (aq) → NH4+ (aq) + CN (aq)

    Reaksi Kesetimbangan Ion Garam dari Asam Lemah dan Basa Lemah Dalam Air

    Ion NH4+ bereaksi dengan air membentuk kesetimbangan:

    NH4+ (aq) + H2O (l) → NH4OH (aq) + H+ (aq)

    Ion CN bereaksi dengan air membentuk kesetimbangan:

    CN(aq) + H2O (l) → HCN (aq) + OH (aq)

    Kedua reaksi kesetimbangan tersebut menghasilkan ion H+ dan ion OH. Sehingga dapat dikatakan bahwa garam yang dihasilkan dari reaksi asam lemah dan basa lemah mengalami hidrolisis sempurna (total) di dalam air.

    Sifat larutannya ditentukan oleh harga tetapan kesetimbangan asam (Ka) dan tetapan kesetimbangan basa (Kb) dari kedua reaksi tersebut. Harga Ka dan Kb menyatakan kekuatan relatif dari asam dan basa yang bersangkutan.

    Pada hasil reaksi terdapat ion H+ (H3O+) dan OH. Jadi, garam ini bisa bersifat asam, basa, atau netral tergantung dari kekuatan relatif asam dan basa. Kekuatan asam dan basa bersangkutan ditunjukkan oleh harga Ka (tetapan ionisasi asam lemah) dan Kb (tetapan ionisasi basa lemah).

    • Jika harga Ka > Kb, berarti [H+] > [OH] sehingga garam bersifat asam.
    • Jika harga Ka < Kb, berarti [H+] < [OH] sehingga garam bersifat basa.
    • Jika harga Ka = Kb berarti [H+] = [OH] sehingga garam bersifat netral.

    1). Contoh Soal Perhitungan Tetapan Hidrolisis Dan pH Larutan Garam NH4Cl

    Hitung tetapan hidrolisis dan pH larutan garam NH4Cl 0,1 M jika harga Kb = 10–5.

    Diketahui:

    M [NH4Cl] = 0,1 M

    Kb = 10–5

    Rumus Menghitung Tetapan Hidrolisis Garam NH4Cl

    NH4Cl akan terionisasi sempurna dalam air dan membentuk NH4+ dan Cl. NH4 + merupakan asam konjugasi kuat dari NH4OH, maka NH4+ yang mengalami hidrolisis.

    Persamaan reaksinya adalah sebagai berikut.

    NH4+ (aq) = NH3 (aq) + H+ (aq)

    Tetapan hidrolisis suatu garam dapat dinyatakan dengan menggunakan rumus persamaan seperti berikut:

    Kh = Kw/Kb

    Kh = 10-14/10-5

    Kh = 10-9 M

    Jadi, tetapam hidrolisis garam NH4Cl adalah Kh = 10-9 M

    Cara  Menghitung pH Larutan Garam

    Agar dapat menghitung pH larutan garam, maka molaritas NH4+ harus diketahui terlebih dahulu.

    Menghitung Konsentrasi NH4+ Larutan Garam

    Reaksi ionisasi garam NH4Cl ditunjukkan dengan persamaan reaksi berikut

    NH4Cl(aq) → NH4+(aq) + Cl(aq)

    m: 0,1              –                   –

    r  : 0,1            0,1              0,1

    a  : –               0,1               0,1

    m = konsentrasi mula mula

    r = konsentrasi bereaksi

    a = konsentrasi akhir

    Dari Persamaan reaksi dan kesetaraan molnya dapat diketahui bahwa konsentrasi NH4+ adalah:

    [NH4+] = 0,1 M

    Jadi, molaritas NH4+ adalah 0,1 M

    Rumus Menghitung Konsentrasi [H+] Larutan Garam

    [H+] larutan garam dapat dihitung dengan rumus berikut:

    [H+] = √(Kh x[NH4+])

    [H+] = √(10-9 x 0,1)

    [H+] = 10-5 M

    Rumus Menghitung pH Larutan Garam

    pH larutan garam dapat dihitung dengan rumus berikut

    pH = – log [H+]

    pH = – log 10–5

    pH = 5

    Jadi, pH larutan garam NH4Cl  adalah  5

    2). Contoh Saoal Perhitungan pH Larutan KOH dan CH3COOH

    Jika 100 mL larutan KOH 0,5 M dicampur dengan 100 mL larutan CH3COOH 0,5 M, hitung pH campuran yang terjadi (diketahui Ka = 10–6)

    Diketahui

    [KOH] = 0,5 M

    V KOH = 100 mL

    mol KOH = 100 x 0,5 = 50 mmol

    [CH3COOH] = 0,5 M

    V CH3COOH = 100 mL

    mol CH3COOH = 100 x 0,5 = 50 mmol

    Ka = 10–6

    Reaksi Pembentukan Garam Dari Basa Kuat Asam Lemah

    Pembentukan garam dari basa kuat dan asam lemah beserta konsentrasinya ditunjukkan oleh persamaan reaksi berikut

    KOH + CH3COOH → CH3COOK + H2O

    m:50      50                      –                     –

    r : 50      50                      –                     –

    a : 0        0                       50

    Menghitung Konsentrasi Molaritas Garam CH3COOK

    Kosentrasi garam CH3COOK adalah

    mol CH3COOK = 50 mmol

    V CH3COOK = 100 + 100 = 200 mL

    Sehingga molaritas CH3COOK adalah

    M [CH3COOK] = 50/200 = 0,25 M

    Rumus Menghitung Konsentrasi [OH]

    Konsentrasi OH] larutan garam CH3COOK dapat dinyatakan dengan rumus berikut:

    [OH] = √((Kw/Ka) x[CH3COOK])

    [OH] = √(10-14/10-6) x 0,25)

    [OH] = 5 x 10-5 M

    Jadi, konsentrasi ion OH-1 adalah 5 x 10-5 M

    Rumus Menghitung pH Larutan Garam Dari Basa Kuat dan Asam Lemah

    Nilai pH larutan garam dapat dihitung dengan rumus berikut

    pH = 14 – pOH

    pOH = – log5 x 10-5

    pOH = 4,301

    pH = 14 – 4,301

    pH = 9,699

    Jadi, larutan garam memiliki  pH = 9,699

    3). Contoh Soal Perhitungan pH Larutan Garam Dari Asam Lemah Basa Lemah

    Hitunglah pH larutan CH3COONH4 0,05 M, jika diketahui Ka = 10–10 dan Kb NH3 = 10–5

    Diketahui

    Ka = 10–10

    Kb NH3 = 10–5

    Menentukan Konsentrasi Ion H+ Larutan Garam Dari Asam Lemah Basa Lemah

    Konsentrasi ion H+ dapat dihitung dengan rumus berikut

    [H+] = √(Kw x Ka)/Kb)

    [H+] = √(10-10 x10-14)/10–5)

    [H+] = 3,162 x 10-10

    Jadi, konsentrasi ion H+ adalah 3,162 x 10-10

    Rumus Perhitungan pH Larutan Garam Asam Lemah Basa Lemah

    pH larutan garam dari asam lemah basa lemah dinyatakan dengan rumus berikut

    pH = – log [H+]

    pH = – log 3,162 x 10-10

    pH = 9,5

    Jadi, pH larutan garam CH3COONH4 adalah 9,5

    4). Contoh Soal Perhitungan pH Larutan Garam Asam Kuat Basa Lemah

    Hitunglah pH larutan (NH4)2SO4 0,01 M. jika tetapan basa lemah Kb NH3 = 1 x 10–5

    Diketahui:

    M [(NH4)2SO4] = 0,01 M

    Kb NH3 = 1 x 10–5

    (NH4)2SO4 merupakan garam yang dihasilkan dari asam kuat dan basa lemah. Komponen garam yang kuat menentukan sifat garam dalam air, maka garam bersifat asam, artinya dalam air ada ion H+.

    Menentukan Konsentrasi Ion Garam NH4+

    Untuk menentukan konsesntrasi ion garam dapat dicari dengan membuat reaksi ionisasi garamnya dan setarakan konsentrasinya, seperti berikut

    Reaksi Ionisasi Garam (NH4)2SO4

    Persamaan reaksi ionisasi garam dapat dinyatakan dengan persamaan reaksi berikut

    (NH4)2SO4 → 2 NH4+ + SO42-

    0,01 M             0,02 M

    Konsentrasi ion garam adalah

    M [NH4+] = 0,02 M

    Menentukan Tetapan Hidrolisis Garam (NH4)2SO4

    Tetapakan hidrolisis garam dapat dinyatakan dengan rumus berikut

    Kh = Kw/Kb

    Kh = 10-14/10-5

    Kh = 10-9

    Menentukan Konsentrasi Ion Hydrogen [H+] Larutan Garam

    Konsentrasi ion hydrogen dapat dapat dirumuskan seperti berikut

    [H+] = √(Kh x[NH4+])

    [H+] = √(10-9 x 0,02)

    [H+] = 4,47 x 10-6 M

    Menentukan pH Larutan Garam (NH4)2SO4

    pH larutan garam dapat dirumuskan dengan persamaan berikut

    pH = – log 4,47 x 10-6

    pH = 5,349

    Jadi, pH larutan garam (NH4)2SO4 adalah 5,349

    5). Contoh Soal Menentukan pH Larutan Garam Asam Lemah Basa Kuat

    Tentukan pH larutan yang terbentuk pada hidrolisis garam NaCN 0,02 M, jika diketahui Ka HCN = 1x 10–10

    Diketahui:

    M [NaCN] = 0,02 M

    Ka HCN = 1x 10–10

    NaCN merupakan garam yang dihasilkan dari reaksi asam lemah dan basa kuat. Sifat garam dalam air ditentukan oleh komponen paling kuat.

    Kompenen paling kuat adalah basa yaitu basa kuat, sehingga larutan garam bersifat basa yang artinya larutan memiliki ion OH.

    Menentukan Konsentrasi Ion OH Larutan Garam Asam Lemah Basa Kuat

    Untuk dapat menentukan konsentrasi ion hidroksida dalam larutan garam, maka harus dibuatkan persamaan reaksi berserta kesetaraan konsentrasinya seperti berikut

    Reaksi Ionisasi NaCN Dalam Air

    NaCN + H2O → HCN + Na+ + OH atau

    NaCN → Na+ + CN

    0,02 M              0,02 M

    Konsentrasi ion garamnya adalah

    [CN] = 0,02M

    Menentukan Tetapan Hidrolisis Garam NaCN

    Tetapakan hidrolisis garam dapat dirumuskan dengan persamaan berikut

    Kh = Kw/Ka

    Kh = 10-14/10-10

    Kh = 10-4

    Jadi, tetapan hidrolisis larutan garamnya adalah Kh = 10-4

    Rumus Menentukan Konsentrasi Ion OH Larutan Garam Asam Lemah Basa Kuat

    Konsentrasi Ion OH Larutan Garam NaCN dapat dirumuskan dengan persamaan berikut

    [OH] = √(Kh x[CN])

    [OH] = √(10-4 x 0,02)

    [OH] = 1,41 x 10-3

    Jadi, konsentrasi ion [OH] dalam larutan garam adalah 1,41 x 10-3

    Rumus Menentukan pH Larutan Garam NaCN

    pH larutan garam dapat dihitung dengan persamaan berikut

    pH = 14 – pOH

    pOH = -log [OH]

    pOH = – log(1,41 x 10-3)

    pOH = 2,85

    Sehingga pH nya adalah

    pH = 14 – 2,85

    pH = 11,15

    Jadi, pH larutan garam NaCN adalah 11,15

    6). Contoh Soal Perhitungan Garam Asam Lemah Basa Lemah

    Hitunglah pH larutan yang terbentuk dari hidrolisis garam (NH4)2CO3 0,1 M jika diketahui tetapan ionisassi asam Ka H2CO3 = 10-8 dan tetapan ionisasi basa Kb NH4OH = 10-5

    Diketahui:

    M [(NH4)2CO3] = 0,1 M

    Ka H2CO3 = 10-8

    Kb NH4OH = 10-5

    Garam (NH4)2CO3 merupakan garam dari asam lemah dan basa lemah. Sehingga pH larutan tergantung pada tetapan ionisasi dari asam lemah dan basa lemah

    Reaksi Ionisasi Garam (NH4)2CO3

    Garam (NH4)2CO3 akan terionisasi sesuai dengan reaksi berikut:

    (NH4)2CO3 → 2 NH4+ + CO22-

    0,1 M              0,2 M

    Menentukan Konsentrasi Ion Hidrogen H+ Larutan Garam (NH4)2CO3 Asam Lemah Basa Lemah

    Konsentrasi ion hydrogen H+ Larutan Garam (NH4)2CO3 yang dihasilkan dari Asam Lemah Basa Lemah dapat dinyatakan dengan menggunakan rumus berikut

    [H+] = √((Ka x Kw)/Kb)

    [H+] = √(10-8 x 10-14)/10-5)

    H+] = 3,1622 x 10-9 M

    Jadi, konsentrasi ion hydrogen larutan garam (NH4)2CO3 adalah 3,1622 x 10-9 M

    Rumus Menghitung pH Larutan Garam (NH4)2CO3 Asam Lemah Basa Lemah

    pH larutan garam yang dibentuk dari asam lemah dan basa lemah dapat dinyatakan dengan persamaan berikut

    pH = – log [H+]

    pH = – log 3,1622 x 10-9

    pH = 8,5

    Jadi, pH larutan garam (NH4)2CO3 adalah 8,5

    7). Contoh Soal Perhitungan pH Larutan garam Natriuam Format

    Tentukanlah pH Larutan garam Natrium Format HCOONa 0,2 M. Jika diketahui tetapan ionisasi asam Ka HCOOH  = 1,8 x 10-4

    Diketahui:

    M HCOONa = 0,2 M

    Ka HCOOH = 1,8 x 10-4

    Natrium format HCOONa merupakan garam yang dihasilkan dari reaksi asam lemah dan basa kuat. Komponen yang mempengaruhi keasaman adalah basa kuat sehingga sifat garamnya basa.  Sehingga pH tergantung pada konsentrasi ion OH

    Reaksi Ionisasi Garam Natrium Format HCOONa Dalam Air

    HCOONa + H2O → HCOOH + Na+ + OH atau

    HCOONa + H2O → (HCOO + H+) + (Na+ + OH) atau

    HCOONa → HCOO + Na+

    0,2 M            0,2M

    Menentukan Tetapan Hidrolisis Garam HCOONa

    Tetapakan hidrolisis garam dapat dirumuskan dengan persamaan berikut

    Kh = Kw/Ka

    Kh = 10-14/1,8 x 10-4

    Kh = 5,56 x 10-11

    Rumus Menentukan Ion [OH] Larutan Garam HCOONa

    Konsentrasi ion OH dapat dirumuskan dengan persamaan berikut

    [OH] = √(Kh x[HCOO])

    [OH] = √(5,56 x10-11 x[0,2])

    [OH] = 3,33 x 10-6 M

    Jadi, konsentrasi ion OH dalam larutan garam adalah 3,33 x 10-6 M

    Rumus Menghitung pOH Larutan Garam HCOONa

    pOH larutan garam dapat dihitung dengan persamaan berikut:

    pOH = -log OH

    pOH = – log 1,05 x 10-6

    pOH = 5,4771

    sehingga pH nya adalah

    pH = 14 – pOH

    pH = 14 – 5,477

    pH = 8,523

    Jadi, pH larutan garam HCOONa adalah 8,523

       

      Daftar Pustaka:

      1. Sunarya, Yayan, 2014, “Kimia Dasar 1, Berdasarkan Prinsip Prinsip Kimia Terkini”, Cetakan Ketiga, Yrama Widya, Bandung.
      2. Hiskia Achmad,  1996, “K imia Larutan”, Citra Aditya Bakti,  Bandung.
      3. Sunarya, Yayan, 2013, “Kimia Dasar 2, Berdasarkan Prinsip Prinsip Kimia Terkini”, Cetakan Kedua, Yrama Widya, Bandung.
      4. Syukri, S., 1999, “Kimia Dasar 2”, Jillid 2, Penerbit ITB, Bandung
      5. Chang, Raymond, 2004, “Kimia Dasar, Konsep -konsep Inti”, Edisi Ketiga, Jilid Satu, Penerbit, Erlangga, Jakarta.
      6. Brady, James, E,1999, “Kimia Universitas Asas dan Struktur”, Edisi Kelima, Jilid Satu, Binarupa Aksara, Jakarta,
      7. Brady, James, E., 1999, “Kimia Universitas Asas dan Struktur”, Edisi Kelima, Jilid Dua, Binarupa Aksara, Jakarta.
      8. Hidrolisis Garam: Pengertian Sifat Rumus Tetapan Reaksi Hidrolisis Garam Basa Kuat Asam Lemah Contoh Soal Perhitungan 7, Contoh Soal Perhitungan Rumus Hidrolisis Garam Asam Lemah Basa Kuat, Contoh Soal Pembahasan Rumus pH pOH Larutan Garam Dari Asam Kuat Basa Lemah, Contoh Soal Perhitungan Rumus Konsentrasi Ion Hidrogen H+ Hidroksida OH- Larutan Garam Basa Lemah Asam Kuat, Satuan Rumus Tetapan Hidrolisis Ionisasi Garam Asam Basa Lemah,

      Larutan Penyangga Buffer: Pengertian Prinsip Kerja Sifat Manfaat Jenis Cara Buat Contoh Soal Rumus Perhitungan pH 7,

      Pengertian Larutan Penyangga. Larutan penyangga atau buffer solution adalah larutan yang berfungsi untuk mempertahankan pH meskipun ditambahkan sedikit asam, basa ataupun pengenceran.

      Jenis Larutan Buffer

      Larutan penyangga terdiri dari dua jenis buffer yaitu buffer asam dan buffer basa.

      Larutan Buffer Asam

      Buffer asam merupakan campuran asam lemah dengan garam atau basa konjugasi yang berasal dari basa kuat.

      Contoh Larutan Penyangga Buffer Asam

      Larutan penyangga asam mengandung suatu asam lemah (HA) dan basa konjugasinya (A). Larutan penyangga asam mempertahankan pH pada daerah asam (pH < 7),

      Persamaan Reaksi Larutan Buffer Asam

      Persamaan umum reaksi larutan buffer dapat dituliskan sebagai berikut:

      HA(aq) = H+(aq) + A(aq)

      HA = asam lemah

      A = basa konjugasi

      Contoh larutan penyangga asam adalah

      CH3COOH dengan CH3COO.

      H2CO3 dengan HCO3

      H2PO4dengan HPO42–

      NaH2PO4 dan Na2HPO4.

      Rumus Konsentrasi Ion [H+] Larutan Buffer Asam

      Nilai konsentrasi [H+] dalam larutan dapat ditentukan dengan menggunakan formala sebagai berikut,

      [H+] = Ka x (mol asam/ mol garam)

      Rumus pH Larutan Buffer Asam

      Sedangkan pH larutannya dapat diperoleh dengan rumus yang diformulakan seperti berikut:

      pH = – log[H+]

      Larutan Buffer Basa

      Buffer Basa  merupakan campuran antara basa lemah dengan garam atau asam konjugasi yang berasal dari asam kuat.

      Contoh Larutan Penyangga Buffer Basa

      Larutan penyangga basa mengandung basa lemah (B) dan asam konjugasinya (BH+). Larutan penyangga basa mempertahankan pH pada daerah basa (pH > 7).

      Persamaan Reaksi Larutan Buffer Basa

      Persamaan umum reaksi larutan penyangga basa  dapat dituliskan sebagai berikut.

      B (aq) + H2O(l) = BH+(aq) + OH(aq)

      B = basa lemah

      BH+ = Asam konjugasi

      Contoh larutan penyangga basa adalah

      NH3 dengan  NH4+

      NH4OH dengan NH4Cl

      Rumus Konsentrasi Ion [OH] Larutan Buffer Basa

      Besar Konsentrasi [OH] dalam larutannya dapat ditentukan dengan menggunakan rumus yang diformulasikan seperti berikut.

      [OH] = Kb x (mol basa/ mol garam)

      Rumus pOH Larutan Buffer Basa

      Sedangkan pOH larutan dapat ditentukan dengan menggunakan rumus yang diformulasikan sebagai berikut:

      pOH = – log[OH]

      pH = 14 – pOH

      sifat-larutan-penyangga
      Rumus Sifat-Larutan-Penyangga Buffer Asam Basa

      Prinsip Kerja Larutan Penyangga Buffer

      Larutan penyangga asam lemah CH3COOH – CH3COO mengandung asam lemah CH3COOH dan basa konjugasi CH3COO.

      Jika ditambah NaOH, maka ion OH hasil ionisasi NaOH akan dinetralisir oleh asam lemah CH3COOH. Sehingga pH tidak berubah. Reaksi penetralan ion OH oleh CH3COOH mengikuti persamaan reaksi berikut

      CH3COOH (aq) + OH (aq) → CH3COO (aq) + H2O (l)

      Jika Asam  kuat HCl ditambahkan pada larutan penyangga tersebut, maka Ion H+ hasil ionisasi HCl akan dinetralisir oleh basa konjugasi CH3COO. Sehingga pH tidak berubah sesuai reaksi kimia berikut.

      CH3COO (aq) + H+ (aq) → CH3COOH (aq)

      Larutan penyangga akan mempertahankan pH pada kisarannya jika ditambahkan sedikit asam, sedikit basa, dan pengenceran.

      Jika asam kuat (HCl) ditambahkan terlalu banyak, maka basa konjugasi CH3COO akan habis bereaksi. Begitu juga, jika basa kuat (NaOH) ditambahkan terlalu banyak, maka asam CH3COOH akan habis bereaksi.

      Sebagi akibatnya larutan penyangga tidak dapat mempertahankan pH. Jadi, larutan penyangga mempunyai keterbatasan dalam menetralisir asam atau basa yang ditambahkan.

      Sifat Sifat Larutan Penyangga Buffer

      Adapun sifat-sifat larutan buffer diantaranya adalah sebagai berikut.

      1). pH larutan buffer tidak berubah pada penambahan sedikit asam kuat atau sedikit basa kuat.

      2). pH larutan buffer tidak berubah jika larutan diencerkan;

      3). pH larutan buffer dapat berubah dengan penambahan asam kuat atau basa kuat yang relatif banyak. Apabila asam kuat atau basa kuat yang ditambahkan menghabiskan komponen larutan buffer, maka pH larutan akan berubah drastis.

      3). Daya penyangga suatu larutan buffer tergantung pada konsentrasi atau jumlah mol komponennya, yaitu jumlah mol asam lemah dan basa konjugasinya atau jumlah mol basa lemah dan asam konjugasinya.

      Manfaat Fungsi Larutan Penyangga Tubuh Manusia Dan Industri

      Kebanyakan reaksi-reaksi biokimia dalam tubuh makhluk hidup hanya dapat berlangsung pada pH tertentu. Oleh karena itu, cairan tubuh harus merupakan larutan penyangga agar pH senantiasa konstan ketika metabolisme berlangsung.

      Kebanyangan cairan tubuh memiliki rentang nilai pH tertentu. Sebagai contoh, darah tubuh memiliki nilai pH 7,35 sampai dengan 7,45. Asam lambung memiliki pH 1 – 2 dan nilai pH kelenjar pancreas antara 7 – 8.

      1). Larutan Penyangga Dalam Darah

      Organ yang paling berperan untuk menjaga pH darah adalah paru paru dan ginjal.

      Asidosis

      Asidosis adalah suatu keadaan di mana pH darah kurang dari 7,35.

      Faktor Penyebab Asidosis

      Faktor- faktor yang mempengaruhi terjadinya kondisi asidosis antara lain penyakit jantung, penyakit ginjal, kencing manis, dan diare yang terus-menerus.

      Alkolosis

      Alkolosis adalah kondisi di mana pH darah lebih dari 7,45

      Faktor Penyebab Alkolosis

      Kondisi alkolosis disebabkan muntah yang hebat, hiperventilasi yaitu kondisi ketika bernafas terlalu cepat karena cemas atau histeris pada ketinggian.

      Jenis Larutan Buffer Darah

      Larutan buffer dalam darah yang berfungsi untuk menjaga pH darah stabil diantaraya adalah

      a). Larutan Penyangga Hemoglobin Dalam Darah

      Oksigen merupakan zat utama yang dibutuhkan oleh sel tubuh yang diperoleh melalui proses pernapasan. Di dalam darah oksigen diikat oleh hemoglobin dan O2 sangat sensitif terhadap pH.

      Reaksi kesetimbangan antara hemoglobin dengan oksigen dapat dituliskan sebagai berikut.

      HHb+ + O2 = H+ + HbO2

      Campuran asam haemoglobin (HHb+) dan basa konjugasinya haemoglobin (Hb).

      Produk buangan dari tubuh adalah CO2 yang di dalam tubuh bisa membentuk senyawa H2CO3 yang nantinya akan terurai menjadi H+ dan HCO3.

      Penambahan H+ dalam tubuh akan mempengaruhi pH, tetapi hemoglobin yang telah melepaskan O2 dapat mengikat H+ membentuk asam hemoglobin.

      b). Larutan Buffer Karbonat Darah (H2CO3 dengan HCO3)

      Darah memiliki keasaman yang relatif tetap, yaitu antara pH 7,0 –8,0. Keasaman yang tetap ini karena adanya larutan buffer karbonat.

      Larutan buffer karbonat dalam darah mempunyai komposisi yang selalu tetap, sehingga mampu menjaga pH darah selalu stabil.

      Organ yang paling berperan untuk menjaga pH darah adalah paruparu dan ginjal.

      Reaksi Larutan Penyangga Darah

      Reaksi larutan penyangga dalam darah dalam merespon hasil metabolisme tubuh adalah sebagai berikut

      Jika metabolisme mengahasilkan penambahan suatu basa, maka ion OH yang dihasilkan akan bereaksi dengan asam bikarbonat (H2CO3) sesuai dengan reaksi berikut

      H2CO3 + OH   = HCO3 + H2O

      Jika proses metabolisme menghasilkan asam seperti asam laktat, asam fosfat, dan asam sulfat, maka asam- asam tesebut memasuki pembuluh darah membawa ion H+ yang dihasilkan dari asam tersebut.

      Kemudian ion H+ akan diikat oleh ion HCO3 dan akan diubah menjadi H2CO3, sesuai dengan  reaksi berikut

      H+ + HCO3 = H2CO3

      Kemudian H2CO3 akan terurai membentuk CO2.

      H2CO3 (aq) = H2O (aq) + CO2 (aq)

      Reaksi reaksi larutan penyangga tersebut akan menghasilkan perbandingan konsentrasi karbonat dan bikarbonat selalu tetap, sehingga pH darah relatif tetap.

      Perbandingan Molaritas HCO3 terhadap H2CO3

      Perbandingan molaritas HCO3 terhadap H2CO3 yang diperlukan untuk mempertahankan pH darah 7,4 adalah 20:1.

      c).  Larutan Buffer Fosfat Dalam Cairan Intrasel (H2PO4dengan HPO42–)

      Cairan intrasel dalam tubuh makhluk hidup berperan sebagai media metabolisme. Cairan intrasel bersifat asam atau basa, sehingga dapat berubah menjadi asam atau basa.

      Metabolisme dapat dipercepat oleh enzim. Enzim dapat bekerja secara optimal pada pH tertentu yang disebut dengan pH optimum.

      pH cairan intrasel tetap optimum, dalam tubuh mahluk hidup karena terdapat larutan buffer fosfat.

      Larutan buffer fosfat ini berasal dari asam lemah hydrogen-fosfat (HPO42–) dan basa konjugasinya dihydrogen-fostat (H2PO4).

      Apabila proses metabolisme menghasilkan zat asam lebih banyak, maka asam tersebut akan bereaksi dengan ion HPO42– menurut reaksi:

      HPO42– + H+ = H2PO4

      Begitu pula sebaliknya, apabila proses metabolisme menghasilkan basa lebih banyak, maka basa tersebut akan bereaksi dengan ion H2PO4menurut reaksi:

      H2PO4 + H+ = HPO42–

      Reaksi reaksi di atas menyebabkan perbandingan antara HPO42– dengan H2PO4 tetap, sehingga harga pH pada cairan intrasel selalu tetap.

      d). Larutan Buffer Asam Amino

      Asam amino adalah senyawa organik yang memiliki gugus fungsional karboksil (-COOH) dan amina (biasanya -NH2).

      Gugus karboksil memberikan sifat asam dan gugus amina memberikan sifat basa. Dalam bentuk larutan, asam amino bersifat amfoterik: cenderung menjadi asam pada larutan basa dan menjadi basa pada larutan asam. Perilaku ini terjadi karena asam amino mampu menjadi zwitter-ion.

      Apabila asam amino larut dalam air, maka gugus karboksilat akan melepaskan ion H+, sedangkan gugus amina akan menerima ion H+.

      Reaksi yang terjadi adalah sebagai berikut.

      –COOH = –COO+ H+

      –NH2 + H+= –NH3+

      Karena kedua gugus tersebut dapat membentuk ion positif (asam) dan membentuk ion negatif (basa), maka asam amino memiliki zwitter ion (besifat amfoter).

      Apabila tubuh kelebihan asam, maka kelebihan ion H+ akan diikat oleh gugus basa, begitu pula sebaliknya.

      Karena kelebihan asam atau basa dinetralkan oleh asam atau basa dari gugus asam amino, maka pH asam amino relatif bersifat tetap. Berikut struktur beberapa asam amino.

      e). Larutan Penyangga Dalam Ginjal

      Ginjal tubuh manusia berfugsi untuk mengatur konsentrasi H3O+ dalam darah agar tetap konstan, dengan jalan mengeluarkan kelebihan asam melalui urine, sehingga pH urine dapat berada sekitar 4,8 – 7,0.

      2). Larutan Penyangga Obat- Obatan Industri Farmasi

      Dalam industri farmasi atau obat-obatan, banyak zat aktif yang harus berada dalam keadaan pH stabil. Perubahan pH akan menyebabkan khasiat zat aktif tersebut berkurang atau hilang sama sekali.

      Obat penghilang rasa nyeri seperti aspirin mengandung asam asetilsalisilat sebagai penyangga. Beberapa merek aspirin juga ditambahkan zat untuk menetralisir kelebihan asam di perut, seperti penyangga MgO.

      Obat suntik atau obat tetes mata, pH-nya harus disesuaikan dengan pH cairan tubuh. Obat tetes mata harus memiliki pH yang sama dengan pH air mata agar tidak menimbulkan iritasi yang mengakibatkan rasa perih pada mata. Begitu pula obat suntik harus disesuaikan dengan pH darah.

      3). Larutan Penyangga Industri

      Dalam industri, larutan penyangga digunakan untuk penanganan limbah. Larutan penyangga ditambahkan pada limbah untuk mempertahankan pH antara 5 – 7,5.

      Larutan penyangga pada pH 5 – 7,5 digunakan untuk memisahkan materi organik pada limbah sehingga layak di buang ke perairan.

      Reaksi-reaksi kimia di laboratorium dan di bidang industri juga banyak menggunakan larutan penyangga. Reaksi kimia tertentu ada yang harus berlangsung pada suasana asam atau suasana basa. Buah-buahan dalam kaleng perlu dibubuhi asam sitrat dan natrium sitrat untuk menjaga pH agar buah tidak mudah dirusak oleh bakteri.

      Membuat Larutan Penyangga Asam Basa

      Berikut adalah cara membuat larutan penyangga yang biasa dilakukan.

      1). Membuat Larutan Penyangga Asam

      Larutan penyangga asam yang dapat dibuat misalnya larutan yang berbasis asam lemah asetat CH3COOH dengan basa konjugasinya CH3COO.

      Asam asetat (CH3COOH) di dalam air akan terionisasi sebesar α (derajat ionisasinya) sesuai reaksi berikut

      CH3COOH (aq) = CH3COO (aq) + H+ (aq)

      Unutk meningkatkan molaritas basa konjugasi CH3COO dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu

      a). Menambahkan garam seperti CH3COONa ke dalam asam lemah CH3COOH. Garam yang ditambahkan tersebut akan terionisasi menurut reaksi berikut.

      CH3COONa (aq) → CH3COO (aq) + Na+ (aq)

      b). Menambahkan basa kuat seperti NaOH ke dalam asam lemah CH3COOH berlebih. Reaksi yang terjadi dapat dituliskan sebagai berikut.

      CH3COOH (aq) + NaOH (aq) → Na+ (aq) + CH3COO (aq) + H2O (aq)

      2). Membuat Larutan Penyangga Basa

      Larutan penyangga basa yang dapat dibuat adalah berbasis basa lemah NH3 dengan asam konjugasi NH4+.

      NH3 akan terionisasi sebesar α (derajat ionisasinya) di dalam air. Reaksi ionisasinya adalah

      NH3(aq) + H2O (l) = NH4+(aq) + OH (aq)

      Besarnya molaritas asam konjugasi NH4+ dapat dinaikan dengan cara seperti berikut

      a). Menambahkan garam seperti NH4Cl ke dalam asam lemah NH3. Garam tersebut akan terionisasi menurut reaksi berikut

      NH4Cl(aq) → NH4+ (aq) + Cl (aq)

      b). Menambahkan asam kuat seperti HCl ke dalam basa lemah NH3 berlebih. Reaksi yang terjadi adalah

      NH3 (aq) + HCl (aq) → NH4+(aq) + Cl (aq)

      1). Contoh Soal Perhitungan Larutan Penyangga Asam Lemah

      Berapakah pH larutan penyangga yang terbuat dari asam lemah CH3COOH 0,3 M dan NaCH3COO 0,1 M, jika tetapan ionisasi asam Ka CH3COOH diketahui bernilai 1,8 x 10-5.

      Diketahui

      M [CH3COOH] = 0,3 M

      M [NaCH3COO] = 0,1 M

      Ka = 1,8 x 10-5.

      Rumus Menghitung pH Larutan Penyangga

      pH larutan penyangga dapat dirumuskan dengan menggunakan persamaan berikut

      pH = pKa – log a/g

      Ka = tetapan ionisasi asam lemah

      a = jumlah mol asam lemah

      g = jumlah mol basa konjugasi

      pH = – log (1,8 x 10-5) – log (0,3/0,1)

      pH = 4,7447 – 0,4771

      pH = 4,2676

      Jadi, pH larutan penyangga adalah 4,2676

      2). Contoh Soal Perhitungan pH Larutan Penyangga Basa NH3 dan NH4Cl

      Sebanyak 25 mL larutan NH3 0,1 M (Kb = 10–5) dicampur dengan 50 mL larutan NH4Cl 0,5 M. Hitunglah pH larutan tersebut!

      Reaksi Larutan Penyangganya

      25 mL NH3 0,1 M + 50 mL NH4Cl 0,5 M

      Menghitunga Konsentrasi Larutan Penyanggga Basa Lemah Dan Asam Konjugasi

      Konsentrasi basa lemah dan asam konjugasi dinyatakan dalam mol yang dihitung dengan rumus berikut

      mol (n) = V x M

      V = volume larutan

      M = molaritas, mol/liter

      mol NH3 = 25 mL × 0,1 mmol/mL = 2,5 mmol

      mol NH4Cl = 50 mL × 0,5 mmol/mL = 25 mmol

      Rumus Menghitung pH Larutan Penyangga Basa Lemah Asam Konjugasi

      pH larutan penyangga basa dapat dirumuskan dengan persamaan berikut

      pH = 14 – pOH

      Menghitung pOH Larutan Penyangga Basa Lemah Asam Konjugasi

      pOH larutan penyangga dapat dihitung dengan rumus seperti berikut

      pOH = pKb – log b/g

      Kb = tetapan ionisasi basa lemah

      b = jumlah mol basa lemah

      g = jumlah mol asam konjugasi

      pOH = – log (10–5) – log 2,5/25

      pOH = – log (10–5) – log 0,1

      pOH = 5 + 1

      pOH = 6

      Sehingga pH larutan penyangga basa adalah

      pH = 14 – 6

      pH = 8

      Jadi, pH larutan buffer basa adalah 8

      3). Contoh Soal Perhitungan Larutan Penyangga Ditambah Sedikit Asam Lemah

      Larutan buffer dibuat dari  500 mL CH3COOH 0,1 M dan 500 mL CH3COONa 0,1 M. Dengan harga Ka = 1,8 x10–5, tentukan besarnya:

      a). pH campuran buffer

      b). pH campuran setelah ditambah 10 mL CH3COOH 0,1 M

      Diketahui

      V CH3COOH = 500 mL

      M [CH3COOH] = 0,1 M

      V CH3COONa = 500 mL

      M [CH3COONa] = 0,1 M

      Ka = 1,8 x10–5

      Rumus Menentukan Konsentrasi Ion Hidrogen Larutan Penyangga Asam

      Konsentrasi asam lemah dan asam konjugasinya (garam) dihitung dengan cara berikut

      mol CH3COOH = 500 x 0,1 = 50 mmol

      mol CH3COONa = 500 x 0,1 = 50 mmol

      maka konsentrasi ion hidrogenya adalah

      [H+] = Ka [asam]/[garam] atau

      [H+] = Ka [CH3COOH]/[CH3COONa]

      [H+] = (1,8 x10–5) x (50/50)

      [H+] = 1,8 x10–5

      Rumus Menghitung pH Larutan Buffer Asam

      pH larutan buffer asam dapat dinyatakan dengan rumus berikut

      pH = – log [H+]

      pH = – log1,8 x10–5

      pH = 4,745

      Jadi pH larutan buffer asam adalah 4,745

      Menghitung Konsentrasi Ion Hidrogen Setelah Ditambah Asam Lemah

      Konsentrasi ion hydrogen setelah ditambah 10 ml CH3COOH 0,1 M dapat dihitung dengan cara berikut:

      mol penambahan CH3COOH = 10 x 0,1 = 1,0 mmol

      mol mula-mula CH3COOH = 50 mmol

      sehingga mol CH3COOH dalam campuran berubah  menjadi:

      mol CH3COOH = 50 + 1 = 51 mmol

      mol CH3COONa = 50 mmol (tetap)

      Konsentrasi ion hidrogennya adalah

      [H+] = Ka [CH3COOH]/[CH3COONa]

      [H+] = (1,8 x10–5) x (51/50)

      [H+] = 1,836 x10–5

      Menghitung pH Larutan Penyangga Setelah Ditambah Asam Lemah

      pH larutan penyangga setelah ditambah asam lemah dapat dinyatakan dengan menggunakan rumus berikut

      pH = – log[H+]

      pH = – log(1,836 x10–5)

      pH = 4,7361

      Jadi, pH larutan penyangga setelah ditambah asam lemah adalah 4,7361

      5). Contoh Soal Perhitungan pH larutan Penyangga Asam Setelah Ditambah Basa Lemah

      Campuran terdiri atas 200 mL CH3COOH 0,2 M dan 200 mL CH3COONa 0,2 M. Dengan harga Ka = 1,8 10–5, tentukan besarnya:

      a). pH campuran buffer

      c). pH campuran setelah ditambah 5 mL NH4OH 0,2 M

      Diketahui:

      V CH3COOH = 200 mL

      V CH3COONa = 200 mL

      M [CH3COOH] = 0,2 M

      M [CH3COONa] = 0,2 M

      Ka = 1,8 10–5

      Rumus Menentukan Konsentrasi Ion Hidrogen Larutan Penyangga Asam

      Konsentrasi asam lemah dan asam konjugasinya (garam) dihitung dengan cara berikut

      mol CH3COOH = 200 x 0,2 = 40 mmol

      mol CH3COONa = 200 x 0,2 = 40 mmol

      maka konsentrasi ion hidrogenya adalah

      [H+] = Ka [asam]/[garam] atau

      [H+] = Ka [CH3COOH]/[CH3COONa]

      [H+] = (1,8 x10–5) x (40/40)

      [H+] = 1,8 x10–5

      Rumus Menghitung pH Larutan Buffer Asam

      pH larutan buffer asam dapat dinyatakan dengan rumus berikut

      pH = – log [H+]

      pH = – log1,8 x10–5

      pH = 4,745

      Jadi pH larutan buffer asam adalah 4,745

      Menghitung Konsentrasi Ion Hidrogen Setelah Ditambah Basa Lemah

      Konsentrasi ion hydrogen setelah ditambah 5 mL NH4OH 0,2 M dapat dihitung dengan cara berikut:

      mol CH3COOH mula mula= 40 mmol

      mol CH3COOmula mula = 40 mmol

      mol NH4OH yang bereaksi

      mol NH4OH = 5 mL x 0,2 M

      mol NH4OH = 1 mmol

      Reaksi Asam Lemah dan Basa Lemah Larutan Penyangga

      CH3COOH + NH4OH → CH3COONH4 + H2O

      m: 40            1

      r  : 1              1                 1                        1

      s  : 39            0                 1                        1

      Dari reaksi di atas diketahui data data berikut

      Dari 40 mol CH3COOH, yang beraksi dengan 1 mol NH4OH adalah 1 mol, sehingga sisanya adalah

      jumlah mol CH3COOH yang bereaksi = 1 mol

      sisa mol CH3COOH = 40 – 1 = 39 mol

      1 mol CH3COOH yang bereaksi dengan 1 mol NH4OH menghasilkan 1 mol CH3COONH4, ini berarti menghasilkan 1 mol ion CH3COO sesuai reaksi ionisasi berikut

      CH3COONH4 → CH3COO + NH4+

      1 mol                   1 mol

      Jadi dalam larutan bertambah 1 mol ion CH3COO, sehingga total ion ion CH3COO dalam larutan adalah

      mol CH3COO = 40 + 1 = 41 mmol

      Konsentrasi ion hidrogennya adalah

      [H+] = Ka [CH3COOH]/[CH3COO]

      [H+] = (1,8 x10–5) x (39/41)

      [H+] = 1,7122 x10–5

      Menghitung pH Larutan Penyangga Setelah Ditambah Basa Lemah

      pH larutan penyangga setelah ditambah basa lemah dapat dinyatakan dengan menggunakan rumus berikut

      pH = – log[H+]

      pH = – log(1,7122 x10–5)

      pH = 4,76

      Jadi, pH larutan penyangga setelah ditambah basa lemah adalah 4,76

      6). Contoh Soal Perhitungan Konsentrasi pH Larutan Buffer Diencerkan

      Sebanyak 0,5 liter larutan buffer dibuat dengan mereaksikan asam lemah CH3COOH 0,05 M dengan CH3COONa 0,1 M. Kemudian larutan tersebut diencerkan dengan menambahkan akuades sebanyak 1,5 L. Jika Ka = 1,8 10–5, maka tentukan:

      a). pH larutan buffer sebelum sebelum pengenceran atau sebelum ditambah akuades

      b). pH larutan setelah pengenceran

      Diketahui

      V larutan = 0,5 Liter

      M [CH3COOH] = 0,05 M

      M [CH3COONa] = 0,1 M

      Ka = 1,8 10–5

      Menghitung Konsentrasi Ion H+ Larutan Buffer Sebelum Pengenceran

      Konsentrasi ion hydrogen larutan buffer sebelum pengenceran dapat dinyatakan dengan persamaan berikut

      [H+] = Ka [asam]/[garam] atau

      H+] = Ka .[CH3COOH]/[ CH3COONa]

      [H+] = (1,8 10–5) x (0,05/0,1)

      [H+] = 9 x 10-6 M

      Jadi, konsentrasi ion hydrogen larutan buffer adalah 9 x 10-6 M

      Menghitung pH Larutan Penyangga Sebelum Pengenceran

      pH larutan penyangga sebelum pengenceran dapat dirumuskan seperti berikut

      pH = – log [H+]

      pH = – log 9 x 10-6

      pH = 5,0457

      Jadi, pH larutan buffer sebelum pengenceran adalah pH = 5,0457

      Cara Menghitung Konsesntrasi Ion Hidrogen Setelan Pengenceran

      Konsentrasi ion hydrogen setelah pengenceran dapat dicari dengan cara menghitung perubahan konsentrasi CH3COOH dan konsentrasi CH3COONa terlebih dahulu seperti berikut:

      Volume larutan sebelum diencerkan

      V1 = 0,5 L

      Volume setelah diencerkan

      V2 = 0,5 L + 1,5 L = 2L

      Rumus Pengenceran Larutan Buffer

      Perubahan konsentrasi setelah pengenceran dapat ditentukan seperti berikut

      V1 x M1 = V2 x M2 atau

      M2 = (V1 x M1)/ V2 sehingga

      Konsentrasi CH3COOH adalah

      M [CH3COOH] = (V1 x M1)/ V2

      M [CH3COOH] = (0,5 x 0,05)/2

      M [CH3COOH] = 0,0125

      Konsentrasi CH3COONa adalah

      M [CH3COONa] = (V1 x M1)/ V2

      M [CH3COONa] = (0,5 x 0,1)/2

      M [CH3COONa] = 0,025 M

      Rumus Konsentrasi Ion Hidrogen Setelah Pengenceran

      Konsentrasi ion hydrogen setelah pengenceran dapat dinyatakan dengan menggunakan rumus berikut

      [H+] = Ka [asam]/[garam]

      [H+] = Ka [CH3COOH]/[ CH3COONa]

      [H+] = 1,8 x 10-5 (0,0125/0,025)

      [H+] = 9 x 10-6 M

      Jadi konsentrasi ion hydrogen larutan buffer adalah 9 x 10-6 M

      Rumus Menghitung pH Larutan Penyangga Setelah Pengenceran

      pH larutan buffer setelah pengenceran dapat dihitung dengan rumus berikut

      pH = – log [H+]

      pH = – log(9 x 10-6)

      pH = 5,0457

      Jadi, perubahan pH sebelum dan setelah pengenceran adalah

      pH = 5,0457– 5,0457

      pH = 0,0

      Pada kasus ini. pengenceran tidak menyebabkan perubahan pH larutan buffer

      Fungsi Larutan Penyangga

      Larutan penyangga Buffer memiliki keunggulan yang dapat dimanfaatkan untuk kehidupan sehari hari maupun keperluan industri. Addapun manfaat atau fungsi dari larutan penyangga diantarannya adalah:

      • Di dalam tubuh manusia, larutan penyangga berfungsi untuk menjaga pH darah, sehingga darah memiliki keasaman yang sesuai dengan karakteristik reaksi enzim.
      • Dalam kehidupan sehari – hari, larutan penyangga digunakan untuk menjaga pH makanan yang dikemas menggunakan kaleng. Sehingga makanan tidak mudah rusak oleh serangan bakteri.

      7). Contoh Soal Ujian Perhitungan dan Pembahasan

      Larutan penyangga dibuat dengan mencampurkan 50 ml larutan CH3COOH 0,1 M dengan 50 ml NaCH3COO  0,1M. Dengan Ka CH3COOH = 1,8 x 10-5, maka pH larutan tersebut adalah:

      Pembahasan Jawaban Soal

      Hitung jumlah mol masing – masing larutan.

      50 ml CH3COOH 0,1 M + 50 ml NaCH3COO  0,1M

      Jumlah mol CH3COOH adalah:

      mol CH3COOH = 50 ml x 0,1 mmol/ml

      mol CH3COOH = 5 mmol/ml

      jumlah mol NaCH3COO  adalah

      mol NaCH3COO  = 50 ml x 0,1 mmol/ml

      mol NaCH3COO =  5 mmol

      substitusi nilai-nilai yang ada dari soal maupun dari hasil perhitungan ke persamaan berikut:

      [H+] = Ka x (mol asam/ mol garam)

      [H+] = 1,8 x 10-5 x (5 mmol/ 5 mmol)

      [H+] = 1,8 x 10-5

      pH = – log [H+]

      pH = – log (1,8 x 10-5)

      pH = 5 – log1,8

        Daftar Pustaka

        1. Syukri, S., 1999, “Kimia Dasar 2”, Jillid 2, Penerbit ITB, Bandung
        2. Chang, Raymond, 2004, “Kimia Dasar, Konsep -konsep Inti”, Edisi Ketiga, Jilid Satu, Penerbit, Erlangga, Jakarta.
        3. Brady, James, E,1999, “Kimia Universitas Asas dan Struktur”, Edisi Kelima, Jilid Satu, Binarupa Aksara, Jakarta,
        4. Sunarya, Yayan, 2014, “Kimia Dasar 1, Berdasarkan Prinsip Prinsip Kimia Terkini”, Cetakan Ketiga, Yrama Widya, Bandung.
        5. Sunarya, Yayan, 2013, “Kimia Dasar 2, Berdasarkan Prinsip Prinsip Kimia Terkini”, Cetakan Kedua, Yrama Widya, Bandung.
        6. Brady, James, E., 1999, “Kimia Universitas Asas dan Struktur”, Edisi Kelima, Jilid Dua, Binarupa Aksara, Jakarta.
        7. Ringkasan Rangkuman:  Prinsip larutan penyangga adalah adanya kesetimbangan antara asam lemah atau basa lemah dengan basa atau asam konjugatnya. Sistem kesetimbang ini dapat mempertahankan pH larutan penyangga.
        8. Persamaan untuk menentukan pH dan pOH larutan penyangga dirumuskan pertama kali oleh Henderson- Hasselbalch.
        9. pH larutan penyangga dikendalikan oleh perbandingan konsentrasi pasangan asam lemah dan basa konjugatnya dan tetapan ionisasi dari asam atau basa lemah.
        10. Penambahan sedikit asam atau basa kuat terhadap larutan penyangga tidak mengubah pH larutan penyangga secara signifikan.
        11. Prinsip kesetimbangan juga terdapat pada garam garam yang sukar larut dalam air. Garam-garam ini membentuk kesetimbangan di antara padatan dan ion-ion yang larut dengan konsentrasi sangat kecil.

        Tetapan Hasil Kali Kelarutan Ksp: Pengertian pH Pengendapan Pengaruh Ion Sesama Contoh Soal Perhitungan 12

        Pengertian Kelarutan: Istilah kelarutan atau solubility digunakan untuk menyatakan jumlah maksimal zat yang dapat larut dalam sejumlah tertentu pelarut. Kelarutan (khususnya untuk zat yang sukar larut) dinyatakan dalam satuan mol.L–1. Jadi, kelarutan (dinotasikan dengan huruf (s) sama dengan molaritas (M).

        Hasil Kali Kelarutan

        Hasil kali kelarutan ialah hasil kali konsentrasi ion- ion dari larutan jenuh garam yang sukar larut dalam air, setelah masing- masing konsentrasi dipangkatkan dengan koefisien menurut persamaan ionisasinya.

        Senyawa ion yang terlarut dalam air akan terurai menjadi ion positif dan ion negatif. Jika dalam larutan jenuh ditambahkan kristal senyawa ion, maka kristal tersebut tidak akan melarut tetapi mengendap. Berarti kristal tidak mengalami ionisasi.

        Jika dalam sistem tersebut ditambahkan air, maka Kristal akan larut dan terionisasi. Jika larutan kristal dipanaskan kembali, maka akan terbentuk endapan kristal. Sehingga dapat dikatakan dalam sistem tersebut terjadi kesetimbangan

        Rumus Tetapan Hasil Kali Kelarutan

        Nilai hasil kelarutan dinotasikan dengan Ksp. Untuk elektrolit sejenis, Nilai Ksp yang semakin besar menunjukkan semakin mudah larut.

        Perhatikan contoh reaksi berikut:

        Ax + By(s) = xAm+(aq) + yBn-(aq)

        Hasil kali kelarutannya dapat ditulis

        Ksp = [Am+]x  [Bn-]y

        Memperkirakan Terjadinya Proses Pengendapan Zat Elektrolit

        Pengendapan zat elektrolit dalam suatu larutan dapat diperkirakan dengan membandingkan nilai Ksp terhadap nilai Qsp. Nilai Qsp adalah hasil kali konsentrasi molar awal dai ion – ion dalam larutan dengan asumsi zat terionisasi sempurna.

        Qsp < Ksp, nilai Qsp lebih kecil daripada Ksp ini artinya tidak terjadi pengendapan

        Qsp = Ksp, nilai Qsp sama dengan nilai Ksp, maka larutan sudah jenuh, namun demikian masih belum menunjukkan terjadinya proses pengendapan

        Qsp > Ksp, nilai Qsp lebih besar daripada nilai Ksp, ini artinya reaksi sudah terjadi proses pengendapan.

        Pengaruh Ion Sejenis Sesama Terhadap Kelarutan.

        Kehadiran ion sejenis dalam larutan akan mempengaruhi kelarutan. Ion – ion sejenis akan memperkecil atau mengurangi kelarutan suatu senyawa elektrolit.  Ini artinya, semakin tinggi konsentrasi ion sejenis, maka semakin kecil kelarutan elektrolitnya.

        hasil-kali-kelarutan-reaksi-kimia
        hasil-kali-kelarutan-reaksi-kimia

        1). Contoh Soal Menghitung Hasil Kali Kelarutan PbCl2 Dalam Air

        Jika kelarutan PbCl2 dalam air adalah 0,016 M, tentukanlah hasil kali kelarutannya (Ksp PbCl2)

        Diketahui

        Kelarutan (s) PbCl2 = 0,016 M

        Menentukan Perasamaan Reaksi Kesetimbangan Kelarutan PbCl2 Dalam Air

        Reaksi kesetimbangan PbCl2 di dalam air dapat dinyatakan dengan persamaan berikut

        PbCl2 =  Pb2+ + 2 Cl

        s              s          2 s

        s = kelarutan PbCl2

        Rumus Menghitung Hasil Kali Kelarutan PbCl2

        Tetapan Hasil Kali Kelarutan Ksp PbCl2 dapat dinyatakan dengan menggunakan rumus peramaan berikut:

        Ksp PbCl2 = [Pb2+] [Cl]2

        Kelarutan PbCl2 = s

        Konsentrasi Pb2+ = s

        Konsentrasi Cl = 2 s

        Maka Hasil Kali Kelarutannya adalah

        Ksp PbCl2 = [s ][2 s]2

        Ksp PbCl2 = 4 s3

        Ksp PbCl2 = 4 x (0,016)3

        Ksp PbCl2 = 1,64 x 10-5

        Jadi, tetapan hasil kali kelarutan Ksp PbCl2 adalah 1,64 x 10-5

        2). Contoh Soal Perhitungan Menentukan Kelarutan Pb(OH)2

        Tentukan kelarutan Pb(OH)2 apabila hasil kali kelarutannya pada temperature 250C adalah  2,8 x 10-16

        Diketahui

        Ksp Pb(OH)2 = 2,8 x 10-16

        Menentukan Perasamaan Reaksi Kesetimbangan Kelarutan Pb(OH)2

        Reaksi kesetimbangan Pb(OH)2 dapat dinyatakan dengan persamaan reaksi seperti berikut

        Pb(OH)2  =  Pb2+ + 2 OH

        s                    s          2 s

        s = kelarutan Pb(OH)2

        Rumus Menghitung Kelarutan PbCl2

        Kelarutan Pb(OH)2dapat dinyatakan dengan menggunakan rumus peramaan berikut:

        Ksp Pb(OH)2= [Pb2+] [OH]2

        Kelarutan Pb(OH)2= s

        Konsentrasi Pb2+ = s

        Konsentrasi OH = 2 s

        Maka Kelarutan Pb(OH)2adalah

        Ksp Pb(OH)2= [s ][2 s]2

        Ksp Pb(OH)2 = 4 s3

        s3 =  (Ksp Pb(OH)2)/4

        s3 =  (2,8 x 10-16)/4

        s3 =  (7 x 10-17)

        s = 4,12 x 10-6

        Jadi, kelarutan kelarutan Pb(OH)2 adalah 4,12 x 10-6 M

        3). Contoh Soal Menentukan Jumlah Zat Terlarut Jika Ksp Larutan Diketahui

        Tentukan berapa gram Mg(OH)2 yang dapat larut dalam 2000 mL air, jika Ksp Mg(OH)2 = 7,1 x10–12 dan massa molekul Mr Mg(OH)2 = 58

        Diketahui:

        Ksp Mg(OH)2 = 7,1 x10–12

        Mr Mg(OH)2 = 58

        V  = 2000 mL = 2 L

        Menentukan Reaksi Kesetimbangan Mg(OH)2 Dalam Air

        Kesetimbangan reaksi Mg(OH)2 dalam air dapat dinyatakan dengan persamaan sebagai berikut.

        Mg(OH)2 (s) = Mg+2 (aq) + 2 OH (aq)

        s                       s                   2  S

        s = kelarutan Mg(OH)2

        Menentukan Kelarutan Mg(OH)2 Dalam Air

        Kelarutan Mg(OH)2dapat dinyatakan dengan menggunakan rumus peramaan berikut:

        Ksp Mg(OH)2= [Mg+] [OH]2

        Kelarutan Mg(OH)2= s

        Konsentrasi Mg+ = s

        Konsentrasi OH = 2 s

        Maka Kelarutan  Mg(OH)2 adalah

        Ksp Mg(OH)2= [s ][2 s]2

        Ksp Mg(OH)2 = 4 s3

        s3 =  (Ksp Mg(OH)2)/4

        s3 =  (7,1 x10–12)/4

        s3 =  (1,8 x 10-12)

        s = 1,2 x 10-4 mol/L (M)

        Menentukan Massa Mg(OH)2 Yang Terlarut Dalam Air

        Jumlah massa Mg(OH)2 yang dapat larut dalam air dapat dinyatakan dengan rumus berikut

        M = n/V atau

        M = m/(Mr xV) atau

        m = M x Mr x V

        m = (1,2 x 10-4) x 58 x 2

        m = 0,0139 gram

        Jadi, massa Mg(OH)2 adalah 0,0139 gram.

        4). Contoh Soal Menghitung Tetapan Hasil Kali Kelarutan Ksp Kalsium Hidroksida Ca(OH)2

        Tentukan tetapan hasil kali kelarutan kalsium hidroksida Ca(OH)2, jika kelarutan Ca(OH)2 adalah 11,8 mmol/L.

        Dketahui

        Kelarutan Ca(OH)2 = 11,8 mmol/L = 0,0118 M

        Menentukan Reaksi Kesetimbangan Ca(OH)2

        Reaksi kesetimbangan Ca(OH)2  dapat dituliskan dengan persamaan reaksi berikut.

        Ca(OH)2 (s) = Ca+2 (aq) + 2 OH (aq)

        s                       s                 2  S

        s = kelarutan Ca(OH)2

        Rumus Menentukan Hasil Kali Kelarutan Ca(OH)2

        Hasil Kali Kelarutan Ca(OH)2 dapat dirumuskan dengan menggunakan rumus berikut:

        Ksp Ca(OH)2= [Ca+] [OH]2

        Kelarutan Ca(OH)2= s

        Konsentrasi Ca+ = s

        Konsentrasi OH = 2 s

        Maka Hasil Kali Kelarutan Ca(OH)2 adalah

        Ksp Ca(OH)2= [s ][2 s]2

        Ksp Ca(OH)2 = 4 s3

        Ksp Ca(OH)2 = 4 (0,0118)3

        Ksp Ca(OH)2 = 6,57 x 10-6

        Jadi, hasil kali kelarutan Ksp Ca(OH)2 adalah  6,57 x 10-6

        5). Contoh Soal Menentukan Kelarutan Kalium Klorida AgCl dalam Kalsium Klorida CaCl2

        Kelarutan perak klorida AgCl dalam air adalah 1,3 x 10-5 mol/L. Tentukan kelarutan AgCl dalam kalsium klorida CaCl2 0,1 M.

        Diketahui

        Kelarutan (s) AgCl = 1,3 x 10-5 mol/L

        Konsesntrasi CaCl2 = 0,1 M

        Menentukan Reaksi Kesetimbangan Kalium Klorida AgCl

        AgCl = Ag+   +  Cl

        s           s             s

        s = kelarutan AgCl

        Menentukan Hasil Kali Kelarutan AgCl

        Hasil kali kelarutan AgCl dapat dihitung dengan menggunakan persamaan rumus berikut

        Ksp AgCl = [Ag+][Cl]

        Ksp AgCl = [s][s]

        Ksp AgCl = s2

        Ksp AgCl = (1,3 x 10-5)2

        Ksp AgCl = 1,7 x 10-10

        Menentukan Konsentrasi [Cl] Dalam Larutan CaCl2

        Kesetimbangan Reaksi CaCl2

        CaCl2 = Ca+2 + 2 Cl

        0,1         0,1      0,2

        Total Konsentrasi [Cl] dalam larutan CaCl2 adalah konsentrasi Cl dari AgCl ditambah Cl dari CaCl2.

        Total [Cl] = [Cl]a + [Cl]c

        Total [Cl] = [1,3 x 10-5] + [0,2]

        Total [Cl] = 0,2 M

        Konsetrasi [Cl]a yang berasal dari AgCl = 1,3 x 10-5 M sangat kecil dibandingkan [Cl]c yang berasal dari CaCl2, maka [Cl]a yang berasal dari AgCl dapat diabaikan. Jadi, total konsentrasi [Cl] ketika AgCl berada dalam larutan CaCl2 adalah 0,2 M

        Menentukan Kelarutan AgCl Dalam Larutan CaCl2

        Kelarutan AgCl dalam larutan CaCl2 dapat dinyatakan dengam rumus berikut

        Ksp AgCl = [Ag+][Cl]

        [Ag+] adalah konsentrasi Ag+ yang ada dalam larutan CaCl2 dan merupakan Ag+ yang berasal dari AgCl.

        [Ag+] = (Ksp AgCl)/ [Cl]

        [Ag+] =(1,7 x 10-10)/(0,2)

        [Ag+] = 8,5 x 10-10 M

        Sesuai dengan reaksi kesetimbangan bahwa konsentrasi [Ag+] yang ada dalam larutan sama dengan kelarutan AgCl.

        Jadi, kelarutan AgCl dalam larutan CaCl2 0,1 M adalah sama dengan konsentrasi Ag+ dalam larutan CaCl2 yaitu 8,5 x 10-10 M

        6). Contoh Soal Menentukan pH Larutan Dari Hasil Kali Kelarutan Mangan Hidroksida Ksp Mn(OH)2

        Tentukan pH larutan jenuh mangan hidroksida Mn(OH)2 yang memiliki hasil kali kelarutan Ksp 1,2 x 10-11

        Diketahui

        Ksp Mn(OH)2 = 1,2 x 10-11

        Menentukan Reaksi Kesetimbangan Mn(OH)2 Dalam Air

        Larutan jenuh Mn(OH)2 akan terbentuk kesetimbangan reaksi sebagai berikut.

        Mn(OH)2 = Mn+2 (aq) + 2 OH (aq)

        s                  s                   2 s

        s = kelarutan Mn(OH)2

        Menentukan Kelarutan Mn(OH)2 Dalam Air

        Kelarutan Mn(OH)2 dapat dirumuskan dengan peramaan berikut:

        Ksp Mn(OH)2= [Mn+] [OH]2

        Kelarutan Mn(OH)2= s

        Konsentrasi Mn + = s

        Konsentrasi OH = 2 s

        Maka Kelarutan Mn(OH)2 adalah

        Ksp Mn(OH)2= [s ][2 s]2

        Ksp Mn(OH)2 = 4 s3

        s3 = (Ksp Mn(OH)2)/4

        s3 = (1,2 x10–11)/4

        s3 = (1,4 x 10-4)

        s = 1,4 x 10-4 mol/L (M)

        Kelarutan Mn(OH)2 adalah 1,4 x 10-4 mol/L (M), maka sesuai dengan reaksi kesetimbangannya, konsentrasi OH adalah

        [OH] = 2 s

        [OH] = 2 x (1,4 x 10-4 mol/L)

        [OH] = 2,8 x 10-4 mol/L

        Rumus Menghitung pH Larutan Mangan Hidroksida Mn(OH)2

        Keasaman larutan dapat dinyatakan dengan persamaan rumus pH berikut

        pOH = – log [OH]

        pOH = – log (2,8 x 10-4)

        pOH = 3,398.

        Menghtiung pH larutan seperti berikut

        pH = 14 – pOH

        pH = 14 – 3,539

        pH = 10,46

        Jadi, pH larutan mangan hidroksida adalah 10,46.

        7). Contoh Soal Menentukan pH Pengendapan Mg(OH)2 Dari Larutan MgCl2 Dan NaOH,

        Pada suatu percobaan, larutan MgCl2 0,8 M ditetesi oleh larutan NaOH. Tentukan pada pH berapakah mulai terjadi endapan Mg(OH)2. Ksp Mg(OH)2 = 7,2 x10–12

        Diketahui:

        M MgCl2 = 0,8 M

        Ksp Mg(OH)2 = 7,2 x10–12

        Menentukan Reaksi Kesetimbangan Mg(OH)2

        Mg(OH)2 = Mg2+ + 2 OH

        s                  s           2 s

        s = kelarutan Mg(OH)2

        Rumus Menentukan pH Pengendap Mg(OH)2 Dari Larutan MgCl2 Dan NaOH,

        pH pengendapan Mg(OH)2 yang terbentuk dari larutan MgCl2 dan NaOH dapat dinyatakan dengan persamaan berikut

        pH = 14 – pOH

        Agar dapat menghitung pH, maka harus mencari pOH, sehingga perlu mencari konsentrasi OH terlebih dahulu. Konsentrasi OH berasal dari NaOH namun tidak diketahui molaritasnya.

        Konsesntrasi OH dapat ditentukan dengan menggunakan hasil kali kelarutan Mg(OH)2 dengan menggunakan rumus berikut

        Ksp Mg(OH)2 = [Mg2+][OH]2 atau

        [OH]2 = (Ksp Mg(OH)2)/[Mg2+]

        [Mg2+] = konsentrasi yang diperoleh dari MgCl2 yaitu 0,8 M sesuai dengan reaksi berikut

        MgCl2 = Mg2+ + 2Cl

        Dari reaksinya dapat diketahui konsentrasi [Mg2+] sama dengan konsentrasi MgCl2

        Sehingga konsentrasi molar [OH] adalah

        [OH]2 = (7,2 x10–12)/(0,8)

        [OH]2 = 9 x 10-12

        [OH] = 3 x 10-6

        pOH = – log(3 x 10-6)

        pOH = 5,53

        pH = 14 – 5,53 = 8,47

        Jadi, pH larutan Mg(OH)2 adalah 8,47

        8). Contoh Soal Perhitungan Jumlah Massa Kalsium Karbonat CaCO3 Dari Hasil Kali Kelarutan Ksp.

        Berapa gram kalsium karbonat CaCO3 yang dapat larut dalam 500 mL air, Jika Ksp CaCO3 = 9 x 10–9 dan Mr CaCO3 = 100 g/mol

        Diketahui:

        Mr CaCO3 = 100 g/mol

        Ksp CaCO3 = 9 x 10–9

        V = 500 mL = 0,500 L

        Menentukan Reaksi Kesetimbangan Kalsium Karbonat CaCO3 Dalam Air

        CaCO3 = Ca2+ + CO3-2

        s              s           s

        s = kelarutan CaCO3

        Menentukan Kelarutan CaCO3

        Ksp CaCO3 = [Ca2+][CO3-2]

        Ksp CaCO3 = (s) x (s)

        Ksp CaCO3 = (s)2

        s2 = 9 x 10–9

        s = 9,5 x 10-5 M

        Kelarutan CaCO3 adalah 9,5 x 10-5 M

        Menentukan Jumlah Massa CaCO3 Terlarut

        M = n/V atau

        M = m/(Mr xV) atau

        m = M x Mr x V

        m = massa CaCO3 yang terlarut

        n = mol CaCO3

        V = volume

        M = molaritas CaCO3

        m = (9,5 x 10-5) (100)(0,5)

        m = 4,75 mg

        Jadi, massa CaCO3 yang terlarut adalah 4,75 mg.

        9). Contoh Soal Menentukan Kelarutan Pb(OH)2 Dalam pH Larutan,

        Diketahui tetapan hasil kali kelarutan Ksp Pb(OH)2 adalah 4 x 10-15, tentukan kelarutan Pb(OH)2 dalam larutan yang memiliki  pH 12

        Diketahui

        Ksp Pb(OH)2  = 4 x 10-15,

        pH = 12

        Menentukan Reaksi Kesetimbangan Pb(OH)2 Dalam Larutan pH 12

        Pb(OH)2  = Pb2+ + 2 OH

        s                  s          2 s

        s = kelarutan Pb(OH)2

        Rumus Menentukan Konsentrasi OH Dalam Larutan

        pOH = 14 – pH

        pOH = 14 – 12

        pOH = 2

        pOH = – log[OH]

        2 = – log[OH]

        [OH] = anti log(-2)

        [OH] = 10-2 M

        Konsentrasi [OH] = 10-2 M adalah konsentrasi OH yang berasal dari larutan pH 12 belum termasuk konsentrasi OH dari Pb(OH)2.

        Menentukan Kelarutan Pb(OH)2 Dalam Larutan pH 12

        Sesuai dengan reaksi kesetimbangannya, maka kelarutan Pb(OH)2 dan konsentrasi ion ionnya dalam larutan pH 12 adalah

        Kelarutan Pb(OH)2 = s

        Konsentrasi [Pb2+] = s

        Konsentrasi OHdari Pb(OH)2 adalah 2s, sedangan konsentrasi OH dari larutan pH 12 adalah10-2 M. Sehingga total OH dalam larutan adalah

        Konsentrasi [OH] = 2s + 10-2

        Nilai konsentrasi OH (2s) dari Pb(OH)2 sangat kecil jika dibandingkan dengan konsentrasi OH dari larutan ber pH 12. Sehingga nilai 2s dapat diabaikan dan konsentrasi OH seteleh Pb(OH) dalam larutan pH 12 menjadi:

        Konsentrasi [OH] = 10-2 M

        Rumus Menentukan Kelarutan Pb(OH)2 Dalam Larutan pH 12

        Sesuai reaksi kesetimbangannya, kelarutan Pb(OH) dalam larutan pH 12 sama dengan konsentrasi [Pb2+] dalam larutan pH 12. Dengan demikian, kelarutan Pb(OH)  dapat dinyatakan dengan rumus berikut

        Ksp Pb(OH)2 = [Pb2][OH]2

        [Pb2]= Ksp Pb(OH)2/[OH]2

        [Pb2] = (4 x 10-15)/(10-2)2

        [Pb2] = 4 x 10-11

        Jadi, kelarutan Pb(OH) dalam larutan pH 12 adalah 4 x 10-11 M

        Meramalkan Pengendapan

        Harga Ksp suatu elektrolit dapat digunakan untuk memperkirakan apakah elektrolit tersebut dapat larut atau mengendap dalam suatu larutan. Semakin besar harga Ksp suatu senyawa, maka semakin mudah larut senyawa tersebut.

        Dengan membandingkan harga Ksp dengan harga hasil kali konsentrasi ion-ion (Qsp) yang ada dalam larutan yang dipangkatkan dengan koefisien reaksi masing masing, maka ada tiga kemungkinan yang akan terjadi jika dua buah larutan elektrolit dicampurkan, yaitu:

        Jika Qsp < Ksp, larutan belum jenuh (tidak ada endapan)

        Jika Qsp = Ksp, larutan tepat jenuh (belum ada endapan)

        Jika Qsp > Ksp, larutan lewat jenuh (ada endapan)

        9). Contoh Soal Memperkirakan Pengendapan Zat Kalsium Oksalat Dari Ksp Hasil Kali Kelarutan.

        Konsentrasi ion kalsium dalam plasma darah adalah 0,003 M dan konsentrasi ion oksalat 1,2 x 10-8 M. Apakah terjadi pengendapan kalsium oksalat CaC2O4 jika Ksp CaC2O4 = 2,3 x 10-9

        Diketahui

        Ksp CaC2O4 = 2,3 x 10-9)

        [Ca+] = 0,003 M

        [C2O4-2] = 1,2 x 10-8 M

        Menentukan Kesetimbangan Reaksi Kalsium Oksalat CaC2O4 Dalam Darah

        Reaksi kesetimbangan kalsium oksalat dalam darah adalah

        CaC2O4 = Ca2+ (aq) + C2O42– (aq)

        Ksp CaC2O4 = 2,3 x 10-9

        Menentukan Hasil Kali Konsentrasi Produk Ion Kalsium Oksalat- Qsp CaC2O4

        Qsp = [Ca+2] [C2O4-2]

        Qsp = (2 x 10-3) x (1,2 x 10-8)

        Qsp = 3,6 x 10-11

        Karena Qsp < Ksp, maka tidak terjadi pengendapan kalsium oksalat dalam darah.

        10). Contoh Soal Perhitungan Memperkirakan Pengendapan Dua Campuran Larutan,

        Sebanyak 200 mL Larutan Pb(NO3)2 0,005 M dicampur dengan 300 larutan Na2SO4 0,03 M dalam sebuah bejana. Jika Ksp PbSO4 adalah 6,3 x 10-7 apakah terjadi endapan PbSO4 pada larutan campuran tersebut.

        Diketahui

        Konsentrsi Pb(NO3)2 = 0,005 M

        Konsentrasi Na2SO4 = 0,03 M

        V1 Pb(NO3)2 = 200 mL = 0,2 L

        V2 Na2SO4 = 300 mL = 0,3 L

        Ksp PbSO4 =  6,3 x 10-7

        Menentukan Reaksi Kesetimbangan PbSO4 Dalam Campuran Dua Larutan

        Reaksi Kesetimbangan PbSO4 dalam campuran larutan dapat dirumuskan dengan persamaan reaksi berikut

        PbSO4 = Pb+2 + SO4-2

        Ksp PbSO4 = 6,3 x 10-7

        Rumus Menentukan Hasil Kali Konsentrasi  Produk Ion Larutan Qsp PbSO4 Dalam Larutan Campuran,

        Hasil Kali Konsentrasi  Produk Ion Larutan Qsp PbSO4 dirumuskan seperti berikut

        Qsp PbSO4 = [Pb+2][SO4-2]

        Perlu menentukan konsentarsi molar ion [Pb+2] dan [SO4-2] setelah kedua larutan dicampur menjadi 500 mililiter.

        Rumus Menghitung  Konsentrasi [Pb+2] dan [SO4-2] Dalam Campuran Larutan

        Reaksi kesetimbangan masing masing larutan adalah

        Pb(NO3)2 = Pb2+ + 2 NO32-

        Na2SO4 = 2 Na+ +  SO42-

        Dari reaksinya dapat diketahui bahwa konsentrasi [Pb+2] sama dengan konsetrasi Pb(NO3)2 dan konsentrasi [SO4-2] sama dengan konsentrasi Na2SO4.

        Menentukan Mol Pb+2 Dalam campuran

        n Pb+2 = V x M =

        n Pb+2 = 0,2 x 0,005

        n Pb+2 = 0,001 mol

        Konsentrasi Molar M [Pb+2] Dalam campuran

        Konsentrasi M [Pb+2] = (n Pb+2)/(V1 + V2)

        V1 + V2 = 0,2 + 0,3 = 0,5 Liter

        M [Pb+2] = (0,001)/0,5

        M [Pb+2] = 0,002 M

        Menentukan Mol SO4-2 Dalam campuran

        n SO4-2 = V x M =

        n SO4-2 = 0,3 x 0,03

        n SO4-2 = 0,009 M

        Menentukan Konsentrasi Molar M[SO4-2] Dalam campuran

        Konsentrasi M [SO4-2] = (n SO4-2)/(V1 + V2)

        M[SO4-2] = (0,009)/0,5

        M[SO4-2] = 0,018 M

        Menentukan Hasil Kali Konsentrasi Porduk Ion Qsp PbSO4 Dalam Dua Larutan

        Hasil kali produk ion Qsp PbSO4 dapat dinyatakan dengn rumus berikut

        Qsp PbSO4 = [Pb+2][SO4-2]

        Qsp PbSO4 = (0,002) x (0,018)

        Qsp PbSO4 = 3,6 x 10-5

        Nilai Qsp PbSO4 lebih besar dari nilai Ksp PbSO4

        Qsp PbSO4 > Ksp PbSO4

        Jadi, pada campuran kedua larutan terjadi pengendapan PbSO4.

        11). Contoh Soal Menghitung Hasil Kali Kelarutan Ksp Mg(OH)2 Dari pH Larutannya,

        Pada temperature tertentu, larutan jenuh Mg(OH)2 memiliki keasaman pH 10, tentukan hasil kali kelarutan Ksp Mg(OH)2 tersebut.

        Diketahui:

        pH Mg(OH)2 = 10

        Menentukan Reaksi Kesetimbangan Larutan Magnesium Hidroksida Mg(OH)2

        Reaksi kesetimbangan larutan jenuh Mg(OH)2 dapat dinyatakan dengan persamaan reaksi berikut

        Mg(OH)2 = Mg+2 + 2 OH

        s                  s            2 s

        Menentukan Konsentrasi Molar Ion OH Dalam Larutan pH 10

        Konsentrasi molar ion OH Dalam Larutan ber pH 10 dapat dihitung dengan menggunakan rumus pH berikut

        pH = 14 – pOH

        pOH = 14 – pH

        pOH = 14 – 10

        pOH = 4

        pOH = – log[OH]

        4 = – log[OH]

        [OH] = anti log(-4)

        [OH] = 10-4 M

        Dengan demikian konsentrasi molar [Mg2+] dapat dicari seperti berikut

        Dari reaksi kesetimbangan, diketahui konsentrasi molar [OH] = 2 s

        2 s = 10-4 M

        s = 5 x 10-5 M

        Dan konsentarsi [Mg2+] = s

        [Mg2+] = 5 x 10-5 M

        Rumus Menentukan Hasil Kali Kelarutan Magnesium Hidroksida Ksp Mg(OH)2 Pada pH 10,

        Ksp Mg(OH)2 = [Mg+2][OH]2

        Ksp Mg(OH)2 = (5 x 10-5)(10-4)2

        Ksp Mg(OH)2 = 5 x 10-13

        Jadi, hasil kali kelarutan Ksp Mg(OH)2 pada pH 10 adalah 5 x 10-13.

        12). Contoh Soal Menentukan Pengendapan Ag2CO3 Dari Larutan Na2CO3 Dan AgNO3

        Sebanyak 100 mL larutan Na2CO3 0,001 M ditambahkan ke dalam 100 mL larutan AgNO3 0,001 M. Apakah menyebabkan terjadinya endapan jika Ksp Ag2CO3 = 6,3 x10–12

        Diketahui

        V Na2CO3 = 100 mL

        M Na2CO3 = 0,001 M

        V AgNO3 = 100 mL

        M AgNO3 = 0,001 M

        Ksp Ag2CO3 = 6,3 x 10–12

        Menentukan Reaksi Kesetimbangan Ag2CO3 Dalam Campuran Dua Larutan

        Zat yang akan mengendap adalah Reaksi Ag2CO3, sehingga reaksi kesetimbangannya adalah reaksi Ag2CO3 dalam campuran larutan dan dapat dirumuskan dengan persamaan reaksi berikut

        Ag2CO3= 2 Ag+ + CO3-2

        Ksp Ag2CO3= 6,3 x 10-12

        Rumus Menentukan Hasil Kali Konsentrasi  Produk Ion Larutan Qsp Ag2CO3 Dalam Larutan Campuran,

        Hasil Kali Konsentrasi  Produk Ion Larutan Qsp Ag2CO3 dirumuskan seperti berikut

        Qsp Ag2CO3 = [Ag+]2 [CO3-2]

        Perlu menentukan konsentarsi molar ion [Ag+] dan [CO3-2] setelah kedua larutan dicampur menjadi 200 mililiter.

        Rumus Menghitung  Konsentrasi [Ag+] dan [CO3-2] Dalam Campuran Larutan

        Reaksi kesetimbangan masing masing larutan adalah

        AgNO3 = Ag+ + NO3

        Na2CO3 = 2 Na+ + CO32-

        Dari reaksinya diketahui bahwa konsentrasi [Ag+] sama dengan konsetrasi AgNO3 dan konsentrasi [CO3-2] sama dengan konsentrasi Na2CO3.

        Menentukan Mol Ag+ Dalam campuran

        n Ag+ = V x M

        n Ag+ = 0,1 x 0,001

        n Ag+= 0,0001 mol

        Menentukan Konsentrasi Molar M [Ag+] Dalam campuran

        Konsentrasi M [Ag+] = (n Ag+)/(V1 + V2)

        V1 + V2 = 0,1+ 0,1 = 0,2 Liter

        M [Ag+] = (0,0001)/0,2

        M [Ag+] = 0,0005 M

        Menentukan Mol CO3-2 Dalam campuran

        n CO3-2 = V x M =

        n CO3-2 = 0,1 x 0,001

        n CO3-2 = 0,0001 M

        Menentukan Konsentrasi Molar M [CO3-2] Dalam campuran

        Konsentrasi M [CO3-2] = (n CO3-2)/(V1 + V2)

        M[CO3-2] = (0,001)/0,2

        M[CO3-2] = 0,0005 M

        Menentukan Hasil Kali Konsentrasi Porduk Ion Qsp Ag2CO3 Dalam Dua Larutan

        Hasil kali produk ion Qsp Ag2CO3 dapat dinyatakan dengn rumus berikut

        Qsp Ag2CO3 = [Ag+]2 [CO3-2]

        Qsp Ag2CO3 = (0,0005)2 x (0,0005)

        Qsp Ag2CO3 = 1,25 x 10-10

        Nilai Qsp Ag2CO3 lebih besr dari nilai Ksp Ag2CO3

        Jadi, dalam campuran larutan Na2CO3 dan larutan AgNO3 terjadi pengendapan Ag2CO3,

        13). Contoh Soal Perhitungan Pengendapan Timbal II Klorida PbCl2 Dari Campuran Timbal(II) Nitrat Pb(NO3)2 Dan Asam Klorida HCl,

        Pada larutan Pb(NO3)2 0,02 M ditambahkan larutan HCl 0,02 M. Apakah pada larutan campuran tersebut terjadi endapan PbCl2 jika Ksp PbCl2 = 1,6 × 10–5

        Diketahui

        Konsentrasi Pb(NO3)2 = 0,02 M

        Konsentrasi HCl = 0,02 M.

        Ksp PbCl2 = 1,6 × 10–5

        Menentukan Konsentrasi Ion [Pb2+] Dan [Cl]

        Konsentrasi ion [Pb2+] Dan [Cl] adalah

        [Pb2+] = 0,02 M

        [Cl] = 0,02 M

        Rumus Menentukan Hasil Kali Konsentrasi Produk Ion Qsp PbCl2

        Qsp PbCl2 = [Pb2+] [Cl]2

        Qsp PbCl2 = 0,02 × (0,02)2

        Qsp PbCl2 = 8 × 10–6

        Oleh karena Qsp PbCl2 lebih kecil dari  Ksp PbCl2, maka PbCl2 dalam larutan itu tidak akan mengendap.

        Contoh Soal Ujian Perhitungan dan Pembahasan.

        Hitung berapa kelarutan Mg(OH)2 jika berada dalam NaOH 0,1 M dengan Ksp Mg(OH)2 = 1,8 x 10-11 mol3 L-3

        Jawab.

        Persamaan reaksinya adalah

        Mg(OH)2 → Mg2+ + 2OH-1

        Dengan demikian, Hasil Kali kelaruran Ksp nya dapat ditulis seperti berikut:

        Ksp = [Mg2+] [OH-1]2

        1,8 x 10-11 = [Mg2+] (1. 10-1)2

        [Mg2+]  =  (1,8 x 10-11)/ (10-2)

        [Mg2+]  = 1,8 x 10-9

        Contoh Soal Perhitungan dan Pembahasan

        Jika Dalam 100 cm3 air dapat larut 1,16 mg Mg(OH)2 dengan Mr = 58. Hitung Berapa Harga Ksp untuk Mg(OH)2 tersebut?

        Jawab:

        Hitung dulu konsentrasi, M untuk 1,16 mg Mg(OH)2 yang berada dalam air.

        M = [massa/Mr] x [1000/V(ml)]

        M = [1,16 . 10-3 gram / 58 ] x [1000/100]

        M  = 2 x 10-4 M

        Reaksinya dapat dituliskan seperti berikut

        Mg(OH)2 →Mg2+     + 2OH-1

        2 x 10-4   → 2 x 10-4 + 2 x (2 x 10-4)

        Dengan demikian hasil kali kelarutan Ksp nya adalah

        Ksp = [Mg2+] [OH-1]2

        Ksp = [2 x 10-4] [4 x 10-4]2

        Ksp = [2 x 10-4] [16 x 10-8]

        Ksp = 32 x 10-12

        Ksp = 3,2 x 10-11

          Daftar Pustaka:

          1. Syukri, S., 1999, “Kimia Dasar 2”, Jillid 2, Penerbit ITB, Bandung
          2. Chang, Raymond, 2004, “Kimia Dasar, Konsep -konsep Inti”, Edisi Ketiga, Jilid Satu, Penerbit, Erlangga, Jakarta.
          3. Sunarya, Yayan, 2014, “Kimia Dasar 1, Berdasarkan Prinsip Prinsip Kimia Terkini”, Cetakan Ketiga, Yrama Widya, Bandung.
          4. Sunarya, Yayan, 2013, “Kimia Dasar 2, Berdasarkan Prinsip Prinsip Kimia Terkini”, Cetakan Kedua, Yrama Widya, Bandung.
          5. Brady, James, E,1999, “Kimia Universitas Asas dan Struktur”, Edisi Kelima, Jilid Satu, Binarupa Aksara, Jakarta,
          6. Brady, James, E., 1999, “Kimia Universitas Asas dan Struktur”, Edisi Kelima, Jilid Dua, Binarupa Aksara, Jakarta.
          7. Ringkasan Rangkuman: Kelarutan adalah jumlah maksimum zat yang dapat larut dalam jumlah tertentu larutan atau pelarut.
          8. Kelarutan digunakan untuk menyatakan jumlah maksimum zat yang dapat larut dalam larutan jenuh.
          9. Kelarutan dipengaruhi oleh jenis pelarut, suhu, dan pengadukan.
          10. Nilai kelarutan dapat ditentukan dari harga Ksp, begitu juga sebaliknya.
          11. Hasil kali kelarutan merupakan tetapan kesetimbangan dalam larutan jenuh antara ion-ion hasil disosiasi dengan kemolaran pereaksi.
          12. Hasil kali konsentrasi ion-ion dalam keadaan jenuh yang dipangkatkan dengan koefisien tiap-tiap ion disebut tetapan hasil kali kelarutan (Ksp).
          13. Hasil kali kelarutan dapat dipakai sebagai prediksi apakah senyawa itu akan mengendap atau tidak mengendap.
          14. Penambahan ion senama akan memperkecil kelarutan, tetapi ion senama tidak memengaruhi harga tetapan hasil kali kelarutan, jika suhu tidak berubah.
          15. Tingkat keasamaan larutan juga akan memengaruhi kelarutan suatu senyawa.
          16. Suatu senyawa akan mengendap jika hasil konsentrasi ion-ion dalam keadaan jenuh lebih besar daripada harga Ksp.
          17. Tetapan Hasil Kali Kelarutan Ksp: Pengertian Contoh Soal Perhitungan pH Pengendapan Pengaruh Ion Sesama, Contoh Soal Menghitung Kelarutan Molar Dari Ksp Hasil Kali Kelarutan,
          18. Menentukan Meramalkan Prediksi Endapan Larutan Dari Hasil Kali Konsentrasi Produk Ion Qsp Dan Ksp, Rumus Perhitungan Hasil Kali Kelarutan Ksp, Menentukan pH Pengendapan Dari Qsp dan Ksp Larutan, Pengertian Ksp, Pengertian Qsp, Pengertian Contoh Perhitungan Ksp Dan Qsp,

          Sifat Kologatif Larutan: Pengertian Penurunan Tekanan Uap Kenaikkan Titik Didih Penurunan Titik Beku Tekanan Osmotis Elektrolit Nonelektrolit Contoh Soal Rumus Perhitungan 15

          Pada tahun 1880-an F.M. Raoult, seorang ahli kimia Prancis, menyatakan bahwa melarutkan zat terlarut mempunyai efek menurunkan tekanan uap dari pelarut.

          Pernyataan Bunyi Hukum Raoult

          Adapun bunyi hukum Raoult yang berkaitan dengan penurunan tekanan uap adalah sebagai berikut.

          1). Penurunan tekanan uap jenuh tidak bergantung pada jenis zat yang dilarutkan, tetapi tergantung pada jumlah partikel zat terlarut.

          2). Penurunan tekanan uap jenuh berbanding lurus dengan fraksi mol zat yang dilarutkan.

          Pengaruh Temperatur Pada Tekanan Uap Jenis Air

          Tekanan Uap Jenuh Air pada Berbagai Suhu dapat dilihat pada gambar grafik berikut;

          Sifat Kologatif Larutan: Penurunan Tekanan Uap Kenaikkan Titik Didih Titik Beku Tekanan Osmotik Larutan Elektrolit Nonelektrolit Contoh Soal Rumus Menentukan Faktor Van’t Hoff i Larutan Elektrolit,
          Pengaruh Temperatur Pada Tekanan Uap Jenis Air

          Pengertian Sifat Kologatif.

          Sifat koligatif adalah sifat – sifat fisik larutan yang hanya bergantung pada konsentrasi pertikel zat terlarut, bukan karena jenisnya.

          Jenis Kologatif Larutan

          Sifat koligatif larutan terdiri dari dua jenis, yaitu sifat koligatif larutan elektrolit dan sifat koligatif larutan nonelektrolit.

          Pada konsentrasi yang sama, Larutan elektrolit mempunyai sifat koligatif yang lebih besar daripada larutan nonelektrolit. Hal ini disebabkan karena larutan elektrolit mempunyai jumlah pertikel yang lebih banyak.

          sifat-koligatif-larutan-elektrolit
          sifat-koligatif-larutan-elektrolit

          Sifat Kologatif Penurunan Tekanan Uap Jenuh

          Tekanan uap suatu zat adalah tekanan yang ditimbulkan oleh uap jenuh zat tersebut. Semakin tinggi temperature, maka semakin tinggi tekanan uapnya. Apabila zat terlarut tidak menguap, maka tekanan uap larutan akan menjadi lebih rendah daripada tekanan uap pelarutnya.

          Rumus Penurunan Tekanan Uap

          Selisih tekanan uap antara uap pelarut murni dengan tekanan uap larutan disebut sebagai penurunan tekanan uap larutan. Kondisi ini dapat ditulis dalam persamaan matematika sebagai berikut:

          ∆P = P0 – P

          ∆P = penurunan tekanan uap larutan

          P0 = tekanan uap pelarut murni

          P  = tekanan uap larutan

          Berdasarkan Raoult, jika zat terlarut tidak menguap, maka penurunan tekanan uap larutan sebanding dengan fraksi mol zat terlarut. Sedangkan tekanan uap larutan sebanding dengan fraksi mol pelarut.

          P = Xp . P0

          ∆P = Xt . P0

          Xp = fraksi mol pelaarut

          Xt  = fraksi mol terlarut

          Adanya zat terlarut akan menurunkan tekanan uap pelarut.

          Sifat Kologatif Kenaikkan Titik Didih

          Titik didih suatu zat cair adalah suhu pada saat tekanan uap jenuh zat cair tersebut sama dengan tekanan luar atau udara di sekitarnya.

          Jika tekanan uap sama dengan tekanan luar, maka gelembung uap yang terbentuk dalam cairan dapat mendorong diri ke permukaan menuju fase gas.

          Yang dimaksud dengan titik didih adalah titik didih normal, yaitu titik didih pada tekanan 760 mmHg. Titik didih normal air adalah 100 oC.

          Rumus Kenaikan Titik Didih

          Kenaikan titik didih hanya tergantung pada jenis pelarut dan molalitas larutan, tidak tergantung pada jenis zat terlarut.

          Untuk larutan encer, hubungan antara kenaikan titik didih dengan molalitas larutan dinyatakan sebagai berikut

          Larutan memiliki titik didih lebih tinggi dan titik beku lebih rendah daripada pelarutnya. Selisih titik didih antara larutan dengan pelarut disebut kenaikkan titik didih.

          ∆Tb = Kb . m

          ∆Tb = Tblarutan – Tbpelarut

          ∆Tb = kenaikkan titik didih larutan

          Kb = tetapan kenaikkan titik didih molal

          m = molalitas

          Tb = titik didih

          Tetapan Kenaikan Titik Didih Molal Kb

          Tetapan kenaikan titik didih molal Kb adalah nilai kenaikan titik didih jika molalitas larutan sebesar 1 molal. Nilai Kb ini tergantung pada jenis pelarut.

          Sifat Kologatif Penurunan Titik Beku

          Titik beku larutan adalah suhu pada saat tekanan uap cairan sama dengan tekanan uap padatannya. Tekanan luar tidak terlalu berpengaruh pada titik beku. Pada tekanan 760 mmHg, air membeku pada suhu 0 oC,

          Rumus Penurunan Titik Beku

          Titik beku larutan lebih rendah dibandingkan dengan titik beku pelarutnya. Penurunan titik beku larutan nonelektrolit dapat dinyatakan dalam persamaan berikut:

          ∆Tf = Kf . m

          ∆Tf = Tfpelarut – Tflarutan

          ∆Tf = penurunan titik beku larutan

          Kf = tetapan penurunan titik beku molal

          m = molalitas

          Tf = titik beku

          Tetapan Penurunan Titik Beku Molal Kf

          Tetapan penuruan titik beku molal Kb adalah nilai penurunan titik beku jika molalitas larutan sebesar 1 molal.

          Sifat Kologatif Tekanan Osmotik

          Osmotic adalah perpindahan air melalui membrane semipermeable dari bagian yang lebih encer ke bagian yang lebih pekat.

          Tekanan osmotic adalah tekanan yang harus diberikan pada permukaan larutan untuk mencegah terjadinya osmosis dari pelarut murni.

          Rumus Tekanan Osmosis

          Tekanan osmotik bergantung pada konsentrasi dan bukan pada jenis partikel zat terlarut. Menurut Van’t Hoof, tekanan osmotik larutan encer dapat dihitung dengan rumus yang serupa dengan persamaan gas ideal.

          Besarnya tekanan osmotic dapat dinyatakan dengan menggunakan rumus sebagai berikut

          P = M . R . T

          M = molaritas larutan (mol/L)

          R = 0,082 L atm mol-1 K-1

          T = temperature Kelvin

          Larutan Elektrolit

          Elektrolit ialah zat yang larutannya dalam air atau leburannya dapat menghantarkan aliran listrik. Berdasarkan derajat ionisasinya, elektrolit digolongkan menjadi tiga, yaitu

          Larutan Elektrolit Kuat Dan Contohnya

          Elektrolit kuat, elektrolit yang dalam air terurai sempurna. Contoh HNO3, HCl, H2SO4, NaOH, dan MgCl2.

          Larutan Elektrolit Lemah Dan Contohnya

          Elektrolit lemah, elektrolit yang dalam air terurai sangat sedikit, seperti asam-asam organik (asam propionat dan asam benzoat), HCN, NH4OH, dan HClO.

          Elektrolit Antara Lemah Kuat Dan Contohnya

          Elektrolit yang terletak antara a dan b, seperti o-klorobenzoat, o-nitro benzoat, dan asam siano asetat.

          Sifat Koligatif Larutan Elektrolit

          Pada konsentrasi yang sama, jumlah partikel larutan elektrolit lebih besar dibandingkan dengan larutan nonelektrolit.

          Pada larutan elektrolit terdapat perbandingan antara nilai sifat koligatif yang terukur dari suatu larutan elektrolit dengan nilai sifat koligatif yang diharapkan dari suatu larutan nonelektrolit pada konsentrasi yang sama.

          Faktor Van’t Hoff

          Perbandingan sifat koligatif larutan elektrolit yang terukur dengan sifat koligatif larutan nonelektrolit yang diharapkan pada konsentrasi yang sama disebut Faktor Van’t Hoff. Perbandingan tersebut biasa dinotasikan dengan huruf “i”.

          Rumus Faktor Van’t Hoff  Elektrolit Lemah

          Elektrolit lemah yang tidak terionisasi dengan sempurna, maka nilai i-nya dapat ditinjau dari derajat ionisasinya.

          i = 1+(z – 1) α

          Dengan demikian derajat ionisasi dapat dinyatakan dengan menggunakan rumus sebagai berikut.

          α = (i – 1)/(z – 1)

          α  = derajat ionisasi

          i = faktor Van’t Hoff

          z = jumlah ion hasil ionisasi, koefisien reaksi ionisasi

          Rumus Faktor Van’t Hoff  Elektrolit Kuat

          Jika elektrolit kuat terionisasi sempurna, maka derajat ionisasinya adalah α = 1

          Sehingga nilai i dapat dinyatakan sebagai berikut:

          i = 1 + (z – 1)

          Nilai z sering didefinisikan sebagai jumlah ion atau jumlah total koefisien ruas kanan reaksi

          z = 2 (larutan biner)

          z = 3 (larutan terner)

          z = 4 (larutan kuartener)

          z = 5 (larutan pentaner)

          Nilai α derajat ionisasi larutan

          α = 1 (larutan elektrolit kuat)

          α = 0 (larutan nonelektrolit)

          0 < α < 1 (larutan elektrolit lemah)

          Contoh Menentukan z dan i Pada Reaksi Ionisasi Elektrolit Kuat.

          Ionisasi NaCl

          1 mol NaCl → 1 mol Na+ + 1 mol Cl

          z = 1 (ion Na+) + 1 (ion Cl) = 2

          nilai i untuk NaCl adalah

          i = 1 + (2 – 1) = 2

          Ionisasi CaCl2

          1 mol CaCl2 → 1 mol Ca2+ + 2 mol Cl

          z = 1 (ion Ca2+) + 2 (ion Cl)

          nilai i untuk CaCl2 adalah

          i = 1 + (3 – 1) = 3

          Ionisasi AlCl3

          1 mol AlCl3 → 1 mol Al3+ + 3 mol Cl

          z =  1 (ion Al3+) + 3 (ion Cl)

          nilai i untuk AlCl3 adalah

          i = 1 + (4 – 1) = 4

          Sifat koligatif larutan elektrolit dapat dinyatakan dalam persamaan – persamaan berikut. Nilai sifat koligatif merupakan nilai sifat koligatif dikali dengan Factor Van’t Hoff. Sehingga persamaan untuk larutan elektrolit menjadi seperti berikut:

          Penurunan Tekanan Uap Jenuh Larutan Elektrolit

          Rumus penurunan tekanan uap jenuh dengan memakai faktor Van’t Hoff hanya berlaku untuk fraksi mol zat terlarutnya saja (zat elektrolit yang mengalami ionisasi), sedangkan pelarut air tidak terionisasi.

          Rumus Penurunan Tekanan Uap Larutan Elektrolit

          ∆P = Xt . P0 . i

          Rumus Kenaikkan Titik Didih Larutan Elektrolit

          Kenaikan titik didih dan penurunan titik beku untuk larutan elektrolit dikalikan dengan Faktor Van’t Hoff seperti persamaan berikut

          ∆Tb = Kb . m . i

          Rumus Penurunan Titik Beku Larutan Elektrolit

          ∆Tf = Kf . m . i

          Rumus Tekanan Osmosis Larutan Elektrolit

          Tekanan osmotik untuk larutan elektrolit diturunkan dengan mengalikan Faktor Van’t Hoff seperti berikut

          P = M . R . T . i

          1). Contoh Soal Sifat Kologatif: Perhitungan  Tekanan Uap Larutan Nonelektrolit Sukrosa Dalam Air

          Hitunglah tekanan uap larutan 4 mol sukrosa dalam 100 mol air pada 300 °C jika tekanan uap air murni pada 300 °C adalah 31,80 mmHg.

          Diketahui

          mol.t = mol sukrosa = 4 mol

          mol.p = mol air = 100 mol

          T = 300 0C

          P0 = 31,80 mmHg

          Menghitung Fraksi Mol Sukrosa Sebagai Zat Terlarut

          Fraksi mol sukrosa dapat dinyatakan dengan menggunakan rumus berikut

          xt = mol.t/(mol.t + mol.p)

          xt = fraksi mol telarut (mol sukrosa)

          xt = 4/(4 + 100)

          xt = 0,0385

          Menghitung Fraksi Mol Air Sebagai Pelarut

          xp = fraksi mol air (pelarut)

          xp = 1 – 0,0385

          xp = 0,9615

          Rumus Menghitung Tekanan Uap Larutan Nonelektrolit

          Tekanan uap larutan nonelektrolit dapat dihitung dengan menggunakan persamaan rumus berikut

          P = xp  P0

          P = 0,962 × 31,8 mmHg

          P = 30,59 mmHg

          Jadi, tekanan uap larutan adalah 30,59 mmHg.

          2). Contoh Soal Sifat Kologatif: Perhitungan Penurunan Tekanan Uap Larutan Nonelektrolit

          Sebanyak 648 gram sukrosa C12H22O11 dilarutkan dalam 1800 gram air. Bila tekanan uap jenuh air adalah 31,82 mmHg, hitunglah

          a). tekanan uap larutan (P);

          b). penurunan tekanan uap (ΔP)

          Diketahui

          massa sukrosa = 648 gram

          massa air = 1800 gram

          Ar C = 12,

          Ar H = 1,

          Ar O = 16

          Mr sukrosa = 12(12) + 22(1) + 11(16)

          Mr sukrosa = 342

          Mr air = 2(1) + 16

          Mr air = 18

          Menghitung Jumlah Mol Sukrosa Dan Jumlah Mol Air

          Mol sukrosa dan sir dihitung dengan menggunakan rumus berikut

          Jumlah mol sukrosa (mol.t) adalah

          mol.t = 684/342

          mol.t = 2 mol

          Jumlah mol air (mol.p)

          mol.p = 1800/18 = 100 mol

          Mengitung Fraksi Mol Pelarut (Air) Larutan Nonelektrolit

          xP = mol.p/(mol.t + mol.p)

          xP = 100/(2 + 100)

          xP = 0,98

          Jadi fraksi mol air sebagai pelarut adalah 0,98

          Menghitung Tekanan Uap Larutan Nonelektrolit Sukrosa Dalam Air

          Tekanan uap larutan nonelektrolit dapat dihitung dengan menggunakan persamaan berikut

          P = xP P0

          P = 0,98 x 31,82

          P =  31,18 mmHg

          Jadi, tekanan uap larutan kologatif sukrosa air adalah 30,60 mmHg

          Menghitung Penurunan Tekanan Uap Larutan Nonelektrolit Sukrosa Dalam Air

          Besarnya penurunan larutan nonelektrolit dapat dirumuskan dengan persamaan berikut

          ΔP = P0 – P

          ΔP = 31,82 – 31,18

          ΔP = 0,64 mmHg

          Jadi, penurunan tekanan uap larutan adalah 0,64 mmHg

          3). Contoh Soal Perhitungan Penurunan Tekanan Uap Larutan Thiourea

          Hitunglah penurunan tekanan uap yang dibuat dari pelarutan 15,2 g thiourea (Mr CH4N2S = 76) ke dalam 108 g air (tekanan uap air pada 25°C adalah 23,76 mmHg).

          Diketahui

          m thiourea = 15,2 gram

          m air = 108 gram

          P0  =23,76 mmHg

          Mr thiourea = 76

          Rumus Menghitung Jumlah Mol Thiourea Dan Jumlah Mol Air

          Jumlah mol thiourea dan air dapat dihitung dengan rumus berikut

          Jumlah mol thiourea adalah

          mol tiourea = mol.t

          mol.t = 15,2/76 = 0,2 mol

          Jumlah mol air adalah

          mol air = mol.p

          mol.p =  108/18 = 6 mol

          Menghitung Fraksi Mol Air Dan Fraksi Mol Thiourea

          Fraksi mol air dapar dihitung dengan persamaan berikut:

          xP = mol.p/(mol.p + mol.t)

          xP  = 6/(6 + 0,2)

          xP = 0,9677

          Jadi, fraksi mol air sebagai pelarut adalah 0,9677

          Fraksi mol thiourea adalah

          xt = 1 – xP

          xt = 1 – 0,9677

          xt = 0,0323

          Rumus Menghitung Tekanan Uap Larutan Thiourea Air

          Tekanan uap larutan nonelektrolit thiourea dan air dapat dinyatakan dengan menggunakan rumus berikut

          P = xP P0

          P = 0,9677 x 23,76

          P = 22,99 mmHg

          Jadi tekanan uap larutan tiourea air adalah 22,99 mmHg

          Rumus Menghitung Penurunan Tekanan Uap Larutan Oleh Thiourea

          Penurunan tekanan uap larutan nonelektrolit dapat dinyatakan dengan menggunakan rumus berikut

          ΔP = (23,76 – 22,99) mmHg

          ΔP = 0,7665 mmHg

          Jadi, tekanan uap air turun dengan adanya thiourea. Besarnya penurunan tekanan uap adalah 0,7665 mmHg

          4). Contoh Soal Menghitung Penurunan Tekanan Uap Jenuh Air Oleh Glokosa

          Tentukan penurunan tekanan uap jenuh larutan 10% massa glukosa (C6H12O6) dalam 360

           gram air, jika diketahui tekanan uap air pada suhu 25 °C adalah 24 mmHg

          Diketahui

          P0 = 24 mmHg

          massa air = 360 gram

          Menentukan Massa Relatif  Mr Dan Jumlah Mol Glukosa

          Mr Glokosa = 6(12) + 12(1) + 6(16)

          Mr Glokosa = 180

          Jumlah Mol Glukosa

          n Glukosa = (10% x 360)/180

          n Glukosa = 0,2 mol

          Menentukan Jumlah Mol Air

          n Air = (90% x 360)/18

          n Air = 18 mol

          Menentukan Fraksi Mol Glukosa Dalam Larutan

          xt = 0,2/(18 + 0,2)

          xt = 0,0109

          Menentukan Penurunan Tekanan Uap Larutan Glokosa

          ΔP = xt P0

          ΔP = 0,0109 x 24 mmHg

          ΔP = 0,2637  mmHg

          Jadi penurunan tekanan uap larutan glukosa adalah 0,2637 mmHg

          Contoh Soal Sifat Kologatif Perhitungan Kenaikkan Titik Didih Larutan Nonelektrolit

          Hitunglah titik didih larutan nonelektrolit yang mengandung 36 g glukosa C6H12O6. dalam 500 g air. Kb air adalah 0,52 °C/m

          Diketahui

          (Ar C = 12 g/mol,

          Ar H = 1g/mol, dan

          Ar O = 16 g/mol).

          Kb air = 0,52 °C/m

          Tb.air = 100 0C

          massa glukosa = 36 gram

          massa air = 500 gram

          Menghitung Mr Glukosa dan Mr Air

          Mr glukosa = 6(12) + 12(1) + 6(16)

          Mr glukosa = 180

          Mr Air adalah

          Mr air = 2(1) + 16

          Mr air = 18

          Menghitung Molalitas Laruta Nonelektrolit Glukosa Dalam Air

          Molalitas glokosa dalam 500 gram air dapat dirumuskan dengan menggunakan persamaan berikut

          Molalitas glukosa = (m/Mr) x (1000/m.p)

          m.p = massa pelarut (air)

          Molal glukosa = (36/180)/(1000/500)

          Molal glukosa = 0,4 m

          Perhitungan Kenaikkan Titik Didih Larutan Nonelektrolit Glukosa Air

          Kenaikkan temperature didih air setelah penambahan glokosa dapat dirumuskan dengan persamaan berikut

          ΔTb = Kb x m

          ΔTb = 0,52 x 0,4

          ΔTb = 0,208 0C

          Menghitung Titik Didih Larutan Nonelektrolit Glukosa Air

          Titik didih larutan glukosa air yang mengandung glukosa dan air dapat dihitung dengan menggunakan persamaan berikut

          ΔTb = Tblarutan – Tbpelarut atau

          Tb.lar = 100 + ΔTb

          Tb.lar = 100 + 0,208

          Tb.lar = 100,208 0C

          Jadi, titik didih larutan adalah 100,208 °C.

          Contoh Soal Pehitungan Kenaikkan Temperatur Didih Larutan Terbuat Urea Dan Air

          Tentukan titik didih larutan nonelektrolit yang dibuat dari 45 gram urea CO(NH2)2 dalam 250 gram air.

          Diktahui

          m urea = 45 gram

          Kb air = 0,52 °C/m

          Ar C = 12

          Ar H = 1

          Ar O = 16

          Ar N = 14

          Tb.air = 100 0C

          massa urea = 45 gram

          massa air = 250 gram

          Massa Relatif Molekul Mr Urea Dan Air

          Mr Urea = 12 + 16 +2(14+2(1))

          Mr Urea = 60

          Mr air = 18

          Menghitung Molalitas Urea

          Molalitas Urea dihitung dengan cara seperti beriktut

          Molalitas urea = (45/60)(1000/250)

          Molalitas urea = 3 m

          Menghitung Kenaikkan Temperatur Titik Didih Larutan Nonelektrolit Urea Dan Air

          Kenaikkan titik didih larutan nonelektrolit yang terbuat dari urea dan air dapat dirumuskan dengan persamaan berikut

          ΔTb = Kb x m

          ΔTb = 0,52 x 3

          ΔTb = 1,56 0C

          Jadi, Kenaikkan titik didih air setelah penambahan urea adalah 1,56 0C

          Menghitung Titik Didih Larutan Nonelektrolit Urea Dalam Air

          Titik didih larutan nonelektrolit yang terbuat dari air ditambah urea dapat dinyatakan dengan persamaan berikut

          ΔTb = Tblarutan – Tbpelarut atau

          Tb.lar = 100 + ΔTb

          Tb.lar = 100 + 1,56

          Tb.lar = 101,56 0C

          Jadi, titik didih air setelah ditambah urea adalah 101,56 0C

          Contoh Soal Penurunan Titik Beku Larutan Nonelektrolit Urea Dan Air

          Berapakah titik beku larutan yang terbuat dari 24 g urea CO(NH2)2 dan 200 g air. Kf air adalah 1,86 °C/m

          Diketahui

          massa molar urea = Mr

          Mr urea = 60 g/mol,

          Kf air = 1,86 °C/m

          m urea = 24 g

          m air = 200 g = 0,2 kg

          Menghitung Molalitas Urea

          Molalitas urea dapat dihitung dengan menggunakan rumus berikut

          Molalitas urea = mol urea/massa air (kg)

          Jumlah mol urea adalah

          mol urea = 24/60

          mol urea = 0,4 mol

          Jumlah Molalitas urea adalah

          Molalistas urea = 0,4/0,2

          Molalitas urea = 2 m

          Rumus Menghitung Penurunan Titik Beku Larutan Nonelektrolit Urea Dalam Air

          Titik beku larutan Nonelektrolit yang terbuat dari urea dan air dapat dihitung dengan menggunakan rumus berikut

          ΔTf =Kf x m

          ΔTf = 1,86 °C/m × 2 m

          ΔTf  = 3,72  °C

          Jadi, penurunan titik beku larutan 3,72 °C

          Menghitung Titik Beku Larutan Urea dan Air

          Titik beku pelarut (air)  adalah 0 0C jadi, titik beku larutan adalah

          ΔTf = Tf.pel – Tf.lar

          Tf.lar = 0 – ΔTf

          Tf = 0 – 3,72

          Tf = – 3,72 0C

          jadi, titik beku larutan yang terbuat dari air ditambah urea adalah – 3,72 0C

          Contoh Soal Sifat Kologatif: Menghitung Massa Molekul Relatif Zat Nonelektrolit

          Sebanyak 45 gram zat nonelektrolit dilarutkan dalam 250 gram air mendidih pada suhu 101,56 0C (Kb air = 0,52 °C/m). Berapakah massa molekul relatif (Mr) zat tersebut?

          Diketahui

          m Zat = 45 gram

          Tb = 101,56 0C

          Kb air = 0,52 °C/m

          m air = 250 gram

          Menghitung Perubahan Titik Didih Larutan Nonelektrolit

          Perubahan atau kenaikkan titik didih larutan dapat dirumuskan dengan persamaan berikut

          ΔTb = Tb larutan – Tb pelarut

          ΔTb = 101,56 – 100

          ΔTb = 1,56 °C

          Menghitung Molalitas Larutan Zat Pada Kenaikkan Titik Didih

          Molalitas suatu zat dalam larutan dapat dihitung dengan cara berikut

          ΔTb = Kb . m

          m = ΔTb/Kb

          m = 1,56/0,52

          m = 3 m

          Menghitung Massa Relatif Molekul Mr

          Massa relative molekul dapat dihitung dengan rumus berikut

          Molalitas = (massa Zat/Mr) x (1000/m.p) atau

          m.p = massa pelarut (air)

          Mr = (massa/molalitas) (1000/m.p)

          Mr = (45/3) x (1000/250)

          Mr = 60

          Jadi, massa relative zat (molekul) yang ditambahkan untuk membuat larutan adalah 60 gram/mol.

          Contoh Soal Sifat Kologatif Larutan Nonelektrolit: Menghitung Tekanan Osmosis Larutan Urea

          Tentukan tekanan osmosis larutan urea yang dibuat dengan melarutkan 12 gram urea dalam 200 mL air pada suhu 27 oC?

          m urea = 12 gram

          Mr urea = 60

          volume air = 200 mL = 0,2 Liter

          T = 27 + 273 = 300 K

          Menghitung Jumlah Mol Urea Dalam Larutan Nonelektrolit

          Mol urea dihitung dengan cara berikut

          n = mol urea = m/Mr

          n = 12//60 = 0,2 mol

          Menghitung Tekanan Osmosis Larutan Nonelektrolit Dari Urea Dan Air

          Tekanan osmosis laturan yang terbuat dari urea dan air dapat dihitung dengan menggunakan rumus berikut

          P = (n/V) RT

          n = mol urea

          V = volume air

          R = 0,08205 L atm/mol.K

          P = (0,2/0,2) (0,08205 x 300)

          P = 24,615 atm

          Jadi, tekanan osmosis larutan urea adalah 24,615 atm.

          Contoh Soal Sifat Kologatif Tekanan Osmosis: Menentukan Massa Relatif Zat

          Suatu larutan dibuat dengan mencampurkan 6 gram suatu zat ke dalam 100 mL larutan yang mempunyai tekanan osmosis 24,615 atm pada suhu 27 oC. Tentukan massa molekul relatif zat tersebut.

          Diketahui:

          m Zat = 6 gram

          Vol Larutan = 100 mL = 0,1 Liter

          P = 24,615 atm

          T = 27 + 273 = 300 K

          Menentukan Molaritas Larutan Nonelektrolit Yang Memiliki Tekanan Osmosis

          Molaritas zat dalam suatu larutan bertekanan osmosis dapat dinyatakan dengan rumus berikut

          P = (n/V) RT atau

          P = M RT

          M = molaritas

          M = P/RT

          M = 24,615/(0,082 x 300)

          M = 1 M

          Menghitung Massa Relatif Zat

          Molaritas = M = (m)/(Mr xV) atau

          Mr = m/(M x V)

          Mr = 6/(1 x 0,1)

          Mr = 60

          Jadi, Massa relative Mr zat adalah 60 gram/mol

          Contoh Soal Sifat Kologatif: Menentukan Kenaikan Titik Didih Larutan Elektrolit Alumunium Sulfat.

          Hitung kenaikan titik didih larutan aluminium sulfat 0,4 molal, jika derajat ionisasinya 0,9 dengan Kb = 0,52 °C/molal.

          Diketahui:

          α = 0,9

          Kb = 0,52 °C/molal

          Molal Al2(SO4)3 = 0,4 m

          Menentukan Jumlah Ion Ionisasi Larutan Elektrolit Alumunium Sulfat,

          Al2(SO4)3 → 2 mol Al3+ + 3 mol SO42-

          z = 2 (ion Al3+) + 3 (ion SO42-)

          z = 5

          Menentukan Faktor Van’t Hoff I Alumunium Sulfat

          i = 1+(z – 1) α

          i = 1 + (5 – 1) 0,9

          i = 4,6

          Rumus Menentukan Kenaikan Titik Didih Larutan Elektrolit Alumunium Sulfat

          ΔTb = Kb x m x i

          ΔTb = 0,52 °C x 0,4 x 4,6

          ΔTb = 0,9568 oC

          Jadi, kenaikan titik didih (ΔTb) larutan alumunium sulfat adalah 0,9568 oC.

          Contoh Soal Sifat Kologatif Larutan Elektrolit Menentukan Titik Didih Larutan NaCl

          Berapakah titik didih larutan elektrolit yang dibuat dengan melarutkan 11,7 gram NaCl dalam 500 gram air (Kb air = 0,52 0C/m, Ar Na = 23, Cl = 35,5)

          Diketahui:

          Kb air = 0,52 0C/m

          massa NaCl = 11,7 gram

          Mr NaCl = 23 + 35,5 = 58,5

          massa air = 500 g = 0,5 kg

          Menghitung Jumlah Mol dan Molalitas NaCl

          Jumlah mol NaCl

          Mol NaCl = 11,7/58,5

          Mol NaCl = 0,2 mol

          Jumlah Molalitas NaCl

          Molalitas NaCl = 0,2/0,5  = 0,4 m

          Menentukan Derajat Ionisasi NaCl

          NaCl adalah elektrolit kuat sehingga derajat ionisasinya α = 1

          Menentukan Jumlah Ion Larutan NaCl

          Jumlah ion NaCl

          NaCl = Na+ + Cl

          z = banyaknya ion (NaCl)

          z= 1 (ion Na+) + 1 (ion Cl)

          z = 2 ion

          Menentukan Faktor Van’t Hoff i Larutan Elektrolit NaCl

          Nilai Faktor Van’t Hoff i adalah

          i = 1 + (z – 1) α

          i = 1 + (2 – 1 )1

          i = 1 + 1 = 2

          Menghitung Kenaikkan Titik Didih Larutan Elektrolit NaCl

          Kenaikan titik didih larutan elektrolit dapat dinyatakan dengan rumus berikut

          ΔTb = m × Kb × i

          ΔTb = 0,4 x 0,52 x 2

          ΔTb = 0,416 0C

          Kenaikkan titik didih larutan NaCl adalah 0,416 0C

          Menghitung Titik Didih Larutan Elektrolit NaCl

          Titil didih larutan elektrolit dapat dirumuskan dengan persamaan berikut

          Tb.lar = Tb.pel + ΔTb

          Tb = 100 + 0,416

          Tb = 100,416 0C

          Jadi, Temperatur atau titik didih larutan elektrolit adalah 100,416 0C

          Contoh Soal Sifat Kologatif: Menentukan Tekanan Uap Larutan Elektrolit NaOH

          Hitunglah tekanan uap larutan 0,4 mol NaOH dalam 180 gram air jika tekanan uap air pada suhu tertentu adalah 100 mmHg.

          Diketahui:

          mol NaOH = 0,4 mol

          mol air = 180/18 = 10 mol

          P0 = 100 mmHg

          Menentukan Derajat Ionisasi NaOH

          Karena NaOH merupakan elektrolit kuat, maka α = 1

          Menentukan Fraksi Mol NaOH

          xt = mol NaOH/(mol NaOH + mol Air)

          xt = 0,4/(0,4 + 10)

          xt = 0,0385

          Menentukan Jumlah Ion NaOH

          NaOH → Na+ + OH

          z = 1 (ion Na+) + 1 (ion OH)

          z = 2 ion

          Menentukan Faktor Van’t Hoff i

          i = 1 + (z – 1) α

          i = 1 + (2 – 1) 1

          i = 2

          Menentukan Penurunan Tekanan Uap Larutan Elektrolit NaOH

          ΔP = xt P0 i

          ΔP = (0,0385) x (100) x (2)

          ΔP = 7,7 mmHg

          Menentukan Tekanan Uap Larutan Elektrolit NaOH

          P = P0 – ΔP

          P = 100 – 7,7

          P = 92,3 mmHg

          jadi tekanan uap larutan elektrolit NaOH adalah = 92,3 mmHg

          Contoh Soal Sifat Kologatif Larutan Elektrolit Menentukan Penurunan Titik Beku Larutan

          Suatu larutan elektrolit biner 0,1 mol dalam 200 gram air mempunyai α = 3/4. Jika Kf = 1,86 °C/m, tentukan penurunan titik beku larutan tersebut.

          Diketahui

          mol larutan biner = 0,1 mol

          massa air = 200 g = 0,2 kg

          α = 3/4

          Kf = 1,86 °C/m,

          Menentukan Molalitas Larutan Biner Elektrolit

          Molal = 0,1/0,2 = 0,5 M

          Menentukan Jumlah Ion Larutan Elektrolit Biner

          Larutan elekrtolit biner memiliki 2 ion sehingga

          z = 2

          Menentukan Faktor Van’t Hoff i

          i = 1 + (z – 1) α

          i = 1 + (2 – 1)3/4

          i = 1,75

          Menghitung Penurunan Titik Beku Larutan Elektrolit Biner

          Penurunan titik beku larutan elektrolit dapat dirumuskan dengan persamaan berikut

          ΔTf = Kf x m x i

          ΔTf = 1,86 x 0,5 x 1,75

          ΔTf = 1,63 0C

          Jadi penurunan titik beku larutan elektrolit biner adalah 1,63 0C

          Contoh Soal Perhitungan Tekanan Osmosis Larutan Elektrolit NaCL

          Sebanyak 11,7 gram NaCl (Mr = 58,5 g/mol) dilarutkan dalam air sampai volume 2000 mL. Hitunglah tekanan osmotik larutan yang terbentuk jika diukur pada suhu 27 °C dan R = 0,082 L atm/mol K.

          Diketahui,

          massa NaCl = 11,7 g

          Mr NaCl = 58,5

          Volume air = 2000 mL

          T = 27 + 373 = 300 K

          Menentukan Derajat Ionisasi Natrium Klorida

          NaCl adalah elektrolit kuat sehingga derajat ionisasi natrium klorida α = 1

          Menentukan Molaritas Larutan Elektrolit NaCl

          Molar NaCl = (11,7/58,5) x (1000/2000)

          Molar NaCl = 0,1 M

          Menentukan Jumlah Ion Larutan Elektrolit Biner

           NaCl → Na+ + Cl

          z = 1 (ion Na+) + 1 (ion Cl)

          z = 2 ion

          Menentukan Faktor Van’t Hoff i

          i = 1 + (z – 1) α

          i = 1 + (2 – 1) 1

          i = 2

          Menentukan Tekanan Osmosis Larutan Elektrolit NaCl

          P = M R T i

          P = 0,1 x 0,082 x 300 x 2

          P = 4,92 atm

          Jadi, tekanan osmosis laruatan elektrolit adalah 4,92 atm

          Contoh Soal Perhitungan Derajat Ionisasi Larutan Elektolit Biner

          Sebanyak 76 g elektrolit biner (Mr = 95 g/mol) dilarutkan dalam air sampai dengan volume 2 L pada suhu 27 °C dan memiliki tekanan osmotik 10 atm. Hitunglah derajat ionisasi elektrolit biner tersebut.

          Diketahui:

          massa zat biner = 76 g

          Mr Zat biner = 95

          P = 10 atm

          T = 27 + 273 = 300 K

          volume air = 2 liter

          Menentukan Mol dan Molaritas Larutan ELektrolit Biner

          mol zat = 76/95 = 0,8 mol

          Molar = 0,8 mol/2L= 0,4 M

          Menentukan Jumlah Ion, Bilangan Koefisien Larutan Elektrolit Biner

          Nilai z atau jumlah ion elektrolit biner adalah 2

          z = 2

          Menentukan Faktor Van’r Hoff i Larutan Elektrolit Biner

          P= M R T i atau

          i = P/(M R T)

          i = 10/(0,4 x 0,082 x 300)

          i = 1,016

          Menentukan Derajat Ionisasi Larutan Elektrolit Biner

          i = 1 + (z – 1) α atau

          α = (i – 1)/(z – 1)

          α = (1,016 – 1)/(2 – 1)

          α = 0,016

          Jadi, derajat ionisasi larutan tersebut adalah 0,016.

          Contoh Soal Sifat Kologatif: Perhitungan Derajat Ionisasi Larutan Elektrolit MgCl2

          Sebanyak 2 gram MgCl2 dilarutkan dalam 500 gram air ternyata membeku pada suhu -0,23 °C (Kf air = 1,86 Ar Mg = 24, Cl = 35,5). Tentukan derajat ionisasi MgCl2

          Diketahui:

          massa MgCl2 = 2 gram

          Mr MgCl2 = 95

          Kf air = 1,86

          massa air = 500 gram = 0,5 kg

          Tf = -0,23 °C

          Menentukan Mol Dan Molalitas MgCl2

          mol MgCl2 = 2/95 =0,021 mol

          Molal MgCl2 = 0,021/0,5 = 0,042 m

          Menentukan Jumlah Ion, Koefisien Reaksi Larutan Elektrolit  MgCl2

          MgCl2 → Mg+ + 2 Cl

          z = 1 (ion Mg+) + 2 (ion Cl)

          z = 3

          Menentukan Penurunan Titik Beku Larutan Elektrolit MgCl

          ΔTf = Tf/.pel – Tf.lar

          ΔTf = 0 – (-0,23)

          ΔTf = 0,23 0C

          Menentukan Faktor Vant’t Hoff i Larutan Elektrolit MgCl2

          ΔTf = Kf . m . i

          i = ΔTf/(Kf . m)

          i = 0,23/(1,86 x 0,042)

          i = 2,944

          Menentukan Derajat Ionisasi Larutan Elektrolit MgCl2

          i = 1 + (z – 1) α

          2,944 = 1 + (3 – 1) α

          2,944 = 1 +2 α

          2 α = 2,944 – 1

          α = 0,972

          Jadi, derajat ionisasi larutan elektrolit MgCl2 adalah 0,972

          Seandainya materi ini memberikan manfaat, dan anda ingin memberi dukungan Donasi pada ardra.biz, silakan kunjungi SociaBuzz Tribe milik ardra.biz di tautan berikuthttps://sociabuzz.com/ardra.biz/tribe

            Daftar Pustaka:

            1. Sunarya, Yayan, 2014, “Kimia Dasar 1, Berdasarkan Prinsip Prinsip Kimia Terkini”, Cetakan Ketiga, Yrama Widya, Bandung.
            2. Chang, Raymond, 2004, “Kimia Dasar, Konsep -konsep Inti”, Edisi Ketiga, Jilid Satu, Penerbit, Erlangga, Jakarta.
            3. Brady, James, E,1999, “Kimia Universitas Asas dan Struktur”, Edisi Kelima, Jilid Satu, Binarupa Aksara, Jakarta.
            4. Sunarya, Yayan, 2013, “Kimia Dasar 2, Berdasarkan Prinsip Prinsip Kimia Terkini”, Cetakan Kedua, Yrama Widya, Bandung.
            5. Ardra.Biz, 2019, “Tekanan Osmotik permukaan larutan dan rumus persamaan Cara Menghitung Tekanan Osmotik Permukaan larutan.
            6. Syukri, S., 1999, “Kimia Dasar 2”, Jillid 2, Penerbit ITB, Bandung
            7. Brady, James, E., 1999, “Kimia Universitas Asas dan Struktur”, Edisi Kelima, Jilid Dua, Binarupa Aksara, Jakarta.
            8. Ringkasan Rangkuman: Larutan merupakan campuran homogen antara zat terlarut (solute) dengan zat pelarut (solven).
            9. Hubungan secara kuantitatif antara zat terlarut dengan larutan atau antara zat terlarut dengan zat pelarut dinyatakan dengan istilah konsentrasi. Konsentrasi ada beberapa macam, diantaranya molaritas, molalitas, fraksi mol, dan persen (%).
            10. Molaritas merupakan perbandingan antara jumlah mol zat terlarut dengan volume dalam liter larutan.
            11. Molalitas merupakan perbandingan antara jumlah mol zat terlarut dengan massa dalam kilogram zat pelarut.
            12. Fraksi mol menyatakan perbandingan antara salah satu komponen larutan (zat terlarut atau pelarut) dengan jumlah mol total komponen dalam larutan.
            13. Persentase (%) menyatakan hubungan antara bagian zat terlarut atau pelarut ( dalam satuan massa atau volume) dengan jumlah total larutan dikalikan dengan 100 %.
            14. Salah satu sifat larutan adalah sifat koligatif, yaitu sifat fisika yang hanya tergantung pada jumlah partikel zat terlarut dan bukan pada jenis zat terlarut. Ada empat macam sifat koligatif yang dipelajari yaitu, penurunan tekanan uap, kenaikan titik didih, penurunan titik beku, dan munculnya tekanan osmosis
            15. Sifat Kologatif Larutan: Pengertian Penurunan Tekanan Uap Kenaikkan Titik Didih Penurunan Titik Beku Tekanan Osmotis Elektrolit Nonelektrolit Contoh Soal Rumus Perhitungan 15
            error: Content is protected !!