Pendapatan Disposibel Disposible Income (DI) Pengertian Contoh Soal

Pengertian Disposible Income. Disposible Income adalah Personal Income (PI) setelah dikurangi pajak langsung. Pajak langsung misalnya pajak bumi dan bangunan, pajak kendaraan bermotor dan sebagainya. Disposible income merupakan pendapatan yang siap digunakan, baik untuk keperluan konsumsi maupun untuk ditabung.


Pada tabel dapat dilihat pendapat disposibel menurut rumah tangga Indonesia pada tahun 2000, 2005 dan tahun 2008. Pendapat disposibel rumah tangga menunjukkan peningkatan yang cukup besar, baik selama lima tahun dari tahun 2000 sampai tahun 2005 maupun selama tiga tahun dari tahun 2005 sampai tahun 2008.

nilai pendapatan-disposibel rumah tangga
nilai pendapatan-disposibel rumah tangga

Formulasi untuk menghitung Disposible Income adalah:

DI = PI – Pajak Langsung

Tabungan merupakan uang yang disisihkan dari hasil pendapatan yang tidak digunakan untuk belanja namun dikumpulkan sebagai cadangan masa depan. Tabugan ini disimpan di lembaga keuangan resmi seperti Bank. Tabungan ini dapat menambah pendapatan nasional karena, tabungan dapat dimanfaatkan untuk keperluan investasi. Melalui investasi inilah pendapatan nasional dapat meningkat. Penjelasan tentang pendapatan nasional dapat diuraikan dengan urutan seperti terlihat di bawah ini.

GDP > GNP > NNP > NNI > PI > DI

Perbandingan mengenai indikator pendapatan nasional akan lebih jelas bila kita menerapkan dalam angka:

  1. GDP Rp. 100.000,00

Pendapatan Neto dari LN Rp. 10.000,00 –

  1. GNP Rp. 90.000,00

Depresiasi/Penyusutan Rp. 5.000,00 _

  1. NNP Rp. 85.000,00

Pajak tidak langsung Rp. 3.000,00 _

  1. NNI Rp. 82.000,00
  • Laba ditahan Rp. 7.500
  • PPh Persh. Rp. 2.500
  • Iuran Sosial Rp. 1.000 + Rp. 11.000,00 _
  1. PI Rp. 71.000,00

Pajak Langsung Rp. 5.000,00 _

  1. DI Rp. 66.000,00

Konsumsi Rp. 47.000,00 _

Tabungan (saving) Rp. 19.000,00

Daftar Pustaka:

  1. Prasetyo, P., Eko, 2011, “Fundamental Makro Ekonomi”, Edisi 1, Cetakan Kedua, Beta Offset, Yogyakarta.
  2. Putong, Iskandar. Andjaswati, N.D., 2008, “Pengantar Ekonomi Makro”, Edisi Pertama, Penerbit Mitra Wacana Media, Jakarta.
  3. Firdaus, R., Ariyanti, M., 2011, ”Pengantar Teori Moneter serta Aplikasinya pada Sistem Ekonomi Konvensional dan Syariah”, Cetakan Kesatu, AlfaBeta, cv, Bandung.
  4. Mankiw, N., Gregory, 2003, “Teori Makroekonomi”, Edisi Kelima, Penerbit Erlangga, Jakarta.
  5. Jhingan, M.L., 2008, “Ekonomi Pembangunan Perencanaan”, Edisi Pertama, PT RajaGrafindo Persada, Jakarta.
  6. Samuelson, A., Paul. Nordhaus, D., William, 2004, “Ilmu Makro Ekonomi”, Edisi 17, PT Media Global Edukasi, Jakarta.
  7. Sukirno, Sadono, 2008, “Makroekonomi Teori Pengantar”, Edisi Ketiga, PT RajaGrafindo Persada, Jakarta.
  8. Ardra.Biz, 2019, “Pengertian Disposible Income Disposible Income dan Contoh Personal Income (PI).  setelah Contoh pajak langsung dengan Pengertian  Pajak langsung.
  9. Ardra.Biz, 2019, “Pendapat disposibel rumah tangga Rumus menghitung Disposible Income dengan Contoh Soal Ujian Disposible Income. Tabungan adalah dan  Fungsi Tabungan Pendapatan Disposibel atau Tabungan pada pendapatan nasional.
  10. Ardra.Biz, 2019, “Penjelasan Pendapatan Nasional dengan Pengertian GDP dan Pengertian GNP dan Pengertian  NNP dan pengertian  NNI dengan Pengertian PI, Pengertian DI. Walaupun Pendapatan Neto dari LN atau Depresiasi/Penyusutan ,

Aldehid: Pengertian Sifat Fisis Kimia Rumus Struktur Gugus Fungsi Isomer Reaksi Pembuatan Kegunaan Aldehida

Pengertian Aldehid: Aldehid merupakan salah satu kelompok senyawa karbon yang memiliki gugus karbonil. Gugus karbonil (C=O) tersebut terletak di ujung rantai karbon induk yang diakhiri dengan atom hydrogen.


Gugus Fungsi Senyawa Aldehida

Aldehid atau alkanal dapat dianggap sebagai turunan alkana dengan mengganti 1 atom H dari alkana dengan gugus fungsi (–COH) yang disebut gugus formil. Gugus formil adalah gugus karbonil (C=O) dengan penambahan satu atom hydrogen menjadi (–COH).

Sifat Kepolaran Gugus Karbonil Aldehida

Gugus karbonil pada aldehid menunjukkan gugus yang bersifat polar. Hal ini disebabkan oleh atom oksigen dan karbon mempunyai perbedaan keelektronegatifan cukup besar.

Kepolaran gugus karbonil ditunjukkan melalui sifat fisika yang dimiliki oleh aldehid, seperti titik didih lebih tinggi (50 – 80 °C) dibandingkan senyawa hidrokarbon dengan masa molekul relatif sama.

Rumus Umum Molekul Senyawa Aldehid

Rumus umum aldehid adalah R–COH dimana R adalah alkil (alkana kehilangan satu hydrogen) atau atom H atau aril. Adapun rumus molekul aldehid adalah CnH2nO.

Jadi, aldehida memiliki sekurang kurangnya satu atom hidrogen yang terikat pada karbon karbonilnya. Gugus lain yang membentuk aldehida adalah R, bisa berupa alkil, H atau aril. Rumus struktur aldehid adalah sebagai berikut:

Tata Nama Senyawa Aldehid

Aldehid sudah dikenal sejak lama sehingga penataan nama menggunakan nama trivial atau lazim atau umum sering digunakan. Sedangkan tata nama IUPAC aldehyde diturunkan dari nama senyawa alkana.

Tata Nama Trivial Nama Lazim – Umum Senyawa Aldehid

Nama lazim aldehid diturunkan dari nama lazim asam karboksilat dengan menggantikan akhiran “at” menjadi “aldehid” dan membuang kata asam. Contoh asam format nama aldehidnya menjadi formaldehid dan asam asetat menjadi asetaldehid.

Contoh Tata Nama Trivial Nama Lazim Senyawa Aldehid

Beberapa contoh nama trivial aldehid ditunjukkan pada tebel untuk rantai dengan jumlah atom karbon satu sampai lima.

Senyawa aldehida yang paling sederhana adalah formaldehid dengan rumus HCOH yang hanya memiliki satu atom karbon. Gugus aldehida (R-) dari formaldehid hanya terisi oleh atom hydrogen.

Tata Nama IUPAC Senyawa Aldehid

Tata nama menurut sistem IUPAC, nama aldehid diturunkan dari nama alkana dengan mengganti akhiran “a’’ menjadi “al”. Oleh karena itu, aldehid disebut juga sebagai alkanal.

Untuk alkanal yang mempunyai isomer pemberian Namanya adalah sebagai berikut.

1). Rantai pokok atau induk adalah rantai terpanjang yang mengandung gugus fungsi formil atau gugus aldehid (–COH)

2). Nama aldehid sesuai nama rantai pokok atau rantai induk alkana, diberi akhiran al.

3). Pemberian nomor pada rantai induk dimulai dari  atom karbon yang terikat pada gugus fungsi aldehida atau formil  (–COH).

4). Pemberian nama dimulai dengan nama cabang cabang yang disusun menurut abjad, kemudian nama rantai induk atau pokok.

5). Letak atau posisi gugus fungsi tidak perlu disebutkan karena selalu pada atom C nomor satu.

6). Jika terdapat dua atau lebih cabang yang bebeda, penulisanya diurut berdasarkan uratan abjad.

Contoh Tata Nama IUPAC Senyawa Aldehid Atau Alkanal

Beberapa contoh nama IUPAC senyawa aldehid ditunjukkan pada tebel untuk rantai dengan jumlah atom karbon satu sampai tiga.

1). Contoh Soal Tata Nama UIPAC Menentukan Nama Senyawa Aldehyde Alkanal

Tentukan nama IUPAC Senyawa aldehida yang memiliki rumus molekul C4H8O dan rumus struktur seperti berikut:

Dari rumus strukturnya dapat diketahui bahwa rantai karbon senyawa aldehida tersebut merupakan rantai lurus tanpa ada cabang. Pada ujung rantai induknya terikat gugus aldehyde yaitu  –COH.

Rantai induknya memiliki 4 atom karbon. Nama IUPAC senyawa alkanal atau aldehid yang memiliki 4 atom karbon adalah “butanal”.

Diketahui:

Nama gugus cabang (alkil) = tidak ada cabang

Nama rantai induk aldehida = butanal

Jadi nama senyawa aldehyde-nya adalah “butanal

2). Contoh Soal Menentukan Nama Aldehid Rumus Kimia C4H8O Menurut Tata Nama IUPAC,

Tuliskan nama senyawa aldehid atau alkanal yang memiliki rumus struktur berikut menurut IUPAC,

Rumus struktur senyawa aldehyde di atas dibangun oleh rangka karbon bercabang dan jumlah cabang hanya satu. Rantai induk terpanjang yang mengikat gugus aldehyde -COH memiliki 3 atom karbon. Nama IUPAC rantai karbon aldehyde yang memiliki 3 atom adalah propanal.

Penomoran atom karbon dimulai dari atom karbon pada gugus aldehid -COH yaitu pada karbon yang mengikat atom oksigen. Cabang terjadi pada atom karbon nomor 2 dengan mengikat gugus alkil yang memiliki satu karbon yaitu metil.

Diketahui

Nama gugus cabang (alkil) = 2-metil

Nama rantai induk aldehida = propanal

Jadi, nama IUPAC dari senyawa aldehida adalah “2-metil-propanal

3). Contoh Soal Tata Nama UIPAC Senyawa Aldehyde Alkanal C6H12O

Tentukan nama IUPAC senyawa aldehida yang memiliki rumus molekul C6H12O dengan rumus strukturnya seperti berikut:

Dari rumus strukturnya dapat diketahui bahwa senyawa aldehid tersebut dibangun oleh rangka karbon bercabang. Rantai induk terpanjangnya memiliki 5 atom karbon. Senyawa alkanal yang memiliki 5 atom karbon adalah ‘pentanal’.

Rantai induk merupakan rantai karbon yang mengikat gugus aldehyde (formil) yaitu gugus (–COH). Sedangkan atom karbon nomor 1 adalah karbon dalam gugus (–COH) yang mengikat atom oksigen.

Cabang terbentuk akibat adanya gugus alkil yang terikat pada rantai induk. Gugus alkil yang terikat pada rantai induk ini memiliki 1 atom karbon yaitu ‘metil. Gugus alkil terikat pada rantai induk di atom karbon nomor ‘3’.

Diketahui

Nama gugus cabang (alkil) = 3-metil

Nama rantai induk aldehida = pentanal

Jadi nama UIPAC dari senyawa aldehid dengan rumus kimia C6H12O adalah 3-metil-pentanal

4). Contoh Soal Menentukan Nama IUPAC Rumus Struktur 2-4-Dimetil-Heksanal C8H16O,

Tuliskan nama IUPAC senyawa aldehid yang memiliki rumus kimia C8H16O dengan rumus struktur seperti berikut:

Menentukan Rantai Induk Rumus Struktur Senyawa Aldehid 2-4-Dimetil-Heksanal C8H16O,

Rumus struktur senyawa aldehid di atas merupakan struktur yang tersusun oleh rangka karbon bercabang. Pada rantai induknya terdapat dua cabang.

Dari strukturnya diketahui, bahwa rantai terpanjang yang mengikat gugus -COH mengandung 6 atom karbon. Nama IUPAC dari rantai karbon aldehida yang memiliki 6 atom karbon adalah “heksanal”.

Penomoran karbon dimulai dari atom karbon pada gugus -COH yaitu pada atom karbon yang berikatan dengan oksigen.

Pada rantai induk terdapat dua cabang yang mengikat gugus fungsi alkil yang sama yaitu gugus dengan satu atom karbon (atau metil). Satu metil terikat pada atom karbon nomor 2 dan satunya pada atom karbon nomor 4.

Karena gugus alkinya sama yaitu metil maka penulisannya menjadi “2,4 dimetil” (bukan 2-metil-4-metil).

Diketahui:

Nama gugus cabang (alkil) = 2,4-dimetil

Nama rantai Induk aldehida = heksanal

Jadi, nama IUPAC senyawa aldeida-nya adalah 2,4-dimetil-heksanal

5). Contoh Soal Membuat Rumus Struktur 2,3-Dimetil-Butanal

Buatkanlah rumus struktur dari senyawa aldehid yang memiliki nama 2,3-dimetil-bunatal.

Cara Membuat Rumus Struktur Dari Nama Senyawa.

Agar dapat membuat rumus strukturnya, maka harus diketahui terlebih dahulu Tata Nama Trivial atau IUPAC dari senyawa tersebut. Dari penulisannya, nama 2,3-dimetil-butanal dapat diketahui, bahwa nama ini adalah berdasarkan IUPAC. Artinya menggunakan nama alkanal bukan nama trivial aldehid.

Arti Notasi (Angka) Dan Nama Pada Senyawa Aldehid Alkana.

Pengertian dari penulisan dengan nama 2,3-dimetil-butanal adalah:

Angka 2,3 = menunjukkan posisi cabang (gugus alkil) pada rantai alkanal. Angka 2 koma 3 artinya ada dua cabang dengan gugus yang sama (ada dua gugus alkil).

Angka 2 = cabang (gugus alkil) terikat pada atom karbon nomor 2

Angka 3 = cabang (gugus alkil) terikat pada atom karbon nomor 3

Dimetil = gugus alkil pada cabang. Ada dua gugus metil dengan rumus CH3. Metil pertama terikat pada karbon nomor 2, dan metil kedua terikat pada karbon nomor 3. Karena gugusnya sama sama metil, maka penulisan dari kedua metil ini disatukan menjadi “dimetil

Butanal = rantai induk, merupakan rantai karbon dari senyawa alkanal yang mengikat gugus fungsi aldehid (–COH). Butanal memiliki 4 atom karbon dengan rumus kimia C4H8O dan rumus strukturnya CH3CH2CH2COH atau CH3–CH2–CH2 –COH.

Cara Memberi Nomor Karbon Pada Senyawa Aldehid – Alkanal

Penomoran pada atom karbon dimulai dari karbon yang terikat pada gugus fungsi aldehid –COH seperti berikut:

Perhatikan, pada rantai butanal ini, atom karbon nomor 2 dan 3 mengikat 2 atom hydrogen. Rantai butanal ini merupakan rantai karbon tanpa cabang (belum mengikat gugus alkil metil).

Cara Pemasangan Gugus Alkil Pada Senyawa Aldehid – Alkanal

Sebelum mengikatkan gugus metil, atom hydrogen yang terikat pada atom nomor 2 dan 3 harus dikurangi satu, sehingga rumusnya berubah dari CH3 menjadi CH2 agar lengan karbon tetap empat.  Karena, kalau tetap CH3 dan gugus metil diikatkan, maka lengan karbon menjadi 5.

Kemudian, satu gugus metil CH3 diikatkan pada atom karbon nomor 2 dan satunya di atom karbon nomor 3 seperti berikut hasilnya.

Isomer Senyawa Aldehid

Aldehid tidak mempunyai isomer posisi karena gugus fungsi dari aldehid terletak di ujung rantai C. Isomer pada aldehid terjadi karena adanya cabang dan letak cabang, jadi isomer aldehid merupakan isomer struktur.

Isomer aldehid mulai ditemukan pada suku ke-4 (rantai dengan jumlah atom karbon 4) yaitu butanal.

Contoh Isomer Struktur Senyawa Alkanal Butanal C4H8O

Keisomeran pada butanal sebagai senyawa alkanal mempunyai dua isomer, yaitu butanal dan 2–metil–propanal (isobutanal).

Rumus Struktur Isomer senyawa butanal dapat dinyatakan seperti berikut:

Kedua isomer butanal ini sama sama memiliki rumus molekul C4H8O namun kedua strukturnya berbeda. Perbedaannya pada butanal dibangun oleh rangka karbon lurus sedangkan 2-metil propanal dibangun oleh rangka karbon bercabang

Rumus struktur butanal dibangun oleh rantai induk lurus dengan 4 karbon atom. Rantai induk dengan 4 karbon pada alkanal adalah butanal.

Rumus struktur 2-metil-propanal tersusun dari rantai induk bercabang yang mengikat gugus alkil. Rantai induk memiliki atom karbon sebanyak 3 atom, dan nama alkanalnya adalah propanal.

Cabang terletak pada karbon nomor 2 dengan mengikat gugus alkil yang mengandung satu karbon yaitu metil.

Contoh Isomer Gugus Fungsi Senyawa Butanal C4H8O

Isomer gugus fungsi adalah senyawa- senyawa yang mempunyai rumus molekul sama namun gugus fungsinya berbeda.

Senyawa aldehid butanal memiliki isomer dengan senyawa keton yaitu butanon. Keduanya memiliki rumus molekul yang sama yaitu C4H8O.

Isomer butanal sebagai keton adalah butanon yang memiliki rumus struktur sebagai berikut:

Rumus struktur butanon dibangun oleh rangka karbon lurus yang memiliki 4 atom karbon yaitu butanon.

Jadi, pada isomer gugus fungsi terjadi pergantian gugus fungsi (–COH) dari aldehid menjadi gugus fungsi (–CO–) dari keton. Sehingga rumus strukturnya menjadi berbeda, berubah dari R–COH (aldehid) menjadi R–CO–R’(keton)

Sifat Fisis Senyawa Aldehid

Aldehid merupakan senyawa polar dan mendidih pada suhu yang lebih tinggi daripada senyawa nonpolar dengan bobot molekul yang sama.

Adanya kemampuan membentuk ikatan hidrogen, maka aldehid dengan bobot molekul rendah dapat larut dalam air.

Titik didih dan kelarutan dalam air beberapa senyawa aldehid ditunjukkan dalam table berikut:

Reaksi Reaksi Senyawa Aldehida

Beberapa reaksi yang dapat dilakukan pada senyawa aldehid diantaranya adalah:

1). Reaksi Oksidasi Senyawa Aldehid

Aldehid merupakan reduktor kuat, sehingga dapat mereduksi oksidator-oksidator lemah. Aldehid dapat diketahui dengan pereaksi Tollens dan pereaksi Fehling yang merupakan oksidator lemah.

Contoh Oksidator Senyawa Aldehida

Oksidasi aldehid menghasilkan asam karboksilat.  Oksidator yang digunakan adalah KMnO4, K2Cr2O7, larutan Fehling, dan larutan Tollens.

Contoh Reaksi Oksidasi Aldehid Oleh Kalium Permanganat KMnO4

Reaksi oksidasi aldehid dengan oksidator KMnO4 dalam suasana asam menghasilkan asam karboksilat (R-COOH). Reaksi oksidasi propanal menghasilkan asam propanoat akan memenuhi persamaan reaksi berikut

Pada reaksi ini senyawa propanal dioksidasi oleh kalium permanganate dalam suasana asam dan membentuk asam propanoate.

Resksi Oksidasi Aldehida Dengan Pereaksi Tollens (Reaksi Cermin Perak),

Aldehid dapat mereduksi pereaksi Tollens (laturan mengandung ion Ag+) dan menghasilkan cermin perak, yaitu endapan perak membentuk cermin pada dinding tabung reaksi. Reaksi ini sering dikenal dengan sebutan reaksi cermin perak.

Pembuatan Pereaksi Ammonia Nitrat (Pereaksi Tollens)

Pereaksi Tollens adalah larutan basa dari perat nitat. Larutan ini jernih dan tak berwarna. Nama larutan diambil dari penemunya yaitu kimiawan Jerman bernama Bernhard Tollens.

Reagen Tollens terdiri dari larutan perak nitrat, amonia dan beberapa natrium hidroksida (untuk menjaga pH dasar larutan reagen).

Pereaksi Tollens dibuat dari perak nitrat AgNO3 yang di larutkan dalam aquades dengan menambahkan larutan NaOH dan ammonia pekat. Pereaksi Tollens memiliki rumus kimia Ag(NH3)2OH.

Dalam penulisan persamaan reaksinya, pereaksi Tollens sering dianggap sebagai Ag2O atau hanya ditulis sebagai ion perak Ag+ dengan ion OH.

Jika aldehyde direaksikan dengan pereaksi Tollens, maka akan terbentuk asam karboksilat. Pada reaksi ini, ion perak dalam larutan Tollens akan tereduksi menjadi ion logam menjadi logam perak.

Contoh Reaksi Senyawa Adehida Etanal (Asetaldehida) Dengan Pereaksi Tollens

Reaksi oksidasi etanal atau asetaldehid oleh pereaksi Tollens akan menjadi asam esatat atau asam etanoat. Pada reaksi ini, terjadi reduksi ion perak menjadi logam perak yang akan mengendap seperti cermin pada tabung reaksi.

Persamaa reaksi ketika etanal dioksidasi menjadi asam etanoat adalah seperti berikut:

Dalam persamaan reaksi tersebut, pereaksi Tollens diwakili oleh ion perak Ag+ yang mengalami reduksi menjadi logam atau unsur perak Ag.

Pada reaksi tersebut senyawa etanal (asetadehida) teroksidasi menjadi asam asetat atau asam etanoat. Dalam reaksi ini asam etanoat bertindak sebagai pereduksi (atau reduktor).

Reaksi Oksidai Aldehid Dengan Larutan Benedict – Fehling

Pereaksi Fehling adalah campuran CuSO4(aq) dengan kalium natrium tartrat dalam suasana basa.

Pereaksi Benedict – Fehling dapat dianggap sebagai larutan CuO atau larutan yang mengandung ion Cu2+. Reaksi oksidasi aldehid dengan larutan Fehling menghasilkan asam karbokslat dan endapan Cu2O yang berwarna merah cerah.

Contoh Reaksi Oksidasi Etanal (Asetaldehida) Dengan Pereaksi Benedict – Fehling

Reaksi oksidasi etanal atau asetaldehid oleh pereaksi Benedict – Fehling akan menghasilkan asam esatat atau asam etanoat. Produk reaksinya sama seperti dengan larutan Tollens. Pada reaksi ini, terbentuk endapan Cu2O yang memiliki warna merah cerah.

Persamaan reaksi ketika etanal dioksidasi oleh larutan Benedict – Fehling menjadi asam etanoat adalah seperti berikut:

Pada reaksi oksidasi ini, senyawa asetaldehid (etanal) akan teroksidasi menjadi asam asetat (asam asetat), dan pada saat yang bersamaan, ion Cu2+ akan tereduksi menjadi Cu+ dalam bentuk endapan tembaga oksida Cu2O.

2). Reaksi Adisi Senyawa Aldehid

Reaksi adisi adalah reaksi pemutusan ikatan rangkap (reaksi penjenuhan). Jika pereaksi yang mengadisi bersifat polar, maka gugus yang lebih positif terikat pada atom oksigen dan gugus negatif terikat pada atom karbon.

Jadi, reaksi adisi akan mengubah senyawa karbon tidak jenuh (mempunyai ikatan rangkap) menjadi senyawa karbon jenuh (tidak mempunyai ikatan rangkap). Karena aldehid memiliki ikatan rangkap antara C dengan O, maka aldehid dapat diadisi.

  • Reaksi Adisi Senyawa Aldehid Dengan Hidrogen

Reaksi Adisi aldehid dengan hidrogen (H2) akan menghasilkan alcohol primer dengan bantuan katalis Ni/Pt. Reaksi adisi aldehid dengan hidrogen ini bersifat reduktif. Artinya aldehid akan tereduksi. Reaksi adisi propanal oleh hydrogen akan menghasilkan propanol.

Reaksi adisi propanal oleh hydrogen menyebabkan ikatan rangkap pada gugus aldehid (-COH) pecah dengan terikatnya atom hydrogen oleh atom oksigen dan terikatnya atom hydrogen yang satunya oleh atom karbon pada gugus aldehid tersebut.

  • Reaksi Adisi Aldehid Dengan Hidrogen Sianida

Reaksi adisi aldehid dengan HCN (hidrogen sianida) akan menghasilkan senyawa hidroksi karbonitril dengan menggunakan katalis basa. Persamaan reaksi adisinya seperti berikut

Reaksi propanal dengan hydrogen sianida akan menghasilkan 1-hidroksi-propana-1-karbonitril. Reaksi adisi dengan HCN menyebabkan ikatan rangkap pada gugus aldehid -COH lepas dengan terikatnya atom hydrogen oleh atom oksigen dan terikatnya karbonitril CN oleh atom karbon pada gugus aldehid.

Gugus -OH dan gugus CN terikat pada atom karbon yang sama yaitu pada atom karbon yang terdapat pada gugus aldehid.

Pembuatan Aldehid – Alkanal

Cara yang paling lazim untuk membuat suatu aldehida sederhana adalah dengan oksidasi suatu alcohol primer.

Aldehid dapat dibuat dengan cara mengoksidasi alkohol primer dengan menggunakan oksidator seperti KMnO4 atau K2Cr2O7 atau udara panas.

Contoh Reaksi Pembuatan Formaldehida

Secara komersial, formaldehid dibuat dengan mereaksikan uap alcohol (metanol) dengan katalis tembaga dan udara panas. Beberapa katalis yang umum digunakan adalah logam perak (Ag) atau campuran besi (Fe) dan molibdenum (Mo) atau vanadium oksida (VO2).

Proses pembentukan formaldehida dengan katalis tembaga didasarkan pada reaksi oksidasi. Reaksinya adalah sebagai berikut:

CH3OH (g) + ½ O2 (g) → HCOH (g) + H2O (g)

Reaksi diatas berlangsung di dalam reaktor fixed bed multitube pada temperatur 590o -650oC dan tekanan atmospheris dengan perbandingan mol antara metanol dan udara adalah 2 : 1.

Contoh Reaksi Pembuatan Asetaldehida (Etanal)

Pembuatan asetaldehide dari alcohol merupakan reaksi oksidasi dengan udara pada temperature tinggi. Adapun persamaan reaksinya adalah sebagai berikut.

C2H5OH + ½ O2 → CH3COH + H2O

Proses pembutannya dilakukan dalam reactor fixed bed. Campuran uap etanol dan udara dimasukkan ke dalam reaktor fixed bed dengan bantuan katalis Ag pada suhu 350 – 500˚C tekanan 1 – 3 atm.

Reaksi Pembuatan Asetaldehide Dengan Ozonolisis Alkena Butena

Reaksi ozonolysis alkena sering disebut sebagai reaksi pemutusan ikatan rangkap karbon karbon (C=C) dengan menggunakan ozon. Reaksi ozonolysis dapat berlangsung pada temperature kamar.

Jika ozon mengadisi alkena maka akan terbentuk zat dengan struktur siklik, yaitu intermediet molozonida (ozon primer) yang tidak stabil, dan segera berubah menjadi ozonida. Apabila ozonida dihidrolisis maka akan terjadi reaksi pemaksapisahan (cleavage). Reaksi hidrolisis akan memecah atau memutus ikatan rangkap dan menghasilkan molekul molekul yg lebih kecil.

Reaksi ozonolysis berlangsung dalam dua tahap yaitu: reaksi adisi ozon pada ikatan rangkap membentuk ozonida, dan hidrolisis ozonide menghasilkan produk pemaksapisahan yaitu aldehid  atau keton.

Contoh Reaksi Ozonolisis Pembentukan Asetaldehida

Pembentukan Asetaldehid dengan cara ozonolysis dapat dibuat dari 2-butena melalui dua tahapan berikut:

Reaksi Adisi Ozon Pada Senyawa Alkena 2-Butena

Reaksi Adisi 2-butena oleh ozon (O3) akan menghasilkan butena ozonide seperti reaksi berikut:

Pada reaksi ini, ikatan rangkap karbon – karbon (C=C) yang dimiliki 2-butena terlepas dan diikuti oleh pengikatan atom oksigen oleh kedua atom karbon tersebut. Reaksi adisi oleh ozon ini menghasilkan butena ozonide.

Reaksi Hidrolisis Butena Ozonida

Tahap berikutnya adalah reaksi hidrolisis butena ozonide dengan bantuan reduktor Zn sesuai persamaan reaksi berikut:

Dalam reaksi hidrolisis ini terjadi pemutusan ikatan antar atom oksigen – oksigen (O–O)  dan pelepasan oksigen yang terikat oleh dua atom karbon (C–O–C) sehingga membentuk dua senyawa asetaldehid.

Kegunaan Senyawa Aldehid – Alkanal

Aldehid yang paling banyak digunakan dalam kehidupan sehari hari adalah formaldehid. Kegunaan formaldehid sebagai berikut.

1). Aldehid digunakan dalam membuat formalin. Formalin  adalah larutan 40 % formaldehid dalam air. Formalin digunakan sebagai pengawet preparat biologi dan mayat. Namun formalin merupakan zat kimia yang berbahaya sehingga tidak boleh digunakan untuk mengawetkan makanan.

2). Untuk membuat berbagai jenis plastik termoset (plastik yang tidak meleleh pada pemanasan).

3). Asetaldehida merupakan produk yang banyak digunakan untuk memproduksi produk turunannya yaitu antara lain: sebagai bahan baku pembuatan asam asetat, n- butanol, 2- hexyl ethanol, pentaerythrytol, trimethylolpropane, pyridine, pericetic acid, crotonaldehide, asetat anhidrid, chloral, 1,3 butylene, dan bahan baku pembuatan asam lactid.

    Daftar Pustaka:

    1. Sunarya, Yayan, 2014, “Kimia Dasar 1, Berdasarkan Prinsip Prinsip Kimia Terkini”, Cetakan Ketiga, Yrama Widya, Bandung.
    2. Hiskia Achmad,  1996, “Kimia Larutan”, Citra Aditya Bakti,  Bandung.
    3. Sunarya, Yayan, 2013, “Kimia Dasar 2, Berdasarkan Prinsip Prinsip Kimia Terkini”, Cetakan Kedua, Yrama Widya, Bandung.
    4. Syukri, S., 1999, “Kimia Dasar 2”, Jillid 2, Penerbit ITB, Bandung
    5. Chang, Raymond, 2004, “Kimia Dasar, Konsep -konsep Inti”, Edisi Ketiga, Jilid Satu, Penerbit, Erlangga, Jakarta.
    6. Brady, James, E,1999, “Kimia Universitas Asas dan Struktur”, Edisi Kelima, Jilid Satu, Binarupa Aksara, Jakarta,
    7. Brady, James, E., 1999, “Kimia Universitas Asas dan Struktur”, Edisi Kelima, Jilid Dua, Binarupa Aksara, Jakarta.
    8. Aldehid: Pengertian Sifat Fisis Kimia Rumus Struktur Gugus Fungsi Isomer Reaksi Pembuatan Kegunaan Aldehida, Pengetian Contoh Soal Pembahasan Menentukan Isomer Strukutr Gugus Fungsi Aldehide Alkanal,
    9. Contoh Soal Pembahasan Cara Menentukan Rumus Struktur Tata Nama IUPAC Aldehida Alkanal, Pengertian Contoh Reaksi Pembuatan Aldehida, Sifat Fisis Kimia Aldehida Alkanal,

    Ester: Pengertian Sifat Fisik Kimia Tata Nama IUPAC Rumus Struktur Isomer Reaksi Pembuatan Kegunaan

    Pengertian Ester: Ester adalah suatu senyawa karbon yang terbentuk melalui penggantian satu atau lebih atom hidrogen pada gugus karboksil dengan suatu gugus alkil yang biasa dilambangkan dengan R’. Gugus karboksil adalah gugus fungsi yang membentuk senyawa asam karboksilat dengan rumusnya (–COOH)


    Rumus Umum Struktur Senyawa Ester

    Ester merupakan senyawa karbon turunan asam karboksilat dan disebut dengan alkil alkanoat. Ester memiliki rumus umum R–COOR’ dan rumus struktur umumnya seperti berikut:

    Rumus Umum Kimia Molekul Struktur Senyawa Ester
    Rumus Umum Struktur Senyawa Ester

    Jadi ester adalah senyawa yang dibentuk dari asam karboksilat dengan mengganti ion hidrogen pada gugus hidroksil –OH atau pada gugus karboksil (–COOH) oleh radikal hidrokarbon atau alkil R’. Pada senyawa ester, R dan R’ dapat sama atau berbeda.

    Rumus Kimia Senyawa Ester

    Senyawa ester tersusun dari atom karbon, hydrogen dan oksigen dengan rumus kimia secara umum adalah sebagai berikut

    CnH2nO2

    n = bilangan bulat

    Tata Nama IUPAC Senyawa Ester

    Tata nama ester hampir sama dengan tata nama pada asam karboksilat. Ester mempunyai nama IUPAC alkil alkanoat.

    Penataan nama ester dimulai dengan menyebutkan gugus alkil diikuti gugus asam karboksilat yang menyusun ester dengan menghilangkan kata –asam. Kata asam diganti dengan nama alkil dari R′ karena atom H dari gugus –OH diganti dengan gugus alkil dengan ketentuan berikut:

    “Nama Alkil-Nama Alkanoat”

    Tata Nama IUPAC Senyawa Ester Alkil Alkanoat
    Tata Nama IUPAC Senyawa Ester Alkil Alkanoat

    Contoh Soal Tata Nama Rumus Struktur Senyawa Ester Etil Propanoat C5H10O2

    Tentukan nama senyawa ester yang memiliki rumus kimia / molekul C5H10O2 dan  rumus strukturnya CH3CH2COOCH2CH3 seperti berikut:

    Contoh Soal Tata Nama Rumus Struktur Senyawa Ester Etil Propanoat C5H10O2
    Contoh Soal Tata Nama Rumus Struktur Ester Etil Propanoat

    Langkah pertama adalah membagi atau menentukan batas dimana gugus alkanoat dan gugus alkil yang terdapat pada rumus struktur senyawanya. Seperti ditunjukkan pada rumus struktur di atas. Batas gugus alkanoat ditentukan pada karbon yang mengikat dua atom oksigen.

    Perhatikan struktur rantai karbon dari sisi kanan, karbon kedua hanya mengikat satu atom oksigen, ini berarti gugus alkil. Sedangkan jika dimulai dari sebelah kiri, karbon ketiga mengikat dua atom oksigen, jadi ini merupakan gugus alkanoat.

    Dari rumus strukturnya dapat diketahui bahwa senyawa ester tersebut dibangun oleh senyawa alkanoat dengan rantai yang terdiri dari 3 atom karbon yaitu propanoate. Sedangakan gugus alkilnya tersusun dari rantai dengan 2 atom karbon yaitu etil.

    Dari penjelasan di atas diketahui bahwa:

    Nama gugus alkil = etil

    Nama gugus alkanoat = propanoat

    Jadi, nama esternya adalah “etil propanoate”

    Contoh Soal Tata Nama dari Rumus Struktur Senyawa Ester Metil Butanoat C5H10O2

    Tentukan nama senyawa ester yang memiliki rumus C5H10O2 dan rumus CH3CH2CH2COOCH3 dengan rumus strukturnya seperti berikut:

    Contoh Soal Tata Nama dari Rumus Struktur Senyawa Ester Metil Butanoat C5H10O2
    Contoh Soal Tata Nama Rumus Struktur  Ester Metil Butanoat

    Rumus struktur senyawa ester ini dibangun oleh rantai alkanoat yang mengandungn 4 atom karbon yaitu butanoate dan gugus alkil yang memiliki satu karbon yaitu metil.

    Sehingga nama senyawa ester ini adalah “metil butanoate”

    Contoh Soal Menentukan Nama Senyawa Ester Dari Rumus Kimia

    Tentukan nama senyawa ester yang memiliki rumus CH3(CH2)2COOCH3.

    Untuk dapat membuat nama senyawa ester dari rumus kimia atau molekul harus ditentukan dahulu gugus alkanoat dan gugus alkinya.

    Cara Menentukan Gugus Alkonoat dan Gugus Alkil Senyawa Ester

    Menentukan gugus alkanoat dan alkil dari rumus CH3(CH2)2COOCH3 adalah dengan ketentuan berikut

    Rumus umum ester adalah R–COOR’ atau R–COO–R’

    Perhatikan rumus strukturnya, rantai karbon gugus alkanoat dimulai dari (R) sampai COO- sedangkan gugus alkil dimulai setelah COO- sampai (-R’). Batasnya adalah atom oksigen kedua dari kiri.

    Dengan demikian diperoleh seperti berikut:

    Gugus alkanoatnya adalah (R–COO–) dan

    Gugus alkil adalah (–R’).

    Jadi untuk rumus CH3(CH2)2COOCH3 adalah:

    Gugus Alkanoat = CH3(CH2)2COO –

    CH3(CH2)2COO – = jumlah karbon 4 = butanoat

    Gugus Alkil =  –CH3

    –CH3 = jumlah karbon 1 = metil

    Cara Menentukan Nama Senyawa Ester

    Tata nama ester dinayatakan dengan ketentuan berikut:

    “Nama Gugus Alkil – Nama Gugus Alkanoat”

    Diketahui dari data di atas bahwa rumus CH3(CH2)2COOCH3 memiliki

    Nama gugus alkil = metil

    Nama gugus alkanoat = butanoat

    Jadi nama senyawa ester dengan rumus CH3(CH2)2COOCH3 adalah “metil butanoate

    Contoh Soal Tata Nama Dan Rumus Struktur Senyawa Ester C5H10O2

    Tentukan nama senyawa ester yang memiliki rumus C5H10O2 dan memiliki rumus struktur CHCOOCH2CH2CH3

    Agar dapat membuat nama dari senyawa ester dengan rumus CH3COOCH2CH2CH3 maka harus menentukan dulu gugus alkanoat dan gugus alkil yang terlibat dalam rumus tersebut.

    Cara Menentukan Gugus Alkanoat dan Gugus Alkil Senyawa Ester

    Adapun cara menentukan gugus alkanoat dan alkil pada senyawa ester adalah sebagai berikut

    Rumus umum ester adalah R–COO–R’

    Gugus alkanoatnya adalah (R–COO–)

    Gugus alkil adalah (–R’).

    Jadi untuk rumus CH3COOCH2CH2CH3 adalah:

    Gugus Alkanoat = CH3COO –

    CH3COO – = jumlah karbon 2 = etanoat

    Gugus Alkil = –CH2CH2CH3

    – CH2CH2CH3 = jumlah karbon 3 = propil

    Cara Menentukan Nama Senyawa Ester

    Tata nama ester dinayatakan dengan ketentuan berikut:

    “Nama Gugus Alkil – Nama Gugus Alkanoat”

    Dari data di atas diketaui bahwa rumus CH3COOCH2CH2CH3 memiliki

    Nama alkil = propil

    Nama alkanoat = etanoat

    Jadi nama senyawa ester dengan rumus CH3COOCH2CH2CH3 adalah “propil etanoat’

    Contoh Soal Menentukan Nama Senyawa Dari Rumus Struktur Propil Metanoat

    Tentukan nama senyawa ester yang memiliki rumus struktur seperti berikut:

    Contoh Soal Menentukan Nama Senyawa Dari Rumus Struktur Propil Metanoat
    Contoh Soal Menentukan Nama Dari Rumus Struktur Propil Metanoat

    Langkah pertama adalah menentukan batas dimana gugus alkanoat dan gugus alkil yang terdapat pada rumus struktur senyawa ester tersebut. Pada rumus struktur di atas dapat diketahui bahwa batas gugus alkanoat ditentukan pada karbon yang mengikat dua atom oksigen.

    Jadi, gugus alkanoat berada pada sisi kiri sampai pada karbon yang mengikat dua atom oksigen. Sedangkan gugus alkilnya dimulai dari sebelah kanan sampai karbon yang mengikat satu atom oksigen.

    Dari rumus strukturnya dapat diketahui bahwa senyawa ester tersebut dibangun oleh senyawa alkanoat dengan rantai yang memiliki 1 atom karbon yang disebut metanoat. Sedangakan gugus alkilnya yang terikat pada ester adalah gugus yang terbentuk dari rantai dengan 3 atom karbon yaitu propil.

    Jadi nama senyawa ester-nya adalah “propil metanoat”.

    Isomer Senyawa Ester

    Isomer adalah dua senyawa atau lebih yang mempunyai rumus kimia sama namun mempunyai struktur yang berbeda.

    Senyawa ester yang mengandung atom karbon C lebih dari dua dapat mempunyai isomer. Karena untuk satu rumus molekul ester memiliki 2 alkil di antara gugus karbonil dapat berbeda. Ester memiliki isomer struktural dan isomer fungsional dengan asam karboksilat.

    Isomer Struktur Senyawa Ester

    Isomer struktur adalah isomer yang terjadi jika rumus molekul sama, tetapi rumus strukturnya berbeda. Perbedaan strukturnya terletak pada urutan penggabungan atom- atom yang menyusun molekul.

    Contoh Isomer Struktur Senyawa Ester C4H8O2

    Isomer struktur senyawa ester dengan rumus kimia C4H8O2 yaitu etil etanoat dan metil propanoate.

    Rumus Struktur Isomer Senyawa Ester C4H8O2

    Isomer ester dengan rumus kimia C4H8O2 adalah Etil Etanoat CH3COOC2H5 dan Metil Propanoat C2H5COOCH3 seperti berikut

    Rumus Struktur Isomer Senyawa Ester C4H8O2
    Rumus Struktur Isomer Senyawa Ester C4H8O2

    Rumus struktur CH3COOC2H5 dibangun oleh alkonoat yang rantainya mengandung 2 atom karbon yaitu etanoat dan gugus fungsi alkilnya adalah etil C2H5 yang terikat pada atom karbon pertama.

    Cara menentukan nama alkil dan jumlah karbonnya adalah seperti berikut:

    Rumus umum ester adalah R–COO–R’, dan yang menjadi alkanoat adalah (R–COO–) sedangkan yang menjadi gugus alkil adalah (–R’).

    Jadi untuk rumus struktur CH3COOC2H5 adalah:

    Alkanoat = CH3COO–

    CH3COO– = jumlah karbon 2 = etanoat

    Alkil =  –C2H5

    –C2H5 = jumlah karbon 2 = etil

    Sedangkan rumus struktur C2H5COOCH3 dibanggun oleh senyawa alkanoat yang rantainya mengandung 3 karbon yaitu propanoat dengan gugus fungsi metil yang terikat pada atom karbon pertama propanoat.

    Rumus struktur ester  C2H5COOCH3

    Alkanoat = C2H5COO–

    C2H5COO– = jumlah karbon 3 = propanoate

    Alkil = –CH3

    –CH3 = jumah karbon 1 = metil

    Isomer Gusus Fungsi Senyawa Ester

    Isomer gugus fungsi adalah senyawa- senyawa yang mempunyai rumus molekul sama namun gugus fungsinya berbeda.

    Isomer Gugus Fungsi Senyawa Ester

    Ester dan Asam karboksilat merupakan isomer gugus fungsi karena keduanya memiliki rumus molekul yang sama, yaitu CnH2nO2 namun gugus fungsinya berbeda.

    Rumus Struktur Isomer Gugus Fungsi Senyawa Asam Karboksilat C4H8O2

    Contoh isomer senyawa ester yang memiliki rumus kimia C4H8O2 dengan isomernya sebagai asam karboksilat adalah n-butanoat dan 2 metil propanoate adalah seperti berikut

    Rumus Struktur Isomer Gugus Fungsi Senyawa Asam Karboksilat C4H8O2
    Rumus Struktur Isomer Gugus Fungsi Asam Karboksilat C4H8O2

    Kedua senyawa Isomer dari rumus kimia C4H8O2 adalah sama sama memiliki rumus C4H8O2 atau C3H7COOH. Namun kedua senyawa tersebut memiliki rumus struktur yang berbeda.

    Rumus struktur senyawa n-butanoat membentuk struktur rantai induk karbon lurus dengan 4 atom karbon (butanoate).

    Sedangkan 2-metil-propanoat memiliki struktur bercabang dengan rantai induk memiliki 3 atom karbon. Asam karboksilat dengan 3 atom karbon adalah propanoate.

    Satu atom karbon membentuk gugus metil sebagai cabang. Cabang gugus metil ini terikat pada rantai induk di atom karbon nomor 2.

    Contoh Soal Menentukan Rumus Struktur Dari Rumus Kimia Senyawa Ester

    Tentukan rumus struktur senyawa ester yang memiliki rumus C3H6O2

    Langkap pertama adalah menentukan gugus alkanoat dan gugus alkil pada rumus kimia ester tersebut

    Menentukan Gugus Alkanoat dan Gugus Alkil Senyawa Ester

    Rumus umum struktur ester adalah R–COO–R’, jadi ada dua gugus, sehingga harus membagi atom karbon menjadi dua bagian:

    Gugus alkanoat = R–COO–

    Gugus alkil = –R’

    Rumus kimia C3H6O2 memiliki tiga atom karbon, maka gugus alkanoat dapat menerima dua atom karbon dan gugus alkil merima satu atom atau sebaliknya.

    Menentukan Rumus Struktur Gugus Alkanoat Gugus Alkil

    Gugus alkanoat yang memiliki dua karbon adalah etanoat dan rumus strukturnya adalah:

    Gugus alkanoat = CH3–COO– = etanoat atau

    Gugus etanoat = CH3–COO–

    Gugus alkil yang memiliki satu karbon adalah metil dan rumus strukturnya adalah

    Gugus alkil = –CH3 = metil atau

    Gugus metil = –CH3

    Menentukan Rumus Struktur Senyawa Ester

    Rumus struktur senyawa dapat  dinyatakan dengan ketentuan berikut

    Alkanoat-Alkil atau

    Etanoat-metil

    (CH3COO–)(–CH3) atau

    CH3COO–CH3 atau

    CH3COOCH3

    Rumus struktur dari CH3COOCH3 adalah seperti berikut:

    Cara Menentukan Rumus Struktur Senyawa Ester CH3COOCH3
    Cara Menentukan Rumus Struktur  Ester CH3COOCH3

    Sedangan nama senyawanya sesuai dengan ketentuan berikut

    ‘Nama alkil-Nama alkanoat’

    Dari penjelasan di atas diketahui bahwa senyawa CH3COOCH3 memiliki

    Nama alkil = metil

    Nama alkanoat = etanoat

    Jadi, nama senyawa ester dengan rumus CH3COOCH3 adalah “metil-etanoat

    Sifat-Sifat Fisis Ester

    Adapun  sifat sifat Fisis ester di antaranya adalah

    a). Ester mempunyai titik didih dan titik beku yang lebih rendah dari titik didih dan titik beku asam karboksilat asalnya.

    b).  Ester suku rendah berwujud zat cair yang berbau harum dengan aroma buah- buahan.

    Sifat Sifat Kimia Ester 

    a). Ester bersifat netral dan tidak bereaksi dengan logam natrium maupun PCl3.

    b). Hidrolisis Ester Menjadi Asam Karboksilat Dan Alkohol

    Ester dapat mengalami hidrolisis menjadi asam karboksilat dan alcohol sesuai persamaan reaksi hidrolisis berikut

    RCOOR’ + H2O → RCOOH + ROH

    RCOOH = asam karboksilat

    ROH = alkohol

    c). Hidrolisis Ester Dengan Basa Kuat NaOH Atau KOH

    Ester mudah terhidrolisis oleh basa kuat NaOH dan KOH akan menghasilkan garam karboksilat dan alcohol seperti persamaan reaksi berikut:

    RCOOR’ + NaOH → RCOONa + R’OH

    RCOONa = natrium karboksilat

    R’OH = alkohol

    d). Reduksi Ester Menjadi Alkohol.

    Metil etanoat dapat direduksi dengan gas hydrogen menjadi etanol dan methanol seperti dinyatakan persamaan reaksi berikut:

    CH3-COOCH3 + 2 H2 → CH3-CH2OH + CH3OH

    CH3-CH2OH = etanol

    CH3OH = metanol

    e). Reduksi Ester Tak Jenuh Menjadi Mentega

    Reduksi terhadap ester tak jenuh suku tinggi seperti minyak atau lemak cair akan menghasilkan mentega seperti persamaan reaksi berikut

    Reduksi Ester Tak Jenuh Menjadi Mentega
    Reduksi Ester Tak Jenuh Menjadi Mentega

    Reaksi Pembuatan Senyawa Ester

    Ester dapat dibuat dengan beberapa cara diantaranya adalah

    1). Pembuatan Ester Dari Asam Karboksilat

    Ester dibuat dengan cara mereaksikan asam karboksilat dan alkohol dalam suanana asam (dalam asam sulfat pekat). Adapun reaksi pembuatan ester dari asam karboksilat memenuhi reaksi berikut:

    R–COOH + R’–OH  → R–COOR’ + H2O

    R–COOH = Asam karboksilat

    R’–OH  = alcohol

    2). Pembuatan Ester Dari Perak Karboksilat

    Ester dapat dibuat dengan cara mereaksikan perak karboksilat dan alkil halide seperti persamaan reaksi berikut

    R–COOAg + R’–X → R–COOR’ + AgX

    R–COOAg = perak karboksilat

    R’–X = alkil halide

    3). Pembuatan Ester Dari Halogen Alkanoat

    Reaksi pembuatan ester dari halogen alkanoat dapat dinyatakan dengan persamaan reaksi berikut:

    R–COOCl + R’–OH → R–COOR’ + HCl

    R–COOCl = halogen alkanoat

    R’–OH = alkohol

    Pada reaksi halogen alkanoat dengan alcohol akan menghasilkan ester dan asam kuat HCl.

    Kegunaan Ester Sehari Hari

    Kegunaan ester dapat dijumpai dalam kehidupan sehari-hari. Untuk lebih memahaminya dapat kalian pelajari uraian berikut.

    a). Ester Buah- Buahan

    Ester yang memiliki sepuluh atom karbon atau kurang (yaitu ester dari asam karboksilat rantai pendek dengan alcohol rantai pendek) pada suhu kamar berupa zat cair yang mudah menguap dan mempunyai aroma yang sedap.

    Kebanyakan ester tersebut pada bunga dan buah, sehingga disebut ester buah-buahan. Ester ini berbau sedap sehingga digunakan sebagai penyedap atau esens.

    b). Etil Asetat (CH3 – COOC2H5)

    Ester ini digunakan sebagai pelarut. Misalnya untuk cat, cat kuku, atau perekat. Ester ini mudah menguap sehingga cat atau perekat cepat mengering.

    c). Lilin Wax

    Ester dari alkohol suku tinggi dan asam karboksilat suku tinggi. Ester ini disebut lilin (wax), lilin ini berbeda dengan lilin hidrokarbon (lilin parafin). Kegunaannya ialah untuk pemoles mobil dan lantai.

    Kebanyakan bahan pembuat lilin adalah campuran dari dua jenis atau lebih ester dengan zat-zat lain dan merupakan zat padat dengan titik leleh yang rendah. Jika lilin dicampur dengan pelarut tertentu dapat dengan mudah dioleskan untuk salutan pelindung, misalnya untuk membatik.

    d).  Ester yang berasal dari gliserol dengan asam karboksilat suku rendah atau tinggi (minyak dan lemak). Digunakan sebagai bahan baku untuk pembuatan sabun dan mentega (margarin).

    Daftar Pustaka:

    1. Sunarya, Yayan, 2014, “Kimia Dasar 1, Berdasarkan Prinsip Prinsip Kimia Terkini”, Cetakan Ketiga, Yrama Widya, Bandung.
    2. Hiskia Achmad,  1996, “Kimia Larutan”, Citra Aditya Bakti,  Bandung.
    3. Sunarya, Yayan, 2013, “Kimia Dasar 2, Berdasarkan Prinsip Prinsip Kimia Terkini”, Cetakan Kedua, Yrama Widya, Bandung.
    4. Syukri, S., 1999, “Kimia Dasar 2”, Jillid 2, Penerbit ITB, Bandung
    5. Chang, Raymond, 2004, “Kimia Dasar, Konsep -konsep Inti”, Edisi Ketiga, Jilid Satu, Penerbit, Erlangga, Jakarta.
    6. Brady, James, E,1999, “Kimia Universitas Asas dan Struktur”, Edisi Kelima, Jilid Satu, Binarupa Aksara, Jakarta,
    7. Brady, James, E., 1999, “Kimia Universitas Asas dan Struktur”, Edisi Kelima, Jilid Dua, Binarupa Aksara, Jakarta.
    8. Ester: Pengertian Sifat Fisik Kimia Tata Nama IUPAC Rumus Struktur Isomer Struktur Gugus Fungsi Contoh Soal Reaksi Pembuatan Kegunaan, Pengertian Contoh Rumus Struktur Isomer Struktur Gugus Fungsi Ester,
    9. Contoh Sifat Fisis Ester Dan Sifat Kimia Ester, Contoh Reaksi Ester: Reaksi Hidrolisis Reduksi Ester, Contoh Soal Pembahasan Tata Nama IUPAC Rumus Struktur Ester,

    Asam Karboksilat: Pengertian Sifat Fisis Kimia Tata Nama Isomer Rumus Struktur Reaksi Pembuatan Kegunaan Sehari Indistri

    Pengertian Asam Karboksilat: Asam karboksilat adalah senyawa karbon alkana yang memiliki gugus fungsi (–COOH) yang disebut gugus karboksil. Dengan demikian asam karboksilat atau alkanoat dapat dianggap sebagai turunan alkana dengan mengganti 1 atom H dari alkana dengan gugus karboksil (–COOH).


    Gugus Fungsi Karboksil, Gugus Karbonil, Gugus Hidroksil

    Gugus karboksil merupakan gabungan gugus karbonil (–COH) dan gugus hidroksil (–OH). Atom H pada gugus karbonil diganti oleh gugus hidroksil. Adapun rumus gugus karbonil dan gugus  hidroksil yang membentuk gugus karboksil adalah seperti berikut

    Gugus Fungsi Karboksil, Gugus Karbonil, Gugus Hidroksil
    Gugus Fungsi Karboksil, Gugus Karbonil, Gugus Hidroksil

    Rumus Umum Asam Karboksilat (R–COOH)

    Rumus umum asam karboksilat adalah R–COOH, dengan R merupakan  senyawa alkil yaitu senyawa alkana yang kehilangan satu atom hydrogen H. Rumus umum strukturnya adalah seperti berikut:

    Rumus Umum Asam Karboksilat (R–COOH)
    Rumus Umum Asam Karboksilat (R–COOH)

    Sumber Alam Asam Karboksilat

    Asam karboksilat banyak terdapat di alam, misalnya pada semut, cuka, apel, dan jeruk. Sehingga nama lazim asam karboksilat umumnya diambil dari bahasa Latin berdasarkan nama sumber alami asam yang bersangkutan.

    Misal asam butanoat disebut asam butirat karena terdapat dalam santan kelapa (butyrum) atau mentega (butter). Asam format dengan nama IUPAC-nya asam metanoat banyak ditemukan pada semut dan diperoleh dengan cara distilasi semut, dalam Bahasa Latin semut adalah formica.

    Asam asetat atau acetum yang artinya cuka diperoleh dari hasil distilasi cuka. Sedangka asam kaproat atau caper yang artinya domba diperoleh dari lemak domba.

    Tata Nama Asam Karboksilat Trivial IUPAC

    Ada dua cara pemberian nama pada asam karboksilat, yaitu nama Trivial (nama lazim) dan nama IUPAC.

    Tata Nama Asam Karboksilat Trivial IUPAC
    Tata Nama Asam Karboksilat Trivial IUPAC

    Tata Nama Trivial Asam Karboksilat

    Nama trivial asam karboksilat biasanya didasarkan pada nama sumber atau bahan asam tersebit di alam. Nama trivial atau lazim bukan berdasarkan pada strukturnya. Hal ini dikarenakan banyaknya asam karboksilat yang telah dikenal orang sejak lama.

    Contoh Nama Trivial Asam Karboksilat

    Beberapa nama trivial yang lazim dari senyawa asam karboksilat berdasarkan pada sumber alaminya.

    a). Asam Format HCOOH

    Asam format merupakan nama lazim atau trivial untuk asam karboksilat dengan rumus HCOOH.  Dinamai dengan asam format atau asam formiat atau asam semut atau karena ditemukan pada semut (arti kata formika adalah semut).

    b). Asam Asetat CH3COOH

    Asam Asetet atau asam cuka  merupakan nama trivial untuk asam karboksilat yang memiliki rumus kimia CH3COOH.  Disebut asam cuka atau asam asetat karena asam ini ditemukan dalam cuka. Kata asetat berasal dari asetum yang artinya  cuka.

    c). Asam Protopion C2H5COOH

     Nama trivila dari rumus kimia C2H5COOH adalah asam propionat yang berasal dari kata protopion yang artinya  lemak awal atau pertama.

    d). Asam Butirat C3H7COOH

     Asam butirat memiliki rumus C3H7COOH dan memiliki nama trivial asam butirat. Kata butirat berasal dari butyrum yang artinya mentega.

    e). Asam Valerat C4H9COOH

    Asam valerat memiliki rumus molekul C4H9COOH dan disebut asam valerat. Kata valerat berasal dari kata valere yang merupakan nama sejenis tanaman dan ditemukan pada bagian akarnya.

    Tata Nama IUPAC Asam Karboksilat

    Menurut sistem IUPAC, penataan nama asam karboksilat diturunkan dari nama alkana, di mana akhiran -a diganti -oat dan ditambah kata asam sehingga asam karboksilat digolongkan sebagai alkanoat.

    Untuk senyawa yang mempunyai isomer, tata Namanya sama seperti pada aldehid karena gugus fungsinya sama-sama berada pada ujung rantai karbon.

    Cara Penamaan Asam Karboksilat Menurut IUPAC

    Adapun cara peberian nama pada asam karboksilat adalah sebagai berikut

    a). Menentukan rantai induk atau rantai pokok. Rantai induk adalah rantai yang paling panjang yang mengandung gugus fungsi karboksil (— COOH). Nama karboksilat sesuai nama rantai pokok (panjang) diberi akhiran oat.

    b). Penomoran atom karbon pada rantai pokok (panjang) dimulai dari gugus fungsinya.

    c). Penulisan nama dimulai dengan nama cabang cabang atau gugus lain yang disusun menurut abjad kemudian diikuti dengan nama rantai pokok. Karena gugus fungsi pasti nomor satu, jadi nomor gugus fungsi tidak perlu disebutkan.

    d). Urutan Pemberian Nama Asam Karboksilat

    Adapun urutan pemberian nama asam karboksilat adalah sebagai berikut

    Asam (nomor cabang)-(nama cabang)-(alkanoat)

    Contoh Penamaan Asam Karboksilat Propanoat,

    Tentukan nama IUPAC Asam karboksilat yang diyatakan dengan rumus struktur berikut

    Contoh Penamaan Rumus Struktur Asam Karboksilat Propanoat,
    Contoh Penamaan Rumus Struktur Asam Karboksilat Propanoat,

    Pada rantai induk karbon nomor satu selalu milik gugus karboksil, jadi penomoran selalu dari atom karbon gugus fungsinya. Rantai induk terpanjang mengandung 3 atom karbon, Senyawa asam karboksilat dengan tiga atom karbon adalah propanoate.

    Pada rumus struktur tidak ada cabang, sehingga asam korboksilat tersebut diberi nama sebagai: “Asam Propanoat”

    Contoh Penamaan Rumus Struktur Asam 3-Metil-Butanoat

    Tentukan nama IUPAC untuk rumus struktur asam karboksilat yang dinyatakan dengan struktur berikut;

    Contoh Penamaan Rumus Struktur Asam 3-Metil-Butanoat
    Contoh Penamaan Rumus Struktur Asam 3-Metil-Butanoat

    Rantai induk atau rantai terpanjang pada rumus struktur tersebut mengandung 4 atom karbon. Senyawa karboksilat yang mengandung  4 karbon adalah butanoate. Cabang yang mengikat gugus alkil terdapat pada atom karbon nomor 3. Rumus gugus alkil yang diikat adalah CH3 yaitu metil

    Dengan demikian nama rumus struktur asam karboksilat tersebut adalah: “Asam 3-metil-butanoat”

    Sifat Fisis Asam Karboksilat

    Beberapa Sifat fisis asam karboksilat diantranya adalah

    a). Wujud Asam Karboksilat

    Suku-suku rendah berupa zat cair, sedangkan suku-suku yang lebih tinggi berupa zat padat.

    b). Sifat Fisis Kelarutan Asam Karboksilat Dalam Air

    Suku- suku rendah yaitu senyawa yang memiliki karbon C1–C4 lebih mudah larut dalam air, namun makin banyak atom karbon dalam molekul, maka  kelarutan dalam air semakin berkurang, dan senyawa yang berwujud padat tidak dapat larut.

    c). Sifat Fisis Titik Didih dan Titik Lelehnya

    Asam karboksilat memiliki titik didih dan leleh yang tinggi dikarenakan molekulnya terdapat ikatan hidrogen.

    d). Sifat Keasaman Asam Karboksilat

    Semua asam karboksilat merupakan asam lemah. Semakin panjang rantai karbonnya semakin lemah kekuatan asamnya. Jadi ssam alkanoat yang paling kuat adalah asam metanoat.

    Sifat Kimia Asam Karboksilat

    Asam karboksilat dapat mengalami reaksi- reaksi sebagai berikut.

    a). Reaksi Asam Karboksilat Dengan Basa

    Asam karboksilat dapat bereaksi dengan basa dan membentuk garam sesuai dengan persamaan reaksi berikut:

    Reaksi Asam Karboksilat Dengan Basa NaOH
    Reaksi Asam Karboksilat Dengan Basa NaOH

    Garam natrium dan garam kalium dari asam alkanoat rantai panjang disebut sabun. Wujud garam natrium lebih keras daripada garam kalium. Garam natrium disebut sabun keras, sedangkan garam kalium disebut sabun lunak.

    Larutan garam-garam alkanoat bersifat basa karena mengalami hidrolisis seperti reaksi berikut

    R–COONa+ H2O → R–COOH + Na+ + OH

    b). Reaksi Esterifikasi Dari Asam Karboksilat Dengan Alkohol

    Asam karboksilat dapat bereaksi dengan alkohol untuk menghasilkan ester. Reaksi ini dikenal dengan nama reaksi esterifikasi, dan reaksinya mengikuti persamaan reaksi berikut

    Reaksi Esterifikasi Dari Asam Karboksilat Asam Asetat Dengan Alkohol Metanol
    Reaksi Esterifikasi Dari Asam Asetat Dengan Metanol

    c). Dapat membentuk ikatan hidrogen dengan air sehingga pada umumnya mempunyai titik didih tinggi.

    d). Mulai dari rantai dengan jumlah satu karbon  sampai dengan empat karbon mudah larut dalam air. Makin panjang rantai karbonnya makin sukar larut dalam air.

    e). Adanya cabang akan mempengaruhi derajat keasaman. Cabang alkil akan mengurangi keasaman, sedangkan jika cabangnya atom -atom halogen akan menambah keasaman.

    Isomer Struktur Asam Karboksilat

    Isomer asam karboksilat terjadi akibat adanya cabang, letak atau posisi cabang dan asam karboksilat juga berisomer gugus fungsi dengan senyawa ester.

    Contoh Isomer Asam Karboksilat Asam Butanoat C3H7COOH

    Contoh Isomer dari senyawa Asam Karboksilat yang memiliki rumus kimia C4H8O2 diantaranya adalah:

    Isomer struktur dari butanoate adalah n-butanoat dan 2-metil-propanoat
    Isomer struktur dari butanoate adalah n-butanoat dan 2-metil-propanoat

    Isomer struktur dari butanoate adalah n-butanoat dan 2-metil-propanoat. Kedua senyawa Isomer butanoate tersebut sama sama memiliki rumus C4H8O2 atau C3H7COOH. Namun kedua senyawa tersebut memiliki rumus struktur yang berbeda.

    Senyawa n-butanoat membentuk struktur rantai induk karbon lurus dengan 4 atom karbon (butanoate).

    Sedangkan 2-metil-propanoat memiliki struktur bercabang dengan rantai induk memiliki 3 atom karbon. Asam karboksilat dengan 3 atom karbon adalah propanoate.

    Satu atom karbon membentuk gugus metil sebagai cabang. Cabang gugus metil ini terikat pada rantai induk di atom karbon nomor 2.

    Isomer Gugus Fungsi Asam Karboksilat C4H8O2

    Asam karboksilat dan Ester merupakan isomer gugus fungsi karena keduanya memiliki rumus molekul yang sama, yaitu CnH2nO2.

    Contoh Isomer Gugus Fungsi Asam Karboksilat C4H8O2

    Isomer gugus fungsi asam karboksilat yang mempunyai rumus kimia C4H8O2 diantaranya:

    Contoh Isomer Gugus Fungsi Asam Karboksilat C4H8O2
    Contoh Isomer Gugus Fungsi Asam Karboksilat C4H8O2

    Rumus struktur etil etanoat dibangun oleh rantai induk etanoat (yaitu rantai dengan 2 atom karbon) dan gugus fungsi etil C2H5 yang terikat pada atom karbon pertama.

    Sedangkan rumus struktur metil propanoate dibangun oleh rantai induk yang memiliki 3 atom karbon yaitu propanat dengan gugus fungsi metil yang terikat pada atom karbon pertama.

    Cara Pembuatan Asam Karboksilat

    Asam karboksilat dapat dibuat dengan beberapa cara, diantaranya dengan oksidasi alkohol atau aldehida dan hidrolisis alkana nitril.

    1). Oksidasi Alkohol Primer Dengan Oksidator Natrium Dikromat

    Asam karboksilat biasanya diperoleh melalui oksidasi alkohol primer dengan suatu oksidator yang kuat, seperti natrium dikromat dalam asam sulfat pekat. Reaksi okiadasi alcohol oleh oksidator natrium dikromat memenuhi persamaan reaksi berikut

    3R–CH2OH + 2Cr2O72– + 16H+ → 3R–COOH + 4Cr3+ + 11H2O

    2). Oksidasi Alkohol Primer Dengan Gas Oksigen

    Asam karboksilat dapat juga dibuat melalui oksidasi alkohol primer dengan gas okisgen dengan dua tahapan reaksi.

    Reaksi tahap pertama adalah mengoksidasi alcohol primer dengan gas oksigen menghasilkan senyawa aldehid dan air seperti berikut

    R–CH2OH + 1/2 O2 → R–COH + 11 H2O

    Reaksi tahap kedua adalah mengoksidasi aldehid hasil reaksi pertama dengan gas oksigen menghasilkan asam karboksilat dengan reaksi kimianya seperti berikut:

    R–COH + ½ O2 → R–COOH

    2). Hidrolisis Senyawa Alkana Nitril (Sianida Organik)

    Pembuatan asam karboksilat dengan hidrolisis senyawa alkana nitril dilakukan pada suhu tinggi dan asam kuat.

    Apabila alkil sianida (nitril) dididihkan dengan katalis asam atau basa akan terbentuk asam karboksilat. Pada reaksi hidrolisis nitril ini terbentuk ammonia seperti persamaan reaksi berikut

    R–CN + 2H2O + HCl → R–COOH + NH3 + HCl

    3). Pembuatan Asam Format (Asam Semut – Asam Metanoat)

    Asam formiat dibuat dengan mereaksikan gas karbon monoksida dengan uap air, dengan katalisator oksida logam pada suhu sekitar 200°C dan tekanan tinggi. Pembuatan asam format mengikuti persamaan reaksi berikut:

    CO + H2O → H–COOH

    Kegunaan Manfaat Asam Karboksilat Sehari Hari Industri

    Asam karboksilat banyak dipergunakan dalam kehidupan sehari hari baik untuk keperluaan masyarakat umum maupun untuk industry yang di antaranya sebagai berikut:

    1). Kegunaan Dan Sifat Asam Format (Asam Semut – Asam Metanoat)

    Asam formiat  atau asam semut banyak digunakan dalam industri tekstil, penyamakan kulit, dan di perkebunan karet untuk menggumpalkan lateks atau getah pohon karet.

    Asam format adalah cairan tak berwarna , berbau tajam, mudah larut dalam air, alkohol, dan eter.

    Dalam jumlah sedikit terdapat dalam keringat, oleh karena itu keringat baunya asam. Asam ini juga menyebabkan lecet atau lepuh pada kulit.

    Sifat khusus yang dimiliki asam formiat yaitu dapat mereduksi, karena mempunyai gugus aldehid. Asam format mereduksi perak nitrat dalam suasana larutan netral, larutan KMnO4 dalam suasana basa, dan mereduksi H2SO4 pekat.

    2). Kegunaan Manfaat Sifat Asam Asetat (Asam Cuka – Asam Etanoat)

    Asam asetat mempunyai banyak kesamaan sifat dengan asam formiat yaitu: berwujud cair, tidak berwarna, mudah larut dalam air, dan berbau tajam.

    Asam asetat murni disebut asam asetat glasial merupakan cairan bening tak berwarna, berbau sangat tajam, membeku pada 16,6 oC, dan membentuk kristal yang menyerupai es atau gelas. Asam asetat murni digunakan untuk membuat selulosa asetat dalam industri rayon.

    Asam asetat yang lebih umum disebut asam cuka sering digunakan sebagai pemberi rasa asam dan sebagai pengawet makanan.

    Larutan cuka yang digunakan sebagai bahan makanan yang umum digunakan sehari-hari mempunyai kadar 20 – 25% volume asam asetat.

    3). Kegunaan Asam Karboksilat

    Asam karboksilat sering digunakan sebagai bahan pembuatan ester dengan cara mereaksikannya dengan alkohol.

    4). Kegunaan Asam Karboksilat Suku Tinggi

    Asam karboksilat suku tinggi dipergunakan untuk pembuatan sabun jika direaksikan dengan basa, misalnya asam stearat, asam palmitat, dan lain-lain.

    Daftar Pustaka:

    1. Sunarya, Yayan, 2014, “Kimia Dasar 1, Berdasarkan Prinsip Prinsip Kimia Terkini”, Cetakan Ketiga, Yrama Widya, Bandung.
    2. Hiskia Achmad,  1996, “Kimia Larutan”, Citra Aditya Bakti,  Bandung.
    3. Sunarya, Yayan, 2013, “Kimia Dasar 2, Berdasarkan Prinsip Prinsip Kimia Terkini”, Cetakan Kedua, Yrama Widya, Bandung.
    4. Syukri, S., 1999, “Kimia Dasar 2”, Jillid 2, Penerbit ITB, Bandung
    5. Chang, Raymond, 2004, “Kimia Dasar, Konsep -konsep Inti”, Edisi Ketiga, Jilid Satu, Penerbit, Erlangga, Jakarta.
    6. Brady, James, E,1999, “Kimia Universitas Asas dan Struktur”, Edisi Kelima, Jilid Satu, Binarupa Aksara, Jakarta,
    7. Brady, James, E., 1999, “Kimia Universitas Asas dan Struktur”, Edisi Kelima, Jilid Dua, Binarupa Aksara, Jakarta.
    8. Asam Karboksilat: Pengertian Sifat Fisis Kimia Tata Nama Isomer Rumus Struktur Reaksi Pembuatan Kegunaan Sehari Indistri, Contoh Tata Nama Trivial IUPAC Asam Karboksilat,
    9. Sumber Alam Asam Karboksilat Asam Format Asam Asetat Asam Protopion Asam Butirat Asam Valerat , Contoh Isomer Struktur Gugus Fungsi Asam Karboksilat, Contoh Reaksi Pembuatan Asam Karboksilat,

    Sifat Halogen: Pengertian Sifat Fisis Kimia Reaksi Pembentukan Kegunaan Senyawa Halogen Flour Klor Brom Iodium

    Pengertian Halogen: Halogen berasal dari bahasa Yunani yaitu dari halos dan genes. Kata halos berarti garam sedangkan genes artinya pembentuk atau pencipta. Halogen berarti pembentuk garam karena unsur- unsur halogen jika bereaksi dengan logam membentuk garam.


    Berdasarkan konfigurasi elektronnya, maka unsur-unsur halogen dalam sistem periodic, menempati golongan VIIA. Unsur unsur halogen terdiri dari unsur Fluor (F), Klor (Cl), Brom (Br), Yod (I), dan Astatin (At).

    Halogen mempunyai 7 elektron valensi yang menyebabkan atom unsur halogen memiliki afinitas elektron tinggi, sehingga mudah menerima elektron untuk memenuhi konfigurasi elektron gas mulia dengan membentuk ion negatif.

    Hal ini menyebabkan halogen sangat reaktif, sehingga tidak ditemukan dalam keadaan unsur bebas di alam tetapi selalu ditemukan sebagai suatu persenyawaan.

    Sumber Halogen Di Alam

    Sumber halogen di alam umumnya berupa  garam- garam, misal klor diperoleh dari NaCl dalam air laut. Brom dan iod juga didapatkan dalam air laut tetapi sangat sedikit dibandingkan klor. Iod ditemukan dalam bentuk NaIO3 yang tercampur dengan NaNO3.

    Sifat Sifat Fisis Dan Kimia  Halogen

    Sifat sifat unsur halogen dapat dibagi menjadi sifat fisis dan sifat kimia. Beberapa sifat Fisis dan kimia unsur halogen diantaranya dapat dilihat pada table berikut

    Sifat Sifat Fisis Dan Kimia Halogen Titik Didih Leleh Keelektronegatifan Afinitas Elektron,
    Sifat Sifat Fisis Dan Kimia Halogen Titik Didih Leleh Keelektronegatifan Afinitas Elektron,

    1). Sifat Wujud Halogen

    Pada suhu kamar, fluor dan klor berupa gas, brom berupa zat cair yang mudah menguap, sedangkan iod berupa zat padat yang mudah menyublim. Begitu juga iodium, mudah sekali menyublim. Pada pemanasan, iod padat tidak mencair melainkan langsung menguap atau menyublim.

    Unsur halogen sangat berbahaya terhadap mata dan tenggorokan. Walaupun brom berwujud cair, tetapi brom mudah sekali menguap.

    2). Sifat Warna dan Bau Unsur Halogen

    Unsur-unsur halogen mudah dikenali dari bau dan warnanya. Halogen umumnya berbau menyengat, terutama klorin dan bromin (bromos, artinya pesing). Kedua gas ini bersifat racun sehingga harus ditangani secara hati-hati. Jika wadah bromin bocor maka dalam beberapa saat, ruangan akan tampak cokelat-kemerahan.

    Molekul halogen berwarna, karena menyerap sinar tampak sebagai hasil eksitasi elektron ke tingkat energi yang lebih tinggi.

    Fluor berwarna kuning muda; klor berwarna hijau kekuningan, brom berwarna merah kecokelatan; dan iod berwarna hitam dan mudah menguap membentuk uap berwarna ungu. Uap halogen sangat beracun dan berbahaya bagi pernapasan, mata, dan kulit.

    Brom cair merupakan salah satu reagensia yang paling berbahaya, karena efek uapnya terhadap mata dan saluran hidung serta menimbulkan luka bakar jika mengenai kulit. Unsur halogen berbau menusuk.

    3). Sifat Titik Didih, Titik Leleh, dan Energi Ikatan Halogen

    Titik didih dan titik leleh akan bertambah, jika nomor atom bertambah.  Kenaikan titik leleh dan titik didih dari atas ke bawah dalam table periodik disebabkan gaya London di antara molekul halogen yang makin meningkat dengan bertambahnya panjang ikatan. Gaya berbanding lurus dengan jarak atau panjang ikatan.

    Energi ikatan “X2“ (kalor disosiasi) berkurang, jika nomor atom bertambah besar.  Kecenderungan ini hanya dapat diamati pada Cl2, Br2, dan I2. Namun energi ikatan F2 paling rendah karena terjadi tolak-menolak antara elektron tak terikat, hal ini menyebabkan F2 sangat reaktif.

    4). Sifat Jari Jari Atom Halogen

    Kereaktifan halogen dapat dipelajari dari jari-jari atomnya. Dari atas ke bawah, jari-jari atom meningkat sehingga gaya tarik inti terhadap penerimaan (afinitas) elektron makin lemah. Akibatnya, kereaktifan unsur-unsur halogen dari atas ke bawah berkurang.

    Jari-jari atom halogen dalam satu golongan makin ke atas makin kecil (perhatikan data). Ini berarti makin ke atas ukuran molekul makin kecil, maka gaya tarik-menarik antar-molekul (gaya Van der Waals) akan makin kecil. Begitu juga titik didih dan titik lelehnya, makin ke atas makin kecil.

    Sifat Sifat Kimia Halogen

    Beberapa sifat kimia halogen diantaranya adalah

    1). Sifat Elektronegativitas Halogen

    Keelektronegatifan halogen dalam satu golongan makin ke atas makin besar. Unsur yang paling elektronegatif dibanding unsur lain dalam sistem periodic adalah fluor (perhatikan data keelektronegatifan).

    Unsur-unsur halogen mempunyai konfigurasi elektron ns2 np5 dan merupakan unsur yang paling elektronegatif, karena mempunyai bilangan oksidasi (–1). Kecuali fluor yang selalu univalen, unsur halogen juga dapat mempunyai bilangan oksidasi (+1), (+3), (+5), dan (+7). Bilangan oksidasi (+4) dan (+6) merupakan anomali yang terdapat dalam oksida ClO2, Cl2O6, dan BrO3.

    2). Sifat Afinitas Elektron Halogen

    Kereaktifan halogen dapat dipelajari dari afinitas elektron. Makin besar afinitas elektron, makin reaktif unsur tersebut. Dari atas ke bawah dalam tabel periodik, afinitas elektron unsur-unsur halogen makin kecil sehingga kereaktifannya: F Cl Br I.

    Unsur-unsur halogen cenderung menangkap elektron untuk membentuk ion negatif. Afinitas elektron dari klor lebih besar dari afinitas fluor, tetapi F2 adalah oksidator kuat dibandingkan dengan Cl2, karena molekul fluor lebih mudah terurai menjadi atom.

    3). Sifat Daya Oksidasi Halogen

    Halogen merupakan golongan yang sangat reaktif dalam menerima elektron dan bertindak sebagai oksidator kuat dalam satu golongan. Makin ke atas, oksidator makin kuat.

    Urutan kekuatan oksidator halogen dapat dilihat dari data potensial reduksinya:

    F2 + 2 e →2 F    E° = +2,87 V

    Cl2 + 2 e →2 Cl E° = +1,36 V

    Br2 + 2 e →2 Br E° = +1,07 V

    I2 +  2 e → 2 I    E° = +0,54 V

    Berdasarkan data potensial reduksi standar tersebut, makin ke atas, daya oksidasinya (oksidator) makin kuat. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa F2 merupakan oksidator paling kuat.

    Unsur halogen dapat mengoksidasi halogen lain yang terletak di bawahnya dalam table periodik, tetapi reaksi kembalikannya tidak terjadi.

    Data ini dapat digunakan untuk memperkirakan apakah reaksi halogen dengan senyawa halida dapat berlangsung atau tidak.

    Caranya dengan menghitung potensial sel, jika harga potensial sel positif berarti reaksi berlangsung dan jika harga potensial sel negatif berarti reaksi tidak berlangsung.

    Halogen yang bebas atau diatomic yang berada di atas dapat bereaksi dengan halida senyawa atau ion halide yang berada di bawahnya.

    Contoh reaksi yang dapat berlangsung:

    F2 + 2 Cl → 2 F + Cl2

    Cl2 + 2 I → 2 Cl + I2

    F2 + 2 Br → 2 F + Br2

    Cl2 + 2 NaBr → 2 NaCl + Br2

    Br2 + 2 KI → 2 KBr + I2

    Jika halogen yang bebas berada di bawah senyawa atau ion halida, maka reaksi tidak dapat berlangsung.

    Contoh reaksi tidak berlangsung:

    Cl2 + 2 F reaksi tidak berlangsung

    I2 + 2 Clreaksi tidak berlangsung

    Br2 + CaF2 reaksi tidak berlangsung

    I2 + 2 KBr reaksi tidak berlangsung

    Secara sederhana halogen yang di atas dapat mendesak atau mengusir halida yang di bawahnya. Sebaliknya Halogen di bawah tidak dapat mendesak atau mengusir halida yang di atasnya.

    4) Sifat Bilangan Oksidasi Halogen Lebih Dari Satu

    Halogen mempunyai bilangan oksidasi lebih dari satu, kecuali fluor. Asam oksihalida bersifat sebagai zat pengoksidasi (oksidator). Makin banyak atom O yang diikat, oksidator makin kuat. Sifat asam dari oksihalida akan bertambah kuat dengan bertambahnya jumlah atom O.  Jadi, urutan kekuatan asam: HClO < HClO2 < HClO3 < HClO4.

    Reaksi Halogen

    Reaksi-reaksi halogen sebagai berikut.

    1). Reaksi Halogen Dengan Logam

    Halogen bereaksi dengan semua logam dalam sistem periodik unsur membentuk halida logam. Jika bereaksi dengan logam alkali dan alkali tanah, hasilnya adalah halida logam yang dapat dengan mudah diperkirakan,

    Sedangkan bila bereaksi dengan logam transisi, produk halida logam yang terbentuk tergantung pada kondisi reaksi dan jumlah reaktannya.

    Contoh Reaksi Halogen Dengan Logam

    Secara umum reaksi halogen dengan hydrogen dapat dinyatakan dengan persamaan reaksi berikut:

    2 M + n X2 → 2 MXn,

    M = logam

    X = F, Cl, Br, I

    Halogen dapat bereaksi dengan sebagian besar logam menghasilkan halida.

    2Na (s) + Cl2 (g) → 2 NaCl (s)

    Mg (s) + Cl2 (g) → MgCl2 (s)

    Sn (s) + 2 Cl2 (g) → SnCl4 (s)

    Zn (s) + F2 (g) → ZnF2 (s)

    Semakin ke bawah halogen menjadi kurang reaktif karena afinitas elektronnya semakin berkurang, atau dengan kata lain F2 > Cl2 > Br2 > I2

    2). Reaksi Halogen Dengan Hidrogen

    Halogen dapat bereaksi dengan gas hidrogen dengan membentuk senyawa hidrogen halide (HX). Hidrogen halida yang dihasilkan sangat berharga karena bersifat asam ketika dilarutkan dalam air. Kecuali hidrogen fluorida, semua hidrogen halide yang lain merupakan asam kuat jika dimasukkan ke dalam larutan

    Contoh Reaksi Halogen Dengan Hidrogen

    Secara umum reaksi halogen dengan hydrogen dapat dinyatakan dengan persamaan reaksi berikut:

    H2 (g) + X2 → 2 HX (g),

    X = F, Cl, Br, I

    Halogen dapat bereaksi dengan hidrogen menghasilkan asam halide seperti peramaan reaksi berikut

    H2 (g) + Cl2 (g) → 2 HCl (g)

    H2 (g) + Br2 (g) → 2 HBr (g)

    H2 (g) + F2 (g) → 2 HF (g)

    3). Reaksi Halogen Dengan Air

    Kelarutan halogen dari fluor sampai yod dalam air semakin berkurang. Fluor selain larut juga bereaksi dengan air.

    2 F2 (g) + 2 H2O (l) →  4 HF (aq) + O2 (g)

    Yod sukar larut dalam air, tetapi mudah larut dalam larutan yang mengandung ion Ikarena membentuk ion poliiodida I3, misalnya I2 larut dalam larutan KI.

    I2 (s) + KI (aq) →  KI3 (aq)

    Karena molekul halogen nonpolar sehingga lebih mudah larut dalam pelarut nonpolar, misalnya CCl4, aseton, kloroform, dan sebagainya.

    4). Reaksi Halogen Dengan Halogen Lain

    Halogen mempunyai molekul diatomik, sehingga tidak mudah terjadi reaksi antarunsur dalam golongan halogen.

    Reaksi antara halogen dengan halogen dapat disamakan dengan reaksi redoks. Unsur yang lebih reaktif bertindak sebagai oksidator, sedangkan unsur yang kurang reaktif menjadi reduktor.

    Contoh Reaksi Halogen Dengan Halogen

    Secara umum reaksi halogen dengan hydrogen dapat dinyatakan dengan persamaan reaksi berikut:

    X2 + nY2 → 2 XYn

    X, Y = F, Cl, Br, I

    Y adalah halogen yang lebih elektronegatif dan n adalah bilangan ganjil (1, 3, 5, . . .).

    Halogen dapat bereaksi dengan halogen lainnya seperti persamaan reaksi berikut

    Cl2 (g) + F2 (g) → 2 ClF (g)

    Cl2 (g) + 3 F2 (g) → 2 ClF3(g)

    Br2 (g) + Cl2 (g) → 2BrCl (g)

    Br2 (g) + 3 F2 → 2 BrF3 (l)

    Pembuatan dan Kegunaan Unsur Halogen

    Halogen dapat dibuat dengan cara elektrolisis atau dengan cara mengoksidasi senyawa halida (X). Unsur- unsur halogen (X2) pada umumnya dibuat di laboratorium dengan cara mengoksidasi senyawa halida.

    Namun, gas fluorin (F2) jarang dibuat di laboratorium karena tidak ada oksidator yang mampu mengoksidasi senyawa fluorida (F).

    Fluorin mempunyai daya oksidasi tinggi dibanding halogen yang lain. Unsur halogen klorin, bromin, dan iodin dapat dihasilkan dari oksidasi terhadap senyawa halida dengan oksidator MnO2 atau KMnO4 dalam lingkungan asam

    1). Pembuatan dan Kegunaan Unsur Halogen Gas F2

    Salah satu sifat gas F2 adalah oksidator kuat, sehingga gas F2 hanya dapat dibuat melalui proses elektrolisis dari garamnya yaitu KHF2. Gas F2 dibuat dengan cara melarutkan KHF2 ke dalam HF cair.

    Pada proses elektrolisi tersebut ditambahkan LiF 3% yang berfungsi untuk menurunkan suhu sampai ±100 oC.

    Proses elektrolisis garam KHF2 dilakukan pada tempat yang terbuat dari bahan baja. Sebagai katodenya adalah baja dan anodanya adalah karbon atau grafit.

    Reaksi Elektrolisis Pembuatan Gas Flour F2

    Dalam elektrolisis dihasilkan gas H2 di katode dan gas F2 di anode seperti persamaan reaksi berikut

    KHF2 → K+ + HF2-

    HF2- → H+ + 2 F

    Anoda: 2 F → F2 + 2 e

    Katode: 2H+ + 2e → H2

    Pada proses elektrolisis ini digunakan sebuah diafragma yaitu pemisah berupa monel yang berfungsi untuk mencegah terjadinya reaksi antara H2 dan F2. Dengan demikian gas F2 yang terbentuk dapat ditampung dalam wadah yang terbuat dari campuran Cu dengan Ni

    Kegunaan Senyawa Klorin

    Beberapa kegunaan senyawa fluorin antara lain adalah

    a). Secara komersial pada skale industry, gas F2 diproduksi untuk bahan bakar nuklir uranium. Logam uranium direaksikan dengan gas fluorin berlebih sehingga menghasilkan uranium heksafluorida UF6 berupa padatan berwarna putih dengan sifat  mudah menguap.

    1. NaF, dapat digunakan dalam proses pengolahan isotop uranium, yaitu bahan bakar reaksi nuklir.

    c). Na2SiF6, digunakan untuk penguat gigi yang dicampur dalam pasta gigi

    d). Teflon atau Politetrafluoroetilena digunakan sebagai bahan plastik pelapis yang tahan panas.

    e). Asam fluoride digunakan untuk mengukir (mensketsa) kaca karena dapat bereaksi dengan kaca.

    f). CCl2F2 (freon-12), digunakan sebagai zat pendingin pada lemari es dan AC.

    2). Pembuatan dan Kegunaan Unsur Halogen Gas Klorin Cl2

    Air laut dan garam batu merupakan sumber utama unsur Cl. Untuk mendapatkan Cl dapat dilakukan elektrolisis leburan NaCl atau elektrolisis larutan NaCl.

    Proses Downs Elektrolisis Lelehan NaCl

    Pada elekrolisis lelehan NaCl digunakan katoda dari besi (baja) dengan anoda yang terbuat dari karbon. Pada proses elektrolisis ini ditambahkan sedikit NaF untuk menurunkan titik lebur dari 800 oC menjadi 600oC.

    Reaksi Elektrolisis Lelehan NaCl Pembeuatan Gas Klorin Cl2

    Reaksi elektrolisis lelehan NaCl untuk membentuk Cl2 dapat dituliskan sesuai dengan persamaan berikut

    Anode: Cl (l) → Cl2 (g) +  e

    Katode: Na+ (l) + e → Na(s)

    Dari reaksinya dapat diketahui bahwa gas Cl2 terbentuk pada anoda sedangkan pada katoda terbentuk natrium.

    Kegunaan Senyawa Klorin

    Beberapa kegunaan senyawa klori diantaranya adalah

    a). Klor digunakan dalam pembuatan zat intermediat yaitu zat kimia yang digunakan untuk membuat zat kimia lainnya. Klor biasa digunakan untuk pemurnian air minum untuk masyarakat.

    b). Gas Cl2 pada umumnya digunakan untuk bahan dasar industri dalam pembuatan plastic. Jenis platik yang dihasilkan misalkan vinil klorida, CH2=CHCl digunakan untuk PVC, CCl4 digunakan untuk fluorokarbon, dan CH3Cl digunakan untuk silikon dan TEL.

    c). Selain itu, klorin digunakan dalam jumlah yang cukup besar dalam pembuatan desinfektan, pemutih, pulp kertas, dan tekstil.

    d). KCl banyak digunakan sebagai bahan pupuk.

    e). NH4Cl digunakan sebagai elektrolit pengisi batu baterai.

    f). Kaporit (Ca(OCl)2), digunakan sebagai disinfektan pada air.

    g). ZnCl2, sebagai bahan pematri atau solder.

    h). Kloroform (CHCl3), digunakan sebagai pelarut dan obat bius pada pembedahan.

    I). NaClO, dapat mengoksidasi zat warna (pemutih), sehingga dapat digunakan sebagai bleaching agent, yaitu pengoksidasi zat warna.

    3). Pembuatan Dan Kegunaan Bromin Br2

    Air laut merupaka sumber utama dari unsur Br. Setiap 1 m3 air laut terkandung 3 kg bromin (Br2 ). Bromin dihasilkan dengan cara mengoksidasi ion bromida yang terdapat dalam air laut dengan oksidatornya klor.

    Reaksi Pembentukan Bromin Cara Oksidasi

    Reaksi oksidasi bromin oleh klor dapat dinyatakan dengan persamaan berikut;

    Cl2 (g) + 2Br (aq) → 2Cl (aq) + Br2(g)

    Prosesnya diawali dengan melarutkan klor ke dalam air dan kemudian mengoksidasi ion Bromida menjadi brom Br2.

    Br2 dalam air akan mengalami hidrolisis seperti persamaan reaksi berikut

    Br2(g) + H2O(l) → 2H+ (aq) + Br (aq) + BrO (aq)

    Reaksi hidrolisis Br2 dapat dicegah dengan menambahkan H2SO4 pada air laut sampai pHnya menjadi 3,5. Setelah mencapai pH 3,5, air laut dapat dialiri gas Cl2 dan udara. Gas Br2 yang diperoleh dimurnikan dari Cl2 dengan cara destilasi.

    Kegunaan Senyawa Bromin

    Beberapa kegunaan senyawa bromin diantaranya adalah

    a). C2H4Br2, ditambahkan pada bensin agar timbal (Pb) dalam bensin tidak mengendap karena diubah menjadi PbBr2.

    b). AgBr, untuk film fotografi. AgBr dilarutkan dalam film gelatin, kemudian film dicuci dengan larutan Na2S2O3 untuk menghilangkan kelebihan AgBr, sehingga perak akan tertinggal pada film sebagai bayangan hitam.

    c). CH3Br, sebagai bahan campuran zat pemadam kebakaran.

    d). NaBr, sebagai obat penenang saraf.

    4). Pembuatan Dan Kegunaan Iodin (I2 )

    Iodium di alam hanya terdapat dalam bentuk chili saltpeter NaNO3 (sodium nitrate) yang mengandung natrium Iodat (NaIO3). Iodium dibuat dengan cara mereduksi natrium iodat sehingga membentuk natrium hydrogen sulfat NaHSO4 (dikenal juga dengan nama Sodium bisulfat).

    Dalam skala industri, iodium diperoleh dengan mereaksikan NaIO3 dengan natrium bisulfit (NaHSO3). Endapan I2 yang dihasilkan kemudian disaring dan dimurnikan.

    Reaksi Reduksi Ion Iodat Pembuatan Iodin – Iodium

    Reaksi Reduksi iodat dengan reduktor natrium bisulfit NaHSO3 (dikenal juga dengan nama Sodium hydrogen sulfite) dapat dinyatakan dengan persamaan reaksi berikut:

    2 IO3(aq)+ 5 HSO3→ 5 SO42- (aq) + H2O + 3 H+ (aq) + I2

    2 NaIO3 + 5 NaHSO3 → 2 Na2SO4 + 3 NaHSO4 + H2O + I2

    Sumber lain iodium adalah air laut. Ion iodium yang terkandung dalam air laut sedikit sekali, namun, ekstrak ganggang laut mengandung cukup banyak ion iodium.

    Secara komersial iodium diperoleh dari abu hasil pembakaran ganggang laut yang mengandung iodium 1%. Ion Iodium dioksidasi menjadi I2 menggunakan klor atau oksidator lainnya

    Ganggang laut yang mengandung KI dikeringkan, kemudian abu dari ganggan laut dicampur dengan air panas dan disaring.

    Larutan yang terbentuk kemudaian diuapkan, sementara zat-zat yang kurang larut akan mengkristal. Sisa larutan kemudian dialiri gas Cl2.

    2KI (aq) + Cl2(g) → 2 KCl( aq) + I2 (g)

    Pembuatan iodium cukup mahal dan penggunaannya sebagai unsur murni juga sangat terbatas. Umumnya iodium digunakan untuk membuat obat seperti iodium tincture dan peral iodide yang juga digunakan dalam film fotografi.

    Kegunaan Senyawa Iodin – Iodium

    Beberapa kegunaan senyawa iodin antara lain adalah

    a). I2 dalam alkohol, digunakan sebagai antiseptik luka agar tidak terkena infeksi.

    b). Umumnya iodium digunakan untuk membuat obat seperti iodium tincture dan peral iodide yang juga digunakan dalam film fotografi.

    c). I2, digunakan untuk mengetes amilum dalam industri tepung.

    d). NaI, bila ditambahkan pada garam dapur dapat digunakan untuk mengurangi kekurangan iodium yang akan menyebabkan penyakit gondok.

    e). Iodoform (CHI3), sebagai disinfektan untuk mengobati borok.

    f). KIO3, sebagai tambahaniodium dalam garam dapur.

    5). Pembuatan Astatin (At)

    Astatin diperoleh dari penembakan Bi dengan partikel α (He). Astatin bersifat radioaktif dan mempunyai waktu paropendek (8,1 jam)

    Daftar Pustaka:

    1. Sunarya, Yayan, 2014, “Kimia Dasar 1, Berdasarkan Prinsip Prinsip Kimia Terkini”, Cetakan Ketiga, Yrama Widya, Bandung.
    2. Hiskia Achmad,  1996, “Kimia Larutan”, Citra Aditya Bakti,  Bandung.
    3. Sunarya, Yayan, 2013, “Kimia Dasar 2, Berdasarkan Prinsip Prinsip Kimia Terkini”, Cetakan Kedua, Yrama Widya, Bandung.
    4. Syukri, S., 1999, “Kimia Dasar 2”, Jillid 2, Penerbit ITB, Bandung
    5. Chang, Raymond, 2004, “Kimia Dasar, Konsep -konsep Inti”, Edisi Ketiga, Jilid Satu, Penerbit, Erlangga, Jakarta.
    6. Brady, James, E,1999, “Kimia Universitas Asas dan Struktur”, Edisi Kelima, Jilid Satu, Binarupa Aksara, Jakarta,
    7. Brady, James, E., 1999, “Kimia Universitas Asas dan Struktur”, Edisi Kelima, Jilid Dua, Binarupa Aksara, Jakarta.
    8. Sifat Halogen: Pengertian Sifat Fisis Kimia Reaksi Pembentukan Kegunaan Senyawa Halogen Flour Klor Brom Iodium, Contoh Sifat Fisis Halogen Warna Bau Titik Didih Leleh Energi Ikat Atom Jari Jari Atom Halogen,
    9. Contoh Sifat Kimia Halogen Sifat Elektronegativitas Afinitas Elektron Halogen Sifat Daya Oksidasi Bilangan Oksidasi Halogen Lebih Dari Satu,
    10. Contoh Reaksi Halogen Dengan Logam Reaksi Halogen Dengan Hidrogen Dengan Air Reaksi Elektrolisis Pembuatan Gas Flour F2 Reaksi Elektrolisis Lelehan NaCl Pembuatan Gas Klorin Cl2 Contoh Reaksi Pembentukan Bromin Cara Oksidasi Contoh Reaksi Reduksi Ion Iodat Pembuatan Iodin – Iodium,

    Titrasi Asam Basa: Pengertian Titik Akhir Ekivalen Fungsi Indikator Kurva Reaksi Titrasi Contoh Soal Rumus Perhitungan 9

    Pengertian Titrasi:Titrasi merupakan suatu metode untuk menentukan konsentrasi suatu zat di dalam larutan. Titrasi dilakukan dengan cara mereaksikan larutan tersebut dengan larutan yang sudah diketahui konsentrasinya.


    Untuk mengetahui konsentrasi larutan asam, maka larutan asam direaksikan dengan larutan basa yang telah diketahui konsentrasinya. Sebaliknya, untuk mengetahui konsentrasi basa, maka larutan basa tersebut direaksikan dengan larutan asam yang sudah diketahui konsentrasiya.

    Indikator Titrasi Asam Basa

    Penambahan larutan yang sudah diketahui konsentrasinya ke dalam larutan lain dibantu dengan indikator untuk mengetahui titik ekuivalen reaksi.

    Untuk reaksi titrasi, indicator yang digunakan adalah indicator yang berubah warna pada pH netral atau mendekati netral

    Contoh Indikator Titrasi Asam Basa

    Indikator yand sering digunakan dalam titrasi adalah fenolftalein. Indikator lainnya adalah metil merah dan bromotimol biru.

    Jika indikator PP digunakan pada titrasi HCl–NaOH maka pada saat titik setara tercapai yaitu pH = 7,  indikator PP belum berubah warna dan akan berubah warna ketika larutan mencapai pH 8.

    Jadi, pada keadaan seperti ini, penghentian titrasi (titik akhir titrasi) dapat dilakuka ketika warna larutan berubah agak merah jambu, adapun titik setara sudah dilampaui. Dengan kata lain, titik akhir titrasi tidak sama dengan titik stoikiometri.

    Jika dalam titrasi HCl–NaOH menggunakan indikator brom timol biru (BTB), dimana trayek pH indikator ini adalah 6 (kuning) dan 8 (biru) maka pada saat titik setara tercapai (pH =7) warna larutan campuran menjadi hijau.

    Kekurangan yang utama dari indikator BTB adalah mengamati warna hijau tepat pada pH = 7 sangat sukar, mungkin lebih atau kurang dari 7.

    Fungsi Indikator Titrasi Asam Basa

    Fungsi indikator adalah untuk mengetahui titik akhir titrasi. Jika indikator yang digunakan tepat, maka indikator tersebut akan berubah warnanya pada titik akhir titrasi.

    Titik Ekivalen Reaksi Titrasi

    Titik ekivalen titrasi adalah saat dimana jumlah mol ion H+ dari asam setara dengan jumlah mol ion OH dari basa. Pada titik ekivalen, larutan bersifat netral atau dengan kata lain sudah terbentuk air dimana asam dan basa tepat habis bereaksi.

    Titik Akhir Titrasi

    Titrasi dihentikan tepat pada saat indikator menunjukkan perubahan warna. Saat perubahan warna indicator disebut titik akhir titrasi.

    Hubungan Titik Akhir Titrasi Dengan Titik Ekivalen Titrasi

    Titik akhir titrasi yaitu pada saat indikator berubah warna diharapkan mendekati titik ekuivalen titrasi, yaitu kondisi pada saat larutan asam tepat bereaksi dengan larutan basa.

    Indikator yang digunakan harus tepat (sesuai) agar titik akhir dan titik ekivalen terjadi saat yang sama atau tepat. Jika indikator yang digunakan berubah warna pada saat titik ekuivalen, maka titik akhir titrasi akan sama dengan titik ekuivalen.

    Akan tetapi, jika perubahan warna indikator terletak pada pH di mana zat penitrasi sedikit berlebih, maka titik akhir titrasi berbeda dengan titik ekuivalen.

    Jika indikator yang dipakai memiliki trayek pH 6 – 8 seperi indikator bromtimol biru BTB, kemungkinan titik akhir titrasi sama dengan titik ekuivalen.

    Apabila indikator yang digunakan adalah fenolftalein, pH pada titik akhir titrasi lebih besar dari pH titik ekuivalen sebab pada saat titik ekuivalen tercapai, larutan belum berubah warna.

    Titrasi Asam Kuat Oleh Basa Kuat

    Titrasi asam kuat oleh  basa kuat pada dasarnya adalah reaksi penetralan asam oleh basa atau sebaliknya. Reaksi asam kuat HCl dan basa kuat NaOH adalah seperti berikut

    HCl + NaOH → NaCl + H2O atau

    Persamaan ion bersihnya adalah seperti berikut

    H+ (aq) + OH (aq) → H2O (l)

    Ketika campuran berubah warna, itu menunjukkan ion H+ dalam larutan HCl telah dinetralkan seluruhnya oleh ion OH dari NaOH.

    Jika larutan NaOH ditambahkan terus, dalam campuran akan kelebihan ion OH (ditunjukkan oleh warna larutan merah jambu).

    Contoh Asam Kuat Berbasa Satu Dan Basa Kuat Berasam Satu

    – Asam kuat berbasa satu dengan basa kuat berasam satu adalah HCI dengan KOH.

    Contoh Asam Kuat Berbasa Dua Dan Basa Kuat Berasam Dua

    – Asam kuat berbasa dua dengan basa kuat berasam dua adalah H2SO4 dengan Ba(OH)2.

    Acidimetri Dan Alkalimetri

    Acidimetri dan alkalimetri adalah analisis kuantitatif volumetri berdasarkan reaksi netralisasi.

    Acidimetri

    Acidimetri adalah reaksi netralisasi (titrasi) larutan basa dengan larutan standar asam.

    Alkalimetri

    Alkalimetri adalah reaksi netralisasi (titrasi) larutan asam dengan larutan standar basa. Jadi, keduanya dibedakan pada larutan standarnya.

    Kurva Titrasi Asam Kuat Oleh Basa Kuat

    Untuk menyatakan perubahan pH pada saat titrasi digunakan grafik yang disebut kurva titrasi.

    Kurva titrasi yaitu grafik yang menyatakan hubungan perubahan pH dan jumlah larutan standar yang ditambah.

    Contoh Kurva Titrasi Asam Kuat Oleh Basa Kuat

    Contoh kurva hasil percobaan titrasi larutan asam kuat HCl  oleh larutan basa kuat NaOH ditunjukkan pada gambar berikut:

    Contoh Kurva Titrasi Asam Kuat Oleh Basa Kuat
    Contoh Kurva Titrasi Asam Kuat Oleh Basa Kuat

    Pada gambar ditunjukkan bahwa titik ekivalen titrasi terjadi Ketika pH larutan dalam Erlenmeyer (larutan asam) adalah 7 dan total jumlah larutan basa yang telah ditembahkan adalah 50 ml.

    Pemberian larutan basa dihentikan Ketika terjadi perubahan warna larutan asam (dalam labu Erlenmeyer) dan keadaan ini disebut sebagai titik akhir titrasi.

    Pada awal awal titrasi, penambahan basa menimbulkan perubahan pH yang sangat kecil, namun ketika mendekati titik ekuivalen perubahannya cukup drastis.

    Gejala ini dapat dijelaskan sebagai berikut. Pada awal titrasi, jumlah ion H+ sangat banyak dalam larutan asam. Sehingga penambahan sedikit ion OH hanya mampu merubah pH yang kecil.

    Namun, Ketika mendekati titik ekuivalen, konsentrasi H+ sudah relatif sedikit, sehingga penambahan sejumlah kecil OH dapat menimbulkan perubahan pH yang sangat besar.

    Fungsi Kurva Titrasi Asam Basa

    Kurva titrasi digunakan untuk memudahkan penentuan titik ekivalen titrasi yang bentuk kurva titrasinya tergantung pada jenis asam dan basa yang digunakan.

    Titrasi Asam Lemah Oleh Basa Kuat

    Penetralan asam lemah oleh basa kuat Contohnya adalah asam lemah CH3COOH 0,1 M dititrasi oleh NaOH 0,1 M.

    Untuk penetralan CH3COOH oleh NaOH, persamaan ion bersihnya adalah sebagai berikut

    CH3COOH (aq) + OH (aq)  → H2O (l) + CH3COO(aq)

    Contoh Kurva Titrasi Asam Lemah Basa Kuat

    Kurva titrasi asam lemah oleh basa kuat ditunjukkan pada gambar berikut

    Contoh Kurva Titrasi Asam Lemah Basa Kuat
    Contoh Kurva Titrasi Asam Lemah Basa Kuat

    pH awal dan titik ekivalen terjadi pada pH yang lebih tinggi jika dibandingkan dengan titrasi asam kuat dan basa kuat. Hal ini disebabkan asam lemah CH3COOH menghasilkan ion H+ dalam jumlah yang sedikit atau hanya mengion sebagian.

    Titik ekivalen terjadi pada pH 8,72 lebih tinggi dari pH 7 (netral). Pada campuran terdapat pula natrium asetat yang bersifat basa lemah yang meningkatkan pH, akibat hidrolisis oleh CH3COO.

    Setelah titik ekivalen kedua grafik sama Kembali karena pH hanya bergantung pada ion hidroksida yang ditambahkan saja.

    Pemilihan indikator yang cocok untuk titrasi asam lemah oleh basa kuat lebih terbatas, yaitu indikator yang mempunyai trayek pH antara 7 sampai 10. Indikator yang dipakai adalah fenolftalein

    Titrasi Basa Lemah Oleh Asam Kuat

    Titrasi basa lemah oleh asam kuat contohnya adalah larutan NH4OH 0,1 M (basa lemah) dititrasi dengan HCl 0,1 M (asam kuat).

    NH4OH + HCL → NH4Cl + H2O

    Titrasi basa lemah oleh asam kuat mirip dengan titrasi asam lemah dengan basa kuat, tetapi kurva yang terjadi kebalikannya, cenderung turun.

    Contoh Kurva Titrasi Basa Lemah Oleh Asam Kuat

    Kurva titrasi basa lemah oleh basa kuat digambarkan seperti berikut

    Contoh Kurva Titrasi Basa Lemah Oleh Asam Kuat
    Contoh Kurva Titrasi Basa Lemah Oleh Asam Kuat

    Pada titrasi basa lemah oleh basa kuat nilai pH turun sedikit demi sedikit, kemudian mengalami penurunan drastis pada pH antara 8 sampai 3.

    Pada kurva di atas terlihat bahwa titik ekivalen pada saat pH di bawah 7 yaitu pada pH 5,28. Oleh sebab itu, indikator yang paling cocok adalah indikator metil merah. Indikator metil merah memiliki trayek pH = 4,2 – 6,3

    Alat Bahan Percobaan Titrasi Asam Basa

    Alat dan bahan untuk percobaan titrasi asam basa adalah sebagai berikut

    Alat Percobaan Titrasi Asam Basa

    – Statif

    – Buret

    – Erlenmeyer

    – Tabung reaksi

    – Gelas ukur

    – Pipet volume

    Bahan Percobaan Titrasi Asam Basa

    – Larutan Asam (HCl)

    – Larutan Basa (NaOH 0,1 M)

    – Indikator fenoftalein

    Gambar Alat Dan Bahan Percobaan Titrasi Asam Basa

    Rangkaian alat percobaan yang digunakan dalam titrasi asam basa dapat dilihat pada gambar berikut

    Gambar Alat Dan Bahan Percobaan Titrasi Asam Basa
    Gambar Alat Dan Bahan Percobaan Titrasi Asam Basa

    Dalam melakukan titrasi, larutan yang dititrasi, disebut titrat dimasukkan ke dalam labu erlenmeyer (biasanya larutan asam), sedangkan larutan pentitrasi, disebut titran (biasanya larutan basa) dimasukkan ke dalam buret.

    Buret adalah alat yang digunakan untuk menambahkan larutan standar  ke dalam larutan yang akan ditentukan molaritasnya. Larutan standar adalah larutan yang sudah diketahui konsentrasinya.

    Titran dituangkan dari buret tetes demi tetes ke dalam larutan titrat sampai titik stoikiometri tercapai.

    Cara Kerja Titrasi Asam Basa

    1). Masukkan 20 mL larutan HCl dan 3 tetes indicator fenolftalein dalam Erlenmeyer. Larutan yang akan dititrasi dimasukkan ke dalam erlenmeyer dengan mengukur volumenya terlebih dahulu memakai pipet gondok.

    2). Isi buret dengan larutan NaOH 0,1 M hingga garis 0 mL. Larutan yang akan diteteskan dimasukkan ke dalam buret (pipa Panjang berskala). Larutan dalam buret disebut penitrasi.

    3). Memberikan beberapa tetes indikator pada larutan yang dititrasi (dalam erlenmeyer) menggunakan pipet tetes. Indikator yang dipakai adalah yang perubahan warnanya sekitar titik ekuivalen.

    4). Tetesi larutan HCl dengan NaOH. Proses titrasi, yaitu larutan yang berada dalam buret diteteskan secara perlahan-lahan melalui kran ke dalam erlenmeyer.

    Erlenmeyer digoyang- goyang sehingga larutan penitrasi dapat larut dengan larutan yang berada dalam erlenmeyer.

    4). Penetesan dihentikan saat terjadi perubahan warna yang tetap (merah muda). Penambahan larutan penitrasi ke dalam erlenmeyer dihentikan ketika sudah terjadi perubahan warna dalam erlenmeyer. Perubahan warna ini menandakan telah tercapainya titik akhir titrasi (titik ekuivalen).

    5). Mencatat volume yang dibutuhkan larutan penitrasi dengan melihat volume yang berkurang pada buret setelah dilakukan proses titrasi.

    6). Ulangi percobaan hingga diperoleh data yang hampir sama.

    Menentukan Titik Akhir Titrasi

    Kurva titrasi dapat dibuat dengan menghitung pH larutan asam/basa pada beberapa titik berikut.

    1). Titik awal sebelum penambahan asam/basa.

    2). Titik-titik setelah ditambah asam/basa sehingga larutan mengandung garam yang terbentuk dan asam/basa yang berlebih.

    3). Titik ekivalen, yaitu saat larutan hanya mengandung garam, tanpa ada kelebihan asam atau basa.

    Pada saat kondisi titik ekivalen terjadi, maka berlaku rumus berikut:

    Na x Va = Nb x Vb

    Keterangan:

    Na = normalitas larutan yang dititrasi (titran)

    Va = volume titran

    Nb = normalitas larutan yang menitrasi (penitran)

    Vb = volume penitran

    N = n x M

    n = valensi asam/basa

    M = molaritas larutan

    Daerah lewat ekivalen, yaitu larutan yang mengandung garam dan kelebihan asam/basa.

    1). Contoh Soal Menghitung pH Sebelum Setelah Titrasi Asam HCl Basa NaOH

    Sebanyak 25 mL larutan HCl 0,1 M dititrasi dengan NaOH 0,1 M. Hitung pH larutan:

    a). sebelum penambahan NaOH

    b). setelah penambahan NaOH 25 mL

    Reaksi Ionisasi Asam Klorida HCL Sebelum Titrasii Asam Basa

    HCL → H+ + Cl

    0,1M     0,1M

    Menentukan Konsentrasi Ion H+ Sebelum Titrasi Asam Basa

    Nilai pH ditentukan oleh jumlah H+ dari HCl. Konsentrasi awal HCl= 0,1 M, maka larutan akan mengandung 0,1 M H+.

    [H+] = 0,1 M.

    Rumus Menentukan pH Larutan HCl Sebelum Titrasi Asam Basa

    pH = – log [H+]

    pH = -log 0,1

    pH = 1

    Menentukan Jumlah Larutan NaOH Pada Titrasi

    Jumlah larutan NaOH yang digunakan dalam titrasi dapat dihitung dengan rumus persamaan berikut

    Na x Va = Nb x Vb atau

    na x Ma x Va = nb x Mb x Vb

    na = valensi HCL

    Ma = Konsentrasi HCl

    Va = Volume HCl

     nb = valensi NaOH

    Mb = Konsentrasik NaOH

    Vb = volume NaOH

    Sehingga jumlah NaOH adalah

    Vb = (na x Ma x Va)/(nb x Mb)

    Vb = (1 x 0,1 x 25)/(1 x 0,1)

    Vb = 25 mL

    Menentukan pH Larutan Setelah Titrasi

    Jumlah NaOH yang ditambahkan adalah 25 mL sehingga konsentrasi NaOH adalah

    [NaOH] = 25 ml × 0,1 M = 2,5 mmol.

    Jumlah asam klorida mula- mula adalah

    [HCl] = 25 mL × 0,1 M = 2,5 mmol.

    Ion OH yang ditambahkan bereaksi tepat sama dengan H+, saat [H+] = [OH]. Pada titik ini dinamakan titik ekuivalen titrasi.

    Pada titik ekuivalen, konsentrasi H+ yang terdapat dalam larutan sama dengan reaksi ionisasi air. Jadi, keasaman setelah titrasi adalah pH = 7.

    2). Contoh Soal Perhitungan Konsentrasi Asam Sulfat Dengan Titrasi

    Sebanyak 40 mL larutan H2SO4 belum diketahui konsentrasinya dititrasi dengan larutan NaOH 0,1 M dengan menggunakan indikator fenolftalein PP. Pada saat volume NaOH tepat 60 mL warna indikator mulai berubah.Tentukan konsentrasi H2SO4 tersebut!

    Reaksi Asam Sulfat dan Basa Natrium Hidroksida Pada Titrasi Asam Basa

    Reaksi titrasi asam sulfat dan basa natrium hidroksida memenuhi persamaan reaksi kimia berikut

    H2SO4 (aq) + 2NaOH (aq) → Na2SO4 (aq) + 2H2O (aq)

    Diketahui

    na = 2

    Ma = ….

    Va = 40 ml

    nb = 1

    Mb = 0,1 M

    Vb = 60 ml

    Indikator pH = fenolftalein

    Rumus Menentukan Konsentrasi Asam Sulfat Titrasi Natrium Hidrosida

    Konsentrasi Asam sulfat dapat dinyatakan dengan rumus berikut

    na x Ma x Va = nb x Mb x Vb

    Ma = (nb x Mb x Vb)/(na x Va)

    Ma = (1 x 0,1 x 60)/(2 x 40)

    Ma = 0,075 M

    Jadi konsentrasi asam sulfat adalah = 0,075M

    3). Contoh Soal Perhitungan Molaritas Larutan KOH Titrasi Asam Basa

    Pada larutan 40 mL larutan KOH dititrasi dengan HCI 0,1 M dengan menggunakan indikator fenolftalein (PP). Ternyata dibutuhkan 50 mL HCl 0,1 M. Berapa molaritas larutan KOH dan berapa [OH]

    Reaksi Titrasi Asam HCL Dan Basa KOH

    Reaksi asam HCl dan basa KOH memenuhi persamaan reaksi berikut

    HCl + KOH → KCl + H2O

    Diketahui

    na = 1

    Ma = 0,1 M

    Va = 50 ml

    nb = 1

    Mb = — M

    Vb = 40

    Indikator pH = fenolftalein

    Rumus Menentukan Konsentrasi Basa KOH Titrasi Asam HCl

    Konsentrasi basa KOH  dapat dinyatakan dengan rumus berikut

    na x Ma x Va = nb x Mb x Vb

    Mb = (na x Ma x Va)/(nb x Vb)

    Mb = (1 x 0,1 x 50)/(1 x 40)

    Mb = 0,125 M

    jadi molaritas KOH adalah 0,125 M

    Reaksi Ionisasi KOH Pada Titrasi  Dengan Asam HCL

     KOH    → K+ + OH

    0,125M                0,125M

    [OH] = 0,125 M

    Jadi konsentrasi ion OH adalah 0,125 M

    4). Contoh Soal Perhitungan Hasil Percobaan Titrasi Asam Sulfat Dan Natrium Hidroksida

    Data hasil percobaan titrasi ditunjukkan dalam table berikut

    Contoh Soal Perhitungan Hasil Percobaan Titrasi Asam Sulfat Dan Natrium Hidroksida
    Contoh Soal Perhitungan Hasil Percobaan Titrasi Asam Sulfat Dan Natrium Hidroksida

    Konsentrasi NaOH adalah 0,2 M. Hitungan berapa kadar (%) H2SO4 yang terdapat dalam 20 mL larutan asam sulfat tersebut jika diketahui massa jenisnya 1,8 gam/mL.

    Diketahui

    Mb = 0,2 M

    Vb = (23,8 + 24 + 24,2)/3

    Vb = 24 mL

    nb = 1

    Ma = —M

    na = 2

    Va = 20 mL

    Rumus Menghitung Konsentrasi Asam Sulfat H2SO4

    Konsentrasi asam sulfat dapat dirumuskan dengan persamaan berikut

    na x Ma x Va = nb x Mb x Vb

     Ma = (nb x Mb x Vb)/ (na x Va)

    Ma = (1 x 0,2 x 24)/(2 x 20)

    Ma = 0,12 M

    Jadi konsentrasi asam sulfat adalah 0,12 M

    Menghitung Kadar H2SO4 Dalam Larutan Asam Sulfat

    Kadar H2SO4 dalam larutan asam sulfat dapat dinyatakan dengan rumus persamaan berikut:

    mol = m/Mr

    m = massa H2SO4

    M = mol/liter atau

    M = (m/Mr)/liter,  sehingga massa H2SO4 dalam satu liter adalah

    m = M x Mr = 0,12 x 98

    m = 11,76 gram per liter

    Massa Larutan Asam Sulfat

    ρ = ml/volume

    ml = massa larutan asam sulfat

    ρ = 1,8 g/mL atau

    ρ = 1800 gram/liter

    ml = ρ x volume

    m1 = 1800 x 1

    m1 = 1800 gram

    Persentase H2SO4 = (11,76/1800) x 100%

    Persentase H2SO4 = 0,65 %

    Jadi, persentasi H2SO4 dalam larutan asam sulfat adalah 0,65 %

    5). Contoh Soal Perhitungan Persentase Asam Asestat Titrasi Natrium Hidroksida NaOH

    Untuk mengetahui persentase CH3COOH dalam larutan asam asetat maka dilakukan titrasi 20 mL larutan asam asetat dengan larutan NaOH. Titrasi asam asetat memerlukan 30 mL larutan NaOH 0,1 M. Massa jenis larutan asam asetat adalah 0,900 kg /L.

    a). Tentukan kemolaran asam asetat

    b). Berapa % kadar asam asetat tersebut

    Menghitung Konsentrasi CH3COOH Hasil Titrasi NaOH

    Konsentrasi CH3COOH dapat dinyatakan dengan rumus berikut

     na x Ma x Va = nb x Mb x Vb atau

    Ma = (nb x Mb x Vb)/(na x Va)

    Ma = (1 x 0,1 x 30)/(1 x 20)

    Ma = 0,15 M

    Menghitung Massa CH3COOH Dalam Larutan Asam Asetat

    Massa CH3COOH dapat ditentukan dengan rumus berikut

    m = M. Mr

    m = 0,15 x 60

    m = 9 gram dalam 1 liter

    Menghitung Massa Larutan Asam Asetat

    Massa satu liter larutan asam asetat dapat dihitung dengan rumus berikut

    ml = ρ x Vl

    ml = 0,90 x 1

    m1 = 0,90 kg

    m1 = 900 gram

    Menghitung Persentasi Asam Asetat Dalam Larutan

    Persentase CH3COOH dihitung dengan rumus berikut

    Persentase CH3COOH = (9/900) x 100%

    Persentase CH3COOH = 1,0  %

    Jadi persentasi asam asetat dalam larutan adalah 1,0 %

    6). Contoh Soal Perhitungan Konentrasi Larutan HCl Dengan Titrasi Larutan Barium Hidrokida Ba(OH)2

    Larutan Asam Klorida HCl yang tidak diketahui konsentrasinya dititrasi dengan larutan barium hidroksida Ba(OH)2 0,2 M. Berapa konsentrasi larutan  HCl tersebut. Jika hasil titrasi ditunjukkan seperti pada table berikut:

    Contoh Soal Perhitungan Konentrasi Larutan HCl Dengan Titrasi Larutan Barium Hidrokida Ba(OH)2
    Contoh Soal Perhitungan Konentrasi Larutan HCl Dengan Titrasi Larutan Barium Hidrokida Ba(OH)2

    Vb = (25 + 24 + 26)/3

    Vb = 25 ml

    Mb = 0,2 M

     Va = 20 ml

    Menghitung Konsentrasi Larutan Asam Klorida Melalui Titrasi Barium Hidroksida

    Kosentrasi HCl dapat dihitung dengan persamaan berikut:

    na x Ma x Va = nb x Mb x Vb atau

    Ma  = (nb x Mb x Vb)/( na x Va)

    Ma = (2 x 0,2 x 25)/(1 x 20)

    Ma = 0,5 M

    Jadi, konsentrasi HCl adalah 0,5 M

    7). Contoh Soal Menghitung Massa Asam Cuka Yang Terlarut Dengan Titrasi

    Jika pada titrasi 50 mL larutan asam cuka membutuhkan 60 mL larutan KOH 0,1 M dengan indicator PP. Berapa gram asam cuka yang terlarut dalam 200 mL larutan.

    Diketahui:

    na = 1

    Ma = — M

    Va = 50 ml

    nb = 1

    Mb = 0,1 M

    Vb = 60 ml

    Persamaan Reaksi Titrasi Asam Cuka Dan KOH

    KOH (aq) + CH3COOH (aq) → CH3COOH (aq) + H2O (l)

    0,1 M           Ma

    Rumus Menghitung Konsentrasi Asam Cuka Tittrasi KOH

    Konsentrasi asam cuka dapat dihitung dengan rumus berikut

    na x Ma x Va = nb x Mb x Vb atau

    Ma  = (nb x Mb x Vb)/( na x Va)

    Ma = (1 x 0,1 x 60)/(1 x 50)

    Ma = 0,12 M

    Rumus Menghitung Massa Asam Cuka Dalam Larutan

    Massa asam cuka dalam larutan dapat dinyatakan dengan rumus berikut

    M = mol/L

    M = (m/Mr)/1L

    m = M. Mr

    m = 0,12 x 60

    m = 7,2 gram/L

    massa asam asetat dalam 200 ml adalah

    m = 7,2 x 200mL/1000mL

    m = 1,44 gram

    Jadi, massa asam asetat dalam larutan adalah 1,44 gram

    8). Contoh Soal Perhitungan Kemolaran Larutan NaOH Pada Titik Akhir Titrasi

    Larutan HCl 0,1 M dititrasi dengan larutan NaOH. Ternyata titik akhir titrasi tercapai ketika 40 mL larutan NaOH telah diteteskan ke dalam 20 mL larutan HCl. Tentukan kemolaran larutan NaOH yang digunakan.

    Diketahui

    na = 1

    Ma = 0,1 M

    Va = 20 ml

    nb = 1

    Mb = — M

    Vb = 40 ml

    Persamaan Reaksi Kimia Titrasi Larutan HCl Dengan Larutan NaOH

    Reaksi titrasi antara HCl dengan NaOH dapat dinyatakan dengan persamaan reaksi berikut

    HCL + NaOH  → NaCl + H2O

    Menentukan Kemolaran Larutan NaOH Pada Titik Akhir Titrasi

    Kemolaran larutan NaOH dapat dirumuskan dengan persamaan berikut

    na x Ma x Va = nb x Mb x Vb atau

    Mb   = (na x Ma x Va)/(nb x Vb)

    Mb = 1 x 0,1 x 20)/(1 x 40)

    Mb = 0,05 M

    Jadi, kemolaran NaOH adalah 0,05 M

    9). Contoh Soal Perhitungan Konsentrasi pH Asam Klorida Pada Titik Akhir Titrasi

    Hasil percobaan titrasi larutan HCl dengan larutan NaOH 0,01 M ditunjukkan pada gambar berikut

    Contoh Soal Perhitungan Konsentrasi pH Asam Klorida Pada Titik Akhir Titrasi
    Contoh Soal Perhitungan Konsentrasi pH Asam Klorida Pada Titik Akhir Titrasi

    Jumlah larutan HCl yang dititrasi adalah 100 mL dan indicator yang digunakan adalah fenolftalien PP yang memiliki trayek pH 8 – 10. Tentukan konsentrasi larutan HCl  dan pH larutan ketika terjadi pada titik akhir titrasi.

    Diketahui

    na = 1

    Ma = —M

    Va = 100 ml

    nb = 1

    Mb = 0,01 M

    Vb = 50 mL (titik ekovalen)

    Rumus Menentukan Kemolaran HCl Pada Titik Ekivalen Titrasi NaOH

    Konsentrasi HCl pada titik ekivalen dapat ditentukuan dengan menggunakan rumus berikut

    na x Ma x Va = nb x Mb x Vb atau

    Ma = (nb x Mb x Vb)/( na x Va)

    Ma = (1 x 0,01 x 50)/(1 x 100)

    Ma = 0,005 M

    Jadi, konsentrasi HCl adalah 0,005 M

    Menentukan Konsentrasi Ion Hidroksida Pada Titik Akhir Titrasi

    Titik akhir titrasi terjadi setelah titik ekivalen yaitu di atas pH 7. Artinya larutan bersifat basa yaitu ada kelehihan ion OH. Sehingga yang dicari lebih dahulu adalah kelebihan ion OH dan nilai pOH-nya.

    Pada titik akhir titrasi jumlah mol HCl dan NaOH adalah

    mol HCl = 100 x 0,005 = 0,5 mmol

    mol NaOH = 53 x 0,01 = 0,53 mmol

    Kemolaran ion hidroksida pada titil akhir titrasi dapat dirumuskan dengan persamaan reaksi berikut

    HCL   +    NaOH → NaCl + H2O

    0,5mmol   0,53 mmol

    atau dalam bentuk ion ionnya

    Reaksi Ion HCl dan NaOH

    0,5 mmol H+ + 0,53 mmol OH → 0,5 mmol H2O

    Jumlah OH yang bereaksi dengan H+ adalah 0,5 mmol sehingga ada kelebihan OH dalam larutan

    Kelebihan OH dalam larutan = 0,53 – 0,5

    OH = 0,03 mmol

    sehingga konsentrasi [OH[ adalah

    [OH] = 0,03/(100+53)

    [OH] = 0,000196 M

    Keasaaman Larutan HCL Di Titik Akhir Titrasi

    Keasaman atau pH larutan HCl pada titik akhir titrasi dapat ditentukan dengan rumus berikut

    pH = 14 – pOH

    pOH = -log (0,000196)

    pOH = 3,707

    pH = 14 – pOH

    pH = 14 – 3,707

    pH = 10,29

    Jadi, pH larutan saat terjadi titik akhir titrasi adalah 10,29

    Daftar Pustaka:

    1. Sunarya, Yayan, 2014, “Kimia Dasar 1, Berdasarkan Prinsip Prinsip Kimia Terkini”, Cetakan Ketiga, Yrama Widya, Bandung.
    2. Hiskia Achmad,  1996, “K imia Larutan”, Citra Aditya Bakti,  Bandung.
    3. Sunarya, Yayan, 2013, “Kimia Dasar 2, Berdasarkan Prinsip Prinsip Kimia Terkini”, Cetakan Kedua, Yrama Widya, Bandung.
    4. Syukri, S., 1999, “Kimia Dasar 2”, Jillid 2, Penerbit ITB, Bandung
    5. Chang, Raymond, 2004, “Kimia Dasar, Konsep -konsep Inti”, Edisi Ketiga, Jilid Satu, Penerbit, Erlangga, Jakarta.
    6. Brady, James, E,1999, “Kimia Universitas Asas dan Struktur”, Edisi Kelima, Jilid Satu, Binarupa Aksara, Jakarta,
    7. Brady, James, E., 1999, “Kimia Universitas Asas dan Struktur”, Edisi Kelima, Jilid Dua, Binarupa Aksara, Jakarta.
    8. Rangkuman Ringkasan: 1. Stoikiometri larutan melibatkan konsep mol dalam menentukan konsentrasi zat-zat di dalam larutan.
    9. Reaksi asam dan basa merupakan reaksi penetralan ion H+ oleh OH. Reaksi asam basa juga dinamakan reaksi penggaraman.
    10. Indikator asam basa adalah asam-asam lemah organic yang dapat berubah warna pada rentang pH tertentu.
    11. Rentang pH pada saat indikator berubah warna dinamakan trayek pH indikator.
    12. Titrasi asam basa adalah suatu teknik untuk menentukan konsentrasi asam atau basa dengan cara titrasi.
    13. Titik setara atau titik stoikiometri adalah titik pada saat titrasi, asam dan basa tepat ternetralkan. Titik akhir titrasi dapat sama atau berbeda dengan titik setara.

    pH Indikator Asam Basa: Pengertian Jenis Fungsi Trayek pH Indikator Menentukan Keasaman pH Contoh Soal Pembahasan 7 Metil Merah Jingga Bromtimol Fenolftalein

    Pengertian Indikator Asam Basa: Indikator asam basa adalah suatu zat yang dapat memberikan warna tertentu dalam lingkungan asam atau basa.


    Fungsi Indikator Asam Basa

    Indikator asam basa berfungsi menentukan sifat keasaman suatu larutan kedalam larutan asam, netral, dan basa yang dinyatakan dengan satuan pH mulai dari 0 – 14.

    Jenis Jenis Indikator Asam Basa

    Ada beberapa jenis indikator yang dapat digunakan untuk membedakan larutan yang bersifat asam dari larutan yang bersifat basa, antara lain kertas lakmus, larutan indikator, indikator universal, dan indikator alami.

    Indikator Asam Basa Kerta Lakmus

    Fungsi Indikator asam basa yag sangat umum digunakan di laboratorium adalah kertas lakmus. Kertas terdiri dari kertas lakmus merah dan kertas lakmus biru.

    Pengertian Kertas Lakmus

    Kertas lakmus adalah suatu indikator (petunjuk) yang dapat membedakan sifat asam dan basa suatu larutan. Pada kertas lakmus terdapat senyawa organik yang dapat berubah warna pada kondisi asam atau basa.

    Contoh Kertas Lakmus Merah Biru

    Contoh Kertas Lakmus Merah Biru
    Contoh Kertas Lakmus Merah Biru

    Ciri Sifat Kertas Lakmus Merah

    Kertas lakmus merah akan berubah warnanya menjadi biru Ketika dicelupkan dalam larutan basa. Pada larutan asam atau netral warnanya tidak berubah (tetap merah).

    Ciri Sifat Kertas Lakmus Biru

    Kertas lakmus biru berubah warnanya menjadi merah ketikan dicelupkan dalam larutan asam. Pada larutan basa atau netral warnanya tidak berubah (tetap biru).

    Trayek pH Indikator Larutan Asam Basa

    Nilai pH suatu larutan dapat diperkirakan dengan menggunakan trayek pH indikator.  Penentuan pH digunakan dengaa beberapa larutan indikator yang mampu menunjukkan perubahan warna berbeda jika pH atau kekuatan asamnya berbeda.

    Larutan indikator adalah larutan kimia yang disintesis dari larutan lainnya sehingga dapat memberi perubahan warna berbeda pada trayek pH tertentu.

    Pengertian Trayek pH Indikator

    Rentang nilai pH yang menyebabkan indikator berubah warna disebut dengan trayek pH.
    Bila pH < trayek pH (di bawah trayek pH) maka indikator akan menunjukkan warna asamnya.
    Bila pH > trayek pH (di atas trayek pH) maka indikator akan menunjukkan warna basa

    Contoh Trayek pH Indikator Larutan Asam Basa

    Beberapa zat atau seyawa yang dapat digunakan sebagai trayek pH Indikator misalnya methyl orange (metil jingga) yang akan berwarna kuning jika pH lebih besar dari 4,4 sehingga dapat mendeteksi asam lemah dan asam kuat dan fenolftalein yang berwarna merah jika berada dalam lingkungan basa kuat. Trayek pH beberapa indikator diantaranya

    Tabel Trayek pH Indikator Larutan Asam Basa

    Beberapa contoh zat indicator beserta perubahan warna dan rentang trayek pH nya dapat dilihat pada table berikut

    Contoh Tabel Trayek pH Indikator Larutan Asam Basa
    Contoh Tabel Trayek pH Indikator Larutan Asam Basa

    Diagram Trayek pH Indikator Asam Basa

    Contoh diagram yang menggambarkan rentang daerah trayek pH indicator dapat dilihat pada gambar berikut

    Diagram Grafik Trayek pH Indikator Asam Basa
    Diagram Grafik Trayek pH Indikator Asam Basa

    Indikator metil merah MM memiliki rentang pH antara 4,2 – 6,2. Jika indicator MM ditambahkan dalam larutan yang memiliki pH lebih rendah dari 4,2  maka larutan akan berubah warnanya menjadi merah dan Ketika ditambahkan dalam larutan ber-pH lebih dari 6,2, maka warna larutan menjadi kuning.

    Namun Ketika indicator MM ditambahkan pada larutan ber-pH 5, maka larutan akan berwarna jingga atau orange (atau warna campuran antara merah dan kuning)

    Indikator Universal pH Larutan Asam Basa

    pH suatu larutan juga dapat ditentukan dengan menggunakan indikator universal. Indikator universal merupakan campuran berbagai indikator yang dapat menunjukkan pH suatu larutan dari perubahan warnanya.

    Indikator universal akan memberikan perubahan warna berbeda pada setiap pH suatu larutan. Indikator universal disebut juga kertas indikator universal karena indikator universal berbentuk kertas.

    Contoh Kertas Indikator Universal

    Contoh kertas indikator universal yang banyak dijual dipasaran dan umum digunakan oleh para praktisi kimia ditunjukkan pada gambar berikut

    Contoh Kertas Indikator Universal Asam Basa
    Contoh Kertas Indikator Universal Asam Basa

    Indikator Alami pH Larutan Asam Basa

    Indikator alami adalah indikator untuk larutan asam basa yang dibuat dari estrak tumbuhan atau tanaman yang berasal dari alam.

    Beberapa tumbuhan tanaman yang mampu memberikan perubahan warna berbeda pada kondisi asam dan kondisi basa diantaranya adalah sebagai berikut:

    Contoh Indikator Alami pH Larutan Asam Basa
    Contoh Indikator Bahan Alami pH Larutan Asam Basa

    pH Meter Alat Ukur Keasaman Larutan

    pH-meter merupakan suatu rangkaian elektronik yang dilengkapi suatu elektrode yang dirancang khusus untuk dicelupkan ke dalam larutan yang akan diukur.

    Bila eklektrode kaca ini dimasukkan ke dalam larutan akan timbul beda potensial yang diakibatkan oleh adanya ion H+ dalam larutan. Besar beda potensial ini menunjukkan angka yang menyatakan pH larutan tersebut.

    Contoh pH Meter Alat Ukur Keasaman Larutan

    Contoh pH Meter Alat Ukur Keasaman Larutan
    Contoh pH Meter Alat Ukur Keasaman Larutan

    1). Contoh Soal Penggunaan Trayek pH Indikator

    Suatu larutan memiliki pH 2, tentukanlah warna larutan Ketika ditambakan tetesan larutan indicator Metil Jingga (MO) dan Metil Merah MM.

    Diketahui:

    pH larutan = 2

    Indikator MO dan MM

    Menentukan Warna Larutan Ketika Ditambah Zat Trayek pH Indikator

    Diagram trayek pH indicator MO dan MM serta pH larutan dapat dilihat pada gambar berikut

    Warna Larutan Ditambah pH Indikator Metil Jingga (MO)
    Cara Menentukan Warna Larutan Ketika Ditambah Zat Trayek pH Indikator

    pH larutan digambarkan dengan garis vertical putu putus biru yaitu pH = 2

    Warna Larutan Ditambah pH Indikator Metil Jingga (MO)

    Larutan memiliki pH = 2 yang lebih rendah dari batas minimum trayek pH MO  3,1, sehingga warna larutan menjadi jingga (orange) ketika ditambah larutan MO

    pH larutan (2) < pH minimum trayek MO (3,1)

    Garis vertical (pH = 2) berada dalam daerah warna jingga. Jadi warna larutan berubah menjadi jingga Ketika ditambah indicator Metil jingga.

    Warna Larutan Ditambah pH Indikator Metil Merah

    Larutan memiliki pH = 2 yang lebih rendah dari batas minimum trayek pH MM 4,2, sehingga warna larutan menjadi merah saat ditambahkan larutan indicator MM

    pH larutan (2) < pH minimum trayek MM (4,2)

    Garsi vertical (pH = 2) berada dalam daerah warna merah. Jadi, warna larutan menjadi merah Ketika ditambah indicator metil merah.

    2). Contoh Soal Menentukan Warna Larutan Trayek pH Indikator

    Tentukan warna larutan yang memiliki keasaman pH 5 jika ditambahkan tetesan indikator metil jingga (MO) dan bromotimol biru (BTB)

    Diketahui

    pH larutan 5

    Indikator MO dan BTB

    Menentukan Warna Larutan Dengan Penambahan Trayek pH Indikator

    Diagram trayek pH indicator MO dan BTB serta pH larutan ditunjukkan pada gambar berikut

    2). Contoh Soal Menentukan Warna Larutan Trayek pH Indikator
    2). Contoh Soal Menentukan Warna Larutan Trayek pH Indikator

    Garis merah vertikal putus putus merupakan pH larutan (5)

    Warna Larutan Saat Ditambah Metil Jingga MO

    pH larutan (5) > pH maksimum Trayek MO (4,4), sehingga warna larutan jadi kuning

    Warna Larutan Ditambah Bromtimol Biru  BTB

    pH larutan (5) < pH minimum trayek BTB (6,), sehingga warna larutan jadi kuning.

    3). Contoh Menentukan Perkiraan pH Larutan Dengan Trayek pH Indikator

    Perkirakan berapa pH larutan jika larutan berubah warna menjadi kuning Ketika ditambahkan indikator metil jingga MO dan warna larutan berubah menjadi kuning Ketika ditambahkan indicator bromtimol biru BTB.

    Diketahui

    MO =  merah – kuning = 3,1 – 4,4

    BTB =  kuning – biru  = 6,0 – 7,6

    Diagram Trayek pH Metil Jingga MO dan Bromtimol Biru BTB

    Rentang trayek pH indicator dan pH larutan dapat dilihat pada gambar berikut

    Diagram Trayek pH Metil Jingga MO dan Bromtimol Biru BTB
    Diagram Trayek pH Metil Jingga MO dan Bromtimol Biru BTB

    Warna Larutan Ditambah Indikator pH Metil Orange (MO)

    Warna larutan menjadi kuning Ketika ditambah indicator MO. Artinynya pH larutan lebih tinggi atau sama dengan pH maksimum trayek indicator MO

    pH larutan 4,4

    Garis vertical putus putus merah meurpakan batasnya

    Warna Larutan Ditambah Indikator pH Bromotimol Biru

    Ketika ditambahkan indicator BTB, warna larutan menjadi kuning. Artinya, pH larutan lebih rendah atau sama dengan pH minimum trayek indicator BTB

    pH larutan 6,0

    Garis vertical putus putus merah merupakan batas daerah dimana pH perkiraan larutan.

    Jadi, perkiraan pH larutan adalah daerah yang dibatasi oleh dua garis vertical yaitu antara 4,4 dan 6,0.

    4). Contoh Soal Menentukan pH Larutan Dengan Trayek pH Indikator

    Perhatikan data hasil percobaan terhadap pH larutan sebagai berikut:

    • larutan berubah warna menjadi merah Ketika ditambah metil merah
    • Ketika ditambahkan indicator brimtimol biru, larutan menjadi kuning
    • larutan tak berwarna saat ditambahkan fenolftalein

    Diketahui indicator trayek pH sebagai berikut .

    1). Metil merah = MM = pH 4,2 – 6,3 = Merah – Kuning.

    2).  Bromtimol biru = BTB= pH 6,0 – 7,6 = Kuning – Biru

    3).  Fenolftalein = PP = pH 8,3 – 10,0 = Tak berwarna – Merah

    Tentukan perkiraan pH larutan tersebut

    Menentukan Rentang pH Larutan

    Ditambah MM menjadi merah, ini artinya larutan cenderung asam, maka pH larutan lebih kecil atau sama dengan batas minimum trayek pH metil merah

    pH larutan ≤ 4,2 (batas minimum trayek pH MM)

    Ditambah BTB menjadi kuning, artinya larutan cenderung asam, maka pH larutan lebih kecil atau sama dengan batas minimum trayek pH BTB

     pH larutan ≤ 6,0

    Ditambah PP manjadi tak berwarna, artinya larutan cenderung asam, maka pH larutan lebih kecil atau sama dengan batas minimum trayek pH PP

    pH larutan ≤ 8,3

    Menggambar Diagram Trayek  pH Indikator

    Diagram Rentang Perkiraan pH larutan dari indicator metil merah MM, bromotimol biru BTB dan fenolftalein PP dapat dilihat pada gambar berikut

    Cara Menggambar Diagram Grafik Trayek pH Indikator
    Cara Menggambar Diagram Grafik Trayek pH Indikator

    Garis MM menunjukkan rentang pH yang dibuat dari titik pH = 4,2 ke arah kiri

    Garis BTB menunjukkan rentang pH yang dibuat dari titik pH = 6,0 ke arah kiri

    Garis PP menunjukkan rentang pH yang dibuat dari titik pH = 8,3 ke arah kiri

    Nilai pH yang masuk dalam rentang ketiga garis pH tersebut adalah pH ≤ 4,2 yang dibatasi oleh garis vertical.

    Sebelah kanan garis vertical, nilai pH berada dalam dua garis yaitu garis BTB dan garis PP. Sedangkan, sebelah kiri garis vertical nilai pH berada dalam tiga garis yaitu garis MM, BTB dan PP.

    Sehingga perkiraan pH larutan adalah pH yang masuk kedalam tiga garis yaitu pH ≤ 4,2

    5). Contoh Soal Menentukan pH Larutan Dengan Trayek pH Indikator

    Perhatikan data hasil percobaan terhadap pH larutan sebagai berikut:

    • larutan berubah warna menjadi kuning Ketika ditambah metil merah
    • Ketika ditambahkan indicator brimtimol biru, larutan menjadi biru
    • larutan berwarna merah saat ditambahkan fenolftalein

    Diketahui indicator trayek pH sebagai berikut.

    1). Metil merah = MM = pH 4,2 – 6,3 = Merah – Kuning.

    2).  Bromtimol biru = BTB= pH 6,0 – 7,6 = Kuning – Biru.

    3).  Fenolftalein = PP = pH 8,3 – 10,0 = Tak berwarna – Merah

    Tentukan perkiraan pH larutan tersebut

    Menentukan Rentang pH Larutan

    Ditambah MM menjadi kuning, ini artinya larutan cenderung basa, maka pH larutan lebih tinggi atau sama dengan batas maksimum trayek pH MM

    pH larutan ≥ 6,3

    Ditanbah BTB menjadi biru , artinya larutan cenderung basa, maka pH larutan lebih tinggi atau sama dengan batas maksimum trayek pH BTB

    pH larutan  ≥ 7,6

    Ditambah PP manjadi merah, artinya larutan cenderung basa, maka pH larutan lebih tinggi atau sama dengan batas maksimum trayek pH PP

     pH larutan 10,0

    Menggambar Diagram Trayek  pH Indikator

    Rentang Trayek pH Indikator metil merah MM, bromotimol biru BTB, dan Phenolphthalein PP dapat dilihat pada gambar berikut:

    Menggambar Diagram Trayek pH Indikator MM BTB PP
    Menggambar Diagram Trayek pH Indikator MM BTB PP

    Garis MM merupakan rentang pH yang dibuat dari titik pH = 6,3 ke arah kanan

    Garis BTB merupakan rentang pH yang dibuat dari titik pH = 7,6 ke arah kanan

    Garis PP merupakan rentang pH yang dibuat dari titik pH = 10,0 ke arah kanan

    Nilai pH yang masuk dalam rentang ketiga garis pH tersebut adalah pH 10,0 yang dibatasi oleh garis vertical.

    Sebelah kiri garis vertical, nilai pH berada dalam dua garis yaitu garis BTB dan garis MM. Sedangkan, sebelah kanan garis vertical, nilai pH berada dalam tiga garis yaitu garis MM, BTB dan PP.

    Sehingga perkiraan pH larutan adalah pH yang masuk kedalam tiga garis yaitu pH 10,0

    6). Contoh Soal Menentukan Keasaman Larutan Asam Basa  Dengan Trayek pH Indikator

    Suatu senyawa ketika dicoba dengan beberapa indikator pH menunjukkan data sebagai berikut, phenol red berwarna kuning, metil merah berwarna kuning, Fenolftalein tak berwarna, dan metil jingga berwarna kuning. Tentukanlah berapa perkiraan pH larutan tersebut.

    Cara Membuat Diagram Grafik Trayek pH Indikator Larutan Asam Basa

    Diagram berikut menjelasan rentan trayek pH indicator phenol red (PR), Metil merah MM, Phenolphthalein PP, dan metil jingg MO serta batas perkiraan pH larutan.

    Contoh Soal Menentukan Keasaman Larutan Asam Basa  Dengan Trayek pH Indikator
    Contoh Soal Menentukan Keasaman Larutan Asam Basa Dengan Trayek pH Indikator

    Warna Larutan Ditambah Trayek pH Indikator Phenol Red Metil Merah Phenolphthalein dan Metil Orange,

    Larutan berubah menjadi kuning Ketika ditambahkan indicator phenol red dan digambarkan dengan garis PR. Ini artinya larutan memiliki pH 6,4 (kurang atau sama dengan 6,4)

    pH latutan pH 6,4

    Larutan menjadi kuning ketikan ditambahkan metil merah, dan digambarkan oleh garis MM. Berarti larutan memiliki pH 6,2 (lebih atau sama dengan 6,2).

    pH larutan pH 6,2

    Ketika larutan ditambahkan indicator Phenolphthalein, warnanya tidak berubah (tak berwarna) yang digambarkan oleh garis PP. Hal ini menunjukkan larutan memiliki pH   8,0

    pH latutan pH 8,0

    Warna larutan berubah menjadi kuning Ketika ditambah indicator metil jingga dan digambarkan dengan garis MO. Berarti pH larutan 4,4 (lebih besar atau sama dengan 4,4)

    pH larutan 4,4

    Dari dari gambar dapat diketahui, nilai pH yang masuk dalam rentang dari garis yang mengarah ke pH rendah (warna merah) adalah 6,4. Sedangkan nilai pH yang masuk dalam rentang garis yang mengarah ke pH tinggi (warna biru) adalah 6,2

    Nilai pH yang masuk dalam rentang keempat garis tersebut adalah 6,2 – 6,4 yang dibatasi oleh dua garis putus putus vertical.

    Jadi, larutan memiliki pH antara 6,2 – 6,4.

    7). Contoh Soal Penentuan Keasaman Larutan Dengan Trayek pH Indikator

    Berdasarkan percobaan terhadap larutan A diperoleh data:

    1). Dengan fenolftalein Phenolphthalein PP larutan tak berwarna

    2). dengan metil merah MM larutan berwarna merah

    3). dengan brom timol biru BTB larutan berwarna kuning

    4). dengan Metil jingga MO larutan berwarna kuning

    Tentukanlah perkiraan pH larutan A tersebut

    Diketahui indikator perubahan warna trayek pH indicator

    PP = tak berwarna – merah = 8,0 – 9,6

    MM = merah – kuning = 4,2 – 6,2

    MO =  merah – kuning = 3,1 – 4,4

    BTB =  kuning – biru  = 6,0 – 7,6

    Cara Membuat Diagram Trayek pH Indikator

    Diagram trayek pH indicator dapat dilihat pada gambar berikut

    Perubahan Warna Larutan Ditambah Trayek pH Indikator Phenolphthalein Metil Merah dan Bromothymol Blue dan Metil Orange
    Perubahan Warna Larutan Ditambah Trayek pH Indikator Phenolphthalein Metil Merah dan Bromothymol Blue dan Metil Orange

    Perubahan Warna Larutan Ditambah Trayek pH Indikator Phenolphthalein Metil Merah dan Bromothymol Blue dan Metil Orange

    Larutan A tidak berwarna ketika ditambahkan Indikator PP, ini artinya pH larutan kurang atau sama dengan 8,0 dan digambarkan oleh garis PP.

    Larutan A berwarna merah Ketika ditambahkan indicator MM, ini artinya pH larutan kurang atau sama dengan 4,2 dan digambarkan oleh garis MM

    Ketika ditambahkan indicator BTB, larutan A berubah menjadi warna kuning. Berarti larutan memiliki pH kurang atau sama dengan 6,0 dan digambarkan oleh garis BTB.

    Namun ketika menggunakan indicator MO, larutan A berubah warnanya menjadi kuning. Larutan A memiliki pH lebih atau sama dengan 4,4.

    Dari dari gambar dapat diketahui, nilai pH yang masuk dalam rentang dari garis garis yang mengarah ke pH rendah (warna merah) adalah 4,2. Sedangkan nilai pH yang masuk dalam rentang garis yang mengarah ke pH tinggi (warna biru) adalah 4,4. (hanya satu garis, jadi garis ini merupakan harga rentang pH-nya). Batas rentang pH ini digambarkan dengan garis vertical putus putus.

    pH larutan merupakan rentang pH yang masuk kedalam empat garis, namun dari gambar tidak terdapat pH yang masuk dalam rentang keempat garis, sehingga pH diambil antara 4,2 sampai dengan 4,4.

    Sifat pH Indiktor Bromothymol Blue

    Bromotimol biru  dikenal sebagai Bromotimol sulfonftalein atau ringkasnya BTB adalah suatu indikator pH untuk memperkirakan keasaman suatu larutan.

    Senyawa ini banyak digunakan dalam aplikasi yang memerlukan pengukuran zat yang memiliki pH antara 6,0 – 7,6. Dengan perubahan warna dari kuning ke biru. Warna Kuning dalam larutan suasana asam dan biru dalam suasana basa.

    Rumus Kimia Bromothymol Blue

    Rumus Kimia Bromotimol Biru = C27H28Br2O5S

    Perubahan Warna = Kuning – Biru

    Massa Jenis Dan Titik Lebur pH Indikator Bromothymol Blue

    Massa Jenis Bromotimol Biru = 1.25 g/cm³

    Titik Lebur  = 202 °C = 396 °F = 475 K

    Trayek pH Indikator = 6,0 – 7,6

    Sifat Rumus Kimia pH Indikator Metil Merah

    Rumus Kimia Metil Merah = C15H15N3O2

    Perubahan Warna = Merah – Kuning

    Trayek pH Indikator = 4.4-6.3

    Massa Jenis = 791 kg/m³

    Titik Lebur  = 179–182 °C = 354–360 °F =  452–455 K

    Sifat Rumus Kimia pH Indikator Methyl Orange (Metil Jingga)

    Rumus Kimia Metil Jingga =  C14H14N3NaO3S

    Perubahan Warna = Jingga – Kuning

    Trayek pH Indikator = 3,1 – 4,4

    Massa Jenis = 1.28 g/cm3

    Massa Molar = 327,33 g/mol

    Titik Lebur >   300°C (572°F; 573 K)

    Sifat Rumus Kimia pH Indikator Phenolphthalein

    Rumus Kimia Phenolphthalein = C20H14O4

    Perubahan warna = Tak berwarna – merag ungu

    Trayek indicator = 8,0 – 9,6

    Titik Lebur = 260 °C

    Massa Jenis = 1,277 g/cm3

    Daftar Pustaka:

    1. Sunarya, Yayan, 2014, “Kimia Dasar 1, Berdasarkan Prinsip Prinsip Kimia Terkini”, Cetakan Ketiga, Yrama Widya, Bandung.
    2. Hiskia Achmad,  1996, “K imia Larutan”, Citra Aditya Bakti,  Bandung.
    3. Sunarya, Yayan, 2013, “Kimia Dasar 2, Berdasarkan Prinsip Prinsip Kimia Terkini”, Cetakan Kedua, Yrama Widya, Bandung.
    4. Syukri, S., 1999, “Kimia Dasar 2”, Jillid 2, Penerbit ITB, Bandung
    5. Chang, Raymond, 2004, “Kimia Dasar, Konsep -konsep Inti”, Edisi Ketiga, Jilid Satu, Penerbit, Erlangga, Jakarta.
    6. Brady, James, E,1999, “Kimia Universitas Asas dan Struktur”, Edisi Kelima, Jilid Satu, Binarupa Aksara, Jakarta,
    7. Brady, James, E., 1999, “Kimia Universitas Asas dan Struktur”, Edisi Kelima, Jilid Dua, Binarupa Aksara, Jakarta.
    8. pH Indikator Asam Basa: Pengertian Jenis Fungsi Trayek pH Indikator Menentukan Keasaman pH Contoh Soal Pembahasan 7 Metil Merah Jingga Bromtimol Fenolftalein

    Konfigurasi Elektron: Pengertian Menentukan Jumlah Elektron Tidak Berpasangan Ion Positif Negatif Prinsip Aufbau Hund Pauli Contoh Rumus Perhitungan 10

    Pengertian Konfigurasi Elektron: Konfigurasi electron merupakan suatu cara penulisan yang menunjukkan distribusi elektron dalam orbitalorbital pada kulit utama dan subkulit.


    Konfigurasi elektron dalam atom menggambarkan lokasi semua elektron menurut orbital-orbital yang ditempati.

    Konfigurasi elektron menggambarkan susunan elektron dalam orbital- orbital atom dengan yang mengikuti aturan atau asas  dari  prinsip Aufbau, kaidah aturan Hund dan asas larangan Pauli.

    Konfigurasi Elekton Prinsip Aufbau

    Aturan pengisian elektron ke dalam orbital- orbital dikenal dengan prinsip Aufbau, dalam bahasa Jerman, Aufbau artinya kontruksi.

    Menurut prinsip Aufbau, pada kondisi normal atau pada tingkat dasar, elektron akan mengisi orbital atom yang tingkat energi relatifnya lebih rendah dahulu baru kemudian mengisi orbital atom yang tingkat energinya lebih tinggi.

    Keadaan Ketika elektron mengisi kulit dengan energi terendah disebut keadaan dasar (ground state).

    Penulisan konfigurasi elektron berdasarkan kenaikan tingkat energi dapat digambarkan sebagai berikut:

    Gambar Menentukan Konfigurasi Elektron Prinsip Aufbau
    Gambar Menentukan Konfigurasi Elektron Prinsip Aufbau

    Arah anak panah menyatakan urutan pengisian orbital. Huruf kecil n menunjukkan omor kulit.

    Dengan demikian urutan pengisian elektron berdasarkan gambar tersebut berturut turut

    1s, 2s, 2p, 3s, 3p, 4s, 3d, 4p, 5s, 4d, 5p, dan seterusnya.

    Dari urutan tersebut terlihat bahwa tingkat energi 3d lebih besar dibandingkan tingkat energi 4s. Jadi, setelah 3p penuh, elektron akan mengisi subkulit 4s terlebih dahulu sebelum subkulit 3d.

    Contoh Konfigurasi Elektron Unsur Skandium Sc Berdasarkan Prinsip Aufbau

    Buatlah konfigurasi elektron dari unsur 21Sc (nomor atom Sc = 21) berdasarkan prinsip Aufbau

    21Sc = 1s2 2s2 2p6 3s2 3p6 4s2 3d1

    Setelah 3p penuh, elektron akan mengisi subkulit 4s terlebih dahulu sebelum subkulit 3d.

    Contoh Konfigurasi Elektron Unsur Natrium Na Berdasarkan Prinsip Aufbau

    Konfigurasi elektron unsur ₁₁Na  (nomor atom Na = 11) berdasarkan prinsip Aufbau adalah

    ₁₁Na = 1s² 2s² 2p⁶ 3s¹

    Contoh Konfigurasi Elektron Unsur Besi Fe Berdasarkan Prinsip Aufbau

    Konfigurasi elektron dari atom besi yang memiliki nomor atom 26 adalah sebagai berikut:

    ₂₆Fe = 1s² 2s² 2p⁶ 3s² 3p⁶ 4s² 3d⁶

    Penyederhanaan Penulisan Konfigurasi Elektron

    Konfigurasi elektron dapat ditulis dengan cara singkat dengan menggantikan urutan dari pengisian orbital oleh lambang atom unsur gas mulia yang memiliki kulit terlengkap paling dekat sebelum unsur tersebut.

    Contoh Menyederhanakan Konfigurasi Elektron Natrium Na

    Konfigurasi elektron

    11Na =  1s2 2s2 2p6 3s1

    Unsur gas mulia terdekat sebelum unsur Na adalah unsur Ne dengan konfigurasi

    10 Ne = 1s2 2s2 2p6 sehingga konfigurasi electron Natrium adalah

    11Na = [Ne] 3s1

    Contoh Penyederhanaan Konfigurasi Eleketron Kalsium Ca

    Konfigurasi electron kalsium

    20Ca = 1s2 2s2 2p6 3s2 3p6 4s2

    Unsur gas mulia yang paling dekat dengan unsur kalsium dan memiliki nomor atom lebih kecik adalah argon Ar dengan konfigurasi sebagai berikut

    18Ar = 1s2 2s2 2p6 3s2 3p6

    Sehingga konfigurasi electron kalsium adalah

    20Ca = [Ar] 4s2

    Contoh Menyederhanakan Penulisan Konfigurasi Elektron Unsur Mangan Mn

    Konfigurasi electron unsur mangan Mn adalah

    25Mn = 1s2 2s2 2p6 3s2 3p6 4s2 3d5

    Unsur gas mulia yang paling dekat dan memiliki nomor atom lebih kecil dari  dengan mangan adalah unsur Argon Ar dengan konfigirasi elektronnya adalah

    18Ar = 1s2 2s2 2p6 3s2 3p6

    Sehingga konfigurasi electron mangan dapat ditulis seperti berikut

    25Mn = [Ar] 4s2 3d5

    Konfigurasi Elekton Aturan Kaidah Hund

    Kaidah Hund menyatakan: bahwa elektron- elektron dalam orbital-orbital suatu subkulit cenderung untuk tidak berpasangan. Elektron- elektron akan berpasangan apabila pada subkulit itu sudah tidak ada lagi orbital kosong.

    Susunan elektron dalam subkulit yang paling stabil adalah susunan dengan jumlah spin parallel atau arah sama terbanyak. Ini arttnya, elekron harus menempati orbital sendiri sendiri sebelum berpasangan dalam orbital.

    Suatu orbital dilambangkan atau digambarkan dengan segi empat. Sedangkan dua elektron yang menempati satu orbital dilambangkan dengan dua anak panah yang berlawanan arah. Jika orbital hanya mengandung satu elektron, maka anak panah dituliskan mengarah ke atas.

    Contoh Diagram Orbital Unsur Natrium

    Konfigurasi electron dan diagram orbital unsur natrium dengan nomor atom 11 ditunjukkan pada gambar berikut

    Contoh Diagram Orbital Unsur Natrium
    Contoh Diagram Orbital Unsur Natrium

    Orbital pada subkulit 3s hanya terisi oleh satu elektron atau setengan penuh.

    Penyimpangan Konfigurasi Elektron

    Pengisian electron pada subkulit d cenderung penuh yaitu berisi 10 elektron atau setengah penuh yaitu berisi 5 elektron.

    Berdasarkan eksperimen, terdapat penyimpangan konfigurasi elektron dalam pengisian elektron. Penyimpangan pengisian elektron ditemui pada elektron yang terdapat pada orbital subkulit d dan f.

    Penyimpangan pada orbital subkulit d dikarenakan orbital yang setengah penuh (d5) atau penuh (d10) bersifat lebih stabil dibandingkan dengan orbital yang hampir setengah penuh (d4) atau hampir penuh (d8 atau d9).

    Jika electron terluar berakhir pada d4, d8 atau d9, maka satu atau semua elektron pada orbital s (yang berada pada tingkat energi yang lebih rendah dari d) pindah ke orbital subkulit d.

    Akibat keadaan ini, maka struktur electron menjadi:

    ns2 (n – 1)d9 tidak ada/ tidak ditemukan, dan yang ada adalah

    ns1 (n – 1)d10

    Struktur electron

    ns2 (n – 1)d4 tidak ada/ tidak ditemukan, dan yang ada adalah

    ns1 (n – 1)d5

    Pengisian orbital penuh atau setengah penuh relatif lebih stabil. Hal ini diebabkan perbedaan tingkat energi yang sangat kecil antara subkulit 3d dan 4s serta antara 4d dan 5s pada masing-masing atom tersebut. Subkulit d lebih stabil pada keadaan tepat terisi penuh atau tepat setengah penuh.

    Contoh Penyimpangan Konfigurasi Elektron Elektron

    Contoh Penyimpangan Konfigurasi Elektron Elektron
    Contoh Penyimpangan Konfigurasi Elektron Elektron

    Contoh Konfigurasi Elektron Aturan Hund Unsur Kromium Cr

    Konfigurasi electron unsur krom adalah

    24Cr = 1s2 2s2 2p6 3s2 3p6 4s2 3d4

    24Cr = [Ar] 4s2 3d4

    konfigurasi electron tersebut relative kurang stabil sehingga konfigurasi electron Krom tersebut tidak ditemukan.

    Konfigurasi electron yang benar untuk krom Cr adalah konfigurasi electron yang lebih stabil seperti berikut

    24Cr = 1s2 2s2 2p6 3s2 3p6 4s1 3d5

    24Cr = [Ar] 4s1 3d5

    Diagram Orbital Unsur Kromium Cr

    Diagram orbital subkulit 3d dan 4s unsur kromium yang tidak stabil ditunjukkan pada gambar berikut

    Diagram Orbital Unsur Kromium Cr Konfigurasi ELektron Tidak Stabil
    Diagram Orbital Unsur Kromium Cr Konfigurasi ELektron Tidak Stabil

    Pada subkulit 3d terdapat satu orbital yang kosong yang menyebabkan ketidakstabilan electron.

    Diagram orbital subkulit 3d dan 4s unsur kromium yang lebih stabil ditunjukkan pada gambar berikut

    Diagram Orbital Unsur Kromium Cr Konfigurasi ELektron Stabil
    Diagram Orbital Unsur Kromium Cr Konfigurasi ELektron Stabil

    Semua orbital 3d terisi oleh satu electron sehingga menjadi setengah penuh. Satu electron yang mengisi kekosongan orbital subkulit 3d diambil dari subkulit 4s, sehingga electron pada subkulit 4s (penuh) menjadi satu electron (setengah penuh). Atom 24Cr lebih stabil dengan subkulit d terisi tepat setengah penuh.

    Contoh Konfigurasi Elektron Aturan Hund Unsur Tembaga Cu

    Konfigurasi electron tembaga Cu

    29Cu = 1s2 2s2 2p6 3s2 3p6 4s2 3d9

    29Cu = [Ar] 4s2 3d9

    Konfigurasi electron 29Cu yaitu untuk subkulit  4s2 3d9 kurang stabil.

    Konfigurasi yang lebih stabil untuk unsur tembaga Cu adalah sebagai berikut

    29Cu = 1s2 2s2 2p6 3s2 3p6 4s1 3d10

    29Cu = [Ar] 4s1 3d10

    Struktur elektron pada subkulit  4s1 3d10  merupakan konfigurasi lebih stabil

    Diagram Orbital Unsur Tembaga Cu

    Diagram orbital subkulit 3d dan 4s untuk unsur tembaga yang tidak stabil ditunjukkan pada gambar berikut

    Diagram Orbital Unsur Tembaga Cu Konfigurasi Elektron Tidak Stabil
    Diagram Orbital Unsur Tembaga Cu Konfigurasi Elektron Tidak Stabil

    Pada subkulit 3d terdapat satu orbital yang terisi satu elektron (setengah penuh) sedangkan 4 orbital lainnya terisi punuh oleh 2 pasang electron. Satu orbital 3d yang setengah penuh menyebabkan ketidakstabilan electron subkulit 3d.

    Diagram orbital subkulit 3d dan 4s unsur tembaga yang lebih stabil ditunjukkan pada gambar berikut

    Diagram Orbital Unsur Tembaga Cu Konfigurasi Elektron Stabil
    Diagram Orbital Unsur Tembaga Cu Konfigurasi Elektron Stabil

    Semua orbital 3d terisi oleh sepasang electron sehingga menjadi penuh. Satu electron yang mengisi kekosongan orbital subkulit 3d diambil dari subkulit 4s, sehingga electron pada subkulit 4s (penuh) menjadi satu electron (setengah penuh). Atom 29Cu menjadi lebih stabil dengan subkulit d yang terisi oleh dua elektron penuh.

    Konfigurasi Elekton Asas Larangan Pauli

    Menurut asas larangan Pauli dalam suatu atom tidak boleh ada 2 elektron yang mempunyai keempat bilangan kuantum yang sama harganya. Jika 3 bilangan kuantum sudah sama, maka bilangan kuantum yang keempat harus berbeda.

    Bila dua elektro dalam orbital memiliki nilai n, l, dan m yang sama, maka nilai s harus berbeda. Artinya, bahwa arah rotasi dua electron tersebut harus berlawanan.

    Elektron – elektrom denga spin berlawanan disebut electron berpasangan dan dinyatakan dalam diagram orbital dengan tanda panah berlawanan, satu arah ke atas dan satu arah ke bawah.

    Prinsip larangan Pauli menjelaskan, bahwa setiap orbital hanya boleh ditempati oleh dua electron. Sehingga maksimum elektrom pada tiap subkulit adalah dua kali jumlah orbitalnya.

    Jumlah Elektron Subkulit

    Subkulit s terdiri 1 orbital, maksimum ditempati 2 elektron

    Subkulit p terdiri 3 orbital, maksimum ditempati 6 elektron

    Subkulit d terdiri 5 orbital, maksimum ditempati 10 elektron

    Subkulit f terdiri 7 orbital, maksimum ditempati 14 elektron

    Rumus Jumlah Maksimum Elektron Kulit Atom

    Jumlah maksimum electron yang ada dalam setiap kulit dinyatakan dengan rumus persamaan berikut

    e = 2n2

    e = jumlah electron

    n = nomor kulit

    Contoh Perhitungan Jumlah Maksimum Elektron Kulit K

    Jumlah electron pada kulit K adalah

    nomor kulit n untuk K adalah 1 atau

    n = 1

    sehingga jumlah maksimum electron pada kulit K

    e = 2(1)2

    e = 2 elektron

    Jadi, jumlah maksimum electron pada kulit K adalah 2 elektron

    Contoh Perhitungan Jumlah Elektron Maksimum Pada Kulit L dan M

    Nomor kulit L

    n = 2 sehingga

    e = 2(2)3 = 8 elektron

    Nomor Kulit M

    n = 3 sehingga

    e = 2(3)2 = 18 elektron

    Jadi, jumlah maksimum electron pada kulit L adalah 8 elektron dan pada kulit M adalah 18 elektron.

    Rumus Jumlah Orbital Pada Kulit

    Kulit terdiri atas subkulit yang berisi orbital-orbital dengan bilangan kuantum utama yang sama. Jumlah orbital dalam setiap kulit dinyatakan dengan rumus

    Jumlah Orbital = n2

    Contoh Menghitungan Jumlah Orbital Kulit

    Berapa jumlah orbital dan jumlah maksimum elektron dalam kulit M

    Diketahuui

    n = Bilangan Kuatum Kulit M

    n = 3

    Rumus Menghitung Jumlah Orbital Kulit M

    Jumlah orbital dalam kulit M dapat dihitung dengan rumus berikut

    Jumlah Orbital = n2

    Jumlah Orbital = (3)2 = 9 orbital

    Rumus Menghitung Jumlah Maksimum Elektron Pada Kulit M

    Jumlah maksimum electron pada kulit M dapat dihitung dengan rumus berikut;

    e = 2n2

    e = jumlah electron

    e = 2(3)2 = 18 elektron

    Konfigurasi Elektron Ion Positif Negatif

    Penulisan konfigurasi elektron yang dijelaskan di atas berlaku pada atom netral. Penulisan konfigurasi elektron pada ion yang bermuatan pada dasarnya sama dengan penulisan konfigurasi elektron pada atom netral setelah ditambah atau dikurangi elektronya.

    Atom bermuatan positif, misalnya M+x terbentuk karena atom netral melepaskan elektron pada kulit terluarnya sebanyak x. Sedangkan ion negative, misalnya M–y terbentuk karena menarik elektron sebanyak y.

    Penulisan konfigurasi elektronnya hanya menambah atau mengurangi elektron yang dilepas atau ditambah sesuai dengan aturan penulisan konfigurasi elektron. Ini berlaku untuk semua unsur yang membentuk ion, termasuk unsur transisi.

    Contoh Konfigurasi Elektron Ion Alumunium Al3+

    Diketahui konfigurasi elektron Al

    12Al = 1s2 2s2 2p6 3s2 3p1

    Tuliskan konfigurasi electron untuk ion Al3+

    Ion Al3+ berarti 3 elektron terluar telah dilepas seperti reaksi berikut

    Al → Al3+ + 3e

    Ketiga electron terluar yang dilepas adalah 2 elektron dilepas dari subkulit 3s dan 1 elektron dari subkulit 3p. Sehingga konfigurasi elektronnya adalah

    Ion Al3+ = 1s2 2s2 2p6

    Jadi, konfigurasi ion Al3+ = 1s2 2s2 2p6

    Contoh Konfigurasi Elektron Ion Besi Fe2+

    Diketahui konfigurasi elektron Fe

    26Fe =  [Ar] 3d6 4s2

    Tuliskan konfigurasi electron untuk ion Fe2+

    Ion Fe2+ = 2 elektron terluar telah dilepas seperti reaksi berikut

    Fe → Fe2+ + 2e

    Dua electron terluar yang dilepas oleh atom Fe adalah dari subkulit 4s. Sehingga konfigurasi electron Fe menjadi seperti berikut:

    Ion Fe2+ = [Ar] 3d6.

    Jadi, konfigurasi electron Fe2+= [Ar] 3d6.

    Contoh Soal Menentukan Konfigurasi Elektron Ion Besi Fe3+

    Diketahui nomor atom Fe adalah 26. Tuliskan konfigurasi electron Fe3+

    Konfigurasi Elektron 26Fe

    26Fe = 1s2 2s2 2p6 3s2 3p6 4s2 3d6

    Ion Fe3+ berarti atom melepaskan 3 elektron di kulit terluar

    Ketiga electron terluar adalah 2 elektron dari subklit 4s dan 1 dari 3d. Sehingga kofigurasi electronnya adalah

    Ion 26Fe3+ = 1s2 2s2 2p6 3s2 3p6 3d5

    Contoh Soal Pembahasan Konfigurasi Elektron Ion Sulfur S2-

    Diketahui nomor atom S adalah 16. Tuliskan konfigurasi electron dari ion 16S2-

    Konfigurasi Elektron 16S

    16S = 1s2 2s2 2p6 3s2 3p4

    Ion S2- berarti atom menerima 2 elektron pada kulit terluarnya

    Kedua electron yang diterimi akan menempati subkulit 3p. Sehingga kofigurasi electronnya adalah

    Ion 16S2- = 1s2 2s2 2p6 3s2 3p 6

    Contoh Soal Menentukan Jumlah Elektron Tidak Perpasangan Ion Besi (III) Fe3+

    Tetukan jumlah electron yang tidak berpasangan pada konfigurasi electron ion Besi (III) Fe3+.

    Konfigurasi Elektron Fe

    26Fe = 1s2 2s2 2p6 3s2 3p6 4s2 3d6

    Konfigurasi Elektron Ion Fe3+

    Ion Fe3+ = 1s2 2s2 2p6 3s2 3p6 3d5

    Diagram Orbital Ion Fe3+

    Untuk dapat menentukan electron yang tidak perpasangan harus dibuatkan diagram orbital. Orbital cukup dari subkulit yang elektronnya tidak penuh. Untuk ion besi Fe3+ subkulit yang tidak penuh adalah subkulit 3d yang hanya diisi 5 elektron.

    Subkulit d memiliki 5 orbital dengan jumlah maksimum electron yang dapat ditampung adalah 10 elektron.

    Diagram orbital ion besi (III) dapat dilihat pada gambar berikut

    Diagram Orbital Ion Fe3+ Perhitungan Elektron Tidak Berpasangan
    Diagram Orbital Ion Fe3+ Perhitungan Elektron Tidak Berpasangan

    Jadi, jumlah electron tidak berpasangan adalah 5 elektron.

    Contoh Soal Perhitungan Jumlah Elektron Tidak Perpasangan Atom Nikel

    Tetukan jumlah electron yang tidak berpasangan pada konfigurasi electron atom nikel yang bernomor atom 28.

    Konfigurasi Elektron Nikel 28Ni

    28Ni= 1s2 2s2 2p6 3s2 3p6 4s2 3d8 atau

    28Ni= [Ar] 4s2 3d8

    Diagram Orbital Atom Nikel

    Untuk menentukan electron yang tidak berpasangan cukup membuat diagram orbital dari subkulit yang diisi electron tidak penuh yaitu 3d yang terisi 8 elektron.

    Subkulit d terdiri 5 orbital yang dapat ditempati oleh 10 elektron maksimum. Jumlah elektron tidak berpasangan pada subkulit 3d dapat dilihat pada gambar berikut

    Diagram Orbital Atom Nikel Perhitungan Elektron Tidak Berpasangan
    Diagram Orbital Atom Nikel Perhitungan Elektron Tidak Berpasangan

    Jadi, jumlah electron yang tidak berpasangan pada atom Nikel adalah 2 elektron.

    Contoh Soal Menentukan Jumlah Elektron Tidak Berpasangan Atom Titan,

    Diketahui bahwa Titan mempunyai nomor atom 22. Tentukan jumlah electron tidak berpasangan pada ion Titan Ti3+

    Konfigurasi Elektron Atom Titan 22Ti

    22Ti= 1s2 2s2 2p6 3s2 3p6 4s2 3d2 atau

    22Ti= [Ar] 4s2 3d2

    Konfigurasi Elektron Ion Ti3+

    Ion Ti3+ = [Ar] 3d1

    Diagram Ordinal Ion Titan

    Untuk ion Titam Ti3+ subkulit yang tidak penuh adalah subkulit 3d yang hanya diisi 1 elektron.

    Subkulit d memiliki 5 orbital dengan jumlah maksimum electron yang dapat ditampung adalah 10 elektron. Jumlah elektron tidak berpasangan pada subkulit 3d dapat dilihat pada gambar berikut

    Diagram Ordinal Ion Titan Jumlah Elektron Tidak Berpasangan
    Diagram Ordinal Ion Titan Jumlah Elektron Tidak Berpasangan

    Jadi, jumlah electron yang tidak berpasangan pada atom ion Ti3+  adalah 1 elektron.

    Contoh Soal Menentukan Jumlah Elektron Tidak Berpasangan Atom Krom Cr

    Diketahui bahwa Krom  mempunyai nomor atom 24. Tentukan jumlah electron tidak berpasangan pada atom krom tersebut

    Konfigurasi Elektron Atom Krom 24Cr

    24Cr= 1s2 2s2 2p6 3s2 3p6 4s1 3d5 atau

    24Ti= [Ar] 4s1 3d5

    Diagram Ordinal Atom Krom Cr

    Untuk atom krom subkulit yang tidak penuh adalah subkulit 3d yang diisi 5 elektron dan subkulit 4s yang diisi 1 elektron.

    Diagram Ordinal Atom Krom Cr Menghitung Jumlah Elektron Tidak Berpasangan
    Diagram Ordinal Atom Krom Cr Menghitung Jumlah Elektron Tidak Berpasangan

    Jadi, jumlah electron yang tidak berpasangan pada atom krom  adalah 6 elektron

    Daftar Pustaka:

    1. Sunarya, Yayan, 2014, “Kimia Dasar 1, Berdasarkan Prinsip Prinsip Kimia Terkini”, Cetakan Ketiga, Yrama Widya, Bandung.
    2. Hiskia Achmad,  1996, “K imia Larutan”, Citra Aditya Bakti,  Bandung.
    3. Sunarya, Yayan, 2013, “Kimia Dasar 2, Berdasarkan Prinsip Prinsip Kimia Terkini”, Cetakan Kedua, Yrama Widya, Bandung.
    4. Syukri, S., 1999, “Kimia Dasar 2”, Jillid 2, Penerbit ITB, Bandung
    5. Chang, Raymond, 2004, “Kimia Dasar, Konsep -konsep Inti”, Edisi Ketiga, Jilid Satu, Penerbit, Erlangga, Jakarta.
    6. Brady, James, E,1999, “Kimia Universitas Asas dan Struktur”, Edisi Kelima, Jilid Satu, Binarupa Aksara, Jakarta,
    7. Brady, James, E., 1999, “Kimia Universitas Asas dan Struktur”, Edisi Kelima, Jilid Dua, Binarupa Aksara, Jakarta.
    8. Ringkasan Rangkuman: Konfigurasi elektron adalah gambaran yang menunjukkan penempatan elektron dalam orbital-orbitalnya dalam suatu atom.
    9. Pada penulisan konfigurasi elektron perlu dipertimbangkan tiga aturan (asas), yaitu prinsip Aufbau, asas larangan Pauli, dan kaidah Hund.
    10. Asas Aufbau menyatakan pengisian orbital dimulai dari tingkat energi yang paling rendah.
    11. Kaidah Hund menyatakan jika terdapat orbital-orbital yang peringkat energinya sama, maka setiap orbital hanya berisi elektron tunggal lebih dahulu, sebelum diisi oleh pasangan elektron.
    12. Asas larangan Pauli menyatakan bahwa tidak ada dua elektron yang mempunyai empat bilangan kuantum yang sama. Dua elektron yang menempati orbital yang sama harus mempunyai arah rotasi yang berlawanan.
    13. Sistem periodik unsur modern (SPU) disusun berdasarkan kenaikan nomor atom dan kemiripan sifat.
    14. Periode adalah lajur-lajur horizontal dalam SPU. Dalam SPU modern, periode disusun berdasarkan kenaikan nomor atom. Nomor periode suatu unsur sama dengan jumlah kulit unsur itu.

    Jenis Alat Optik: Lup Kamera Mikroskop Teleskop Rumus Perbesaran Lensa Objektif Okuler Jarak Fokus 13

    Pengertian Lup: Lup atau kaca pembesar atau sebagian orang menyebutnya sebagai suryakanta merupakan alat optik yang berupa lensa cembung atau lensa positif.


    Fungsi Lup

    Alat optik Lup umumnya digunakan untuk melihat benda- benda yang berukuran kecil, biasanya tulisan kecil atau komponen- komponen kecil sehingga tampak besar. Pada saat menggunakan Lup terjadi perbesaran sudut lihat.

    Jenis Alat Optik: Pengertian Fungsi Lup Kamera Mikroskop Teleskop Kacamata Contoh Soal Rumus Perhitungan Lensa Objektif Okuler Perbesaran Jarak Fokus,
    Contoh Soal Lup Perhitungan Jarak Benda Dengan Jarak Fokus Lup Tanpa Akomodasi

    Perbesaran Sudut Lup

    Perbandingan sudut pandangan mata ketika menggunakan lup β dan sudut pandangan mata ketika tidak menggunakan lup α disebut perbesaran sudut (anguler) lup.

    Pengertian Fungsi Jarak Fokus Lensa Lup Contoh Soal Rumus Perhitungan Objektif Okuler Perbesaran Lup,
    Pengertian Fungsi Jarak Fokus Lensa Lup Contoh Soal Rumus Perhitungan Objektif Okuler Perbesaran Lup,

    Rumus Perbesaran Bayangan LUP

    Pada penggunaan lup dapat ditentukan perbesaran bayangannya. Perbesarannya sering digunakan perbesaran sudut (anguler).

    M= β/α

    M = perbesaran anguler

    β = sudut penglihatan setelah ada lup

    α = sudut penglihatan awal

    Dua Cara Menggunakan Lup

    Pengamatan dengan lup memiliki dua keadaan akomodasi yang penting yaitu akomodasi maksimum dan akomodasi minimum.

    Penggunaan Lup Dengan Akomodasi Maksimum

    Pengamatan akomodasi maksimum dengan lup berarti bayangan oleh lensa lup harus berada pada titik dekat mata.

    Untuk mata berakomodasi maksimum, objek yang akan dilihat menggunakan lup harus diletakkan di depan lup pada jarak yang lebih kecil daripada jarak fokus lup atau

    S ≤ f

    f = jarak fokus lup

    Jarak Bayangan Benda Pada Lup Berakomodasi Maksimum

    Apabila mata berakomodasi maksimum mengamati bayangan dengan menggunakan lup, bayangan tersebut akan berada di titik dekat mata atau

    S’ = – Sn (tanda negatif karena bayangannya maya).

    Jarak Bayangan Benda Oleh Lup untuk mata berakomodasi dapat dinyatakan dengan persamaa berikut

    1/S + 1/-Sn = 1/f

    Perbesaran Sudut Anguler Lup Dengan Akomodasi Maksimum

    Perbesaran sudut anguler lup untuk mata berakomodasi maksimum dinyatakan dengan persamaan berikut:

    M = (Sn/f) + 1

    M = perbesaran anguler

    Sn = jarak baca normal

    f = jarak fokus lup

    Penggunaan Lup Dengan Mata Tanpa Akomodasi Atau Minimum

    Pengamatan tanpa akomodasi (akomodasi minimum) dengan lup berarti bayangan oleh lup harus di jauh tak hingga. Bayangan ini terjadi jika benda ditempatkan pada fokus lensa

    S = f

    Perbesaran Sudut Anguler Lup Tanpa Akomodasi

    Perbesaran sudut anguler lup untuk mata tanpa akomodasi dapat dinyatakan dengan persamaan berikut:

    M = (Sn/f)

    Contoh Soal Perhitungan Jarak Benda Dengan Jarak Fokus Lup Tanpa Akomodasi

    Sebuah benda diletakkan di depan lup pada jarak 10 cm. Jika jarak titik fokus lup 10 cm, tentukanlah perbesaran sudut lup.

    Diketahui

    Sn= PP = titik dekat mata (25 cm untuk mata normal), dan

    S = letak objek di depan lup.

    S = 10 cm

    Rumus Mencari Pembesaran Lup Pada Mata Tanpa Akomodasi

    Karena S = f = 10 cm, maka mata akan melihat bayangan dengan menggunakan lup tanpa akomodasi. Dengan demikian, perbesaran sudut lup dapat dinyatakan dengan rumus berikut

    M = Sn/f

    M = 25/10

    M = 2,5 kali

    Jadi perbesaran lup pada jarak benda sama jarak focus adalah 2,5 kali

    Contoh Soal Lainya Dan Pembahasan Ada Di Akhir Artikel

    Alat Optik Kamera

    Kamera merupakan alat optik yang menyerupai mata yang mampu merekam gambar dari suatu objek berupa tempat atau peristiwa. Elemen-elemen dasar kamera adalah sebuah lensa cembung, celah diafragma, dan film (pelat sensitif).

    Lensa cembung berfungsi untuk membentuk bayangan benda, celah diafragma berfungsi untuk mengatur intensitas cahaya yang masuk, dan film berfungsi untuk menangkap bayangan yang dibentuk lensa.

    Film terbuat dari bahan yang mengandung zat kimia yang sensitive terhadap cahaya (berubah ketika cahaya mengenai bahan tersebut). Pada mata, ketiga elemen dasar ini menyerupai lensa mata (lensa cembung), iris (celah diafragma), dan retina (film).

    Prinsip Kerja Kamera Film (bukan digital)

    Prinsip kerja kamera secara umum sebagai berikut. Objek yang hendak difoto harus berada di depan lensa. Ketika diafragma dibuka, cahaya yang melewati objek masuk melalui celah diafragma menuju lensa mata.

    Lensa mata akan membentuk bayangan benda. Supaya bayangan benda tepat jatuh pada film dengan jelas maka letak lensa harus digeser-geser mendekati atau menjauhi film.

    Mengeser-geser lensa pada kamera, seperti mengatur jarak fokus lensa pada mata (akomodasi).

    Contoh Soal Perhitungan Jarak Film Dan Lensa Kamera

    Panjang fokus lensa kamera adalah 50 mm dan kamera diatur untuk memotret benda yang jaraknya jauh. Jika ingin menggunakan kamera untuk memotret benda yang jaraknya 1,5 m dari kamera, maka tentukan jarak lensa dan film agar bayangan tetap terbentuk pada film tersebut.

    Diketahui:

    f = 50 mm

    S = 1,5m = 1500 mm

    Rumus Menghitung Jarak Antara Film Dan Lensa Kamera

    Jarak antara film dengan lensa kamera agar bayangan terbentuk pada film dapat dinyatakan dengan rumus berikut:

    1/f = 1/S + 1/S’ atau

    1/S’ = 1/f – 1/S

    1/S’ = 1/50 – 1/1500

    1/S’ = 30/1500 – 1/1500

    1/S” = 29/1500

    S’ = 1500/29

    S’ = 51.72 mm

    Jadi, lensa dan film harus berjarak 51,72 mm agar bayangan terbentuk tepat pada film.

    Contoh Soal Lainnya Dan Pembahasan Ada Di Akhir Artikel

    Alat Optik Teleskop Atau Teropong

    Teropong atau teleskop merupakan alat optik yang digunakan untuk mjelihat objek-objek yang sangat jauh agar tampak lebih dekat dan jelas.

    Fungsi Teleskop Teropong

    Teleskop berfungsi sebagai alat yang mampu membawa bayangan benda yang terbentuk menjadi lebih dekat sehingga tampak benda lebih besar.

    Bagian Bagian Teleskop Teropong

    Teleskop terdiri atas dua lensa positif yaitu lensa objektif dan lensa okuler

    Lensa Objektif Teleskop Teropong

    Lensa positif yang dekat dengan benda disebut lensa objektif, yang berfungsi untuk membentuk bayangan dari benda sejati dan terbalik.

    Lensa Okuler Teropog Teleskop

    Lensa yang dekat dengan mata disebut lensa mata atau lensa okuler yang berfungsi sebagai kaca pembesar sederhana untuk melihat bayangan yang dibentuk oleh lensa objektif.

    Letak benda sangat jauh sehingga bayangan yang dibentuk oleh lensa objektif berada pada titik fokus lensa objektif, dan jarak bayangan sama dengan panjang fokus lensa objektif.

    Kekuatan Perbesaran Lensa Teleskop Teropong

    Perbesaran teleskop M dapat dihitung dengan menggunakan persamaan seperti berikut:

    M = – fob/fok

    fok = jarak fokus lensa mata atau okuler, dan

    fob = jarak fokus lensa objektif.

    Jenis Jenis Teleskop Teropong

    Secara umum ada dua jenis teropong, yaitu teropong bias dan teropong pantul. Perbedaan antara keduanya terletak pada objektifnya. Pada teropong bias, objektifnya menggunakan lensa, yakni lensa objektif, sedangkan pada teropong pantul objektifnya menggunakan cermin.

    Teleskop Pantul

    Dalam pengembangan selanjutnya, lensa objektif diganti dengan sebuah cermin cekung besar yang berfungsi sebagai pemantul cahaya. Teleskop ini disebut teleskop pantul.

    Bagian Bagia Teleskop Pantul

    Teleskop pantul terdiri atas satu cermin cekung besar, satu cermin datar kecil dan satu lensa cembung untuk mengamati benda.

    Teropong jenis pantul menggunakan cermin cekung besar sebagai objektif untuk memantulkan cahaya, cermin datar kecil yang diletakkan sedikit di depan titik fokus cermin cekung F, dan sebuah lensa cembung yang berfungsi sebagai okuler.

    Teleskop Hubble

    Teleskop Hubble pertama kali diperkenalkan pada tahun 1990 oleh NASA.  Teleskop Habble merupakan pengembangan sari teleskop pantul yang digunakan untuk mengamati benda-benda langit.

    Contoh Soal Perhitungan Kekuatan Perbesaran Teleskop Teropong

    Suatu teleskop mempunyai lensa objektif dengan panjang fokusnya 20 m. Jika panjang fokus lensa mata 5 cm maka hitunglah kekuatan perbesaran teleskop ini.

    Diketahui:

    fok= jarak fokus lensa mata atau okuler, dan

    fok= 5 cm

    fob = jarak fokus lensa objektif.

    fob = 20 m = 2000

    Rumus Menghitung Kekuatan Perbesaran Lensa Teleskop Teropong

    Perbesaran teleskop M dapat dihitung dengan menggunakan persamaan seperti berikut:

    M = – fob/fok

    M = – 2000/5

    M = – 400

    Jadi perbesaran teleskop tersebut adalah 400 kali dan tanda negative menunjukkan bayangan terbalik.

    Contoh Soal Lainnya Dan Pembahasan Ada Di Akhir Artikel

    Teropong – Teleskop Bumi

    Teleskop – Teropong Bumi menggunakan tiga jenis lensa cembung yaitu lensa objektif, lensa okuler dan lensa pembalik.

    Lensa pembalik berada di antara lensa objektif dan lensa okuler. Lensa pembalik berfungsi untuk membalikan bayangan yang dibentuk oleh lensa objektif.

    Perbesaran Dan Panjang Teleskop Teropong Bumi

    Perbesaran teropong bumi untuk mata tanpa akomodasi dapat dirumuskan dengan menggunakan persamaan berikut

    M = fob/fok

    Panjang teropong bumi untuk mata tanpa akomodasi dapat dihitung dengan rumus seperti berikut

    d = fob + fok + 4fp

    fp = jarak fokus lensa pembalik.

    Contoh Soal Teleskop Teropong Bumi Menghitunga Jarak Antara Lensa Objektif Dan Lensa Okuler.

    Teropong bumi dengan jarak fokus lensa objektif  60 cm, jarak fokus lensa pembalik 7,5 cm, dan jarak fokus lensa okulernya 15 cm. Supaya mata melihat bayangan tanpa akomodasi, berapakah jarak antara lensa objektif dan lensa okuler teropong tersebut

    Diketahui

    fob = 60 cm

    fok = 15 cm

    fp = 7,5 cm

    Rumus Menentukan Jarak Lensa Objektif Dan Lensa Okuler Teleskop Bumi

    Jarak antara lensa objektif dan lensa okuler pada teropong bumi dapat dihitung dengan rumus berikut

    d = fob + fok + 4fp

    d  = 60 + 15 + 4(7,5)

    d = 105 cm

    Jadi jarak antara lensa objektif dan lensa okuler adalah 105 cm

    Teleskop Galileo – Teropong Panggung

    Teropong panggung atau teropong Galileo atau teropong Belanda menggunakan sebuah lensa cembung sebagai objektif dan sebuah lensa cekung sebagai okuler.

    Lensa cekung berfungsi sebagai pembalik bayangan yang dibentuk oleh lensa objektif dan sekaligus sebagai lup.

    Sifat bayangan yang dibentuk maya, tegak, dan diperbesar daripada bayangan yang dibentuk lensa objektif.

    Perbesaran Dan Panjang Teleskop Galileo Teropong Pangung

    Perbesaran teropong Galileo untuk mata tanpa akomodasi dapat dirumuskan dengan menggunakan persamaan berikut

    M = fob/fok

    Panjang teropong Galileo atau panggung untuk mata tanpa akomodasi dapat dihitung dengan rumus seperti berikut

    d = fob + (-fok) atau

    d = fob – fok

    Oleh karena lensa okulernya adalah lensa cekung maka fok bertanda negatif.

    Contoh Soal Menentukan Jarak Fokus Lensa Okuler Teropong Panggung Galileo

    Sebuah teropong Galileo atau panggung dipakai untuk melihat bintang yang menghasilkan perbesaran 8 kali. Jarak lensa objektif dan okulernya 35 cm. Teropong tersebut digunakan dengan mata tanpa akomodasi. Tentukanlah jarak fokus lensa okuler teropong tersebut.

    Diketahui

    M = 8 kali

    d = 35 cm.

    fok = … (lensa cekung bertanda negatif)

    Rumus Menghitung Jarak Fokus Lensa Okuler Teleskop Teropong Galilea

    Jarak focus lensa okuler teropong panggung dapat dihitung dengan rumus berikut

    d = fob – fok

    Perlu mencari nilai jarak focus lensa objektif fob dahulu

    Rumus Menghitung Jarak Focus Lensa Objektif Teleskop

    Jarak focus lensa objektif dapat dihitung dengan rumus berikut

    M = fob/fok

    fob = M.fok

    fob = 8 fok

    Sehingga jarak focus lensa okuler adalah

    d = fob + fok

    d = 8 fok – fok

    d = 7fok

    fok = 35/7

    fok = – 5 cm (lensa cekung tanda negative)

    Dengan demikian, jarak fokus lensa okulernya adalah 5 cm.

    Contoh Soal Lainnya Dan Pembahasan Ada Di Akhir Artikel

    Alat Optik Mikroskop

    Mikroskop adalah alat yang digunakan untuk melihat benda- benda kecil agar tampak jelas dan besar. Mikroskop sering digunakan untuk mengamati sel darah, hewan bersel satu, amuba, mata serangga dan sebagainya.

    Objek yang akan diamati harus diletakkan di depan lensa objektif pada jarak antara fob dan 2fob sehingga bayangannya akan terbentuk pada jarak lebih besar dari 2fob di belakang lensa objektif dengan sifat nyata dan terbalik.

    Kemudian bayangan oleh lensa objektif diteruskan pada lensa okuler. Lensa okuler mikroskop bertindak sebagai lup berarti bayangannya adalah maya, tegak diperbesar.

    Agar bayangan pada lensa okuler dapat dilihat atau diamati oleh mata, bayangan ini harus berada di depan lensa okuler dan bersifat maya.

    Hal ini dapat terjadi jika bayangan pada lensa objektif jatuh pada jarak kurang dari fok dari lensa okuler. Bayangan akhir oleh mikroskop adalah maya, terbalik, diperbesar.

    Rumus Panjang Mikroskop – Jarak Antara Lensa Objektif Dan Lensa Okuler

    Panjang mikroskop atau jarak antara lensa objektif dan lensa okuler adalah penjumlahan jarak bayangan objektif ke lensa objektif dengan jarak bayangan objektif ke lensa okuler atau dapat dirumuskan seperti berikut:

    d = S’ob + Sok

    d = panjang mikroskop,

    S’ob = jarak bayangan lensa objektif ke lensa objektif, dan

    Sok = jarak bayangan objektif ke lensa okuler.

    Rumus Perbesaran Sudut Total Mikroskop

    Perbesaran total yang dihasilkan oleh sebuah mikroskop merupakan perkalian antara perbesaran dari lensa objektif dan perbesaran dari lensa okuler. Perbesaran mikroskop dirumuskan seperti berikut

    M = Mob x Mok

    M = perbesaran total yang dihasilkan mikroskop,

    Mob = perbesaran yang dihasilkan lensa objektif, dan

    Mok = perbesaran sudut yang dihasilkan lensa okuler.

    Perbesaran Anguler Lensa Okuler Mikroskop Tanpa Akomodasi

    Perbesaran sudut yang dihasilkan oleh lensa okuler mikroskop mirip dengan perbesaran sudut lup yaitu untuk pengamatan tanpa akomodasi dan dirumuskan seperti berikut

    Mok = Sn/fok

    fok = panjang fokus lensa okuler.

    Rumus Perbesaran Anguler Lensa Okuler Mikroskop Dengan Akomodasi

    Perbesaran sudut yang dihasilkan oleh lensa okuler mikroskop dengan mata yang terakomodasi dirumuskan seperti berikut

    Mok = (Sn/fok) + 1

    Rumus Perbesaran Anguler Lensa Objektif Mikroskop

    Perbesaran sudut yang dihasilkan oleh lensa objektif mikroskop dapat dirumuskan seperti berikut

    Mob = S’ob/Sob

    Contoh Soal Perhitungan Perbesaran Mikroskop Pengamatan Tanpa Akomodasi

    Sebuah mikroskop memiliki jarak fokus lensa objektif dan lensa okuler masing masing 20 mm dan 10 cm. Sebuah benda ditempatkan 22 mm di depan lensa objektif. Tentukan perbesaran mikroskop pada pengamatan: (a) tanpa akomodasi, (b) berakomodasi maksimum, dan (c) berakomodasi pada jarak 50 cm.

    Diketahui:

    fob = 20 mm

    fok = 10 cm

    Sob = 22 mm

    Sn = 25 cm (jarak baca normal)

    Untuk dapat menentukan perbesaran mikroskop harus dihitung dahulu jarak bayangan lensa objektif dan lensa okuler.

    Rumus Menentukan Perbesaran Mikroskop Mata Tanpa Akomodasi

    Perbesaran total mikroskop tanpa berakomodasi dapat dirumuskan dengan persamaan berikut:

    M = Mob x Mok

    Mok = Sn/fok

    Mob = S’ob/Sob

    dari rumusnya diketahui bahwa untuk dapat menentukan perbesaran mikroskop harus dihitung dahulu jarak bayangan dan perbesaran oleh lensa objektif dan okuler.

    Rumus Menentukan Jarak Bayangan Dan Perbesaran Oleh Lensa Objektif

    Jarak bayangan yang ditimbulkan oleh lensa objektif dapat dihitung dengan rumus berikut

    1/S’ob = 1/fob – 1/Sob

    1/S’ob = 1/20 – 1/22

    1/S’ob = 11/220 – 10/220

    1/S’ob = 1/220

    S’ob = 220

    Jadi diperoleh Sob = 220 mm. Dengan demikian, perbesaran yang dihasilkan oleh lensa objektif adalah

    Rumus Perhitungan Perbesaran Oleh Lensa Objektif

    Perbesaran oleh lensa objetif

    Mob = S’ob/Sob

    Mob = 220/22

     Mob = 10 kali

    Rumus Menentukan Jarak Bayangan Dan Perbesaran Oleh Lensa Okuler

    Jarak bayangan yang ditimbulkan oleh lensa okuler adalah

    S’ = Sn

    Rumus Perhitungan Perbesaran Oleh Lensa Okuler Tanpa Akomodasi

    Perbesaran oleh lensa okuler tanpa akomodasi dihitung dengan rumus berikut

    Mok = Sn/fok

    Mok = 25/10

    Mok = 2,5 kali

    Rumus Perbesaran Total Mikroskop Pada Mata Tanpa Akomodasi

    Perbesaran total mikrokop untuk mata tanpa akomodasi adalah

    M = Mob x Mok

    M = 10 x 2,5

    M = 25 kali

    Jadi perbesaran mikroskop adalah 25 kali

    Contoh Contoh Soal Perhtiungan Alat Optik

    1). Contoh Soal Perhitungan Perbesaran Anguler Lup Pada Mata Tanpa Akomodasi

    Berapakah perbesaran anguler lup yang memiliki fokus 5 cm dengan mata tak berakomodasi

    Diketahui:

    f = 8 cm

    Sn = PP = Punctum Proximum

    Sn = 25 cm

    M = …

    Rumus Menentukan Perbesaran Anguler Lup Tanpa Akomodasi

    Perbesaran anguler lup tanpa akomodasi dapat dihitung dengan menggunakan rumus berikut

    M = Sn/f

    M = 25/5

    M = 5 kali

    Jadi perbesaran lup tanpa akomodasi adalah 5 kali

    2). Contoh Soal Perhitungan Jarak Benda Dari Lup Dengan Mata Berakomodasi Maksimum

    Sesorang yang memiliki mata normal menggunakan lup yang berkekuatan 25 dioptri. Tentukan jarak benda ke lup dan perbesaran angulernya jika pemgamatannya dengan mata berakomodasi maksimum,

    Diketahui

    P = 25 dioptri

    S = – Sn = – 25 cm

    Rumus Perhitungan Jarak Benda Dari Lup Berakomodasi Maksimum

    Rumus jarak benda dari lup dengan mata berakomodasi maksimum dapat dinyatakan dengan rumus berikut

    1/f = 1/S + 1/S

    Perlu menentukan jarak focus f terlebih dahulu

    Rumus Menentukan Jarak Fokus Lup

    Jarak focus lup dapat dinyatakan dengan rumus berikut

    P = 1/f ( f dalam m) atau

    P = 100/f (f dalam cm) sehingga jarak focus

    f = 100/25

    f = 4 cm

    Rumus Menentukan Jarak Benda Dari Lup

    Jarak benda dari lup dengan mata berakomodasi maksimum adalah

    1/f = 1/S + 1/S

    1/S = 1/f – 1/S

    1/S = 1/4 – 1/(-25)

    1/S = 25/100 + 4/100

    1/S = 29/100

    S = 100/29

    S = 3,45 cm

    Jadi jarak benda dari lup adalah 3,45 cm

    3). Contoh Soal Perhitungan Panjang Bayangan Benda Dengan Lup Tanpa Akomodasi

    Sebuah lup berfokus 10 cm digunakan untuk mengamati benda yang panjangnya 1 mm. Tentukan panjang bayangan benda apabila mata tak berakomodasi

    Diketahui :

    f = 10 cm,

    h = 1 mm = 0,1 cm

    Rumus Menentukan Panjang Bayangan Benda Dengan Lup Tanpa Akomodasi

    Panjang bayangan benda yang diamati oleh lup dapat dinyatakan dengan rumus berikut

    h’ = M x h

    perlu mencari perbesaran lup M dahulu

    Menentukan Perbesaran Anguler Lup Tanpa Akomodasi

    Perbesaran anguler lup tanpa akomodasi dapat rumuskan dengan persamaan berikut

    M = 25/f

    M = 25/10

    M= 2,5 kali

    Sehingga Panjang bayangan benda adalah

    h’ = 2,5 x 0,1 cm

    h’ = 0,25 cm atau

    h’ = 2,5 mm

    jadi bayangan benda adalah 2,5 mm

    4). Contoh Soal Menentukan Panjang Bayangan Benda Pada Lup Dengan Mata Berakomodasi Maksimum

    Seorang siswa sedang mengamati benda yang panjangnya 5 mm dengan menggunakan sebuah lup berfokus 5 cm Tentukan panjang bayangan benda apabila mata berakomodasi maksumum

    Diketahui

    f = 5 cm

    h = 5 mm = 0,5 cm

    Rumus Menentukan Panjang Bayangan Benda Pada Lup Mata Berakomodasi Maksimum

    Panjang bayangan benda yang diamati oleh lup dengan mata berakomodasi maksimum dapat dinyatakan dengan rumus berikut

    h’ = M x h

    perlu mencari nilai M dahulu

    Rumus Menentukan Perbesaran Anguler Lup Mata Berakomodasi Maksimum

    Perbesaran anguler lup dengan mata berakomodasi maksimum dapat dirumuskan dengan persaaan berikut

    M = 25/f + 1

    M = 25/5 + 1

    M = 6 kali

    Sehingga Panjang bayangan benda oleh lup adalah

    M = 6 x 2,5

    M = 15 mm

    jadi Panjang bayangan benda oleh lup adalah 15 mm

    5). Contoh Soal Perhitungan Geser Lensa Kamera Agar Fokus Bayangan Benda

    Jarak fokus lensa sebuah kamera adalah 60 mm. Kamera tersebut diatur untuk memfokuskan bayangan benda pada jauh tak terhingga. Berapa jauh lensa kamera harus digeser agar dapat memfokuskan bayangan benda yang terletak pada jarak 1,8 m

    Dikehaui:

    S = 1,8 m = 1800 mm

    S’ = f = 60 mm kondisi mula mula

    S’ = …. kondisi untuk 1,8 m

    Rumus Menghitung Jarak Lensa Kamera Agar Bayangan Benda Fokus

    Ketika digunakan untuk memfokuskan benda yang letaknya jauh di tak terhingga, bayangan benda tersebut akan tepat berada di titik fokus lensa. Dengan kata lain, S’ = f = 60 mm.

    Namun ketika jarak benda ke lensa, S = 1,8 = 1800  mm, maka jarak bayangannya berubah dan dapat dinyatakan dengan rumus berikut:

    1/f = 1/S + 1/S’

    1/S’ = 1/f – 1/S

    1/S’ = 1/60 – 1/1800

    1/S’ = 30/1800 – 1/1800

    1/S’ = 19/1800

    S’ = 1800/29

    S’ = 62,07mm

    Jarak bayangan dari lensa adalah 62,07 mm sehingga agar bayangan focus maka lensa harus digeser sejauh:

    62,07 mm – 60 mm = 2,07 mm.

    Jadi lensa harus digeser sejauh 2,07 mm

    6). Contoh Soal Teleskop Teropong Menentukan Kekuatan Perbesaran Dari Kekuatan Daya Lensa Objetif Dioptri.

    Suatu teleskop mempunyai lensa objektif dengan kekuatan daya lensa 0,025 D (dioptri). Jika panjang fokus lensa mata 20 cm maka hitunglah kekuatan perbesaran teleskop ini.

    Diketahui:

    Daya lensa objektif P = 0,025 dioptri

    fok = 20 cm

    Rumus Menghitung Perbesaran Teleskop

    Perbesaran teleskop M dapat dihitung dengan menggunakan persamaan berikut:

    M = – fob/fok

    harus mencari nilai jarak focus lensa objektif dahulu fo

    Rumus Menentukan Jarak Fokus Lensa Objektif Teleskop Teropong

    Jarak focus lensa objektif teleskop dapat dinyatakan dengan rumus berikut

    P = 1/fob  (fob dalam m)

    fob = 1/P

    fob = 1/0,025

    fob = 40 m = 4000 cm

    Sehiingga perbesaran teleskopnya adalah

    M = 4000/20

    M = -200 kali

    Jadi perbesaran teleskop M adalah 200 kali

    Hal yang perlu diperhatikan dalam hal teleskop astronomis adalah kekuatan pengumpulan cahayanya bukan pada kekuatan perbesaran teleskop. Hal ini disebabkan semakin besar objektifnya maka akan semakin terang bayangannya.

    7). Contoh Soal Perhitungan Perbesaran Dan Panjang Teleskop Teropong Bintang

    Sebuah teropong bintang memiliki lensa objektif dengan jarak fokus 120 cm dan lensa okuler dengan jarak fokus 40 cm. Teropong bintang tersebut dipakai untuk melihat benda-benda langit dengan mata tak berakomodasi. Tentukanlah

    a). Perbesaran teropong – teleskop

    b). Ranjang teropong – teleskop

    Diketahui:

    fok= 40 cm

    fob = 120 cm

    Rumus Menghitung Perbesaran Teleskop Bintang

    Perbesaran dari teropong bintang dapat dihitung dengan rumus berikut

    M = – fob/fok

    M = – 120/40

    M = 3 kali

    Rumus Perhitungan Panjang Teropong Bintang

    Panjang teropong untuk mata tak berakomodasi dapat dinyatakan dengan persamaan berikut

    d = fob + fok

    d = 120 + 40

    d = 160 cm

    Jadi Panjang teropong teleskop bintang adalah 160 cm

    8). Contoh Soal Perhitungan Panjang Teleskop Galileo

    Sebuah teleskop Galileo memiliki perbesaran anguler 15 kali dan memiliki jarqak fokus objeltif 150 cm. Teleskop digunakan untuk menyelidiki sebuah benda langit. Hitunglah Panjang teleskop Galilei tersebut.

    Diketahui:

    fob = 160 cm

    M = 16 kali

    Rumus Menghitung Jarak Focus Lensa Okuler Teleskop Galileo

    Jarak focus lensa objektif dapat dihitung dengan rumus berikut

    M = fob/fok

    fok =fob/M.

    fok  = 150/15

    fok = -10 cm

    Lensa okuler Teleskop Galileo merupakan lensa cekung sehingg jarak fokusnya bertanda negative.

    Menentukan Panjang Teleskop Galileo

    Panjang teleskop Galileo dapat dirumuskan dengan menggunakan rumus berikut:

    d = fob + fok

    d = 150 + (-10)

    d = 140 cm

    Jadi panjag teleskop Galileo adalah 140 cm

    Daftar Pustaka:

    1. Sears, F.W – Zemarnsky, MW , 1963, “Fisika untuk Universitas”, Penerbit Bina Cipta, Bandung,
    2. Giancoli, Douglas C. 2000. Physics for Scientists & Engineers with Modern Physics, Third Edition. New Jersey, Prentice Hall.
    3. Halliday, David, Robert Resnick, Jearl Walker. 2001. Fundamentals of Physics, Sixth Edition. New York, John Wiley & Sons.
    4. Tipler, Paul, 1998, “Fisika untuk Sains dan Teknik”, Jilid 1,Pernerbit Erlangga, alih bahasa: Prasetyo dan Rahmad W. Adi, Jakarta.
    5. Tipler, Paul, 2001, “Fisika untuk Sains dan Teknik”, Jilid 2, Penerbit Erlangga, alih bahasa: Bambang Soegijono, Jakarta.
    6. Ganijanti Aby Sarojo, 2002, “Seri Fisika Dasar Mekanika”, Salemba Teknika,
    7. Giancoli, Douglas, 2001, “Fisika Jilid 1, Penerbit Erlangga, Jakarta.
    8. Ringkasan Rangkuman: Alat optik adalah alat bantu penglihatan yang berguna untuk mengamati benda-benda yang tidak jelas dilihat oleh mata.
    9. Alat optik antara lain mata, kamera, lup, mikroskop dan teleskop.
    10. Lup adalah alat optik yang hanya mempunyai satu lensa. Lup digunakan untuk melihat benda yang kecil agar tampak lebih besar.
    11. Kamera adalah alat yang digunakan untuk merekam gambar. Kamera terdiri atas kamera dengan menggunakan film dan tidak menggunakan film.
    12. Mikroskop adalah alat untuk melihat benda-benda yang sangat kecil pada jarak yang sangat dekat.
    13. Lensa objektif adalah lensa yang berada terdekat dengan benda.
    14. Lensa okuler adalah lensa yang berada terdekat dengan mata.
    15. Teleskop adalah alat optik yang digunakan untuk melihat bendabenda besar yang letaknya sangat jauh.
    16. Jenis Alat Optik: Pengertian Fungsi Lup Kamera Mikroskop Teleskop Kacamata Contoh Soal Rumus Perhitungan Lensa Objektif Okuler Perbesaran Jarak Fokus,

     

    Pameran Seni: Pengertian Tujuan Manfaat Fungsi Jenis Apresiasi Aktif Pasif Unsur Persyaratan Perlengkapan Penyelenggaraan Laporan

    Pengertian Pameran Seni: Pameran adalah aktivitas yang dilakukan oleh seniman untuk menyampaikan hasil perwujudan dari ide atau gagasannya ke pada publik melalui media karya seni.


    Pada kegiatan pameran diharapkan terjadi komunikasi antaran perupa yang diwakili oleh karya seninya dengan apresiator.

    Tujuan dan Manfaat Pameran Karya Seni

    Tujuan penyelenggaraan pameran di antaranya adalah tujuan sosial, tujuan komersial, dan tujuan kemanusian.

    Tujuan Sosial Pameran Karya Seni

    Tujuan sosial berarti kegiatan pameran baik skala luas di masyarakat maupun skala terbatas di kalangan tertentu yang dipergunakan untuk kepentingan sosial.

    Hasil penjualan karya seni yang dipamerkan disumbangkan kepada pihak piha yang membutuhkan bantuan dana seperti yayasan yatim piatu, pendidikan anak cacat, dan membantu orang yang membutuhkan bantuan lainnya.

    Tujuan Komersial Pameran Karya Seni

    Tujuan komersial pameran adalah kegiatan pameran seni yang berorientasi untuk menghasilkan profit atau keuntungan baik bagi seniman maupan untuk penyelenggara pameran.

    Dengan kegiatan pameran, seniman dapat menjual karyanya kepada masyarakat atau apresiator dan kolektor karya seni. Sedangkan tujuan kemanusiaan kegiatan pameran

    Tujuan Kemanusiaan Pameran

    Tujuan kemanusiaan pameran adalah untuk kepentingan pelestarian, pembinaan nilai-nilai, dan pengembangan hasil karya seni budaya yang dimiliki oleh masyarakat.

    Manfaat Penyelengaraan Pameran

    Penyelenggaraan pameran memiliki manfaat di antaranya adalah

    1).  Menumbuhkan dan menambah kemampuan masyarakat secara umum dalam memberi apresiasi terhadap karya orang lain;

    2). Menambah wawasan dan kemampuan dalam memberikan evaluasi karya secara lebih objektif;

    3). Membangkitkan motivasi dalam berkarya seni; dan

    4). Sarana komunikasi antara seniman dengan masyarakat luas

    Fungsi Pameran Karya Seni Rupa

    Fungsi utama kegiatan pameran adalah sebagai alat komunikasi antara seniman sebagai pencipta seni dengan apresiator sebagai pengamat seni dan masyarakat pada umumnya.

    Pameran seni rupa pada hakekatnya dapat menumbuhkembangkan apresiasi seni pada masyarakat dan sebagai media komunikasi antara seniman dengan masyarakat.

    Fungsi pameran dibagi menjadi empat kategori, yaitu fungsi apresiasi, fungsi edukasi, fungsi rekreasi, dan fungsi prestasi.

    Fungsi Apresiasi Pameran Karya Seni

    Fungsi apresiasi merupakan kegiatan untuk memberikan penilaian dan penghargaan terhadap hasil karya seni.

    Kegiatan pameran dapat menumbuhkan sikap menghargai dari para pengamat atau apresiator terhadap suatu karya seni.

    Pameran karya dapat melahirkan dua apresiasi yaitu apresiasi aktif dan apresiasi pasif.

    • Apresiasi Aktif Pameran Seni Rupa

    Apresiasi aktif merupakan sikap yang timbul pada seniman seteleh menyaksikan pameran termotivasi terdorong untuk mencipa karya seni.

    • Apresiasi Pasif Pameran Seni Rupa

    Apresiasi pasif meruakan sikap terjadi pada orang awam setelah menyaksikan pameran umumnya dapat menghayati, memahami dan menilai serta menghargai karya seni.

    Fungsi Edukasi Pameran Karya Seni

    Fungsi edukasi atau Pendidikan merupakan kegiatan pameran karya seni yang dapat memberikan nilai- nilai yang bersifat pembelajaran terhadap masyarakat terutama apresiator, seperti nilai keindahan, nilai sejarah, nilai budaya, dan sebagainya.

    Pameran diselenggarakan dengan harapan mendapat apresiasi dan tanggapan dari pengunjung untuk meningkatkan kualitas berkarya selanjutnya.

    Fungsi Rekreasi Pameran Karya Seni

    Fungsi rekreasi merupakan kegiatan pameran yang dapat memberikan rasa senang sehingga dapat memberikan nilai psikis dan spiritual terutama hiburan terhadap masyarakat.

    Melalui pameran karya seni, para apresiator menjadi senang, tenang dan memberikan pencerahan. Menyaksikan sebuah pameran karya akan memperoleh fungsi seni lain yaitu katarsis atau pengobat jiwa.

    Fungsi Prestasi Pameran Karya Seni

    Fungsi prestasi merupakan kegiatan pameran yang dapat memberikan penilaian atas kemampuan para seniman. Kemampuan para seniman dapat disaksikan dinilai dari bentuk-bentuk kreasi yang ditampilkan.

    Apresiator dapat memberi penilaian terhadap seniman yang menciptakan karya seni kreatif atau kurang kreatif.

    Jenis Pameran Karya Seni Rupa

    Pemeran dapat dibagi menjadi beberapa jenis pameran yaitu Pameran Tetap (Permanent Exhibition), Pameran Temporer (Temporary Exhibition), dan Pameran Keliling (Traveling Exhibition)

    Pameran Tetap Karya Seni Rupa Permanent Exhibition

    Pameran tetap seni rupa dilakukan oleh lembaga profesional atau pemerintah seperti pameran untuk menyajikan karya- karya koleksi oleh galeri, museum, dan sebagainya. Waktu penyelenggarannya dilakukan secara periodik misalnya satu tahun sekali.

    Pameran Temporer Karya Seni Rupa, Temporary Exhibition

    Pameran temporer dilakukan berdasarkan kebutuhan penyelenggara dan pihak- pihak terkait lainnya. Adapun Pola Pameran Temporer adalah:

    a). Pameran Tunggal – Pameran Bersama Karya Seni Rupa

    Pameran tunggal merupakan pameran yang dilakukan perorangan dengan menampilkan karya seni sendiri.

    Pameran Bersama merupakan pameran dengan materi yang dipamerkan  adalah karya- karya seni lebih dari satu seniman.

    Biaya pameran Bersama ditanggung secara Bersama oleh seniman yang ikut dalam pameran. Pelaksanaan pameran dapat dilakukan antara 1 sampai 3 minggu.

    b). Pameran Kerja Sama Karya Seni Rupa

    Pameran kerja sama merupakan pameran yang  dilaksanakan berdasarkan kerjasama antara dua pihak atau lebih.

    Kegiatan kerja sama dapat dilakukan antar lembaga pemerintah, antarlembaga pemerintah dengan swasta, atau pihak pemerintah dengan negara lain.

    Pihak yang dapat melaukan kerjasama dapat berupa lembaga/ organisasi kebudayaan/ kesenian, museum, galeri, dan Pusat-Pusat Kebudayaan negara sahabat.

    Waktu penyelenggaraan pameran kerja sama ini umumnya dilaksanakan antara 2 minggu sampai 1 bulan. Biaya penyelenggaraan pameran ditanggung bersama.

    c). Pameran Khusus Karya Seni Rupa

    Pameran khusus merupakan pameran yang biaya peleksanaannya ditanggung oleh lembaga tertentu misalnya oleh Galeri Nasional Indonesia, museum dan lembaga lain.

    Adapun karya seni yang dipamerkan dapat merupakan koleksi lembaga tersebut atau milik seniman atau kolektor lainnya. Waktu penyelenggaraan pameran khusus dapat dilakukan antara 2 atau 3 kali dalam setahun.

    Pameran Keliling Karya Seni Rupa, Traveling Exhibition,

    Pameran keliling merupakan pameran yang dilakukan dengan cara menampilkan karya- karya seni dari satu tempat ke tempat lain atau berpindah pindah tempat.

    Karya seni yang dipamerkan adalah karya seni yang menjadi koleksi lembaga profesional atau pemerintah seperti Galeri Nasional Indonesia, musium, maupun karya seniman di luar instansi tersebut ke berbagai daerah di Indonesia dan atau di luar negeri.

    Kegiatan ini merupakan kerjasama antar berbagai pihak. Waktu penyelenggaraan pameran minimal berlangsung selama 10 hari.

    Unsur-Unsur Persyaratan Perlengkapan Pameran Karya Seni rupa

    Penyelenggaraan pameran memerlukan beberapa persyaratan dan perlengkapan yaitu sarana dan prasarana seperti: materi, ruangan, waktu, peserta, panitia, curator, peralatan pendukung.

    Materi Pameran Karya Seni Rupa

    Materi pameran adalah karya seni yang akan dipertunjukan atau dipamerkan seperti gambar, lukisan, patung, kriya, seni grafis, seni tapestri dan seni instalasi atau hasil karya seni lainnya.

    Menurut wujudnya karya seni rupa dapat berupa karya seni dua dimensi maupun karya seni rupa tiga dimensi.

    Menurut jenisnya, karya yang dapat dipamerkan dapat berupa karya seni murni seperti patung, lukisan, seni grafis dan karya seni terapan seperti seni kerajinan, desain, dll.

    Ruang Tempat Pameran Karya Seni Rupa

    Ruangan untuk kegiatan pameran seni rupa dapat menggunakan aula atau ruang kelas. Penataan Tempat harus memiliki penunjang yang sesuai dengan karya yang digelar seperti galeri, museum, sanggar, hotel, Gedung kesenian, Gedung sekolah dan lainnya.

    • Galeri Pameran Seni

    Galeri merupakan gedung atau ruangan tempat menyimpan dan memamerkan benda atau karya seni.

    • Museum Pameran Seni

    Museum merupakan tempat menyimpan hasil kebudayaan fisik yang berasal dari berbagai kurun waktu. Biasanya memiliki ruangan untuk dipakai tempat kegiatan seni.

    • Sanggar Pameran Seni

    Sanggar:tempat berlatih atau berkarya seni dan sekaligus sebagai tempat menggelar dan memajang karya.

    • Hotel Pameran Seni

    Hotel merupakan tempat kegiatan umum yang memiliki fasilitas tertentu, termasuk ruangan khusus yang dapat dimanfaatkan untuk pameran.

    • Gedung Kesenian

    Gedung kesenian merupakan tempat khusus untuk kegiatan-kegiatan kesenian.

    • Gedung Sekolah Pendidikan Dan Lainnya

    Sekolah dapat digunakan untuk pameran baik dikelas atau ruang kesenian atau aula dan tempat yang disiapkan secara khusus untuk pameran.

    Waktu Pameran Karya Seni Rupa

    Waktu pameran adalah waktu pelaksanan pameran dengan mempertimbangkan antara lain, waktu luang pengunjung, saat kunjungan wisata, liburan nasional, saat ada even tertentu, dan lain sebagainya.

    Peserta Pameran Karya Seni Rupa

    Peserta yang ikut dalam pameran akan memberikan daya tarik tersendiri bagi masyarakat terutama kalangan masyarakat yang menggemari karya- karya yang dibuat oleh seniman tertentu.

    Panitia Pameran Karya Seni Rupa

    Pelaksanaan pameran memerlukan sejumlah orang yang terkoordianasi secara baik. Kegiatan pameran akan lebih mudah dilaksanakan jika dibentuk kepanitiaan atau diselenggarakan khusus oleh even organiser.

    Kurator Pameran Karya Seni Rupa

    Kurator merupakan orang yang tugasnya memelihara, mengoleksi, menyeleksi dan menyajikan berbagai karya atau artefak seni.

    Namun dalam perkembangannya tugas kurator menjadi lebih luas fungsinya yaitu sebagai perancang, menentukan tema, memilih seniman dan karya, memberikan pengantar pemaknaan bagi karya yang dipamerkan dan lainnya.

    Alat Penunjang Pameran Karya Seni Rupa

    • Panel Pameran Seni Rupa

    Panel adalah Papan peraga berbentuk persegi panjang terbuat dari lembaran papan, logam, atau bahan lain digunakan untuk menempelkan foto, gambar, dan teks.

    • Standar Display Pameran Seni Rupa

    Standar display adalah penopang untuk menyimpan benda tiga dimensi yang berbentuk kotak atau kubus, terbuat dari papan atau lembaran lain.

    • Katalog Pameran Seni Rupa

    Katalog adalah  buku yang berisikan nama pelukis, lukisan dan informasi lainnya yang ingin disampaikan secara teratur, berurutan dan alfabetis.

    • Alat lain Pameran Seni Rupa

    Beberapa alat lain yang digunakan dalam penyelenggaraan pameran seni adalah lampu, undangan, dan fasilitas gedung lainnya.

    Contoh Pameran Karya Seni Rupa

    Pameran Seni Rupa: Pengertian Tujuan Manfaat Fungsi Jenis Unsur Perencanaan Pelaksanaan
    Gambar Contoh Pameran Seni Rupa Manfaat Jenis Tujuan

    Perencanaan Pameran Seni Rupa

    Perencanaan yang sistematis sebuah pameran bertujuan agar pameran berjalan lancar sesuai dengan yang diharapkan. Adapum  tahapan umum dalam perencanaan penyelenggaran pameran seni rupa adalah menentukan tujuan, Menyusun panitia, menentukan waktu dan tampat, Menyusun kegiatan, membuat proposal.

    1). Menentukan Tujuan Pameran Seni Rupa

    Langkah awal dalam menyusun program pameran adalah menetapkan tujuan pameran tersebut.

    2). Menentukan Tema Pameran Seni Rupa

    Tema pameran ditentukan setelah tujuan pameran ditentukan. Penentuan tema berfungsi untuk memperjelas tujuan yang akan dicapai. Tema dapat memperjelas misi pameran yang akan dilaksanakan.

    3). Menyusun Kepanitiaan

    Penyusunan struktur organisasi kepanitiaan pameran disesuaikan dengan tingkat kebutuhan, situasi, dan kondisi sekolah. Umumnya struktur kepanitiaan sebuah pameran terdiri dari panitian inti dan dibantu dengan seksi- seksi.

    • Ketua Panitia Pameran

    Ketua panitia adalah pimpinan penyelenggaraan pameran yang bertanggungjawab terhadap kelancaran pelaksanaan pameran.

    Ketua harus  memiliki sikap kepemimpinan yang tegas dan jujur yang disertai sifat sabar dan bijaksana penuh rasa tanggung jawab terhadap tugas dan kewajiban yang telah menjadi garapannya.

    Ketua harus mampu berkomunikasi dan bekerja sama dengan berbagai pihak, yang mendukung kegiatan pameran.

    • Wakil Ketua Panitia Pameran

    Wakil ketua adalah pendamping ketua, bertanggung jawab atas kepengurusan berbagai hal dan memperlancar kegiatan seksi-seksi, juga mengganti (melaksanakan) tugas ketua, apabila ketua berhalangan.

    Wakil ketua harus memiliki sikap tegas, jujur, sabar, serta memiliki rasa tanggung jawab atas pekerjaan.

    • Sekretaris Panitia Pameran

    Tugas pokok sekretaris dalam suatu kegiatan pameran atau suatu organisasi di antaranya menulis seluruh kegiatan panitia selama penyelenggaraan pameran. Mengurus surat perizinan kegiatan.

    Sekretaris juga bertugas mengarsipkan surat-surat penting pelaksanaan dan menyusunnya sesuai tanggal, waktu pengeluaran surat-surat tersebut secara cermat dan teratur.

    Sekretaris bersama ketua, membuat laporan kegiatan sebelum, sedang dan sesudah pergelaran berlangsung.

    • Bendahara Panitia Pameran

    Bendahara bertanggung jawab secara penuh tentang penggunaan, penyimpanan, dan penerimaan uang dana yang masuk sebagai biaya penyelenggaraan pameran.

    Bendahara harus menyusun laporan pertanggungjawaban atas penggunaan dan pengelolaan keuangan selama pameran berlangsung.

    Bendahara harus  memiliki sikap yang jujur, teliti, cermat, sabar, tidak boros.

    • Seksi Kesekretariatan Panitia Pameran

    Seksi Kesekretariatan bertugas membantu sekretaris dalam membuat dokumen tertulis seperti surat-menyurat, penyusunan proposal kegiatan, dan mencatat segala sesuatu yang terjadi hingga pameran selesai.

    • Seksi Usaha Panitia Pameran

    Seksi usaha bertugas membantu Ketua dalam pencarian dana atau sumbangan dari berbagai pihak, untuk menutupi biaya pameran.

    Beberapa usaha untuk memperoleh dana, misalnya dari iuran peserta pameran, sumbangan dari siswa secara kolektif, sumbangan dari donatur atau para simpatisan terhadap diselenggarakannya pameran, baik berupa uang atau barang yang sangat diperlukan dalam penyelenggraan kegiatan tersebut.

    • Seksi Publikasi dan Dokumentasi Panitia Pameran

    Seksi publikasi bertugas sebagai juru penerang kepada umum melalui berbagai media, seperti dengan surat- surat pemberitahuan, spanduk kegiatan, pembuatan poster pameran, katalog, undangan, dan sebagainya.

    • Seksi Dekorasi dan Penataan Ruang Panitia Pameran

    Seksi Dekorasi dan Penataan Ruang pameran bertugas mengatur tata ruang pameran, mengatur denah dan penempatan karya yang dipamerkan.

    • Seksi Stand Panitia Pameran

    Seksi stand atau petugas stand bertugas menjaga kelancaran pameran, mengatur, mengarahkan pengunjung mulai dari masuk sampai ke luar dari ruang pameran.

    Petugas penjaga stand diharapkan melayani para pengunjung secara ramah dan sopan membantu memberikan informasi tentang karya-karya yang dipamerkan.

    • Seksi Pengumpulan dan Seleksi Karya Penitia Pameran

    Karya yang akan dipamerkan dikumpulkan dan dipilih, dikategorikan sesuai dengan tema pameran yang ditentukan.

    Seksi pengumpulan dan seleksi karya bertugas melakukan pencataan dan pendataan karya (nama seniman, judul, tahun pembuatan, kelas, harga, dll) serta melakukan pemilihan karya yang akan dipamerkan.

    • Seksi Perlengkapan Panitia Pameran

    Seksi Perlengkapan memiliki tugas untuk mengatur berbagai perlengkapan seperti alat dan fasilitas lain yang digunakan dalam penyelenggaraan pameran.

    Seksi perlengkapan bekerjasama dengan seksi dekorasi dan penataan ruang mempersiapkan tempat penyelenggaraan pameran serta berkordinasi secara khusus dengan seksi pengumpulan dan seleksi karya dalam pengumpulan dan pemilihan karya.

    • Seksi Keamanan Panitia Pemeran

    Tugas seksi keamanan dinataranya menjaga ketertiban dan keamanan lokasi pamerankhususnya kemanan karya-karya yang dipamerkan.

    • Seksi Konsumsi

    Seksi Konsumsi bertugas menyediakan dan mengatur konsumsi ketika pembukaan pameran tersebut.

    Seksi konsumsi bertanggung jawab menyediakan dan mengatur konsumsi dalam kegiatan kepanitian pameran.

    4). Menentukan Waktu dan Tempat Pameran Seni Rupa

    Ruangan untuk kegiatan pameran seni rupa dapat menggunakan aula atau ruang kelas. Penataan Tempat harus memiliki penunjang yang sesuai dengan karya yang digelar seperti galeri, museum, sanggar, hotel, Gedung kesenian, Gedung sekolah dan lainnya.

    Waktu pameran adalah waktu pelaksanan pameran dengan mempertimbangkan antara lain, waktu luang pengunjung, saat kunjungan wisata, liburan nasional, saat ada even tertentu, dan lain sebagainya.

    5). Menyusun Agenda Kegiatan Pameran Seni Rupa

    Agenda kegiatan merupakan tahapan pelaksanaan kegiatan untuk disampaikan kepada semua pihak yang berkaitan dengan proses penyelenggaraan pameran.

    Agenda kegiatan disusun dalam sebuah tabel dengan mencantumkan komponen jenis kegiatan dan waktu umumya dalam bulan, minggu dan tanggal.

    6). Menyusun Proposal Kegiatan Pameran Seni Rupa

    Proposal kegiatan dapat digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pameran. Proposal  digunakan untuk mencari dana dari berbagai pihak(sponsorship) untuk membantu kelancaran penyelenggaraan pameran.

    Proposal berisi latar belakang, tema, nama kegiatan, landasan/ dasar penyelenggaraan, tujuan kegiatan, susunan panitia, anggaran biaya, jadwal kegiatan, ketentuan sponsorship, dan lain-lain.

    Penyelenggaraan Pameran Karya Seni Rupa

    Pelaksanaan pameran mencakup kegiatan pelaksanaan kerja panitia secara bersama-sama, penataan ruang, pelaksanaan pameran dan penyususnan laporan.

    1). Pelaksanaan Kerja Kepanitiaan Seni Rupa

    Pelaksanaan pameran merupakan kegiatan utama dari rencana yang telah disusuun pada tahap perencanaan pameran.

    Pelaksanaan kegiatan dilakukan oleh semua pihak khususnya panitia pameran melakukan kerjasama dan menyatakan kesiapannya dalam menyongsong ksesuksesan pameran ini.

    2). Penataan Ruang Pameran Seni Rupa

    Panitia pameran terlebih dulu membuat rancangan fisik pameran untuk mengatur arus pengunjung, komposisi penataan yang serasi, pengaturan jarak pandang dan tinggi rendah pandangan terhadap karya dua dimensi dan tiga dimensi.

    3). Evaluasi Pelaksanaan Pameran Seni Rupa

    Evaluasi dilakukan untuk mengetahui kesesuaian antara perencannaan dengan actual pelaksanaan dari semua aspek yang sudah direncanakan.

    4). Laporan Kegiatan Pameran Seni Rupa

    Laporan kegiatan pameran merupakan pertanggungjawaban atas pelaksanaan pameran. Laporan ini kemudian ditujukan menyelenggarakan kegiatan ini dalam bentuk tulisan.

    Secara singkat, isi laporan pertanggungjawaban kegiatan pameran adalah sebagai berikut: Latar Belakang, Tujuan, Sasaran, Manfaat, Susunan Kepanitiaan, Materi Pameran, Waktu dan Tempat Penyelenggaraan, Pemasukan dan Pengeluaran Dana, Kesan dan Pesan Pengunjung, Hambatan dan Kendala, Penutup

      Daftar Pustaka:

      1. Setiawati, Puspita, 2004, “Kupas Tuntas Teknik Proses Membatik”, Absolut, Yogyakarta.
      2. Wartono, Teguh, 1984, “Pengantar Pendidikan Seni Rupa”, Penerbit Yayasan Kanisius, Yogyakarta.
      3. Darmawan, Budiman, 1988, “Penuntun Pelajaran Seni Rupa”, Ganeca Exact, Bandung.
      4. Sumardjo J., 2010, “Filsafat Seni”, Penerbit PT. Gramedia, Jakarta
      5. Sumardjo, J., 2000, “Filsafat Seni”, Penerbit ITB, Bandung.
      6. Soedarsono, sp., 1990, “Tinjauan seni. Sebuah pengantar untuk apresiasi seni”, Suku Dayar Sana, Yogyakarta.
      7. Hadiatmojo, Supardi, 1990, “Sejarah Seni Rupa Eropa”, IKIP Semarang Press, Semarang.
      8. Sachari. Agus, 1986, “Seni, Desain dan Teknologi”, Pustaka, Bandung.
      9. Sahman, Humar, 1993, “Mengenal Dunia seni Rupa”, IKIP Semarang, Semarang.
      1. Rangkuman Ringkasan: Pameran merupakan kegiatan yang dilakukan oleh seniman baik secara perorangan maupun kelompok untuk menyampaikan ide atau gagasannya ke pada publik melalui media karya seni sehingga melalui kegiatan ini diharapkan terjadi komunikasi antaran seniman yang diwakili oleh karya seninya dengan apresiator.
      2. Fungsi pameran terdiri empat kategori, yaitu fungsi apresiasi, fungsi edukasi, fungsi rekreasi, dan fungsi prestasi.
      3. Tujuan penyelenggaraan pameran di antaranya: tujuan sosial, tujuan komersial, dan tujuan kemanusian.
      4. Menurut jenisnya, penyelenggaraan pameran seni rupa dibagi menjadi Pameran Tetap, Pameran Temporer (yang termasuk jenis pameran ini adalah pameran tunggal/bersama, pameran kerjasama, dan pameran khusus) dan Pameran Keliling
      5. Persyaratan yang harus dipenuhi dalam penyelenggaraan pameran di antaranya: 1) karya seni yang akan dipamerkan; 2) pihak panitia penyelenggara pameran; 3) pengunjung pameran; dan 4) tempat pameran.

       

       

       

      Gambar Ilustrasi: Pengertian Fungsi Deskriptif Ekspresi Analitis Struktural Kualitatif, Tujuan Jenis Unsur Dasar Contoh Teknik Kering Basah

      Pengertian Gambar Ilustrasi: Kata ilustrasi berasal dari bahasa latin ilustrate yang artnya menjelaskan. Dalam bahasa Inggris adalah illustration yang artinya menghiasi dengan gambar- gambar.


      Sehingga Gambar Ilustrasi dapat didefiniskan sebagai gambar yang berfungsi untuk penghias dan membantu menjelaskan suatu teks, kalimat, naskah, dan lain-lain pada buku, majalah, iklan, dan sejenisnya agar lebih mudah dipahami.

      Menggambar ilustrasi adalah cara menggambar yang lebih mengutamakan fungsi gambar itu sendiri sebagai bahasa, untuk menerangkan atau menjelaskan suatu hal atau keadaan. Menjelaskan berarti menguatkan apa yang akan dijelaskan, namun menjelaskan juga dapat berarti memberi keterangan agar lebih lengkap.

      Ilustrasi dapat juga didefinisikan sebagai hasil visualisasi dari suatu tulisan dengan teknik drawing, lukisan, fotografi, atau teknik seni rupa lainnya yang lebih menekankan hubungan subjek dengan tulisan yang dimaksud daripada bentuk.

      Pengertian Gambar Ilustrasi Menurut Para Ahli

      Pengertian Ilustrasi Menurut Baldinger

      Menurut Baldinger ilustrasi adalah seni membuat gambar yang berfungsi untuk memperjelas dan menerangkan naskah.

      Pengertian Ilustrasi Menurut Jan D. White

      Menurut Jan D. White ilustrasi adalah sebuah tanda yang tampak di atas kertas, yang mampu mengkomunikasikan permasalahan tanpa menggunakan kata. Ilustrasi tersebut mampu menggambarkan suasana, seseorang, dan bahkan objek tertentu.

      Pengertian Ilustrasi Menurut Rohidi

      Menurut Rohidi gambar ilustrasi merupakan suatu gambar yang dibuat dengan elemen rupa yang bertujuan memperjelas, menerangkan dan memerindah sebuah teks, sehingga pembacanya ikut merasakan secara langsung tentang kesan dari isi cerita utamannya.

      Tokoh Dan Contoh Ilustrasi

      Seni ilustrasi modern Indonesia berkembang saat masa penjajahan Belanda sejak 1917, yang bekerja di Penerbit Balai Pustaka seperti Ardisoma, Abdul Salam, Kasidi, dan Nasroen.

      Ilustrator Pada masa pendudukan Jepang diantaranya Karjono, Norman Kamil, dan Soerono yang bekerja pada Majalah Asia Raya.

      Pada masa orde lama. dinatranya Oesman Effendi dan Abdul Salam.

      Pada masa orde baru di antaranya adalah Henk Ngantung, Delsy Syamsumar, G. M. Sidharta,Teguh Santoso, S. Prinka, MAN, dan Jan Mintaraga.

      Masing-masing illustrator memiliki ciri khas sendiri, baik tampilan gambar maupun tematema yang dibuat. Misalnya, Jan Mintaraga banyak menghasilkan cerita yang berlatar belakang tradisional, seperti kisah kisah pewayangan dan cerita klasik lainnya.

      Contoh ilustrasi adalah wayang beber. Wayang beber merupakan gambar wayang dua dimensi yang dibeber (dibentang), yang ceritanya dituturkan oleh dalang.

      Fungsi Ilustrasi

      Berdasarkan fungsinya, gambar ilustrasi dapat dikelompokan menjadi seperti berikut

      Fungsi Deskriptif Ilustrasi

      Fungsi deskripsi ilustrasi adalah sebuah atau atau beberapa gambar yang  menggantikan uraian sebuah teks atau cerita atau tulisan. Dengan menggunakan ilustrasi deskriptif, sebuah teks deskriptif yang Panjang dapat dilukiskan oleh gambar dengan lebih ringkas, menyenangkan sehingga  uraian lebih singkat dan mudah untuk dipahami.

      Gambar ilustrasi berfungsi menggantikan Sebagian kalimat atau  tulisan sebuah cerita atau konsep bacaan.

      Fungsi Ekspresi Ilustrasi

      Fungsi Ekspresi ilustrasi adalah sebuah ilustrasi yang menunjukkan suatu perasaan, situasi, atau konsep yang abstrak dan kurang jelas di dalam sebuah teks agar menjadi lebih jelas , tepat sasaran, dan berbentuk konkret.

      Gambar ilustrasi berfungsi mengekspresikan rangkaian kalimat atau tulisas sebuah cerita atau konsep bacaan.

      Fungsi Analitis atau Sruktural Ilustrasi

      Fungsi Analitis atau Sruktural adalah ilustrasi yang menunjukkan gambar secara rinci dari sebuah teks sehingga dapat dianalisis dan dipahami dengan lebih cermat dan mudah.

      Gambar ilustrasi berfungsi menjelaskan secara detail kalimat atau tulisan sebuah cerita atau konsep bacaan.

      Fungsi Kualitatif Ilustrasi

      Fungsi Kualitatif adalah gambar ilustrasi yang menunjukkan data- data statistik berupa grafik, diagram, tabel, foto untuk mempermudah pembaca dalam mencarmati data kualitatif yang didapatkan dari survey, observasi, eksperimen dan berbagai penelitian lainnya.

      Gambar ilustrasi berfungsi menerjemahkan data data kuantitaif menjadi suatu daftar, tabel, grafik, foto, gambar, sketsa, kartun, dan simbol.

      Tujuan Gambar Ilustrasi

      Beberapa tujuan penggunaan ilustrasi pada suatu tulisan teks atau bacaan adalah.

      1). Mempertegas dan memperjelas alur atau isi pesan atau informasi yang terkandung dalam sebuah teks sehingga mudah dipahami,

      2). Memberikan atau menambah nilai artistik atau keindahan atau hiasan atau variasi lain dari informasi yang ingin disampaikan, sehingga terasa lebih menarik dan menyenangkan.

      3). Memudahkan pemahaman terhadap informasi yang ingin disampaikan sehingga akan mudah untuk diingat

      4). Mengisi kekosongan ruangan yang terdapat dalam suatu layout (tata letak) suatu tulisan atau teks sehingga dapat menjelaskan dan menghiasi, tulisan, puisi atau informasi lainnya.

      5). Mendorong imajinasi pembaca akibat kesan yang dimiliki oleh informasi dalam teks

      6). Memberikan gambaran atau representasi informasi yang berisfat abstrak dan tidak dapat disampaikan dalam bentuk tulisan.

      Dasar-Dasar Pembuatan Gambar Ilustrasi

      Adapun yang menjadi dasar pembuatan gambar ilustrasi diantaranya adalah:

      1). Penguasaan Teknik Pembuatannya

      Gambar ilustrasi yang dihasilkan akan sangat ditentukan oleh keahlian pembuatnya. Objek ilustrasi diwujudkan dengan penguasaan Teknik menggambar bentuk yang baik dan menarik. Prinsip ini merupakan hubungan antara keahlian pembuat dengan gambar yang dihasilkannya.

      2). Pesan Yang Tercantum Di Dalamnya

      Gambar ilustrasi yang ditampilkan harus sesuai atau relevan atau menjadi satu kesatuan dengan isi cerita. Pesan yang ingin disampaikan dalam cerita harus dapat divisualkan secara tepat melalui gambar.

      Misalnya, tokoh Malin Kundang dapat digambarkan dengan kesan angkuh dan kaya raya, sesuai dengan isi cerita.

      3). Gambar Ilutrasi Harus Mudah Dipahami

      Sebuah gambar yang menarik memiliki satu kesatuan unsur yang harmonis. Gambar yang menjadi titik pusat perhatian dapat ditampakkan dengan jelas atau dominan.

      Dengan kata lain, tampilan gambar mempunyai kekuatan sebagai daya tarik terhadap penikmat atau pembacanya. Prinsip ini berhubungan antara gambar dengan pembaca.

      Jenis – Jenis Gambar Ilustrasi

      Gambar ilustrasi menurut jenisnya, dapat dibedakan berdasarkan corak dan bentuk serta penempatannya.

      1). Jenis Gambar Ilustrasi Berdasarkan Corak dan Bentuknya

      Jenis gambar ilustrasi berdasarkan corak dan bentuknya dapat dibedakan sebagai berikut.

      a). Corak Realistis Gambar Ilustrasi

      Corak realistis adalah suatu gambar atau lukisan yang diwujudkan menyerupai bentuk aslinya, secara natural sesuai dengan anatomi dan proporsinya.

      b). Corak Dekoratif Gambar Ilustrasi

      Corak dekoratif adalah gambar yang telah mengalami pengubahan corak atau bentuk, namun tidak meninggalkan ciri khas atau karakter dan bentuk aslinya.

      c). Corak Karikaturis Gambar Ilustrasi    

      Corak karikaturis adalah suatu gambar ilustrasi yang memiliki bentuk yang dilebihkan atau ditonjolkan dari sebagian bentuk tubuh objek yang digambar, namun masih terdapat karakter aslinya.

      d). Corak Ekspresionis Gambar Ilustrasi

      Corak ekspresionis adalah gambar ilustrasi yang membentuk sebuah gambar ekspresi yang masih dapat dikenali wujud aslinya walaupun tidak tampak nyata.

      g). Corak Lowbrow Gambar Ilustrasi

      Ilustrasi lowbrow adalah ilustrasi yang digunakan untuk menamakan karya ilustrasi yang ingin berperan sebagai penghias atau decorative ornamen.

      Namun, isi lowbrow bukan hanya gubahan motif daun, hewan maupun manusia dan benda-benda aneh tidak beraturan saja melainkan juga karya yang berfungsi menghias dan menyindir (karikaturisme dan kartunisme).

      Low brow bersifat bebas dapat diisi dengan bentuk figur, dan huruf atau tipografi. Sebagian orang menyebutkan low brow merupakan perkembangan dari grafiti.

      2). Jenis Gambar Ilustrasi Berdasarkan Penempatannya

      Jenis gambar ilustrasi berdasarkan penempatannya dapat dibedakan sebagai berikut.

      a). Gambar Ilustrasi Cerita

      Ilustrasi cerita adalah gambar ilustrasi yang digunakan sebagai pengiring atau pelengkap dalam cerita pendek, cerita bersambung, ataupun fabel yang terdapat pada buku, majalah, surat kabar, dan tabloid.

      b). Gambar Ilustrasi Komik atau Cerita Bergambar

      Komik berasal dari kata comic yang berarti lucu atau jenaka. Dalam penyajiannya, komik terdiri dari rangkaian gambar yang satu dengan lainnya saling melengkapi dan mengandung suatu cerita atau disebut comic strip.

      Komik adalah kumpulan gambar ilustrasi yang disusun secara berurutan dan terpadu sehingga menjadi  suatu rangkaian cerita bersambung.

      Pengertian Contoh Gambar Ilustrasi Berdasarkan Penempatannya Cerita Komik Rubrik Cover Sampul Majalah Karikatur Kartun Iklan,
      Pengertian Contoh Gambar Ilustrasi Komik Cerita Bergambar

      Pembuat komik dinamakan komikus atau ilustrator komik. Karya- karya komik umumnya berupa cerita- cerita kepahlawanan, pewayangan, cerita rakyat, dan humor.

      c). Gambar Ilustrasi Rubrik

      Ilustrasi rubrik adalah gambar ilustrasi yang berfungsi sebagai hiasan suatu ruang khusus atau kolom pada media cetak.

      d). Gambar Ilustrasi Sampul atau Cover Buku

      Ilustrasi sampul atau cover buku atau majalah adalah gambar ilustrasi yang menghiasi sampul sebuah buku, majalah, buletin, dan sejenisnya.

      Jenis Gambar Ilustrasi Berdasarkan Corak dan Bentuknya Dekoratif Karikaturis Ekspresionis Lowbrow,
      Pengertian Contoh Gambar Ilustrasi Sampul atau Cover Buku

      e). Gambar Ilustrasi Karikatur dan Kartun

      Istilah Karikatur berasal dari kata bahasa Italia (caricature) yang mempunyai pesan melebih-lebihkan (lebay) dengan cara mengubah bentuk atau deformasi.

      Kartun atau Cartoon, dalam bahasa Itali cartoone yang berarti berarti kertas. Seniman menggambar skets gedung, permadani, ataupun mozaik di atas kertas. Gambar di atas kertas ini kemudian digayakan sesuai dengan minat seniman (kartunis).

      Tahap Menggambar Ilustrasi Gagasan Ide Tema Sketsa Pewarnaan,
      Pengertian Contoh Gambar Ilustrasi Karikatur dan Kartun

      Ilutrasi karikatur dan kartun adalah gambar karikatur yang umumnya sarat dengan kritikan atau sindiran tertentu dengan gaya yang lucu. Sedangkan gambar kartun biasanya untuk tujuan humor atau lelucon.

      Gambar karikatur kebanyakan ditampilkan pada media massa, seperti koran dan majalah. Ciri penggambaran karikatur dan kartun tidak jauh berbeda. Perbedaannya hanya pada pesan yang disampaikan.

      Tahap Menggambar Ilustrasi Gagasan Ide Tema Sketsa Pewarnaan,
      Pengertian Contoh Ilustrasi sampul atau cover buku atau majalah

      f). Gambar Ilustrasi Periklanan

      Ilustrasi periklanan adalah gambar atau foto yang menghiasi iklan produk- produk tertentu. Iklan tersebut bisa dalam bentuk baliho, brosur, atau poster. Misalnya, iklan produk obat-obatan dan makanan.

      Tahapan Menggambar Ilustrasi

      Ilustrasi adalah salah satu jenis kegiatan menggambar yang membutuhkan keterampilan menggambar bentuk.

      Bentuk yang digambar harus dapat memperjelas, mempertegas dan memperindah isi cerita atau narasi yang menjadi tema gambar.

      Garis, bentuk, dan pemberian warna disesuaikan dengan keseimbangan, komposisi, proporsi, dan kesatuan antara gambar dan narasi.

      Untuk menghasilkan sebuah gambar ilustrasi yang baik, ada beberapa tahapan yang harus dilalui oleh seorang ilustrator, yaitu sebagai berikut.

      1). Persiapan Bahan dan Alat Gambar Ilutrasi

      Sebelum menyiapkan bahan dan alat, sebaiknya tentukan dahulu jenis teknik yang akan digunakan, yaitu teknik basah atau teknik kering. Setelah itu, persiapkan alat dan bahannya.

      2). Gagasan atau Ide atau Tema Gambar Ilustrasi

      Sebelum menggambar ilustrasi, harus dipahami betul tuntutan atau pesan yang terkandung dalam teks cerita atau sejenisnya.

      Misalnya, ilustrasi cerpen tentang cerita rakyat Malin Kundang. Setelah membaca dengan saksama teks cerita dari awal hingga akhir, maka yang harus diperhatikan adalah sebagai berikut.

      a). Memilih adegan yang paling menonjol atau dominan yang terdapat dalam suatu teks atau ceritanya.

      b). Menentukan atau membayangkan objek yang akan divisualkan dalam gambar. Misalnya, Malin Kundang dan ibunya, dengan latar belakang kapal besar dan beberapa orang anak buahnya.

      c). Memahami perwatakan tokoh- tokoh ceritanya, mana yang perlu ditampilkan dengan wajah jahat, congkak, kejam, dan lain-lain, dan mana yang ditampilkan sebagai orang yang sedih, prihatin, miskin, dan lain-lain. Penggambaran yang penuh ekspresi akan memberikan kesan gambar lebih memikat.

      3). Membuat Sketsa Gambar Ilustrasi

      Sketsa adalah seni lukis yang belum sempurna. Seni lukis yang hanya terdiri dari goresan dan kekuatan warna yang tidak seimbang dengan pernyataan ideologinya.

      Sketsa kadang juga dinamakan seni lukis jika memanfaatkan teknik cat minyak dan terdiri atas goresan warna.

      Proses pengerjaan gambar ilustrasi diawali dengan membuat sketsa dengan menggunakan pensil. Sketsa umumya dibuat secara sederhana. Penekanan pensil tidak perlu terlalu tegas.

      Perlu diperhatikan pula unsur-unsur keseimbangan, komposisi, perspektif, dan lain-lain.

      3). Pewarnaan Gambar Ilustrasi

      Dalam pewarnaan gambar, baik dengan teknik hitamputih maupun pembagian warna, perlu diperhitungkan unsur-unsur yang merupakan efek dari kesan pencahayaan.

      Gambar yang menarik selalu dipengaruhi oleh kesan pencahayaan yang tepat. Artinya, mana yang mendapat kesan gelap dan mana yang terang, serta dapat menentukan dari mana sinar itu datang dan ke mana jatuhnya bayangan. Pewarnaan yang disertai penempatan bayangan yang baik dapat memberikan kesan tiga dimensi pada gambar tersebut.

      Bahan dan Alat Menggambar Ilustrasi

      Ilustrasi umumnya dibuat di atas kertas. Kertas yang baik untuk menggambar adalah yang memiliki permukaan halus dan berwarna putih dengan ketebalan cukup. Pada prinsipnya, tidak ada batasan, baik media atau teknik dalam menggambar maupun melukis.

      Namun pada umumnya peralatan yang digunakan, antara lain drawing pen, spidol dengan beragam ukuran, pena tulis, kuas, dan pensil.

      Pewarnaan ilustrasi bisa dibuat hitam-putih atau beragam warna. Media pewarna bermacam-macam, misalnya pensil warna, cat air, cat poster, krayon, dan lain-lain.

      Selain meng-gambar dengan cara manual, teknologi digital sekarang telah memungkinkan membuat gambar ilustrasi berikut pewarnaannya dengan menggunakan komputer.

      Teknik Menggambar Ilustrasi

      Menggambar ilustrasi dapat dilakukan dengan Teknik kering dan teknik basah.

      Alat dan bahan untuk menggambar ilustrasi dengan teknik kering seperti pensil, arang, kapur, krayon, atau bahan lain yang tidak memerlukan air.

      Sedangkan pada teknik basah media yang diperlukan berupa cat air, tinta bak, cat poster, cat akrilik dan cat minyak yang menggunakan air atau minyak sebagai pengencer.

      1). Menggambar Ilustrasi Teknik Kering

      Menggambar ilustrasi dengan teknik kering yaitu cara menggambar yang tidak perlu menggunakan pengencer air atau minyak.

      Ilustrasi dibuat langsung pada bidang dua dimensi berupa kertas gambar kemudian dibuat sketsa untuk selanjutnya diberi aksen garis atau warna sesuai dengan media kering yang digunakan.

      Beberapa contoh media kering dapat dijelaskan sebagai berikut:

      a). Pensil yang digunakan dalam menggambar ilustrasi ukuran pensil 2B-6B.

      b). Arang yang digunakan untuk menggambar ilustrasi adalah yang terbuat dari bahan dasar kayu. Menggambar dengan arang akan meninggalkan debu pada kertas.

      c). Krayon atau pastel colour banyak ragam variasi warnanya, digunakan dalam menggambar ilustrasi yang menginginkan variasi pewarnaan.

      d). Charcoal berbentuk seperti pensil warna dengan lapisan kertas sebagai pembungkusnya. Charcoal memiliki warna tajam/jelas.

      e). Pulpen digunakan sebagai alat untuk menggambar ilustrasi dengan karakter tegas pada garis-garis gambarnya.

      2). Menggambar Ilustrasi Teknik Basah

      Media yang digunakan untuk teknik basah antara lain seperti, cat air, cat minyak, tinta, atau media lain yang memerlukan air atau minyak sebagai pengencer.

      Ilustrasi dibuat dengan cara membuat sketsa pada bidang gambar dua dimensi berupa kertas atau kanvas kemudian diberi warna sesuai dengan media basah yang sudah ditentukan.

      Unsur Utama Gambar Ilustrasi

      Di dalam gambar ilustrasi terdapat penggambaran bentuk objek tertentu yang menjadi pilihan utama.

      Pemilihan bentuk gambar tersebut tergantung tuntutan pada naskah atau teks. Objek gambar yang dipilih bisa dari unsur gambar manusia, hewan, tumbuhan, dan benda.

      1). Gambar Ilustrasi  Manusia

      Agar dapat menggambar bentuk manusia dengan hasil yang baik dan memuaskan, perlu mempelajari dengan tekun unsur proporsi dan anatomi.

      – Proporsi artinya perbandingan ukuran pada bagian bagian tubuh manusia. Penggambaran proporsi disesuaikan dengan tingkat atau golongan usia, yaitu proporsi anak hingga dewasa. – – Anatomi merupakan bentuk dari bagian-bagian tubuh. Prinsip proporsi dan anatomi ini juga berlaku dalam menggambar makhluk hidup lainnya.

      2). Gambar Ilustrasi Binatang

      Proporsi dan bentuk tiap jenis binatang tentu berbeda. Misalnya, ada perbedaan antara kuda dan lembu, kambing, kerbau, singa, jerapah, dan sebagainya. Demikian pula dengan bentuk-bentuk binatang air dan binatang-binatang yang bersayap.

      3). Gambar Ilustrasi Tumbuhan

      Tumbuhan juga beragam jenisnya dan masing-masing memiliki bentuk yang berbeda. Pohon mangga mempunyai bentuk khas, lain dengan pohon jeruk atau nangka.

      Pohon kelapa mempunyai bentuk khas yang berbeda dengan pohon jati dan sebagainya. Perbedaan perbedaan itu, antara lain pada proporsi secara keseluruhan bentuk, bentuk cabang dan ranting, bentuk batang, dan bentuk helaian daun.

      4.) Gambar Ilustrasi Benda

      Terdapat beragam benda di sekitar kita, baik benda benda alam maupun benda-benda buatan manusia.

      Masing-masing benda pun memiliki karakter yang khas yang berbeda antara satu dengan lainnya. Misalnya, bentuk kain berbeda dengan kertas, permukaan kayu berbeda dengan kaca, dan lain-lain.

        Daftar Pustaka:

        1. Setiawati, Puspita, 2004, “Kupas Tuntas Teknik Proses Membatik”, Absolut, Yogyakarta.
        2. Wartono, Teguh, 1984, “Pengantar Pendidikan Seni Rupa”, Penerbit Yayasan Kanisius, Yogyakarta.
        3. Darmawan, Budiman, 1988, “Penuntun Pelajaran Seni Rupa”, Ganeca Exact, Bandung.
        1. Sumardjo J., 2010, “Filsafat Seni”, Penerbit PT. Gramedia, Jakarta
        1. Sumardjo, J., 2000, “Filsafat Seni”, Penerbit ITB, Bandung.
        2. Soedarsono, sp., 1990, “Tinjauan seni. Sebuah pengantar untuk apresiasi seni”, Suku Dayar Sana, Yogyakarta.
        3. Hadiatmojo, Supardi, 1990, “Sejarah Seni Rupa Eropa”, IKIP Semarang Press, Semarang.
        4. Agus, 1986, “Seni, Desain dan Teknologi”, Pustaka, Bandung.
        5. Sahman, Humar, 1993, “Mengenal Dunia seni Rupa”, IKIP Semarang, Semarang.
        6. Ringkasan Rangkuman: Gambar ilustrasi adalah gambar yang berfungsi sebagai penghiasan serta membantu memperjelas suatu teks, kalimat, naskah, dan lain-lain pada buku, majalah, koran, dan sejenisnya agar lebih mudah dipahami.
        7. Ilustrasi di Indonesia sudah dikenal sejak zaman prasejarah, dengan ditemukannya bukti berupa gambar-gambar pada dinding gua di daerah Sulawesi Selatan, Papua, dan Maluku.
        8. Fungsi gambar ilustrasi antara lain untuk memperjelas alur cerita, memperjelas pesan dalam promosi, menarik perhatian, dan menambah nilai artistic tampilan buku pelajaran.
        9. Dasar-dasar pembuatan gambar ilustrasi harus memperhatikan penguasaan teknik dalam pembuatannya, pesan yang tercantum di dalamnya, dan mudah dipahami.
        10. Jenis gambar ilustrasi jika ditinjau dari segi corak dan bentuk terdiri atas gambar bercorak realistis, dekoratif, karikaturis, dan ekspresionis.
        11. Jenis gambar ilustrasi berdasarkan penempatannya terdiri atas ilustrasi cerita, ilustrasi komik atau cerita bergambar, ilustrasi rubrik, ilustrasi sampul buku, karikatur dan kartun, serta ilustrasi periklanan.
        12. Ada beberapa tahapan yang harus dilalui oleh seorang ilustrator dalam menggambar ilustrasi, yaitu gagasan atau ide, sketsa, dan pewarnaan gambar.
        13. Pada prinsipnya, tidak ada batasan, baik media atau teknik dalam menggambar ilustrasi atau melukis. Peralatan yang digunakan, antara lain spidol, drawing pen dengan beragam ukuran, pena tulis, kuas, dan pensil.
        14. Unsur utama gambar ilustrasi adalah gambar manusia, gambar binatang, gambar tumbuhan, dan gambar benda.
        15. Menggambar dengan teknik kering ialah menggambar menggunakan media yang tidak memerlukan bahan pengencer.
        16. Langkah-langkah dalam menggambar ilustrasi yaitu menyiapkan bahan dan alat, menentukan tema, membuat sketsa, serta menggambar/mewarnai.
        17. Mengggambar dengan teknik basah ialah menggambar menggunakan media cat, tinta, atau media lain yang memerlukan pengencer.
        18. Gambar Ilustrasi: Pengertian Fungsi Tujuan Tokoh Jenis Unsur Dasar Contoh Tahap Buat Teknik Kering Basah,
        19. Fungsi Ilustrasi Deskriptif Ekspresi Analitis Struktural Kualitatif,
        20. Jenis Gambar Ilustrasi Berdasarkan Corak dan Bentuknya Dekoratif Karikaturis Ekspresionis Lowbrow,
        21. Gambar Ilustrasi Berdasarkan Penempatannya Cerita Komik Rubrik Cover Sampul Majalah Karikatur Kartun Iklan,
        22. Tahap Menggambar Ilustrasi Gagasan Ide Tema Sketsa Pewarnaan,