Seni Rupa Tiga Dimensi: Pengertian, Fungsi Ekspresi Pakai, Nilai Estetis Objektif Subjektif, Simbol Unsur, Teknik, Contoh Karya,

Pengertian Seni Rupa Tiga Dimensi: Konsep tiga dimensi atau 3D merujuk pada sebuah objek atau ruang yang memiliki tiga dimensi yang secara geometris terdiri dari: panjang, lebar dan tinggi. Contoh tiga dimensi suatu objek / benda adalah kubus atau kotak, bola, piramida atau benda spesial seperti kotak kemasan.

Seni rupa tiga dimensi berbentuk atau berujud secara plastis. Plastis yang dimaksudkan adalah dapat dilihat diraba dan dinikmati melalui pandangan mata secara fisik. Karya seni rupa ini termasuk kategori seni rupa yang memanfaatkan benda berujud dan dibentuk menjadi fungsi baru.

Seni rupa 3D atau karya 3 dimensi adalah jenis seni rupa yang memiliki tiga sisi, yaitu sisi panjang, lebar, dan tinggi. Seni rupa berbentuk sebuah bangun ruang yang memiliki volume.

Dalam bahasa sederhananya, seni rupa tiga dimensi adalah karya seni yang mempunyai volume dan menempati sebuah ruang. Sehingga unsur ruang inilah yang menjadi pembeda antara karya seni rupa dua dimensi dengan tiga dimensi.

Seni tiga dimensi terus mengalami perubahan, baik dari sudut pandang, model ruang, pola berkarya hingga jenisnya

Fungsi Karya Seni Tiga Dimensi

Karya seni rupa 3 dimensi memiliki fungsi pakai dan fungsi ekspresi seperti berikut:

a). Fungsi Pakai Seni Tiga Dimensi

Fungsi pakai merupakan fungsi dari seni rupa terapan. Karya seni rupa tiga dimensi terapan  diwujudkan dengan pertimbangan utama untuk memenuhi fungsi praktis atau terapan. Pembuatan karya tiga dimensi diharapkan dapat digunakan sesuai fungsi dan tujuan pembuatan tanpa menghilangkan sisi estetika (keindahan).

Contoh berikut menjelaskan fungsi pakai seni tiga dimensi diantaranya adalah, kursi yang berfungsi untuk diduduki, telepon genggam berfungsi alat komunikasi, dan banyak benda kebutuhan sehari- hari yang juga karya seni rupa tiga dimensi.

b). Fungsi Ekspresi Seni Tiga Dimensi

Fungsi ekspresi merupakan fungsi dari seni rupa murni.  Sifat seni tiga dimensi murni memiliki karakteristik natural dan alami yang dibuat untuk pemenuhan hasrat estetis serta ekspresi dari senimannya.

Karya seni murni fungsi ekspresi diwujudkan dengan tujuan untuk dinikmati keindahan dan keunikannya saja tanpa mempertimbangkan fungsi praktisnya.

Contoh Fungsi Ekspresi Seni Tiga Dimensi adalah seni lukis, grafis/ cetak, dan patung.

Pengertian Simbol Seni Rupa Tiga Dimensi

Kata simbol dalam bahasa Inggris adalah symbol, sedangkan dalah Bahasa Latin adalah symbolium, yang berasal dari bahasa Yunani yaitu symbolon (symballo) yang berarti menarik kesimpulan, bermakna atau memberi kesan.

Simbol Karya Seni Rupa TIga Dimensi

Secara konseptual, kata simbol memiliki beberapa pengertian yang diantaranya adalah:

  • Simbol merupakan tanda yang kelihatan yang mewakili gagasan atau objek tertentu.
  • Simbol adalah kata atau tanda atau isyarat yang digunakan untuk mewakili sesuatu yang lain seperti mewakili arti, kualitas, abstraksi, gagasan, dan objek.
  • Simbol adalah sesuatu ketentuan, peraturam yang disetujui secara umum dan/ atau dengan kesepakatan atau kebiasaan. Misalnya, lampu lalu lintas.
  • Simbol adalah tanda konvensional, yaitu sesuatu yang dibangun oleh masyarakat atau individu- individu yang memiliki arti tertentu seperti standar yang disepakati atau dipakai anggota masyarakat. Arti simbol dalam konteks ini sering dilawankan dengan tanda alamiah.

Contoh Simbol Karya Seni Rupa Tiga Dimensi

Contoh simbol dalam karya seni rupa 3 dimensi diantaranya adalah:

a). Tugu Proklamasi di Jakarta menjadi simbol perjuangan rakyat dan kemerdekaan bangsa Indonesia.

b). Monumen Bandung Lautan Api, kota Bandung untuk memperingati peristiwa Bandung Lautan Api, dimana terjadi pembumi hangusan Bandung Selatan yang dipimpin oleh Muhammad Toha.

c). Manumen Pancasila Sakti, Monumen yang memberi symbol tentang perjuangan para Pahlawan Revolusi yang berjuang mempertahankan ideologi negara Republik Indonesia, Pancasila dari ancaman ideologi komunis.

d). Tugu Khatulistiwa di Pontianak Kalimantan Barat merupakan symbol yang menunjukkan tempat yang dilewati oleh garis khatulistiwa

e). Tugu Jogja merupakan symbol persatuan antara pemimpin dan rakyatnya dalam perjuangan melawan musuh dan menjalankan pemerintahan suatu negara.

Simbol Objek Seni Rupa Tiga Dimensi

Simbol yang ditunjukkan langsung oleh objek karya seni. Contohnya patung pahlawan atau orang yang berjasa, dibuat untuk menghormatinya. Patung tersebut juga memiliki simbol kekuatan, kepahlawanan, dan perjuangan.

Simbol Unsur- Unsur Seni Rupa Tiga Dimensi

Unsur- unsur seni rupa  tiga dimensi memiliki simbol dengan makna yang berbeda. Misalnya unsur warna hitam digunakan untuk melambangkan duka cita,

Nilai Estetis Seni Rupa Tiga Dimensi

Nilai estetis karya seni rupa dapat bersifat obyektif dan subyektif.

Nilai Estetis Objektif

Nilai estetis obyektif adalah nilai estetis yang memandang keindahan karya seni rupa berada pada wujud karya seni itu sendiri.  Artinya keindahan dari objek seni adalah tampak kasat mata.

Keindahan sebuah karya seni rupa terbentuk dari komposisi baik, perpaduan warna yang cocok, penempatan obyek yang membentuk kesatuan dan sebagainya. Keselarasan dalam menata unsur- unsur visual ini yang mewujudkan sebuah karya seni rupa.

Nilai Estetis Subjektif

Nilai estetis bersifat subyektif adalah nilai estetis yang memandang keindahan tidak hanya pada unsur- unsur fisik yang diserap oleh mata secara visual, namun ditentukan oleh selera penikmatnya atau orang yang melihatnya.

Sebagai contoh saat melihat sebuah karya seni lukis atau seni patung abstrak, Seseorang akan dapat menemukan nilai estetis dari penataan unsur rupa pada karya itu. Sehingga tertarik pada apa yang ditampilkan dalam karya itu dan merasa senang untuk terus melihatnya bahkan ingin memilikinya meskipun kalian tidak tahu obyek apa yang ditunjukkan oleh karya itu.

Namun, orang lain mungkin tidak tertarik pada karya itu dan lebih tertarik pada karya lainnya. Perbedaan inilah yang menunjukkan bahwa nilai estetis sebuah karya seni rupa dapat bersifat subyektif.

Unsur Unsur Seni Rupa Tiga Dimensi

Karya seni rupa tiga dimensi memiliki unsur-unsur rupa seperti warna, garis, bidang dan bentuk. Unsur-unsur rupa digunakan untuk memperindah bentuknya atau untuk memberikan makna simbolik.

Garis tebal, garis tipis, garis lurus, garis lengkung memiliki makna simbolik yang berbeda beda. Warna merah, hitam, putih dan sebagainya juga memiliki makna simbolik yang berbeda-beda.

Sebagai contoh, warna hitam seringkali digunakan sebagai lambang duka cita, tetapi suku bangsa tertentu menggunakan warna kuning atau putih sebagai lambang berduka cita.

Prinsip-prinsip Seni Rupa

Adapun prinsip-prinsip Seni Rupa meliputi

Prinsip Kesatuan (Unity) merupakan bahan awal komposisi karya seni. Dengan adanya kesatuan maka unsur seni rupa akan bersatu padu dalam membangun sebuah komposisi yang indah, serasi, dan menarik.

Keseimbangan (Balance) merupakan pengaturan unsur unusr rupa sehingga karya seni mempunyai daya tarik yang sama di setiap sisinya.

Balance bisa dibuat secara formal /simetris dan dengan informal /asimetris serta keseimbangan radial /memancar.

Irama (Rythme) merupakan pengulangan satu atau lebih unsur secara teratur dan terus menerus sehingga mempunyai kesan bergerak.

Pengulanga berwujud bentuk, garis, atau rupa-rupa warna. Pengulangan unsur bentuk jika diletakkan ditempat yang sama maka akan terlihat statis, berbeda dengan irama harmonis maka menghasilkan nilai estetika yang unik.

Komposisi merupakan penyusunan unsur-unsur seni rupa sehingga menjadi susunan yang teratur.

Komposisi akan membentuk dasar keindahan dari sebuah karya seni sehingga menghasilkan karya seni yang bagus dan menarik dan dapat bertujuan untuk menampilkan ekspresi.

Proporsi (Kesebandingan) merupakan prinsip yang bertanggung jawab membandingkan bagian satu dengan bagian lainnya sehingga terlihat selaras dan enak dipandang.

Keselarasan (Harmoni) merupakan prinsip yang menyatukan unsur yang ada di dalam seni rupa dari berbagai bentuk berbeda. Keselarasan muncul dengan adanya kesesuaian, kesamaan, dan tidak bertentangan.

Keselarasan diwujudkan dengan cara mengatur warna, pencahayaan, bentuk dengan rapi atau tidak terlalu mencolok satu sama lain. Tujuan prinsip harmoni ini untuk menciptakan perpaduan yang selaras.

Jenis Karya Seni Rupa Tiga Dimensi

Berikut beberapa contoh karya seni rupa 3D:

1). Seni Kriya Tiga Dimensi

Seni Kriya merupakan satu cabang seni rupa yang mengandalkan keterampilan tangan atau hand skill dengan memperhatikan segi keindahan serta kebutuhan dalam membuat karya seni.

Jenis seni rupa kriya tiga dimeni sering dimanfaatkan sebagai dekorasi, atau benda terapan seperti mainan, furniture, dan lain-lain.

Beberapa jenis seni kriya diantaranya adalah seni kriya kayu, seni kriya keramik, seni kriya tekstil, seni kriya batu, serta seni kriya kulit.

2). Patung Seni Rupa Tiga Dimensi

Patung merupakan salah satu seni rupa 3D yang paling terkenal sehingga mudah dijumpai dan memiliki nilai seni yang tinggi. Seni rupa patung telah mengalami banyak perkembangan dari bahan pembuatnya, cara membuatnya dan teksturnya.

Biasanya seniman membuat patung dalam bentuk seperti manusia, binatang, atau bentuk-bentuk lainnya.

3). Keramik Seni Rupa Tiga Dimensi

Karya seni keramik merupakan karya seni rupa yang bersifat tradisional hingga kontemporer atau modern.

Seni keramik lebih berfungsi sebagai kerajinan yang memanfaatkan bahan dari tanah liat sebagai bahan utama dengan melalui beberapa tahapan. Seni keramik melipiti proses pijit, butsir, pilin hingga pada tahap pembakaran dan glasir. Kualitas sebuah keramik ditentukan oleh proses dan bahan yang digunakan.

4). Arsitektur Seni Rupa Tiga Dimensi

Arsitektur merupakan jenis seni terpakai yang dapat dikategorikan juga sebagai seni rupa tiga dimensi. Seni rupa arsitektur lebih menekankan pada kesatuan, keseimbangan, keserasian, dan irama sebagai jenis seni rupa yang utuh mencakup dalam berbagai aspek.

Arsitektur, tidak hanya diperhatikan wujud bangunannya, namun juga mempertimbangkan aspek berat, volume tampung, kekokohan bangunan, dan sebagainya.

Teknik-teknik Seni Rupa Tiga Dimensi

Beberapa teknik seni rupa tiga dimensi  diantaranya adalah:

  1. Teknik Aplikasi Seni Rupa Tiga Dimensi

Teknik seni rupa aplikasi adalah teknik karya hias yang dimanfaatkan dalam seni menjahit, yakni dengan cara menempelkan beberapa macam potongan kain yang telah di gunting, seperti bentuk bunga, bintang, bulan, atau bentukbentuk lainnya dalam sebuah kain. Tujuannya adalah sebagai hiasan untuk memperindah pakaian.

Contoh Teknik Aplikasi Seni Rupa Tiga Dimensi

Karya hias tiga dimensi yang digunakan untuk menutupi gallon air minum.

Sumber: tokopedia.com

  1. Teknik Mozaik Seni Rupa Tiga Dimensi

Teknik mozaik adalah teknik membuat karya dengan menggunakan bentuk potongan potongan bahan tertentu.

Tujuan menggunakan potongan bahan adalah sebagai pengganti bahan utama pewarna. Dengan adanya mozaik, media seni tidak terlihat polos, nampak lebih indah, dan lebih memiliki corak tertentu.

Contoh Teknik Mozaik Seni Rupa Tiga Dimensi

Karya mozaik tiga dimensi bentuk kubus susun berbahan keramik. Keramik mozaik hexagonal ini terbuat dari bahan granit. Granit dipotong kecil kecil dan kemudian disusun menjadi bentuk hexagon.

Sumber: indonesian.alibaba.com

  1. Teknik Merakit Seni Rupa Tiga Dimensi

Teknik merakit dilakukan dengan cara menyambungkan potongan -potongan bahan tertentu agar menjadi suatu karya seni yang utuh.

Cara menyambung nyambung tersebut dinamakan merakit, sedangkan rakitan ialah hasil karyanya. Merakit dapat diterapkan pada benda- benda yang kompleks, seperti miniatur kapal, pesawat, atau alat transportasi lainnya.

Contoh Teknik Merakit Seni Rupa Tiga Dimensi

Karya tiga dimensi Rakitan Model Rumah berbahan Kayu

Sumber: tokopedia.com

  1. Teknik Pahat Seni Rupa Tiga Dimensi

Teknik memahat yakni teknik karya seni dengan membuang atau menyisihkan bahan- bahan yang tidak perlu digunakan. Alat yang biasa digunakan adalah martil, pahat, kikir, dan sebagainya. Biasanya teknik pahat digunakan pada beberapa karya seni seperti patung dan miniatur tertentu.

Contoh Teknik Pahat Seni Rupa Tiga Dimensi

Patung Ganesha tiga dimensi terbuat dari kayu suar bergaya bali

Contoh Teknik Pahat Seni Rupa Tiga Dimensi
Contoh Teknik Pahat Seni Rupa Tiga Dimensi

Sumber: indonesian.alibaba.com

Teknik Cor Seni Rupa Tiga Dimensi

Teknik cor ialah sebuah teknik karya seni yang diaplikasikan dengan cara menuang zat cair tertentu pada sebuah alat cetakan khusus. Bahan cair yang sering digunakan ialah bahan-bahan yang terbuat dari karet, semen, logam, dan lain-lain.

Contoh Teknik Cor Seni Rupa Tiga Dimensi

Patung cor tiga dimensi model Kubera Kuwera Kuvera Jambala berbahan perungu

Sumber: tokopedia.com

Berkarya Seni Rupa Tiga Dimensi

Bentuk karya tiga dimensi antara lain adalah karya seni bangun, seni patung, seni keramik, seni instalansi (termsuk seni kontemporer) dan lain sebagainya.

Untuk membuat karya tiga dimensi maka perlu mengenal bahan bahan yang digunakan dalam berkreasi dengan karya tiga  dimensi. Adapun bahan-bahan berkreasi karya rupa 3 dimensi setidaknya dapat dikategorikan menjadi tiga  bagian yaitu:

1). Bahan Lunak Seni Rupa Tiga Dimensi

Bahan lunak yang digunakan dapat berupa kertas, karton, gabus dan styroform. Bahan- bahan ini mudah didapatkan dan membentuknya dengan alat-alat yang sederhana seperti gunting, silet, cutter, pisau.

Bahkan karya berbahan kertaspun bisa dibentuk tanpa menggunakan alat, misalnya dengan cara dilipat.

2). Bahan Liat Seni Rupa Tiga Dimensi

Bahan liat yang digunakan dalam berkarya tiga dimensi seperti tanah liat, gips, plastisin dan lilin. Bahan inipun juga mudah didapatkan di lingkungan sekitar kita.

3). Bahan Keras Seni Rupa Tiga Dimensi

Bahan keras yang dapat digunakan contohnya adalah kayu, batu danl ogam. Ketiganya merupakan bahan yang sering digunakan oleh perupa sejak zaman dahulu.

Batu dan logam merupakan bahan yang keras namun dapat tahan lama. Karena sifatnya yang keras, maka pengerjaan karya 3 dimensi berbahan batu dan logam memerlukan teknik dan peralatan khusus.

Daftar Pustaka:

  1. Sumardjo, J., 2000, “Filsafat Seni”, Penerbit ITB, Bandung.
  2. Soedarsono, sp., 1990, “Tinjauan seni. Sebuah pengantar untuk apresiasi seni”, Suku Dayar Sana, Yogyakarta.
  3. Hadiatmojo, Supardi, 1990, “Sejarah Seni Rupa Eropa”, IKIP Semarang Press, Semarang.
  4. Agus, 1986, “Seni, Desain dan Teknologi”, Pustaka, Bandung.
  5. Setiawati, Puspita, 2004, “Kupas Tuntas Teknik Proses Membatik”, Absolut, Yogyakarta.
  6. Wartono, Teguh, 1984, “Pengantar Pendidikan Seni Rupa”, Penerbit Yayasan Kanisius, Yogyakarta.
  7. Darmawan, Budiman, 1988, “Penuntun Pelajaran Seni Rupa”, Ganeca Exact, Bandung.
  8. Sumardjo J., 2010, “Filsafat Seni”, Penerbit PT. Gramedia, Jakarta
  9. Sahman, Humar, 1993, “Mengenal Dunia seni Rupa”, IKIP Semarang, Semarang
  10. Rangkuman Ringkasan Seni Rupa Tga Dimensi: Karya tiga dimensi terwujud dari berbagai bahan dan medium yang beraneka ragam. Karakter unik dari masing-masing bahan dan medium ini membutuhkan berbagai alat dan teknik pengolahan serta penggarapan untuk mewujudkan karya seni rupa tersebut.
  11. Bahan dan medium yang digunakan untuk berkarya seni rupa tiga dimensi dapat berupa bahan alami atau bahan sintetis.
  12. Karya seni rupa tiga dimensi ada yang berfungsi sebagai benda pakai yang biasa disebut karya seni terapan (applied art) dan ada yang dibuat dengan tujuan ekspresi semata yang biasa disebut seni murni (pure art)
  13. Nilai estetis karya seni rupa tiga dimensi tampak secara visual dari wujud karya seni rupa tersebut. Unsur-unsur rupa (unsur fisik) disusun menggunakan prinsip-prinsip penataan (unsur nonfisik) membentuk komposisi wujud karya yang unik dan menarik.
  14. Nilai estetis karya seni rupa bersifat obyektif dan subyektif. Nilai obyektif terdapat pada karya seni rupa itu sendiri sedangkan nilai subyektif berada pada penikmatnya.
  15. Karya seni rupa ada yang memiliki makna simbolik. Unsur-unsur rupa yang terdapat pada karya seni rupa tiga dimensi dapat menunjukkan atau menjadi simbol dari sesuatu.
  16. Berkarya seni rupa tiga dimensi dimulai dengan mencari ide gagasan atau model karya yang akan dibuat. Kegiatan ini dapat diawali dengan membuat rancangan berupa sketsa, dilanjutkan dengan memilih medium, bahan, alat dan teknik yang akan digunakan. Alasan-alasan pemilihan gagasan, model hingga teknik berkarya dapat disebut sebagai konsep berkarya seni rupa.
  17. Seni Rupa Tiga Dimensi Pengertian Fungsi Simbol Jenis Nilai Estetis Unsur Teknik Contoh Karya, Pengertian Contoh Fungsi Ekspresi Pakai, Pengertian Contoh Nilai Estetis Objektif Subjektif, Jenis dan Contoh Karya Seni Rupa Tiga Dimensi, Pengertian Contoh Teknik Seni Rupa Tiga Dimensi, Seni Rupa Tiga Dimensi: Pengertian, Fungsi, Simbol,
  18. Jenis Nilai Estetis, Unsur, Teknik, Contoh Karya, Konsep tiga dimensi atau 3D, Fungsi Karya Seni Tiga Dimensi, Fungsi Pakai Seni Tiga Dimensi, Contoh Fungsi Pakai Seni Tiga Dimensi, Fungsi Ekspresi Seni Tiga Dimensi, Pengertian Contoh Fungsi Ekspresi Pakai, Contoh Fungsi Ekspresi Seni Tiga Dimensi, . Pengertian Contoh Simbol Seni Rupa Tiga Dimensi,
  19. Simbol Karya Seni Rupa TIga Dimensi, Nilai Estetis Seni Rupa Tiga Dimensi, Pengertian Nilai Estetis Seni Rupa Tiga Dimensi, Nilai Estetis Objektif, Pengertian dan Contoh Nilai Estetis Objektif, Pengertian Contoh Nilai Estetis Objektif Subjektif, Nilai Estetis Subjektif,
  20. Pengertian dan Contoh Nilai Estetis Subjektif, Unsur Unsur Seni Rupa Tiga Dimensi, Prinsip-prinsip Seni Rupa Tiga Dimensi Jenis dan Contoh Karya Seni Rupa Tiga Dimensi, Pengertian Contoh Seni Kriya Tiga Dimensi, Pengertian Contoh Patung Seni Rupa Tiga Dimensi, Pengertian Contoh Keramik Seni Rupa Tiga Dimensi, Pengertian Contoh Arsitektur Seni Rupa Tiga Dimensi, Teknik-teknik Seni Rupa Tiga Dimensi,
  21. Pengertian Teknik Aplikasi Seni Rupa Tiga Dimensi, Contoh Teknik Aplikasi Seni Rupa Tiga Dimensi, Pengertian Teknik Mozaik Seni Rupa Tiga Dimensi, Contoh Teknik Mozaik Seni Rupa Tiga Dimensi, Pengertian Teknik Merakit Seni Rupa Tiga Dimensi,.
  22. Contoh Teknik Merakit Seni Rupa Tiga Dimensi, Pengertaian Teknik Pahat Seni Rupa Tiga Dimensi, Contoh Teknik Pahat Seni Rupa Tiga Dimensi, Pengertian Teknik Cor Seni Rupa Tiga Dimensi, Contoh Teknik Cor Seni Rupa Tiga Dimensi, Berkarya Seni Rupa Tiga Dimensi, Contoh Bahan Lunak Seni Rupa Tiga Dimensi, Contoh Bahan Liat Seni Rupa Tiga Dimensi, Contoh Bahan Keras Seni Rupa Tiga Dimensi,

Uji Kemampukerasan Jominy Test: Pengertian, Prinsip, Cara Kerja Percobaan, Fungsi, Tujuan, Kurva Uji,

Pengertian Kekerasan, Hardness. Kekerasan menunjukkan daya tahan material umumnya logam terhadap deformasi plastic dengan cara penekanan (penetrasi).

Pengertian Kemampukerasan, Hardenability. Kemampukerasan adalah kemampuan material umumnya logam untuk dapat dikeraskan dengan perlakuan khusus heat treatment.

Pengaruh Kadar Karbon Terhadap Kemampukerasan Baja

Hubungan antara kekerasan dengan meninggkatnya kadar karbon baja pada heat treatment tertentu ditunjukkan pada gambar berikut:

Gambar Pengaruh Karbon Pada Kemampukerasan Baja
Gambar Pengaruh Karbon Pada Kemampukerasan Baja

Dari gambar dapat diketahui, bahwa baja karbon tinggi lebih mampu untuk dikeraskan dibandingkan dengan baja karbon rendah. Baja karbon 0,8 persen dapat dikeraskan hingga 700 BHN dengan struktur martensit, sedangkan baja karbon 0,2 persen hanya dapat dikeraskan hingga 500 BHN dengan struktur martensit.

Artinya baja karbon tinggi memiliki hardenability yang lebih tinggi dibandingkan dengan baja karbon rendah.

Kekerasan maksimum dapat dicapai baja karbon bila terbentuk struktur martensi 100 persen. Baja yang dapat bertransformasi dengan sangat lambat dari fasa austenite menjadi fasa ferit dan karbida akan mempunyai kemampukerasan yang tinggi. Hal ini karena fasa austenite akan mampu bertranformsi menjadi struktur martensit.

Sebaliknya, Baja yang dengan cepat bertransformasi dari fasa austenite menjadi ferit dan karbida memiliki kemampukerasan yang rendah. Ketika fasa austenite dengan cepat bertransformasi menjadi ferit dan karbida, maka struktur martensit tidak terbentuk. Diketahui bahwa struktur  ferit dan kabida (pearlit) memiliki kekerasan yang rendah.

Tujuan dan Fungsi Uji Hardenability,

Beberapa tujuan dilakukannya uji kemampukerasan diantaranya adalah:

  • Mendapatkan nilai kekerasan tertinggi suatu bahan
  • Mengetahui struktur mikro bahan pada kekerasan yang diinginkan
  • Mendapatkan Kurva Kemampukerasan Material
  • Sebagai rujukan untuk rancangan perlakuan panas bahan
  • Membandingkan kekerasan antara suatu bahan

Prinsip Uji Kemampukerasan, Hardebability Jominy Test,

Jominy Test sebenarnya merupakan percobaan perlakuan panas yang bertujuan memodifikasi struktur mikro logam (misal baja karbon) dari struktur awal ke struktur yang lebih keras menggunakan standar yang berlaku yaitu ASTM Standard A255 – 02 tentang Standard Test Methods for Determining Hardenability of Steel.

Cara kerjanya dimulai dengan memanaskan sampel uji dalam tungku (furnace) hingga mencapai temperature austenite atau proses autenisasi dan dibiarkan beberapa waktu untuk mendapatkan kehomogenan temperature sepanjang sampel uji.

Pemanasan dilakukan pada temperature 830 sampai 900 Celcius dengan waktu tahan 20 sampai dengan 40 menit.

Kemudian sampel uji dikeluarkan dan dipasang pada pegangan sehingga tergantung di dalam drum quenching. Ujung bawah sampel uji di quench dengan menggunakan semburan air yang memiliki kecepatan aliran dan tekanan tertentu.

Prinsip Uji Kemampukerasan, Hardebability Jominy Test,
Prinsip Uji Kemampukerasan, Hardebability Jominy Test,

Selanjutnya, dilakukan uji kekerasan di sepanjang sampel dengan metoda Rockwell. Hasil uji dibuatkan plot kurva yang menunjukkan hubungan antara kekerasan dengan jarak uji kekerasan dari ujung sampel yang diquench hingga akhir sampel.

Kurva Kemampukerasan Jominy Test, Kurva Hardenability Jominy Test,

Kurva Kemampukerasan merupakan kurva yang menunjukkan hubungan antara kekerasan dengan jarak pada sampel uji hasil percobaan Jominy Test.

Nilai kekerasan sepanjang sampel hasil Jominy Test ditunjukkan pada gambar berikut:

Kurva Kemampukerasan Jominy Test, Kurva Hardenability Jominy Test,
Kurva Kemampukerasan Jominy Test, Kurva Hardenability Jominy Test,

Secara umum dapat dikatakan bahwa nilai kekerasan menurun dengan semakin jauhnya dari posisi permukaan ujung sampel yang diquench.

Nilai tertinggi terdapat pada permukaan yang langsung bersentuhan dengan semburan air. Untuk baja karbon nilai kekerasan tertinggi diperoleh akibat terbentuknya struktur martensit. Pada permukaan ujung quench, pendinginan terjadi sangat cepat, sehingga austenite tidak sempat bertransfomasi menjadi ferit dan kabida atau pearlite.

Nilai terrendah dimiliki oleh bagian sampel uji yang posisinya terjauh dari ujung sampel yang diquench. Pada posisi terjauh, pendinginan terjadi dengan sangat lambat, sehingga austenite bertransformasi menjadi ferit dan perlit yang lunak.

Peralatan Utama Mesin Uji Kemampukerasan Hardenability Jominy Test.

Secara umum peralatan untuk percobaan Jominy Test adalah Drum quench, Pipa air, Pegangan sampel uji, Keran air seperti ditunjukkan pada gambar berikut:

Gambar Peralatan Utama Mesin Percobaan Uji Kemampukerasan Hardenability Jominy Test.
Gambar Peralatan Utama Mesin Percobaan Uji Kemampukerasan Hardenability Jominy Test.

Drum Quench merupakan tempat dilakukannya proses quenching atau pendiginan cepat sampel uji.

Pengangan Sampel merupakan pelat untuk menggantung sampel uji sehingga bagian ujung sampel bagian bawah dapat disembur air.

Keran Air berfungsi untuk mengatur kecepatan atau debit aliran air yang digunakan untuk proses quenching.

Pipa Air berfungsi memasok air yang digunakan pada percobaan dari kolam sumber air ke drum quench.

Standar Sampel Uji Hardenability Jominy Test

Merujuk pada ASTM Standard A255 – 02, sampel uji yang digunakan pada Jominy Test memiliki ukuran diameter 25 mm dengan Panjang 100 cm. Secara rinci ukuran standar sampel uji, jarak nozzle air dan peganggan sampel ditunjukkan pada gambar berikut:

Standar Sampel Uji Hardenability Jominy Test
Standar Sampel Uji Hardenability Jominy Test

Kurva Pendinginan Diagram Continuous Cooling Transformation Jominy Test

Diagram CCT, Continuous Cooling Transformation digunakan untuk memprediksi pengaruh laju pendinginan terhadap fasa yang akan terbentuk. Diagram CCT untuk baja karbon ditunjukkan pada gambar berikut:

Kurva Pendinginan Diagram Continuous Cooling Transformation CCT Jominy Test
Kurva Pendinginan Diagram Continuous Cooling Transformation CCT Jominy Test

Pada diagram terdapat tiga kurva pendinginan kontinyu dengan laju pendinginan berbeda yang merepresentasikan posisi dari ujung quench sampel.

Kurva pendinginannya adalah kurva (a), (b), dan (c) yang menunjukkan awal dan akhir dari tranformasi austenite menjadi fasa atau struktur baja akhir di sepanjang sampel uji.

Kurva pendinginan (a) merepresentasikan laju pendinginan pada permukaan ujung quench sampel uji. Dengan laju pendinginan ini, austenite akan bertransformasi menjadi martenist.  Contoh struktur martensit baja karbon ditunjukkan pada gambar berikut:

Struktur Martensit Uji Hardenability Jominy Test,
Struktur Martensit Uji Hardenability Jominy Test,

Kurva pendinginan (b) merepresentasikan pendinginan pada bagian yang lebih jauh dari posisi ujung quench sampel. Kurva pendinginan (b) lebih lambat dibanding dengan laju pendinginan kurva (a).

Pada laju pendinginan kurva (b) akan menghasilkan baja  yang mengandung struktur bainit dan martensi. Bainit lebih lunak dibandingkan martensit. Sehingga secara keseluruhan baja ini lebih lunak dibandingkan baja dari pendinginan kurva (a). Contoh struktur bainit baja karbon ditunjukkan pada gambar berikut:

Struktur Bainit Martensit Uji Hardenability Jominy Test,
Struktur Bainit Martensit Uji Hardenability Jominy Test,

Sedangkan kurva pendinginan (c) merepresentasikan pendinginan pada posisi terjauh dari ujung quench (jarak sekitar 70mm).

Pendinginan ini sangat lambat, sehingga akan menghasilkan fasa ferit dan perlit yang lebih lunak dari bainit. Contoh ferit dan struktur perlit baja karbon ditunjukkan pada gambar berikut:

Gambar Ferit Perlit Uji Hardenability Jominy Test,
Gambar Ferit Perlit Uji Hardenability Jominy Test,

Faktor Yang Mempengaruhi Hardenability Jominy Test

Komposisi kimia merupakan factor penting yang dapat mempengaruhi hardenability. Karbon merupakan unsur dasar yang dimiliki baja karbon yang mampu meningkatkan hardenability. Selain karbon, unusr paduan sering ditambahkan pada baja agar dapat mempengaruhi perilaku baja saat perlakuan panas.

Pengaruh Kadar Karbon Pada Hardenability Baja Jominy Test

Karbon merupakan salah satu unsur yang secara jelas dapat mempengaruhi kemampuan baja untuk dikeraskan dengan perlakuan panas. Variasi kandungan karbon pada baja paduan seri 8600 dapat dilihat pada table berikut:

Tabel Kadar Karbon Seri SAE 8000 Pada Hardenability Baja Jominy Test
Tabel Kadar Karbon Seri SAE 8000 Pada Hardenability Baja Jominy Test

Keempat baja paduan seri 8600 tersebut memiliki unsur paduan Mangan, Krom, Nikel dan Molibdenum yang sama, sehingga unsur unsur paduan tersebut dapat diabaikan pengaruhnya terhadap hardenability.

Baja paduan seri 8600 tersebut memiliki perbedaan pada kandungan unsur karbon yang akan mempengaruhi pada kemampukerasan baja.

Gambar berikut menunjukkan pengaruh kandungan karbon pada hardenability baja paduan seri 8600.

Pengaruh Kadar Karbon Seri SAE 8000 Pada Hardenability Baja Jominy Test
Pengaruh Kadar Karbon Seri SAE 8000 Pada Hardenability Baja Jominy Test

Secara umum dapat dikatakan, bahwa semakin tinggi kandungan karbon, maka hardenability baja menjadi lebih tinggi, yang ditunjukkan oleh posisi kurva yang lebih tinggi.

Dari kurva hardenability di atas, dapat diketahui, bahwa unusr karbon memiliki pengaruh yang sangat kuat terhadap hardenability baja. Perbedaan kekerasan sudah tampak dari ujung quench hingga ke bagian terjauh sampel yaitu sekitar 50 mm dari ujung quench.

Pengaruh Unsur Paduan Pada Hardenability Baja Jominy Test

Pada Beberapa baja ditambahkan unsur unsur paduan agar diperoleh sifat sifat yang sesuai dengan aplikasinya. Berikut disajikan beberapa baja paduan dengan komposisi kimia yang berbeda.

Tabel Pengaruh Unsur Paduan Pada Hardenability Baja Jominy Test
Tabel Komposisi Paduan Pada Hardenability Baja Jominy Test

Kelima jenis baja memiliki unsur karbon dan mangan yang relative sama, sehingga kedua unsur ini dapat diabaikan pengaruhnya terhadap hardenability Jominy Test.

Pengaruh unsur paduan terhadap kemampukerasan baja dapat dilihat pada gambar berikut:

Pengaruh Unsur Paduan Pada Hardenability Baja Jominy Test
Pengaruh Unsur Paduan Pada Hardenability Baja Jominy Test

Baja paduan memiliki kekerasan yang relative sama pada posisi didekat permukaan ujung quench, yaitu sekitar 57 HRC. Hal ini menunjukkan bahwa unsur paduan tidak cukup memberikan pengaruhnya terhadap kekerasan baja ketika kecepatan pendinginan dilakukan  sangat cepat yaitu 2700C/detik.

Pada laju pendinginan yang cepat ini, baja paduan memiliki struktur martensit 100 persen.

Unsur paduan baru berpengaruh pada jarak yang lebih jauh dari ujung quench, yaitu pada laju pendinginan yang lebih rendah.

Tampak sangat jelas perbedaan dari kurva hardenability untuk baja paduan SAE 4340 dengan baja paduan SAE 5140. Kedua baja ini mengandung karbon, mangan dan krom yang relative sama, namun baja SAE 4340 mengandung unsur paduan Nikel dan Molibdenum.

Baja paduan 4340 memiliki kekerasan 57 HRC, pada jarak 10 mm dari ujung quench sampel, sedangkan baja paduan 5140 pada jarak yang sama memiliki kekerasan 46 HRC. Sangat jelas bahwa unsur paduan nikel dan molibdenum mampu meningkatkan hardenability baja pada laju pendinginan yang lebih rendah.

Pada jarak 10 mm dari ujung quench, terjadi pendinginan yang lebih lambat yaitu sekitar 280C/detik. Pada pendinginan ini unsur paduan mulai memberikan pengaruh yang cukup kuat terhadap pembentukan struktur martensit.

Pada laju pendinginan 280C/detik (yang bersesuai dengan jarak 10 mm dari ujung quench) Baja 4340 memiliki struktur martensit hampir 100 persen. Sedangkan baja SAE 5140 mengadung martensit sekitar 60 persen.

Dari sini sangat jelas, bahwa unsur paduan nikel dan molibdenum dapat menahan laju transformasi fasa austenite ke ferit dan perlit, sehingga austenite bertranformasi ke struktur martensit.

Contoh Soal Perhitungan Rumus Modulus Elastisitas Young Bulk Volume Geser, Pengertian Diagram

Pengertian Modulus Young.  Modulus Young sering disebut juga sebagai Modulus elastisitas yang merupakan perbandingan antara tegangan dan regangan aksial ...

Kurva Tegangan Regangan Rekayasa, Nominal Logam.

Pengertian Tegangan Rekayasa/Nominal/Tekink.  Sifat-sifat mekanik bahan atau logam yang dikuantifikasikan dengan kuat tarik, kuat luluh, perpanjangan...

Kurva Tegangan Regangan Sejati, Sebenarnya

Kurva regangan regangan sejati atau biasa juga disebut kurva tegangan regangan sebenarnya dapat dihitung dengan menggunakan data dari kurva tegangan regangan...

Menentukan Kuat Tarik Luluh Elongasi Nominal Sebenarnya Pengertian Contoh Soal Perhitungan,

Pengertian Definisi Sifat Mekanik Bahan Logam.  Pengujian bahan atau logam bertujuan untuk mendapatkan atau mengetahui beberapa sifat bahan logam dengan ...

Pengertian-Menentukan Kekuatan Tarik Bahan Logam, Tensile Strength

Kekuatan tarik yang dimiliki bahan logam akan menunjukkan kemampuan bahan dalam menahan gaya tarik sebelum mengalami perubahan penampang atau penciutan....

Pengertian-Menentukan Keuletan Bahan Logam, Ductility

Keuletan bahan logam adalah sifat yang menunjukkan kemampuan bahan logam untuk bertambah panjang ketika diberi beban atau gaya tarik.  Besaran ini...

Pengujian Sifat Mekanik Bahan Logam

Pengertian Definisi Sifat Mekanik Bahan Logam.  Pengujian bahan atau logam bertujuan untuk mendapatkan atau mengetahui beberapa sifat bahan logam...

Prinsip Kerja Uji Impak Charpy dan Izod, Pengertian Ketangguhan Rumus Perhitungan Contoh Soal

Sifat Ketangguhan Material Bahan Logam. Sifat ketangguhan adalah kemampuan suatu bahan material dalam menyerap energi atau gaya yang diberikan sampai...

Prinsip Kerja Uji Kekerasan Brinell Vickers Rockwell, Pengertian Rumus Contoh Soal Perhitungan

Pengertian Kekerasan Bahan Logam.  Kekerasan adalah ketahanan bahan atau logam terhadap deformasi yaitu deformasi tekan atau indentasi. Pada umumnya pengujian ...

Sifat Mampu Bentuk Bahan Logam, Formability

Pengertian Formability.  Sifat mampu bentuk atau formability merupakan sifat yang dimiliki oleh bahan atau logam yang menunjukkan kemampuan untuk...

Sifat Mampu Cor Bahan Logam, Castability

Pengertian Dan Istilah Castability.  Sifat mampu cor atau castability adalah sifat yang dimiliki oleh bahan yang menunjukkan kemampuan bahan logam untuk ...

Sifat Mampu Mesin Bahan Logam, Machinability

Pengertian Sifat Mampu Mesin. Sifat mampu mesin adalah sifat yang dimiliki oleh bahan logam yang menunjukkan kemampuan untuk dibentuk dengan proses pemesinan....

Uji Kemampukerasan Jominy Test: Pengertian, Prinsip, Cara Kerja Percobaan, Fungsi, Tujuan, Kurva Uji,

Pengertian Kekerasan, Hardness. Kekerasan menunjukkan daya tahan material umumnya logam terhadap deformasi plastic dengan cara penekanan (penetrasi)....

Daftar Pustaka:

  1. Anrinal, 2013, “Metalugri Fisik”, Penerbit CV. Andi Offset, Yogyakarta.
  2. Callister, Jr. William D. ,2010, “Materials Science And Engineering An Introduction”, 8th edition, Utah, John Wiley & Sons,inc.
  3. George E. Dieter, 1988, “Mechanical Metallurgy”, SI Metric Edition, Maryland USA, McGraw-Hill Book Company UK Limited.
  4. Betzalel Avitzur, 1983, “Handbook of Metal-Forming Process”, John Wiley & Sons Inc., New York.
  5. Lange, K. 1985, “Handbook of Metal Forming”, MC Graw-Hill, New Jersey
  6. Hosford, W. F., 1993, “Metal Forming, Mechanics & Metallurgy”, Second edition, Printice-Hill, Inc., New Jersey.
  7. Backofen, W. A., 1972, “Deformation Processing”, Addison-Willey Publishing Company, Massachusett.
  8. Dieter, G.E., 1988,”Workability Testing Techniques”, ASM, Metal Park, Ohio.