Titrasi Asam Basa: Pengertian Titik Akhir Ekivalen Fungsi Indikator Kurva Reaksi Titrasi Contoh Soal Rumus Perhitungan 9

Pengertian Titrasi:Titrasi merupakan suatu metode untuk menentukan konsentrasi suatu zat di dalam larutan. Titrasi dilakukan dengan cara mereaksikan larutan tersebut dengan larutan yang sudah diketahui konsentrasinya.


Untuk mengetahui konsentrasi larutan asam, maka larutan asam direaksikan dengan larutan basa yang telah diketahui konsentrasinya. Sebaliknya, untuk mengetahui konsentrasi basa, maka larutan basa tersebut direaksikan dengan larutan asam yang sudah diketahui konsentrasiya.

Indikator Titrasi Asam Basa

Penambahan larutan yang sudah diketahui konsentrasinya ke dalam larutan lain dibantu dengan indikator untuk mengetahui titik ekuivalen reaksi.

Untuk reaksi titrasi, indicator yang digunakan adalah indicator yang berubah warna pada pH netral atau mendekati netral

Contoh Indikator Titrasi Asam Basa

Indikator yand sering digunakan dalam titrasi adalah fenolftalein. Indikator lainnya adalah metil merah dan bromotimol biru.

Jika indikator PP digunakan pada titrasi HCl–NaOH maka pada saat titik setara tercapai yaitu pH = 7,  indikator PP belum berubah warna dan akan berubah warna ketika larutan mencapai pH 8.

Jadi, pada keadaan seperti ini, penghentian titrasi (titik akhir titrasi) dapat dilakuka ketika warna larutan berubah agak merah jambu, adapun titik setara sudah dilampaui. Dengan kata lain, titik akhir titrasi tidak sama dengan titik stoikiometri.

Jika dalam titrasi HCl–NaOH menggunakan indikator brom timol biru (BTB), dimana trayek pH indikator ini adalah 6 (kuning) dan 8 (biru) maka pada saat titik setara tercapai (pH =7) warna larutan campuran menjadi hijau.

Kekurangan yang utama dari indikator BTB adalah mengamati warna hijau tepat pada pH = 7 sangat sukar, mungkin lebih atau kurang dari 7.

Fungsi Indikator Titrasi Asam Basa

Fungsi indikator adalah untuk mengetahui titik akhir titrasi. Jika indikator yang digunakan tepat, maka indikator tersebut akan berubah warnanya pada titik akhir titrasi.

Titik Ekivalen Reaksi Titrasi

Titik ekivalen titrasi adalah saat dimana jumlah mol ion H+ dari asam setara dengan jumlah mol ion OH dari basa. Pada titik ekivalen, larutan bersifat netral atau dengan kata lain sudah terbentuk air dimana asam dan basa tepat habis bereaksi.

Titik Akhir Titrasi

Titrasi dihentikan tepat pada saat indikator menunjukkan perubahan warna. Saat perubahan warna indicator disebut titik akhir titrasi.

Hubungan Titik Akhir Titrasi Dengan Titik Ekivalen Titrasi

Titik akhir titrasi yaitu pada saat indikator berubah warna diharapkan mendekati titik ekuivalen titrasi, yaitu kondisi pada saat larutan asam tepat bereaksi dengan larutan basa.

Indikator yang digunakan harus tepat (sesuai) agar titik akhir dan titik ekivalen terjadi saat yang sama atau tepat. Jika indikator yang digunakan berubah warna pada saat titik ekuivalen, maka titik akhir titrasi akan sama dengan titik ekuivalen.

Akan tetapi, jika perubahan warna indikator terletak pada pH di mana zat penitrasi sedikit berlebih, maka titik akhir titrasi berbeda dengan titik ekuivalen.

Jika indikator yang dipakai memiliki trayek pH 6 – 8 seperi indikator bromtimol biru BTB, kemungkinan titik akhir titrasi sama dengan titik ekuivalen.

Apabila indikator yang digunakan adalah fenolftalein, pH pada titik akhir titrasi lebih besar dari pH titik ekuivalen sebab pada saat titik ekuivalen tercapai, larutan belum berubah warna.

Titrasi Asam Kuat Oleh Basa Kuat

Titrasi asam kuat oleh  basa kuat pada dasarnya adalah reaksi penetralan asam oleh basa atau sebaliknya. Reaksi asam kuat HCl dan basa kuat NaOH adalah seperti berikut

HCl + NaOH → NaCl + H2O atau

Persamaan ion bersihnya adalah seperti berikut

H+ (aq) + OH (aq) → H2O (l)

Ketika campuran berubah warna, itu menunjukkan ion H+ dalam larutan HCl telah dinetralkan seluruhnya oleh ion OH dari NaOH.

Jika larutan NaOH ditambahkan terus, dalam campuran akan kelebihan ion OH (ditunjukkan oleh warna larutan merah jambu).

Contoh Asam Kuat Berbasa Satu Dan Basa Kuat Berasam Satu

– Asam kuat berbasa satu dengan basa kuat berasam satu adalah HCI dengan KOH.

Contoh Asam Kuat Berbasa Dua Dan Basa Kuat Berasam Dua

– Asam kuat berbasa dua dengan basa kuat berasam dua adalah H2SO4 dengan Ba(OH)2.

Acidimetri Dan Alkalimetri

Acidimetri dan alkalimetri adalah analisis kuantitatif volumetri berdasarkan reaksi netralisasi.

Acidimetri

Acidimetri adalah reaksi netralisasi (titrasi) larutan basa dengan larutan standar asam.

Alkalimetri

Alkalimetri adalah reaksi netralisasi (titrasi) larutan asam dengan larutan standar basa. Jadi, keduanya dibedakan pada larutan standarnya.

Kurva Titrasi Asam Kuat Oleh Basa Kuat

Untuk menyatakan perubahan pH pada saat titrasi digunakan grafik yang disebut kurva titrasi.

Kurva titrasi yaitu grafik yang menyatakan hubungan perubahan pH dan jumlah larutan standar yang ditambah.

Contoh Kurva Titrasi Asam Kuat Oleh Basa Kuat

Contoh kurva hasil percobaan titrasi larutan asam kuat HCl  oleh larutan basa kuat NaOH ditunjukkan pada gambar berikut:

Contoh Kurva Titrasi Asam Kuat Oleh Basa Kuat
Contoh Kurva Titrasi Asam Kuat Oleh Basa Kuat

Pada gambar ditunjukkan bahwa titik ekivalen titrasi terjadi Ketika pH larutan dalam Erlenmeyer (larutan asam) adalah 7 dan total jumlah larutan basa yang telah ditembahkan adalah 50 ml.

Pemberian larutan basa dihentikan Ketika terjadi perubahan warna larutan asam (dalam labu Erlenmeyer) dan keadaan ini disebut sebagai titik akhir titrasi.

Pada awal awal titrasi, penambahan basa menimbulkan perubahan pH yang sangat kecil, namun ketika mendekati titik ekuivalen perubahannya cukup drastis.

Gejala ini dapat dijelaskan sebagai berikut. Pada awal titrasi, jumlah ion H+ sangat banyak dalam larutan asam. Sehingga penambahan sedikit ion OH hanya mampu merubah pH yang kecil.

Namun, Ketika mendekati titik ekuivalen, konsentrasi H+ sudah relatif sedikit, sehingga penambahan sejumlah kecil OH dapat menimbulkan perubahan pH yang sangat besar.

Fungsi Kurva Titrasi Asam Basa

Kurva titrasi digunakan untuk memudahkan penentuan titik ekivalen titrasi yang bentuk kurva titrasinya tergantung pada jenis asam dan basa yang digunakan.

Titrasi Asam Lemah Oleh Basa Kuat

Penetralan asam lemah oleh basa kuat Contohnya adalah asam lemah CH3COOH 0,1 M dititrasi oleh NaOH 0,1 M.

Untuk penetralan CH3COOH oleh NaOH, persamaan ion bersihnya adalah sebagai berikut

CH3COOH (aq) + OH (aq)  → H2O (l) + CH3COO(aq)

Contoh Kurva Titrasi Asam Lemah Basa Kuat

Kurva titrasi asam lemah oleh basa kuat ditunjukkan pada gambar berikut

Contoh Kurva Titrasi Asam Lemah Basa Kuat
Contoh Kurva Titrasi Asam Lemah Basa Kuat

pH awal dan titik ekivalen terjadi pada pH yang lebih tinggi jika dibandingkan dengan titrasi asam kuat dan basa kuat. Hal ini disebabkan asam lemah CH3COOH menghasilkan ion H+ dalam jumlah yang sedikit atau hanya mengion sebagian.

Titik ekivalen terjadi pada pH 8,72 lebih tinggi dari pH 7 (netral). Pada campuran terdapat pula natrium asetat yang bersifat basa lemah yang meningkatkan pH, akibat hidrolisis oleh CH3COO.

Setelah titik ekivalen kedua grafik sama Kembali karena pH hanya bergantung pada ion hidroksida yang ditambahkan saja.

Pemilihan indikator yang cocok untuk titrasi asam lemah oleh basa kuat lebih terbatas, yaitu indikator yang mempunyai trayek pH antara 7 sampai 10. Indikator yang dipakai adalah fenolftalein

Titrasi Basa Lemah Oleh Asam Kuat

Titrasi basa lemah oleh asam kuat contohnya adalah larutan NH4OH 0,1 M (basa lemah) dititrasi dengan HCl 0,1 M (asam kuat).

NH4OH + HCL → NH4Cl + H2O

Titrasi basa lemah oleh asam kuat mirip dengan titrasi asam lemah dengan basa kuat, tetapi kurva yang terjadi kebalikannya, cenderung turun.

Contoh Kurva Titrasi Basa Lemah Oleh Asam Kuat

Kurva titrasi basa lemah oleh basa kuat digambarkan seperti berikut

Contoh Kurva Titrasi Basa Lemah Oleh Asam Kuat
Contoh Kurva Titrasi Basa Lemah Oleh Asam Kuat

Pada titrasi basa lemah oleh basa kuat nilai pH turun sedikit demi sedikit, kemudian mengalami penurunan drastis pada pH antara 8 sampai 3.

Pada kurva di atas terlihat bahwa titik ekivalen pada saat pH di bawah 7 yaitu pada pH 5,28. Oleh sebab itu, indikator yang paling cocok adalah indikator metil merah. Indikator metil merah memiliki trayek pH = 4,2 – 6,3

Alat Bahan Percobaan Titrasi Asam Basa

Alat dan bahan untuk percobaan titrasi asam basa adalah sebagai berikut

Alat Percobaan Titrasi Asam Basa

– Statif

– Buret

– Erlenmeyer

– Tabung reaksi

– Gelas ukur

– Pipet volume

Bahan Percobaan Titrasi Asam Basa

– Larutan Asam (HCl)

– Larutan Basa (NaOH 0,1 M)

– Indikator fenoftalein

Gambar Alat Dan Bahan Percobaan Titrasi Asam Basa

Rangkaian alat percobaan yang digunakan dalam titrasi asam basa dapat dilihat pada gambar berikut

Gambar Alat Dan Bahan Percobaan Titrasi Asam Basa
Gambar Alat Dan Bahan Percobaan Titrasi Asam Basa

Dalam melakukan titrasi, larutan yang dititrasi, disebut titrat dimasukkan ke dalam labu erlenmeyer (biasanya larutan asam), sedangkan larutan pentitrasi, disebut titran (biasanya larutan basa) dimasukkan ke dalam buret.

Buret adalah alat yang digunakan untuk menambahkan larutan standar  ke dalam larutan yang akan ditentukan molaritasnya. Larutan standar adalah larutan yang sudah diketahui konsentrasinya.

Titran dituangkan dari buret tetes demi tetes ke dalam larutan titrat sampai titik stoikiometri tercapai.

Cara Kerja Titrasi Asam Basa

1). Masukkan 20 mL larutan HCl dan 3 tetes indicator fenolftalein dalam Erlenmeyer. Larutan yang akan dititrasi dimasukkan ke dalam erlenmeyer dengan mengukur volumenya terlebih dahulu memakai pipet gondok.

2). Isi buret dengan larutan NaOH 0,1 M hingga garis 0 mL. Larutan yang akan diteteskan dimasukkan ke dalam buret (pipa Panjang berskala). Larutan dalam buret disebut penitrasi.

3). Memberikan beberapa tetes indikator pada larutan yang dititrasi (dalam erlenmeyer) menggunakan pipet tetes. Indikator yang dipakai adalah yang perubahan warnanya sekitar titik ekuivalen.

4). Tetesi larutan HCl dengan NaOH. Proses titrasi, yaitu larutan yang berada dalam buret diteteskan secara perlahan-lahan melalui kran ke dalam erlenmeyer.

Erlenmeyer digoyang- goyang sehingga larutan penitrasi dapat larut dengan larutan yang berada dalam erlenmeyer.

4). Penetesan dihentikan saat terjadi perubahan warna yang tetap (merah muda). Penambahan larutan penitrasi ke dalam erlenmeyer dihentikan ketika sudah terjadi perubahan warna dalam erlenmeyer. Perubahan warna ini menandakan telah tercapainya titik akhir titrasi (titik ekuivalen).

5). Mencatat volume yang dibutuhkan larutan penitrasi dengan melihat volume yang berkurang pada buret setelah dilakukan proses titrasi.

6). Ulangi percobaan hingga diperoleh data yang hampir sama.

Menentukan Titik Akhir Titrasi

Kurva titrasi dapat dibuat dengan menghitung pH larutan asam/basa pada beberapa titik berikut.

1). Titik awal sebelum penambahan asam/basa.

2). Titik-titik setelah ditambah asam/basa sehingga larutan mengandung garam yang terbentuk dan asam/basa yang berlebih.

3). Titik ekivalen, yaitu saat larutan hanya mengandung garam, tanpa ada kelebihan asam atau basa.

Pada saat kondisi titik ekivalen terjadi, maka berlaku rumus berikut:

Na x Va = Nb x Vb

Keterangan:

Na = normalitas larutan yang dititrasi (titran)

Va = volume titran

Nb = normalitas larutan yang menitrasi (penitran)

Vb = volume penitran

N = n x M

n = valensi asam/basa

M = molaritas larutan

Daerah lewat ekivalen, yaitu larutan yang mengandung garam dan kelebihan asam/basa.

1). Contoh Soal Menghitung pH Sebelum Setelah Titrasi Asam HCl Basa NaOH

Sebanyak 25 mL larutan HCl 0,1 M dititrasi dengan NaOH 0,1 M. Hitung pH larutan:

a). sebelum penambahan NaOH

b). setelah penambahan NaOH 25 mL

Reaksi Ionisasi Asam Klorida HCL Sebelum Titrasii Asam Basa

HCL → H+ + Cl

0,1M     0,1M

Menentukan Konsentrasi Ion H+ Sebelum Titrasi Asam Basa

Nilai pH ditentukan oleh jumlah H+ dari HCl. Konsentrasi awal HCl= 0,1 M, maka larutan akan mengandung 0,1 M H+.

[H+] = 0,1 M.

Rumus Menentukan pH Larutan HCl Sebelum Titrasi Asam Basa

pH = – log [H+]

pH = -log 0,1

pH = 1

Menentukan Jumlah Larutan NaOH Pada Titrasi

Jumlah larutan NaOH yang digunakan dalam titrasi dapat dihitung dengan rumus persamaan berikut

Na x Va = Nb x Vb atau

na x Ma x Va = nb x Mb x Vb

na = valensi HCL

Ma = Konsentrasi HCl

Va = Volume HCl

 nb = valensi NaOH

Mb = Konsentrasik NaOH

Vb = volume NaOH

Sehingga jumlah NaOH adalah

Vb = (na x Ma x Va)/(nb x Mb)

Vb = (1 x 0,1 x 25)/(1 x 0,1)

Vb = 25 mL

Menentukan pH Larutan Setelah Titrasi

Jumlah NaOH yang ditambahkan adalah 25 mL sehingga konsentrasi NaOH adalah

[NaOH] = 25 ml × 0,1 M = 2,5 mmol.

Jumlah asam klorida mula- mula adalah

[HCl] = 25 mL × 0,1 M = 2,5 mmol.

Ion OH yang ditambahkan bereaksi tepat sama dengan H+, saat [H+] = [OH]. Pada titik ini dinamakan titik ekuivalen titrasi.

Pada titik ekuivalen, konsentrasi H+ yang terdapat dalam larutan sama dengan reaksi ionisasi air. Jadi, keasaman setelah titrasi adalah pH = 7.

2). Contoh Soal Perhitungan Konsentrasi Asam Sulfat Dengan Titrasi

Sebanyak 40 mL larutan H2SO4 belum diketahui konsentrasinya dititrasi dengan larutan NaOH 0,1 M dengan menggunakan indikator fenolftalein PP. Pada saat volume NaOH tepat 60 mL warna indikator mulai berubah.Tentukan konsentrasi H2SO4 tersebut!

Reaksi Asam Sulfat dan Basa Natrium Hidroksida Pada Titrasi Asam Basa

Reaksi titrasi asam sulfat dan basa natrium hidroksida memenuhi persamaan reaksi kimia berikut

H2SO4 (aq) + 2NaOH (aq) → Na2SO4 (aq) + 2H2O (aq)

Diketahui

na = 2

Ma = ….

Va = 40 ml

nb = 1

Mb = 0,1 M

Vb = 60 ml

Indikator pH = fenolftalein

Rumus Menentukan Konsentrasi Asam Sulfat Titrasi Natrium Hidrosida

Konsentrasi Asam sulfat dapat dinyatakan dengan rumus berikut

na x Ma x Va = nb x Mb x Vb

Ma = (nb x Mb x Vb)/(na x Va)

Ma = (1 x 0,1 x 60)/(2 x 40)

Ma = 0,075 M

Jadi konsentrasi asam sulfat adalah = 0,075M

3). Contoh Soal Perhitungan Molaritas Larutan KOH Titrasi Asam Basa

Pada larutan 40 mL larutan KOH dititrasi dengan HCI 0,1 M dengan menggunakan indikator fenolftalein (PP). Ternyata dibutuhkan 50 mL HCl 0,1 M. Berapa molaritas larutan KOH dan berapa [OH]

Reaksi Titrasi Asam HCL Dan Basa KOH

Reaksi asam HCl dan basa KOH memenuhi persamaan reaksi berikut

HCl + KOH → KCl + H2O

Diketahui

na = 1

Ma = 0,1 M

Va = 50 ml

nb = 1

Mb = — M

Vb = 40

Indikator pH = fenolftalein

Rumus Menentukan Konsentrasi Basa KOH Titrasi Asam HCl

Konsentrasi basa KOH  dapat dinyatakan dengan rumus berikut

na x Ma x Va = nb x Mb x Vb

Mb = (na x Ma x Va)/(nb x Vb)

Mb = (1 x 0,1 x 50)/(1 x 40)

Mb = 0,125 M

jadi molaritas KOH adalah 0,125 M

Reaksi Ionisasi KOH Pada Titrasi  Dengan Asam HCL

 KOH    → K+ + OH

0,125M                0,125M

[OH] = 0,125 M

Jadi konsentrasi ion OH adalah 0,125 M

4). Contoh Soal Perhitungan Hasil Percobaan Titrasi Asam Sulfat Dan Natrium Hidroksida

Data hasil percobaan titrasi ditunjukkan dalam table berikut

Contoh Soal Perhitungan Hasil Percobaan Titrasi Asam Sulfat Dan Natrium Hidroksida
Contoh Soal Perhitungan Hasil Percobaan Titrasi Asam Sulfat Dan Natrium Hidroksida

Konsentrasi NaOH adalah 0,2 M. Hitungan berapa kadar (%) H2SO4 yang terdapat dalam 20 mL larutan asam sulfat tersebut jika diketahui massa jenisnya 1,8 gam/mL.

Diketahui

Mb = 0,2 M

Vb = (23,8 + 24 + 24,2)/3

Vb = 24 mL

nb = 1

Ma = —M

na = 2

Va = 20 mL

Rumus Menghitung Konsentrasi Asam Sulfat H2SO4

Konsentrasi asam sulfat dapat dirumuskan dengan persamaan berikut

na x Ma x Va = nb x Mb x Vb

 Ma = (nb x Mb x Vb)/ (na x Va)

Ma = (1 x 0,2 x 24)/(2 x 20)

Ma = 0,12 M

Jadi konsentrasi asam sulfat adalah 0,12 M

Menghitung Kadar H2SO4 Dalam Larutan Asam Sulfat

Kadar H2SO4 dalam larutan asam sulfat dapat dinyatakan dengan rumus persamaan berikut:

mol = m/Mr

m = massa H2SO4

M = mol/liter atau

M = (m/Mr)/liter,  sehingga massa H2SO4 dalam satu liter adalah

m = M x Mr = 0,12 x 98

m = 11,76 gram per liter

Massa Larutan Asam Sulfat

ρ = ml/volume

ml = massa larutan asam sulfat

ρ = 1,8 g/mL atau

ρ = 1800 gram/liter

ml = ρ x volume

m1 = 1800 x 1

m1 = 1800 gram

Persentase H2SO4 = (11,76/1800) x 100%

Persentase H2SO4 = 0,65 %

Jadi, persentasi H2SO4 dalam larutan asam sulfat adalah 0,65 %

5). Contoh Soal Perhitungan Persentase Asam Asestat Titrasi Natrium Hidroksida NaOH

Untuk mengetahui persentase CH3COOH dalam larutan asam asetat maka dilakukan titrasi 20 mL larutan asam asetat dengan larutan NaOH. Titrasi asam asetat memerlukan 30 mL larutan NaOH 0,1 M. Massa jenis larutan asam asetat adalah 0,900 kg /L.

a). Tentukan kemolaran asam asetat

b). Berapa % kadar asam asetat tersebut

Menghitung Konsentrasi CH3COOH Hasil Titrasi NaOH

Konsentrasi CH3COOH dapat dinyatakan dengan rumus berikut

 na x Ma x Va = nb x Mb x Vb atau

Ma = (nb x Mb x Vb)/(na x Va)

Ma = (1 x 0,1 x 30)/(1 x 20)

Ma = 0,15 M

Menghitung Massa CH3COOH Dalam Larutan Asam Asetat

Massa CH3COOH dapat ditentukan dengan rumus berikut

m = M. Mr

m = 0,15 x 60

m = 9 gram dalam 1 liter

Menghitung Massa Larutan Asam Asetat

Massa satu liter larutan asam asetat dapat dihitung dengan rumus berikut

ml = ρ x Vl

ml = 0,90 x 1

m1 = 0,90 kg

m1 = 900 gram

Menghitung Persentasi Asam Asetat Dalam Larutan

Persentase CH3COOH dihitung dengan rumus berikut

Persentase CH3COOH = (9/900) x 100%

Persentase CH3COOH = 1,0  %

Jadi persentasi asam asetat dalam larutan adalah 1,0 %

6). Contoh Soal Perhitungan Konentrasi Larutan HCl Dengan Titrasi Larutan Barium Hidrokida Ba(OH)2

Larutan Asam Klorida HCl yang tidak diketahui konsentrasinya dititrasi dengan larutan barium hidroksida Ba(OH)2 0,2 M. Berapa konsentrasi larutan  HCl tersebut. Jika hasil titrasi ditunjukkan seperti pada table berikut:

Contoh Soal Perhitungan Konentrasi Larutan HCl Dengan Titrasi Larutan Barium Hidrokida Ba(OH)2
Contoh Soal Perhitungan Konentrasi Larutan HCl Dengan Titrasi Larutan Barium Hidrokida Ba(OH)2

Vb = (25 + 24 + 26)/3

Vb = 25 ml

Mb = 0,2 M

 Va = 20 ml

Menghitung Konsentrasi Larutan Asam Klorida Melalui Titrasi Barium Hidroksida

Kosentrasi HCl dapat dihitung dengan persamaan berikut:

na x Ma x Va = nb x Mb x Vb atau

Ma  = (nb x Mb x Vb)/( na x Va)

Ma = (2 x 0,2 x 25)/(1 x 20)

Ma = 0,5 M

Jadi, konsentrasi HCl adalah 0,5 M

7). Contoh Soal Menghitung Massa Asam Cuka Yang Terlarut Dengan Titrasi

Jika pada titrasi 50 mL larutan asam cuka membutuhkan 60 mL larutan KOH 0,1 M dengan indicator PP. Berapa gram asam cuka yang terlarut dalam 200 mL larutan.

Diketahui:

na = 1

Ma = — M

Va = 50 ml

nb = 1

Mb = 0,1 M

Vb = 60 ml

Persamaan Reaksi Titrasi Asam Cuka Dan KOH

KOH (aq) + CH3COOH (aq) → CH3COOH (aq) + H2O (l)

0,1 M           Ma

Rumus Menghitung Konsentrasi Asam Cuka Tittrasi KOH

Konsentrasi asam cuka dapat dihitung dengan rumus berikut

na x Ma x Va = nb x Mb x Vb atau

Ma  = (nb x Mb x Vb)/( na x Va)

Ma = (1 x 0,1 x 60)/(1 x 50)

Ma = 0,12 M

Rumus Menghitung Massa Asam Cuka Dalam Larutan

Massa asam cuka dalam larutan dapat dinyatakan dengan rumus berikut

M = mol/L

M = (m/Mr)/1L

m = M. Mr

m = 0,12 x 60

m = 7,2 gram/L

massa asam asetat dalam 200 ml adalah

m = 7,2 x 200mL/1000mL

m = 1,44 gram

Jadi, massa asam asetat dalam larutan adalah 1,44 gram

8). Contoh Soal Perhitungan Kemolaran Larutan NaOH Pada Titik Akhir Titrasi

Larutan HCl 0,1 M dititrasi dengan larutan NaOH. Ternyata titik akhir titrasi tercapai ketika 40 mL larutan NaOH telah diteteskan ke dalam 20 mL larutan HCl. Tentukan kemolaran larutan NaOH yang digunakan.

Diketahui

na = 1

Ma = 0,1 M

Va = 20 ml

nb = 1

Mb = — M

Vb = 40 ml

Persamaan Reaksi Kimia Titrasi Larutan HCl Dengan Larutan NaOH

Reaksi titrasi antara HCl dengan NaOH dapat dinyatakan dengan persamaan reaksi berikut

HCL + NaOH  → NaCl + H2O

Menentukan Kemolaran Larutan NaOH Pada Titik Akhir Titrasi

Kemolaran larutan NaOH dapat dirumuskan dengan persamaan berikut

na x Ma x Va = nb x Mb x Vb atau

Mb   = (na x Ma x Va)/(nb x Vb)

Mb = 1 x 0,1 x 20)/(1 x 40)

Mb = 0,05 M

Jadi, kemolaran NaOH adalah 0,05 M

9). Contoh Soal Perhitungan Konsentrasi pH Asam Klorida Pada Titik Akhir Titrasi

Hasil percobaan titrasi larutan HCl dengan larutan NaOH 0,01 M ditunjukkan pada gambar berikut

Contoh Soal Perhitungan Konsentrasi pH Asam Klorida Pada Titik Akhir Titrasi
Contoh Soal Perhitungan Konsentrasi pH Asam Klorida Pada Titik Akhir Titrasi

Jumlah larutan HCl yang dititrasi adalah 100 mL dan indicator yang digunakan adalah fenolftalien PP yang memiliki trayek pH 8 – 10. Tentukan konsentrasi larutan HCl  dan pH larutan ketika terjadi pada titik akhir titrasi.

Diketahui

na = 1

Ma = —M

Va = 100 ml

nb = 1

Mb = 0,01 M

Vb = 50 mL (titik ekovalen)

Rumus Menentukan Kemolaran HCl Pada Titik Ekivalen Titrasi NaOH

Konsentrasi HCl pada titik ekivalen dapat ditentukuan dengan menggunakan rumus berikut

na x Ma x Va = nb x Mb x Vb atau

Ma = (nb x Mb x Vb)/( na x Va)

Ma = (1 x 0,01 x 50)/(1 x 100)

Ma = 0,005 M

Jadi, konsentrasi HCl adalah 0,005 M

Menentukan Konsentrasi Ion Hidroksida Pada Titik Akhir Titrasi

Titik akhir titrasi terjadi setelah titik ekivalen yaitu di atas pH 7. Artinya larutan bersifat basa yaitu ada kelehihan ion OH. Sehingga yang dicari lebih dahulu adalah kelebihan ion OH dan nilai pOH-nya.

Pada titik akhir titrasi jumlah mol HCl dan NaOH adalah

mol HCl = 100 x 0,005 = 0,5 mmol

mol NaOH = 53 x 0,01 = 0,53 mmol

Kemolaran ion hidroksida pada titil akhir titrasi dapat dirumuskan dengan persamaan reaksi berikut

HCL   +    NaOH → NaCl + H2O

0,5mmol   0,53 mmol

atau dalam bentuk ion ionnya

Reaksi Ion HCl dan NaOH

0,5 mmol H+ + 0,53 mmol OH → 0,5 mmol H2O

Jumlah OH yang bereaksi dengan H+ adalah 0,5 mmol sehingga ada kelebihan OH dalam larutan

Kelebihan OH dalam larutan = 0,53 – 0,5

OH = 0,03 mmol

sehingga konsentrasi [OH[ adalah

[OH] = 0,03/(100+53)

[OH] = 0,000196 M

Keasaaman Larutan HCL Di Titik Akhir Titrasi

Keasaman atau pH larutan HCl pada titik akhir titrasi dapat ditentukan dengan rumus berikut

pH = 14 – pOH

pOH = -log (0,000196)

pOH = 3,707

pH = 14 – pOH

pH = 14 – 3,707

pH = 10,29

Jadi, pH larutan saat terjadi titik akhir titrasi adalah 10,29

Daftar Pustaka:

  1. Sunarya, Yayan, 2014, “Kimia Dasar 1, Berdasarkan Prinsip Prinsip Kimia Terkini”, Cetakan Ketiga, Yrama Widya, Bandung.
  2. Hiskia Achmad,  1996, “K imia Larutan”, Citra Aditya Bakti,  Bandung.
  3. Sunarya, Yayan, 2013, “Kimia Dasar 2, Berdasarkan Prinsip Prinsip Kimia Terkini”, Cetakan Kedua, Yrama Widya, Bandung.
  4. Syukri, S., 1999, “Kimia Dasar 2”, Jillid 2, Penerbit ITB, Bandung
  5. Chang, Raymond, 2004, “Kimia Dasar, Konsep -konsep Inti”, Edisi Ketiga, Jilid Satu, Penerbit, Erlangga, Jakarta.
  6. Brady, James, E,1999, “Kimia Universitas Asas dan Struktur”, Edisi Kelima, Jilid Satu, Binarupa Aksara, Jakarta,
  7. Brady, James, E., 1999, “Kimia Universitas Asas dan Struktur”, Edisi Kelima, Jilid Dua, Binarupa Aksara, Jakarta.
  8. Rangkuman Ringkasan: 1. Stoikiometri larutan melibatkan konsep mol dalam menentukan konsentrasi zat-zat di dalam larutan.
  9. Reaksi asam dan basa merupakan reaksi penetralan ion H+ oleh OH. Reaksi asam basa juga dinamakan reaksi penggaraman.
  10. Indikator asam basa adalah asam-asam lemah organic yang dapat berubah warna pada rentang pH tertentu.
  11. Rentang pH pada saat indikator berubah warna dinamakan trayek pH indikator.
  12. Titrasi asam basa adalah suatu teknik untuk menentukan konsentrasi asam atau basa dengan cara titrasi.
  13. Titik setara atau titik stoikiometri adalah titik pada saat titrasi, asam dan basa tepat ternetralkan. Titik akhir titrasi dapat sama atau berbeda dengan titik setara.