Indikator Forex, Exponential Moving Average, EMA.

Indikator Exponential Moving Average, EMA

Metoda Exponential Moving Average merupakan modifikasi dari metoda Simple Moving Average. Nilai yang diindikasikan oleh SMA dianggap kurang dapat merepresentasikan pergerakan kurs terutama saat terjadi perubahan arah. SMA dianggap terlalu lambat dalam memberikan titik acuan yang akan digunakan untuk prediksi pergerakan kurs selanjutnya.

Metoda EMA dirancang untuk dapat mengurangi kelemahan yang dimiliki oleh SMA. Dengan demikian EMA diharapkan mampu memberikan indikasi yang representatif terhadap pergerakan kurs.

Metoda EMA menggunakan prinsip yang sama dengan SMA. Sehingga interpretasi dalam penggunaannya juga sama. Formula EMA memberikan bobot terhadap data kurs yang diobservasinya. Nilai EMA menunjukkan nilai rata-rata bergerak dari kurs yang diberi bobot sesuai dengan periodenya. Kurs terakhir diberi bobot lebih besar dibanding kurs sebelumnya. Formula untuk perhitungan EMA adalah:

EMAt = EMAs + α x (Xt – EMAs)

EMAt = EMA terakhir

EMAs = EMA sebelumnya

Xt = kurs penutupan terakhir

α = 2/(n+1) = faktor penghalus

n = periode

Formula EMA Lainnya:

Adapun bentuk lain dari formula EMA adalah:

EMA = α x  {X1 + (1 – α)X2 + (1 – α)2 X3 + (1 – α)3 X4 + ….}

X1 sampai X4 dan seterusnya = Kurs penutupan.

Formula EMA memberikan bobot yang lebih tinggi terhadap nilai kurs terakhir. Semakin jauh ke belakang kurs yang digunakan, maka nilai pembobotan semakin kecil. Nilai pembobotan dari formula EMA adalah (1 – α).

Misal kurs terakhir yaitu X1, kurs kedua terakhir X2 dan kurs ketiga terakhir X3 dan seterusnya, maka nilai bobot untuk X1, X2, X3 dan seterusnya adalah:

Kurs terakhir, X1 diberi bobot (1 – α)0

Kurs kedua terakhir, X2 diberi bobot (1 – α)1

Kurs ketiga terakhir, X3 diberi bobot (1 – α)2 dan seterusnya.

Interpretasi dari metoda EMA sama persis dengan interpretasi pada metoda SMA. Faktor pembobot menyebabkan kurva kurs menjadi lebih dekat terhadap kurva EMA daripada kurva SMA.

Contoh aplikasi EMA dan bagaimana posisi kurva EMA terhadap kurva kurs EUR/USD dapat dilihat pada Gambar 2.7. Data kurs yang digunakan adalah kurs penutupan EUR/USD pada timeframe H1. Data diambil dari trading platform metatrader, tanggal 08 April 2009. Pada gambar ditunjukkan pula posisi kurva EMA terhadap kurva SMA. Pada contoh ini metoda EMA dan SMA menggunakan periode enam dan dinotasikan sebagai EMA (6) dan SMA (6)

Dari gambar dapat diketahui bahwa kurva kurs cenderung lebih dekat terhadap kurva EMA (6) daripada kurva SMA (6). Selama 24 jam EMA (6) dan SMA (6) tidak menunjukkan perbedaan yang berarti terhadap titik acuan yang diberikan. Kedua MA memiliki titik potong dengan kurva kurs pada saat yang relatif sama. Artinya selama 24 jam kedua MA memberikan titik acuan yang hampir bersamaan. Dengan demikian  EMA (6) dan SMA (6) akan memberikan prediksi yang relatif sama.

Aplikasi Indikator Exponential Moving Average, EMA

Contoh aplikasi EMA dan bagaimana posisi kurva EMA terhadap kurva kurs EUR/USD dapat dilihat pada Gambar 1. Data kurs yang digunakan adalah kurs penutupan EUR/USD pada timeframe H1. Data diambil dari trading platform metatrader. Pada gambar ditunjukkan pula posisi kurva EMA terhadap kurva SMA. Pada contoh ini metoda EMA dan SMA menggunakan periode enam dan dinotasikan sebagai EMA (6) dan SMA (6)

Dari gambar dapat diketahui bahwa kurva kurs cenderung lebih dekat terhadap kurva EMA (6) daripada kurva SMA (6). Selama 24 jam EMA (6) dan SMA (6) tidak menunjukkan perbedaan yang berarti terhadap titik acuan yang diberikan. Kedua MA memiliki titik potong dengan kurva kurs pada saat yang relatif sama. Artinya selama 24 jam kedua MA memberikan titik acuan yang hampir bersamaan. Dengan demikian  EMA (6) dan SMA (6) akan memberikan prediksi yang relatif sama.

Indikator Exponential Moving Average, EMA

Gambar 1. Aplikasi Indikator Exponential Moving Average Pada Pergerakan Kurs EUR/USD