Jenis Rumus Kepadatan Piramida Penduduk Aritmatik Fisiologis Agraris

Pengertian Kepadatan Penduduk: Kepadatan penduduk atau densitas penduduk adalah banyaknya jumlah penduduk per satuan unit wilayah.

Kepadatan penduduk ini menunjukkan jumlah rata-rata penduduk pada setiap km2 dalam suatu wilayah.

Rumus Kepadatan Penduduk,

Kepadatan penduduk yang bertempat tinggal di suatu daerah dapat dinyatakan dengan menggunakan persamaan berikut…

KP = JPW/ LW

KP = kepadatan penduduk (jiwa/km2)

JPW = jumlah penduduk suatu wilayah (jiwa)

LW = luas wilayah (km2)

Jenis Pengukuran Kepadatan Penduduk,

Pengukuran kepadatan penduduk suatu wilayah dapat dibedakan menjadi empat, yaitu kepadatan penduduk aritmetik, kepadatan penduduk fisiologis, kepadatan penduduk agraris, kepadatan penduduk ekonomi.


Kepadatan penduduk ialah perbandingan rata -rata antara jumlah penduduk di suatu daerah dengan luasnya daerah tersebut dihitung setiap km2, sedangkan kepadatan penduduk agraris, yang dihitung hanya penduduk petaninya saja dan tanah yang dihitung hanya tanah yang produktif. Jadi, lahan tidur, lapangan udara, dan sungai tidak dihitung.

Kepadatan Penduduk Aritmatik

Kepadatan penduduk aritmatik (kasar) adalah angka yang menunjukkan jumlah penduduk dalam satuan wilayah tertentu. Satuan yang biasa digunakan untuk menggambarkan angka kepadatan adalah orang/hektar atau orang/km2.

Kepadatan penduduk aritmetika menunjukkan kepadatan penduduk secara umum yang dihitung per km2 dengan tanpa mempedulikan apakah lahan tersebut daerah permukiman, perkantoran, pertanian sawah, kebun, kolam, atau tambak. Pokoknya dihitung per satuan luas kawasan tersebut.

Rumus Kepadatan Penduduk Kasar,

Besarnya Kepadatan penduduk kasar dapat dinyatakan dengan menggunakan rumus berikut…

KPK = JP/LW

Keterangan:

KPK = kepadatan penduduk aritmatik kasar (orang/ha atau orang/km2)

JP = jumlah penduduk

LW = luas wilayah

Contoh Soal Perhitungan Kepadatan Penduduk Aritmatik Kasar,

Satu tahun terakhir, suatu daerah yang memiliki luas 100 km2 ditempati oleh 40.000 jiwa. Hitunglah kepadatan penduduk kasar wilayah tersebut…

dikatahui

JP = 40.000 jiwa

LW = 100 km2

Kepadatan penduduk kasar dihitung dengan rumus berikut

KPK = JP/LW

KPK = 40.000/100

KPK = 400 jiwa/km2

Jadi. untuk tiap satu kilometer persegi dari daerah tersebut ditempati oleh 400 jiwa.

Contoh Soal Ujian Jawaban Rumus Perhitungan Kepadatan Penduduk Aritmatik Kabupaten,

Sebuah Kabupaten memiliki jumlah penduduk sebanyak 300.000 jiwa dengan luas wilayah permukiman 80 km2. Areal pertanian seluas 160 km2 dan areal bangunan lainnya di luar permukiman, termasuk yang digunakan untuk jalan raya, sebesar 60 km2. Hitung kepadatan aritmetikanya.

Diketahui

JP = 300.000

JW = 80 + 160 + 60

JW = 300 km2

KPK = 300.000/300

KPK = 1000 jiwa/km2

Jadi, setiap satu km2 lahan pada kabupaten tersebut dihuni oleh 1000 jiwa orang. Tanpa membedakan jenis kawasannya.

Kepadatan penduduk aritmatik kurang spesifik, karena ada kawasan yang bukan permukiman juga dihitung, seperti tambak, kolam, perkantoran, atau sawah.

Kepadatan Penduduk Fisiologis,

Kepadatan penduduk fisiologis adalah angka yang menunjukkan perbandingan banyaknya penduduk dengan luas lahan pertanian.

Rumus Kepadatan Penduduk Fisiologis

Besarnya Kepadatan penduduk fisiologis dapat dinyatakan dengan menggunakan persamaan berikut.

KPF = KP

Keterangan:

KPF = kepadatan penduduk fisiologis (orang/ha atau orang/km2)

JP = jumlah penduduk

LT = luas lahan pertanian

Contoh Soal Perhitungan Kepadatan Penduduk Fisiologi,

Satu tahun terakhir, suatu daerah memiliki total lahan seluas 100 km2  dari luas lahan tersebut digunakan untuk pertanian sebesar 80 km2.. Daerah tersebut ditempati oleh penduduk sebanyak 40.000 jiwa. Hitunglah kepadatan penduduk fisiologis wilayah tersebut…

Diketahui

JP = 40.000 jiwa

LT = 80 km2

KPF = 40.000/80

KPF = 500 jiwa/km2

Jadi, kepadatan penduduk fisiologia daerah tersebut adalah 500 jiwa untuk tiap satu kilometer persegi lahan pertanian.

Contoh Soal Perhitungan Kepadatan Penduduk Fisiologis Kabupaten Kota Provinsi,

Pada akhir tahun 2021 sebuah provinsi memiliki jumlah penduduk 2.100.000 orang. Jumlah penduduk yang berpenghasilan dari pertanian adalah 1400.000 jiwa.

Kabupaten tersebut memiliki Kawasan permukiman seluas 1.500 km2, dan areal yang digunakan untuk sekolah, perkantoran, dan jalan raya seluas 1.000 km2, sedangkan luas wilayah pertaniannya adalah 7.000 km2. Hitung kepadatan penduduk fisiogi kabupaten tersebut…

JP = 2100.000 jiwa

LT = 7000 km2

KPF = 2100.000/7000

KPF = 300 jiwa/km2

Jadi. setiap satu km2 lahan pertanian kabupaten tersebut digunakan untuk 300 jiwa penduduk.

Kepadatan Penduduk Agraris,

Kepadatan penduduk agraris adalah angka yang menunjukkan perbandingan banyaknya penduduk petani dengan luas lahan pertanian.

Rumus Kepadatan Penduduk Agraris,

Kepadatan penduduk agraris dapat dihitung dengan menggunakan rumus  sebagai berikut.

KPA=JPT/LT

Keterangan:

KPA = kepadatan penduduk agraris (orang/ha atau orang/km2)

JPT= jumlah penduduk petani

LT = luas lahan pertanian.

Contoh Soal Perhitungan Kepadatan Penduduk Agraris,

Suatu daerah berpenduduk 40.000 jiwa. Sebanyak 16.000 jiwa diantaraya adalah petani. Penduduk tersebut menempati lahan seluas 100 km2 dengan luas lahan pertaniaannya sebesar 80 km2. Hitunglah kepadatan penduduk agraris daerah tersebut.

Diketahui

JPT = 16.000 jiwa

LT = 80 km2

Kepadatan penduduk agraris dihitung dengan cara seperti ini.

KPA = 16.000/80

KPA = 200 jiwa/km2

Jadi, kepadatan penduduk agraris daerah tersebut adalah 200 jiwa untuk tiap km persegi-nya

Contoh Soal Ujian Menentukan Kepadatan Penduduk Agraris Kabupaten Kota Provinsi,

Pada akhir tahun 2021 sebuah provinsi memiliki jumlah penduduk 2.000.000 orang. Jumlah penduduk yang berpenghasilan dari pertanian adalah 1400.000 jiwa.

Kabupaten tersebut memiliki Kawasan permukiman seluas 1.500 km2, dan areal yang digunakan untuk sekolah, perkantoran, dan jalan raya seluas 1.000 km2, sedangkan luas wilayah pertaniannya adalah 7.000 km2. Hitung kepadatan penduduk agraris kabupaten tersebut…

Diketahui

JPT = 1400.000 jiwa

LT = 7000 km2

Besarnya kepadatan penduduk agraris kabupaten kota dapat dihitung dengan cara berikut…

KPA = 1400.000/7000

KPA = 200 jiwa/km2

Jadi, kabupaten tersebut memiliki kepadatan penduduk agraris sebesar 200 jiwa/km2.

Kepadatan Penduduk Ekonomi,

Kepadatan penduduk ekonomi adalah jumlah penduduk pada suatu wilayah didasarkan pada kemampuan penduduk wilayah yang bersangkutan..

Kemampuan wilayah yang dimaksud adalah kapasitas produksi wilayah tersebut. Pengukuran kapasitas produksi suatu wilayah relatif sulit ditentukan sehingga pengukuran kepadatan ini sangat jarang digunakan.

Selain instilah di atas, ada Beberapa pengertian tentang kepadatan penduduk seperti Kepadatan penduduk absolut atau mutlak, Kekurangan penduduk, dan Kepadatan penduduk optimum,

1). Kepadatan Penduduk Absolut – Mutlak,

Kepadatan penduduk absolut atau mutlak, ialah keadaan negara/daerah yang sebagian besar penduduknya masih sulit mencukupi kebutuhan pokoknya, biasanya melanda negara yang sedang berkembang dan negara miskin.

2). Kekurangan Penduduk,

Kekurangan penduduk, terjadi bila suatu negara jumlah penduduk sedemikian kecilnya sehingga sulit untuk mengolah kekayaan alam guna mencukupi kebutuhan hidupnya.

Jadi, baik kepadatan penduduk dan kekurangan penduduk sama-sama kurang menguntungkan bagi negara.

3). Kepadatan Penduduk Optimum,

Kepadatan penduduk optimum, yaitu kepadatan penduduk yang sebaikbaiknya. Jumlah penduduk yang ada di negara itu cukup untuk mengolah kekayaan alam yang ada di negaranya guna mencukupi kebutuhan hidup.

Piramida Penduduk – Piramida Umur

Piramida penduduk – piramida umur adalah grafik susunan penduduk menurut umur pada saat tertentu yang berbentuk piramid

Piramida penduduk mencerminkan apakah suatu wilayah mempunyai penduduk usia tua atau muda.

Cara Membuat Piramida Penduduk,

Cara menyusun piramida penduduk sebagai berikut.

1). Penduduk dibagi menurut jenis kelamin (dari hasil sensus), golongan pria (laki -laki) ada di sebelah kiri garis umur, golongan Wanita (perempuan) ada di sebelah kanan.

2). Tiap-tiap golongan (L dan P) dibagi menurut umur, misalnya dengan periode 5 tahunan (dalam contoh tersebut periode 4 tahunan), diwujudkan pada garis tegak lurus.

Manfaat Piramida Penduduk,

Adapun manfaat piramida penduduk diantaranya adalah…

1). Mengetahui laju pertumbuhan penduduk suatu wilayah negara atau daerah

2). Mengetahui jumlah penduduk laki laki dan perempuan

3). Mengetahui kelompok penduduk yang  produktif dan tidak prduktif

4). Memperkirakan jumlah penduduk suatu wilayah di masa depan

Macam Jenis Piramida Penduduk,

Jenis-jenis piramida penduduk dibedakan menjadi 3, yaitu piramida penduduk muda (ekspansive), piramida penduduk stasioner, dan piramida penduduk tua (konstruktif).

1) Tabel Jemis Piramida Penduduk,
1) Tabel Jemis Piramida Penduduk,

1).  Piramida Penduduk Muda – Ekspansif

Grafik – piramida muda merepresntasikan penduduk yang tumbuh. Jadi, jumlah pertambahannya masih terus meningkat, jumlah kelahiran lebih besar dari jumlah kematian.

2). Piramida Penduduk Stasioner,

Grafik – Piramida penduduk stasioner menunjukkan penduduk yang tidak berubah- ubah. Jumlah kelahiran relative sama  dengan jumlah kematian.

3). Piramida Penduduk Tua – Konstruktif, 

Piramida penduduk tua mencermikan penurunan angka kelahiran lebih tinggi dibandingkan angka kematian.

Bila hal ini terjadi terus-menerus, akan menyebabkan berkurangnya jumlah penduduk daerah – negara yang bersangkutan.

2) Gambar Piramida Ekspansif Stasioner Kunstrutif
2) Gambar Piramida Ekspansif Stasioner Kunstrutif

Rasio Jenis Kelamin – Sex Ratio – SR,

Rasio jenis kelamin merupakan angka perbandingan jumlah penduduk laki-laki dengan jumlah penduduk perempuan.

Rumus Rasio Jenis Kelamin – Sex Ratio – SR

SR = L/P x 100

SR = rasia jenis kelamin

L = jumlah pemduduk laki laki

P = jumlah penduduk perempuan

Rasio Ketergantungan – Dependency Ratio – DR,

Rasio ketergantungan (depedency ratio) atau angka beban ketergantungan adalah suatu angka yang menunjukkan besarnya beban yang harus ditanggung oleh kelompok usia produktif atas penduduk usia nonproduktif.

Rumus Rasio Ketergantungan – Dependency Ratio – DR,

Untuk mengetahui berapa besar angka ketergantungan, secara umum digunakan rumus sebagai berikut.

DR = (P14 + P65)/P15-64 x 100

P14 =penduduk umur muda (0 – 14 tahun)

P15-64 =   penduduk umur dewasa/ produktif (15 – 64 tahun)

P65 = penduduk umur tua (65 tahun ke atas)

Usia Produktif,

Usia produktif adalah usia penduduk antara 15 tahun sampai 64 tahun. Disebut produktif karena pada usia ini diperkirakan orang ada pada rentang usia masih bisa bekerja, baik di sektor swasta maupun sebagai Pegawai Negeri Sipil.

Usia Tidak Produktif,

Usia nonproduktif adalah penduduk yang berusia di bawah 15 tahun dan di atas 65 tahun. Pertimbangannya, bahwa pada usia ini penduduk dipandang tidak produktif untuk bekerja atau tidak diperkenankan untuk bekerja, baik di sektor swasta ataupun sebagai pegawai negeri.

Contoh Soal Ujian Perhitungan Rasio Ketergantungan – Dependency Ratio – DR,  

Suatu wilayah pada  tahun 2021 memiliki  penduduk umur muda (0 – 14 tahun) sebanyak 50.000 jiwa,  penduduk umur dewasa/ produktif (15 – 64 tahun) sebanyak 100.000 jiwa dan penduduk umur tua (65 tahun ke atas) sebanyak 5.000 jiwa. Hitunglah berapa beban ketergantungan wilayah tersebut…

Dari data tersebut, rasio ketergantungan wilayah dapat dinyatakan dengan menggunakan rumus seperti berikut

DR = (P14 + P65)/P15-64 x 100

P14 =penduduk umur muda (0 – 14 tahun)

P15-64 =   penduduk umur dewasa/ produktif (15 – 64 tahun)

P65 = penduduk umur tua (65 tahun ke atas)

P14 = 50.000.

P65 = 5.000

P15-64 = 100.000

DR = (50.000 + 5000)/(100.000) x 100

DR = 55

Setiap 100 orang penduduk produktif harus menanggung 55 orang dari kelompok yang tidak produktif.

Contoh Soal Cara Menghitung Rasio Ketergantungan – Dependency Ratio – DR Suatu Wilayah Negara,

Data penduduk negara tahun 2021, jumlah anak nonproduktif 40%, jumlah nonproduktif tua 10 %, dan jumlah usia produktif 50%. Hitunglah rasio ketergantungan negara tersebut,

Dari data tersebut, rasio ketergantungan wilayah dapat dinyatakan dengan menggunakan rumus seperti berikut

DR = (P14 + P65)/P15-64 x 100

P14 = anak non produktif = penduduk umur muda (0 – 14 tahun)

P15-64 =  usia produktif = penduduk umur dewasa/ produktif (15 – 64 tahun)

P65 = usia nonproduktif  = penduduk umur tua (65 tahun ke atas)

P14 = 50 %

P65 = 10%

P15-64 = 40%

DR = (40+10)/50 x100

DR = 100

Ini berarti setiap 100 orang penduduk yang produktif, harus menanggung beban 100 orang penduduk nonproduktif.

Ini berarti setiap 1 orang penduduk yang produktif, harus menanggung beban 1 orang penduduk nonproduktif.

Jadi, semakin besar pembilang (orang-orang yang tidak menghasilkan) makin besarlah angka ketergantungan ini. Makin besar angka ketergantungan, makin besar pula beban tanggungan suatu negara.

Komposisi Penduduk,

Komposisi penduduk merupakan gambaran penggolongan atau pengelompokan penduduk berdasarkan kriteria-kriteria tertentu.

Contoh Komposisi Penduduk,

Beberapa contoh dasar penggolongan penduduk antara lain umur dan jenis kelamin, status perkawinan, tempat tinggal (desa atau kota), jenis pekerjaan, tingkat pendidikan, pendapatan, dan agama.

Jenis Ciri Komposisi Penduduk,

Berdasarkan kecenderungan bentuknya, komposisi penduduk berdasarkan usia dan jenis kelamin diklasifikasikan menjadi tiga, yaitu sebagai berikut.

1). Komposisi Penduduk Muda – Ekspansif,

Memiliki bentuk piramida penduduk yang menyerupai kerucut.

Ciri-ciri komposisi penduduk ekspansif antara lain sebagai berikut.

a). Jumlah penduduk usia muda (0–19 tahun) sangat besar, sedangkan usia tua sedikit.

b). Angka kelahiran jauh lebih tinggi jika dibandingkan dengan angka kematian.

c). Pertumbuhan penduduk relatif tinggi.

d). Sebagian besar terdapat di negara-negara berkembang, seperti Indonesia, Malaysia, Thailand, Republik Rakyat Cina, Mesir, dan India.

2). Komposisi Penduduk Dewasa – Stasioner,

Komposisi penduduk dewasa (Stasioner) memiliki bentuk piramida penduduk yang menyerupai batu nisan.

Ciri-ciri komposisi penduduk stasioner antara lain sebagai berikut.

a). Perbandingan jumlah penduduk pada kelompok usia muda dan dewasa relatif seimbang.

b). Tingkat kelahiran umumnya tidak begitu tinggi, demikian pula dengan angka kematian relatif lebih rendah.

c). Pertumbuhan penduduk kecil.

d). Terdapat di beberapa negara maju antara lain Amerika Serikat, Belanda, dan Inggris.

3). Komposisi Penduduk Tua – Konstruktif,

Komposisi penduduk tua (Konstruktif), memiliki bentuk piramida penduduk yang menyerupai guci terbalik.

Ciri-ciri komposisi penduduk konstruktif antara lain sebagai berikut.

a). Jumlah penduduk usia muda (0–19 tahun) dan usia tua (di atas usia 64 tahun) sangat kecil.

b). Jumlah penduduk yang tinggi terkonsentrasi pada ke lompok usia dewasa.

c). Angka kelahiran sangat rendah, demikian juga angka kematian.

d). Pertumbuhan penduduk sangat rendah mendekati nol, bahkan pertumbuhan penduduk sebagian mencapai tingkat negatif.

e). Jumlah penduduk cenderung berkurang dari tahun ke tahun.

f). Negara yang berada pada fase ini, antara lain Swedia, Jerman, dan Belgia.

Komposisi Penduduk Biologis,

Komposisi penduduk biologis adalah pengelompokan penduduk berdasarkan jenis kelamin dan usia.

Berdasarkan jenis kelamin berarti melihat penduduk dari jumlah penduduk laki-laki dan perempuan. Sedang berdasarkan usia, berarti mengelompokkan penduduk berdasarkan rentang usia tertentu, misalkan per dua tahun, per lima tahun, dan seterusnya.

Komposisi Penduduk Geografis,

Komposisi penduduk geografis artinya susunan penduduk berdasakan area tempat tinggalnya. Perbedaan area tempat tinggal ini bisa dilihat dari garis batas teritorialnya, seperti garis batas desa, kota, kecamatan, kabupaten, provinsi, atau antarnegara.

Komposisi Penduduk Menurut Sosial

Komposisi penduduk dari sisi sosial memiliki karakter yang cukup luas, di antaranya dilihat dari tingkat pendidikan, strata ekonomi, status perkawinan, agama, dan banyak lagi.