Pengertian Unsur Cuaca: Suhu Udara Jenis Angin Kelembapan Awan Kabut Embun Hujan

Pengertian Cuaca: Cuaca mencerminkan keadaan atmosfer sesaat pada daerah yang sempit. Sedang iklim mencerminkan keadaan atmosfer dalam waktu lama pada daerah yang luas.


Cuaca adalah keadaan udara pada saat tertentu dan di wilayah tertentu yang relatif sempit dan dalam jangka waktu yang singkat. Cuaca terbentuk dari gabungan unsur cuaca dan jangka waktu cuaca bisa hanya beberapa jam saja.

Pengertian Iklim

Iklim adalah keadaan cuaca rata-rata dalam waktu satu tahun yang penyelidikannya dilakukan dalam waktu yang lama (minimal 30 tahun) dan meliputi wilayah yang luas.

Matahari adalah kendali iklim yang sangat penting dan sumber energi di bumi yang menimbulkan gerak udara dan arus laut.

Unsur Unsur Cuaca + Iklim

Unsur unsur cuaca dan iklim meliputi suhu udara, tekanan udara, arah angin, kecepatan angin, kelembapan udara, tingkat keawanan, dan curah hujan.

Unsur Cuaca Iklim –  Suhu Udara:

Pengertian Suhu Udara

Suhu Udara adalah keadaan yang menunjukkan tingkat – derajat panas atau dinginnya atmosfer udara.

Alat Pengukur Dan Satuan Suhu Udara

Alat untuk mengukur suhu udara atau derajat panas disebut Termometer. Alat pengukur suhu udara ini terdiri atas termometer maksimum dan termometer minimum.

Termometer lain yang dapat digunakan untuk mengukur suhu udara adalah termometer gabungan berbentuk ”U” yang disebut termometer six. Termometer ini berisi alkohol dan air raksa.

Biasanya pengukuran dinyatakan dalam skala Celcius (C), Reamur (R), dan Fahrenheit (F). Suhu udara tertinggi di muka bumi adalah di daerah tropis (sekitar ekuator) dan semakin ke kutub, semakin dingin.

Faktor Yang Mempengaruhi Suhu Udara

Beberapa  faktor yang mempengaruhi suhi udara dalah sebagai berikut.

a).  Sudut Datang Sinar Matahari

Sudut datang sinar Matahari adalah sudut yang dibentuk oleh arah datangnya sinar Matahari dengan permukaan bumi.

Semakin tegak arah sinar matahari (siang hari) akan semakin panas. Tempat yang dipanasi sinar matahari yang datangnya miring (pagi dan sora hari) lebih luas daripada yang tegak (siang hari).

b).  Lama Waktu Penyinaran Matahari

Lama waktu penyinaran akan menentukan sushu bumi, semakin lama penyinaran Matahari semakin tinggi suhu udara di suatu tempat.

b). Ketinggian Tempat,

Semakin tinggi suatu daerah dari per mukaan laut, semakin rendah suhu udara.

c). Kondisi Geografis Wilayah.

Sifat permukaan, daratan lebih cepat menyerap dan menerima panas daripada lautan. Keadaan tanah, yaitu tanah yang kasar teksturnya dan berwarna hitam akan banyak menyerap panas dan tanah yang licin (halus teksturnya) dan berwarna putih akan banyak memantulkan panas.

d). Angin dan Arus Laut,

Adanya angin dan arus laut yang berasal dari daerah dingin akan mendinginkan daerah yang dilaluinya.

e). Keadaan Udara,

Banyaknya kandungan awan (uap air) dan gas arang, akan mengurangi panas yang terjadi. Semakin banyak awan suhu udara di permukaan bumi akan lebih dingin karena sinar matahari terhalang oleh keadaan awan.

Cara Perpindahan Perambatan Panas Matahari

Panas yang diterima oleh permukaan bumi akan dipancarkan dan dirambatkan kembali melalui proses-proses berikut.

a). Konduksi Panas Matahari

Konduksi panas matahari adlah proses pemindahan panas matahari melalui molekul- molekul yang zat pengantarnya tidak ikut bergerak.

b). Konveksi Panas Matahari

Konveksi panas matahari adalah  proses pemindahan panas matahari melalui molekul yang zat pengantarnya ikut bergerak.

c). Radiasi Panas Matahari

Radiasi panas matahari adalah proses pemindahan panas matahari melalui pancaran gelombang dari sumber panas matahari.

d). Adveksi Panas Matahari

Adveksi panas matahari adalah penyebaran panas matahari secara horizontal. Hal ini terjadi akibat gerak udara panas secara horizontal dan menyebabkan udara di dekatnya juga menjadi panas. Di daerah lintang tinggi yang terkena adveksi juga mengurangi kedinginan yang akut.

e). Turbulensi Panas Matahari

Turbulensi panas matahari adalah penyebaran panas atahari secara berputar-putar. Hal ini menyebabkan udara yang sudah panas bercampur dengan udara  dingin sehingga udara yang dingin ini akan menjadi panas pula. Daerah dingin yang terkena turbulensi udaranya akan menjadi hangat.

Pengukuran Suhu Udara

Suhu udara dapat diukur secara harian, bulanan, dan tahunan.

a). Pengukura Suhu Udara Harian

Suhu udara harian menunjukkan suhu dalam satu hari dana dibedakan menjadi dua, yaitu:

  • Rentang Suhu Harian (Diurnal)

Rentang suhu harian atau Diurnal merupakan rentang suhu yang menunjukkan selisih suhu maksimum dan suhu minimum pada hari tertentu.

Contoh Perhitungan Rentang Suhu Harian Diurnal

Suhu terendah kota Bandung dalam satu hari yang lalu adalah 20 °C dan Suhu tertingginya 30 °C, hitunglah rentang suhu atau diurnal-nya kota Bandung tersebut

Rentang suhu harian (diurnal)kota Bandug  = (30 – 20)° C = 10° C.

  • Suhu Harian Rata-rata (SHR)

Suhu harian rata-rata dihitung dengan dua cara berikut

Rumus Suhu Maksimum dan Minimum Rata – Rata 24 jam:

SHR = (T maks+ T Min)/2

SHR = Suhu harian rata rata

T maks = suhu maksimum

T min = suhu minimum

Contoh Soal Perhitungan Suhu Harian Rata Rata (SHR)

Suhu terendah kota Bandung dalam satu hari yang lalu adalah 20 °C dan Suhu tertingginya 30 °C, hitunglah SHR-nya kota Bandung tersenut

SHR = (T maks + T min)/2

SHR = suhu harian rata rata

Smax = suhu maksimum = 30 C

Smin = suhu minimum = 20 C

SHR = (30 + 20)/2

SHR = 25 °C

Rumus Suhu Per Jam Rata Rata 24 Jam

SHR = (Jumlah Suhu Per jam Dalam 24 jam)/24

b). Suhu Bulanan Rata-Rata (SBR)

SBR adalah suhu yang menunjukkan suhu udara harian rata- rata selama sebulan. SBR dihitung dengan rumus seperti berikut:

CBR = (Jumlah Suhu Harian Rata Rata Sebulan)/ Jumlah Hari Sebulan

c).  Suhu Tahunan Rata-Rata (STR)

Suhu tahunan rata rata adalah suhu yang menunjukkan jumlah suhu bulanan rata- rata selama 12 bulan dibagi jumlah bulan. STR dapat dihitung dengan menggunakan rumus seperti berikut.

STR = (Jumlah Suhu Sebulan Rata Rata 12 Bulan)/(Jumlah Bulan)

d). Rentang Suhu Tahunan Rata-Rata (RST)

Rentang suhu tahunan rata – rata adalah suhu yang menunjukkan selisih suhu bulanan rata-rata tertinggi dan terendah dalam setahun, dapat dihitung dengan formula berikut.

RST = (Suhu Belanan Rata RatatTertinggi) – (Suhu Bulanan Rata Rata Terendah)

Pengaruh Ketinggian Terhadap Suhu Udara

Semakin tinggi suatu tempat, maka semakin rendah suhu tempat tersebut.

Rumus Pengaruh Ketinggian Terhadap Suhu Udara

Pengaruh ketinggian suatu tempat terhadap suhu udara dapat dinyatakan dengan menggunakan rumus berikut:

T = To – 0,6 (h/100)

T = temperature udara setempat

To =

T = temperatur rata-rata suatu tempat yang dicari (oC).

To = temperatur suatu tempat yang sudah diketahui (oC).

h = tinggi tempat (m dpl dari permukaan laut)

Contoh Soal Perhitungan Suhu Udara Pada Ketinggian

Temperatur daerah Kota Bandung 20°C. Ketinggian tempatnya 700 m di atas permukaan laut. Berapakah temperatur rata-rata kota Bandung?

Diketahui:

To = 20° C

h = 700 m dpl

Menghitung Suhu Udara Kota Bandung

T = 20 – 0,6 × (700/100)

T = 20 – (0,6 × 7)

T = 20 – 4,2

T = 15,8° C

Rumus Perbedaan Suhu Udara Dua Tempat Ketinggian Berbeda

Jika diketahui ketinggian dua tempat maka perbedaan suhu udara kedua tempat tersebut dapat dinyatakan dengan persamaan dari rumus seperti berikut

ΔT = T1 – T2

ΔT =  0,006 (h2 – h1) × 1°C

ΔT = Selisih suhu udara antara kedua tempat berbeda ketinggian °C

T1 = suhu rata – rata tempat – kota pertama

T2 = suhu rata rata tempat – kota kedua

h1 = Ketinggian tempat – kota pertama, m

h2 = Ketinggian tempat – kota kedua, m

Contoh Soal Perhitungan Perbedaan Suhu Udara Dua Tempat Berbeda

Kota A berada di pinggur pantai (0 m dpl) memiliki rata rata suhu udara 30°C. Berapakah rata-rata suhu udara kota B yang memiliki ketinggian 700  m di atas permukaan laut?

Diketahui:

hA = 0 m

TA = 300C

hB = 700 m

 TB = ?

Menentukan Beda Suhu Udara Pada Beda Ketinggian

Besarnya beda suhu antara dua tempat yang memiliki ketinggian berbeda dapat dihitung dengan menggunakan rumus berikut:

ΔT = TA – TB

ΔT = 0,006 (hB – hA) x 1°C

ΔT = 0,006 (700 – 0) x 1°C

ΔT =  4,2  °C

ΔT = TA – TB

TB = TA – ΔT

TB = 30 – 4,2

TB = 25,8 °C

Jadi, suhu udara rata rata di kota B adalah 25,8 °C

Unsur Cuaca Iklim – Arah Angin

Pengertian Angin

Secara sederhana, angin dapat diartikan sebagai massa udara yang bergerak dari suatu tempat ke tempat lain.

Angin menunjukkan fenomena adanya gerakan udara yang disebabkan oleh perbedaan suhu, yang selanjutnya mengakibatkan perubahan tekanan.

Tekanan udara naik jika suhunya rendah dan turun jika suhunya tinggi. Angin bertiup dari daerah tekanan tinggi ke daerah tekanan rendah.

Hukum Buys Ballot.

Adapun bunyi hukum tersebut adalah sebagai berikut.

Angin adalah massa udara yang bergerak dari daerah bertekanan maksimum ke daerah bertekanan minimum.

Di Belahan Bumi Utara (BBU), arah gerakan angin dibelokkan ke kanan, sedangkan di Belahan Bumi Selatan (BBS) arah angin dibelokan ke kiri.

Jenis Jenis Angin

Adapun jenis jenis angin diantaranya adalah:

Angin Passat (Trade Wind)

Angin Passat adalah angin yang bertiup terus menerus  sepanjang tahun dari daerah subtropik menuju ke daerah ekuator (khatulistiwa). Akibat adanya rotasi bumi maka di belahan utara terjadi angin pasat timur laut dan di belahan selatan terjadi angin pasat tenggara.

Sesuai dengan hukum Buys Ballot yaitu karena pengaruh gaya Corriolis (rotasi bumi), angin di belahan bumi utara berbelok ke arah kanan dan di belahan bumi selatan bergerak ke arah kiri.

Angin Passat yang datangnya dari arah timur laut (di daerah iklim tropika di belahan bumi utara) disebut angin Passat Timur. Adapun Angin Passat yang bertiup dari arah tenggara disebut Angin Passat Tenggara.

Angin Antipasat

Angin antipasat adalah kembalinya angin pasat. Udara yang naik ke daerah khatulistiwa, setelah sampai di atas kemudian mengalir ke arah kutub dan turun di daerah subtropik.

Angin Barat dan Angin Timur

Angin barat adalah angin yang bertiup dari wilayah subtropis ke arah lintang 60o, suhunya lebih panas dari angin yang tertiup dari daerah kutub ke daerah lintang 60o.

Di daerah 40o LS, angin ini disebut The Roaring Forties sebab di atas lautan daerah ini terdengar suara gemuruh.

Angin barat merupakan gerakan massa udara panas karena berasal dari daerah subtropis, sedangkan angin timur adalah gerakan massa udara dingin karena berasal dari daerah kutub.

Wilayah pertemuan kedua massa udara yang berbeda temperaturnya ini ditandai dengan adanya badai siklon (angin ribut) disertai dengan jenis hujan frontal yang lebat.

Angin Monsun

Angin monsun adalah angin yang arahnya selalu berganti setiap setengah tahun sekali tergantung pada letak matahari. Perubahan arah gerakan muson biasanya seiring dengan pergantian musim panas dan dingin.

Akibat adanya perbedaan tekanan udara yang sangat mencolok antara wilayah benua dan samudra, mengalirlah massa udara yang disebut angin muson (monsoon) dari kawasan benua ke samudra atau sebaliknya.

Indonesia mengenal adanya angin monsun karena terletak antara 23o LU dan 23o LS serta terletak di antara Benua Asia dan Benua Australia.

Angin Fohn

Angin fohn adalah angin yang terjadi karena udara yang mengandung uap air membentur pegunungan atau gunung yang tinggi sehingga naik.

Semakin ke atas, suhu semakin dingin dan terjadilah kondensasi yang selanjutnya terbentuk titik-titik air.

Angin fohn memiliki nama yang berbeda-beda di banyak daerah. Beberapa angin fohn yang bertiup di Indonesia sebagai berikut.

–  Angin Brubu terdapat di Sulawesi Selatan.

– Angin Bohorok terdapat di Deli, Sumatra Utara.

–  Angin Kumbang terdapat di Cirebon, Jawa Barat.

–  Angin Gending terdapat di Pasuruan dan Probolinggo, Jawa Timur.

–  Angin Wambrau terdapat di Papua.

Angin Lokal

Angin lokal adalah angin yang hanya dirasakan di wilayah yang relatif sempit dan pengaruhnya tidak luas. Apa saja jenis angin lokal yang kamu ketahui.

Angin Darat dan Angin Laut

Angin darat dan angin laut merupakan jenis angin yang biasa dirasakan dalam kehidupan sehari-hari, terutama penduduk yang menetap di daerah pesisir.

Angin darat bertiup dari daratan menuju laut, sedangkan angin laut bergerak dari laut menuju darat.

Angin Gunung dan Angin Lembah

Angin gunung merupakan jenis angin yang bergerak dari gunung menuju lembah, dan sebaliknya angin lembah bertiup dari lembah menuju gunung. Proses terjadinya angin gunung dan angin lembah tidak jauh berbeda dengan angin darat dan angin laut.

Angin Bersifat Dingin Mistral

Angin mistral adalah angin yang  berasal dari pegunungan menuju ke dataran rendah di pantai. Sebagai contoh angin yang bertiup di pantai Laut Tengah, selatan Prancis.

Angin Bersifat Bora

Angin bora adalah angin yang bertiup di wilayah Balkan. Angin ini turun dari Dataran Tinggi Balkan ke Pantai Istria dan Albania.

Angin Siklon dan Angin Antisiklon

Siklon merupakan angin yang masuk ke daerah pusat tekanan rendah (daerah depresi) yang dikelilingi oleh wilayah-wilayah pusat tekanan tinggi kemudian berputar mengelilingi garis-garis isobar.

Angin Antisiklon adalah angin yang berputar dari daerah bertekanan maksimum ke daerah bertekanan minimum dengan arah ke luar.

Angin siklon di belahan bumi utara adalah angin yang berputar ke dalam dari daerah bertekanan maksimum ke daerah bertekanan minimum dengan arah yang berlawanan dengan arah jarum jam.

Angin antisiklon di belahan bumi utara adalah angin yang berputar dari daerah bertekanan maksimum ke daerah bertekanan minimum searah dengan arah jarum jam.

Angin siklon di belahan bumi selatan adalah angin yang berputar ke dalam dari daerah bertekanan maksimum ke daerah bertekanan minimum searah dengan jarum jam.

Angin antisiklon di belahan bumi selatan adalah angin yang berputar dari daerah bertekanan maksimum ke daerah bertekanan minimum berlawanan dengan arah jarum jam

Siklon Trofik

Siklon Tropik adalah siklon yang terjadi di wilayah-wilayah antara lintang 10° LU–10° LS. Sebagian besar siklon tropik terjadi pada akhir musim panas menjelang musim gugur.

Beberapa contoh fenomena siklon tropik, antara lain Hurricane (Samudera Atlantik dan Pasifik Timur), Cathrine (Amerika Serikat), Typhoon (Samudera Atlantik Barat sekitar Kepulauan Jepang), Bagieros (pantai Filipina), Willy-Willies (pantai Australia), dan Lena (Samudra Hindia).

Siklon Ekstra Tropik

Siklon Ekstra Tropik adalah siklon yang  terjadi di daerah iklim sedang antara lintang 35°–65°, baik lintang utara maupun selatan.

Badai ini terjadi akibat pertemuan massa udara panas yang datang dari wilayah subtropik dengan massa udara dingin yang datang dari daerah kutub. Pertemuan kedua massa udara tersebut dinamakan bidang front

Nama Angin Siklon Di Belahan Dunia

Nama Angin siklon di berbagai daerah dunia:

–  Angin siklon di Samudra Atlantik disebut Hurricane.

–  Angin siklon di Laut Cina Selatan disebut Taifun.

–  Angin siklon di Teluk Benggala dan Laut Arab disebut Siklon.

–  Angin siklon di Amerika daerah tropis disebut Tornado.

–  Angin siklon di Asia Barat disebut Sengkejan

Pengukuran Kecepatan Dan Arah Angin

Angin memiliki dua unsur utama, yaitu kecepatan dan arah angin. Keduanya diukur dengan alat yang berbeda.

a). Pengukuran Kecepatan Angin

Kecepatan angin diukur dengan anemometer. Alat ini terdiri atas tiga cangkir (cup) yang dipasang pada ujung tangkai secara horizontal. Bila angin bertiup maka cup – cangkir akan berputar.

Perputaran cangkir menyebabkan bagian tengah juga berputar dan kecepatan angin dapat diketahui.

Kecepatan angin diukur dengan anemometer.
Kecepatan angin diukur dengan anemometer.

sumber: en.wikipedia.org

Kecepatan angin diukur dalam satuan knots atau kilometer/jam, kadang-kadang ditunjukkan dengan skala Beaufort.

b). Pengukuran Arah Angin

Angin selalu diukur sesuai arah tiupannya. Angin utara menunjukkan bahwa angin bertiup dari arah utara ke selatan. Arah angin dapat diketahui dengan menggunakan bendera angin (wind vane).

Contoh Alat Pengukuran Arah Angin
Contoh Alat Pengukuran Arah Angin

sumber: id.wikipedia.org

Alat ini selalu mengarah dari mana angin bertiup.

c). Mawar Angin (Wind Rose)

Angin dapat bertiup dari satu arah secara terus-menerus. Angin ini disebut angin dominan (prevailing wind). Pencatatan arah angin yang dominan bertiup seharian dalam sebulan dapat dilakukan dengan mawar angin.

Alat pencatatan ini membentuk segi delapan (oktagonal) yang mewakili delapan arah mata angin. Setiap lengan menunjukkan tanggal ke mana arah angin bertiup. Angka di tengah-tengah menunjukkan jumlah hari tanpa terjadi angin.

Pencatatan arah angin yang dominan
Pencatatan arah angin yang dominan

sumber: en.wikipedia.org

Kelembapan Udara dan Awan

Kelembapan Udara adalah banyaknya uap air yang terkandung dalam sejumlah massa udara. Uap air yang berada di udara berasal dari hasil penguapan air di permukaan bumi, air tanah, atau air yang berasal dari penguapan tumbuh- tumbuhan.

Higrometer Alat Ukur Kelembaban

Untuk mengukur kelembapan udara digunakan alat Higrometer atau Psycometer Asmann

a). Kelengasan Absolut atau Densitas Uap Air.

Kelembapan absolut adalah Angka yang menunjukkan perbandingan kandungan uap air dalam setiap unit volume udara.

Satuan yang biasa digunakan untuk menyatakan kelengasan absolut adalah gram/m3 atau gram/ liter. Sebagai contoh jika dalam 1 m3 udara terkandung uap air sebanyak 25 gram, dikatakan kelengasan absolutnya adalah 25 gram/m .

b). Kelengasan Spesifik

Kelengasan spesifik adalah perbandingan kandungan uap air dalam setiap satuan massa (satuan berat) udara.

Satuan yang biasa digunakan untuk menyatakan kelengasan spesifik adalah gram/kg. Sebagai contoh jika dalam 1 kg udara terkandung uap air sebanyak 100 gram, kelengasan spesifiknya adalah 100 gram/kg.

c).  Kelengasan Relatif atau Kelengasan Nisbi

Nilai Kelengasan relatif atau Kelengasan nisbi dinyatakan dalam persen. Lengas Nisbi (LN) adalah perbandingan tekanan uap yang sebenarnya dengan tekanan maksimum pada suhu yang sama.

Rumus Kelengasan Relatif – Nisbi

Untuk mengukur kelengasan relatif dapat menggunakan rumus seperti berikut

Rh = e/E x 100%

e = Jumlah uap air yang secara nyata terkandung dalam udara sebagai hasil pengukuran (gr/m3), atau tekanan uap yang ada hasil pengukuran (mb atau mm Hg atau atm).

E = Kapasitas maksimal yang mampu dikandung massa udara (gr/m3), atau kapasitas tekanan uap maksimal pada suhu yang sama (mb atau mm Hg atau atm).

Contoh Soal pehitungan Kelengasan Relatif – Nisbi

Pada suhu 25°C, kemampuan maksimum udara menampung uap air adalah 100 gr/m3. Berdasarkan hasil pengukuran langsung ternyata kandungan uap air adalah 60 gr/m3, kelengasan relatfnya adalah:

Rh = (60/100) x 100%

Contoh Soal Perhitungan Kelembapan Kelengasan Relatif

Pada suhu 26°C, kapasitas maksimum tekanan uap adalah 760 mm Hg. Berdasarkan hasil pengukuran langsung di lapangan, pada saat itu ternyata tekanan uap yang terjadi adalah 600 mm Hg, kelengasan relatifnya adalah:

Diketahui :

e = 600 mm Hg

E = 760 mm Hg

Rh = 600/700

Rh = 85,7 %

Jika tingkat kelembapan relatif telah mencapai 100%, massa udara akan mencapai titik jenuh sehingga dapat terjadi proses kondensasi (pengembunan), di mana uap air akan berubah Kembali menjadi titik-titik air di atmosfer.

Contoh Perhitungan Kelembapan Relatif

Dalam 1 m³ udara yang suhunya 20° C terdapat 14 gram uap air (basah absolut = 14 gram), sedangkan uap air maksimum yang dapat dikandungnya pada suhu 20° C = 20 gram.

Jadi Kelembapan Realtifnya adalah

Rh = 14/20 x 100% = 70%

Pengertian Awan Kabut Embun

Awan adalah massa dari butir- butir kecil air yang larut di lapisan atmosfer bagian bawah. Udara yang naik akan menjadi dingin sehingga kelembapannya bertambah. Pada ketinggian tertentu udara tersebut akan jenuh dengan air sehingga terbentuklah awan.

Pada saat kelembapan udara mencapai titik jenuh (100%), suhu udara sudah sangat rendah sampai berada di bawah titik beku sehingga uap air tidak lagi mengalami proses kondensasi.

Uap air mengalami terjadi sublimasi di mana uap air berubah menjadi bentuk kristal- kristal es.

Jenis Jenis Awan

Jenis Awan Menurut Bentuknya

a). Awan Cirrus (Awan Bulu)

Awan cirrus adalah Awan yang bentuknya seperti bulu, biasanya letaknya sangat tinggi, dan terjadi dari kristal-kristal es.

b).  Awan Stratus

Awan stratur adalah awan yang bentuknya berlapis-lapis, letaknya rendah, tetapi tidak sampai pada permukaan bumi.

c). Awan Cumulus

Awan Culumus adalah awan yang bentuknya bergumpal-gumpal dan bertumpuk-tumpuk, bagian atas berbentuk kubah dan alasnya horizontal.

d). Awan Nimbus (Awan Hujan)

Awan nimbus adalah awan yang sangat tebal berwarna hitam dengan bentuk tidak menentu dan sering mengakibatkan terjadinya hujan.

Jenis Awal Berdasarkan Ketinggiannya

a). Awan Tinggi (lebih dari 6000 m–9000 m), karena tingginya awan ini selalu berupa kristal-kristal es.

Cirrus (Ci) adalah  awan tipis seperti bulu burung

Cirrostratus (Ci-St) adalah awan putih merata seperti tabir

Cirrocummulus (Ci-Cu) adalah awan yang tampak seperti sisik ikan

b). Awan Sedang (2000 m–6000 m).

Altocummulus (A-Cu) adalah awan yang bergumpal- gumpal tebal

Altostratus (A-St) adalah awan yang berlapis- lapis tebal

c). Awan Rendah (di bawah 200 m).

– Stratocummulus (St-Cu) adalah awan yang tebal, luas, dan ber gumpal gumpal

– Stratus (St) adalah awan merata rendah dan berlapis lapis

– Nimbostratus (No-St) adalah lapisan awan yang luas, Sebagian telah merupakan hujan

d). Awan yang terjadi karena udara naik, terdapat pada ketinggian 500 m–1500 m.

Cummulus (Cu) adalah  awan bergumpal- gumpal, dasar nya rata

– Cumulonimbus (Cu-Ni) adalah awan yang bergumpal- gumpal, luas, dan sebagian telah merupakan hujan, serta sering terjadi angin ribut

Pengertian Jenis Kabut

Kabut adalah awan yang rendah pada permukaan bumi. Kabut dibedakan menjadi empat, yaitu kabut sawah, kabut adveksi, kabut pendingin, dan kabut industri.

  1. a) Kabut Sawah

Kabut sawah adalah kabut yang terjadi ketika malam hari udara dingin, tetapi sungai, sawah, telaga, dan rawa-rawa masih lebih panas daripada udara di atasnya.

Oleh karena terkena panas, udara di atas sungai, sawah, telaga, dan rawa-rawa menguap kemudian terjadi kondensasi. Selanjutnya, terbentuklah kabut yang disebut kabut sawah karena banyak terdapat di sawah.

b). Kabut Adveksi

Kabut adveksi adalah kabut yang terjadi ketika udara panas yang mengandung uap air bertemu dengan udara dingin lalu terjadi kondensasi maka terbentuklah kabut.

c). Kabut Pendingin

Kabut pendingin adalah kabut uang terjadi ketika udara terang pada malam hari, lalu terjadi pendinginan sehingga lapisan terbawah lembap maka terbentuklah kabut.

d). Kabut Industri

Kabut industry adalah asap berasal dari pabrik yang menyebabkan jumlah inti kondensasi bertambah sehingga udara yang mengandung uap air akan membentuk kabut.

Curah Hujan

Hujan merupakan peristiwa alam yang ditandai dengan jatuhnya titik titik air ke permukaan bumi. Terjadinya hujan diawali oleh adanya penyinaran matahari pada air laut, danau, sungai, dan lain-lain sehingga menyebabkan terjadinya penguapan.

Alat Ukur Curah Hujan

Alat yang digunakan untuk mengetahui besarnya curah hujan adalah  alat yang disebut penakar hujan (rain gauge) atau fluviograf

Alat penakar hujan terdiri atas corong dan penampung air hujan. Corong berfungsi mengumpulkan air hujan dan menyalurkan ke penampung.

Air hujan yang tertampung secara teratur harus dikosongkan dan jumlahnya diukur menggunakan tabung penakar.  Curah hujan biasanya diukur dalam milimeter (mm) atau sentimeter (cm).

Proses Terjadinya Hujan

a). Proses terjadinya hujan dimulai dengan adanya penguapan air dari permukaan Bumi seperti laut, danau, sungai, tanah, dan tanaman.

b). Kemudian pada suhu udara tertentu, uap air mengalami proses pendinginan yang disebut dengan kondensasi.

c). Pada kondensasi,  uap air yang berbentuk gas berubah menjadi titik-titik air kecil tetap berada melayang di angkasa.  Kemudian, titik-titik air akan saling bergabung membentuk awan.

d). Gabungan titik-titik air menjadi besar dan berat, sehingga akan jatuh ke permukaan Bumi. Proses ini disebut dengan presipitasi atau hujan.

Jenis Jenis Hujan

Hujan dapat dikatagorikan menjadi seperti berikut

Hujan Zenital

Hujan zenital adalah hujun yang terjadi oleh arus konveksi yang menyebabkan uap air di ekuator naik secara vertikal. Pemanasan air laut terjadi terus- menerus, sehingga akan terjadi kondensasi dan turun depresi frontal.

Hujan Siklon

Hujan siklon adaah hujan yang terjadi apabila udara yang mengandung uap air naik ke atas dibawa oleh angin siklon lalu terjadi kondensasi akhirnya turun sebagai hujan. Hujan siklon ini banyak terjadi di daerah depresi frontal.

Hujan Frontal

Hujan frontal adalah hujan yang terjadi apabila udara panas yang mengandung uap air naik ke atas udara dingin, lalu terjadi kondensasi dan akhirnya turun sebagai hujan. Hujan ini banyak terjadi di daerah depresi frontal.

Hujan Naik Pegunungan – Orografis

Hujan naik pegunungan orografis adalah hujan yang terjadi akibat gerakan massa udara yang mengandung uap air terhalang oleh gunung atau pegunungan sehingga dipaksa naik ke lereng pegunungan. Akibat ketinggian lereng maka terjadi kondensasi dan turun hujan.