Lembaga Keuangan, Pengertian Fungsi Jenis Resiko Contoh

Pengertian Lembaga Keuangan. Lembaga keuangan adalah badan usaha yang mengumpulkan asset dalam bentuk dana dari masyarakat dan disalurkan untuk pendanaan proyek pembangunan serta kegiatan ekonomi dengan memperoleh hasil dalam bentuk bunga sebesar prosentase tertentu dari besarnya dana yang disalurkan.

Menurut Keputusan Menteri Keuangan RI No.792 Tahun 1990 tentang Lembaga Keuangan didefinisikan sebagai semua badan yang kegiatannya di bidang keuangan, melakukan penghimpunan dan penyaluran dana kepada masyarakat terutama guna membiayai investasi perusahaan.

Sedangkan Lembaga Keuangan menurut Undang- Undang No.14/1967 Pasal 1 ialah semua badan yang melalui kegiatan kegiatannya di bidang keuangan, menaruh uang dari dan menyalurkannya kedalam masyarakat. Artinya kegiatan yang dilakukan oleh lembaga keuangan selalu berkaitan dengan bidang keuangan.

Dari definisi di atas dapat disimpulkan, bahwa lembaga keuangan adalah suatu lembaga yang dalam operasi sehari- harinya menjalankan jasa di bidang keuangan, yaitu berupa perantara atau intermediasi dari pihak yang kelebihan dana kepada pihak yang kekurangan dana baik itu sektor rumah tangga, swasta, maupun pemerintah.

Peran Lembaga Keuangan

Lembaga keuangan berfunggsi sebagai penyedia jasa perantara antara pemilik modal dan pasar utang. Lembaga keuangan bertanggung jawab dalam menyalurkan dana dari investor kepada perusahaan yang membutuhkan dana.

Lembaga keuangan berperan dalam memfasilitasi arus peredaran uang dalam perekonomian. Dana dari individu atau investor dikumpulkan dalam bentuk tabungan sehingga risiko dari para investor ini beralih pada lembaga keuangan. Kemudian Lembaga keuangan menyalurkan dana tersebut dalam bentuk pinjaman utang kepada yang membutuhkan.

Fungsi Ini adalah merupakan tujuan utama dari lembaga penyimpan dana untuk menghasilkan pendapatan. Contoh dari lembaga keuangan adalah bank.

Adapun peran Lembaga keuangan dalam perekonomian diantaranya adalah

a). Fungsi Pengalihan Aset (Assets Transmutation) Lembaga Keuangan

Peran lembaga keuangan adalah mengalihkan atau memindahkan kewajiban peminjam menjadi suatu aset dengan suatu jangka waktu jatuh tempo sesuai keinginan penabung.

Proses pengalihan kewajiban menjadi suatu aset disebut transmutasi kekayaan atau asset transmutation.

Lembaga keuangan memiliki aset dalam bentuk pinjaman kepada pihak lain dengan jangka waktu yang diatur sesuai dengan kebutuhan peminjam. Dana pembiayaan aset tersebut diperoleh dari tabungan masyarakat.

b). Fungsi Likuiditas (Liquidity) Lembaga Keuangan

Likuiditas adalah kemampuan untuk memperoleh uang tunai pada saat dibutuhkan. Beberapa sekuritas sekunder yang dibeli oleh  sektor usaha atau rumah tangga dimaksudkan untuk tujuan likuiditas.

Sekuritas sekunder seperti tabungan, deposito, sertifikat deposito yang diterbitkan bank umum memberikan tingkat keamanan dan likuiditas yang tinggi, di samping tambahan pendapatan.

c). Fungsi  Alokasi Pendapatan (Income Allocation) Lembaga Keuangan

Sebagian masyarakat memiliki penghasilan yang memadai dan menyadari bahwa di masa yang akan datang mereka akan pensiun sehingga pendapatannya jelas akan berkurang.

Dalam menghadapi masa yang akan datang sebagian masyarakat akan menyisihkan atau merealokasikan pendapatannya untuk persiapan di masa yang akan datang.

Pada prinsipnya masyarakat dapat membeli atau menyimpan sebagian pendapatannya dalam bentuk barang misalnya: tanah, rumah dan sebagainya, namun pemilihan sekuritas sekunder yang dikeluarkan lembaga keuangan, misalnya program tahungan, deposito, program pensiun, polis asuransi atau saham-saham adalah jauh lebih baik jika dibandingkan dengan alternatif pertama.

d). Fungsi  Transaksi (Transaction) Lembaga Keuangan

Lembaga keuangan berperan sebagai lembaga perantara keuangan yang menyediakan jasa- jasa untuk mempermudah transaksi moneter.

Sekuritas sekunder yang diterbitkan oleh lembaga intermediasi keuangan misalnya rekening giro, tabungan, deposito dan sebagainya, merupakan bagian dari sistem pembayaran.

Giro atau rekening tabungan tertentu yang ditawarkan bank pada prinsipnya dapat berfungsi sehagai uang.

Produk -produk tabungan dapat dibeli oleh rumah tangga dan unit usaha untuk mempermudah mereka melakukan penukaran barang dan jasa.

Dalam hal tertentu, unit ekonomi membeli sekuritas sekunder (misalnya giro) untuk mempermudah penyelesaian transaksi keuangannya sehari-hari.

Faktor Yang Mempengaruhi Peran Lembaga Keuangan

Ada beberapa faktor yang mendorong peningkatan peranan lembaga keuangan diantaranya adalah

a). Adanya peningkatan pendapatan masyarakat kelas menengah. Keluarga atau individu dengan pendapatan yang cukup terutama dari kalangan menengah memiliki sejumlah bagian pendapatan untuk ditabung setiap tahunnya. Lembaga keuangan menyediakan sarana atau saluran yang menguntungkan untuk tabungan mereka.

b). Pesatnya perkembangan industri dan teknologi. Lembaga keuangan telah memperlihatkan dan memiliki kemampuan untuk memenuhi semua kebutuhan modal dan dana sektor industri yang umumnya dalam jumlah besar yang bersumber dari para penabung.

c). Besarnya denominasi instrumen keuangan menyebabkan sulitnya penabung kecil memperoleh akses. Beberapa jenis surat berharga dan pinjaman di pasar uang tidak dapat dimasuki atau diperoleh penabung kecil akibat denominasinya yang cukup besar.

Namun demikian dengan menghimpun dana dan banyak penabung, lembaga keuangan dapat memberikan kesempatan bagi penabung kecil untuk memperoleh instrumen keuangan yang menarik.

d). Skala ekonomi dan ruang lingkup dalam produksi dan distribusi jasa-jasa keuangan Dengan mengkombinasikan sumber- sumber dalam memproduksi berbagai jenis jasa-jasa keuangan dalam jumlah besar, maka biaya jasa per unit dapat ditekan serendah mungkin, yang memberikan lembaga keuangan suatu keunggulan kompetitif (competitif advantage) terhadap pihak-pihak lain yang menawarkan jasa keuangan.

e). Lembaga keuangan menjual jasa- jasa likuiditas yang unik, mengurangi biaya likuiditas bagi nasabahnya. Ketidakpastian arus kas unit usaha perusahaan dan individu- Individu, akan membahayakan kondisi mereka bila tidak dalam keadaan likuid saat kas sangat dibutuhkan, sehingga dapat dikenakan denda (penalty cost). Untuk memenuhi kebutuhan tersebut lembaga keuangan menjual jasa-jasa likuiditas, misalnya deposito.

f). Keuntungan jangka panjang lembaga keuangan dapat memperoleh sumber dana atau meminjam uang dan penabung dengan tingkat bunga yang relatif lebih rendah kemudian meminjamkannya dengan tingkat bunga yang lebih tinggi untuk jangka waktu yang lebih panjang kepada nasabah debitur.

Keuntungan atau spread antara biaya dana di satu pihak dan tingkat bunga kredit cenderung bergerak bersamaan, naik atau turun.

g). Risko yang lebih kecil. Pengawasan dan pengaturan pemerintah dan adanya program asuransi menyebabkan risiko atas simpanan pada lembaga keuangan menjadi lebih kecil dan investasi lain.

Resiko Lembaga Keuangan

Secara garis besar, resiko resiko yang mungkin dihadapi oleh lembaga keuangan dapat dijelaskan sebagai berikut:

a). Resiko Kredit Lembaga Keuangan.

Resiko kredit adalah resiko yang terjadi akibat aliran kas yang dijanjikan dari pinjaman dan surat berharga mungkin tidak dibayar penuh.

b). Resiko Likuiditas Lembaga Keuangan

Resiko likuiditad adalah resiko yang terjadi  akibat adanya kenaikan tiba-tiba dari penarikan kewajiban dapat menyebabkan lembaga keuangan melikuidasi aset dalam waktu yang sangat pendek dan harga yang rendah.

c). Resiko Suku Bunga Lembaga Keuangan

Resiko Subu bunga adalah resiko yang diciptakan perusahaan keuangan bahwa maturitas dari aset dan kewajiban tidak sesuai

d). Resiko Pasar Lembaga Keuangan

Resiko pasar adalah resiko yang muncul pada aset yang diperdagangkan dan kewajiban karena perubahan tingkat suku bunga, nilai tukar dan harga aset lain.

e). Resiko Luar Neraca (Off-Balance Sheet) Lembaga Keuangan

Resiko luar neraca adalah resiko yang muncul dari perusahaan keuangan sebagai hasil dari aktivitas yang berhubungan dengan aset yang tergantung dan kewajiban-kewajiban.

f). Resiko Nilai Tukar Asing Lembaga Keuangan

Resiko nilai tukar adalah Resiko yang muncul dari perubahan nilai tukar dapat menyebabkan nilai dari asset perusahaan keuangan dan kewajiban didenominasi dalam nilai tukar asing

g). Resiko Negara atau Kedaulatan Lembaga Keuangan

Resiko negara atau kedaluatan adalah Resiko yang muncul karena pembayaran dari peminjam luar negeri dapat tertahan karena adanya intervensi dari pemerintah luar negeri.

h). Resiko Teknologi Lembaga Keuangan

Resiko teknologi adalah Resiko yang muncul dari perusahaan keuangan oleh sebuah Perusahaan keuangan ketika investasi teknologi tidak menciptakan simpanan biaya yang terantisipasi

i). Resiko Operasional Lembaga Keuangan

Resiko operasional adalah Resiko yang terjadi akibat teknologi yang ada atau sistem pendukung dapat rusak atau hancur

j). Resiko Insolvensitas Lembaga Keuangan

Resiko insolvenitas adalah Resiko yang timbul akibat perusahaan keuangan tidak memiliki cukup modal untuk menutup penurunan tiba-tiba dari nilai asetnya

Jenis Lembaga Keuangan

Berdasarkan Surat Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia No. 792 Tahun 1990, lembaga keuangan didefinisikan sebagai semua badan yang kegiatannya di bidang keuangan, melakukan penghimpunan dana, dan penyaluran dana kepada masyarakat, terutama guna membiayai investasi perusahaan.

Lembaga keuangan diutamakan untuk membiayai investasi perusahaan, namun peraturan tidak berarti membatasi kegiatan pembiayaan lembaga keuangan hanya untuk investasi perusahaan.

Namun kenyatannya, kegiatan pembiayaan lembaga keuangan dapat saja diperuntukkan bagi investasi perusahaan, kegiatan konsumsi, atau kegiatan distribusi barang dan jasa.

Lembaga keuangan atau sering disebut juga sebagai lembaga intermediasi dapat dikelompokkan berdasarkan kemampuannya dalam menghimpun dana dari masyarakat secara langsung. Berdasarkan hal tersebut, lembaga keuangan dapat dibedakan menjadi lembaga keuangan depositori (depository financial institution) dan lembaga keuangan non depositori (non depository financial institution)

a). Lembaga Keuangan Bank (Depository Financial Institution)

Lembaga keuangan depositori sering juga disebut dengan depository intermediary. Lembaga keuangan ini menghimpun dan secara langsung dari masyarakat dalam bentuk simpanan (deposits).

Contoh simpanan misalnya giro, tabungan atau deposito berjangka yang diterima dari penabung atau unit surplus.

Unit surplus memiliki kelebihan pendapatan, setelah dikurangi kebutuhan untuk konsumsi. Lembaga keuangan yang menawarkan jasa- jasa keuangan simpanan adalah bank.

Berdasarkan fungsinya bank dapat dibedakan menjadi bank sentral, bank umum, dan bank perkreditan rakyat. Berikut adalah penjelasan singkat dari masing- masing jenis bank.

1).  Bank sentral di Indonesia dilaksanakan oleh Bank Indonesia dan memegang fungsi sebagai bank sirkulasi, bankers bank, dan lender of the last resort. Biasanya pelayanan yang diberikan oleh Bank Indonesia lebih banyak kepada pihak pemerintah dan dunia perbankan. Dengan kata lain nasabah dari Bank Indonesia adalah lebih banyak kepada lembaga perbankan.

Tujuan utama Bank Indonesia sebagai bank sentral adalah mencapai dan memelihara kestabilan nilai rupiah. Untuk mencapai tujuan tersebut bank sentral memiliki tujuan menetapkan dan melaksanakan kebijakan moneter, mengatur dan menjada kelancaran sistem devisa serta mengatur dan mengawasi bank.

2). Bank umum merupakan bank yang bertugas melayani seluruh jasa-jasa perbankan dan melayani segenap lapisan masyarakat, baik masyarakat perorangan maupun lembaga-lembaga lainnya. Bank umum juga dikenal dengan nama bank komersil dan dikelompokkan ke dalam dua jenis yaitu bank umum devisa (melaksanakan jasa yang berhubungan dengan seluruh mata uang asing) dan bank umum non devisa (tidak melaksanakan jasa yang berhubungan dengan seluruh mata uang asing).

3). Bank Perkreditan Rakyat (BPR) merupakan bank yang khusus melayani masyarakat kecil dan pedesaan. Bank Perkreditan Rakyat awalnya berasal dari Bank Desa, Lumbung Desa, Bank Pegawai dan bank lainnya yang kemudian dilebur menjadi Bank Perkreditan Rakyat. Jenis produk yang ditawarkan relatif sempit jika dibandingkan dengan bank umum, bahkan ada beberapa jenis jasa bank yang tidak boleh diselenggarakan oleh BPR, seperti pembukaan rekening giro dan ikut kliring.

  1. Lembaga Keuangan Non Bank (Non Depository Financial Institution)

Lembaga keuangan non depositori sering juga disebut lembaga keuangan Non bank.  Pengertian lembaga keuangan non Bank adalah semua badan yang melakukan kegiatan di bidang keuangan, yang secara langsung atau tidak langsung menghimpun dana terutama dengan jalan mengeluarkan kertas berharga dan menyalurkan dalam masyarakat terutama guna membiayai investasi perusahaan.

Lembaga keuangan berkembang dengan tujuan untuk mendorong perkembangan pasar modal serta membantu permodalan perusahaan -perusahaan ekonomi lemah.

Lembaga keuangan non bank terbagi menjadi tiga jenis, yaitu lembaga keuangan kontraktual, lembaga keuangan investasi, dan lembaga keuangan pembiayaan.

Lembaga keuangan yang kegiatan usahanya bersifat kontraktual (contractual institutions) yaitu menarik dana dari masyarakat dengan menawarkan kontrak untuk memproteksi penabung terhadap risiko ketidakpastian misalnya polis asuransi, program pensiun. Kelompok lembaga keuangan kontraktual dapat disebut perusahaan asuransi dan dana pensiun.

Lembaga keuangan investasi (investment institution) misalnya perusahaan efek, reksadana.

Lembaga keuangan bukan bank lainnya yaitu perusahaan modal ventura dan perusahaan pembiayaan (finance company) yang menawarkan jasa pembiayaan sewaguna usaha, anjak piutang, pembiayaan konsumen dan kartu kredit.

Adapun jenis-jenis lembaga keuangan lainnya yang ada di indonesia saat ini antara lain :

a). Pasar Modal

Pasar tempat pertemuan dan melakukan transaksi antara pencari dana(emiten) dengan para penanam modal (investor). Dalam pasar modal yang diperjualbelikan adalah efek-efek seperti saham dan obligasi dimana jika diukur dari waktunya modal yang diperjualbelikan merupakan modal jangka panjang.

b). Pasar Uang

Sama seperti halnya pasar modal, yaitu pasar tempat memperoleh dana dan investasi dana. Hanya bedanya modal yang ditawarkan di pasar uang adalah berjangka waktu pendek dan di pasar modal berjangka waktu panjang.Dalam pasar uang transaksi yang lebih banyak dilakukan dengan media elektronika sehingga nasabah tidak perlu datang langsung.

c). Koperasi Simpan Pinjam

Koperasi yang menghimpun dana dari para anggotanya kemudian menyalurkan kembali dana tersebut kepada para anggota koperasi dan masyarakat umum. Artinya para anggota koperasi dan masyarakat umum.Artinya para anggota koperasi simpan pinjam menyimpan uangnya sementara belum digunakan.Kemudian oleh pengurus koperasi uang tersebut dipinjamkan kembali para anggotanya yang membutuhkan, termasuk kepada masyarakat umum yang membutuhkan jika memungkinkan.

d). Perusahaan Pegadaian

Lembaga keuangan yang menyediakan fasilitas pinjaman dengan jaminan tertentu.Jaminan nasabah tersebut digadaikan dan kemudian ditaksir oleh pihak pegadaian untuk menilai besarnya nilai jaminan. Besarnya nilai jaminan akan mempengaruhi jumlah pinjaman. Sementara ini usaha pegadaian secara masih dilakukan pemerintah.

e). Perusahaan Sewa Guna (Leasing)

Bidang usahanya lebih di tekankan kepada pembiayaan barang-barang modal yang di inginkan oleh nasabahnya. Sebagai contoh jika seseorang ingin memperoleh barang-barang modal secara kredit, maka kebutuhan ini pembayarannya dapat ditutup oleh perusahaan leasing. Pembayaran oleh nasabah diangsur sesuai dengan kesepakatan yang telah dibuat. Jadi dalam hal ini perusahaan leasing lebih banyak bergerak dalam bidang pembiayaan barang-barang kebutuhan modal.

f). Perusahaan Asuransi

Perusahaan yang bergerak dalam usaha pertanggungan. Setiap nasabah dikenakan polis asuransi akan menanggung kerugian dengan menggantikannya apabila nasabahnya terkena musibah atau terkena risiko seperti yang telah diperjanjikan. Artinya usaha asuransi merupakan kegiatan menanggung risiko yang dikaitkan dengan keuangan antara polis yang harus dibayar dan klaim yang diterimanya. Besarnya polis akan memengaruhi klaim yang akan diterima.

g). Perusahaan Anjak Piutang (factoring)

Merupakan perusahaan yang usahanya adalah mengambil alih pembayaran kredit suatu perusahaan dengan cara mengambil kredit bermasalah perusahaan lain atau dapat pula mengelola penjualan kredit perusahaan yang membutuhkannya. Usaha ini memang relatif baru di Indonesia.Perusahaan ini kegiatan utamanya adalah membantu perusahaan yang sedang mengalami kesulitan dalam melakukan penagihan atau pengelolaan utangnya.Keuntungan yang diperoleh dari usaha ini merupakan fee yang telah disepakati bersama atau keuntungan dari harga jual dengan hasil penagihan yang dilakukannya.

h). Perusahaan Modal Ventura

Merupakan pembiayaan oleh perusahaan-perusahaan yang usahanya mengandung resiko tinggi. Perusahaan jenis ini relatif baru di indonesia. Usahanya lebih banyak memberikan pembiayaan dalam bentuk kredit tanpa jaminan yang umumnya tidak dilayani oleh lembaga keuangan lainnya. Selama ini kredit dengan jaminan sangat menyulitkan, memberatkan dan menghambat nasabah untuk memperoleh modal, walaupun dewasa ini pihak perbankan telah memperlunak persyaratan untuk memperoleh kredit.

i). Dana Pensiun

Merupakan perusahaan yang kegiatannya mengelola dana pensiun suatu perusahaan pemberi kerja atau perusahaan itu sendiri. Penghimpunan dana pensiun melalui iuran yang dipotong dari gaji karyawan. Kemudian dana yang terkumpul oleh dana pensiun diusahakan lagi dengan menginvestasikannya ke berbagai sektor yang menguntungkan. Perusahaan yang mengelola dana pensiun dapat dilakukan oleh bank atau perusahaan lainnya.

j). Perusahaan Kartu Plastik

Perusahaan ini menerbitkan kartu plastik/kartu kredit. Kartu plastik digunakan sebagai pengganti uang tunai yang dipergunakan untuk berbagai keperluan lainnya. Pihak yang mengeluarkan kartu plastik ini dapat dilakukan oleh bank atau lembaga pembiayaan lainnya.

Jenis Obligasi Pengertian Kelebihan Kekurangan Contoh

Pengertian dan Contoh Obligasi. Oblogasi atau biasa disebut bond adalah surat utang jangka panjang yang memiliki kewajiban membayar bunga pinjaman secara periodik dan mengembalikan pinjaman pokoknya pada waktu jatuh tempo. Surat berharga obligasi merupakan instrumen utang bagi perusahaan yang ingin...

Jenis Pembiayaan Perusahaan Modal Ventura.

Perusahaan Modal Ventura merupakan badan usaha yang melakukan usaha pembiayaan dalam bentuk pernyertaan modal ke dalam usatu perusahaan yang menerima bantuan pembiayaan untuk jangka waktu tertentu. Perusahaan yang dibiayai oleh perusahaan modal ventura disebut perusahaan pasangan usaha atau investee...

Jenis Perusahaan Leasing, Sewa Guna Usaha

Pengertian Leasing.  Pergertian sewa guna usaha secara umum adalah perjanjian antara lessor (perusahaan leasing) dengan lessee (nasabah) di mana pihak lessor menyediakan barang dengan hak penggunaan oleh lessee dengan imbalan pembayaran sewa untuk jangka waktu tertentu. Kegiatan utama perusahaan leasing ...

Mekanisme Transaksi Perusahaan Anjak Piutang, Factoring.

Pengertian Perusahaan Anjak Piutang.  Perusahaan Anjak Piutang atau disebut juga dengan Factoring merupakan badan usaha yang kegiatannya melakukan penagihan atau pembelian, atau pengambilalihan atau pengelolaan utang piutang suatu perusahaan dengan imbalan atau pembayaran tertentu milik perusahaan. ...

Otoritas Jasa Keuangan OJK: Fungsi, Tujuan, Tugas, Misi, Landasan Filosofis Yuridis.

Pengertian Otoritas Jasa Keuangan. Otoritas Jasa Keuangan atau OJK merupakan lembaga yang independen dan bebas dari campur tangan pihak lain. Lembaga negara ini dibentuk berdasarkan Undang Undang Republik Indonesia Nomor 21 Tahun 2011. Otoritas Jasa Keuangan OJK berlokasi di ibu kota Negara Kesatuan...

Wewenang Dan Tugas Otoritas Jasa Keuangan.

Otoritas Jasa Keuangan. Otoritas Jasa Keuangan OJK merupakan lembaga independen dan bebas dari campur tangan pihak lain termasuk pemerintah, yang mempunyai fungsi, tugas, dan wewenang pengaturan, pengawasan, pemeriksaan, dan penyidikan sebagaimana diatur dalam UndangUndang No 21 Tahun 2011 tentang Otoritas...

Daftar Pustaka:

  1. Kasmir, 2012, “Dasar Dasar Perbankan”, Edisi Revisi, Rajawali Pers, Jakarta.
  2. Djumhana, Muhamad, 2006, “Hukum Perbankan di Indonesia”, Cetakan Kelima, PT Citra Aditya Bakti,  Bandung.
  3. Kasmir, 2015, “Bank dan Lembaga Keuangan Lainnya”, Edisi Revisi 2014, Rajawali Pers, Jakarta.
  4. Mangani, Silvanita, Ktut, 2009, “Bank dan Lembaga Keuangan Lain”, Penerbit Erlangga, Jakarta.
  5. Mishkin, S., Frederic, 2008’ “Ekonomi Uang, Perbankan, dan Pasar Uang”, Edisi Kedelapan, Salemba Empat, Jakarta.
  6. Joesoef, Jose Rizal, 2008, “Pasar Uang dan Pasar Valuta Asing”, Salemba Empat, Jakarta.
  7. Djamil, Fathurrakman,  2012, “Penerapan Hukum Perjanjian dalam Transaksi di Lembaga Keuangan Syariah”, Cetakan Pertama, Sinae Grafika, Jakarta.
  8. Fuady, Munir, 2004, “Hukum Perbankan Modern”, Buku Kedua, Citra Aditya Bakti, Bandung.
  9. Machmud, A. Rukmana, H., 2010, “Bank Syariah, Teori, Kebijakan, dan Studi Empiris di Indonesia”, Penerbit Erlangga, Jakarta.
  10. Sartono, Agus, R., “ 2001, “Manajemen Keuangan Teori dan Aplikasi”, Edisi Keempat, BPFE Yogyakarta, Yogyakarta.
  11. Joesoef, Jose Rizal, 2008, “Pasar Uang dan Pasar Valuta Asing”, Salemba Empat, Jakarta.
  12. Darmawi, Herman, 2006, “Pasar Finansial dan Lembaga Lembaga Finansial”, Cetakan Pertama, PT Bumi Arta, Jakarta.
  13. Mishkin, S., Frederic, 2008’ “Ekonomi Uang, Perbankan, dan Pasar Uang”, Edisi Kedelapan, Salemba Empat, Jakarta.
  14. Ekonomi Lembaga Keuangan terdiri dari artikel artikel yang membahas Fungsi, Tujuan, Tugas Otoritas Jasa Keuangan, OJK, Jenis Pembiayaan Perusahaan Modal Ventura. Dan Jenis Perusahaan Leasing, Sewa Guna Usaha.
  15. Beberapa artikel yang terkait dengan lembaga keuangan membahas Mekanisme Transaksi Perusahaan Anjak Piutang, Factoring. Penjelasan dan Pengertian, Jenis Jenis Obligasi. Disertai dengan penjelasan tentang Wewenang Dan Tugas Otoritas Jasa Keuangan.
  16. Sedangkan materi – materi yang relevan dapat dibaca pada topik yang lain seperti  Ekonomi Keuangan, Manajemen Keuangan Ekonomi Internasional .dan Ekonomi Akuntansi.