Cara Menggunakan, Interpretasi Indikator Teknikal Forex

Hipotesis Indikator Teknikal.

Nilai yang ditunjukkan oleh sebuah indikator ditentukan oleh formula dan periode atau variabel lain di dalamnya. Sehingga interpretasinya akan berbeda jika formula, periode dan variabel lain berbeda. Ini merupakan kelemahan utama indikator teknikal. Beberapa trader kawakan menyebutnya sebagai ketidakkonsistenan indikator. Trader lain lebih mempercayai trading-nya dengan hanya melihat chart dan informasi ekonomi secara keseluruhan. Atau memposisikan indikator hanya untuk melihat posisi kurs terhadap nilai indikasinya, tidak digunakan dalam mengambil keputusan untuk melakukan transaksi jual atau beli.

Ketidakkonsistenan indikator menyebabkan para trader selalu mengkonfirmasi satu indikator dengan indikator lainnya. Para senior menyebutnya dengan istilah multiple-indicator. Namun beberapa trader menyarankan bahwa keputusan tergantung pada gaya/style trader itu sendiri. Hal ini pula yang dianggap oleh para pemula bahwa pergerakan kurs menjadi sangat tidak jelas atau sulit untuk diprediksi. Yang pada akhirnya menjadi pemicu kerugian saat pemula mulai melakukan trading valuta uang asing.

Aplikasi Indikator Stochastic dan William’s Persen R.

Sebagai contoh, nilai psikologis yang diberikan oleh metoda seperti Stochastic dan Williams’ % R menjadi gagal ketika kurs bergerak pada satu arah yang berkepanjangan. Pada kondisi ini % K dan % R tidak lagi mencerminkan pergerakan kurs yang sebenarnya. Nilai yang ditunjukkan indikator berada di sekitar batas minimum atau maksimumnya. Nilai % K dan % R cenderung bergerak pada kisaran yang relatif sempit. Sementara kurs bergerak naik cukup kuat atau sebaliknya kurs sedang bergerak turun dengan cukup kuat.

Titik yang menjadi awal acuan untuk prediksi berada di bawah atau di atas nilai psikologinya yaitu nilai 20 dan 80 untuk Stochastic atau -80 dan -20 untuk William’s % R. Definisi jenuh jual yang diindikasikan antara nilai 0 dan 20 pada Stochastic atau antara -100 dan -80 pada Williams’ % R tidak lagi terpenuhi ketika kurs bergerak turun sangat kuat. Kurva % K dan % R akan bergerak pada daerah jenuh jual atau oversold area dalam kurun waktu yang cukup lama, sementara kurs bergerak turun terus. Begitupun dengan definisi jenuh beli atau overbought area yang diindikasikan antara 100 dan 80 untuk Stochastic atau antara 0 dan -20 untuk Wiliams’ % R menjadi tidak relevan lagi ketika kurs bergerak naik terus menerus. Nilai % K dan % R cenderung bergerak pada kisaran yang relatif sama yaitu pada daerah jenuh beli, sementara kurs bergerak naik berkepanjangan.

Tentu saja bagi pengguna indikator yang selalu setia dan konsisten dengan kaidah yang berlaku pada Stochastic dan Williams’ % R akan kehilangan kesempatan untuk memperoleh keuntungan. Pengguna indikator ini dengan sabar menunggu sampai nilai % K dan % R ke luar dari daerah jenuhnya. Setelah benar-benar ke luar dari daerah jenuhnya dan yakin bahwa kurs memang akan berubah arah, pengguna indikator ini akan mencoba untuk meraih keuntungan dengan melakukan transaksi.

Gambar 1. memperlihatkan kurs yang bergerak pada satu arah membentuk trend yang sangat kuat. Sumber data diambil dari trading platform metatrader, timeframe H1 tanggal 26 Mei sampai dengan 02 Juni 2009. Dalam kasus ini kurva % K (24) dan kurva % R (24) tidak dapat memperlihatkan perubahan kurs yang sebenarnya. Pada kondisi uptrend yaitu daerah yang di batasi oleh dua garis vertikal, nilai % K (24) dan % R (24) berada pada daerah jenuh beli.

Kurva Stochastic dan William's Persen R Kondisi Trend Kuat

Gambar 1. Kurva Stochastic dan William's Persen R Pada Kondisi Trend Kuat

Pergerakan kurs tidak selalu pada kondisi trend yang kuat. Namun kurs bergerak naik turun membentuk pola osilasi. Pergerakan kurs seperti ini disebut sideway. Batas tertinggi yang direpresentasikan oleh nilai % K dan % R akan menjadi titik resisten (resistance point) dan batas bawah atau kurs terrendah akan menjadi support point. Pergerakan kurs cenderung berbalik arah setiap mencapai titik resisten atau support-nya. Perubahan kurs yang berlawanan dengan arah sebelumnya akan segera direspon oleh indikator yang ditunjukkan oleh perubahan nilai % K dan % R.

Kurs penutupan terakhir yang lebih rendah daripada kurs tertinggi akan langsung ditunjukkan oleh nilai % K < 100 atau % R < 0. Sedangkan kurs terakkir yang lebih tinggi daripada kurs terrendah segera ditunjukkan oleh nilai % K > 0 atau % R > -100. Kedua indikator ini mampu menunjukan perubahan pergerakan kurs dengan cepat. Hal ini menjadi argumen yang mengelompokan Stochastic dan Williams’ % R sebagai leading indicator. Dengan demikian pada kondisi pergerakan osilasi, kurva % K dan % R dapat merepresentasikan pergerakan kurs yang sebenarnya.

Pada pergerakan osilasi, definisi jenuh jual dan jenuh beli yang berlaku pada Stochastic dan williams’ % R akan terpenuhi. Ketika daerah jenuh jual terlewati, atau nilai % K > 20 dan % R > -80 pergerakan kurs sedang menunjukkan arah naik dan ketika daerah jenuh beli terlewati, atau % K < 80  dan % R < -20 arah pergerakan kurs sedang turun. Pengguna setia kedua indikator ini dapat melakukan transaksi sesuai dengan acuan yang diberikan oleh indikatornya.

Gambar 2. memperlihatkan pergerakan kurs yang membentuk pola sideway. Sumber data diambil dari trading platform metatrader, timeframe H1 tanggal 03-06 Maret 2009. Dalam kasus ini kurva % K (24) dan % R (24) mampu merepresentasikan perubahan kurs dengan baik. Ketika kurs mulai berubah arah dan bergerak menjauh dari titik psikologisnya, inidikator dapat merespon dengan segera yang ditunjukkan oleh perubahan nilai % K (24) dan % R (24). Setelah nilai % K (24) > 20 dan % R (24) > -80 atau ke luar dari daerah jenuh jual, kurs bergerak naik meninggalkan titik support-nya, dan setelah nilai % K (24) < 80 dan % R (24) < -20 atau ke luar dari daerah jenuh beli kurs bergerak turun menuju titik terrendanya.

Kurva Stochastic dan William's Persen R Kondisi Sideway

Gambar 2. Kurva Stochastic dan William's Persen R Kondisi Sideway

Aplikasi Indikator Moving Average.

Karakteristik yang berbeda ditunjukkan oleh Simple Moving Average, SMA. Metoda ini memiliki formula yang sederhana dalam perhitungannya. Merata-ratakan sejumlah data kurs sesuai dengan periodenya. Pemakaian periode 6 menunjukkan hanya 6 data kurs terakhir yang dirata-ratakan. Data yang digunakan bisanya kurs penutupan atau kombinasi dari kurs penutupan, tertinggi dan terrendah. Nilai SMA periode 6 pada timeframe H1 mengiformasikan rata-rata kurs penutupan selama 6 jam terakhir.

Baca artikel lebih lanjut KLIK Di Sini

Pustaka:

  1. ardraviz, 2011, “Simple Comcept Untuk Forex Online Trading”, ardra.biz