Permintaan Penawaran Uang, Pengertian Faktor Yang Mempengaruhi

Pengertian Uang. Pada kenyataannya definisi uang selalu berubah sesuai dengan dinamika perkembangan masyarakat dalam perekonomian. Namun demikian, para ahli ekonomi umumnya sepakat bahwa definisi paling universal tentang uang adalah sesuatu (berbentuk benda) yang dapat diterima secara umum dalam proses transaksi ekonomi atau pertukaran barang dan jasa.

Para ahli ekonomi mendefinisikan uang secara lengkap, yaitu suatu benda dengan satuan hitung tertentu yang digunakan sebagai alat pembayaran yang sah dan berlaku secara umum di wilayah tertentu dan keberadaannya diatur dalam undang-undang.

Berdasarkan penjelasan tersebut, dapat dikatakan bahwa uang dapat berbentuk dari segala sesuatu (berbentuk benda), tetapi tidak semua benda menjadi uang. Sehingga, dalam suatu perekonomian modern, definisi uang tidak hanya memiliki pengertian secara ekonomi yaitu uang merupakan barang langka yang berharga, tetapi memiliki pengertian secara hukum dan politis.

Permintaan Uang

Konsep permintaan uang pada dasarnya mengandung makna sebagai suatu keinginan masyarakat agar dapat mewujudkan sebagian dari pendapatannya dalam bentuk uang kas. Kemampuan uang sebagai alat tukar terhadap suatu barang dapat memberikan gambaran terkait laju peredaran uang dalam masyarakat. Sedangkan laju peredaran uang merupakan bagian penting dari kelancaran suatu kegiatan ekonomi.

Permintaan uang merupakan topik yang cukup banyak dibicarakan dan menjadi perhatian dalam ekonomi moneter.

Permintaan uang adalah jumlah uang yang ingin dipegang oleh masyarakat dan perusahaan secara ke seluruhan. Permintaan uang merupakan total permintaan uang dari seluruh rumah tangga dan perusahaan dalam sebuah perekonomian.

Menurut pandangan ekonom klasik, uang hanya befungsi sebagai alat tukar. Oleh karena itu, jumlah uang yang diminta berbanding secara proporsional dengan tingkat pendapatan masyarakat dalam suatu perekonomian.

Ini artinya, Jika tingkat pendapatan masyarakat meningkat, maka permintaan uang juga meningkat, begitu juga sebaliknya. Semakin tinggi tingkat pendapatan, maka semakin tinggi pula permintaan terhadap uang.

Jumlah uang yang dipegang oleh masyarakat tidak semata-mata menunjukkan nilai nominalnya, tetapi juga mencerminkan nilai daya belinya. Daya beli adalah nilai nominal dibandingkan dengan tingkat harga atau real money balances.

Karena uang hanya berfungsi sebagai alat tukar, maka uang bersifat netral (money neutrality). Ini artinya uang hanya berpengaruh terhadap tingkat harga. Pernyataan ini dikemukakan oleh ekonom bernama Irving Fisher.

Pendapat Irving Fisher dikenal dengan teori kuantitas uang klasik atau classical quality of money. Persamaan teori kuantititas uang klasik dapat diformulasikan dengan persamaan sebagai berikut.

M × V = P × T

Keterangan:

M = jumlah uang beredar

V = velositas (kecepatan peredaran uang)

P = tingkat harga

T = nilai transaksi yang diukur berdasarkan pendapatan nasional

Contoh Soal Perhitungan Rumus Irving Fisher.

Dalam sebuah perekonomian yang hanya memproduksi mobil, dalam setahun dihasilkan 1000 unit mobil. Harga per unit mobil adalah Rp 90 juta, sedangkan velositas uang adalah 10 kali dalam setahun. Hitung Berapa jumlah uang yang dibutuhkan.

Jawab

M x V = P x T

M × 10 = 1.000 × 100 juta

M = (1.000 × 100 juta)/10

M= Rp 10.000 juta atau Rp 10 miliar

Dalam perkembangannya, uang ternyata tidak hanya berfungsi sebagai alat tukar atau untuk menyimpan kekayaan, namun juga berfungsi sebagai komoditas atau barang dagangan yang ditransaksikan atau diperdagangkan atau Tradable Goods.

Faktor Yang Mempengaruhi Permintaan Uang

Ekonom Inggris bernama John Maynard Keynes (1883–1946), dengan cukup jelas menyatakan bahwa permintaan terhadap uang atau demand for money atau yang disebut sebagai preferensi likuiditas, dipengaruhi oleh tiga motif. Ketiga Motif tersebut adalah sebagai berikut.

1. Motif Transaksi

Salah satu motif masyarakat untuk memegang uang adalah agar dapat melakukan transaksi untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Kebutuhan tersebut berjalan secara terus-menerus, sedangkan penerimaan pendapatannya terjadi secara berkala, misalnya seminggu sekali, atau sebulan sekali.

Terdapatnya perbedaan waktu antara penerimaan dan pengeluaran merupakan alasan atau pertimbangan masyarakat untuk meminta atau memegang atau memiliki uang setiap saat.

Motif transaksi yaitu motif untuk melakukan kegiatan transaksi perdagangan seperti tukar menukar barang atau membeli barang kebutuhan pokok. Besarnya permintaan uang dengan motif transaksi sangat tergantung pada tingkat pendapatan seseorang.

Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa kebutuhan uang yang menjadi sebuah permintaan uang untuk motif transaksi merupakan suatu proporsi konstan dari tingkat pendapatan. Hal ini dapat diformulasikan dengan persamaan sebagai berikut.

Mt = kY,

Dengan keterangan

Mt = kebutuhan transaksi,

k = proporsi konstan, 0 < k <1,

Y = tingkat pendapatan nasional

2. Motif Berjaga-jaga

Motif berjaga- jaga yaitu motif menyimpan uang untuk kegiatan berjaga- jaga atau untuk membiayai sesuatu yang tidak terencana atau terduga. Misalnya untuk biaya berobat pada saat sakit atau biaya kebutuhan sekolah anak yang secara mendadak seperti kegiatan studi lapangan.

Motif tersebut terjadi akibat terdapatnya ketidakpastian di waktu yang akan datang. Ketidakpastian ini dapat dianggap sebagai suatu kondisi darurat atau munculnya kesempatan- kesempatan lain yang tidak dapat diperkirakan sebelumnya.

Masyarakat menjadi perlu memegang sejumlah uang agar selalu dapat menghadapi ketidakpastian tersebut. Kebutuhan uang untuk berjaga – jaga ini cenderung meningkat dengan meningkatnya pendapatan.

Dengan tingkat pendapatan yang lebih tinggi, masyarakat dapat menghadapi kemungkinan timbulnya kesempatan- kesempatan lain yang lebih besar, walaupun dengan risiko yang lebih besar juga. Oleh sebab itu, bagi masyarakat yang memiliki pendapatan tinggi, kebutuhan memegang uang untuk memenuhi motif berjaga-jaga cenderung lebih tinggi.

Dengan demikian dapat dikatakan, bahwa permintaan untuk motif transaksi maupun untuk berjaga-jaga merupakan fungsi yang berkorelasi positif terhadap pendapatan, yaitu bahwa jumlahnya tergantung kepada tingkat pendapatan masyarakat. Jadi Secara singkat dapat diformulasikan dengan persamaan sebagai berikut.

M1 = Mt + Mp = f (Y)

Dengan keterangan

M1 = permintaan uang untuk motif transaksi dan berjaga-jaga.

Mt = permintaan uang dengan motif transaksi

Mp = permintaan uang dengan motif berjaga-jaga

f(Y) = fungsi pendapatan

3. Motif Spekulasi

Motif spekulasi merupakan motif memegang uang dengan cara menyimpannya dalam bentuk surat- surat berharga, seperti saham dan obligasi. Hal ini Berbeda dengan dua motif sebelumnya, yang dipengaruhi oleh tingkat pendapatan, motif spekulasi dipengaruhi oleh tingkat suku bunga yang berlaku.

Tingkat suku bunga merupakan faktor yang sangat berpengaruh terhadap penentuan motif spekulasi. Pada tingkat suku bunga yang relative tinggi, masyarakat akan memilih menyimpan uangnya dalam bentuk surat berharga dibandingkan dengan memegang uang tunai.  Bunga yang relative tinggi akan memberikan pendapatan lebih kepada masyarakat.

Penawaran Uang

Penawaran uang didefinisikan sebagai jumlah uang yang tersedia dalam perekonomian untuk membiayai transaksi- transaksi yang dilakukan dalam masyarakat.

Penawaran uang (money supply) dibedakan menjadi mata uang dalam peredaran dan uang yang beredar. Mata uang dalam peredaran adalah mata uang yang telah dikeluarkan dan diedarkan oleh Bank Sentral. Mata uang tersebut terdiri atas uang kertas dan uang logam. Dengan demikian, mata uang dalam peredaran sama dengan uang kartal.

Adapun uang beredar adalah semua jenis uang yang berada di dalam perekonomian yaitu mata uang dalam peredaran ditambah dengan uang giral pada bank-bank umum.

Penawaran Uang Arti Sempit

Penawaran uang dalam arti sempit merupakan uang dalam peredaran yang berbentuk uang kartal dan uang giral, dan disebut M1.

M1 = Uang Kartal + Uang Giral

Uang kartal atau uang tunai merupakan uang yang biasa digunakan setiap hari untuk membeli barang dan jasa. Uang kartal terdiri atas uang logam dan uang kertas. Uang kartal diterbitkan oleh bank sentral, yang dalam hal ini adalah Bank Indonesia.

Uang giral adalah alat pembayaran berupa surat- surat berharga yang dikeluarkan oleh bank umum.

Contoh uang giral adalah cek dan bilyet giro. Cek merupakan surat perintah dari pemilik rekening di bank untuk membayar sejumlah uang kepada pihak lain.

Sedangkan bilyet giro adalah surat perintah dari nasabah kepada bank untuk memindahbukukan sejumlah uang kepada pihak lain.

Penawaran Uang Arti Luas

Adapun penawaran uang dalam arti luas disebut juga M2 yang terdiri atas uang kartal, uang giral, dan uang kuasi. Uang kuasi terdiri atas deposito berjangka, tabungan, rekening, dan valuta asing milik swasta domestik.

M2 = M1 + Uang Kuasi

Uang kuasi juga disebut near money atau uang dekat, yaitu bentuk kekayaan finansial yang dapat segera diuangkan. Meskipun secara langsung ia tidak berfungsi sebagai media tukar atau alat pembayaran, tetapi dapat diubah dengan cepat menjadi uang kartal maupun uang giral.

Contoh uang kuasi adalah deposito berjangka pendek (jatuh temponya kurang dari 1 tahun) dan rekening simpanan atau tabungan di bank umum.

Penawaran Uang Arti Lebih Luas

Penawaran uang arti lebih luas disimbolkan dengan M3 adalah uang kartal ditambanh uang giral ditambah uang kuasi ditambah yang disimpan dalam bank umum dan bank perkreditan rakyat BPR.

M3 = M2 + Deposito Berjangka Panjang

M3 merupakan penggabungan dari uang kartal, uang giral, uang kuasi, dan deposito berjangka panjang (lebih dari satu tahun). Apabila perekonomian suatu negara semakin maju, porsi penggunaan uang kartal (kertas dan logam) semakin sedikit, digantikan uang giral dan uang kuasi.

Faktor Yang Memengaruhi Penawaran Uang

Pada prinsipnya, jumlah uang yang beredar dalam suatu perekonomian ditetapkan oleh bank sentral melalui pengaturan kredit perbankan.

Perkembangan jumlah uang yang beredar mencerminkan perkembangan ekonomi suatu negara. Jika perekonomian suatu negara tumbuh dan berkembang, maka jumlah uang yang beredar juga berubah sesuai dengan pertumbuahan ekonomi negara.

Beberapa faktor yang memengaruhi penawaran uang, di antaranya adalah

a). Bank Sentral

Bank sentral sebagai lembaga yang memiliki otoritas moneter melalui hak otoritasnya untuk mencetak dan mengedarkan uang untul mempengaruhi jumlah uang yang beredar di masyarakat.

Selain itu kebijakan- kebijakan moneter yang dikeluarkan bank sentral juga memberikan pengaruh  yang cukup besar, seperti Politik diskonto, Politik pasar terbuka, Politik cash ratio dan Politik kredit selektif

b). Pemerintah

Pemerintah melalui menteri keuangan dengan persetujuan dari Gubernur Bank Indonesia dapat meminta untuk mencetak uang uang kartal baik uang kertas maupun uang logam.

c). Bank Umum

Bank umum dapat melakukan penciptaan uang giral (uang bank) melalui pembelian surat surat berharga dari masyarakat.

d). Tingkat Suku Bunga

Tingkat suku bunga merupakan faktor yang menentukan jumlah uang beredar dalam perekonomian suatu negara. Ketika tingkat bunga relative tinggi, maka permintaan uang tunai cenderung turun. Hal ini disebabkan masyarakat menganggap jika uang disimpan atau tidak dibelanjakan akan lebih menguntungkan.

Sebagai akibatnya, permintaan terhadap barang dan jasapun mengalami penurunan serta kegiatan perekonomian menjadi rendah. Oleh karena itu, Bank Indonesia akan menambah jumlah uang beredar melalui kebijakan moneter melalui mekanisme penurunan tingkat suku bunga.

e). Tingkat Inflasi atau Deflasi

Pada kondisi inflasi, bank sentral akan cenderung mengurangi penawaran uang. Tujuannya adalah untuk mengurangi atau menahan agar inflasi tidak semakin tinggi.

Sementara Deflasi membawa dampak negatif bagi perekonomian. Karena penurunan harga barang dan jasa secara terus- menerus cenderung menurunkan kegiatan produksi dan investasi.

f). Tingkat Produksi atau Pendapatan Nasional

Pada tingkat produksi atau pendapatan nasional yang rendah, pemerintah cenderung akan memperbanyak jumlah uang yang beredar. Hal ini berujuan agar dapat meningkatkan permintaan agregat, sehingga kegiatan produksi dan dapat meningkatkan kegiatan perekonomia secara keseluruhan.

g). Pendapatan

Jika pendapatan masyarakat semakin tinggi, maka semakin tinggi pula jumlah uang yang beredar. Sebaliknya, jika pendapatan masyarakat yang rendah, maka pendapatan nasional juga ikut rendah, akibatnya jumlah uang yang beredar juga akan berkurang. Dengan demikian, pemerintah tidak perlu memperbanyak jumlah uang beredar.

h). Kekayaan Masyarakat

Jika variasi atau bentuk kekayaan yang dimiliki oleh masyarakat relative rendah, jumlah uang yang beredar dalam masyarakat semakin besar. Sebaliknya, jika masyarakat memiliki banyak bentuk kekayaan seperti tanah, tabungan, saham, dan lain-lain, maka jumlah uang yang beredar dalam masyarakat akan rendah.

i). Nilai Tukar Rupiah

Pemerintah akan mengurangi jumlah uang yang beredar jika nilai tukar rupiah menurun. Dengan demikian, sesuai hukum keseimbangan permintaan dan penawaran, tingkat bunga akan naik sehingga nilai tukar rupiah juga ikut naik.

j). Fasilitas Kredit

Fasilitas kredit dapat memengaruhi jumlah uang yang beredar. Bila masyarakat lebih tertarik penggunaan kredit, dengan sendirinya penggunaan uang tunai akan berkurang, sehingga jumlah uang yang beredar di masyarakat juga berkurang.

k). Struktur Perekonomian Negara

Dalam masyarakat industri, perputaran uang akan lebih cepat karena dalam suatu proses produksi membutuhkan waktu yang lebih cepat daripada pada masyarakat agraris. Masyarakat agraris harus menunggu waktu yang lebih lama untuk memanen hasilnya, sehingga uang yang beredar akan cenderung lebih lama.

Daftar Pustaka:

  1. Mankiw, N., Gregory, 2003, “Teori Makroekonomi”, Edisi Kelima, Penerbit Erlangga, Jakarta.
  2. Jhingan, M.L., 2008, “Ekonomi Pembangunan Perencanaan”, Edisi Pertama, PT RajaGrafindo Persada, Jakarta.
  3. Samuelson, A., Paul. Nordhaus, D., William, 2004, “Ilmu Makro Ekonomi”, Edisi 17, PT Media Global Edukasi, Jakarta.
  4. Sukirno, Sadono, 2008, “Makroekonomi Teori Pengantar”, Edisi Ketiga, PT RajaGrafindo Persada, Jakarta.
  5. Prasetyo, P., Eko, 2011, “Fundamental Makro Ekonomi”, Edisi 1, Cetakan Kedua, Beta Offset, Yogyakarta.
  6. Putong, Iskandar. Andjaswati, N.D., 2008, “Pengantar Ekonomi Makro”, Edisi Pertama, Penerbit Mitra Wacana Media, Jakarta.
  7. Firdaus, R., Ariyanti, M., 2011, ”Pengantar Teori Moneter serta Aplikasinya pada Sistem Ekonomi Konvensional dan Syariah”, Cetakan Kesatu, AlfaBeta, cv, Bandung.
  8. Pengertian Uang atau Pengertian uang secara hukum dan politis berserta Permintaan Uang dan Fungsi Permintaan uang. Persamaan permintaan uang Irving Fisher dengan Contoh perhitungan permintaan uang dan Contoh Perhintungan Permintaan unga Rumus Irving Fisher. Uang Berfungsi alat tukar dan pengaruh pendapatan terhadap permintaan uang atau Pengaruh daya beli terhadap Permintaan uang.
  9. Penegrtian Daya beli uang dan Pengertian Real money balances dan Uang bersifat netral. Pengertian money neutrality dan classical quality of money serta Pengaruh permintaan uang terhadap tingkat harga dengan Contoh Soal Perhitungan Rumus Irving Fisher. Faktor Yang Mempengaruhi Permintaan Uang dan demand for money.
  10. Preferensi likuiditas Keynes dan Pengaruh Motif Transaksi terhadap permintaan uang beserta Rumus Permintaan uang motif transaksi. Pengaruh Motif Berjaga-jaga terhadap permintaan uang dan pengaruh spekulasi terhadap permintaan uang dengan Contoh soal permintaan uang motif berjaga – jaga.