Cara Menggunakan, Indikator SMA Dan Stochastic

Analisis Indikator Teknikal Moving Average. Karakteristik yang berbeda ditunjukkan oleh Simple Moving Average, SMA. Metoda ini memiliki formula yang sederhana dalam perhitungannya. Merata-ratakan sejumlah data kurs sesuai dengan periodenya. Pemakaian periode 6 menunjukkan hanya 6 data kurs terakhir yang dirata-ratakan. Data yang digunakan bisanya kurs penutupan atau kombinasi dari kurs penutupan, tertinggi dan terrendah. Nilai SMA periode 6 pada timeframe H1 mengiformasikan rata-rata kurs penutupan selama 6 jam terakhir.

Nilai SMA untuk periode n akan sama dengan nilai kurs terakhir, jika rata-rata kurs untuk periode n, nilainya sama dengan kurs yang terakhir. Nilai SMA (6) akan sama dengan kurs terakhir, jika rata-rata kurs selama 6 jam yang lalu, sama dengan kurs terakhir. Titik potong yang menjadi acuan pada SMA terjadi ketika nilai SMA sama dengan nilai kurs. Kurva SMA dapat menunjukkan posisi kurs terakhir terhadap rata-rata kurs pada periode tertentu.

Setelah terjadi perpotongan, nilai kurs akan lebih tinggi daripada nilai SMA, jika nilai kurs terakhir lebih tinggi daripada rata-ratanya. Kurs bergerak naik maka rata-rata kurs juga bergerak naik. Pada kondisi kurs bergerak naik membentuk sebuah trend yang kuat akan diikuti oleh kenaikan nilai SMA secara proposional. Posisi kurs terakhir akan memiliki jarak yang semakin jauh dari nilai rata-ratnya. Sesuai dengan fungsi utamanya, SMA mampu menunjukkan arah ketika kurs bergerak naik atau turun membentuk sebuah trend yang sangat kuat. Dalam hal ini SMA dapat merepresentasikan pergerakan kurs yang sebenarnya. Para pengguna SMA dapat memanfaatkan kondisi pergerakan kurs ini.

Namun trend yang terbentuk pada akhirnya akan berhenti, kemudian kurs akan bergerak pada arah berlawanan. Perubahan kurs terakhir yang berlawanan dengan arah sebelumnya tidak dengan segera terindikasikan oleh nilai SMA. Walaupun sebenarnya, ketika kurs bergerak berlawanan, nilai SMA telah menunjukkan perubahan. Pada saat kurs bergerak dalam trend kuat, nilai kurs semakin jauh dari rata-ratanya, sehingga perubahan kurs terakhir yang berlawanan dengan arah trend tidak cukup berpengaruh terhadap perubahan jarak antara kurva SMA dengan kurva kurs. Perubahan jarak nilai SMA dengan kurs semakin tidak tampak pada SMA yang menggunakan bilangan periode yang lebih besar. Metoda SMA tampak sangat lamban dalam merespon perubahan arah kurs. Pada keadaan ini, nilai SMA tidak menunjukkan pergerakan kurs yang sebenarnya.

Tentunya bagi pengguna yang selalu konsisten mengikuti kaidah atau aturan  yang ada pada SMA, akan kehilangan kesempatan pada awal perubahan trend. Pengguna metoda ini akan menunggu sampai terjadinya titik potong antara kurva SMA dengan kurva kurs. Pada awal perubahan trend, jarak antara nilai SMA dan kurs masih terlalu jauh. Perlu adanya perubahan kurs yang berlawanan dalam jumlah relatif besar agar nilai SMA sama dengan nilai kurs. Tentu saja akan membutuhkan waktu yang relatif lebih lama untuk mencapai kondisi dimana nilai SMA sama dengan nilai kurs. Hal ini menjadi alasan mengapa metoda ini dikelompokan dalam lagging indicator.

Gambar 1.  memperlihatkan kurs yang bergerak pada satu arah, membentuk suatu trend yang sangat kuat. Dalam kasus ini SMA (24) dapat menunjukkan perubahan kurs yang sebenarnya. Pada kondisi uptrend yaitu daerah yang di batasi oleh dua garis vertikal, nilai kurs selalu lebih besar daripada nilai rata-rata untuk 24 jam terakhir. Semakin tinggi nilai kurs yang dicapai, semakin jauh dari nilai rata-ratanya. Pada kondisi yang sama nilai % K (24) hanya bergerak di sekitar nilai 80 sampai 100 atau bergerak pada daerah jenuh beli. Gambar 2.15 menjelaskan bahwa definisi psikologis mengenai jenuh beli dan jenuh jual pada Stochastic menjadi gagal ketika kurs bergerak pada kondisi yang sangat kuat, baik turun atau naik.

Aplikasi Indikator SMA Pada Kondisi Trend Kuat
Aplikasi Indikator Simple Moving Average Pada Kondisi Trend Kuat

Gambar 2. memperlihatkan pergerakan kurs yang membentuk pola osilasi atau sideway. SMA (24) tidak segera dapat merespon perubahan kurs yang terjadi. SMA tampak lamban dalam merespon perubahan arah pergerakan kurs. Keadaan ini menjelaskan bahwa SMA membutuhkan perubahan kurs yang cukup besar, agar dapat memiliki nilai yang sama dengan nilai kurs, sehingga dapat membentuk titik acuan. Namun demikian kurva % K (24) dari Stochastic (24,3,3) dapat merespon perubahan arah pergerakan kurs dengan baik. Gambar 2.16 menunjukkan bahwa pada kondisi pergerakan kurs yang membentuk pola osilasi definisi jenuh jual dan jenuh beli menjadi terpenuhi.

Aplikasi Indikator SMA Pada Kondisi Sideway
Gambar 2. Aplikasi Indikator Simple Moving Average Pada Kondisi Sideway

Daftar Artikel Yang Membahas Teknikal Indikator, Klik Judul Yang Sesuai Di Bawah:

1. Indikator Exponential Moving Average, EMA.

2. Indikator Moving Average Convergence/Divergence, MACD

3. Indikator Moving Average, MA.

4. Indikator Stochastic Oscillator

Pustaka:

  1. ardraviz, 2011, “Simple Comcept Untuk Forex Online Trading”, ardra.biz

Daftar Pustaka

Belajar indikator  dalam indikator mt4 terbaik dengan indikator Simple Moving Average SMA atau indikator trend paling akurat. Indicator  Simple Moving Average SMA terbaik untuk scalping sebagai indikator Simple Moving Average SMA akurat dengan cara menggunakan indikator Simple Moving Average SMA. Cara membaca indikator Simple Moving Average SMA untuk indikator teknikal emas.

Fungsi indikator Simple Moving Average SMA untuk indikator trend paling akurat dengan indikator trend paling akurat dan cara baca indikator Simple Moving Average SMA dengan trading dengan indicator Simple Moving Average SMA. Rumus Simple Moving Average SMA dengan Simple Moving Average SMA.

Trading dengan Simple Moving Average SMA untuk Cara baca sinyal Simple Moving Average SMA dengan Cara belajar trading dengan Simple Moving Average SMA. Trading Forex dengan Simple Moving Average SMA dan trading emas dengan Simple Moving Average SMA.

Cara Menggunakan, Interpretasi Indikator Teknikal Forex

Analisi Indikator Teknikal.

Nilai yang ditunjukkan oleh sebuah indikator ditentukan oleh formula dan periode atau variabel lain di dalamnya. Sehingga interpretasinya akan berbeda jika formula, periode dan variabel lain berbeda. Ini merupakan kelemahan utama indikator teknikal. Beberapa trader kawakan menyebutnya sebagai ketidakkonsistenan indikator. Trader lain lebih mempercayai trading-nya dengan hanya melihat chart dan informasi ekonomi secara keseluruhan. Atau memposisikan indikator hanya untuk melihat posisi kurs terhadap nilai indikasinya, tidak digunakan dalam mengambil keputusan untuk melakukan transaksi jual atau beli.

Ketidakkonsistenan indikator menyebabkan para trader selalu mengkonfirmasi satu indikator dengan indikator lainnya. Para senior menyebutnya dengan istilah multiple-indicator. Namun beberapa trader menyarankan bahwa keputusan tergantung pada gaya/style trader itu sendiri. Hal ini pula yang dianggap oleh para pemula bahwa pergerakan kurs menjadi sangat tidak jelas atau sulit untuk diprediksi. Yang pada akhirnya menjadi pemicu kerugian saat pemula mulai melakukan trading valuta uang asing.

Analisis Indikator Stochastic dan William’s Persen R.

Sebagai contoh, nilai psikologis yang diberikan oleh metoda seperti Stochastic dan Williams’ % R menjadi gagal ketika kurs bergerak pada satu arah yang berkepanjangan. Pada kondisi ini % K dan % R tidak lagi mencerminkan pergerakan kurs yang sebenarnya. Nilai yang ditunjukkan indikator berada di sekitar batas minimum atau maksimumnya. Nilai % K dan % R cenderung bergerak pada kisaran yang relatif sempit. Sementara kurs bergerak naik cukup kuat atau sebaliknya kurs sedang bergerak turun dengan cukup kuat.

Titik yang menjadi awal acuan untuk prediksi berada di bawah atau di atas nilai psikologinya yaitu nilai 20 dan 80 untuk Stochastic atau -80 dan -20 untuk William’s % R. Definisi jenuh jual yang diindikasikan antara nilai 0 dan 20 pada Stochastic atau antara -100 dan -80 pada Williams’ % R tidak lagi terpenuhi ketika kurs bergerak turun sangat kuat. Kurva % K dan % R akan bergerak pada daerah jenuh jual atau oversold area dalam kurun waktu yang cukup lama, sementara kurs bergerak turun terus. Begitupun dengan definisi jenuh beli atau overbought area yang diindikasikan antara 100 dan 80 untuk Stochastic atau antara 0 dan -20 untuk Wiliams’ % R menjadi tidak relevan lagi ketika kurs bergerak naik terus menerus. Nilai % K dan % R cenderung bergerak pada kisaran yang relatif sama yaitu pada daerah jenuh beli, sementara kurs bergerak naik berkepanjangan.

Tentu saja bagi pengguna indikator yang selalu setia dan konsisten dengan kaidah yang berlaku pada Stochastic dan Williams’ % R akan kehilangan kesempatan untuk memperoleh keuntungan. Pengguna indikator ini dengan sabar menunggu sampai nilai % K dan % R ke luar dari daerah jenuhnya. Setelah benar-benar ke luar dari daerah jenuhnya dan yakin bahwa kurs memang akan berubah arah, pengguna indikator ini akan mencoba untuk meraih keuntungan dengan melakukan transaksi.

Gambar 1. memperlihatkan kurs yang bergerak pada satu arah membentuk trend yang sangat kuat. Sumber data diambil dari trading platform metatrader, timeframe H1 tanggal 26 Mei sampai dengan 02 Juni 2009. Dalam kasus ini kurva % K (24) dan kurva % R (24) tidak dapat memperlihatkan perubahan kurs yang sebenarnya. Pada kondisi uptrend yaitu daerah yang di batasi oleh dua garis vertikal, nilai % K (24) dan % R (24) berada pada daerah jenuh beli.

Kurva Stochastic dan William's Persen R Kondisi Trend Kuat
Gambar 1. Kurva Stochastic dan William’s Persen R Pada Kondisi Trend Kuat

Pergerakan kurs tidak selalu pada kondisi trend yang kuat. Namun kurs bergerak naik turun membentuk pola osilasi. Pergerakan kurs seperti ini disebut sideway. Batas tertinggi yang direpresentasikan oleh nilai % K dan % R akan menjadi titik resisten (resistance point) dan batas bawah atau kurs terrendah akan menjadi support point. Pergerakan kurs cenderung berbalik arah setiap mencapai titik resisten atau support-nya. Perubahan kurs yang berlawanan dengan arah sebelumnya akan segera direspon oleh indikator yang ditunjukkan oleh perubahan nilai % K dan % R.

Kurs penutupan terakhir yang lebih rendah daripada kurs tertinggi akan langsung ditunjukkan oleh nilai % K < 100 atau % R < 0. Sedangkan kurs terakkir yang lebih tinggi daripada kurs terrendah segera ditunjukkan oleh nilai % K > 0 atau % R > -100. Kedua indikator ini mampu menunjukan perubahan pergerakan kurs dengan cepat. Hal ini menjadi argumen yang mengelompokan Stochastic dan Williams’ % R sebagai leading indicator. Dengan demikian pada kondisi pergerakan osilasi, kurva % K dan % R dapat merepresentasikan pergerakan kurs yang sebenarnya.

Pada pergerakan osilasi, definisi jenuh jual dan jenuh beli yang berlaku pada Stochastic dan williams’ % R akan terpenuhi. Ketika daerah jenuh jual terlewati, atau nilai % K > 20 dan % R > -80 pergerakan kurs sedang menunjukkan arah naik dan ketika daerah jenuh beli terlewati, atau % K < 80  dan % R < -20 arah pergerakan kurs sedang turun. Pengguna setia kedua indikator ini dapat melakukan transaksi sesuai dengan acuan yang diberikan oleh indikatornya.

Gambar 2. memperlihatkan pergerakan kurs yang membentuk pola sideway. Sumber data diambil dari trading platform metatrader, timeframe H1 tanggal 03-06 Maret 2009. Dalam kasus ini kurva % K (24) dan % R (24) mampu merepresentasikan perubahan kurs dengan baik. Ketika kurs mulai berubah arah dan bergerak menjauh dari titik psikologisnya, inidikator dapat merespon dengan segera yang ditunjukkan oleh perubahan nilai % K (24) dan % R (24). Setelah nilai % K (24) > 20 dan % R (24) > -80 atau ke luar dari daerah jenuh jual, kurs bergerak naik meninggalkan titik support-nya, dan setelah nilai % K (24) < 80 dan % R (24) < -20 atau ke luar dari daerah jenuh beli kurs bergerak turun menuju titik terrendanya.

Kurva Stochastic dan William's Persen R Kondisi Sideway
Gambar 2. Kurva Stochastic dan William’s Persen R Kondisi Sideway

Cara Pakai Indikator Moving Average.

Karakteristik yang berbeda ditunjukkan oleh Simple Moving Average, SMA. Metoda ini memiliki formula yang sederhana dalam perhitungannya. Merata-ratakan sejumlah data kurs sesuai dengan periodenya. Pemakaian periode 6 menunjukkan hanya 6 data kurs terakhir yang dirata-ratakan. Data yang digunakan bisanya kurs penutupan atau kombinasi dari kurs penutupan, tertinggi dan terrendah. Nilai SMA periode 6 pada timeframe H1 mengiformasikan rata-rata kurs penutupan selama 6 jam terakhir.

Baca artikel lebih lanjut KLIK Di Sini

Pustaka:

  1. ardraviz, 2011, “Simple Comcept Untuk Forex Online Trading”, ardra.biz

Daftar Pustaka

Belajar indikator sebagai indikator mt4 terbaik dengan indikator Stochastic Oscillator dan indikator trend paling akurat. Indicator  Stochastic Oscillator terbaik untuk scalping dan indikator Stochastic Oscillator akurat dengan cara menggunakan indikator Stochastic Oscillator. Cara membaca indikator Stochastic Oscillator dengan indikator teknikal emas.

Fungsi indikator Stochastic Oscillator dengan indikator trend paling akurat sebagai indikator overbought oversold paling akurat dengan cara baca indikator Stochastic Oscillator trading dengan indicator Stochastic Oscillator. Rumus Stochastic Oscillator dan Trading dengan indicator  Stochastic Oscillator. Cara belajar indicator  Stochastic Oscillator untuk sinyal dari indicator  Stochastic Oscillator dengan rumus indicator  Stochastic Oscillator.

Contoh Analisis Indikator Slow Stochastic Oscillator dengan Contoh Soal Indikator Fast Stochastic Oscillator. Jenis Indikator Fast Stochastic Oscillator dan Trading Forex dengan Stochastic Oscillator. Cara Trading Forex dengan Stochastic Oscillator dan Trading Emas dengan Stochastic.

Indikator RSI sebagai  indikator trend paling akurat untuk indicator  Relative Strength Index RSI terbaik untuk scalping. Indikator Relative Strength Index sebagai RSI akurat dengan cara menggunakan indikator Relative Strength Index RSI.  Cara membaca indikator Relative Strength Index RSI.  Indikator teknikal emas dengan fungsi indikator Relative Strength Index RSI.

Indikator trend paling akurat sebagai indikator overbought oversold paling akurat dan cara baca indikator Relative Strength Index RSI.  Trading dengan indicator Relative Strength Index RSI dengan rumus Relative Strength Index RSI atau Belajar indicator Relative Strength Index RSI.

Trading forex dengan Relative Strength Index RSI dan Cara baca Sinyal indicator Relative Strength Index RSI untuk Trading emas dengan indicator Relative Strength Index RSI. Indikator Simple Moving Average SMA dengan indikator trend paling akurat untuk indicator  Simple Moving Average SMA terbaik untuk scalping. Indikator Simple Moving Average SMA akurat sebagai cara menggunakan indikator Simple Moving Average SMA.

Cara membaca indikator Simple Moving Average SMA pada indikator teknikal emas sebagai fungsi indikator Simple Moving Average SMA dan indikator trend paling akurat. indikator trend paling akurat dan cara baca indikator Simple Moving Average SMA untuk trading dengan indicator Simple Moving Average SMA.

Rumus Simple Moving Average SMA dengan Simple Moving Average SMA dan Trading dengan Simple Moving Average SMA. Cara baca sinyal Simple Moving Average SMA untuk Cara belajar trading dengan Simple Moving Average SMA dan Trading Forex dengan Simple Moving Average SMA. Trading emas dengan Simple Moving Average SMA.

Indikator Forex Simple Moving Average, SMA.

Pengertian Definisi Indikator Moving Average. Metoda Moving Average lebih dikenal sebagai trend following indicator. Fungsi utamanya adalah untuk merata-ratakan nilai kurs yang selalu berubah. Nilai MA dihitung dengan menggunakan sebuah formula yang sederhana. Formula ini akan merata-ratakan nilai kurs yang bergerak sesuai dengan periode yang ditentukan.

Data kurs terakhir selalu menggantikan data yang pertama. Sehingga nilai rata-rata selalu bergerak mengikuti perubahan data kurs terakhir. Moving average merupakan metoda analisis teknikal modern dengan menggunakan formula matematika sederhana dalam perhitungannya. Data yang digunakan umumnya adalah kurs penutupan atau kombinasi dengan kurs tertinggi dan terrendah.

Interpretasi Dan Prediksi Cara Moving Avarage

Interpretasi metoda MA terhadap pergerakan kurs dimasa yang akan datang didasarkan pada posisi relatif antara kurs sekarang dengan nilai MA-nya. Atau posisi relatif nilai MA periode kecil terhadap nilai MA periode besar. Jika nilai kurs lebih tinggi daripada nilai MA-nya, maka akan diinterpretasikan bahwa kurs cenderung naik. Nilai MA periode kecil lebih tinggi daripada nilai MA periode besar akan diinterpretasikan bahwa pergerakan kurs cenderung naik.

Nilai MA memiliki nilai yang sama dengan nilai kurs ketika kurva MA memotong kurva kurs. Titik potong kedua kurva ini menjadi acuan untuk memprediksi pergerakan kurs selanjutnya. Jika pada periode berikutnya nilai kurs lebih tinggi daripada nilai MA, maka akan diinterprtasikan kurs ke depan naik. Sebaliknya jika nilai kurs lebih kecil daripada nilai MA, maka pergerakan kurs selanjutnya diprediksi cenderung turun.

Interpretasi MA lainnya adalah dengan membandingkan antara dua nilai MA. Kedua MA mengunakan periode yang berbeda. Titik acuan terjadi ketika kedua kurva MA berpotongan. Interpretasinya adalah jika setelah berpotongan nilai MA periode kecil lebih tinggi daripada nilai MA periode besar, maka pergerakan kurs selanjutnya diprediksi cenderung naik.

Contoh Cara Pakai Indikator Simple Moving Average, SMA

Contoh Simple Moving Average, SMA dapat dilihat pada gambar 1 di bawah. Simple Moving Average yang menggunakan periode enam dalam perhitungannya dinotasikan dengan SMA (6). Bilangan periode menunjukkan jumlah data ke belakang yang digunakan. SMA (6) yang diaplikasikan pada line chart EUR/USD di-timeframe H1 (satu jam) menunjukkan nilai rata-rata kurs EUR/USD selama enam jam terakhir. Pada aplikasinya nilai SMA divisualisasikan dalam bentuk kurva atau garis.

Kurva Simple Moving Average
Gamabar 1. Kurva Simple Moving Average, SMA

Pada pukul 02.00 terjadi perpotongan antara kurva kurs dengan SMA (6). Titik  potong adalah titik acuan yang digunakan untuk menentukan peramalan. Pada pukul 03.00 kurs penutupan lebih rendah daripada nilai SMA (6). Artinya kurs EUR/USD pada pukul 03.00 lebih rendah daripada rata-rata kurs penutupan selama enam jam terakhir. Para trader menyarankan untuk buka posisi transaksi jual.

Pada pukul 10.00 terjadi perpotongan yang kedua. Pada pukul 11.00 kurs lebih tinggi daripada nilai SMA (6). Artinya pada pukul 11.00 kurs EUR/USD lebih tinggi daripada rata-rata kurs penutupan selama enam jam terakhir. Karena kurs penutupan EUR/USD terakhir lebih tinggi daripada rata-rata kurs penutupan selama enam jam, maka kurs selanjutnya diprediksi naik. Sehingga kalau akan melakukan transaksi,  maka posisi yang terbaik adalah membeli.

Contoh Soal Pemakaian Indikator SMA

Contoh pemakaian dua SMA dengan periode berbeda, SMA (4) dan SMA (6) dapat dilihat pada Gambar 2 di bawah. Prediksi ditentukan oleh titik acuan yang merupakan titik potong antara kedua kurva SMA. Jika setelah perpotongan nilai SMA periode kecil lebih tinggi daripada SMA periode besar, maka pergerakan kurs diwaktu akan datang diprediksi cenderung naik. Sebaliknya jika SMA periode kecil memiliki nilai lebih rendah daripada SMA periode besar, maka pergerakan kurs diprediksi turun.

Kurva Simple Moving Average, SMA (4) Dan SMA (6)
Gambar 2. Kurva Simple Moving Average, SMA (4) Dan SMA (6)

Pada pukul 03.00 terjadi perpotongan antara kurva SMA (4) dengan SMA (6). Setelah perpotongan SMA (4) lebih rendah daripada SMA (6). Artinya rata-rata kurs selama empat jam lebih rendah daripada rata-rata selama enam jam. Pergerakan kurs EUR/USD diprediksi cenderung turun. Perpotongan kedua terjadi pada pukul 13.00. Setelah perpotongan nilai SMA (4) lebih tinggi daripada SMA (6), maka kurs EUR/USD diprediksi cenderung naik.  Dalam kasus ini kurva SMA (4) mewakili kurva kurs EUR/USD.

Titik potong juga terjadi pada pukul 01.00. Setelah perpotongan nilai SMA (4) lebih tinggi daripada SMA (6), namun nilai kurs lebih rendah daripada nilai kedua SMA, sehingga pada kondisi ini prediksi terhadap  pergerakan kurs menjadi tidak konsisten. Jika berdasarkan contoh aplikasi pertama, nilai kurs lebih rendah daripada nilai SMA, maka pergerakan kurs diprediksi turun. Namun jika berdasarkan contoh aplikasi kedua, nilai SMA (4) lebih tinggi daripada SMA (6), maka kurs diprediksi naik.

Dari bahasan ini dapat diketahui bahwa pemakaian dua SMA dapat mengurangi titik acuan yang tidak perlu terjadi. Pada gambar terlihat kurva kurs EUR/USD perpotongan dengan kurva SMA (4) dan SMA (6) sebanyak enam kali selama 24 jam. Artinya ada enam titik acuan yang diberikan oleh masing-masing SMA. Sebagian titik potong memberikan prediksi yang salah. Dalam kurun waktu yang sama kurva SMA (4) dan SMA (6) hanya berpotongan tiga kali. Hanya ada tiga titik acuan yang dapat digunakan untuk memprediksi pergerakan kurs selanjutnya. Pada contoh ini aplikasi dua SMA dapat mengurangi probabilitas kesalahan prediksi.

Analisis Harian Forex, Indikator Teknikal

Analisis Indikator Teknikal Forex, Untuk Pergerakan Kurs Valuta Asing Hari Ini. Rangkuman analisis indikator untuk beberapa valuta asing pada hari ini...

Belajar Indikator Forex, Williams’ Percent Range, % R

Pengertian Indikator Williams Percent Range, % R Metoda ini pertama kali diperkenalkan tahun 1979 oleh seorang trader yang juga penulis buku bernama...

Belajar Indikator Teknikal Forex Online Trading

Para palaku pasar valuta asing menggunakan diagram atau chart sebagai alat utama dalam melakukan analisis pergerakan kurs. Selain itu, para pelaku juga...

Cara Menghitung Pivot Point Forex Margin Trading

Pengertian Harga Dari Metoda Pivot Point.  Pivot point merupakan suatu harga yang cukup penting dalam analisis teknikal untuk kondisi pasar keuangan d...

Indikator Forex Moving Average Convergence/Divergence, MACD

Rumus Moving Average Convergence/Divergence , MACD. Metoda Moving Average Convergence/Divergence diperkenalkan pertama kali oleh Gerald Appel pada tahun...

Indikator Forex, Exponential Moving Average, EMA.

Pengertian Exponential  Moving Average.   Metoda Moving Average merupakan modifikasi dari metoda Simple Moving Average. Nilai yang diindikasikan ole...

Tipe Grafik Analisis Teknikal Forex

Data yang digunakan dalam analisis teknikal adalah data kurs yang divisualisasikan dalam bentuk diagram atau grafik . Grafik pergerakan kurs merupakan...

Belajar Indikator Forex, Stochastic Oscillator

Pengetian Indikator Stochastic Oscillator. Stochastic Oscillator   merupakan metoda analisiss teknikal yang diperkenalkan oleh George C Lane pada akhir ...

Indikator Forex Simple Moving Average, SMA.

Pengertian Definisi Indikator Moving Average.  Metoda Moving Average l ebih dikenal sebagai trend following indicator . Fungsi utamanya adalah untuk ...

Belajar Indikator Forex, Relative Strength Index. RSI

Pengertian Indikator Relative Strength Index. Relative Strength Index , RSI merupakan metoda yang cukup populer dikalangan pelaku perdagangan mata uang...
  1. http://belajarforex.com/indikator-teknikal.html
  2. http://www.babypips.com/school/leading-indicators-oscillators.html
  3. ardraviz, 2011, “Simple Comcept Untuk Forex Online Trading”, ardra.bi

Gambar:

  1. http://ardra.biz

Belajar Indikator Forex, Relative Strength Index. RSI

Pengertian Indikator Relative Strength Index. Relative Strength Index, RSI merupakan metoda yang cukup populer dikalangan pelaku perdagangan mata uang asing. Diperkenalkan pertama kali oleh J. Welles Wilder,  tahun 1978, pada bukunya “New Concepts in Technical Trading Systems”. Secara default RSI mempunyai nilai mulai 0 sampai 100 dengan periode empat belas. RSI digolongkan sebagai indikator Oscillator. Oscillate menujukkan nilai pada kisaran tertentu yaitu mulai dari 0 sampai 100. RSI sendiri merupakan metoda yang membandingkan nilai kurs yang sedang berjalan saat ini terhadap rasio rata-rata kenaikan dan penurunan kurs pada periode tertentu.

Ada beberapa definisi atau notasi yang digunakan dalam pembahasan metoda RSI. Perubahan kenaikan kurs dinotasikan dengan U dan perubahan penurunan kurs dinotasikan dengan D. Misalnya pada suatu periode kurs penutupan terakhir berada pada posisi lebih tinggi dari kurs penutupansebelumnya.

U = kurs penutupanterakhir − kurs penutupansebelumnya   maka,

U > 0 atau  positif

Atau sebaliknya pada periode dimana pergerakan kurs turun, kurs penutupan terakhir lebih rendah daripada penutupam sebelumnya.

D = kurs penutupansebelumnya − kurs penutupanterakhir   maka,

D > 0 atau positif

Apabila kurs penutupan terakhir sama dengan kurs penutupan sebelumnya maka nilai U dan D adalah nol. Nilai rata-rata U adalah AG dan rata-rata D adalah AL, dihitung berdasarkan moving average, MA atau pergerakan rata-rata dengan menggunakan periode n. Rasio dari kedua nilai rata-rata adalah merupakan kekuatan relatif, Relative Strength, RS.

Rumus-Formula Relative Strength Index, RSI

RSI diformulasikan seperti persamaan berikut:

rumus Relative Strenght Index

atau

rumus Relative Strenght Index

RS = relative strength = AG/AL

AG = rata-rata kenaikan kurs (dalam point), average point uptrend, average gain.

AL = rata-rata penurunan kurs (dalam point), average point downtrend. average loss.

Dari persamaan matematisnya dapat dijelaskan beberapa hal penting terkait dengan nilai-nilai batasnya. Namun untuk menyingkat penulisan, maka pada seluruh bahasan di sini tidak disertakan metoda pembuktian matematisnya. Dari formulanya dapat diketahui bahwa RSI memiliki nilai sama dengan nol ketika nilai RS = 0. Hal ini terjadi jika selama periode yang ditentukan tidak terdapat kenaikan kurs  atau rata-rata kenaikan kurs (point uptrend) sama dengan nol. Artinya selama periode yang ditentukan tidak ada kurs penutupan terakhir yang lebih tinggi daripada kurs penutupan sebelumnya. Selama periode itu terjadi downtrend.

Nilai RSI akan sama dengan 50 ketika RS = 1, yaitu ketika rata-rata kenaikan kurs sama dengan rata-rata penurunan kurs. Karena rata-rata kenaikan kurs sama dengan rata-rata penurunan kurs, maka pergerakan kurs selama periode yang ditentukan tidak membentuk sebuah trend. Ini menjadi titik awal acuan atau nilai netral RSI.

Yang terakhir, RSI hanya akan memiliki nilai 100, hanya jika suku 100/(1+RS) = 0. Yaitu pada saat RS tak terhingga, atau jika AL = 0. Artinya selama periode yang ditentukan tidak ada kurs penutupan terakhir yang lebih rendah daripada kurs penutupan sebelumnya. Selama periode yang ditentukan  terjadi uptrend.

Formula RSI menjelaskan bahwa interpretasi terhadap pergerakan kurs ditentukan oleh rata-rata kenaikan dan penurunan. Jika rata-rata kenaikan sama dengan rata-rata penurunan, maka pergerakan kurs dikatakan tidak membetuk sebuah trend. Ini terjadi ketika nilai RS = 1. Jika RS = 1, maka nilai RSI = 50.

Kurs yang bergerak membentuk trend naik akan menghasilkan nilai RS > 1. Jika RS > 1 maka nilai RSI lebih besar daripada 50. Sedangkan pergerakan kurs yang membentuk trend turun ditunjukkan oleh nilai RS < 1, dan RSI memiliki nilai lebih kecil daripada 50.

Jika nilai RSI = 20, artinya rata-rata kenaikan kurs yang sedang berjalan saat ini baru mencapai 20 persen dari total rata-rata penurunan dan kenaikannya, atau rata-rata penurunan sudah mencapai 80 persen dari total rata-rata penurunan dan kenaikannya. Ini berarti secara keseruhuan pergerakan kurs pada kondisi downtrend.

Jika nilai RSI = 80 artinya rata-rata kenaikan kurs yang  berjalan saat ini sudah mencapai 80 persen dari total rata-rata penurunan dan kenaikannya, atau rata-rata penurunan baru mencapai 20 persen dari total rata-rata penurunan dan kenaikannya. Secara keseluruhan pergerakan kurs dalam kondisi uptrend.

Nilai maksimum RSI = 100, dan tidak pernah memiliki nilai lebih besar daripada 100, hal ini dapat diketahui dari formulanya. Sedangkan nilai minimumnya selalu nol, RSI = 0, dan tidak pernah memiliki nilai lebih kecil daripada nol. Pada saat kurs sedang bergerak membentuk suatu trend, sehingga tidak terdapat kurs penutupan terakhir yang lebih rendah daripada penutupan sebelumnya, RSI menunjukkan angka 100. Kenaikan kurs selanjutnya ditunjukkan oleh nilai RSI = 100 atau sekitar 100. Kurva RSI berada di sekitar nilai maksimumnya.

Kurs bergerak naik membentuk trend, dengan nilai RSI = 100. Artinya tidak terdapat kurs penutupan terakhir yang lebih rendah daripada kurs sebelumnya. Kenaikan kurs selanjutnya memberikan nilai rata-rata kenaikan lebih besar daripada nol dan nilai rata-rata penurunan sama dengan nol. Kondisi ini akan tetap selama kurs bergerak naik terus. Hal yang sama ditunjukkan ketika kurs bergerak membentuk trend turun. Kurs terakhir lebih rendah daripada kurs sebelumnya. Setelah nilai nol tercapai, penurunan kurs selanjutnya memberikan nilai RSI selalu nol atau sekitar  nol.

Pergerakan kurs tidak selalu dalam kondisi trend, namun bergerak membentuk pola osilasi. Dengan hipotesis bahwa nilai maksimum dari RSI merupakan indikasi kurs sudah mencapai nilai tertinggi atau titik resistennya, maka kurs cenderung berbalik arah. Kurs yang semula bergerak naik berubah menjadi turun. Penurunan kurs ini diindikasikan oleh nilai RSI < 100. Dalam hal ini RSI dapat segera menunjukkan pergerakan kurs yang baru berubah arah. Ketika nilai RSI < 80, kurs sudah bergerak turun 20 persen dari rata-rata kenaikkan dan penurunan sebelumnya.

Hipotesis yang sama, berlaku juga pada nilai RSI = 0 yang didefinisikan sebagai nilai support dari pergerakan kurs. Pergerakan kurs akan berubah menjadi naik setelah mencapai nilai support-nya. Perubahan ini segera ditunjukkan oleh nilai RSI > 0. Nilai RSI = 20, menunjukkan kurs sudah bergerak naik sejauh 20 persen dari total rata-rata kenaikkan dan penurunan sebelumnya. Hal ini menjadi alasan mengapa RSI dapat dikatagorikan sebagai leading indicator.

Contoh Cara Pakai Indikator Teknikal Relative Strength Index, RSI.

Contoh aplikasi RSI  yang digunakan untuk pergerakan kurs EUR/USD dapat dilihat pada Gambar 1. Pergerakan kurs EUR/USD direpresentasikan dalam bentuk line chart . Kurva RSI diletakan di bawah kurva pergerakan kurs.  Metoda RSI periode enam dinotasikan dengan RSI (6). Data diambil dari trading platform metatrader tanggal 8 April 2009. Kurva titik-titik warna merah adalah kurva SMA periode enam (SMA (6) dipasang sebagai pembanding. Untuk menghemat waktu dan tempat, contoh perhitungan untuk penentuan nilai RSI periode 6 tidak disertakan pada bahasan ini.

Terlihat adanya beberapa titik potong antara kurva RSI (6) dengan garis nilai 50, atau  garis netral. Titik  potong mengindikasikan bahwa rata-rata penurunan kurs sama dengan rata-rata kenaikan kurs. Titik potong ini merupakan titik yang biasa digunakan sebagai acuan prediksi pergerakan kurs dimasa akan datang.

Kurva Relative Strenght Index, RSI.
Kurva Relative Strenght Index, RSI (6) Dan SMA (6) Pada Line Chart EUR/USD

Antara pukul 02.00 dan 03.00 terjadi perpotongan antara kurva RSI (6) dengan garis nilai 50. Titik ini adalah titik awal yang digunakan untuk menentukan peramalan. Pada pukul 03.00 posisi kurva RSI lebih rendah daripada nilai 50. Artinya, selama enam jam terakhir, rata-rata penurunan kurs EUR/USD relatif lebih besar daripada rata-rata kenaikannya. Para trader kawakan akan menyarankan untuk buka transaksi jual.

Antara pukul 10.00 dan 11.00 terjadi perpotongan yang kedua, titik acuan untuk peramalan terbentuk lagi. Pada pukul 11.00 kurva RSI relatif lebih tinggi daripada garis netral. Lebih tinggi daripada 50. Artinya selama enam jam terakhir rata-rata kenaikan kurs lebih tinggi daripada rata-rata penurunannya. Karena kurs penutupan EUR/USD pada pukul 11.00 memberikan nilai RSI lebih tinggi daripada 50, maka kurs EUR/USD diprediksi naik. Sehingga kalau melakukan transaksi, maka posisi yang terbaik adalah membuka transaksi beli..

Pada Gambar 1. dapat dilihat posisi kurva RSI dan kurva SMA (6) relatif terhadap kurs EUR/USD. Kedua metoda ini menggunakan data kurs penutupan dan periode yang sama yaitu periode enam. Titik acuan yang diberikan oleh kedua metoda relatif sama, kecuali titik acuan yang  diberikan oleh SMA (6) pada pukul 17.00. Hal ini menunjukkan walaupun kedua metoda menggunakan data kurs dan periode yang sama namun tidak selalu memberikan titik acuan yang sama.

Analisis Harian Forex, Indikator Teknikal

Analisis Indikator Teknikal Forex, Untuk Pergerakan Kurs Valuta Asing Hari Ini. Rangkuman analisis indikator untuk beberapa valuta asing pada hari ini...

Belajar Indikator Forex, Williams’ Percent Range, % R

Pengertian Indikator Williams Percent Range, % R Metoda ini pertama kali diperkenalkan tahun 1979 oleh seorang trader yang juga penulis buku bernama...

Belajar Indikator Teknikal Forex Online Trading

Para palaku pasar valuta asing menggunakan diagram atau chart sebagai alat utama dalam melakukan analisis pergerakan kurs. Selain itu, para pelaku juga...

Cara Menghitung Pivot Point Forex Margin Trading

Pengertian Harga Dari Metoda Pivot Point.  Pivot point merupakan suatu harga yang cukup penting dalam analisis teknikal untuk kondisi pasar keuangan d...

Indikator Forex Moving Average Convergence/Divergence, MACD

Rumus Moving Average Convergence/Divergence , MACD. Metoda Moving Average Convergence/Divergence diperkenalkan pertama kali oleh Gerald Appel pada tahun...

Indikator Forex, Exponential Moving Average, EMA.

Pengertian Exponential  Moving Average.   Metoda Moving Average merupakan modifikasi dari metoda Simple Moving Average. Nilai yang diindikasikan ole...

Tipe Grafik Analisis Teknikal Forex

Data yang digunakan dalam analisis teknikal adalah data kurs yang divisualisasikan dalam bentuk diagram atau grafik . Grafik pergerakan kurs merupakan...

Belajar Indikator Forex, Stochastic Oscillator

Pengetian Indikator Stochastic Oscillator. Stochastic Oscillator   merupakan metoda analisiss teknikal yang diperkenalkan oleh George C Lane pada akhir ...

Indikator Forex Simple Moving Average, SMA.

Pengertian Definisi Indikator Moving Average.  Metoda Moving Average l ebih dikenal sebagai trend following indicator . Fungsi utamanya adalah untuk ...

Belajar Indikator Forex, Relative Strength Index. RSI

Pengertian Indikator Relative Strength Index. Relative Strength Index , RSI merupakan metoda yang cukup populer dikalangan pelaku perdagangan mata uang...

Cara Menggunakan, Interpretasi Indikator Teknikal Forex

Analisi Indikator Teknikal. Nilai yang ditunjukkan oleh sebuah indikator ditentukan oleh formula dan periode atau variabel lain di dalamnya. Sehingga...

Cara Menggunakan, Indikator SMA Dan Stochastic

Analisis Indikator Teknikal Moving Average. Karakteristik yang berbeda ditunjukkan oleh Simple Moving Average , SMA. Metoda ini memiliki formula yang...

Pustaka:

  1. http://belajarforex.com/indikator-teknikal.html
  2. http://www.babypips.com/school/leading-indicators-oscillators.html
  3. ardraviz, 2011, “Simple Comcept Untuk Forex Online Trading”, ardra.biz

Gambar:

  1. http://ardra.biz

Daftar Pustaka:

belajar indikator dalam indikator mt4 terbaik yaitu indikator RSI sebagai indikator trend paling akurat dengan indicator  Relative Strength Index RSI terbaik untuk scalping. Indikator Relative Strength Index atau RSI akurat dan cara menggunakan indikator Relative Strength Index RSI.

Cara membaca indikator Relative Strength Index RSI sebagai indikator teknikal emas. Fungsi indikator Relative Strength Index RSI sebagai indikator trend paling akurat dan indikator overbought oversold paling akurat.  Cara baca indikator Relative Strength Index RSI untuk trading dengan indicator Relative Strength Index RSI.

Rumus Relative Strength Index RSI untuk Belajar indicator Relative Strength Index RSI. Trading forex dengan Relative Strength Index RSI dengan Cara baca Sinyal indicator Relative Strength Index RSI. Trading emas dengan indicator Relative Strength Index RSI,

Belajar Indikator Forex, Stochastic Oscillator

Pengetian Indikator Stochastic Oscillator. Stochastic Oscillator  merupakan metoda analisiss teknikal yang diperkenalkan oleh George C Lane pada akhir 1950-an.  Stochastic memiliki Rentang (range) nilai antara nol sampai seratus. Sehingga sering disebut pula dengan Stochastic oscillator. Pada dasarnya metoda Stochcastic digunakan untuk mengukur posisi relatif nilai kurs terakhir terhadap rentang pergerakan kurs yang dicapai selama periode yang ditentukan.

Formula-Rumus Indikator Teknikal Stochastic Oscillator

Stochastic Oscillator terdiri dari dua garis yang disebut % K dan % D. Inti dari metoda ini adalah % K, sedangkan % D adalah moving average dari % K. Bisa dikatakan bahwa % D adalah rata-rata dari % K yang diinterpretasikan sebagai penentu arah dari garis % K. Nilai % K dihitung dengan formula sebagai berikut.

rumus stochastic

  • % D = MA 3 dari % K
  • kurs penutupant = kurs penutupan terakhir
  • kurs terrendahn  = kurs terrendah pada periode n
  • kurs tertinggin     = kurs tertinggi pada periode n
  • MA 3 = moving average periode 3.

Jika dilihat dari rentang nilai yang dimiliki Stochastic Oscillator yaitu 0–100, dapat dikatakan bahwa rentang metoda ini sama dengan rentang nilai RSI. Formula untuk perhitungan nilai % K melibatkan nilai kurs tertinggi, terrendah dan penutupan. Nilai % K menunjukkan posisi relatif nilai kurs saat ini terhadap rentang pergerakan kurs pada periode n. Rentang pergerakan kurs adalah jarak antara kurs terrendah dan tertinggi yang dicapai dalam periode n.

Dari persamaan matematisnya dapat dijelaskan beberapa hal penting terkait dengan nilai-nilai batasnya. Namun untuk menyingkat penulisan, maka pada bahasan ini tidak disertakan metoda pembuktian matematisnya.

Batas Psikologis Indikator Stochatic Oscillator.

Nilai %K mencapai nilai 100 ketika kurs penutupan terakhir sama dengan kurs tertinggi untuk periode n yang ditentukan.  Sedangkan nilai % K = 0 diperoleh ketika kurs penutupan terakhir sama dengan kurs terrendah untuk periode n yang ditentukan.

Sebenarnya formula untuk % K dapat memiliki nilai lebih kecil daripada nol dan dapat pula memiliki nilai lebih besar daripada seratus. Namun jika kurs penutupan terakhir lebih rendah daripada kurs terrendah atau kurs penutupan lebih tinggi daripada kurs tertinggi periode n, maka bahasa pemograman Stochastic secara otomastis memproses nilai kurs terakhir, sehingga nilai %K menjadi nol atau seratus.

Nilai % K = 20 menunjukkan bahwa nilai kurs yang berjalan memiliki jarak 20 persen dari kurs terrendah atau 80 persen dari kurs tertingginya. Artinya nilai kurs baru saja naik sebanyak 20 persen atau penurunan kurs sudah mencapai 80 persen dari rentang pergerakannya. Secara keseluruhan pergerakan kurs dalam kondisi downtrend.

Nilai % K = 80, artinya jarak relatif nilai kurs yang berjalan adalah 80 persen dari kurs terrendah atau 20 persen dari kurs tertingginya. Kenaikan kurs sudah mencapai 80 persen atau kurs baru saja mengalami penurunan sebanyak 20 persen dari rentang pergerakanya. Secara keseluruhan pergerakan kurs adalah uptrend.

Nilai % K = 20 dan % K = 80 sering digunakan sebagai titik acuan untuk memprediksi arah pergerakan kurs dimasa akan datang. Hal ini didasarkan pada anggapan bahwa kurs tertinggi sebagai titik resisten dan kurs terrendah sebagai titik support. Pada titik resisten atau support, kurs mempunyai kemungkinan untuk berbalik arah. Jika nilai % K > 20 maka kurs sudah mulai berbalik arah, semula downtrend menjadi uptrend, dengan jarak sekitar 20 persen dari titik support. Ketika nilai % K < 80, pergerakan kurs sudah mulai berubah dari uptrend menjadi downtrend dengan jarak 20 persen dari titik resisten.

Contoh Soal Indikator Fast Stochastic Oscillator.

Contoh aplikasi Stochastic yang digunakan untuk pergerakan kurs EUR/USD dapat dilihat pada Gambar 1. Pergerakan kurs EUR/USD direpresentasikan dalam bentuk line chart . Pada contoh ini % K periode enam dinotasikan % K (6) dan % D periode tiga dinotassikan % D (3). Untuk menghemat waktu dan penulisan, maka contoh perhitungan untuk % K periode 6 dan % D periode tiga tidak ditunjukkan pada bahasan ini.

Aplikasi Stochastic dengan % K (6) dan % K (24) pada line chart kurs EUR/USD timeframe H1 ditunjukkan pada Gambar 1. Data diambil dari trading platform metratrader pada tanggal 08 April 2009.

Nilai % K yang ditentukan oleh formula di atas disebut % Kfast dan % D yang dihitung dari rata-rata % Kfast dengan MA (3) disebut % Dfast. Metoda Stochastic yang dibangun dengan % Kfast dan % Dfast disebut Fast Stochastic. Dengan demikian Stoch (6, 3) artinya % Kfast dihitung untuk periode enam dan % Dfast dihitung dari rata-rata % Kfast dengan MA (3) dan dinotasikan dengan Stochastic (6, 3) atau Fast Stochastic (6, 3). Sedangkan Stochastic dengan % K (24) dan % D (3) dinotasikan Fast Stochastic (24,3).

Kurva Indikator Fast Stochastic Oscillator
Gambar 1. Kurva Indikator Fast Stochastic Oscillator Pada Line Chart Kurs EUR/USD

Terdapat beberapa titik potong antara kurva % K dengan kurva % D dan antara kurva % K dengan garis nilai 20 dan 80. Titik potong merupakan titik yang menjadi acuan prediksi pergerakan kurs selanjutnya. Terlihat kurva % K (6) lebih sering membentuk titik potong dibanding dengan kurva % K (24). Beberapa titik potong memberikan prediksi pergerakan kurs yang salah, para trader menyebutnya sebagai signal palsu. Hal ini mengindikasikan pemakaian bilangan periode yang lebih besar dapat mengurangi titik potong yang tidak perlu terjadi.

Pemakaian periode besar mempunyai probabilitas kesalahan yang lebih rendah dibanding pemakaian periode kecil. Dengan demikian penentuan periode yang digunakan pada perhitungan menjadi bagian penting dalam analisis teknikal.

Analisis Indikator Slow Stochastic Oscillator

Untuk mengurangi terjadinya titik potong yang memberikan tiitik acuan yang salah, maka para analis teknikal melakukan modifikasi terhadap nilai % K dan % D. Modifikasi dilakukan dengan merata-ratakan % K dengan MA periode tiga, sehingga diperoleh % Kslow. Kemudian % Kslow dirata-ratakan dengan MA periode Y untuk mendapatkan nilai % Dslow. Dengan demikian diperoleh Slow Stochastic yang terdiri dari % Kslow dan % Dslow. Dalam hal ini, MA periode tiga yang digunakan untuk merata-ratakan % K disebut sebagai faktor penghalus atau smoothing factor.

Contoh Analisis Indikator Slow Stochastic Oscillator

Contoh aplikasi penggunaan metoda Slow Stochastic ditunjukkan pada Gambar 2. Slow Stochastic mampu mengurangi titik potong yang tidak perlu ditunjukkan. Baik titik potong antara % K dengan % D maupun antara % K dengan garis 20 dan 80. Pada contoh aplikasi ini periode MA yang digunakan untuk merata-ratakan % K atau % Kfast adalah tiga, maka Stochastic-nya disebut Slow Stochastic yaitu Stochastic (24,3,3).

Kurva Indikator Slow Stochastic Oscillator
Gambar 2. Kurva Indikator Slow Stochastic Oscillator Pada line Chart Kurs EUR/USD

Titik potong yang menjadi acuan pada Stochastic adalah titik potong antara kurva % K dengan % D atau % K dengan garis 20 dan 80. Titik acuan ditentukan dengan melihat posisi atau nilai kurva %K terhadap kurva % D. Jika setelah perpotongan  kurva % K di atas kurva % D atau nilai % K lebih besar daripada % D maka pergerakan kurs ke depan diprediksi cenderung naik. Sebaliknya jika kurva % K di bawah % D, atau nilai % K lebih rendah daripada % D maka pergerakan kurs selanjutnya dipredikasi turun.

Titik acuan lainnya adalah perpotongan antara kurva % K dengan garis 20 dan 80. Setelah perpotongan antara kurva % K dengan garis 20, nilai % K lebih tinggi daripada garis 20, maka pergerakan kurs ke depan diprediksi naik. Jika setelah perpotongan nilai % K lebih rendah daripada garis 80, maka diinterpretasikan pergerakan kurs adalah turun.

Pada Gambar 2 ditunjukkan perpotongan antara kurva % K (6) dan % K (24) dengan %D (3) terjadi pada pukul 03.00. Setelah perpotongan nilai % K (6) dan %K (24) lebih rendah daripada % D (3), maka pergerakan kurs EUR/USD selanjutnya diprediksi turun. Pada contoh ini ditunjukkan bahwa penggunaan Slow Stochastic mampu mengurangi titik potong yang memberikan prediksi salah.

Perpotongan kurva % K (24) dengan garis 20 dan 80 sepanjang 24 jam hanya terjadi dua kali. Pada pukul 10.00, setelah perpotongan nilai % K (24) lebih tinggi daripada garis 20, artinya kurs EUR/USD baru saja bergerak naik sekitar 20 persen dari rentang pergerakannya yang dibentuk selama 24 jam yang lalu. Nilai kurs ini memiliki jarak 20 persen dari kurs terrendah. Kurs EUR/USD diprediksi akan bergerak naik.

Pada pukul 21.00 terjadi perpotongan kurva % K (24) dengan garis 80. Setelah perpotongan nilai % K (24) lebih rendah daripada garis 80. Artinya kurs EUR/USD baru saja bergerak turun sebanyak 20 persen dari rentang pergerakan kurs yang dibentuk selama 24 jam yang lalu. Kurs ini memiliki jarak 20 persen dari kurs tertinggi. Pergerakan kurs EUR/USD diramalkan cenderung turun.

Analisis Harian Forex, Indikator Teknikal

Analisis Indikator Teknikal Forex, Untuk Pergerakan Kurs Valuta Asing Hari Ini. Rangkuman analisis indikator untuk beberapa valuta asing pada hari ini...

Belajar Indikator Forex, Williams’ Percent Range, % R

Pengertian Indikator Williams Percent Range, % R Metoda ini pertama kali diperkenalkan tahun 1979 oleh seorang trader yang juga penulis buku bernama...

Belajar Indikator Teknikal Forex Online Trading

Para palaku pasar valuta asing menggunakan diagram atau chart sebagai alat utama dalam melakukan analisis pergerakan kurs. Selain itu, para pelaku juga...

Cara Menghitung Pivot Point Forex Margin Trading

Pengertian Harga Dari Metoda Pivot Point.  Pivot point merupakan suatu harga yang cukup penting dalam analisis teknikal untuk kondisi pasar keuangan d...

Indikator Forex Moving Average Convergence/Divergence, MACD

Rumus Moving Average Convergence/Divergence , MACD. Metoda Moving Average Convergence/Divergence diperkenalkan pertama kali oleh Gerald Appel pada tahun...

Indikator Forex, Exponential Moving Average, EMA.

Pengertian Exponential  Moving Average.   Metoda Moving Average merupakan modifikasi dari metoda Simple Moving Average. Nilai yang diindikasikan ole...

Tipe Grafik Analisis Teknikal Forex

Data yang digunakan dalam analisis teknikal adalah data kurs yang divisualisasikan dalam bentuk diagram atau grafik . Grafik pergerakan kurs merupakan...

Belajar Indikator Forex, Stochastic Oscillator

Pengetian Indikator Stochastic Oscillator. Stochastic Oscillator   merupakan metoda analisiss teknikal yang diperkenalkan oleh George C Lane pada akhir ...

Indikator Forex Simple Moving Average, SMA.

Pengertian Definisi Indikator Moving Average.  Metoda Moving Average l ebih dikenal sebagai trend following indicator . Fungsi utamanya adalah untuk ...

Belajar Indikator Forex, Relative Strength Index. RSI

Pengertian Indikator Relative Strength Index. Relative Strength Index , RSI merupakan metoda yang cukup populer dikalangan pelaku perdagangan mata uang...

Cara Menggunakan, Interpretasi Indikator Teknikal Forex

Analisi Indikator Teknikal. Nilai yang ditunjukkan oleh sebuah indikator ditentukan oleh formula dan periode atau variabel lain di dalamnya. Sehingga...

Cara Menggunakan, Indikator SMA Dan Stochastic

Analisis Indikator Teknikal Moving Average. Karakteristik yang berbeda ditunjukkan oleh Simple Moving Average , SMA. Metoda ini memiliki formula yang...

Daftar Pustaka:

  1. http://belajarforex.com/indikator-teknikal.html
  2. http://www.babypips.com/school/leading-indicators-oscillators.html
  3. ardraviz, 2011, “Simple Comcept Untuk Forex Online Trading”, ardra.biz

Gambar

  1. http://ardra.biz

Belajar indikator  dalam indikator mt4 terbaik dengan indikator Stochastic Oscillator. Indikator trend paling akurat dengan indicator  Stochastic Oscillator terbaik untuk scalping dan indikator Stochastic Oscillator akurat.  Cara menggunakan indikator Stochastic Oscillator atau cara membaca indikator Stochastic Oscillator. Indikator teknikal emas dan fungsi indikator Stochastic Oscillator dengan indikator trend paling akurat.

Indikator overbought oversold paling akurat dengan cara baca indikator Stochastic Oscillator dan trading dengan indicator Stochastic Oscillator. Rumus Stochastic Oscillator untuk Trading dengan indicator  Stochastic Oscillator. Cara belajar indicator  Stochastic Oscillator untuk sinyal dari indicator  Stochastic Oscillator dengan rumus indicator  Stochastic Oscillator.

Contoh Analisis Indikator Slow Stochastic Oscillator adalah Contoh Soal Indikator Fast Stochastic Oscillator dengan Jenis Indikator Fast Stochastic Oscillator.