Cara Menggunakan, Indikator SMA Dan Stochastic

Analisis Indikator Teknikal Moving Average. Karakteristik yang berbeda ditunjukkan oleh Simple Moving Average, SMA. Metoda ini memiliki formula yang sederhana dalam perhitungannya. Merata-ratakan sejumlah data kurs sesuai dengan periodenya. Pemakaian periode 6 menunjukkan hanya 6 data kurs terakhir yang dirata-ratakan. Data yang digunakan bisanya kurs penutupan atau kombinasi dari kurs penutupan, tertinggi dan terrendah. Nilai SMA periode 6 pada timeframe H1 mengiformasikan rata-rata kurs penutupan selama 6 jam terakhir.

Nilai SMA untuk periode n akan sama dengan nilai kurs terakhir, jika rata-rata kurs untuk periode n, nilainya sama dengan kurs yang terakhir. Nilai SMA (6) akan sama dengan kurs terakhir, jika rata-rata kurs selama 6 jam yang lalu, sama dengan kurs terakhir. Titik potong yang menjadi acuan pada SMA terjadi ketika nilai SMA sama dengan nilai kurs. Kurva SMA dapat menunjukkan posisi kurs terakhir terhadap rata-rata kurs pada periode tertentu.

Setelah terjadi perpotongan, nilai kurs akan lebih tinggi daripada nilai SMA, jika nilai kurs terakhir lebih tinggi daripada rata-ratanya. Kurs bergerak naik maka rata-rata kurs juga bergerak naik. Pada kondisi kurs bergerak naik membentuk sebuah trend yang kuat akan diikuti oleh kenaikan nilai SMA secara proposional. Posisi kurs terakhir akan memiliki jarak yang semakin jauh dari nilai rata-ratnya. Sesuai dengan fungsi utamanya, SMA mampu menunjukkan arah ketika kurs bergerak naik atau turun membentuk sebuah trend yang sangat kuat. Dalam hal ini SMA dapat merepresentasikan pergerakan kurs yang sebenarnya. Para pengguna SMA dapat memanfaatkan kondisi pergerakan kurs ini.

Namun trend yang terbentuk pada akhirnya akan berhenti, kemudian kurs akan bergerak pada arah berlawanan. Perubahan kurs terakhir yang berlawanan dengan arah sebelumnya tidak dengan segera terindikasikan oleh nilai SMA. Walaupun sebenarnya, ketika kurs bergerak berlawanan, nilai SMA telah menunjukkan perubahan. Pada saat kurs bergerak dalam trend kuat, nilai kurs semakin jauh dari rata-ratanya, sehingga perubahan kurs terakhir yang berlawanan dengan arah trend tidak cukup berpengaruh terhadap perubahan jarak antara kurva SMA dengan kurva kurs. Perubahan jarak nilai SMA dengan kurs semakin tidak tampak pada SMA yang menggunakan bilangan periode yang lebih besar. Metoda SMA tampak sangat lamban dalam merespon perubahan arah kurs. Pada keadaan ini, nilai SMA tidak menunjukkan pergerakan kurs yang sebenarnya.

Tentunya bagi pengguna yang selalu konsisten mengikuti kaidah atau aturan  yang ada pada SMA, akan kehilangan kesempatan pada awal perubahan trend. Pengguna metoda ini akan menunggu sampai terjadinya titik potong antara kurva SMA dengan kurva kurs. Pada awal perubahan trend, jarak antara nilai SMA dan kurs masih terlalu jauh. Perlu adanya perubahan kurs yang berlawanan dalam jumlah relatif besar agar nilai SMA sama dengan nilai kurs. Tentu saja akan membutuhkan waktu yang relatif lebih lama untuk mencapai kondisi dimana nilai SMA sama dengan nilai kurs. Hal ini menjadi alasan mengapa metoda ini dikelompokan dalam lagging indicator.

Gambar 1.  memperlihatkan kurs yang bergerak pada satu arah, membentuk suatu trend yang sangat kuat. Dalam kasus ini SMA (24) dapat menunjukkan perubahan kurs yang sebenarnya. Pada kondisi uptrend yaitu daerah yang di batasi oleh dua garis vertikal, nilai kurs selalu lebih besar daripada nilai rata-rata untuk 24 jam terakhir. Semakin tinggi nilai kurs yang dicapai, semakin jauh dari nilai rata-ratanya. Pada kondisi yang sama nilai % K (24) hanya bergerak di sekitar nilai 80 sampai 100 atau bergerak pada daerah jenuh beli. Gambar 2.15 menjelaskan bahwa definisi psikologis mengenai jenuh beli dan jenuh jual pada Stochastic menjadi gagal ketika kurs bergerak pada kondisi yang sangat kuat, baik turun atau naik.

Aplikasi Indikator SMA Pada Kondisi Trend Kuat
Aplikasi Indikator Simple Moving Average Pada Kondisi Trend Kuat

Gambar 2. memperlihatkan pergerakan kurs yang membentuk pola osilasi atau sideway. SMA (24) tidak segera dapat merespon perubahan kurs yang terjadi. SMA tampak lamban dalam merespon perubahan arah pergerakan kurs. Keadaan ini menjelaskan bahwa SMA membutuhkan perubahan kurs yang cukup besar, agar dapat memiliki nilai yang sama dengan nilai kurs, sehingga dapat membentuk titik acuan. Namun demikian kurva % K (24) dari Stochastic (24,3,3) dapat merespon perubahan arah pergerakan kurs dengan baik. Gambar 2.16 menunjukkan bahwa pada kondisi pergerakan kurs yang membentuk pola osilasi definisi jenuh jual dan jenuh beli menjadi terpenuhi.

Aplikasi Indikator SMA Pada Kondisi Sideway
Gambar 2. Aplikasi Indikator Simple Moving Average Pada Kondisi Sideway

Daftar Artikel Yang Membahas Teknikal Indikator, Klik Judul Yang Sesuai Di Bawah:

1. Indikator Exponential Moving Average, EMA.

2. Indikator Moving Average Convergence/Divergence, MACD

3. Indikator Moving Average, MA.

4. Indikator Stochastic Oscillator

Pustaka:

  1. ardraviz, 2011, “Simple Comcept Untuk Forex Online Trading”, ardra.biz

Daftar Pustaka

Belajar indikator  dalam indikator mt4 terbaik dengan indikator Simple Moving Average SMA atau indikator trend paling akurat. Indicator  Simple Moving Average SMA terbaik untuk scalping sebagai indikator Simple Moving Average SMA akurat dengan cara menggunakan indikator Simple Moving Average SMA. Cara membaca indikator Simple Moving Average SMA untuk indikator teknikal emas.

Fungsi indikator Simple Moving Average SMA untuk indikator trend paling akurat dengan indikator trend paling akurat dan cara baca indikator Simple Moving Average SMA dengan trading dengan indicator Simple Moving Average SMA. Rumus Simple Moving Average SMA dengan Simple Moving Average SMA.

Trading dengan Simple Moving Average SMA untuk Cara baca sinyal Simple Moving Average SMA dengan Cara belajar trading dengan Simple Moving Average SMA. Trading Forex dengan Simple Moving Average SMA dan trading emas dengan Simple Moving Average SMA.

Cara Menggunakan, Interpretasi Indikator Teknikal Forex

Analisi Indikator Teknikal.

Nilai yang ditunjukkan oleh sebuah indikator ditentukan oleh formula dan periode atau variabel lain di dalamnya. Sehingga interpretasinya akan berbeda jika formula, periode dan variabel lain berbeda. Ini merupakan kelemahan utama indikator teknikal. Beberapa trader kawakan menyebutnya sebagai ketidakkonsistenan indikator. Trader lain lebih mempercayai trading-nya dengan hanya melihat chart dan informasi ekonomi secara keseluruhan. Atau memposisikan indikator hanya untuk melihat posisi kurs terhadap nilai indikasinya, tidak digunakan dalam mengambil keputusan untuk melakukan transaksi jual atau beli.

Ketidakkonsistenan indikator menyebabkan para trader selalu mengkonfirmasi satu indikator dengan indikator lainnya. Para senior menyebutnya dengan istilah multiple-indicator. Namun beberapa trader menyarankan bahwa keputusan tergantung pada gaya/style trader itu sendiri. Hal ini pula yang dianggap oleh para pemula bahwa pergerakan kurs menjadi sangat tidak jelas atau sulit untuk diprediksi. Yang pada akhirnya menjadi pemicu kerugian saat pemula mulai melakukan trading valuta uang asing.

Analisis Indikator Stochastic dan William’s Persen R.

Sebagai contoh, nilai psikologis yang diberikan oleh metoda seperti Stochastic dan Williams’ % R menjadi gagal ketika kurs bergerak pada satu arah yang berkepanjangan. Pada kondisi ini % K dan % R tidak lagi mencerminkan pergerakan kurs yang sebenarnya. Nilai yang ditunjukkan indikator berada di sekitar batas minimum atau maksimumnya. Nilai % K dan % R cenderung bergerak pada kisaran yang relatif sempit. Sementara kurs bergerak naik cukup kuat atau sebaliknya kurs sedang bergerak turun dengan cukup kuat.

Titik yang menjadi awal acuan untuk prediksi berada di bawah atau di atas nilai psikologinya yaitu nilai 20 dan 80 untuk Stochastic atau -80 dan -20 untuk William’s % R. Definisi jenuh jual yang diindikasikan antara nilai 0 dan 20 pada Stochastic atau antara -100 dan -80 pada Williams’ % R tidak lagi terpenuhi ketika kurs bergerak turun sangat kuat. Kurva % K dan % R akan bergerak pada daerah jenuh jual atau oversold area dalam kurun waktu yang cukup lama, sementara kurs bergerak turun terus. Begitupun dengan definisi jenuh beli atau overbought area yang diindikasikan antara 100 dan 80 untuk Stochastic atau antara 0 dan -20 untuk Wiliams’ % R menjadi tidak relevan lagi ketika kurs bergerak naik terus menerus. Nilai % K dan % R cenderung bergerak pada kisaran yang relatif sama yaitu pada daerah jenuh beli, sementara kurs bergerak naik berkepanjangan.

Tentu saja bagi pengguna indikator yang selalu setia dan konsisten dengan kaidah yang berlaku pada Stochastic dan Williams’ % R akan kehilangan kesempatan untuk memperoleh keuntungan. Pengguna indikator ini dengan sabar menunggu sampai nilai % K dan % R ke luar dari daerah jenuhnya. Setelah benar-benar ke luar dari daerah jenuhnya dan yakin bahwa kurs memang akan berubah arah, pengguna indikator ini akan mencoba untuk meraih keuntungan dengan melakukan transaksi.

Gambar 1. memperlihatkan kurs yang bergerak pada satu arah membentuk trend yang sangat kuat. Sumber data diambil dari trading platform metatrader, timeframe H1 tanggal 26 Mei sampai dengan 02 Juni 2009. Dalam kasus ini kurva % K (24) dan kurva % R (24) tidak dapat memperlihatkan perubahan kurs yang sebenarnya. Pada kondisi uptrend yaitu daerah yang di batasi oleh dua garis vertikal, nilai % K (24) dan % R (24) berada pada daerah jenuh beli.

Kurva Stochastic dan William's Persen R Kondisi Trend Kuat
Gambar 1. Kurva Stochastic dan William’s Persen R Pada Kondisi Trend Kuat

Pergerakan kurs tidak selalu pada kondisi trend yang kuat. Namun kurs bergerak naik turun membentuk pola osilasi. Pergerakan kurs seperti ini disebut sideway. Batas tertinggi yang direpresentasikan oleh nilai % K dan % R akan menjadi titik resisten (resistance point) dan batas bawah atau kurs terrendah akan menjadi support point. Pergerakan kurs cenderung berbalik arah setiap mencapai titik resisten atau support-nya. Perubahan kurs yang berlawanan dengan arah sebelumnya akan segera direspon oleh indikator yang ditunjukkan oleh perubahan nilai % K dan % R.

Kurs penutupan terakhir yang lebih rendah daripada kurs tertinggi akan langsung ditunjukkan oleh nilai % K < 100 atau % R < 0. Sedangkan kurs terakkir yang lebih tinggi daripada kurs terrendah segera ditunjukkan oleh nilai % K > 0 atau % R > -100. Kedua indikator ini mampu menunjukan perubahan pergerakan kurs dengan cepat. Hal ini menjadi argumen yang mengelompokan Stochastic dan Williams’ % R sebagai leading indicator. Dengan demikian pada kondisi pergerakan osilasi, kurva % K dan % R dapat merepresentasikan pergerakan kurs yang sebenarnya.

Pada pergerakan osilasi, definisi jenuh jual dan jenuh beli yang berlaku pada Stochastic dan williams’ % R akan terpenuhi. Ketika daerah jenuh jual terlewati, atau nilai % K > 20 dan % R > -80 pergerakan kurs sedang menunjukkan arah naik dan ketika daerah jenuh beli terlewati, atau % K < 80  dan % R < -20 arah pergerakan kurs sedang turun. Pengguna setia kedua indikator ini dapat melakukan transaksi sesuai dengan acuan yang diberikan oleh indikatornya.

Gambar 2. memperlihatkan pergerakan kurs yang membentuk pola sideway. Sumber data diambil dari trading platform metatrader, timeframe H1 tanggal 03-06 Maret 2009. Dalam kasus ini kurva % K (24) dan % R (24) mampu merepresentasikan perubahan kurs dengan baik. Ketika kurs mulai berubah arah dan bergerak menjauh dari titik psikologisnya, inidikator dapat merespon dengan segera yang ditunjukkan oleh perubahan nilai % K (24) dan % R (24). Setelah nilai % K (24) > 20 dan % R (24) > -80 atau ke luar dari daerah jenuh jual, kurs bergerak naik meninggalkan titik support-nya, dan setelah nilai % K (24) < 80 dan % R (24) < -20 atau ke luar dari daerah jenuh beli kurs bergerak turun menuju titik terrendanya.

Kurva Stochastic dan William's Persen R Kondisi Sideway
Gambar 2. Kurva Stochastic dan William’s Persen R Kondisi Sideway

Cara Pakai Indikator Moving Average.

Karakteristik yang berbeda ditunjukkan oleh Simple Moving Average, SMA. Metoda ini memiliki formula yang sederhana dalam perhitungannya. Merata-ratakan sejumlah data kurs sesuai dengan periodenya. Pemakaian periode 6 menunjukkan hanya 6 data kurs terakhir yang dirata-ratakan. Data yang digunakan bisanya kurs penutupan atau kombinasi dari kurs penutupan, tertinggi dan terrendah. Nilai SMA periode 6 pada timeframe H1 mengiformasikan rata-rata kurs penutupan selama 6 jam terakhir.

Baca artikel lebih lanjut KLIK Di Sini

Pustaka:

  1. ardraviz, 2011, “Simple Comcept Untuk Forex Online Trading”, ardra.biz

Daftar Pustaka

Belajar indikator sebagai indikator mt4 terbaik dengan indikator Stochastic Oscillator dan indikator trend paling akurat. Indicator  Stochastic Oscillator terbaik untuk scalping dan indikator Stochastic Oscillator akurat dengan cara menggunakan indikator Stochastic Oscillator. Cara membaca indikator Stochastic Oscillator dengan indikator teknikal emas.

Fungsi indikator Stochastic Oscillator dengan indikator trend paling akurat sebagai indikator overbought oversold paling akurat dengan cara baca indikator Stochastic Oscillator trading dengan indicator Stochastic Oscillator. Rumus Stochastic Oscillator dan Trading dengan indicator  Stochastic Oscillator. Cara belajar indicator  Stochastic Oscillator untuk sinyal dari indicator  Stochastic Oscillator dengan rumus indicator  Stochastic Oscillator.

Contoh Analisis Indikator Slow Stochastic Oscillator dengan Contoh Soal Indikator Fast Stochastic Oscillator. Jenis Indikator Fast Stochastic Oscillator dan Trading Forex dengan Stochastic Oscillator. Cara Trading Forex dengan Stochastic Oscillator dan Trading Emas dengan Stochastic.

Indikator RSI sebagai  indikator trend paling akurat untuk indicator  Relative Strength Index RSI terbaik untuk scalping. Indikator Relative Strength Index sebagai RSI akurat dengan cara menggunakan indikator Relative Strength Index RSI.  Cara membaca indikator Relative Strength Index RSI.  Indikator teknikal emas dengan fungsi indikator Relative Strength Index RSI.

Indikator trend paling akurat sebagai indikator overbought oversold paling akurat dan cara baca indikator Relative Strength Index RSI.  Trading dengan indicator Relative Strength Index RSI dengan rumus Relative Strength Index RSI atau Belajar indicator Relative Strength Index RSI.

Trading forex dengan Relative Strength Index RSI dan Cara baca Sinyal indicator Relative Strength Index RSI untuk Trading emas dengan indicator Relative Strength Index RSI. Indikator Simple Moving Average SMA dengan indikator trend paling akurat untuk indicator  Simple Moving Average SMA terbaik untuk scalping. Indikator Simple Moving Average SMA akurat sebagai cara menggunakan indikator Simple Moving Average SMA.

Cara membaca indikator Simple Moving Average SMA pada indikator teknikal emas sebagai fungsi indikator Simple Moving Average SMA dan indikator trend paling akurat. indikator trend paling akurat dan cara baca indikator Simple Moving Average SMA untuk trading dengan indicator Simple Moving Average SMA.

Rumus Simple Moving Average SMA dengan Simple Moving Average SMA dan Trading dengan Simple Moving Average SMA. Cara baca sinyal Simple Moving Average SMA untuk Cara belajar trading dengan Simple Moving Average SMA dan Trading Forex dengan Simple Moving Average SMA. Trading emas dengan Simple Moving Average SMA.

Indikator Forex Simple Moving Average, SMA.

Pengertian Definisi Indikator Moving Average. Metoda Moving Average lebih dikenal sebagai trend following indicator. Fungsi utamanya adalah untuk merata-ratakan nilai kurs yang selalu berubah. Nilai MA dihitung dengan menggunakan sebuah formula yang sederhana. Formula ini akan merata-ratakan nilai kurs yang bergerak sesuai dengan periode yang ditentukan.

Data kurs terakhir selalu menggantikan data yang pertama. Sehingga nilai rata-rata selalu bergerak mengikuti perubahan data kurs terakhir. Moving average merupakan metoda analisis teknikal modern dengan menggunakan formula matematika sederhana dalam perhitungannya. Data yang digunakan umumnya adalah kurs penutupan atau kombinasi dengan kurs tertinggi dan terrendah.

Interpretasi Dan Prediksi Cara Moving Avarage

Interpretasi metoda MA terhadap pergerakan kurs dimasa yang akan datang didasarkan pada posisi relatif antara kurs sekarang dengan nilai MA-nya. Atau posisi relatif nilai MA periode kecil terhadap nilai MA periode besar. Jika nilai kurs lebih tinggi daripada nilai MA-nya, maka akan diinterpretasikan bahwa kurs cenderung naik. Nilai MA periode kecil lebih tinggi daripada nilai MA periode besar akan diinterpretasikan bahwa pergerakan kurs cenderung naik.

Nilai MA memiliki nilai yang sama dengan nilai kurs ketika kurva MA memotong kurva kurs. Titik potong kedua kurva ini menjadi acuan untuk memprediksi pergerakan kurs selanjutnya. Jika pada periode berikutnya nilai kurs lebih tinggi daripada nilai MA, maka akan diinterprtasikan kurs ke depan naik. Sebaliknya jika nilai kurs lebih kecil daripada nilai MA, maka pergerakan kurs selanjutnya diprediksi cenderung turun.

Interpretasi MA lainnya adalah dengan membandingkan antara dua nilai MA. Kedua MA mengunakan periode yang berbeda. Titik acuan terjadi ketika kedua kurva MA berpotongan. Interpretasinya adalah jika setelah berpotongan nilai MA periode kecil lebih tinggi daripada nilai MA periode besar, maka pergerakan kurs selanjutnya diprediksi cenderung naik.

Contoh Cara Pakai Indikator Simple Moving Average, SMA

Contoh Simple Moving Average, SMA dapat dilihat pada gambar 1 di bawah. Simple Moving Average yang menggunakan periode enam dalam perhitungannya dinotasikan dengan SMA (6). Bilangan periode menunjukkan jumlah data ke belakang yang digunakan. SMA (6) yang diaplikasikan pada line chart EUR/USD di-timeframe H1 (satu jam) menunjukkan nilai rata-rata kurs EUR/USD selama enam jam terakhir. Pada aplikasinya nilai SMA divisualisasikan dalam bentuk kurva atau garis.

Kurva Simple Moving Average
Gamabar 1. Kurva Simple Moving Average, SMA

Pada pukul 02.00 terjadi perpotongan antara kurva kurs dengan SMA (6). Titik  potong adalah titik acuan yang digunakan untuk menentukan peramalan. Pada pukul 03.00 kurs penutupan lebih rendah daripada nilai SMA (6). Artinya kurs EUR/USD pada pukul 03.00 lebih rendah daripada rata-rata kurs penutupan selama enam jam terakhir. Para trader menyarankan untuk buka posisi transaksi jual.

Pada pukul 10.00 terjadi perpotongan yang kedua. Pada pukul 11.00 kurs lebih tinggi daripada nilai SMA (6). Artinya pada pukul 11.00 kurs EUR/USD lebih tinggi daripada rata-rata kurs penutupan selama enam jam terakhir. Karena kurs penutupan EUR/USD terakhir lebih tinggi daripada rata-rata kurs penutupan selama enam jam, maka kurs selanjutnya diprediksi naik. Sehingga kalau akan melakukan transaksi,  maka posisi yang terbaik adalah membeli.

Contoh Soal Pemakaian Indikator SMA

Contoh pemakaian dua SMA dengan periode berbeda, SMA (4) dan SMA (6) dapat dilihat pada Gambar 2 di bawah. Prediksi ditentukan oleh titik acuan yang merupakan titik potong antara kedua kurva SMA. Jika setelah perpotongan nilai SMA periode kecil lebih tinggi daripada SMA periode besar, maka pergerakan kurs diwaktu akan datang diprediksi cenderung naik. Sebaliknya jika SMA periode kecil memiliki nilai lebih rendah daripada SMA periode besar, maka pergerakan kurs diprediksi turun.

Kurva Simple Moving Average, SMA (4) Dan SMA (6)
Gambar 2. Kurva Simple Moving Average, SMA (4) Dan SMA (6)

Pada pukul 03.00 terjadi perpotongan antara kurva SMA (4) dengan SMA (6). Setelah perpotongan SMA (4) lebih rendah daripada SMA (6). Artinya rata-rata kurs selama empat jam lebih rendah daripada rata-rata selama enam jam. Pergerakan kurs EUR/USD diprediksi cenderung turun. Perpotongan kedua terjadi pada pukul 13.00. Setelah perpotongan nilai SMA (4) lebih tinggi daripada SMA (6), maka kurs EUR/USD diprediksi cenderung naik.  Dalam kasus ini kurva SMA (4) mewakili kurva kurs EUR/USD.

Titik potong juga terjadi pada pukul 01.00. Setelah perpotongan nilai SMA (4) lebih tinggi daripada SMA (6), namun nilai kurs lebih rendah daripada nilai kedua SMA, sehingga pada kondisi ini prediksi terhadap  pergerakan kurs menjadi tidak konsisten. Jika berdasarkan contoh aplikasi pertama, nilai kurs lebih rendah daripada nilai SMA, maka pergerakan kurs diprediksi turun. Namun jika berdasarkan contoh aplikasi kedua, nilai SMA (4) lebih tinggi daripada SMA (6), maka kurs diprediksi naik.

Dari bahasan ini dapat diketahui bahwa pemakaian dua SMA dapat mengurangi titik acuan yang tidak perlu terjadi. Pada gambar terlihat kurva kurs EUR/USD perpotongan dengan kurva SMA (4) dan SMA (6) sebanyak enam kali selama 24 jam. Artinya ada enam titik acuan yang diberikan oleh masing-masing SMA. Sebagian titik potong memberikan prediksi yang salah. Dalam kurun waktu yang sama kurva SMA (4) dan SMA (6) hanya berpotongan tiga kali. Hanya ada tiga titik acuan yang dapat digunakan untuk memprediksi pergerakan kurs selanjutnya. Pada contoh ini aplikasi dua SMA dapat mengurangi probabilitas kesalahan prediksi.

Analisis Harian Forex, Indikator Teknikal

Analisis Indikator Teknikal Forex, Untuk Pergerakan Kurs Valuta Asing Hari Ini. Rangkuman analisis indikator untuk beberapa valuta asing pada hari ini...

Belajar Indikator Forex, Williams’ Percent Range, % R

Pengertian Indikator Williams Percent Range, % R Metoda ini pertama kali diperkenalkan tahun 1979 oleh seorang trader yang juga penulis buku bernama...

Belajar Indikator Teknikal Forex Online Trading

Para palaku pasar valuta asing menggunakan diagram atau chart sebagai alat utama dalam melakukan analisis pergerakan kurs. Selain itu, para pelaku juga...

Cara Menghitung Pivot Point Forex Margin Trading

Pengertian Harga Dari Metoda Pivot Point.  Pivot point merupakan suatu harga yang cukup penting dalam analisis teknikal untuk kondisi pasar keuangan d...

Indikator Forex Moving Average Convergence/Divergence, MACD

Rumus Moving Average Convergence/Divergence , MACD. Metoda Moving Average Convergence/Divergence diperkenalkan pertama kali oleh Gerald Appel pada tahun...

Indikator Forex, Exponential Moving Average, EMA.

Pengertian Exponential  Moving Average.   Metoda Moving Average merupakan modifikasi dari metoda Simple Moving Average. Nilai yang diindikasikan ole...

Tipe Grafik Analisis Teknikal Forex

Data yang digunakan dalam analisis teknikal adalah data kurs yang divisualisasikan dalam bentuk diagram atau grafik . Grafik pergerakan kurs merupakan...

Belajar Indikator Forex, Stochastic Oscillator

Pengetian Indikator Stochastic Oscillator. Stochastic Oscillator   merupakan metoda analisiss teknikal yang diperkenalkan oleh George C Lane pada akhir ...

Indikator Forex Simple Moving Average, SMA.

Pengertian Definisi Indikator Moving Average.  Metoda Moving Average l ebih dikenal sebagai trend following indicator . Fungsi utamanya adalah untuk ...

Belajar Indikator Forex, Relative Strength Index. RSI

Pengertian Indikator Relative Strength Index. Relative Strength Index , RSI merupakan metoda yang cukup populer dikalangan pelaku perdagangan mata uang...
  1. http://belajarforex.com/indikator-teknikal.html
  2. http://www.babypips.com/school/leading-indicators-oscillators.html
  3. ardraviz, 2011, “Simple Comcept Untuk Forex Online Trading”, ardra.bi

Gambar:

  1. http://ardra.biz