Spesifikasi, Komposisi Kimia Baja Karbon Standar AISI SAE JIS, Pengaruh Unsur Paduan

Pengaruh Unsur Paduan Baja. Struktur metalurgi dan kandungan karbon merupakan kontributor utama terhadap adanya perbedaan sifat sifat yang dimiliki oleh setiap baja karbon. Bahan yang diklasifikasikan sebagai baja karbon mungkin juga mengandung sejumlah kecil unsur lain, seperti kromium, nikel, molibdenum, tembaga, vanadium, niobium (columbium), fosfor, dan belerang.

Setiap unsur yang ditambahkan pada bahan dasar besi akan memberikan pengaruh terhadap sifat akhir dan bagaimana bahan itu bereaksi selama proses fabrikasinya. Artinya penambahan paduan akan bertanggung jawab terhadap perbedaan sifat antara berbagai jenis grade baja karbon.

Berikut adalah beberapa unsur yang biasa ditambahkan ke besi dan pengaruhnya terhadap baja:

  • Pengaruh Karbon Pada Baja

Karbon adalah unsur paduan paling penting dalam baja dan kandungannya dapat mencapai hingga 2%. Meskipun sebagian besar baja yang dilas harus memiliki karbon kurang dari 0,5%. Karbon dalam baja dapat terlarut dalam besi atau membentuk senyawa, seperti besi karbida (Fe3C).

Peningkatan jumlah karbon akan meningkatkan kekerasan dan kekuatan tarik serta respons terhadap perlakuan panas atau hardenability. Di sisi lain, peningkatan jumlah karbon akan mengurangi kemampuan las, menurunkan mampu bentuk, keuletan dan konduktifitas.

  • Pengaruh Mangan Pada Baja

Mangan akan terlarut dalam Fe alpha sampai maksimum 3% dan bersifat memperkeras ferit, namun diiringi dengan berukurangnya sifat plastisitasnya.

Baja biasanya mengandung setidaknya 0,3% mangan, yang bertindak dengan tiga cara yaitu: membantu deoksidasi baja, mencegah pembentukan inklusi besi sulfida, dan meningkatkan kekuatan melalui peningkatan hardenability. Mangan juga mampu meningkatkan ketanggunhan dan mampu mesin.

Kandungan mangan dalam baja dapat mengurangi terjadinya rapuh panas dan dingin yang disebabkan oleh adanya belerang (sulfur). Dalam baja, mangan dapat berinteraksi dengan sulfur membentuk senyawa mangan sulfida yaitu MnS. Jumlah mangan yang terkandung pada baja karbon bisa mencapai 1,5%.

  • Pengaruh Silikon Pada Baja

Silikon merupakan unsur pembentuk ferit. Silikon menaikan temperature A1 dan A2. Silikon memberikan pengaruh terhadap proses grafitisasi, dan bersama mangan bertindak sebagai stabilator karbida.

Baja biasanya hanya mengandung jumlah kecil silikon (sekitar 0,2%) pada baja canai (rolled steel) dimana silikon digunakan sebagai deoxidizer selama proses steel making. Namun, dalam baja cor bisa mengandung silicon antara 0,35-1,0%. Silikon larut dalam kristal besi dan cenderung memberikan pengaruh terhadap kekuatan.

Bersama dengan mangan, silicon dapat meningkatkan hanrdenability, kekutan dan ketangguhan baja.

Logam las biasanya mengandung sekitar 0,5% silikon yang berfungsi sebagai deoxidizer. Beberapa logam pengisi dapat mengandung sampai 1,0% silicon untuk memberikan peningkatan kebersihan dan deoksidasi selama pengelasan pada permukaan yang terkontaminasi.

Logam pengisi dengan kandungan silikon digunakan untuk pengelasan pada permukaan bersih. Tingginya silikon akan menghasilkan kekuatan logam las yang sangat nyata, namun diikuti dengan penurunan keuletan yang dapat menyebabkan terjadinya retak.

  • Pengaruh Belerang Pada Baja

Belerang atau sulfur merupakan unsur yang dianggap sebagai pengotor yang tidak diinginkan dalam baja. Berbagai Upaya khusus dilakukan untuk menghilangkan atau meminimalkan belerang selama pembuatan baja.

Sulfur bersifat merugikan terhadap kualitas baja. Sulfida besi yang terbentuk FeS bersifat sangat rapuh dan bertitik lebur rendah. Pada Pengerjaan panas seperti rolling, kehadiran FeS mengakibatkan rapuh panas.

Kandungan sulfur yang melebihi 0,05% cenderung menyebabkan kerapuhan dan mengurangi kemampuan las.

Walaupun demikian, penambahan sulfur hingga mencapai 0,1% sampai 0,3% akan cenderung meningkatkan sifat machinability baja, namun menurunkan kemampuan lasnya. Jenis baja dengan kandungan sulfur tinggi biasa disebut free machining.

  • Pengaruh Fosfor Pada Baja

Fosfor dianggap sebagai unsur pengotor yang tidak diinginkan dalam baja. Fosfor akan terlarut dalam baja jika kandungannya kurang dari 1%. Jika kandungannya berlebih, maka fosfor akan membentuk endapan Iron phosphide Fe3P yang sifatnya rapuh. Kehadiran besi fosfida menyebabkan baja akan mengalami retak cold short Ketika mendapat pengerjaan dingin.

Untuk kebanyakan baja karbon, sulfur umumnya ditetapkan sampai 0,04%. Pada baja yang dikeraskan, kehadiran unsur fosfor cenderung menyebabkan embrittlement.

Pada baja paduan rendah kekuatan tinggi, fosfor dapat ditambahkan dalam jumlah hingga 0,10% untuk meningkatkan kekuatan, meningkatkan mampu mesin, dan ketahanan korosi.

  • Pengaruh Chromium Pada Baja

Chromium adalah elemen paduan yang berpengaruh kuat dalam baja. Krom ditambahkan karena dua alasan utama: pertama, krom sangat meningkatkan kemampu kerasan baja; kedua, krom secara nyata meningkatkan ketahanan korosi besi baja.

Kehadiran krom  pada beberapa baja dapat menyebabkan kekerasan yang berlebihan dan retak yang berdekatan dengan lasan. Baja tahan karat dapat mengandung kromium melebihi 12%.

Chrome dalam baja dapat membentuk senyawa krom karbida yaitu Cr7C3 atau Cr23C6 atau membentuk karbida ganda dengan besi. Karbida karbida ini merupakan senyawa padat yang sifatnya sangat keras yang lebih keras dari cementite.

Krom merupakan unsur pembentuk ferit. Krom menurunkan garis temperature A4 dan meningkatkan temperature A3 sehingga mampu menstabilkan fasa ferit.

Krom dalam baja dapat meningkatkan ketahanan korosi, mampu keras, kekuatan pada temparatur tinnggi, ketahanan abrasi dan aus.

Namun demikian, unsur krom dapat mempercepat pertumbuhan butir dan meningkatkan kerapuhan baja.

  • Pengaruh Molibdenum Pada Baja

Unsur molibdenum adalah unsur pembentuk karbida yang kuat dan biasanya terkandung pada baja paduan dalam jumlah kurang dari 1,0%. Beberapa karbida Molybdenum adalah Mo2C dan karbida ganda seperti Fe4Mo2C dan Fe21MoC6.

Molybdenum dalam baja dapat meningkatkan ketahanan korosi, kekuatan dan ketahanan mulur pada temperature tinggi.

Mo dalam jumlah kecil sangat efektif menurunkan laju transformasi, menggeser hidung kurva diagram TTT ke arah kanan.

  • Pengaruh Nikel Pada Baja

Nikel merupakan unsur pembentuk austenitm dengan menaikkan temperature A4 dan menurunkan temperature A3. Penambahan lebih dari 25% nikel ke dalam besi murni, akan menghasilkan paduan austenite murni pada temperature kamar.

Nikel ditambahkan pada baja untuk meningkatkan kemampu kerasan. Nikel dapat berkinerja baik karena mampu meningkatkan ketangguhan dan keuleta, ketika melakukan peningkatan kekuatan dan kekerasan baja.

Selain itu, Nikel sering digunakan untuk meningkatkan ketangguhan baja pada temperature rendah. Nikel memberikan pengaruh penghalusan butir, mengurangi koefisien ekspansi panas.

  • Pengaruh Vanadium Pada Baja

Vanadium merupakan pembentuk karbida yang kuat. Dalam baja vanadium membentuk senyawa vanadium karbisa VC yang mampu menghambat pertumbuhan butir. Hadirnya vanadium akan meningkatkan temperature pertumbuhan butir austenite.

Penambahan vanadium akan sangat efektif dalam menghasilkan peningkatan hardenability baja walaupun dalam jumlah yang sangat kecil. Vanadium mampu menahan pelunakan pada temperature tinggi.

Vanadium umumnya ditambahkan dalam jumlah terbatas. Penambahan yang lebih besar dari 0,05%, bisa meningkatkan kecenderungan menjadi rapuh selama proses perlakuan thermal stress relief.

  • Pengaruh Columbium Pada Baja

Columbium disebut juga Niobium, seperti vanadium, adalah niobium umumnya dapat meningkatkan hardenability baja. Namun, karena afinitasnya yang kuat terhadap karbon, niobium dapat bersenyawa dengan karbon dalam baja, sehingga mengakibatkan penurunan hardenability.

Niobium merupakan unsur yang banyak digunakan untuk memperkuat baja dengan mekanisme penguatan penegrasan endapan atau penguatan pengahlusan butir. Columbium digunakan dalam memproduksi baja paduan rendah berkekuatan tinggi atau high strength low alloy steel atau baja HSLA.

Kandungan vanadium sekitar 0,02% dapat meningkatkan kuat Tarik dan batas luluh baja karbon. Vanadium dapat meningkatkan kekuatan, namun mengurangi ketangguhan baja.

  • Elemen Paduan Lainnya.

Beberapa spesifikasi baja karbon memungkinkan adanya penambahan unsur- unsur tertentu, walaupun mungkin tidak dengan sengaja ditambahkan. Spesifikasi baja lainnya mungkin mencantumkan unsur lainnya sebagai tambahan khusus untuk baja, walaupun penambahannya sangat kecil.

Pengaruh Unsur Paduan Pada Sifat Hardenability Baja AISI SAE

Penambahan unsur paduan pada baja akan meningkatkan sifat mampu keras seperti ditunjukkan pada gambar berikut:

Pengaruh Unsur Paduan Pada Sifat Hardenability Baja AISI SAE
Pengaruh Unsur Paduan Pada Sifat Hardenability Baja AISI SAE

Molybdenum mampu meningkatkan sifat hardenablity lebih tinggi disbanding unsur padauan lainnya.

Pengaruh Unsur Paduan Pada Sifat Kekerasa Baja Karbon AISI SAE

Baja dapat ditingkatkan kekerasannya dengan menambahkan sedikit unsur paduan ke komposisinya seperti ditunjukkan pada gambar berikut:

Pengaruh Unsur Paduan Pada Sifat Kekerasa Baja Karbon Paduan SAE AISI
Pengaruh Unsur Paduan Pada Sifat Kekerasa Baja Karbon Paduan SAE AISI

Secara umum dapat dikatakan unsur paduan Silikon dalam jumlah yang terbatas mampu meningkatkan kekerasan baja lebih tinggi disbanding dengan unsur paduan lainnya. Namun dalam jumlah yang lebih banyak unsur paduan molybdenum menjadai sangat efektif dalam meningkatkan kekerasan baja.

Klasifikasi dan Standarisasi Baja

Ada bermacarn -macam klasifikasi dari baja paduan, diantaranya adalah DIN (Deutsche Industrie Norm) Jerman, BS (British Standard) Inggris, ASTM (American Sosiety for Testing and Materials) Amerika, SAE (Society of Automotive Engineers) Amerika, AISI (American Iron and Steel Institute) Amerika, JIS (Japan Industrial Standard).

Standarisasi AISI dan SAE

Penetapan standarisasi baja menurut American Iron and Steel Institut (AISI) dan Society of Automotive Enginers (SAE) berdasarkan pada komposisi kimia yang dinotasikan atau disimbolkan dengan mempergunakan nomor atau angka dan huruf.

Klasifikasi Baja Standar AISI SAE

Klasifikasi baja berdasarkan standar AISI SAE dapat dilihat pada table berikut

Klasifikasi Baja Standar AISI SAE
Klasifikasi Baja Standar AISI SAE

Angka-angka pada klasifikasi baja menurut SAE dan AISI sebagian menunjukkan macam dan komposisinya.

Adapun cara yang ditentukan AISI dan SAE dalam menetapkan standarisasi baja karbon adalah sebagai berikut :

  1. Sistem Angka Standar AISI – SAE Baja Karbon Dan Paduan.

1). Angka pertama menunjukkan jenis – jenis baja karbon dan paduannya, seperti contoh berikut:

 Angka 1 untuk baja karbon dengan kode AISI – SAE 1xxx

 Angka 2 untuk baja karbon dengan paduan nikel dengan kode AISI – SAE 2xxx

 Angka 3 untuk baja karbon dengan paduan nikel dan chrom dengan kode AISI – SAE 3xxx

 Angka 4 untuk baja karbon dengan paduan molybdenum dengan kode AISI – SAE 4xxx

dan seterusnya seperti pada table

2). Angka kedua menunjukkan prosentase unsur paduan utama baja yang mendekati, seperti contoh berikut:

 Angka 0 (nol) menunjukkan unsur karbon yang utama. tak ada unsur paduan lain yang penting (baja karbon biasa).

 Angka 1 menunjukkan unsur belerang yang utama,

 Angka 2 menunjukkan unsur pospor yang utama,

 Angka 3 menunjukkan unsur mangan yang utama

 Angka 4 menunjukkan unsur silikon yang utama.

Kode AISI – SAE 23xx adalah menunjukkan baja karbon paduan nikel dengan campuran nikel kira – kira 3 %.

3). Dua angka terakhir menunjukkan jumlah prosen karbon yang mendekati rata-rata dalam 1/100%.

Kode AISI – SAE 1095 adalah baja karbon dengan kandungan karbon sebesar 0,95%

Kode AISI – SAE 3395 adalah baja karbon dengan paduan nikel – chrom, dengan campuran nikel kira – kira 3,5 %, chrom kira-kira 1,55% dan kandungan karbon sebesar 0,95 %.

Standarisasi AISI SAE Baja Karbon dan Paduanya

Jenis dan prosentase paduan pada baja menurut AISI – SAE diantaranya adalah sebagai berikut:

Baja karbon

Menurut AISI – SAE, Baja karbon dibagi menjadi empat klasifikasi seperti ditunjukkan pada table berikut

Standarisasi AISI SAE Baja Karbon
Standarisasi AISI SAE Baja Karbon

1). Baja karbon biasa (plain carbon steel) yang mengandung sulfur sangat rendah (non resulfurized) dan mengandung unsur mangan maksimum 1,00% diberi kode AISI SAE 10xx

2). Baja karbon yang mengandung Sulfur (free machining) diberi kode AISI SAE 11xx

3). Baja karbon yang mengandung Sulfur dan fosfor diberi kode AISI SAE 12xx

4). Baja karbon biasa (plain carbon steel) yang mengandung sulfur sangat rendah (non resulfurized) dengan kandungan mangan antara 1,00 – 1,65 persen.

Baja Paduan Rendah

Baja paduan rendah dimulai dengan penomoran SAE 2xxx sampai 9xxx seperti ditunjukkan pada table berikut:

1). Baja Mangan

Baja  dengan kandungan 1,75 Mn, diberi kode AISI – SAE 13xx

2). Baja Nikel

Baja dengan kandungan 3,50 Ni, diberi kode AISI – SAE 23xx

Baja dengan kandungan  5,00 Ni diberi kode AISI – SAE  25xx

3). Baja Nikel – Chromium

Baja dengan kandungan 1,25 Ni dan 0,65 Cr diberi kode AISI – SAE 31xx

Baja dengan kandungan 3,50 Ni dan 1,55 Cr diberi kode AISI – SAE 33xx

4). Baja Molybdenum

Baja dengan kandungan 0,25 Mo diberikan kode AISI – SAE 40xx

5). Baja Chormium Molybdenum

Dengan kandungan 0,50 – 0,95 Cr dan 0,12 – 0,20 Mo diberi kode AISI – SAE 41xx

6). Baja Nikel Molybdenum

Baja dengan kandungan 1,55 – 1,80 Ni dan 0,20 – 0,25 Mo diberi kode AISI – SAE 46xx

Baja dengan kandungan 3,50 Ni dan 0,25 Mo dengan kode AISI – SAE 48xx

7). Baja Chrom Nikel Molyben

Baja dengan kandungan 1,80 Ni; 0,50 – 0,80 Cr; dan 0,25 Mo diberi  kode AISI – SAE 43xx

Baja dengan kandungan  1,05 Ni; 0,45 Cr; 0,20 Mo diberi kode AISI – SAE 47xx

8). Baja Chrom:

Kandungan 0,28 – 0,40 Cr diberi kode AISI – SAE 50xx

Kandungan  0,80 – 1,00 diberi kode AISI – SAE 51xx 

9). Baja Chrom Vanadium

Baja dengan kandungan (0,60 – 0,95 Cr; 0,10 – 0,15 V) diberi kode AISI – SAE 61xx

10) Baja Karbon Chromium Molybdenum

Baja dengan kandungan 0,4 C; 1,6 Cr; 0,35 Mo diberi kode AISI – SAE 7140

11). Baja Nikel Krom Molibdenum

Baja dengan kandungan 0,30 Ni; 0,40 Cr; 0,12 Mo diberi kode AISI – SAE 81xx

12). Baja Mangan Silicon

Baja dengan kandungan 0,85 Mn; 2,00 Si diberi kode AISI – SAE 92xx

Baja dengan kandungan 3,25 Ni; 1,20 Cr; 0,12 Mo diberi kode AISI – SAE 93xx

Baja dengan kandungan 1,00 Ni; 0,80 Cr; 0,25 diberi kode AISI – SAE 98xx

Sistim Huruf Kodefikasi Standar SAE AISI

Huruf awal memberi arti pada dapur yang digunakan dalam proses peleburan pada pembuatan baja, yaitu sebagai berikut:

a). Huruf A untuk baja karbon yang dihasilkan dari dapur Siemens Martin

b). Huruf B untuk baja karbon yang dihasilkan dari dapur Bessemer

c). Huruf C untuk baja karbon yang dihasilkan dari dapur Open Heart untuk baja karbon basa

d). Huruf D untuk baja karbon yang dihasilkan dari dapur Open Heart untuk baja karbon asam

e). Huruf E untuk baja karbon yang dihasilkan dari dapur listrik

Contoh Sistem Huruf Angka Kodefikasi Baja Karbon Paduan Standar AISI – SAE

Baja High Carbon High Chromium

Baja dengan kandungan 1,00 C; 0,5 Cr, diberi kode AISI – SAE E50100

Baja dengan kandungan 1,00 C; 1,00Cr diberik kode AISI – SAE E51100

Contoh Pengertian Kodefikasi Standar AISI – SAE

SAE 1050

Angka 1 menunjukkan baja karbon

Angka 0 menunjukkan baja karbon tanpa paduan

Angka 20 menunjukkan kandungan karbon C = 20/100 persen = 0,2 persen

SAE 5130

Angka 5 menunjukkan baja paduan chromium

Angka 1 menunjukkan kandungan unsur paduan utama (chromium maksimum 1,00 persen).

Angka 30 menunjukkan kandungan karbon C = 30/100 persen = 0,3 persen

AISI  5120

Angka 5 menunjukkan baja paduan chromium

Angka 1 menunjukkan kandungan paduan utama (chromium 1%)

Angka 20 menunjukkan kandungan karbon 0,2%

AISI – SAE E51100

Huruf E menunjukkan Baja karbon paduan diproduksi dengan menggunaan Electric Furnace

Angka 5 menunjukkan baja karbon paduan chromium

Angka 1 menunjukkan kandungan chromium 1%

Angka 100 menunjukkan kandungan karbon 100/100 = 1,00 %

Deutsches Institut fur Normung (DIN)

Deutsches Institut fur Normung (DIN) adalah organisasi standardisasi nasional Jerman. DIN terdaftar pada Registered German Asosiation (RGA) yang berpusat di Berlin.

Contoh Standarisasi Jerman DIN pada Baja

Pada standarisasi Jerman  (DIN), baja kontruksi  dinyatakan dengan huruf St kemudian diikuti dengan angka yang menunjukkan kekuatan tarik minimum dari bajanya.

Misalnya:
Kode St 37 adalah baja berkekuatan tarik paling tidak 370 N/mm

Kode St 50 adalah baja berkekuatan tarik paling tidak 500 N/mm

Kode C 15 adalah baja berkadar karbon15/100 % = (0,015 %) tidak mampu keras

Kode C 10 adalah baja berkadar karbon 10/100% (0,10 %)   tidak mampu keras

Baja Karbon Rendah Spesifikasi Standar JIS Japan Industrial Standard 

Japan Industrial Standard (JIS) merupakan organisasi standar yang dibentuk oleh Pemerintah Jepang yang banyak bergerak di bidang perindustrian. Standardisasi yang disusun JIS diawasi oleh Japan Industrial Standard Comitte (JISC) dan hasilnya dipublikasikan oleh Japan Standard Asosiation (JSA).

Pengertian Baja Karbon Rendah. Berdasarkan kandungan karbonnya, baja karbon rendah memiliki kadar karbon antara 0,1 persen sampai dengan 0,3 %. Dengan kandungan karbon yang rendah ini menyebabkan Struktur yang dimiliki oleh baja karbon rendah didominasi oleh struktur ferit dan diikuti oleh sedikit perlit.

Kandugan karbon rendah juga menyebabkan sifat mekanik yang dimiliki oleh bajanya menjadi sangat terbatas. Sehingga aplikasi atau pemakaian menjadi terbatas juga.

Struktur Mikro Baja Karbon Rendah

Perbedaan mikro struktur baja karbon rendah dari baja yang memiliki karbon lebih tinggi dapat dilihat pada gambar.

Struktur Mikro Baja Karbon Rendah, Sedang, dan Tinggi
Struktur Mikro Baja Karbon Rendah, Sedang, dan Tinggi

Fasa Baja Karbon Rendah

Struktur baja terdiri dari ferit dan pearlit dengan perbandingannya tergantung pada kandungan karbonnya. Semakin tinggi karbon semakin banyak perlitnya.

Struktur mikro hasil pengamatan metalografi dengan mikroskop optic pada pembesaran 100x dengan jelas menunjukkan perbedaan dari baja karbon rendah dengan baja karbon medium dan tinggi.

Yang paling tampak bedanya adalah jumlah dari struktur pelit (struktur dengan warna gelap). Stuktur perlit merupakan struktur yang terdiri dari fasa ferit dan carbide dalam satu butiran.

Jenis Baja Karbon Kendah

Pada tabel di bawah dapat dilihat komposisi baja karbon rendah berdasarkan standard dari Japan Industrial Standard, JIS G 3055 SWRM. Dari tabel tersebut terlihat bahwa JIS, Japanase Industrial Standard hanya memberikan batasan pada unsur Karbon, Mangan, Silikon, Alumunium, Phosfor dan Sulfur.

Spesifikasi Baja Karbon Rendah Menurut standar dari JIS

Spesifikasi atau batasan dari tiap kelasnya hanya ditentukan oleh unsur karbon. Unsur lainnya seperti Mangan, Silikon, Alumunium, Phosfor dan Sulfur tetap sama.

Komposisi Kimia Baja Karbon Rendah Standar JIS

Komposisi kimia untuk beberapa jenis spesifikasi baja karbon yang dapat dikatagorikan sebagai baja karbon rendah dapat dilihat pada tabel.

Komposisi Kimia Baja Karbon Rendah
Komposisi Kimia Baja Karbon Rendah

Sifat Mekanik Baja Karbon Rendah

Pada tabel komposisi kimia diketahui bahwa perbedaan dari jenis baja karbon rendah ini adalah pada rentang atau batasan kandugan karbonnya.

Sedangkan Unsur unsur yang lain memiliki rentang yang sama, sehingga sifat atau karakteristik dari baja karbon rendah ini hanya tergatung pada kandungan karbonnya.

Sifat mekanik baja karbon rendah umumnya diwakili oleh kuat tarik dan elongasi atau perpanjangan. Tabel di bawah menunjukkan karakter mekanik baja karbon rendah. Secara umum dapat dikatakan, bahwa kuat tarik semakin tinggi dengan tingginya kandungan karbon.

Elongasi baja ini cenderung menurun ketika kandungan karbonnya semakin tinggi. Pada baja karbon rendah ini menunjukkan pengaruh karbon terhadap kuat tarik dan elongasi yang saling berlawanan.

SpekKuat TarikPerpanjangan
N/mm2% Min
SWRM 100844025
SWRM 101046023
SWRM 101251022
SWRM 101552021
SWRM 101856020

Contoh Penggunaan Baja Karbon Rendah

Baja karbon rendah ini umumnya digunakan untuk aplikasi general yang tidak memiliki persyaratan khusus. Seperti untuk wire mesh, kawat ikat, kawat pagar berduri, kawat rivet, kawat binding dan lainnya.

American Society Testing and Material (ASTM)

ASTM International standar yang dikenal sebagai American Society for Testing and Materials, adalah organisasi standar internasional yang mengembangkan dan menerbitkan standar teknis untuk berbagai bahan, produk, sistem, dan layanan.

Standar ASTM juga telah banyak digunakan oleh negara-negara berkembang maupun maju untuk keperluan penelitian akademis maupun industri.

Diagram Continuous Cooling Transformation, CCT Diagram

Pengertian Diagram Continuous  Cooling  Transformation , atau biasa disebut CCT Diagram, merupakan diagram yang menggambarkan hubungan antara laju pendinginan ko...

Diagram Fasa Sistem Besi - Besi Karbida, Contoh Soal Perhitungan Fraksi Fasa

Diagram Fasa Sistem Besi - Besi Karbida.  Diagram kesetimbangan besi-besi karbida dapat dijadikan sebagai dasar untuk mempelajari paduan besi baja. Diagram ...

Diagram CCT Tempartur Pembentukan Struktur Upper Lower Bainite Temperatur

Pengertian Struktur Bainit.  Bainit adalah struktur antara yang terbentuk pada temperatur di atas temperatur awal martensit namun di bawah temperatur...

Mekanisme Pembentukan Struktur Pearlite, Contoh Soal Perhitungan Reaksi Eutectoid

Reaksi Eutectoid Pada Diagram Fasa Besi – Besi Karbida Reaksi eutectoid adalah reaksi dekomposisi larutan padat intertisi austenite yang mengandung k...

Struktur Kristal Austenit, Ferit, Lath Plate Martensit, Pengaruh Karbon Kekerasan

Struktur Kristal Face Centered Cubic FCC Besi Baja Austenit, Austenit mempunyai struktur sel FCC, face centered cubic, atau kubik pusat sisi, kps. Pada...

Jenis Baja Tahan Karat, Stainless Steel, Tipe,Klasifikasi

Pengertian Baja Tahan Karat.  Baja tahan karat merupakan kelompok dari baja paduan yang mempunyai sifat atau karakterisasi khusus. Ciri umum dari baja ...

Tipe Jenis Baja Tahan Karat Duplex

Pengertian/ Definisi Baja Tahan Karat Duplex.  Baja tahan karat duplex merupakan baja tahan karat dengan dua fasa. Baja ini mempunyai struktur austenit ...

Karakteristik Sifat Material Bahan Logam

Pengertian Sifat Material Bahan logam. Secara umum sifat atau karakteristik bahan atau material dapat dikelompokkan menjadi empat, yaitu: Sifat Mekanik,...

Kurva Tegangan Regangan Rekayasa, Nominal Logam.

Pengertian Tegangan Rekayasa/Nominal/Tekink.  Sifat-sifat mekanik bahan atau logam yang dikuantifikasikan dengan kuat tarik, kuat luluh, perpanjangan...

Kurva Tegangan Regangan Sejati, Sebenarnya

Kurva regangan regangan sejati atau biasa juga disebut kurva tegangan regangan sebenarnya dapat dihitung dengan menggunakan data dari kurva tegangan regangan...

Menentukan Kuat Tarik Luluh Elongasi Nominal Sebenarnya Pengertian Contoh Soal Perhitungan,

Pengertian Definisi Sifat Mekanik Bahan Logam.  Pengujian bahan atau logam bertujuan untuk mendapatkan atau mengetahui beberapa sifat bahan logam dengan ...

Pengertian-Menentukan Kekuatan Tarik Bahan Logam, Tensile Strength

Kekuatan tarik yang dimiliki bahan logam akan menunjukkan kemampuan bahan dalam menahan gaya tarik sebelum mengalami perubahan penampang atau penciutan....

Pengertian-Menentukan Keuletan Bahan Logam, Ductility

Keuletan bahan logam adalah sifat yang menunjukkan kemampuan bahan logam untuk bertambah panjang ketika diberi beban atau gaya tarik.  Besaran ini...

Pengertian, Perhitungan Modulus Elastisitas, Modulus Young

Pengertian Modulus Young.  Gradien dari bagian linear pada awal kurva tegangan-regangan merupakan modulus elastisitas, atau biasa disebut modulus Young. ...

Pengujian Sifat Mekanik Bahan Logam

Pengertian Definisi Sifat Mekanik Bahan Logam.  Pengujian bahan atau logam bertujuan untuk mendapatkan atau mengetahui beberapa sifat bahan logam...

Prinsip Kerja Uji Kekerasan Brinell Vickers Rockwell, Pengertian Rumus Contoh Soal Perhitungan

Pengertian Kekerasan Bahan Logam.  Kekerasan adalah ketahanan bahan atau logam terhadap deformasi yaitu deformasi tekan atau indentasi. Pada umumnya pengujian ...

Sifat Mampu Bentuk Bahan Logam, Formability

Pengertian Formability.  Sifat mampu bentuk atau formability merupakan sifat yang dimiliki oleh bahan atau logam yang menunjukkan kemampuan untuk...

Sifat Mampu Cor Bahan Logam, Castability

Pengertian Dan Istilah Castability.  Sifat mampu cor atau castability adalah sifat yang dimiliki oleh bahan yang menunjukkan kemampuan bahan logam untuk ...

Sifat Mampu Mesin Bahan Logam, Machinability

Pengertian Sifat Mampu Mesin. Sifat mampu mesin adalah sifat yang dimiliki oleh bahan logam yang menunjukkan kemampuan untuk dibentuk dengan proses pemesinan....

Klasifikasi Baja Perkakas, Tool Steel

Pengertian Tool Steel Baja Perkakas.  Baja perkakas adalah baja khusus atau spesial atau special steel yang memiliki mutu tinggi dan digunakan sebagai ...

Daftar Pustaka:

  1. Dieter, G.E., 1986,”Mechanical Metallurgy”, Mc. Graw-Hill, New Jerse.
  2. Hutchinson, W.B., 1984, “International Metal Riviews”, vol 29, No. 1.
  3. Hobbs,R.M., 1974,”BPH Technical Bulletin”, Broken-Hill Proprietary Co., Ltd., Vol. 18.N0.2.
  4. Ardra.biz, 2019, “Pengertian Baja Karbon Rendah dengan Rasio perbandingan fasa ferit dan pearlit baja karbon rendah. Struktur Mikro Baja Karbon Rendah dan Fasa Baja Karbon Rendah.
  5. Ardra.biz, 2019, “Contoh Struktir Mikro Metalografi Baja Karbon dan  Jenis Baja Karbon Kendah berdasar Standard JIS G 3055 SWRM. Spesifikasi Baja Karbon Rendah Standar JIS serta Komposisi Kimia Baja Karbon Rendah.
  6. Ardra.biz, 2019, “Kandungan Baja Karbon Rendah dan Sifat Mekanik Baja Karbon Rendah. Kuat Tarik baja karbon rendah,. Kekerasan baja karbon rendah, penggunaan baja karbon rendah. Aplikasi Baja Karbon Rendah dengan Standar komposisi baja karbon rendah serta Contoh Penggunaan Baja Karbon Rendah.