Fungsi, Manfaat Mineral Zat Besi Bagi Kesehatan Tubuh

Pengertian Zat Besi

Zat besi, Fe merupakan salah satu mikro elemen yang esensial bagi tubuh. Artinya, betul-betul harus ada di dalam tubuh dalam jumlah tertentu. Zat besi diperlukan dalam hemopobesis atau pembentukan darah yaitu pada sintesa hemoglobin (Hb). Zat besi juga diperlukan sebagai penggiat untuk berbagai jenis enzim.

Fungsi Zat Besi Pada Kesehatan Tubuh

Di dalam tubuh, zat besi berbentuk Ferro atau Ferri yang terkonjugasi dengan protein. Bentuk aktif zat besi biasanya terdapat sebagai Ferro, sedangkan bentuk inaktifnya sebagai Ferri dalam bentuk storage. Dengan demikian fungsi zat besi sangat erat dengan fungsi dari bentuk konjugasinya seperti Hemoglobin, Mypglobin, Transferrin, Ferrin, dan Hemosiderin.

Bentuk-Bentuk Konjugasi Zat Besi

Hemoglobin mengandung zat besi dalam bentuk Ferro. Fungsi hemoglobin adalah mentranspor gas CO2 dari jaringan ke paru-paru untuk diekskresikan ke udara pernapasan dan membawa oksigen dari paru-paru ke sel-sel jaringan. Hemoglobin ini terdapat di dalam erytrocyt.

Myoglobin mengandung zat besi dalam bentuk Ferro. Myoglobin terdapat di dalam sel-sel otot. Fungsi myoglobin terkait dengan proses kontraksi otot.

Transferrin mengandung zat besi dalam bentuk Ferro. Transferrin merupakan konjugat zat besi yang berfungsi mentranspor zat besi tersebut di dalam plasma darah. Transpor dari tempat penimbunan Fe ke jaringan-jaringan sel yang memerlukan seperti sumsum tulang yang terdapat jaringan hemopoietik.

Ferritin mengandung zat besi dalam bentuk Ferri dan merupakan bentuk storage zat besi.  ketika Fe ferritin diberikan kepada transferrin untuk ditranspor, zat besinya diubah dari bentuk Ferri menjadi Ferro. Sebaliknya, Fe dari transferrin yang berasal dari penyerapan di dalam usus, diberikan kepada ferritin sambil diubah bentuknya dari Ferro menjdai Ferri untuk ditimbun.

Hemosiderin adalah  konjugat protein dengan Ferri dan merupakan bentuk storage zat besi. hemosiderin memiliki sifat yang lebih inert dibanding dengan Ferritin. Untuk dapat menggunakannya, zat besi dari hemosiderin diberikan dahulu kepada Ferrritin dan kemudian ditranspor ke Transferrin.

Zat besi lebih mudah diserap dari usus halus dalam bentuk Ferro. Penyerapan ini melalui mekaisme autoregulasi yang diatur oleh kadar Ferrtin yang terdapat dalam sel-sel mukosa usus. Dalam kondisi yang normal atau baik, mukosa usus hanya menyerap sekitar 10 persen dari zat besi yang terdapat dalam makanan. Dalam kondisi defisiensi, mukosa akan menyerap zat besi dari makanan lebih banyak agar kekurangannya terpenuhi.

Tubuh mengekskresikan zat besi melalui kulit di bagian-bagian tubuh yang aus dan dilepaskan oleh permukaan tubuh. Jumlah yang diekskresikan ini relatif kecil, hanya sekitar 1 miligram dalam 24 jam.

Wanita subur mengeluarkan zat besi lebih banyak ketika menstruasi, sehingga memerlukan zat besi yang lebih banyak daripada laki-laki. Wanita yang sedang hamil atau menyusui memerlukan zat besi lebih banyak dibanding wanita biasa. Bayi dalam kandungan membutuhkan zat besi dalam pertumbuhannya, sedangkan air susu ibu, ASI mengadung Fe yang dibutuhkan oleh bayi setelah lahir dalam bentuk lactotransferrin.

Bayi yang baru lahir haya dibekali zat besi oleh ibunya dalam jumlah yang sangat terbatas, sehingga makananya harus diberi suplemen yang mengandung zat besi, seperti sari buah sejak bulan kesatu atau kedua.

Pil KB, keluarga berencana berpengaruh terhadap peningkatan pembuangan/pengeluaran zat besi dari tubuh wanita. Sehingga untuk menggantikan zat besi yang terbuang harus menambah suplemen zat besi atau membeli pil KB yang mengandung zat besi dalam pil KB.

Bahan Makan Sumber Zat Besi

Secara alamiah, zat besi dapat diperoleh dari berbagai bahan makanan yang dikonsumsi setiap hari. Zat Besi banyak terkandung dalam bahan makanan hewani seperti daging, telur dan ikan. Selain itu, Zat besi juga terkandung di dalam bahan makanan nabati seperti kacang-kacangan yaitu kacang kedelai dan kacang hijau, berbagai jenis sayuran berwarna hijau tua dan buah-buahan.

Tubuh dapat menyerap zat besi dari bahan makanan hewani antara 10 sampai 20 persen sedangkan dari bahan nabati sekitar 1 sampai 2 persen.

Kekurangan zat besi dapat menimbulkan penyakit anemia atau yang biasa dikenal di masyarakat sebagai penyakit kurang darah