Tipe Lembaga Sosial

Pengertian Lembaga Sosial. Lembaga sosial disebut juga sebagai pranata sosial atau institusi sosial. Lembaga sosial adalah seperangkat aturan tentang suatu kegiatan atau kebutuhan sosial tertentu. beragam kegiatan atau kebutuhan sosial menyebabkan timbulnya berbagai pranata di banyak bidang kehidupan.

Lembaga sosial merupakan suatu sistem nilai dan system norma yang secara khusus menata serangkaian pola perilaku untuk memenuhi kebutuhan manusia dalam kehidupan bersama.

Lembaga sosial mencakup cara- cara pemenuhan kebutuhan manusia dalam masyarakat yang diatur sedemikian rupa sesuai dengan orientasi nilai budaya, sehingga berlangsung secara tertib dan teratur.

Agar dapat mengetahui dan memahami berbagai macam tipe dari lembaga sosial, maka dapat dipelajari Batasan batasan yang mengacu pada teori J.L.Gillin dan J.P.Gillin yang mengelompokkannya ke dalam beberapa tipe seperti yang akan dijelaskan berikut.

Tipe- tipe lembaga sosial, dapat diklasifikasikan menjadi beberapa jenis berdasarkan pada macam sudut pandang. Klasifikasi tipe- tipe lembaga sosial menyebabkan dalam setiap masyarakat akan dapat dijumpai bermacam- macam Lembaga sosial.

Hal ini dikarenakan setiap kelompok masyarakat memiliki sistem nilai yang menentukan lembaga sosial manakah yang dapat dipakai atau berlaku sebagai patokan dalam pergaulan kehidupan bermasyarakat. Dalam hal ini lembaga sosial dianggap berada di atas lembaga-lembaga sosial lainnya.

Tipe Lembagan Berdasarkan Fungsinya

Lembaga sosial mempunyai fungsi peran nyata dalam kehidupan bermasyarakat. Fungsi peran Lembaga sosial yang dapat diterapkan sebagai berikut:

  1. Operatif Institutions adalah lembaga sosial yang memiliki fungsi peran dalam menghimpun pola- pola atau tata cara yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan telah ditetapkan masyarakat yang bersangkutan. Misalnya lembaga industry, perusahaan, perseroan, klub olah raga, dan lain – lain.
  2. Regulative Institusions adalah lembaga sosial yang mempunyai tujuan untuk monitoring tata kelakuan yang berada dalam masyarakat. Contohnya, lembaga hukum seperti kejaksaan, pengadilan, perundangan – undangan, dan lain-lain. Jumlah lembaga yang ada dalam masyarakat sangat dipengaruhi oleh keadaan dari masyarakat itu sendiri.

Makin besar dan kompleks suatu masyarakat, maka semakin berkembang atau bertambah pula jumlah lembaga yang terdapat di dalamnya.

Adapun pembagian Lembaga sosial berdasarkan fungsi regulative adalah sebagai berikut.

  1. Lembaga yang memiliki peran dalam memenuhi keperluan kekerabatan (atau domestic institutions). Contohnya adalah perkawinan, tolong menolong, pengasuhan anak -anak, sopan- santun antar kerabat.
  2. Lembaga yang memiliki fungsi dalam memenuhi keperluan dalam mata pencarian hidup (atau economic institutions). Contohnya pertanian, perdagangan, perbankan.
  3. Lembaga yang memiliki fungsi dalam memenuhi keperluan penerangan dan Pendidikan manusia (atau educational institutions).
  4. Lembaga yang memiliki fungsi dalam memenuhi keperluan ilmiah manusia (atau scientific institutions), Contohnya adalah penelitian, pendidikan ilmiah, dan sebagainya.
  5. Lembaga yang mempunyai fungsi dalam memenuhi keperluan manusia untuk menyatakan rasa keindahannya (atau aesthetic and recreational institutions). Contohnya seperti seni rupa, seni suara, olah raga.
  6. Lembaga yang mempunyai peran dalam memenuhi keperluan manusia untuk hubungan dan berbakti kepada Tuhan (atau religious institutions).
  7. Lembaga yang memiliki peran dalam memenuhi keperluan mengatur dan memelihara wewenag dan kekuasaan (atau political institutions).
  8. Lembaga yang memiliki fungsi dalam memenuhi keperluan fisik dan kenyamanan hidup manusia (atau somestic institutions). Misalnya pemeliharaan kecantikan, kesehatan.

Lembaga Sosial Berdasarkan Sistem Nilai dan Norma

  1. Basic Institutions merupakan lembaga sosial yang berperan dalam memelihara dan mempertahankan tata tertib kehidupan Contoh dari Lembaga sosial ini adalah, keluarga. sekolah, kepolisian, peradilan, pemerintahan, dan lain sebagainya.
  2. Subsidiary Institutions merupakan lembaga sosial yang berhubungan dengan masalah- masalah sekunder (atau kurang penting atau bukan utama). Contoh dari Lembaga sosial ini adalah, kesenian, rekreasi, klub olah raga, paguyuban, patembayan dan lain sebagiya.

Lembaga Sosial Berdasarkan pada Penerimaan Masyarakat

  1. Aproved Institutions atau biasa disebut juga sanctioned institutions, merupakan lembaga sosial yang diterima keberadaannya oleh masyarakat. Lembaga sosial ini bahkan sangat diperlukan dalam menunjang kehidupan masyarakat. Contoh Lembaga sosial ini adalah, lembaga pendidikan seperti sekolah, lembaga agama, dan lain sebagainya.
  2. Unsactioned Institutions merupakan lembaga sosial yang ditolak keberadaannya oleh masyarakat. Lembaga sosial ini terkadang sulit untuk ditiadakan ataupun diberantas. Contoh Lembaga sosial ini Misalnya, kelompok preman, penodong, komplotan mafia peradilan, kelompok penjahat, geng- geng yang suka membuat keonaran,dan lain sebagainya.

Lembaga Sosial Berdasarkan Penyebaran

  1. General Institutions, merupakan lembaga sosial yang bersifat universal. Lembaga sosial ini dikenal secara luas oleh masyarakat, baik dalam skala nasional maupun internasional. Contoh dari Lembaga sosial ini adalah, lembaga agama, badan olah raga, dan lain sebagainya.
  2. Restricted Institutions, merupakan lembaga sosial yang hanya dikenal oleh sekelompok masyarakat tertentu saja. Lembaga sosial yang secara khusus dibentuk oleh kelompok masyarakat dengan tujuan tertentu. Contoh dari Lembaga sosial ini adalah, sekte dan sistem kepercayaan tertentu, perkumpulan kesenian daerah, aliranaliran kepercayaan, dan lain sebagainya.

Lembaga Sosial Berdasarkan Perkembangan

  1. Cresive Institutions, merupakan lembaga sosial yang keberadaannya tidak disengaja tumbuh dari adat- istiadat masyarakat. Lembaga sosial ini merupakan lembaga yang paling primer. Contoh Lembaga sosial ini adalah, Lembaga perkawinan dan kepemilikan atau hak milik dan lain sebagainya.
  2. Enacted Institutions, merupakan lembaga sosial yang dibentuk dengan sengaja dalam rangka mencapai tujuan tertentu dalam masyarakat. Contoh dari Lembaga sosial ini adalah, lembaga peradilan, lembaga perbankan, lembaga pendidikan, lembaga kemiliteran, dan lain sebagainya.

 

Daftar Pustaka:

  1. Bouman, PJ., 1980, “Ilmu Masyarakat Umum”, Penerbit PT Pembangunan, Jakarta.
  2. Bouman, P.J., 1982, “Sosiologi Fundamental”, Terjemahan Ratmoko, Penerbit Djambatan,
  3. Kamanto, Sunarto., 1990, “Pengantar Sosiologi”, Penerbit LPFE Universitas Indonesia, Jakarta.
  4. Horton, Paul B. dan Hunt, Chester L., 1999, “Sosiologi”, Jilid 1, Edisi Keenam, Penerbit Erlangga, Jakarta.
  5. Horton, Paul B. dan Hunt, Chester L., 1999,” Sosiologi”, Jilid 2., Edisi Keenam, Penerbit Erlangga, Jakarta.
  6. Johnson, Doyle Paul., 1994, “Teori Sosiologi: Klasik dan Modern “, Penerbit Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.
  7. Ardra.Biz, 2019, “Tipe Lembaga Sosial, Contoh Lembaga Sosial, Lembaga sistem nilai dan system norma, Tipe Lembaga Berdasarkan Fungsinya, Operatif Institutions, Contoh Operatif Institutions, Regulative Institusions, Contoh Lembaga sosial Regulative Institusions,
  8. Ardra.Biz, 2019, 2019, “domestic institutions, Contoh domestic institutions, economic institutions, Contoh Lembaga economic institutions, educational institutions, Contoh Lembaga educational institutions, scientific institutions, contoh lembaga scientific institutions,
  9. Ardra.Biz, 2019, “aesthetic and recreational institutions, contoh aesthetic and recreational institutions, religious institutions, contoh religious institutions, political institutions, contoh political institutions, somestic institutions, contoh somestic institutions,
  10. Ardra,Biz, 2019, “Lembaga Sosial Berdasarkan Sistem Nilai dan Norma, Contoh Lembaga Sosial Berdasarkan Sistem Nilai dan Norma, Basic Institutions, contoh Lembaga Basic Institutions, Subsidiary Institutions, contoh Subsidiary Institutions, Lembaga Sosial Berdasarkan pada Penerimaan Masyarakat,
  11. Ardra,Biz, 2019, “Contoh Lembaga Sosial Berdasarkan pada Penerimaan Masyarakat, Aproved Institutions, contoh  Aproved Institutions, Unsactioned Institutions, contoh Unsactioned Institutions, Lembaga Sosial Berdasarkan Penyebaran, contoh Lembaga Sosial Berdasarkan Penyebaran,
  12. Ardra.Biz, 2019, “General Institutions, Contoh General Institutions, Restricted Institutions, Contoh Restricted Institutions, Lembaga Sosial Berdasarkan Perkembangan, Contoh Lembaga Sosial Berdasarkan Perkembangan, Cresive Institutions, Contoh Cresive Institutions, Enacted Institutions, Contoh Enacted Institutions, Contoh soal ujian Lembaga sosial,

Tujuan dan Ciri Lembaga Sosial

Pengertian Lembaga Sosial. Lembaga sosial disebut juga sebagai pranata sosial atau institusi sosial. Lembaga sosial adalah seperangkat aturan tentang suatu kegiatan atau kebutuhan sosial tertentu. beragam kegiatan atau kebutuhan sosial menyebabkan timbulnya berbagai pranata di banyak bidang kehidupan.

Beberapa Definisi lembaga sosial yang terdapat dalam ilmu sosiologi adalah sebagai berikut.

Lembaga sosial merupakan suatu sistem norma khusus yang menata serangkaian tindakan yang berpola untuk keperluan khusus manusia dalam kehidupan bermasyarakat.

Lembaga sosial adalah merupakan prosedur atau tata cara yang diciptakan untuk mengatur hubungan antar manusia yang bergabung dalam suatu kelompok masyarakat yang disebut asosiasi (oleh Robert Mac Iver dan C.H. Page).

Lembaga sosial merupakan suatu sistem yang mengatur hubungan sosial yang mengandung nilai- nilai dan prosedur tertentu dalam upaya memenuhi kebutuhan pokok masyarakat (oleh Harton).

Lembaga sosial merupkan suatu jaringan proses hubungan antar manusia dan antar kelompok sosial yang berperan sebagai pemelihara hubungan serta polanya sesuai dengan minat dan kepentingan manusia dalam kelompoknya (oleh Liopold Von Wilse dan Becher).

Ciri ciri Lembaga Sosial

Lembaga social secara khusus memiliki ciri ciri tersendiri dalam kehidupan masyarakat. Adapun Ciri ciri khusus yang melekat pada Lembaga sosial adalah sebagai berikut.

  1. Lembaga sosial merupakan suatu organisasi yang di dalamnya terdapat pola pemikiran dan pola perilaku yang terwujud dalam aktivitas hidup masyarakat yang berupa adat istiadat, tertib perilaku, kebiasaan, serta unsur-unsur kebudayaan yang secara langsung atau tidak langsung tergabung dalam suatu unit yang bersifat fungsional.
  2. Lembaga sosial merupakan organisasi yang bersifat tetap. Sifat tetap yang ada pada lembaga sosial lebih disebabkan oleh adanya kebutuhan-kebutuhan setiap orang dalam lembaga sosial yang bersangkutan juga bersifat relatif tetap.
  3. Terdapat kebiasaan-kebiasaan atau tradisi, baik yang tertulis maupun tidak tertulis, yang merupakan landasan bagi suatu lembaga sosial dalam upaya mencapai tujuan sekaligus menjalankan fungsinya.
  4. Keberadaan lembaga sosial berkaitan dengan kebutuhan utama manusia dalam kehidupan bermasyarakat. Adapun kebutuhan utama yang dimaksudkan dalam hal ini berkaitan dengan kebutuhan material, spiritual, sosial, ekonomi, dan lain sebagainya.
  5. Lembaga sosial mempunyai alat perlengkapan yang digunakan untuk mencapai tujuannya, misalnya pembangunan, mesin- mesin, dan peralatan lain. Penggunaan tiap- tiap alat tersebut berbeda antara masyarakat yang satu dengan lainnya.
  6. Tingkat kekekalan merupakan ciri semua pranata sosial. Sistem kepercayaan dan aneka macam tindakan menjadi bagian institusi setelah melalui waktu relatif lama. Lembaga sosial sebagai himpunan norma- norma yang terkait dengan kebutuhan pokok masyarakat.
  7. Lembaga sosial mempunyai berbagai tujuan tertentu. Tujuan – tujuan terebut tidak selalu sejalan dengan fungsi pranata itu sendiri.
  8. Lambang merupakan ciri khas dari pranata sosial. Lambang secara simbolis merepresentasikan misi, visi, tujuan dan fungsi pranata sosial.

Tujuan Lembaga Sosial

Lembaga sosial mempunyai beberapa tujuan agar dapat memenuhi kebutuhan kebutuhan pokok manusia. Adapun tujuan tujuan dari Lembaga social diantaranya adalah

  1. Memberikan pedoman atau landasan kepada anggota masyarakat tentang bertingkah laku atau bersikap dalam menghadapi masalah- masalah yang timbul dalam masyarakat, terutama yang menyangkut kebutuhan manusia.
  2. Menjaga atau mengamankan semua kebutuhan masyarakat.
  3. Memberikan pegangan atau patokan untuk masyarakat dalam mengadakan system pengendalian sosial terhadap tingkah laku anggota masyarakatnya.

Fungsi Lembaga Sosial.

Lembaga social memiliki beberpa fungsi dalam kehidupan masyarakat dalam melaksanakan kegiatannya, Adapun beberapa fungsi dari lembaga sosial antara lain adalah sebagai berikut:

  1. Lembaga sosial berperan dalam memberi arahan dan pedoman kepada warga masyarakat untuk dapat menyelaraskan diri dengan norma yang berlaku dalam masyarakat dalam mencapai atau memenuhi kebutuhan pokoknya.
  2. Memberikan pedoman kepada seluruh anggota masyarakat dalam berpikir, bersikap, dan berperilaku dalam menjalani kehidupan sehari-hari mereka,
  3. Lembaga sosial berfungsi sebagai stabilisator dan dinamisator dalam kehidupan bermasyarakat, dalam rangka untuk mengembangkan kualitas proses sosial.
  4. Memberikan patokan kepada seluruh anggota masyarakat dalam melaksanakan pengendalian sosial (Social control) dalam perilaku sehari-harinya
  5. Menjaga keutuhan dan keterpaduan sistem dalam kehidupan sosial pada masyarakat yang bersangkutan.

Contoh Soal Ujian Lembaga Sosial 1.

Di bawah ini yang dapat artikan sebagai pengertian lembaga sosial adalah ….

  1. lembaga sosial adalah cara bertindak yang mengikat dalam masyarakat
  2. lembaga sosial merupakan organisasi kemasyarakatan yang sistematis
  3. lembaga sosial adalah badan pendidikan yang bersifat formal
  4. lembaga sosial adalah norma-norma yang berlaku dalam masyarakat
  5. lembaga sosial merupakan perwujudan dari badan sosial

Contoh Soal Ujian Lembaga Sosial 2.

Lembaga sosial adalah sistem sosial yang tersusun secara rapi dan bersifat permanen, memuat perilaku tertentu yang kokoh dan terpadu dalam rangka memenuhi kebutuhan pokok manusia dalam kehidupannya. Pengertian lembaga sosial ini merupakan pendapat dari ….

  1. August Comte
  2. Bruce J. Cohen
  3. Soelaeman Soemardi
  4. P.B. Horton
  5. Soerjono Soekanto

Contoh Soal Ujian Lembaga Sosial 3.

Di bawah ini adalah contoh dari lembaga sosial, kecuali ….

  1. Lembaga Penelitian
  2. Pendidikan Agama
  3. Pendidikan Teknologi
  4. Pusat Studi Amerika
  5. Universitas Cenderawasih

Daftar Pustaka:

  1. Bouman, P.J. 1982, “Sosiologi Fundamental”, Terjemahan Ratmoko, Penerbit Djambatan,
  2. Kamanto, Sunarto., 1990, “ Pengantar Sosiologi”, Penerbit LPFE Universitas Indonesia, Jakarta.
  3. Horton, Paul B. dan Hunt, Chester L., 1999, “Sosiolog”,i Jilid 1, Edisi Keenam, Penerbit Erlangga, Jakarta.
  4. Horton, Paul B. dan Hunt, Chester L., 1999, ” Sosiologi”, Jilid 2., Edisi Keenam, Penerbit Erlangga, Jakarta.
  5. Johnson, Doyle Paul., 1994, “ Teori Sosiologi: Klasik dan Modern “, Penerbit Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.
  6. Biz, 2019, “Tujuan Lembaga Sosial, Ciri Lembaga Sosial, Fungsi Lembaga Sosial, Pengertian Lembaga Sosial, pranata sosial atau institusi social, Lembaga social dalam ilmu sosiologi, sistem norma khusus, sistem hubungan social, Ciri material Sosial,
  7. Biz, 2019, “Ciri Spiritual Sosial, ciri khas dari pranata sosial, misi visi pranata sosial, pedoman dan landasan sosial, Fungsi Fundamental Lembaga Masyarakat, Fungsi pemberi pedoman Lembaga social, Fungsi stabilisator dan dinamisator Lembaga social, Fungsi kontrol atau social control Lembaga social, Fungsi menjaga keutuhan persatuan masyarakat Lembaga social,

Mobilitas Sosial Vertikal, Pengertian

Pengertian Mobilitas Sosial Vertikal

Mobilitas social selalu terjadi dalam kehidupan masyarakat. Terjadinya fenomena  mobilitas sosial didorong oleh beberapa faktor, seperti perbedaan status ekonomi, perbedaan status sosial, masalah kependudukan, ambisi pribadi, situasi politik yang selalu berubah, dan motif  bersifat keagamaan.

Mobilitas vertikal merupakan perpindahan status atau strata atau jenjang atau tingkatan atau kelas social yang disandang individu atau sekelompok warga masyarakat pada lapisan sosial yang berbeda. Ada perpindahan atau perubahan status sosial atau kedudukan sosial dari yang lebih rendah menuju status sosial atau kedudukan sosial yang lebih tinggi atau sebaliknya.

Mobilitas vertikal dapat dibedakan menjadi dua jenis, yaitu mobilitas vertikal intragenerasi dan mobilitas vertikal antargenerasi.

Mobilitas Sosial Vertikal Intragenerasi.

Mobilitas sosial vertikal intragenerasi adalah mobilitas social yang terjadi pada individu atau seseorang atau anggota masyarakat. Status sosial berpindah dari suatu status social tertentu ke status social lainnya. Perpindahan status ini, dapat menaik atau menurun.

Contoh Mobilitas Sosial Vertikal Intragenerasi.

Misalnya, seorang tentara atau militer mula-mula pangkatnya adalah sersan, kemudian naik menjadi letnan, dan seterusnya. Di sini terjadi perpindahan status atau jenjang atau tingkatan social individu yaitu seorang tentara. Mobiltas sosialnya dinyatakan dengan kepangkatan pada system tentara atau militer.

Mobilitas sosial intragenerasi dapat terjadi menaik maupun menurun. Contoh mobilitas sosial intragenerasi yang menurun adalah seorang tentara yang diturunkan pangkatnya karena pelanggaran disliplin. Semula pangkatnya letnan diturunkan menjadi seran. Dalam hal ini, mobilitas socialnya direpresentasikan oleh kepangkatan pada system militer.

Contoh lainnya, pegawai yang diturunkan jabatannya karena tidak mampu meningkatan keuntungan perusahaan dalam beberapa tahun. Semula jabatannya manager, kemudian diturunkan menjadi staf. Pada kasus ini, mobilitas socialnya direpresentasikan oleh jabatan yang dipegang pegawai.

Mobilitas sosial vertikal antargenerasi

Mobilitas sosial vertikal antargenerasi adalah mobilitas sosial yang tidak terjadi dalam satu orang atau individu, tetapi terjadi dalam duagenerasi. Kakek dengan orangtua, bapak atau ibu, orang tua dengan anak – anaknya. Dibandingkan dengan mobilitas horizontal, mobilitas vertikal lebih banyak memberikan dampak atau pengaruh terhadap masyarakat.

Contoh Mobilitas sosial vertikal antargenerasi

Misalnya, bapak atau orangtuanya dahulu berprofesi seorang dosen, sedangkan sekarang anaknya hanya lulus sekolah menengah atas saja. Hal itu menunjukkan mobilitas vertical yang menurun. Pada kasus ini terjadi perpindahan status atau strata antargererasi dari orang tua yang berprofesi dosen ke anaknya yang hanya lulusan sekolah menengah saja. Strata social direpresentasikan dengan prosfesi atau pekerjaan.

Contoh Soal Ujian Mobilitas Vertikal.

Keberhasilan seseorang di bidang pembibitan tanaman pangan mendapatkan penghargaan kalpataru dari pemerintah, ilustrasi ini menunjukkan cara memperoleh status tersebut melalui….

A..Lembaga ekonomi.    B..Pendidikan formal.   C. Prestasi kerja.   D. Struktur social.   E. Interaksi social.

Jawaban: C

Pembahasan:

Mobilitas vertical ke atas atau social Climbing adalah mobilitas yang terjadi karena adanya peningkatan status atau kedudukan seseorang. Social climbing memiliki dua bentuk yaitu:

Naiknnya orang- orang berstatus social rendah status social yang lebih tinggi karena adanya peningkatan prestasi kerja.

Terbentuknya suatu kelompok  baru yang lebih tinggi daripada lapisan social yang sudah ada akibat adanya proses peralihan generasi.

Ilustrasi pada soal adalah termasuk social climbing dengan cara memperoleh status akibat prestasi kerja.

Daftar Pustaka:

Unsur Kebudayaan Masyarakat Indonesia

Pengertian Kebudayaan. Kebudayaan berasal dari bahasa Sansekerta, yaitu buddhayah yang merupakan bentuk jamak dari kata buddhi yang artinya akal. Sehingga, kebudayaan dapat dipandang sebagai hal-hal yang berkaitan dengan akal.

Kebudayaan merupakan keseluruhan system gagasan, tindakan, dan hasil karya manusia dalam menjalani kehidupan bermasyarakat yang dijadikan milik diri manusia dengan cara belajar.

Kebudayaan yang dihasilkan oleh masyarakat bersifat universal, ini artinya masyarakat pada tingkatan atau strata apapun pasti mempunyai struktur budaya tertentu yang merupakan hasil dari pergaulan hidup dan sekaligus sebagai hasil dari proses pembelajaran.

Menurut Koentjaraningrat, kebudayaan terdiri dari tiga wujud yang merupakan satu kesatuan sistem, yakni cultural system, social system, dan artifacts.

Cultural System

Wujud kebudayaan merupakan suatu kompleks ide, gagasan, nilai, norma, peraturan dan sebagainya. Wujud yang pertama ini disebut juga dengan kebudayaan ideal karena merupakan wujud yang bersifat abstrak karena hanya terdapat di dalam kepala atau hanya dalam pikiran manusia. Wujud ini tidak dapat diamati dan tidak dapat diraba maupun dilukis.

Namun demikian, isi pikiran manusia dapat dituangkan atau diwujudkan dalam bentuk karangan atau tulisan atau buku atau hasil karya lainnya dan dapat disimpan di perpustakaan, disk, koleksi microfilm, dan sebagainya.

Pikiran manusia merupakan suatu sistem yang saling berhubungan satu sama lain, dan dikenal dengan istilah sistem budaya atau cultural system. Dalam bahasa Indonesia, istilah ini sesuai dengan istilah adat atau adat-istiadat.

Social System

Wujud kebudayaan merupakan suatu kompkleks aktivitas serta tindakan berpola dari manusia dalam masyarakat. Wujud yang kedua dikenal juga dengan istilah sistem sosial atau social system. Sistem social merupakan suatu tindakan berpola dari manusia itu sendiri.

Tindakannya terdiri dari aktivitas-aktivitas manusia dalam berinteraksi dan bergaul satu dengan lainnya. Kegiatannya  berlangsung dari waktu ke waktu. Sistem sosial ini bersifat nyata sehingga dapat dilihat, diamati dan dapat pula didokumentasikan.

Artifacts

Wujud kebudayaan merupakan produk yang berupa benda-benda hasil karya manusia. Wujud ketiga dari kebudayaan disebut juga dengan kebudayaan fisik (atau artifacts). Artifact menunjukkan seluruh hasil aktivitas, hasil perbuatan, dan hasil karya manusia dalam kehidupan bermasyarakat. Oleh karenanya, wujud yang ketiga ini merupakan wujud yang paling nyata yang dapat dilihat, diamati dan dapat pula diraba.

Dalam kehidupan bermasyarakat, ketiga wujud kebudayaan tersebut tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lainnya. Kebudayaan ideal dan adat istiadat mengatur dan sekaligus memberi pedoman untuk segala tindakan dan karya manusia. Selanjutnya, gagasan, tindakan, dan karya manusia tersebut akan menghasilkan produk yang berupa benda-benda berbentuk fisik dari kebudayaan itu sendiri.

Sebaliknya, kebudayaan fisik yang telah diciptakan atau dihasilkan akan membentuk lingkungan hidup tersendiri yang mampu mempengaruhi pola berpikir dan pola perilaku masyarakat yang berada di lingkungan sekitarnya.

Contoh Soal Ujian Wujud Wujud Kebudayaan Indonesia

Daftar Pustaka;

  1. Horton, Paul B. dan Hunt, Chester L., 1999, “Sosiologi”, Jilid 1, Edisi Keenam, Penerbit Erlangga, Jakarta.
  2. Horton, Paul B. dan Hunt, Chester L., 1999,” Sosiologi”, Jilid 2., Edisi Keenam, Penerbit Erlangga, Jakarta.
  3. Johnson, Doyle Paul., 1994, “Teori Sosiologi: Klasik dan Modern “, Penerbit Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.
  4. Bouman, PJ., 1980, “Ilmu Masyarakat Umum”, Penerbit PT Pembangunan, Jakarta.
  5. Bouman, P.J., 1982, “Sosiologi Fundamental”, Terjemahan Ratmoko, Penerbit Djambatan,
  6. Kamanto, Sunarto., 1990, “Pengantar Sosiologi”, Penerbit LPFE Universitas Indonesia, Jakarta.
  7. Ardra.Biz, 2019, “Contoh Soal Ujian Wujud Wujud Kebudayaan Indonesia, Pengertian Dan Fungsi Cultural System, Pengertian dan Fungsi Social System, Pengertian Fungsi Artifacts, Unsur – Unsur Kebudayaan Indonesia, Wujud – Wujud Kebudayaan Masyarakat Indonesia, kebudayaan ideal,
  8. Ardra.Biz, 2019, “contoh kebudayaan ideal, wujud kebudayaan social system, wujud kebudayaan Artifacts, contoh wujud kebudayaan Artifacts, Contoh Wujud Kebudayaan social System, Contoh Cultural System, Contoh Wujud Kebudayaan Cultural System, Jenis Wujud Kebudayaan, Universal sifat kebudayaan,

Fungsi Laten Lembaga Pendidikan

Pengertian Lembaga Pendidikan

Fungsi Laten merupakan fungsi yang tidak langsung karena pengaruhanya tidak serta merta dirasakan oleh individu maupun masyarakat. Fungsi laten pendidikan adalah fungsi yang timbul dari konsekuensi lembaga pendidikan yang tidak dikehendaki dan tidak dapat diramalkan, yaitu:

Periode Ketidakdewasaan

Periode ketidakdewasaan menjadi lebih lama. Sehingga akan menunda peralihan dari tidak dewasa ke periode dewasa. Melanjutkan pendidikan anak berarti menunda masuknya anak dalam dunia kerja, hal ini menyebabkan anak tetap tergantung pada orang tua atau keluarga.

Ketergantungan inilah yang dapat  berdampak atau mempengaruhi proses sosial anak sebagai generasi muda yang memiliki masa depan.

Menurunnya Nilai dan Budaya Hormat

Menurunnya budaya hormat dan berbakti kepada orang tua atau keluarga. Proses sosialisasi yang terjadi pada anak tidak dapat diketahui atau dikontrol atau pengawasan oleh keluarga (di sini kehilangan fungsi kontrol keluarga).

Sebagai Saluran Mobilitas

Menjadi saluran bagi mobilitas sosial dalam masyarakat. Melalui lembaga pendidikan,  Seseorang yang berasal dari struktur social atau kalangan bawah dapat mengejar untuk mewujudkan cita – cita sehingga menjadi seorang yang professional. Selain itu dapat pula menempati posisi kalangan atas, misalnya menjadi pegawai tinggi.

Kurang Pengawasan

Kurangnya pengawasan orang tua. Untuk dapat meneruskan pendidikan anak didik mungkin haris meninggalkan keluarga atau orang tua. Dengan keluar dari daerah atau kota maka akan terpisah dari lingkungan keluarga. Hal ini berakibat akan kehilangan kontrol sosial keluarga dan akan membentuk lingkungan sendiri.

Berkurangnya control atau pengawasan ini akan berpengaruh terhadap pembentukan kepribadian dan identitas baru pada anak. Anak didik akan mengalami proses penyesuaian diri dengan lingkungan barunya.

Mempertahankan Sistem Kelas Sosial

Mempertahankan sistem kelas sosial. Melalui pendidikan, seseorang atau anak didik dapat mempertahankan sekaligus meningkatkan status sosianya. Walaupun ini masih tergantung dari sudut penilaian atau sudut pandang masyarakat yang bersangkutan.

Tempat Pendapat Kritis

Tempat bernaungnya beberapa pendapat kritis (di kampus). Sampai sekarang, mahasiswa dianggap sebagai pemeran utama atau ujung tombak dalam kontrol sosial, terutama dalam kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah. Banyaknya organisasi mahasiswa yang bernaung dalam lembaga pendidikan di perguruan tinggi, maka budaya kritis akan tetap dapat dipertahankan.

Contoh Soal Ujian Fungsi Laten Lembaga Pendidikan,

Perhatikan pernyataan berikut:

  • Menyelenggarakan pembelajaran.
  • Sarana Pendewasaan Anak.
  • Mengembangkan bakat anak.
  • Menghambat kesempatan kerja anak.
  • Memiliki potensi sebagai sarana perkembangan anak.

Dari contoh di atas yang merupakan fungsi laten lembaga pendidikan adalah:

(A).   (1), (2), dan (3)

(B).   (1), (2), dan (4)

(C).   (1), (3), dan (5)

(D).   (2), (4), dan (5)

(E).   (3), (4), dan (5)

Jawaban: D

Pembahasan.

Fungsi laten dari lembaga pendidikan adalah sebagai sarana pembentukan pendewasaan anak, menghambat kesempatan kerja, dan memiliki potensi sebagai sarana untuk perkembangan anak.

Sedangkan menyelenggarakan pembelajaran dan mengembangkan potensi bakat yang dimiliki anak termasuk pada fungsi manifest lembaga pendidikan.

Daftar Pustaka:

Fungsi Pengendalian Sosial Masyarakat

Pengertian Pengendaian Sosial. Pengendalian social sebenarnya merupakan gambaran dari langkah dan proses yang ditempuh oleh kelompok atau masyarakat agar para anggotanya mampu bertindak sesuai dengan nilai dan norma yang dianutnya.

Pengendalian sosial merupakan istilah yang sifatnya kolektif dan mengacu pada proses terrencana ataupun tidak, yang mengajarkan, mengajak, membujuk, atau bahkan memaksa setiap anggota masyarakat untuk beradaptasi dengan kebiasaan dan nilai dalam kehidupan berkelompok.

Berdasarkan pemahaman tersebut, dapat dikatakan bahwa pada prinsipnya pengendalian sosial merupakan usaha yang dilakukan dengan cara mendidik, mengajak, dan bahkan memaksa kepada setiap individu dari masyarakat untuk dapat mematuhi aturan permainan yang mengatur hubungan antara individu dengan individu, antara individu dengan kelompok, maupun antara kelompok dengan kelompok di dalam kehidupan bermasyarakat.

Adapun fungsi atau manfaat dari pengendalian sosial di antaranya adalah:

  1. Menjaga dan mengawasi pelaksanaan sistem nilai dan norma yang berlaku pada kehidupan masyarakat,
  2. Mencegah agar terhindar dari penyimpangan terhadap sistem nilai dan norma yang berlaku dalam kehidupan masyarakat
  3. Memulihkan keadaan yang disebabkan oleh adanya penyimpangan terhadap sistem nilai dan sistem norma yang berlaku di kehidupan masyarakat

Contoh Soal Ujian Manfaat Pengendalian Sosial

Daftar Pustaka:

  1. Bouman, PJ., 1980, “Ilmu Masyarakat Umum”, Penerbit PT Pembangunan, Jakarta.
  2. Bouman, P.J., 1982, “Sosiologi Fundamental”, Terjemahan Ratmoko, Penerbit Djambatan,
  3. Ardra.Biz, 2019, “Pengertian Pengendaian Sosial, Contoh Pengendalian Sosial, Fungsi Pengendalian Sosial, Manfaat Pengendalian Sosial, Peran Pengendalian sosial masyarakat,
  4. Kamanto, Sunarto., 1990, “Pengantar Sosiologi”, Penerbit LPFE Universitas Indonesia, Jakarta.
  5. Horton, Paul B. dan Hunt, Chester L., 1999, “Sosiologi”, Jilid 1, Edisi Keenam, Penerbit Erlangga, Jakarta.
  6. Ardra.Biz, 2019, “Pengertian Pengendaian Sosial, Contoh Pengendalian Sosial, Fungsi Pengendalian Sosial, Manfaat Pengendalian Sosial, Peran Pengendalian sosial masyarakat, Cara Menjaga Sistem nilai dan norma masyarakat,
  7. Horton, Paul B. dan Hunt, Chester L., 1999,” Sosiologi”, Jilid 2., Edisi Keenam, Penerbit Erlangga, Jakarta.
  8. Johnson, Doyle Paul., 1994, “Teori Sosiologi: Klasik dan Modern “, Penerbit Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.
  9. Ardra.Biz, 2019, “Cara mengawasi pelaksanaan sistem nilai dan norma masyarakat, Cara Mencegah Penyimpangan Nilai dan Norma, Cara Memulihkan system nilai dan norma masyarakat, Contoh system nilai dan norma masyarakat,

Cara Pengendalian Sosial di Masyarakat Indonesia

Pengertian

Pengendalian social sebenarnya merupakan gambaran dari langkah dan proses yang ditempuh oleh kelompok atau masyarakat agar para anggotanya mampu bertindak sesuai dengan nilai dan norma yang dianutnya.

Pengendalian sosial sebagai sebuah proses sosial memerlukan teknik – teknik yang mampu mencapai tujuannya yaitu terwujudnya masyarakat yang tertib, aman dan teratur.

Ada beberapa cara yang dapat dilakukan oleh suatu kelompok atau masyarakat agar para anggotanya berperilaku sesuai dengan nilai dan norma yang dianutnya, di antaranya adalah sebagai berikut:

Pengendalian Sosial Melalui Sosialisasi

Sosialisasi mampu membentuk kebiasaan, keinginan dan adat istiadat yang sekarang berlaku. Tatanan nilai atau tata cara atau kebiasaan yang sama di antara anggota masyarakat akan menghasilkan perilaku yang sama pula pada anggota masyarakatnya.

Kebiasaan dan nilai yang sudah berlaku pada suatu masyarakat akan mengundang anggota masyarakat lainnya untuk menyesuaikan diri dengan kebiasaan dan nilai tersebut. Penyesuaian ini dilakukan oleh masyarakat lain tanpa mereka sadari bahwa mereka sedang melaksanakan penyesuaian.

Dengan melakukan sosialisasi seseorang akan mampu untuk memahami dan menghayati atau menginternalisasikan norma dan nilai yang dianggap penting dalam masyarakatnya. Dengan proses internalisasi ini secara pasti anggota masyarakat dapat berperilaku tanpa berfikir bahwa apa yang dilakukannya adalah dikendalikan.

Pengendalian Sosial Melalui Tekanan Sosial

Tiap – tiap individu merupakan bagian dari sebuah kelompok social. Hal ini merupakan konsekuensi bahwa dalam setiap individu memiliki kecenderungan untuk berkelompok dan berusaha untuk menyesuaikan atau beradaptasi dengan kelompoknya. Ini artinya, bahwa pengendalian sosial merupakan suatu proses yang datangnya dari kebutuhan individu untuk membentuk suatu kelompok.

Keberadaan suatu kelompok akan sangat berperan ketika para anggota kelompok itu senantiasa akrab dan selalu berusaha untuk mempertahankan keberadaan kelompoknya. Tekanan keinginan kelompok adalah suatu proses yang berkesinambungan dan berpengaruh terhadap perubahan perilaku seseorang.

Individu atau anggota masyarakat tidak akan menyadari bahwa dirinya dapat berubah setelah menjadi anggota sebuah kelompok. Hal ini dapat terjadi karena setiap individu cenderung mengekspresikan dirinya sesuai dengan sifat – sifat kelompoknya.

Pendatang atau anggota baru dari suatu kelompok masyarakat akan berusaha untuk menyesuaikan diri atau beradaptasi dengan kelompok barunya. Bahkan anggota baru akan cukup mampu mengidentifikasi diri dengan kelompoknya dan dapat pula menyatakan kesetiaannya terhadap kelompok barunya.

Pengendalian Sosial Melalui Kekuatan

Masyarakat dengan jumlah penduduk dan kebudayaannya masih sederhana dapat mengendalikan perilaku anggotanya dengan menggunakan nilai – nilai adat. Pengendaliannya ditunjang pula oleh pengendalian informal yang dilakukan oleh kelompok primer. Oleh karena itu pada masyarakat yang masih sederhana tidak diperlukan hukum formal dalam pelaksanaan hukumannya.

Namun pada masyarakat yang jumlah penduduknya sangat besar dengan kebudayaan yang lebih kompleks, untuk pengendalian sosialnya diperlukan hukum formal, peraturan hukum dan pelaksanaan hukum. Masyarakat yang sangat kompleks dengan banyak kelompok memiliki potensi yang lebih besar untuk terjadinya pertentangan antar kelompok. Oleh karena itu, pada masyarakat yang kompleks diperlukan kekuatan dalam bentuk hukum formal dan peraturan hukum demi terciptanya masyarakat yang teratur, aman dan tertib.

Contoh Soal Ujian Cara Pengendalian Sosial Masyarakat.

Daftar Pustaka:

 

 

 

Bentuk Kerja Sama Dalam Interaksi Sosial Masyarakat

Pengertian. Interaksi sosial adalah hubungan sosial yang dinamis menyangkut hubungan antara individu dengan individu, antara beberapa kelompok atau masyarakat, maupun antara individu dengan kelompok atau masyarakat. Interaksi sosial merupakan syarat utama terjadinya aktivitas sosial.

Interaksi yang mendorong terbentuknya keteraturan sosial adalah interaksi yang bersifat asosiasif, yakni interaksi yang mengarah pada bentuk – bentuk asosiasi, seperti kerja sama, akomodasi, asimilasi, dan akulturasi.

Bekerja sama (Cooperation)

Kerja sama muncul ketika masing-masing pihak memiliki kepentingan-kepentingan yang sama dan pada saat bersamaan mereka mempunyai kesadaran untuk bekerja sama dalam mencapai kepentingan-kepentingan tersebut.

Ada beberapa bentuk interaksi yang berupa kerja sama, yakni bargaining, cooptation, coalition, dan joint venture.

Bargaining

Merupakan suatu pelaksanaan perjanjian mengenai pertukaran barang dan jasa antara dua orang atau dua organisasi atau lebih.

Pengertian Co-optation Pada Interaksi Sosial

Merupakan suatu proses penerimaan unsur – unsur baru dalam kepemimpinan atau pelaksanaan politik dalam suatu organisasi, sebagai salah satu cara untuk menghindari terjadinya kegoncangan dalam organisasi yang bersangkutan.

Pengertian Coalition Pada Interaksi Sosial

Merupakan suatu kombinasi antara dua organisasi atau lebih yang mempunyai tujuan yang sama. Koalisi sifatnya kooperatif.

Pengertian Joint – Venture Pada Interaksi Sosial

Merupakan suatu kerja sama dalam pengusahaan proyek – proyek tertentu, dengan perjanjian proporsi keuntungan tertentu pula.

Contoh Soal Ujian Interaksi Sosial Masyarakat Indonesia.

Dalam acara penggalangan dana untuk bantuan bencana alam, banyak terkumpul sumbangan yang diberikan pada undangan sesuai kemampuan masing –masing. Suasana dalam acara tersebut menunjukkan bentuk interaksi social bersifat….

(A) Akomodatif.   (B) Disosiatif.   (C) Integratif.   (D) Asimilatif.   (E) Asosiatif.

Jawaban: E

Pembahasan:

Interasksi social asosiatif adalah bentuk interaksi yang menghasilkan kerja sama. Ada beberapa bentuk interaksi social asosiatif, yaitu

Bargaining merupakan pelaksanaan perjanjian dilakukan untuk pertukaran barang atau jasa antara dua organisasi atau lebih.

Cooptation (kooptasi) merupakan suatu proses penerimaan unsur – unsur baru dalam kepemimpinan atau pelaksanaan politik dalam suatu organisasi untuk menghindari goncangan yang terjadi pada organisasi tersebut.

Coalition (koalisi) merupakan kerja sama yang dilakukan oleh dua atau lebih organisasi (atau kelompok) yang memiliki tujuan yang sama.

Join Venture merupakan kerja sama dengan pengusaha proyek tertentu untuk menghasilkan keuntungan yang akan dibagi berdasarkan proporsi tertentu.

Jadi, penggalangan dana untuk bantuan bencana alam merupakan kegiatan interaksi social yang sifatnya asosiatif koalisi.

Daftar Pustaka:

Cara Mencegah Penyimpangan Sosial Masyarakat

Pengertian.

Perilaku menyimpang disebut juga dengan istilah non-konformitas adalah tindakan yang dilakukan oleh individu atau kelompok dalam masyarakat untuk tidak mentaati nilai dan norma yang berlaku. Perilaku yang tidak sesuai dengan nilai dan kaidah dinamakan menyimpang atau suatu perbuatan disebut menyimpang bilamana perbuatan ini dinyatakan sebagai yang pelanggaran atau penyimpangan.

Penyimpangan sosial Terjadinya diakibatkan oleh beberapa faktor yaitu; Adanya perubahan nilai atau norma dari suatu periode ke periode lainnya. Tidak ada norma atau aturan yang digunakan untuk menentukan nilai tindakan seseorang yang sifatnya mutlak.

Anggota masyarakat menjadi tidak patuh terhadap norma dapat disebabkan karena meniru orang lain yang tidak mentaati atau karena tidak diajari untuk patuh terhadap peraturan.

Penyimpangan sosial merupakan proses sosial yang tidak selamanya menjadi ancaman yang dapat menghancurkan atau setidaknya merugikan individu atau masyarakat. Namun demikian, perilaku penyimpangan tetap harus memiliki acuan atau standar nilai dan kaidah atau norma yang umum sesuai dengan nilai dan norma yang dianut atau diberlakukan oleh masyarakat.

Jika setiap perilaku penyimpangan mendapatkan toleransi dari masyarakat, maka perilaku penyimpangan yang bersifat negatif  dapat berdampak negative pula terhadap masyarakat.

Oleh karena itu diperlukan cara – cara pencegahan atau preventif untuk menghindari atau setidaknya mengurangi terjadinya perilaku penyimpangan, diantaranya yaitu;

Melalui Fungsi dan Peran Lembaga – Lembaga  Sosial

Lembaga-lembaga sosial yang dimaksud adalah lembaga kepolisian, pengadilan, sistem adat dan tokoh masyarakat. Lembaga-lembaga sosial ini berfungsi mengawasi dan mengontrol setiap tindakan masyarakat agar selalu sesuai dengan nilai dan norma yang berlaku.

Melalui Pendidikan Formal atau Nonformal

Pendidikan formal dapat berbentuk sekolah formal. Sekolah harus menjadi bagian integral dari masyarakat sekitarnya. Sesuai dengan asas pendidikan seumur hidup, sekolah harus mempunyai dwifungsi yaitu mampu memberikan pendidikan formal dan pendidikan nonformal yang berorientasi pada pembangunan dan kemajuan. Dengan demikian sekolah mampu melahirkan generasi yang mempunyai pengetahuan dan keterampilan yang cukup sebagai bekal hidupnya.

Melalui Pendidikan Moral dan Etika

Pendidikan moral memiliki tujuan untuk menanamkan dan menumbuhkan nilai dan norma baik yang dianut secara kelompok maupun masyarakat secara keseluruhan. Dengan harapan ketika moralitas individu dan masyarakat sangat baik, maka penyimpangan social dapat ditekan serendah mungkin.

Contoh Soal Ujian Cara Pengendalian Sosial Masyarakat.

Daftar Pustaka.

Manfaat Sosiologi Bagi Kehidupan Masyarakat

Pengertian Sosiologi

Sosiologi adalah ilmu kemasyarakatan yang mempelajari tentang struktur sosial yaitu keseluruhan jalinan social antara unsur- unsur sosial yang pokok, seperti kaidah – kaidah sosial, kelompok- kelompok dan lapisan- lapisan sosial.

Sosiologi adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari hubungan sosial antara sesama manusia (atau individu dengan individu), antara individu dengan kelompok, sifat, perubahan -perubahan, lembaga- lembaga serta ide- ide sosial.

Sosiologi  adalah penelitian secara ilmiah terhadap interaksi sosial yaitu hubungan timbal balik antara individu dengan individu, individu dengan kelompok dan kelompok dengan kelompok.

Fungsi Sosiologi Bagi Kehidupan Masyarakat.

Sebagai bahan penelitian yaitu dengan mempelajari berbagai fenomena atau gejala yang terjadi dalam masyarakat.

Sebagai solusi masalah yaitu melalui pengamatan sosiologi maka, masalah – masalah sosial yang timbul di masyarakat dapat carikan solusi yang paling sesuai.

Sebagai bahan perencanaan dan pembangunan social yaitu dengan melakukan pendekatan secara sosiologis dalam proses pembangunan agar sesuai dengan kebutuhan masyarakat.

Sebagai bahan pembuatan keputusan, yaitu pada saat mengatur kehidupan masyarakat, pemerintah membutuhkan batuan sosiologi untuk melakukan penelitian social terhadap perilaku serta kebutuhan masyarakat dalam mengambil keputusan.

Contoh Soal Ujian Manfaat Sosiologi Dalam Masyarakat.

Sosiologi dapat digunakan dalam kajian yang lebih luas yaitu meliputi perencanaan suatu program pembangunan yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Dari uraian tersebut maka fungsi sosiologi adalah membantu dalam merencanakan….

(A) Penelitian dan control social. (B) Pembangunan dan analisis.   (C) Penelitian dan analsisi. (D) Pembangunan dan control social.   (E) Pembangunan dan Penelitian.

Jawaban: E

Pembahasan:

Manfaat sosiologi dalam masyarakat adalah untuk meneliti berbagai macam masalah dalam masyarakat dan membantu mancari jalan keluar yang paling efektif dengan tujuan yaitu:

Untuk Pembangunan.

Memberikan data social yang diperlukan pada tahap perencanaan, pelaksanaan, dan penulaian pembangunan.

Untuk Penelitian.

Memberikan suatu perencanaan atau pemecahan masalah yang komprehensif sesuai dengan target  yang ingin dicapai.

Jadi, fungsi sosiologi adalah membantu dalam merencanakan pembangunan dan penelitian.

Daftar Pustaka.

  1. Ardra.biz, 2019, “Arti Sosiologi, ciri ilmu sosiologi, Contoh Soal Ujian Manfaat Sosiologi Dalam Masyarakat., Fungsi Sosiologi Bagi Pembangunan, Fungsi Sosiologi Bagi Penelitian., Ilmu Sosiologi, Kajian sosiologi, kontrol sosiologi,
  2. Ardra.Biz, 2019, “Manfaat Sosiologi Bagi Kehidupan Masyarakat, materi sosiologi, pendekatan sosiologi, peran sosiologi, perkembangan sosiologi, ruang lingkup sosiologi, sifat hakikat ilmu sosiologi, sifat sosiologi, Sosiologi adalah, sosiologi masyarakat, sosiologi pembangunan