Sifat, Fungsi Benzena dan Turunannya

Pengertian Struktur Benzene. Senyawa benzena pertama kali disintesis oleh Michael Faraday pada tahun 1825, dari gas yang dipakai sebagai bahan bakar lampu penerang.

Sepuluh tahun kemudian diketahui bahwa benzena memiliki rumus molekul C6H6 sehingga disimpulkan bahwa benzena memiliki ikatan rangkap yang lebih banyak daripada alkena.

Benzena adalah senyawa organik siklik (berbentuk cincin) dengan enam atom karbon yang bergabung membentuk cincin segi enam.

Pada  tahun 1872 Friedrich August Kekule mengusulkan bahwa benzena mengandung tiga ikatan tunggal dan tiga ikatan rangkap yang berselang-seling.

Pengukuran spektroskopik menunjukkan bahwa molekul benzene adalah planar dan semua ikatan karbon-karbonnya sama panjang yaitu 1,39 À (Angstrom). Ikatan karbon-karbon pada benzena panjangnya di antara ikatan karbon-karbon tunggal (1,47 Á ) dan ikatan karbon-karbon rangkap (1,33 Â ).

Struktur Benzena dan Fungsinya
Struktur Benzena dan Fungsinya

Hal ini dapat dibenarkan karena ikatan karbon-karbon pada benzene mengalami resonansi (berpindah- pindah). Inilah sebabnya mengapa benzene sukar mengalami adisi.

Ikatan karbon-  pada benzena terdiri atas ikatan sigma (σ) dan ikatan phi ( π ). Menurut teori ini ikatan valensi orbital molekul terbentuk dari tumpang tindih orbital-orbital atom. Ikatan kovalen yang terbentuk dari tumpang tindih ujung dengan ujung disebut ikatan sigma (σ ), sedangkan ikatan kovalen yang terbentuk dari tumpang tindih sisi dengan sisi disebut ikatan phi ( π ).

Sifat dan Kegunaan Benzena

Sifat yang dimiliki senyawa turunan benzena sangat beragam bergantung pada jenis substituennya. Sifat-sifat khas ini dapat dimanfaatkan untuk berbagai hal. Senyawa benzena dan turunannya banyak digunakan di bidang kesehatan, industri, pertanian, dan sebagai bahan peledak.

Beberapa pabrik di Indonesia, seperti yang ada di kota Bekasi dan Surabaya telah memproduksi bahan kimia turunan benzena seperti alkil benzena sulfonat yang digunakan sebagai bahan baku pembuatan detergen.

Berikut ini beberapa sifat dan kegunaan atau manfaat dari senyawa benzena dan turunannya.

Benzena

Benzena merupakan zat kimia yang tidak berwarna, mudah terbakar, dan berwujud cair. Benzena digunakan sebagai bahan baku untuk pembuatan plastik dan bahan kimia lainnya, seperti detergen dan bahan bakar kendaraan.

Namun, benzena juga diketahui dapat menyebabkan kanker sel darah putih (leukimia) bagi manusia. Jika mengisap benzena dengan kadar yang cukup tinggi, dapat menyebabkan kematian.

Meminum atau memakan makanan yang mengandung benzena dalam jumlah cukup tinggi dapat menyebabkan berbagai masalah, mulai dari muntah-muntah, iritasi lambung, kepala pusing, hingga kematian.

Aspirin Senyawa Turunan Benzena

Aspirin atau asam asetilsalisilat memiliki sifat analgesik, antipiretik, antiradang, dan antikoagulan. Karena sifat-sifat itulah aspirin biasanya digunakan sebagai obat sakit gigi dan obat pusing. Senyawa ini memiliki titik didih 140 °C dan titik leleh 136 °C.

Mengonsumsi aspirin secara berlebihan dapat menyebabkan gangguan pada kesehatan. Di antaranya gangguan pencernaan pada lambung, seperti sakit maag dan pendarahan lambung.

Anilina Senyawa Turunan Benzena

Anilina memiliki rumus kimia C6H5NH2 dan biasa dikenal dengan nama fenilamina atau aminobenzena. Senyawa turunan benzena ini mengandung gugus amina. Berikut struktur molekul anilina.

Anilina memiliki wujud cair pada suhu kamar dan tidak berwarna (colorless). Titik didihnya 184 °C, sedangkan titik lelehnya –6 °C. Senyawa anilina mudah menguap dan menimbulkan bau tak sedap, seperti ikan yang membusuk.

Anilina banyak digunakan sebagai zat warna. Bukan hanya itu, anilina juga digunakan sebagai bahan baku pembuatan berbagai obat, seperti antipirina dan antifebrin.

Klorobenzena Senyawa Turunan Benzena

Klorobenzena adalah senyawa turunan benzena dengan rumus kimia C6H5Cl. Senyawa ini memiliki warna bening (colorless) dan mudah terbakar. Klorobenzena dapat diperoleh dengan cara mereaksikan fenol dan fosfor pentaklorida. Klorobenzena tidak larut di dalam air serta memiliki titik leleh –45 °C dan titik didih 131 °C.

Parasetamol Senyawa Turunan Benzena

Parasetamol atau asetaminofen merupakan zat analgesik dan antipiretik yang paling populer. Parasetamol sering digunakan untuk mengobati pusing dan sakit kepala.

Sifat dari parasetamol antara lain titik leleh 169 °C, kelarutan dalam air 1,4 g/100 mL (20 °C), serta larut di dalam etanol. Asal kata asetaminofen dan parasetamol tersebut berasal dari nama kimia kedua senyawa, yaitu N-acetyl-para-aminophenol dan para-acetyl-amino-phenol. Terlalu banyak mengonsumsi parasetamol dapat menyebabkan gangguan kesehatan.

TNT (Trinitrotoluene) Senyawa Turunan Benzena

TNT (Trinitrotoluene) merupakan senyawa turunan benzena yang bersifat mudah meledak. Senyawa TNT diperoleh melalui reaksi nitrasi toluena. TNT digunakan sebagai bahan peledak untuk kepentingan militer dan pertambangan.

Senyawa TNT (Trinitrotoluene) dibuat dengan cara mereaksikan toluene dan asam nitrat pekat, serta dibantu katalis asam sulfat pekat

Daftar Pustaka

Sifat Fungsi Senyawa Benzena dan Turunannya serta Pengertian Struktur Benzena dengan Struktur Benzena cincin segi enam. Rumus Molekul Benzena dan Rumus Kimia Senyawa Benzena dengan Panjang Ikatan antar karbon molekul Benzena. Faktor Penyebab sulitnya reaksi adisi benzena adalah Ikatan sigma dan phi Benzena.

Sifat sifat senyawa benzene beserta Kegunaan dan manfaat Benzena dan Contoh senyawa turunan benzene. Manfaat senyawa turunan benzene diantara Aspirin Turunan Senyawa benzene dengan Anilina Turunan senyawa benzene. Rumus kimia aspirin dan rumus kimia anilina serta manfaar aspirin. Manfaat anilina dan Senyawa turunan benzene Klorobenzena rumus kimia klorobenzena.

Manfaat klorobenzena dan Parasetamol turunan senyawa benzene serta manfaat parasetamol atau asetaminofen turunan senyawa benzene. Manfaat asetaminofen dengan TNT (Trinitrotoluene) senyawa turunan benzena atau  manfaat TNT (Trinitrotoluene).

Faktor yang Mempengaruhi Laju Reaksi Kimia

Pengertian Laju Reaksi Kimia. Laju reaksi didefinisikan sebagai perubahan konsentrasi pereaksi atau hasil reaksi persatuan waktu. Atau dapat juga didefinisikan sebagai banyaknya mol zat per liter (untuk gas atau larutan) yang berubah menjadi zat lain dalam satu satuan waktu.

r = Δc/ Δt

r = laju reaksi

Δc = perubahan konsentrasi

Δt = perubahan waktu

Contoh Soal Perhitungan Laju Reaksi

Pada reaksi A menjadi B diketahui bahwa konsentrasi A mula-mula 8 M, setelah 3 detik menjadi 2 M. Tentukan laju reaksinya!

Jawab: Δc = (8 – 2) M = 6 M

Δt = 3 detik

r = Δc/Δt

r = 6M/3detik

r = 2 M/detik

Faktor yang Memengaruhi Laju Reaksi

Proses berlangsungnya reaksi kimia dipengaruhi oleh beberapa faktor. Faktor-faktor ini akan memengaruhi jumlah tumbukan antarmolekul dari zat-zat yang bereaksi. Suatu reaksi akan berlangsung lebih cepat jika tumbukan antarpartikel dari zat-zat pereaksi lebih sering terjadi dan lebih banyak. Sebaliknya, reaksi akan berlangsung lebih lambat jika hanya sedikit partikel dari zat-zat pereaksi yang bertumbukan.

Beberapa faktor yang memengaruhi laju reaksi, antara lain:

  1. konsentrasi;
  2. luas permukaan sentuhan;
  3. temperatur;
  4. katalis.

Pengaruh Konsentrasi Terhadap Laju Reaksi

Laju reaksi dari berbagai reaksi biasanya berbedabeda, ada yang cepat dan ada yang lambat. Salah satu faktor yang memengaruhi laju reaksi di antaranya adalah konsentrasi pereaksi.

Pada umumnya, reaksi akan berlangsung lebih cepat jika konsentrasi pereaksi diperbesar. Zat yang konsentrasinya besar mengandung jumlah partikel yang lebih banyak, sehingga partikel-partikelnya tersusun lebih rapat disbanding zat yang konsentrasinya rendah.

Partikel yang susunannya lebih rapat, akan lebih sering bertumbukan dibanding dengan partikel yang susunannya renggang, sehingga kemungkinan terjadinya reaksi makin besar.

Pengaruh Luas Permukaan Pada Laju Reaksi

Luas permukaan sentuhan antara zat-zat yang bereaksi merupakan suatu faktor yang memengaruhi kecepatan reaksi bagi campuran pereaksi yang heterogen, misalnya antara zat padat dan gas, zat padat dengan larutan, dan dua macam zat cair yang tak dapat campur.

Salah satu syarat agar reaksi dapat berlangsung adalah zat- zat pereaksi harus bercampur atau bersentuhan. Pada campuran pereaksi yang heterogen, reaksi hanya terjadi pada bidang batas campuran.

Bidang batas campuran inilah yang dimaksud dengan bidang sentuh. Dengan memperbesar luas bidang sentuh, reaksi akan berlangsung lebih cepat.

Pengaruh Temperatur Terhadap Laju Reaksi

Pada umumnya reaksi akan berlangsung dengan semakin cepat jika dilakukan dengan pemanasan. Pemanasan berarti penambahan energi kinetic partikel sehingga partikel akan bergerak lebih cepat, akibatnya tumbukan yang terjadi akan semakin sering

Setiap partikel selalu bergerak. Dengan menaikkan temperatur, energi gerak atau energi kinetik partikel bertambah, sehingga tumbukan lebih sering terjadi. Dengan frekuensi tumbukan yang semakin besar, maka kemungkinan terjadinya tumbukan efektif yang mampu menghasilkan reaksi juga semakin besar.

Suhu atau temperatur ternyata juga memperbesar energi potensial suatu zat. Zat-zat yang energi potensialnya kecil, jika bertumbukan akan sukar menghasilkan tumbukan efektif. Hal ini terjadi karena zat-zat tersebut tidak mampu melampaui energi aktivasi. Dengan menaikkan suhu, maka hal ini akan memperbesar energi potensial, sehingga ketika bertumbukan akan menghasilkan reaksi.

Pengaruh Katalis Pada Laju Reaksi

Katalis dapat mempengaruhi laju reaksi. Umumnya katalis dapat meningkatkan laju reaksi tetapi tidak mengalami perubahan yang kekal dalam reaksi itu.

Katalis adalah suatu zat yang berfungsi mempercepat terjadinya reaksi, tetapi pada akhir reaksi dapat diperoleh kembali. Fungsi katalis adalah menurunkan energi aktivasi, sehingga jika ke dalam suatu reaksi ditambahkan katalis, maka reaksi akan lebih mudah terjadi. Hal ini disebabkan karena zat zat yang bereaksi akan lebih mudah melampaui energi aktivasi.

Daftar Pustaka

Pengertian Laju Reaksi Kimia dengan Contoh Soal Perhitungan Laju reaksi Kimia. Rumus Kimia Laju reaksi Kimia dan Faktor yang Mempengaruhi Laju Reaksi dengan perubahan konsentrasi persatuan waktu. Pengaruh Konsentrasi Terhadap Laju Reaksi dan Pengaruh Luas Permukaan Pada Laju Reaksi.

Pengaruh Temperatur Terhadap Laju Reaksi dengan Pengaruh Katalis Pada Laju Reaksi dan Pengertian Katalis. Contoh Katalis Reaksi Kimia dengan Fungsi Katalis pada reaksi kimia.

Kekuatan dan Derajat Keasaman Larutan

Pengertian Kekuatan Asam Basa. Berdasarkan banyaknya ion yang dihasilkan pada ionisasi asam dan basa dalam larutan, maka kekuatan asam dan basa dikelompokkan menjadi asam kuat dan asam lemah serta basa kuat dan basa lemah. Kekuatan asam dan basa tersebut dapat dinyatakan dengan derajat ionisasi.

Dalam larutan elektrolit kuat, zat- zat elektrolit terurai seluruhnya menjadi ion-ionnya (ionisasi sempurna) dan dalam larutan elektrolit lemah, zat- zat elektrolit hanya sebagian saja yang terurai menjadi ion- ionnya (ionisasi sebagian).  Sedangkan zat- zat nonelektrolit dalam larutan tidak terurai menjadi ion-ion.

Derajat ionisasi (α) adalah perbandingan antara jumlah molekul zat yang terionisasi dengan jumlah molekul zat mula-mula.

Seperti yang  telah diketahui, bahwa perbandingan molekul sama dengan perbandingan mol. Dengan demikian, derajat ionisasi (α) dapat diformulasikan dengan persamaan berikut.

α = (Jumlah mol zat yang terionisasi)/(jumlah mol zat mula – mula)

Larutan elektrolit kuat mengalami ionisasi sempurna, sehingga nilai α mendekati satu. Sementara itu, larutan elektrolit lemah hanya mengalami ionisasi sebagian, sehingga nilai α sangat kecil (α < 1).

Berdasarkan rumus di atas, maka nilai a untuk:

  1. Elektrolit kuat, α = 1
  2. Elektrolit lemah, 0 < α < 1
  3. Non-elektrolit, α = 0

Suatu asam atau basa yang merupakan suatu elektrolit kuat disebut asam atau basa kuat. Dengan demikian jika asam merupakan elektrolit lemah, maka ia merupakan asam lemah, karena hanya mengandung sedikit ion H+, demikian juga dengan basa lemah akan terdapat sedikit ion OH.

Asam Kuat dan Basa Kuat

Asam kuat adalah zat yang di dalam pelarut air mengalami ionisasi sempurna (α ≈ 100%). Di dalam larutan, molekul asam kuat hamper semuanya terurai membentuk ion H+ dan ion negatif sisa asam. Contoh asam kuat adalah HCl, HNO3, dan H2SO4.

Sama halnya dengan asam, zat yang di dalam larutan bersifat basa dapat digolongkan sebagai basa kuat dan basa lemah berdasarkan kesempurnaan ionisasinya. Basa kuat adalah zat yang di dalam air terionisasi sempurna (α ≈ 100%), sedangkan basa lemah terionisasi sebagian.

Asam dan Basa Lemah

Asam lemah adalah senyawa yang kelarutannya di dalam air terionisasi sebagian, sesuai derajat ionisasinya. Asam lemah terionisasi sebagian. Berdasarkan hasil penyelidikan diketahui bahwa zat- zat yang bersifat asam lemah, di dalam larutan membentuk kesetimbangan antara molekul-molekul asam lemah dengan ion- ionnya.

Derajat Keasaman pH

Ukuran keasaman atau kebasaan suatu larutan ditentukan oleh konsentrasi ion hydrogen. Untuk memudahkan pengukuran, maka konsentrasi ion hydrogen dinyataka dalam pH (pangkat hydrogen). Konsep pH pertama kali diajukan oleh seorang ahli biokimia dari Denmark yaitu S.P. Sorensen pada tahun 1909. Menurut Sorensen, pH merupakan logaritma negative dari konsentrasi ion hydrogen dan diformulasikan dengan rumus menurut persamaan berikut.

pH = -log[H+]

untuk mengukur konsentrasi OH dari suatu larutan basa dinyatakan dengan pOH, yang diformulasikan dengan rumus sebagai berikut

pOH = -log[OH]

hubungan antara pH dan pOH diturunkan dari persamaan tetapan ionisasi air (Kw) pada temperature 25 Celcius yaitu;

[H+][OH] = Kw

pH + pOH = 14

pH = 14 – pOH

Contoh Soal Perhitungan Kekuatan dan Derajat Keasaman

Berapakan Derajat keasaman air murni.

Jawab air murni merupakan larutan netral dimana konsentrasi ion hydrogen [H+] adalah sama dengan konsentrasi ion hidroksi [OH]

[H+] = [OH] = 10-7M

sehingga

pH = pOH

pH= -log 10-7

pH = 7

Contoh Soal Perhitungan Kekuatan dan Derajat Keasaman

Hitung pH larutan HCL 0,01M yang merupakan asam kuat dan terionisasi seleuruhnya menjadi ion H+ dan Cl.

Jawab .

[H+] = [HCl]=0,01M

pH = -log[H+]

pH = -log 10-2

pH = 2

pH + pOH = 14

pOH = 14 – pH

pOH = 12

Daftar Pustaka

Kekuatan Asam Basa dengan Pengertian Kekuatan asam basa dan pengertian derajat ionisasi beserta rumus persamaan derajat ionisasi. Cara menghitung derajat ionisasi dengan contoh soal derajat ionisasi dan derajat ionisasi larutan elektrolit.  Contoh senyawa larutan ionisasi sempurna dan contoh senyawa ionisasi sebagian.

Ionisasi asam dan basa lemah dengan derajat ionisasi asam dan basa lemah serta derajat ionisasi elektrolit kuat dan lemah. Derajat ionisasi nonelektrolit dengan contoh elektrolit kuat dan derajat keasaman pH larutan asam kuat. pH asam kuat dan asam lemah dan pH larutan basa kuat dan lemah. Contoh soal perhitungan pH larutan asam basa dan rumus mencari pH larutan asam basa dengan contoh soal perhitungan kekuatan dan derjata keasaman.

Teori Tumbukan Reaksi Kimia

Pengertian Teori Tumbukan Reaksi Kimia. Menurut teori tumbukan, reaksi kimia terjadi karena adanya partikel-partikel yang saling bertumbukan. Jumlah tumbukan antara molekul-molekul per satuan waktu disebut frekuensi tumbukan

Tumbukan terjadi jika dua molekul atau lebih permukaannya saling bersentuhan pada satu titik. Pengertian satu titik disini adalah jika dianggap bentuk molekul bulat seperti bola, maka pada pertemuan tersebut jarak antarpusat inti sama dengan diameternya untuk jenis molekul yang mempunyai ukuran sama.

Tumbukan Efektif

Tetapi, tidak semua tumbukan akan menghasilkan reaksi kimia. Tumbukan yang dapat menghasilkan reaksi kimia dikenal dengan istilah tumbukan efektif. Tumbukan efektif adalah tumbukan yang mempunyai energi yang cukup untuk memutuskan ikatan- ikatan pada zat yang bereaksi.

Orientasi Tumbukan

Agar terjadi tumbukan yang efektif diperlukan syarat, yaitu orientasi tumbukan molekul harus tepat. Orientasi merupakan arah atau posisi antarmolekul yang bertumbukan. Untuk molekul berbentuk bulat orientasi tidak begitu penting, karena semua posisi akan mengakibatkan tumbukan dengan orientasi sesuai. Tetapi, untuk molekul yang berbentuk dua bola terpilin orientasi sangatlah penting.

Energi Aktivasi

Sebelum suatu tumbukan terjadi, partikel -partikel memerlukan suatu energi minimum yang dikenal sebagai energi pengaktifan atau energi aktivasi (Ea). Energi pengaktifan atau energi aktivasi adalah energi minimum yang diperlukan untuk berlangsungnya suatu reaksi.

Faktor yang Mempengaruhi Terjadinya Tumbukan Reaksi Kimia

Pengaruh Luas Permukaan Sentuhan Pada Tumbukan

Semakin luas permukaan sentuhan antara zat- zat pereaksi, semakin banyak molekul- molekul pereaksi yang bertumbukan. Dengan demikian, kemungkinan terjadi reaksi semakin besar sehingga reaksi lebih cepat berlangsung.

Pengaruh Sifat Kimia Pereaksi Pada Tumbukan

Senyawa- senyawa ion lebih cepat bereaksi daripada senyawa- senyawa kovalen. Pada setiap tumbukan yang terjadi antara ion positif dan ion negatif selalu dihasilkan reaksi. Hal ini disebabkan tidak ada energi tumbukan yang diperlukan untuk memutuskan ikatan terlebih dahulu. Hal ini berbeda dengan reaksi antara senyawa- senyawa kovalen yang tidak setiap tumbukan dapat menghasilkan reaksi.

Pengaruh Konsentrasi Pada Tumbukan

Dalam konsentrasi yang relative besar, maka jumlah partikel per satuan volume juga besar. Sehingga kemungkinan terjadinya tumbukan antarpartikel di dalamnya menjadi lebih besar jika dibandingkan dengan yang terjadi pada konsentrasi yang lebih rendah.

Dengan demikian semakin besar konsentrasi zat yang bereaksi, semakin banyak partikel yang bereaksi per satuan waktu dan semakin besar laju reaksinya.

Pada beberapa jenis reaksi, peningkatan konsentrasi pereaksi tidak selalu mempercepat reaksi atau peningkatan konsentrasi tidak sebanding dengan peningkatan laju reaksinya.

Pengaruh Temperatur Pada Tumbukan

Kenaikkan temperature akan mempercepat reaksi, karena dengan kenaikkan temperatur gerakan partikel semakin cepat. Energi kinetik partikel- partikel semakin bertambah sehingga semakin banyak terjadi tumbukan yang efektif. Dengan demikian, semakin banyak partikel- partikel yang bereaksi.

Pengaruh Katalis Pada Tumbukan

Katalis adalah zat yang dapat meningkatkan laju reaksi tanpa mengakibatkan perubahan kimia yang kekal bagi zat itu sendiri. Setelah reaksi kimia berlangsung, katalis diperoleh kembali dalam keadaan dan jumlah yang sama seperti sebelum terjadi reaksi.

Agar terjadi suatu reaksi, maka partikel partikel zat harus memiliki energi minimum tertentu yang disebut energi pengaktifan. Dalam hal ini, katalis berfungsi untuk menurunkan sejumlah energi pengaktifan agar reaksi dapat berlangsung.

Pengaruh Jenis Katalis Pada Tumbukan

Katalis dapat digolongkan menjadi katalis homogen dan heterogen.

Pengaruh Katalis Homogen Pada Tumbukan

Katalis homogen adalah katalis yang memiliki fase yang sama dengan pereaksi dan bekerja melalui penggabungan dengan molekul atau ion pereaksi membentuk keadaan ‘antara’.

Keadaan antara ini bergabung dengan pereaksi lainnya membentuk produk dan setelah produk dihasilkan, katalis melakukan regenerasi sebagai zat semula.

Pengaruh Katalis Heterogen Pada Tumbukan

Katalis heterogen adalah katalis yang berbeda fase dengan pereaksi dan produk. Katalis ini biasanya padatan dalam pereaksi gas atau cairan, dan reaksi terjadi pada permukaan katalis heterogen. Untuk alasan ini, katalis biasanya dipecah- pecah menjadi butiran halus.

Daftar Pustaka

Teori Tumbukan Reaksi Kimia dan Pengertian Teori Tumbukan Reaksi Kimia dengan frekuensi tumbukan dan Pengertian satu titik tumbukan. Tumbukan Efektif dan Orientasi Tumbukan beserta posisi antarmolekul yang bertumbukan. Energi Aktivasi dan energi minimum untuk suatu reaksi serta Faktor Mempengaruhi Terjadinya Tumbukan Reaksi Kimia.

Pengaruh Luas Permukaan Sentuhan terhadap tumbukan dan Pengaruh Sifat Kimia Pereaksi terhadap tumbukan. Pengaruh Konsentrasi terhadap tumbukan dengan Pengaruh Temperatur terhadap tumbukan. Pengaruh Katalis terhadap tumbukan dan Pengaruh Jenis Katalis terhadap tumbukan. Katalis Homogen dan Katalis Heterogen.

Tata Nama Senyawa Kimia

Pengertian Tata Nama Senyawa Kimia. Penamaan senyawa diatur oleh Komisi Tata Nama IUPAC (International Union for Pure and Applied Chemistry), suatu badan di bawah UNESCO yang menyusun suatu aturan berdasarkan hasil kesepakatan para ilmuwan sedunia, hal ini dilakukan dangan tujuan agar nama senyawa di seluruh negara sama.

Tata nama senyawa yang digunakan secara seragam di seluruh dunia Terdapat dua kelompok besar senyawa, yaitu senyawa anorganik dan senyawa organik.

Tata Nama Senyawa Anorganik

Senyawa anorganik adalah golongan senyawa yang tersusun dari unsur-unsur yang tidak mengandung atom karbon organik. Umumnya senyawa anorganik relatif sederhana dan dikelompokkan ke dalam senyawa biner dan senyawa poliatom.

Senyawa anorganik terdiri dari senyawa biner dari logam dan non logam, senyawa biner dari non logam dan non logam, senyawa yang mengandung poliatom senyawa asam, basa dan garam.

Tata Nama Senyawa Biner

Senyawa biner adalah senyawa yang hanya terbentuk dari dua macam unsur yang berbeda.  Senyawa biner dibagi menjadi dua macam, yaitu senyawa logam dengan non-logam dan senyawa yang terdiri dari non-logam dengan non-logam.

Senyawa Biner dari Logam dan Non-logam

Senyawa biner dari logam dan non-logam umumnya merupakan senyawa ion sehingga biasa disebut dengan senyawa ionic. Unsur Logamnya membentuk ion positif (kation) sedangkan unsur non-logam membentuk ion negatif (anion).

Penamaan senyawa ini didasarkan pada nama unsur pembentuknya yang ditulis secara berurutan sesuai penulisan rumus kimia (lambang senyawa).

Unsur yang berada di depan disebut (ditulis dan dinyatakan) sesuai dengan nama unsur tersebut. Unsur yang berada di belakang disebut (ditulis dan dinyatakan) sesuai dengan nama unsur tersebut dengan menambahkan akhiran -ida. Jumlah atom unsur disebut (ditulis dan dinyatakan) dengan menggunakan angka Latin (jika diperlukan).

Contoh Nama Rumus Kimia Senyawa Biner Logam dan Non-logam

NO = nitrogen monoksida

NO2 = nitrogen dioksida

AlCl = aluminium klorida

FeCl3 = besi(III) klorida

SnO = timah(II) oksida

Pada senyawa biner tersebut, unsur logam menjadi kation (atau ion positif) sedangkan unsur nonlogamnya berlaku sebagai anion (atau ion negatif).

Jika ion positif dan ion negatif bergabung membentuk suatu senyawa, maka jumlah muatannya harus nol. Sebagai contoh:

Ion Fe3+ jika bergabung dengan ion S2– akan membentuk senyawa dengan rumus kimia Fe2S3, sebab untuk menjadikan netral setiap tiga ion S2– yang mempunyai muatan –2 memerlukan 2 buah ion Fe3+ yangbermuatan +3.

Ion Al3+ apabila bergabung dengan ion Cl akan membentuk senyawa dengan rumus kimia AlCl3 = Aluminium klorida, sebab untuk menjadikan netral setiap satu ion Al3+ yang bermuatan +3 memerlukan tiga ion Cl yang bermuatan –1.

Senyawa Biner Non-logam dan Non-logam

Senyawa biner yang dibentuk oleh unsur non-logam dan non logam merupakan senyawa yang tersusun atas molekul- molekul, bukan ion- ion.

Jika senyawa biner terdiri atas atom unsur nonlogam dan nonlogam, maka penamaan dimulai dari nonlogam pertama diikuti nonlogam kedua dengan diberi akhiran -ida.

HCl = Hidrogen klorida

ClF = Klorin fluorida

HBr = Hidrogen bromida

IBr = Iodin bromida

Apabila dua jenis unsur non-logam dapat membentuk lebih dari satu jenis senyawa, maka penamaannya digunakan awalan Yunani.

Awalan Angka Yunani

Mono = 1, Di = 2, Tri = 3, Tetra = 4,  Penta = 5, Heksa = 6, Hepta = 7, Okta = 8, Nona = 9, Deka = 10.

Contoh Senyawa Biner Non-logam dan Non-logam

CO = Karbon monoksida

CO2 = Karbon dioksida

N2O5 = Dinitrogen pentaoksida

PCl5 = Fosfor pentaklorida

SO3 = Belerang trioksida

Tata Nama Senyawa Anorganik Poliatomik

Senyawa anorganik poliatomik pada umumnya merupakan senyawa ion yang terbentuk dari kation monoatomic dengan anion poliatomik atau kation poliatomik dengan anion monoatomik/poliatomik. Penamaan dimulai dengan menyebut kation diikuti anionnya.

Untuk senyawa yang terdiri atas kation logam dan anion poliatom, maka penamaan dimulai dari nama kation logam diikuti nama anion poliatom.

Contoh Nama Senyawa Anorganik Poliatomik

NaOH dari Na+ dan OH nama senyawanya Natrium hidroksida;

KMnO4 dari K+ dan MnO4 nama senyawanya Kalium permanganat;

PbSO4 dari Pb2+ dan SO42- nama senyawanya Timbal (II) sulfat.

Untuk senyawa yang terdiri atas kation poliatom dan anion monoatom atau poliatom, penamaan dimulai dari nama kation poliatom diikuti nama anion monoatom atau poliatom.

Contoh:

NH4Cl = ammonium klorida

NH4CN = ammonium sianida

(NH4)2SO4 = ammonium sulfat

Tata nama senyawa poliatom yang mengandung oksigen didasarkan pada jumlah atom oksigen yang dikandungnya. Senyawa yang mengandung jumlah oksigen paling banyak diberi akhiran -at, sedangkan yang paling sedikit diberi akhiran -it.

Contoh:

Na2SO4 (natrium sulfat), Na2SO3 (natrium sulfit)

KClO3 (kalium klorat), KClO2 (kalium klorit).

Tata nama senyawa tersebut tidak memadai setelah ditemukan senyawa yang memiliki kandungan atom oksigen lebih banyak atau lebih sedikit dari senyawa senyawa tersebut. Untuk itu, senyawa yang mengandung atom oksigen lebih banyak lagi diberi awalan per-, sedangkan senyawa yang lebih sedikit dari contoh senyawa di atas diberi awalan hipo-.

Contoh:

KClO4 dinamakan kalium perklorat

KClO3 dinamakan kalium klorat

KClO2 dinamakan kalium klorit

KClO dinamakan kalium hipoklorit

Daftar Pustaka

Pengertian Tata Nama Senyawa Kimia dengan Komisi Tata Nama IUPAC. IUPAC International Union for Pure and Applied Chemistry untuk Tata Nama Senyawa Anorganik sebagai Tata Nama Senyawa Anorganik dengan Senyawa anorganik dan Tata Nama Senyawa Biner. Senyawa biner dan senyawa poliatom atau senyawa logam dan non logam.

Senyawa non logam dan non logam dengan Unsur Logam membentuk ion positif kation dan unsur non-logam membentuk ion negatif (anion).  Senyawa biner ionic sebagai Contoh Nama Rumus Kimia Senyawa Biner Logam dan Non-logam dengan jumlah muatan senyawa harus nol.

Senyawa Biner Non-logam dan Non-logam dengan Contoh Senyawa Biner Non-logam dan Non-logam. Tata Nama Senyawa Anorganik Poliatomik dengan Contoh Nama Senyawa Anorganik Poliatomik.

Teori Asam Basa Lewis

Pengertian Teori Asam Basa Lewis.  Pada tahun 1923 G.N. Lewis seorang ahli kimia dari Amerika Serikat, memperkenalkan teori asam dan basa yang tidak melibatkan transfer proton, tetapi melibatkan penyerahan dan penerimaan pasangan elektron bebas.

Lewis menyampaikan teori baru tentang asam basa sehingga partikel ion atau molekul yang tidak mempunyai atom hidrogen atau proton dapat diklasifikasikan ke dalam asam dan basa.

Pengertian Asam Basa Lewis

Berdasarkan perssamaan reaksi asam basa yang disampaikannya, Lewis menyatakan bahwa asam adalah suatu molekul atau ion yang dapat menerima pasangan elektron, sedangkan basa adalah suatu molekul atau ion yang dapat memberikan pasangan elektronnya.

Dengan demikian, Menurut G.N. Lewis, senyawa asam adalah senyawa yang dapat menerima pasangan elektron (atau akseptor pasangan elektron), sedangkan senyawa basa adalah suatu senyawa yang dapat memberikan pasangan elektron kepada senyawa lain (atau donor pasangan elektron),

Ion H+ merupakan asam Lewis, karena Ion H+ menerima pasangan elektron, sedangkan OH dan NH3 adalah basa Lewis, karena keduanya adalah penyumbang pasangan elektron.

Contoh Asam Basa Teori Lewis.

Teori asam basa Lewis dapat digambarkan pada reaksi berikut.

Boron Trifluorida dan Fluor

Contoh Asam Basa Teori Lewis
Contoh Asam Basa Teori Lewis

BF3 bertindak sebagai asam, dapat menerima pasangan elektron dari F. Fbertindak sebagai basa, dapat memberikan pasangan elektron kepada BF3.

Boron Trifluorida dengan Amonia

NH3 menyerahkan pasangan elektron bebasnya kepada molekul BF3. Menurut teori ini NH3 bertindak sebagai asam dan BF3 bertindak sebagai basa. Pada pembentukan senyawanya terjadi ikatan kovalen koordinasi.

Contoh Asam Basa Teori Lewis. Ikatan Kovalen
Contoh Asam Basa Teori Lewis. Ikatan Kovalen

Reaksi antara Na2O dan SO3

Reaksi ini melibatkan reaksi ion oksida O2– dari Na2O padat dan gas SO3.

Na2O(s) + SO3(g) = Na2SO4(s)

Atau O2– + SO3 –> [SO4]2–

Pada reaksi tersebut, SO3 menerima pasangan electron dari ion O2– dan pada waktu bersamaan, pasangan electron ikatan dari S = O bergerak ke arah atom O, jadi O2– merupakan basa Lewis dan SO3 adalah asam Lewis.

Yang cukup menarik definisi asam dari teori Lewis adalah terdapatnya senyawa yang tidak memiliki hidrogen dapat bertindak sebagai asam. Contohnya adalah molekul BF3.

Dengan menentukan struktur Lewis dari BF3, diketahui B kurang dari oktet dan dapat menerima pasangan elektron, sehingga dapat bertindak sebagai asam Lewis.

Dalam kenyataan molekul yang tidak mencapai oktet sering merupakan asam Lewis yang kuat karena molekul tersebut dapat mencapai konfigurasi oktet dengan menerima pasangan elektron tak berikatan.

Senyawa yang termasuk dalam perioda yang lebih bawah dari perioda dua pada system periodic unsur kimia dapat bertindak sebagai asam Lewis yang sangat baik, dengan memperbanyak susunan valensi terluarnya.

Keunggulan Teori  Asam Basa Lewis

Beberapa keunggulan dari teori asam basa Lewis adalah sebagai berikut.

Teori asam basa Lewis dapat menjelaskan sifat asam, basa dalam pelarut lain atau pun tidak mempunyai pelarut.

Teori asam basa Lewis dapat menjelaskan sifat asam basa molekul atau ion yang mempunyai pasangan elektron bebas atau yang dapat menerima pasangan elektron bebas. Contohnya pada pembentukan senyawa komplek.

Dapat menjelaskan sifat basa untuk zat- zat organic seperti DNA dan RNA yang mengandung atom nitrogen yang memiliki pasangan elektron bebas.

Daftar Pustaka

Teori Asam Basa Lewis dengan Pengertian Asam Basa Lewis dan Teori asam basa beradasarkan serah terima pasangan elektron bebas. Senyawa Asam Lewis menerima pasangan electron dan Senyawa Basa Lewis memberikan pasangan electron.

Senyawa Asam sebagai akseptor pasangan electron sedangkan senyawa basa donor pasangan electron. Contoh Asam Basa Teori Lewis sebagai Contoh gambar teori asam basa Lewis. Konfigurasi oktet teori asam Lewis dengan Keunggulan Teori  Asam Basa Lewis dan sifat basa zat organic DNA dan RNA.

Teori Asam Basa Arrhenius

Pengertian Asam dan Basa. Senyawa asam dan basa banyak dijumpai dalam kehidupan sehari-hari. Secara umum zat- zat yang berasa masam mengandung asam, misalnya asam sitrat pada jeruk, asam cuka, asam tartrat pada anggur, asam laktat ditimbulkan dari air susu yang rusak.

Sedangkan basa umumnya mempunyai sifat yang licin dan berasa pahit, misalnya sabun, para penderita penyakit maag selalu meminum obat yang mengandung magnesium hidroksida

Konsep tentang asam dan basa sudah dikenal sejak abad 18-an. Untuk pertama kalinya, pada tahun 1884 seorang ilmuwan asal Swiss yang bernama Svante August Arrhenius, menyatakan suatu teori tentang asam basa.

Arrhenius berpendapat bahwa dalam air, larutan asam dan basa akan mengalami penguraian menjadi ion- ionnya.

Senyawa Asam

Pengertian Senyawa Asam. Menurut Arrhenius, larutan bersifat asam jika senyawa tersebut melepaskan ion hidronium (H3O+) saat dilarutkan dalam air. Sebagai contohnya, asam asetat (CH3COOH) yang dilarutkan dalam air melepaskan ion hidronium seperti reaksi berikut.

CH3COOH(aq) + H2O(l) –>H3O+(aq) + CH3COO(aq)

Untuk memudahkan dalam pembahasan, biasanya digunakan H+ sebagai pengganti dari ion hidronium (H3O+) dan penghilangan molekul air yang melarutkan senyawa tersebut sehingga reaksi di atas dapat ditulis seperti di bawah ini.

CH3COOH(aq) –> H+(aq) + CH3COO(aq)

Para ahli kimia berpendapat bahwa ion H+ hampir tidak bisa berdiri sendiri dalam larutan. Hal ini dikarenakan ion H+ merupakan ion dengan jari- jari ion yang sangat kecil. Oleh karena itu, ion H+ terikat dalam suatu molekul air dan sebagai ion oksonium (H3O+). Akan tetapi, ion H3O+ lebih sering ditulis ion H+.

Berdasarkan teori Arrhenius, yang menyebabkan asam suatu larutan adalah ion H+ yang dihasilkan saat proses ionisasi. Jumlah ion H+ dari ionisasi 1 mol asam disebut valensi asam, sedangkan anionnya yang bermuatan negative disebut sebagai ion sisa asam.

Ion H+ inilah yang sebenarnya pembawa sifat asam dan yang menyebabkan warna kertas lakmus biru menjadi merah. Dengan demikian, larutan asam adalah senyawa yang jika dilarutkan dalam air menghasilkan ion H+.

Menurut teori Arrhenius, hidrogen klorida adalah asam karena dapat mengionisasi ketika larut dalam air dan memberikan ion hidrogen (H+) dan klorida (Cl) seperti yang ditunjukkan pada reaksi berikut.

HCl(g) –> H+(aq) + Cl(aq)

Hidrogen klorida –> ion hydrogen + ion klor

Larutan Asam yang banyak menghasilkan ion hidrogen H+ disebut asam kuat, sedangkan asam yang menghasilkan sedikit ion H+ disebut asam lemah.

Sifat kuat atau lemah dari asam dapat diketahui dengan menggunakan alat uji elektrolit. Jumlah ion H+ yang dilepaskan oleh asam disebut valensi asam.

Jenis Jenis Senyawa Asam

Satu molekul asam yang dalam pelarut air dapat memberikan satu ion H+ disebut asam monoprotik dan yang dapat memberikan dua ion H+ dalam larutannya disebut asam diprotik, sedangkan yang dapat memberikan tiga ion H+ dalam larutannya disebut asam triprotik.

Berikut ini diberikan beberapa contoh asam monoprotik, diprotik, dan tripotik serta reaksi ionisasinya.

Asam Monoprotik.

Asam monoprotic adalah senyawa asam yang dapat melepaskan satu ion H+.

Contoh Asam monoprotic adalah Asam Fluorida HF, asam bromide HBr, asam sianida HCN, asam perklorat HClO4 dan asam nitrit HNO2

Asam Diprotik

Asam diprotik adalah senyawa asam yang dapat melepaskan dua ion H+.

Contoh asam diprotic adalah asam sulfida H2S, asam sulfit H2SO3, Asam karbonat H2CO3, asam oksalat H2C2O4, dan asam sulfat H2SO4.

Asam Triprotik

Asam triprotik adalah senyawa asam yang dapat melepaskan tiga ion H+.

Contoh asam tripotik adalah asam fosfit H3PO3, asam fosfat H3PO4, asam arsenit H3AsO3 dan asam arsenat H3PO4.

Senyawa Basa

Arrhenius juga berpendapat bahwa basa adalah senyawa yang mengionisasi dalam air untuk memberikan ion OH- dan ion positif.

Contoh Senyawa Basa

Natrium hidroksida dalam air.

NaOH(aq) –> Na+(aq) + OH(aq)

Gas amonia dalam air.

Gas amonia akan bereaksi dengan air dan setelah itu menghasilkan ion OH.

NH3(g) + H2O(l) = NH4+ (aq) + OH(aq)

Berdasarkan pada persamaan reaksi ionisasi basanya dapat diketahui bahwa senyawa basa dalam air akan terionisasi menghasilkan ion OH. Dengan demikian, sifat basa suatu senyawa atau larutan disebabkan oleh adanya ion OH .

Ion OH merupakan ion yang berkontribusi dan pembawa sifat basa yang menyebabkan warna kertas lakmus merah berubah menjadi biru.

Basa yang dalam larutan banyak menghasilkan ion OH disebut basa kuat, sedangkan yang sedikit menghasilkan ion OH disebut basa lemah.

Jenis Jenis Senyawa Basa

Senyawa basa dapat dikelompokan berdasarkan jumlah gugus OH yang dapat dilepas, yaitu basa monohidroksi dan polihidroksi.

Senyawa Basa Monohidroksi

Basa monohidroksi adalah senyawa basa yang dapat melepaskan satu ion OH.

Contoh Senyawa Basa Monohidroksi adalah NaOH, KOH, dan NH4OH.

Basa  Polihidroksi

Basa polihidroksi adalah senyawa basa yang dapat melepaskan lebih dari satu ion OH. Basa ini dapat dibagi menjadi

Basa Dihidroksi

Basa dihidroksi adalah senyawa basa yang dapat melepaskan dua ion OH.

Contoh Senyawa Basa Dihidroksi Mg(OH)2 dan Ba(OH)2.

Basa Trihidroksi

Basa trihidroksi adalah senyawa basa yang melepaskan tiga ion OH.

Contoh Senyawa Basa Trihidroksi Fe(OH)3 dan Al(OH)3.

Daftar Pustaka

Teori Asam Basa Arrhenius dengan Pengertian Senyawa asam dan basa sebagai contoh senyawa asam dan Contoh senyawa basa. Konsep teori asam basa Arrhenius dengan Pengertian Asam Kuat dan Pengertian asam lemah sebagai contoh asam kuat. Contoh asam lemah dengan Jumlah ion Hsebagai pengertian valensi asam. Pengaruh jumlah ion H terhadap keasaman larutan senyawa dan Jenis Jenis Senyawa Asam.

Asam Monoprotik sebagai Contoh Asam monoprotic dan Asam Diprotik dengan Contoh asam diprotic. Asam Triprotik dengan Contoh asam tripotik dengan Senyawa Basa beserta Contoh Senyawa Basa. Pengaruh jumlah Ion OH terhadap keasaman senyawa dan senyawa basa lemah.

Contoh basa lemah dengan Jenis Jenis Senyawa Basa dan Senyawa Basa Monohidroksi sebagai Contoh Senyawa Basa Monohidroksi. Basa  Polihidroksi dengan contoh Basa polihidroksi. Basa Dihidroksi dengan Contoh Senyawa Basa Dihidroksi dan Basa Trihidroksi sebagai Contoh Senyawa Basa Trihidroksi.

Larutan Elektrolit dan Non Elektrolit

Pengertian Larutan.  Larutan dapat diartikan sebagai campuran dua atau lebih zat yang membentuk satu macam fasa secara homogen. Sifat kimia setiap zat yang membentuk larutan tidak berubah. Arti homogen menunjukkan tidak ada kecenderungan zat -zat yang membentuk larutan terkonsentrasi pada bagian- bagian tertentu, melainkan terdistribusi secara merata di seluruh campuran.

Sifat sifat fisika zat yang dicampurkan dapat berubah atau tidak berubah, namun demikian sifat sifat kimia zat yang membentuk campuran tidak berubah.

Suatu Larutan terdiri dari dua komponen, yaitu komponen zat terlarut dan komponen pelarut.

Zat Pelarut

Pelarut adalah zat yang digunakan sebagai media untuk melarutkan zat lain. Umumnya, pelarut merupakan jumlah terbesar dari sistem larutan.

Zat Terlarut

Zat terlarut adalah komponen dari larutan yang memiliki jumlah lebih sedikit dalam sistem larutan. Selain ditentukan oleh kuantitas zat, istilah pelarut dan terlarut juga ditentukan oleh sifat fisikanya atau strukturnya. Pelarut memiliki struktur yang tidak berubah, sedangkan Struktur Zat terlarut dapat berubah,

Contoh Larutan

Larutan yang terbuat dari campuran 50 gram garam dapur di dalam 200 gram air. Air disebut sebagai pelarut, sedangkan garam dapur (atau NaCl) disebut sebagai zat terlarut.

Jenis Jenis Larutan

Larutan Berdasrkan Wujud Pelarutnya dapat dibagi menjadi:

Larutan Cair merupakan larutan yang terbentuk dari zat cair dan cair atau cair dan padat, contohnya adalah larutan gula yang merupakan campuran air dan gula, larutan garam dapat dibuat dari campuran air dan garam.

Larutan Padat merupakan larutan yang terbentuk dari zat padat dengan zat padat, contohnya adalah logam emas 22 karat yang merupakan campuran homogen antara emas dan perak atau logam lain. Logam kuningan adalah contoh sistem larutan padat yang terdiri dari campuran tembaga dan seng.

Larutan Gas merupakan larutan yang terdiri dari campuran gan, contohnya adalah udara di atmosfir yang terdiri dari gas oksigen dan nitrogen.

Berdasarkan Daya hantar listriknya Larutan dibagi menjadi larutan elektrolit dan larutan non elketrolit.

Larutan Elektrolit

Zat elektrolit adalah zat yang dalam bentuk larutannya dapat menghantarkan arus listrik karena telah terionisasi menjadi ion-ion bermuatan listrik. Contoh larutan elektrolit adalah larutan asam sulfat, natrium hidroksida, garam dapur, asam cuka, dan amonium hidroksida.

Larutan Non Elktrolit

Zat nonelektrolit adalah zat yang dalam bentuk larutannya tidak dapat menghantarkan arus listrik karena tidak terionisasi menjadi ion-ion, tetapi tetap dalam bentuk molekul. Contoh larutan non elektrolit adalah larutan gula dan larutan urea.

Teori Ion Svante August Arrhenius

Ilmuwan bernama Svante August Arrhenius (1859 – 1927) dari Swedia yang pertama kali menjelaskan tentang suatu larutan yang mampu menghantarkan arus listrik. Menurut Arrhenius, zat elektrolit dalam larutannya akan terurai menjadi partikel- partikel yang berupa atom atau gugus atom yang bermuatan listrik yang dinamakan ion.  Ion yang bermuatan positif disebut kation, dan ion yang bermuatan negatif disebut anion.

Peristiwa terurainya suatu elektrolit menjadi ion- ionnya disebut proses ionisasi. Ion- ion zat elektrolit tersebut selalu bergerak bebas dan ion- ion inilah yang sebenarnya menghantarkan arus listrik melalui larutannya.

Sedangkan zat non elektrolit ketika dilarutkan ke dalam air tidak terurai menjadi ion- ion, namun tetap berada dalam bentuk molekul yang tidak bermuatan listrik. Hal inilah yang menyebabkan larutan nonelektrolit tidak dapat menghantarkan arus listrik.

Dengan demikian dapat dijelaskan perbedaan antara larutan elektrolit dengan larutan non elektrolit adalah sebagai berikut

Larutan elektrolit dapat menghantarkan arus listrik karena zat elektrolit dalam larutannya terurai menjadi ion-ion bermuatan listrik dan ion-ion tersebut selalu bergerak bebas.

Larutan nonelektrolit tidak dapat menghantarkan arus listrik karena zat nonelektrolit dalam larutannya tidak terurai menjadi ion-ion, tetapi tetap dalam bentuk molekul yang tidak bermuatan listrik.

Elektrolit Kuat dan Elektrolit Lemah

Berdasarkan kuat-lemahnya daya hantar listrik, larutan elektrolit dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu larutan elektrolit kuat dan larutan elektrolit lemah.

Larutan Elektrolit Kuat

Larutan elektrolit kuat adalah larutan elektrolit yang mengalami ionisasi secara sempurna. Contoh larutan elektrolit kuat adalah larutan H2SO4, larutan NaOH, dan larutan NaCl.

Larutan Elektrolit Lemah.

Larutan elektrolit lemah adalah larutan elektrolit yang mengalami sedikit ionisasi (atau mengalami ionisasi tidak sempurna). Contoh larutan elektrolit lemah adalah larutan CH3COOH dan larutan NH4OH.

Daftar Pustaka

Larutan Elektrolit Non Elektrolit dan Larutan Elektrolit Non Elektrolit. Pengertian Larutan dan Zat Pelarut dengan pengertian zat pelarut atau campuran fasa secara homogen. Zat Terlarut atau Pengertian zat terlarut serta struktur Pelarut tidak berubah. Struktur Zat terlarut dapat berubah dengan Contoh Larutan dan  Jenis Jenis Larutan. Larutan cair dengan contoh larutan cair. Larutan padat dengan  contoh larutan padat.

Larutan gas dengan contoh larutan gas. Daya hantar listrik Larutan dengan Larutan Elektrolit dan contoh larutan elektrolit. Zat elektrolit dengan Larutan Non Elktrolit dan Conoth Zat nonelektrolit. Contoh larutan non elektrolit dengan Teori Ion Svante August Arrhenius. Ion bermuatan positif sebagai pengertian kation dan ion bermuatan negative sebagai pengertian anion.

Elektrolit Kuat dan Elektrolit Lemah dengan Contoh Elektrolit Kuat dan Contoh Elektrolit Lemah. Larutan Elektrolit Kuat dengan Larutan elektrolit kuat. Contoh larutan elektrolit kuat dengan  Larutan Elektrolit Lemah dan  Contoh larutan elektrolit lemah.

Persamaan Reaksi Kimia

Pengertian Persamaan Reaksi Kimia. Persamaan reaksi menunjukkan reaksi kimia, yang terdiri dari rumus kimia zat- zat pereaksi dan zat- zat hasil reaksi disertai dengan koefisien dan fasa masing- masing. Reaksi kimia mengubah zat- zat asal yaitu pereaksi menjadi zat baru yaitu produk.

Persamaan reaksi adalah persamaan yang menunjukkan hubungan zat- zat kimia yang terlibat sebelum dan sesudah reaksi kimia. Persamaan reaksi dinyatakan dengan rumus kimia zat- zat yang bereaksi dan hasil reaksi, angka koefisien, dan fase atau wujud zat.

Penulisan Persamaan Reaksi Kimia

Zat- zat yang bereaksi disebut pereaksi atau reaktan dituliskan di sebelah kiri tanda anak panah, sedangkan zat- zat hasil reaksi atau produk reaksi dituliskan di sebelah kanan tanda anak panah.

Perubahan dari pereaksi menjadi hasil reaksi digambarkan dengan tanda anak panah. Angka koefisien menyatakan jumlah partikel atau zat dari setiap pereaksi dan hasil reaksi. Angka koefisien dituliskan di depan rumus kimia zat, agar reaksi menjadi setara.

Reaksi dikatakan setara jika jumlah atom di sebelah kiri tanda panah sama dengan jumlah atom di sebelah  kanan tanda anak panah. Dengan demikian reaksi sesuai dengan Hukum Kekekalan Massa.

Jenis dan jumlah atom yang terlibat dalam reaksi tidak berubah, tetapi ikatan kimia di antaranya berubah. Ikatan kimia dalam pereaksi diputuskan dan terbentuk ikatan baru dalam produknya. Atom- atom ditata ulang membentuk produk reaksi.

Perubahan yang terjadi dapat dipaparkan dengan menggunakan rumus kimia zat-zat yang terlibat dalam reaksi.

Rumus Kimia Zat Persamaan Reaksi

Zat- zat yang terlibat dalam reaksi kimia dinyatakan oleh rumus kimianya. Rumus pereaksi diletakkan di ruas kiri dan hasil reaksi diletakkan di ruas kanan. Kedua ruas dihubungkan oleh tanda panah yang menyatakan arah reaksi.

Koefisien Persamaan Reaksi Kimia

Koefisien reaksi menyatakan jumlah partikel dari setiap pereaksi dan produk reaksi. Contoh persamaan reaksi kimia adalah

2Na(s) + Cl2(g) –> 2NaCl(s)

Koefisien reaksi Na = 2

Koefisien reaksi Cl = 1

Koefisien reaksi NaCl = 2

Pada contoh di atas, 2 molekul Na bereaksi dengan 1 molekul Cl2 menghasilkan 2 molekul NaCl. Koefisien reaksi 1 umumnya tidak ditulis.

Koefisien reaksi diberikan agar persamaan reaksi sesuai dengan Hukum Kekekalam Massa dari Lavoisier, yang menyatakan bahwa: “ Massa zat sebelum dan sesudah reaksi adalah sama”

Wujud Zat Persamaan Reaksi Kimia

Selain menggambarkan rumus kimia, persamaan reaksi yang sempurna juga menunjukkan wujud zat yang terlibat dalam reaksi. Wujud zat dalam persamaan reaksi dinotasikan atau disimbolkan dengan:

s =solid (zat padat)

l = liquid (zat cair)

aq = aqueous (larutan dalam air)

g = gas

Syarat Persamaan Reaksi Kimia Setara

Persamaan reaksi yang sempurna disebut juga persamaan reaksi yang telah setara. Syarat syarat persamaan reaksi setara adalah sebagai berikut.

  1. Jenis unsur- unsur sebelum dan sesudah reaksi selalu sama.
  2. Jumlah masing- masing atom sebelum dan sesudah reaksi selalu sama, sehingga memenuhi hukum kekekalan massa.
  3. Perbandingan koefisien reaksi menyatakan perbandingan mol. Khusus yang berwujud gas perbandingan koefisien juga menyatakan perbandingan volume dengan suhu dan tekanannya sama.
  4. Pereaksi dan hasil reaksi dinyatakan dengan rumus kimia yang benar.
  5. Wujud zat- zat yang terlibat reaksi harus dinyatakan dalam tanda kurung setelah rumus kimia.

Untuk membuat persamaan reaksi menjadi setara diperbolehkan mengubah jumlah rumus kimia (jumlah molekul atau satuan rumus), tetapi tidak boleh mengubah rumus kimia zat-zat yang terlibat persamaan reaksi.

Contoh Persamaan Reaksi Kimia

Contoh: natrium hidroksida direaksikan dengan asam klorida menghasilkan natrium klorida dan air.

Maka persamaan reaksinya:

natrium hidroksida + asam klorida à natrium klorida + air

NaOH(aq) + HCl(aq) –> NaCl(aq) + H2O(aq)

NaOH dan HCl disebut pereaksi atau reaktan

NaCl dan H2O disebut hasil reaksi

Dalam persamaan reaksi berlaku jumlah atom sebelum dan sesudah reaksi adalah sama. Pada reaksi tersebut:

Atom Na di kiri 1 dan di kanan 1

Atom O di kiri 1 dan di kanan 1

Atom H di kiri 2 dan di kanan 2

Atom Cl di kiri 1 dan di kanan 1

Jumlah atom di kiri 5 atom sedang di kanan juga 5 atom, maka persamaan tersebut telah setara. Jika jumlah atom sebelum dan sesudah reaksi tidak sama, maka persamaan reaksi tersebut belum setara.

Contoh Soal Ujian Nasional Persamaan Reaksi Kimia

Selesaikan persamaan reaksi kimia antara Mg(OH)2 dengan HCl berikiut

Mg(OH)2(aq) + HCl(aq) –> MgCl2(aq) + H2O(l)

Langkah 1

jumlah atom Mg di kiri = 1, di kanan = 1 (sudah sama)

jumlah atom O di kiri = 2, di kanan = 1 (belum sama)

jumlah atom H di kiri = 2 + 1 = 3, di kanan = 2 (belum sama)

jumlah atom Cl di kiri = 1, di kanan = 2 (belum sama)

Langkah 2

atom Cl dalam HCl dikalikan 2

Mg(OH)2(aq) + 2 HCl(aq) –> MgCl2(aq) + H2O(l)

Langkah 3

atom O dalam H2O dikalikan 2

Mg(OH)2(aq) + 2 HCl(aq) –> MgCl2(aq) + 2 H2O(l)

Langkah 4

Jumlah atom Mg di kiri = 1, di kanan = 1 (sudah sama)

Jumlah atom O di kiri = 2, di kanan = 2 (sudah sama)

Jumlah atom H di kiri = 2 + 2 = 4, di kanan = 4 (sudah sama)

Jumlah atom Cl di kiri = 2, di kanan = 2 (sudah sama)

Jadi, Persamaan reaksi kimia dalam keadaan setara adalah

Mg(OH)2(aq) + 2 HCl(aq) –> MgCl2(aq) + 2 H2O(l).

Daftar Pustaka

Pengertian Persamaan Reaksi Kimia dengan Persamaan Reaksi Kimia dan Contoh Persamaan reaksi kimia serta rumus kimia zat pereaksi. Rumus kimia zat produk reaksi dengan pengertian koefisien reaksi kimia dan fase atau wujud zat reaksi kimia. Penulisan Persamaan Reaksi Kimia dengan Fungsi koefisien reaksi kimia dan Hukum Kekekalan Massa reaksi kimia.

Rumus Kimia Zat Persamaan Reaksi dengan Conoh koefisien reaksi kimia dan Wujud Zat Persamaan Reaksi Kimia. Simbol wujud zat reaksi kimia dengan Syarat Persamaan Reaksi Kimia Setara. Contoh Soal Ujian Nasional Persamaan Reaksi Kimia dan Cara membuat persamaan reaksi kimia.

Sifat Logam Unsur Kimia

Pengertian Sifat Logam Unsur Kimia. Berdasarkan sifat kelogamannya, secara umum unsur dalam system periodic dapat dikatagorikan menjadi tiga kategori, yaitu unsur logam, unsur non logam, dan unsur metaloid (atau unsur semi logam).

Logam yang umum dijumpai diantaranya adalah besi, aluminium, tembaga, perak, emas, dan lain-lain.

Pada umumnya logam mempunyai sifat – sifat fisis yang diantaranya adalah:

  1. memiliki daya hantar panas yang baik;
  2. memiliki daya hantar listrik yang baik;
  3. memiliki permukaan yang mengkilap;
  4. memiliki kemampuan untuk ditempa menjadi lempeng tipis;
  5. memiliki kemampuan untuk meregang jika ditarik.

Kemampuan logam untuk dapat meregang ketika dilakukan penarikan disebut duktilitas atau keuletan. Kombinasi dari Kemampuan logam untuk meregang dan kemampuan untuk menghantarkan listrik dapat dimanfaatkan untuk dibuat kawat atau kabel listrik.

Kemampuan logam berubah bentuk jika ditempa ditekan dan ditarik disebut mampu bentuk. Kemampuan logam berubah bentuk saat diproduksi dimanfaatkan untuk membuat berbagai macam jenis barang, misalnya golok, pisau, cangkul, dan lain -lain.  Sifat- sifat tersebut dimiliki oleh unsur logam secara spesifik namun tidak dimiliki oleh unsur- unsur bukan logam (non logam).

Dengan memperhatikan konfigurasi elektronnya, unsur- unsur logam cenderung melepaskan elektron (memiliki energi ionisasi yang reltif kecil), sedangkan unsur- unsur non logam cenderung menangkap elektron (memiliki energi ionisasi yang relative lebih besar).

Dengan demikian, dapat dilihat kecenderungan sifat logam dalam sistem periodik, yaitu dalam satu golongan dari atas ke bawah semakin besar dan dalam satu periode dari kiri ke kanan semakin kecil.

Jika dilihat pada tabel periodik unsurnya, unsur unsur logam berletak pada bagian kiri, sedangkan unsur- unsur non logam terletak di bagian kanan (lihat tabel periodik unsur).

Pada tabel periodik, batas antara unsur -unsur logam dan non logam sering digambarkan dengan tangga diagonal yang bergaris tebal. Unsur -unsur di daerah perbatasan mempunyai sifat ganda.

Misalnya logam berilium (Be) dan aluminium (Al), logam -logam tersebut memiliki beberapa sifat bukan logam, dan biasa disebut unsur amfoter. Adapun logam yang berada di sebelahnya (dalam tabel periodik) yaitu Boron (B) dan Silikon (Si) merupakan unsur non logam yang memilki beberapa sifat logam, dan disebut unsur metaloid.

Daftar Pustaka

Sifat Logam Unsur Kimia dengan unsur non logam dan Pengertian unsur metaloid. Contoh unsur metaloid dan sifat logam daya hantar panas. Sifat Logam daya hantar listrik dengan Conoh unsur logam.

Contoh unsur non logam dengan sifat logam dalam sistem periodic dan pengertian unsur amfoter serta Contoh unsur amfoter.