Faktor Produksi Modal, Capital Resources

Pengertian Produksi. Produksi adalah kegiatan yang menghasilkan barang dan jasa baru sehingga dapat menambah jumlah, mengubah bentuk, atau memperbesar ukurannya. Produksi juga yang diartikan sebagai kegiatan untuk meningkatkan atau menambah daya guna suatu barang sehingga lebih bermanfaat.

Berdasarkan uraian di atas, secara keseluruhan pengertian produksi adalah setiap usaha atau kegiatan manusia untuk menciptakan atau menambah daya guna suatu benda dan jasa untuk memenuhi kebutuhan manusia.

Tujuan Produksi.

Bedasarkan pada kepentingan produsen, tujuan produksi adalah untuk menghasilkan barang yang dapat memberikan keuntungan laba. Tujuan tersebut dapat tercapai, jika barang atau jasa yang diproduksi sesuai dengan kebutuhan masyarakat.

Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa sasaran kegiatan produksi adalah melayani kebutuhan masyarakat atau untuk memenuhi kebutuhan hidup masyarakat secara umum.

Pengertian Faktor Produksi.

Untuk dapat melaksakan kegiatan produksi diperlukan bahan- bahan yang memungkinkan dilakukannya produksi, seperti mesin, gedung, lahan atau tanah dan sumber daya alam, tenaga manusia, modal dalam segala bentuknya, serta kecakapan atau keterampilan tertentu.

Semua bahan – bahan yang digunakan untuk dapat terlaksananya produksi dinamakan faktor- faktor produksi. Dengan kata lain, faktor produksi adalah semua unsur yang digunakan untuk menghasilkan atau memperbesar dan meningkatkan nilai guna suatu barang dan jasa.

Pengertian Faktor Produksi Modal.

Salah satu factor produksi adalah factor produksi modal atau Capital Resources. Modal adalah segala yang digunakan untuk menghasilkan barang dan jasa. Modal dapat meliputi uang, teknologi, peralatan, mesin- mesin, tanah, informasi, dan sebagainya.

Menurut ilmu ekonomi, modal adalah barang- barang modal (atau real capital goods) yang meliputi semua jenis barang yang digunakan untuk menunjang kegiatan produksi barang-barang lain.

Jenis Jenis Modal Kerja.

Modal Menurut Sumbernya

Modal Sendiri, yaitu modal yang berasal dari kekayaan atau investasi perseorangan atau pemilik perusahaan.

Contoh modal milik sendiri, Misalnya, gedung dan kendaraan atau Saham pemilik, laba yang diinvestasikan kembali, dan sebagainya.

Modal Asing atau Pinjaman, yaitu modal yang berasal dari pihak lain yang biasanya berupa pinjaman

Contoh Modal Asing adalah utang dagang, gaji yang belum dibayar, utang pajak, utang jangka panjang, dan sebagainya

Modal Menurut Wujudnya

Modal Konkret, artinya modal yang jelas wujudnya, tetapi dapat dilihat.

Contoh Modal Konkret adalah gedung, mesin, dan peralatan.

Modal Abstrak, artinya modal yang tidak terlihat, tetapi kegunaannya dapat dirasakan.

Contoh Modal Abstrak adalah nama baik perusahaan, keahlian karyawan, dan hak cipta.

Modal Menurut Sifatnya

Modal Tetap (fixed capital), yaitu modal yang dapat digunakan untuk proses produksi dalam jangka waktu yang lama, atau beberapa kali proses produksi.

Contoh Modal Tetap adalah tanah, gedung, mesin-mesin, kendaraan, komputer, dan sebagainya.

Modal Lancar (variable capital), yaitu modal yang habis terpakai dalam satu kali proses produksi.

Contoh Modal Lancar adalah bahan mentah atau bahan baku, bahan bakar, dan sebagainya

Modal Menurut Pemiliknya

Modal Perseorangan, yaitu modal tersebut dimiliki oleh perseorangan.

Contoh Modal Perseorangan adalah, Gedung, peralatan, mesin, kendaraan dan sebagainya.

Modal Masyarakat, yaitu modal tersebut dimiliki oleh banyak orang dan untuk kepentingan orang banyak.

Contoh Modal Milik Masyarakat adalah jalan, jembatan, sarana umum dan sebagainya.

Daftar Pustaka

Faktor Produksi Modal (Capital Resources) dan Pengertian Produksi dengan Proses meningkatkan daya guna barang. Tujuan Produksi serta Pengertian Faktor Produksi dan Pengertian Faktor Produksi Modal. Pengertian Capital Resources dan Pengertian real capital goods atau Jenis Jenis Modal Kerja.

 Modal Menurut Sumbernya dan Modal Sendiri atau Contoh modal milik sendiri dengan  Modal Asing atau Pinjaman. Contoh Modal Asing dengan Modal Menurut Wujudnya dan Modal Konkret beserta Contoh modal konkret. Modal Abstrak dengan Contoh modal abstrak dan Modal Menurut Sifatnya.  Modal Tetap (fixed capital) serta Contoh Modal Tetap.

Modal Lancar (variable capital) dan Contoh Modal Lancar walaupun Modal Menurut Pemiliknya. Modal Perseorangan tapi Contoh Modal Perseorangan. Modal Masyarakat dan Contoh Modal Milik Masyarakat.

Teori Perilaku Konsumen

Pengertian Konsumen. Konsumen adalah masyarakat yang menerima pendapatan dalam bentuk uang dan kemudian mentransaksikannya dengan membeli barang dan jasa untuk memenuhi kebutuhan hidupya.

Selain itu, yang termasuk sebagai konsumen adalah anggota masyarkat yang dependen terhadap penerima penghasilan seperti anak yang masih sekolah namun ikut menentukan anggaran rumah tangga. Setiap konsumen menetapkan permintannya untuk setiap barang dan jasa yang tersedia di pasar. Jumlah seluruh permintaan masyarakat terhadap barang dan jasa dinyatakan sebagai permintaan pasar.

Konsumen berusaha mengalokasikan pendapatannya untuk membeli barang dan jasa yang tersedia di pasar dengan mengoptimalkan semua alternatifnya sehingga tingkat kepuasan yang diperolehnya menjadi maksimum.

Sedangkan Perusahaan sebagai produsen yang penawarkan barang dan jasa akan mengoptimalkan proses produksinya agar menghasilkan barang dan jasa yang dapat memberikan kepuasan terhadap pelanggannya. Produsen yang dapat mengorganisir produksi secara efisien akan memperoleh keuntungan.

Tujuan utama dari konsumen dalam mengonsumsi suatu produk atau barang dan jasa adalah untuk memaksimalkan kepuasan total (total utility). Kepuasan total dapat didefinisikan sebagai suatu keadaan yang mencerminkan kebutuhan, keinginan, dan harapan konsumen dapat terpenuhi melalui produk, barang dan jasa yang dikonsumsinya.

Kepuasan total konsumen dapat dioptimalkan jika barang tersebut memiliki nilai tukar dan nilai pakai yang tinggi. Ini artinya, jika suatu produk, barang dan jasa dapat memenuhi kebutuhan, keinginan, dan harapan mayarakat konsumen, maka konsumen akan bersedia membayar dengan harga yang lebih tinggi.

Untuk menjelaskan perilaku konsumen dalam memperoleh kepuasan terhadap barang dan jasa yang dikonsumsinya dapat dilakukan dengan dua pendekatan, yaitu pendekatan kardinal dan pendekatan ordinal. Berikut ini penjelasan tentang kedua pendekatan tersebut:

Pendekatan Kardinal, Pendekatan Utilitas

Pendekatan kardinal berasumsi bahwa kepuasan konsumen yang diperoleh dari kegiatan konsumsi barang dan atau jasa dapat diukur dan dinyatakan secara kuantitatif. Hal ini Artinya kepuasan konsumen dapat diukur dan dinyatakan dengan angka sebagaimana mengukur berat benda, tinggi benda dan seterusnya.

Kepuasan konsumen yang didapat dari hasil kegiatan konsumsi barang dan jasa disebut dengan istilah utilitas (atau utility). Pendekatan kardinal dikenal juga dengan istilah lain yaitu pendekatan utilitas (atau utility approach).

Adapun asumsi dari Pendekatan ini adalah:

  1. Tingkat utilitas total yang dicapai konsumen merupakan fungsi dari kuantitas barang yang dikonsumsi. Artinya tingkat kepuasan total konsumen dipengaruhi oleh jumlah berbagai barang. Hal ini sesuai dengan hukum Gossen bahwa tingkat kepuasan konsumen dipengaruhi oleh jumlah dan variasi barang yang dikonsumsinya
  2. Konsumen akan cenderung berusaha untuk mendapatkan kepuasannya yang maksimal sesuai dengan anggaran yang dimiliki atau dikeluarkannya. Hal ini mencerminkan bahwa anggaran yang dimiliki konsumen merupakan faktor penentu bagi pencapaian tingkat kepuasannya.

Ini artinya konsumen tidak mudah untuk mendapat tingkat kepuasan yang setinggi-tingginya sesuai dengan yang diinginkan namun tergantung dari jumlah anggaran yang dimilikinya. Konsumen akan berusaha untuk mengalokasikan jumlah anggaran yang dimiliki tersebut untuk membeli berbagai jumlah barang yang memang mampu menghasilkan kepuasan yang maksimal.

  1. Tingkat kepuasan konsumen dapat diukur secara kuantitatif.
  2. Tambahan kepuasan dari setiap unit tambahan barang yang dikonsumsi akan menurun.

Pendekatan Ordinal, Pendekatan Indiferens.

Pendekatan ordinal menggunakan pengukuran ordinal (atau bertingkat atau skala) dalam menganalisis kepuasan konsumen. Ini artinya kepuasan konsumen tidak dapat diukur secara kuantitatif dengan angka tetapi hanya dapat diukur dengan peringkat yang sifatnya kualitatif, misalnya tidak puas, puas, lebih puas, sangat puas dan seterusnya.

Pendekatan ini juga sering disebut dengan pendekatan indiferens. Pendekatan ordinal berasumsi bahwa tingkat utilitas total yang dapat dicapai oleh konsumen merupakan fungsi dari kuantitas barang. Asumsi ini sama dengan pendekatan cardinal. Selain itu asumsi lain yang juga sama adalah konsumen akan berusaha untuk memaksimalkan kepuasannya sesuai dengan anggaran yang dimiliki atau dikeluarkannya.

Namun demikian pendekatan ini memiliki asumsi yang berbeda dengan pendekatan kardinal. Pendekatan ordinal tidak menganggap bahwa tingkat utilitas dapat diukur secara kuantitatif dengan angka tetapi konsumen hanya memiliki skala preferensi.

Skala preferensi adalah suatu kaidah dalam menentukan pilihan terhadap barang yang akan dikonsumsi. Skala preferensi tersebut memiliki ciri sebagai berikut:

  1. Konsumen mampu membuat peringkat kepuasan terhadap barang. Ini artinya konsumen mampu membedakan tingkat kepuasan dalam pemenuhan barang, misalnya minum kopi hangat lebih puas dibandingkan minum susu hangat.
  2. Peringkat kepuasan tersebut bersifat transitif artinya jika kopi hangat lebih disukai daripada susu hangat, sedangkan susu hangat lebih disukai daripada the hangat, maka kopi hangat lebih disukai daripada the hangat, bukan sebaliknya.
  3. Konsumen selalu ingin mengkonsumsi jumlah barang yang lebih banyak karena konsumen tidak pernah terpuaskan.

Daftar Pustaka:

  1. Sukirno, S, 2011, “Mikroekonomi Teori Pengantar”, PT Raja Grafindo Persada, Edisi Ketiga, Cetatakan Ke 26, Jakarta.
  2. Ahman H., Eeng. Rohmana, Yana, 2007, “Ilmu Ekonomi dalam PIPS”, Edisi Pertama, Penerbit Unuversitas Terbuka, Jakarta.
  3. Jhingan, M.L., 2008, “Ekonomi Pembangunan Perencanaan”, Edisi Pertama, PT RajaGrafindo Persada, Jakarta.
  4. Joesron, Suharti, Tati. Fathorrrazi, M., 2012, “Teori Ekonomi Mikro”, Edisi Pertama, Graha Ilmu, Yogyakarta.
  5. Sartono, Agus, R., “ 2001, “Manajemen Keuangan Teori dan Aplikasi”, Edisi Keempat, BPFE Yogyakarta, Yogyakarta.
  6. Ardra.Bis, 2019, “Teori Perilaku Konsumen dan Pengertian Konsumen dengan Tujuan Konsumen. Pengertian total utility dan Pengertian kepuasan total konsumen beserta Perilaku konsumen Pendekatan Kardinal.
  7. Ardra.Biz, 2019, “Pendekatan Utilitas dan Perilaku kepuasan konsumen secara kuantitatif atau Kepuasan konsumen utility approach. Tingkat kepuasan Hukum Gossen sebagai Perilaku konsumen hukum Gossen atau Perilaku konsumen Pendekatan Ordinal dan Pendekatan Indiferens.
  8. Ardra.Biz, 2019, “Kepuasan konsumen secara bertingkat dengan Kepuasan konsumen secara kualitatif. Perilaku Kepuasan konsumen skala preferensi.
  9. Ardra.Biz, 2019, “Pengertian Skala preferensi, Ciri ciri skala preferensi dan Contoh perilaku Kepuasan sacara kuantittif dengan Contoh kepuasan secara kulitatif atau Contoh skala preferensi.

Macam Macam Kebutuhan Manusia.

Pengertian Kebutuhan. Kebutuhan timbul akibat adanya tuntutan fisik secara biologis dan atau psikis agar dapat hidup layak sebagai manusia sehingga kebutuhan manusia sangat beragam dan sering tidak sesuai dengan kepuasan yang diharapkan, Keadaan ini menyebabkan kebutuhan menjadi tidak terbatas.

Dalam menjalani kehidupannya, manusia memiliki keinginan dan kebutuhan yang beragam. Keinginan adalah hasrat dalam diri manusia yang jika tidak terpenuhi tidak berpengaruh terhadap kelangsungan hidupnya, sedangkan kebutuhan adalah hasrat yang timbul dalam diri manusia yang jika tidak terpenuhi dapat berpengaruh terhadap  kelangsungan hidupnya.

Dalam pembahasan ini  digunakan istilah kebutuhan untuk menyatakan segala hasrat manusia terhadap sesuatu baik itu hanya berupa keinginan maupu kebutuhan itu sendiri.

Kebutuhan Menurut Intensitas Kegunaan

  1. Kebutuhan Primer

Kebutuhan primer adalah kebutuhan yang jika tidak terpenuhi akan mempengaruhi atau mengganggu kelangsungan hidup manusia. Contoh Yang termasuk kebutuhan primer adalah makan, minum, pakaian, rumah, dan kesehatan.

Jadi kebutuhan primer ini harus terpenuhi terlebih dadulu agar dapat menjalani kehidupan yang layak. Manusia harus makan dan minum agar dapat bertahan hidup. Kemudian harus memiliki tempat tinggal dan mengguanakan pakaian agar bisa hidup seperti kebanyakan orang. Keberlangsung hidupnya akan sangat layak ketika kesehatan tubuhnya sangat baik.

Kebutuhan primer disebut juga sebagai kebutuhan pokok atau dasar, yaitu kebutuhan yang harus dipenuhi untuk keberlangsungan hidup manusia. Jika kebutuhan primer tidak terpenuhi, maka manusia sulit untuk melangsungkan dan mewujudkan kehidupannya sesuai dengan kodratnya.

  1. Kebutuhan Sekunder

Kebutuhan sekunder adalah kebutuhan yang sangat penting, tetapi jika tidak terpenuhi tidak mengganggu kelangsungan hidup. Contoh kebutuhan Sekunder diantaranya adalah telepon dan sarana angkutan.

Kebutuhan sekunder muncul setelah kebutuhan primer terpenuhi secara terus menerus. Ketika kebutuhan tempat tinggal seperti rumah sudah terpenuhi, maka muncul kebutuhan untuk mengisi peralatan rumah seperti alat dapur, kursi meja dan sebagainya.

Setelah kebutuhan primernya terpenuhi masyarakat cenderung berusaha untuk dapat memenuhi kebutuhan sekundernya, hal ini bertujuan agar dapat hidup lebih baik dan nyaman.

  1. Kebutuhan Tertier

Kebutuhan tertier adalah kebutuhan yang tidak termasuk dalam kebutuhan primer dan tertier. Kebutuhan ini lebih bersifat pada pemenuhan rasa keinginan. Terkadang Kebutuhan ini lebih cenderung ditujukan untuk menunjukkan status social atau prestise seseorang di mata masyarakat. Contoh kebutuhan tertier adalah rekreasi termasuk berolah raga, memiliki barang mewah dan sebagainya.

Kebutuhan tertier muncul setelah terpenuhinya kebutuhan primer dan sekunder. Sebagian masyarakat menganggap kebutuhan tertier sebagai kebutuhan untuk kemewahan.

Tafsir terhadap batas kebutuhan menurut intensitas ini dapat saja berbeda untuk tiap orang. Bagi yang berpenghasilan tinggi, kendaraan seperti mobil pribadi adalah kebutuhan sekunder, namun bagi yang berpenghasilan rendah mobil tersebut menjadi kebutuhan tertier.

Pendidikan merupakan salah satu contoh kebutuhan primer, namun untuk sebagian masyarakat menjadi kebutuhan sekunder. Hal ini terjadi akibat tuntutan untuk pemenuhan kebutuhan lainnya sangat tergantung pada biaya.

Kebutuhan Menurut Sifatnya

  1. Kebutuhan Jasmani

Kebutuhan jasmaniah adalah kebutuhan yang berhubungan dengan jasmani atau fisik. Contoh kebutuhan Jasmani adalah makan, olahraga, dan istirahat.

Sesuai namanya, kebutuhan ini terkait dengan badan atau fisik manusia. Untuk menjaga kelangsungan hidup, manusia perlu memperhatikan kebutuhan badan atau fisik seperti: makanan dan minuman yang bergizi, pakaian, istirahat yang cukup.

Itu semua agar kesehatan jasmani terjaga dan layak dalam menjalani kehidupan bermasyarakat. Saat ini khususnya di daerah perkotaan sudah banyak tersedia pusat- pusat kebugaran, salon perawatan tubuh, dan sebagainya. Fenomena ini menunjukkan bahwa kebutuhan jasmani bagian yang tidak terpisah dari kehidupan.

  1. Kebutuhan Rohani.

Kebutuhan rohaniah merupakan kebutuhan yang bersifat rohani, berhubungan dengan jiwa manusia. Contoh kebutuhan rohani adalah beribadah, bersosialisasi, rekreasi, dan hiburan.

Terpenuhinya kebutuhan jasmani tidak  menjamin seseorang akan menjadi lebih nyaman atau bahagia. Sebagian masyarakat mengalami tekanan dalam kehidupannya walaupun secara jasmani sudah terpenuhi.

Hal ini menunjukan bahwa pemenuhan kebutuhan jasmani saja tidak menjamin seseorang akan memperoleh kenyamanan atau kebahagiaan, namun kebutuhan lain yaitu kebutuhan rohani juga sangat penting untuk dipenuhi.

Kebutuhan Menurut Subjek

  1. Kebutuhan Individual

Kebutuhan individual adalah kebutuhan perseorangan atau individu. Contoh kebutuhan individual adalah seseorang membutuhkan alat bantu dengar atau kacamata.

Kebutuhan ini merupakan kebutuhan yang diperuntukkan bagi individu yang sifatnya menjadi pribadi, sehingga orang yang satu dengan yang lain akan berbeda. Contoh ekstrimnya adalah Kebutuhan seorang petani dengan seorang dokter.

Dalam kehidupannya, seorang Petani membutuhkan peralatan seperti traktor, benih tanaman pupuk, cangkul, dan pestisida, sedangkan seorang dokter memerlukan perangkat seperti stetoskop, infuse, jarum suntik, dan obat-obatan.

  1. Kebutuhan Kolektif

Kebutuhan kolektif adalah kebutuhan bersama dalam suatu masyarakat dan dimanfaatkan untuk kepentingan bersama. Contoh Kebutuhan kolektif adalah jalan raya, rumah sakit, dan sekolah.

Kebutuhan kolektif muncul karena manusia harus berinteraksi dalam rangka pemenuhan kebutuhan hidup yang lainnya. Orang yang sakit mesti pergi ke rumah sakit menggunaka jalan raya. Seseorang harus sekolah dan menyelesaikan kuliahnya sebelum mendapat izin menjadi dokter.

Daftar Pustaka

Pengertian Kebutuhan dan Penyebab timbulnya kebutuhan tidak terbatas dengan Jenis macam kebutuhan hidup. Kebutuhan Menurut Intensitas Kegunaan dengan Kebutuhan Primer dan Contoh kebutuhan primer. Kebutuhan Sekunder dan Contoh Kebutuhan Sekunder dan Kebutuhan Tertier beserta Contoh kebutuhan tertier.

Kebutuhan Menurut Sifatnya adalah Kebutuhan Jasmani dan Contoh kebutuhan jasmani disertai Kebutuhan Rohani dan Contoh kebutuhan rohani. Kebutuhan Menurut Subjek dengan Kebutuhan Individual dan Contoh kebutuhan individual.  Kebutuhan Kolektif dan Contoh Kebutuhan kolektif.

Permintaan Uang.

Pengertian Uang. Pada kenyataannya definisi uang selalu berubah sesuai dengan dinamika perkembangan masyarakat dalam perekonomian. Namun demikian, para ahli ekonomi umumnya sepakat bahwa definisi paling universal tentang uang adalah sesuatu (berbentuk benda) yang dapat diterima secara umum dalam proses transaksi ekonomi atau pertukaran barang dan jasa.

Para ahli ekonomi mendefinisikan uang secara lengkap, yaitu suatu benda dengan satuan hitung tertentu yang digunakan sebagai alat pembayaran yang sah dan berlaku secara umum di wilayah tertentu dan keberadaannya diatur dalam undang-undang.

Berdasarkan penjelasan tersebut, dapat dikatakan bahwa uang dapat berbentuk dari segala sesuatu (berbentuk benda), tetapi tidak semua benda menjadi uang. Sehingga, dalam suatu perekonomian modern, definisi uang tidak hanya memiliki pengertian secara ekonomi yaitu uang merupakan barang langka yang berharga, tetapi memiliki pengertian secara hukum dan politis.

Permintaan Uang

Konsep permintaan uang pada dasarnya mengandung makna sebagai suatu keinginan masyarakat agar dapat mewujudkan sebagian dari pendapatannya dalam bentuk uang kas. Kemampuan uang sebagai alat tukar terhadap suatu barang dapat memberikan gambaran terkait laju peredaran uang dalam masyarakat. Sedangkan laju peredaran uang merupakan bagian penting dari kelancaran suatu kegiatan ekonomi.

Permintaan uang merupakan topik yang cukup banyak dibicarakan dan menjadi perhatian dalam ekonomi moneter.

Permintaan uang adalah jumlah uang yang ingin dipegang oleh masyarakat dan perusahaan secara ke seluruhan. Permintaan uang merupakan total permintaan uang dari seluruh rumah tangga dan perusahaan dalam sebuah perekonomian.

Menurut pandangan ekonom klasik, uang hanya befungsi sebagai alat tukar. Oleh karena itu, jumlah uang yang diminta berbanding secara proporsional dengan tingkat pendapatan masyarakat dalam suatu perekonomian.

Ini artinya, Jika tingkat pendapatan masyarakat meningkat, maka permintaan uang juga meningkat, begitu juga sebaliknya. Semakin tinggi tingkat pendapatan, maka semakin tinggi pula permintaan terhadap uang.

Jumlah uang yang dipegang oleh masyarakat tidak semata-mata menunjukkan nilai nominalnya, tetapi juga mencerminkan nilai daya belinya. Daya beli adalah nilai nominal dibandingkan dengan tingkat harga atau real money balances.

Karena uang hanya berfungsi sebagai alat tukar, maka uang bersifat netral (money neutrality). Ini artinya uang hanya berpengaruh terhadap tingkat harga. Pernyataan ini dikemukakan oleh ekonom bernama Irving Fisher.

Pendapat Irving Fisher dikenal dengan teori kuantitas uang klasik atau classical quality of money. Persamaan teori kuantititas uang klasik dapat diformulasikan dengan persamaan sebagai berikut.

M × V = P × T

Keterangan:

M = jumlah uang beredar

V = velositas (kecepatan peredaran uang)

P = tingkat harga

T = nilai transaksi yang diukur berdasarkan pendapatan nasional

Contoh Soal Perhitungan Rumus Irving Fisher.

Dalam sebuah perekonomian yang hanya memproduksi mobil, dalam setahun dihasilkan 1000 unit mobil. Harga per unit mobil adalah Rp 90 juta, sedangkan velositas uang adalah 10 kali dalam setahun. Hitung Berapa jumlah uang yang dibutuhkan.

Jawab

M x V = P x T

M × 10 = 1.000 × 100 juta

M = (1.000 × 100 juta)/10

M= Rp 10.000 juta atau Rp 10 miliar

Dalam perkembangannya, uang ternyata tidak hanya berfungsi sebagai alat tukar atau untuk menyimpan kekayaan, namun juga berfungsi sebagai komoditas atau barang dagangan yang ditransaksikan atau diperdagangkan atau Tradable Goods.

Faktor Yang Mempengaruhi Permintaan Uang

Ekonom Inggris bernama John Maynard Keynes (1883–1946), dengan cukup jelas menyatakan bahwa permintaan terhadap uang atau demand for money atau yang disebut sebagai preferensi likuiditas, dipengaruhi oleh tiga motif. Ketiga Motif tersebut adalah sebagai berikut.

1. Motif Transaksi

Salah satu motif masyarakat untuk memegang uang adalah agar dapat melakukan transaksi untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Kebutuhan tersebut berjalan secara terus-menerus, sedangkan penerimaan pendapatannya terjadi secara berkala, misalnya seminggu sekali, atau sebulan sekali.

Terdapatnya perbedaan waktu antara penerimaan dan pengeluaran merupakan alasan atau pertimbangan masyarakat untuk meminta atau memegang atau memiliki uang setiap saat.

Motif transaksi yaitu motif untuk melakukan kegiatan transaksi perdagangan seperti tukar menukar barang atau membeli barang kebutuhan pokok. Besarnya permintaan uang dengan motif transaksi sangat tergantung pada tingkat pendapatan seseorang.

Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa kebutuhan uang yang menjadi sebuah permintaan uang untuk motif transaksi merupakan suatu proporsi konstan dari tingkat pendapatan. Hal ini dapat diformulasikan dengan persamaan sebagai berikut.

Mt = kY,

Dengan keterangan

Mt = kebutuhan transaksi,

k = proporsi konstan, 0 < k <1,

Y = tingkat pendapatan nasional

2. Motif Berjaga-jaga

Motif berjaga- jaga yaitu motif menyimpan uang untuk kegiatan berjaga- jaga atau untuk membiayai sesuatu yang tidak terencana atau terduga. Misalnya untuk biaya berobat pada saat sakit atau biaya kebutuhan sekolah anak yang secara mendadak seperti kegiatan studi lapangan.

Motif tersebut terjadi akibat terdapatnya ketidakpastian di waktu yang akan datang. Ketidakpastian ini dapat dianggap sebagai suatu kondisi darurat atau munculnya kesempatan- kesempatan lain yang tidak dapat diperkirakan sebelumnya.

Masyarakat menjadi perlu memegang sejumlah uang agar selalu dapat menghadapi ketidakpastian tersebut. Kebutuhan uang untuk berjaga – jaga ini cenderung meningkat dengan meningkatnya pendapatan.

Dengan tingkat pendapatan yang lebih tinggi, masyarakat dapat menghadapi kemungkinan timbulnya kesempatan- kesempatan lain yang lebih besar, walaupun dengan risiko yang lebih besar juga. Oleh sebab itu, bagi masyarakat yang memiliki pendapatan tinggi, kebutuhan memegang uang untuk memenuhi motif berjaga-jaga cenderung lebih tinggi.

Dengan demikian dapat dikatakan, bahwa permintaan untuk motif transaksi maupun untuk berjaga-jaga merupakan fungsi yang berkorelasi positif terhadap pendapatan, yaitu bahwa jumlahnya tergantung kepada tingkat pendapatan masyarakat. Jadi Secara singkat dapat diformulasikan dengan persamaan sebagai berikut.

M1 = Mt + Mp = f (Y)

Dengan keterangan

M1 = permintaan uang untuk motif transaksi dan berjaga-jaga.

Mt = permintaan uang dengan motif transaksi

Mp = permintaan uang dengan motif berjaga-jaga

f(Y) = fungsi pendapatan

3. Motif Spekulasi

Motif spekulasi merupakan motif memegang uang dengan cara menyimpannya dalam bentuk surat- surat berharga, seperti saham dan obligasi. Hal ini Berbeda dengan dua motif sebelumnya, yang dipengaruhi oleh tingkat pendapatan, motif spekulasi dipengaruhi oleh tingkat suku bunga yang berlaku.

Tingkat suku bunga merupakan faktor yang sangat berpengaruh terhadap penentuan motif spekulasi. Pada tingkat suku bunga yang relative tinggi, masyarakat akan memilih menyimpan uangnya dalam bentuk surat berharga dibandingkan dengan memegang uang tunai.  Bunga yang relative tinggi akan memberikan pendapatan lebih kepada masyarakat.

Daftar Pustaka

Pengertian Uang atau Pengertian uang secara hukum dan politis berserta Permintaan Uang dan Fungsi Permintaan uang. Persamaan permintaan uang Irving Fisher dengan Contoh perhitungan permintaan uang dan Contoh Perhintungan Permintaan unga Rumus Irving Fisher. Uang Berfungsi alat tukar dan pengaruh pendapatan terhadap permintaan uang atau Pengaruh daya beli terhadap Permintaan uang.

Penegrtian Daya beli uang dan Pengertian Real money balances dan Uang bersifat netral. Pengertian money neutrality dan classical quality of money serta Pengaruh permintaan uang terhadap tingkat harga dengan Contoh Soal Perhitungan Rumus Irving Fisher. Faktor Yang Mempengaruhi Permintaan Uang dan demand for money.

Preferensi likuiditas Keynes dan Pengaruh Motif Transaksi terhadap permintaan uang beserta Rumus Permintaan uang motif transaksi. Pengaruh Motif Berjaga-jaga terhadap permintaan uang dan pengaruh spekulasi terhadap permintaan uang dengan Contoh soal permintaan uang motif berjaga – jaga.

Nilai Uang, Nominal Intrinsik, Internal dan Eksternal.

Pengertian Nilai Uang. Nilai uang adalah jumlah barang dan jasa yang akan diterima sebagai pengganti satu kesatuan uang yang diserahkan. Sederhananya Nilai Uang sama dengan  jumlah barang dan jasa.

Uang memiliki sifat seperti barang yang nilai atau harganya ditentukan oleh permintaan demand dan penawaran supply uang.

Permintaan dan penawaran uang dipengaruhi oleh beberapa factor seperti laju edar uang atau velocity of circulation, ketersediaan barang dan jasa yang diperdagangkan dan sebagainya.

Contoh Nilai Uang

Jika Uang 25.000 rupiah dapat digantikan dengan satu kilo gram gula, maka nilai uang 25.000 rupiah tersebut adalah satu kilo gram gula. Atau Rp 25.000 = 1 kg gula.

Dengan perkataan lain, nilai uang menunjukkan kemampuan beli uang atau purchasing power of money. Dengan demikian yang dimaksud nilai uang 25 ribu rupiah adalah  jumlah barang yang dapat diterima dari penjual sebagai pengganti dari uang 25 ribu rupiah.

Istilah lain yang dapat digunakan untuk Nilai uang adalah nilai tukar. Nilai tukar merupakan Jumlah barang dan jasa yang dapat ditukar dengan satu kesatuan uang yang diserahkan.

Untuk contoh di atas. Nilai Tukar 25.000 rupiah adalah satu kilo gram gula. Ini artinya 25 ribu rupiah dapat ditukar dengan satu kilo gram gula.

Nilai Nominal Uang

Nilai nominal adalah nilai uang yang tertulis atau tertera pada mata uang baik uang kertas atau logam. Nilai ini yang paling mudah diketahui oleh masyarakat. Hanya dengan melihat angka yang tercetak pada mata uang tersebut sudah bisa mengetahui nilainya.

Contoh Nilai Nominal Uang

Pada sebuah uang kertas tertulis Rp100.000 Maka nilai nominal uang tersebut adalah 100.000 rupiah. Nilai uangnya sama persis dengan yang tertulis atau tercetak.

Nilai Intrinsik Uang

Nilai intrinsik adalah nilai atau harga dari bahan yang digunakan untuk membuat uang itu sendiri ditambah dengan biaya percetakan dan transpotasi.

Contoh Nilai Intrinsik Uang.

Untuk membuat satu lembar Uang kertas yang bertuliskan Rp 100.000 membutuhkan bahan kertas, biaya cetak dan biaya transport sebesar 25.000 rupiah. Maka Nilai nominal uang tersebut adalah 100.000 rupiah dan nilai intrinsic nya adalah 25.000 rupiah. Nilai yang berlaku untuk transaksi dalam perekonomian adalah nilai nominalnya.

Nilai Uang Internal

Nilai uang internal adalah daya beli uang yang dinyatakan dalam jumlah barang dan jasa yang dihasilkan oleh negara itu sendiri atau domestic product. Jadi nilai uang ditentukan oleh kemampuan daya beli uang terhadap barang dan jasa yang dihasilkan di dalam negeri.

Nilai uang internal dipengaruhi oleh ketersedian barang dan jasa yang diperdagangkan. Ketika ketersediaannya berkurang atau terbatas, maka harga barang menjadi naik. Harga barang naik, artinya sama dengan turunya nilai uang. Ketika barang dan jasa yang tersedia melimpah, maka harga barang akan turun. Turunnya harga barang sama artinya dengan naiknya nilai uang.

Contoh Nilai Uang Internal

Jika Uang 15.000 rupiah dapat digunakan untuk membeli satu kilo gram beras hasil panen petani, maka nilai uang internal 15.000 rupiah tersebut adalah satu kilo gram beras. Atau Rp 15.000 = 1 kg beras.

Nilai Uang Eksternal

Nilai Uang Eksternal adalah harga mata uang suatu negara yang dinyatakan dalam mata uang negara lainnya atau valuta asing atau devisa. Nilai uang eksternal ini dikenal dengan istilah lain yaitu kurs mata uang asing atau foreign exchange rate.

Contoh Nilai Uang Eksternal.

Misal, Nilai kurs Rupiah Indonesia terhadap Dollar Amerika dinotasikan dengan USD/IDR 15.000. Ini artinya nilai uang eksternal Rupiah Indonesia adalah 15.000 rupiah untuk tiap satu Dollar Amerika. Atau daya beli rupiah terhadap Dollar Amerika adalah 15.000 rupiah untuk tiap satu Dollar Amerika.

Tinggi rendahnya kurs mata uang asing tersebut di tentukan antara lain oleh permintaan dan penawaran terhadap mata uang asing tersebut. Permintaan terhadap mata uang asing disebabkan adaya keinginan untuk membeli barang dari luar negeri atau impor.

Namun demikian tidak semua mata uang disukai oleh pengekspor barang atau jasa, namun hanya mata uang kuat atau hard currency yang dapat diterima oleh hampir setiap negara di dunia.

Dewasa ini, mata uang yang banyak diterima dan tergolong dalam hard currency atau devisa convertible antara lain adalah Dollar Amerika, Euro Eropa, Pound sterling Inggris, Yen Jepang dan Dollar Australia.

Daftar Pustaka

Pengertian Nilai Internal dan Eksternal Uang dengan Pengertian Nilai Uang dan Contoh nilai uang, Pengertian Nilai uang internal. Pengertian nilai uang eksternal namun Contoh Nilai uang internal beserta Contoh nilai uang eksternal. Contoh Hard Currency ketika Pengertian Devisa Convertible.

 

Biaya Peluang, Kesempatan Opportunity Cost. 

Pengertian Biaya Peluang Opportunity Cost. Biaya peluang muncul, karena adanya pilihan yang dilakukan individu- individu, perusahaan, dan masyarakat akibat  kelangkaan sumber daya yang dihadapi.

Karena adanya keterbatasan atau kelangkaan sumber daya, maka sebuah perusahaan harus membuat pilihan. Akibat dari pilihannya, perusahaan tersebut akan kehilangan kesempatan untuk memperoleh barang yang lain. Hal itulah yang dimaksud dengan biaya peluang. Biaya peluang atau kesempatan adalah biaya yang harus dikorbankan untuk memperoleh kebutuhan barang atau jasa yang lain.

Jadi, biaya peluang (Opportunity Cost) adalah biaya karena hilangnya kesempatan akibat dari pemenuhan suatu kebutuhan yang lain.

Biaya peluang merupakan biaya yang timbul akibat memilih sebuah peluang terbaik dari beberapa alternatif yang tersedia. Ketika perusahaan dihadapkan pada beberapa alternatif pilihan dan harus memilih salah satu di antaranya, maka alternatif yang tidak dipilihnya menjadi biaya peluang.

Batas kemungkinan produksi menunjukkan jumlah maksimum alternatif kombinasi barang dan jasa yang dapat diproduksi oleh sebuah perusahaan atau masyarakat pada suatu waktu ketika sumber- sumber daya ekonomi dan teknologi didayagunakan sepenuhnya.

Kurva batas kemungkinan produksi tidak hanya menggambarkan kapabilitas produksi yang terbatas dan masalah kelangkaan. Namun, kurva batas kemungkinan produksi juga mencerminkan konsep biaya kesempatan (opportunity cost).

Konsep Opportunity Cost dapat direpresentsikan dengan menggunakan batas kemungkinan produksi (atau production possibility frontier– dan disingkat menjadi PPF). Batas kemungkinan produksi (atau production possibility frontier – PPF) adalah jumlah produksi yang dapat dicapai oleh suatu perusahaan atau perekonomian, dengan menggunakan sumber daya yang terbaik melalui pengetahuan teknologi dan jumlah input yang tersedia. PPF merepresentasikan daftar barang dan jasa yang tersedia untuk masyarakat.

Batas kemungkinan produksi yang direpresentasikan dalam bentuk grafik disebut kurva batas kemungkinan produksi (atau production possibility frontier curve). Efesiensi sumber daya dalam memproduksi dua komoditas atau produk tidaklah sama. Sehingga Setiap tambahan satuan komoditas atau produk pertama yang diproduksi menyebabkan sejumlah komoditas kedua harus dikorbankan.

Biaya Peluang, Kesempatan Opportunity Cost

Pada Tabel ditunjukkan suatu perusahaan “X” yang mampu memproduksi 15 ribu unit pakaian tanpa memproduksi sepatu. Kondisi ini ditunjukkan oleh kemungkinan A. Pada saat perusahaan memprodusi satu ribu unit sepatu dan 14 ribu unit pakaian ditunjukkan oleh kemungkinan B. Jika Kondisi tersebut berlanjut sampai mendapatkan kombinasi kemungkinan F yang memproduksi lima ribu unit sepatu namun tanpa memproduksi pakaian.

Pergerakan kemunggkinan A ke B menunjukkan adanya pengurangan produksi jumlah produksi pakaian, yaitu dari 15 ribu ke 14 ribu. Pada kondisi Ini faktor-faktor produksi yang dikorbankan sudah cukup untuk memproduksi satu ribu unit sepatu yang pertama. Begitu seterusnya hingga sampai pada titik F. Pada kondisi kemungkinan F, seluruh factor factor produksi dikorbankan untuk memproduksi lima ribu sepatu.

Jadi produksi sepatu dapat terus ditingkatkan jika produksi pakaian terus dikurangi atau dikorbankan, sehingga biaya- biaya yang digunakan untuk faktor-faktor produksi pakaian dapat digunakan untuk membiayai produksi sepatu.

Tabel di atas, bisa digunakan untuk mempelajari kurva batas kemungkinan produksi dalam kurva production possibility frontier PPF.

Kurva Production Possibility Frontier - PPF

Kurva batas kemungkinan produksi (production possibility frontier-PPF) ditunjukkan pada garis yang dibentuk dari titik A hingga F. Garis lengkung A-F menjadi batas produksi dari kombinasi pakaian dan sepatu sekaligus merupakan produksi tertinggi yang dapat dicapai oleh perusahaan “X”.

Perhatikan bahwa titik yang ada di luar kurva, yaitu pada titik G, pada kondisi kombinasi tersebut tidak dapat dicapai oleh sumber daya dan teknologi yang tersedia. Sedangkan pada titik H, menunjukkan kegiatan ekonomi tidak memanfaatkan seluruh sumber daya yang tersedia.

Jika perusahaan dalam perekonomian memproduksi kedua barang tersebut selalu berada pada posisi garis batas kemungkinan produksi, maka dapat dikatakan bahwa perusahaan atau perekonomian berjalan secara efisien. Efisiensi diartikan sebagai penggunaan sumber daya ekonomi secara efektif untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan masyarakat atau konsumen.

Efisiensi produksi terjadi jika produksi barang tertentu tidak dapat ditingkatkan lagi tanpa mengurangi mengorbankan produksi barang lain, yaitu selama perekonomian masih berada pada garis batas kemungkinan produksi.

Seperti yang telah dijelaskan, bahwa setiap tambahan satuan komoditas pertama akan menyebabkan sejumlah komoditas kedua harus dikorbankan atau dikurangi. Sesuai konsep opportunity cost, biaya dari setiap satuan bahan yang digunakan untuk membuat  komoditas pertama sama dengan kesempatan atau peluang yang hilang atau sama dengan jumlah komoditas kedua yang harus dikorbankan.

Hal ini akan mengakibatkan perusahaan dapat berpindah usaha atau berproduksi di bidang lain atau komoditas lain. Hal ini akan terjadi ketika perusahaan memandang bahwa memproduksi barang komoditas lainnya lebih menguntungkan, sehingga perusahaan terpaksa harus melakukan PHK pemutusan hubungan kerja kepada karyawannya. PHK dilakukan perusahaan kepada karyawan diakibatkan karena perusahaan tidak lagi memerlukan tenaga atau keahlian dari karyawan tersebut.

Pada akhirnya dapat disimpulkan, bahwa batas kemungkinan produksi mengungkapkan tiga konsep, yaitu keterbatasan (limited), pilihan (choice) dan biaya kesempatan (opportunity cost).

Daftar Pustaka

Pengertian Biaya Peluang dengan Biaya Kesempatan dan Opportunity Cost. Biaya kelangkaan sumber daya serta biaya akibat pilihan. Batas kemungkinan produksi dan Faktor Penyebab timbulnya biaya peluang. yang mempengaruhi biaya peluang dan ciri biaya peluang, Konsep Biaya Peluang.

Kurva batas kemungkinan produksi dengan pengaruh biaya peluang terhadap jumlah jenis produksi dan Pengertian production possibility frontier PPF. Cara membuat kurva kemungkinan produksi dan Contoh table biaya peluang serta Gambar Kurva Kemungkinan produksi. Pengaruh Faktor Produksi terhadap biaya peluang dengan efisiensi biaya peluang.

Faktor Yang Mempengaruhi Penawaran.

Pengertian Penawaran. Dalam ilmu ekonomi, penawaran (atau supply) didefinisikan sebagai jumlah keseluruhan barang dan jasa yang akan dijual atau ditawarkan oleh produsen pada berbagai macam tingkat harga.

Hukum Penawaran

Hukum penawaran menyatakan bahwa jumlah barang dan jasa yang ditawarkan selalu berbanding lurus dengan harganya. Ini artinya, jika harga barang dan jasa naik, maka jumlah barang dan jasa yang ditawarkan akan bertambah, dan sebaliknya jika harga turun, maka jumlah barang dan jasa yang ditawarkan berkurang. Dalam hukum penawaran berlaku kondisi ceteris paribus yaitu faktor- faktor lainnya diasumsikan tetap.

Faktor-Faktor yang Memengaruhi Penawaran

Konsep penawaran menunjukkan berbagai jumlah (kuantitas) barang yang akan dijual di pasar oleh seseorang atau beberapa orang penjual atau perusahaan. Ketersediaan produsen atau perusahaan memproduksi dan menawarkan berbagai jenis barang dipengaruhi oleh sejumlah faktor, yang diantaranya adalah sebagai berikut.

Harga Barang Yang Dijual

Produsen atau perusahaan akan menawarkan atau menjual barang lebih banyak jika harga harga barng tersebut naik. Begitupun sebaliknya, jika harga turun, jumlah barang yang ditawarkan akan berkurang. Hal ini sesuai dengan hukum penawaran yang menyatakan hubungan antara harga suatu barang dan jumlah barang yang ditawarkan.

Biaya Produksi

Perusahaan atau Produsen membutuhkan berbagai faktor produksi untuk dapat menghasilkan suatu barang dan jasa. Faktor- faktor produksi tersebut harus  dibeli oleh perusahaan atau produsen dari para pemilik faktor produksi tersebut.

Oleh karena itu, semakin murah harga faktor produksi, maka biaya produksi akan semakin rendah,  sehingga perusahaan atau produsen dapat lebih banyak memproduksi barang yang akan ditawarkan.  Sebaliknya, jika harga faktor produksi menjadi tinggi, maka barang yang ditawarkan perusahaan atau produsen akan semakin turun untuk setiap tingkat harganya.

Tingkat Teknologi

Teknologi yang digunakan memiliki peranan yang sangat penting dan menentukan dalam kegiatan Produksi suatu barang dan jasa. Perusahaan yang menggunakan teknologi lebih maju dapat meningkatkan hasil produksinya dengan lebih efisien, seperti lebih cepat, lebih banyak, lebih murah, lebih berkualitas. Sehingga biaya produksi yang digunakan secara keseluruhan  menjadi semakin murah.

Peningkatan hasil produksi dan biaya produksi yang semakin murah akan menyebabkan jumlah barang yang ditawarkan semakin banyak pada tingkat harga tertentu.

Kebijakan Pemerintah

Pemerintah mengeluarkan kebijakan kebijakan dengan tujuan untuk menjaga kondisi perekonomian berjalan sesuai rencana dan target yang telah ditetapkan. Kebijakan pemerintah di antaranya adalah pajak dan subsidi.

Semakin besar pajak yang harus dibayarkan oleh para produsen, jumlah barang yang ditawarkan akan semakin menurun, begitu pula sebaliknya. Pajak yang harus dibayarkan oleh perusahaan akan dibebankan pada barang produksi. Sehingga harga barang menjadi lebih mahal.

Adapun subsidi yang diberikan pada produsen akan mengurangi biaya produksi. Sehingga harga barang akan lebih murah. Jika harga barang lebih murah, maka jumlah barang yang ditawarkan akan lebih banyak.

Kondisi Alam atau Cuaca atau Iklim

Pengaruh alam terutama akan memengaruhi penawaran produk pertanian dan perikanan. Misalnya, bagi para petani, iklim yang tidak menentu dapat menyebabkan gagal panen sehingga jumlah barang yang ditawarkan (contohnya beras) akan berkurang.

Secara umum, barang yang selama produksinya dipengaruhi oleh keadaan alam, maka ketika keadaan alam berubah, produksi barangpun juga bisa berubah. Misalnya Produksi garam memerlukan sinar matahari. Jadi Ketika musin hujan, jumlah produksi akan berkurang.

Ekspektasi atau Harapan Produsen

Harapan produsen di masa yang akan datang menjadi bagian dari rencana produksinya. Sehingga jumlah barang yang akan diproduksi dan kemudian ditawarkan akan dipengaruhi oleh  harapan para produsen dimasa yang akan datang. Dalam hal ini, harapan menjadi sebuah prediksi perekonomian di masa yang akan datang.

Jika produsen memperkirakan harga barang dan jasa akan turun dikemudian hari, missal pada akhir tahun, dengan sendirinya para produsen akan mengurangi produksinya sehingga mengurangi penawaran. Dan ketika para produsen menilai bahwa kondisi perekonomian akan membaik dikemudian hari, maka para produsen akan memprodusi barang atau jasa lebih banyak.

Daftar Pustaka

Faktor Yang Mempengaruhi Penawaran barang dan jasa dengan Pengertian Penawaran atau supply sedangkan Hukum Penawaran. Ceteris paribus yaitu faktor- faktor lainnya diasumsikan tetap dengan Faktor yang Memengaruhi Penawaran dan  Pengaruh Harga Barang Yang Dijual terhadap pemawaran.

Pengaruh Biaya Produksi terhadap penawaran dan Pengaruh Tingkat Teknologi pada penawaran meskipun Pengaruh Kebijakan Pemerintah terhadap penawaran dan Pengaruh pajak terhadap penawaran. Pengaruh subsidi terhadap penawaran dan Pengaruh Kondisi Alam atau Cuaca atau Iklim terhadap penawaran. Pengaruh Ekspektasi atau Harapan Produsen pada penawaran.

Faktor Yang Mempengaruhi Permintaan.

Pengertian Permintaan. Permintaan adalah jumlah barang atau jasa yang rela dan mampu dibeli oleh konsumen atau pelanggan pada berbagai kemungkinan harga selama periode tertentu dengan asumsi faktor-faktor lainnya dianggap tetap atau ceteris paribus. Yang dimaksud periode tertentu adalah bisa hanya satu jam, satu hari, bisa juga satu tahun atau periode lainnya.

Hukum Permintaan.

Hukum permintaan menyatakan: Jika harga suatu barang dan jasa naik (dalam keadaan ceteris paribus, dengan faktor-faktor lain dianggap tetap), kuantitas barang yang diminta akan berkurang. Demikian juga sebaliknya, jika harga- harga barang dan jasa turun, kuantitas yang diminta akan bertambah.

Jenis atau Macam Permintaan.

Jenis atau Macam Permintaan dapat digolongkan menjadi tiga, yaitu sebagai berikut.

Permintaan absolut

Permintaan absolut adalah permintaan yang tidak didukung oleh daya beli, tetapi lebih merupakan keinginan saja yang sifatnya angan- angan. Setiap orang dapat dipastikan mempunyai permintaan absolut.

Permintaan potensial

Permintaan potensial adalah permintaan yang akan diwujudkan dengan sejumlah uang yang dimiliki. Artinya, permintaan ini didukung dengan daya beli yang memadai, tetapi masih belum dilaksanakan, punya rencana membeli barang dan jasa dengan anggaran terrencana. Misalnya, dengan uang sebesar Rp200.000,00 di tabungan, seseorang berniat membeli baju, dan sedang memikirkan baju merk apa yang akan dibelinya. Orang-orang yang memiliki permintaan potensial ini yang umumnya menjadi target iklan dan berbagai bentuk promosi lainnya.

Permintaan efektif

Permintaan efektif adalah permintaan terhadap barang atau jasa yang dilakukan sesuai dengan daya beli yang dimiliki. Misalnya, sesorang memiliki tabungan Rp 200.000,00. Orang terebut pada akhirnya membeli baju dengan merk B seharga Rp175.000,00 sesuai dengan jumlah uang yang dimilikinya. Artinya membeli barang dan jasa sesuai dengan kemampuan belinya.

Faktor yang Mempengaruhi Permintaan Terhadap Barang dan Jasa.

Harga barang atau jasa merupakan salah satu factor yang mempengaruhi tingkat permintaan. Selain itu, ada beberapa faktor lain yang juga dapat mempengaruhi permintaan terhadap suatu barang atau jasa. Factor factor tersebut diantranya  ketersediaan barang yang berkaitan (bisa barang substitusi dan barang komplementer), pendapatan konsumen, dan selera atau preferensi konsumen terhadap barang tersebut.

Harga Barang dan Jasa.

Harga barang merupakan faktor penting atau utama yang memengaruhi permintaan seorang konsumen  atau pasar. Sutau produk atau jasa yang dijual dengan Harga yang murah dengan mutu yang baik akan menyebabkan permintaan menjadi tinggi. Namun sebaliknya, harga yang tinggi atau mahal cenderung menurunkan permintaan. Kondisi lainnya adalah harga murah dengan kualitas produk rendah akan mengakibatkan permintaan menjadi turun.

Dalam hal ini, harga menjadi penentu apakah suatu barang atau jasa akan jadi dibeli atau tidak, ketika barang dan jasa tersebut sudah diketahui mutunya secara jelas.

Pendapatan Masyarakat.

Pendapatan yang diperoleh masyarakat menunjukkan memampuan beli masyarakat terhadap barang dan jasa. Dengan Kata lainnya, pendapatan adalah daya beli. Sehingga pendapatan akan berpengaruh terhadap tinggi rendahnya permintaan. Semakin tinggi pendapatan seseorang, maka permintaan terhadap barang dan jasa cenderung meningkat. Begitupun sebaliknya semakin rendah pendapatan, maka akan semakin rendah pula permintaan terhadap barang dan jasa.

Perubahan Harga Barang yang Berkaitan

Barang yang berkaitan terdiri dari barang substitusi dan barang komplementer. Baik harga barang substitusi maupun harga barang komplementer dapat merubah tingkat permintaan barang dan jasa.

Barang Substitusi atau barang yang berkaitan erat merupakan barang yang dalam penggunaannya bisa saling menggantikan atau bisa ditukar. Sebagai contoh: barang yang bisa saling ganti, Jika kompor gas disubstitusikan dengan kompor minyak tanah maka ketika harga gas mengalami kenaikan, maka permintaan terhadap kompor minyak tanah akan naik sebagai barang pengganti karena dianggap lebih murah.

Barang Komplementer atau melengkapi adalah barang yang dalam penggunaannya harus saling melengkapi, atau harus ada keduannya saat digunakan. Contohny adalah barang yang harus saling melengkapi, jika gas adalah barang komplementer dari kompor gas, maka ketika harga gas naik akan menyebabkan permintaan kompor gas menjadi turun.

Dengan demikian, Jumlah permintaan suatu barang dipegaruhi oleh harga barang yang berkaitan. Artinya harga barang berubah ketika harga barang substitusi atau komplementer berubah.

Selera/Taste Masyarakat Konsumen Terhadap Barang atau Produk.

Selera atau cita rasa konsumen terhadap suatu barang dapat mempengaruhi permintaan terhadap barang tersebut. Jika selera konsumen terhadap suatu barang meningkat maka permintaan terhadap barang tersebut juga akan meningkat dan sebaliknya jika selera konsumen terhadap suatu barang menurun maka permintaan terhadap barang tersebut menurun.

Contoh, selera konsumen terhadap suatu barang yang berhubungan dengan mode. Model pakaian/celana panjang yang sedang trend saat ini adalah celana yang relatif ketat, maka jumlah permintaan model celana ini cenderung meningkat. Sebaliknya model pakaian yang sudah ketinggalan (out of date) seperti model rok mini atau model longgar, jumlah permintaannya cenderung menurun atau berkurang.

Contoh lainnya, Misalnya, setelah ditemukan alat komunikasi berupa telepon selular, selera masyarakat beralih dari telepon rumah ke telepon selular sehingga permintaan akan jenis telepon tersebut semakin meningkat.

Jumlah Penduduk.

Pertambahan jumlah penduduk cenderung menyebabkan meningkatnya permintaan, walaupun tidak selalu demikian. Jumlah penduduk yang besar secara potensial akan mampu menambah permintaan. Jika jumlah penduduk yang besar disertai dengan kesempatan kerja yang luas maka pada akhrnya akan lebih banyak orang yang menerima pendapatan. Penerimaan pendapatan akan menambah daya beli yang pada akhirnya akan menambah permintaan.

Dengan kata lain, Semakin banyak jumlah penduduk suatu daerah maka semakin besar pula permintaan barang di daerah tersebut.

Tingkat Kebutuhan Terhadap Suatu Barang (Intensitas Kebutuhan)

Mendesak tidaknya kebutuhan seseorang terhadap suatu barang dan jasa yang diinginkan akan mempengaruhi permintaan terhadap barang dan jasa tersebut. Jika suatu barang masuk kategori kebutuhan primer maka konsumen tidak akan menunda permintaan terhadap barang tersebut, tetapi jika barang tersebut masuk kategori kebutuhan sekunder, maka konsumen cenderung menunda permintaan terhadap barang tersebut.

Kebutuhan barang pokok, seperti pangan, papan, dan sandang di daerah bencana sangat mendesak sehingga tingkat permintaan terhadap kebutuhan pangan, papan, dan sandang sangat tinggi dibandingkan di daerah lainnya.

Mode (Trend) atau Model

Mode atau Model atau tipe termasuk spesifiksi teknis akan mendorong orang untuk menyesuaikan diri sesuai dengan tuntutan zamannya. Dengan demikian Mode atau model sangat memengaruhi permintaan akan barang karena jika tidak membeli barang sesuai dengan mode atau trendnya saat itu, akan cenderung ketinggalan zaman.

Dafrar Pustaka

Faktor Yang Mempengaruhi Permintaan barang dan jasa. Pengertian Permintaan dengan pengertian ceteris paribus dan Hukum Permintaan atau Jenis atau Macam Permintaan. Permintaan absolut atau permintaan tidak didukung daya beli dan Permintaan potensial atau permintaan didukung daya beli. Permintaan efektif atau permintaan sesuai daya beli dengan Faktor yang Mempengaruhi Permintaan Barang dan Jasa termasuk barang substitusi.

Barang komplementer atau Pengaruh Harga Barang dan Jasa terhadap permintaan dan Pengaruh Pendapatan Masyarakat terhadap permintaan. Pengaruh Perubahan Harga Barang yang Berkaitan terhadap permintaan dan Pengaruh Barang Substitusi terhadap permintaan dengab Pengaruh Barang Komplementer terhadap Permintaan.

Pengaruh Selera Konsumen Terhadap permintaan Barang termasuk Pengaruh Jumlah Penduduk terhadap permintaan. Pengaruh Tingkat Kebutuhan Terhadap permintaan dan  Pengaruh Intensitas Kebutuhan pada permintaan atau Pengaruh Mode Trend pada permintaan,

Sistem dan Asas Pemungutan Pajak

Supaya berjalan lancar tanpa mengalami hambatan yang berarti, maka pelaksanaan pemungutan pajak terhadap masyarakat harus menggunakan sistem atau asas yang sudah diberlakukan oleh pemerintah atau negara. Adapun system dan asas pemungatan pajak yang berlaku adalah:

A. Sistem Pemungutan Pajak

Ada empat macam sistem pemungutan pajak yang bisa digunakan, yaitu sebagai berikut.

1) Official Assesment System

Dalam sistem ini, penghitungan pajak dilakukan oleh aparatur pajak atau kantor pajak. Para wajib pajak dapat langsung membayar sesuai hasil perhitungan yang sudah dilakukan oleh aparatur pajak atau kantor pajak.

2) Self Assesment System

Dalam sistem ini, penghitungan pajak dilakukan sendiri oleh wajib pajak dan kemudian pajak dibayarkan sesuai dengan yang sudah dihitungnya.

3) Semi-Self Assesment System

Dalam sistem ini penghitungan pajak dilakukan oleh wajib pajak bersama dengan aparatur pajak. Kemudian wajib pajak dapat membayar pajak yang sudah dihitung secara bersama.

4) With Holding System

Dalam sistem ini penghitungan pajak tidak dilakukan oleh wajib pajak dan aparatur pajak, tetapi dilakukan oleh pihak ke tiga yang ditunjuk. Berdasarkan UU No. 16 Tahun 2000 tentang Ketentuan Umum dan Tata cara Perpajakan, pemungutan pajak penghasilan menggunakan Self Assesment System dan pemungutan pajak penjualan atas barang mewah menggunakan With Holding System.

B. Asas Pemungutan Pajak

Supaya tercipta keadilan dan tidak memberatkan anggota masyarakat, pemungutan pajak perlu memperhatikan asas- asas atau prinsip- prinsip pemungutan pajak yang sudah diperkenalkan  oleh Adam Smith dengan istilah Smith’s Canon, yang terdiri dari:

1) Prinsip Keadilan/ Kesamaan (Equity)

Pemungutan pajak harus dilakukan seara adil dan sesuai dengan kemampuan masing masing individu wajib pajak.

2) Prinsip Kepastian (Certainly)

Pemungutan pajak harus jelas dan pasti sehingga dapat dipahami atau dimengerti oleh wajib pajak agar mudah dalam perhitungan dan administrasinya.

3) Prinsip Kelayakan (Convenience)

Pemungutan pajak tidakboleh memberatkan wajib pajak sehingga wajib pajak bisa merasa nyaman dan sukarela dalam membayar pajak. Jika ada kelebihan dalam pembayaran pajak, pemerintah wajib mengembalikannya pada wajib pajak dalam jangka waktu satu bulan.

4) Prinsip Ekonomi (Economy)

Pemungutan pajak harus memenuhi syarat ekonomi, yaitu hasil pajak mampu memenuhi kebutuhan negara dan pemungutan pajak tidak menghambat kemajuan ekonomi.

Daftar Pustaka

Pengertian Sistem dan Asas Pemungutan Pajak dengan Sistem Pemungutan Pajak, JenisMacam Sistem Pemungutan Pajak.  Sistem Pemungutan Pajak dan Contoh Sistem Pemungutan Pajak dan Official Assesment System. Self Assesment System dan Semi- Self Assesment System atau penghitungan pajak dilakukan oleh wajib pajak dan aparatur pajak. With Holding System dengan  penghitungan pajak tidak dilakukan oleh wajib pajak dan aparatur pajak.

Sistem Pemungutan Pajak barang mewah dan Sistem Pemungutan Pajak Penghasilan dengan System penghitungan pajak dilakukan oleh aparatur pajak atau kantor pajak dan System penghitungan pajak dilakukan sendiri oleh wajib Pajak. Asas Pemungutan Pajak dan Pengertian asas Pemungutan Pajak dengan Pengertian Smith’s Canon. Jenis macam asas pemungutan pajak.

Contoh Asas Pemungutan Pajak dengan Prinsip Keadilan/ Kesamaan (Equity) dan Prinsip Kepastian (Certainly). Prinsip Kelayakan (Convenience) atau PrinsipEkonomi (Economy).

Peran Pajak Bagi Pemerintah dan Perekonomian.

Pendapatan Negara, Fungsi Pajak Sebagai Budgeter. Pada saat ini, pajak merupakan sumber utama pendapatan pemerintah atau negara. Hal ini dapat dilihat dan diamati pada APBN. Sebelumnya,beberapa tahun lalu, Indonesia pernah menggantungkan pendapatan negara dari sector minyak dan gas. Namun seiring dengan harga minyak dan gas yang menurun dan produksinya yang tidak seimbang dengan jumlah konsumsi di dalam negeri, pemerintah kemudian mengalihkan sumber pendapatan negara kepada sektor pajak. Halini diiringi dengan perbaikan tata cara perpajakan, sehingga saat ini pajak menjadi sumber utama pendapatan negara.

Pengatur Kegiatan Ekonomi, Fungsi Pajak Sebagai Regulasi.

Pajak dapat digunakan oleh pemerintah untuk merekayasa kegiatan ekonomi, contohnya, ketika pemerintah ingin meningkatkan daya saing barang dalam negeri, pemerintah bisa mengeluarkan kebijakan atau regulasi dengan menurunkan tarif pajak ekspor. Hal ini dilakukan agar barang dalam negeri bisa dijual dengan harga yang lebih murah di luar negeri. Harga yang lebih murah akan lebih menarik atau kompetitif di negara lain. Masyarakat Negara lain lebih tertarik untuk membeli barang Indonesia. Di sini, pajak digunakan untuk pendorong barang yang diproduksi di dalam negeri untuk diekspor ke luar negeri.

Namun jika pemerintah ingin melindungi industri dalam negeri, pemerintah dapat membuat kebijkan atau regulasi dengan menaikkan tarif pajak impor untuk barang -barang yang sudah diproduksi di dalam negeri. Sedangkan untuk bahan baku industri yang masih diimpor, pemerintah dapat menetapkan tarif pajak impor yang sangat rendah atau bahkan bila perlu tarif pajak impornya = 0 (tidak ada pajaknya sama sekali walaupun hal ini sangat sulit dilakukan). Dalam hal ini, pajak digunakan untuk memproteksi barang yang diproduksi di dalam negeri.

Pemerataan Pendapatan, Fungsi Pajak Sebagai Distribusi.

Pajak dapat digunakan oleh negara untuk membiayai pengeluaran rutin dan pembangunan. Penggunaan pajak untuk pembangunan dilakukan secara merata di seluruh wilayah tanah air. Pembangunan secara langsung dapat mengurangi pengangguran dan meningkatkan pendapatan masyarakat. Dengan demikian terjadi pemerataan terhadap lapangan kerja.

Kegiatan pereonomian yang dibiayai oleh negara tidak terpusat di satu wilayah saja. Pemerintah dapat mensubsidi masyarakat kurang mampu,seperti subsidi pupuk bagi petani atau subsidi dalam bentuk beras untuk rakyat masyarakat kurang mampu agar menghindari ketimpangan pendapatan di masyarakat.

Untuk mengurangi kesenjangan pendapatan antara yang mampu  dan tidak mampu, pemerintah bisa menaikkan tarif pajak atas penjualan barang barang mewah yang umumnya hanya dibeli oleh orang mampu. Dalam hal ini, pajak dapat digunakan untuk mendistribusikan iuran wajib dalam bentuk pajak dari orang mampu kepada orang kurang mampu.

Penstabil Kegiatan Ekonomi, Fungsi Pajak Untuk Stabilisasi

Pajak dapat digunakan untuk menstabilkan kondisi ekonomi, contohnya pemerintah dapat mengeluarkan kebijakan dengan menetapkan pajak yang tinggi, untuk mengatasi inflasi. Hal ini dapat terjadi karena jumlah uang yang beredar menjadi berkurang. Pajak tinggi berdampak pada pengurangan pendapatan.

Sebaliknya untuk mengatasi deflasi atau kelesuan ekonomi,pemerintah dapat menurunkan nilai pajak. Dengan menurunkan pajak ini, jumlah uang yang beredar dapat ditambah sehingga kelesuan ekonomi dapat diatasi. Kelesuan ekonomi di antaranya ditandai dengan sulitnya pengusaha memperoleh modal. Penambahan uang beredar akan mampu disalurkan kepada perusahaan yang membutuhkan modal.

Daftar Pustaka

Fungsi Pajak Bagi Pemerintan dan Perekonomian dengan Pengaruh pajak pada Pendapatan Negara dan Fungsi Pajak Sebagai Budgeter. Pajak Pengatur Kegiatan Ekonomi dengan Fungsi Pajak Sebagai Regulasi dan Pajak Sektor Minyak dan Gas Migas. Contoh Pajak Sebagai Budgeter dengan Pajak Untuk Pemerataan Pendapatan dan Fungsi Pajak Sebagai Distribusi.

Contoh Pajak Sebagai Distribusi yang Penstabil Kegiatan Ekonomi namun Fungsi Pajak Untuk Stabilisasi. Contoh pajak sebagai penstabil ekonomi dan Pajak sebagai pelindung barang domestic dalam negeri,