Teori Nilai Barang, Teori Gossen.

Pengertian Nilai Barang. Nilai  barang dapat diartikan sebagai kemampuan barang untuk memenuhi kebutuhan manusia. Ini artinya barang- barang yang memiliki nilai berarti barang itu mempunyai kemampuan untuk memenuhi kebutuhan manusia.

Jenis Nilai Barang

Nilai suatu barang dapat dibedakan menjadi dua, yaitu barang berdasarkan nilai pakai dan nilai tukar.

Nilai Pakai (Value in Use)

Suatu barang dikatakan mempunyai nilai pakai apabila barang tersebut mampu memenuhi kebutuhan pemiliknya secara langsung. Nilai pakai dapat dibedakan menjadi dua, yaitu sebagai berikut.

  • Nilai Pakai Subjektif,

Nilai pakai subjektif adalah nilai yang diberikan oleh seseorang terhadap suatu barang karena barang tersebut bisa digunakan untuk memenuhi kebutuhannya secara pribadi (untuk diri sendiri).

Contoh nilai pakai subjuktif adalah kursi roda bagi orang yang tidak dapat berjalan memiliki nilai pakai yang tinggi, tetapi bernilai pakai rendah bagi orang yang sehat. Kursi memiliki nilai subjektif terhadap perorangan. Hanya dibutuhkan oleh orang orang tertentu.

  • Nilai Pakai Objektif,

Nilai pakai objektif adalah kemampuan dari suatu barang untuk dapat memenuhi kebutuhan manusia pada umumnya.

Contoh nilai pakai objektif adalah air memiliki nilai pakai yang tinggi bagi setiap orang. Sebagai barang atau objek, air memiliki nilai pakai yang sangat tinggi, karena air merupakan sumber kehidupan dan dibutuhkan oleh setiap orang.

Nilai Tukar (Value in Exchange)

Suatu barang dapat dikatakan mempunyai nilai tukar apabila memiliki kemampuan untuk ditukarkan dengan barang lain.

Berdasarkan nilai tukarnya, suatu barang dapat dikatagorikan menjadi nilai tukar subjektif dan nilai tukar objektif.

  • Nilai Tukar Subjektif,

Nilai tukar subjektif adalah nilai yang diberikan oleh seseorang (secara pribadi)  terhadap suatu barang karena barang tersebut dapat ditukarkan dengan barang lain.

Contoh nilai tukar subjektif adalah bagi seseorang nilai tukar sebuah lukisan tertentu lebih tinggi dari nilai tukar sebuah mobil baru, tetapi tidak demikian bagi yang lain. Nilai tukar yang dinilai menurut perorangan. Tiap orang akan memberikan nilai tukar yang berbeda untuk barang yang akan ditukarnya.

  • Nilai Tukar Objektif,

Nilai tukar objektif adalah kemampuan dari suatu barang untuk dapat ditukarkan dengan barang yang lain.

Contoh nilai tukar objektif adalah semua orang mengakui bahwa berlian memiliki nilai tukar yang tinggi maka berlian akan memiliki harga yang tinggi di setiap tempat. Nilai yang secara umum diberikan pada barang akan sama.

Teori Nilai

Teori Nilai Objektif

Beberapa ahli ekonomi melakukan penelitian tentang bagaimana terjadinya nilai terhadap barang/ jasa melahirkan teori nilai objektif sebagai berikut.

Teori Nilai Biaya Produksi Adam Smith

Adam Smith menyatakan nilai suatu barang dan jasa ditentukan oleh biaya yang dikeluarkan produsen untuk memproduksi barang dan jasa tersebut. Semakin tinggi biaya produksi, maka semakin tinggi pula nilai dari barang tersebut.

Jika biaya produksi untuk suatu barang yang dikeluarkan oleh produsen adalah Rp 500.000, maka nilai dari barang tersebut juga sebesar Rp500.000 pula.

Teori Nilai Biaya Produksi Tenaga Kerja David Ricardo

Berdasrkan teori David Ricardo, nilai suatu barang ditentukan oleh biaya tenaga kerja yang digunakan untuk memproduksi barang tersebut.

Yang dimaksud Tenaga kerja adalah meliputi tenaga kerja manusia, mesin, dan peralatan lain yang digunakan.

Teori Nilai Lebih Karl Marx

Berdasarkan teori Karl Marx, barang dinilai berdasarkan pada biaya rata- rata tenaga kerja di masyarakat. Karl Marx juga berpendapat bahwa upah yang diberikan kepada buruh tidak sesuai dengan harga barang yang dijual sehingga timbul pemerasan terhadap buruh.

Laba yang diterima pengusaha didapat dari selisih nilai jual dengan biaya produksi yang rendah. Rendahnya biaya karena adanya pemerasan terhadap buruh disebut nilai lebih. Oleh karena itu, teori ini disebut dengan teori nilai lebih.

Teori Nilai Reproduksi Carey

Berdasarkan teori ini, nilai suatu barang ditentukan oleh biaya pembuatan kembali atau biaya saat barang tersebut direproduksi. Oleh karena itu, nilai barang ditentukan oleh harga- harga bahan pada saat barang tersebut akan dibuat kembali.

Teori Nilai Pasar Hummed and Locke

Berdasarkan teori ini, nilai suatu barang ditentukan oleh mekanisme permintaan dan penawaran yang ada di pasar atau nilai suatu barang ditentukan oleh harga pasar.

Teori Nilai Subjektif

Berdasarkan teori ini nilai suatu barang ditentukan oleh utilitas dari barang tersebut. Setiap orang akan mempunyai utilitas yang berbeda untuk suatu barang yang sama. Teori nilai subjektif yang terkenal berasal dari Herman Heinrich Gossen dan Carl Menger.

Hukum Gossen I

Hukum Gossen I ini menyatakan tentang gejala tambahan kepuasan yang tidak proporsional yang dikenal dengan The Law of Diminishing Marginal Utility (Hukum Tambahan Kepuasan yang Semakin Menurun).

Hukum Gossen I berbunyi sebagai berikut. ”Jika jumlah suatu barang yang dikonsumsi dalam jangka waktu tertentu terus ditambah maka kepuasan total yang diperolah juga bertambah, akan tetapi kepuasan marjinal (tambahan kepuasan yang diperoleh jika dikonsumi ditambah dengan satu unit) pada titik tertentu akan semakin berkurang.

Bahkan jika konsumsi terus dilakukan, pada akhirnya tambahan kepuasan yang diperoleh akan menjadi negatif dan kepuasan total menjadi berkurang.”

Hukum Gossen II

Uraian di atas mengemukakan perilaku konsumen terhadap satu macam barang saja. Pada kenyataannya, konsumen membutuhkan beraneka macam barang. Masalahnya adalah berapa pengorbanan yang harus dilakukan agar bermacam- macam kebutuhannya dapat terpenuhi dengan sebaik- baiknya dan tercapai kepuasan maksimal.

 Hal ini dikemukakan dalam Hukum Gossen II, yaitu sebagai berikut.

”Manusia akan berusaha memuaskan yang beraneka ragam sampai mencapai tingkat intensitas yang sama.”

Artinya manusia akan membagi- bagi pengeluaran uangnya sedemikian rupa sehingga kebutuhannya terpenuhi secara seimbang.

Teori Nilai Subjektif Carl Menger

Menurut Menger, nilai ditentukan oleh faktor subjektif dibandingkan faktor objektif. Nilai berasal dari kepuasan manusia.

Karena kebutuhan manusia lebih banyak daripada barang dan jasa yang tersedia maka untuk memuaskan kebutuhannya manusia akan memilih secara rasional di antara barang/jasa alternatif yang tersedia.

Dalam teori ini dikemukakan tentang prinsip- prinsip pengkatagorian barang/jasa menurut tingkat intensitasnya.

Katagori I adalah barang- barang untuk mempertahankan hidup, katagori II barang dan jasa untuk kesehatan, dan katagori III adalah barang/jasa untuk memberikan kesejahteraan individu. Semakin penting barang dan jasa tersebut bagi seorang individu maka nilai barang/jasa tersebut semakin tinggi.

Daftar Pustaka:

  1. Sukirno, S, 2011, “Mikroekonomi Teori Pengantar”, PT Raja Grafindo Persada, Edisi Ketiga, Cetatakan Ke 26, Jakarta.
  2. Joesron, Suharti, Tati. Fathorrrazi, M., 2012, “Teori Ekonomi Mikro”, Edisi Pertama, Graha Ilmu, Yogyakarta.
  3. Sartono, Agus, R., “ 2001, “Manajemen Keuangan Teori dan Aplikasi”, Edisi Keempat, BPFE Yogyakarta, Yogyakarta.
  4. Ahman H., Eeng. Rohmana, Yana, 2007, “Ilmu Ekonomi dalam PIPS”, Edisi Pertama, Penerbit Unuversitas Terbuka, Jakarta.
  5. Jhingan, M.L., 2008, “Ekonomi Pembangunan Perencanaan”, Edisi Pertama, PT RajaGrafindo Persada, Jakarta.
  6. Ahman, H., E., Rohmana, Y., 2007,”Ilmu Ekonomi Dalam PIPS”, Edisi Kedua, Cetakan Pertama, Penerbit Universitas Terbuka, Jakarta.
  7. Ardra.Biz, 2019, “==============
  8. Ardra.Biz, 2019, ” Teori Nilai Barang,  Pengertian Nilai Barang,  Jenis Nilai Barang,
  9. Ardra.Biz, 2019, ” Nilai Pakai (Value in Use), Pengertian Nilai Pakai (Value in Use), Nilai Pakai Subjektif, Pengertian Nilai Pakai Subjektif, Contoh Nilai Pakai Subjektif,
  10. Ardra.Biz, 2019, “Nilai Pakai Objektif, Pengertian Nilai pakai objektif, Contoh Nilai Pakai Objektif, Nilai Tukar (Value in Exchange), Pengertian Nilai Tukar (Value in Exchange), Nilai Contoh Tukar (Value in Exchange),
  11. Ardra.Biz, 2019, “Nilai Tukar Subjektif, Pengertian Nilai Tukar Subjektif, Contoh Nilai Tukar Subjektif, Nilai Tukar Objektif, Pengertian Nilai Tukar Objektif, Contoh Nilai Tukar Objektif, Teori Nilai Barang. Contoh Teori Nilai Objektif,
  12. Ardra.Biz, 2019, “Teori Nilai Biaya Produksi Adam Smith, Contoh Teori Nilai Biaya Produksi Adam Smith, Penjelasan  Teori Nilai Objektif,
  13. Ardra.Biz, 2019, “Teori Nilai Biaya Produksi Tenaga Kerja David Ricardo, Penjesan Teori Nilai Biaya Produksi Tenaga Kerja David Ricardo, Contoh Teori Nilai Biaya Produksi Tenaga Kerja, David Ricardo,
  14. Ardra.Biz, 2019, Teori Nilai Lebih Karl Marx, Penjelasan Teori Nilai Lebih Karl Marx, Contoh Teori Nilai Lebih Karl Marx, teori nilai lebih, Penjelasan teori nilai lebih, Teori Nilai Reproduksi Carey, Penjelasan Teori Nilai Reproduksi Carey, Teori Nilai Pasar Hummed and Locke, Penjelasan Teori Nilai Pasar Hummed and Locke, Teori Nilai Subjektif, Penjelasan Teori Nilai Subjektif,
  15. Ardra.Biz, 2019, “Hukum Gossen I, Penjelasan  Hukum Gossen I, gejala tambahan kepuasan yang tidak proporsional, Bunyi Hukum Gossen I, Kepuasan total hukum Gossen I, Pengertian kepuasan marjinal,
  16. Ardra.Biz, 2019, “Hukum Gossen II, Bunyi hukum Gossen II, Penjelasan Hukum Gossen II, Penjelasan Teori Nilai Subjektif Carl Menger, Katagori barang I adalah, katagori barang  II, katagori barang III,

Produk Jasa Lembaga Keuangan Bank

Pengertian. Pada dasarnya pasilitas kredit yang ditawarkan oleh Bank ada dua yakni kredit aktif dan kredit pasif.  Kredit aktif merupakan bagian dari produk kredit yang sering ditawarkan oleh Bank kepada nasabah yakni kredit yang uangnya selalu bergerak.

Kredit pasif merupakan bentuk kredit yang berbentuk penghimpunan dana dari masyarakat atau nasabah. Bank mengelola dana yang dimiliki oleh masyarakat sesuai mekanisme standar pengelolaan bank. Dana pada jenia kredit ini sifatnya pasif atau tidak bergerak, dan bergerak ketika diperlukan saja.

  1. Kredit Pasif

Kredit pasif merupakan kegiatan Bank dalam menghimpun dana dari masyarakat melalui fasikitas simpanan yang terdiri dari, giro, deposito berjangka, sertifikat deposito, tabungan dan surat berharga.

a). Giro

Giro adalah simpanan yang dapat digunakan sebagai alat pembayaran dan penarikannya dapat dilakukan setiap saat dengan menggunakan cek, sarana perintah pembayaran lainnya, atau dengan cara pemindahbukuan.

b). Deposito Berjangka

Deposito berjangka adalah simpanan yang penarikannya hanya dapat dilakukan pada waktu tertentu menurut perjanjian antara penyimpanan dengan bank yang bersangkutan.

c). Sertifikat Deposito

Sertifikat deposito adalah bentuk deposito berjangka yang bukti simpanannya dapat diperjualbelikan atau diperdagangkan.

d).Tabungan

Tabungan adalah simpanan yang yang penyetoran dan penarikannya dapat dilakukan setiap saat. Penarikan tabungan hanya dapat dilakukan menurut syarat tertentu yang disepakati, tetapi tidak dapat ditarik dengan cek atau alat yang dipersamakan dengan itu.

Untuk mempermudah nasabah, bank menyediakan ATM (Automatic Teller Machine) yang dapat melayani penarikan (pengambilan) uang selama 24 jam nonstop

e). Surat berharga

Surat berharga adalah surat pengakuan utang, wesel, saham, obligasi yang lazim diperdagangkan dalam pasar modal dan pasar uang.

f). Loan Deposit,

Loan Deposit adalah pinjaman dari bank yang kemudian dititipkan lagi di bank untuk diambil sewaktu- waktu.

g). Deposit on Call

Deposit on Call adalah simpanan yang tetap berada di bank, dan bisa diambil setelah ada pemberitahuan terlebih dulu dari nasabah.

h). Deposit Automatic Roll Over

Deposit Automatic Roll Over adalah jenis deposito yang jika jatuh tempo uangnya tidak diambil, secara otomatis deposito tersebut langsung diperpanjang disertai dengan penghitungan bunganya.

  1. Kredit Aktif

Bank menyalurkan atau melayani pemberian kredit kepada masyarakat, baik berupa kredit jangka pendek, jangka menengah, dan jangka panjang. Adapun jenis kredit yang termasuk kredit aktif antara lain sebagai berikut.

a). Kredit Rekening Koran (R/K),

Kredit rekening koran (R/K), adalah  kredit yang diberikan kepada nasabah sesuai dengan kebutuhannya dengan jaminan surat- surat berharga, barang dalam gudang atau barang bergerak seperti kendaraan mobil sepeda motor dll.

b). Kredit Reimburs (Letter of Credit),

Kredit Reimburs (Letter of Credit) adalah kredit yang diberikan dengan cara mambayar harga pembelian suatu barang setelah nasabah memperlihatkan bukti-bukti pengiriman barang antarnegara.

c). Kredit Aksep

Kredit Aksep adalah kredit yang diberikan kepada nasabah dengan cara menandatangani wesel (aksep) yang ditarik oleh nasabah. Aksep dapay dijualbelikan oleh nasabah.

d). Kredit Dokumenter,

Kredit Dokumenter adalah  kredit yang diberikan kepada nasabah dengan jaminan dokumen milik nasabah yang diserahkan ke bank. Contoh dokumen yang bisa diberi kredit adalah surat pengiriman barang dan sejenisnya.

e). Kredit Jaminan Surat- surat Berharga,

Kredit jaminan surat berharga adalah kredit yang diberikan kepada nasabah untuk membantu membeli surat- surat berharga. Sebagai jaminannya, surat berharga disimpan di bank pemberi kredit.

  1. Jasa Pembayaran

Bank memberikan jasa dalam lalu lintas pembayaran, baik lalu lintas pembayaran dalam negeri maupun pembayaran internasional. Sebagaimana bank, lembaga keuangan bukan bank juga memiliki produk- produk tertentu dalam kegiatannya.

Adapun produk- produk lembaga keuangan bukan bank antara lain sebagai berikut.

  1. Perusahaan pembiayaan.
  2. Perusahaan sewa-guna (leasing).
  3. Perusahaan anjak piutang.
  4. Perusahaan pegadaian.
  5. Perusahaan kartu kredit.
  6. Perusahaan asuransi.
  7. Perusahaan penyelenggara dana pensiun.

Daftar Pustaka:

  1. Mankiw, N., Gregory, 2003, “Teori Makroekonomi”, Edisi Kelima, Penerbit Erlangga, Jakarta.
  2. Jhingan, M.L., 2008, “Ekonomi Pembangunan Perencanaan”, Edisi Pertama, PT RajaGrafindo Persada, Jakarta.
  3. Samuelson, A., Paul. Nordhaus, D., William, 2004, “Ilmu Makro Ekonomi”, Edisi 17, PT Media Global Edukasi, Jakarta.
  4. Sukirno, Sadono, 2008, “Makroekonomi Teori Pengantar”, Edisi Ketiga, PT RajaGrafindo Persada, Jakarta.
  5. Prasetyo, P., Eko, 2011, “Fundamental Makro Ekonomi”, Edisi 1, Cetakan Kedua, Beta Offset, Yogyakarta.
  6. Putong, Iskandar. Andjaswati, N.D., 2008, “Pengantar Ekonomi Makro”, Edisi Pertama, Penerbit Mitra Wacana Media, Jakarta.
  7. Firdaus, R., Ariyanti, M., 2011, ”Pengantar Teori Moneter serta Aplikasinya pada Sistem Ekonomi Konvensional dan Syariah”, Cetakan Kesatu, AlfaBeta, cv, Bandung.
  8. Ardra.Biz, 2019, “Produk Jasa Bank Lembaga Keuangan, Pengetian Kredit Pasif dan Aktif, Jenis Kredit Pasif dan Aktif, Pengertian Kredit Bank, Jenis Kredit Bank, Contoh Kredit Pasif dan Aktif, Pengertian dan Contoh Giro, Pengertian dan Contoh Deposito Berjangka, Pengertian dan Contoh Sertifikat Deposito,
  9. Ardra.Biz, 2019, “Pengertian dan Contoh Tabungan, Pengertian da Contoh Surat berharga, Pengertian dan Contoh Loan Deposit, Pengertian dan Contoh Deposit on Call, Pengertian dan Contoh Deposit Automatic Roll Over, Pengertian Kredit Rekening Koran (R/K), Contoh Kredit Rekening Koran (R/K), Pengertian dan Contoh Kredit Reimburs (Letter of Credit),
  10. Ardra.Biz, 2019, “Pengertian dan Contoh Kredit Aksep, Contoh Kredit yang Diperjual belikan, Pengertian Kredit Dokumenter, Contoh Kredit Dokumenter, Pengertian dan Contoh Kredit Jaminan Surat- surat Berharga, Contoh Surat Jaminan Kredit, Pengertian Jasa Pembayaran, Jenis pembiayaan bank, Contoh produk lembaga keuangan,

Jenis Kredit Produk Jasa Perbankan

Pengertian Kredit. Istilah kredit berasal dari bahasa Latin credere yang artinya percaya . Seseorang atau badan usaha yang memberi kredit (disebut kreditur) percaya bahwa peminjam (disebut debitur) pada masa mendatang akan sanggup memenuhi segala kewajibannya seperti yang telah diperjanjikan.

Kredit adalah penyediaan uang atau tagihan berdasarkan persetujuan atau kesepakatan pinjam meminjam antara bank dan pihak lain, yang mewajibkan pihak peminjam untuk melunasi utangnya setelah jangka waktu tertentu dengan sejumlah bunga, atau imbalan, atau pembagian hasil keuntungan.

Unsur- Unsur Kredit

Kredit diberikan oleh bank atau Lembaga keuangan lainnya didasarkan pada unsur unsur pertimbangan kepercayaan, waktu, risiko, dan prestasi.

Tujuan Pemberian Kredit

Tujuan pemberian kredit umumnya adalah untuk mencari keuntungan berbentuk imbalan atau bagi hasil. Namun demikian, tujuan utama pemberian kredit di negara Indonesia adalah agar terjadinya peningkatan kesejahteraan masyarakat secara umum.

Tujuan pemberian kredit dapat dibedakan atas kepentingan pemerintah, masyarakat, dan dunia usaha.

Syarat Pemberian Kredit

Pemberian kredit oleh bank kepada perorangan atau perusahaan harus mempertimbangkan hal-hal yang dikenal dengan istilah 5C. Lima C tersebut adalah Karakter (character), Kemampuan (capabilit ), Modal (capital), Jaminan (collateral), Kondisi ekonomi (condition of econom ).

Jenis Jenis Kredit

Adapun jenis jenis kredit yang umum diberikan oleh perbankan kepada para nasabahnya diantaranya adalaha:

Jenis Kredit Menurut Tujuan Pemakaian

Berdasarkan tujuan pemakaiannya, kredit dapat dikelompokkan menjadi kredit konsumtif dan produktif.

  1. Kredit Konsumtif

Kredit konsumtif adalah kredit yang digunakan oleh konsumen atau  nasabah bank untuk tujuan konsumtif, misalnya kredit yang digunakan untuk membeli peralatan elektronik, pembelian kendaraan bermotor, dan lain lain..

  1. Kredit Produktif

Kredit produktif adalah kredit yang digunakan untuk meningkatkan usaha bisnis para nasabah. Contoh kredit produktif adalah kredit untuk pembelian mesin- mesin pabrik, kredit untuk menambah modal kerja dan lainnya.

Jenis Kredit Menurut Waktu Pengembalian

Berdasarkan tempo pengembalian kredit dapat dikelompokkan menjadi tiga yaitu, kredit jangka pendek, kredit jangka menengah, dan kredit jangka Panjang.

  1. Kredit Jangka Pendek

Kredit jangka pendek adalah kredit yang diberikan kepada nasabah bank dengan jangka waktu pengembaliannya kurang dari satu tahun.

Kredit ini umumnya digunakan untuk keperluan modal kerja. Kredit ini digunakan untuk keperluan pembayaran bahan baku, upah karyawan atau untuk melunasi kewajiban jangka pendek perusahaan.

  1. Kredit Jangka Menengah

Kredit jangka menengah adalah kredit yang diberikan kepada nasabah dengan jangka waktu pengembaliannya antara satu sampai tiga tahun.

Kredit ini dapat  digunakan untuk investasi. Contoh kredit pertanian utnuk perkebunan jeruk. Kredit peternakan untuk peternakan kambing atau ayam.

  1. Kredit Jangka Panjang

Kredit jangka panjang adalah kredit yang diberikan kepada nasabah bank dengan jangka waktu pengembaliannya lebih dari tiga tahun.

Kredit ini umumnya digunakan untuk keperluan investasi jangka panjang seperti perkebunan karet, perkebunan kelapa sawit atau pambangunan pabrik atau untuk kredit konsumtif seperti pembelian rumah.

Jenis Kredit Menurut Jaminan

  1. Kredit Tanpa Jaminan

Kredit tanpa jaminan adalah kredit yang didasarkan hanya pada kepercayaan saja. Di Indonesia,  kredit tanpa jaminan ini dilarang. Pelarangan ini berdasarkan pada Undang-Undang bank No. 7 Tahun 1992).

  1. Kredit Dengan Jaminan

Kredit dengan jaminan adalah kredit yang diberikan kepada nasabah bank dengan jaminan berupa barang tetap atau tidak tetap. Contoh jaminan kredit bank adalah jaminan obligasi atau surat- surat berharga lainnya.

Jenis  Kredit Menurut Sumber

  1. Kredit Dalam Negeri

Kredit dalam negeri adalah kredit yang sumber dana dan pemakaiannya berasal dari dalam negeri.

  1. Kredit Luar Negeri

Kredit luar negeri adalah kredit yang sumber dananya berasal dari luar negeri namun digunakan oleh nasabah kredit dalam negeri.

Jenis Kredit Menurut Subjek

  1. Kredit Penjual

Kredit penjual adalah kredit yang diberikan oleh penjual kepada pembeli dengan cara menyerahkan barang terlebih dahulu, dan pembayaran diterima kemudian.

  1. Kredit Pembeli

Kredit pembeli adalah kredit yang diberikan oleh pembeli kepada penjual dengan cara pembayaran lebih dahulu, barang diserahkan kamudian. Istilah kredit pembeli sekarang ini lebih dikenal dengan sistem prabayar.

  1. Kredit Perbankan

Kredit perbankan adalah kredit yang diberikan oleh bank kepada nasabah atau pelanggan bank.

  1. Kredit Pemerintah

Kredit pemerintah adalah kredit yang diberikan pemerintah kepada rakyatnya atau jajaran bawahannya.

  1. Kredit Luar Negeri

Kredit luar negeri adalah kredit yang dananya berasal dari luar negeri baik pemerintah atau swasta dalam rangka kerja sama antarpemerintah atau swasta.

Contoh Soal Ujian Produk dan Jasa Bank Kredit

Kredibilitas seseorang dalam menerima kredit ditentukan oleh jaminan yang dimilikinya. Pernyataan tersebut dikenal dengan ….

  1. character
  2. collateral
  3. condition of econom
  4. capacit
  5. capital

Daftar Pustaka:

  1. Mankiw, N., Gregory, 2003, “Teori Makroekonomi”, Edisi Kelima, Penerbit Erlangga, Jakarta.
  2. Jhingan, M.L., 2008, “Ekonomi Pembangunan Perencanaan”, Edisi Pertama, PT RajaGrafindo Persada, Jakarta.
  3. Samuelson, A., Paul. Nordhaus, D., William, 2004, “Ilmu Makro Ekonomi”, Edisi 17, PT Media Global Edukasi, Jakarta.
  4. Sukirno, Sadono, 2008, “Makroekonomi Teori Pengantar”, Edisi Ketiga, PT RajaGrafindo Persada, Jakarta.
  5. Prasetyo, P., Eko, 2011, “Fundamental Makro Ekonomi”, Edisi 1, Cetakan Kedua, Beta Offset, Yogyakarta.
  6. Putong, Iskandar. Andjaswati, N.D., 2008, “Pengantar Ekonomi Makro”, Edisi Pertama, Penerbit Mitra Wacana Media, Jakarta.
  7. Firdaus, R., Ariyanti, M., 2011, ”Pengantar Teori Moneter serta Aplikasinya pada Sistem Ekonomi Konvensional dan Syariah”, Cetakan Kesatu, AlfaBeta, cv, Bandung.
  8. Ardra.Biz, 2019, “Jenis Kredit Produk dan Jasa Perbankan, Pengertian Kredit, Unsur- Unsur Kredit, Unsur kepercayaan kredit , Unsur waktu kredit, Unsur risiko kredit, Unsur prestasi kredit, Tujuan Pemberian Kredit, Syarat Pemberian Kredit,
  9. Ardra.Biz, 2019, “Pengertian 5C Syarat Kredit, Karakter (character) Kredit, Kemampuan (capabilit ) kredit, Modal (capital) kredit, Jaminan (collateral) kredit, Kondisi ekonomi (condition of econom ) kredit, Jenis Jenis Kredit, Pengertian Kredit Menurut Tujuan Pemakaian,
  10. Ardra.Biz, 2019, “Contoh Jenis Kredit Menurut Tujuan Pemakaian, Pengertian Kredit Konsumtif, Contoh Kredit Konsumtif, Pengertia dan Contoh Kredit Produktif, Pengertian dan Contoh Kredit Menurut Waktu Pengembalian,
  11. Ardra.Biz, 2019, “Pengertian dan Contoh  Kredit Jangka Pendek, Pengertian dan Contoh  Kredit Jangka Menengah,  Pengertian dan Contoh  Kredit Jangka Panjang, Contoh  Kredit Jangka Panjang, Pengertian Kredit Menurut Jaminan, Contoh Kredit Menurut Jaminan,
  12. Ardra.Biz, 2019, “Pengertian Kredit Tanpa Jaminan, Contoh Kredit Tanpa Jaminan, Kredit Dengan Jaminan, Contoh Kredit Dengan Jaminan, Jenis  Kredit Menurut Sumber, Pengertian Kredit Dalam Negeri, Contoh Kredit Dalam Negeri, Pengertian dan Contoh  Kredit Luar Negeri, Jenis Kredit Menurut Subjek,
  13. Ardra.Biz, 2019, “Pengertian Kredit Penjual, Contoh Kredit Penjual, Pengertian Kredit Pembeli, Contoh Kredit Pembeli, Pengertian Kredit Perbankan, Contoh Kredit Perbankan, Pengertian Kredit Pemerintah, Contoh Kredit Pemerintah, Pengertian Kredit Luar Negeri, Contoh Kredit Luar Negeri, Contoh Soal Ujian Produk dan Jasa Bank Kredit

Metoda Perhitungan Pendapatan Nasional,

Pengertian Pendapatan Nasional. Secara sederhana Pendapatan nasional dapat diartikan sebagai pendapatan yang diterima oleh golongan -golongan masyarakat sebagai bentuk balas jasa sehubungan dengan produksi barang- barang dan jasa.

Setiap negara akan mengumpulkan berbagai informasi terkait dengan  kegiatan ekonominya agar secara rutin dapat mengetahui dan mengevaluasi setiap adanya perubahan perubahan pada tingkat dan corak kegiatan ekonomi yang sedang berjalan.

Salah satu informasi penting yang dikumpulkan adalah data mengenai pendapatan nasionalnya. Setiap negara akan mewujudkan suatu system penghitungan pendapatan nasional yang dinamakan national income accounting system atau sistem penghitungan pendapatan nasional.

Pada prinsipnya, sistem atau metoda tersebut adalah suatu cara pengumpulan informasi mengenai perhitungan terhadap :

1) nilai barang- barang dan jasa yang diproduksi dalam suatu negara;

2) nilai berbagai jenis pengeluaran atas produk nasional yang diciptakan;

3) jumlah pendapatan yang diterima oleh berbagai faktor produksi yang digunakan untuk menciptakan produksi nasional.

Berdasarkan arus kegiatan ekonomi negara, penghitungan pendapatan nasional dapat dilakukan dengan tiga (3) metode pendekatan, yaitu

Metode Pendekatan Pendapatan

Dalam metode ini cara yang dilakukan adalah dengan menjumlahkan seluruh pendapatan yang diterima masyarakat sebagai pemilik faktor produksi atas penyerahan faktor produksinya kepada perusahaan untuk  menghasilkan barang dan jasa selama satu tahun.

Penghitungan  pendapatan nasional dengan cara pendapatan pada umumnya menggolongkan pendapatan yang diterima faktor- faktor produksi sebagai berikut:

1) pendapatan para pekerja, yaitu gaji dan upah;

2) pendapatan dari usaha perorangan;

3) pendapatan dari sewa;

4) bunga netto; dan

5) keuntungan perusahaan.

Tabel di bawah menunjukkan factor produksi dan jenis pedapatan yang diperoleh oleh masyarakat dan atau perusahaan.

Cara Hitung Pendapatan Nasional Metode Pendekatan Pendapatan
Cara Hitung Pendapatan Nasional Metode Pendekatan Pendapatan

Besarnya  pendapatan nasional Pendekatan Pendapatan dapat dihitung dengan menggunakan persamaan rumus berikut:

Y = r + w + i + p

Dengan Keterangan:

Y = Yearly income (pendapatan nasional)

r = rent (sewa), yaitu balas jasa atas faktor produksi tanah

w = wages (upah), yaitu balas jasa atas faktor produksi tenaga kerja

i = interest (bunga) yaitu balas jasa atas faktor produksi modal

p = profit (laba) yaitu balas jasa atas faktor produksi skill

Contoh Soal Ujian Pendapatan Nasional Metoda Pendekatan Pendapatan

Diketahui data- data sebagai berikut (dalam miliar)

Sewa tanah = Rp 30.000,00

Upah =  Rp 250.000,00

Bunga modal = Rp 50.000,00

Laba usaha = Rp 40.000,00

Hitunglah pendapatan nasional dengan pendekatan penerimaan atau pendapatan

Jawab :

Y = r + w + i + p

Y = Rp 30.000 + Rp 250.000 + Rp 50.000 + Rp 40.000

Y = Rp 370.000,00

Metode Pendekatan Produksi

Perhitungan pendapatan nasional dengan metode produksi dilakukan dengan cara menjumlahkan secara keseluruhan nilai tambah (value added) yang diproduksi oleh berbagai sektor dalam perekonomian.

Penggunaan cara ini dalam menghitung pendapatan nasional mempunyai dua tujuan penting, yaitu:

1) untuk mengetahui besarnya sumbangan berbagai sektor ekonomi di dalam mewujudkan pendapatan nasional;

2) sebagai salah satu cara untuk menghindari penghitungan dua kali yaitu dengan hanya menghitung nilai produksi netto yang diwujudkan pada berbagai tahap proses produksi.

Sektor ekonomi di Indonesia dibedakan menjadi antara lain:

  1. Pertanian, peternakan, kehutanan dan perikanan
  2. Pertambangan dan penggalian
  3. industri pengolahan
  4. listrik, gas dan air bersih
  5. Bangunan
  6. Perdagangan, restoran dan hotel
  7. pengangkutan dan komunikasi
  8. Keuangan, persewaan bangunan dan jasa perusahaan serta
  9. Jasa-jasa

Nilai Tambah (value added)

Sebagai contoh, untuk memproduksi kemeja harus diproduksi terlebih dahulu kain, benang dan kapas. Jika menjumlahkan nilai akhir produksi  tiap- tiap komponen maka akan terjadi penghitungan ganda (double accounting).

Hal ini disebabkan karena dalam nilai akhir kemeja sudah terkandung nilai kain, dalam nilai akhir kain sudah terkandung nilai akhir benang dan seterusnya. Oleh karena itulah untuk memperoleh total produk yang dihasilkan suatu negara harus dilihat dari nilai tambahnya.

Perhatikan contoh Tabel di bawah yang menunjukkan perhitungan nilai tambah sebuah komoditas barang jadi dari bahan baku seperti berikut ini

Cara Hitung Nilai Tambah Pendapatan Nasional Metode Pendekatan Produksi
Cara Hitung Nilai Tambah Pendapatan Nasional Metode Pendekatan Produksi

Keterangan :

Untuk masing- masing komoditas penghitungan nilai tambahnya didasarkan pada selisih nilai produksi untuk tiap komoditas dari bahan baku pohon kayu jati sampai dengan barang atau produk jadi kursi kayu jati.

Misalkan:

1) Nilai tambah pohon kayu jati besarnya tetap Rp 500.000,00 (karena nilai produksinya belum mengalami perubahan menjadi komoditas lain)

2) Nilai tambah kayu jati Rp1.000.000,00 → merupakan selisih antara nilai produksi papan kayu jati dengan pohon kayu jati.

3) Nilai tambah kursi kayu jati Rp 1.000.000,00→ selisih antara nilai produksi kayu jati dan papan jati

Sehingga dapat disimpulkan bahwa nilai tambah yang diperoleh dari perubahan komoditas pohon kayu jati  menjadi kursi jati sebesar Rp 2.500.000,00. Dan Bukan jumlah nilai produksinya.

Dengan adanya perhitungan nilai tambah tersebut maka akan terhindar dari adanya perhitungan ganda.

Pendapatan Nasional Pendekatan Produksi dapat dihutung dengan menggunakan persamaan rumus berikut:

Y = NTB1 + NTB2 + NTB3 + ……… NTBn

Dengan Keterangan:

Y = Pendapatan nasional

NTB = Nilai tambah dari tiap- tiap sektor ekonomi

Metode Pendekatan Pengeluaran

Untuk mengetahui besarnya pendapatan nasional dengan metode ini maka dilakukan dengan cara menjumlahkan seluruh pengeluaran masyarakat dari tiaptiap rumah tangga yang ada. Adapun pengeluaran yang dihitung bukan berasal dari nilai transaksi barang jadi, hal ini dimaksudkan untuk menghindari perhitungan ganda.

Empat sektor Rumah tangga sebagai pelaku ekonomi yang digunakan sebagai acuan dalam menghitung pengeluaran adalah :

1) Rumah tangga konsumen

Pada sektor rumah tangga ini pengeluaran yang dilakukan berupa pembelian barang atau jasa yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan yang biasa di sebut dengan konsumsi (C)

2) Rumah tangga produsen atau perusahaan

Pengeluaran pada rumah tangga ini dilakukan sebagai pembentukan barang dan jasa yang digunakan untuk menghasilkan barang/jasa lebih lanjut atau yang diistilahkan dengan Investasi (I)

3) Rumah tangga pemerintah

Pengeluaran pemerintah ini terdiri dari:

– Pengeluaran konsumsi pemerintah, misalnya pembayaran gaji pegawai dan pembelian alat-alat kantor

– Pengeluaran pemerintah untuk investasi, misalnya pembuatan jalan, jembatan, saluran irigasi, pelabuhan dan lain-lain

Pengeluaran investasi oleh pemerintah maupun swasta nantinya oleh pemerintah dimasukkan dalam komponen pembentukan modal tetap domestik bruto dan komponen perubahan stok yang diistilahkan Goverment Expenditure (G)

4) Rumah tangga luar negeri / ekspor bersih (X-M).

Pengeluaran untuk rumah tangga ini merupakan selisih dari nilai ekspor terhadap nilai impor yang dilakukan oleh suatu negara dalam kegiatan perdagangan internasional.

Pengeluaran- pengeluaran dari keempat sektor perekonomian itulah yang merupakan komponen pendapatan nasional.

Data pendapatan nasional yang dihitung dengan cara pengeluaran ini akan dapat memberi gambaran tentang sampai di mana baiknya tingkat pertumbuhan yang dicapai dan tingkat kemakmuran yang sedang dinikmati.

Data pendapatan nasional juga memberikan informasi dan data yang dibutuhkan dalam analisis mikroekonomi.

Pendapatan nasional Pendekatan Pengeluaran dapat dihitung dengan menggunakan persamaan rumus berikut:

Y = C + I + G + ( X – M )

Keterangan:

Y = pendapatan nasional

C = konsumsi

I = Investasi

G = Pengeluaran pemerintah (Government Expenditure)

X = ekspor

M = impor

Tabel di bawah menunjukkan komponen komponen dalam PDB sebagai contoh saja.

Rumus Komponen Pendapatan Nasional Pendekatan Pengeluaran
Rumus Komponen Pendapatan Nasional Pendekatan Pengeluaran

Contoh Soal Perhitungan Pendapatan Nasional Pendekatan Pengeluaran

Diketahui data sebagai berikut (dalam miliar) :

Pengeluaran konsumen Rp 125.000,00

Tingkat investasi Rp 150.700,00

Pengeluaran pemerintah Rp 130.000,00

Nilai ekspor Rp 225.250,00

Nilai impor Rp 170.500,00

Hitunglah besarnya pendapatan nasional dengan pendekatan pengeluaran

Jawab :

Y = C + I + G + (X – M)

Y = Rp 125.000 + Rp 150.700 + Rp 130.000 + (Rp 225.250 – Rp 170.500)

= Rp 405.700 + Rp 54.750

= Rp 460.450,00

Indikator Ketimpangan Distribusi Pendapatan

Ada beberapa indikator yang dapat digunakan untuk mengukur tingkat ketimpangan distribusi pendapatan. Berikut beberapa diantaranya adalah:

  1. Tingkat Ketimpangan Distribusi Pendapatan

Indikator yang digunakan untuk mengetahui besarnya tingkat ketimpangan distribusi pendapatan nasional dalam suatu negara atau daerah adalah Indeks Gini (Gini Index).

Rasio Gini atau koefisien Gini atau indeks Gini adalah besaran yang digunakan untuk mengukur derajat ketidakmerataan atau ketimpangan distribusi pendapatan terhadap jumlah penduduk.

Konsep ini didasarkan pada sebuah kuva berbentuk garis lengkung yang disebut dengan Kurva Lorenz, yaitu sebuah kurva yang menyatakan hubungan tidak linear antara persentase kumulatif pendapatan dengan persentase kumulatif penduduk.

Gambar berikut akan memberikan penjelasan yang lebih mudah.

Rasio Gini Tingkat Ketimpangan Distribusi Pendapatan Kurva Lorenz
Rasio Gini Tingkat Ketimpangan Distribusi Pendapatan Kurva Lorenz

Sumbu horisontal merepresentasikan prosentase kumulatif penduduk, sedangkan sumbu vertikalnya menyatakan persentase kumulatif pendapatan.

Garis diagonal 0-G menunjukkan hubungan linear antara persentase kumulatif pendapatan dan persentase kumulatif penduduk. Garis lurus diagonal ini disebut sebagai “garis kemerataan sempurna”.

Sepanjang garis linear ini, perbandingan kumulatif antara pendapatan dengan penduduk nilainya adalah satu. Nilai Persentase kumulatif pendapatan sama dengan persentase kumulatif penduduk. Titik -titik pada garis ini menunjukkan distribusi pendapatan yang merata pada semua penduduk.

Kurva Lorenz menunjukkan hubungan tidak linear antara  nilai pendapatan yang dimiliki oleh jumlah penduduk tertentu. Titi – titik pada kurva Lorenz menunjukkan ketimpangan distribusi pendapatan yang diterima oleh penduduk.

Luas A merupakan luas daerah yang dibatasi oleh kurva Lorenz (garis lengkung) dengan garis diagonal lurus 0 – G. Sedangkan Luas B merupakan luas daerah di bawah Kurva Lorenz.

Nilai Gini Rasio atau Koefesien Gini atai Indeks Gini dapat dinyatakan dengan menggunakan persamaan rumus berikut:

Gini Rasio = Luas A/(Luas A + Luas B)

Nilai Gini Rasio akan berkisar antara nol sampai dengan satu. Nilai Gini Rasio akan nol ketika luas A sama dengan Nol. Yaitu ketika kurva Lorent sama dengan garis lurus 0-G. Nilai Gini Rasio akan satu ketika luas A sama dengan Luas A + Luas B. Yaitu ketika Luas B sama dengan luas nol.

Jadi Koefisien Gini atau Gini Ratio digunakan untuk mengukur tingkat ketidakmerataan atau ketimpangan agregat (secara keseluruhan) memiliki nilai antara nol (pemerataan sempurna) hingga satu (ketimpangan yang sempurna).

Semakin jauh jarak kurva Lorenz dari garis diagonal, semakin tinggi tingkat ketimpangannya. Sebaliknya semakin dekat jarak kurva Lorenz dari garis diagonal, semakin tinggi tingkat pemerataan distribusi pendapatannya.

Nilai Gini Rasio sama dengan 0, ini artinya distribusi pendapatan merata sempurna. artinya setiap orang menerima pendapatan yang sama persis dengan yang lainnya.

Nilai Gini Rasio sama dengan 1 artinya distribusi pendapatan timpang sempurna atau pendapatan yang diterima oleh satu orang atau satu kelompok penduduk berbeda dengan satu orang atau kelompok lainnya..

Titik G1 berada pada garis linear yang menunjukkan distribusi pendapatan merata sempurna. Pada titik G1 dapat dikatakan bahwa 40% dari total pendapatan terdistribusi terhadap 40 % penduduk. Dan sisanya 60 % dari total pendapatan terdistribusi terhadap 60% penduduknya. Ini artinya pendapatan yang diterima oleh 40% penduduk sama besar dengan pendapatan yang diterima oleh 60% penduduk yang lainnya.

Titik G3 berada pada Kurva Lorenz yang menunjukkan distribusi pendapatan timpang atau tidak merata. Pada titik G3 dapat dikatakan bahwa 20 % dari total pendapatan terdistribusi untuk 40% penduduk. Dan sisanya 80% dari total pendapatan terdistribusi untuk 60% penduduk. Ini artinya 40% penduduk memiliki pendapatan yang lebih rendah dari 60% penduduk lainnya. Pada titik G3 terdapat ketimpangan distribusi pendapatan untuk kelompok penduduk 40% dengan kelompok penduduk yang 60% -nya.

Titik G2 berada pada kurva Lorenz, ini artinya distribusi pendapatan timpang. Pada titik G2 terlihat bahwa 40% dar total pendapatan terdistribusi untuk 62% jumlah penduduk. Dan 60% dari total pendapatan terdistribuksi terhadap 38 % penduduk. Ada ketimpangan pendapatan antara kelompok 62% penduduk dengan 38% penduduknya. Dimana 38% penduduk menerima 60% bagian dari total pendapatan. 38% penduduk memiliki pendapatan yang lebih tinggi dati 62% penduduk lainnya.

Tabel berikut ini memperlihatkan patokan yang mengatagorikan ketimpangan distribusi berdasarkan nilai Rasio Gini.

Tabel Ketimpangan Distribusi Pendapatan Nilai Rasio Gini
Tabel Ketimpangan Distribusi Pendapatan Nilai Rasio Gini
  1. Indikator Ketimpangan Pendapatan Menurut Bank Dunia

Bank Dunia mengukur ketimpangan distribusi pendapatan suatu negara dengan melihat besarnya kontribusi dari 40% kelompok penduduk termiskin terhadap total pengeluarannya. Dalam hal ini, pendapatan yang diterima masyarakat didekati oleh pengeluaran yang dilakukan masyarakat. Argumennya bahwa pengeluaran menunjukkan pendapatan.

Kriterianya dapat dilihat pada table berikut:

Tabel Distribusi dan Tingkat Ketimpangan Pendapatan oleh Bank Dunia

Tabel Distribusi dan Tingkat Ketimpangan Pendapatan oleh Bank Dunia
Tabel Distribusi dan Tingkat Ketimpangan Pendapatan oleh Bank Dunia

Dari table diketahui, jika pengeluaran yang dilakukan oleh 40% penduduk kurang 12% dari total pengeluaran seluruh penduduknya, maka tingkat ketimpangannya dikatakan sangat tinggi.

Usaha Meningkatkan Pendapatan Nasional

Beberapa upaya yang dapat dilakukan oleh pemerintah untuk meningkatkan pendapatan nasional, yang dianggap cocok antara lain sebagai berikut :

1) Meningkatkan pembangunan nasional di segala bidang, khususnya sector ekonomi tanpa harus meninggalkan nilai nilai kepribadian bangsa.

2) Meningkatkan mutu sumber daya manusia melalui peningkatan mutu pendidikan nasional formal dan pemberian pelatihan- pelatihan formal dan non formal.

3) Memberikan kesempatan kepada perusahaan- perusahaan swasta untuk dapat  mengembangkan usahanya bagi terciptanya kemajuan ekonomi.

4) Mendorong dan meningkatkan perkembangan industri kecil dan rumah tangga sebagai penopang sekaligus mitra bagi pergerakan industri menengah dan industri besar.

5) Membuka dan meningkatkan kesempatan untuk melakukan investasi bagi para pemilik modal baik melalui jalur PMDN atau melalui jalur PMA.

Daftar Pustaka:

  1. Mankiw, N., Gregory, 2003, “Teori Makroekonomi”, Edisi Kelima, Penerbit Erlangga, Jakarta.
  2. Jhingan, M.L., 2008, “Ekonomi Pembangunan Perencanaan”, Edisi Pertama, PT RajaGrafindo Persada, Jakarta.
  3. Samuelson, A., Paul. Nordhaus, D., William, 2004, “Ilmu Makro Ekonomi”, Edisi 17, PT Media Global Edukasi, Jakarta.
  4. Sukirno, Sadono, 2008, “Makroekonomi Teori Pengantar”, Edisi Ketiga, PT RajaGrafindo Persada, Jakarta.
  5. Prasetyo, P., Eko, 2011, “Fundamental Makro Ekonomi”, Edisi 1, Cetakan Kedua, Beta Offset, Yogyakarta.
  6. Putong, Iskandar. Andjaswati, N.D., 2008, “Pengantar Ekonomi Makro”, Edisi Pertama, Penerbit Mitra Wacana Media, Jakarta.
  7. Firdaus, R., Ariyanti, M., 2011, ”Pengantar Teori Moneter serta Aplikasinya pada Sistem Ekonomi Konvensional dan Syariah”, Cetakan Kesatu, AlfaBeta, cv, Bandung.
  8. Ardra.Biz, 2019, “Metoda Perhitungan Pendapatan Nasional, system penghitungan pendapatan nasional, national income accounting system, Perhitungan Pendapatan Nasional Metode Pendekatan Pendapatan, faktor produksi pendapatan nasional,
  9. Ardra.Biz, 2019, “jenis penggolongan pedapatan nasional, Rumus pendekatan pendapatan,  Contoh Soal Ujian Pendapatan Nasional Metoda Pendekatan Pendapatan, Pendapatan Nasional Metode Pendekatan Produksi, Rumus Cara Hitung Pendapatan Nasional Metode Pendekatan Produksi,
  10. Ardra.Biz, 2019, “Contoh Nilai Tambah, penghitungan ganda (double accounting) pendapatan nasional, Pendapatan Nasional Metode Pendekatan Pengeluaran, Rumus Cara Hitung pendapatan nasional Metode Pendekatan Pengeluaran,
  11. Ardra.Biz, 2019, “Empat sektor Rumah tangga pelaku ekonomi,  Pendapatan nasional Rumah tangga konsumen, Pendapatan nasional Rumah tangga pemerintah, Pendapatan nasional Rumah tangga produsen atau perusahaan, Rumah tangga luar negeri ekspor bersih,
  12. Ardra.Biz, 2019, “Goverment Expenditure pada pendapatan nasional, Rumus Pendapatan nasional Pendekatan Pengeluaran, Komponen pendapatan nasional metoda pengeluaran, Contoh soal perhitungan rumus Pendapatan nasional Pendekatan Pengeluaran,
  13. Ardra.Biz, 2019, “Indikator Ketimpangan Distribusi Pendapatan, Tingkat Ketimpangan Distribusi Pendapatan, Pengertian Ketimpangan Pendapatan, Indeks Gini (Gini Index), Pengertian Rasio Gini atau koefisien Gini, rumus koefesien indeks Gini, batas rasio Gini, Gambar Kurva Lorenz,
  14. Ardra.Biz, 2019, “Rumus Kurva Lorenz, Pengertian Kurva Lorenz, Konsep Kurva Lorenz,  Nilai Batas Rasio Gini, Indikator Ketimpangan Pendapatan Menurut Bank Dunia,
  15. Ardra.Biz, 2019, “Kriterianya Ketimpangan Pendapatan Nasional, Tabel Distribusi dan Tingkat Ketimpangan Pendapatan oleh Bank Dunia, Usaha Meningkatkan Pendapatan Nasional, Cara meningkatkan pendapatan nasiona,

Konsep Pendapatan Nasional

Pengertian Pendapatan Nasional. Secara sederhana Pendapatan nasional dapat diartikan sebagai pendapatan yang diterima oleh golongan -golongan masyarakat sebagai bentuk balas jasa sehubungan dengan produksi barang- barang dan jasa.

Faktor Yang Mempengaruhi Pendapatan Nasional

Besarnya pendapatan nasional akan sama dengan produk nasional. Dan Secara umum pendapatan nasional dipengaruhi oleh Tersedianya faktor produksi, Ketrampilan dan keahlian tenaga kerjanya, Kemajuan Teknologi produksi yang digunakan dan Stabilitas nasional

Beberapa Istilah terkait dengan pendapatan nasional antara lain adalah PDB, GNP dan NNI, dan PDRB.  Keempatnya merupakan istilah yang menunjukkan pendapatan nasional suatu negara, namun demikian instrumen yang digunakan untuk masing -masing negara berbeda sehingga akan memiliki arti yang berbeda pula untuk pengunaan istilah- istilah tersebut.

Gross Domestic Product (GDP) atau Product Domestik Bruto (PDB)

Pada metode ini, pendapatan nasional dihitung dengan menjumlahkan setiap nilai tambah (value added) proses produksi di dalam masyarakat suatu negara (termasuk warga negara asing) dari berbagai lapangan usaha suatu negara dalam kurun waktu satu periode (biasanya satu tahun).

Product Domestik Bruto (PDB) atau Gross Domestic Product GDP adalah jumlah dari seluruh produksi barang dan jasa yang dihasilkan oleh suatu Negara selama satu tahun termasuk di dalamnya barang dan jasa yang dihasilkan oleh orang asing dan perusahaan asing yang beroperasi di dalam negeri.

Contoh Perusahaan Asing Yang Dihitung Dalam GDP.

Contoh perusahaan asing yang masuk perhitungan PDB atau GDP Indonesia adalah Perusahaan Mac Donald, PT Freeport, PT Caltex, Carrefour, PT Nutrisia. Pendapatan perusahaan asing ini dihitung dalam GDP

Contoh Perusahaan Indonesia Yang Tidak Dihitung GDP

Sedangkan produk barang dan jasa yang dihasilkan oleh perusahaan atau warga masyarakat Indonesia yang bekerja di luar negeri tidak diperhitungkan.  Misal perusahaan milik warga Indonesia tapi beroperasi diluar negeri atau TKI atau TKW yang bekerja di Luar negeri tidak dihitung dalam PDB atau GDP.

Beberapa Bank BUMN seperti Mandiri, BNI, dan BRI beroperasi di luar negeri. Pendapatan Beberapa Bank Indonesia yang beroperasi di luar negeri ini tidak dihitung dalam GDP.

Produk Domestik Regional Bruto (PDRB)

Dengan demikian PDRB dapat diartikan sebagai jumlah produk berupa barang dan jasa yang dihasilkan oleh unit-unit produksi yang ada di daerah selama 1 (satu) tahun. Dalam perhitungan PDRB ini juga termasuk produk yang dihasilkan oleh perusahaan asing yang beroperasi di daerah tersebut

Jenis lapangan usaha yang masuk dalam perhitungan Product Domestic Bruto (PDB), antara lain: pertanian, pertambangan dan penggalian, industry, listrik, gas dan air bersih, bangunan atau konstruksi, perdagangan, hotel dan restoran, pengangkutan dan komunikasi, keuangan, persewaan dan jasa perusahaan, jasa- jasa lainnya seperti jasa konsultan, pengacara dll.

PDB dapat dihitung dengan tiga metoda berikut ini.

1) PDB dihitung berdasarkan unit- unit produksi yang terdiri atas sector sektor ekonomi.

2) PDB dihitung berdasarkan jumlah balas jasa yang diterima oleh factor faktor produksi yang turut serta dalam proses produksi.

3) PDB dihitung berdasarkan jumlah seluruh komponen permintaan akhir, yang terdiri atas pengeluaran konsumsi RT, pembentukan modal tetap domestik bruto dan perubahan stok, pengeluaran konsumsi pemerintah dan ekspor bersih.

Gross National Product (GNP) atau Produk Nasional Bruto (PNB)

Produksi Nasional Kotor (GNP) adalah jumlah seluruh barang dan jasa yang dihasilkan masyarakat suatu negara selama satu tahun termasuk di dalamnya jumlah barang dan jasa yang dihasilkan masyarakat Negara tersebut yang bekerja di luar negeri tetapi tidak diperhitungkan barang dan jasa yang dihasilkan masyarakat asing yang bekerja di dalam negeri.

Produksi Nasional Kotor (GNP) dapat dijabarkan dalam persamaan berikut

GNP = GDP – Pendapatan Neto terhadap luar negeri

Ada tingkat perbandingan yang bisa dilakukan pada GDP dan GNP untuk mengetahui kondisi perekonomian suatu negara yang diantaranya adalah:

1) GDP lebih besar dari GNP, artinya perekonomian Negara tersebut belum dapat dikatakan maju. Di Negara tersebut akan terjadinya Net Factor Income to Abroud (atau Pendapatan Neto ke luar negeri). Artinya, Investasi Negara tersebut di luar negeri lebih kecil dari pada investasi asing di dalam negeri.

2) GDP lebih kecil dari pada GNP, artinya perekonomian Negara tersebut dapat dikatakan sudah maju. Negara tersebut mampu menanamkan investasinya di luar negeri lebih besar dibandingkan investasi asing di dalam negeri.

Net National Product (NNP) atau Produk Nasional Netto

Produksi nasional neto (NNP) adalah produksi nasional kotor (GNP) dikurangi penyusutan barang-barang modal. NNP ini sama dengan Pendapatan Nasional (PN) atau National Income (NI).

NNP dan NI ini dihitung berdasarkan harga pasar dan dijabarkan dengan menggunakan persamaan berikut

NNP = GNP – Penyusutan Barang –barang Modal

Net National Income (NNI) atau Pendapatan Nasional Netto

Pendapatan nasional Bersih (NNI) adalah produksi nasional neto dikurangi dengan pajak tidak langsung. Pajak tidak langsung merupakan unsur pembentuk harga pasar, tetapi tidak termasuk dalam biaya faktor produksi.

Pajak ini dapat dialihkan kepada pihak lain, yang termasuk dalam kategori pajak tidak langsung adalah pajak penjualan , PPN, Bea Masuk dan cukai.

Pendapatan nasional bersih atau net national income (NNI) dapat dilihat dari dua sisi.

1) Dari sisi pendapatan, yaitu pendapatan yang dihitung menurut jumlah balas jasa yang diterima oleh masyarakat sebagai pemilik faktor produksi.

2) Dari sisi produksi, yaitu sejumlah nilai bersih barang dan jasa yang dihasilkan oleh suatu negara.

Net National Income (NNI) dapat dijabarkan dengan menggunakan persamaan berikut

NNI = NNP – Pajak Tidak Langsung

Pajak Tidak Langsung adalah pajak yang pembebanannya dapat dilimpahkan kepada pihak lain, misalnya Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM).

Personal Income (PI)

Pendapatan perseorangan (PI) adalah Pendapatan yang berhak diterima oleh seseorang sebagai bentuk balas jasa atas keikutsertaannya dalam proses produksi.

Tidak semua pendapatan ini sampai ke tangan pemilik faktor produksi (perseorangan) , karena masih dikurangi laba yang tidak dibagikan, pajak perseorangan, asuransi, jaminan sosial dan ditambah dengan pindahan atau transfer (transfer payment) seperti dana pensiun, iuran sosial, tunjangan bekas pejuang, bantuan korban bencana, bea siswa, subsidi pemerintah atau bantuan pada panti asuhan dan sebagainya.

Besarnya Personal Income (PI) dapat dijabarkan dengan menggunakan persamaan berikut

PI = NNI + Transfer Payment – (Laba yang tidak dibagikan + Pajak Perseroan+Asuransi + Jaminan Sosial )

Keterangan:

Laba Ditahan adalah keuntungan yang tidak dibagikan atau keuntungan yang ditujukan untuk:

1) cadangan perluasan perusahaan,

2) menjaga agar modal pokok besarnya tetap, dan

3) cadangan untuk membayar utang-utang.

Iuran Jaminan Sosial atau social security dari perusahaan. Misalnya tunjangan pendidikan, tunjangan kesehatan, dan lain-lain.

Transfer Payment adalah pembayaran-pembayaran dari negara yang dibayarkan kepada orang-orang tertentu, dan pembayaran tersebut bukan merupakan balas jasa atas keikutsertaannya dalam proses produksi tahun sekarang, melainkan sebagai balas jasa untuk tahun- tahunsebelumnya atau pembayaran pada seseorang yang sebenarnya berasaldari pendapatan orang lain.

Contoh Transfer Payment adalah: pembayaran kepada orang yang sudah pensiun, tunjangan para veteran, dan dana- dana sosial (pembayaran untuk para penganggur).

Disposible Income (DI)

Pendapatan Bebas (DI) adalah pendapatan dari seseorang yang siap digunakan baik untuk keperluan konsumsi maupun untuk ditabung Pendapatan bebas (DI) secara langsung akan mempengaruhi permintaan karena sebagian digunakan untuk konsumsi dan sebagian lagi digunakan untuk tabungan sebagai unsur pembentuk modal. Besarnya pendapatan bebas ini adalah pendapatan perseorangan dikurangi dengan pajak langsung.

Besarnya Pendapatan Bebas atau Disposible Income (DI) dapat dihitung dengan menggunakan persamaan berikut

DI = PI – Pajak Langsung

Pajak Langsung adalah pajak yang pembebanannya tidak dapat dilimpahkan kepada orang lain, misalnya pajak penghasilan (PPh)

Pendapatan Dibawa Pulang

Pendapatan dibawa pulang (Take Home Pa /THP) adalah pendapatan yang dibawa pulang untuk membayar bermacam-macam kebutuhan.

Pendapatan ini memengaruhi permintaan efektif sebab menggambarkan daya beli masyarakat. THP diperoleh dari pendapatan bebas (Disposable Income) dikurangi kewajiban kepada pihak lain, seperti untuk membayar utang.

Contoh Tabel Perhitungan Pendapatan Nasional

Berdasarkan komponen- komponen pendapatan nasional tersebut, dapat disusun skema perhitungan pendapatan nasional sebagai berikut:

Contoh Soal Ujian Pendapatan Nasional

Diketahui (dalam miliar rupiah)

Konsep Pendapatan Nasional Contoh Perhitungan
Konsep Pendapatan Nasional Contoh Perhitungan

Hitunglah:

  1. Personal Income
  2. Disposable Income
Konsep Pendapatan Nasional Contoh Soal Perhitungan
Konsep Pendapatan Nasional Contoh Soal Perhitungan

Contoh Soal Ujian Pendapatan Nasional

Pendapatan perseorangan (Personal income) adalah ….

1) pendapatan nasional dikurangi pajak tidak langsung

2) sama dengan pendapatan sektor nasional

3) jumlah pendapatan sektor rumah tangga yang dibelanjakan dalam satu tahun

4) jumlah upah yang ditambah bunga yang diterima sektor rumah tangga dalam satu tahun

5) jumlah pendapatan yang diterima sektor rumah tangga dalam satu tahun

Daftar Pustaka:

  1. Mankiw, N., Gregory, 2003, “Teori Makroekonomi”, Edisi Kelima, Penerbit Erlangga, Jakarta.
  2. Jhingan, M.L., 2008, “Ekonomi Pembangunan Perencanaan”, Edisi Pertama, PT RajaGrafindo Persada, Jakarta.
  3. Samuelson, A., Paul. Nordhaus, D., William, 2004, “Ilmu Makro Ekonomi”, Edisi 17, PT Media Global Edukasi, Jakarta.
  4. Sukirno, Sadono, 2008, “Makroekonomi Teori Pengantar”, Edisi Ketiga, PT RajaGrafindo Persada, Jakarta.
  5. Prasetyo, P., Eko, 2011, “Fundamental Makro Ekonomi”, Edisi 1, Cetakan Kedua, Beta Offset, Yogyakarta.
  6. Putong, Iskandar. Andjaswati, N.D., 2008, “Pengantar Ekonomi Makro”, Edisi Pertama, Penerbit Mitra Wacana Media, Jakarta.
  7. Firdaus, R., Ariyanti, M., 2011, ”Pengantar Teori Moneter serta Aplikasinya pada Sistem Ekonomi Konvensional dan Syariah”, Cetakan Kesatu, AlfaBeta, cv, Bandung.
  8. Ardra.Biz, 2019, “Konsep Pendapatan Nasional, Pengertian Jenis Pendapatan Nasional, Pengertian Pendapatan Nasional, produk nasional, Faktor yang mempengaruhi pendapatan nasional, Jenis Pendapatan Nasional, Pengertian Konsep Pendapatan Nasional, Rumus Pendapatan Nasional,
  9. Ardra.Biz, 2019, “Rumus menghitung PDB, Rumus GNP, Rumus NNI, Gross Domestic Product (GDP) atau Product Domestik Bruto (PDB), Cara Hitung Gross Domestic Product (GDP), Pengertian nilai tambah (value added), Contoh Hitung nilai tambah,
  10. Ardra.Biz, 2019, “Contoh Perusahaan Asing Yang Dihitung Dalam GDP, Contoh Perusahaan Indonesia Yang Tidak Dihitung GDP, Pengertian Produk Domestik Regional Bruto (PDRB), Cara Hitung Produk Domestik Broto, Rumus Produk Domestik Broto, Gross National Product (GNP),
  11. Ardra.Biz, 2019, “Produk Nasional Bruto (PNB), Produksi Nasional Kotor (GNP), Rumua menghitung Produksi Nasional Kotor (GNP), Net Factor Income to Abroud, Pendapatan Neto ke luar negeri, Net National Product (NNP) atau Produk Nasional Netto,
  12. Ardra.Biz, 2019, “Rumus menghitung Net National Product (NNP), Pengertian Produk Nasional Netto, Rumus hitung Net National Income (NNI), Pengertian Pendapatan Nasional Netto, Rumus Hitung Pendapatan nasional Bersih (NNI), Pengertian Pajak Tidak Langsung,  Contoh barang kena pajak tidak langsug, Personal Income (PI),
  13. Ardra.Biz, 2019, “Rumus Hitung Pendapatan perseorangan (PI), Pengertian transfer payment, Contoh transfer payment, Pengertian Laba Ditahan, Contoh Laba Ditahan,  Iuran Jaminan Sosial atau social security, Contoh Iuran Jaminan Sosial atau social security, Disposible Income (DI),
  14. Ardra.Biz, 2019, “Rumus Hitung Pendapatan Bebas (DI, Pengertian Pajak Langsung, Contoh Pajak Langsung, Pendapatan Dibawa Pulang, Take Home Pay /THP, Contoh Tabel Perhitungan Pendapatan Nasional, Contoh Soal Ujian Pendapatan Nasional,

Faktor Produksi Modal, Capital Resources

Pengertian Produksi. Produksi adalah kegiatan yang menghasilkan barang dan jasa baru sehingga dapat menambah jumlah, mengubah bentuk, atau memperbesar ukurannya. Produksi juga yang diartikan sebagai kegiatan untuk meningkatkan atau menambah daya guna suatu barang sehingga lebih bermanfaat.

Berdasarkan uraian di atas, secara keseluruhan pengertian produksi adalah setiap usaha atau kegiatan manusia untuk menciptakan atau menambah daya guna suatu benda dan jasa untuk memenuhi kebutuhan manusia.

Tujuan Produksi.

Bedasarkan pada kepentingan produsen, tujuan produksi adalah untuk menghasilkan barang yang dapat memberikan keuntungan laba. Tujuan tersebut dapat tercapai, jika barang atau jasa yang diproduksi sesuai dengan kebutuhan masyarakat.

Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa sasaran kegiatan produksi adalah melayani kebutuhan masyarakat atau untuk memenuhi kebutuhan hidup masyarakat secara umum.

Pengertian Faktor Produksi.

Untuk dapat melaksakan kegiatan produksi diperlukan bahan- bahan yang memungkinkan dilakukannya produksi, seperti mesin, gedung, lahan atau tanah dan sumber daya alam, tenaga manusia, modal dalam segala bentuknya, serta kecakapan atau keterampilan tertentu.

Semua bahan – bahan yang digunakan untuk dapat terlaksananya produksi dinamakan faktor- faktor produksi. Dengan kata lain, faktor produksi adalah semua unsur yang digunakan untuk menghasilkan atau memperbesar dan meningkatkan nilai guna suatu barang dan jasa.

Pengertian Faktor Produksi Modal.

Salah satu factor produksi adalah factor produksi modal atau Capital Resources. Modal adalah segala yang digunakan untuk menghasilkan barang dan jasa. Modal dapat meliputi uang, teknologi, peralatan, mesin- mesin, tanah, informasi, dan sebagainya.

Menurut ilmu ekonomi, modal adalah barang- barang modal (atau real capital goods) yang meliputi semua jenis barang yang digunakan untuk menunjang kegiatan produksi barang-barang lain.

Jenis Jenis Modal Kerja.

Modal Menurut Sumbernya

Modal Sendiri, yaitu modal yang berasal dari kekayaan atau investasi perseorangan atau pemilik perusahaan.

Contoh modal milik sendiri, Misalnya, gedung dan kendaraan atau Saham pemilik, laba yang diinvestasikan kembali, dan sebagainya.

Modal Asing atau Pinjaman, yaitu modal yang berasal dari pihak lain yang biasanya berupa pinjaman

Contoh Modal Asing adalah utang dagang, gaji yang belum dibayar, utang pajak, utang jangka panjang, dan sebagainya

Modal Menurut Wujudnya

Modal Konkret, artinya modal yang jelas wujudnya, tetapi dapat dilihat.

Contoh Modal Konkret adalah gedung, mesin, dan peralatan.

Modal Abstrak, artinya modal yang tidak terlihat, tetapi kegunaannya dapat dirasakan.

Contoh Modal Abstrak adalah nama baik perusahaan, keahlian karyawan, dan hak cipta.

Modal Menurut Sifatnya

Modal Tetap (fixed capital), yaitu modal yang dapat digunakan untuk proses produksi dalam jangka waktu yang lama, atau beberapa kali proses produksi.

Contoh Modal Tetap adalah tanah, gedung, mesin-mesin, kendaraan, komputer, dan sebagainya.

Modal Lancar (variable capital), yaitu modal yang habis terpakai dalam satu kali proses produksi.

Contoh Modal Lancar adalah bahan mentah atau bahan baku, bahan bakar, dan sebagainya

Modal Menurut Pemiliknya

Modal Perseorangan, yaitu modal tersebut dimiliki oleh perseorangan.

Contoh Modal Perseorangan adalah, Gedung, peralatan, mesin, kendaraan dan sebagainya.

Modal Masyarakat, yaitu modal tersebut dimiliki oleh banyak orang dan untuk kepentingan orang banyak.

Contoh Modal Milik Masyarakat adalah jalan, jembatan, sarana umum dan sebagainya.

Daftar Pustaka

Faktor Produksi Modal (Capital Resources) dan Pengertian Produksi dengan Proses meningkatkan daya guna barang. Tujuan Produksi serta Pengertian Faktor Produksi dan Pengertian Faktor Produksi Modal. Pengertian Capital Resources dan Pengertian real capital goods atau Jenis Jenis Modal Kerja.

 Modal Menurut Sumbernya dan Modal Sendiri atau Contoh modal milik sendiri dengan  Modal Asing atau Pinjaman. Contoh Modal Asing dengan Modal Menurut Wujudnya dan Modal Konkret beserta Contoh modal konkret. Modal Abstrak dengan Contoh modal abstrak dan Modal Menurut Sifatnya.  Modal Tetap (fixed capital) serta Contoh Modal Tetap.

Modal Lancar (variable capital) dan Contoh Modal Lancar walaupun Modal Menurut Pemiliknya. Modal Perseorangan tapi Contoh Modal Perseorangan. Modal Masyarakat dan Contoh Modal Milik Masyarakat.

Teori Perilaku Konsumen

Pengertian Konsumen. Konsumen adalah masyarakat yang menerima pendapatan dalam bentuk uang dan kemudian mentransaksikannya dengan membeli barang dan jasa untuk memenuhi kebutuhan hidupya.

Selain itu, yang termasuk sebagai konsumen adalah anggota masyarkat yang dependen terhadap penerima penghasilan seperti anak yang masih sekolah namun ikut menentukan anggaran rumah tangga. Setiap konsumen menetapkan permintannya untuk setiap barang dan jasa yang tersedia di pasar. Jumlah seluruh permintaan masyarakat terhadap barang dan jasa dinyatakan sebagai permintaan pasar.

Konsumen berusaha mengalokasikan pendapatannya untuk membeli barang dan jasa yang tersedia di pasar dengan mengoptimalkan semua alternatifnya sehingga tingkat kepuasan yang diperolehnya menjadi maksimum.

Sedangkan Perusahaan sebagai produsen yang penawarkan barang dan jasa akan mengoptimalkan proses produksinya agar menghasilkan barang dan jasa yang dapat memberikan kepuasan terhadap pelanggannya. Produsen yang dapat mengorganisir produksi secara efisien akan memperoleh keuntungan.

Tujuan utama dari konsumen dalam mengonsumsi suatu produk atau barang dan jasa adalah untuk memaksimalkan kepuasan total (total utility). Kepuasan total dapat didefinisikan sebagai suatu keadaan yang mencerminkan kebutuhan, keinginan, dan harapan konsumen dapat terpenuhi melalui produk, barang dan jasa yang dikonsumsinya.

Kepuasan total konsumen dapat dioptimalkan jika barang tersebut memiliki nilai tukar dan nilai pakai yang tinggi. Ini artinya, jika suatu produk, barang dan jasa dapat memenuhi kebutuhan, keinginan, dan harapan mayarakat konsumen, maka konsumen akan bersedia membayar dengan harga yang lebih tinggi.

Untuk menjelaskan perilaku konsumen dalam memperoleh kepuasan terhadap barang dan jasa yang dikonsumsinya dapat dilakukan dengan dua pendekatan, yaitu pendekatan kardinal dan pendekatan ordinal. Berikut ini penjelasan tentang kedua pendekatan tersebut:

Pendekatan Kardinal, Pendekatan Utilitas

Pendekatan kardinal berasumsi bahwa kepuasan konsumen yang diperoleh dari kegiatan konsumsi barang dan atau jasa dapat diukur dan dinyatakan secara kuantitatif. Hal ini Artinya kepuasan konsumen dapat diukur dan dinyatakan dengan angka sebagaimana mengukur berat benda, tinggi benda dan seterusnya.

Kepuasan konsumen yang didapat dari hasil kegiatan konsumsi barang dan jasa disebut dengan istilah utilitas (atau utility). Pendekatan kardinal dikenal juga dengan istilah lain yaitu pendekatan utilitas (atau utility approach).

Adapun asumsi dari Pendekatan ini adalah:

  1. Tingkat utilitas total yang dicapai konsumen merupakan fungsi dari kuantitas barang yang dikonsumsi. Artinya tingkat kepuasan total konsumen dipengaruhi oleh jumlah berbagai barang. Hal ini sesuai dengan hukum Gossen bahwa tingkat kepuasan konsumen dipengaruhi oleh jumlah dan variasi barang yang dikonsumsinya
  2. Konsumen akan cenderung berusaha untuk mendapatkan kepuasannya yang maksimal sesuai dengan anggaran yang dimiliki atau dikeluarkannya. Hal ini mencerminkan bahwa anggaran yang dimiliki konsumen merupakan faktor penentu bagi pencapaian tingkat kepuasannya.

Ini artinya konsumen tidak mudah untuk mendapat tingkat kepuasan yang setinggi-tingginya sesuai dengan yang diinginkan namun tergantung dari jumlah anggaran yang dimilikinya. Konsumen akan berusaha untuk mengalokasikan jumlah anggaran yang dimiliki tersebut untuk membeli berbagai jumlah barang yang memang mampu menghasilkan kepuasan yang maksimal.

  1. Tingkat kepuasan konsumen dapat diukur secara kuantitatif.
  2. Tambahan kepuasan dari setiap unit tambahan barang yang dikonsumsi akan menurun.

Pendekatan Ordinal, Pendekatan Indiferens.

Pendekatan ordinal menggunakan pengukuran ordinal (atau bertingkat atau skala) dalam menganalisis kepuasan konsumen. Ini artinya kepuasan konsumen tidak dapat diukur secara kuantitatif dengan angka tetapi hanya dapat diukur dengan peringkat yang sifatnya kualitatif, misalnya tidak puas, puas, lebih puas, sangat puas dan seterusnya.

Pendekatan ini juga sering disebut dengan pendekatan indiferens. Pendekatan ordinal berasumsi bahwa tingkat utilitas total yang dapat dicapai oleh konsumen merupakan fungsi dari kuantitas barang. Asumsi ini sama dengan pendekatan cardinal. Selain itu asumsi lain yang juga sama adalah konsumen akan berusaha untuk memaksimalkan kepuasannya sesuai dengan anggaran yang dimiliki atau dikeluarkannya.

Namun demikian pendekatan ini memiliki asumsi yang berbeda dengan pendekatan kardinal. Pendekatan ordinal tidak menganggap bahwa tingkat utilitas dapat diukur secara kuantitatif dengan angka tetapi konsumen hanya memiliki skala preferensi.

Skala preferensi adalah suatu kaidah dalam menentukan pilihan terhadap barang yang akan dikonsumsi. Skala preferensi tersebut memiliki ciri sebagai berikut:

  1. Konsumen mampu membuat peringkat kepuasan terhadap barang. Ini artinya konsumen mampu membedakan tingkat kepuasan dalam pemenuhan barang, misalnya minum kopi hangat lebih puas dibandingkan minum susu hangat.
  2. Peringkat kepuasan tersebut bersifat transitif artinya jika kopi hangat lebih disukai daripada susu hangat, sedangkan susu hangat lebih disukai daripada the hangat, maka kopi hangat lebih disukai daripada the hangat, bukan sebaliknya.
  3. Konsumen selalu ingin mengkonsumsi jumlah barang yang lebih banyak karena konsumen tidak pernah terpuaskan.

Daftar Pustaka:

  1. Sukirno, S, 2011, “Mikroekonomi Teori Pengantar”, PT Raja Grafindo Persada, Edisi Ketiga, Cetatakan Ke 26, Jakarta.
  2. Ahman H., Eeng. Rohmana, Yana, 2007, “Ilmu Ekonomi dalam PIPS”, Edisi Pertama, Penerbit Unuversitas Terbuka, Jakarta.
  3. Jhingan, M.L., 2008, “Ekonomi Pembangunan Perencanaan”, Edisi Pertama, PT RajaGrafindo Persada, Jakarta.
  4. Joesron, Suharti, Tati. Fathorrrazi, M., 2012, “Teori Ekonomi Mikro”, Edisi Pertama, Graha Ilmu, Yogyakarta.
  5. Sartono, Agus, R., “ 2001, “Manajemen Keuangan Teori dan Aplikasi”, Edisi Keempat, BPFE Yogyakarta, Yogyakarta.
  6. Ardra.Bis, 2019, “Teori Perilaku Konsumen dan Pengertian Konsumen dengan Tujuan Konsumen. Pengertian total utility dan Pengertian kepuasan total konsumen beserta Perilaku konsumen Pendekatan Kardinal.
  7. Ardra.Biz, 2019, “Pendekatan Utilitas dan Perilaku kepuasan konsumen secara kuantitatif atau Kepuasan konsumen utility approach. Tingkat kepuasan Hukum Gossen sebagai Perilaku konsumen hukum Gossen atau Perilaku konsumen Pendekatan Ordinal dan Pendekatan Indiferens.
  8. Ardra.Biz, 2019, “Kepuasan konsumen secara bertingkat dengan Kepuasan konsumen secara kualitatif. Perilaku Kepuasan konsumen skala preferensi.
  9. Ardra.Biz, 2019, “Pengertian Skala preferensi, Ciri ciri skala preferensi dan Contoh perilaku Kepuasan sacara kuantittif dengan Contoh kepuasan secara kulitatif atau Contoh skala preferensi.

Macam Macam Kebutuhan Manusia.

Pengertian Kebutuhan. Kebutuhan timbul akibat adanya tuntutan fisik secara biologis dan atau psikis agar dapat hidup layak sebagai manusia sehingga kebutuhan manusia sangat beragam dan sering tidak sesuai dengan kepuasan yang diharapkan, Keadaan ini menyebabkan kebutuhan menjadi tidak terbatas.

Dalam menjalani kehidupannya, manusia memiliki keinginan dan kebutuhan yang beragam. Keinginan adalah hasrat dalam diri manusia yang jika tidak terpenuhi tidak berpengaruh terhadap kelangsungan hidupnya, sedangkan kebutuhan adalah hasrat yang timbul dalam diri manusia yang jika tidak terpenuhi dapat berpengaruh terhadap  kelangsungan hidupnya.

Dalam pembahasan ini  digunakan istilah kebutuhan untuk menyatakan segala hasrat manusia terhadap sesuatu baik itu hanya berupa keinginan maupu kebutuhan itu sendiri.

Kebutuhan Menurut Intensitas Kegunaan

  1. Kebutuhan Primer

Kebutuhan primer adalah kebutuhan yang jika tidak terpenuhi akan mempengaruhi atau mengganggu kelangsungan hidup manusia. Contoh Yang termasuk kebutuhan primer adalah makan, minum, pakaian, rumah, dan kesehatan.

Jadi kebutuhan primer ini harus terpenuhi terlebih dadulu agar dapat menjalani kehidupan yang layak. Manusia harus makan dan minum agar dapat bertahan hidup. Kemudian harus memiliki tempat tinggal dan mengguanakan pakaian agar bisa hidup seperti kebanyakan orang. Keberlangsung hidupnya akan sangat layak ketika kesehatan tubuhnya sangat baik.

Kebutuhan primer disebut juga sebagai kebutuhan pokok atau dasar, yaitu kebutuhan yang harus dipenuhi untuk keberlangsungan hidup manusia. Jika kebutuhan primer tidak terpenuhi, maka manusia sulit untuk melangsungkan dan mewujudkan kehidupannya sesuai dengan kodratnya.

  1. Kebutuhan Sekunder

Kebutuhan sekunder adalah kebutuhan yang sangat penting, tetapi jika tidak terpenuhi tidak mengganggu kelangsungan hidup. Contoh kebutuhan Sekunder diantaranya adalah telepon dan sarana angkutan.

Kebutuhan sekunder muncul setelah kebutuhan primer terpenuhi secara terus menerus. Ketika kebutuhan tempat tinggal seperti rumah sudah terpenuhi, maka muncul kebutuhan untuk mengisi peralatan rumah seperti alat dapur, kursi meja dan sebagainya.

Setelah kebutuhan primernya terpenuhi masyarakat cenderung berusaha untuk dapat memenuhi kebutuhan sekundernya, hal ini bertujuan agar dapat hidup lebih baik dan nyaman.

  1. Kebutuhan Tertier

Kebutuhan tertier adalah kebutuhan yang tidak termasuk dalam kebutuhan primer dan tertier. Kebutuhan ini lebih bersifat pada pemenuhan rasa keinginan. Terkadang Kebutuhan ini lebih cenderung ditujukan untuk menunjukkan status social atau prestise seseorang di mata masyarakat. Contoh kebutuhan tertier adalah rekreasi termasuk berolah raga, memiliki barang mewah dan sebagainya.

Kebutuhan tertier muncul setelah terpenuhinya kebutuhan primer dan sekunder. Sebagian masyarakat menganggap kebutuhan tertier sebagai kebutuhan untuk kemewahan.

Tafsir terhadap batas kebutuhan menurut intensitas ini dapat saja berbeda untuk tiap orang. Bagi yang berpenghasilan tinggi, kendaraan seperti mobil pribadi adalah kebutuhan sekunder, namun bagi yang berpenghasilan rendah mobil tersebut menjadi kebutuhan tertier.

Pendidikan merupakan salah satu contoh kebutuhan primer, namun untuk sebagian masyarakat menjadi kebutuhan sekunder. Hal ini terjadi akibat tuntutan untuk pemenuhan kebutuhan lainnya sangat tergantung pada biaya.

Kebutuhan Menurut Sifatnya

  1. Kebutuhan Jasmani

Kebutuhan jasmaniah adalah kebutuhan yang berhubungan dengan jasmani atau fisik. Contoh kebutuhan Jasmani adalah makan, olahraga, dan istirahat.

Sesuai namanya, kebutuhan ini terkait dengan badan atau fisik manusia. Untuk menjaga kelangsungan hidup, manusia perlu memperhatikan kebutuhan badan atau fisik seperti: makanan dan minuman yang bergizi, pakaian, istirahat yang cukup.

Itu semua agar kesehatan jasmani terjaga dan layak dalam menjalani kehidupan bermasyarakat. Saat ini khususnya di daerah perkotaan sudah banyak tersedia pusat- pusat kebugaran, salon perawatan tubuh, dan sebagainya. Fenomena ini menunjukkan bahwa kebutuhan jasmani bagian yang tidak terpisah dari kehidupan.

  1. Kebutuhan Rohani.

Kebutuhan rohaniah merupakan kebutuhan yang bersifat rohani, berhubungan dengan jiwa manusia. Contoh kebutuhan rohani adalah beribadah, bersosialisasi, rekreasi, dan hiburan.

Terpenuhinya kebutuhan jasmani tidak  menjamin seseorang akan menjadi lebih nyaman atau bahagia. Sebagian masyarakat mengalami tekanan dalam kehidupannya walaupun secara jasmani sudah terpenuhi.

Hal ini menunjukan bahwa pemenuhan kebutuhan jasmani saja tidak menjamin seseorang akan memperoleh kenyamanan atau kebahagiaan, namun kebutuhan lain yaitu kebutuhan rohani juga sangat penting untuk dipenuhi.

Kebutuhan Menurut Subjek

  1. Kebutuhan Individual

Kebutuhan individual adalah kebutuhan perseorangan atau individu. Contoh kebutuhan individual adalah seseorang membutuhkan alat bantu dengar atau kacamata.

Kebutuhan ini merupakan kebutuhan yang diperuntukkan bagi individu yang sifatnya menjadi pribadi, sehingga orang yang satu dengan yang lain akan berbeda. Contoh ekstrimnya adalah Kebutuhan seorang petani dengan seorang dokter.

Dalam kehidupannya, seorang Petani membutuhkan peralatan seperti traktor, benih tanaman pupuk, cangkul, dan pestisida, sedangkan seorang dokter memerlukan perangkat seperti stetoskop, infuse, jarum suntik, dan obat-obatan.

  1. Kebutuhan Kolektif

Kebutuhan kolektif adalah kebutuhan bersama dalam suatu masyarakat dan dimanfaatkan untuk kepentingan bersama. Contoh Kebutuhan kolektif adalah jalan raya, rumah sakit, dan sekolah.

Kebutuhan kolektif muncul karena manusia harus berinteraksi dalam rangka pemenuhan kebutuhan hidup yang lainnya. Orang yang sakit mesti pergi ke rumah sakit menggunaka jalan raya. Seseorang harus sekolah dan menyelesaikan kuliahnya sebelum mendapat izin menjadi dokter.

Daftar Pustaka

Pengertian Kebutuhan dan Penyebab timbulnya kebutuhan tidak terbatas dengan Jenis macam kebutuhan hidup. Kebutuhan Menurut Intensitas Kegunaan dengan Kebutuhan Primer dan Contoh kebutuhan primer. Kebutuhan Sekunder dan Contoh Kebutuhan Sekunder dan Kebutuhan Tertier beserta Contoh kebutuhan tertier.

Kebutuhan Menurut Sifatnya adalah Kebutuhan Jasmani dan Contoh kebutuhan jasmani disertai Kebutuhan Rohani dan Contoh kebutuhan rohani. Kebutuhan Menurut Subjek dengan Kebutuhan Individual dan Contoh kebutuhan individual.  Kebutuhan Kolektif dan Contoh Kebutuhan kolektif.

Permintaan Uang.

Pengertian Uang. Pada kenyataannya definisi uang selalu berubah sesuai dengan dinamika perkembangan masyarakat dalam perekonomian. Namun demikian, para ahli ekonomi umumnya sepakat bahwa definisi paling universal tentang uang adalah sesuatu (berbentuk benda) yang dapat diterima secara umum dalam proses transaksi ekonomi atau pertukaran barang dan jasa.

Para ahli ekonomi mendefinisikan uang secara lengkap, yaitu suatu benda dengan satuan hitung tertentu yang digunakan sebagai alat pembayaran yang sah dan berlaku secara umum di wilayah tertentu dan keberadaannya diatur dalam undang-undang.

Berdasarkan penjelasan tersebut, dapat dikatakan bahwa uang dapat berbentuk dari segala sesuatu (berbentuk benda), tetapi tidak semua benda menjadi uang. Sehingga, dalam suatu perekonomian modern, definisi uang tidak hanya memiliki pengertian secara ekonomi yaitu uang merupakan barang langka yang berharga, tetapi memiliki pengertian secara hukum dan politis.

Permintaan Uang

Konsep permintaan uang pada dasarnya mengandung makna sebagai suatu keinginan masyarakat agar dapat mewujudkan sebagian dari pendapatannya dalam bentuk uang kas. Kemampuan uang sebagai alat tukar terhadap suatu barang dapat memberikan gambaran terkait laju peredaran uang dalam masyarakat. Sedangkan laju peredaran uang merupakan bagian penting dari kelancaran suatu kegiatan ekonomi.

Permintaan uang merupakan topik yang cukup banyak dibicarakan dan menjadi perhatian dalam ekonomi moneter.

Permintaan uang adalah jumlah uang yang ingin dipegang oleh masyarakat dan perusahaan secara ke seluruhan. Permintaan uang merupakan total permintaan uang dari seluruh rumah tangga dan perusahaan dalam sebuah perekonomian.

Menurut pandangan ekonom klasik, uang hanya befungsi sebagai alat tukar. Oleh karena itu, jumlah uang yang diminta berbanding secara proporsional dengan tingkat pendapatan masyarakat dalam suatu perekonomian.

Ini artinya, Jika tingkat pendapatan masyarakat meningkat, maka permintaan uang juga meningkat, begitu juga sebaliknya. Semakin tinggi tingkat pendapatan, maka semakin tinggi pula permintaan terhadap uang.

Jumlah uang yang dipegang oleh masyarakat tidak semata-mata menunjukkan nilai nominalnya, tetapi juga mencerminkan nilai daya belinya. Daya beli adalah nilai nominal dibandingkan dengan tingkat harga atau real money balances.

Karena uang hanya berfungsi sebagai alat tukar, maka uang bersifat netral (money neutrality). Ini artinya uang hanya berpengaruh terhadap tingkat harga. Pernyataan ini dikemukakan oleh ekonom bernama Irving Fisher.

Pendapat Irving Fisher dikenal dengan teori kuantitas uang klasik atau classical quality of money. Persamaan teori kuantititas uang klasik dapat diformulasikan dengan persamaan sebagai berikut.

M × V = P × T

Keterangan:

M = jumlah uang beredar

V = velositas (kecepatan peredaran uang)

P = tingkat harga

T = nilai transaksi yang diukur berdasarkan pendapatan nasional

Contoh Soal Perhitungan Rumus Irving Fisher.

Dalam sebuah perekonomian yang hanya memproduksi mobil, dalam setahun dihasilkan 1000 unit mobil. Harga per unit mobil adalah Rp 90 juta, sedangkan velositas uang adalah 10 kali dalam setahun. Hitung Berapa jumlah uang yang dibutuhkan.

Jawab

M x V = P x T

M × 10 = 1.000 × 100 juta

M = (1.000 × 100 juta)/10

M= Rp 10.000 juta atau Rp 10 miliar

Dalam perkembangannya, uang ternyata tidak hanya berfungsi sebagai alat tukar atau untuk menyimpan kekayaan, namun juga berfungsi sebagai komoditas atau barang dagangan yang ditransaksikan atau diperdagangkan atau Tradable Goods.

Faktor Yang Mempengaruhi Permintaan Uang

Ekonom Inggris bernama John Maynard Keynes (1883–1946), dengan cukup jelas menyatakan bahwa permintaan terhadap uang atau demand for money atau yang disebut sebagai preferensi likuiditas, dipengaruhi oleh tiga motif. Ketiga Motif tersebut adalah sebagai berikut.

1. Motif Transaksi

Salah satu motif masyarakat untuk memegang uang adalah agar dapat melakukan transaksi untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Kebutuhan tersebut berjalan secara terus-menerus, sedangkan penerimaan pendapatannya terjadi secara berkala, misalnya seminggu sekali, atau sebulan sekali.

Terdapatnya perbedaan waktu antara penerimaan dan pengeluaran merupakan alasan atau pertimbangan masyarakat untuk meminta atau memegang atau memiliki uang setiap saat.

Motif transaksi yaitu motif untuk melakukan kegiatan transaksi perdagangan seperti tukar menukar barang atau membeli barang kebutuhan pokok. Besarnya permintaan uang dengan motif transaksi sangat tergantung pada tingkat pendapatan seseorang.

Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa kebutuhan uang yang menjadi sebuah permintaan uang untuk motif transaksi merupakan suatu proporsi konstan dari tingkat pendapatan. Hal ini dapat diformulasikan dengan persamaan sebagai berikut.

Mt = kY,

Dengan keterangan

Mt = kebutuhan transaksi,

k = proporsi konstan, 0 < k <1,

Y = tingkat pendapatan nasional

2. Motif Berjaga-jaga

Motif berjaga- jaga yaitu motif menyimpan uang untuk kegiatan berjaga- jaga atau untuk membiayai sesuatu yang tidak terencana atau terduga. Misalnya untuk biaya berobat pada saat sakit atau biaya kebutuhan sekolah anak yang secara mendadak seperti kegiatan studi lapangan.

Motif tersebut terjadi akibat terdapatnya ketidakpastian di waktu yang akan datang. Ketidakpastian ini dapat dianggap sebagai suatu kondisi darurat atau munculnya kesempatan- kesempatan lain yang tidak dapat diperkirakan sebelumnya.

Masyarakat menjadi perlu memegang sejumlah uang agar selalu dapat menghadapi ketidakpastian tersebut. Kebutuhan uang untuk berjaga – jaga ini cenderung meningkat dengan meningkatnya pendapatan.

Dengan tingkat pendapatan yang lebih tinggi, masyarakat dapat menghadapi kemungkinan timbulnya kesempatan- kesempatan lain yang lebih besar, walaupun dengan risiko yang lebih besar juga. Oleh sebab itu, bagi masyarakat yang memiliki pendapatan tinggi, kebutuhan memegang uang untuk memenuhi motif berjaga-jaga cenderung lebih tinggi.

Dengan demikian dapat dikatakan, bahwa permintaan untuk motif transaksi maupun untuk berjaga-jaga merupakan fungsi yang berkorelasi positif terhadap pendapatan, yaitu bahwa jumlahnya tergantung kepada tingkat pendapatan masyarakat. Jadi Secara singkat dapat diformulasikan dengan persamaan sebagai berikut.

M1 = Mt + Mp = f (Y)

Dengan keterangan

M1 = permintaan uang untuk motif transaksi dan berjaga-jaga.

Mt = permintaan uang dengan motif transaksi

Mp = permintaan uang dengan motif berjaga-jaga

f(Y) = fungsi pendapatan

3. Motif Spekulasi

Motif spekulasi merupakan motif memegang uang dengan cara menyimpannya dalam bentuk surat- surat berharga, seperti saham dan obligasi. Hal ini Berbeda dengan dua motif sebelumnya, yang dipengaruhi oleh tingkat pendapatan, motif spekulasi dipengaruhi oleh tingkat suku bunga yang berlaku.

Tingkat suku bunga merupakan faktor yang sangat berpengaruh terhadap penentuan motif spekulasi. Pada tingkat suku bunga yang relative tinggi, masyarakat akan memilih menyimpan uangnya dalam bentuk surat berharga dibandingkan dengan memegang uang tunai.  Bunga yang relative tinggi akan memberikan pendapatan lebih kepada masyarakat.

Daftar Pustaka

Pengertian Uang atau Pengertian uang secara hukum dan politis berserta Permintaan Uang dan Fungsi Permintaan uang. Persamaan permintaan uang Irving Fisher dengan Contoh perhitungan permintaan uang dan Contoh Perhintungan Permintaan unga Rumus Irving Fisher. Uang Berfungsi alat tukar dan pengaruh pendapatan terhadap permintaan uang atau Pengaruh daya beli terhadap Permintaan uang.

Penegrtian Daya beli uang dan Pengertian Real money balances dan Uang bersifat netral. Pengertian money neutrality dan classical quality of money serta Pengaruh permintaan uang terhadap tingkat harga dengan Contoh Soal Perhitungan Rumus Irving Fisher. Faktor Yang Mempengaruhi Permintaan Uang dan demand for money.

Preferensi likuiditas Keynes dan Pengaruh Motif Transaksi terhadap permintaan uang beserta Rumus Permintaan uang motif transaksi. Pengaruh Motif Berjaga-jaga terhadap permintaan uang dan pengaruh spekulasi terhadap permintaan uang dengan Contoh soal permintaan uang motif berjaga – jaga.

Nilai Uang, Nominal Intrinsik, Internal dan Eksternal.

Pengertian Nilai Uang. Nilai uang adalah jumlah barang dan jasa yang akan diterima sebagai pengganti satu kesatuan uang yang diserahkan. Sederhananya Nilai Uang sama dengan  jumlah barang dan jasa.

Uang memiliki sifat seperti barang yang nilai atau harganya ditentukan oleh permintaan demand dan penawaran supply uang.

Permintaan dan penawaran uang dipengaruhi oleh beberapa factor seperti laju edar uang atau velocity of circulation, ketersediaan barang dan jasa yang diperdagangkan dan sebagainya.

Contoh Nilai Uang

Jika Uang 25.000 rupiah dapat digantikan dengan satu kilo gram gula, maka nilai uang 25.000 rupiah tersebut adalah satu kilo gram gula. Atau Rp 25.000 = 1 kg gula.

Dengan perkataan lain, nilai uang menunjukkan kemampuan beli uang atau purchasing power of money. Dengan demikian yang dimaksud nilai uang 25 ribu rupiah adalah  jumlah barang yang dapat diterima dari penjual sebagai pengganti dari uang 25 ribu rupiah.

Istilah lain yang dapat digunakan untuk Nilai uang adalah nilai tukar. Nilai tukar merupakan Jumlah barang dan jasa yang dapat ditukar dengan satu kesatuan uang yang diserahkan.

Untuk contoh di atas. Nilai Tukar 25.000 rupiah adalah satu kilo gram gula. Ini artinya 25 ribu rupiah dapat ditukar dengan satu kilo gram gula.

Nilai Nominal Uang

Nilai nominal adalah nilai uang yang tertulis atau tertera pada mata uang baik uang kertas atau logam. Nilai ini yang paling mudah diketahui oleh masyarakat. Hanya dengan melihat angka yang tercetak pada mata uang tersebut sudah bisa mengetahui nilainya.

Contoh Nilai Nominal Uang

Pada sebuah uang kertas tertulis Rp100.000 Maka nilai nominal uang tersebut adalah 100.000 rupiah. Nilai uangnya sama persis dengan yang tertulis atau tercetak.

Nilai Intrinsik Uang

Nilai intrinsik adalah nilai atau harga dari bahan yang digunakan untuk membuat uang itu sendiri ditambah dengan biaya percetakan dan transpotasi.

Contoh Nilai Intrinsik Uang.

Untuk membuat satu lembar Uang kertas yang bertuliskan Rp 100.000 membutuhkan bahan kertas, biaya cetak dan biaya transport sebesar 25.000 rupiah. Maka Nilai nominal uang tersebut adalah 100.000 rupiah dan nilai intrinsic nya adalah 25.000 rupiah. Nilai yang berlaku untuk transaksi dalam perekonomian adalah nilai nominalnya.

Nilai Uang Internal

Nilai uang internal adalah daya beli uang yang dinyatakan dalam jumlah barang dan jasa yang dihasilkan oleh negara itu sendiri atau domestic product. Jadi nilai uang ditentukan oleh kemampuan daya beli uang terhadap barang dan jasa yang dihasilkan di dalam negeri.

Nilai uang internal dipengaruhi oleh ketersedian barang dan jasa yang diperdagangkan. Ketika ketersediaannya berkurang atau terbatas, maka harga barang menjadi naik. Harga barang naik, artinya sama dengan turunya nilai uang. Ketika barang dan jasa yang tersedia melimpah, maka harga barang akan turun. Turunnya harga barang sama artinya dengan naiknya nilai uang.

Contoh Nilai Uang Internal

Jika Uang 15.000 rupiah dapat digunakan untuk membeli satu kilo gram beras hasil panen petani, maka nilai uang internal 15.000 rupiah tersebut adalah satu kilo gram beras. Atau Rp 15.000 = 1 kg beras.

Nilai Uang Eksternal

Nilai Uang Eksternal adalah harga mata uang suatu negara yang dinyatakan dalam mata uang negara lainnya atau valuta asing atau devisa. Nilai uang eksternal ini dikenal dengan istilah lain yaitu kurs mata uang asing atau foreign exchange rate.

Contoh Nilai Uang Eksternal.

Misal, Nilai kurs Rupiah Indonesia terhadap Dollar Amerika dinotasikan dengan USD/IDR 15.000. Ini artinya nilai uang eksternal Rupiah Indonesia adalah 15.000 rupiah untuk tiap satu Dollar Amerika. Atau daya beli rupiah terhadap Dollar Amerika adalah 15.000 rupiah untuk tiap satu Dollar Amerika.

Tinggi rendahnya kurs mata uang asing tersebut di tentukan antara lain oleh permintaan dan penawaran terhadap mata uang asing tersebut. Permintaan terhadap mata uang asing disebabkan adaya keinginan untuk membeli barang dari luar negeri atau impor.

Namun demikian tidak semua mata uang disukai oleh pengekspor barang atau jasa, namun hanya mata uang kuat atau hard currency yang dapat diterima oleh hampir setiap negara di dunia.

Dewasa ini, mata uang yang banyak diterima dan tergolong dalam hard currency atau devisa convertible antara lain adalah Dollar Amerika, Euro Eropa, Pound sterling Inggris, Yen Jepang dan Dollar Australia.

Daftar Pustaka

Pengertian Nilai Internal dan Eksternal Uang dengan Pengertian Nilai Uang dan Contoh nilai uang, Pengertian Nilai uang internal. Pengertian nilai uang eksternal namun Contoh Nilai uang internal beserta Contoh nilai uang eksternal. Contoh Hard Currency ketika Pengertian Devisa Convertible.