Arsip Kategori: Ilmu Ekonomi Materi Dan Soal

Fungsi Bank Sentral Indonesia, fungsi bank umum, ciri – ciri pasar monopoli, ciri – ciri pasar oligopoli

Faktor Produksi Tenaga Kerja

Pengertian Produksi.

Produksi adalah kegiatan atau usaha manusia untuk menghasilkan atau menambah nilai guna barang dan jasa. Pelaku kegiatan produksi disebut produsen.

Contoh Produksi adalah bahan galian ditambang kemudian diolah menjadi logam setengah jadi, kemudian logam ini dibentuk menjadi peralatan rumah tangga seperti peralatan dapur berupa panci, sendok dan lainnya.

Pengertian Faktor Produksi.

Faktor produksi adalah sumber daya yang digunakan dalam sebuah proses produksi barang dan jasa.  Faktor produksi terdiri dari factor asli dan factor turunan. Factor produksi asli terdiri dari alam dan tenaga kerja. Sedangkan factor turunan terdiri dari faktor modal dan pengusaha.

Faktor Produksi Tenaga Kerja.

Faktor produksi tenaga kerja, yaitu faktor produksi yang berupa tenaga kerja manusia. Berdasarkan sifatnya, faktor produksi tenaga kerja dibagi menjadi tenaga kerja jasmani dan tenaga kerja rohani. Berdasarkan kemampuannya, tenaga kerja dibagi menjadi terdidik, terlatih dan tidak terdidik dan tidak terlatih.

Tenaga Kerja Jasmani

Tenaga kerja jasmani, yaitu kegiatan kerja yang lebih banyak menggunakan kekuatan jasmani atau fisik. Dalam kesehariannya tenaga kerja ini lebih sering disebut sebagai tenaga kerja kasar atau buruh. Contohnya: tukang, buruh angkut, kuli pelabuhan, buruh bangunan, dan lain-lain.

Tenaga Kerja Rohani

Tenaga kerja rohani, yaitu kegiatan kerja yang lebih banyak menggunakan kekuatan pikiran atau otak. Tenaga kerja ini lebih sering disebut tenaga kerja professional. Contohnya adalah guru pengajar, menteri, direktur, dan lain-lain.

Berdasarkan kemampuan, faktor produksi tenaga kerja dibagi menjadi:

Tenaga Kerja Terdidik.

Tenaga kerja terdidik (skilled labour), yaitu tenaga kerja yang memerlukan pendidikan khusus dan teratur. Tenaga kerja ini dihasilkan dari lembaga pendidikan formal dari tingkat dasar sekolah dasar (SD) sampai pendidikan tinggi seperti universitas atau institute, atau sekolah tinggi. Contoh: insinyur, dokter, guru, akuntan, hakim, pengacara, dan lain-lain.

Tenaga Kerja Terlatih.

Tenaga kerja terlatih (trained labour), yaitu tenaga kerja yang memerlukan latihan-latihan dan pengalaman. Tenaga terka ini disiapkan melalui lembaga pendidikan dan pelatihan atau khursus. Contohnya: montir untuk bengkel kendaraan, operator alat berat, juru masak koki,  juru las, dan lain-lain.

Tenaga Kerja Tidak Terdidik dan Tidak Terlatih.

Tenaga kerja tidak terdidik dan tidak terlatih (unskilled and untrained labour), yaitu tenaga kerja yang tidak memerlukan pendidikan dan latihan. Tenaga kerja ini merupakan tenaga kerja yang tidak memiliki keahlian dan keterampilan. Contohnya: kuli, tukang, pemulung, dan lain-lain.

Contoh Soal Ujian Faktor Produksi Tenaga Kerja

1.. Akuntan dan dokter adalah contoh tenaga kerja . . . .

A.terlatih.  B.terpenting.   C.terdidik   D.tidak terlatih.   E.tidak terdidik

2..Hasil produksi yang dibuat untuk menghasilkan barang dan jasa yang lain disebut faktor produksi. . . .

A.alam.   B.modal.   C.tenaga kerja.   D.pengusaha.   E.turunan

Daftar Pustaka.

Tujuan Produksi dan Perilaku Produsen

Pengertian Produksi

Pada prinsipnya produksi melakukan kegiatan yang menghasilkan barang dana tau jasa. Produksi adalah kegiatan menciptakan (membuat) atau menambah nilai guna suatu barang atau jasa. Pelaku kegiatan produksi disebut produsen.

Contohnya Produksi adalah bahan galian ditambang kemudian diolah menjadi logam setengah jadi, logam ini dibentuk menjadi peralatan rumah tangga seperti peralatan dapur berupa panci, sendok dan lainnya.

Kegiatan produksi ini akan mempunyai tujuan dan juga memengaruhi perilaku produsen yang di antaranya adalah:

Memenuhi Kebutuhan Manusia.

Kegiatan produksi dilakukan karena Manusia memiliki beragam kebutuhan terhadap barang dan jasa yang harus dipenuhi. Jadi aktivitas produksi dilakukan dalam rangka pemenuhan kebutuhan manusia.

Menghasilkan Barang Dan atau Jasa

Produsen melakukan Kegiatan produksi bertujuan untuk menghasilkan produk dengan menciptakan barang dan atau jasa baru yang mampu diolah melalui proses produksi. Ini artinya produksi menyediakan barang dan jasa yang dibutuhkan atau mengganti barang yang sudah tidak memiliki nilai guna lagi.

Meningkatkan Nilai Guna Barang atau Jasa

Sebuah perusahaan atau industri memproduksi suatu barang bertujuan untuk meningkatkan nilai guna barang itu sendiri, yang sebelumnya belum atau kurang berguna. Dengan proses produksi, nilai guna barang dapat menjadi lebih tinggi. Hal ini terkait dengan kepuasan dari konsumen sebagai pengguna atau pemakai.

Meningkatkan Kemakmuran Masyarakat

Tujuan dari proses produksi diharapkan mampu menghasilkan produk produk yang dapat menghasilkan keuntungan (profit oriented). Barang tersebut dapat memberikan keuntungan dan meningkatkan kemakmuran masyarakat. Ini artinya kegiatan produksi akan memberikan lapangan pekerjaan bagi masyarakat.

Meningkatkan Keuntungan dan Jumlah Produk

Dengan memproduksi barang dan jasa, maka pihak perusahaan dapat meningkatkan jumlah barang atau jasa dan sekaligus meningkatkan keuntungan yang diperolehnya.

Memperluas Lapangan Usaha

Perusahaan yang memiliki skala produksi yang besar dan produknya diminati oleh pelaku pasar maka perusahaan tersebut dapat mengembangkan usahanya dan dapat menciptakan lapangan usaha baru. Kegiatan produksi ini dapat menciptakan lapangan kerja yang sekaligus mengurangi pengangguran.

Menjaga Kesinambungan Usaha Perusahaan

Tujuan jangka panjangnya, kegiatan produksi dilakukan untuk menjaga kesinambungan usaha perusahaan. Dalam hal ini kegiatan produksi dilakukan untuk kelansungan hidup perudahaan. Dengan demikian perusahaan dapat terus beroperasi dengan baik untuk memperoleh faktor-faktor produksi, memproduksi barang dan jasa serta menjualnya ke pasar untuk mendapatkan keuntungan.

Contoh Soal Ujian Materi Tujuan Produksi

Soal 1. Yang bukan merupakan kegiatan produksi adalah . . . .

  1. membuat boneka
  2. menghias baju pengantin
  3. menjahit sepatu
  4. memakai sepatu
  5. menanam padi

Soal 2. Pertanian dan perkebunan merupakan contoh bidang industri . . . .

  1. ekstraktif
  2. industri
  3. agraris
  4. perdagangan
  5. jasa.

Daftar Pustaka.

Pengaruh Inflasi Terhadap Pendapatan Masyarakat

Pengertian Inflasi,

Inflasi adalah suatu keadaan perekonomian yang menunjukkan adanya kecenderungan kenaikan tingkat harga secara umum (price level). Dikatakan tingkat harga umum karena barang dan jasa yang ada di pasaran mempunyai jumlah dan jenis yang sangat beragam, sebagian besar dari harga-harga barang tersebut selalu meningkat dan mengakibatkan terjadinya inflasi.

Sedangkan inflasi murni adalah inflasi yang terjadi sebelum ada campur tangan dari pemerintah, baik berupa kebijakan fiskal maupun kebijakan moneter. Adapun yang dimaksud laju inflasi adalah kenaikan atau penurunan inflasi dari periode ke periode atau dari tahun ke tahun.

Pengertian Pendapatan Perseorangan, Individu

Pendapatan perseorangan adalah semua jenis pendapatan yang diperoleh anggota masyarakat atau individu penduduk suatau negara. Pendapatan ini termasuk yang diperoleh dari bunga bank, dividen maupun subsidi atau pembayaran pindahan atau pembayaran dari pemerintah kepada masyarakat.

Pendapatan perseorangan atau biasa disebut pendapatan disposibel merupakan jumlah pendapatan yang diterima oleh setiap orang dalam masyarakat termasuk perndapatan yang diperoleh tanpa melakukan kegiatan apapun.

Disposible Income adalah Personal Income (PI) setelah dikurangi pajak langsung. Pajak langsung misalnya pajak bumi dan bangunan, pajak kendaraan bermotor dan sebagainya. Disposible income merupakan pendapatan yang siap digunakan, baik untuk keperluan konsumsi maupun untuk ditabung.

Pengaruh Inflasi Terhadap Pendapatan Masyarakat,

Untuk masyarakat yang berpendapatan tetap, terjadinya inflasi sangat merugikan karena pendapatan riil menurun. Sedangkan bagi masyarakat yang berpendapatan tidak tetap, inflasi bisa sangat merugikan atau bisa juga tidak merugikan. Untuk masyarakat yang berpendapatan rendah dan tidak tetap, inflasi jelas sangat merugikan mereka.

Sedangkan untuk masyarakat yang berpendapatan cukup tinggi dan tidak tetap seperti para pengusaha besar, inflasi dianggap tidak terlalu merugikan. Terutama jika pendapatan pada masa inflasi mengalami kenaikan yang persentasenya lebih besar dibandingkan persentase kenaikan inflasi.

Pustaka:

  1. Mankiw, N. G., 2003, “Teori Makroekonomi”, Edisi Kelima, Erlanga, Jakarta.
  2. Firdaus, R., Ariyanti, M., 2011,”Pengantar Teori Moneter serta Aplikasinya pada Sistem Ekonomi Konvensional dan Syariah”, Cetakan Kesatu, AlfaBeta, cv, Bandung.
  3. Darmawi, H., 2006,”Pasar Finansial dan Lembaga-Lembaga Finansial” Cetakan Pertama, Bumi Aksara, Jakarta.
  4. Ahman, E. H., Rohmana, Y., 2007,”Ilmu Ekonomi Dalam PIPS”, Edisi 2, Unversitas Terbuka, Jakarta.
  5. Prasetyo, P. E., 2011,”Fundamental Makro Ekonomi” Beta Offset, Yogyakarta.

 

Pengaruh Inflasi Terhadap Perdagangan Internasional

Pengertian Inflasi,

Inflasi adalah suatu keadaan perekonomian yang menunjukkan adanya kecenderungan kenaikan tingkat harga secara umum (price level). Dikatakan tingkat harga umum karena barang dan jasa yang ada di pasaran mempunyai jumlah dan jenis yang sangat beragam, sebagian besar dari harga-harga barang tersebut selalu meningkat dan mengakibatkan terjadinya inflasi.

Sedangkan inflasi murni adalah inflasi yang terjadi sebelum ada campur tangan dari pemerintah, baik berupa kebijakan fiskal maupun kebijakan moneter. Adapun yang dimaksud laju inflasi adalah kenaikan atau penurunan inflasi dari periode ke periode atau dari tahun ke tahun.

Pengertian Perdagangan Internasional,

Perdagangan internasional merupakan segala kegiatan perdagangan yang melewati batas- batas wilayah suatu negara. Pelaku kegiatan yang terlibat pada perdagangan internasional dapat perseorangan, perusahaan swasta atau pemerintah, atau campuran.

Kegiatan perdagangan atau bisnis internasinal dapat berupa kegiatan ekspor dan impor barang untuk bahan baku, barang setengan jadi, atau produk-produk akhir yang dibutuhkan oleh masyarakat, terutama yang tidak dimiliki atau tidak diproduksi di dalam negeri.

Kegiatan ekspor impor merupakan transkasi ekonomi yang sangat fundamental dan di sebagian negara menempati posisi sangat penting dan dominan.

Selain itu bisnis internasional dapat pula berupa perdagangan jasa, seperti asuransi, perbankan, hotel, konsultan, travel, dan transportasi. Pada kegiatan perdangan jasa ini, perorangan atau perusahaan dibayar atas pelayanan yang telah diberikan terhadap negara lain atau asing.

Pengaruh  Inflasi Terhadap Bisnis Perdagangan Internasional.

Dalam jangka pendek, kenaikan tingkat inflasi menunjukkan pertumbuhan perekonomian, namun dalam jangka panjang, tingkat inflasi yang tinggi dapat memberikan dampak yang buruk. Tingginya tingkat inflasi menyebabkan harga barang domestik relatif lebih mahal dibanding dengan harga barang impor.

Jika di dalam negeri terjadi inflasi, ini artinya harga produk dalam negeri menjadi lebih mahal. Dan jika harga produk dalam negeri lebih mahal dibandingkan dengan produk – produk dari luar negeri, maka hal ini akan menyebabkan produk domestik menjadi lebih sulit bersaing dengan produk- produk impor.

Hal ini akan mengakibatkan, nilai ekspor akan lebih kecil daripada nilai impor, sehingga neraca perdagangan mengalami defisit, dan defisit ini dapat menghabiskan cadangan devisa negara.

Masyarakat termotivasi untuk membeli barang impor yang relatif lebih murah. Selain itu, Harga yang lebih mahal menyebabkan turunya daya saing barang domestik di pasar internasional. Hal ini berdampak pada nilai ekspor cenderung turun, sebaliknya nilai impor cenderung naik.

Kurang bersaingnya harga barang dan jasa domestik menyebabkan rendahnya permintaan terhadap produk dalam negeri. Kegiatan Produksi menjadi berkurang. Sejumlah pengusaha dan perusahaan akan mengurangi total produksi. Pada akhirnya Produksi berkurang, dampak selanjutnya akan menyebabkan sejumlah pekerja kehilangan pekerjaan.

Pustaka:

  1. Mankiw, N. G., 2003, “Teori Makroekonomi”, Edisi Kelima, Erlanga, Jakarta.
  2. Ahman, E. H., Rohmana, Y., 2007,”Ilmu Ekonomi Dalam PIPS”, Edisi 2, Unversitas Terbuka, Jakarta.
  3. Prasetyo, P. E., 2011,”Fundamental Makro Ekonomi” Beta Offset, Yogyakarta.
  4. Firdaus, R., Ariyanti, M., 2011,”Pengantar Teori Moneter serta Aplikasinya pada Sistem Ekonomi Konvensional dan Syariah”, Cetakan Kesatu, AlfaBeta, cv, Bandung.
  5. Darmawi, H., 2006,”Pasar Finansial dan Lembaga-Lembaga Finansial” Cetakan Pertama, Bumi Aksara, Jakarta.

Sumber Pendapatan Pemerintah Indonesia

Pengertian

Negara memperoleh pendapatan dari dalam negeri maupun luar negeri. Pendapatan atau penerimaan pemerintah tersebut sangat berpengaruh terhadap keberhasilan seluruh proses pembangunan nasional. Adapun sumber- sumber pendapatan pemerintah di antaranya adalah:

Penerimaan Dalam Negeri

Penerimaan pemerintah yang diperoleh dari dalam negeri berasal dari minyak bumi dan gas alam (migas) dan nonmigas. Penerimaan dari sector tersebut digunakan pemerintah untuk menutup pengeluaran rutin pemerintah. Penerimaan pemerintahan dari sektor nonmigas terdiri atas pajak dan nonpajak.

Penerimaan pajak berasal dari Pajak Penghasilan, Pajak Pertambahan Nilai, Pajak Penjualan atas Barang Mewah, Pajak Bumi dan Bangunan, Pajak Ekspor, Pajak Perdagangan Internasional, Bea Masuk dan Cukai.

Adapun penerimaan negara bukan pajak terdiri dari pengelolaan sumber daya alam, Keuntungan Badan Usaha Milik Negara, Pendapatan Badan Layanan Umum, barang sitaan, pinjaman, sumbangan ataupun dari percetakan uang. Sedangkan penerimaan dalam bentuk hibah meliputi pemberian barang atau jasa dari pihak lain.

Penerimaan Luar Negeri

Dalam melaksanakan pembangunan dan roda pemerintahan diperlukan dana yang sangat besar. Pemerintah tidak dapat mengandalkan pada hanya satu sumber pendapatan yaitu pendapatan dari dalam negeri saja. Namun demikian, membutuhkan bantuan dari masyarakat internasional. Untuk membiayai proses pembangunan nasional,

Dana Bantuan dari luar negeri ini dapat digunakan untuk pembiayaan belanja pembangunan. Penerimaan yang berasal dari luar negeri terdiri dari pinjaman program dan pinjaman proyek. Pinjaman tersebut dapat berasal dari negara donor atau lembaga keuangan internasional.

Lembaga keuangan atau negara donor yang telah memberi bantuan keuangan ke Indonesia antara lain adalah: ADB (Asean Development Bank), IMF (International Monetary Fund), dan Bank Dunia (World Bank).

Contoh Soal Ujian Sumber Dana APBN.

Sebutkan Sumber Sumber Penerimaan Negara Selain Pajak….

Jawaban:

Adapun penerimaan negara bukan pajak terdiri atas pengelolaan sumber daya alam, Minyak, gas, Keuntungan Badan Usaha Milik Negara BUMN, Pendapatan Badan Layanan Umum, barang sitaan, pinjaman, sumbangan ataupun dari percetakan uang. Sedangkan penerimaan dalam bentuk hibah meliputi pemberian barang atau jasa dari pihak lain.

Daftar Pustaka:

Tujuan dan Fungsi APBN

Pengertian.

Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara adalah daftar terinci yang memuat penerimaan dan pengeluaran negara dalam jangka satu tahun. APBN ditetapkan  oleh undang – undang dan menjadi pedoman pelaksanaan perekonomian dan digunakan sebesar – besar untuk kemakmuran rakyat.

Sejak  tahun 2000 pada Era Reformasi, APBN dirancang dan dilaksanakan untuk satu tahun mulai 1 Januari – 31 Desember tahun yang sama. Pada zaman Orde Baru (Orba), APBN dirancang dan dilaksanakan untuk satu tahun mulai 1 April – 31 Maret tahun berikutnya, misalnya mulai 1 April 1990 – 31 Maret 1991.

Landasan Hukum APBN

Landasan hukum yang digunakan dalam pembuatan APBN adalah:

  1. Undang – undang Dasar UUD 1945 Pasal 23 (sesudah diamandemen) yang pada intinya berisi:

. APBN ditetapkan setiap tahun dengan Undang-Undang.

. Rancangan APBN dibahas oleh DPR dengan memperhatikan pendapat dari DPD, Dewan Perwakilan Daerah.

.  Apabila DPR tidak menyetujui rancangan anggaran yang diusulkan pemerintah, maka pemerintah memakai APBN tahun sebelumnya.

  1. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1994 tentang Pendapatan dan Belanja Negara.
  2. Keppres Nomor 42 Tahun 2002 tentang Pedoman Pelaksanaan APBN.

Tujuan APBN

Adapun tujuan dari APBN adalah:

Memenuhi kebutuhan penyelenggaraan pemerintah negara dan kemampuan menghimpun pendapatan negara dalam rangka mewujudkan perekonomian nasional berdasarkan asas demokrasi ekonomi dengan prinsip kebersamaan, berkeadilan, efisiensi, berkelanjutan, berwawasan lingkungan, dan kemandirian guna mencapai Indonesia yang aman, adil, damai, dan demokratis, meningkatkan kesejahteraan rakyat, serta menjaga kemajuan dan kesatuan ekonomi nasional.

APBN disusun dengan tujuan sebagai pedoman pendapatan dan belanja dalam melaksanakan kegiatan-kegiatan negara.

Dengan APBN, pemerintah sudah mempunyai gambaran yang jelas mengenai apa saja yang akan diterima sebagai pendapatan dan pengeluaran apa saja yang harus dilakukan selama satu tahun.

Dengan APBN diharapkan kesalahan, pemborosan, dan penyelewengan yang merugikan dapat dihindari. APBN disusun untuk dilaksanakan sesuai aturan, sehingga mampu meningkatkan pertumbuhan ekonomi, kesempatan kerja, dan kemakmuran bangsa.

Fungsi APBN

Adapun Beberapa Fungsi APBN di antaranya adalah:

Fungsi Alokasi

Fungsi alokasi adalah fungsi penyediaan barang publik (public good provision). Sumber anggaran biaya harus dikeluarkan oleh negara untuk melaksanakan pembangunan. Pemerintah dapat mengalokasikan atau membagikan pendapatan yang diterima sesuai dengan target atau sasaran yang diinginkan. Misalnya, menetapkan besarnya anggaran untuk belanja (atau gaji) pegawai, untuk belanja barang, dan besarnya anggaran untuk proyek.

Fungsi Distribusi

Fungsi distribusi pendapatan adalah fungsi APBN dalam rangka memperbaiki distribusi pendapatan. Penerimaan pemerintah disalurkan kembali kepada masyarakat. Pemerintah dapat mendistribusikan pendapatan yang diterima secara adil dan merata. Fungsi distribusi dilaksanakan dengan tujuan agar dapat memperbaiki distribusi pendapatan di masyarakat. Dengan demikian masyarakat yang kurang mampu atau miskin dapat dibantu. Hal ini dapat dilakukan antara lain dengan melakukan kebijakan subsidi seperti subsidi BBM dan gas LPG.

Fungsi Stabilisasi

Fungsi APBN ini bersifat kondisional artinya sesuai dengan kondisi perekonomian yang dihadapi. Sumber anggaran digunakan untuk memelihara dan mengupayakan keseimbangan fundamental perekonomian. Pemerintah  dapat menstabilkan keadaan perekonomian agar terhindar dari hal-hal yang tidak diinginkan.

Misalnya, pada saat inflasi (yaitu harga barang dan jasa naik), pemerintah dapat menstabilkan perekonomian dengan cara menaikkan pajak. Dengan menaikkan pajak, jumlah uang yang beredar dapat dikurangi sehingga harga-harga dapat kembali turun.

Fungsi Otoritas

Sebagai anggaran negara yang digunakan sebagai dasar pelaksanaan pendapatan dan belanja pada tahun berjalan.

Fungsi Perencanaan

Sebagai anggaran pemerintah yang menjadi pedoman bagi manajemen dalam merencanakan kegiatan pada tahun berjalan.

Fungsi Pengawasan

Sebagai anggaran pemerintah yang menjadi pedoman dalam menilai kesesuaian kegiatan penyelenggaraan pemerintahan.

Contoh Soal Ujian Materi APBN

Berikut ini merupakan fungsi dan tujuan APBN sebagai berikut:

(1) Membangun sarana umum di daerah. (2) Sebagai pedoman pendapatan dan belanja negara.   (3) Meningkatkan produksi barang dan jasa.   (4) Meningkatkan pertumbuhan ekonomi secra nasional.   (5) Pedoman distribusi/ pembagian anggaran untuk tiap daerah/ kementerian.

Yang merupakan fungsi APBN adalah:

A. (1), (2), dan (3).   B. (1), (2), dan (4).   C. (2), (3), dan (4).   D. (2), (4), dan (5).   E. (3), (4), dan (5)

Jawaban: C

Pembahasan:

Fungsi APBN yaitu:

  • Sebagai pedoman pendapatan dan belanja negara (2)
  • Meningkatkan produksi barang dan jasa (3)
  • Meningkatkan pertumbuhan ekonomi secara nasional (4)

Daftar Pustaka:

Ciri – Ciri Negara Berkembang

Pengertian

Negara berkembang merupakan istilah yang umum diberikan kepada negara – negara yang memiliki tingkat kesejahteraan yang relative rendah. Pada umumnya pertumbuhan ekonomi di negara berkembang relative lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan ekonomi di negara maju.

Namun demikian, PDB (Produk Domestik Bruto) negara maju jauh lebih tinggi dibanding negara berkembang. Pada negara – negara maju perekonomiannya relative stabil dan hampir semua sumber daya sudah digunakan secara optimal.

Hal ini berbeda dengan negara berkembang, sesuai dengan namanya yaitu negara berkembang, negara-negara ini masih memiliki potensi untuk terus berkembang,. Negara berkembang memiliki banyak sumber daya yang masih belum dikelola secara optimal. sumber- sumber daya  potensial tersebut bisa dikelola dengan baik agar bisa menambah peningkatan PDB dengan mencolok.

Dengan demikian, pertumbuhan ekonomi di negara berkembang dapat menjadi lebih tinggi dibanding negara-negara maju.

Ciri – Ciri Negara Berkembang.

Adapun ciri – ciri negara berkembang adalah sebagai berikut:

  • Laju pertumbuhan penduduk relative tinggi
  • Kegiatan ekonomi cenderung agraris
  • Sebagian besar penduduk tinggal di pedesaan
  • Angka harapan hidup relative rendah
  • Angka kematian bayi relative tinggi
  • Tingkat pendidikan penduduk rata – rata relative rendah
  • Pendapatan rata – rata penduduk relative rendah.

Contoh Negara Berkembang Anatara Lain Adalah:

  • Indonesia
  • Filipina
  • Thailand
  • Mesir
  • Brazil
  • Argentina

Contoh Soal Ujian Ciri – Ciri Negara Berkembang.

Mengapa pada umumnya pertumbuhan ekonomi di negara maju lebih rendah dibanding negara berkembang……?

Daftar Pustaka:

Pengaruh Pendapatan Terhadap Pertumbuhan Ekonomi

Pendapatan Perseorangan.

Pendapatan Perseorangan atau Personal Income biasa dinotasikan dengan PI merupakan bagian pendapatan nasional. Personal Income adalah pendapatan yang diterima oleh setiap lapisan masyarakat dalam satu tahun. Pendapatan perseorangan adalah hak individu – individu yang terlibat dalam perekonomian. Pendapatan ini merupakan balas jasa keikutsertaan mereka dalam proses produksi.

Namun demikian tidak semua pendapatan akan diterima oleh masyarakat. Hal ini disebabkan pendapatan harus dikurangi dengan laba yang ditahan, iuran asuransi, iuran jaminan sosial, dan ditambah dengan pembayaran pindahan atau transfer (transfer payment) dan pendapatan bunga yang diperoleh dari pemerintah dan konsumen. Secara aljabar Pendapatan perseorangan dapat ditulis dalam rumus berikut.

PI = NNI + transfer payment + pendapatan bunga – (laba ditahan + iuran asuransi + iuran jaminan sosial)

NNI atau Net National Income adalah NNP  (Net National Product) dikurangi pajak tidak langsung yang dipungut pemerintah, atau jika dihitung dari GNP (Gross National Product) dapat dirumuskan seperti berikut:

NNI = GNP – Depresiasi – Pajak tidak langsung.

Pendapatan Perseorangan Siap Konsumsi

Pendapatan Perseorangan Siap Konsumsi biasa disebut dengan Personal Income Disposable atau Disposable Income adalah pendapatan perseorangan yang siap dipakai oleh individu untuk membiayai konsumsinya maupun untuk ditabung.

Besarnya pendapatan perseorangan siap konsumsi adalah pendapatan perseorangan dikurangi pajak langsung. Pajak langsung misalnya pajak bumi dan bangunan, pajak kendaraan bermotor dan sebagainya.

Pendapatan perseorangan siap konsumsi = Pendapatan perseorangan – Pajak Langsung

Pengertian Konsumsi

Konsumsi  merupakan kegiatan yang sifatnya mengurangi atau menghabiskan nilai guna suatu barang atau jasa. Pengertian mengurangi atau menghabiskan adalah secara berangsur – angsur atau sekaligus.

Secara umum pengertian konsumsi dalam ilmu ekonomi adalah semua penggunaan barang dan jasa yang dilakukan oleh masyarakat untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Pengeluaran konsumsi terdiri dari konsumsi pemerintah dan konsumsi rumah tangga.

Konsumsi merupakan komponen yang dihitung dalam Gross Domestic Product, GDP, atau Produk Domestik Bruto, PDB.  Dalam ekonomi makro, konsumsi disebut juga sebagai pengeluaran konsumsi, atau consumption expenditure.

Pengaruh pendapatan terhadap konsumsi dapat ditinjau dari persamaan fungsi konsumsi seperti berikut:

C = a + bY

C = pengeluaran untuk konsumsi

a = besar konsumsi saat pendapatan tidak ada, atau sama dengan nol (disebut konsumsi otonom)

b = besar tambahan konsumsi yang disebabkan oleh adanya tambahan pendapatan

Y = pendapatan nasional makro, jika C adalah pengeluaran agregat untuk konsumsi.

Dari persamaannya dapat dikatakan bahwa pendapatan berkorelasi positif terhadap nilai konsumsi.

Pertumbuhan Ekonomi Suatu Negara

Pertumbuhan ekonomi pada umumnya digunakan untuk menyatakan perkembangan ekonomi, kesejahteraan ekonomi, kemajuan ekonomi dan perubahan fundamental ekonomi  jangka panjang suatu Negara.

Pertumbuhan ekonomi  atau economic growth dapat diartikan sebagai pertambahan pendapatan nasional agregatif atau pertambahan output dalam periode tertentu, misal satu tahun. Dengan kata lain, pertumbuhan ekonomi menunjukkan peningkatan kapasitas produksi barang dan jasa secara fisik dalam kurun waktu tertentu.

Pengaruh Pendapatan Terhadap Pertumbuhan Ekonomi

Salah satu besaran penting yang dapat digunakan untuk melihat pengaruh pendapatan dengan pertumbuhan ekonomi suatu negara adalah pendapatan nasional atau  Gross Domestic Product (GDP) atau produk domestik bruto (PDB). GDP merupakan nilai barang dan jasa akhir yang dihasilkan oleh berbagai unit produksi di wilayah suatu negara dalam jangka waktu setahun.

GDP yang dihitung berdasarkan pengeluaran terdiri dari empat komponen utama yaitu:

C = konsumsi,

I = investasi,

G = pembelian oleh pemerintah,

(X – M) = Ekspor neto, X = ekspor dan M = impor

(X – M) adalah Ekspor neto yang menunjukkan selisih antara nilai ekspor dan impor.

Bentuk aljabar dari GDP dapat ditulis sebagai berikut:

Y = C + I + G + (X – M)

Dimana Y = GDP

Sehingga  pertumbuhan ekonomi dapat dinyatakan dalam persamaan sebagai berikut:

GDP = C + I + G + (X – M)

Untuk membahas pengaruh pendapatan terhadap pertumbuhan ekonomi dapat didekati dengan menggunakan dua persamaan yaitu persamaan fungsi konsumsi dan  persamaan GDP.

Dari fungsi konsumsi diketahui bahwa pendapatan berkorelasi positif terhadap konsumsi, ini artinya, jika pendapatan naik, maka konsumsi cenderung naik. Begitu sebaliknya, jika pendapatan turun maka, konsumsi turun juga.

Persamaan aljabar GDP menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi berkorelasi positif dengan konsumsi. Artinya jika konsumsi naik maka, pertumbuhan ekonomi juga naik. Begitu sebaliknya, jika konsumsi turun, maka pertumbuhan ekonomi turun.

Dengan dua bahasan tersebut, dapat dikatakan secara sederhana, bahwa pertumbuhan ekonomi berkorelasi positif dengan pendapatan. Ini artinya, jika pendapatan masyarakat naik, maka pertumbuhan ekonomi akan naik. Sebaliknya jika pendapatan turun, maka pertumbuhan ekonomi juga turun.

Contoh Soal Ujian Pengaruh Pendapatan Terhadap Pertumbuhan Ekonomi

Daftar Pustaka:

Pengaruh Konsumsi Terhadap Pertumbuhan

Pengertian Konsumsi

Konsumsi  merupakan kegiatan yang sifatnya mengurangi atau menghabiskan nilai guna suatu barang atau jasa. Pengertian mengurangi atau menghabiskan adalah secara berangsur – angsur atau sekaligus.

Secara umum pengertian konsumsi dalam ilmu ekonomi adalah semua penggunaan barang dan jasa yang dilakukan oleh masyarakat untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Pengeluaran konsumsi terdiri dari konsumsi pemerintah dan konsumsi rumah tangga.

Konsumsi merupakan komponen yang dihitung dalam Gross Domestic Product, GDP, atau Produk Domestik Bruto, PDB.  Dalam ekonomi makro, konsumsi disebut juga sebagai pengeluaran komsumsi, atau consumption expenditure.

Pertumbuhan Ekonomi Suatu Negara

Pertumbuhan ekonomi pada umumnya digunakan untuk menyatakan perkembangan ekonomi, kesejahteraan ekonomi, kemajuan ekonomi dan perubahan fundamental ekonomi  jangka panjang suatu Negara.

Pertumbuhan ekonomi  atau economic growth dapat diartikan sebagai pertambahan pendapatan nasional agregatif atau pertambahan output dalam periode tertentu, misal satu tahun. Dengan kata lain, pertumbuhan ekonomi menunjukkan peningkatan kapasitas produksi barang dan jasa secara fisik dalam kurun waktu tertentu.

Pengaruh Konsumsi Terhadap Pertumbuhan Ekonomi

Salah satu besaran penting yang dapat digunakan untuk melihat pengaruh konsumsi dengan pertumbuhan ekonomi suatu negara adalah pendapatan nasional atau  Gross Domestic Product (GDP) atau produk domestik bruto (PDB). GDP merupakan nilai barang dan jasa akhir yang dihasilkan oleh berbagai unit produksi di wilayah suatu negara dalam jangka waktu setahun.

GDP yang dihitung berdasarkan pengeluaran terdiri dari empat komponen utama yaitu:

C = konsumsi,

I = investasi,

G = pembelian oleh pemerintah,

(X – M) = Ekspor neto, X = ekspor dan M = impor

(X – M) adalah Ekspor neto yang menunjukkan selisih antara nilai ekspor dan impor.

Bentuk aljabar dari GDP dapat ditulis sebagai berikut:

Y = C + I + G + (X – M)

Dimana Y = GDP

Jadi pertumbuhan ekonomi dapat dinyatakan dalam persamaan sebagai berikut:

GDP = C + I + G + (X – M)

Dari persamaan tersebut dapat dikatakan bahwa Pertumbuhan ekonomi (GDP) berbanding lurus dengan Konsumsi rumah tangga yang dinotasikan dengan huruf C (consumption atau konsumsi). Artinya jika C naik, maka GDP juga akan naik. Begitu sebaliknya, jika konsumsi menurun maka, pertumbuhan ekonomi juga cenderung menurun.

Nilai dari belanja atau pengeluaran yang dilakukan rumah tangga konsumen digunakan untuk membeli berbagai kebutuhan dalam satu tahun tertentu. Belanja atau pengeluaran ini disebut pengeluaran konsumsi rumah tangga.

Pendapatan yang diterima oleh rumah tangga akan digunakan untuk membeli kebutuhan seperti makanan, pakaian, membayar jasa angkutan, membiayai pendidikan anak, membeli kendaraan, dan sebagainya.

Namun tidak semua transaksi yang dilakukan oleh rumah tangga dikatagorikan sebagai konsumsi, seperti pengeluaran untuk membeli rumah dikatagorikan sebagai investasi (dinotasikan dengan I).

Konsumsi rumah tangga dipengaruhi oleh pendapatan masyarakatnya. Dengan demikian pertumbuhan ekonomi juga akan dipengaruhi oleh pendapatan masyarakatnya. Artikel lengkap yang membahas pengaruh pendapat terhadap konsumsi rumah tangga adalah:

Pengaruh Pendapatan Terhadap Konsumsi Rumah Tangga

Disposible income merupakan pendapatan yang siap digunakan, baik untuk keperluan konsumsi maupun untuk ditabung. Konsumsi merupakan fungsi dari pendapatan siap pakai atau disposible income yang menunjukkan hubungan antara tingkat pengeluaran konsumsi dengan tingkat pendapatan yang siap dibelanjakan….

Daftar Pustaka:

Pengaruh Pendapatan Terhadap Konsumsi Rumah Tangga

Pengertian Pendapatan.

Personal Income adalah pendapatan yang diterima oleh setiap lapisan masyarakat dalam satu tahun. Personal Income setelah dikurangi pajak langsung disebut disposible income. Pajak langsung misalnya pajak bumi dan bangunan, pajak kendaraan bermotor dan sebagainya. Disposible income merupakan pendapatan yang siap digunakan, baik untuk keperluan konsumsi maupun untuk ditabung.

Pengertian Konsumsi 

Dalam ilmu ekonomi, konsumsi diartikan sebagai semua penggunaan barang dan jasa yang dilakukan oleh masyarakat untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Pengeluaran konsumsi terdiri dari konsumsi pemerintah dan konsumsi rumah tangga.

Konsumsi merupakan komponen yang dihitung dalam Gross Domestic Product, GDP, atau Produk Domestik Bruto, PDB.  Dalam ekonomi makro, konsumsi disebut juga sebagai pengeluaran komsumsi, atau consumption expenditure.

Consumption Expenditure

Consumption Expenditure didefinisikan sebagai perilaku masyarakat dalam membelanjakan sebagian pendapatannya untuk membeli sesuatu.

Menurut Keynes, pengeluaran untuk konsumsi ditentukan atau dipengaruhi oleh pendapatan. Semakin tinggi tingkat pendapatan, semakin tinggi pula tingkat konsumsinya. Namun demikian, perubahan antara pendapatan dan konsumsi tidak bersifat proporsional.

Pengaruh Pendapatan Terhadap Konsumsi

Konsumsi merupakan fungsi dari pendapatan siap pakai atau disposible income yang menunjukkan hubungan antara tingkat pengeluaran konsumsi dengan tingkat pendapatan yang siap dibelanjakan.

Rumus Persamaan Fungsi Konsumsi

Hubungan fungsional antara konsumsi dan pendapatan Secara matematis dapat dinyatakan sebagai berikut:

C = f(Y)

C = tingkat konsumsi

Y = pendapatan siap pakai, disposible income.

Persamaan ini menjelaskan seberapa besar pengaruh pendapatkan terhadap konsumsi. Pengeluaran konsumsi akan meningkat ketika pendapatan masyarakat juga meningkat.

Apabila perubahan pendapatan Y selalu diikuti oleh perubahan konsumsi C  secara proposional maka fungsi konsumsi menjadi:

C = bY.

Namun demikian, dalam jangka pendek, konsumsi dapat terjadi walaupun tidak ada pendapatan. Artinya, saat pendapatan nol, konsumsi selalu lebih besar daripada nol.

Dalam jangka pendek, masyarakat dapat berkonsumsi dengan menggunakan tabungan yang dimilikinya. Ketika seseorang mengeluarkan dana untuk konsumsi pada saat pendapatan nol disebut melakukan tabungan negatif atau dissaving.

Dengan demikian secara matematis fungsi konsumsi tersebut dapat ditulis sebagai berikut:

C = a + bY

C = pengeluaran untuk konsumsi

a = besar konsumsi saat pendapatan tidak ada, atau sama dengan nol (disebut konsumsi otonom)

b = besar tambahan konsumsi yang disebabkan oleh adanya tambahan pendapatan

Y = pendapatan nasional makro, jika C adalah pengeluaran agregat untuk konsumsi.

Nilai a merupakan pengeluaran konsumen otonom atau autonomous consumer expenditure yang menunjukkan pengeluaran konsumen yang bebas atau indenpenden dari pendapatan disposabel.

Persamaan ini menjelaskan seberapa besar masyarakat akan berbelanja untuk konsumsi apabila pendapatan disposabelnya adalah nol. Meskipun pendapatan disposabel nol, namun nilai konsumsi C tidak sama dengan nol. Masyarakat tetap harus mempunyai makanan, pakaian dan perlindungan. Besarnya nilai konsumsi pada saat masyarakat tidak memiliki pendapatan adalah sebesar a (yaitu konsumsi otonom).

Contoh Soal Ujian Pengaruh Pendapatan Terhadap Konsumsi Dalam Perekonomian

Daftar Pustaka:

  1. Ahman, H., E., Rohmana, Y., 2007,”Ilmu Ekonomi Dalam PIPS”, Edisi Kedua, Cetakan Pertama, Penerbit Universitas Terbuka, Jakarta.
  2. Prasetyo, P. E., 2011, “ Fundamental  Makro Ekonomi”, Cetakan Kedua, Beta Offset, Jogyakarta.