Kemosintesis Pada Anabolisme

Pengertian Anabolisme. Anabolisme adalah peristiwa penyusunan pembentukan zat dari senyawa sederhana menjadi senyawa yang lebih kompleks yang berlangsung dalam tubuh makhluk hidup. Penyusunan senyawa kimia umumnya memerlukan energi, misalnya energi cahaya dalam fotosintesis dan energi kimia dalam kemosintesis.

Pengertian Kemosintesis.

Karbohidrat dapat dibentuk dari CO2 dan H2O menggunakan energi kimia yang dihasilkan selama oksidasi biologi terhadap substansi kimia tertentu. Bakteri yang tidak berklorofil juga dapat menghasilkan karbohidrat menggunakan energi kimia.

Kemosintesis dapat diartikan sebagai salah satu bentuk asimilasi karbon di mana reduksi CO2 berlangsung dalam kondisi gelap (yaitu reaksi tanpa cahaya), reaksinya menggunakan energi murni hasil oksidasi.

Salah satu bagian penting dari kemosintesis adalah energi hasil reaksi oksidasi digunakan oleh bakteri dalam fosforilasi dan selanjutnya melakukan reduksi CO2 menjadi senyawa organik.

Kemosintesis terjadi pada organisme autotrof, tepatnya kemo-autotrof, yang mampu menghasilkan senyawa organic dari zat- zat anorganik dengan bantuan energi kimia.

Energi kimia adalah energi yang diperoleh dari suatu reaksi kimia yang berasal dari reaksi oksidasi. Kemampuan melakukan proses kemosintesis ini, terdapat pada mikroorganisme dan bakteri autotrof.

Contoh Reaksi Anabolisme Kemosintesis

Kemosintesis terjadi pada bakteri nitrifikasi, bakteri belerang, bakteri besi, serta bakteri hidrogen dan bakteri metan.

  1. Kemosintesis oleh Bakteri Nitrifikasi

Beberapa bakteri nitrifikasi antaranya adalah: bakteri Nitrosomonas, Nitrosococcus, Nitrobacter, dan Bactoderma. Nitrosococcus dan Nitrosomonas (bakteri nitrat) mengoksidasi amonia menjadi nitrit.

2NH2 + 3O2 –>HNO2 + 2H2O + energi (158 kkal)

Bactoderma dan Nitrobacter (bakteri nitrat) mengoksidasi nitrit menjadi nitrat dalam keadaan aerob.

2HNO2 + O2 –>2HNO3 + energi (43 kkal)

  1. Kemosintesis oleh Bakteri Belerang

Berdasarkan aspek kemosintesis, bakteri belerang dikelompokkan menjadi tiga sebagai berikut. Bakteri belerang ototrofik tanpa pigmen, contoh Beggiatoa dan Thiospirillum.

Beggiatoa dan Thiospirillum ditemukan pada sumber mata air panas yang mengandung hidrogen sulfida. Kelompok bakteri ini mengoksidasi logam sulfida menjadi sulfur menurut reaksi berikut.

2H2S + O2 –>2S + 2H2O + energi (122,2 kkal)

Ketika cadangan sulfida habis, endapan sulfur akan dioksidasi menjadi sulfat.

2S + 2H2 + 3O2 –>2H2SO4 + energi (284,4 kkal)

  1. Kemosintesis oleh Bakteri Besi

Beberapa bakteri besi pada umumnya, misalnya Leptothrix, Crenothrix, Cladothrix, Galionella, Spiruphyllum, dan Ferrobacillus mengoksidasi ion ferro menjadi ion ferri.

2Fe(HCO3)2 + H2O + O2 –>Fe(OH)3 + 4CO2 + energi (29 kkal)

4FeCO3 + O2 + 6H2O –>4Fe(OH)3 + 4 CO2 + energi (81 kkal)

  1. Kemosintesis oleh Bakteri Hidrogen dan Bakteri Metana

1) Bakteri Hidrogen

Salah satu jenis bakteri hidrogen, yaitu Bacillus panctotrophus dapat tumbuh dalam medium anorganik yang mengandung hidrogen, CO2, dan O2 serta dapat mengoksidasi hidrogen dengan membebaskan energi.

Energi ini dapat digunakan dalam proses kemosintesis berikut.

2H2 + CO2 + energi (115 kkal) –>(CH2O) + H2O

2) Bakteri Metana

Methanonas merupakan salah satu contoh bakteri metana yang mampu mengoksidasi metana menjadi CO2. Metana menyediakan karbon dan energi bagi bakteri aerob ini. Perhatikan reaksi berikut.

CH4 + 2O2 –>CO2 + 2H2O + energi

Energi yang diperoleh pada kemosintesis digunakan untuk proses fosforilasi dan reduksi CO2 menjadi karbohidat.

Daftar Pustaka

Kemosintesis Pada Anabolisme dengan Pengertian dan Contoh Kemosintesis. Pengertian Anabolisme dan Pengertian Kemosintesis serta Fungsi Kemosintesis dan Fungsi Energi Kimia pada Kemosintesis. Proses asimilasi karbon pada kemosintesis dengan Fungsi Energi reaksi oksidasi kemosintesis bakteri. Kemosintesis pada organisme autotroph serta Pengertian Energi kimia adalah Yang Mampu melakukan kemosintesis.

Kemosintesis mikroorganisme dan bakteri autotroph dengan Contoh Reaksi Anabolisme Kemosintesis dan Jenis bakteri yang melakukan kemosintesis. Kemosintesis oleh Bakteri Nitrifikasi sebagai Contoh reaksi Kemosintesis oleh Bakteri Nitrifikasi dan Kemosintesis oleh Bakteri Belerang. Contoh reaksi Kemosintesis oleh Bakteri Belerang adalah Kemosintesis oleh Bakteri Besi dengan Contoh reaksi Kemosintesis oleh Bakteri Besi.

Kemosintesis oleh Bakteri Hidrogen dan Bakteri Metana dengan Contoh reaksi Kemosintesis oleh Bakteri Hidrogen dan Bakteri Metana. Kemosintesis Bakteri Hidrogen dan  Kemosintesis Bakteri Metana sebagai Contoh reaksi Kemosintesis Bakteri Metana dan Proses fosforilasi.

Cara Mengukur Parameter Kualitas Air Limbah

Pengertian Pengukuran Indikator Air Limbah. Indikator yang digunakan untuk mengetahui apakah sudah terjadi kerusakan atau pencemaran lingkungan adalah baku mutu lingkungan hidup atau ukuran batas atau kadar makhluk hidup, zat, energi, atau komponen yang ada atau harus ada dan/atau unsur pencemar yang ditenggang keberadaannya dalam suatu sumber daya tertentu sebagai sumber lingkungan hidup (UU RI No. 23 Tahun 1997).

Pengukuran pencemaran air dapat ditentukan dengan pengukuran secara biologis dan kimia.

Pengukuran Pencemaran Air secara Biologis

Pengukuran pencemaran air secara biologis merupakan pengukuran kualitatif (mutu) air tercemar. Pengukuran pencemaran air secara biologis tersebut hanya untuk menentukan besar dan tingkat pencemaran air. Indikator biologi yang sering digunakan biasanya adalah makhluk hidup yang ada di dalam air itu misalnya dengan menggunakan cacing planaria.

Pengukuran Pencemaran Air secara Kimia

Pengukuran pencemaran air secara kimia merupakan pengukuran dengan menggunakan bahan kimia. Pengukuran pencemaran secara kimia dapat dilakukan dengan pengukuran kadar CO2, pengukuran pH air, dan pengukuran Biological Oxygen Demand (BOD).

Indikator Biochemical Oxygen Demand (BOD520)

Biochemical Oxygen Demand menunjukkan banyaknya oksigen dalam satuan mg/l yang diperlukan oleh mikroba untuk menguraikan bahan organic pada temperatur 20 Celcius selama lima hari. Pengukuran BOD dilakukan dengan cara menghitung selisih antara oksigen terlarut awal dengan oksigen terlarut pada air sampel yang telah disimpan selama 5 hari pada temperature 20 Celcius.

Kadar oksigen yang terlarut dalam air alami berkisar antara 5 sampai 7 ppm. Satu ppm adalah satu mg oksigen yang terlarut dalam satu liter air. Penurunan kadar oksigen terlarut dalam air adalah akibat terjadinya proses oksidasi bahan organik, reduksi zat hasil aktivitas bakteri anaerob, dan respirasi makhluk hidup air terutama pada malam hari.

Limbah bahan organik yang masuk ke dalam air diurai oleh mikroba, mikroba membutuhkan oksigen terlarut untuk mengoksidasi bahan organik. Semakin banyak limbah organik, semakin banyak mikroba yang hidup.

Untuk dapat hidup, mikroba memerlukan oksigen. Semakin banyak mikroba, semakin rendah kadar oksigen terlarut dalam air. Hal ini dapat mengganggu kehidupan di dalam air.

BOD dapat menggambarkan oksigen yang dibutuhkan untuk menguraikan bahan organik yang dapat didekomposisikan secara biologis (biodegradable).

Indikator Chemical Oxygen Demand (COD)

Chemical Oxygen Demand menunjukkan total jumlah oksigen yang dibutuhkan untuk proses oksidasi bahan organik secara kimiawi baik yang biodegradable maupun yang nonbiodegradable.

Oksigen Terlarut (Dissolved Oxygen = DO)

Dissolved Oxygen menunjukkan jumlah kandungan oksigen di dalam air yang diukur dalam 1 mg/1 lt. DO dapat digunakan sebagai indikasi seberapa besar jumlah pengotoran limbah. Semakin tinggi oksigen terlarut, semakin kecil tingkat pencemarannya.

Total Suspended Solid (TSS), Mixed Liquor Suspended Solid (MLSS), dan Mixed Liquor Volatile Suspended Solid (MLVSS)

TSS, MLSS, dan MLVSS menunjukkan jumlah berat dalam mg/1 kering lumpur yang ada di dalam air limbah setelah dilakukan penyaringan dengan membran berukuran 0,45 mikron. MLSS menunjukkan jumlah TSS yang berasal dari bak pengendap lumpur aktif sesudah dipanaskan pada suhu 103 °C – 105 °C, sedangkan MLVSS merupakan kandungan organic matter yang terdapat pada MLSS sesudah dipanaskan pada suhu 600 °C. Benda volatie yang menguap inilah yang disebut dengan MLVSS.

Indikator Kekeruhan (Turbidity)

Kekeruhan air dapat ditentukan dengan menggunakan efek cahaya. Kekeruhan air disebabkan oleh tercampurnya air dengan bahan organic di dalam air.

Indikator Keasaman pH Air

Keasaman atau pH air dapat dijadikan sebagai indikasi apakah air tersebut tercemar atau tidak dan seberapa besar tingkat pencemarannya. pH air alami berkisar antara 6,5 – 8,5. Pencemaran air dapat menyebabkan naik atau turunnya pH air.

Jika banyak tercemar oleh zat yang bersifat asam (bahan organik), maka pH air akan lebih kecil dari 6,5, tetapi jika air tercemar oleh zat yang bersifat basa (kapur), pH air akan lebih besar dari 8,5. Setiap kenaikan 1 angka pada skala pH menunjukkan kenaikan kebasaan sebesar 10 kali.

Demikian juga sebaliknya, penurunan 1 angka pada skala pH menunjukkan penurunan keasaman sebesar 10 kali.

Indikator Biologi

Indikator biologi dapat dimanfaatkan untuk mengukur kualitas air atau seberapa besar tingkat pencemarannya. Makhluk hidup atau organisme yang ada di dalam perairan tersebut dapat dijadikan indicator ada tidaknya pencemaran di dalam perairan tersebut.

Makhluk hidup ini mempunyai sensitivitas yang lebih tinggi dengan perubahan lingkungan yang terjadi, termasuk adanya zat asing dalam lingkungannya. Sebagai contoh, cacing Planaria yang biasa hidup di air jernih akan sangat sensitive dengan pencemaran.

Ada tidaknya Planaria di dalam perairan itu dapat menunjukkan ada tidaknya pencemaran di perairan tersebut. Semakin tinggi tingkat pencemaran, semakin sulit Planaria itu ditemukan.

Selain Planaria, hewan lain yang dapat dijadikan indikator biologi adalah Tubifex (indikator pencemaran bahan organik), serangga air, ikan mikro invertebrata, ganggang, dan bentos.

Daftar Pustaka

Pengukuran Kualitas Air Limbah dan Parameter Kualitas Air Limbah dengan Cara Pengukuran Kualitas Air Limbah. Indikator Kualitas Air Limbah dan Indikator Air Limbah serta Contoh Indikator Air Limbah. Nomor dan Tahun Undang Undang Lingkungan Hidup atau UU RI No. 23 Tahun 1997 dan Jenis Pengukuran Pencemaran air limbah dengan Pengukuran Pencemaran Air secara Biologis.

Indikator cacing planaria sebagai Indikator biologi dengan Contoh Indikator biologi dan Indikator Kimia. Contoh pengukuran indicator kimia dengan pengukuran Pencemaran Air secara Kimia dan Contoh Indikator Pencemaran air secara kimia. Biochemical Oxygen Demand (BOD520) dan Indikator Oksigen dalam air dengan Kadar oksigen dalam air limbah dengan Fungsi mikroba dalam air limbah dan Chemical Oxygen Demand (COD).

Pengertian biodegradable  dan nonbiodegradable dengan Oksigen Terlarut dalam air  (Dissolved Oxygen = DO) serta Total Suspended Solid (TSS) atau Mixed Liquor Suspended Solid (MLSS). Mixed Liquor Volatile Suspended Solid (MLVSS) dengan Contoh Kekeruhan (Turbidity) dan Indikator air limbah Kekeruhan (Turbidity sebagai Indikator air limbah Keasaman pH. Keasaman air yang baik dan sehat sebagai indikator pencemaran bahan organic dengan Contoh makhluk hidup Indikator air limbah.

Jenis Pencemar Lingkungan Air

Pengertian Pencemaran Lingkungan. Pencemaran Lingkungan atau environmental pollution adalah masuknya bahan atau zat atau benda asing ke dalam lingkungan yang dapat mengganggu atau mempengaruhi  dan mengotori kehidupan makhluk hidup yang berada di dalamnya.

Pencemaran lingkungan terjadi akibat dari adanya sejumlah kegiatan manusia atau populasi atau masyarakat dan bukan akibat kegiatan perorangan atau individu, selain itu pencemaran dapat diakibatkan oleh faktor alam seperti gunung meletus yang mengeluarkan abu vulkanik, gas panas dan gas beracun.

Zat yang dapat mencemari atau mengotori lingkungan dan dapat mengganggu atau mempengaruhi kelangsungan hidup makhluk hidup disebut sebagai polutan. Jenis Polutan yang dapat mempengaruhi lingkungan adalah zat kimia, debu, suara, radiasi, atau panas. Contoh Polutan di antaranya adalah  racun, kuman penyakit, radioaktif, dan bersifat mudah larut.

Berdasarkan UU RI No.23 tahun 1997, pencemaran lingkungan adalah masuknya atau dimasukkannya makhluk hidup, zat, energi, dan/atau komponen lain ke dalam lingkungan hidup oleh kegiatan manusia sehingga kualitasnya turun sampai ke tingkat tertentu yang menyebabkan lingkungan hidup tidak dapat berfungsi sesuai dengan peruntukannya.

Zat, energi, dan makhluk hidup yang dimasukkan ke dalam lingkungan hidup biasanya berupa sisa usaha atau kegiatan manusia yang disebut dengan limbah. Sebagian besar pencemaran lingkungan disebabkan oleh adanya limbah yang dibuang ke lingkungan hingga daya dukungnya terlampaui.

Indikator yang digunakan untuk mengetahui apakah sudah terjadi kerusakan atau pencemaran lingkungan adalah baku mutu lingkungan hidup atau ukuran batas atau kadar makhluk hidup, zat, energi, atau komponen yang ada atau harus ada dan/atau unsur pencemar yang ditenggang keberadaannya dalam suatu sumber daya tertentu sebagai sumber lingkungan hidup. Batasan ini merujuk pada UU RI No. 23 Tahun 1997.

Baku mutu yang dikenal di Indonesia adalah baku mutu air, baku mutu air limbah, baku mutu udara ambien, baku mutu udara emisi, dan baku mutu air laut. Untuk mencegah terjadinya pencemaran, komponen-komponen limbah yang dibuang ke lingkungan tidak diizinkan melebihi ketentuan dalam baku mutu lingkungan hidup.

Pencemaran Air.

Pencemaran air adalah masuknya polutan ke dalam air atau terjadinya berubah tatanan atau kualitas air oleh kegiatan manusia sehingga kualitas air turun sampai pada tingkat tertentu yang menyebabkan air tidak dapat berfungsi lagi sesuai peruntukannya. Definisi ini merujuk pada PP RI No. 82 tahun 2001.

Polutan yang mencemari air dapat berupa cairan (zat cair) atau padatan (zat padat) yang berasal dari limbah rumah tangga, industri, pertanian, dan sebagainya. Jika dilihat di daerah perkotaan, parit dan sungai sungainya sudah berubah warna, berwarna tidak jernih lagi, tetapi telah berubah menjadi warna cokelat, hitam, dan sangat berbau.

Sumber Utama Pencemaran Air

Secara umum, pencemaran air dapat dikategorikan sebagai berikut.

Sumber Pencemar Air Infection Agent

Infection agent merupakan bahan pencemar yang dapat menyebabkan gangguan kesehatan manusia (sumber penyakit). Bahan pencemar ini terdiri dari mikroorganisme patogen yang berasal dari excreta manusia dan hewan yang tidak dikelola dengan baik.

Untuk mengetahui atau mendeteksi keberadaan mikroorganisme patogen di dalam air, dapat dilakukan dengan menggunakan bakteri Coliform sebagai bakteri penunjuk (indicator organism). Jika dalam sampel air itu ditemui indicator organism, air tersebut sudah tercemar oleh tinja (mikroorganisme patogen). Akan tetapi, jika di dalam air tidak ditemukan indicator organism, air tersebut tidak tercemar oleh tinja (mikroorganisme patogen).

Sumber Pencemar Air Zat Pengikat Oksigen

Dissolved Oxygen atau jumlah oksigen terlarut merupakan indicator yang cukup baik untuk menentukan kualitas air. Kandungan oksigen dalam air lebih dari 6 ppm dapat mendukung kehidupan tumbuhan, ikan, dan makhluk hidup dalam air.

Sedangkan Kandungan oksigen kurang dari 2 ppm hanya dapat mendukung kehidupan cacing, bakteri, jamur, dan mikroorganisme pengurai. Oksigen yang terlarut dalam air berasal dari difusi oksigen dan proses fotosintesis fitoplankton. Oksigen dibutuhkan untuk proses respirasi makhluk hidup air dan proses kimia dalam air.

Sumber Pencemar Air Sedimen

Sedimen terdiri dari tanah dan pasir yang masuk ke air akibat terjadi erosi atau banjir. Sedimen menyebabkan pendangkalan aliran sungai. Selain itu, proses sedimentasi dapat menyebabkan kekeruhan air yang menghalangi masuknya cahaya matahari, sehingga mengganggu proses fotosintesis fitoplankton, hal ini berarti berkurangnya pasokan oksigen dalam air.

Sumber Pencemaran Air Nutrisi atau Unsur Hara (Nitrat dan Posfat)

Nutrisi atau unsur hara dapat menyebabkan terjadinya peningkatan produktivitas primer yang ditimbulkan oleh adanya penyaringan air dengan unsur hara yang dibutuhkan oleh tumbuhan (Eutrofikasi).

Keadaan ini dapat meningkatkan populasi ganggang dan bakteri dalam perairan tersebut. Akibatnya, air menjadi keruh dan bau. Selain itu, juga menghambat proses masuknya oksigen ke perairan yang secara tidak langsung dapat menurunkan kadar oksigen di dalam air.

Sumber Pencemar Air Anorganik

Yang Termasuk dalam Bahan pencemar anorganik adalah logam, garam, asam, dan basa. Merkuri, kadmium, timbel, dan nikel merupakan logam dengan kadar yang relatif kecil sudah dapat mengakibatkan pencemaran. Asam dapat masuk ke dalam air dari produk samping proses industri dan pelapisan logam.

Asam dan basa ini dapat menyebabkan perubahan pH air yang dapat mengganggu kehidupan di dalam air. Contoh lain, kasus keracunan kobalt yang terjadi di Nebraska merupakan penyakit tidak menular yang disebabkan oleh kontaminasi kobalt di dalam air. Akibat keracunan ini timbul penyakit jantung, kerusakan kelenjar gondok, darah tinggi, dan kaki bengkak.

Sumber Pencemar Air Zat Kimia Organik

Banyak zat kimia organik yang mempunyai toksisitas yang tinggi. Kontaminasi antara zat kimia organik dengan air dapat mengancam kesehatan makhluk hidup. Zat kimia organik digunakan dalam industri kimia, misalnya, untuk pembuatan pestisida, plastik, produk farmasi, pigmen, dan produk lainnya.

Sumber Pencemar Air Energi Panas

Kualitas air akan turun jika terjadi perubahan temperatur. Pembuangan air limbah yang mengandung panas mengakibatkan kenaikan temperatur yang menyebabkan turunnya kadar oksigen dalam air. Air yang panas pada permukaan air dapat menghambat masuknya oksigen ke dalam air di level bawah.

Sumber Pencemar Air Zat Radioaktif

Zat radioaktif yang teraplikasi dalam teknologi nuklir yang digunakan pada berbagai bidang dapat menimbulkan sisa pembuangan. Dapat saja sisa zat radioaktif tersebut terbawa ke dalam lingkungan air. Pengaruh radioaktif ini dapat mengakibatkan gangguan pada proses pembelahan sel, rusaknya kromosom, dan lebih jauh dalam waktu yang lama dapat terjadi kerusakan sistem reproduksi dan sel tubuh.

Daftar Pustaka

Pencemaran Lingkungan Air dengan Pengertian Pencemaran Lingkungan serta environmental pollution. Pengertian Polutan dengan Contoh Polutan dan Pengertian Limbah. Contoh Limbah dengan Jenis Polutan dan Jenis Limbah. Baku Mutu dan baku mutu air dan baku mutu air limbah dan baku mutu udara ambien dan baku mutu udara emisi serta   baku mutu air laut.

Jenis Baku Mutu dengan Contoh Baku Mutu dan Sumber Utama Pencemaran Air. Sumber Pencemar Air Infection Agent dengan Contoh Pencemar Air Infection Agent seperti mikroorganisme pathogen dan  bakteri Coliform.  Indicator organism dengan Sumber Pencemar Air Zat Pengikat Oksigen  dengan Contoh Sumber Pencemar Air Zat Pengikat Oksigen. Dissolved Oxygen dengan Batas Kandungan Oksigen dalam Air.

Sumber Pencemar Air Sedimen denganContoh Sumber Pencemar Air Sedimen dan Sumber Pencemaran Air Nutrisi atau Unsur Hara (Nitrat dan Posfat). Pengertian tumbuhan Eutrofikasi dan Sumber Pencemar Air Anorganik dengan Contoh Sumber Pencemar Air Anorganik. Sumber Pencemar Air Zat Kimia Organik dengan Contoh Sumber Pencemar Air Zat Kimia.

Sumber Pencemar Air Energi Panas dengan Contoh Sumber Pencemar Air Energi Panas dan Sumber Pencemar Air Zat Radioaktif serta Contoh Sumber Pencemar Air Zat Radioaktif,

 

Jenis Jenis RNA Ribonucleic Acid

Pengertian Ribonucleic Acid, RNA.  RNA adalah polimer asam nukleotida dari empat jenis ribonukleotida. Molekul RNA dapat berbentuk pita tunggal atau pita ganda yang tidak terpilin heliks, hal ini berbeda dengan DNA yang bentuk pita ganda heliksnya terpilin.

Setiap pita RNA terdiri atas ribonukleotida (polinukleotida). RNA mengandung gula pentosa, basa nitrogen, dan asam fosfat. Gula pentosanya berupa ribosa. Basa nitrogen purinnya terdiri atas adenin (A) dan guanin (G), sedangkan pirimidinnya terdiri atas sitosin (C) dan urasil (U).

Jenis RNA

Pada dasarnya, terdapat dua kelompok utama RNA yang menyusun makhluk hidup, yaitu RNA genetik dan RNA nongenetik.

RNA Genetik

RNA genetik mempunyai fungsi sama seperti DNA, yaitu merupakan molekul genetik yang secara keseluruhan berkontribusi atau bertanggung jawab dalam membawa segala materi genetis, seperti yang dimiliki oleh DNA.

Dengan kata lain, RNA ini berfungsi sebagai DNA. RNA genetik ini hanya dimiliki oleh makhluk hidup tertentu yang tidak memiliki DNA, seperti pada beberapa jenis virus.

RNA Nongenetik

RNA nongenetik merupakan RNA yang tidak berperan sebagai DNA. RNA nongenetik dimiliki oleh makhluk hidup yang materi genetiknya diatur oleh DNA. Pada makhluk hidup kelompok ini, di dalam selnya terdapat DNA dan RNA.

Jenis RNA Nongenetik

Berdasarkan letak serta fungsinya, RNA non-genetik dibedakan menjadi tiga macam, yakni RNA duta, RNA ribosom, dan RNA transfer.

RNA Duta

RNA duta atau “messenger RNA” (dinotasikan dengan mRNA) merupakan asam nukleat yang berbentuk pita tunggal dan merupakan RNA terbesar atau terpanjang yang bertindak sebagai pola cetakan pembentuk polipeptida.

RNA duta mRNA sering disebut kodon karena urutan basa N penyusunnya merupakan kode genetik untuk sintesis protein. mRNA dicetak oleh DNA dalam inti, kemudian dikirim ke ribosom.

Sintesis mRNA dicetak oleh DNA saat diperlukan saja dan tidak terus-menerus dicetak melainkan tergantung pada macam protein yang akan disintesis dalam sitoplasma.

Fungsi utama RNA duta mRNA adalah membawa kode- kode genetik dari DNA ke ribosom. Selain itu mRNA juga berfungsi sebagai cetakan dalam sintesis protein.

RNA Transfer

RNA transfer (dinotasikan dengan tRNA) merupakan RNA terpendek yang bertindak sebagai penerjemah kodon dari mRNA. Selain itu, tRNA berfungsi mengikat asam- asam amino yang akan disusun menjadi protein dan mengangkutnya ke ribosom. tRNA merupakan RNA yang terdapat dalam sitoplasma

Pada tRNA terdapat bagian yang berhubungan dengan kodon yang disebut antikodon dan bagian yang berfungsi sebagai pengikat asam amino.

RNA Ribosom

RNA ribosom (dinotasikan dengan rRNA) merupakan RNA dengan jumlah terbanyak dan penyusun ribosom. RNA ini berupa pita tunggal, tidak bercabang, dan fleksibel. Lebih dari 80% RNA merupakan rRNA.

Fungsi rRNA sampai sekarang masih belum banyak diketahui, tetapi diduga memiliki peranan penting dalam proses sintesis protein.

Fungsinya sebagai tempat pembentukan protein. Ribosom RNA terdiri dari 2 sub unit, yaitu sub unit kecil dan sub unit besar.

Sub unit kecil memiliki peran dalam mengikat RNA duta. Sedangkan Sub unit besar memiliki fungsi untuk mengikat RNA transfer yang sesuai.

Contoh Soal Ujian Nasional Struktur dan Jenis RNA.

Soal 1. Senyawa pirimidin RNA terdiri atas ….

  1. adenin dan guanin
  2. timin dan sitosin
  3. adenin dan timin
  4. adenin dan urasil
  5. urasil dan sitosin

Soal 2. Pasangan basa N adenin pada mRNA yaitu . . . .

  1. urasil (U)
  2. guanin (G)
  3. adenin (A)
  4. sitosin (S)
  5. timin (T)

Daftar Pustaka

Pengertian Ribonucleic Acid RNA atau RNA adalah  polimer asam nukleotida dengan Bentuk pita RNA. Pita tidak terpilin heliks RNA dengan Pembentuk RNA dan Kandungan RNA. Jenis Jenis RNA dan Penyusun RNA. RNA Genetik dengan Fungsi RNA genetic dan RNA nongenetic.

Fungsi RNA nongenetic dengan Jenis RNA Nongenetik dan RNA duta atau RNA ribosom. RNA transfer dengan Fungsi RNA duta. Fungsi RNA ribosom dengan Fungsi RNA transfer atau messenger RNA. Fungsi messenger RNA dengan RNA Pembawa kode genetic dan RNA pola cetakan.

RNA penerjemah kodon dengan RNA Sintesis protein dengan RNA pengikat asam amino dan RNA tempat sintesis protein. Contoh RNA dengan Gambar RNA.

Bukti Adanya Evolusi

Pengertian Evolusi. Evolusi berasal dari kata evolve yang artinya perubahan. Dengan demikian, evolusi dapat diartikan sebagai perubahan atau perkembangan struktur makhluk hidup menjadi lebih adaptif dalam waktu yang lama. Evolusi ini terjadi secara perlahan dan terjadi pada populasi makhluk hidup.

Walaupun Evolusi sangat sulit untuk dapat dibuktikan. Namun demikian, banyak fakta yang dapat digunakan sebagai petunjuk adanya evolusi. Untuk meyakinkan adanya suatu proses perubahan dari bentuk yang sederhana menjadi bentuk yang lebih kompleks tersebut, memerlukan beberapa bukti atau petunjuk yang dapat mendukung atau membantah fakta dari suatu teori.

Bahasan berikut akan menjelaskan beberapa petunjuk bahwa evolusi memang terjadi, di antaranya adalah variasi dalam satu spesies, adanya fosil, kesamaan kimia, perbandingan anatomi (homologi dan analogi).

Buku Darwin, origin of Species, mengandung beberapa bukti yang secara tidak langsung memperlihatkan bahwa evolusi memang terjadi. Misalnya, Darwin menjelaskan bukti dari catatan fosil untuk memperlihatkan bahwa bentuk kehidupan lain pernah ada di bumi.

Karena suatu evolusi terjadi dalam waktu yang sangat lama, sangat tidak mungkin untuk dapat melihat dan mengamati evolusi secara langsung. Teori Darwin dilanjutkan oleh para ahli biologi dan telah banyak mendapatkan informasi baru yang mendukung teori evolusi.

Fosil Sebagai Bukti Evolusi

Kata fosil berasal dari bahasa latin, fodere, artinya menggali. Oleh karena itu, fosil dapat diartikan sebagai sisa- sisa makhluk hidup yang telah membatu atau terperangkap di dalamnya. Fosil yang ditemukan dapat berupa tulang tulang dan jejak yang sangat membatu. Ilmu yang mempelajari tentang fosil disebut Paleontologi.

Sisa- sisa hewan dan atau tumbuhan yang ditemukan pada batuan sedimen memberikan informasi mengenai peristiwa yang terjadi di masa lalu. Bukti- bukti ini menunjukkan fakta bahwa telah ada variasi makhluk hidup.

Beberapa spesies yang telah punah memiliki sifat karakter transisional antarkelompok utama organisme yang masih ada. Hal ini menunjukkan bahwa jumlah spesies tidak tetap, tetapi bisa berubah, bail berkurang atau bertambah dalam jangka waktu yang relative lama

Dari Hasil penelitian menunjukkan bahwa banyak fosil yang berasal dari makhluk hidup yang telah punah. Namun demikian, terdapat juga beberapa fosil dari makhluk hidup yang ternyata masih ada atau mirip dengan mahkluk hiduo yang masih ada pada sekarang.

Fosil biasanya ditemukan secara kebetulan atau tidak disengaja dan sangat jarang ditemukan fosil dalam keadaan yang utuh. Terdapat beberapa faktor yang menyebabkan jarang ditemukannya fosil dalam keadaan utuh, yaitu:

  1. pengaruh angin, aliran air, dan bakteri pembusuk;
  2. terdapat beberapa organisme atau bagiannya yang tidak dapat membatu;
  3. terjadi lipatan batuan bumi akibat gempa bumi, tanah longsor, dan letusan gunung berapi;
  4. hewan-hewan pemakan bangkai yang sering membawa bagian tubuh bangkai ke tempat lain.

Salah satu fosil yang ditemukan dalam keadaan lengkap adalah fosil kuda. Fosil kuda ini ditemukan pada hampir semua periode geologi.

Homologi Sebagi Bukti Evolusi

Struktur fisik makhluk hidup memberikan petunjuk terhadap struktur fisik nenek moyangnya. Teori evolusi Darwin menyatakan bahwa satu spesies dapat membentuk spesies yang lain.

Persamaan struktur merupakan petunjuk bahwa hewan- hewan ini memiliki nenek moyang yang sama. Ketika spesies yang berbeda berevolusi, seleksi alam menghasilkan modifikasi yang teradaptasi pada lingkungan yang berbeda.

Struktur tubuh dengan fungsi berbeda, tetapi mempunyai bentuk asal yang sama disebut struktur homolog.

Salah satu petunjuk evolusi adalah adanya organ vestigial. Organ vestigial adalah organ kecil atau organ yang tidak lengkap dan tidak memiliki fungsi tertentu. Berdasarkan teori evolusi, organ vestigial adalah organ yang dulunya mempunyai fungsi tertentu. Beberapa contoh organ organ vestigial, yakni tulang yang diduga bekas kaki pada ikan paus; usus buntu dan tulang ekor pada manusia.

Embriologi Perbandingan Sebagai Bukti Evolusi

Petunjuk evolusi dapat juga ditemukan pada perkembangan beberapa organisme. Perkembangan sel telur yang sudah dibuahi hingga dilahirkan disebut embrio.  Adapun ilmu tentang perkembangan organisme ini disebut Embriologi.

Ketika membandingkan perkembangan organisme yang dekat kekerabatannya, terkadang sulit untuk membedakan tahap awal satu spesies dengan spesies lainnya.

Awal perkembangan ikan mirip dengan perkembangan embrio hewan lain dan manusia. Meskipun bentuk dewasa setiap organisme tersebut jauh berbeda, kesamaan mereka saat awal perkembangannya merupakan hal yang menguatkan adanya kesamaan nenek moyang hewan-hewan tersebut.

Kesamaan embrio ini sering digunakan sebagai petunjuk adanya evolusi. Jika dua spesies berasal dari nenek moyang yang sama, keduanya mungkin masih memiliki kesamaan dalam perkembangannya.

Biokimia dan Genetika Sebagai Bukti Evolusi

Genetika modern juga memberikan bukti kuat adanya evolusi. Semua makhluk hidup menggunakan kode genetika yang sama dalam menyintesis protein. Kode genetik yang sama menunjukkan bahwa semua makhluk hidup berevolusi dari satu organisme yang menggunakan kode genetika yang sama.

Ahli biokimia, juga telah membandingkan urutan asam amino dari protein yang ditemukan pada organisme yang berbeda. Organisme yang memiliki hubungan kekerabatan yang dekat biasanya memiliki protein dengan urutan asam amino yang sama. Pada organisme yang jauh kekerabatannya, urutan asama amino dari proteinnya memperlihatkan banyak perbedaan.

Seleksi Alam yang Teramati

Evolusi terjadi dalam ribuan hingga jutaan tahun. Oleh karena itu, sangatlah sulit untuk mengamati seleksi di alam liar. Akan tetapi, terdapat satu contoh seleksi alam di alam liar yang tercatat sangat baik. Pada kasus ini, melibatkan evolusi warna sayap pada spesies ngengat iston Betularia.

Ngengat ini umumnya terdapat di desa- desa Inggris. Pada awal tahun 1850 sebelum terjadi revolusi industri, populasi ngengat sayap putih lebih banyak ditemukan. Jarang sekali ditemukan ngengat warna hitam. Saat itu, jika ngengat putih hinggap pada batang pohon, burung dan predator lain sulit menemukan ngengat tersebut.

arna batang yang cerah menyamarkan ngengat putih. Hal ini berbeda dengan ngengat hitam sehingga ngengat hitam mudah ditemukan oleh predator.

Sekitar awal tahun 1900-an, polusi akibat revolusi industri di Inggris membuat batang pohon menghitam. Hal tersebut menyebabkan ngengat warna putih lebih mudah terlihat oleh burung dan predator lainnya.

Adapun ngengat warna hitam menjadi lebih mudah berbaur dengan warna latar batang pohon. Akibatnya, burung dapat dengan mudah menangkap ngengat warna putih dan memangsanya lebih banyak dibandingkan ngengat hitam.

Akhirnya, ngengat hitam dapat bertahan dan melakukan reproduksi. Melalui seleksi alam, frekuensi gen untuk warna hitam meningkat dalam populasi.

Daftar Pustaka

Petunjuk terjadinya evolusi dengan Bukti Adanya Evolusi disesrtai Pengertian Evolusi. Bukti terjadi Evolusi dengan Contoh adanya Evolusi serta Fosil Sebagai Bukti Evolusi. Contoh Evolusi Fosil sebagai Ilmu fosil disebut Paleontologi. Homologi Sebagi Bukti Evolusi dengan Contoh Evolusi homologi dan Teori evolusi Darwin.

Pengertian organ vestigial sebagai Petunjuk adanya evolusi dengan Contoh organ vestigial. Embriologi Perbandingan Sebagai Bukti Evolusi serta Biokimia dan Genetika Sebagai Bukti Evolusi. Contoh evolusi genetika serta Seleksi Alam yang Teramati dan Evolusi oleh seleksi alam dengan Contoh evolusi seleki alam.

Proses Replikasi DNA.

Pengertian Deoxyribonucleic acid, DNA. DNA merupakan polimer besar yang tersusun atas unit-unit nukleotida yang berulang-ulang. Setiap nukleotida tersusun atas gugus fosfat, gula pentosa, dan basa nitrogen. Gugus fosfat berfungsi menghubungkan antara molekul gula yang satu dan molekul gula yang lain.

Gula pentosa pada nukleotida merupakan gula deoksiribosa karena salah satu atom C-nya kehilangan gugus OH. Molekul gula ini terikat pada basa nitrogen.

DNA dapat menentukan sifat genetik suatu individu karena setiap makhluk hidup mempunyai urutan pasangan basa yang spesifik dan berbeda dengan yang lain. Perbedaan urutan pasangan basa antarindividu dapat dilihat pada saat sequence (proses pengurutan basa) dalam analisis DNA.

DNA dapat berfungsi sebagai heterokatalitik (mensintesis molekul lain seperti RNA) dan otokatalitik (replikasi diri).

DNA dapat berfungsi sebagai heterokatalis, artinya DNA dapat menyintesis molekul lain, membentuk RNA. Selain itu, DNA juga berfungsi sebagai autokatalitik, artinya DNA mampu membentuk dirinya sendiri.

Dengan fungsi otokatalitik, DNA dapat memperbanyak diri melalui suatu proses yang dinamakan replikasi. Proses replikasi DNA akan menghasilkan rantai DNA baru yang sama. DNA juga dapat menghasilkan rantai RNA baru melalui proses transkripsi.

Kemampuan memperbanyak diri merupakan ciri makhluk Hidup yang dapat diamati hingga tingkat molekuler, yakni perbanyakan materi genetis melalui replikasi. Proses ini memerlukan bahan baku deoksiribonukleotida, enzim, dan nukleotida.

Replikasi diawali dengan terbukanya pilinan dan pemisahan rantai oleh enzim helikase sehingga terbentuk dua pita tunggal. Kedua pita tersebut berfungsi sebagai cetakan DNA baru dengan bantuan enzim DNA polimerase.

Ada tiga hipotesis yang menjelaskan terjadinya replikasi DNA.

Teori Hipotesis Konservatif

Hipotesis pertama menyatakan bahwa bentuk double helix DNA yang lama tetap dan langsung menghasilkan double helix yang baru disebut konservatif.

Teori replikasi konservatif menjelaskan bahwa DNA induk tidak mengalami perubahan apapun, lalu urutan basa basa nitrogennya disalin sehingga terbentuk dua rantai DNA yang sama persis.

Teori Hipotesis Dispersif

Hipotesis kedua menyatakan double helix akan terputus- putus, selanjutnya segmen- segmen tersebut akan membentuk segmensegmen baru yang bergabung dengan segmen lama membentuk DNA baru.

Pada Teori replikasi dispersive dijelaskan bahwa DNA induk terpotong -potong, kemudian potongan -potongan tersebut merangkai diri menjadi dua buah DNA baru yang mempunyai urutan basa- basa nitrogen sama persis seperti urutan basa nitrogen semula.

Teori Hipotesis Semikonservatif.

Hipotesis ketiga menyatakan dua pita spiral dari double helix memisahkan diri dan setiap pita tunggal mencetak pita pasangannya disebut semikonservatif.

Teori replikasi semikonservatif menjelaskan pada saat akan mengadakan replikasi kedua, rantai polinukleotida akan memisahkan diri sehingga basa -basa nitrogen tidak berpasang pasangan.

Nukleotida bebas mengandung basa nitrogen yang bersesuaian akan menempatkan diri berpasangan dengan basa nitrogen dari kedua rantai DNA induk, sehingga terbentuk dua buah DNA yang sama persis.

Dari ketiga hipotesis tersebut, hipotesis semikonservatif lebih banyak diterima oleh para ilmuwan dalam menjelaskan replikasi DNA. Beberapa penelitian pun memperkuat hipotesis semikonservatif sebagai mekanisme replikasi DNA.

Faktor Yang Mempengaruhi Proses Replikasi DNA

Proses replikasi ini memerlukan deoksiribonukleosida fosfat dan beberapa enzim.

Enzim Nuklease

Enzim nuklease berfungsi menghidrolisis atau memecah rantai ganda polinukleotida menjadi dua rantai tunggal mononukleotida. Enzim polimerase masing masing membentuk rantai baru sebagai pasangan rantai polinukleotida yang telah terpisah sehingga terbentuk dua rantai DNA yang baru.

Enzim Helikase

Enzim Helikase ini berfungsi menghidrolisis rantai ganda polinukleotida menjadi dua rantai tunggal polinukleotida.

Enzim Polimerase

Enzim Polimerase berfungsi merangkai rantai- rantai mononukleotida membentuk DNA baru.

Enzim Ligase

Enzim Ligase berfungsi menyambung nukleotida ulir tunggal DNA yang baru terbentuk.

Daftar Pustaka

Pengertian Replikasi DNA dan Proses Replikasi DNA dengan Pengertian Deoxyribonucleic acid DNA beserta Fungsi heterokatalitik DNA dan Fungsi otokatalitik DNA. Susunan unit DNA secara Hipotesisi Replikasi DNA dari Teori Hipotesis Konservatif replikasi DNA. Teori Hipotesis Dispersif Replikasi DNA dan Teori Hipotesis Semikonservatif dengan Mekanisme replikasi DNA dan Faktor Yang Mempengaruhi Proses Replikasi DNA.

Yang Menyebabkan Terjadinya Replikasi DNA dengan Fungsi Enzim nuclease pada replikasi DNA dan Fungsi Enzim polymerase pada proses replikasi DNA. Fungsi Enzim Helikase pada replikasi DNA dan Fungsi Enzim Polimerase Pada Replikasi DNA atau Fungsi Enzim Ligase pada replikasi DNA.

Kelenjar Adrenal atau Anak Ginjal

Pengertian Kelenjar Adrenal. Manusia memiliki dua kelenjar adrenal. Kelenjar tersebut berada di atas ginjal. Setiap kelenjar adrenal tersusun atas dua bagian. Bagian dalam kelenjar adrenal disebut bagian medula dan bagian luar kelenjar adrenal  disebut bagian korteks.

Kerja medula adrenal dipengaruhi oleh sistem saraf otonom, sedangkan korteks adrenal dipengaruhi oleh hormon ACTH dari hipofisis anterior.

Korteks menghasilkan hormone jenis kortikoid, sedangkan medula menghasilkan hormon jenis adrenalin. Ketakutan, marah, sakit, dan dingin dapat merangsang medula untuk menghasilkan adrenalin dalam jumlah banyak. Adrenalin merangsang perubahan glikogen menjadi glukosa sehingga banyak energi yang terbentuk.

Korteks Adrenal

Kortek adrenal menghasilkan tiga jenis hormon, yaitu hormone glucocorticoid, mineralocorticoid, dan Gonadocorticoid yang memiliki peran sendiri sendiri.

Fungsi Korteks Adrenal Pada Tubuh Manusia

  1. Glucocorticoid

Glucocorticoid memiliki fungsi sama dengan glucagon, yang berpengaruh terhadap pengaturan kadar glukosa tubuh. Kerjanya dipengaruhi oleh sekresi ACTH di hipofisis anterior. Hormon glucocorticoid bekerja ketika tubuh dalam kondisi stres.

Fungsi glukokortikoid adalah untuk merangsang pengubahan lemak dan protein ke metabolit- metabolit intermediet yang akhirnya diubah menjadi glukosa, sehingga dapat menyebabkan naiknya kadar glukosa dalam darah.

Dalam dunia kedokteran glukokortikoid digunakan untuk mengobati radang sendi dan keracunan, karena sesuai dengan efeknya ternyata glukokortikoid dapat menekan peradangan dalam tubuh.

  1. Mineralocorticoid

Hormon ini berperan sebagai pengatur kadar garam dalam darah dengan cara pengaturan ekskresi urine dan keringat.

Hormon ini merangsang reabsopsi ion- ion Na+ dan CI dalam tubulus ginjal, dan dapat mempertahankan tekanan osmotik selalu tinggi, sehingga volume dan tekanan darah menjadi normal.

  1. Gonadocarticoid

Hormon ini merupakan hormon sex, yang terdiri dari androgen, entrogen, dan progesteron. Jumlah hormon yang dihasilkannya jauh lebih sedikit jika dibandingkan dengan hormon sex yang dihasilkan oleh testis dan ovarium. Androgen dan estrogen bertanggug jawab terhadap pembentukan ciri kelamin sekunder pria dan wanita.

Hormon androgen berfungsi untuk menentukan sifat kelamin sekunder pria. Fungsi ini dilakukan bersama dengan hormon dari gonad.

Medula Adrenal

Bagian medula menghasilkan hormon epinefrin atau adrenalin dan norephinefrin atau noreadrenalin. Pada saat kondisi tubuh dalam keadaan tertekan atau mendapat stres, kedua hormone tersebut akan mengkondisikan tubuh dalam posisi darurat, sehingga hormone ini bekerja dengan meningkatkan laju metabolisme tubuh, menaikkan detak jantung, dan kadar glukosa tubuh.

Adrenalin berfungsi untuk meningkatkan tekanan darah, mempercepat denyut jantung, meningkatkan kadar glukosa darah dan laju metabolisme. Hormon ini disekresikan ketika orang sedang marah, merasa ketakutan, dan mengalami stress. Pada keadaan tersebut kadar hormon adrenalin di dalam tubuh akan naik.

Tubuh manusia dapat merasakan kerja hormon ini pada saat tubuh melakukan kegiatan- kegiatan menegangkan, seperti berdiri di ketinggian atau berada dalam kondisi ketakutan.

Hormon Noradrenalin juga memiliki fungsi untuk meningkatkan tekanan darah.

Fungsi Medula Pada Tubuh Manusia

1) Memacu aktivitas jantung dan menyempitkan pembuluh darah kulit dan kelenjar mukosa.

2) Mengendurkan otot polos batang tenggorok sehingga melapangkan pernapasan.

3) Mempengaruhi pemecahan glikogen (glikogenolisis ) dalam hati sehingga menaikkan kadar gula darah.

Dampak Kelainan dan Gangguan Kelenjar Adrenal atau Anak Ginjal

Terlalu banyak atau terlalu sedikit hormon dapat menyebabkan kelainan pada tubuh. Beberapa contoh akibat gangguan yang diakibatkan oleh hormon adalah sebagai berikut.

Dampak Defisiensi Adrenal

Beberapa orang mempunyai permasalahan dengan produksi kelenjar adrenal sehingga tubuhnya lemah, mudah lelah, sakit pada daerah perut, mual-mual, dan dehidrasi. Kondisi tersebut disebabkan berkurangnya fungsi korteks adrenal yang menyebabkan berkurangnya produksi hormon adrenal kortikosteroid.

Kerusakan pada bagian korteks kelenjar adrenal mengakibatkan penyakit Addison dengan gejala kelelahan, nafsu makan berkurang, mual, muntah-muntah, dan terasa sakit di dalam tubuh.

Kelenjar ini juga menghasilkan hormon androgen yang berpengaruh menentukan sifat kelamin sekunder pria. Kelebihan hormon ini menyebabkan penyakit yang disebut virilisme, yaitu ciri seksual pria yang ada pada wanita.

Daftar Pustaka

Kelenjar Adrenal atau Anak Ginjal dengan Pengertian Kelenjar Adrenal dan Pengertian Anak Ginjal. Hormon dihasilkan kelenjar adrenal dengan Fungsi kelenjar adrenal dan Fungsi Kelenjar korteks. Hormon kelenjar korteks adrenal dengan  Fungsi hormon glucocorticoid dan Fungsi hormone mineralocorticoid. Fungsi Hormon Gonadocorticoid atau Fungsi Korteks Adrenal Pada Tubuh Manusia dan Fungsi Hormon androgen.

Fungsi hormon gonad dengan Fungsi Kelenjar Medula Adrenal atau Fungsi Hormon Medula. Fungsi hormon epinefrin dan Fungsi hormone norephinefrin atau noreadrenalin. Fungsi Medula Pada Tubuh Manusia dan Dampak Kelainan dan Gangguan Kelenjar Adrenal. Dampak gangguan kelenjar Anak Ginjal atau Dampak Defisiensi Adrenal.

Faktor yang Mempengaruhi Evolusi

Pengertian Evolusi. Evolusi berasal dari kata evolve yang artinya perubahan. Dengan demikian, evolusi dapat diartikan sebagai perubahan atau perkembangan struktur makhluk hidup menjadi lebih adaptif dalam waktu yang lama. Evolusi ini terjadi secara perlahan dan terjadi pada populasi makhluk hidup.

Evolusi merupakan ilmu yang mempelajari perubahan- perubahan organisme yang berangsur angsur menuju kepada kesesuaian dengan waktu dan tempat. Dari definisi tersebut, evolusi tidak akan pernah membuktikan bagaimana kera berubah menjadi manusia.

Evolusi bukan proses perubahan dari suatu organisme (spesies) ke organisme (spesies) yang lain. Evolusi merupakan perubahan frekuensi alel suatu populasi per satuan waktu. Menurut teori evolusi, kera mempunyai hubungan kekerabatan yang dekat dengan manusia. Teori evolusi tidak menerangkan bahwa kera adalah nenek moyang langsung dari manusia.

Pada dasarnya, teori evolusi menjelaskan bahwa perubahan frekuensi alel dari suatu populasi merupakan proses evolusi. Dengan demikian, semua organisme berevolusi dari waktu ke waktu

Evolusi merupakan perubahan makhluk hidup dalam jangka waktu yang lama dan berlangsung perlahan-lahan. Perubahan ini terjadi dalam satu populasi dan diturunkan dari generasi ke generasi.

Dalam suatu lingkungan, sifat- sifat genetik menentukan keanekaragaman makhluk hidup, keanekaragaman ini meliputi struktur, tingkah laku, dan lain-lain. Jika terjadi perubahan materi genetik, maka terjadi perubahan sifat pada keturunan keturunannya. Hal ini menyebabkan munculnya spesies baru. Perubahan materi genetik ini disebut mutasi.

Faktor yang Mempengaruhi Evolusi

Evolusi  dapat terjadi akibat  adanya pengaruh dari beberpa faktor seperti seleksi alam, migrasi dan rekombinasi gen.

Pengaruh Seleksi Alam Terhadap Evolusi

Evolusi melalui seleksi alami terjadi pada populasi suatu spesies yang berubah dari waktu ke waktu. Seleksi alami dapat memengaruhi populasi melalui tiga macam seleksi alam, yakni seleki alami mengarah, seleksi alami stabilisasi, dan seleksi alami disruptif.

Lingkungan atau Alam secara alami melakukan seleksi terhadap makhluk hidup yang ada di dalamnya. Hanya makhluk hidup yang dapat beradaptasi atau mengikuti perubahan alamnya yang dapat mampu bertahan hidup dan berkembang biak, sedangkan yang tidak mampu beradaptasi akan punah dan gagal melangsungkan kehidupannya.

Dengan demikian Seleksi alam sebenarnya menyatakan bahwa makhluk hidup yang lebih mampu menyesuaikan diri atau beradaptasi dengan kondisi alam habitatnya akan mendominasi dengan cara memiliki keturunan yang mampu bertahan hidup.

Sebaliknya, makhluk hidup yang tidak mampu beradaptasi akan punah. Sebagai contoh sekelompok rusa yang hidup di bawah ancaman dari hewan hewan pemangsa seperti macan, harimau, singa, dan citah, secara alamiah rusa- rusa yang mampu berlari kencang dapat bertahan hidup dan dapat melanjutkan keturunannya. Sebaliknya, rusa yang lemah, dan rusa yang sakit sakitan, atau rusa tidak dapat berlari dengan kencang akan mati dan tidak dapat meneruskan keturunannya.

Pengearuh Migrasi Terhadap Evolusi

Migrasi adalah perpindahan spesies- spesies dari tempat semula ke tempat tempat baru. Perpindahan tersebut menghasilkan pola kehidupan baru yang mendukung untuk terjadinya perubahan pada spesies- spesies tersebut.

Spesies yang menghuni atau menempati suatu daerah terpisah oleh geografis tertentu, misalnya lautan. Keadaan ini tidak memungkinkan terjadinya perpindahan secara normal dari satu daerah ke daerah yang lain.

Sebagai contoh, spesies Xylocopa nobilis (kumbang kayu) yang dapat ditemukan di berbagai daerah di Pulau Sulawesi dan sekitarnya. Kumbang- kumbang tersebut menunjukkan perbedaan genetik.

Generasi generasi yang terbentuk Pada tempat yang baru akan berbeda dari spesies- spesies nenek moyang asal- usulnya.

Pengaruh Rekombinasi Gen Terhadap Evolusi

Rekombinasi gen merupakan mekanisme penting untuk terjadinya evolusi. Rekombinasi genetik berlangsung melalui perkembangan generatif. Sehingga, reproduksi seksual merupakan faktor penting dalam proses evolusi.

Rekombinasi gen terjadi melalui perkawinan yang menyebabkan perubahan frekuensi gen pada generasi berikutnya. Melalui perkawinan silang, dimungkinkan akan dihasilkan varietas baru.

Varietas baru ini terjadi akibat pembuahan atau penyerbukan dari individu lain sehingga terjadi rekombinasi gen. Rekombinasi gen- gen yang disebabkan oleh perkawinan silang merupakan dasar terjadinya evolusi, karena melalui rekombinasi memungkinkan adanya variasi baru.

Jika varietas- varietas baru yang terbentuk menempati suatu daerah yang sangat berbeda dan tidak memungkinkan terjadinya interhibridisasi, maka kedua varietas baru tersebut akan mengalami perubahan- perubahan yang pada akhirnya dapat menjadi dua spesies yang berbeda.

Pengaruh Spesiasi Pada Evolusi

Suatu spesies terbentuk melalui mekanisme tertentu. Proses pembentukan spesies disebut spesiasi. Para ilmuwan membedakan spesies berdasarkan kemampuan organisme untuk dapat melakukan perkawinan dan menghasilkan keturunan yang fertil (subur) atau memiliki kemampuan untuk melakukan hal tersebut.

Memiliki kemampuan berarti kedua organisme tersebut dapat melakukan perkawinan dan menghasilkan keturunan fertil, meskipun hal tersebut tidak terjadi di alam.

Daftar Pustaka

Pengertian Evolusi dengan Evolusi frekuensi alel dan Teori Evolusi atau Proses Evolusi. Evolusi makhluk hidup dengan Faktor yang Mempengaruhi Evolusi atau Yang menyebabkan terjadinya evolusi.

Pengaruh Seleksi Alam Terhadap Evolusi dengan Contoh Evolusi seleksi alam dan Pengearuh Migrasi Terhadap Evolusi. Contoh Evolusi migrasi dan Pengaruh Rekombinasi Gen Terhadap Evolusi serta contoh evolusi rokombinasi gen. Evolusi perkawinan silang atau Pengaruh Spesiasi Pada Evolusi, contoh evolusi spesiasi.

Jenis Jenis Evolusi

Pengertian Evolusi. Evolusi berasal dari kata evolve yang artinya perubahan. Dengan demikian, evolusi dapat diartikan sebagai perubahan atau perkembangan struktur makhluk hidup menjadi lebih adaptif dalam waktu yang lama. Evolusi ini terjadi secara perlahan dan terjadi pada populasi makhluk hidup.

Evolusi adalah suatu perubahan pada makhluk hidup yang terjadi secara berangsur-angsur dalam jangka waktu yang lama sehingga terbentuk spesies baru.

Sedangkan, berdasarkan ilmu biologi, evolusi merupakan cabang biologi yang mempelajari sejarah asal-usul makhluk hidup dan keterkaitan genetik antara makhluk hidup satu dengan yang lain.

Evolusi Secara Biologi.

Evolusi biologi mencakup dua peristiwa, yaitu:

1) evolusi anorganik merupakan evolusi mengenai asal-usul makhluk hidup yang ada di muka bumi, berdasarkan fakta dan penalaran teoritis;

2) evolusi organik (evolusi biologis) merupakan evolusi filogenetis, yaitu mengenai asal-usul spesies dan hubungan kekerabatannya.

Kajian yang membahas tentang kejadian makhluk hidup yang bisa beraneka ragam di bumi ini disebut dengan Teori Evolusi.

Para ahli biologi telah mengakui bahwa makhluk hidup yang ada sekarang berasal dari makhluk hidup pada masa lalu. Bukti adanya petunjuk kehidupan pada masa lalu yang berbeda terdapat pada tiap-tiap lapisan bumi dengan adanya perubahan yang nyata dari masa ke masa.

Jenis Jenis Evolusi.

Proses evolusi dapat dibedakan atas dasar faktor-faktor berikut.

Evolusi berdasarkan arahnya

Berdasarkan pada arahnya evolusi dapat dibedakan menjadi evolusi progresif dan evolusi regresif seperti berikut.

Evolusi Progresif

Evolusi progresif merupakan evolusi menuju pada kemungkinan yang dapat bertahan hidup (survival). Proses ini dapat dijumpai melalui peristiwa evolusi yang terjadi pada burung Finch.

Evolusi Regresif

Evolusi regresif merupakan proses menuju pada kemungkinan kepunahan. Hal ini dapat dijumpai melalui peristiwa evolusi yang terjadi pada hewan dinosaurus.

Evolusi Berdasarkan Skala Perubahan

Berdasarkan pada skala perubahannya evolusi dapat dikatagorikan menjadi makroevolusi dan mikroevolusi.

Makroevolusi

Makroevolusi adalah perubahan evolusi yang dapat mengakibatkan perubahan dalam skala besar. Adanya makroevolusi dapat mengarah kepada terbentuknya spesies baru.

MikroEvolusi

Mikroevolusi adalah proses evolusi yang hanya mengakibatkan perubahan dalam skala kecil. Mikroevolusi ini hanya mengarah kepada terjadinya perubahan pada frekuensi gen atau kromosom

Evolusi Berdasarkan Hasil Akhir

Berdasarkan hasil akhirnya evolusi dapat dibagi menjadi evolusi divergen dan evolusi konvergen.

Evolusi Divergen

Evolusi divergen merupakan proses evolusi yang perubahannya berasal dari satu spesies menjadi banyak spesies baru. Evolusi divergen ditemukan pada peristiwa terdapatnya lima jari pada vertebrata yang berasal dari nenek moyang yang sama dan sekarang dimiliki oleh bangsa primata dan manusia.

Evolusi Konvergen Evolusi konvergen adalah proses evolusi yang perubahannya didasarkan pada adanya kesamaan struktur antara dua organ atau organisme pada garis sama dari nenek moyang yang sama. Hal ini dapat ditemukan pada hiu dan lumba-lumba. Ikan hiu dan lumba-lumba terlihat sama seperti organisme yang berkerabat dekat, tetapi ternyata hiu termasuk dalam pisces, sedangkan ikan lumba-lumba termasuk dalam mamalia.

Daftar Pustaka

Jenis Jenis Evolusi dengan Pengertian Evolusi dan Pengertian Evolusi Secara Biologi atau evolusi anorganik serta evolusi organik atau evolusi biologis. Evolusi filogenetis dan Evolusi berdasarkan arahnya atau Evolusi Progresif yang peristiwa evolusi burung Finch. Evolusi Regresif dan Evolusi Berdasarkan Skala Perubahan namun Pengertian Makroevolusi dan Pengertian MikroEvolusi.

Evolusi Berdasarkan Hasil Akhir dengan Evolusi Divergen dan Evolusi Konvergen. Contoh evolusi divergen dan konvergen dan contoh makroevolusi dan mikroevolusi. Contoh evolusi organic dan anorganik atau contoh evolusi biologi.

Biotik dan Abiotik Ekosistem

Pengertian Ekosistem. Istilah ekosistem berasal dari kata oikos yang berarti rumah sendiri dan sistema yang berarti terdiri dari bagian- bagian yang utuh atau saling mempengaruhi. Sederhananya, ekosistem dapat diartikan sebagai sistem yang dibentuk di suatu daerah dan memiliki hubungan timbal balik antara komponen hidup (biotik) dan komponen tak hidup (abiotik) atau dengan lingkungannya.

Jadi Ekosistem merupakan kesatuan komunitas yang lingkungan hidupnya saling berinteraksi dan membentuk hubungan timbal balik. Oleh karenanya, ekosistem biasa disebut sebagai sistem lingkungan.

Pengertian Ekosistem Alami dan Ekosistem Buatan

Berdasarkan pada proses terjadinya, ekosistem dapat dibedakan menjadi dua, yaitu ekosistem alami dan ekosistem buatan. Ekosistem alami merupakan ekosistem yang terbentuk oleh adanya pengaruh alam sekitar, bukan karena dibentuk atau dibuat oleh manusia. Contoh ekosistem alami adalah sungai, laut, danau, hutan, dan gunung, sedangkan ekosistem buatan adalah ekosistem yang dibentuk atau diuat oleh manusia. Contoh ekosistem buatan adalah kolam ikan, akuarium, waduk, dan sawah.

Pengertian Biosfer

Ekosistem mempunyai ukuran dan bentuk yang bervariasi. Ekosistem yang kecil akan membentuk suatu ekosistem yang lebih besar. Seluruh ekosistem di muka bumi ini akan membentuk satu ekosistem yang lebih besar yang disebut sebagai biosfer.

Komponen Ekosistem

Ekosistem tersusun dari komponen hidup atau makhluk hidup atau benda hidup yang disebut sebagai biotik dan komponen tak hidup atau makhluk tak hidup atau benda tak hidup yang disebut sebagai abiotik.

Pengertian Biotik

Komponen biotik merupakan bagian ekosistem yang terdiri atas makhluk hidup, seperti tumbuhan, hewan, dan makhluk hidup pengurai. Berdasarkan fungsinya di dalam ekosistem, komponen biotik dibedakan menjadi tiga macam, yaitu produsen, konsumen, dan dekomposer (pengurai).

Masing-masing mempunyai fungsi yang berbedabeda. Produsen berfungsi sebagai penghasil makanan, konsumen sebagai pemakan, dan dekomposer menjadi pengurainya.

Pengertian Produsen Ekositem Biotik

Produsen merupakan makhluk hidup yang dapat menghasilkan bahan organik dari bahan anorganik yang sangat dibutuhkan oleh makhluk hidup lainnya. Semua tumbuhan yang memiliki klorofil merupakan produsen karena dapat mengubah bahan anorganik menjadi bahan organik melalui proses fotosintesis.

Fotosintesis dapat terjadi dengan bantuan cahaya matahari. Hasil fotosintesis berupa gula yang kemudian dapat diurai menjadi lemak, protein, karbohidrat, dan vitamin yang dapat menjadi sumber energi bagi makhluk hidup lainnya.

Pengertian Konsumen Ekosistem Biotik

Konsumen merupakan makhluk hidup yang berperan sebagai pemakan bahan organik atau energi yang dihasilkan oleh produsen yang bertujuan untuk menjaga kelangsungan hidupnya. Singkatnya, konsumen adalah pemakan.

Manusia, hewan, dan tumbuhan tak berklorofil merupakan konsumen karena tidak dapat mengubah bahan anorganik menjadi bahan organik sehingga manusia, hewan, dan tumbuhan tak berklorofil disebut konsumen. Dengan demikian, kehidupan konsumen sangat bergantung kepada produsen.

Pengertian Dekomposer atau Pengurai

Mikroorganisme merupakan pengurai atau sering disebut dengan dekomposer. Sampah yang menumpuk akan diurai oleh bakteri pembusuk dan jamur. Sisa makanan, bangkai binatang, dan sisa bahan organik lainnya menjadi sumber makanan bagi bakteri pembusuk.

Setelah diurai oleh bakteri, sisa bahan organic tersebut membusuk dan menjadi komponen penyusun tanah. Tanah menjadi subur dan baik untuk ditanami. Begitu seterusnya sehingga tanaman sebagai produsen dikonsumsi oleh konsumen primer dan sampai pada akhirnya konsumen akhir mati dan diuraikan oleh dekomposer.

Berdasarkan sumber makanan makhluk hidup, komponen biotik dapat dibedakan menjadi dua, yaitu sebagai berikut.

1. Makhluk Hidup Autotrof

Makhluk hidup Autotrof merupakan makhluk hidup yang mampu membuat makanan sendiri dengan cara mengubah bahan anorganik menjadi bahan organik (dapat membuat makanan sendiri).

Makhluk hidup ini merupakan semua makhluk hidup yang mengandung klorofil sehingga dengan bantuan sinar matahari dapat melakukan fotosintesis. Contohnya, produsen atau tumbuhan hijau.

Organisme autotroph dibedakan menjadi dua tipe Yaitu Fotoautotrop dan Kemoautotrop

a) Fotoautotrop adalah organisme yang dapat menggunakan sumber energi cahaya untuk mengubah bahan anorganik menjadi bahan organik. Contohnya tumbuhan hijau.

b) Kemoautotrop adalah organisme yang dapat memanfaatkan energi dari reaksi kimia untuk membuat makanan sendiri dari bahan organik. Contohnya bakteri nitrit dan nitrat

2. Makhluk Hidup Heterotrof

Makhluk hidup Heterotrof adalah makhluk hidup yang tidak dapat membuat makanan sendiri karena tidak dapat mengubah bahan anorganik menjadi bahan organik. Makhluk hidup ini dapat memperoleh makanan dengan cara memakan makhluk hidup lain. Contohnya makhluk hidup herbivor, karnivor, dan omnivor.

Pengertian Komponen Abiotik

Komponen abiotik suatu ekosistem merupakan keadaan fisik dan kimia yang menyertai kehidupan organisme sebagai media dan substrat kehidupan.

Komponen abiotik terdiri dari segala sesuatu tak hidup dan secara langsung terkait pada keberadaan organisme, antara lain adalah cahaya matahari, temperature tanah, air, oksigen, udara dan sebagainya.

Komponen Abiotik Cahaya Matahari

Dalam berfotosintesis, tumbuhan hijau memerlukan cahaya matahari. Tanpa adanya cahaya matahari, tumbuhan hijau tidak dapat melakukan fotosintesis. Dengan kata lain, cahaya matahari adalah sumber energi utama dalam proses fotosintesis.

Hasil fotosintesis yang berupa bahan organik dimanfaatkan oleh hewan dan manusia sebagai sumber makanan. Secara tidak langsung, cahaya matahari merupakan sumber energi utama dalam ekosistem.

Selain itu, cahaya matahari juga berpengaruh terhadap keberadaan siang, malam, dan suhu lingkungan.

Komponen Abiotik Oksigen dan Karbon Dioksida

Oksigen diperlukan oleh hewan, tumbuhan, dan manusia dalam proses respirasi. Pada respirasi dikeluarkan gas karbon dioksida. Karbon dioksida diperlukan oleh tumbuhan untuk proses fotosintesis.

Dalam proses fotosintesis akan dilepaskan oksigen. Dengan demikian, terjadi siklus oksigen dan karbon dioksida dalam proses pernapasan dan fotosintesis.

Komponen Abiotik Air

Untuk mempertahankan hidupnya, setiap makhluk hidup memerlukan air. Tubuh makhluk hidup terdiri dari 90% air. Air berfungsi sebagai pelarut zat makanan yang dimakan oleh makhluk hidup.

Air juga diperlukan oleh tumbuhan dalam proses fotosintesis. Bagi hewan air, seperti ikan, katak, dan buaya, air diperlukan untuk tempat hidupnya.

Komponen Abiotik Tanah

Tanah merupakan tempat tumbuh makhluk hidup dalam suatu ekosistem. Selain itu, tanah merupakan sumber makanan bagi hewan dan tumbuhan. Tanah merupakan tempat hidup berbagai makhluk hidup yang beraneka ragam.

Pada tanah gembur terdapat lebih banyak makhluk hidup daripada pada tanah tandus. Bagi tumbuhan, tanah merupakan tempat tumbuh tanaman tersebut. Dapat dikatakan bahwa secara langsung atau tidak langsung, semua makhluk hidup untuk mempertahankan hidupnya bergantung pada tanah.

Komponen Abiotik Suhu

Seperti telah disebutkan di atas bahwa adanya cahaya matahari sangat berpengaruh terhadap tinggi rendahnya suhu. Pada saat matahari bersinar terik dengan intensitas yang tinggi, suhu udara akan meningkat sehingga udara terasa panas.

Sebaliknya, jika matahari tidak terik dan intensitas penyinarannya rendah, suhu udara akan menurun sehingga udara terasa sejuk sampai dingin. Terjadinya perubahan suhu dari panas ke dingin atau sebaliknya sangat berpengaruh terhadap kehidupan makhluk hidup yang ada di dalam suatu ekosistem karena perubahan suhu ini dapat mengakibatkan perubahan iklim dan curah hujan.

Komponen Abiotik Kelembapan

Daerah yang berhawa dingin seperti pegunungan lebih lembap daripada daerah yang berhawa panas seperti pantai. Tumbuhan yang hidup di dua daerah tersebut juga berbeda. Pada daerah lembap, lebih banyak terdapat tumbuhan yang memerlukan sedikit sinar matahari, seperti paku- pakuan, lumut, dan anggrek- anggrekan yang biasanya hidup secara epifit pada batu- batu lembap, batang kayu basah, dan lainnya.

Di daerah panas, misalnya pantai, lebih banyak ditumbuhi tumbuhan, seperti bakau dan pohon kelapa.

Komponen Abiotic Iklim

Iklim merupakan kombinasi berbagai komponen abiotic pada suatu tempat, seperti kelembaban udara, suhu, cahaya, curah hujan dan lain-lain. Kombinasi abiotik ini berkaitan dengan kesuburan tanah dan komunitas tumbuhan pada suatu tempat.

Komponen Abiotik Topografi

Topografi merupakan variasi letak suatu tempat di permukaan bumi ditinjau pada ketinggian dari permukaan air laut, garis bujur, dan garis lintang. Perbedaan topografi menyebabkan jatuhnya cahaya matahari menjadi berbeda, menyebabkan suhu, kelembaban, dan tekanan udara maupun pencahayaan juga berbeda. Hal ini yang mempengaruhi persebaran organisme.

Daftar Pustaka

Biotik dan Abiotik Ekosistem dengan Pengertian Ekosistem dan Contoh Ekosisem. Sistem lingkungan atau Pengertian Ekosistem Alami dan Ekosistem Buatan serta Contoh ekosistem alami dan buatan. Pengertian Biosfer dan Contoh biosfer atau Pengertian Komponen Ekosistem dengan Contoh komponen Ekosistem. Pengertian biotik dengan Pengertian abiotic dan contoh makhluk biotik dan abiotic.

Penyusun ekosistem biotik dan Penyusun ekosistem abiotic dengan Fungsi ekosistem biotik dan abiotic atau Pengertian Produsen Ekosistem Biotik. Contoh Produsen ekosistem biotik atau Fungsi Produsen ekosistem biotik tapi Pengertian Konsumen Ekosistem Biotik. Contoh makhluk Konsumen Ekosistem Biotik dengan Fungsi Konsumen Ekosistem Biotik serta Pengertian Dekomposer atau Pengurai.

Contoh makhluk Dekomposer atau Pengurai dengan Fungsi Dekomposer atau Pengurai atau Pengertian  Makhluk Hidup Autotrof dan Contoh Dekomposer atau Pengurai. Fungsi Dekomposer atau Pengurai serta Pengertian Contoh dan Fungsi Fotoautotrop dan Kemoautotrop. Pengertian Makhluk Hidup Heterotrof dan Contoh Makhluk hidup Heterotrof.

Pengertian Komponen Abiotik dan Fungsi Komponen Abiotik Cahaya Matahari serta Pengertian dan Fungsi Komponen Abiotik Oksigen dan Karbon Dioksida namun Pengertian dan Fungsi Komponen Abiotik Air. Contoh Komponen ekosistem abiotic dan Komponen Abiotik Tanah serta Komponen Abiotik Suhu. Komponen Abiotik Kelembapan Komponen Abiotic Iklim atau Komponen Abiotik Topografi.