Apresiasi Karya Seni: Pengertian, Tujuan, Fungsi, Manfaat, Pendekatan Kritik, Analitik Kognitif, Aplikatif, Kesejarahan Problematik, Semiotik

Pengertian Apresiasi Karya Seni: Kata apresiasi berasal dari bahasa Inggris to appreciate yang berarti menghargai, menilai, menyadari, mengerti. Namun dalam New Webster’s Encyclopedic Dictionary diartikan sebagai the act of valuing or estimating – awareness of aesthetic value.

Jadi pengertian apresiasi seni adalah suatu kegiatan dengan melakukan penafsiran terhadap nilai karya seni khususnya seni rupa, sehingga menyadari dan dapat menghargai terhadap nilai yang terkandung di dalamnya.

Pada dasarnya kegiatan apresiasi pada seni adalah suatu proses penghayatan pada seni, kemudian diikuti dengan penghargaan pada seni itu serta pada senimannya.

Secara umum apresiasi adalah kesadaran terhadap nilai-nilai seni dan budaya sehingga dapat mengadakan penilaian atau penghargaan terhadapnya.

Menikmati, menghayati dan merasakan suatu objek atau karya seni menjadi lebih baik lagi jika diiringi dengan mencermati karya seni dengan mengerti dan peka terhadap segi-segi estetiknya, sehingga mampu menikmati dan memaknai karya-karya tersebut dengan semestinya.

Tujuan Apresiasi Karya Seni

Tujuan apresiasi karya seni rupa diantaranya ialah sebagai berikut ini :

  • Apresiasi bertujuan Untuk mengevaluasi dan mengembangkan nilai estetika karya seni
  • Meningkatkan dan mengembangkan kemampuan berkreasi dan berimajinasi
  • Untuk menyempurnakan keindahan karya seni

Fungsi Manfaat Apresiasi Karya Seni

Beberapa fungsi apresiasi karya seni adalah

  • Apresiasi karya seni berfungsi sebagai sarana meningkatkan rasa cinta terhadap karya seni .
  • Berfungsi untuk memberikan edukasi, penilaian, empati terhadap karya seni .
  • Apreiasi karya seni sebagai cara untuk mengembangkan kemampuan seseorang dalam berkarya

Manfaat Apresiasi Karya Seni

Beberapa manfaat apresiasi karya seni adalah:

  • Dapat menimbulkan hubungan timbal balik positif antara penikmat karya seni rupa dan seniman.
  • Dapat meningkatkan kecintaan terhadap suatu karya seni.
  • Apresiasi digunakan untuk sarana melakukan hiburan, penilaian dan edukasi.
  • Apresiasi Karya seni akan meberikan pengalaman dan ilmu untuk bekal meciptakan dan mengembangkan karya seni yang lebih baik.

Aspek Apresiasi Karya Seni

Aspek seni rupa yang diapresiasi difokuskan terhadap 1). masalah yang diungkapkan, b). teknik garapan, c). unsur dan pengorganisasiannya, d). gagasan kreatif, e). ekspresi.

a). Aspek Apresiasi Karya Seni: Tema Permasalahan

Tema yang diangkat oleh seniman sangat luas cakupan areanya, oleh karena itu banyak seniman dalam memilih tema dibatasi sesuai dengan preferensi senimannya.

Tema dapat dijadikan sebagai fokus pembahasan dalam berkarya dan dapat membentuk gaya dalam tampilan karya seorang seniman.

b). Aspek Apresiasi Karya Seni: Teknik Garapan

Teknik garapan dalam membuat karya seni rupa sangat pokok dan menentukan karena dapat mempengaruhi nilai estetik karya seni yaitu baik dan buruknya.

Kemahiran menggunakan alat dan bahan menjadi syarat utama yang harus dimiliki oleh seorang seniman. Dalam seni lukis misalnya alat dan bahan yang digunakan akan menentukan Teknik yang dilakukan.

c). Aspek Apresiasi Karya Seni: Unsur dan Pengorganisasian

Aspek yang juga menjadi perhatian dalam melakukan apresiasi adalah kualitas unsur rupa dan kemampuan seniman dalam mengorganisasikan unsur tersebut menjadi suatu komposisi.

Aspek pengorganisasian unsur menjadi sangat menentukan seorang seniman setelah memiliki kemahiran teknik garapan. Aspek Unsur dan Pengorganisasian mencerminkan kepekaan estetik seniman dalam menggunakan unsur tersebut sebagai bahasa rupa untuk dapat menyampaikan pikiran dan perasaannya.

Kualitas unsur menunjukkan bagaimana kualitas garis, ruang, bentuk, warna, dan tekstur digunakan dalam mewujudkan karya seni.

Kemampuan mengungkapkan rasa yang ingin disampaikan oleh sang seniman tergantung dari kemampuannya mengelola unsur seni rupa serta menguasai penggunaan bahannya.

Mengelola unsur seni rupa maksudnya adalah bagaimana sang seniman mampu menggunakan karakter unsur seperti garis, bentuk, warna, dan tekstur untuk mewakili persaannya.

d). Aspek Apresiasi Karya Seni: Kreativitas

Tahapan kreativitas yang dapat dijadikan sebagai acuan untuk melihat kemampuan seniman dalam membuat karya seninya adalah penguasaan teknik, meniru model, melakukan inovasi dan akhirnya kreasi.

Kreasi adalah kemampuan untuk mendapatkan sesuatu yang baru dan orisinal dan hal ini berbeda dengan inovasi yang sifatnya mengubah yang telah ada menjadi kelihatan baru.

Dalam melakukan apresiasi ada beberapa tataran yang dilihat yaitu: rasa (feeling), pendapat kritikus terhadap seniman sebagai pencipta karya seni yang diapresiasi, kemampuan teknik, ide atau yang ditampilkan dalam karya seni, sejarah atau periodesasi senimannya. Sering tanpa disadari, perasaan kita tersentuh ketika menyasikan karya seni.

Pendekatan Apresiasi Karya Seni

Beberapa pendekatan yang dapat dilakukan dalam apresiasi seni rupa adalah pendekatan kritik seni, analitik, dan kognitif.

Apresiasi Karya Seni Pendekatan Kritik

Pendekatan kritik adalah apresiasi yang dilakukan apresiasi dengan cara kritis. Cara kritis terhadap karya seni ada empat jenis dan tiga gaya dalam melakukannya.

a). Jenis Kritik Karya Seni,

Empat jenis kritik seni yaitu: Kritik jurnalistik, pedagogik, ilmiah, dan populer.

  • Kritik Karya Seni Jurnalistik,

Kritik Jurnalistik merupakan upaya mengulas suatu karya seni biasanya ketika ada pameran. Ciri- Ciri Kritik Jurnalistik bahasanya mudah dimengerti namun ulasannya tidak mendalam tetapi singkat dan padat.

Kritik jurnalistik semacam berita dengan ulasan ringan ditujukan kepada pembaca berita surat kabar dan majalah sebagai informasi tentang peristiwa seni yang sedang berlangsung dengan tambahan ringkasan tentang tema yang diungkap dalam karya yang dipamerkan.

  • Kritik Karya Seni Pedagogik,

Kritik pedagogik merupakan kritik yang dilakukan oleh guru seni terhadap siswanya yang bertujuan untuk meningkatkan kematangan teknik dan estetik siswanya.

Ulasan yang diberikan tidak keras dengan kriteria yang tidak terlalu berat. Kritik pedagogic dapat mendorong semangat siswa untuk bekerja dan belajar meningkatkan prestasinya.

Tujuan utama kritik pedagogik adalah untuk menunjukkan kelemahan-kelemahan siswa dalam hal teknis dan estetiknya. Dengan demikian mampu mengarahkan siswa berdasarkan bakat dan kemampuannya yang tepat.

Kritik pedagogik menuntut seorang guru untuk memiliki kepekaan estetik yang lebih dibanding siswanya sehingga dapat memberikan bimbingan selama dalam proses berkarya dan memberi kesimpulan pada akhirnya.

  • Kritik Karya Seni Ilmiah atau Akademis,

Kritik ilmiah atau akademis merupakan pendekatan apresiasi kritis dengan melakukan analisis yang mendalam dengan data- data lengkap dan hasil evaluasi yang dapat dipertanggung jawabkan.

Pendekatan Kritik akademis merupakan pendekatan apresiasi seni yang paling mendekati dengan apa yang dimaksud oleh senimannya terhadap gagasan- gagasannya.

Kritik ilmiah akademik merupakan pendekatan analitik dengan tahapan-tahapan yang harus dilaluinya. Kegunaan kritik ilmiah akademis adalah penyelidikannya terhadap prestasi artitistik baik seni tradisional maupun kontemporer.

  • Kritik Karya Seni Populer,

 Kritik popular merupakan pendekatan apresiasai seni rupa yang dilakukan oleh setiap orang yang tertarik dalam bidang seni.

Hasil apresisi pendekatan kritik popular berbeda-beda sesuai dengan perhatian dan intensitas lingkungan individu masing-masing. Namun kecendrungan secara keseluruhan populasi dalam menentukan kualitas seni ditentukan oleh pendapat mayoritas.

Jenis Gaya Kritik Karya Seni,

Beberapa tipe atau gaya kritik seni adalah kontekstual, Intrinsik, dan komparatif.

  • Gaya Kritik Seni Kontekstual,

Gaya kritik seni kotekstual merupakan  kritik yang disampaikan secara kontekstual yang berarti tidak hanya menggunakan kriteria estetik, namun dipertimbangkan norma-norma yang berlaku di masyarakat yang berhubungan dengan moral, psikologi, sosiologi, dan religi.

Kritik kontekstual mempertimbangkan apakah sebuah karya seni pantas di pamerkan di depan umum sementara masyarakatnya sangat religious. Jadi kritik dilakukan dari beberapa sudut pandang yang terkait dengan seni.

  • Gaya Kritik Seni Intrinsik,

Gaya kritik Intrinsik merupakan kritis yang murni untuk kepentingan estetik, dengan ulasan yang  terfokus pada nilai estetikanya tanpa dibebani dengan hal lain.

Nilai-nilai estetiknya meliputi kemahiran teknik dalam menggunakan alat dan bahan, kemahiran dalam menyusun elemen-elemen estetik yang menjadi harmoni dan kesatuan dalam sebuah karya yang utuh.

  • Gaya Kritik Seni Komparatif,

Gaya Kritik Seni Komparatif merupakan kritik yang dilakukan dengan membandingkan karya seorang seniman dengan seniman lain. Gaya komparatif membandingkan karya seniman dengan daerah asalnya, dengan teman sejawatnya atau dengan karya seni suatu kelompok masyarakat.

Apresiasi Seni Pendekatan Analitik

Pendekatan analitik dikembangkan oleh Feldman dan Plummer. Pendekatan analitik  merupakan suatu cara melakukan apresiasi dengan melakukan analisis terhadap sebuah karya seni rupa dilihat dari beberapa sudut pandang dan tahapan deskripsi, Analisis dan interpretasi

  • Apresiasi Seni Pendekatan Analitik Deskripsi

Deskripsi merupakan kegiatan awal dari apresiasi, yaitu mengenal dan menemukan segala informasi tentang karya yang akan diapresiasi.

Apresiasi dimulai dari identitas senimannya, keterampilan teknik dan bahan yang digunakan, konsep penciptaan, tema yang ditampilkan yang tidak nampak secara kasat mata.

Untuk mendapatkan identitas seniman dilakukan dengan wawancara langsung jika memungkinkan, jika sudah meninggal dunia dilakukan studi literatur atau dokumen saat seniman tersebut masih hidup. Salain itu dapat juaga dengan melakukan wawancara terhadap keluarga terdekat dan teman-teman dekatnya

  • Apresiasi Seni Pendekatan Analisis

Pendekatan analisis merupakan apresiasi seni untuk menemukan kualitas estetik unsur-unsur yang digunakan, hubungan antar unsur yang disusun, kesesuaian konsep dengan ungkapan visualnya.

Pendekatan apresiasi analisis akan mengetahui bagaimana kualitas dari unsur unsur seni seperti garis, bentuk, warna dan tekstur disusun untuk menjadi suatu susunan kesatuan yang harmonis.

  • Apresiasi Seni Pendekatan Analitik Interpretasi

Pendekatan interpretasi merupakan apresiasi yang mengungkap makna yang terkandung dalam sebuah karya seni.

Makna dalam seni terdiri dari makna fisik (fisikoplastis) dan makna yang ada di balik penampilan fisik tersebut (ideoplastis) sebagai hal yang sulit jika tidak dapat data yang lengkap.

Makna yang terkandung dalam karya memerlukan interpretasi dari ungkapan kualitas fisiknya jika tidak ada data tentang latar belakang penciptaannya.

Makna dibalik penampilan fisiknya (ideoplastisnya) dapat mengacu kepada judulnya, yang diungkap. Contoh seorang pemain biola dapat diinterpretasika bahwa seniman senang memainkan biola atau mengagumi pemain biola dalam suatu pertunjukkan.

  • Apresiasi Seni Pendekatan Analitik Judgement

Apresiasi pendekatan judgement umumnya dilakukan setelah kegiatan interpretasi telah dicapai. Apresiasi Judgement merupakan suatu kegiatan dalam menentukan tingkat nilai baik dan buruk sebuah karya seni.

Apresiasi pendekatan Judgement memerlukan informasi dari kegiatan sebelumnya. Dua hal yang penting dalam menentukan kualitas karya seni yaitu tujuan seniman dalam membuat karya dan keberhasilannya dalam mencapai tujuan tersebut.

Dengan demikian yang menentukan judgement adalah aspek teknik dalam mengungkapkan gagasannya secara estetik, perbandingan secara historis dengan seni yang sejenis, dan keaslian atau originalitas.

Apresiasi Seni Pendekatan Kognitif

Apresiasi seni Pendekatan kognitif dikembangkan oleh Michael Parson. Menurut penjelasan Michael Parson setiap orang berbeda dalam memberikan respon terhadap karya seni karena tergantung dari perkembangan kognitifnya yang berhubungan dengan karya seni.

Ada lima tingkat kemampuan untuk dapat melakukan apresiasi dan kadang masing-masing tingkat overlaping satu dengan lainnya sehingga menjadi sangat rumit. tetapi

  • Pendekatan Kognitif Tinkat Favoritisme

Tahap ini disebut pula tahap pertama, karakteristik utama tahap ini adalah refleksi intuitif yang sifatnya subyektif sangat kuat terhadap karya seni.

Secara psikologis tahap ini tidak mempedulikan pendapat orang orang lain. Dalam hal estetik karya seni terutama lukisan merupakan obyek yang menyenangkan baik figuratif maupun non-figuratif.

  • Pendekatan Kognitif Tahap Keindahan dan Realisme

Tahap ini adalah tahap kedua, yang menonjol cirinya adalah tentang subyek dalam karya seni, representasi yang ditampilkannya.

Karya seni yang baik adalah jika merepresentasikan sesuatu dan realistik yang menampilkan emosi subyeknya seperti tersenyum, sedih, dan gerakan.

Secara psikologis tahap ini menghargai pendapat orang lain, dan secara estetik tahap ini menyadari adanya sesuatu yang dilukiskan pada karya seni secara realistik.

Tahap ini menyangkut tentang karya seni sebagai suatu yang dapat dinikmati oleh wujudnya yang menyenangkan perasaan.

  • Pendekatan Kognitif Tahap Ekspresi

Tahap ekspresi adalah tahap yang memiliki kesadaran tentang ekspresi yang diungkapkan dalam karya seni yaitu adanya perasaan senimannya atau pengalaman rasa apresiatornya.

Tahap ekspresi beranggapan bahwa tujuan karya seni adalah untuk mengekspresikan pengalaman seseorang, keindahan subyeknya menjadi yang kedua.

Kreativitas, keaslian, kedalaman rasa adalah sangat dihargai. Secara psikologis tahap ini lebih maju dalam mengalami apa yang orang lain pikirkan dan rasakan.

Secara estetik tahap ekpresi menyadari adanya hal yang tidak relevan dengan keindahan subyek karena yang dicari adalah kualitas ekspresi karya yang ditampilkan.

Contoh Ungkapan Tahap Ekspresi

Ungkapan-ungkapan yang sering terdengar pada tahap ekpresi adalah “lihat distorsi bentuknya sangat kuat mengungkapkan perasaan senimannya” atau “sapuan kuasnya sangat tepat mengekspresikan gerak subyeknya”.

Pada hakekatnya tahap ini menyangkut tiga hal yaitu: pertama tentang subyektivitas, bahwa karya seni harus dipahami secara mental karena karya seni mengandung pemikiran, emosi yang sifatnya subyektif.

Kedua adalah ekspresi individu, oleh karena itu karya seni dipahami secara individual agar mengetahui apa yang dikasud oleh senimannya.

Ketiga adalah interpretasi, yaitu hubungan timbal balik seniman dan apresiatornya dengan media karya seni. Apresiator mengalami apa yang dialami oleh senimannya berupa ekspresi yang ada dalam karya seni.

  • Pendekatan Kognitif Tahap Gaya dan Bentuk

Tahap gaya dan bentuk merupakan pendekatan apresiasi dimana karya seni bukan lagi bersifat individual, namun lebih bersifat sosial.

Tahap gaya dan bentuk membicarakan karya seni dari segala aspeknya, bisa apresiasi tekniknya, dan bisa juga bentuk-bentuknya atau aspek yang lainnya.

Makna karya seni terangkat oleh perbincangan antar apresiator yang melebihi makna yang diinterpretasikan oleh individual.

Secara psikologis, makna kelompok lebih rumit dibandingkan mendapatkan makna secara individual. Terkadang individu mendapatkan makna dari membaca beberapa interpretasi tentang karya yang dinikmati dan melihat bagaimana masing masing interpretasi memaknainya.

Secara estetik apresiator mendapatkan makna karya seni dari media yang digunakan, bentuk dan gayanya.

Pada tahap gaya dan bentuk, apresiator mampu membedakan makna literal yang ada pada subyek karya seni dengan makna apa yang dicapai dalam karya tersebut. Apresiator akan mengidentifikasi gayanya dengan menghubungkan secara historis.

Tahap gaya dan bentuk menganggap ulasan karya seni dapat menuntun persepsi dan melihat evaluasi karya seni sebagai hal yang obyektif.

Contoh Ungkapan Apresiasi Pendekatan Kognitif Tahao  Gaya dan Bentuk

Beberapa contoh ungkapan yang sering terlontar pada tahap gaya dan bentuk adalah: “ Lihat kesedihan dalam ungkapan warna dan tarikan garisnya” atau “bentuk-bentuk dan warna lukisan ini mengingatkan kepada kaum kubisme”

Kebenaran interpretasi dapat dilakukan melalui dialog dan membandingkannya dengan pendapat orang lain dan karya seni yang diapresiasi, kualitas karya seni tidak dilihat secara subyektif tetapi melalui pendapat kolektif.

  • Pendekatan Kognitif Tahap Otonomi

Tahap otonom merupakan tahap dimana apresiator secara mandiri membuat judgement terhadap karya seni dan menyesuaikan kriterianya dengan perkembangan zaman.

4). Apresiasi Seni Pendekatan Aplikatif

Apresiasi melalui pendekatan aplikatif ditumbuhkan dengan melakukan kegiatan berkarya seni secara langsung, di studio, di kampus, di rumah atau di mana saja.

Melalui praktek berkarya, apresiasi tumbuh dengan serta merta akibat dari pertimbangan dan penghayatan terhadap proses berkarya dalam hal keunikan teknik, bahan, dsb.

Pendekatan aplikatif bertujuan untuk menumbuhkan pemahaman karya seni melalui keterlibatan langsung membuat karya seni.

Apresiasi pendekatan aplikatif sangat efektif karena sang apresiator dapat menghayati langsung dan mendalam bagaimana seluk beluk penciptaan karya seni.

Apresiator dapar mengetahui secara langsung kesulitan menggunakan alat dan bahan, bagaimana mendapatkan warna dan bentuk yang harmonis seorang seniman dalam mewujudkan karya seninya.

Pendekatan applikatif merupakan metode learning by doing yang memberi kesempatan kepada apresiator secara aktif mengalami hingga menghayati proses penciptaan karya seni.

  1. Apresiasi Seni Pendekatan Kesejarahan

Apresiasi dengan pendekatan ini ditumbuhkan melalui pengenalan sejarah perkembangan seni. Apresiasi dimulai dengan meneliti asal usul sebuah karya seni rupa dengan bertanya kepada orang terdekat, seperti ayah, ibu, paman atau siapa saja yang mengertahui tentang riwayat sebuah karya seni.

Pendekatan kesejarahan merupakan pengembangan apresiasi seni melalui penelusuran sejarah perkembangan seni, dari periode ke periode mengikuti perkembangan masyarakat.

Apresiasi pendekatan sejarah akan lebih memahami suatu karya seni misalnya tentang cerita wayang lakonnya diambil dari mana dan apa isi ceritanya.

Dengan mengetahui proses perkembangan sejarah seni akan memberikan pemahaman yang lebih mendalam tentang karya seni.

Pendekatan kesejarahan tidak terlepas dari pendekatan sosiologis jika ingin mengetahui perkembangan seni suatu kelompok masyarakat.  Dalam tataran kehidupan individu tidak dapat lepas dari pendekatan psikologis dan biografis.

Apresiasi Seni Pendekatan Problematik

Apresiasi ditumbuhkan dengan menyoroti masalah serta liku-liku seni sebagai sarana untuk dapat menikmati secara semestinya. Apresiasi melalui pendekatan ini dimulai dengan mengenali unsur-unsur fisik dan non fisik (unsur- unsur dan prinsip-prinsip seni rupa) yang terdapat dalam sebuah karya seni.

Pendekatan problematik seni merupkan apresiasi yang dipahami melalui pemahaman makna dan pencarian jawaban seputar seni; seperti makna seni, hubungan seni dengan keindahan, seni dan ekspresi, seni dengan alam, fungsi seni rupa bagi kehidupan manusia, jenis seni rupa, gaya dalam seni rupa dan sebagainya.

Pada pendekatan problematic, apresiator dapat lebih holistic, utuh dan luas dalam memahami seni.

Kelemahan apresiasi pendekatan problematik terlalu teoritis, namun demikian untuk mengurangi kejenuhan teori dapat dilakukan variasi dengan alat peraga visual dan variasi tugas untuk didiskusikan

Apresiaai Seni Pendekatan Semiotik

Istilah semiotika berasal dari Bahasa Yunani semion yang berarti tanda, yang saat ini menjadi cabang ilmu yang berurusan dengan pengkajian tanda dan segala sesuatu yang berhubungan dengan tanda.

Semiotika sangat kental dengan masalah bahasa verbal sebagai media komunikasi, namun dalam perkembangannya penggunaannya merambah ke berbagai bidang ilmu termasuk seni rupa.

Oleh karena seni rupa pada dasarnya berupa tanda dan media komunikasi non-verbal, maka pendekatan semiotika dapat digunakan untuk keperluan analisis bahasa visual yang ada pada seni rupa.

Tokoh Pendekatan Semiotika

Tokoh semiotika adalah Ferdinand de Sausure dari Perancis dan Charles Sanders Peirce dari Amerika.

Teori semiotika Sausure berangkat dari bahasa sedangkan Peirce memulainya dari logika. Dalam pembahasan ini semiotika Peirce digunakan untuk melakukan analisis seni rupa melalui identifikasi klasifikasi tanda dengan ciri-cirinya.

Penggunaan tanda dalam seni rupa menurut analisisnya Peirce meliputi ide, objek, dan makna. Ide dapat dikatakan sebagai lambang, sedangkan makna adalah beban yangterdapat dalam lambang yang mengacu kepada objek tertentu.

Tandamerupakan kajian pokok dalam semiotika. Sesuatu agar dapat berfungsi sebagai tanda memiliki beberapa ciri, yaitu harus dapat diamati, dapat difahami, representatif, interpretatif, dan memiliki latar (ground) berupa perjanjian, peraturan, dan kebiasaan yang dilembagakan yang disebut dengan kode.

Tahapan Kegiatan Apresiasi Seni

Kegiatan apresiasi meliputi :

a). Tahap Persepsi Apresiasi Seni

Kegiatan persepsi mengenalkan pada anak didik akan bentuk-bentuk karya seni di Indonesia, misalnya, mengenalkan tari-tarian, musik, rupa, dan teater yang berkembang di Indonesia, baik tradisi, maupun moderen. Pada kegiatan persepsi kita dapat mengarahkan dan meningkatkan kemampuan dengan mengidentifikasi bentuk seni.

b). Tahap Pengetahuan Apresiasi Seni

Pada tahap pengetahuan sebagai dasar dalam mengapresiasi baik tentang sejarah seni yang diperkenalkan, maupun istilah-istilah yang biasa digunakan di masing-masing bidang seni.

c). Tahap Pengertian Apresiasi Seni

Pada tingkat pengertian, diharapkan dapat membantu menerjemahkan tema ke dalam berbagai wujud seni, berdasarkan pengalaman, dalam kemampuannya dalam merasakan musik.

d). Tahap Analisis Apresiasi Seni

Pada tahap analisis, dimulai dengan mendeskripsikan salah satu bentuk seni yang sedang dipelajari, menafsir objek yang diapresiasi.

e). Tahap Penilaian Apresiasi Seni

Pada tahap penilaian, apresiasi lebih ditekankan pada penilaian tehadap karya- karya seni yang diapresiasi, baik secara subyektif maupun obyektif.

f). Tahap Apresiasi Seni

Apresiasi merupakan bagian dari tujuan pendidikan seni yang terdiri dari tiga hal; value, empathy dan feeling.

Value adalah kegiatan menilai suatu keindahan seni, pengalaman estetis dan makna / fungsi seni dalam masyarakat.

Empathy merupakan kegiatan untuk memahami, dan menghargai.

Feeling merupakan kegiatan dengan cara menghayati karya seni, sehingga dapat merasakan kesenangan pada karya seni .

Daftar Pustaka:

  1. Setiawati, Puspita, 2004, “Kupas Tuntas Teknik Proses Membatik”, Absolut, Yogyakarta.
  2. Wartono, Teguh, 1984, “Pengantar Pendidikan Seni Rupa”, Penerbit Yayasan Kanisius, Yogyakarta.
  3. Darmawan, Budiman, 1988, “Penuntun Pelajaran Seni Rupa”, Ganeca Exact, Bandung.
  4. Sumardjo J., 2010, “Filsafat Seni”, Penerbit PT. Gramedia, Jakarta
  5. Sumardjo, J., 2000, “Filsafat Seni”, Penerbit ITB, Bandung.
  6. Soedarsono, sp., 1990, “Tinjauan seni. Sebuah pengantar untuk apresiasi seni”, Suku Dayar Sana, Yogyakarta.
  7. Hadiatmojo, Supardi, 1990, “Sejarah Seni Rupa Eropa”, IKIP Semarang Press, Semarang.
  8. Agus, 1986, “Seni, Desain dan Teknologi”, Pustaka, Bandung.
  9. Sahman, Humar, 1993, “Mengenal Dunia seni Rupa”, IKIP Semarang, Semarang
  10. Rangkuman Ringkasan: Secara umum apresiasi seni atau mengapresiasi karya seni berarti, mengerti sepenuhnya seluk beluk sesuatu hasil seni serta menjadi sensitif terhadap segi-segi estetika.
  11. Apresiasi dapat juga diartikan berbagi pengalaman antara penikmat dan seniman, bahkan ada yang menambahkan menikmati sama artinya dengan menciptakan kembali.
  12. Tujuan pokok penyelenggaran apresiasi seni adalah menjadikan masyarakat “melek seni” sehingga dapat menerima seni sebagai mestinya .
  13. Apresiasi seni dapat dilakukan dengan berbagai metode atau pendekatan sebagai berikut:
  14. a). Pendekatan aplikatif Melalui apresiasi dengan pendekatan ini ditumbuhkan dengan melakukan kegiatan berkarya seni secara langsung.
  15. b). Pendekatan kesejarahan Apresiasi dengan pendekatan ini ditumbuhkan melalui pengenalan sejarah/ perkembangan seni
  16. c).Pendekatan problematik Melalui pendekatan ini apresiasi ditumbuhkan dengan menyoroti masalah serta liku-liku seni sebagai sarana untuk dapat menikmatinya secara semestinya