Teori Kuantitas Uang, Persamaan Kuantitas, Contoh Perhitungan

Pengertian Teori Kuantitas Uang.

Persamaan Kuantitas.

Hubungan yang menyatakan kuantitas uang dengan nilai uang yang digunakan untuk transaksi dapat dinyatakan dengan persamaan kuantitas, atau biasa disebut juga dengan quantity equation.

M x V = P x T

M = uang

V = perputaran

P = Harga

T = Transaksi

Nilai T menunjukkan total transaksi dalam kurun waktu tertentu, atau berapa kali barang dan jasa dipertukarkan dengan uang. Nilai P sama dengan harga dari suatu transaksi tertentu. Dengan demikian P x T sama dengan nilai rupiah yang dipertukarkan dalam periode tertentu.

Nilai M menunjukkan jumlah atau kuantitas uang yang digunakan dalam pertukaran. Sedangkan nilai V disebut perputaran uang transaksi atau transactions velocity of money. Nilai V ini merepresentasikan seberapa sering uang dipertukarkan dalam kurun waktu tertentu.

Contoh Untuk Pemahaman

Dalam setahun 100 buku terjual dengan harga Rp 5000 per buku. Maka T sama dengan 100 buku per tahun, dan P sama dengan Rp 5000 per buku. Sehingga jumlah uang yang ditransaksikan atau dipertukarkan adalah:

P x T = Rp 5000/buku x 100 buku/tahun = Rp 500.000/tahun.

Rp 500.000 menunjukkan nilai uang yang dipertukarkan dalam setahun.

Misalkan jumlah uang dalam suatu perekonomian adalah Rp 100.000, maka perputaran uang transaksinya menjadi:

V = (P xT)/M

V = (Rp 500.000/tahun)/(Rp 100.000)

V = 5 putaran per tahun

Artinya dalam setahun setiap satu rupiah harus berpindah tangan sebanyak 5 kali.

Untuk perekonomian suatu negara persamaan kuantitas dapat digunakan dengan beberapa perubahan definisi dari variabel-variabelnya. Jumlah transaksi T diganti dengan Jumlah output total dari perekonomian dan dinotasikan dengan Y. Sedangkan P menyatakan harga dari satu unit output. Dengan demikian nilai dari nilai uang dari output adalah P x Y.

Untuk perekonomian suatu negara output adalah GDP riil, dan P merupakan deflaktor GDP, sehinggan P x Y adalah GDP nominal. Sehingga persamaan kuatitas menjadi:

M x V = P x Y

M = jumlah uang beredar.

P  = tingkat harga

Y = pengeluaran agregrat atau pendapatan

V = laju perputaran uang pendapatan

Nilai P x Y merupakan nilai total pengeluaran dari barang dan jasa akhir yang diproduksi dalam perekonomian. Nilai total pengeluaran P x Y disebut sebagai pendapatan agregat nominal atau PDB nominal (PDB = produk domestik bruto atau GDP = gross domestic product). GDP nominal merupakan perkalian GDP rill dengan deflator GDP, sehingga Y adalah GDP rill dan P adalah deflator GDP.

GDP nominal = deflator GDP x GDP rill

Notasi V menyatakan seberapa sering satu unit mata uang masuk ke dalam pendapatan seseorang dalam periode waktu tertentu. Nilai V biasa disebut juga sebagai income velocity of  money.

Persamaan kuantitas tersebut menyatakan hubungan antara jumlah uang beredar dengan total pengeluaran barang dan jasa akhir yang diproduksi dalam perekonomian suatu negara.

Perubahan penawaran uang dapat menyebabkan perubahan pada harga-harga dengan proporsi dan arah yang sama. Meningkatnya penawaran uang  diikuti dengan meningkatnya harga-harga barang.

Dari persamaan kuantitas dapat diketahui berapa banyak uang yang harus dimiliki untuk jumlah pendapatan agregat tertentu. Pada dasarnya jumlah uang yang harus dimiliki menunjukkan jumlah permintaan uang pada suatu perekonomian.

Berdasarkan formula ini diketahui bahwa perubahan jumlah uang beredar dalam suatu perekonomian berkorelasi terhadap perubahan tingkat harga.

Misalkan M1, V1, P1 dan Y1 menunjukkan keadaan awal, sedangkan M2, V2, P2 dan Y2 menunjukkan keadaan setelah terjadi perubahan. Jika perubahan jumlah uang beredar dinyatakan dengan [M2/M1] perubahan laju perputaran uang dinyatakan sebagai [V2/V1], perubahan tingkat harga dinyatakan [P2/P1], dan perubahan pengeluaran agregat dinyatakan [Y2/Y1], maka setelah terjadinya perubahan dapat dinyatakan sebagai berikut:

[M2 / M1 ] x [V2 / V1] = [P2 / P1 ] x [Y2 / Y1] atau jika ditulis ulang menjadi sebagai berikut:

{[M2 / M1 ] x [V2 / V1]} /[Y2 / Y1] = [P2 / P1 ]

dari sini dapat diketahui bahwa Tingkat harga P2 hanya akan naik jika [P2/P1] lebih daripada satu.

Dengan demikian:

Jika [P2 / P1 ] > 1, maka

{[M2 / M1 ] x [V2 / V1]} / [Y2 / Y1] > 1 atau jika disusun ulang menjadi:

[M2 / M1 ] x [V2 / V1] >  [Y2 / Y1]

Dari keadaan tersebut dapat diketahui bahwa tingkat harga akan naik jika perkalian antara perubahan jumlah uang beredar dengan perubahan laju perputaran lebih besar daripada perubahan pengeluaran agregat. Artinya tingkat harga dapat naik karena meningkatnya jumlah uang beredar atau karena meningkatnya laju perputaran. Hal ini mengindikasikan jika laju pertumbuhan GDP rill lebih lambat daripada laju pertumbuhan uang beredar dan pertukarannya, maka akan terjadi kenaikan tingkat harga.

Ekonom bernama Irving Fisher menyatakan bahwa dalam jangka pendek laju perputaran uang dapat dianggap konstan, sehingga perubahan laju perputaran [V2/V1] sama dengan satu. Dengan asumsi ini, maka pengaruh peningkatan jumlah uang beredar terhadap perubahan tingkat harga adalah:

Jika [P2 / P1] > 1 dan laju perputaran konstan atau

[V2 / V1] = 1,  maka

[M2 / M1 ] x 1 > [Y2 / Y1] atau

[M2 / M1 ] > [Y2 / Y1]

Ketika laju perputaran uang diasumsikan konstan, maka tingkat harga P2 akan naik jika peningkatan jumlah uang beredar lebih besar daripada perubahan pengeluaran agregat. Hal ini menunjukkan jika pertumbuhan jumlah uang beredar lebih tinggi daripada pertumbuhan GDP rill, maka tingkat harga secara umum akan naik. Dalam jangka pendek, pengeluaran agregat diasumsikan dalam kondisi normal dengan tingkat penggunaan tenaga kerja penuh atau full employment. Sehingga pengeluaran agregat dapat dianggap konstan.

Jika [V2 / V1] = 1 dan [Y2 / Y1] = 1 maka

[M2 / M1 ]= [P2 / P1]

Jumlah uang beredar berkorelasi positif dengan tingkat harga dan merupakan satu-satunya variabel yang mempengaruhi perubahan tingkat harga. Jika laju perputaran dan pengeluaran diasumsikan tetap, maka setiap kenaikan jumlah uang beredar secara langsung menaikkan tingkat harga.

Daftar Pustaka Ekonomi Makro.

[pagelist_ext child_of=”parent” limit_content=”150″ number=”20″ ]

1. Fungsi, Jenis Dan Ciri-Ciri Dari Uang

2. Incremental Capital Output Ratio, ICOR

3. Indeks Harga Konsumen Dan Tingkat Inflasi

4. Tingkat Pengangguran, Unemployment Rate