Titik Pulang Pokok, Break Even Point. Contoh Perhitungan

Pengertian Pulang Pokok

Break even atau kembali pokok atau pulang pokok atau impas merupakan suatu keadaan dimana jumlah hasil penjualan sama dengan jumlah biaya untuk memperoleh hasil tersebut. Kegiatan usaha ini hasilnya tidak untung dan tidak rugi.  Cara mudahnya. Pulang pokok adalah nilai pendapatan sama besarnya dengan biayanya.

Titik pulang pokok biasa disebut break even point (BEP) atau biasa disebut titik impas adalah suatu titik atau kondisi pada suatu tingkat volume penjualan (produksi) tertentu, dengan harga penjualan tertentu, perusahaan tidak mengalami laba atau rugi. Perusahaan akan untung jika produksi dan penjualannya melampaui titik impas. Jika penjualan masih di bawah titik impas, maka perusahaan akan mengalami kerugian.

  1. Contoh Perhitungan.

Perusahaan mempunyai kondisi titik pulang pokok suatu produknya yaitu volume penjualan (produk) 100.000 unit pada harga Rp 1000 per unit. Bila penjualan kurang dari 100.000 unit, maka perusahaan tidak akan mendapatkan laba. Sebaliknya, jika penjualan lebih dari 100.000 unit, maka perusahaan mendapatkan laba.

  1. Contoh Perhitungan 

Sebuah perusahaan baru saja memproduksi produk baru dan akan dijual ke pasar dengan data-data dari Perusahaan tersebut adalah seperti berikut:

Produksi (penjualan produk)   = 200.000 unit

Biaya variable             = Rp 249.000.000

Biaya tetap                  = Rp 81.000.000

Harga per unit             = Rp 2.000

Maka titik impas atau titik pulang pokok produk tersebut adalah.

Titik Pulang Pokok

 

 

 

 

 

Titik impas (unit)  = (Rp 81.000.000)/[1- (Rp 249.000.000/Rp 400.000.000)]

Titik Impas (unit) = Rp 81.000.000/(1 – 0,6225)

Titik Impas (unit) = Rp 214.569.536 atau

Titik Impas (unit) = Rp 214.569.536/Rp 2000 per unit

Titik Impas (unit) = 107.284 unit

Manfaat Analisis Break Even, Pulang Pokok.

Adapun manfaat dari analisis break even di antaranya adalah:

  1. Untuk mengetahui hubungan antara kuantitas penjualan (produksi), harga jual, biaya produksi, dan biaya-biaya variable maupun tetap, dan juga laba rugi.
  2. Untuk perencanaan terhadap laba atau profit planning
  3. Instrument pengendalian (controlling) kegiatan operasi yang sedang berjalan.
  4. Bahan pertimbangan untuk menentukan harga jual.
  5. Bahan pertimbangan untuk keputusan perusahaan. Hal ini terkait jika penghasilan perusahaan tidak mampu menutup biaya-biaya tunainya.

[pagelist_ext child_of=”parent” limit_content=”150″ number=”10″ ]

Pustaka:

  1. Jusup. A. H., 2005,”Dasar Dasar Akuntansi”, Jilid 1, Edisi ke 6, Cetakan kelima, Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi YKPN, Yogyakarta.
  2. Kasmir., 2008, “Analisis Laporan Keuangan”, PT Rajagrafindo, Jakarta
  3. Kuswadi., 2007,”Analisis Keekonomian Proyek    “,CV Andi Offset, Yogyakarta.