Cara Menggunakan, Interpretasi Indikator SMA Dan Stochastic

Hipotesis Indikator Teknikal.

Aplikasi Indikator Moving Average.

Karakteristik yang berbeda ditunjukkan oleh Simple Moving Average, SMA. Metoda ini memiliki formula yang sederhana dalam perhitungannya. Merata-ratakan sejumlah data kurs sesuai dengan periodenya. Pemakaian periode 6 menunjukkan hanya 6 data kurs terakhir yang dirata-ratakan. Data yang digunakan bisanya kurs penutupan atau kombinasi dari kurs penutupan, tertinggi dan terrendah. Nilai SMA periode 6 pada timeframe H1 mengiformasikan rata-rata kurs penutupan selama 6 jam terakhir.

Nilai SMA untuk periode n akan sama dengan nilai kurs terakhir, jika rata-rata kurs untuk periode n, nilainya sama dengan kurs yang terakhir. Nilai SMA (6) akan sama dengan kurs terakhir, jika rata-rata kurs selama 6 jam yang lalu, sama dengan kurs terakhir. Titik potong yang menjadi acuan pada SMA terjadi ketika nilai SMA sama dengan nilai kurs. Kurva SMA dapat menunjukkan posisi kurs terakhir terhadap rata-rata kurs pada periode tertentu.

Setelah terjadi perpotongan, nilai kurs akan lebih tinggi daripada nilai SMA, jika nilai kurs terakhir lebih tinggi daripada rata-ratanya. Kurs bergerak naik maka rata-rata kurs juga bergerak naik. Pada kondisi kurs bergerak naik membentuk sebuah trend yang kuat akan diikuti oleh kenaikan nilai SMA secara proposional. Posisi kurs terakhir akan memiliki jarak yang semakin jauh dari nilai rata-ratnya. Sesuai dengan fungsi utamanya, SMA mampu menunjukkan arah ketika kurs bergerak naik atau turun membentuk sebuah trend yang sangat kuat. Dalam hal ini SMA dapat merepresentasikan pergerakan kurs yang sebenarnya. Para pengguna SMA dapat memanfaatkan kondisi pergerakan kurs ini.

Namun trend yang terbentuk pada akhirnya akan berhenti, kemudian kurs akan bergerak pada arah berlawanan. Perubahan kurs terakhir yang berlawanan dengan arah sebelumnya tidak dengan segera terindikasikan oleh nilai SMA. Walaupun sebenarnya, ketika kurs bergerak berlawanan, nilai SMA telah menunjukkan perubahan. Pada saat kurs bergerak dalam trend kuat, nilai kurs semakin jauh dari rata-ratanya, sehingga perubahan kurs terakhir yang berlawanan dengan arah trend tidak cukup berpengaruh terhadap perubahan jarak antara kurva SMA dengan kurva kurs. Perubahan jarak nilai SMA dengan kurs semakin tidak tampak pada SMA yang menggunakan bilangan periode yang lebih besar. Metoda SMA tampak sangat lamban dalam merespon perubahan arah kurs. Pada keadaan ini, nilai SMA tidak menunjukkan pergerakan kurs yang sebenarnya.

Tentunya bagi pengguna yang selalu konsisten mengikuti kaidah atau aturan  yang ada pada SMA, akan kehilangan kesempatan pada awal perubahan trend. Pengguna metoda ini akan menunggu sampai terjadinya titik potong antara kurva SMA dengan kurva kurs. Pada awal perubahan trend, jarak antara nilai SMA dan kurs masih terlalu jauh. Perlu adanya perubahan kurs yang berlawanan dalam jumlah relatif besar agar nilai SMA sama dengan nilai kurs. Tentu saja akan membutuhkan waktu yang relatif lebih lama untuk mencapai kondisi dimana nilai SMA sama dengan nilai kurs. Hal ini menjadi alasan mengapa metoda ini dikelompokan dalam lagging indicator.

Gambar 1.  memperlihatkan kurs yang bergerak pada satu arah, membentuk suatu trend yang sangat kuat. Dalam kasus ini SMA (24) dapat menunjukkan perubahan kurs yang sebenarnya. Pada kondisi uptrend yaitu daerah yang di batasi oleh dua garis vertikal, nilai kurs selalu lebih besar daripada nilai rata-rata untuk 24 jam terakhir. Semakin tinggi nilai kurs yang dicapai, semakin jauh dari nilai rata-ratanya. Pada kondisi yang sama nilai % K (24) hanya bergerak di sekitar nilai 80 sampai 100 atau bergerak pada daerah jenuh beli. Gambar 2.15 menjelaskan bahwa definisi psikologis mengenai jenuh beli dan jenuh jual pada Stochastic menjadi gagal ketika kurs bergerak pada kondisi yang sangat kuat, baik turun atau naik.

Aplikasi Indikator SMA Pada Kondisi Trend Kuat

Aplikasi Indikator Simple Moving Average Pada Kondisi Trend Kuat

Gambar 2. memperlihatkan pergerakan kurs yang membentuk pola osilasi atau sideway. SMA (24) tidak segera dapat merespon perubahan kurs yang terjadi. SMA tampak lamban dalam merespon perubahan arah pergerakan kurs. Keadaan ini menjelaskan bahwa SMA membutuhkan perubahan kurs yang cukup besar, agar dapat memiliki nilai yang sama dengan nilai kurs, sehingga dapat membentuk titik acuan. Namun demikian kurva % K (24) dari Stochastic (24,3,3) dapat merespon perubahan arah pergerakan kurs dengan baik. Gambar 2.16 menunjukkan bahwa pada kondisi pergerakan kurs yang membentuk pola osilasi definisi jenuh jual dan jenuh beli menjadi terpenuhi.

Aplikasi Indikator SMA Pada Kondisi Sideway

Gambar 2. Aplikasi Indikator Simple Moving Average Pada Kondisi Sideway

Daftar Artikel Yang Membahas Teknikal Indikator, Klik Judul Yang Sesuai Di Bawah:

1. Indikator Exponential Moving Average, EMA.

2. Indikator Moving Average Convergence/Divergence, MACD

3. Indikator Moving Average, MA.

4. Indikator Stochastic Oscillator

Pustaka:

  1. ardraviz, 2011, “Simple Comcept Untuk Forex Online Trading”, ardra.biz